Kamis, 08 November 2007

BAGAIMANA KALAU TIDAK LULUS DI PERGURUAN TINGGI

BAGAIMANA KALAU TIDAK LULUS DI PERGURUAN TINGGI
Oleh: Marjohan
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

BAGAIMANA lagi kalau tidak lulus di perguruan tinggi? Per­tanyaan begitu banyak kita dengar dimana dan dari siapa saja. Ada yang menjawabnya dengan serius dan ada pula menanggapi dengan bergurau. Remaja umumnya gemar ber­gurau dan ada yang menjawab “wah saya kawin saja dengan orang kaya”. Banyak lagi jawaban lucu yang membuat kita terpingkal untuk mendengarnya.
Secara berseloroh kita pun dapat membuat kelompok-kelompok kemungkinan yang akan dilakukan oleh para lulusan SLTA, yakni kuliah di perguruan tinggi, mencari pekerjaan dan kalau tidak, segera berumah tangga. Ini banyak terjadi apalagi bagi sekolah-sekolah SLTA yang berdomisili di daerah. Jangan tamat sekolah saja malah tiga hari menjelang ujian akhir sudah banyak yang tarik diri dari status pelajar secara terpaksa atau sukarela. Terpaksa karena telah meng­alami “dulu bajak dari pada kerbau”.
Tetapi bagi yang masih suka berfikir, tunggu dulu. Sebab persoalan perkawinan sekarang tidak semudah pada zaman Siti Nurbaya lagi. Dari sudut ekonomi saja bahwa sekarang kalau mendirikan rumah tangga saja musti memiliki tiang ekonomi yang agak kokoh. Kaum remaja sekarang sedikit salah kaprah, mereka beranggapan bahwa cintalah diatas segalanya. Pada hal kalau perut sedang lapar, kalimat “I love you” tidak akan pernah membuat perut kenyang.
Lagi pula remaja sekarang dalam soal cinta tidak bersifat logika, tetapi semua banyak bersifat emosional dan ber­andai-andai. Tetapi setelah biduk rumah tangga didayung maka empat atau lima bulan sudah oleng. Pokoknya Ulah ingin mendirikan rumah tangga maka, terutama pihak pria, mesti lebih matang dari wanita. Ya matang dalam soal ekonomi, sosial, jiwa, emosional, agama dan sosial biologis tentu sudah lebih duluan matangnya.
Sekarang kita musti berfikir lebih realistis. Apalagi persaing­an hidup sekarang amat ketat. Siapa yang bodoh dan malas tentu akan menjadi penonton dan tertinggal jauh. Kita lihat jumlah manusia sekarang sema­kin ramai dan jumlah luas permukaan bumi tetap saja. Sehingga sekarang orang, saling berebut. Hubungan darah tidak lagi terasa, mamak sendiri bisa menjadi musuh kemena­kan, anak bisa makin durhaka dan melupakan orang tua. Po­koknya sekarang sifat sosial dilupakan pelan-pelan dan di­gantikan oleh sifat individu yang egois. Untuk dapat ber­tahan hidup setiap orang tentu mesti memiliki kekuatan. Dan sekarang terlihat bahwa uanglah yang dianggap orang lebih kuat.
Pokoknya dengan uang orang bisa mendapatkan apa saja. Cinta pun bisa dibeli dengan uang. Tetapi bagi kita nilai uang janganlah sebagai tujuan agar kita tidak khilaf dalam hidup. Pegangan hidup kita tentu tetap agama.
Kalau tidak berhasil melanjutkan studi di perguruan tinggi banyak pemuda melirik usaha kerja. Dalam bekerja mereka ada yang menjual jasa otak dan menjual jasa otot. Terasa oleh kita bahwa nilai jasa otak jauh lebih tinggi, dari jasa otot.
Ingin tahu bagaimana nilai jasa otot? Pergilah ke terminal atau ke pelabuhan. Kasihan kita bukan. Dan kerja seperti ini juga bagus, tetapi yang berkem­bang cuma otot saja sedang otak cenderung statis. Kalau kita tidak ingin bekerja dengan menjual tenaga maka kita harus me­ngembangkan pikiran.
Banyak juga remaja yang tidak berhasil duduk di perguruan tinggi melirik jalur pendidikan lain. Sekarang yang lagi trendi adalah ikut kursus bahasa Inggeris atau kursus komputer. Dan tentu masih banyak bentuk-bentuk kursus lain yang bermanfaat. Sayang remaja banyak yang tidak me­ngetahui jenis kursus yang cocok bagi dirinya. Misalnya ada seorang remaja pria ia terbiasa hidup urakan dan ia memilih kursus komputer. Ter­nyata setelah di coba satu atau dua bulan kursus ini terasa membosankan. Penyebabnya adalah karena ia tidak terbiasa untuk melatih otak. Maka se­telah ikut kursus komputer ia merasakan otaknya tumpul. Maka kita sarankan agar setiap remaja atau yang ingin meng­ikuti kursus sebaiknya disaran­kan agar setiap remaja atau yang ingin mengikuti kursus sebaiknya disesuaikan dengan kondisi pribadi.
Kalau kita memiliki otak sedikit tumpul tetapi badan dan pangkal lengan terasa besar maka cocoknya kita ambil saja kursus montir atau keterampilan kayu. Kalau kita berbakat dalam hal verbal atau berkata-kata mungkin cocok kita ambil kursus bahasa atau pelayanan jasa yang berhubungan dengan orang banyak. Tetapi sebetul­nya untuk kursus bukan hanya terbatas pada komputer dan bahasa Inggeris saja seperti yang latah dibaca oleh orang-orang muda sekarang. Kursus lain-lain yang lebih menjanji­kan prospek bagus cukup ba­nyak karena memang dibutuh­kan oleh konsumen. Ia adalah seperti kursus menjahit, ber­tukang, memasak, elektronika, bengkel dan kursus keterampil­an lainnya.
Tidak terhitung banyaknya lulusan SLTA yang meninggal­kan kampung halaman. Mereka banyak melirik kota-kota di pulau Jawa, Medan, Palembang dan lain-lain. Malah Batam juga termasuk daerah yang mereka lirik. Mereka banyak yang ikut famili, ikut teman dan dibawa oleh orang-orang lain. Ini bagus, tetapi kita musti tetap menjaga pribadi kita. Janganlah demi mendapatkan sesuap nasi untuk pagi dan petang kita korbankan akidah kita, dimana halal dan haram sama saja. Kalau akan luntur kiranya pribadi kita tentu mendingan kita tetap tinggal di kampung dan berwiraswasta disana.
Walaupun penduduk Indo­nesia sudah hampir 200 juta jiwa. Namun buminya masih luas. Toh kalau kita berada di kota memang terasa sempit dan susah. Di kota memang serba mahal dan serba dibeli. Air minum dan masuk toilet saja kita membayar, jangan-jangan sebentar lagi bernafas juga kita membayar. Kalau kita berada di daerah semuanya terasa masih lapang. Apalagi, alam kita sangat subuh. Air berlimpah dan buminya hijau sebagai pertanda kesuburan.
Untuk itu bila kita tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, maka me­ngapa kita harus frustrasi dan menganggur? Banyak hal-hal positif dapat kita lakukan pekerjaan lama sampai se­karang masih ada yang bertahan dan tidaklah tercela dan hina kalau kita juga melakukannya. Pekerjaan itu adalah seperti membuka usaha bertani, ber­kebun, perikanan, peternakan, pertukangan dan lain-lain se­bagainya. Tentu dalam melaku­kan usaha ini kita mesti me­ningkatkan tekhnik dan mena­jemen, atau pengelolaannya. Malah kita lihat banyak orang-orang sekeliling yang berhasil dalam mengolah pekerjaan da­sar ini. Cobalah lihat di daerah-daerah ada orang yang berhasil dalam usaha membuka peng­gilingan padi, membuka kios, bengkel dan membuat usaha makanan ringan untuk dipasar­kan di kota.
Usaha-usaha yang semula kita anggap remeh tetapi kenapa ada orang yang berhasil dalam usaha itu? Lihatlah ada orang yang sukses dalam usaha ternak ayam, usaha penggemukan sapi dan malah juga menyerap te­naga sarjana sementara yang mempunyai usaha sendiri sekolah dasar pun tidak tamat Tetapi ia berhasil karena belajar dari alam. Tetapi kenapa kita tidak meniru langkah-langkah me­reka?
Orang-orang kita kalau ingin membuka usaha selalu mencari alasan yang “tidak bisa”. Sering modal sebagai alasan dan akhir­nya mereka tetap asyik menghayal di sudut kamar dan pergi ke kedai untuk menghempaskan batu domino dan membeli secangkir kopi. Pada hal ini pada dasarnya adalah mem­buang-buang waktu.
Pada mulanya orang banyak enggan untuk bekerja sendiri. Secara psikologis ini memang ada benarnya. Orang cenderung merasa suntuk dan lesu kalau tidak ada teman. Maka untuk ini ada pula baiknya bagi kita untuk mencari teman. Kita carilah teman, tetapi yang dicari adalah teman yang tetap punya semangat hidup. Kita tidak berguna kalau terlalu sering bergaul dengan orang pemalas dan merasa pesimis melulu. Semangat itu ibarat virus karena ia bisa menular. Kita musti selalu waspada agar jangan virus malas teman yang pemalas menjangkiti kita. Kalau kita ingin sukses dalam hidup silahkan bergaul dengan orang yang bersemangat agar virus optimis mereka juga menulari kita.
Jadi sekarang jelaslah bagi kita, bahwa kalau kita tidak berhasil untuk studi di per­guruan tinggi kita tak perlu bersedih hati. Masih banyak hal-hal positif yang dapat kita lakukan. Kita dapat mengikuti kursus, menambah keterampilan, meluaskan wawasan sam­bil menunggu kesempatan tahun depan.
f

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture