Translate

Jumat, 09 November 2007

KEMEROSOTAN DAYA TARIK SEKOLAH

KEMEROSOTAN DAYA TARIK SEKOLAH
Oleh : Marjohan
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

Sampai sekarang, agaknya pendidikan masih dianggap sebagai investasi nasional. Investasi terhadap manusia dengan kata lain dapat dikatakan dengan istilah “investasi dalam kemampuan manusia” atau dalam istilah yang lebih umum adalah “sumber daya manusia”.
Suatu negeri tetap miskin karena investasi dalam kemampuan manusianya juga kecil. Untuk mengentaskan keadaan ini sangat diperlukan peningkatan dan pengembangan potensial dan tepatnya adalah peningkatan keterampilan dan pengetahuan dari segenap warganya.
Keadaan dan eksistensi negara ini pada masa datang sangat ditentukan oleh investasi sumber daya manusia sekarang ini dapat kita sorot ke dalam dunia pendidikan.
Ada kecenderungan pemerosotan daya tarik sekolah dalam kalangan pelajar. Semoga saja pandangan ini tidak terlalu mengada-ada. Banyak fakta-fakta umum yang dapat menyokong pendapat ini seperti makin banyaknya anak-anak sekolah yang berkeliaran dimana-mana pada jam belajar efektif, pelaksanaan disiplin yang macet, rendahnya perhatian masyarakat untuk menyerbu fasilitas pendidikan dibandingkan dengan fasilitas hiburan dan masih senangnya hampir sebagian besar orang yang bersikap bermalas-malasan.
Kemerosotan daya tarik sekolah penyebabnya dapat ditinjau dari beberapa segi, seperti dari segi sekolah, rumah, masyarakat dan lain-lain. Walau bagaimana setiap segi ini saling mempengaruhi dan memberikan dampak negatif.
Meskipun telah banyak orang membahas tentang berbagai kritikan termasuk kritikan tentang metode mengajar namun belum tampak reaksi positif secara menyeluruh. Sampai saat sekarang metode mengajar lama masih cukup banyak digandrungi oleh guru-guru meskipun mereka telah puluhan kali mengikuti penataran-penataran dan hampir tiap saat disuguhi teori-teori.
Bagaimana keadaan metode mengajar gaya lama? Yaitu metode yang membuat murid cenderung menghafal teks demi teks catatan yang diberikan oleh guru, apakah mereka memahami atau tidak. Pelaksanaan metode lama ini telah berlangsung cukup lama. Mengajar dengan metode yang demikian cenderung bersifat dogmatik dan otoriter. Cara dari metode ini sedikit mendorong murid untuk bertanya dan bersikap kritis atau tertarik dalam belajar mandiri di luar sekolah. Inilah penyebabnya kenapa sekarang murid-murid, malah juga sampai kepada mahasiswa cenderung membisu dan suka sebagai penonton dalam dinamika kehidupan. Dan ini pulalah penyebabnya kenapa banyak generasi muda suka kebingungan dalam mengisi hari-hari kosong mereka.
Suasana mengajar pada berbagai tingkat sekolah, dari tingkat SD sampai SLTA dan barangkali juga di tingkat perguruan tinggi dengan gaya “konsep bank” atau gaya hubungan “cerek dan cangkir”. Gaya mengajar ini cenderung untuk melemahkan kebebasan berpikir dan menumbuhkan sikap mencari serta berpengalaman, yang diperlukan dalam perkembangan.
Suasana belajar murid cenderung menunggu perintah dari guru. Buku-buku pegangan baru dibaca kalau ada perintah. Karena sering guru lupa memberi aba-aba untuk membaca, maka rata-rata buku pegangan masih utuh. Malahan buku yang sengaja dipersiapkan oleh pemerintah cenderung untuk menumpuk-numpuk di pustaka atau di rumah karena budaya malas membaca. Dalam menguasai pelajaran, caya yang cukup jitu dipakai adalah lewat cara menghafal. Dan ini tampak cukup merata untuk berbagai tingkat sekolah, sehingga suasana belajar yang demikian hanya membuat murid untuk mencapai target lulus saja dan memperoleh ijazah, bukan untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang harus dibuktikan. Melihat gejala semakin kurang berkualitasnya lulusan sekarang, sehingga ada orang yang suka berkelakar mengatakan bahwa “ijazah itu hanya laku sampai di gerbang sekolah saja” dengan arti kata belum dapat diandalkan dalam kehidupan.
Situasi sekolah sekarang yang cukup mengecewakan telah membuat para lulusan tidak atau kurang berkualitas. Situasi sekolah yang mengecewakan ini adalah akibat, sekali lagi, bertahannya gaya mengajar metode lama. Proses belajar mengajar yang bersifat “text book” dan malah akibat murid belajar dengan sedikit buku atau tanpa buku pegangan sama sekali. Buktikanlah dalam kehidupan setiap hari kita melihat cukup banyak pelajar pergi sekolah melenggang saja atau Cuma membawa sehelai catatan “gado-gado” dan melipatnya ke dalam kantong. Kemudian guru dan murid cenderung bermalas-malas, mungkin akibat pemahaman kurikulum atau kurikulum itu sendiri cukup kabur dan guru kurang terlatih untuk menstimulasi aktivitas murid. Kenapa sekarang jarang guru yang bersikap profesional ideal? Ini bisa jadi disebabkan karena mereka miskin dengan ilmu, wawasan dan pengetahuan, sehingga ada saja murid yang berani mengatakan bahwa sebagian kecil guru ilmunya cuma “tua semalam” dari murid-murid.
Beberapa kritikan terhadap pendidikan yang menyebabkan semakin merosotnya daya tarik sekolah adalah sebagai berikut: Pengajaran yang serba bersifat Text-Book dan teori tanpa praktek. Populasi kelas yang cukup atau terlalu ramai dengan pengajaran cenderung melupakan program pengayaan atau perbaikan, kalaupun ada itu cuma agak berbau omong kosong saja. Murid-murid terlihat miskin dengan berbagai aktivitas pendidikan. Kurangnya penyediaan kebutuhan dan kapasitas untuk remaja. Proses belajar mengajar terlalu banyak didominasi oleh berbagai ujian, ada kalanya guru mengadakan ujian palsu karena kehabisan teknik mengajar. Dan tidak ada kegiatan ekstra kurikuler yang bermanfaat dan dapat memperkaya wawasan siswa untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan nyata kelak.
Kemerosotan daya tarik sekolah dapat pula disebabkan oleh gaya belajar murid-murid itu sendiri. Memang kita akui bawa gaya belajar ini dibentuk oleh faktor sekolah, rumah dan faktor sosial.
Gaya murid, dan bisa jadi juga mahasiswa, dalam menguasai pengetahuan adalah dengan cara melengkapi catatannya persis seperti kata-kata guru dan dalam ujian mereka berusaha keras untuk mencurahkan, mengungkapkannya lagi, dari hafalan. Ini merupakan penghalang serius dalam mengembangkan kreativitas berpikir. Disini tampak bahwa murid lebih tergantung pada ingatan atau hafalan dari pada memahami masalah dan mengembangkan alasan (logika) serta kekuatan analisa untuk menyelesaikan masalah dalam hidup.
Sudah menjadi pemandangan umum bagi kita untuk setiap musim ujian. Murid biasanya menyediakan beberapa hari saja dalam seminggu sebelum ujian untuk bekerja dan belajar intensif. Dalam menyerap ilmu mereka sering tergantung pada catatan dari pada buku-buku pegangan. Dan selanjutnya mereka tergantung pada hafalan daripada pemahaman.
Untuk mencapai kematangan pribadi murid, agaknya sangat diperlukan campur tangan atau bimbingan guru, terutama orang tua, untuk mengelola dan memanfaatkan waktu. Apa yang sering kita lihat dalam melewati hari-hati yang panjang sebelum ujian tiba, tentu tidak untuk semua murid, adalah mereka cenderung untuk membuang waktu tanpa tujuan. Sehingga kalau ada murid atau mahasiswa kita yang beruntung untuk belajar di negara Barat, dan negara maju lain, akan tercengang melihat sungguh serius dan rajin para pelajar di sana.
Agaknya kemerosotan daya tarik sekolah cukup menentukan kualitas sumber daya manusia, atau lulusan suatu sekolah. Kita lihat bahwa lulusan SLTA tentu saja tidak semuanya yang terus ke universitas rata-rata kurang stabil secara emosi, kurang terbimbing secara intelektual dan lemah dalam pemanfaatan waktu. Sehingga membuat sebagian besar mahasiswa banyak buang-buang waktu dan sedikit yang punya kesempatan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Mereka tidak tahu kemana akan pergi dan tidak tahu apa yang akan dilakukan. Kalau begitu kita tidak perlu heran kalau banyak yang mengaku telah sarjana tetapi belum bisa membuktikan diri dalam kehidupan karena bisa jadi akibat “ijazah mereka hanya laku sampai ke gerbang kampus” saja.
Kemerosotan daya tarik sekolah dan untuk menambahkan ilmu untuk tingkat SLTA sudah mulai terasa ketika murid duduk di bangku kelas tiga. Rata-rata murid kelas tiga banyak belajar acuh tidak acuh dan sering belajar serampangan saja. Kemalasan yang mereka derita ini bisa jadi akibat bahwa umumnya mereka terganggu oleh anggapan masa depan yang kabur, tetapi suka masa bodoh, dan banyaknya pengangguran terdidik di seputar mereka. Kecuali kalau mereka suka menganalisa bahwa pengangguran terdidik yang menganggur itu adalah akibat kualitas diri masih rendah, selain suratan dari Ilahi, karena ilmu mereka baru hanya sebatas “text-book thinking” semata. Pendidikan memang penting bagi seseorang karena ia memberinya kesempatan untuk meningkatkan “income” dan tingkat kehidupan seperti fasilitas kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Untuk pendidikan lewat penguasaan pengetahuan dan skill dapat membuat kemungkinan peningkatan “output”. Untuk itu penting bagi seseorang untuk memiliki kebutuhan akan pendidikan dan sekolah. Kehilangan daya tarik terhadap sekolah dan pendidikan, selain disebabkan oleh berbagai faktor yang telah kita sebutkan di atas, juga disebabkan faktor orang tua. Murid-murid dengan perilaku negatif banyak datang dari keluarga dengan orang tua yang sibuk dan tidak mampu memberi perhatian. Dan kalau pun orang tua tidak sibuk, tetapi akibat mereka kelewatan dalam memberi perhatian dan pemanjaan, tanpa membantu anak dalam belajar dan mengelola waktu, telah membuat anak-anak mereka berkualitas jelek.
Kenapa daya tarik sekolah merosot bisa terjadi? Terhadap pertanyaan ini dapat kita dengar jutaan alasan dan keluhan. Dari sudut pandang murid, mereka punya alasan untuk mengeluh karena kondisi hidup dan sekolah yang tak memadai. Alasan atau keluhan ini adalah seperti: jarangnya mereka memiliki buku, fasilitas pustaka dan labor yang terbatas, tempat tinggal yang tidak memadai dan akibat sedikitnya kontak dengan guru dan guru bimbingan dan konseling. Keluhan dari segi guru adalah seperti: guru yang kurang terlatih, gaji yang kurang memadai sehingga banyak guru yang demam berhutang pada koperasi atau bank, kelas yang ramai, kurikulum yang belum layak, keadaan kelas yang dua shift, buku teks yang tidak menarik dan media mengajar yang sering tidak ada di dalam proses belajar mengajar.
Kini mengingat dan melihat tantangan hidup yang makin nyata agaknya kita mesti lebih serius dalam memperhatikan investasi manusia dalam arti peningkatan sumber daya manusia. Untuk itu sangat diperlukannya pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas ditentukan oleh guru yang cakap dan mahir. Sekolah tetap membutuhkan guru yang luas ilmunya, dapat beradaptasi, kompeten dan berbakti pada tugas. Di samping itu juga perlu sokongan orang tua. Malah tentu yang omong kosong bila sekolah berkualitas dan orang tua, dan juga masyarakat yang berkualitas menghasilkan murid serta mahasiswa yang berkualitas pula.










Kamis, 08 November 2007

TINGGALKANLAH METODE KONVENSIONAL

TINGGALKANLAH METODE KONVENSIONAL
Oleh: Marjohan
Guru SMA Neg.3 Batusangkar

Ramai sekali media massa menulis masalah Sumber Daya Manusia. Begitu pula para pakar telah sama setuju bahwa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia amat diperlukan pendidikan. Dengan arti kata dunia pendidikan memegang peranan yang betul-betul pen­ting. Martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas bangsa itu sendiri. Kualitas suatu bangsa diukur dengan sumber daya manusianya.
Kita sadari bahwa pendidikan, sungguh penting untuk kemaju­an bangsa. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencapai bangsa yang berkualitas adalah dengan melaksanakan wajib belajar. Untuk mencapai hal ini Presiden Soeharto telah menca­nangkan wajib belajar enam tahun tepat pada hari Hardiknas tanggal 2 Mei 1984. Kemudian untuk percepatan mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, maka sepuluh tahun kemudian, Mei 1994. Presiden mencanangkan lagi wajib be­lajar sembilan tahun. Untuk mensukseskan wajib belajar sembilan tahun itu sangat dituntut tenaga pendidik yang betul-betul ahli dalam bidang­nya (profesional) agar dapat mengelola pendidikan di la­pangan secara baik.
Mengingat betapa pentingnya sektor pendidikan dalam pelak­sanaan pembangunan nasional jangka panjang tahap dua, khusus pembangunan sumber daya manusia, kita tidak dapat menu­tup mata dan telinga terhadap sektor pendidikan kita yang mutunya masih tertinggal itu. Dan orang-orang arif dalam dunia pendidikan di negara ini cukup respon atas berbagai masalah pendidikan. Mereka merekayasa dan melaksanakan berbagai usaha peningkatan dan penyegaran.
Berbagai usaha untuk me­ningkatkan kualitas pendidikan telah sama-sama kita rasakan dan kita lihat. Begitu pula banyak pembaharuan demi pe­ningkatan mutu yang sudah dilakukan. Mengganti kuri­kulum yang diikuti oleh peru­bahan struktur buku-buku pela­jaran yang membanjir di pasaran. Membentuk proyek pe­ningkatan kwalitas guru-guru yang dilaksanakan dalam bentuk penataran, seminar-seminar dan latihan kerja. Begitu juga penye­diaan sarana dan prasarana bidang pendidikan.
Betapa usaha ini diterapkan melalui pengorbanan moril dan materil. Memberikan keri­nganan bagi guru-guru, misalnya dengan mengurangi jumlah jam mengajar di sekolah, agar dapat mengikuti penataran apakah dalam bentuk sanggar-sanggar atau bentuk MGMB dan MGBS. Namun usaha-usaha ini belum lagi menampakkan harapan dan pencapaian target. Kita dapat mengetahuinya lewat hasil Eb­tanas yang tetap rendah tiap tahun. Dan kita langsung mem­perhatikan betapa bertambahnya jumlah murid yang mengalami malas. Dari membaca media massa atau langsung melihat fakta yang menunjukkan adanya keruwetan dalam sekolah dan meningkatnya angka kenakalan pelajar.
Barangkali apa yang menye­babkan lambatnya peningkatan kualitas pendidikan ini? Li­hatlah proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru kepada murid barn sampai pada taraf memberi bekal penge­tahuan dan keterampilan sebatas sekedar tahu saja. Belum sampai kepada meletakan nilai-nilai wawasan sosial dan kemanu­siaan, serta penguasaan bekal hidup yang praktis. Dalam sis­tem pengajaran kita lihat hu­bungan guru dan murid ibarat hubungan cerek dan cangkir. Yang satu cuma sebatas mem­beri dan yang lain sekedar menerima saja.
Atau mungkin karena sistem pendidikan yang diterapkan oleh guru kepada murid bersifat mengulang-ulang dan tidak ada, atau kurang, kreasi dalam mengembangkan pelajaran dan seni mengajarnya. Sama-sama kita perhatikan bahwa masih ada guru-guru yang mana kalau mengajar menggunakan buku dan catatan yang sama sepan­jang tahun. Ada pula guru karena kurang menguasai bahan kemudian mengambil strategi mudah, yaitu meringkas isi buku untuk dicatatkan melulu. Atau menghafalkan buku catatan agar besok dapat disajikan ke ha­dapan murid di dalam kelas. Murid sendiri dapat mengatakan bahwa guru yang demikian ilmunya cuma tua satu malam dari murid. Dan inilah kenya­taan yang membuat integrasi guru-murid tetap berjalan macet. Guru sibuk berbicara di depan kelas sedangkan murid asyik melucu atau ngobrol di bela­kang.
Tampak taraf pengajaran kita untuk menyerap ilmu masih sekedar menyodorkan tugas­-tugas hafalan untuk diuji. Sis­tem komunikasi dalam kelas cenderung satu arah dan murid lebih dominan bersikap yes-man kepada guru. Mengkeritik guru atau beradu argumen seolah dipandang tabu. Mungkin selalu dibelenggu ketakutan karena berdampak pada ancam­an pada nilai rapor. Demikianlah ungkap salah seorang murid dalam suatu dialog ri­ngan. Belajar dengan cara meng­hafal sungguh mematikan krea­tif berfikir dan menunjukkan bahwa guru-guru masih mene­rapkan pengajaran sistem kuno.
Ciri-ciri sistem pengajaran kuno atau konvensional sangat terlihat jelas dalam interaksi guru-murid di sekolah. Dianta­ranya adalah pendekatan yang masih bersifat otoriter, yaitu bersifat menguasai. Guru meng­anggap bahwa dirinyalah paling benar. Yang mengharuskan seti­ap murid menerima apa yang dikatakan. Pernah kejadian pada sebuah sekolah. Seorang murid kritis tergolong pintar mencoba memberi usul atau kritik kons­truktif kepada seorang guru bidang studi. Membuat, guru menjadi merah muka dan bukti merasa gembira. Guru itu tampak kesal dan pada akhir semester dia telah menodai rapor murid dengan angka mati. Dia melakukan ini entah karena rasa dendam karena merasa kelin­tasan akibat ilmunya minus atau semata-mata memperturutkan egois.
Berbicara mengenai metoda pendekatan dalam pendidikan, ada tiga bentuk metode pende­katan yaitu konvensional, prog­resif dan metode liberal. Seko­lah-sekolah kita amat mengenal metode konvensional karena metode itu melekat terus. Sikap otoriter terlihat jelas dalam metode ini.
Beginilah suasana kelas atau sekolah dengan metode kon­vensional. Kelas dengan jumlah murid yang masih ramai, dan tampak lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Seolah-olah ruang kelaslah yang menjadi wilayah belajar murid, meskipun teori diatas kertas sungguh bagus. Dalam proses belajar mengajar siswa tampak bersikap pasif. Mereka hanya menerima ilmu saja dan dalam memahami pelajaran cenderung untuk selalu menghafal buku catatan. Interaksi guru-murid lebih diwarnai oleh rasa takut, ini menandakan fikiran masih terbelenggu. Dalam penguasaan bidang ilmu seolah-olah guru serba tahu secara mutlak. Ce­ramah merupakan metode yang lazim diterapkan. Murid-murid kurang terlibat secara aktif dan inilah penyebab suasana kelas dan suasana belajar menjadi serba membosankan. Hampir setiap hari banyak murid yang memboloskan diri. Maka tentu tidak berlaku kalimat yang berbunyi “kelasku adalah istanaku” tetapi yang terjadi ha­nyalah “kelasku terasa bagaikan penjara”.
Untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas adalah lewat sumber daya ma­nusia yang berkualitas pula. Maksudnya untuk memperoleh murid yang berkualitas tentu dibutuhkan pula guru yang, berkualitas. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar peran guru tidak hanya sekedar membantu proses pembelajaran atau sebagai seorang pengambil keputusan instruksional. Tetapi lebih dari itu yaitu guru harus dapat berperan sebagai konselor, motivator dan fasilitator agar proses pembelajaran anak didik tidak asal-asalan saja.
Untuk mendapatkan pendi­dikan yang berkualitas agaknya sederhana saja rumusnya, yakni guru jangan mengajar asal-­asalan. Sangat mustahil kalau guru-guru yang demikian dapat bertindak atas nama pening­katan kualitas, berfungsi sebagai konselor, motivator dan fasi­litator bagi murid-murid. Mustahil pula seorang guru akan ikut berpartisipasi sem­purna dalam pendidikan kalau ia sendiri belum menampakkan, kualitas diri. Untuk itu kita mengharapkan agar guru-guru bersikap tulus dalam mening­katkan kualitas pendidikan dan diri sendiri. Andai kata mereka mengikuti penataran atau sang­gar, misalnya, janganlah hanya sekedar mengharapkan sertifikat untuk kredit poin, mengha­rapkan sejumlah kecil maten dan begitu pula jangan hanya bersikap pasif atau sekedar hura-hura. Agar dapat mema­inkan peranan dengan baik dalam dunia pendidikan maka guru harus senantiasa membe­lajarkan diri, otodidaktif, dan agaknya tidak ada alasan lagi bagi guru untuk selalu ber­lindung di balik alasan untuk tidak belajar. Sediakanlah wak­tu setiap hari untuk menyentuh buku-buku yang bermanfaat dan dapat menambah wawasan ber­fikir dengan harapan kita semua dapat menjadi gum yang ber­kualitas agar kita dapat men­didik murid-murid menjadi sumberdaya manusia yang ber­kualitas.


Marjohan, Guru SMA Negeri 3 (Program Layanan Keunggulan) Batusangkar. Sumatra Barat. (rekening: Batusangkar, Kota II 33-22-3872)

MENYELENGGARAKAN SEKOLAH UNGGUL PERLU MEMBUDAYAKAN GEMAR MEMBACA

MENYELENGGARAKAN SEKOLAH UNGGUL PERLU MEMBUDAYAKAN GEMAR MEMBACA
Oleh : Marjohan

Akhir-akhir ini ada ide un­tuk menyelenggarakan, sekolah unggul. Tentu ini amal mem­banggakan kita semua, sebab selama ini seolah-olah orang kita, cuma tenggelam dalam kri­tik-mengkritik saja. Halaman surat kabar clan media lain banyak menceritakan tentang kualitas dunia pendidikan yang rendah. Kemudian pemikir pen­didikan mengadakan usaha tam­bal sulam dan sedikit perubah­an-perubahan dimana pada akhirnya tetap menunjukkan kualitas yang tidak beranjak.
Kata orang tua-tua, karena mudahnya untuk bersekolah sekarang membuat orang ada yang memandang enteng saja dunia pendidikan. Tingkat ke­benaran pernyataan ini tentu tergantung kepada persepsi kita masing-masing. Yang jelas dalam pandangan kita tetap ada murid yang semangat belajar tinggi tetapi banyak pula mere­ka yang memandang sekolah ini sebagai main-main saja. Agak­nya setiap kita pernah mendengar guyon-guyon lucu yang mereka katakan: Sekolah itu pergaulan, SPP sumbangan dan buku rapor undangan.
Sebelum istilah sekolah unggul muncul dalam surat kabar, dulu telah ada pula istilah seko­lah plus. Untuk SMA bernama SMA PLUS. Bisa jadi bahwa sekolah plus itu lah yang dike­nal dengan istilah sekolah ung­gul clan ini telah berdiri di Indo­nesia. Dimana sebagai contoh dan patokan pula bagi daerah-daerah lain yang berminat mengikutinya.
Arti “Plus” atau “unggul” adalah menunjukkan jaminan mutu. Sebab kita mengharapkan sekolah-sekolah unggul dapat mengeluarkan lulusan yang ber­mutu. Ada dua sekolah yang menyelenggarakan sekolah unggul di Indonesia, yaitu SMA Taruna Nusantara Magelang dan SMA Soposurung. Tentu akan dan telah bermunculan pula ditempat-tempat lain.
SMA Taruna Nusantara, yang didirikan tahun 1990 di Ma­gelang, merupakan SMA Plus (unggul) swasta murni yang ber­diri alas kerja sama 'MABES ABRI dan perguruan Taman Siswa. SMA Soposurung, di Sumatera Utara, dimulai tahun 1991, menggunakan model ker­ja sama pemerintah dan swasta. Pemerintah menyediakan SMA Negeri 3 Soposurung, sementara yayasan Soposurung mem­bangun asrama; menyediakan bea siswa clan membiayai pen­didikan ekstrakurikuler.
Keunggulan SMA-SMA di­atas, nilainya, ada pada asrama yang tidak hanya sebagai tempat menginap. Asrama untuk seko­lah ini dilengkapi dengan fasili­tas penunjang clan bimbingan bagi siswa di luar jam pelajar­an. Artinya pendidikan yang diberikan boleh dikatakan terin­tegrasi antara pendidikan di kelas dan pendidikan mental disiplin asrama.
Belajar dan tinggal di sekolah unggul semua serba diatur. Saat baru bangun tidur, pukul lima pagi, siswa-siswa langsung di­giring untuk senam pagi. Lalu ada bimbingan rohani sebelum makan pagi dan berangkat seko­lah. Seusai sekolah ada berbagai kegiatan dari olah raga, berdiskusi sampai pada cera­mah ilmiah. Demikian kata salah seorang siswa SMA Ta­runa Nusantara asal Sumatera Barat.
Tahun lalu beberapa provinsi juga akan membuka beberapa sekolah unggul, SMA Plus, yang semuanya mengacu pada model SMA Taruna Magelang atau SMA Soposurung Suma­tera Utara. Begitu pula halnya dengan provinsi ini, Sumatera Barat, di mata jajaran Depdik­bud telah menyelenggarakan rapat-rapat kerja tentang penyelenggaraan sekolah unggul.
Agaknya menarik juga meng­ikuti tulisan Naswardi dalam pojok komentar yang berbunyi “Padang perlu sekolah unggul” (Singgalang, 31 Januari 1995). Dalam tulisan itu dinyatakan tentang misi sekolah unggul yakni meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber­ daya manusia Indonesia sebagai subyek dan wahana untuk men­capai tujuan pembangunan na­sional.
Menurutnya bahwa sekolah unggul tidak semudah yang dibayangkan dan harus memili­ki tingkat fleksibilitas yang tinggi. Faktor yang menentukan dalam penyelenggaraan sekolah unggul adalah penerapan dan pengembangan kurikulum, dan proses belajar mengajar yang dapat memacu dan mewadahi integrasi antara pengembangan logika, kreatif dan estetika. Dis­amping pembenahan proses pengadaan, pengangkatan, pen­empatan dan pembinaan tenaga pendidik.
Kemudian, kepala sekolah menduduki peran yang amat penting dalam pengembangan dan mengelola seluruh sumber­ daya yang dapat mendukung keunggulan sistem sebuah sekolah unggul. Ia mempunyai kemam­puan manejerial yang tinggi dan pengalaman sebagai kepala sekolah minimal tiga tahun.
Guru yang selalu berhadapan dengan murid di sekolah me­nempati peranan kunci dalam mengelola kegiatan proses bela­jar mengajar. Pada jenjang Sekolah Dasar sebagai sekolah unggul yang dirintis akan menggunakan pendekatan sis­tem guru kelas. Sedangkan pada tingkat SMP dan SMA menggu­nakan sistem guru mata pelaja­ran. Keunggulan guru tidak ha­nya ditakar dari kemampuan in­telektualnya melainkan juga ke­unggulan aspek moral, keiman­an, ketaqwaan, disiplin, bertanggung jawab, keluasan wa­wasan kependidikannya dalam mengelola kegiatan proses bela­jar mengajar.
Rasanya untuk menyelengga­rakan sebuah sekolah unggul betul-betul memerlukan rencana dan persiapan yang matang dan komplit. Dan semua ini amat didukung oleh penyediaan dana yang besar. Sedangkan dalam meningkatkan kualitas dan kwantitas dunia pendidikan kita dana inilah yang selalu menjadi kendala. Bayangkan saja untuk anggaran pendidikan yang dise­diakan negara kita cuma sekian persen saja, belum apa-apa dengan jumlah anggaran militer dan sebagainya. Konon kabar­nya persentase anggaran pendi­dikan di negara kita terendah untuk tingkat negara ASEAN. Namun untuk kelancaran seko­lah-sekolah unggul, yang tadi disebutkan, tergantung banyak kepada sokongan swasta. Mengingat begitu banyaknya jumlah sekolah di negeri ini, tentu cuma segelintir saja jumlah keberadaan sekolah unggul ini. Kecuali nanti apabila kondisi negara kita amat mapan secara (pengadaan) materil dan spiritual. Bagaimana dengan ke­beradaan sekolah-sekolah lain, padahal memperoleh pendidi­kan yang berkualitas adalah ter­masuk hak mereka dan kita se­mua. Kalau begitu menyeleng­garakan sekolah unggul adalah juga sebuah hak yang harus dipikirkan dan diperhitungkan.
Untuk menjadi unggul (pin­tar) faktor tempat tidaklah selalu menentukan. Seseorang yang berada di pedalaman Irian Jaya dapat saja menjadi orang yang unggul atau berpikiran mo­deren kalau ia sanggup me­ngembangkan potensial diri dan otak adalah potensial utama kita. Begitu pula halnya dengan sekolah-sekolah, tetaplah disana ada tenaga potensial yang dapat dikembangkan. Selama ini ada sebuah potensial sekolah yang belum dimanfaatkan secara penuh yaitu “pustaka”.
Untuk menyelenggarakan se­kolah unggul tentu (kita) perlu membudayakan gemar mem­baca. Sebab tanpa gemar mem­baca sekolah unggul yang di­harapkan tentu cuma selalu be­rada dalam mimpi.
Menyelenggarakan sekolah unggul ala SMA Taruna Ma­gelang bagi sekolah-sekolah di daerah tentulah di luar kemam­puan karena biayanya amat ma­hal. Tetapi menyelenggarakan sekolah unggul dalam arti kata peningkatan mutu ini memerlu­kan kemauan kita dalam mem­belajarkan diri agar wawasan pendidikan dan intelektual kita meningkat.
Untuk ini usaha kita amat berhubungan dengan buku dari perpustakaan. Untuk itu ke­beradaan perpustakaan sekolah, sekali lagi, perlu dikembangkan agar budaya gemar membaca dapat terwujud.
Kalau kita perhatikan kegia­tan siswa di luar jam pelajaran di sekolah cuma hura-hura me­lulu dalam arti kata tidak sebe­rapa siswa yang melatih minat dengan keberadaan pustaka, ka­laupun ada pustaka di kebanya­kan sekolah cuma minim fasilitas dan terkunci melulu. Ini me­nunjukkan kondisi minat baca yang rendah. Padahal syarat untuk maju musti gemar mem­baca.
Kondisi minat baca yang ren­dah pada tingkat SD dan seko­lah menengah membawa penga­ruh pada tingkat selanjutnya. Tingkat dasar harus menjadi perhatian utama. Karena se­makin baik peranan di tingkat dasar ini akan semakin baik pula untuk tingkat selanjutnya. Kalau kita amati kebiasaan membaca yang rendah pada waktu sekolah dasar menyebab­kan kebiasaan membaca pada tingkat SLTP dan SLTA rendah pula. Pada akhirnya pada ting­kat perguruan tinggi demikian pula dimana mahasiswanya ba­nyak yang kasak kusuk dan ti­dak percaya diri. Menghadapi masa tentamen (ujian) dengan sistem sopir atau mengandalkan jimat ala anak SMA. Kelak dalam menyelesaikan skripsi dan tesis ban yak yang kelaba­kan terpaksa comot sana comot sini.
Minat baca yang rendah tentu saja dapat ditingkatkan. Dalam upaya ini penyediaan sarana amat penting di kalangan ge­nerasi muda. Membenahi pusta­ka dengan menyingkirkan tem­patkan buku-buku teks yang ti­dak terpakai dan menempatinya dengan bahan bacaan yang me­narik dan merangsang intelektu­al siswa amat bermanfaat. Su­dah sepatutnya pihak sekolah, dan jajaran pendidikan, untuk memikirkan melowongan waktu yang agak panjang agar siswa punya kesempatan untuk meni­kmati keberadaan pustaka. Ke­mudian memperkenalkan buku-buku yang bermanfaat kepada anak didik agar mereka dapat mengenal.
Sebab seperti kata-kata ro­mantis “tak kenal maka tak cin­ta”. Andai kata siswa-siswa (generasi muda) telah mengenal indahnya buku tentu kelak bu­daya membaca akan dapat ter­wujud. Kalau membaca telah membudaya tentu harga buku tidaklah menjadi persoalan bagi mereka, sebab bukankah untuk membeli sarana hiburan yang jauh lebih mahal mampu orang ­tua mereka memenuhinya.
Terakhir, kalau mereka telah membudayakan kebiasaan membaca tentu mereka nanti dapat menjadi siswa-siswa yang unggul yang selanjutnya akan menentukan keunggulan sekolah.

MEMULUSKAN KOMUNIKASI ATAS-BAWAH DI SEKOLAH

MEMULUSKAN KOMUNIKASI ATAS-BAWAH DI SEKOLAH
Oleh : Marjohan

Tak sedikit mass media menyuarakan tentang jeleknya mutu pendidikan pada masa-masa yang telah lalu. Penurunan mutu pendidikan ini sebagian tersandung karena buruknya komunikasi atas bawah. Yaitu komunikasi antara murid dan guru dan komunikasi antara guru-guru dengan pihak atasan.
Ada beberapa isyarat di sekolah yang menunjukkan bahwa komunikasi lagi tersandung. Apakah di dinding WC dan bagian dinding sekolah lain banyak coret-coretan, waktu bukan karena aksi vandalisme, tetapi sebagai sarana pelampiasan rasa tidak puas.
Suatu ketika kita melihat coretan yang ditulis siswa yang lagi memprotes kepala sekolah atau salah seorang guru bidang studi yang kurang bersahabat dengannya. Parahnya lagi kala siswa itu memiliki karakter mental yang labil dan tidak mampu mengekspresikan dalam bahasa lisan secara jantan, memilih cara sembunyi-sembunyi untuk menuliskan kata-kata jorok sebagai ungkapan rasa protes.
Tingginya tingkat absensi guru-guru adalah isyarat jeleknya komunikasi antara guru dengan pihak atasan. Begitu pula terhadap siswa-siswa. Walaupun dari rumah terlihat menuju sekolah, tetapi kemudian menyimpang entah kemana, juga merupakan dari jeleknya komunikasi antara guru dan murid di kelas.
Komunikasi yang ideal adalah komunikasi yang dua arah, atau two ways communication. Tetapi yang lazim terlihat dan teraplikasikan adalah komunikasi satu arah dan datanya selalu di atas.
Di kelas, dalam proses belajar mengajar, lebih ditekankan sistem belajar “student-centered” dan “communicative approach”. Pelaksana penekanan kedua sistem ini amat menyokong teraplikasinya komunikasi sistem dua arah, dari guru ke murid dan dari murid ke guru. Tetapi sayang penekanan kedua sistem ini belum memasyarakat di sekolah-sekolah. Yang masih sering teraplikasikan adalah sistem “teacher-centered’ dan “non communicative approach”.
Suasana umum yang terlihat pada hampir banyak sekolah adalah aktivitas belajar mengajar yang berfokus kepada guru. Dimana guru lebih kerap memilih metoda berceramah di depan murid-murid yang terpaksa tenang. Kalaupun ada guru yang memilih metoda belajar mengajar dan menyajikan pelajaran dengan menggunakan media-media sederhana di papan tulis, karena baru saja selesai melakukan penataran pendidikan. Tetapi kerap kali cara mengajar yang begini hanya bertahan untuk sesaat saja dan setelah itu kembali menggunakan metoda mengajar asal jadi saja.
Komunikasi satu arah, dari guru ke murid, kerap kali membuat murid serba pasif. Apa saja yang diperbuat dan diperintahkan oleh guru adalah mutlak dan harus diterima oleh murid. Sebetulnya ada juga murid yang ingin berpartisipasi aktif dalam berkomunikasi. Tetapi ia khawatir kalau guru salah paham. Pada akhirnya adalah berdampak pada gertakan pengurangan nilai rapor.
Kadang kalau guru ada yang aneh. Kalau dalam kegiatan belajar mengajarnya tidak ada murid yang mampu bertanya atau menjawab, maka ia akan marah. Tetapi kalau ada murid yang bertanya atau mengungkapkan protes, sebagai tanda bahwa murid itu juga kritis, maka guru tertentu akan marah. Barangkali dimatanya adalah bahwa murid yang baik adalah murid yang tidak banyak cerita dan kalau diminta musti menurut.
Komunikasi satu arah dalam kelas menunjukkan bahwa hak murid untuk berbicara masih terbelenggu. Memang cukup banyak murid yang suka bicara balik belakang sebagai isyarat bahwa komunikasi dari arus bawah, dari murid ke guru, masih macet. Ada seorang murid tercatat sebagai penerima beasiswa, misalnya, tetapi setelah belajar dua atau tiga bulan beasiswa itu belum juga cair. Rasa takut membuat ia tetap tersandung dalam mewujudkan komunikasi dari arah bawah. Khawatir akan berantakan atau jawaban yang mengecewakan dari guru tetap menyebabkan rasa takut dan khawatir yang dirasakan oleh murid.
Guru, meskipun di dalam kelas dapat berceloteh tetapi dalam berkomunikasi dengan pihak atasan juga sering tersandung. Akibatnya banyak mereka suka bicara belakangan dan melakukan perbuatan apa yang dia suka meski merugikan murid sebagai ungkapan protes atas ketidakpuasan.
Seringkali seorang guru banyak mempunyai ide-ide dan unek-unek lain yang ingin disampaikan kepada pihak atasan. Tetapi begitu rapat telah berlangsung ia tak mampu lagi mengutarakan segala ide dan unek-unek dalam kepala tak mampu meluncur keluar. Rasa percaya diri kurang, tidak terlatih untuk berbicara dalam forum dan beban psikologis lain selalu menjadi batu penyandung dalam berkomunikasi. Sehingga tetap saja komunikasi dua arah gagal untuk terwujud. Ditambah lagi dengan sikap pihak atasan yang selalu suka menjaga jarak, barang kali ingin menjaga harga diri atau wibawa mungkin.
Banyak hal-hal yang tetap menyebabkan kita gagal dalam menyalurkan ekspresi dalam komunikasi dua arah. Penyebab utama adalah karena kita tidak terlatih sejak kecil dalam keluarga. Ini semua bisa jadi akibat kesibukan orang tua dalam mencari nafkah dan tidak tahu cara untuk melowongkan waktu untuk mendidik kita sebagai generasi penerus mereka. Atau kalaupun ada waktu mereka tidak memiliki ilmu cara mengembangkan pribadi kita untuk berkomunikasi. Ini disebabkan rendahnya pendidikan rata-rata orang tua kita.
Umumnya kita dapat mengungkapkan pikiran dalam bentuk komunikasi dua arah adalah dalam suasana informal diluar kegiatan proses belajar mengajar bagi guru dan murid. Dalam suasana santai, pada waktu senggang, bagi komunikasi guru dengan pihak atasannya. Tapi sayang sering diluar kegiatan belajar mengajar, begitu proses belajar mengajar usai, guru walau tidak semua buru-buru meninggalkan ruangan kelas dan tidak menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan murid walau hanya sepatah-dua patah kata. Begitu pula bagi pihak atasan sekolah, walau tidak semuanya, pada waktu senggang mengurung diri di ruangannya. Atau kalau punya waktu untuk berkumpul dengan rekan-rekan guru lebih sering bersikap sebagai mandor yang akan mengawasi para pekerja. Dalam arti kata berpenampilan angker dan mahal senyum, datang cuma mencek “kenapa anda mengajar begini dan kenapa tidak begitu”. Atau datang cuma untuk memberikan anjuran demi anjuran seperti : tingkatkanlah disiplin, cobalah anda tingkatkan NEM bidang studi anda, buatlah satuan pelajaran dan lain-lain. Itu Cuma kalimat yang disampaikan dalam komunikasi satu arah, dari atas ke bawah, yang isinya Cuma seputar “anjuran dan larangan semata”. Setelah itu ia kembali menyelinap kedalam ruangan kantornya sebagai menara gadingnya.
Ada anggapan bahwa untuk tetap berwibawa maka seorang guru harus menjaga jarak terhadap murid dan seorang atasan membuat jarak sosial terhadap guru-guru. Menjaga jarak dalam makna yang sempit dan makna kata “berwibawa” yang lebih picik telah mewarnai bentuk interaksi dan komunikasi kita.
Malah ada orang yang beranggapan bahwa ia telah beranggapan bahwa ia telah mengaplikasikan prinsip penampilan berwibawa dengan cara berbusana rapi, mahal senyum dan dengan gerak dan cara berbicara yang dibuat-buat. Namun dampaknya orang malah merasa risih apabila berdampingan dengan orang seperti itu. Namun bila telah saling berpisah terasa adanya kelapangan dan kebebasan. Ibarat seorang anak yang berdampingan seorang ayah yang otoriter atau diktator yang menganggap pribadinya sebagai ayah yang berwibawa. Dimana anak merasa bebas kalau tanpa ada ayah disampingnya.
Kewibawaan bukan ditentukan oleh ukuran fisik guru atau seorang. Bersikap dan berbicara yang dibuat-buat tidak akan mendatangkan arti wibawa yang sesungguhnya. Wibawa lebih ditentukan oleh isi kepala, isi data dan sikap seseorang. Tidak salah kalau kita membuka diri kepada murid dan sekali-kali bercanda dengan mereka. Tetapi bila kita terlalu suka bercanda bebas dan berlebihan tentu tidak ada lagi batas-batas dan akan membuat wibawa hancur. Begitu pula bila kita mengabaikan cara berpakaian dan cara berbicara, tentu wibawa bisa lebur.
Sekarang tampaknya usaha pemerintah dan kita semua dalam meningkatkan sumber daya manusia di sekolah terlihat semakin serius. Kalau tidak buat apa gunanya diadakan sekolah unggul atau kelas unggul segala.
Namun usaha-usaha kita dalam peningkatan mutu tentu tidak tercapai secara sempurna kalau komunikasi tidak pernah dimuluskan. Dan yang kita maksudkan adalah memuluskan komunikasi dua arah.
Kebiasaan mengkritik atau berbicara balik belakang menandai adanya komunikasi internal, komunikasi dua arah yang tersumbat. Ini tentu saja karena komunikasi terlalu bersifat searah, alias hanya dari pihak atasan kepada guru-guru dan dari guru-guru kepada murid-murid.
Jika komunikasi internal tak segera dibenahi dan kepentingan kedua pihak tidak dipertemukan maka konflik demi konflik akan merusak hasil-hasil usaha yang telah kita lakukan. Maka salah satu usaha yang dapat kita melakukan untuk memuluskan komunikasi atas bawah di sekolah adalah dengan cara membudayakan komunikasi intensif.
Forum informal, mengadakan dialog-dialog ringan pada saat guru dengan murid, adalah cara efektif untuk membudayakan komunikasi intensif. Forum informal itu penting untuk menangkap aspirasi dari arus bawah. Tidak semua hal bisa terungkap dan digali lewat komunikasi formal.

EKSTRA KURIKULER BERORIENTASI KEPADA DUNIA KERJA

EKSTRA KURIKULER BERORIENTASI KEPADA DUNIA KERJA
Oleh: Marjohan
SMA Negeri 3 Batusangkar

Agaknya angka pengangguran setiap tahun bukan semakin berkurang tetapi malah sebaliknya, semakin meningkat dan bertambah parah. Mengapa sampai tinggi tingkat pengangguran untuk negeri seperti Indo­nesia yang begitu hijau dan subur? Sementara itu untuk negara maju profesi seperti tukang cat, bertani, beter­nak, berkebun dan lain-lain adalah profesi yang cukup banyak dilakukan oleh generasi muda. Sementara itu di negara kita profesi ini dianggap­ “begitu rendah” sehingga mereka cenderung mengabaikannya dan tidak ­merasa malu untuk menganggur, untuk sebagian orang atau pergi merantau tanpa arah dan tujuan yang jelas.
Jiwa menganggur bisa jadi timbul dari etos kerja yang sangat tipis. Hidup tanpa etos kerja barangkali telah dita­namkan oleh lingkungan. Lingkungan rumah, lingkungan sosial dan lingkungan sekolah yang kurang memperhatikan gambaran dunia kerja.
Begitu kuat pengaruh kata-kata yang, dilontarkan oleh orang tua dan famili di rumah terhadap generasi muda. “Oh itu pekerjaan kasar; tidak cocok untuk anak sekolah’ “Kemudahan apa yang terjadi adalah mereka bangkit dengan watak suka gengsi-gengsian dalam menyentuh pekerjaan. Otak yang tidak menyokong, wawasan vans sempit dan mental yang lemah telah ikut mensuburkan mereka ke dalam angka pengangguran. Tampak, jelas bahwa pengangguran dapat juga disebabkan oleh faktor lingkungan rumah dan ketidaksiapan orang tua untuk memperkenalkan serta mewarisi generasi muda terhadap pekerjaan.
Lingkungan sosial tak sedikit mempengaruhi mental menganggur. Kawan-kawan yang terlalu dibuai oleh hiburan yang berlimpah dan iklan-iklan yang banyak menyerukan untuk pemanjaan kulit telah mempengaruhi jiwa generasi muda dan kemudian membiusnya. Semangat adalah ibarat virus karena bisa menulari kita, maka sangat arif kalau kita senantiasa kalau tidak bisa mengatasinya untuk menghindari orang-orang yang suka mematahkan semangat kerja.
Sebagian lain dari melempemnya etos kerja bisa jadi karena pengaruh sekolah. Walau sekolah telah dibagi atas sekolah umum dan sekolah kejuruan, tetapi agaknya sekolah-sekolah itu lebih memperhatikan pembinaan aspek cognitif atau intelektual dan cenderung mengabaikan aspek psikomotorik clan faktor efektif.
Sekolah kejuruan saja, misalnya yang telah melatih dan mengasuh siswa-siswa dalam aspek cognitif dalam psikomotorik atau keterampilan masih banyak melahirkan lulusan yang “demam mengang­gur”. Penyebabnya adalah pada faktor efektif atau mentalitas kerja. Apalagi kalau kita tinjau pula keberadaan sekolah lanjutan untuk yang diper­siapkan untuk ke perguruan tinggi. Tetapi faktor finansial atau kantong orang tua yang tipis dan kualitas otak sangat sederhana telah menciptakan para lulusannya menjadi korban pe­ngangguran. Melihat kenyataan ini tentu sangat menarik kalau kita soroti keberadaan sekolah menuntut program pendidikan yang ada.
Tentang kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Sampai sekarang kegiatan ekstrakurikuler pada banyak sekolah, terlihat hanya bersifat main-main saja dan belum dirancang secara khusus untuk menghadapi tantangan masa depan. Kegiatan ekstrakurikuler yang umum diikuti oleh banyak siswa sekarang adalah seperti kegiatan olah raga, pramuka, pencinta alam dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan itupun cende­rung bersifat angin-anginan. Kemudian bentuk kegiatan ekstrakurikuler lain yang juga banyak diikuti oleh siswa-siswa adalah dalam bentuk kursus bahasa Inggeris dan kursus komputer. Kemudian bagaimana hasilnya? Karena kebanyakan kita, dan juga anak-anak didik memiliki semangat belajar rendah dan tidak disiplin membuat mereka serius suka putus ditengah jalan. Serine terlihat peserta kursus-kursus seperti “ekor tikus” makin ke ujung makin habis.
Secara formal kegiatan ekstrak kuri­kuler di sekolah dapat dituangkan lewat program kegiatan OSIS. Bentuk prog­ram yang dapat diterapkan oleh OSIS terlihat ada dalam bentuk delapan seksi. Seksi-seksinya adalah seperti: Ketaq­waan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan pendahuluan bela negara. Kepribadian dan budi pekerti luhur organisasi politik dan kepemimpinan. Keterampilan dan kewiraswastaan, persepsi dan kreasi seni dan seksi kesegaran jasmani dan daya kreasi.
Untuk kelancaran pelaksanaan ke­giatan OSIS ini tiap tahun, maka setiap sekolah menandakan rapat OSIS untuk memilih seksi pelaksana dari unsur siswa dan seksi pembimbing dari unsur guru. Tetapi bagaimana dalam realita­nya? Pelaksanaan kegiatan OSIS, ke­cuali sebagian saja, ternyata sering bersifat “omong kosong” dan selalu bersifat teori di atas kertas meski SK­-SK atas nama pembina OSIS itu sendiri dapat dimanfaatkan oleh guru-guru sebagai modal untuk pangkat. Maka jadilah mutu ekstrakurikuler OSIS; kebanyakan; tidak pernah bergenjot naik.
Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa sekolah-sekolah untuk tingkat SLTA, secara umum, telah diklasifikasikan ke dalam sekolah umum (SMU) dan sekolah kejuruan. Namun bukan berarti bahwa SMU yang diper­siapkan untuk pendidikan ke perguruan tinggi dan jumlah SMU juga mayoritas membuat para lulusannya dapat me­langkah lulus. Faktor intelektual dart keuangan Yang macet sering menyan­dung para lulusan SMU untuk melangkah ke perguruan tinggi. Kemudian bagaimana kesudahannya?
Memang faktor intelektual dan ke­uangan yang tinggi menguntungkan tetap menjadikan studi di perguruan tinggi sebagai impian panjang bagi sebagian lulusan. Kemudian karena orang tua dan lingkungan tidak mewarisi semangat untuk hidup berwiraswasta membuat mereka kebingungan. Sifat gengsi-gensian dalam mencari dan melakukan kerja membuat mereka se­makin terpuruk ke dalam bentuk pengangguran. Begitu pula sekolah-sekolah yang mereka tempuh, paling kurang lewat kegiatan ekstrakurikuler, tidak pernah memperkenalkan jenis-jenis pekerjaan dan keterampilan yang ber­manfaat bagi mereka untuk menuju dunia kerja yang nyata.
Cukup banyak orang yang menyadari bahwa sekolah sebenarnya bukanlah satu-satunya tempat persiapan profesional (atau kerja). Untuk beberapa hal misalnya kemahiran membaca not balok, menjadi pelari cepat, melukis dan membuat boneka, bagi seseorang bisa mempersiapkan dirinya di tempat lain. Itu pun kalau mereka cukup bakat. Sedangkan yang perlu disiapkan di sekolah. Mungkin, bagai­mana cara menumbuhkan apresiasi dan memotiviasi siswa, generasi muda, untuk mencari kerja.
Yang kerap kali terjadi di dunia sekolah bukanlah demikian. Pengajaran seni/keterampilan, misalnya, pada prakteknya hanya berupa pengajaran istilah-istilah saja. Pengajaran olahraga belum begitu mendarah daging, karena cukup banyak siswa yang tidak mela­kukan olah raga secara rutin di rumah. Pengajaran fisika yang pelajaran ekstra lain belum mampu menggugah sikap bertanya siswa tentang alam. Karena dalam memberikan ulangan yang penting adalah bagaimana penguasaan “hafalan” rumus-rumus.
Sebenarnya kegiatan ekstrakurikuler yang sering dilaksanakan di sekolah cukup bermanfaat. Tetapi manfaatnya belum dirasakan oleh banyak siswa. Kita ambil program belajar tambahan sebagai contoh. Prog­ram hanya cocok untuk siswa yang memiliki kapasitas intelektual yang mantap dan motivasi yang tinggi. Sementara anak didik lain yang tidak mempunyai minat karena tidak akan melanjutkan studi misalnya, akan mera­sa terpaksa dalam mengikuti program ini. Barangkali bagi mereka ada pula bentuk program ekstrakurikuler yang cocok dan mereka minati yang perlu dipikirkan.
Untuk meningkatkan kwalitas pen­didikan sangat baik kalau kita juga melakukan cermin diri. Tidak perlu kita mengunjungi negara maju lain. Untuk bercermin diri terhadap pendidikan di negara maju dapat dilakukan lewat berbagai media massa. Ambillah pen­didikan di Inggris sebagai contoh.
Di Inggris, seorang remaja di kampung mengikuti pelajaran di sekolah (karena jalan belajar lebih lama) akan mengambil les pelajaran tertentu pada malam hari pada berbagai kursus. Bisa jadi itu mereka lakukan sekedar memperkaya hobi saja dan untuk mencari teman. Tetapi yang penting adalah mereka perlu mengenal jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler yang mana bisa mem­perkaya pengalaman. Agar kelak bila dewasa setelah lulus sekolah mereka tidak canggung dan tidak mengenal konsep menganggur.
Mengikuti ekstrakurikuler yang tepat dan hidup dengan cara menghargai waktu akan memberikan dampak posi­tif. Anak didik atau remaja dan akan dapat memiliki watak lebih dewasa dan lebih percaya kepada diri sendiri. Sehingga bila mereka berbicara akan teratur sekali, cara berfikir cemerlang dan mudah diikuti.
Sikap kebanyakan siswa dan juga kita sendiri, karena memiliki waktu yang banyak tetapi kekurangan aktivitas cenderung suka “kongkow” seenaknya. meskipun pada hari atau jam kerja. Jauh berbeda dengan sikap hidup orang di negara maju. Misalnya orang disana tidak bisa bertandang seenaknya ke rumah orang lain. Pada umumnya anak didik belajar dengan serius. Kemudian pulang ke rumah dan istirahat sebentar dan sibuk lagi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah.
Kebalikannya. siswa-siswa di seko­lah kita malah cenderung pasif. Mereka mengeluh kalau diberi pekerjaan rumah apalagi kalau agak banyak nampaknya karena sikap hidup yang santai dan suka bermain-main sepanjang waktu. Mereka memang sebagian lebih tertarik untuk menikmati hiburan yang jumlah berlimpah dan hura-hura.
Kita melihat pembengkakan angka pengangguran termasuk melihat kesa­lahan disana sini maka kita patut berfikir lebih keras. Khusus terhadap angka pengangguran agaknya pihak sekolah clan pihak-pihak yang merasa berkompeten seharusnya juga ikut prihatin memikirkan dan mencarikan suatu jalan keluar. Kini yang perlu kita pikirkan adalah bahwa sangat tepat memberikan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang berorientasi kepada dunia kerja.

BAGAIMANA KALAU TIDAK LULUS DI PERGURUAN TINGGI

BAGAIMANA KALAU TIDAK LULUS DI PERGURUAN TINGGI
Oleh: Marjohan
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

BAGAIMANA lagi kalau tidak lulus di perguruan tinggi? Per­tanyaan begitu banyak kita dengar dimana dan dari siapa saja. Ada yang menjawabnya dengan serius dan ada pula menanggapi dengan bergurau. Remaja umumnya gemar ber­gurau dan ada yang menjawab “wah saya kawin saja dengan orang kaya”. Banyak lagi jawaban lucu yang membuat kita terpingkal untuk mendengarnya.
Secara berseloroh kita pun dapat membuat kelompok-kelompok kemungkinan yang akan dilakukan oleh para lulusan SLTA, yakni kuliah di perguruan tinggi, mencari pekerjaan dan kalau tidak, segera berumah tangga. Ini banyak terjadi apalagi bagi sekolah-sekolah SLTA yang berdomisili di daerah. Jangan tamat sekolah saja malah tiga hari menjelang ujian akhir sudah banyak yang tarik diri dari status pelajar secara terpaksa atau sukarela. Terpaksa karena telah meng­alami “dulu bajak dari pada kerbau”.
Tetapi bagi yang masih suka berfikir, tunggu dulu. Sebab persoalan perkawinan sekarang tidak semudah pada zaman Siti Nurbaya lagi. Dari sudut ekonomi saja bahwa sekarang kalau mendirikan rumah tangga saja musti memiliki tiang ekonomi yang agak kokoh. Kaum remaja sekarang sedikit salah kaprah, mereka beranggapan bahwa cintalah diatas segalanya. Pada hal kalau perut sedang lapar, kalimat “I love you” tidak akan pernah membuat perut kenyang.
Lagi pula remaja sekarang dalam soal cinta tidak bersifat logika, tetapi semua banyak bersifat emosional dan ber­andai-andai. Tetapi setelah biduk rumah tangga didayung maka empat atau lima bulan sudah oleng. Pokoknya Ulah ingin mendirikan rumah tangga maka, terutama pihak pria, mesti lebih matang dari wanita. Ya matang dalam soal ekonomi, sosial, jiwa, emosional, agama dan sosial biologis tentu sudah lebih duluan matangnya.
Sekarang kita musti berfikir lebih realistis. Apalagi persaing­an hidup sekarang amat ketat. Siapa yang bodoh dan malas tentu akan menjadi penonton dan tertinggal jauh. Kita lihat jumlah manusia sekarang sema­kin ramai dan jumlah luas permukaan bumi tetap saja. Sehingga sekarang orang, saling berebut. Hubungan darah tidak lagi terasa, mamak sendiri bisa menjadi musuh kemena­kan, anak bisa makin durhaka dan melupakan orang tua. Po­koknya sekarang sifat sosial dilupakan pelan-pelan dan di­gantikan oleh sifat individu yang egois. Untuk dapat ber­tahan hidup setiap orang tentu mesti memiliki kekuatan. Dan sekarang terlihat bahwa uanglah yang dianggap orang lebih kuat.
Pokoknya dengan uang orang bisa mendapatkan apa saja. Cinta pun bisa dibeli dengan uang. Tetapi bagi kita nilai uang janganlah sebagai tujuan agar kita tidak khilaf dalam hidup. Pegangan hidup kita tentu tetap agama.
Kalau tidak berhasil melanjutkan studi di perguruan tinggi banyak pemuda melirik usaha kerja. Dalam bekerja mereka ada yang menjual jasa otak dan menjual jasa otot. Terasa oleh kita bahwa nilai jasa otak jauh lebih tinggi, dari jasa otot.
Ingin tahu bagaimana nilai jasa otot? Pergilah ke terminal atau ke pelabuhan. Kasihan kita bukan. Dan kerja seperti ini juga bagus, tetapi yang berkem­bang cuma otot saja sedang otak cenderung statis. Kalau kita tidak ingin bekerja dengan menjual tenaga maka kita harus me­ngembangkan pikiran.
Banyak juga remaja yang tidak berhasil duduk di perguruan tinggi melirik jalur pendidikan lain. Sekarang yang lagi trendi adalah ikut kursus bahasa Inggeris atau kursus komputer. Dan tentu masih banyak bentuk-bentuk kursus lain yang bermanfaat. Sayang remaja banyak yang tidak me­ngetahui jenis kursus yang cocok bagi dirinya. Misalnya ada seorang remaja pria ia terbiasa hidup urakan dan ia memilih kursus komputer. Ter­nyata setelah di coba satu atau dua bulan kursus ini terasa membosankan. Penyebabnya adalah karena ia tidak terbiasa untuk melatih otak. Maka se­telah ikut kursus komputer ia merasakan otaknya tumpul. Maka kita sarankan agar setiap remaja atau yang ingin meng­ikuti kursus sebaiknya disaran­kan agar setiap remaja atau yang ingin mengikuti kursus sebaiknya disesuaikan dengan kondisi pribadi.
Kalau kita memiliki otak sedikit tumpul tetapi badan dan pangkal lengan terasa besar maka cocoknya kita ambil saja kursus montir atau keterampilan kayu. Kalau kita berbakat dalam hal verbal atau berkata-kata mungkin cocok kita ambil kursus bahasa atau pelayanan jasa yang berhubungan dengan orang banyak. Tetapi sebetul­nya untuk kursus bukan hanya terbatas pada komputer dan bahasa Inggeris saja seperti yang latah dibaca oleh orang-orang muda sekarang. Kursus lain-lain yang lebih menjanji­kan prospek bagus cukup ba­nyak karena memang dibutuh­kan oleh konsumen. Ia adalah seperti kursus menjahit, ber­tukang, memasak, elektronika, bengkel dan kursus keterampil­an lainnya.
Tidak terhitung banyaknya lulusan SLTA yang meninggal­kan kampung halaman. Mereka banyak melirik kota-kota di pulau Jawa, Medan, Palembang dan lain-lain. Malah Batam juga termasuk daerah yang mereka lirik. Mereka banyak yang ikut famili, ikut teman dan dibawa oleh orang-orang lain. Ini bagus, tetapi kita musti tetap menjaga pribadi kita. Janganlah demi mendapatkan sesuap nasi untuk pagi dan petang kita korbankan akidah kita, dimana halal dan haram sama saja. Kalau akan luntur kiranya pribadi kita tentu mendingan kita tetap tinggal di kampung dan berwiraswasta disana.
Walaupun penduduk Indo­nesia sudah hampir 200 juta jiwa. Namun buminya masih luas. Toh kalau kita berada di kota memang terasa sempit dan susah. Di kota memang serba mahal dan serba dibeli. Air minum dan masuk toilet saja kita membayar, jangan-jangan sebentar lagi bernafas juga kita membayar. Kalau kita berada di daerah semuanya terasa masih lapang. Apalagi, alam kita sangat subuh. Air berlimpah dan buminya hijau sebagai pertanda kesuburan.
Untuk itu bila kita tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, maka me­ngapa kita harus frustrasi dan menganggur? Banyak hal-hal positif dapat kita lakukan pekerjaan lama sampai se­karang masih ada yang bertahan dan tidaklah tercela dan hina kalau kita juga melakukannya. Pekerjaan itu adalah seperti membuka usaha bertani, ber­kebun, perikanan, peternakan, pertukangan dan lain-lain se­bagainya. Tentu dalam melaku­kan usaha ini kita mesti me­ningkatkan tekhnik dan mena­jemen, atau pengelolaannya. Malah kita lihat banyak orang-orang sekeliling yang berhasil dalam mengolah pekerjaan da­sar ini. Cobalah lihat di daerah-daerah ada orang yang berhasil dalam usaha membuka peng­gilingan padi, membuka kios, bengkel dan membuat usaha makanan ringan untuk dipasar­kan di kota.
Usaha-usaha yang semula kita anggap remeh tetapi kenapa ada orang yang berhasil dalam usaha itu? Lihatlah ada orang yang sukses dalam usaha ternak ayam, usaha penggemukan sapi dan malah juga menyerap te­naga sarjana sementara yang mempunyai usaha sendiri sekolah dasar pun tidak tamat Tetapi ia berhasil karena belajar dari alam. Tetapi kenapa kita tidak meniru langkah-langkah me­reka?
Orang-orang kita kalau ingin membuka usaha selalu mencari alasan yang “tidak bisa”. Sering modal sebagai alasan dan akhir­nya mereka tetap asyik menghayal di sudut kamar dan pergi ke kedai untuk menghempaskan batu domino dan membeli secangkir kopi. Pada hal ini pada dasarnya adalah mem­buang-buang waktu.
Pada mulanya orang banyak enggan untuk bekerja sendiri. Secara psikologis ini memang ada benarnya. Orang cenderung merasa suntuk dan lesu kalau tidak ada teman. Maka untuk ini ada pula baiknya bagi kita untuk mencari teman. Kita carilah teman, tetapi yang dicari adalah teman yang tetap punya semangat hidup. Kita tidak berguna kalau terlalu sering bergaul dengan orang pemalas dan merasa pesimis melulu. Semangat itu ibarat virus karena ia bisa menular. Kita musti selalu waspada agar jangan virus malas teman yang pemalas menjangkiti kita. Kalau kita ingin sukses dalam hidup silahkan bergaul dengan orang yang bersemangat agar virus optimis mereka juga menulari kita.
Jadi sekarang jelaslah bagi kita, bahwa kalau kita tidak berhasil untuk studi di per­guruan tinggi kita tak perlu bersedih hati. Masih banyak hal-hal positif yang dapat kita lakukan. Kita dapat mengikuti kursus, menambah keterampilan, meluaskan wawasan sam­bil menunggu kesempatan tahun depan.
f

Senin, 05 November 2007

Beranda Sekolah,

NASKAH BUKU


Beranda Sekolah,
Opini Ringan Seputar Kehidupan Guru dan Murid


Oleh

MARJOHAN

marjohanusman@yahoo.com

Kata Pengantar

Buku kecil ini adalah kumpulan artikel penulis yang terbit sejak tahun 1992 yang banyak berbicara tentang kehidupan siswa, guru dan dunia pendidikan. Tulisan ini dikumpulkan ke dalam bentuk buku kecil dan diberi judul “Beranda Sekolah, Opini ringan seputar kehidupan guru dan murid”, terdiri dari 19 judul yang membuat tentang opini cukup ringan untuk dicerna.
Buku kecil ini agaknya sangat cocok dibaca oleh para guru, orangtua, siswa, mahasiswa dan siapa saja yang tertarik untuk memahami dunia pendidikan. Tentu saja penulisan buku ini memiliki kesalahan disana- sini dan penulis dengan senang hati menerima masukan dan kritik yang membangun, Penulis menunggu saran dan masukan itu semua pada marjohanusman@yahoo.com , akhir kata penulis mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan berbagai pihak.

Batusangkar, November 2007
Marjohan
















Nama : MARJOHAN
E-mail : marjohanusman@yahoo.com

Mobile Phone : 085263537981

Nama Sekolah : SMAN 3 BATUSANGKAR

Alamat sekolah : Bukit Gombak, Batusangkar, Tanah Datar
Sumatra Barat

Alamat Rumah : Perumnas Arai Pinang I, Blok CC-2

Batusangkar, Sumatra Barat

Rekening : Batusangkar, Kota II 33-22-3872

Bahasa Yang dikuasai : Bahasa Indonesia, Minang, Inggris dan
Perancis









Daftar Isi


1. Menciptakan Pendidikan Efektif
2. Guru Perlu Kreatif untuk Meredakan Kebosanan
3. Menggali Bakat-Bakat Terpendam
4. Bersikap Tekun Dalam Hidup
5. Makin Berkurang Kesempatan Murid Menuangkan Gagasannya
6. Jiwa Sehat Kalau Hidup Bergairah
7. Membina Diri
8. Bersikap Optimis Dalam Hidup
9. Mengembangkan Pergaulan
10. Agenda Dalam Kehidupan
11. Mari Memantapkan SDM
12. Meningkatkan Kualitas Diri Lewat Membaca Dan Menulis
13. Dimana Kuliah Setelah Lulus SMA ?
14. Bagaimana Kalau Tidak Lulus Diperguruan Tinggi
15. Bila Gagal Tidak Perlu Frustasi
16. Kesehatan Jiwa Syarat Bagi Guru Untuk Mengajar
17. Siswa perlu tahu bahwa Tidak ada Istilah Terlambat Untuk Maju
18. Kemandirian Dalam Belajar Perlu Ditingkatkan
19. Memilih Sekolah Perlu Kearifan

DAFTAR KEPUSTAKAAN







1. MENCIPTAKAN PENDIDIKAN EFEKTIF

Kata efektif adalah sebuah kata yang mudah untuk diucapkan namun butuh usaha maksimum dan kontinyu untuk memperolehnya. Kata ini dapat bergabung dengan kata pendidikan menjadi “pendidikan yang efektif” dan selanjutnya kita dapat bertanya sudah efektifkah pendidikan kita atau hanya sekedar asal-asalan saja?
Dari tiga bentuk pendidikan yaitu pendidikan formal, informal dan non formal, maka pendidikan formal paling banyak disorot mulai dari mutu sampai dengan keefektifannya. Pendidikan formal yang mencakupi kurikulum, sarana, dan prasarananya dan lingkungan masyarakat yang ikut mempengaruhinya.
Apakah suatu pendidikan yang diselenggarakan sejak dari bangku SD sampai perguruan tinggi atau paling kurang sampai untuk tingkat SLTA sudah efektif atau belum. Keefektifan sebuah sekolah sangat dipengaruhi oleh latar belakang rumah tangga tempat asal anak-anak didik dan keadaan masyarakat sekeliling sekolah. Rumah tangga dan masyarakat yang memiliki SDM yang sangat memadai dan kondisi keuangan yang cukup mapan akan membantu terselenggaranya suatu sekolah yang efektif.
Sekolah yang efektif tentu akan menjadi sekolah idola dan akan diserbu oleh banyak calon anak didik setiap awal tahun pelajaran dimulai. Anak yang efektif sangat ditentukan oleh faktor rumah dan faktor sekolah yaitu rumah yang efektif dan sekolah yang efektif pula.
Kualitas seorang anak didik sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh budaya dan suasana belajar di rumah dan di sekolah. Beberapa faktor pendukung kualitas anak di rumah adalah seperti tingkat sosial ekonomi dan Sumber Daya Manusia (SDM) orang tua serta pengaruh teman bermain dan hiburan. Sedangkan faktor pendukung di lingkungan sekolah adalah seperti tingkat SDM dan kehangatan pribadi guru, fasilitas penunjang, sarana belajar dan pengaruh budaya dan iklim belajar di sekolah itu sendiri.
Lebih dari separoh waktu kehidupan anak dihabiskan di rumah. Famili dan orang tua mempunyai peranan sangat besar dalam menentukan pribadi anak. Kualitas mereka sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan (SDM) orang tua dalam mendidik dan menumbuhkembangkan konsep belajar dalam keluarga. Kemampuan ekonomi orang tua punya peran dalam menyediakan fasilitas belajar. Ada anak dengan tingkat pendidikan orang tua rendah, biasa berhasil dalam belajar karena orang tua cukup tebal isi kantongnya untuk membiayai saran belajar. Ada lagi sebagian anak yang berasal dari keluarga dengan ekonomi kurang mampu, tetapi juga berhasil dalam belajar, karena orang tuanya sendiri kaya dengan wawasan SDM. Yang sangat beruntung adalah anak yang memiliki orang tua dengan SDM tinggi, kantong tebal dan teman-teman bermain memberikan pengaruh positif dalam belajar.
Pendidikan yang efektif tentu akan didukung oleh komponen-komponen yang juga efektif. Mereka adalah seperti sekolah efektif, kepala sekolah efektif, guru efektif dan murid yang efektif.
Sekolah yang efektif tentu mempunyai standar indikator seperti yang digambarkan oleh Sergio Vanio. Ia mengatakan bahwa kalau sekolah efektif murid-muridnya dinilai setiap tahun oleh pihak yang independen maka skor penilaiannya selalu meningkat. Murid-murid di sekolah itu sangat antusias dalam belajar dan ini tercermin dalam peningkatan prosentase kehadirannya. Guru sangat konsekwen dalam memberikan pekerjaan rumah (PR) dan menilai PR itu dengan konsisten. Sekolah memiliki program dan jadwal ekstrakurikuler di sekolah itu terdapat partisipasi orang tua dan masyarakat untuk peduli terhadap perkembangan dan kemajuan sekolah tersebut.
Sekolah efektif sangat menghargai waktu dan akan memanfaatkannya ibarat memanfaatkan uang. Tentu saja sebagian besar waktu itu digunakan untuk belajar. Guru-guru di sekolah yang efektif mampu melaksanakan proses belajar mengajar yang bebas dari gangguan dan memberikan pekerjaan rumah dengan cara bertanggung jawab. Sekolah ini mulai dan mengakhiri kegiatan belajar betul-betul tepat waktu. Sementara itu dalam sekolah yang tidak efektif, guru-guru cenderung tidak mendukung pemahaman tujuan sekolah.
Sekolah yang efektif tentu berada di belakang pimpinan kepala sekolah yang efektif pula. Seorang kepala sekolah akan menentukan jatuh atau bangunnya kualitas suatu sekolah. Kepala sekolah asal-asalan cenderung untuk menghancurkan budaya dan iklim belajar sekolah. Sedangkan kepala sekolah yang efektif selalu komit dengan misi dan visi yang mengangkat dan melestarikan kualitas sekolahnya.
Salfen Hasri (2004;20) mendeskripsikan tentang kepala sekolah yang efektif, yang antara lain sebagai berikut: punya visi dan merealisasikannya bersama guru dan staf. Ia mempunyai harapan yang tinggi pada prestasi, selalu mengamati kualitas guru dan kualitas anak didik serta mendorong pemanfaatan waktu. Disamping itu seorang kepala sekolah yang efektif selalu memonitor prestasi individu guru, staff, siswa dan sekolah.
Kepala sekolah yang efektif sangat sadar bahwa keberadaan siswa adalah titik pokok dalam dunia pendidikan (di sekolah), maka ia sangat memonitor perkembangan siswa yang tercermin dalam peningkatan kualitas nilai tes yang bersih dari rekayasa dan manipulasi data. Ia melowongkan waktu (punya jadwal) untuk mengamati guru dalam kelas dan senantiasa berdialog tentang problem dan perbaikan pengajaran/kelas.
Kepala sekolah menjadi efektif karena ia mampu menjadi pemimpin yang efektif. Me Clure (dalam Salfen Hasri, 2004) mengatakan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mampu dalam berbagi tugas bersama siapa yang memiliki kompetensi untuk pekerjaan khusus.
Seorang pemimpin yang efektif harus mampu untuk melaksanakan “problem solving” dan “decision making”, memiliki bakat memimpin serta mampu untuk bersosial yaitu untuk bekerja sama. Namun dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah sedikit sekali yang menghabiskan waktu untuk urusan kurikulum dan pengajaran.






2. Guru Perlu Kreatif untuk Meredakan Kebosanan


Cukup banyak guru-guru mengatakan merasa capek atau lesu apabila harus segera masuk kelas untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam pengontrolan absensi, hampir setiap hari ada surat-surat guru yang datang mengabarkan halangan mereka untuk tidak datang ke sekolah.
Pada umumnya alasan serius atau alasan berpura-pura guru dalam suratnya sehingga berhalangan untuk tidak hadir di sekolah karena sakit. Sering alasan lain adalah untuk memohon izin karena ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Kalau kita fikirkan siapakah orang di dunia yang luput dari urusan keluarga. Tetapi rasanya tidak logis kalau seorang guru sempat dalam satu bulan membuat alasan sepele dan berhalangan untuk mengajar sebanyak sekian kali. Dan alasan sepele ini cukup banyak dilakukan oleh guru-guru.
Dapat dikatakan, buat sementara, bahwa keabsenan guru-guru dari sekolah alasan, berpura-pura dalam alasan, karena rasa tersandung oleh bosan selama proses belajar mengajar. Kemalasan guru-guru yang lain sering terekspresi dalam bentuk kelesuan setiap kali harus menaikkan kewajiban dalam PBM. Meskipun bel tanda masuk telah berbunyi beberapa menit yang lalu namun masih banyak guru-guru yang ingin menyelesaikan gosip-gosip ringan sesama guru. Malah ada sebagian guru ada yang sengaja hilir-mudik atau berpura kasak-kusuk dalam mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Sampai akhirnya selalu terlambat tiba di kelas dan kemudian sengaja pula agak cepat untuk meninggalkan kelas.
Kebosanan dalam PBM disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari guru dan faktor yang berasal dari murid.
Pengabaian kedua faktor ini akan menyebabkan masalah dalam PBM tidak teratasi. Untuk memuluskan PBM maka kedua faktor ini harus dipahami dan diatasi.
Rata-rata guru merasa enggan untuk memasuki kelas-kelas dengan siswa mempunyai daya serap rendah atau bodoh. Gairah mengajar guru untuk mengajar kerap kali terpancing karena di dalam kelas ada beberapa orang siswa yang cukup pintar.
Namun sejak keberadaan kelas unggul di setiap sekolah maka siswa-siswa yang memiliki daya serap tinggi terkonsentrasi ke dalam satu kelas saja. Maka gairah guru untuk melaksanakan PBM hanya lebih tertuju untuk kelas unggul.
Sedangkan untuk kelas-kelas non unggul yang jumlahnya cukup banyak dengan kemampuan siswa rendah terpaksa dimasuki oleh guru dengan rasa lesu dan letih. Tentu tidak semua guru yang menunjukkan gejala yang demikian.
Pada umumnya penyebab melempemnya daya serap siswa di sekolah adalah karena mereka tidak terbiasa dengan budaya membaca sehingga mereka lambat dalam menganalisa.
Kebiasaan dalam belajar cuma menghafal melulu. Dapat diamati bahwa siswa yang telah terbiasa dalam budaya membaca tidak mengalami kesulitan dalam PBM.
Tidak banyak siswa yang terbiasa dengan budaya membaca sehingga akibatnya adalah tidak banyak pula siswa yang memiliki daya serap tinggi. Daya serap yang tinggi selain disebabkan oleh faktor IQ juga ditentukan oleh pelaksanaan agenda kehidupan atau pemanfaatan waktu. Seringkali orang tua yang ikut campur dalam masalah waktu anak dan gemar “mencikaraui” anak akan menjadikan anaknya sebagai siswa yang memiliki daya serap tinggi di sekolah.
Faktor yang datang dari guru cukup bervariasi. Dulu menjadi guru memang serba dihormati dan tentu saja menyenangkan. Tetapi belakangan ini, bahkan terlalu banyak korban perasaan apalagi semenjak remaja banyak mengalami emosi moral.
Karena terus terang saja, siswa-siswanya terdiri dari anak-anak yang kebanyakan tidak diwarisi nilai agama yang mantap oleh orang tua. Ada juga siswa yang merupakan anak-anak pejabat yang kaya-kaya dan anak orang berada sedangkan guru-gurunya miskin.
Faktor yang menyebabkan guru merasa bosan dalam PBM mungkin karena kelelahan. Barangkali ia memiliki jumlah jam yang terlalu banyak.
Walau pada sekolah pengabdiannya hanya mengajar beberapa jam saja, tetapi karena tuntutan hidup ia menjadi guru sukarela pula pada suatu atau dua sekolah lain. Atau bisa jadi karena kelelahan fisik setelah menjadi guru selama puluhan tahun. Sering kita lihat para guru-guru tua yang belum sudi untuk pensiun merasa segan untuk melakukan PBM.
Secara mayoritas guru kelihatan kurang termotivasi untuk meningkatkan kualitas dirinya. Mereka tidak banyak membaca, walaupun sebatas membaca koran dan majalah, sehingga jadilah ilmu pengetahuan mereka sempit dan dangkal. Kebanyakan guru-guru sehabis mengajar ya habis begitu saja. Begitulah kegiatan rutin mereka hari demi hari sampai akhirnya rasa bosan menyelinap ke dalam fikiran.
Ada guru yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup luas dan cukup hangat dalam bergaul bersama siswa. Namun juga sering mengeluh bosan untuk melakukan PBM sehingga mengajar secara serampangan dengan metode kuno sepanjang hari. Guru yang seperti ini sebaiknya harus segera melakukan introspeksi diri dan kemudian memutuskan apakah karir sebagai guru cocok baginya atau tidak. Tetapi pada umumnya mereka tetap bertahan mengajar dalam kebosanan karena tidak mampu mencari pekerjaan jenis lain yang cocok bagi diri, maklum banyak orang terserang sindrom pegawai negeri dengan alasan jaminan untuk hari tua.
Setiap guru banyak terdengar keluhan guru-guru. Ada yang mengeluhkan badan kurang enak karena sakit kepala, sakit gigi, perut terasa kembung atau badan terasa pegal-pegal dimana ini semua adalah kompensasi dari bentuk rasa bosan. Mereka bosan untuk menunaikan tanggung jawab. Dan penyebab lain dari rasa bosan ini adalah karena umumnya guru-guru kurang kreatif sehingga mereka jarang yang menjadi guru profesional.
Memang secara umum guru-guru terlihat kurang kreatif dan sebagian kecil tentu ada yang kreatif. Rata-rata guru menerapkan peranan tradisional dalam mengajar. Mereka masih berfilsafat bahwa guru masih sebagai sumber ilmu dan dalam penguasaan ilmu siswa harus menyalin catatan guru dan menghafalkannya tanpa melupakan titik dan komanya sekalipun. Penanganan masalah yang ditemui selama PBM pun juga secara tradisional. Kalau murid bersalah musti diberi nasehat dan kebanyakan sistem pemberian nasehat dalam bentuk komunikasi satu arah, dimana yang sering terlihat ketika guru bertutur kata adalah siswa menekur atau tidak boleh menjawab. Tetapi sekarang entah guru-guru banyak yang tidak bertuah dalam bertutur kata karena kesempitan ilmu dan wawasannya atau karena penghargaan murid semakin berkurang karena kurang diwarisi nilai agama oleh orang tua maka sekarang seakan melebar jurang dalam komunikasi.
Kreativitas guru pun terlihat lemah dalam PBM. Presentasi pengajaran sudah terlihat semakin basi karena menggunakan metode itu ke itu juga. Gema hasil mengikuti penataran, apakah dalam bentuk MGMP, sekali sekali dalam bentuk aplikasi. Kecuali yang terlihat adalah setelah guru mengikuti MGMP guru cuma semakin tertib dalam menulis satuan pelajaran tetapi belum bentuk aplikasi.
Diantara guru-guru yang belum lagi mampu memperlihatkan kreativitas, kita juga melihat guru-guru yang kreatif. Meski mengajar banyak, namun karena kreatif mereka tetap tampak ceria dan segar dalam mengajar.
Kreatifitas seseorang, juga guru, sangat ditentukan oleh keleluasaan dan kedalaman pengetahuan dan wawasan. Oleh sebab itu menjadi guru ideal haruslah selalu membiasakan untuk membelajarkan diri. Adalah sangat tepat bila seorang guru selain memahami bidang studinya juga mendalami pengetahuan umum lainnya sebagai khazanah dirinya. Guru yang luas wawasan dan ilmu pengetahuannya akan tidak pernah kehabisan bahan dalam proses belajar mengajar. Kalau sekarang ada ungkapan yang mengatakan bahwa mengajar itu adalah seni, maka mustahillah guru yang kering akan ilmu dan sempit wawasan dapat mengaplikasikannya sebagi seni.
Mengikuti program penyegaran dalam bentuk kegiatan penataran, musyawarah kerja, dan program peningkatan kualitas lain sungguh tepat. Sayang selama ini terlihat kegiatan-kegiatan penyegaran yang ada belum dikemas secara profesional. Dengan arti kata selama mengikuti program penyegaran, guru-guru hanya terlihat secara pasif dan paling kurang bertindak sebagai pendengar abadi. Itulah dampaknya setiap kali seorang guru selesai mengikuti MGMP dan penataran lain, misalnya, seolah-olah tidak membawa perubahan dalam proses belajar mengajar. Terasa seakan-akan apa yang diperoleh selama mengikuti penataran-penataran digambarkan dengan ungkapan “masuk telinga kiri keluar telinga kanan saja.”
Melatih diri untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dalam bentuk berpidato atau berceramah untuk masyarakat dan menyempatkan diri untuk menulis artikel-artikel adalah bentuk lain dari pengembangan kreativitas guru.
Mendalami psikologi remaja sehingga guru dapat memahami meningkatkan kreativitas guru dalam bertindak. Rata-rata guru yang kreatif adalah guru yang kaya akan ide-ide dan menerapkan bentuk nyata. Dalam realita tampak bahwa kreativitas dapat mengatasi rasa bosan.





















MENGGALI BAKAT-BAKAT TERPENDAM

Semua orang tentu sudah tahu bahwa masing-masing pribadi kita itu adalan unik. Kita menjadi unik karena latar belakang dan pengalaman hidup yang kita lalui juga berbeda. Salah satu sifat yang unik adalah tentang bakat.
Memang setiap orang memiliki bakat yang berbeda dan bakat-bakat yang ada pada diri kita itu banyak yang masih terpendam. Bakat yang terpendam itu kalau dapat kita gali akan membuat kita sendiri terheran-heran. Lebih-lebih setelah melihat kemampuan yang tersimpan dalam diri kita.
Setiap orang dapat mengembangkan bakat dan kecakapan sendiri asal ia mempunyai cukup hasrat untuk melakukannya. Ada seorang laki-laki, dulu ketika masih bersekolah di SD dan SMP hampir selalu diabaikan oleh teman-temannya. Itu karena pribadi laki-laki itu dingin dan tidak menarik. Namun setelah bersekolah di SLTA, lebih-lebih setelah duduk di kelas dua dan tiga, ia tampak begitu dinamis dan bersikap ramah sehingga menjadi kesenangan teman-teman. Setelah lulus dari tingkat SLTA dan beberapa bulan kemudian ada kabar tentang dirinya bahwa ia lulus dalam seleksi untuk memperoleh beasiswa untuk belajar ilmu tentang mekanika di suatu perguruan tinggi di salah satu negara di Eropa. Salah seorang familinya mengatakan bahwa ia dapat meraih kemajuan di masa-masa yang akhir usia remajanya adalah karena ia mampu berfikir untuk mengembangkan bakat-bakatnya yang terpendam dalam dirinya.
Setiap orang dapat mengembangkan bakat-bakatnya dan kecakapan yang terpendam asal ia mau. Banyak lagi orang-orang yang lain yang pada masa kecil dan masa remajanya biasa-biasa saja dan malah kurang diacuhkan teman-temannya dapat menjadi berhasil dalam perjalanan hidup selanjutnya setelah ia bertekad untuk mengembangkan bakat-bakat yang terpendam. Itupun dapat kita, dan siapa saja, alami asal kita mau berlatih dan berusaha sekeras-kerasnya.
Ada orang, sebagai contoh, pada mulanya kurang memiliki rasa percaya diri karena tidak menguasai cara berkomunikasi yang baik. Padahal melihat dari latar belakang orang tua dan familinya menunjukkan bahwa ia bukanlah orang yang bertipe pendiam dan kaku. Maka ia melakukan praktek-praktek untuk melatih dirinya dengan caranya sendiri. Tentu saja ia perlu untuk tabah dan keberanian, sehingga sampai pada akhir kekakuan sekapnya itu mencair ibarat bungkaman is diterpa oleh panas matahari. Mereka yang kelak menjadi orang-orang yang pandai berbicara, berpidato, mula-mula juga bersifat malu-malu dan merasa khawatir setengah mati.
Kebanyakan bakat ada yang membutuhkan pengekspresian lewat bahasa, seperti bakat berpidato, menyanyi, menjadi psikolog dan lain-lain. Tetapi kekakuan dalam berbahasa selalu menjadi kendala utama, kecuali setelah ia melatih diri. Bagi yang sering dilanda kegugupan dalam mengekspresikan bahasa lisan mungkin baik sekali kalau setengan menit sebelum mulai berbicara untuk menarik nafas dalam-dalam beberapa kali saja. Dengan demikian dapat memasukkan banyak zat kedalam badan dan inipun akan menambah rasa percaya diri sendiri dan juga menambah keberanian.
Dale Carnegie dalam bukunya "Cara Mencapai Sukses Dalam Memperluas Pergaulan dan Pandai Berbicara" mengatakan bahwa yang tidak boleh dilakukan adalah jangan memperlihatkan kegelisahan, seperti dengan membuka dan menutup kancing baju atau jangan pula memperlihatkan kegelisahan dengan memutar-mutar tangan. Jika perlu kita jelmakan kegelisahan kita dengan meletakkan tangan kita dengan meletakkan tangan di belakang badan. Dengan cara begini terserah pada kita lagi apakah kita menggerak-gerikkan jari, yang jelas tidak ada orang yang melihat dan tahu bahwa kita lagi merasa gelisah.
Bagi orang yang ingin berpidato, dalam rangka mengembangkan bakat yang terpendam, yang diperlukan bukanlah keberanian moril saja akan tetapi juga kecakapan menguasai syaraf-syaraf. Dengan berlatih terus menerus kita akan menguasai syaraf dan diri sendiri. Dalam hal ini adalah ita harus membiasakan diri dengan mencobanya beberapa kali, dan kita harus tetap tekun. Juga jangan berhenti-henti atau seperti istilah orang banyak "hangat-hangat tahi ayam".
Salah satu kepuasan orang yang mempunyai bakat memimpin adalah mempengaruhi dan menguasai kawan-kawan. Tentu saja ini dalam arti positif, mak bagi remaja berbakat dalam kepemimpinan tertentu dapat melatih diri. Salah satu usaha adalah dengan mencoba untuk menjumpai lebih banyak orang yang mau belajar dengan kita. Kemudian dengan sukarela kita coba untuk menjadi pemimpin. Sarana lain untuk melatih diri dalam hal kepemimpinan adalah dengan cara berlatih didepan teman-teman, didepan anak-anak dan didepan keluarga sendiri.
Cemas dan ketakutan dapat menggangu perkembangan bakat. Ini timbul akibat kebodohan dan keraguan-raguan kita. Tetapi cemas diakibatkan oleh kurang rasa percaya diri sendiri. Kecemasan dan ketakutan selalu timbul jika seseorang tidak tahu apa yang sesungguhnya harus dilakukan. Adapun jika kita senantiasa melakukan beberapa latihan maka insyaallah kecemasan akan lenyap. Tentu saja kita jangan berlatih sampai sepuluh atau dua puluh kali.
Dalam usaha awal kita untuk mengembangkan bakat memang kita merasakan kesulitan. Sebab sepeerti dikatakan oleh orang bijak bahwa "setiap permulaan itu susah dan setiap akhir itu adalah mudah".
Bagi seseorang calon guru yang sering berlatih berbicara atau seseorang calon penulis novel berlatih menulis tetapi sering dilanda kehabisan bahan. Maka salah satu cara untuk mengatasi adalah dengan memaparkan kisah yang menarik asal kita tidak terlalu banyak berbicara tentang diri sendiri.
Ada orang yang apabila bercakap-cakap tentang sesuatu, misalnya tentang pekerjaan, hanya berbicara tentang soal-soal yang mengasyikkan dirinya sendiri saja. Seharusnya tidak begitu, kita juga mesti membicarakan menginggung banyak hal dan menyenangkan teman berbicara kita. Boleh jadi kita berbicara dengan seorang kawan, maka kita cari topik yang menarik dan kita bahas dari berbagai segi.
Orang membangun rumah tentu dengan membuat rencana terlebih dahulu. Tetapi ada orang yang ingin untk mengembangkan bakat-bakat yang terpendam, seperti bakat melukis tanpa rencana. Perkembangan bakat adalah laksana perjalanan panjang yang mempunyai tujuan. Karena itu jalan ini harus kita rintis, sebab siapa yang berangkat tanpa tujuan tertentu akan tersesat.
Untuk seorang orator pemula, penulis atau orang yang mempelajari suatu bahasa, tentu ia perlu menyediakan catatan-catatan singkat. Sedangkan anak kecil yang berlatih berjalan saja juga memerlukan berpegang pada pinggir meja atau kursi untuk dapart mengembangkan keinginannya untuk berjalan.
Kita rasa dalam menggali bakat-bakat terpendam ini tidak ada istilah terlambat. Maka sangatlah bijaksana kalau setiap orang senantiasa suka untuk mengembangkan bakat yang terpendam untuk kemajuan diri secara khusus dan kemajuan bangsa secara umum.
BERSIKAP TEKUN DALAM HIDUP

Dalam hidup ini ada banyak hal yang dapat dianalisa secara sepintas lalu, misalnya tentang kualitas sumber daya manusia seseorang. Orang yang berpendidikan baik dan bekerja keras dapat mencapai kedudukan yang lebih baik daripada orang yang berkedudukan tinggi tetapi punya sikap malas (Hasan Shadily, 1983). Pernahkah anda memperhatikan ranking belajar seseorang dengan kenyataan hidup setelah dewasa.
Ada orang ketika masih bersekolah di SD atau pada tingkat SLTP selalu memperoleh ranking satu di kelas. Tetapi setelah ia dewasa ia cuma mampu untuk membeli butut dan bekas pula. Sementara temannya, sebagai kontra, dulu semasa belajar di SLTP cuma mampu memperoleh ranking pertengahan saja. Malah ketika ia memiliki kesibukan lain rankingnya pernah agak jelek. Hal lain yang membuatnya tidak mampu memperoleh ranking yang lebih bagus adalah karena ia tergolong sedikit nakal dan agresif. Tetapi setelah dewasa ia mampu membeli mobil BMW bagus. Kenapa kenyataan yang kontra ini bisa terjadi?
Pengelolaan waktu adalah pemicu awal untuk meraih kesuksesan. Orang-orang yang bergelut dalam bidang bisnis dan meraih kesuksesan adalah karena mereka terbiasa dan membiasakan diri bangun lebih awal sebelum ayam terbangun. Adalah suatu hal yang umum untuk dikenal oleh orang-orang Tionghoa yaitu bahwa orang yang bangunnya lambat dan kesiangan maka rezekinya sudah ludes duluan karena dimakan oleh ayam.
Setiap kali kita melihat pelajar dan mahasiswa yang terbiasa bergadang tanpa aktifitas yang bermanfaat tentu terbayang bagaimana kelak masa depan mereka. Ita tentu juga merasa khawatir terhadap bentuk disiplin dirinya dan gaya hidupnya. Cukup banyak kita lihat orang yang suka menunda-nunda waktu mempunyai gaya hidup yang kurang disiplin. Tidur yang selalu lambat setiap malam akan membuat bangannya terlambat pula keesokan paginya atau kalau bangun cepat ia akan kuap-kuap sepanjang waktu. Banyak pelajar yang terbiasa dalam cara hidup demikian. Hal kecil ini menyebabkan ia terlambat di sekolah, bagi pekerja akan terlambat tiba di kantor, pedagang akan terlambat membuka toko dan seterusnya. Kebiasaan yang merugikan ini amat bermanfaat kalau segera bisa diakhiri. Hidup yang teratur, seperti tidur tepat pada waktunya, adalah kunci penyelesaian dari masalah ini. Mengikuti ajaran Islam sangat bermanfaat dalam menegakkan disiplin.
Cukup banyak pelajar dan mahasiswa yang tidak bervariasi dalam melakukan aktifitas. Mereka secara tidak langsung merasa suntuk karena rutinitas hidup. Kalau ia seorang pelajar, misalnya, pekerjaan cuma belajar melulu tanpa diselingi oleh aktifitas lain. Hal yang sama juga banyak dilakukan oleh banyak mahasiswa. Mereka cuma belajar secara rutin, pergi kuliah dan bergurau sambil menunggu dosen tiba. Bukan membaca atau menganalisa berbagai permasalahan yang ada di depan mata mereka. Kemudian bila kuliah usai mereka segera pulang untuk menghafal catatan dan bukan pergi ke perpustakaan untuk melahap buku-buku atau berkumpul sejenak untuk berdialog untuk mengembangkan nalar. Cara kuliah yang seperti ini yang telah melahirkan banyak sarjana yang kita kenal dengan "text book thinking" tetapi miskin dengan wawasan ilmu dan wawasan sosial.
Ada sebuah brosur yang saya terima dari "The Pelman Institude" yang berlokasi di Singapura. Dalam program kursusnya ia menyajikan empat judul buku sebagai kunci untuk meraih kesuksesan. Judul-judul buku itu tentu saja sangat bagus untuk kita ikuti. Disana antara lain diajarkan bagaimana perilaku kita untuk dapat menghilangkan sikap malu. Atau dengan kata lain kita harus berjuang untuk menghilangkan sikap malu yang sangat merugikan. Kemudian untuk selanjutnya kita harus memiliki sikap mudah bergaul sikap percaya diri yang tinggi dan memiliki imajinasi yang kreatif.
Rata-rata orang tua kita tidak mewarisi kita dengan keterampilan dan ilmu pengetahuan yang membuat kita mudah untuk menghadapi masa depan. Kalau begitu hewan, walau hanya mempunyai insting saja, lebih unggul dan patut kita teladani. Seekor kucing dengan anak-anaknya atau seekor anjing, kita lihat asyik bergelut, berkejar-kejaran dan main tangkap-tangkapan. Dimana semua gerakan-gerakan ini amat dibutuhkan oleh anak-anaknya untuk menghadapi kehidupan di masa datang, yakni agar anak-anaknya terampil dalam memburu mangsa sebagai santapan dan untuk menyambung hidupnya.
Kita lihat amat banyak ibu-ibu muda yang dengan senang hati menggendong anak-anak mereka. Tetapi sayang mereka kurang melatih anak mereka untuk berkomunikasi dan meransang panca indera mereka agar dapat menambah kecerdasan otak untuk berfikir. Efek selanjutnya kita lihat, akibat kurang terbiasanya diajak berbicara, banyak anak-anak dan remaja yang tidak terampil di dalam berkomunikasi. Dalam berdialog mereka lebih suka menjadi pendengar abadi dan kurang agresif untuk mengejar kemajuan zaman. Adalagi sikap orang tua yang sudah merupakan kebiasaan yang lazim ditemui, yaitu kegemaran suka banyak melarang. "wah tidak usah kamu mengerjakan pekerjaan ini, ini kan pekerjaan kasar, belajar sajalah dulu !". sikap orang tua yang membebaskan anak dari pekerjaan akan membuat mereka kelak menjadi anak yang serba canggung dan gemar memilih-milih pekerjaan.
Sering kita lihat bahwa kunci keberhasilan dari beberapa orang tua dalam mendidik anak-anak mereka adalah sederhana saja. Yaitu beri anak secukupnya, jangan kurang dan jangan pula kelewatan dalam memperhatikan, dan kemudian melimpahi anak dengan tanggung jawab dalam bentuk memberi mereka pekerjaan tetap. Anak yang cuma diberi perhatian tanpa dilimpahi tanggung jawab cenderung jatuh kedalam kategori pemanjaan. Orang tua yang arif adalah yang selalu memberi mereka tugas, pekerjaan, khusus bagi anak. Apakah dalam bentuk kegiatan menyapu rumah, menutup jendela setiap sore, menyiram bunga, mencuci kendaraan orang tua dan tugas-tugas lain. Aktifitas ini telah mampu membuat anak untuk terikat dengan rumah. Sejauh-jauh anak bermain, misalnya bagi yang kekurangan kegiatan, toh nanti pada jam-jam tertentu ia akan pulang untuk menunaikan tanggung jawabnya. Tetapi anak yang tidak diberi tanggung jawab, sering kalau pergi bermain keluar rumah suka lupa pulang dan malah tidurpun menumpang di rumah teman. Cara hidup yang begini apabila sudah menjadi sikap hidup akan susah untuk diperbaiki. Dalam usia remaja dan dewasa anak yang begini sering menjadi bahan pemikiran orang dan pencetus konflik dalam hubungan sosial.
Sekarang dimana-mana banyak diadakan seminar dan ceramah-ceramah tentang pendidikan keluarga. Kita dengar orang tua sudah terlalu banyak yang disorot dan dipermasalahkan. Kini bagi kita-kita yang telah berusia remaja, juga yang telah berusia dewasa, harus merasa sadar akan pentingnya peranan ilmu pengetahuan. Tidak baik lagi kita terus-terusan menuding orang tua sebagai pemicu kesalahan yang terjadi pada diri kita. Sebab rata-rata pendidikan orang tua kita relatif masih cukup rendah. Jangankan dalam mendidik kita dalam hal mencari nafkah pun mereka sering terseok-seok dengan tabah.
Dalam kehidupan ini, kita dapat melihat banyak contoh dari lingkungan kita atau kita baca dari media massa. Ada orang tua yang pengetahuannya pas-pasan tetapi mampu menghantarkan anak-anaknya ke jenjang perguruan tinggi yang punya reputasi dan meraih suksus dalam hidup. Ini semua dapat kita teladani dan kita jadikan motivasi dalam hidup dan dalam belajar untuk meraih sukses. Tetapi sangat kita sayangkan banyak orang-orang dan mungkin kita sendiri, kurang membuka mata untuk melihat realita-realita yang ada di sekeliling kita. Penyebabnya adalah karena watak dan cara kita sendiri, yang mana kaum remaja menamai mereka dengan sikap "kuper" alias kurang pergaulan. Nyata sekali bagi kita bahwa kuper ini amat merugikan pribadi sendiri dan membuat kita peka terhadap issu masyarakat yang ada di seputar kita sendiri.
Dalam dialog kecil yang dilakukan remaja, didalam kelas atau dimana saja berdialog itu dapat terlaksana, saya sering mengajukan dua pilihan. Manakah yang lebih utama untuk sukses, seorang yang meraih ranking didalam kelas namun pasif dalam bergaul ataukah orang yang sekolah dengan ranking biasa-biasa saja namun memiliki pergaulan luas. Maka rata-rata pilihan jatuh pada pilihan kedua. Idealnya tentu saja orang yang meraih ranking satu di kelas namun menguasai seni bergaul sehingga ia sukses dalam bidang akademik dan sukses pula di bidang sosial.
Seringkali orang-orang muda, remaja dan orang dewasa lainnya kurang mengenal kiat bergaul yang sehat. Seringkali kita cuma menemui orang yang cuma pandai menjadi pendengar yang baik saja setiap kali dialog terjadi atau bertindak sering pasif. Ada pula orang yang mampu berbicara tetapi ia selalu nyerocos melulu, ibarat bermain bola ia tidak mampu membagi bola kepada lawan bicara. Dengan arti kata kurang memberi kesempatan rekan berbicara untuk mengekspresikan isi fikirannya. Pada akhir kedua gaya berbicara yang demikian dapat menimbulkan rasa bosan bagi lawan bicara. Seseorang yang terlibat dalam pembicaraan dengan orang yang pasif akan selalu merasa kehambaran. Ibarat makanan yang kurang garam. Sedang berbicara orang yang suka memonopoli percakapan membuat kita selalu menantikannya dimana kalimat terakhirnya sampai dan kita buru-buru menginginkan mengakhiri pembicaraan dan mengatakan selamat tinggal.
Suatu ketika saya menemukan sebuah guntingan artikel yang mengungkapkan tentan biografi pendek seorang pelajar teladan tingkat SLTA. Disana ia mengungkapkan tentang rahsia suksesnya. Ternyata untuk sukses ia tidak mutlak duduk melulu di belakang meja belajar. Ia tidak hanya bergelut dengan buku-buku, tetapi ia telah membuat agenda hidup yang tersusun kedalam jadwal kegiatan harian di rumah. Dengan bijaksana ia memanfaatkan waktu untuk banyak hal seperti kapan ia harus belajar, membantu orang tua, menikmati hobi, menambah ilmu pengetahuan umum, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan malah juga melowongkan waktu untuk bergaul dan berkomunikasi dengan banyak kawan-kawan.
Orang-orang sekarang kalau mereka gagal dalam sekolah suka melemparkan kesalahan pada orang lain, seperti mengkambing hitamkan lingkungan. Paling kurang ia melemparkan kekesalannya pada lingkungan rumahnya. "Wah saya gagal ini ya karena pengaruh teman-teman". Pada hal kalau ia sadar ia harus membuat dirinya imun kebal oleh pengaruh dan aktif untuk mematangkan intelegenci. Terhadap lingkungan, bukan dirinya yang harus kena pengaruh tetapi bagaimana kalau ia bisa mempengaruhi lingkungan kearah yang lebih baik. Atau kalau tidak mampu mempengaruhi, ya usahakanlah diri seperti apa adanya. Tidak kena pengaruh tetapi tidak pula mempengaruhi. Untuk hal ini kita mesti mempunyai keseimbangan. Andaikata kita punya lingkungan teman yang kurang benar wataknya, sebagai contoh, maka kita usahakan agar bergaul dengan mereka tidak terlalu intim dan tidak pula menjadi orang acuh tak acuh. Dengan arti kata kita bergaul cuma secukupnya saja.
Terlalu intim bergaul dapat membuat kita kena pengaruh negatif dan terlalu acuh tidak acuh membuat kita dikatakan sebagai orang yang tidak tahu cara bersosial yang baik. Jadi semacam hukuman psikologis bagi kita.
Bila kita suatu ketika menjumpai seseorang yang mempunyai pendidikan yang baik, lulus dari universitas, namun masih tetap menganggur tentu ada penyebabnya. Kalimat-kalimat kita yang diatas tadi telah menjelaskan beberapa penyebabnya. Namun sekarang perlu disarankan bahwa agar dapat sukses kita dan setiap orang harus belajar dan belajar. Dari kebiasaan belajar maka wawasan ilmu dan wawasan sosial akan bertambah luas. Marilah kita kembangkan pola pergaulan dan kita mantapkan cara berkomunikasi yang baik secara lisan dan tulisan. Kita perlu untuk melakukan banyak dialog dan membiasakan pula banyak menulis.
5. MAKIN BERKURANG KESEMPATAN MURID MENUANGKAN GAGASANNYA

Apakah kira-kira yang dapat kita harapkan dari perubahan-perubahan sistem pendidikan ini? Kurikulum tiap sebentar diganti. Semboyan-semboyan seperti peningkatan SDM, pembentukan sekolah unggul, mari tingkatkan gemar membaca, dan lain-lain terus menerus didengungkan lewat semua media massa. Tentu ini semua merupakan upaya untuk memperbaiki nasib bangsa ini juga. Namun sekarang ada yang kurang tersentuh, yaitu bagaimana usaha kita agar dapat meningkatkan kemampuan murid dalam mengekspresikan gagasannya lewat lisan dan tulisan. Seolah-olah sekarang terjadi proses pembisuan terhadap murid-murid.
Dapat kita amati mulai dari pendidikan rendah sampai ke jenjang pendidikan tinggi tentang hal berkomunikasi. Kesempatan murid untuk menuangkan gagasan, baik secara lisan maupun tertulis, dalam aktivitas belajar di sekolah semakin berkurang. Kegiatan belajar di sekolah tampak begitu monoton dan membosankan. Secara umum yang sering terlihat adalah murid datang ke sekolah mendengar guru, menulis dan pulang. Saat ini semakin jarang guru-guru yang memberikan tugas membaca dan menceritakan kembali. Begitu pula untuk bidang studi tertentu, jarang sekali guru memberikan tugas mengarang kepada murid-muridnya. Padahal tugas menceritakan kembali isi bacaan dan mengarang amat penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Terutama pada tahun-tahun awal masa sekolah.
Meskipun kita telah berada amat dekat kepada ambang tahun 2000, namun karakter interaksi guru dengan murid lebih dominan bersifat “one way communication” daripada “two ways communication”. Cobalah hitung berapa kali betul guru memberi kesempatan pada murid untuk bertanya. Malah kalau ada murid yang tergolong vokal dalam berargumen maka ada guru mengisyaratkan agar anak tersebut lebih baik menjahit mulut. Malah anak atau murid yang agak kritis dianggap sebagai murid yang suka usil dan membuat keributan dalam belajar. Kalau dahulu atau sebelum tahun 1994, kita mengenal ada istilah “proses belajar”.
Istilah proses pembelajaran mengandung makna yang sungguh positif. Guru harus memperlihatkan peranannya sebagai fasilitator, motivator, dan konselor. Namun ini semuanya adalah sebatas kata-kata manis dan kenyataannya adalah kebalikan dari fakta. Sampai sekarang kita patut merasa risau tentang terbatasnya peluang bagi murid di sekolah untuk bertanya dan mengemukakan pendapat.
Dari bahan-bahan bacaan dan dari orang tua, kita dapat membaca dan mendengar bahwa pada zaman dahulu kegiatan membaca yang menceritakan kembali isi bacaan sangat diutamakan. Pada semua pelajaran, guru selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang isi bacaan kepada muridnya. Sedangkan guru sekarang, walau tidak semua, banyak yang gemar mencatatkan ringkasan buku untuk dihafal murid. Kalau begitu guru zaman dahulu banyak yang gemar membaca dan ingin mengembangkan intelektual murid. Dan guru sekarang senang mencatat dan mencatat serta menggunakan satu jenis buku selama bertahun-tahun dan akibat dari cara belajar mencatat melulu dan menghafal saja maka seolah-olah guru sekarang telah menciptakan murid menjadi manusia “beo” yang mana pintarnya cuma berbicara dari apa yang diingat tetapi tidak tau bagaimana mengaplikasikan.
Sekilas kita perhatikan bahwa orang kita masih memiliki budaya suka mengambil muka atau pribadi yang butuh selalu diawasi. Misalnya bagi pengendara sepeda motor, ia hanya sudi memakai helm kalau ada polisi yang mengawasi. Tampaknya dia lebih merasa kasihan pada sisiran rambut daripada keselamatan nyawanya. Begitu pula budaya melanda guru-guru.
Rata-rata guru menulis Buku Satuan Pelajaran hanyalah sekedar pamer saja kepada kepala sekolah bahwa ia pun melaksanakan tugas-tugasnya. Sering kali guru-guru yang memiliki buku Satuan Pelajaran yang menarik, barangkali karena disalin dari orang lain, tapi caranya mengajar tidak becus. Tidak sedikit guru-guru yang telah mengikuti berbagai seminar, penataran, apakah dalam bentuk sanggar-sanggar tetapi toh kembali cara mengajarnya “asal jadi saja” atau “asal hutang terbayar”. Barangkali guru-guru begini mati-matian mengikuti penataran-penataran ini hanyalah agar dapat memperoleh piagam agar dapat dipergunakan untuk kenaikan pangkat dan bukan untuk menambah wawasan serta meningkatkan cara pelayanan dalam proses belajar mengajar. Kalau begitu, banyak guru-guru yang berniat kurang benar.
Meninjau dari makin berkurangnya kesempatan murid untuk menuangkan gagasannya di sekolah, agaknya karena faktor pribadi guru (?).
Keinginan untuk memberikan peluang kepada murid untuk bertanya dan mengemukakan pendapat di kelas terpulang pada pribadi setiap guru. Dorongan ekonomi atau jiwa materialis telah mempengaruhi semangat guru dalam mengejar nilai materi. Segala sesuatu diukur dengan uang. Sehingga sekarang terlihat bahwa guru terlalu enggan untuk berbuat banyak dan menghabiskan waktu karena murid kecuali kalau diimbangi oleh nilai materi.
Keadaan semacam ini membuat guru enggan memberikan tugas-tugas mengarang, mengupas isi satu buku dan juga memberikan ulangan yang bersifat essay.
Menilai tugas mengarang tentunya tidak bisa hanya mengukur panjang-pendeknya tulisan tetapi harus membaca isi dan melihat sistematiknya. Ini sulit dilakukan bila guru tidak punya cukup waktu lagi untuk mengoreksi pekerjaan murid di luar jam mengajar. Lebih-lebih bagi guru yang suka memperhitungkan jerih payah dengan materi daripada menghitung jerih payah atau kebaikan berdasarkan nilai agama. Mungkinkah nilai rohani guru-guru turut meluntur? Ini patut kita pertanyakan.
Semua orang sudah tau bahwa persaingan hidup pada masa depan lebih sulit dan lebih ketat. Murid yang intelektualnya selalu terpenjara dan murid yang berwatak “beo” tentu bakal tersingkir, maka gejala makin berkurangnya kesempatan bagi murid untuk menuangkan gagasannya patut kita antisipasi secepatnya. Untuk itu kesempatan bagi murid untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya semestinya melekat dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelas. Tanpa ada kesempatan bagi murid untuk bertanya atau mengemukakan pendapat, kelas tentu akan menjadi serba monoton, tidak menarik dan kurang bergairah. Kalau selama ini guru merasa lesu dalam mengajar dan murid tidak kerasan di kelas adalah karena suasana yang serba membosankan. Salah satu penyebab adalah dari pihak guru, yakni karena rasa egoisme atau kelewatan dalam menghitung jerih payah dan kurang menambah wawasan diri.
Kita mengakui bahwa guru tidak cukup berani untuk memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk bertanya. Di tingkat SMU, misalnya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa bisa memojokkan guru atau mempermalukan guru di depan kelas, meskipun sebagian murid tidak bermaksud demikian. Ini terjadi karena kurang tau strategi saja, padahal ini tidak perlu terjadi bila guru membuat persiapan mengajar yang memadai. Guru sebetulnya tidak perlu merasa malu bila tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan muridnya.
Guru harus selalu jujur. Bila tidak bisa menjawab pertanyaan murid, sebaiknya katakan terus terang tidak tahu, dan menjanjikan akan menjawabnya pada kesempatan berikutnya. Murid akan tahu bahwa ternyata guru itu adalah manusia biasa yang memiliki kemampuan terbatas. Bila tidak jujur, apalagi bila guru bersikap sok atau angkuh, maka anak atau murid justru tidak akan menghormati gurunya lagi. “Wah, itu saja Pak Guru atau Buk Guru ini tidak bisa menjawabnya”, bisa jadi murid menyeletuk demikian dalam hatinya atau terang-terangan.
Kemajuan yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat tidak lagi menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber ilmu, seperti anggapan orang pada masa lalu bagi murid-muridnya. Guru bukanlah orang yang tahu segala-galanya. Ia bahkan secara jujur harus mengakui bila informasi yang dimilikinya tertinggal dibandingkan informasi yang diperoleh oleh murid-muridnya.
Di kota-kota besar atau kota metropolitan, adakalanya murid memiliki internet di rumahnya. Atau bisa jadi bagi anak yang bersekolah di daerah namun pada saat libur mengunjungi famili yang mungkin saja tergolong orang berada di kota besar, dan memiliki internet dan ikut pula menikmati internet. Sedangkan bagi guru, jangankan memiliki internet, menyentuhnya saja belum pernah. Karena itu bila tidak bisa menjawab secara persis pertanyaan murid, lebih baik guru menyatakan secara jujur “tidak tahu”.
Patut selalu kita ingat bahwa guru-guru tidak layak buta informasi sama sekali.
Maka agaknya setiap guru perlu untuk menjadi guru yang ideal, yaitu guru yang selalu menambah wawasan, bersikap bersahabat agar dapat digugu dan ditiru. Dalam menjalankan profesi, guru musti berbuat ikhlas dan menjauhi sikap egoisme yaitu sikap terlalu mementingkan diri dan terlalu menghitung jerih payah berdasarkan nilai materi. Maka apa yang kita harapkan dalam mengaktifkan proses kegiatan pembelajaran adalah selalu berusaha memberikan kesempatan kepada murid untuk mengungkapkan dan menuangkan gagasan mereka. Bila hal ini dapat diterapkan maka apa yang kita khawatirkan atas makin berkurangnya kesempatan murid menuangkan gagasan dapat kita atasi.




















JIWA SEHAT KALAU HIDUP BERGAIRAH

Kondisi pikiran menentukan kondisi jiwa. Sebetulnya pekerjaan otak, fikiran, adalah merupakan pekerjaan jiwa. Bentuk-bentuk pekerjaan jiwa yang lain adalah seperti menyayangi, mencintai, membenci dan lain-lain dilakukan oleh fikiran dengan mengaktifkan suasana hati atau perasaan. Maka untuk mendapatkan kesehatan jiwa, Mustafa Fahmi dalam bukunya "Kesehatan jiwa dalam keluarga, sekolah dan masyarakat" mengatakan bahwa kita harus dapat menyesuaikan diri kepada lingkungan. Dan lingkungan itu adalah seperti lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan manusia sendiri.
Kita dapat menjabarkan masing-masing lingkungan itu sebagai berikut. Lingkungan alam adalah lingkungan alamiah atau alam luar, sepeti cara berpakaian, kondisi tempat tinggal dan makanan. Lingkungan sosial adalah lingkungan dimana kita hidup. Dan lingkungan mnusia itu sendiri. Maka kita hendaknya mempelajari bagaimana cara mengaturnya dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
Disamping itu harus juga dapat mengendalikan diri terhadap yang patut dan yang kurang patut. Maka dalam hal ini kita selalu perlu untuk belajar dan belajar dalam rangka menambah ilmu pengetahuan. Memperoleh ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan membaca, dimana dewasa ini bahan-bahan bacaan cukup mudah diperoleh di berbagai tempat. Namun sayang, sekarang banyak orang yang tidak memanfaatkan kesempatan baik untuk memperoleh dan menguasai ilmu pengetahuan. Peling kurang untuk keperluan diri kita sendiri terlebih dahulu.
Dalam hidup kita ini tentu banyak memiliki banyak kebutuhan, begitu pula dengan kebutuhan yang bersifat psikis yang kerap kali disebut dengan kebutuhan pribadi. Jiwa kita akan sehat kalau kebutuhan pribadi, dengan kata lain kita sebut dengan kebutuhan psiko-sosial, dapat kita penuhi. Kebutuhan pribadi yang terpenting adalah rasa kasih sayang, rasa sukses, kebebasan dan kebutuhan akan pengalaman serta kebutuhan akan rasa kekeluargaan.
Kita dapat menemukan banyak anak-anak yang lincah dan ceria. Kasih sayang yang mereka terima dari orang tua dan anggota keluarga membuat suasana jiwa mereka menjadi riang gembira. Jauh berbeda dengan dengan anak-anak yang tinggal di panti-panti asuhan dan anak-anak yang tumbuh dari keluarga yang berantakan. Mereka sering hidup gelisah, banyak bersedih dengan tatapan mata kosong. Sebetulnya yang mereka harapkan supaya gembira adalah rasa kasih sayang.
Kita masih ingat ketika masih kecil, betapa kita ingin perhatian dan pujian setiap kali kita membuat karya agar kita lebih semangat. Begitu pada saat-saat libur kita sering merengek dan menuntut agar kita dibawa pergi ke tempat rekreasi agar kita dapat memperoleh pengalaman-pengalaman baru dari apa yang kita rasakan. Kita juga merasakan sangat lega kalau kita tidak terlalu terkekang di rumah, ini berarti bahwa kita membutuhkan kondisi kebebasan tetapi tetap kontrol.
Untuk mendapatkan generasi-generasi yang sehat jiwanya maka kebutuhan-kebutuhan ini seharusnya sudah dibiasakan sejak usia bayi. Begitu pula terhadap murid-murid di sekolah. Kita harapkan agar ibu dan bapak guru agar dapat mengenal kebutuhan-kebutuhan ini agar kelak dapat menerapkannya kepada murid-murid. Setelah itu kita harus pula mengingat bahwa kebutuhan-kebutuhan psiko sosial ini akan bertambah dengan meningkatkan usia individu.
Satu hal yang perlu kita ketahui bahwa jika suasana lingkungan dan suasana sosial tidak memungkinkan terpenuhinya kebutuhan tersebut, maka seseorang yang berusaha mencari jalannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka seseorang akan berusaha mencari jalannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan ini. Mungkin saja jalan yang ditempuhnya tidak wajar, maka dengan demikian terganggunya proses penyesuaian diri. Kita sering melihat banyak pemuda-pemudi yang nyebut di jalan raya. Ini bisa terjadi karena mereka ingin dianggap hebat dan barangkali di rumah mereka kurang memperoleh rasa sukses karena orang tua semuanya selalu beralasan sibuk. Sibuk dengan kerja dan sibuk dengan diri sendiri.
Ada lagi, bila seseorang yang mana keinginannya tidak tercapai karena lingkungannya tidak menyediakan kebutuhan sosial baginya. Maka ia akan mengalami kegoncangan-kegoncangan. Remaja-remaja pecandu obat terlarang, seperti narkotik, bisa jadi adalah pemuda yang kurang mendapat kasih sayang. Anak-anak di sekolah yang nakal kerapkali disebut sebagai anak yang menderita "skin hunger" atau kulit yang lapar. Ia lapar akan perhatian dan sentuhan kasih sayang orang tua dan sentuhan jiwa dari guru di sekolah.
Ketika saya berkumpul dan mengobrol dengan murid-murid yang duduk di bangku SMP. Kami berbincang-bincang tentang berbagai hal. Dan masalah yang sering mereka kemukakan adalah tentang bentuk dan kondisi pribadi yang mereka rasakan banyak kurang mereka terima. Misalnya, ada yang tidak suka dengan bentuk tubuh, bentuk wajah, warna kulit dan keadaan rambut dan sebagainya. Keadaan seperti ini adalah lazim kita dengar dalam usia ini. Namun ada orang yang tidak dapat selalu menerima keadaan dirinya sehingga ia menjadi diri yang tidak beralasan. Kita perlu ingat bahwa setiap orang hendaknya dapat menerima dirinya. Karena kalau kita tidak dapat menerima diri sendiri maka kita akan berhadapan dengan frustasi, rasa tidak berdaya, kegagalan dan tingkat penyesuaian sosial kita akan memburuk. Kondisi ini pada akhirnya akan mendorong kita untuk senang menyendiri dan suka bermusuhan.
Dalam pergaulan ini, perlu ada penyesuaian diri. Bila seseorang bersikap lincah maka ia akan memperoleh kemudahan dalam bergaul. Seseorang dalam penyesuaian diri ada yang tetap mempertahankan kepribadiannya. Dan orang yang beginilah orang yang tetap memiliki kepribadian yang utuh. Dan sebaliknya ada pula orang yang melepaskan kepribadiannya. Tentu saja ini kurang baik dan malah mendatangkan kegelisahan jiwa. Orang yang tidak dapat mempertahankan kepribadiannya dia akan sulit atau akan memperoleh banyak masalah bila ia kembali pulang ke kampung asalnya, kalau ia adalah orang perantau. Sebab tingkah lakunya tampak berbeda dari keadaan semula. Ini sering diartikan dalam konteks negatif.
Untuk itu ada baiknya agar kita selalu bersikap wajar-wajar saja. Sebab tidak diragukan lagi bahwa orang yang wajar dalam kehidupan, dalam masyarakat ia akan tampak hidup lebih tenang dan kurang dihadapkan kepada persoalan sosial. Ini biasanya dapat dirasakan oleh pembimbing sosial seperti pemuka agama dan profesi yang berkaitan dengan sosial lainnya. Sebab tingkat pengenalan mereka terhadap lingkungan menyebabkan mereka lebih mengerti. Disini kita tidak meragukan lagi bahwa orang yang bersikap wajar-wajar saja dalam kehidupan akan memperoleh ketenangan dan kesehatan jiwa. Kalau begitu ketenangan dan kesehatan jiwa bukan kita peroleh lewat kejeniusan semata. Karena kejeniusan tidak akan menjamin dalam kehidupan jiwa dan kehidupan sosial.
Bila kita ingin menjadi anggota suatu kelompok sosial, maka kita dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan kelompok itu. Pengenalan ini akan berjalan mulus kalau kita mampu mengenal watak-watak setiap pribadi anggota. Seperti kita ketahui bahwa kepribadian setiap orang terdiri dari sifat-sifat khas. Kita tentu dapat mengetahui sifat-sifat itu melalui reaksi seseorang dalam pergaulan. Watak-watak itu tidak dapat diterka-terka saja.
Sukses dan gagal adalah irama kehidupan. Pelajar yang gagal dalam ujian mungkin disebabkan karena mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar. Seorang karyawan yang gagal dalam pekerjaan mungkin disebabkan karena faktor adaptasi yang lemah. Begitu pula halnya dengan seorang anak yang merasa tidak betah di rumah. Semuanya merupakan situasi yang menunjukkan tidak adanya penyesuaian diri.
Sebagian mereka yang gagal dalam usaha penyesuaian diri dengan lingkungan karena ada yang menjauhkan diri dan menghindari anggota kelompok. Yang lain mungkin mengambil sikap permusuhan dengan kelompok. Seseorang itu menjadi tidak serasi dalam penyesuaian diri karena ia tahu apa yang harus diperbuatnya dalam suatu situasi. Kalau kita berprilaku yang demikian maka kita perlu untuk melakukan koreksi atau bimbingan oleh orang lain supaya serasi.
Penyesuaian diri adalah proses dinamis yang terjadi terus menerus. Orang perlu mengubah prilakunya untuk dapat membuat hubungan baik antara dirinya dengan lingkungannya. Tetapi kita perlu ingat bahwa demi pergaulan, kita tidak boleh mengubah perilaku baik kita dan meniru prilaku jelek lingkungan atau orang lain yang kita harapkan. Dalam kehidupan di sekolah, kita lihat ada siswa yang memiliki etiket yang terpuji tetapi kemudian karena ingin dipandang modern maka ia melepaskan etiket baiknya dan menerapkan cara berpakaian dan bertingkah laku yang urakan. Ini tentu merupakan penyesuaian diri yang salah kaprah. Mereka melepaskan kepribadian yang baik secara total. Begitu pula seorang pemuda, dulu sebelum pergi merantau ia begitu sopan, ia suka menyapa semua orang dan taat pada agama. Tetapi setelah beberapa tahun kemudian, ketika pulang ke kampung halaman ia tampil dalam sikap yang berbeda. Senang bergaya metal, beranting pada sebelah telinga, bertato dan urakan.
Seperti yang kita bicarakan tadi, tentang kebutuhan pribadi atau kebutuhan psiko-sosial. Selain ini kita juga mengenal istilah kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer itu sifatnya kodrati dan sama pada semua orang. Sedangkan kebutuhan sekunder itu dipelajari atau karena tuntutan lingkungan sekitar. Kebutuhan sekunder bisa berbeda pada setiap orang.
Pada zaman sekarang, bangsa kita sangat membutuhkan manusia yang memiliki sumber daya manusia yang tinggi agar dapat memanfaatkan dan mengolah sumber daya alam yang berlimpah. Untuk itu hal ini ada baiknya kita mengusahakan agar membaca menjadi kegemaran kita dan merupakan kebutuhan sekunder kita. Di sekolah siswa-siswa mengusahakan agar berkunjung ke perpustakaan merupakan kebutuhan sekunder mereka. Dan kalau di rumah orang tua harus berusaha menciptakan suasana dan kondisi yang dapat memotivasi anak-anak untuk menggemari membaca agar dapat mewujudkan membaca sebagai kebutuhan sekunder keluarga.
Kebutuhan sekunder merupakan dorongan yang bersifat kompleks. Rahasianya terletak pada pertumbuhan dalam suasana individu dan sangat terpengaruh oleh keadaan lingkungan. Orang tua mesti menyadarinya. Orang tua hendaknya menyadarai akan kebutuhan anak-anak mereka. Sebab memenuhi kebutuhan ini adalah wujud dari kasih sayang orang tua untuk anak-anak mereka. Harus pula kita ketahui bahwa kebutuhan sekunder itu selalu berubah dari waktu ke waktu pada setiap siri individu. Kebutuhan sekunder anak sekolah dasar tentu jauh berbeda dengan kebutuhan anak yang duduk di tingkat SMP atau SMU.
Kita sangat menyayangkan bahwa sangat banyak keluarga yang tidak mencukupi kebutuhan kasih sayang bagi anak-anak mereka. Tidak adanya kasih sayang terhadap anak-anak dapat menyebabkan mereka menderita gejala cemas, mengindap gejala ketakutan dan sering pula kita lihat bahwa anak yang kekurangan kasih sayang akan kehilangan nafsu makan dan sering terganggu dalam tidur.
Tetapi kita harus pula ingat bahwa kasih sayang yang berlebihan sama buruknya dengan kurang mendapat kasih sayang. Memberi kasih sayang tidak obahnya memberi makan, dan memamng ini adalah makanan jiwa. Jika kita kurang makan yang berlebihan akan dapat mendatangkan penyakit. Kasih sayang yang berlebihan cenderung dalam bentuk pemanjaan. Pemanjaan itu sendiri akan menghambat pertumbuhan anak-anak. Dengan pemanjaan, anak-anak seakan tidak diberi kesempatan untuk berdiri sendiri dan ini tidak akan menumbuhkan pribadi untuk terlepas dari orang tua. Ternyata dalam membesarkan individu cukup rumit juga, dan itu tidaklah semudah membalik telapak tangan.

MEMBINA DIRI

Tidak ada orang yang mati karena bekerja. Demikian kalimat yang pernah dilontarkan oleh seorang ayah yang merasa khawatir melihat jika santai dan suka menganggur menggerogoti anak laki-lakinya. Selain itu kita sering dalam kehidupan ini menemui langsung orang yang bekerja keras tanpa mengenal lelah. Mereka bisa saja seorang bapak yang bekerja keras, atau pelajar-pelajar yang merasa tekun dengan pelajaran-pelajaran mereka.
Biasanya orang yang memiliki semangat hidup yang demikian adalah orang yang kelak akan meraih keberhasilan dalam hidup. Bekerja dan belajar bagi orang yang demikian adalah motto dalam hidup mereka. Kita dapat membuat pertanyaan yang antagonis yaitu bahwa melarang orang memiliki semangat untuk bekerja atau belajar adalah sama dengan menghukum mereka dan ini cukup menyengsarakan bagi mereka.
Kita perhatikan dalam kehidupan di sekolah-sekolah, terdapat siswa-siswa yang kecanduan untu membolos dalam belajar, kemalasan telah membuat mereka bertindak demikian. Pengaruh kawan-kawan pun sungguh besar sekali. Ada seorang murid kelas dua SMP, biasanya setiap catur wulan selalu mendapat ranking favorit di kelasnya. Bagi anak tersebut bergaul memang menjadi masalah di dalam hidupnya. Kawan-kawan sering mengejek dan memberi hukuman psikologis yang lain kepadanya. Sekali dua kali murid tadi tentu mempunyai cukup argumen untuk membela diri atas nama prestasi. Tetapi pada akhirnya ia tidak dapat lagi bertahan dan pada saat yang sama suasana rumah juga tidak pula menguntungkan. Apalagi setelah ayahnya dihempas pubertas yang kedua, maka si anak prestasinya merosot terus dan cara belajarnya semakin acak-acakan. Sebenarnya murid tadi ingin berhasil tetapi ada rasa takut untuk berbeda dengan teman-temannya. Kebetulan teman yang akrab dengannya adalah orang-orang yang mempunyai jiwa anti belajar serius. Dan kebutuhan agar mereka sama senasib dengan kawan terus membuat dia menomordua atau menomorsekiankan pelajaran dan tentu temanlah yang nomor satu.
Tetapi kalau kita dan siapa saja yang ingin sukses, maka tentu kita harus berbeda dengan cara belajarnya dari teman-teman yang agak pemalas. Tidak mengapa kita berbeda dan kita tentu harus menjadi diri kita sendiri. Dalam bergaul kita mesti tentu dapat membatasi diri, dengan arti kata kita tidak harus terpengaruh oleh kebiasaan yang merugikan kita, terutama dalam sikap belajar. Cukup banyak anak sekolah menjadi gagal dalam belajar karena terbawa oleh arus pergaulan. Dan sangat tepat kalau kita tidak mudah terbawa oleh sikap pergaulan yang dapat menghancurkan semangat belajar kita.
Penulis pernah mengenal nama Onasis dari sebuah majalah dan koran beberapa tahun yang lalu. Dia seorang wanita Amerika yang kaya raya dan sukses dalam bisnis perkapalan. Majalah dan koran itu menceritakan kunci keberhasilannya. Kunci keberhasilan Onasis adalah tergantung pada daya tarik pribadi dan kemampuannya mengadakan hubungan dengan publik. Ia begitu pandai menyesuaikan diri dan semua orang yang ia jumpai. Dan saat membaca biografi Onasis penulis ingat dengan sebagian watak orang kita, dan mungkin itu adalah watak kita sendiri, yang tidak begitu simpati. Dimana kalau bersalaman kita adakalanya tidak melihat wajah orang yang kita jabat tangannya. Dan masih ada lagi yaitu kalau kita melakukan percakapan sebagian cenderung menjadi pendengar saja atau sebaliknya kita cenderung bersikap monopoli sehingga teman bicara kita sendiri menjadi gusar mendengarkan kita.
Dalam hidup ini tentu saja kita harus menyenangkan banyak orang. Kalau kita melakukan banyak kemudahan-kemudahan, tidak mempersulit-sulit urusan, tentu banyak orang yang senang. Membayar hutang, sebagai contoh dan dimana kita kerapkali melalaikannya untuk membayar, mungkin dapat mendatangkan rasa percaya orang pada kita. Bagi Onasis yang membuat mudah jalan kehidupannya adalah karena kemampuannya mendengarkan orang. Keluwesan dan kefasihannya dalam berbicara memainkan peranan penting dalam mempengaruhi orang dan menerima gagasannya. Tetapi, sayang dalam hidup ini, tidak begitu banyak orang yang tahu benar cara mendengarkan orang lain. Padahal ini cukup gampang untuk dilakukan yaitu dengan cara membuka hati dan mata kita. Dengan arti kata kita mendengar seseorang dengan penuh simpati dan menghargai siapa saja yang berbicara dengan kita.
Bila kita terlahir dengan kepandaian berbicara yang cukup menyedihkan maka agaknya kita tidak usah meratapi diri atau menyesali orang tua. Penulis pernah berjumpa dengan seorang pemuda yang kurang lancar dalam menangkap ide-ide, sehingga dalam pembicaraan dengan kawan-kawan dia sering berperan sebagai boneka besar saja. Maka ia tidak habis akal. Kebetulan dia pernah memperoleh nasihat dari sebuah artikel. Maka ia berlatih sesuai dengan petunjuk yang ia temui dalam artikel itu. Ia berlatih mengarang untuk mengekspresikan ide-ide yang bisa ia terapkan dan juga hal-hal yang terlintas dalam fikirannya. Dia berlatih terus-menerus dengan bersemangat dan sampai akhirnya ia merasa heran dengan kemampuannya dalam berkomunikasi yang semakin membaik terus.
Biasanya orang yang "ngawur" dalam berbicara maka cara mengarangnya juga ngawur. Melatih diri terus untuk mengarang sangat manjur untuk meningkatkan kemampuan kita dalam berkomunikasi lisan atau berbicara. Setelah itu kita juga harus meningkatkan kepandaian kita dalam mendengar. Sebab kepandaian adalah suatucara khusus untuk memberi perhatian yang tulus kepada orang lain. Kepandaian atau kemampuan untuk mendengarkan orang lain adalah suatu ciri khas, yang vital, bagi setiap penjual jasa.
Kita hidup dalam dunia yang terus menerus berubah. Orang yang mendambakan keberhasilan harus selalu belajar dan tiada waktu tanpa belajar. Dalam hidup ini, apapun sekarang kita temukan mungkin esok sudah kadaluarsa. Untuk menjadi berhasil seseorang tidak perlu dilahirkan dari keluarga kaya atau segi tingkat kehidupan lain.
Cara hidup yang tidak karuan, seperti tidur yang tidak teratur, dapat membuat pribadi kita jatuh melempem dari segi kualitas. Agaknya adalah suatu pandangan yang umum bagi kita untuk melihat fakta, dimana banyak anak-anak muda yang menuntut ilmu di bangku sekolah yang gemar begadang sepanjang malam dan terpaksa bangun dalam keadaan mengantuk pada esok paginya. Belajar atau bekerja dalam keadaan mengantuk dapat membuat prestasi kerja dan belajar menjadi jelek. Maka ketidak disiplinan dalam masalah tidur saja bisa menjadi penyebab nomor satu dari kebodohan dan rendahnya kualitas diri. Setelah itu tentang jumlah waktu itu sendiri. Orang sukses, dapat kita ketahui lewat membaca biografi mereka, mereka hanya tidur beberapa jam saja setiap hari. Rata-rata mereka tidur enam atau tujuh jam saja tanpa harus tidur pada siang hari lagi. Berbeda dari kebiasaan sebagian orang kita, dimana mereka gemar tidur banyak sekali seingga kurang agresif.
Banyak tidur dapat membuat orang menjadi lesu dan sebaliknya kurang tidur badan juga merasa demikian. Tentu saja jumlah jam tidur disesuaikan dengan kebutuhan badan. Tetapi orang kita janganlah hendaknya banyak yang demam tidur. Terlihat oleh kita banyak penidur kalau sudah tidur badan merasa malas lagi untuk bekerja bangkit. Itu makanya dalam soal ibadah seperti melakukan shalat mereka suka lali dan nsengaja melengahkannya. Dan sekarang mungkin kita sendiri patut untuk mempertanyakan diri. Dan melakukan tanggung jawab, umpamanya bagi anak-anak sekolah, mereka tampak suka enggan. Mengerjakan PR bagi sebagian siswa SMU dan SMP sering merupakan pekerjaan yang membosankan karena mereka suka bersikap santai. Sudah sewajarnya mereka sejak usia muda untuk beajar dan memaksa diri untuk hidup bertanggung jawab.
Untuk dapat meraih sukses kita sendirilah yang lebih menetukan. Sukses itu sendiri tidak terlahir bersama kita tetapi sukses itu muncul dan terbentuk setelah kelahiran kita yakni setelah kita berusaha keras melalui pengorbanan demi pengorbanan. Sekarang nyatalah bagi kita bahwa kesuksesan itu kitalah yang menjadi arsitekturnya yang terbaik untuk hidup kita.
Heraclitus seorang filsuf Yunani kuno mengatakan bahwa watak seseorang sepadan dengan nasibnya. Kitapun dapat melihat kebenaran pendapat ini terhadap orang-orang yang ada di sekeliling kita. Semua orang sukses, pria maupun wanita, tentu memiliki watak atau karakter yang kuat dan mereka sangat memiliki disiplin. Disiplin itu sendiri bukanlah dalam bentuk bekerja atau belajar saja. Tetapi dalam berdisiplin kita berusaha untuk berbuat sesuatu yang equlibrium yaitu keseimbangan antara kerja, belajar, bermain, bermasyarakat, beragama, membantu orang tua dan lain-lain.
Masa depan kita tergantung pada setiap hari yang kita lewatkan. Berhubungan dengan hal ini saya masih terkesan dengan percakapan dengan seorang lelaki tua, pensiunan tentara. Dia menjelaskan bahwa bagaimana watak kemenakannya yang tergila-gila dengan buku-buku ketika masih berusia belasan. Buka berarti dia harus kurang pergaulan masyarakat. Yang jelas dalam kehidupan setiap hari ia senang untuk mengenggam sebuah buku untuk dibaca. Waktu yang berjumpa dua puluh empat jam sehari-semalam baginya terasa masih belum cukup. Untuk itu ia amat berhati-hati dalam pemanfaatan waktu agar waktu yang ia lewatkan terpakai secara efektif dan tepat. Maka ia membuat pengelolaan waktu dalam bentuk daftar atau agenda hidup yang mesti ia patuhi. Kemudian dalam mengamalkan aktifitas ia lakukan sesuai dengan waktu. Untuk itu ia sangat perlu untuk berkosentrasi. Sebab kosentrasi adalah kata sebagai kunci dasar menuju sukses dalam setiap bidang kehidupan. Barang siapa yang tidak dapat mengkosentrasikan diri pada pekerjaan, maka ia tidak akan berhasil.
Memang untuk mencapai sukses kita memerlukan waktu yang cukup panjang. Dan perjalanan yang panjang adalah ketika kita mulai melangkahkan kai pertama kali. Dan sukses terkadang terletak pada langkah yang keseribu. Untuk itu kita jangan berhenti pada langkah ke 999. yakni langkah terakhir sebelum sukses menentukan keberadaan kita.
Ada suatu kaum yaitu hukum imbuhan. Hukum ini berbunyi seperti berikut : siapa yang memberi sedikit akan menerima sedikit pula. Hukum imbuhan ini datang dalam bentuk yang tidak terduga. Orang-orang yang sukses mengabdikan diri sepenuhnya kepada pekerjaan dan mereka banyak pula memperoleh hasil. Sayang dalam hidup ini kita berbuat terlalu sedikit untuk meraih kesuksesan kita dalam bidang yang kita tekuni. Maka disini bagi kita hukum imbuhan juga berlaku yakni makin sedikit kita berbuat maka sedikit pula kita memperoleh.
Untuk meraih keberhasilan maka ilmu pengetahuan adalah kekuatan untuk meraihnya. Makin banyak ilmu pengetahuan yang kita miliki maka makin keras pula kita bekerja, kemudian makin dalam dan tajam fikiran kita sehingga akhirnya makin produktif kita dalam hidup ini. Untuk itu kalau kita ingin sukses maka kita harus bekerja dengan keras dan cerdas dalam bidang yang kita tekuni.
Kita melihat bahwa rata-rata orang yang sukses memiliki pribadi yang sangat, ramah, bersahabat dan murah senyum. Ia mempunyai banyak kawan dan relasi-relasi dan ia disenangi ole banyak orang. Kecuali kesuksesan dalam bidang yang tidak berhubungan dengan manusia secara langsung, seperti dalam labor atau lapangan penelitian non manusia. Sering mereka memiliki pribadi yang sedikit kaku tetapi tetap tenang.
Bila seseorang ingin meraih kesuksesan maka cobalah belajar untuk menyukai orang. Setiap orang lebih suka bekerja dengan orang yang bisa menyukai orang lain. Kita lihat banyak orang yang suka menelak dari direktur yang sulit diajak berbicara atau dengan seorang ayah yang selalu berwajah angker dan mahal senyum. Kita sendiri kurang suka dengan ekspresi yang diutarakan oleh seseorang yang berbunyi : aku tidak gampang bergaul dengan orang lain. Dan kita sependapat bahwa kalimat ini adalah lonceng kematian dalam kehidupan sosial bagi orang yang mengucapkannya.
BERSIKAP OPTIMIS DALAM HIDUP

Golongan kaya selalu mempesona kebanyakan orang. Kita sering mendengar mungkin secara kebetulan terhadap anak-anak muda yang membicarakan tentang betapa gagahnya seseorang bila mengendarai mobil BMW. Saya dahulu secara tidak sengaja pernah menguping pembicaraan siswa-siswa du SLTP dan SLTA tentang kekayaan seseorang yang mungkin adalah tetangga mereka sendiri. Pembicaraan mereka itu kemudian menjadi perdebatan hangat. Memang kita akui bahwa debat kusir di kalangan mereka adalah bersifat universal. Mereka melakukan debat tanpa konsep yang jelas. Tetapi walau bagaimanapun debat seperti ini sangat bagus untuk mengembangkan sikap kritis dan agresif positif.
Charles Albert Poissant (1993) dalam bukunya "how to think like millioner" (diterjemahkan dengan judul buku "rahasia keberhasilan sepuluh jutawan" mengatakan bahwa sukses tidaklah terjadi karena nasib baik semata-mata, tetapi karena prinsip-prinsip hidup yang khas yan mereka terapkan.
Dalam menoropong keberhasilan kita tidak perlu pergi jauh-jauah sebab tentu ada banyak orang-orang yang sanggup meraih kesuksesan diseputar kita. Kita dapat bercermin untuk kita teladani dalam rangka meraih kesuksesan pula. Bentuk kesuksesan itu saja bervariasi. Bila jadi dalam bentuk pendidikan, dalam bentuk ekonomi, dalam bidang pertanian atau dalam bidang wiraswasta dan sebagainya.
Penulis pernah melakukan dialog dengan seorang bapak berusia setengah baya yang berhasil mengembangkan usaha "rice milling" di kampungnya dengan daerah pertanian yang subur dimana sawah-sawah terbentang luas. Adapula orang lain yang mampu memanfaatkan sumber daya alam di daerah domisilinya yang kaya dengan sumber mata air. Ia kemudian mengembangkan usaha perikanan dan setelah itu mengembangkan bisnisnya dengan membuka restoran dan membuka toko serba ada untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar usaha sebagai usaha sampingan.
Setiap orang akan sukses dalam bisnis asalkan ia tahu bagaimana membuat perhitungan. Ada sebuah rumah maka, saya tak perlu menyebutkan namanya, memiliki gedung berarsitektur Eropa dan dinding luarnya bercat putih, sehingga memberikan kesan yang mewah. Saya kira betul mewah karena perlengkapan interiornya terlihat serba luks. Dulu terlihat banyak orang setiap sore berkunjung untuk menikmati berbagai hidangan yang disajikan. Tetapi kini, dan mungkin sudah tiga tahun atau lebih, tempat itu sudah sepi dari pengunjung. Tidak ada lagi alunan musik lembut yang kedengaran. Sedangkan warna cat dinding luar sudah memudar dan ditumbuhi lumut. Kita rasa kesalahan yang membuat rumah makan ini tutup total adalah karena pemilik modalnya mengabaikan faktor lokasi. Sejak lokasi rumah makan itu kembali menjadi lokasi terminal dokar, pengunjung menjadi enggan untuk menikmati hidangan makanan dan minuman disana. Urine kuda, aromanya, telah mengusir pengunjung untuk datang kesana dan sekaligus mematikan usaha rumah makan dan “catering” dari sana sama sekali.
Kita dan setiap orang tentu saja dapat belajar bagaimana untuk menjadi sukses dari buku-buku yang telah ditulis oleh ratusan dan malah oleh ribuan orang di muka bumi ini. Namun belajar langsung dari pengalaman orang yang kita jumpai juga tidak kalah pentingnya meski orang itu secara akademik tampak biasa-biasa saja. Ibarat main piano, kita tentu dapat belajar piano sendirian. Tetapi ini akan makan waktu yang cukup banyak. Sedangkan belajar langsung dengan seorang guru piano akan mempercepat proses belajar kita. Bukan penulis hendak mengatakan untuk anti membaca tetapi saya ingin agar kita dapat belajar meraih sukses lewat membaca dan juga lewat berdialog langsung dengan orang-orang yang telah terpandang sukses.
Ada sebuah artikel, sayang saya telah lupa di media massa ia diterbitkan, sangat menarik bagi saya. Ada beberapa kalimat yang masih saya ingat, mengatakan adakalanya orang-orang yang ketika belajar di SD selalu memperoleh ranking satu tetapi setelah dewasa ia hanya mampu membeli sepeda. Dan ada lagi orang lain ketika SD ia hanya mampu memperoleh prestasi pertengahan saja dan malah terpandang sedikit agak bandel tetapi setelah dewasa ia mampu memperoleh sedan cadilac. Meskipun ilustrasi tadi cuma dalam bidang ekonomi semata tetapi itu ada benarnya. Disini kita dapat menyimak bahwa orang-orang sukses itu pada masa mudanya, mereka rata-rata biasa saja. Di sekolah bisa jadi memiliki prilaku yang agak brandal namun suatu saat mereka mampu mengambil keputusan untuk kehidupan dari buku-buku atau contoh langsung dari seseorang.
Orang sukses banyak juga yang menulis buku catatan pribadi dan meninggalkan semacam warisan spritual. Kita sendiri dapat menikmati sejarah hidup mereka mulai dari nol sampai mereka mencapai kesuksesan melalui buku-buku biografi mereka. Ada juga orang-orang sukses mungkin karena keterbatasan dalam hal waktu atau keterbatasan kemampuan dalam menulis biografinya maka mereka mengungkapkan diri kepada wartawan dalam wawancara publik untuk dipublikasikan pada majalah atau Koran. Banyak kita dengar bahwa sebagian orang yang hidup dan motivasi mereka biasa-biasa saja namun setelah mereka membaca sejumlah buku-buku biografi tokoh-tokoh sukses telah mendatangkan semangat kerja yang meningkat dan meraih kesuksesan pula dalam bidang yang mereka rintis. Maka membaca buku-buku biografi sungguh sangat bermanfaat untuk bercermin kepada semangat hidup tokoh yang telah sukses.
Suatu perjalanan sejauh sepuluh kilometer dimulai dengan satu langkah pertama. Bila kita ingin sukses dan sedangkan sukses itu sendiri berada cukup jauh menurut ukuran waktu atau ukuran kemampuan potensi yang kita miliki. Maka cara membuat agar sukses itu dapat mendekati kita adalah dengan memperhitungkan waktu atau meningkatkan sumber daya manusia kita dengan tujuan memaksimalkan potensi diri. Maka membaca riwayat hidup orang sukses lewat majalah atau koran, dan mungkin lewat biografinya, adalah salah satu usaha kita sebagai langkah pertama untuk menjadi sukses.
Kira-kira apa penyebabnya orang gagal dalam hidup ini ? Setiap orang mungkin dapat menjawabnya dengan cara sangat sederhana. Dan semua jawaban itu tentu saja benar. Malah kita dapat pula menyimpulkan bahwa tidak adanya pengalaman memang menghambat banyak orang untuk maju atau meraih sukses.
Kegagalan-kegagalan yang mendahului ketenaran dan kekayaan seseorang, yang mana dua hal ini adalah wujud dari sukses biasanya terjadi dengan tidak disadari dan cepat dilupakan. Demikian juga pekerjaan awal yang memeras tenaga dan otak selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu kita mendapat kesan keliru bahwa orang menjadi kaya secara tiba-tiba. Saya pribadi dulu sering berpendapat demikian. Setiap kali saya melihat seorang artis terkenal tampil di televisi, maka saya berdecak kagum, “wah sungguh beruntung dia”. Tetapi saya saat itu tidak pernah mengingat awal-awal dari keberhasilannya, sukarkah atau mudahkah ?
Tidak seperti anak-anak kecil, dimana bila berhasil dalam melakukan permainan maka ia tampak begitu puas dan mengungkapkannya dengan bersorak-sorai sambil berjingkrak kian kemari. Sebaliknya apabila memperoleh kegagalan akan meratap sambil mengamuk dan melemparkan kesalahan kepada siapa saja yang mungkin. Tetapi tidak begitu dengan pribadi orang yang sukses.
Saya memperoleh pengalaman dari seorang pedagang harian yang tergolong sukses dalam berdagang pada sebuah pasar. Dalam dunia perdagangan sering timbul perjuangan yang kurang sehat. Ada saja pedagang lain yang memendam perasaan cemburu sosial. Bisa jadi ia menyewa seseorang untuk menyemprotkan cairan kimia busuk lewat ventilasi toko pada malam hari sehingga semua barang-barang dagangan menjadi rusak dan buka itu saja malah pembelipun hampir hampir tidak ada yang datang untuk membeli.
Dapat dikatakan bahwa usaha orang yang saya katakan tadi kena musibah, menjadi mati total. Apa yang saya perhatikan, sebagai manusia normal memang ia sempat mengalami panik dan dan kehilangan kontrol diri. Hampir dua atau tiga minggu ia tampak menghilang untuk kembali mengobat jiwanya yang remuk. Setelah kegaduhan jiwa dan fikirannya teratasi maka ia kembali bangkit dari kejatuhannya yang disebabkan oleh orang lain. Pada hari-hari lain ia kembali dapat tersenyum cerah seperti sinar matahri. Dan ia kembali membenahi diri dan tokonya. Kini pelanggan-pelanggannya yang menghilang kembali datang. Katanya kita tidak perlu terlalu lama menangisi kegagalan sebab tangisan dan air mata tidak akan meringankan masalah tetapi sebaliknya tangisan dan air mata, sebagai wujud dari rasa sedih, hanya akan memperberat masalah saja. Paling kurang kita merasa berat dalam perasaan untuk kembali bangkit.
Saya sering suka berfikir naïf. Ketika kami sama-sama menunggu kedatangan mobil antar kota, suasana terasa membosankan. Karena masih berada dalam suasana lebaran tahun lalu, arus pengunjung terasa lebih ramai dari hari-hari biasa. Orang-orang banyak lalu lalang. Kami tentu saja berebutan untuk menghirup oksigen yang semakin berkurang akibat banyaknya volume zat lemas yang dihembuskan oleh banyak orang. Untung ada teman duduk yang dapat diajak untuk mengobrol sekedar pembunuh rasa bosan.
Ada dua topik yang menarik terlintas di benak saya, dimana kebetulan di depan kami, beberapa puluh meter ada dua kelompok orang, yaitu orang berusia empat puluhan tampak begitu sibuk memindahkan barang-barang untuk dapat menerima imbalan upah. Sedangkan beberapa meter disebelahnya ada kelompok anak-anak muda sehat tetapi gemar bermalas-malasan.
Saya merasa kasihan melihat orang yang bekerja keras dengan cara membanting tulang. Terlihat keringatnya bercucuran dan kulitnya semakin menghitam karena terbakar oleh terik matahari. Hal yang kontra temam sebangku saya malah tidak sedih malah ia tampak senang dan memuji mereka.
Katanya bahwa pekerjaan tidak pernah membunuh orang. Sebaliknya ketidak aktifan seperti sikap suka bermalas-malasan sering bisa berakibat fatal. Teman saya itu tampak sungguh sangat kasihan melihat pemuda yang sengaja menganggur dan bertanya pula bahwa mengapa orang mengundurkan diri dari kegiatan hidup ?
Dalam pertemuan-pertemuan ringan yang terjadi karena tidak sengaja. Mungkin saat antri menunggu giliran membayar rekening telepon atau lagi antrian di kantor Pos dan sebagainya. Sering kita mendengar orang terlibat dalam pembicaraan serius. "wah saya ini bodoh sekali, kuliah saja dulu lama selesainya". Sering orang kita dengar suka menyesali ketidak mampuan intelektualnya. Sebaiknya kita jangan menganggap diri tidak pintar secara intelektual. Kita sering gagal dalam berbagai bidang kegiatan karena kita memang tidak efisien dalam membina otak.
MENGEMBANGKAN PERGAULAN

Seorang remaja yang memiliki wajah tidak begitu cantik tetapi mempunyai kepribadian yang hangat sehingga membuat banyak kawan-kawan menyenanginya. Dia baru saja untuk mengikuti kursus, "drop out", dari kasus komputer bukan karena alasan keuangan. Teman-teman banyak yang datang dan bersimpati padanya. Remaja tadi menjelaskan alasannya mengapa ia berhenti mengikuti kursus komputer adalah karena ia merasa dilecehkan oleh instrukturnya yang suka pilih-pilih kasih dan pilih-pilih wajah. Apa yang terjadi setelah itu adalah lembaga kursusu komputer tersebut menjadi sepi dan terpaksa ditutuo selama beberapa bulan kemudian karena kehabisan murid. Kepopuleran kursus, yang hanya sebagai contoh, tadi menjadi luntur karena telah mengabaikan salah seorang muridnya dulu.
Ada lagi seorang murid SMU Negeri yang mana setiap catur wulan selalu memperoleh peringkat pertama di kelas. Karena orang tuanya sakit keras dan karena kesibukan lain membuat ia kelupaan membawa tas yang berisi buku-buku pelajaran. Padahal keesokan harinya ia mesti mengikuti ulangan. Sementara itu ia sendiri memiliki pribadi yang hambar dan kurang dalam pergaulan. Tampak tidak seorangpun temannya yang sudi meminjamkannya buku-buku untuk dibaca karena watak egois dan sikap judesnya. Tampaknya orangpun juga tidak suka bersahabat dengannya.
Ulangan minggu itu terpaksa dilaluinya dengan kosentrasi buyar dan akhirnya hasil yang diperoleh sungguh-sungguh mengecewakan, padahal hari-hari itu sangat menentukan prestasinya untuk catur wulan itu. Beberapa hari kemudian ia dan siswa-siswa lain menerima buku rapor dan ia tidak lagi memperoleh prestasi yang gemilang seperti caturwulan-caturwulan yang berlalu. Ia akhirnya menjadi sedih dan patah semangat.
Dari pengalaman yang dilalui oleh orang-orang yang kita ceritakan diatas menunjukkan bahwa keberhasilan atau tidak berhasilnya seseorang bukan hanya ditentukan oleh pribadi sendiri. Seperti nama baik pengusaha komputer yang semulanya sempat popular menjadi merosot akibat wataknya yang suka pilih-pilih kasih, walaupun dilakukan oleh seorang instrukturnya. Kemudian seorang remaja yang ambisius tetapi memiliki watak egois telah pula jatuh gagal dalam hal prestasi belajarnya.
Pengalaman ini menunjukkan kepada kita tidak dapat menciptakan dan mengejar kesuksesan sendirian dan mengabaikan keberadaan orang-orang lain. Adalah sangat benar bahwa keberhasilan itu tidaklah kita sendirian sebagai faktor penentunya. Orang-orang yang berada di lingkungan kita, keluarga dan sahabat-sahabat kita dan juga orang-orang dan juga orang yang biasa kita jumpai akan ikut mempengaruhi kita untuk menggapai impian kita.
Dalam kehidupan orang-orang kaya tidak semua yang mereka sentuh berubah menjadi emas. Tetapi seseorang itu dapat menjadi kaya, kaya dari segi apapun juga, karena orang yang mereka jumpai ikut membantu mereka untuk menjadi bertambah kaya atau bertambah sukses. Kita sendiri juga dapat bertambah kaya atau sukses. Kita sendiri juga dapat bertambah sukses kalau kita dapat membuat banyak relasi yang baik dengan orang-orang lain. Dan memang kita akui bahwa kesuksesan itu sendiri tidak jatuh saja dari langit tetapi kesuksesan itu selain ditentukan oleh faktor usaha dan doa kita sendiri juga ditentukan oleh keberadaan orang-orang lain. Khususnya orang-orang yang langsung mempengaruhi kita.
Bila seorang sukses berkumpul dengan orang-orang biasa yang prestasi hidupnya biasa-biasa saja di suatu tempat. Kita dapat mengumpamakan mereka dengan seorang bermata melek yang hadir diantara orang-orang buta. Dimana orang yang sukses tentu mempunyai kemampuan untuk menganalisa dan melihat kemungkinan-kemungkinan usaha yang akan dilakukan dan sementara orang-orang lain tidak melihatnya.
Dalam menjalani kehidupan diatas dunia ini, semua orang harus mampu berusaha agar dapat bertahan hidup. Ada bermacam-macam bidang usaha yang dapat ditekuni. Kita banyak melihat cara-cara orang berusaha. Mereka berusaha ada dengan penuh perhitungan dan bersungguh-sungguh. Ada pula yang berusaha asal-asalan saja, bila memperoleh rezeki terpaksa mereka memperoleh ibarat rezeki harimau. Maksudnya dalam berusaha kadang-kadang mereka mampu memperoleh rezeki dan tidak jarang pula kelaparan setelah itu, karena mereka mudah puas setelah sekali memperoleh rezeki. Dalam gambaran lain, ada orang yang berusaha cukup keras tetapi selalu gagal dan gagal. Sementara itu juga ada orang yang mencapai kesuksesan dengan mudah. Yang menetukan seseorang berhasil dalam menggeluti usaha atau gagal sama sekali adalah kualitas dan kuantitas energi yang mereka tanamkan ke dalam usaha mereka.
Pada suatu sore ada sekumpulan remaja melepas keletihan setelah hampir setengah hari mengikuti ulangan di sekolah. Mereka asyik bercakap-cakap tentang apa saja. Salah seorang bertanya tentang apakah ada salah seorang yang lain mempunyai bakat dalam berdagang. Seorang remaja lain mengomentari pertanyaan kawan tadi. Dia mengatakan bahwa mereka bisa menjadi pedagang yang hebat kalau mereka memiliki rasa ego yang sehat. Orang yang berwatak terlalu suka mengalah dan tidak memiliki ego yang sehat dan tidak memiliki rasa bersaing tentu akan gagal dengan mudah. Sementara itu orang yang memiliki ego yang sehat maka egonya bisa merupakan energi pembangkit atas keberhasilannya.
Kita melihat bahwa dalam kehidupan ini cukup banyak orang yang gagal dalam berusaha. Bila angka pengangguran semakin bertambah membengkak ini bisa menjadi cermin bagi kita dan menunjukkan bahwa angka kegagalan dalam hidup atau berusaha semangkin meningkat. Seseorang menganggur karena telah kehilangan harapan dalam berprofesi dan mereka tidak mampu membuat alternative lain.
Kalau kita gagal dan gagal terus dalam meniti karir barangkali sudah saatnya bagi kita untuk melakukan intropeksi diri. Nyata sekali bahwa kelemahan dasar yang menghancurkan kehidupan kita dan banyak orang adalah karena kebiasaan kita menunda-nunda waktu dan menunda kesempatan. Disamping itukita cenderung pula untuk bersikap terburu-buru, kurang sabar dalam bertindak. Padahal kita sudah tahu bahwa sikap terburu-buru dapat menghambat penalaran sehat atau berfikir rasional kita. Dan sikap yang suka menunda-nnda mempunyai pengaruh yang lebih buruk, begitu pula mengambil keputusan dengan sikap terburu-buru.
Sebagai kontra dari kenyataan diatas adalah sikap orang yang suka ragu-ragu dan selalu kebingungan. Orang yang terlalu ragu-ragu untuk membuat keputusan, misalnya, seringkali jatuh kedalam kegagalan. Maka sangat tepat kiranya kalau orang mengatakan bahwa Dewi Fortuna, Dewi keberuntungan, sangat menyukai dan mencintai orang-orang yang berani. Berani atau tidaknya lewat melakukan tahap-tahap latihan untuk berani. Untuk dapat menjadi berani, misalnya, kita harus selalu memupuk rasa percaya diri dengan cara menambah kualitas diri. Kualitas diri ini meliputi kualitas berfikir dan kualitas keimanan. Begitu juga kita selalu meningkatkan kualitas ilmu dan kualitas sosial.
Banyak orang berhurau tentang beribadat, misalnya, bahwa selagi muda ya puas-puaskanlah hidup dengan mengejar dunia. Nanti kalau sudah tua atau kalau sudah tiba waktu kesadaran maka mereka akan khusus beriabadah dan mengerjakan banyak kebaikan. Tampaknya mereka terlalu dimabuk dan dibuai oleh kesenangan duniawi. Ini adalah termasuk bentuk dari kebiasaan menunda-nunda waktu.
Begitu pula yang terjadi terhadap seorang pemuda yang telah menyelesaikan pendidikannya dari perguruan tinggi. Banyak orang telah menyarankan ketika ada kesempatan baik, karena kebetulan ada lowongan pekerjaan, untuk mempersiapkan diri dan melamar pekerjaan itu. Mungkin karena lagi malas dan terbiasa hidup santai maka ia menjawab, "Ah lebih baik saya istirahat untuk beberapa bulan dulu, nanti kalau ada waktu yang tepat saya akan melamar pekerjaan".
Pemuda ini mungkin menunggu waktu yang ideal menurutnya. Tetapi ia mesti ingat dan arif bahwa sebenarnya waktu yang ideal itu tidak ada. Kita lihat bahwa kebanyakan orang melakukan berbagai kesalahan karena biasa dengan sikap menunggu-nunggu saja. Mereka menunggu dengan berbagai alasan murahan. Termasuk dalam hal berhubungan dengan muda-mudi. Ada pemuda yang telah menyenangi gadis pilihannya, tentu saja ekonomi dan usianya telah matang, tetapi mempunyai kebiasaan menunggu sehingga si gadis tidak ada merasakan kepastian dan selalu gelisah. Sebaiknya si pemuda memberi keterangan yang jelas. Begitu pula kebiasaan orang dalam hal-hal lain.
Bila ingin sukses kita mesti menghilangkan sikap suka menunggu. Seorang siswa yang ingin memperoleh kesuksesan, prestasi yang gemilang di sekolah, tidak perlu menunggu-nunggu waktu sampai esok, maka sebaiknya mulailah dari detik dan menit ini juga. Hal yang sama dikatakan oleh peribahasa Inggris yang berbunyi " Kerjakanlah apa yang dapat kita kerjakan hari ini juga dan tidak perlu anda tunda mengerjakan sampai esok'. Sebuah kalimat yang sangat indah tetapi membutuhkan tekad yang kuat untuk mengamalkannya.
Rupanya untuk dapat meraih sukses kita harus mampu membuat keputusan, dan keputusan yang baik adalah keputusan untuk bertindak sekarang juga. Sukses tidak menunggu. Sukses akan menghindar dari orang yang tidak mau meraihnya. Semua orang sukses adalah orang yang mau bertindak dengan segera. Dan bagi orang yang sukses bekerja adalah kegiatan yang sangat digemarinya. Karena saat bekerja adalah saat yang memberi nikmat dan kesenangan. Itu makanya banyak orang yang sukses banyak yang senantiasa bekerja sampai agak larut malam. Bekerja keras tidak membuat mereka lelah malah sebaliknya. Mereka merasa telah mati dan lesu kalau tidak punya pekerjaan. Agaknya inilah alasan kuat mengapa orang yang tidak punya pekerjaan tempak begitu lesu dan lelah dalam menghadapi dan melewati hari demi hari.

AGENDA DALAM KEHIDUPAN

Kita telah sama-sama melihat tentang kehidupan anak-anak yang penuh suka cita. Lihatlah betapa lincahnya gerak-gerik mereka. Berlari, melompat, menendang, dan saling bergumul. Pokoknya mereka senang bergerak sepanjang waktu. Namun kelincahan ini sirna begitu saja setelah mereka memasuki usia remaja, suatu masa yang penuh panca roba.
Hampir sepanjang hari kita dapat memperhatikan banyak remaja yang melarikan diri dari rumah, malah juga dari sekolah, dan menyatukan diri dengan keramaian pasar. Banyak mereka mendatangi tempat-tempat ramai lain, seperti tempat-tempat rekreasi, malah juga ke tempat lain tanpa tujuan dan tanpa arah. Disana mereka ikut berdesakan, kalau di pasar, untuk menyaksikan atraksi yang disuguhkan oleh pedagang kaki lima. Atau mereka yang membentuk gerombolan di emperan pertokoan dengan wajah tanpa ekspresi.
Selain itu mari pulalah kita lihat betapa banyak laki-laki tua yang duduk dengan tatapan mata kosong. Begitu para pemuda, sebagian, kalau sudah terduduk maka malas lagi untuk kembali melangkah. Mereka betah melamun selama berjam-jam. Ini semua adalag akibat dari hidup yang terprogram atau hidup tanpa agenda.
Agenda kehidupan itu sangat penting. Rata-rata hidup kita tidak terprogram karena tidak memiliki agenda hidup. Orang tua kita, sebagian, tidak mengajarkan dan melatih kita untuk hidup teratur atau disiplin. Orang tua kita pun tidak tahu bagaimana mendidik kita menjadi generasi yang mempunyai program dalam hidup karena mereka juga tidak dilatih oleh pendahulu mereka, para nenek dan kakek kita. Pada akhirnya tidak ada yang dapat disalahkan. Sebagai generasi muda, kita mesti sadar dan agar hidup ini bisa berarti maka kita perlu membuat hidup yang terprogram. Tetapi kalau ada juga generasi muda yang tidak pernah sadar untuk memahami betapa pentingya program hidup maka mereka itu mungkin dapat disalahkan.
Disitulah kelemahan hidup bangsa kita, tentu saja tidak semuanya demikian, hidup tidak mempunyai aturan hidup. Kita perhatikan sebagai contoh, dan tentu tidak smeuanya demikian, ada yang tidak memanfaatkan waktu. Pagi hari ketika cuaca amat bersahabat dan energi dalam tubuh masih "full", namun kesempatan inimereka isi dengan mengaso di rumah atau sengaja datang ke warung untuk menghabiskan secangkir kopi dan sebatang kretek sambil ngobrol selama berjam-jam. Kelak ketika matahari semakin meniggi di angkasa baru mereka turun ke sawah atau ke ladang. Itu pun hanya ada yang betah selama satu atau dua jam saja, tidak tahan merasakan teriknya matahari tropis yang menyengat. Pola hidup malas dan santai seperti ini membuat mereka sulit untuk beranjak dari garis kemiskinan.
Dalam hidup ini tidak jarang kita lihat kaum wanita tampak kehabisan kerja, terutama bagi wanita dan anak-anaknya yang sudah agak besar. Sehingga kita perhatikan malah ada yang pagi-pagi sekali sudah bertandang ke rumah tetangga atau mereka sudah "ngumpul-ngumpul" unuk saling berbagi cerita tentang kehidupan, pekerjaan, hobbi, prilaku anak-anak dan tidak jarang isi cerita merambat kepada membicarakan aib orang lain. Sebenarnya kegiatan seperti ini banyak manfaatnya asal jangan bergosip melulu atau menebarkan kekacauan hubungan dalam bertetangga. Dapat kita sinyalir bahwa gossip amat mudah meluncur dari mulut ke mulut karena kekurangan bahan dalam pembicaraan sehingga mereka selalu terseret kepada gosip tentang kekurangan yang ada pada orang lain.
Karena tidak ada program dalam kehidupan maka banyak anak-anak sekolah yang belajar asal-asalan saja. Dari cara berjalan mereka saja, perhatikanlah, langkah mereka betul-betul lunglai tak bertenaga ibarat mobil tua kehabisan bahan bakar. Merekapun kehabisan bahan bakar, tidak punya lagi energi untuk belajar. Buku-buku bukan lagi sebagai benda yang berharga bagi mereka, sehingga banyak mereka yang enggan untuk membeli buku-buku. Tetapi mereka sangat merasa enteng untuk membeli rokok kretek, kosmetik, makan dan minuman serta merasa enteng menghamburkan uang untuk membeli hiburan. Bagi mereka buku-buku tidak lebih sebagai objek permainan, untuk dicoret-coret dan dibuang setelah itu.
Hidup terprogram akan membuat suasana lebih menyenangkan. Kita tentu amat terkesan melihat pembagian tugas yang dilakukan oleh satu keluarga, sehingga mereka bisa menanmkan rasa kebersamaan dan rasa tanggung jawab yang dalam. Anak-anak tentu akan bisa membantu orang tua, membersihkan rumah dan belajar bersama-sama setelah itu. Mereka juga menyediakan waktu untuk bergaul dengan kawan-kawan dan remaja-remaja dari tetangga sendiri.
Ada seorang laki-laki berumur masih di bawah usai empat puluh tahun mempunyai empat orang anak kecil-kecil yang jarak usia mereka rapat sekali ibarat paku bersusun. Orang itu masih menginginkan untuk memiliki beberapa orang anak lagi. Katanya bahwa generasinya, maksudnya anak-anaknya, dipersiapkan untuk menjadi pelopor guna memajukan agama. Rencana dan tujuannya sungguh mulia sekali. Tetapi agaknya kitalah yang merasa pesimis tentang keberhasilannya dalam mencapai tujuannya itu. Kesulitan ekonomi dan minimnya ilmu pengetahuan dan pengalaman kerjanya, kita perkirakan bahwa kesulitan hidupnya akan belipat ganda.
Sebaliknya ada lagi orang lain, dan tentu kita tertarik konsep hidupnya. Lelaki itu begitu tekun mengumpulkan nafkah untuk membiayai keluarga dan membiasakan anak tunggalnya untuk melakukan banyak aktifitas secara disiplin, teratur, antar kegiatan membaca dongeng, menonton TV, membantu diri dan bermain. Lelaki itu memang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Hasilnya segera terlihat, dimana putra tunggalnya dalam usia balita tampak begitu lincah, memiliki banyak kosakata, dapat menyesuaikan diri dan mudah menguasai keterampilan untuk anak seusianya. Sedangkan anak-anak dari laki-laki pertama tumbuh dengan gerak kaku dan lebih banyak memperlihatkan sikap malu dan suka menarik diri dalam pergaulan dan sedikit tertutup.
Ada lagi seorang pemuda yang tercatat sebagai mahasiswa pada perguruan tinggi negeri. Aktifitas sosialnya banyak bersifat hura-hura dan menyita waktu sehingga membuat prestasi kuliahnya berantakan. Kesadarannya membuatnya kembali menata kehidupan. Ia coba untuk hidup dengan jadwal kegiatan mulai dari kegiatan kuliah, melakukan hobi, kegiatan membaca sampai dengan kegiatan sosial lainnya secara teratur telah mengantarkannya untuk meraih prestasi gemilang pada bidang akademisnya dan sukses bulan dalam kegiatan bermasyarakat.
Secara kebetulan seorang teman alam menyapa penulis dan kami hanyut kedalam percakapan nostalgia. Penampilan pertama teman itu dengan pakaian lusuh. Tetapi setelah kami lanjut berbicara, tidak ada kata-kata getir terucap dari mulutnya. Logika saya berusaha untuk menguasai emosi. Bagaikan seorang detektif saya menghujani dia dengan sejuta pertanyaan. Dan akhirnya ia mengungkapkan bahwa ia telah beralih profesi dari berdagang pakaian dengan membuka usaha perabot rumah tangga. Malah ia telah memiliki beberapa orang karyawan yang diperlakukan sebagai teman sendiri, mungkin itu sebagai kiat manajemennya. Penulis berdecak kagum sekali akan program hidupnya dan ketekunannya untuk menambah-nambah ilmu serta keterampilannya. "Saya selalu belajar dan belajar", katanya mengakhiri perjumpaan. Yang patut penulis catat bahwa hidup ini butuh agenda agar kita tidak selalu kebingungan.

MARI MEMANTAPKAN SDM

Penulis punya kesempatan mengunjungi sebuah tempat kos mahasiswa dalam liburan lalu. Disana saya lihat cuma puntung-puntung rokok yang bertebaran diatas lantai sampai kebawah kolong meja. Tidak ada korelasi buku-buku ilmiah yang diperlukan untuk mempeluas cakrawala berfikir terlihat kecuali hanya secuil buku-buku catatan perkuliahan. Dan beberapa eksemplar buku pinjaman dan walaupun juga kurang tersentuh.
Begitu pula ketika penulis menyempatkan diri mengunjugi sebuah rumah kerabat. Dia tercatat sebagai seorang mahasiswi pada sebuah universitas negeri. Sayapun tidak menemukannya tengah bergaul dengan buku-buku, fiksi atau non-fiksi, yang berguna untuk membentuk mereka menjadi mahasiswa yang berkualitas. Kecuali yang terlihat hanyalah beberapa botol kosmetik dan alat-alat penjepit rambut.
Saya yakin, walau saya belum mengumpulkan data-data yang lengkap dan terpercaya, tetapi beginilah ilustrasi kehidupan sebagian mahasiswa di tempat kos mereka. Suara gitar bisa saja terus berdenting tanpa mengenal waktu. Di berbagai kamar terdengar dentuman musik keras dari stereo dan diselingi oleh cekikan tawa. Saat suasan hening mereka isi untuk bercengkrama tentang jodoh bagi wanita dan berebut bicara untuk membahas hal-hal sepele bagi pria. Maka timbullah pertanyaan di dalam kepala kita, beginikah suasana kehidupan di perguruan tinggi yang dikatakan orang dengan dunia ilmiah itu? Dan pantaslah kiranya setelah mereka lulus dari perguruan tinggi, karena pribadi belum matang, menambah deretan angka pengangguran tingkat tinggi.
Walaupun rata-rata kita tidak diprogramkan oleh orang tua kita untuk menjadi manusia yang berkualitas. Untuk itu kita, mahasiswa, pelajar dan siapa saja perlu membuat program hidup untuk jangka pendek sampai kepada program jangka panjang. Saya kira setiap mahasiswa perlu untuk membuat agenda hidup atau daftar kegiatan harian. Kira-kira apa yang akan terjadi kalau tidak ada daftar pelajaran untuk banyak kelas.tentu jam-jam kuliah akan saling "overlap" dan tenaga pengajar akan mengalami kekacauan dan Susana kampus tentu akan mirip dengan suasana di pasar sualayan.
Inilah kenyataanya. Banyak mahasiswa dalam kehidupan sebagian hidup tanpa aturan, tanpa jadwal di rumah. Mereka tidak disiplin dalam memanfaatkan waktu. Mereka cuma banyak melamun di luar jam kuliah atau setelah mengerjakan tugas-tugas kuliah tanpa ada keinginan untuk memperluas ilmu lagi. Sebagian mahasiswa gemar mengobrol sepanjang waktu sampai malam, demikian aktifitas sebagai mahasiswa yang pasif hari demi hari.
Apa yang dapat mereka harapkan dari sikap hidup yang begini, tentu tidak banyak bukan ?. dan ini pulalah yang menyebabkan mahasiswa dan para pelajar tampak begitu lesu. Mereka datang ke sekolah dengan ekspresi yang kosong, sering rambutnya awut-awutan dan langkah sempoyongan, tak bersemangat. Dari hal ini saja mudah sekali bagi kita untuk melihat kualitas berfikir seseorang. Yakni cukup dari cara mereka berjalan saja.
Orang-orang yang melangkahkan kakinya dengan sikap loyo dan lamban serta tatapan mata yang kosong menunjukkan kualitas fikiran yang kurang mantap. Sebaliknya orang-orang yang melangkahkan kaki dengan mantap dan tatapan mata yang cerah serta bersemangat, menunjukkan kualitas berfikir yang bagus.
Dewasa ini kita agak sulit untuk membedakan tingkat sosial ekonomi seseorang bila kita berpapasan pada sebuah jalan. Sebab orang-orang kini tampak berpenampilan sama trendinya mereka, mereka telah dilapisi oleh berbagai kualitas tekstil dan assesoris serta di poles dengan kosmetik. Seorang wanita misalnya, bisa jadi tampak begitu mewah dengan tubuh bertaburan perhiasan emas dan permata sehingga kadang kala tubuhnya mirip dengan toko perhiasan berjalan. Walau dalam kenyataan ia berasal dari kondisi rumah yang cukup sederhana saja.
Penulis sangat terkesan dengan kalimat seorang bapak yang berusia sudah agak tua, ketika itu kami terlibat dalam percakapan ringan. Ia mengatakan bahwa seseorang kalau kita temui di jalan semuanya tampak sama. Tetapi untuk mencari apakah ia intelektual atau tidak maka temuilah rumah-rumah yang mempunyai pajangan buku-buku yang berkualitas. Niscaya tentu ada penghuni rumah itu yang tekun melakukan "otodidak" sehinggaia mampu merawat pikirannya.
Banyak siswa-siswa sekolah lanjutan atas yang mengungkapkan keinginan mereka untuk meraih kesuksesan dalam belajar tetapi dalam waktu yang sama mereka juga menyatakan keengganan untuk membaca dan memahami pelajaran. Keengganan dan kemalasan untuk membaca buku-buku telah terkondisi sejak usia muda. Lihatlah betapa banyak anak-anak dan pemuda yang senang berhura-hura dan bergurau saja sepanjang waktu karena mereka tidak senang membaca telah membuat ratusan sampai ribuan pelajar membenci pelajaran. Mereka melarikan diri dari sekolah dan kita dapat menemui duduk bergerombolan di emperan-emperan toko atau tempat keramaian lain seperti pusat-pusat hiburan dan rekreasi.
Selama ini mungkin kita terlena dan mengagungkan kekayaan alam, atau sumber daya alam (SDA). Ternyata adalagi sumber daya yang lebih unggul yang patut kita kembangkan yaitu sumber daya manusia (SDM), dimana selama ini kita lalaikan. Ada negara yang miskin dengan sumber daya alam dan tetapi dapat menjadi maju karena telah mengembangkan atau mendorong warga negaranya untuk memiliki sumber daya manusia yang mantap, SDM yang mantap merupakan investasi yang ternilai bagi kemajuan bangsa.
Kini kitapun semakin sadar akan peranan sumber daya manusia. Pemerintah pun juga telah meluncurkan sejumlah kebijaksanaan untuk membentuk manusia Indonesia berkualitas. Kita tentu dapat membayangkan bagaimana perkembangan Indonesia kelak dengan sumber daya manusia yang berkualitas dalam sumber daya alam yang berlimpah.
Seruan pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia pada hakikatnya juga ditunjukkan buat mahasiswa dan para pelajar. Kini saatnya bagi mahasiswa dan pelajar untuk membenahi diri. Tentu tidak ada lagi istilah terlambat untuk maju dan menjadi pintar dalam rangka meraih kesuksesan dengan cara memantapkan sumber daya manusia.
Rahasia keberhasilan sejumlah orang, seperti yang kita baca dari buku-buku adalah dengan cara hidup berdisiplin. Disiplin bukalah berarti bekerja atau belajar saja terus menerus tetapi dalam berdisiplin kita membentuk suatu keseimbangan atau "equilibrium" antara bekerja, belajar, bermain, menikmati hobi, bergaul dan lain-lain.
Banyak mahasiswa yang mampu meraih prestasi cemerlang bisa jadi mereka lulus dengan peringkat cum-laude. Tetapi begitu mereka memperoleh posisi yang baik di lapangan ternyata penampilannya agak kaku. Ini disebabkan karena mereka dulu kurang melatih diri dalam berorganisasi dan bersosial. Mereka mungkin sibuk dalam mengurus pelajaran semata-mata, kerjanya cuma menghafal catatan pelajaran saja dan lupa mengasah kepekaan sosial.
Kita mungkin merasa bangga juga, begitu berada di dalam bis dan terminal, melihat banyak orang yang sudah banyak menggemari bahan-bahan bacaan seperti majalah dan koran-koran. Fenomena semacam ini dulu merupakan kebiasaan bangsa-bangsa maju, tetapi kini sudah mulai merupakan kegemaran bangsa kita. Bila ada seorang gadis yang kita temui pada suatu tempat umum kita mungkin bisa merasa simpati bukan semata-mata karena kecantikan wajahnya, tetapi adalah kepribadiannya yang menyenangkan dan pribadi yang demikian tentu bisa diperoleh dengan cara banyak membaca untuk meningkatkan sumber daya manusia. Kinilah saatnya bagi kita untuk memantapkan SDM.














12. MENINGKATKAN KUALITAS DIRI LEWAT MEMBACA DAN MENULIS

Pengaruh kegemaran membaca dengan prestasi di sekolah amat jelas terlihat di sekolah. Murid-murid yang berlangganan majalah terlihat lebih memiliki kosakata dan ide-ide yang lebih banyak daripada yang gemar membaca. Anak yang gemar membaca lebih cepat memahami pelajaran dan lebih terlihat jelas seperti pada pelajaran bahasa Indonesia dan pelajaran ilmu-ilmu sosial. Guru bahasa yang menyuruh kegiatan mengarang akan melihat fakta ini secara langsung terhadap murid yang kutu buku atau yang gemar membaca.
Bagaimana sekiranya semua murid telah terlatih untuk gemar membaca sejak dari rumah. Tentu semua guru-guru pada semua jenjang sekolah dari tingkat SD sampai tingkat SLTA, tidak lagi akan mengeluh seperti keadaan sekarang.
Dalam menanamkan gemar membaca pada anak didik, kadangkala ada dilema. Ada seorang murid sekolah dasar yang sangat gemar membaca buku cerita dan ingin membawanya pulang tetapi guru kelasnya tidak mengizinkannya. Kita merasa kasihan sekali sebab bukankah untuk menanamkan kebiasaan membaca maka kita, guru dan orang tua harus memberikan dukungan penuh.
Membaca dan menulis merupakan dua sarana ampuh untuk meningkatkan kualitas diri. Ternyata dua kegiatan ini mempunyai manfaat yang lain. Membaca buku dan menulis ternyata dapat pula menghilangkan rasa terpencil (Hasan Shadily, 1983). Ada sebuah nasehat yang patut kita ingat yaitu kalau kita berpergian maka kenapa kita tidak membawa buku-buku untuk dibaca dan buku diary atau buku agenda untuk ditulis, mengekspresikan kebiasaan. Sering kita melihat wisatawan dari negara maju yang senantiasa membawa sejumlah buku-buku bacaan untuk pengisi waktu senggang mereka. Ini berbeda jauh dengan kebiasaan, kebanyakan, orang kita kalau bepergian cuma membawa tas sarat berisi kosmetik dan pakaian.
Pustaka adalah, seolah-olah, otak dari suatu lembaga tampaknya belum memainkan peranan penting secara maksimal. Tidak hanya pada sekolah yang berlokasi di daerah tetapi juga terhadap sekolah yang berlokasi di perkotaan, sering terlihat perpustakaan sekolahnya hanya sekedar nama saja. Isinya lebih dominant dengan buku-buku teks tua yang penuh debu karena siswa segan untuk menyentuhnya, Koran dan majalah-majalah usang. Bukan tidak ada buku-buku yang berbobot. Buku-buku itu cuma bisa dinikmati dengan mata saja, sekedar di pandang jauh saja oleh murid. Hanya boleh dipinjam dan dibawa pulang oleh guru. Kalau ada berjalan secara sistematisnya tentu kita pun merasa optimis terhadap peningkatan kualitas guru. Tetapi ironisnya buku-buku itu mungkin dijadikan sebagai bantal saja di rumah. Berminggu atau berbulan-bulan, setelah ditagih, baru dipulangkan. Tentu saja ini penunjukan pemanfaatan pustaka sia-sia.
Untuk meningkatkan kualitas memang buku adalah sarana utamanya. Agaknya dalam zaman sekarang untuk mendapatkan buku tidaklah begitu sulit. Cara untuk mendapatkan buku yang lazim tentu adalah lewat membelinya. Sebetulnya harga buku-buku tidaklah begitu mahal yang menjadi masalah adalah bahwa kita belum terkondisi untuk membelinya sejak kecil. Kita cuma lebih terkondisi untuk membeli kue-kue, pakaian, permainan dan lain-lain. Kalau kita pertanyakan bahwa kenapa banyak orang-orang muda merasa lebih ringan untuk membeli rokok, kaset-kaset atau permainan dan hiburan elektronik lainnya. Bukan kita merasa alergi terhadap sarana ini tetapi kita juga menginginkan agar banyak orang yang juga memiliki animo untuk mengkonsumsi buku-buku.
Cara lain untuk memperoleh buku tentu saja lewat peminjaman dari pustaka, teman dan tetangga, asal saja setelah dibaca segera kita pulangkan agar kepercayaan orang kepada kita tetap ada. Tetapi untuk meraih kemajuan orang-orang kita sering terhalang oleh sikap yang suka berlindung di balik alasan. "Sebetulnya aya juga ingi seperti dia, pintar tetapi ….tetapi dan tetapi…!. Selalu saja orang kita menggunakan kata tetapi untuk membungkus kelemahan mereka.
Tetapi kita sekali-kali juga sering mendengar seseorang bertanya. "Bagaimana supaya saya betah membaca ?". Mungkin kesadarannya lagi timbul karena tertular oleh semangat positif. Memang semangat itu mudah menularnya, penularannya semudah penularan virus. Remaja yang baik-baik apabila bergaul secara intensif dengan remaja yang pemalas kita khawatir kalau semangat malasnya akan menular. Malah untuk tetap bertahan rajin pun kita takut diberi hukuman psikologis dengan kata-kata kita dicap " sok rajin atau sok pintar". Maka untuk tidak tertular tentu ada baiknya kita hijrah dari mereka kepada kawan-kawan yang hidup optimis. Bukankah teman yang mempunyai semangat hidup masih cukup banyak atau mudah untuk dicari ?
Ada ungkapan dalanm bahsa Inggris yang berbunyi : "All the beginning is difficult an all the end is easy". Kalimat ini kemudian kita rasakan kebenarannya. Demikian juga halnya untuk memulai kebiasaan membaca yang terasa sebagai beban dan membosankan. Membuat target untuk awal membaca adalah langkah yang tepat menjadi pembaca pemula. Paksalah diri untuk setiap kali membaca, misalnya dalam rangka melawan kebosanan. "Saya mesti membaca buku ini sampai lima halaman setiap kali duduk, kalau belum terbaca lima halaman saya tidak akan bangkit". Niat begini bisa merupakan tekad untuk menuntaskan tekad dalam membaca buku. Pemaksaan kecil-kecilan terhadap diri kelak akan dapat menjadi kebiasaan bagi kita. Sehingga pada akhirnya kita akan dapat merasakan arti kalimat yang mengatakan bahwa "all the end is easy". Nah kalau kalimat ini ternyata benar maka mengapa kita tidak melakukan kebiasaan membaca ?
Sebenarnya yang lebih menentukan kualitas pribadi kita adalah bobot pikiran kita. Pribadi seseorang akan berkualitas ditentukan oleh keluasan wawasan sosial dan wawasan ilmu. Persentase wawasan ilmu lebih banyak pengaruhnya dari informasi yang diperoleh lewat bacaan.
Buku memiliki dua karakter yaitu sebagai sarana pendidikan dan saran hiburan. Idealnya kita belajar dengan buku dan mencari hiburan lewat buku. Sebab dengan cara demikian kita akan kaya dengan kosakata dan ide-ide. Tetapi dengan kenyataan banyak pemuda sekarang lebih mempriotaskan otak untuk menikmati hiburan. Sedangkan orang-orang dari negara maju baru dapat menikmati hiburan setelah melibatkan diri dalam banyak kesibukan.
Remaja kita pada saat-saat fikiran masih segar, kebanyakan tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Karena mereka tidak tahu dan bingung tentang apa yang harus dikerjakan, mereka sibuk menikmati hiburan. Bayangkan hampir separoh dari waktu mereka habis untuk menikmati hiburan melulu, selebihnya mereka terbuai oleh musik sampai kepada khayalan-khayalan kosong.
Kita sering melihat pemuda bahwa manakala ketika menerima surat cinta dari kekasihnya, tidak mampu untuk membalas surat itu. Karena ia tidak mampu menulis, sehingga ada yang tidak membalas surat cinta itu sama sekali. Sehingga cinta atau hubungan hati segera terputus sebelum sempat melangkah. Dan ada pula karena ingin masih berasmara maka terpaksa minta tolong untuk membalaskan surat setiap kali surat datang. Kalau begitu cinta yang seperti ini adalah cinta yang diatur oleh orang lain. Dimana nanti dalam pertemuan empat mata akan membuat si wanita idaman akan terbelalak karena menemukan fakta yang berbeda.
Kesulitan banyak orang dalam menulis adalah karena miskin dengan ide-ide. Ada seorang teman yang mengatakan bahwa untuk dapat mengarang dengan lancar maka ide-ide yang banyaklah diperlukan. Penulis sangat membenarkan pendapat kawan yang kedua. Maka untuk memperoleh ide-ide yang banyak kita mesti harus menjadi pembaca yang setia. Setelah itu kita ikuti pula dengan mengadakan banyak berdialog dengan berbagai jenis profesi manusia dan dari berbagai latar belakang sosial ekonomi.
Penulis pernah membaca sebuah artikel dahulu tentang apa yang mesti dilakukan oleh seorang penulis novel untuk mencari inspirasi karangan dan ide-ide. Yaitu mereka harus menulusuri lorong-lorong kota untuk melihat langsung liku-liku kehidupan masyarakat. Mungkin si penulis novel ingin mengangkat kehidupan orang kecil agar jeritan hati mereka dapat diketahui oleh orang banyak lewat novel-novel yang telah ditulisnya. Usaha penulisan yang begini adalah semacam usaha pembebasan manusia dari belenggu kemiskinan dan kebodohan.
Sangat baik kiranya kita mempunyai adik-adik kecil dan keponakan di rumah untuk kita kondisikan menjadi terbiasa membaca sejak kecil. Guru-guru di sekolah akan merasa amat senang mengajar kalau memiliki murid-murid yang gemar membaca. Sebab murid yang gemar membaca akan lebih cepat memahami setiap pelajaran yang disajikan kepada mereka. Guru-guru di daerah pedesaan lebih banyak mengeluh akan kebodohan murid-murid. Mereka menjadi bodoh karena menjauhkan diri dari bahan bacaan. Bagi kita semua adalah menyenangi buku dan bahan bacaan lain.
DIMANA KULIAH SETELAH LULUS SMA ?

Usai ujian, EBTA dan EBTANAS, sekolah lanjutan atas setiap tahun tampak semua pelajar kelihatan lega dalam bernafas. Setelah mereka mengurung diri bersama tumpukan buku-buku pelajaran dari kelas satu sampai kelas tiga. Pekerjaan otak dengan belajar secara borongan, seperti kebiasaan banyak pelajar, terasa sungguh melelahkan sekali. Terlebih-lebih mereka yang gemar berhura-hura dan menunda-nunda waktu. Pada akhir tahun mereka ternyata takut kalau-kalau tidak lulus. Maka mereka segera banting stir dan belajar habis-habisan. Berbagai cara demi kemudahan ditempuh.
Untuk menahan kantuk kopi pahit sangat setia menemaninya. Catatan-catatan kecil, yang mana mereka sebut dengan kata "ajimat" tidak pernah terlupakan. Buktinya usai ujian terlihat di lantai kelas, halaman sekolah sampai ke jalan-jalan azimat bertebaran. Dan demi kesuksesan ujian dengan perolehan NEM yang tinggi maka jasa baik teman-teman yang berotak encer sangat diharapkan. Ini semua adalah gambar negatif sebagian kecil siswa SLTA.
Tampak oleh kita bahwa ekonomi orang-orang kita sudah banyak membaik. Bukti-bukti yang ringan saja adalah dengan semakin menjamurnya parabola ibarat cendawan di musim penghujan. Setelah itu semakin banyaknya orang yang mempunyai kesempatan untuk mengadakan rekreasi yang lebih mewah. Dan tentu masih banyak lagi alasan lain untuk kita ungkapkan. Maka sekarang kuliah atau pergi kursus sedah menjadi suatu trendi dikalangan pemuda SLTA. Apalagi sekarang banyak orang tua yang merasakan bahwa mencari kerja itu sungguh amat susah anak yang bodoh tentu akan tertinggal jauh dan yang cerdas itulah yang akan berhasil.
Ada juga sebagian orang tua bahwa untuk menjaga gengsi keluarga maka salah seorang anggota keluarganya, anaknya, mestinya ada yang bergelar sarjana. Kalau tidak ada dana "jenjang pun dikeping" untuk membiayai kuliah anak keponakan. Maka di daerah-daerah pedesaan demi kelancaran pendidikan putra-putri mereka di perguruan tinggi, maka gadai menggadai lahan sudah lazim. Kalau mereka tinggal di perkotaan yang lazim adalah berhutang. Dan syukur kalau ada pihak keluarga yang bermurah hati untuk meringankan beban anak keponakan. Memang pada umumnya rasa sosial ornag kita amat tinggi. Maka kekurangan-kekurangan dalam hal keuangan akan dipikul bersama-sama.
Tetapi sayang banyak pemuda lulusan SLTA kurang memperoleh banyak informasi. Mereka banyak kebingungan dalam memilih jurusan di perguruan tinggi. Namun sekarang perguruan tinggi negeri tetap sebagai prioritas pertama, tetapi kini kalau mereka tidak diterima pada perguruan tinggi negeri ini mereka tidak begitu kecewa lagi atau terlalu bersedih karena masih banyak perguruan tinggi swasta yang lain, bermutu atau tidak bermutu, mengundang pemuda-pemuda yang belum beruntung in untuk melanjutkan kuliah kesana. Malah sampai kepada akademi dan kursus-kursus lain yang menawarkan janji-janji yang perlu untuk dibuktikan. Sedangkan bagaimana kualitas lembaga pendidikan itu tentu para alumnilah yang lebih mengetahui.
Dahulu mencari orang yang bertitel sarjana dalam masyarakat ibarat mencari semut hitam di kegelapan malam. Tetapi sekarang sarjana jumlahnya sudah membludak. Mereka itu terdiri dari sarjana yang berkualitas dan sarjana asal-asalan. Kalau dahulu gelar pengangguran tingkat tinggi atau "PTT" disandang oleh lulusan SLTA yang masih gagal memperoleh pekerjaan, maka sekarang gelar PTT pindah ke sarjana yang gagal atau belum beruntung mendapatkan pekerjaan. Bagaimana ini bisa terjadi ?
Dalam mudahnya memperoleh pekerjaan, kita mungkin dapat membuat pengelompokan sarjana atau mahasiswa berdasarkan prestasi kuliah mereka. Yakni mereka yang cerdas dan memperoleh pekerjaan dengan lancar. Mereka yang berprestasi biasa-biasa saja tetapi juga mampu memperoleh pekerjaan. Kemudian mereka yang mempunyai prestasi kuliah cukup bagus tetapi menganggur setelah lulus dan terakhir adalah mereka yang berprestasi kuliahnya agak mengecewakan dan juga menganggur. Terlihat jelas bagi kita, dengan mata kepala dan media massa, bahwa tingkat penganggura sarjana cukup tinggi. Apalagi setelah pengangkatan pegawai negeri sengaja selalu berkurang dari tahun ke tahun.
Kegagalan sarjana dalam meraih pekerjaan disebabkan oleh cara belajar dan cara bersosial mereka ketika berstatus mahasiswa yang kurang terlatih. Malah cara belajar yang acak-acakan menyebabkan banyak mahasiswa menjadi pengangguran tingkat tinggi kelak. Dan cara belajar ini adalah warisan dari cara belajar ketika masih duduk di bangku SLTP dan SLTA. Kalau kita fikirkan tentang bagaimana pula kita kelak muda pemuda sekarang tengah duduk di bangku SMA setelah berstatus sebagai mahasiswa ? bisa jadi lebih mengkhawatirkan. Sebab pemuda sekarang yang tengah studi di SLTA cukup banyak belajar kelewatan santai. Bayangkan saja kalau esok pagi akan ujian maka malam harinya ada yang terlihat masih ada terlihat mereka suka keluyuran atau sengaja menghempaskan batu domino. Atau bernyanyi, bersorak-sorak dengan suara parau diiringi oleh suara petikan gitar yang kadang-kadang alunan juga centang prenang.
Bagaimana gambaran singkat tentang remaja sekarang ?. Mereka cukup banyak terlihat suka bersantai dan terlihat lesu. Kita perhatikan saja cara berjalan mereka yang amat pelan seperti entok, itik jawa, pulang petang. Atau ibarat jalan mobil tua yang sering mogok, maka tentu begitu pula sikap hidup dan pola berfikir mereka.
Banyak mereka pergi sekolah yang enggan untuk membeli buku. Sebagiannya bukan karena miskin. Toh kenapa kosmetik yang mahal atau permainan elektronik, dan bagi sebagian pelajar pria untuk membeli rokok, terasa begitu enteng. Untuk membeli buku terasa berat.
Tentu saja ada siswa-siswa yang rajin dan pintar diantara siswa yang acuh tak acuh dan pemalas. Mereka paling kurang mampu meraih peringkat sepuluh terbaik di kelas. Tetapi sayang sebagian ada yang suka berandai-andai. Dalam memilih jurusan mereka kurang mampu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi, bisa jadi karena kurang tahu, fikiran dan kantong orang tua. Kalau kebetulan mereka meraih juara kelas, mereka akan merasa bahwa merekalah yang terpandai. Sehingga ada yang suka lupa diri dan gengsi-gengsian dalam memilih jurusan di perguruan tinggi. Tentu saja mereka boleh mempertahankan gengsi asal mereka dapat berfikir secara logika dan bukan secara emosional.
Sekarang bagaimana lagi ? untuk berkuliah di perguruan tinggi sebaiknya kita dapat bercermin terlebih dahulu. Kita mesti tahu bagaimana kondisi intelektual kita, cerdaskah atau biasa-biasa saja ? tentu kita sesuaikan dengan jurusan pilihan kita. Kemudian kita juga harus mengenal diri, apakah kita termasuk tipe orang suka banyak teman atau tidak ? atau kita digolongkan kepada tipe orang pekerja atau tipe pemikir ? Dimanakah kita akan melanjutkan studi, apakah pada perguruan tinggi di daerah kita atau di pulau Jawa yang lebih diserbu oleh lulusan SLTA dari berbagai propinsi. Apakah kita termasuk orang yang betah lama belajar walau kita sendiri tergolong biasa-biasa saja cerdasnya, atau pintar sama sekali ?
Kalau kita tergolong mudah lelah dalam belajar maka mengapa kita harus mengambil jurusan yang cukup lama untuk diseesaikan. Sebab kalau orang lain berkuliah di jurusan yang akan rumit dapat diselesaikan lima sampai enam tahun, tentu kita santai dalam belajar bisa menyelesaikan selama delapan sampai sepuluh tahun, dimana kita akan menjadi tongkak bangku saja atau menjadi mahasiswa yang drop out sama sekali. Yang penting kita pertanyakan terlebih dahulu kondisi kantong orang tua kita. Sebab walau guru-guru menganjurkan kita untuk kuliah tetapi kalau kantong orang tua kita tidak restu tentu kita akan terpaksa gigit jari.
Nah, setelah kita lulus dari SMA dan telah keluar pula jadwal tanggal masuk perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi swasta. Tentu keinginan kuliah kita makin menggebu-gebu. Dalam kepala kita tentu terlintas rencana-rencana bagus. Sekarang tinggal pernak-perniknya, misal apa jurusannya, kalau lulus berapa biayanya dan dimana tinggalnya da apa-apa saja keperluannya. Kita tentu dapat memperoleh informasi dari kakak-kakak atau tetangga kita yang telah mengalami kehidupan kuliah di perguruan tinggi.
Kalau kita ingin kuliah dan dapat berhasil setelah itu tentu kita perlu langkah-langkah yang harus kita lakukan. Yang mesti kita harus meninggalkan cara-cara belajar di SMA dulu. Untuk itu tentu ada hal-hal yang sebaiknya kita lakukan, seperti kita harus bisa, pintar, membagi waktu untuk belajar, mencuci baju sendiri, memasak, menikmati hobi, kegiatan sosial dan lain-lain. Soalnya pekerjaan-pekerjaan itu harus kita lakukan sendiri tanpa ada yang membantu. Tambahan lagi jadwal kuliah kita bisa padat sekali setiap hari.
Kita harus bisa mengambil keputusan sendiri kalau itu memang merupakan keputusan yang baik buat kita. Untuk tahun pertama tentu kita agak kesulitan mendapatkan kawan untuk diminta pertimbangannya. Untuk dapat kuliah dengan sukses kita juga hrus pandai-pandai dalam soal pergaulan. Kita harus mencari teman sebanyak-banyaknya. Kita tentu tidak boleh larut dalam budaya hura-hura. Kita boleh mempunyai banyak teman tetapi hidup kita tetap dapat kita kontrol. Banyak juga kesulitan-kesulitan yang kita temui, untuk itu kita tidak boleh malu bertanya kalau memang kita tidak mengerti. Seperti kata pepatah "malu bertanya sesat di jalan", ternyata banyak manfaatnya. Sebab pada tahun pertama kita jauh dari sahabat dekat, maka tentu kita sendiri yang mencari jawabannya. Banyak sarjana yang menganggur ya karena terbiasa vakum dari kesibukan. Maka untuk itu kuta tidak mesti vakum juga.
Untuk itu kita harus ikut berorganisasi dan mengembangkan hobi karena sangat bermanfaat dan menambah pengalaman. Lewat berorganisasi kita juga akan memperoleh pelajaran-pelajaran yang berharga. Supaya tidak "ngawur" kita mesti bisa mengisi hari-hari sepi dengan berbagai aktifitas yang bermanfaat, seperti membersihkan tempat tinggal atau aktif dalam kegiatan masyarakat sekitar.
Dan terakhir yang perlu kita ingat adalah tentang keuangan. Kita mesti mengatur pengeluaran uang saku sehemat mungkin, kita tidak perlu terlalu boros. Sebab kalau ada keperluan yang mendadak terus persediaan kita tidak ada. Siapa lagi yang sudi menolong kita. Sebab tentu mahasiswa, teman-teman seputar kita tentu juga mengalami nasib yang sama dengan kita.

BAGAIMANA KALAU TIDAK LULUS DI PERGURUAN TINGGI

Mayoritas lulusan SMA ramai-ramai mengadu nasib untuk meraih bangku di peguruan tinggi. Sebagian kecil diterima dan sebagian besar banyak yang kecewa. Bagaimana lagi kalau tidak lulus di perguruan tinggi ? Pertanyaan begini banyak kita dengar dimana dan dari siapa saja. Ada yang menjawabnya dengan serius dan ada pula yang menanggapinya dengan tidak serius. Remaja umumnya gemar bergurau dan ada yang menjawab " Wah saya kawin aja dengan orang kaya !" Banyak lagi jawaban lucu yang membuat kita tertawa terpingkal untuk mendengarnya.
Secara berseloroh kita pun dapat membuat beberapa kemungkinan-kemungkinan yang akan dilakukan oleh para lulusan SLTA. Yakni kuliah di perguruan tinggi, mencari pekerjaan, dan kalau tidak segera berumah tangga. Ini banyak terjadi, apalagi siswa-siswa yang sekolah SLTA-nya berdomisili di daerah. Jangankan tamat sekolah malah tiga hari menjelang ujian akhir sudah banyak mereka menarik diri dari status secara terpaksa dan secara sukarela. Terpaksa karena terbawa oleh arus pergaulan dan mengalami apa yang kita kenal dengan ungkapan "dulu bajak dari pada kerbau".
Tetapi bagi yang masih suka berfikir ya sebaiknya tunggu dulu. Sebab persoalan perkawinan sekarang tidak semudah pada zaman Siti Nurbaya lagi. Dari sudut ekonomi saja bahwa sekarang kalau mendirikan rumah tangga saja mesti memiliki tiang ekonomi yang agak kokoh. Setelah itu diikuti oleh kematangan jiwa, sosial dan keimanan yang mantap. Kaum remaja sekarang sebagian ada yang salah kaprah. Mereka beranggapan bahwa cintalah diatas segala-galanya. Padahal kalau perut sedang lapar maka kalimat "I love you" tidak akan pernah membuat perut kenyang. Lagi pula remaja sekarang dalam soal cinta kurang befikir logika, tetapi mereka banyak berfikir secara emosional dan terlalu banyak berandai-andai. Namun setelah biduk rumah tangga didayaung selama empat atau lima bulan sudah oleng dan karam. Pokoknya kalau ingin mendirikan rumah tangga, terutama untuk pihak pria, mesti lebih memiliki jiwa yang matang dari wanita. Ya matang dalam soal ekonomi, sosial, jiwa, emosional, agama dan soal biologis tentu sudah matang dalam usia remaja.
Sekarang kita mesti berfikir lebih realistis. Apalagi saingan hidup zaman sekarang amat ketat. Siapa yang bodoh dan malas tentu akan menjadi penonton dan tertinggal jauh di belakang. Kita lihat bahwa jumlah manusia sekarang semakin ramai dan jumlah luas permukaan bumi tetap tidak bertambah. Sehingga orang sekarang mulai saling berebutan untuk hidup. Hubungan darah tidak lagi terasa mempunyai bekas, paman sendiri bisa menjadi musuh oleh keponakan. Anak bisa semakin durhaka dan melupakan orang tua. Pokoknya sekarang sosial dilupakan secara pelan-pelan dan digantikan oleh sifat individu yang lebih mementingkan diri atau egois.
Untuk dapat bertahan hidup setiap orang tentu mesti memiliki kekuatan. Dan sekarang terlihat bahwa uanglah yang dianggap orang lebih kuat atau lebih berpengaruh. Pokoknya dengan uang orang bisa mendapatkan apa saja. Cinta pun bisa dibeli dengan uang. Tetapi bagi kita nilai uang janganlah sebagai tujuan hidup agar kita tidak khilaf dalam hidup. Yang menjadi pegangan hidup kita tentu selalu agama.
Kalau kita tidak berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi, kita dan tentu saja pemuda lain mesti mampu melirik dunia usaha atau kerja. Dalam bekerja banyak orang yang terlibat dalam kerja seperti menjual jasa otak dan menjual jasa otot. Terasa oleh kita bahea nilai jasa otak jauh lebih mahal dari pada jasa otot.
Ingin tahu bagaimana nilai jasa otot ? Pergilah ke terminal mobil atau pelabuhan kapal. Kita tentu merasa kasihan melihat pekerja kasar membanting tulang. Dan memang pekerjaan seperti itu bagus, tetapi yang berkembang cuma otot saja sehingga tubuh mereka tampak begitu kekar. Namun otak cendrung tetap bersifat statis. Kalau kita tidak ingin bekerja dengan menjual tenaga atau otot maka dari sekarang kita mesti mengembangkan fikiran dan potensi-potensi lain.
Banyak juga remaja yang tidak berhasil untuk meraih bangku perguruan tinggi namun mampu melirik jalur pendidikan lain. Sekarang yang lagi trendi adalah ikut kursus bahasa Inggris dan komputer. Dan tentu saja masih ada bentuk-bentuk kursus lain yang cukup bermanfaat. Sayang remaja banyak yang tidak mengetahui jenis kursus yang cocok bagi diri sendiri. Misalnya ada seorang remaja pria, ia terbiasa hidup urakan dan ia memilih jurusan kursus komputer. Ternyata setelah dicoba satu atau dua bulan, kursus ini terasa membosankan. Penyebabnya adalah karena ia tidak terbiasa untuk melatih otak. Maka kita sarankan agar setiap remaja atau orang yang ikut kursus sebaiknya disesuaikan dengan kondisi pribadi.
Kalau kita memiliki otak yang sedikit tumpul tetapi badan dan pangkal lengan terasa besar maka cocoknya kita ambil saja kursus montir atau keterampilan kayu. Kalau kita berbakat dalam hal verbal atau berkata-kata mungkin cocok bagi kita ambil saja kursus bahasa atau pelayanan jasa yang berhubungan dengan orang banyak. Tetapi sebetulnya untuk kursus bahasa Inggris saja seperti yang latah disebut-sebut oleh orang-orang muda sekarang. Kursus lain-lain yang lebih menjanjikan prospek bagus cukup banyak seperti kursus menjahit, bertukang, memasak, elektronik, bengkel dan kursus keterampilan lainnya.
Tidak terhitung banyaknya lulusan SLTA yang meninggalkan kampung halaman. Mereka banyak melirik kota-kota di pulau Jawa, Medan, Palembang dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Malah Batam juga termasuk daerah yang mereka lirik. Mereka banyak yang ikut famili, mengikuti teman dan dibawa oleh orang lain. Ini bagus, tetapi kita mesti tetap menjaga pribadi kita. Jangan demi mendapatkan sesuap nasi untuk pagi dan sesuap untuk petang kita korbankan akidah kita, dimana halal dan haram sama saja. Kalau akan luntur kiranya iman dan pribadi kita tentu mendingan kita tetap tinggal di kampung halaman dan melakukan wiraswasta disana.
Walaupun penduduk Indonesia sudah lebih dari 200 juta jiwa. Namun buminya masih luas. Toh kalau kita berada di kota memang terasa sempit dan susah. Di kota memang kehidupan serba mahal dan serba dibeli. Air minum dan masuk toilet saja kita membayar, jangankan itu sebentar lagi bernafas mungkin kita juga membayar. Kalau kita berada di daerah pedesaan semuanya terasa masih lapang. Apalagi alam kita sangat subur. Air berlimpah dan buminya hijau sebagai berbagai pertanda kesuburan.
Untuk itu bila kita tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, maka mengapa kita harus frustasi dan menganggur ? Banyak hal-hal positif dapat kita lakukan. Pekerjaan lama sampai sekarang masih ada yang bertahan dan tidaklah tercela dan hina kalau kita melakukannya. Pekerjaan itu adalah seperti membuka usaha bertani, berkebun, perikanan, peternakan, pertukangan dan lain-lain sebagainya.
Tentu dalam melakukan usaha ini kita mesti meningkatkan teknik dan manajemen atau pengelolaannya. Malah kita dapat melihat banyak orang-orang di sekeliling kita yang berhasil dalam usaha membuka "rice milling", membuka kios, bengkel dan membuat usaha makanan ringan untuk dipasarkan di berbagai kota.
Usaha-usaha yang pada mulanya kita anggap remeh tetapi mengapa ada orang yang sempat berhasil dengan usaha itu ? Lihatlah ada orang yang sukses dalam usaha beternak ayam, usaha penggemukan sapi dan malah juga menyerap banyak tenaga sarjana-sarjana sementara si pemilik usaha cuma tamat sekolah dasar saja. Tetapi ia berhasil karena belajar dai alam. Namun kini mengapa kita tidak meniru langkah-langkah mereka ?
Orang-orang kita kalau ingin membuka usaha selalu mencari alasan dengan menggunakan kata-kata "tidak bisa". Sering modal dijadikan sebagai alasan yang akhirnya mereka tetap asyik mengkhayal di sudut kamar atau pergi ke warung untuk menghempaskan batu domino dan membeli secangkir kopi untuk dihirup selama berjam-jam. Padahal ini pada dasarnya adalah bentuk membuang-buang waktu saja.
Pada mulanya cukup banyak orang yang enggan bekerja sendiri. Secara psikologi ini memang ada benarnya. Orang cendrung merasa suntuk dan lesu kalau tidak ada teman. Maka untuk ini ada baik pula baiknya bagi kita cari adalah teman yang tetap punya semangat hidup. Kita tidak perlu kalau terlalu sering bergaul dengan orang-orang pemalas dan merasa pesimis melulu. Semangat itu ibarat virus karena ia bisa menular. Kita mesti selalu waspada agar jangan virus malas dari teman yang pemalas menjangkit kita pula. Kalau kita ingin berhasil dalam hidup, silahkan bergaul dengan orang yang punya semangat hidup agar virus optimis mereka juga menulari kita.
Jadi sekarang jelaslah bagi kita bahwa kalau kita belum berhasil untuk meraih kursi di perguruan tinggi, kita tidak perlu bersedih atau merasa kecewa. Masih banyak hal-hal yang positif yang bisa kita lakukan. Kita tentu dapat mengikuti kursus-kursus, menambah keterampilan dan memprluas wawasan sambil menunggu kesempatan pada tahun depan.

BILA GAGAL TIDAK PERLU FRUSTASI

Bila gagal tidak perlu frustasi dan tidak selalu sukses dicapai lewat perguruan tinggi. Perlu dipertanyakan bahwa haruskah remaja tamatan SLTA frustasi bila gagal untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri ? Sudah menjadi pemandangan umum setiap tahun bagi kita untuk menganggapi eksistensi ini. Remaja-remaja yang lepas dan lulus SLTA berbondong-bondong pergi mengundi nasib untuk memperebutkan kursi-kursi di perguruan tinggi negeri. Mendaftar dan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). Kemudian bila hasil ujian diumumkan, maka sampailah mereka kedalam musim kekecewaan dan putus asa. Ada juga remaja putri yang menangis terlebih bila teman akrab lulus dan dia sendiri belum mujur dan keadaan berduka bagi remaja putra. Sedangkan yang dapat menikmati kegembiraan lebih kurang hanya sekian belas persen saja. Dan sekian puluh lagi merupakan ledakan angka kesedihan dan kekecewaan. Tetapi perlukah mereka harus bersedih dan kecewa ? Dan haruskah menganggur untuk selanjutnya ?
Tentu saja tidak perlu menganggur, sebab kitapun bisa mencari kesuksesan lewat jalur dan jalan lain. Tidak selalu sukses dan keberuntungan itu dicapai lewat bangku universitas.
Untuk mencapai sukses itu tentu dengan jalan berwiraswasta. “Berwiraswasta?” Ah sebuah kata yang cukup kedengaran bersifat omong kosong dan memuakkan. Memang banyak anak remaja yang sudah bosan dan jenuh mendengarkan perkataan ini. Pasti mereka beralasan bahwa tidak mungkin melakukan wiraswasta kalau hanya dengan modal dengkul saja.
Banyak cerita-cerita yang menguraikan perjalanan tentang keberhasilan hidup seseorang dari nol hingga menjadi jutawan dan pengusaha yang memulai karirnya hanya dengan modal dengkul saja. Mereka, sekali lagi, mulai dari no besar dan membuka lapangan kerja sehingga bisa pula menyelamatkan sekian banyak orang dari virus pengangguran.
Abraham Lincoln, orang terkemuka yang diingat dalam sejarah Amerika, dulu tidak pernah masuk universitas tetapi dunia mengenalnya sebagai Presiden Amerika dan pejuang persaam hak azasi manusia. Levi Strauss adalah termasuk orang yang gagal dalam sekolah tetapi ia dapat mengembangkan pola fikirannya dan melakukan karya sehingga banyak orang yang memakai celana Levi’s rancangannya yang sangat populer itu. Thomas Alva Edison tidak pernah belajar di sekolah lanjutan atas tetapi ia berhasil dengan eksperimen bola listriknya yang tetap dipakai orang sepanjang waktu, paling kurang setiap malam hari. Sigmund Freud adalah orang yang gagal masuk ke fakultas psikologi, tetapi ia tidak berputus asa. Dia belajar sendiri dengan membaca banyak buku-buku dan mencurahkan karyanya dalam bentuk tulisan. Sekarang kita mengenal namanya sebagai orang yang paling ahli dalam bidang psikologi dan terkenal dengan analisa-analisanya. Masih banyak lagi contoh-contoh orang sukses termasuk orang-orang di Negara kita. Mungkin juga dia tinggal dalam propinsi atau dalam kota kita dan malah ia berada di lingkungan kita sendiri.
Kita sering mendengar komentar-komentar remaja tentang orang-orang yang berhasil. “Ah mereka sudah ditakdirkan menjadi begitu !” Kita perlu ingat bahwa sebeanarnya kesuksesan itu bukanlah takdir dan bukan pula nasib yang datang saja tanpa harus berusaha selangkah demi selangkah. Lantas apa kunci sukses mereka ? Mereka tidak memandang lembaga pendidikan sebagai forum untuk mencetak tokoh-tokoh masyarakat serta tokoh ilmu pengetahuan secara mutlak. Dan mereka tidak harus menjadi mahasiswa. Mereka tidak menganggap bahwa kalau sudah menjadi mahasiswa pasti akan mempunyai masa depan yang mudah dan cerah. Yang perlu bagi mereka adalah terus berusaha dan belajar keras, kemudian terjun ke kancah kehidupan. Mereka tekun dalam menggeluti suatu bidang usaha yang bisa dikerjakan ditengah masyarakat yang hiruk pikuk dengan sejuta macam pekerjaan.
Orang-orang macam begini memandang kemuka dan melihat suatu kesempatan yang terbentang luas. Mereka mulai belajar dari kehidupan tanpa mengenal lelah dan menyerah tanpa membuat teori yang terlalu bertele-tele. Tetapi mereka memikirkan analisa yang langsung dan tetap. Mereka punya daya prakarsa dan vitalitas kerja yang tinggi. Mereka mempergunakan otak, dengan kata lain bersikap logika, dan memperhitungkan gerak tangan dan gerak kaki. Dalam hidup mereka melakukan keseimbangan antara gerak otak dan gerak badan. Orang-orang macam inilah yang selalu mencapai sukses dalam kehidupan sosial. Jadi bukan semata-mata karena takdir atau dalam istilah dikenal dengan “nasib mujur”. Usaha dan langkah-langkah mereka dan diikuti pendekatan diri kepada Tuhan, inilah yang menentukan keberhasilan mereka.
Banyak orang yang berpandangan keliru dimana mereka menganggap bahwa seandainya seseorang bias tamat dari perguruan tinggi tertentu, misalnya perguruan tinggi yang memiliki reputasi, akan mudah memperoleh jawaban dan pekerjaan yang basah. Semua itu banyak tidak benarnya. Image yang demikian sama dengan orang-orang yang ada di kampung-kampung kita. Mereka mau saja menjual sawah dan lading serta harta benda milik nenek moyang mereka, atau pusaka, asalkan bisa masuk ke universitas dan yang penting adalah menjadi mahasiswa dahulu. Bagi mereka gambaran menjadi seorang mahasiswa adalah menjadi orang yang terhormat, orang pandai dan calon pengusaha di negeri. Mereka, orang tua, tidak peduli dan bekerja keras seperti bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan anaknya yang penting adalah bagaimana anak bisa menjadi mahasiswa. Suatu tekad orang tua yang terpuji dan sungguh kita kasihan kalau anak-anak remaja mereka tidak tahu diri di bangku universitas.
Banyak pelajar yang gagal masuk ke perguruan tinggi lantas menjadi frustasi, sehingga mereka memandang kedepan dengan rasa pesimis. Padahal sebetulnya ini tidak perlu terjadi. Alangkah baiknya bila remaja yang gagal itu melihat alam sekeliling dengan seksama sambil mempelajari kehidupan orang-orang yang ada disekeliling mengapa ada yang sampai sukses ? Insya Allah mereka akan segera tahu bahwa anggapa masa depan itu “suram” adalah suatu anggapan yang keliru






16. Kesehatan Jiwa Syarat Bagi Guru Untuk Mengajar


Kondisi fikiran menentukan kondisi jiwa. Sebetulnya pekerjaan otak, fikiran adalah juga kerja jiwa. Pekerjaan jiwa seperti menyayan­gi, mencintai, membenci dilakukan oleh fikiran dengan mengaktifkan suasana hati atau perasaan. Maka untuk mendapatkan kesehatan jiwa. Mustafa Fahmi dalam bukunya “Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat”, terjemahan Zakiah Daradjat mengatakan bahwa kita harus dapat menyesuaikan diri kepada lingkungan. Dan lingkun­gan itu adalah seperti lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan manusia sendiri.
Disamping itu kita juga harus dapat mengendalikan diri yang patut dan yang tidak patut. Maka dalam hal ini kita perlu belajar untuk mencari ilmu pengetahuan. Memperoleh pengetahuan dapat dilakukan melalui bacaan yang dewasa ini mudah diperoleh dimana saja. Namun sekarang banyak orang tidak memanfaatkan kesempatan balk untuk memperoleh den menguasai ilmu paling kurang untuk keperluan diri terlebih dahulu.
Dalam hidup ini kita memiliki banyak kebutuhan, begitu pula dengan kebutuhan yang bersifat psikis yang kerap disebut dengan kebutuhan pribadi. Jiwa kita akan sehat kalau kebutuhan pribadi yang kita sebut juga dengan kebutuhan Psikososial dapat kita penuhi. Kebutuhan pribadi yang terpenting adalah seperti rasa kasih sayang, rasa sukses, kebebasan dan kebutuhan akan pengalaman dan kebutuhan akan rasa kekeluargaan.
Kita dapat menemukan banyak anak-anak yang lincah dan ceria. Kasih sayang yang mereka terima dari orang tua dan anggota keluarga membuat suasana jiwa mereka menjadi riang gembira. Jauh berbeda dengan anak-anak yang tinggal di panti-panti asuhan dan anak-anak dari keluarga berantakan. Mereka sering hidup gelisah, banyak bersedih dengan tetapan mata kosong. Sebetulnya yang mereka harapkan supaya hidup gembira adalah kasih sayang.
Untuk mendapatkan generasi­-generasi yang sehat jiwanya maka kebutuhan-kebutuhan ini seharus­nya sudah dibiasakan sejak usia bayi. Begitu pula terhadap anak­-anak didik di sekolah, ibu dan bapak guru harus mengenal kebutuhan-kebutuhan ini dan kemudian memberikannya kepada anak-anak didik. Setelah itu kita harus ingat bahwa kebutuhan-kebutuhan psikososial ini akan bertambah dengan meningkatnya usia individu.
Satu hal yang perlu kita ketahui bahwa jika suasana lingkungan dan sosial tidak memungkinkan terpenuhinya kebutuhan tersebut, maka seseorang akan berusaha mencari jalan sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Mungkin saja jalan yang tidak wajar, dengan demikian terganggulah proses penyesuaian diri. Kita sering melihat banyak pemuda ngebut di jalanan. Ini bisa jadi karena mereka ingin dianggap hebat, barangkali di rumah kurang memperoleh kasih karena orang tua sibuk dengan diri sendiri.
Dalam penyesuaian diri, bila seseorang bersikap lincah maka ia akan memperoleh kemudahan dalam bergaul. Seseorang dalam penyesuaian diri ada yang tetap mempertahankan kepribadiannya. Dan orang yang beginilah orang yang memiliki kepribadian yang utuh. Sebaliknya ada pula orang melepaskan kepribadian. Tentu saja ini kurang baik dan malah dapat mendatangkan kegelisahan jiwa. Orang yang tidak dapat mempertahankan kepribadiannya dia akan sulit atau akan memperoleh masalah apabila ia pulang kampung, kalau ia seorang perantau, sebab tingkah lakunya, tentu tampak berbeda dari keadaan semula. Ini sering dalam art konteks negatif.
Untuk itu kita harus bersikap wajar-wajar saja. Sebab tidak diragukan lagi bahwa orang yang wajar dalam kehidupannya, maka dalam masyarakat ia tampak lebih tenang dan kurang dihadapkan kepada persoalan sosial. Ini biasanya dapat dirasakan oleh pembimbing sosial, pemuka agama dan profesi yang berkaitan dengan sosial lainnya. Sebab tingkat pengenalan mereka ter­hadap lingkungan menyebabkan mereka lebih mengerti. Di sini tidak kita ragukan lagi bahwa orang yang wajar-wajar saja dalam kehidupan akan memperoleh ketenangan dan kesehatan jiwa. Untuk itu, sehatkan dulu jiwamu, kawan. Percayalah, kau dalam gelisah.
Kalau begitu ketenangan dan kesehatan jiwa bukan kita peroleh dari kejeniusan, karena ia tidak menjamin dalam kehidupan jiwa dan kehidupan sosial. Dan bagi guru di sekolah kesehatan jiwa adalaha syarat mutlak untuk bisa mengajar secara lebih mantap Okay !






























17. Siswa perlu tahu bahwa Tidak ada Istilah Terlambat Untuk Maju (Berlatih Jangan 1 Kali Tapi 10 Kali Lipat atau lebih )


Semua orang tentu sudah tahu bahwa masing-masing pribadi kita itu adalah unik. Kita menjadi unik kerena later belakang dan pen­galaman hidup yang kita lalui juga berbeda. Salah satu sifat kita yang unik adalah tentang bakat.
Memang setiap orang memiliki bakat yang berbeda dan bakat-­bakat yang ada pada did kita itu masih terpendam. Bakat yang ter­pendam ini kalau dapat kita gali akan membuat kita sendiri ter­heran-heran. Lebih-lebih setelah melihat kemampuan yang ter­simpan dalam diri kita itu.
Setiap orang bisa memperkembangkan bakat-bakat dan kecakapan- kecakapan sendiri asal ia ada mempunyai cukup has­rat untuk melakukannya. Ada seorang pelajar wanita, dulu ketika masih menjadi pelajar SD dan SMP hampir selalu diabaikan oleh teman-teman. Itu semua karena pribadi wanita itu dingin dan tidak menarik. Namun setelah berada di bangku SMU, lebih-lebih setelah duduk pada bangku kelas dua dam kelas tiga, ia tampak begitu dinamis dan menjadi kesenangan teman-teman. Malah setelah lulus SMU dan beberapa bulan kemudian ado kabar tentang dirinya bahwa us lulus dalam selek­si untuk memperoleh beasiswa untuk studi tentang ilmu mekanika di salah satu negara Eropa. Seorang familinya mengatakan bahwa ia dapat meraih kemajuan pada hari-hari akhir remajanya adalah karena ia mampu berfikir untuk mengembangkan bakat­-bakat yang tersimpan dalam diri setiap orang dapat mengem­bangkan bakat-bakat dan kecakapan yang terpendam asal ia mau. Banyak lagi orang-orang lain yang pada masa kecil dan masa remajanya biasa-biasa saja dan malah kurang diacuhkan oleh teman-temen dapat berhasil dalam perjalanan hidup berikutnya setelah bertekad untuk mengem­bangkan bakat-bakat yang terpen­dam. Ini pun akan dapat anda dan kita semua, alami asal kita mau berlatih dan berusaha sekeras­-kerasnya. Kita harus mau terus bertekun tanpa merasa bosan-bosan. Ada orang, sebagai contoh pada mulanya kurang memiliki rasa percaya diri karena tidak men­guasai cara berkomunikasi. Pada hal melihat dari latar belakang orang tua dan familinya menunjuk­kan bahwa ia bukanlah orang yang bertipe pendiam dan kaku. Maka ia melakukan praktek-praktek melatih diri dengan caranya sen­diri, akan tetapi tentu ia memer­lukan ketabahan den keberanian dan sampai pada akhirnya kekakuan-kekakuannya itu men­cair ibarat es diterpa panas mata­hari. Mereka yang kelak menjadi orang-orang yang pandai berbica­ra, mula-mula juga bersifat malu-malu dan merasa khawatir setelah mati.
Kebanyakan bakal ada yang membutuhkan pengekspresian lewat bahasa seperti bakat ber­pidato, menyanyi, bakat menjadi psikolog dan sebagainya. Tetapi kekakuan dalam berbahasa selalu sebagai kendala utama, kecuali setelah melatih diri. Bagi yang gering dilanda kegugupan dan mengekspresikan bahasa lisan mungkin baik sekali kalau setengah menit sebelum memulai berbicara untuk menarik notes dalam-dalam beberapa kali saja. Dengan demikian memasukkan banyak zat asam ke dalam badan kita dan ini akan menambah rasa percaya kepada diri sendiri dan menambah keberanian.
Dale Carnegie dalam bukunya “Cara mencapai sukses dalam memperluas pergaulan dan pandai bicara” mengatakan bahwa yang tidak boleh dilakukan adalah jangan memperlihatkan kegelisahan seperti dengan membuka dan menutup kancing baju. Atau jangan pula memperlihatkan kegelisahan dengan memutar-mutar tangan. Jika perlu kita jelmakan kegelisahan kita dengan meletakkan tangan kita di belakang badan. Dengan cara begini terserah kita lagi.. Apakah kita menggerak-gerakan jari yang jelas tidak ada orang yang melihat dan tahu bahwa kita lagi. merasa gelisah.
Bagi orang yang ingin berpidato, dalam rangka mengembangkan bakat terpendam yang diperlukan bukanlah keberanian moril akan tetapi adalah kecakapan untuk menguasai syarat-syarat. Dengan berlatih terus menerus kita bisa menguasai syaraf dan diri sendiri. Dalam hal ini adalah kita harus membiasakan diri dengan cara mencobanya berulang-ulang kali. Dan kita harus tetap tekun dan jan­gan berhenti-henti atau seperti is­tilah umum hangat-hangat tahi ayam.
Salah satu kapuasan orang yang memiliki bakat memimpin adalah untuk mempengaruhi dan menguasai kawan-kawan. Tentu saja ini dalam arti positif. Maka bagi remaja yang berbakat dalam tentu dapat latih diri. Salah satu usaha adalah dengan mencoba untuk menjumpai lebih banyak orang yang mau belajar bersama dengan kita. Dan kemudian dengan suka rela kita coba untuk menjadi pemimpin. Sarana lain untuk melatih diri dalam hal kepemimpinan adalah dengan cara berlatih di depan kawan-kawan, di depan anak-anak dan di depan keluarga sendiri.
Comas dan ketakutan dapat mengganggu perkembangan bakat ini timbul akibat kebodohan dan keragu-raguan kita. Tetapi cemas disebabkan oleh kurang percaya diri kepada diri sendiri. Kecemasan dan ketakutan selalu timbul jika seseorang tidak tahu apa yang sesungguhnya harus dilakukan. Adapun jika kita senantiasa melakukan beberapa latihan maka, Insya Alah, kecemasan akan lenyap. Tentu saja kita jangan , terlatih sekali saja akan tetapi kalau perlu kita berlatih sampai sepuluh atau dua puluh kali.
Dalam usaha awal kita untuk mengembangkan bakat memang kita merasakan kesulitan. Sebab seperti dikatakan oleh orang bijak bahwa setiap permulaan itu susah dan setiap akhir itu adalah mudah. Bagi seorang calon guru yang sering berlatih berbicara atau seorang calon penulis yang ber­latih menulis tetapi sering dilanda kehabisan bahan. Maka salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan membuat kisah yang menarik asal kita tidak terlalu banyak berbicara tentang diri sendiri.
Ada orang yang apabila ber­cakap-cakap tentang pekerjaan hanya berbicara tentang soal-soal yang mengasyikkan dirinya sendiri belaka. Sebaliknya tidak, begitu. Kita mesti juga membicarakan yang menyinggung hal-hal yang menyenangkan bagi teman-teman dan orang lain. Untuk itu marilah kita berbacara dengan kawan-kawan dan kita bahas masalah kecil itu dari berbagai segi.
Orang membangun rumah den­gan membuat rencana lebih dahulu. Tetapi ada orang yang ingin untuk mengembangkan, bakat-bakat yang terpendam, seperti bakat untuk berpidato tanpa rencana. Perkembangan bakat adalah laksana perjalanan panjang yang mempunyai tujuan. Karena itu jalan ini harus kita rintis. Sebab siapa yang akan berangkat tanpa tujuan tentu akan tarsesat.
Seorang orator pemula atau penulis muda tentu ia perlu menyediakan catatan-catatan singkat. Sedangkan anak kecil yang berlatih berjalan, saja juga perlu memegang meja atau kursi untuk mengembangkan keinginan berjalannya.
Kita rasa dalam menggali bakat-.bakat terpendam ini tidak ada istilah terlambat. Maka sangatlah bijaksana kalau setiap orang senantiasa suka untuk mengembangkan bakat dan menggali bakat yang terpendam demi kemajuan diri terutama, dan dami kemajuan bangsa secara umum.
























18. KEMANDIRIAN DALAM BELAJAR PERLU DITINGKATKAN


Kita tidak perlu merasa kaget apabila mendengar pengakuan seorang mahasiswa yang baru saja kuliah pada sebuah perguruan tinggi negeri atau swasta tetapi masih merasa ragu-ragu untuk menuntut ilmu. Cukup banyak contoh-contoh seperti itu di seputar kita.
Agak memprihatinkan, remaja-remaja sekarang kurang menenggang perasaan atau kesulitan orangtua. Mereka lebih memperhatikan kebutuhan dan kesenangan diri. Ada seorang mahasiswa baru, sebagai contoh, menuntut ilmu pada jurusan teknik di sebuah perguruan tinggi swasta. Walaupun orangtuanya telah mengeluarkan dana hampir 5 juta rupiah sejak dari mengikuti kegiatan bimbingan belajar sampai dengan membayar SPP semester pertama tetapi ia belum bisa merasakan kesulitan orangtua. Tentu saja ketampanan wajahnya tidak dapat menutupi keletihan fisik dan jiwa orangtua dalam memikirkannya.
Kemandirian dalam belajar agaknya belum dimiliki oleh banyak pelajar. Ada guru yang mengatakan bahwa pelajaran sekarang banyak yang bersifat seperti ‘paku’, ia baru bergerak kalau dipukul dengan martil. Pelajar sekarang, walau tidak semuanya, banyak bersifat serba pasif. Dalam membaca buku-buku pelajaran saja misalnya, kalau tidak disuruh atau diperintahkan oleh guru maka buku-buku tersebut akan tetap tidak tersentuh dan akan selalu utuh karena tidak dibaca.
Aktivitas guru-guru pada waktu senggang mereka, yang mana lebih gemar mengambil topik-topik ringan dan mengambang dalam berdialog sementara tugas-tugas murid banyak yang tidak diperiksa dan persiapan mengajar serba belum beres adalah gambaran ketidakmandirian kalangan pendidik dalam menjalankan profesi mereka. Tidak hanya guru-guru tetapi malah pegawai-pegawai lainnya, barangkali juga menunjukkan adanya gejala ketidakmandirian dalam belajar. Prilaku mereka seperti suka berpikir mengambang, melakukan debat kusir dan berkelakar hampir sepanjang waktu, mereka baru melakukan tugas dengan baik kalu masih dikontrol oleh pihak atasan saban waktu adalah ciri-ciri dari ketidakmandirian dalam belajar meski secara biologis mereka sudah sangat dewasa.
Cukup banyak penulis lain Cuma membahas kegagalan pendidikan atau membahas dan tema tentang ketidakmandirian siswa dalam belajar, lebih mempersalahkan faktor sekolah. Mereka lupa untuk membahas secara rinci tentang faktor lingkungan rumah.
Lingkungan rumah cukup dominan untuk menentukan atas kemandirian dalam belajar. Faktor tingkat pendidikan orang tua yang cukup rendah dan sikap suka menyerahkan urusan pendidikan anak kepada sekolah semata adalah faktor penyebab di samping faktor lain. Kealpaan orang tua untuk mengajar anak dalam memanfaatkan waktu telah meyebabkan anak terbiasa berkeliaran, hidup tidak teratur sejak bangun tidur sampai kembali memejamkan mata pada malam berikutnya.
Pelajar-pelajar yang gemar berkeliaran pada jam belajar, meski mereka bersekolah pada kelas atau sekolah favorit, dan hanya untuk pergi mengobrol dengan teman-teman adalah produk lingkungan rumah, atau orang tua yang tidak acuh atas masalah pendidikan sementara itu mereka mengabaikan pelajaran dan keberadaan buku-buku yang ada dalam tas mereka atau pada perpusatan. Gambaran sekolah sekarang tidak lagi mewarnai sebagai tempat arena untuk menuntut ilmu, dimana para pelajar asyik menekuni aneka buku ilmu pengetahuan, tetapi citra atau gambaran sekolah sekarang adalah sekedar huru-hara, atau pergi ke sekolah hanya sebagai suatu mode saja.
Dari tiga aspek yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif yang harus dikembangkan terhadap pelajar melalui PBM dan kegiatan ekstra kurikuler terlihat kurang berimbang. Dalam kegiatan ekstra kurikuler saja, kegiatan pengembangan afektif atau pembinaan sikap cukup kurang karena wadah-wadah penyaluran tidak ada. Dan wajar saja kalau sikap pelajar sekarang cenderung makin lama makin beringas, karena di rumah mereka tidak diwarisi dengan sikap dan nilai-nilai moral dan agama yang mantap kecuali hanya segelintir keluarga saja yang memperhatikannya. Dan sekolah lebih memperhatikan pengembangan aspek kognitif dan psikomotorik yaitu berupa pemberian ilmu pengetahuan dan pelaksanaan latihan keterampilan dan olahraga.
Kerap kali siswa yang telah belajar di tingkat SLTA sekalipun dalam mengambil azas manfaat masih bersikap sebagai anak kecil. Mereka sering bertanya kepada bapak dan ibu guru ketika PBM sedang berlangsung, tentang pelajaran yang ditulis pada papan tulis apakah untuk disalin di buku atau tidak. Padahal kalau terasa ada manfaatnya mereka harus menyalinnya. Begitu pula dalam mengomentari keberadaan buku-buku pelajaran mereka yang jarang mereka sentuh. Mereka menjawab bahwa kalau guru tidak menyuruh untuk mengerjakan tugas-tugas rumah atau untuk membacanya ya buat apa dibaca. Kalau begitu terlihat kecenderungan bahwa konsep mereka belajar yaitu baru berbuat kalau baru disuruh. Jadi kalau mereka tidak disuruh maka tentu agak terhentilah proses peningkatan pengembangan pribadi mereka.
Cara belajar yang belum menunjukkan kemandirian dari kebanyakan para pelajar akan berlanjut terus. Andai kata mereka melanjutkan studi ke perguruan tinggi, mereka sering memilih jurusan yang salah dan kemudian memendam rasa sesal. Sering mereka mengambil jurusan hanya sekedar mode saja. Padahal sudah nyata sikap belajar mereka sangat santai maka mereka tetap memilih jurusan yang mana bagi pribadinya akan menemui banyak kesulitan dalam penyelesaian. Atau mereka memilih jurusan pada perguruan tinggi karena pengaruh atau setengah paksaan dari berbagai pihak. Efeknya adalah bertambah membengkak angka ‘drop out’ mahasiswa di perguruan tinggi. Meskipun disana ada dosen sebagai ‘penasehat akademis’ tetapi seringkali belum melakukan peranan sebagaimana idealnya.
Dan andai kata mereka yang tidak memiliki kemandirian dalam belajar, tidak beruntung untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi, tentu akan terjun ke tengah masyarakat untuk menambah angka pengangguran yang telah bengkak juga. Untuk kesudahannya adalah mereka sering menjadi parasit dalam sosial. Pergi merantau untuk pengalaman hidup dan mengadu untung, akan tidak berani dan kalau tetap tinggal di kampung akan tetap bersandar, atau malah juga mengganggu pihak sosial lainnya. Kemudian apabila mereka berumah tangga, tentu juga akan mengganggu pihak wanita, paling kurang keberadaannya adalah sebagai beban bagi mertua. Kecuali kalau mereka telah berani untuk mengambil keputusan dan melakukan perobahan sikap hidup secara total.
Untuk zaman sekarang sudah mulai cukup banyak pria yang bertekuk lutut kepada kaum wanita. Penyebabnya adalah sekarang banyak wanita yang sukses dalam menuntut ilmu dan memperoleh pekerjaan yang mapan sebagai tempat untuk mengembangkan kepribadian mereka. Dan cukup banyak pria yang tidak mandiri menikah dengan wanita mandiri dimana pada akhirnya keberadaan mereka adalah bukan sebagai pemimpin bagi wanita tetapi adalah sebagai pembawa bencana.
Ketidakmandirian pelajar, guru-guru dan siapa saja dalam proses pematangan diri adalah merupakan batu penyandung untuk mencapai kemantapan sumber daya manusia. Akan percuma kata-kata SDM tetap diserukan oleh pemerintah lewat berbagai media massa kalau setiap individu, warga negara tidak melakukan usaha kemandirian dalam belajar untuk menambah ilmu dan keterampilan-keterampilan lain.
Ketidakmandirian belajar seorang mahasiswa adalah warisan dari cara belajar ketika masih berada di tingkat SLTA. Begitu pula, ketidakmandirian siswa-siswa di tingkat SLTA adalah produk dari cara belajar ketika masih belajar di tingkat sekolah-sekolah yang lebih rendah dan seterusnya. Agaknya sampai saat sekarang memang masih banyak kritik tentang proses belajar mengajar di sekolah yang lebih cenderung bersifat ‘instruction’ atau mengajar daripada bersifat ‘education’ atau mendidik. Penyebabnya adalah bisa jadi karena guru hanya menguasai ilmu sebatas bidang studi semata dan tidak pula begitu mendalam. Disamping itu pengabdian guru belum sepenuhnya bersifat ideal sebagai guru. Ada kalanya pengabdian guru bersifat pamrih atau berdasarkan nilai ekonomis dimana mereka baru sudi untuk berbuat kalau ada imbalannya.
Untuk masa-masa sekarang agaknya kemandirian dalam belajar perlu untuk ditingkatkan. Ada banyak pihak perlu untuk melakukan introspeksi diri dan langsung bertindak. Bukan hanya melakukan introspeksi dan kemudian berteori. Sebab teori tanpa tindakan atau aplikasi tentu akan tetap sia-sia hasilnya.
Taman Kanak-kanak sekarang, sebagian kecil telah ada mendorong usaha anak didiknya untuk melakukan kemandirian dalam belajar. Dulu Taman Kanak-kanak lebih terfokus untuk tempat belajar, menyanyi, menari dan kemudian dilupakan. Sekarang TK telah memiliki kurikulum yang lebih dewasa dan tidak lagi hanya sebagai teori. Kita merasa salut melihat telah ada sekolah yang mewajibkan anak-anak didiknya untuk berlangganan majalah dan memesankan kepada orang tua di rumah untuk ikut serta membimbing anak. Usaha-usaha positif dan lebih serius sungguh kita harapkan terhadap tingkatan sekolah-sekolah yang lebih tinggi. Disamping menyediakan fasilitas belajar bagi anak-anak kita juga menginginkan orang tua ikut mengontrol pemanfaatan waktu yang baik. Kemandirian dalam belajar agaknya perlu ditingkatkan untuk menyongsong masa depan.



















19. MEMILIH SEKOLAH PERLU KEARIFAN


Sudah menjadi pendapat umum bahwa sekolah yang berlokasi di kota kualitasnya lebih bagus dari pada sekolah yang berlokasi di desa. Sehingga fenomena yang terlihat setiap awal tahun pelajaran adalah adanya mobilisasi remaja/pelajar ke kota untuk mencari sekolah yang mereka idamkan. Mereka yang me­miliki nilai ijazah tinggi dari sekolah sebelumnya, tentu saja boleh merasa bangga dan berharap agar mimpi untuk belajar di sekolah yang bermutu itu bukan di desa. Mencari sekolah berkualitas merupakan faktor yang mendorong untuk ikut melakukan urbanisasi. Masalah juga ada siswa yang memiliki nilai rendah ikut-ikutan melakukan urbanisasi pendidikan.
Berbicara tentang sebuah sekolah, kualitasnya tentu saja ditentukan oleh berbagai aktor seperti kondisi input dan proses yang ada dalam suatu sekolah dan faktor lingkungan, kualitas guru serta sarana pendukung untuk memperoleh output atau lulusan yang berkualitas. Setiap anak didik tentu punya hak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dengan harapan agar memiliki ilmu, keterampilan, wawasan dan pergaulan yang lebih luas.
Setiap anak didik perlu untuk cerdas dalam memilih sekolah. Disamping itu orang tua perlu untuk memberi pertimbangan yang masuk akal. Orang tua harus selalu bersikap arif terhadap anaknya. Dalam kenyataan banyak ditemui orang tua dan yang kurang arif (tidak punya pengalaman) dalam memilih sekolah. Tiap awal tahun ajaran mereka ikut meramaikan arus mobilisasi untuk mencari sekolah di perkotaan. Atau bagi mereka yang berdomisili di perkotaan untuk mencari sekolah yang jauh dari rumah dengan kata lain jauh dari orang tua, sehingga mereka harus men­cari tempat kos atau rumah kontrakan. Untuk selanjut­nya tinggal bersama teman-teman dan lingkungan yang belum tentu berkualitas baik. Padahal sebetulnya mereka bisa belajar di sekolah yang terdekat agar bisa tetap berada di bawah penga­wasan dan kasih sayang or­ang tua. Kita tahu bahwa anak-anak usia SD sampai SMA seharusnya masih be­rada dalam pengawasan or­ang tua dengan suasana rumah yang harmonis penuh dengan berbagai kegiatan agar dapat tumbuh cerdas dan sehat secara intelektual, emosional dan spiritual. Dari pengalaman dapat dijumpai banyak anak-anak yang ketika masih kecil, di SD dan SMP, tergolong dalam kategori pintar dan berbudi pekerti terpuji tetapi setelah berpisah dari orang tua, karena sekolah jauh, kurang bisa mengontrol diri dan memilih pergaulan yang te­pat. Sehingga mereka telah membuat orang tua menjadi resah, karena jangankan memperoleh nilai akademis baik malah memperoleh kualitas dan reputasi yang jelek.
Kadang-kadang orang tua latah dengan kata “demok­rasi” dan kata “pendidikan” tanpa memahami apa dan bagaimana hakekat kedua kata tersebut. Ada penga­laman yang terjadi pada seorang orang tua dan anak laki-lakinya yang baru saja tamat SD, tergolong cerdas termasuk dalam berkomuni­kasi. Dalam usia yang tergolong relatif masih kecil tapi atas nama mencari pendidikan berkualitas di kota yang jarak rumah dengan sekolah itu cukup memakan waktu. Tentu saja orang tua tidak bisa memantau perkembangan anak secara berkala tiap hari atau tiap minggu. Pada mulanya hanya bisa memantau anak sekali dua minggu, menjadi sekali sebulan dan terus molor dan akhirnya sekali enam bulan. Tapi catatan yang diberikan pihak sekolah berbeda dengan catatan anak yang banyak membela diri. Pihak sekolah menyodorkan fakta data bah­wa anak sudah menjadi or­ang pemalas dan tidak disip­lin. Kalau begitu idealnya sejak awal orang tua ini harus punya pendapat dan pandangan yang mantap tentang hakekat mendidik dan membesarkan anak dan dunia yang luas agar tidak menyesal di belakang hari.
Banyak orang tua berfikir dan bertanya tentang kapan sebaiknya sorang anak bo­leh bersekolah jauh dari orang tua (?). Jawabannya sangat relatif sesuai dengan perspektif masing-masing.
Keberhasilan pendidikan seorang anak tidak ditentu­kan oleh jauh atau dekatnya lokasi sebuah sekolah. Bila kualitas sekolah dekat rumah lumayan bagus buat apa harus mencari sekolah yang jauh (?).
Sangat wajar orang tua, untuk memahami sekolah untuk anaknya dan meng­hindari sekolah dengan bu­daya belajar jelek, suasana belajar santai, guru-guru tidak disiplin dan anak didik dengan kontrol diri dan moti­vasi belajar rendah. Bila suasana belajar di sekolah terdekat seperti demikian maka sangat patut orang tua mencarikan sekolah dan pemondokan anak yang cu­kup terjamin baik. Namun orang tua perlu tahu bahwa apakah anak sudah cukup matang untuk mandiri dan berpisah dari orang tua?
Suasana pemondokan di luar sekolah dan dalam komplek sekolah bagi sekolah khusus ikut menentukan bagaimana output anak di kemudian hari. Sebelum me­lepas anak untuk hidup man­diri di pemondokan, baiknya orang tua melakukan “Cek dan Ricek” atau melakukan observasi langsung ke tem­patnya. Jangan minta pen­dapat orang agar bebas dari kesan pembohongan. Se­kolah dengan pemondokan yang didampingi oleh tenaga pembina yang bebas dari sikap otoriter tapi disiplin adalah sungguh sangat bagus. Pemondokan tanpa ada tenaga pengontrol atau pembina, maka disana akan mun­cul bibit penyimpangan dalam usia dini seperti pencurian kecil-kecilan, penyemaian hukum rimba dimana yang berkuasa adalah anak yang berotot kekar, dan tak terkecuali juga terjadi akti­fitas seksual iseng-iseng dengan kawan sejenis atau beda jenis kelamin (?), karena usia remaja adalah usia sek­sual sekunder dengan ciri-ciri dorongan libido yang cukup tinggi, perlu penyaluran posi­tif seperti olahraga, seni dan lain-lain. Kisah-kisah demi­kian dapat diperoleh lang­sung dari anak-anak muda yang pernah tinggal di asrama atau pemondokan dengan kontrol yang rapuh.
Sekolah dengan pemondokan yang terjamin kualitasnya, dalam komplek sekolah atau di rumah-rumah penduduk seputar sekolah, yakni dengan hadirnya orang dewasa pengganti figur orang tua sendiri yang hangat pribadinya dan tahu dengan disiplin adalah harapan orang tua untuk menempatkan anaknya untuk menuntut ilmu. Tetapi pemondokan atau asrama sekolah yang dikelola asal-asalan saja maka disana akan terjadi pelabuhan berbagai watak­ yang hasilnya adalah cenderung jelek. Anak dari keluarga baik-baik tetapi lemah kontrol diri setelah bergabung dengan anak-anak yang berwatak amburadul akan memperlihatkan karakter kompensasi untuk dapat diterima menjadi anggota genk dengan membuat tato, tindik te­linga, rambut funk-rock, ce­lana metal dan segudang aksesoris lain yang menghiasi tubuh mereka. Sementara itu tanggung jawab untuk belajar dikesampingkan.
Kalau kualitas pribadi anak akan cenderung jelek gara-gara sekolah jauh dari rumah lebih baik orang tua membuat alternatif terakhir yaitu daripada sekolah jauh dari rumah, tinggal di pe­mondokan atau rumah kos yang kualitasnya centang prenang, lebih baik sekolah dekat orang tua sebagai pe­ngontrolnya. Tidak ada salahnya bersekolah di pe­desaan karena keberhasilan seorang tidak ditentukan oleh faktor desa atau kota tapi ditentukan oleh priba­dinya sendiri.
Apa yang musti dilakukan oleh orang tua agar bisa memiliki anak yang berkua­litas adalah dengan mena­namkan budaya belajar man­diri, belajar secara otodidak dan mengembangkan anak agar memiliki kecerdasan berganda. Agus Nggermanto (dalam buku Quantum Quotient, cara melejitkan IQ, EQ dan SQ:2003) menja­barkan kecerdasan berganda seperti : cerdas matematika, cerdas berbahasa, cerdas intrapersonal dan interper­sonal, cerdas dengan seni dan gerak dan cerdas dengan spiritual. Untuk mele­jitkan kecerdasan berganda adalah dengan mengkondisikan otak, buku-buku, psi­komotorik, rasa cinta atau emosi positif, spiritual dalam bentuk mengamalkan ajaran agama dan bersikap selalu aktif dan kreatif.
Beberapa usaha untuk mencapai hal-hal diatas ada­lah seperti menggalakan ke­biasaan membaca dan dis­kusi keluarga agar anak men­jadi mantap dalam melakukan komunikasi. Usaha lain ada­lah membiasakan anak untuk melakukan penjelajahan da­lam rangka menambah wa­wasan anak, melakukan rek­reasi edukasional seperti per­gi ke toko buku, tempat ber­main anak, pabrik, tempat-tempat profesi lain agar anak memiliki segudang cita-cita dan tak kalah pentingnya adalah menyediakan sarana dan prasaran serta memberi contoh langsung pada keluarga.







DAFTAR KEPUSTAKAAN

Carnegie, Dale.(1994). Kunci Sukses Meraih Kewibawaan dan Kekuasaan. Jakarta: Delapratas.

Carnegie, Dale.(1978) Tuan Ingin Banyak Kawan.Jakarta: PN Balai Pustaka

Cassa, Herbert N.(1986) Bagaimana Seharusnya Jadi Pemimpin. Bandung: PT Alma’arif.

Fleet, James K Van.(1990) 25 Langkah Untuk Memiliki Pengaruh. Jakarta: Mitra Utama

Foster, Timothy RV.(1993) 101 Cara Menumbuhkan Gagasan Besar. Jakarta: Pustaka Tangga.

Hasri, Salfen. (2004). Sekolah Efektif dan Guru Efektif. Makassar: Yayasan Pendidikan Makassar.

Hill, Napoleon.(1994).Menjadi Kaya dengan Kedamaian Fikiran. Jakarta: Binarupa Aksara .

Mortell, Art.(1994) Berani Menghadapi Kegagalan. Jakarta: Mutiara Utama.

Nggermanto, Agus. (2003). Quantum Quotien (Kecerdasan Kuantum): Cara Melejitkan IQ, EQ dan SQ secara harmonis. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia.

Peale, Norman V.(1982) Bila Anda Berfikir Bisa. Jakarta: Gunung Jati.

Possant, Charles Albert.(1993).Rahasia Keberhasilan 10 Jutawan Terkemuka Dunia. Jakarta: Pustaka Tangga.

Reilly, William J.(1990) Mencapai Cita-Cita. Jakarta,:Mitra Utama.

Schwartz, DJ.(1997) Berfikir dan Berjiwa Besar. Jakarta: Gunung Jati.

Shadily, Hasan.(1983) Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta, PT Bina Aksara .

Siregar, Evendi M.(1989) Bagaimana Menjadi Pemimpin yang BErhasil. Jakarta: Yayasan Mari Belajar.





Biografi

Marjohan, adalah Guru SMA Negeri 3 Batusangkar, Program Pelayanan Keunggulan Kabupaten Tanah Datar dan penulis freelance menerbitkan tulisannya pada koran Singgalang, Haluan dan Mingguan Canang, E-newsletter (Situs Departemen Pendidikan Sumatra Barat). Pernah menulis pada journal speleologie (Toulouse- Perancis). Menikah dengan Emi Surya dan Memiliki dua orang anak, Nadhilla Azzahra dan Muhammad Fachrul Anshar. (marjohanusman@yahoo.com dan marjohanusman@gmail.com )

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture

Jangan lewatkan Blog's MARJOHAN ini

Loading...