Kamis, 15 November 2007

DAYA SERAP MURID DAN MENTAL GURU

DAYA SERAP MURID DAN MENTAL GURU
Oleh: Marjohan
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar
Program Layanan Keunggulan Kab. Tanah Datar

Imajinasi tentang guru tempo dulu yang kita dengan dari generasi tua adalah rapi, tenang, cerdas dan berwibawa. Sehingga sosok guru bagi muridnya adalah sebagai panutan dan dikenang sepanjang masa. Guru yang ideal terlukis dalam kalimat yang diekspresikan oleh Almarhum Kihajar Dewantara, “Ingmadya Mangunkaso, ing ngarso sung tulodo dan tut wuri handayani”. Masih adakah sosok guru yang begini sampai sekarang?
Tentu saja sosok guru yang ideal masih ada sampai sekarang. Namun guru-guru yang pengabdiannya meluntur juga banyak. Tidak perlu kita melihat terlalu jauh. Lihat sajalah keadaan guru-guru yang ada di seputar kita. Atau mungkin kita sendiri termasuk guru yang mengabaikan tanggung jawab? Untuk itu ada baiknya sekali-sekali kita melakukan introspeksi diri.
Telah banyak orang mengupas tentang penyakit yang ada pada profesi guru. Tulisan-tulisan itu tentu lebih banyak menyorot masalah sikap dan mental guru. Padahal guru sebenarnya telah mengetahui konsep-konsep nilai dan mental yang baik tetapi kenapa kemudian bisa merosot? Dengan kata lain kita katakan bahwa umumnya guru-guru tahu apa yang dilakukan dan bagaimana cara melakukan tetapi mereka tidak berbuat.
Gambaran guru sekarang, walau tidak semuanya, banyak bersikap santai, suka pamer, masa bodoh dan pergi mengajar asal membayar hutang saja dengan arti kata pengabdian rendah. Lihatlah, misalnya ada guru wanita yang datang ke sekolah ibarat seorang artis sinetron dengan asesori ibarat toko perhiasan berjalan. Guru pria cukup banyak yang datang ke sekolah dengan melenggang kangkung dengan sebatang rokok terselip di bibir.
Agaknya penataran-penataran, apakah dalam bentuk MGMP, sanggar-sanggar pendidikan, berskala kecil sampai kepada skala besar, adalah mubazir dan membuang-buang dana negara saja. Tidak jarang terlihat begitu guru yang bersangkutan pulang dari penataran kembali mengajar ala Tarzan saja dan malah tanpa menyampaikan apa-apa saja misi penataran yang telah dibawanya.
Sanggar-sanggar belajar seperti MGMP, sebagai misalnya, tepatnya hanyalah ajang membuat satuan pelajaran saja. Dengan cara menyalin satuan pelajaran dari teman-teman dari sekolah lain atau dari guru inti. Itu pun lebih didominasi oleh aktivitas berbagai aib tentang sekolah dan pribadi orang lain dan bukan untuk membahas masalah yang ditemui di sekolah masing-masing. Paling kurang motivasi guru untuk mengikuti sanggar dan penataran adalah untuk memperoleh sertifikat untuk modal naik pangkat, mengharapkan uang transpor dari proyek penataran dan sarana untuk rekreasi walau sekali-kali diselingi oleh ketidakhadiran secara sengaja atau tidak disengaja. Sebetulnya segala bentuk penataran tetap efektif untuk meningkatkan kualitas guru-guru peserta. Andaikata guru-guru peserta adalah guru-guru yang mempunyai daya serap yang rendah terhadap ilmu pengetahuan, maka penataran ini mungkin cocok untuk saran remedial bagi mereka.
Adalah fakta dapat kita jumpai bahwa cukup banyak guru tidak suka membaca. Mereka biasanya dengan senang hati mengungkapkan alasan-alasan mengapa mereka tidak suka membaca. Dan untuk seterusnya kita dapat mempertanyakan bagaimana kualitas mereka dulu semasa masih berstatus mahasiswa hingga menjadi sarjana karbitan.
Cukup banyak kita melihat mahasiswa perguruan tinggi yang menuntut ilmu sekedar mode saja. Menuntut ilmu sekedar asal-alasan. Melangkah dengan gerak lesu dan mulus. Pergi kuliah Cuma melenggang atau paling-paling membawa buku tulis tipis saja. Jarang mahasiswa yang sudi menamatkan membaca buku mata kuliah, apalagi membaca buku-buku umum untuk memperluaskan wawasan. Kalau kemudian mereka dapat menjadi sarjana, itu pun bermodalkan ilmu dan pengetahuan dari catatan dan fotokopi-fotokopi lembaran buku yang disuruh dosen semata. Dan kalau ada yang menulis skripsi itu juga ditulis asal-asalan dan rekayasa. Andaikata penguji skripsi meminta agar calon sarjana memperlihatkan buku-buku referensi tentu mereka akan betul-betul kewalahan dan akan terbuka kedok kekurangorisinilan skripsi mereka. Pendek kata rata-rata mahasiswa malas membaca. Dan kalau mereka menjadi sarjana, bagi calon guru, kalau mereka tidak diangkat sebagai pegawai, terpaksa susah mengubah nasib. Itu disebabkan karena minimnya wawasan dan keberanian mental. Mereka serba canggung untuk banyak berbuat.
Kalau kita amati bahwa kurang terkuasainya materi pelajaran oleh para guru, itu disebabkan oleh berkembang cepatnya materi pelajaran. Perkembangan ini, apakah dalam bentuk konsep pendidikan, metode pengajaran maupun penyempurnaan kurikulum. Tetapi ini tidaklah begitu masalah kalau seorang guru tetap menyenangi membaca dalam usaha untuk meningkatkan kualitas diri.
Melihat metode pengajaran yang ada betapa mutu pendidikan ini tetap rendah. Ini semua akibat dari metode kuno yang tetap diterapkan oleh guru-guru karena metode ini terasa enteng, dan tidak menyita waktu yang banyak. Kita mengenal bahwa media pengajaran, misalnya, merupakan sarana yang ampuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Tetapi marilah kita hitung berapa orang betul guru yang masuk kelas secara lengkap dengan satuan pelajaran dan media. Nyatalah bagi kita bahwa metode mengajar guru-guru secara umum adalah berceramah dan ceramah melulu sampai pada akhirnya murid-murid menjadi pasif bagaikan beo berkepala manusia. Tetapi herannya kenapa ini kurang mendapat perhatian dari segala pihak? Malah sekarang apa pula kecenderungan guru-guru meninggalkan praktek labor IPA sejak peningkatan NEM digemakan di sekolah-sekolah. Sebab NEM adalah ukuran kualitas suatu sekolah, maka kerja guru dan murid dalam proses belajar mengajar lebih terfokus untuk membahas soal-soal yang akan di-EBTANAS-kan (?).
Cukup banyak, kita kira, guru yang asal membayar hutang saja dalam menunaikan tugas mengajar. Guru-guru yang begini cenderung tidak terikat pada target kualitas pengajaran yang dicapainya. Apakah saran yang cocok kita sampaikan kepada guru-guru yang senantiasa mengirim catatan saja ke sekolah dan ia sendiri membuat alasan yang cukup banyak? Atau guru yang setiap kali menyajikan pelajaran dengan cara mendiktekan pelajaran kepada siswa sampai habis target waktu. Lumayan jugalah kiranya metode berceramah, walau metode ini cukup berbahaya untuk mematikan kreativitas dan berekspresi murid.
Kebanyakan guru cenderung mengabaikan misi nasional pendidikan. Dimana mendidik anak berarti mempersiapkan generasi penerus bangsa. Adapun tekad pendidikan sekarang adalah berusaha untuk membentuk SDM yang berkualitas. Maka adalah secara tidak langsung. Dan itu karena pribadi guru yang santai dan masa bodoh atas kualitas diri sendiri dan kualitas anak didik mereka. Guru-guru sekarang, walau sebagian saja, lebih teperdaya oleh materi dan bentuk-bentuk hiburan dan kemewahan. Inipun sering terungkap dalam percakapan sesama guru dan terhadap anak didik. Pada akhirnya guru tidak mewarisi kekayaan intelektual pada mereka tetapi hanya mewarisi nilai materialistis, sehingga kelak segala sesuatu itu diukur berdasarkan materi dan uang.
Modal guru untuk masuk kelas, kalau boleh janganlah sebatas penguasaan bidang studi saja. Tetapi sangat layak guru kalau menguasai ilmu-ilmu lain untuk memudahkan menghadapi anak-anak didik, terutama bagi guru-guru yang mengajar di tingkat SLTP dan SLTA dimana anak didik berada pada masa topan dan badai, masa pubertas, yang tidak cukup ampuh menghadapi mereka dengan satu modal penguasaan bidang studi semata. Sekarang jelaslah akibat minimnya penguasaan ilmu guru, terutama ilmu psikologi dan ilmu pendidik, sehingga guru cenderung merasa tidak begitu penting mengenal individu murid sebagai bagian dari proses pengajaran.
Terakhir adalah sikap mental guru yang membuat daya serap murid rendah adalah sikap guru yang tak pernah merasa bersalah atas kemalasan dan keterlambatannya dalam mengajar. Cukup banyak guru secara sengaja atau tidak sengaja menunda kehadiran mereka di sekolah. Terlambat tiba di kelas dan cepat pula mengakhiri pelajaran sebelum waktunya tiba. Gejala sikap mental yang begini adalah akibat hidup tanpa membudayakan hidup berdisiplin.
Pada hakikatnya citra guru ideal itu tetap ada sampai sekarang. Cuma sekarang harapan kita adalah bagaimana kalau guru-guru seperti demikian dapat bertambah secara kualitas dan kuantitas. Kalau boleh kita sendiri juga harus mencerminkan guru ideal seperti yang dilukiskan oleh Almarhum Kihajar Dewantara agar dapat digugu dan ditiru.
Sikap kita untuk menjadi guru ideal adalah dengan cara bersikap sederhana, rapi, berwibawa, mengabdi kepada tugas dan mencintai dunia pendidikan serta selalu menambah ilmu pengetahuan agar luas dalam wawasan. Kita telah melihat bawa daya serap murid yang rendah, selain disebabkan oleh faktor lain, juga merupakan efek dari bentuk mental guru yang kurang benar. Dan sikap ini tentu saja dapat diatasi asal mau mengubahnya. Memang sudah sewajarnya untuk kembali mengangkat citra pendidikan dan citra guru kita harus kembali membenahi diri. Apalagi keberadaan kita sebagai guru semakin berarti dalam membangun bangsa ini.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture