Kamis, 29 November 2007

Suatu Gejala Negatif Guru Menomorduakan Sekolah

Suatu Gejala Negatif Guru Menomorduakan Sekolah

Oleh Marjohan
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

Dalam berbagai iklan, pada umumnya suatu lembaga atau perusahaan selalu menawarkan bahwa produknya adalah nomor satu. Kita belum pernah mendengar ada perusahaan mengatakan bahwa produknya adalah produk kualitas nomor dua di dunia. Yang sering terdengar adalah misalnya. inilah baterai nomor satu atau inilah kecap nomor satu. Tetapi bagaimana keberadaan suatu sekolah dimata guru-guru? Dalam percakapan sehari-hari sangat sedikit guru-guru yang membahas tentang masalah. proses belajar me­ngajar. Kendala yang ditemui dan jalan keluarnya. Bagaimana keberadaan input, proses dan output pendidikan suatu sekolah sampai kepada masalah pendidikan lain secara global dan antisipasi yang perlu diterapkan pada masa datang tentang. Tema yang banyak men­jadi percakapan guru-guru adalah tentang masalah keluarga, teman, mode pakaian dan perlengkapan rumah tangga, hobi serta. gossip-gossip sampai kepada masalah dunia yang dibahas secara debat kusir. Sebenarnya mem­bahas tentang tema-tema masalah ini tidak salah namun kita berharap agar masalah yang berhubungan dengan profesional janganlah terabaikan.
Diakui bahwa guru merupakan ujung tombak pelaksana pendidikan sekolah. Maju mundurnya kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas guru. Untuk memperoleh murid dengan sumber daya manusia yang tinggi maka dibutuhkan guru yang memiliki sumber daya manusia yang tinggi pula. Maka akhir-akhir ini sumber daya manusia atau kualitas sekolah dan pendidikan tetap menjadi sorotan karena dinilai cukup rendah.
Untuk peningkatan mutu tersebut maka pemerintah dan pihak-pihak yang merasa ikut bertanggung jawab, telah melakukan berbagai usaha. Diantaranya adalah dengan memberikan tunjangan fungsional. Mengadakan program dip­loma pendidikan, menyelenggarakan bermacam-macam bentuk penataran. Dan malah menetapkan kenaikan pangkat bagi jabatan guru dengan angka kredit poin.
Cukup banyak masalah yang menghambat peningkatan kualitas guru. Masalah yang cukup disoroti sebagai penghambat dan penghalang kualitas guru adalah seperti penghasilan guru yang dinilai kurang memadai. Karena tuntutan hidup dan keluarga, sementara itu kesejahteraan hidup masih kurang, membuat mereka ikut mencari objek atau bisnis di luar dan malah sampai ke dalam sekolah.
Tetapi adalah juga guru-guru yang ikut latah menggunakan alasan-alasan atas sebagai kambing hitam sehingga mereka tak merasa terpanggil untuk meningkatkan kualitas diri dan kualitas pendidikan Apalagi mengingat bahwa ada juga guru yang berasal dari keluarga yang berada dan karena jumlah guru di sekolahnya cukup memadai atau sedikit berlimpah sehingga bisa memiliki waktu yang cukup banyak untuk meningkatkan kualitas diri dan kualitas pendidikan. Sebagai kontra bahwa ada juga guru. Tentu jumlahnya tidak seberapa yang hidup agak susah sehingga mereka mempunyai obyek tetapi tetap melowongkan waktu untuk memantapkan kualitas diri. Namun yang memprihatinkan kita adalah cukup banyak guru-guru yang menomorduakan mengajar atau sekolah. Dan sebaliknya mereka menomorsatukan urusan keluarga, bisnis. hobi dan kepentingan pribadi lainnya.
Agaknya usaha pemerintah dan orang-orang yang merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pendidikan akan tetap sia-sia saja kalau ­pihak guru tetap menomorduakan pendidikan (atau sekolah) dan meno­morsatukan kepentingan dan keun­tungan pribadi. Kita lihat amat banyak guru yang telah mengikuti program-program peningkatan. mutu yang telah diselenggarakan pemerintah. Banyak guru-guru yang telah mengikuti berbagai pena­taran. MGMP dan lain-lain namun tidak ada atau sedikit sekali misi dan perobahan positif yang terlihat. Ba­rangkali ini akibat mereka mengikuti program ini hanya sedikit uang saku atau sertifikat sebagai modal naik pangkat saja. Disamping itu, barangkali, penyelenggaraan penataran juga tidak merancang acara secara matang kecuali bersifat indoktrinasi atau berceramah melalui sementara guru peserta serba pasif. Program kuliah penyetaraan dan program diploma lain telah diikuti pula secara iseng-iseng. Terlihat pula proses belajar program ini agak acak-acakan dengan sistem penilaian yang diobral. Peserta bodoh, malas atau rajin toh akan. memperoleh nilai hampir sama. Malah sering selama ujian perjokian dilegalisir atau pengawas berpura-pura tidak tahu. Kemudian dalam sistem kenaikan pangkat bagi jabatan guru dengan angka kredit point, SK-SK yang dikeluarkan oleh pihak sekolah dan pihak lain sering bersifat rekayasa atau aspal (asli tetapi palsu). Misalnya ada guru yang memiliki bundel kenaikan pangkat yang sarat berisi SK-SK pembina OSIS, kemasyarakatan dan unsur-unsur pe­ngembangan profesi lain tetapi itu hanya sebatas surat keputusan saja dan nihil dalam pelaksanaan. Penyebabnya adalah karena budaya suka mengemis dan menipu diri telah merembes ke­dalam sanubari.
Bukan itu saja, dalam urusan proses belajar mengajar, cukup banyak guru-guru yang bersikap menomordua­kannya. Mentang pada mulanya ketika baru saja diangkat sebagai guru, sebagai pegawai negeri, dan masih lajang maka Sekolah masih tetap nomor satu. Tetapi kemudian setelah berkeluarga dan seterusnya maka secara pelan-pelan sekolah menempati posisi nomor dua, atau menomorduakan sekolah. Untuk selanjutnya setelah mengajar selama sekian tahun sikap idealis sebagai seorang guru mulai memudar. Sehingga yang sering terlihat adalah cukup banyak guru pergi ke sekolah menunaikan tugas mengajar hanya sebagai pembayar hutang. saja. Siap-siapan yang terlihat selanjutnya adalah karena tantangan dari siswa juga banyak yakni sikap acuh tak acuh.
Dalam melaksanakan proses belajar mengajar ini sebagian guru cenderung untuk mengejar target kurikulum saja. Siswa malah dipaksakan dan disiapkan berbagai catatan-catatan pelajaran untuk dihafal. Karena menomorduakan sekolah maka ini sekolah tak lagi menarik. Apa yang terlihat adalah guru-guru menjadi malas dan segan dan untuk mengunjungi sekolah. Padahal sekolah adalah merupakan rumah kedua bagi seorang guru dan kasarnya adalah bahwa sekolah merupakan periuk nasi atau tempat mencari makan, tetapi guru-guru cenderung mengabaikan selanjutnya patut pula kita catat bahwa kalau, seorang guru merasa enggan berada di sekolah, bagaimana pula ia dapat melakukan interaksi yang baik kepada anak didik untuk memberikan motivasi, bimbingan dan berbagai rasa dengan mereka, maka inipun juga merupakan awal ambruknya kualitas pendidikan, meski tidak begitu disadari.
Menomorsatukan atau mengutamakan kepentingan pribadi sering menjadi sikap dan isi pembicaraan guru-guru setiap hari. Pelaksanaan disiplin demi peningkatan mutu sering berbenturan dengan sikap-sikap guru yang begini.
Contoh lumrah, adalah dengan meng­amati tingkat pengabdian guru terhadap profesi. Sering dari sekian guru-guru yang mengirim surat-surat berhalangan untuk hadir, sebagian adalah karena alasan kecil dan alasan yang dibuat-buat. Selagi manusia ini hidup tentu ada saja masalah yang menimpa, besar atau kecil. Tetapi ironisnya adalah ada oknum guru yang membuat alasan untuk tidak mengajar tahu-tahu untuk hal lain demi kepentingan pribadi maka pusing-pusing sedikit dapat diabaikan.
Ada oknum guru karena atas nama aktivis masyarakat sering sengaja dengan senang hati untuk meninggalkan tugas utama di sekolah mengabdi kepada masyarakat adalah juga tepat tetapi yang diharapkan adalah kita musti arif untuk menempatkan diri berdasarkan waktu tanpa mencari-cari alasan untuk menomorduakan sekolah.
Guru tentu punya tuntunan hidup dan keinginan untuk meningkatkan taraf sosial. Percakapan-percakapan tentang glamornya hidup membuat mereka ­seolah-olah ikut berlomba memacu dunia. Kemudian karena alasan pribadi untuk memenuhi tuntutan hidup mereka, karena pendapatan kurang memadai, ikut terlibat dalam urusan “perkreditan” lewat bank atau Koperasi Pegawai Negeri.
Memantau dari pembicaraan dari rata-rata guru yang melakukan peminjaman dan atau kredit adalah karena alasan untuk modal membangun rumah, biaya pendidikan, untuk membantu famili atau keluarga, modal usaha dan untuk keperluan membeli alat elektronik. Kredit KPN tentu jumlahnya terbatas tetapi kredit yang dilakukan lewat bank, karena peminjaman cukup tinggi dibandingkan dengan kemampuan keuangan cukup membuat guru linglung dan kehilangan gairah untuk datang ke sekolah.
Sering terlihat guru-guru yang mem­peroleh gaji yang minus atau kecil akibat terjerat kredit mengabaikan tugas dan tanggung jawab. Gairah untuk datang ke sekolah menjadi berkurang. Keinginan untuk meningkatkan mutu pendidikan tentu juga berkurang dan bahkan ada yang tidak memikirkan sama sekali. Yang mereka pikirkan tentu adalah bagaimana mereka dapat menyelesaikan pembayaran kredit secepatnya atau menghitung-hitung bulan kapan kredit mereka akan ber­akhir. Yang jelas tampak bagi kita bahwa pengambilan kredit yang diluar kemampuan keuangan dapat memberi pengaruh terhadap penurunan etos kerja sehingga membuat sekolah adalah nomor dua.
Kini sudah saatnya, untuk kembali memacu kualitas pendidikan, kita meningkatkan kualitas diri dan meninggalkan budaya menomorduakan sekolah. Atau, dengan kata lain budaya yang lebih mementingkan diri dan kebiasaan menuntut hak tetapi melupakan kewaji­ban. Agaknya hidup ini memang penuh dengan tantangan dan tuntutan kebutuhan lain. Melakukan usaha sam­pingan lain untuk mengikatkan kese­jahteraan adalah sangat tepat asal tidak mengabaikan kepentingan sekolah.
Untuk meningkatkan kualitas diri memang butuh keseriusan dan kesediaan untuk melowongkan waktu. Usaha-usaha ini dapat mengantarkan peningkatan SDM di sekolah. Sebab sangat benar bahwa guru dan perangkat sekolah dengan SDM tinggi akan mampu membentuk sekolah yang memiliki SDM yang tinggi pula.
Selain usaha lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam rangka mengembalikan budaya meno­morsatukan sekolah, maka kondisi dan bangunan fisik sekolah juga perlu ditata. Disamping itu faktor-faktor luar yang dapat membuat melemahnya semangat guru-guru untuk berbakti dan mengabdi sangat dibutuhkan supervisi oleh pihak atasan dan teman-teman sekolah. Akhirnya bila berbagai hal telah dibenahi maka tentu kita harapkan agar kata-kata “sekolahku adalah surgaku” bukanlah sekedar kata-kata penghias bibir belaka. Maka kini sudah saatnya bagi kita untuk memusnahkan budaya yang selalu menomorduakan sekolah.
http://penulisbatusangkar.blogspot.com/

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture