Jumat, 08 Agustus 2008

Fatamorgana Cinta Anak Baru Gede

Novel
Fatamorgana Cinta Anak Baru Gede
Penulis : Suci Haritama
(SMA Negeri 3 Batusangkar, SUMBAR)


1
Penyakit ngantuk di kelas siang-siang bolong begini lagi kumat-kumatnya. Aku berusaha tetap melotot memandangi papan tulis yang dipenuhi rumus-rumus matematika- trigonometri.
Kalau lagi begini, aku bukannya konsen menyimak pelajaran yang diberikan Pak Bayu. Aku jadi ingat Kak Simon. Sudah 4 bulan, semenjak anak kelas XII angkatan tahun lalu lulus-aku tidak pernah melihat wajahnya. Sakura, cintaku jauh di Negeri Sakura. Hahaha, lucu juga meminjam kata-kata idolaku-Chairil Anwar-itu loh puisi “Cintaku Jauh di Pulau.”
Pelajaran matematika baru setengah jam pelajaran. Tapi, berbagai ekspresi wajah sudah unjuk kebolehan.
Kumenoleh pada Anita teman sebangkuku. Dia menyeringai dengan mata lelah tangannya asyik menggambar. Bukan cuma aku dan Anita yang sibuk sendiri mencari ‘aktivitas’ penghilang booring.
Lihat saja si lemot Mia mengelus-eluskan pensil yang panjangnya dua kali lipat ukuran pensil normal ke wajah Dhea. Tentu saja bulu-bulu ayam di ujung pensil membuat si tomboy Dhea emosi dan mematahkan pensil tersebut menjadi dua bagian. Aku ingin tertawa melihat ulah mereka.
Tawa dalam hatiku berhenti saat tak sengaja melihat Nara memain-mainkan permen karet yang dikunyahnya. Hhii jorok ! Nara emang selalu kelihatan urakan. Kancing baju nggak pernah di pasang sempurna, pakai kalung metal, anting-anting di kuping sebelah kanan, rambut mohawk yang super acak-acakan. Dan yang paling bikin aku ilfeel adalah permen karet yang dikunyahnya itu.
“ Chelsa !” suara Pak Bayu membuat pikiranku kembali pada trigonometri. Pak Bayu geleng-geleng kepala.” Bapak perhatikan dari tadi mata kamu tertuju pada Nara.”
Semua siswa bersorak. Aku jadi salah tingkah.
“ Dia naksir saya kali Pak !” Sahut Nara melirik ke arahku. Hhii dasar Nara kegeeran!
Sorak-sorai siswa semakin riuh terdengar di telingaku.
“ Sudah, sudah ! semuanya kembali fokus pada pelajaran !” ujar Pak Bayu.
Syukurlah….Pak Bayu tidak membesar-besarkan kesalahpahaman ini.
“ Chelsa, selama ini nilai matematika kamu kecuali bab trigonometri cukup bagus. Cobalah untuk menyukai trigonometri !” nasehat Pak Bayu.
Aku mengangguk. “Baik Pak! ” sahutku,”Saya akan berusaha !”
*******
Akhirnya dua jam pelajaran matematika usai juga. Tapi, besok pagi akan ada tiga jam pelajaran matematika.
Keesokkan paginya, aku malas-malasan untuk bangun. Dua minggu belakangan ini aku nggak suka hari rabu dan kamis.
“ Chelsa !” terdengar suara Mama sembari menyingkirkan selimut dari tubuhku,” Sudah pukul setengah tujuh, ayo bangun !”
Setengah tujuh?!! Biasanya jam segini aku sudah duduk manis di meja makan untuk sarapan.
“ Ma, Chelsa nggak enak badan ! kepala Chelsa pusing !” ujarku dengan nada suara manja pada mama.
Mama memegang keningku. Jantungku berdetak kencang. Aku takut ketahuan sedang berbohong. Dan, apa yang kutakuti terjadi.
“ Sayang, kamu nggak bisa bohong pada mama. Sekarang mandi. Mama tunggu di meja makan !”
Aku terpaksa menurut. Maafkan aku ma, pagi-pagi sudah bikin dosa dengan berbohong.
Dengan langkah gontai aku menuju ruang makan. Aku duduk di kursi yang biasa kududuki setiap pagi. Tapi, pagi ini memang ada yang aneh !
“ Ma, Papa dan Dio mana ?” tanyaku saat melihat kursi papa dan adikku Dio kosong.
Mama mengoles selai di roti gandum dan memberikannya padaku. “ Papa sudah berangkat ke kantor. Dio tadi bareng sama Papa.”
“ Sudah berangkat ?”
“ Pagi ini papa ada meeting.” Jelas mama seolah mengerti apa yang ada dipikiranku. “Dio juga sudah berangkat ke sekolah nebeng bareng papa.
Aku melihat jam di hp-ku [ 06:55 a.m]. “O_M_G, 15 menit lagi jam pelajaran pertama akan dimulai.
Ooh, rupanya ada simbol pesan belum dibuka tampil di lcd hp-ku.
Chel, pR mtk ttg 3gonome3 udh siap blum???
Sender : Anita puitis
10:30:15 p.m

Tidurku terlalu nyenyak sampai tidak mengetahui hp-ku berdering berulang kali.. Padahal aku sudah pakai volume dering terbesar. Ada 10x panggilan tak terjawab dan semuanya dari Anita. It’s mean, semalam lagu ‘Puisi’ milik Jikustik seharusnya bisa membangunkan tidurku. Khusus Anita yang puitis, aku kasih nada dering “ Puisi”. Pas buanget kan? ^_^
Aku yang pernah engkau kuatkan
Aku yang pernah kau bangkitkan
Aku yang pernah kau beri rasa
Saatku terjaga hingga kuterlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingatmu
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan terindah-terindahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu
Mungkinkah kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untukmu
Jikustik emang pintar banget bikin lirik lagu yang buat hati cewek jadi keplek-keplek. Seandainya seorang cowok menyanyikan lagu itu untukku…..( kamu juga maukan? Ayo jangan malu-malu…! Bilang aja mau ! ) ^_^ Kak Simon……. I wait you singing this song to me ^_^
Duh, aku menepuk frontal alias dahiku. Kok aku jadi asyik dengan dream, lagian kenapa aku bisa lupa hal yang sangat penting. PR matematika is important….! (Remember it!)
Mama menatap lekat ke arahku.
“ Ma, Chelsa pergi dulu ya !” Pamitku. Kemudian, dengan tergesah meminum susu cokelat buatan mama.
“ Chel, hari ini Mang Jaja nggak masuk. Anaknya yang paling bungsu sakit.” Ucap mama saat aku mencium punggung telapak tanggannya seperti ‘ritual’ pagi-pagi sebelumnya.
Gawat, Mang Jaja nggak masuk !!! PR matematika ada 5 soal. PR matematika….PR matematika…..PR matematika….Ah, yang ada di pikiranku cuma itu.
“ Pagi in naik taksi saja ya, Chel !” saran mama.
*******
Aku berlari ke luar rumah. Tergesah membuka pagar depan. Duh, pagi-pagi begini boro-boro taksi, ojek pun nggak ada yang masuk ke lingkungan komplek rumahku.
Aku berlari menuju simpang komplek ke jalan raya. Di perempatan komplek hampir saja nyawaku hilang.
Hi, orang yang nyupir punya mata nggak seh? Nggak tahu apa nyawaku only one, nggak punya nyawa cadangan !
Pengemudi mobil mewah berwarna hitam metalik itu pun keluar. Tampak oleh mataku sosok siswa berseragam SMA. Keren banget…….
“ Maaf, aku nggak sengaja ! kamu nggak kenapa-napa ?” tanya sosok asing itu mendekatiku. Aku nggak pernah melihat dia sebelumnya di komplek rumahku.
Aku mengurungkan niatku semula yang ingin marah-marah padanya. Aku menggigit bibir. Mataku terpana olehnya. Selain Kak Simon, baru kali ini aku fall in love at the first meet. Lentikan jarinya 10 cm di depan mataku membuatku terenyah.
“ Ah !”
“ Eh, maaf !” sahutnya lagi, “ Aku tadi nggak sengaja hampir nabrak kamu !”
“ Eh, ng…nggak apa-apa kok !” ucapku pelan.
“ Keluargaku baru pindah ke komplek ini. Aku tinggal di blok F. “ jelasnya seolah menjawab pertanyaan di kepalaku tentang kehadirannya di sini. Sopan sekali……. Buktinya dia menggunakan kata ganti aku-kamu ^_^ ( kalo lagi fall in love, semua yang ada di pujaan hati emang ok !!!! hehehe )
“ Oh ya, kamu sekolah dimana ?” tanya cowok keren itu.
“ Di SMA Pelita Bangsa.”
“ Oh, searah donk sama sekolahku! Gimana sebagai rasa bersalahku, aku antar kamu ke sekolah ?”
Entah kenapa aku langsung mengangguk mengiyakan.
*******
Aku sampai di sekolah 5 menit sebelum jam pelajaran pertama. Dengan santai aku menuju kelasku di lantai dua sembari bersenandung ceria. Taukan lagu “Kasmaran” yang dinyanyikan dengan indah oleh Pinkan Mambo ?
Apa kabar dunia ?
Apakah harimu masih penuh
dengan basa-basi Cinta ?
Mungkin semua pria
hanya engkau yang membuatku tak mengerti
Kutak mampu untuk meninggalkanmu……
“ Hy…semuanya ! selamat pagi !” dengan senyum ceria, aku menyapa teman-temanku yang tumben-tumbenan sebelum pelajaran dimulai sudah berada di kelas.
“ Di pagi yang indah seorang gadis ceria, berarti sedang jatuh cinta !” ucap Anita yang sibuk menulis sesuatu. Duh, Anita sambil nulis bisa juga bikin puisi, ck….ck….!
“ Apa PR lo udah siap Chel ?” tanya Dhea yang juga sibuk menulis. Berarti semuanya sedang menyalin PR ! Palingan juga punya Oscar anak yang otaknya paling kinclong di kelas.
“ Ah !”
O_M_G, gara-gara ketemu tuh cowok keren, aku jadi lupa PR matematika. Gawat ! tinggal 1 menit lagi, nggak ada waktu untuk nyontek !
“ An, Mi, Dhe, gue hari ini nggak masuk jam pelajaran matematika.” Ucapku tergesah,” Kalau Pak Bayu nanya bilang gue lagi nganterin nenek gue ke rumah sakit !”
“ Tapi, nenek lo kan udah meninggal Chel? ” tanya si lemot Mia, “ kok dibawah ke rumah sakit siy?”
“ Mia, namanya juga orang bohong ! gue kira nenek gue juga nggak bakal keberatan namanya gue pinjam demi kebaikan.
“ kebaikan ?” Mia berpikir-pikir menekan jidatnya,” emangnya bohong itu kebaikan ya ?”
“ Udah deh, gue cabut dulu guys !” pamitku berbalik badan menuju pintu keluar kelas.
“ Mau ngumpet dimana Chel?” sahut si tomboy Dhea, “ Lo kan belum pernah cabut ?”
“ Aku menghentikan langkahku, menggigit bibir bingung.
“ Di lantai atas Labor IPA tempat yang paling aman. Selain di pojok juga nggak kelihatan dari halaman utama dan kantor majelis guru,” Dhea yang memang cukup sering cabut memberikan solusi.
“ Thanks ya Dhe !” ujarku sambil berlari keluar kelas.
*******
Dengan menyelinap aku menuju Labor IPA. Mataku mengawasi sekitar siapa tahu guru piket melihatku. Hari ini kamis, guru piket adalah Buk Endang. Kalau ketahuan bisa mampus niy !
Lantai dua Labor IPA memang belum selesai dibangun. Tapi, disampingnya sudah dibangun tangga yang dapat membantuku untuk menuju lantai dua.
Akulah penjagamu
Akulah pelindungmu
Akulah pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu
Kau bawah diriku ke dalam hidupmu
Kau basuh diriku dengan rasa sayang
Senyummu juga sedihmu adalah hidupku
Kau sentuh cintaku dengan lembut
Dengan sejuta warna
Saat aku berada di anak tangga paling atas , aku mendengar reff lagu 11 Januari milik Gigi dibawakan oleh seseorang dengan penuh perasaan.
Sepertinya suara itu tidak asing lagi bagiku. Ketika aku sampai di lantai dua, mataku terperangah melihat sosok yang membelakangiku sembari memetik gitar.
Nara ? aku baru tahu dibalik sikap urakan dan super cueknya itu dia jago nyanyi dan piawai memetik gitar.
“ Chelsa !”
Nara menghentikan petikan gitarnya. Matanya mengarah padaku. Rupanya, dia telah menyadari kehadiranku.
“ Ngapain lo di sini ?” tanya Nara ketus.
“ Lo sendiri ngapain ?” tanyaku tidak kalah cetus.
“ Suka-suka gue donk !”
“ Kalau gitu suka-suka gue juga !”
Nara berjalan mendekatiku. Sekarang jarak kami hanya 10 cm. Dia melotot padaku. Aku mengangkat dagu untuk melihatnya yang lebih tinggi dariku sekitar 15 cm.
“ Tapi, masalahnya ini daerah kekuasaan gue!” teriak Nara,” Lo nggak boleh kalau cabut ke sini !”
“ Jadi, tiap cabut lo ke sini !” ucapku mengambil keputusan sendiri.
“ Bukan urusan lo !” Nara berteriak lebih keras lagi.
“ Siapa yang di atas?” terdengar suara teriakkan dari bawah. Aku mengenal suara itu. Itu suara Buk Endang.
“ Ah, gawat ! itu Buk Endang !” ujarku panik.
“ Gue tau !” ucap Nara santai.
“ Siapa yang di atas segera lah turun !” suara itu terdengar lagi dan kali ini diiringi langkah kaki.
“ Coba lo nggak pakai acara cabut segala, gue kan nggak perlu nyelamatin lo !” ucap Nara menarik tanganku.
“ Ah, mau kemana ?” tanyaku mengikut karena tangan kananku digenggam Nara.
“ Udah jangan banyak tanya ! langkah kaki Buk Endang semakin dekat,” perintah Nara menunjukkan tangga kayu kepadaku,” Kita turun pakai tangga ini !”
“ Apa ?!!”
Tangga kayu itu mempunyai anak tangga yang masing-masing berjarak 50 cm.
“ Gue takut !”
“ Mau selamat nggak ?!!”
Aku mengangguk. Tapi, aku masih saja takut. Tinggi gedung ini kira-kira 5 meter dari permukaan tanah.
“ Lo perhatiin cara gue turun !” Nara menuruni 10 anak tangga itu dengan santai.
“ Sekarang giliran lo !”
Aku masih berpikir. Sementara itu, langkah kaki Buk Endang semakin dekat.
“ Ayo !” sahut Nara menyemangatiku.
“ Lo pejamin mata !” ujarku.
“ Kenapa? Ntar kalau lo jatuh gue nggak tahu lagi !”
“ Karena gue malu ! gue kan pakai rok !” ujarku.
“ Dasar cewek ribetnya minta ampun !” Nara berkomentar. Tapi, akhirnya dia menurut untuk memejamkan matanya.
Aku menggigit bibir. Perlahan kuturuni anak tangga itu satu persatu. Untung Buk Endang pakai sepatu hak tinggi. Jadi sampainya akan semakin lama. Tapi tepap saja, langkah kaki Buk Endang yang semakin dekat membuyarkan konsentrasiku. Saat aku menuruni anak tangga ke-7 dari atas, aku terpeleset.
“ Ah !”
Mataku kupejamkan. Oh Tuhan, dimana aku sekarang ? Apa aku sudah menyusul nenekku ? Nek, maafkan aku sudah menyalagunakan nama nenek untuk misi cabutku.
Saat membuka mata sepasang ‘mata elang’ beradu pandang dengan mataku. Ah, aku berada di pangkuan Nara. Dia tepat waktu menyambutku.
“ Kalian sedang apa?” ujar sebuah suara yang kukenal. Itu suara Buk Endang.
Aku segera berdiri. Wajahku mungkin sudah kelihatan sangat pucat. Tapi, Nara tetap santai.
“ Kalian berdua ikut saya !” perintah Buk Endang.
“ Tapi, gitar saya masih di atas Buk. Boleh saya mengambilnya?” pinta Nara,” Atau bisa kah ibuk tolong membawakannya?”
“ Tidak !” ujar Buk Endang, “ Kalian berdua harus ikut saya ke ruang BP ! Ada banyak hal yang harus kalian jelaskan !”
Aku menurut di belakang Buk Endang. Begitu juga Nara. Nara memang terlalu cuek. Dalam kondisi emergency masih saja sempat membuka permen karet.
*******

“ Kalian berdua sekolah di sini bukan untuk bernyanyi di loteng. Tapi, untuk belajar !” nasehat Buk Endang.
Aku dan Nara terdiam menunduk. Bedanya, bibirku tertutup rapat. Sementara Nara asyik mengunyah permen karet di mulutnya.
“ Nara, kamu memang tidak tahu sopan santun ! Buang permen karet karet di mulut kamu itu sekarang !” perintah Buk Endang
Nara menjulurkan lidahnya. Dia memasukkan tangan kanan ke rongga mulutnya. Kemudian menarik permen tersebut menjadi panjang.
Hhiii, aku menjadi ilfeel luar biasa. Sepertinya Buk Endang 2x lipat lebih ilfeel dibandingkan diriku.
“ Thrivo Nara Aleno !” bentak Buk Endang, “Hukumanmu saya tambah !”
Nara masih saja tetap santai. Dia berjalan menuju tong sampah di pojok pintu. Setelah membuang permen karet favoritnya, dia kembali duduk di sampingku.
Buk Endang melanjutkan ucapannya,”Setelah kalian berdua selesai membersihkan toilet, kamu boleh istirahat Chelsa sampai Nara selesai mengepel lantai teras lorong sekolah. Setelah itu, bla-bla-bla…...................the end.
*******

“ Ini semua gara-gara lo !” tuduh Nara padaku. Sekarang kami berdua sedang berada di toilet.
Aku menghentikan gerakan tanganku membersihkan lantai toilet. Mataku mengarah ke sosok yang duduk di bangku depan toilet yang lagi ngomel nggak karuan.
“ Kalau lo emang nganggap gue sebagai sumber masalah biar gue yang menjalankan semua hukuman sendirian,” ucapku mendekati Nara yang hanya menatapku,” Lo boleh duduk selama hukuman berlangsung. That isn’t why you go away from the punishment.
Aku melanjutkan menggosok lantai toilet. Nara masih duduk cuek mengunyah permen karet.
¼ jam….
½ jam….
1 jam sudah aku menahan napas membersihkan toilet. Tau begini lebih baik tadi aku nggak usah cabut. Sekarang kalau sudah begini aku jadi cape deh !
Tiba-tiba….
Ember yang kupegang direbut oleh Nara.” Lo istirahat gi ! biar sekarang gue yang ngerjain !”
“ Tapi, kata lo_” ucapanku tidak jadi sampai.
“ Udah, sini alat pengepel lantainya !”
“ Nara…”
“ Ayo, gue bilang berikan!” Nara mengambil ember yang berisi campuran air dan pewangi lantai,” Tadi kan yang disuruh ngepel oleh Buk Endang gue !”
Sekarang aku yang duduk manis dibangku depan toilet. Bagiku, Nara itu sukar untuk ditebak. Ada dua kutup pada dirinya. Kenapa jadi mikirin Nara ? lebih baik pergi ke kantin, haus buanget neh !!!
Bel tanda ishoma berbunyi……
It’s mean the punishment is over !
Aku menjulurkan minuman pada Nara yang kubeli ketika aku ke kantin tadi.
Nara tersenyum. “ Terima kasih !” saat ini Nara terlihat berwibawa walaupun masih dengan rambut mohank yang diwarnai pirang, anting-anting di kuping sebelah kanan, dan aksesoris metal. Melihat Nara seperti ini, aku jadi ingat coeok yang hampir menabrakku di komplek tadi pagi.
Duh, aku teringat kejadian yang membuat aku sampai lupa tentang PR matematika. Tapi aku menyesal, kenapa tadi dia di mobil tidak menanyai namaku ? berapa nomor hp-ku ?
Aku kan gengsi kalau nanya duluan. Cowok itu terlalu cool. Selama di mobil dia hanya sesekali tersenyum tipis ketika beberapa kali aku meliriknya dan dia juga melirikku. Jadi, beradu pandang gitu loh !
Tau nggak sepanjang perjalanan yang bikin suasana jadi hidup adalah musik yang diputar oleh cowok itu sepanjang jalan. Sepertinya dia penggemar Ungu Band. Bahkan, ketika lagu “ Cinta Dalam Hati” yang lagi in cowok cool itu ikut bernyanyi
Kuingin kau tahu
Diriku disini menanti dirimu
Meski kutunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini akan abadi
Untuk selamanya
Dan izinkan aku memeluk dirimu
Sekali ini saja untuk ucapkan
Selamat tinggal untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini
bagian untuk sekejap saja

You know cute boy ? lagu itu sekarang aku banget!

“ Chel…” Nara mengibaskan tangannya di depan mataku, “ Lo kenapa ?”
Aku sadar yang ada dihadapanku Nara bukan cowok yang tadi pagi.
“ Eh, anu…ng….nggak ada apa-apa kok !” ucapku dengan ekspresi yang menurutku pasti kelihatan lucu di mata Nara.
“ Bagus deh !” ujar Nara sembari membuka permen karet, “ Gue kira lo kesambet setan toilet!”
Hi, Nara membuat aku ilfeel lagi. Dia membuat balon besar dari permennya. Kemudian meletus melekat di pipi putihnya.
Duh, Nara kenapa kutup negatif lo muncul lagi ?
*******
2
Hari ini melelahkan. Keesokan harinya aku bangun pagi. Sekarang hari jum’at, I like it ! aku senang karena jam pelajaran akan lebih cepat usai.
“ Selamat pagi semua !” sapaku ceria sambil duduk di sebelah Dio.
“ Selamat pagi !” balas mama, papa, dan Dio hampir bersamaan.
“ Tumben putri papa ceria banget !” goda papa kemudian meneguk kopi kental favorit papa, it’s true ! kopi kental dengan sedikit gula buatan mama, sure !
“ Ini kan hari juma’at Pa.” jawabku bersemangat.
“ Ada apa dengan hari jum’at, Chel ?” tanya mama sembari memoles selai nanas di roti gandum.
“ Pertama, pulang sekolahnya lebih cepat. Kedua, pelajarannya nggak perlu konsentrasi tinggi!” aku memberikan argument.
“ Hhuu, Kak Chelsa pemalas !” komentar Dio, adikku yang masih duduk di bangku TK.
“ Emangnya Dio nggak suka pulang sekolah cepat?” tanyaku sambil mencubit pipinya. Adikku yang cuma semata wayang ini memang bikin gemes buanget….buanget !
“ Tiap hali Dio juga pulang cepat. Jam 10 udah boleh pulang ama Buk gulu.” Ujar Dio yang masih menyembut huruf R dengan L.” Sebenarnya Dio mo pulangnya lama bial dibilang busy boy !”
Aku, mama, dan papa tertawa mendengarkan Dio mengucapkan “busy boy”.
“ Wah, jagoan papa sudah pintar Bahasa Inggris niy ceritanya ?” ucap papa sambil mengusap rambut Dio
“ Papa, rambut Dio kan jadi berantakkan. Ntar nggak keyen !” ujar memperbaiki rambutnya.
“ Ha…ha…ha…..” Aku, mama, dan papa tak tahan untuk tidak tertawa. Dio…Dio….bilang keren aja masih keyen udah mau dibilang busy boy.
*******

Aku nebeng dengan papa ke sekolah. Untuk, seminggu ini nampaknya Bang Jaja tidak masuk kerja. Sepertinya, aku harus belajar nyetir mobil. Ralat, bukan belajar karena sebenarnya aku sudah bisa cuma masih perlu latihan lagi. Mulai minggu depan, papa mengizinkan aku untuk nyetir sendiri. Hore ! I’m so happy !
Di depan pintu pagar sekolahku…..
“ Aw !”
Ada sesuatu yang beradu dengan kepalaku. Aku memegang frontalku yang pusing tujuh keliling.
“ Sorry !” suara itu….
Aku mengangkat kepala melihat sosok pemilik suara itu. Ternyata benar, dia…..dia cowok yang menabrakku tempo hari.
“ Kamu ?”
“ Maaf, maaf !” ucapnya membungkuk seperti gaya permohonan maaf khas Jepang.
Kenapa siy aku harus ketemu dia dengan cara tabrakan. Kalau tabrakannya romantis kayak di film-film, no problem ! Misalnya, aku membawa banyak buku di tangan, terus tabrakan dengan dia, buku jatuh berserakan, dia menolongku, kemudian pada buku terakhir pandangan kami beradu, dan….
“ Hy, kamu baik-baik saja?”
Aku mengangguk. Padahal kepalaku sakit luar biasa. Aku mau pingsan. Dan, aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

*******
“ Aku dimana ?”
“ Syukurlah, kamu sudah siuman !”
Suara itu….itu suara cowok yang sudah dua kali menabrakku. Aku menoleh ke sumber suara dan ternyata benar itu dia.
“ Tadi kamu pingsan di depan gerbang sekolah. Karena gerbangnya sudah dikunci, aku bawa’ kamu ke rumah sakit,” jelas cowok keren itu, “Aku merasa bersalah sekali sama kamu. Udah dua kali kita bertemu tapi keduanya dalam moment tabrakan. Namaku Vigo ! Sekali lagi aku minta maaf!
Aku yang masih terbaring di ranjang rumah sakit memberi senyum padanya. Oh, namanya Vigo. Ternyata aku pingsan ada maknanya juga ^_^)
Sekarang, aku dan Vigo ada di mobil. Vigo mengantarku pulang ke rumah. Di perjalanan yang menyenangkan…….
“ Kok, tadi kamu bisa berada di depan sekolahku ?” tanyaku.
“ Tadi adikku nebeng, motornya masuk bengkel. Eh, nggak tahunya buku dia ketinggalan di mobilku, jadinya aku anterin tuh buku sampai pos satpam.” Jawabnya, “ Eh, nggak tahunya pas mau keluar dari halaman sekolah, aku nabrak kamu. Sekali lagi, aku minta maaf !”
“ kayaknya nggak perlu dibahas deh ! nggak ada yang perlu dipermasalahkan,” ucapku. “ By the way, adik kamu kelas berapa ?”
“ Dia kelas_” ada sesuatu yang membuat Vigo tidak melanjutkan ucapannya.
“ Chel, kamu suka bunga?”
Aku mengangguk. Vigo merem mobil tepat di depan sebuah tokoh bunga. Rupanya, tokoh bunga ini yang menyedot perhatiannya.
“ Tunggu sebentar ya, Chel !” ujar Vigo membuka pintu mobil.
Tak lama Vigo kembali dengan membawa seikat mawar kuning. Dia melontarkan senyum. “Chel, banyak orang bilang kalau mawar kuning itu lambang persahabatan yang abadi, aku juga mau kalau persahabatan kita abadi.” Ujarnya bijak memberikan seikat mawar kuning yang masih segar itu kepadaku.
Aku menerima seikat mawar kuning itu. Mawar kuning, Kak Simon pernah memberikannya untukku ketika hari ketiga MOS SMP saat aku dinobatkan sebagai Putri Persahabatan. Mawar kuning……..mawar kuning….damn, I don’t like it! Don’t like, titik. Kak Simon selalu menganggap aku ini adek kecil yang lucu, “Lutuna!” he always said that. Kak Simon itu playboy, it mean; dia mudah jatuh cinta, itu yang kurasa. Selama SMP yang kutahu dan kudengar, dia sudah sekian kali gonta-ganti pacar.
Chel, kok malah bengong ? kamu nggak suka ya sama mawar kuning ?
“ Eh, aku suka kok !” ujarku mencium mawar kuning pemberian Vigo. [ Vigo, aku bukan nggak suka bunganya, tapi aku nggak suka maknanya.]
“ Jadi, mulai sekarang kita sahabat donk!” ujar Vigo mengangkat kelingkingnya.
Aku melekatkan kelingkingku di kelingking Vigo membentuk silang,” Sahabat !” ucapanku itu nggak keluar dari hati.
*******
“ Triple terima kasih Go !” ucapku saat mobil Vigo berhenti di depan pagar rumahku.
“ Triple terima kasih buat apa ?”
“ Makasih pertama karena udah nganterin aku ke rumah sakit waktu aku pingsan. Makasih kedua karena udah nganterin aku pulang. Dan, makasih ketiga buat mawar kuningnya.
“ Kalau yang pertama itu kan memang kewajibanku nganterin kamu ke rumah sakit. Yang kedua, kamu lupa ya Chel? Rumah kita kan searah, kita satu komplek. Nah, kalau yang ketiga aku tulus ngasih kamu mawar kuning karena ingin sahabatan sama kamu, Chel !”
“ Apa pun alasan kamu pokoknya terima kasih!” ujarku.
Vigo tersenyum.
“Selamat sore Chelsa ! see you !”
“ See you !”
*******

“ Wah, Non Chelsa dikasih bunga sama cowoknya ya ?” goda Mbok Ijah ketika aku menyusun bunga mawar pemberian Vigo di pas bunga.
“ Mbok Ijah, mana mungkin niy bunga dari pacar Chelsa. Kalau bunga dari pacar warnanya nggak kuning,” jelasku.
“ Emangnya kenapa kalau warnanya kuning, Non ?”
“ Mawar kuning itu tanda persahabatan, Mbok !”
“ Tapi, dari sahabat bisa jadi pacar kan, Non Chelsa ?”
Aku tersenyum. “ Mudah-mudahan deh Mbok, mawar kuning ini bisa menjadi mawar merah atau mawar putih !”
“ Mana mungkin Non mawar kuning bisa berubah warna jadi mawar merah atau mawar putih ?” tanya Mbok Ijah polos.
“ Aduh Mbok, itu kan cuma perumpamaan dan simbolos aja. Mawar merah itu lambang cinta yang dalam dan gede banget. Nah, kalau mawar putih melambangkan cinta yang suci.”
“Ciile…Non Chelsa jago banget sastranya. Pasti nilai Bahasa Indonesianya 100 niy !”
“ 100 apanya Mbok ! paling barter juga 85.” Ah, ngomongin soal pelajaran aku jadi ingat senin depan ada ulangan harian matematika bab trigonometri, aku harus belajar ekstra niy !
Aku meninggalkan Mbok Ijah dan bunga mawar kuning yang sudah kususun di dalam pas bunga keramik motif merah-putih. mudah-mudahan aja tuh mawar kuning terinduksi sama warna pas bunga, I hopefully….( although only a miracle can make it real ).
“ Non Chelsa mau kemana ?”
“ Mau ke kamar, Mbok. Belajar !”
“ Belajar ?”
*******
Duh, pikiranku suntuk melihat rumus-rumus trigonometri yang banyak banget. Gimana cara ngapalinnya neh? Coba otakku sekinclong Oscar atau minimal seperti Mia, lemot tapi otaknya boleh juga buat ngadapin sinus, cosinus, dan tangen. Ah, tapi aku nggak mau ketularan lemotnya Mia. Atau mungkin seperti_ Ah, kok aku jadi ingat Nara? Nggak boleh ! ngapain aku ingat cowok urakan yang super cuek itu ? bikin tambah pusing ! Tapi, aku harus mengakui kehebatan Nara. Walaupun sering cabut dari kelas, dia bisa mendapatkan nilai di atas KKM. Apalagi kalau dia serajin Oscar, mungkin bisa dapat nilai sempurna.
Akhirnya, aku menyingkirkan buku-buku matematika di hadapanku. Aku bosan ! ulangannya kan masih senin depan. Sekarang baru hari jum’at, masih ada sabtu dan minggu untuk belajar ( jangan ditiru yach ! ).
Aku mengambil komik di rak buku-buku fiksi koleksiku. Setidaknya ini bisa menghiburku sampai aku terlelah dalam tidur.
Tidurku sangat nyenyak. Hingga…..
Melupakanmu adalah hal tersulit bagiku
Karena kau terukir dalam dihatiku
Meski kupernah bosan mengingatkanmu
Selama ini….
Reff lagu “ Hal Tersulit” milik Flanella memang lagi jadi favoritku semenjak mengenal Vigo. Doeloe….( sebelum mengenal Vigo ) lagu itu untuk Kak Simon. Tapi sekarang, kayaknya nggak susah-susah banget ngelupain seorang Fabriano Simon dan virus cintanya di hatiku. Aku juga menggunakkan itu sebagai nada dering hp-ku….multi-fungsi !
Dengan mata yang masih silau melihat cahaya, aku melihat ada 20 panggilan tak terjawab di lcd hp-ku. Dasar tidurku emang terlalu lelap, hingga baru bangun ketika hp-ku sudah berdering 20x.
Hp-ku berdering lagi…..
Aku…. Kuterlalu mencintaimu
Terlebih ku menggilaimu
Salahkah ku?
Hingga….Ku tak tahu arah hidupmu
Ku telah buta kan denganmu
Tolong aku….
Vigo membuatku hampir gila! Setiap hari nada hp-ku kuganti sesuai perasaanku hari ini. Lagu Tahta “ Tempat yang paling indah” adalah harapanku agar mendapatkan tempat yang paling indah di hati Vigo. Tapi, kenapa SMS-nya malah dari Nara? Why ? give me a answer, please !
Hy girl, kok nggak diangkt telpx. Klu, nggak diangkt jg, gw bkal k rmh lo skrg !
Sender : Nara_urakan
08:57:11 p.m
Kupikir sudah pukul 00:00 ternyata pukul 09:00 aja belum. Nara, pasti nggak serius sama ancamannya. Rumahnya kan jauh dari rumahku. Bisa beku kedinginan dia naik motor ke sini !
Melupakanmu adalah hal tersulit bagiku
Karena kau terukir dalam dihatiku
Meski kupernah bosan mengingatkanmu
Selama ini….

Hp-ku kembali berdering dan lagi-lagi di lcd mucul “ Nara_urakan calling…..” Aku me-reject panggilan tersebut. “ Ah, bodoh deh ! lebih baik tidur !”
Aku menutup tubuhku dengan selimut. Segera, aku kembali terlelap ke dunia mimpi…..
“ Chel, sebenarnya aku ingin mengganti mawar kuning itu menjadi mawar merah atau mawar putih,” ucap Vigo dalam mimpiku,” Tapi, aku nggak bisa_”
Saat itu aku dan Vigo sedang berdiri di atas sebuah bintang yang di bawahnya ada sebuah taman bunga mawar berbagai warna. Indah sekali…..
“ Kenapa ?” tanyaku.
“ Karena_” mimpiku terputus karena…..
Sudah….
Maafkan aku segala salahku
Dan bila kau tetap bisu ungkapkan salahku
Dan aku sifatku
Dan aku khilafku
Dan aku cintaku
Dan aku rinduku
Sudah….
Lupakan semua segala berubah
Dan kita terlupa dan kita terluka
Dan aku sifatku
Dan aku khilafku
Dan aku cintaku
Dan aku rinduku
Kutanya malam dapatkah kau lihatnya
perbedaan yang tak terungkapkan
tapi mengapa kau telah berubah
Ada apa denganmu?
Hanya malam dapat meleburkan segala rasa
yang tak terungkapkan
tapi mengapa kau telah berubah
Ada apa denganmu?
Aku yakin belum merubah nada panggilan maupun pesan di hp-ku. Lagu “ Ada apa denganmu” milik Peterpan dinyanyikan oleh seseorang di halaman bawah.
Hi, pengamen dari mana siy malam-malam begini mengganggu mimpiku. Meski pun cuma mimpi, aku tetap ingin tahu lanjutan ucapan Vigo.
Aku menuju teras depan kamarku. Di halaman bawah tertangkap oleh pandanganku Nara duduk di atas motor gede sembari memetik gitar.
“ Akhirnya lo keluar juga, Chel !” Nara menghentikan petikan gitarnya.
“ Lo ngapain siy malam-malam begini konser di depan rumah gue ?”
“ Sesuai dengan lagu tadi, “ Ada apa dengan lo kok tadi nggak masuk sekolah ?”
“ Ah, cuma pengen nanyain itu doank !” teriakku dari lantai dua.
“ Iya !” jawab Nara singkat.
“ Nara, jarak rumah kita itu hampir 20 km ! lo nggak beku apa malam-malam begini naik motor ke rumah gue. Sendainya, rumah lo am gue hanya berjarak 2 meter juga suatu hal yang bodoh ke sini malam-malam, terus nyanyi cuma ingin nanya kenapa gue nggak sekolah ?” ucapanku tak terkendali saking kesalnya mimpiku terpotong.
Nara diam. Kemudian dari mulutnya yang kali ini tidak mengunyah permen karet terucap,” Rumah kita emang dekat, lo nggak berandai-andai, Chelsa!”
“ Maksud lo ?”
“ Ah, nggak penting !” tukas Nara,” Yang penting sekarang gue tahu seorang Berliana Chelsa nggak bisa menghargai perhatian seseorang yang_” ucapan Nara tergantung. Kukira dia akan melanjutkannya. Tapi, ternyata aku salah. Justru Nara membalikkan badan, menghidupkan mesin motornya, dan memberikan pandangan tajam ke arahku sebelum berlalu pergi.
Eh, Nara lupa membawa gitarnya. Aku turun ke lantai bawah untuk mengambil gitar Nara yang tertinggal. Sungguh, aku heran kenapa Nara jadi sensitive ?
*******
3
Keesokkan paginya aku berpapasan dengan Nara di lorong sekolah. Tapi, tak seperti biasanya. Hari ini tak sedikit pun dia menoleh ke araahku, dia seolah tidak mengenalku. Aku merasa bersalah. Mungkin perkataanku semalam telah membuatnya marah.
Di kelas….
Nara juga tak menyapaku. Aku memberi senyum, dia buang muka. Padahal, aku ingin memberi tahu gitarnya tertinggal di halaman rumahku. Dan, aku yakin Nara menyadari gitarnya tertinggal, tapi kenapa dia tidak menanyainya padaku?
Saat jam istirahat pertama….
Aku menghampiri Nara yang duduk di bangku taman sekolah. Dia sedang memasng headset di telingahnya, mungkin lagi denger musik. Aku tahu dia menyadari kehadiranku. Tapi, Nara tetap cuek bahkan headsetnya pun tak dilepas.
Aku mencopot headset di telinganya. Dia melotot ke arahku.
“ Maaf, gue cuma mau bilang gitar lo ketinggalan di depan rumah gue !”
Nara bangkit dari duduknya. “ Lo boleh buang tuh gitar !” ujar Nara kemudian berlalu pergi dari hadapanku.
Nara ternyata benar-benar marah. Baru kali ini aku melihat Nara yang cuek punya rasa. Biasanya seorang Thrivo Nara Aleno nggak pernah marah yang serius. Paling lama, marahnya 10 menit. Abis itu, senyum lagi.
*******
Hari sabtu….
Jam sekolah lebih pendek. Pukul satu bel tanda sekolah usai telah berbunyi. Aku, Dhea, Anita, dan Mia hari ini pergi ke mall bareng. Bagi kami berempat, hari sabtu hukumnya wajib refresing di mall.
Setelah puas jalan-jalan keliling mall, masuk tokoh ke luar tokoh tapi nggak seorang pun dari kami yang nenteng kantong belanjaan. He..kami memang lagi nggak ada acara shoping.
“ Eh, gue haus niy !” ujar Anita.
“ Iya !” sahut Dhea dan Mia serentak.
“ Ya udah, kalau gitu kita cari minum yuk !” ajakku.
“ Asyiknya minum apaan ya ?" pikir Mia memagang frontal-nya.
“ Aduh Mi, entar aja deh mikirin menunya, pusing gue !” sahut Dhea menekan –nekan temporal-nya.
“ Sahabat…. Jangan terbelah hanya karena hal yang sepele, karena persahabatan kita bukan hal yang sepele !” nasehat Anita dengan gaya masih puitis.
“ Pitis niy ye !” ujarku, Dhea, dan Mia kompak.
Di café….
“ Di hari yang cerah, saya mau pesan jus nanas!” ujar Anita
“ Saya jus apel deh, Mas !” sahut Dhea.
“ Kalau saya jus stoberi, ya Mas !” pesan Mia,” Stoberinya pilihin yang seger-seger, ya Mas!”
Waiter café itu mengangguk mendengarkan penjelasan Mia.
“ Kalau Chelsa mau pesan apa ?” Mia seolah mewakili pertanyaan waiter.
“ Jus alpokat aja deh !” sahutku.
10 menit kemudian…….
Aku melihat warna jus yang dipesan ketiga sohibku. “ He, kenapa warnanya merah, kuning, dan putih ?” tanyaku spontan.
Ketika sohibku bengong mendengar pertanyaanku.
“ Chelsa, lo nggak kenapa-napa kan ?” tanya Mia sembari tangannya menempel di keningku. “Nggak panas kok !”
“ Chelsa ini jus nanas jadi wajar aja warnanya kuning !” ucap Anita.
“ Kalau yang ini jus apel jadi warnanya putih !” ujar Dhea.
“ Nah, kalau yang ini jus stroberi ! Mmm, enak !” sahut Mia,“ Seharusnya siy warnanya pink, tapi kok jadi merah ya ?”
“ Biar kelihatan segar dikasih perwaena makanan kali !” ujar Dhea, “ Kan lo mintanya yang seger-seger Mi !”
“ Bukan itu !” sahutku.
“ So…..?”
“ Warnanya itu ngingetin gue sama bunga mawar !”
“ So…..?”
“ Bunga mawar ngingetin gue sama Vigo!”
“ Vigo ?!!”
Aku menceritakan siapa Vigo kepada Anita, Dhea, dan Mia.
“ Lo lagi jatuh cinta niy Chel !” komentar Anita masih dengan gaya puitis, “ Cinta oh cinta….membuat orang jadi gila ! apa saja membuat hati teringat dia yang dicintai.”
“ Iya, buktinya lihat warna jus kita bertiga lo jadi ingat tuh cowok !” Mia menyetujui pendapat Anita.
“ Cinta ? kalau gue harus kasih dua kata untuk cinta, cinta itu indah dan gila !”
“ Bener buanget ! kadang cinta bisa membuat orang yang merasakan cinta menjadi mempunyai semangat untuk menjalani hari-hari sesulit apa pun itu. Tapi, kadang cinta bisa membuat orang terobsebsi, dan obsebsi itu penuh dengan kegilaan!” Anita setuju pada pendapat Dhea.

Aku juga menceritakan mimpiku pada tiga sohibku.
“ Jadi, gara-gara Nara lo nggak tahu kelanjutan mimpi lo, Chel ! “ ucap Dhea, “ Siapa tahu aja kalau Nara nggak ‘konser’ di depan rumah lo mimpi itu bisa sampai ending.”
“ Kayak film aja ada endingnya ?” sahut Mia.
“ Tapi, gue juga merasa bersalah niy sama Nara. Mungkin, ucapan gue malam itu bikin dia sakit hati,” ucapku.
“ Kasus yang rumit !” komentar Anita, Dhea, dan Mia serentak.
*******
4
Hari senin…..
Ada dua perasaan yang bekerja secara antagonis di hatiku.
Perasaan 1 :
Aku senang banget karena hari ini sudah mendapat izin dari papa untuk nyetir mobil sendiri.
Perasaan 2 :
Aku deg-degan hari ada ulangan matematika. Tadi malam, aku sama sekali nggak belajar_siangnya aku latihan nyetir.
Saat ulangan matematika :
Pak Bayu membagikan lembaran soal ulangan matematika bab trigonometri. Dengan lemas aku memandangi soal-soal tersebut, tak satu pun dari lima soal yang aku tahu rumusnya. Hingga satu jam ujian berlangsung lembaran jawabanku masih kosong.
Setengah jam terakhir :
Aku menjawab kelima soal asal-asalan_yang penting selesai. Semoga Pak Bayu memberi point atas usaha menulisku walaupun saltol alias salah total.
Pulang sekolah :
Pikiran dan perasaanku kacau mengingat ulangan matematika tadi. Belum lagi masalah dengan Nara, belum ada titik terangnya. Dia masih diam membisu padaku.
Aku membelukkan setir kemudi ke arah kanan_arah ini bukan menuju rumahku. Aku ingin menenangkan pikiranku di Taman Mawar. Melihat bunga-bunga mawar yang indah dengan aneka warna_hasil kecanggihan teknologi. Tapi, bagiku kemurnian ciptaan Tuhan jauh lebih indah_aku suka mawar merah dan mawar putih.
Setelah menemukan tempat parkir yang pas, aku menuju sebuah kursi di bawah pohon cemara di antara mawar merah. Aku duduk sendiri dengan masih mengenakan seragam SMA. Suasana di sini menyenangkan tapi aku harus tahan cemburu_harus ! Hhuuu, di sekelilingku selain dipenuhi bunga mawar merah juga banyak pasangan-pasangan muda dengan romantisme masing-masing. Aku jadi ingat…..Aku ingat Vigo !

Melupakanmu adalah hal tersulit bagiku
Karena kau terukir dalam dihatiku
Meski kupernah bosan mengingatkanmu
Selama ini….
Hal tersulit_Flanella_nada dering hp-ku, di lcd muncul “ Vigo calling……”
“ Ah, Vigo !” ujarku kemudian segera memencet tombol dengan simbol telepan warna hijau.
“ Halo !” sapaku memulai percakapan.
“ Hai Chel, lagi dimana ?” terdengar suara Vigo dari seberang sana.
“ Lagi di Taman Mawar !”
“ Taman Mawar ?”
“ Iya, emangnya kenapa ?”
“ Kamu sering ke Taman Mawar ya, Chel?”
“ Sometime, kalau lagi suntuk !”
“ Aku boleh ke sana nggak ?”
Ah, aku kaget plus happy buanget. Vigo mau ke sini ! Segera aku mengangguk tanda mengiyakan.
“ Chel, boleh nggak ?” Vigo bertanya lagi.
Ya ampun, aku niy gimana she ? Gimana Vigo tahu jawabanku kalau aku hanya mengangguk_come on ini percakapan line telephon Chelsa !
“ Boleh !” sahutku sebisa mungkin menutupi betapa cerianya aku mendengar dia mau ke sini.
“ Posisi kamu dimana ?”
“ Di Taman Mawar Merah !”
“ Tunggu aku di sana yach !” Vigo menutup telpon.
Hatiku senang skaleeeeeee ! bakal duduk berdua dengan Vigo di antara mawar-mawar merah. Aku menunggu Vigo dengan semangat_it’s irregular feel to tell you !
10 menit kemudian……..
Sepasang tangan menutup mataku.
“ Siapa niy ?” tanyaku meraba sepasang tangan tersebut_menebak tangan siapa gerangan?
“ Duar !”
“ Vigo !”
“ Hy, udah lama di sini ?” tanya Vigo yang juga masih mengenakan seragam SMA duduk tepat di sampingku.
“ Nggak juga !”
“ Tadi kamu bilang lagi suntuk Chel, suntuk kenapa ?”
Vigo…..mana mungkin aku cerita sama kamu kalau aku suntuk mikirin ulangan matematika atau soal Nara sekali pun. Nggak banget kan ?!!
“ Aku cuma lagi booring aja. Kamu sendiri kenapa mau ke sini?”
“ Karena aku kangen sama kamu ?” jawab Vigo.
Ah, aku serasa pengen terbang ke langit ketujuh mendengar jawaban Vigo. Vigo kangen sama aku ? ^_^
“ Kamu adalah sahabatku yang paling asyik !” sambung Vigo.
Ooh, only SAHABAT ?!! aku jatuh dari langit ketujuh karena gagal mendarat_mendengar ucapan Vigo ^.^). Meki sudah berusaha tetap terlihat ‘stabil’, aku tetap tidak bisa menahan rasa ini….(perih banget! Banget! ).
Aku berdiri….
Vigo melirikku….
“ Kenapa Chel ?” tanya Vigo heran.
“ Karena kita sahabat jadi ini bukan tempat kita. Taman Mawar Merah adalah tempat sepasang kekasih. Tempat kita di Taman Mawar Kuning !” ucapku kemudian pergi.
Vigo bangkit dari duduknya,” Chel, tunggu !”
Dia memegang kedua sisi bahuku, menatapku tajam. Tapi, entah kenapa lagi-lagi mata Vigo mengingatkan aku pada Nara.
“ Chel, kamu marah sama aku ?” tanya Vigo masih menatapku.
Aku menyingkirkan tangannya dari bahuku. ”Aku nggak marah ! lagian kenapa juga aku harus marah ?” ujarku,” Aku hanya lelah pengen cepat pulang.”
Aku melanjutkan langkahku.
“ Chel !” Vigo meraih tangan kiriku. Mau tak mau mata kami kembali beradu pandang. Aku buru-buru melepaskan genggaman tangannya, segera berlari ke lapangan parkir.
Aku menangis lepas di dalam mobil. Dari luar Vigo mengetuk kaca mobil, “ Chel, kamu nggak apa-apa kan?”
Aku tidak mempedulikan ucapannya. Segera kuhidupkan mesin mobil. Berlalu pergi meninggalkan Vigo. Dari kaca spion, aku dapat melihat Vigo yang berdiri memandang kepergianku.
*******
5
Benaran deh, hari ini aku sama sekali nggak semangat untuk bangun pagi. Nanti di sekolah akan diumumkan nilai ulangan matematika. Tapi, apa boleh buat aku harus tetap sekolah.
Di ujung komplek aku melakukan aksi rem mendadak. Mobilku dicegat Vigo. “ Mau apa lagi siy dia ?”
Aku membuka kaca mobil.” Eh, minggir ! aku mau lewat !” teriakku.
Vigo menghampiri mobilku.” Please Chel, give me a little time !” pintanya.
“ What for ?” tanyaku rada sinis.
“ Maaf Chel, aku terpaksa pakai cara ini supaya bisa bicara dengan kamu. Kamu nggak pernah angkat telpon aku, balas SMS aku sejak pertemuan di Taman Mawar.
“ Kamu itu nggak ngerti perasaanku, aku nggak suka mawar kuning !” ujarku membuka pintu mobil meraih mawar kuning pemberian Vigo tempo hari di bangku sebelah setir kemudi yang sudah layu.
“ Rencananya tadi aku mau buang mawar kuning ini ! tapi, aku berubah pikiran ! Niy, aku kembalikan mawar kuning kamu !”
“ Maaf Chel, aku nggak tahu sebelumnya kalau kamu nggak suka mawar kuning !” ucap Vigo menerima mawar kuning yang kukembalikan padanya.
“ Aku suka mawar kuning apabila yang memberikannya adalah sahabat-sahabatku bukan kamu! “ ujarku.
“ Tapi, aku ingin jadi sahabat kamu !” timpal Vigo.
“ Aku nggak mau jadi sahabat kamu !” ujarku.
Lama kami terdiam. Hingga….
“ Chel, sebenarnya aku ingin mengganti mawar kuning ini dengan mawar merah atau mawar putih. Tapi, aku nggak bisa.”
Aku terenyah, ucapan Vigo sama seperti dalam mimpiku kala Nara mengacaukan semuanya.
“ Kenapa ?”
Sebuah suara motor gede membuat Vigo tidak menjawab pertanyaanku. Ah, itu Nara….., He, kenapa kejadian ini juga ada pada kenyataan. Kenapa harus Nara yang selalu mengganggu, Why? ( give me the answer, please ! ). Dan kenapa Nara ada di komplek rumahku, apa jangan-jangan dia sudah pindah? Oh, No !
Nara tersenyum tapi bukan padaku, pada Vigo. Nara tidak menyapaku, dia cuek! Kemudian Nara pun berlalu pergi meninggalkan asam knalpot.
Vigo tidak melanjutkan ucapannya yang tadi terputus. Aku menunggu sesaat, tapi Vigo tetap bisu. 30 detik……
Aku memutuskan untuk kembali masuk ke mobil. Tanpa berkata apa pun pada Vigo, aku pergi dengan banyak pertanyaan menghantui pikiranku,” Ada hubungan apa Nara dan Vigo ?”
*******
“ Piala Oscarano, 100.”
“ Wow !” kelas XI.IA.5 takjub mendengar nilas Oscar yang sempurna. Sebenarnya hal ini sudah lumrah, Oscar emang sering banget dapat nilai sempurna. Tidak sia-sia namanya Piala Oscarano.
“ Threevo Nara Aleno, 80.”
“ Wow !” sekali lagi XI.IA.5 takjub. Walaupun Nara sering cabut, dasar otaknya sudah ‘encer’, dia berhasil mendapat nilai 80. Seandainya, Nara serajin Oscar mungkin nilainya juga sempurna.
Pak Bayu berhenti membagikan lembaran terakhir . itu pasti punyaku. Aku berani bilang begitu karena hanya aku yang belum kebagian. Semua teman-temanku sudah menerima hasil ulangan trigonometri dan tidak satu pun ari mereka yang remedial.
“ Berliana Chelsa, 50 !”
Ah, 50 ? 50 ? oh tidak ! hanya 50 ?!! remedial? Tidaaaaaaaak ! rasanya badanku lemas sekaliiiiiiiii, aku mau pingsan ! tenang Chelsa, tenang….! Semua mata eh kecuali Nara sedang melihat ke arahku.
“ Chelsa, nanti jam istirahat pertama temui bapak di ruang majelis guru !” ucap Pak Bayu sembari memberikan hasil ulangan padaku.
“ Baik Pak !” jawabku tiada bersemangat.
*******
“ Kamu harus belajar tambahan matematika dengan Oscar. Mungkin, dengan belajar bersama kawan sebaya pemahaman kamu akan lebih baik….”
Kata-kata Pak Bayu masih terngiang di telingaku. Aku harus belajar dengan Oscar yang super serius itu ? Aduh, gimana neh ?
Aku pusiiiiiiiiiing !
“ Ah…..!” ada yang menabrakku.
“ Brukk !”
Buku-buku matematika yang baru kupinjam dari perpustakaan sekolah jatuh.
“ Nara…..”
Nara sama sekali tiada memberikan ekspresi rasa bersalah. Boro-boro mau bantuin beresin buku-buku yang jatuh berserakan, senyum juga nggak ! Dia berlalu pergi……..
Nara semarah apa seh lo sama gue ? Ah, masa bodoh ! aku sudah dipusingkan dengan nilai ulangan matematika ! segera kubereskan buku-buku yang berserakan di lantai.
“ Biar gue aja yang beresin !”
Suara itu…… tidak salah lagi-itu suara Nara-makhluk yang baru saja menabrakku, angin apa yang membuat dia berubah pikiran ?
Aku terdiam memandangi Nara yang tengah mengumpulkan buku-buku matematika itu. Kami berdua berdiri hampir bersamaan.
“ Lo minjam segala jenis buku matematika yach ?” ucap Nara menyodorkan buku-buku matematika itu padaku.
Aku mengangguk.
Nara menatapku.
Apa yang ada dipikirannya ?
“ Nara, waktu itu aku ng…nggak bermaksud…” ucapanku tergantung karena Nara melengketkan telunjuknya di bibirku.
“ Lo nggak perlu lanjutin ucapan lo, gue nggak pernah marah dari hati sama lo, Chel !
Ada jeda sesaat…..
Tiba-tiba….
Tsunami eh….salah :
“ Gue sayang sam lo, Chel !”
“ Brukk !” buku-buku matematika yang kupegang jatuh lagi.
Nara kembali menolongku ( review again five minutes ago )……
Orang yang melihat kejadian ini mungkin dapat langsung menyimpulkan kalau Nara lagi salah tingkah. Dan, aku nggak kalah salting mendengar pernyataan Nara yang di luar skenario. Uups, maksudnya di luar dugaanku.
“ Tapi, lo nggak usah jawab kata cinta gue ! gue nggak mau jawaban itu !”
?????
*******
6
Dear diary…..
Hari ini full surprise !
Kejutan 1-bad surprise :
I don’t like it ! don’t’ like ! pokoknya nggak suka buaaaaaanget ! banget ! Nilai ulangan matematikaku hancur abisssszzzz. Sebenarnya bukan kejutan yang sangat mengagetkan. Taukan diary, dari SMP nilai trigonometriku jelek mulu. Paling bagus juga 60. I hope the next time better…..hopefully…..amin !
Kejutan 2-booring surprise :
Gara-gara nilai ulanganku nggak tuntas KKM, aku harus belajar tambahan dengan Oscar-Piala Oscarano. Diakan orangnya serius abiz.
Kejutan 3-??? :
It’s the big surprise of the day !
Nara ‘nembak’ aku-pakai peluru cinta. Nara suka sama aku ?
Ceritaku pada diary berhenti ketika Dio nyelonong masuk kamarku.
“ Kak, ajarin Dio jawaban soal nomor 4 donk !” Dio menyodorkan buku matematikanya padaku.
Untunglah…..syukur bukan trigonometri. Eh, aku lupa anak TK mana belajar trigonometri. Anak TK super unggul kaleeee yach !
1) 2+2=4
2) 3-1=2
3) 5-2=3
4) 5+2-1=
“Duh, adek kakak pinter ya, nomor satu sampai nomor tiga udah betul. Kalo nomor empat, 5+2 berapa ?”
Dio berpikir sembari memainkan jari-jari tangannya. “ tujuh !” sahutnya.
“ Bagus !” ujarku,” Sekarang 7-1 jadinya berapa ?”
Dio kembali menggunakan jari-jari tangannya-yang mungil sebagai alat bantu hitung. “ 7-1 samadengan…..samadengan 6 !” jawab Dio bersemangat.
“ Betul !” ujarku memencet hidung Dio, “ Adek kakak pinter !”
“ Hore !” Dio bertepuk tangan, meloncat-loncat-karena dapat menyelesaikan PR-nya. “Makasih Kak Chelsa !” ucap Dio.
Kemudian, adekku yang baru berusia lima tahun itu berteriak mencari mama. “ Mama….PR Dio udah selesai. Dio pintar kan Ma…..!” sayup-sayup terdengar teriakkan Dio olehku.
Dio……Dio….adekku yang lucu. Ketika aku mengajari Dio, mungkin dimata Dio-aku ini seorang kakak yang pintar matematika…..


Sejak engkau mendua
Entah apa yang kurasa
Memandang perih
Menyimpan luka
Sampai pada saat ini
Aku memulihkan rasa di hatiku
Baru aku bisa, bisa bicara……
Lagu “ Aku Bisa-Flanella” yang lagi aku gunakan sebagai nada SMS mulai tadi siang pulang sekolah terdengar di telingaku. It’s mean there is a new message.
Chel, bsok Qt bljrx d rmh Aq aja yach !
Sender : Oscar-jenius
08:14:21 p.m
*******
7
Hari minggu yang cerah…….
“ Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi”
Sepanjang perjalanan menuju rumah Oscar, aku menyetel lagu Peterpan tersebut berulang-ulang.
Pagi biarku sendiri
Jangan kau mendekat wahai matahari
Dingin hati yang bersedih
Tak begitu tenang mulai terabaikan
Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi
Begitu dalam untuk cinta yang mati
Kucoba bertahan dan tak bisa….
( Peterpan-Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi )
Aku merem mobil di depan rumah bernomor 10. Mmm, angka yang sempurna ! Rumah bercat hijau, ada banyak bunga mawar di halaman depan, tak salah lagi-ini tepat dengan apa yang dideskripsikan Oscar.
“Assalamualaikum…..”
“ Waalaikumsalam…..”
Pintu dibuka…..
Muncul wajah yang tidak asing lagi-orang yang ingin kutemui-Oscar-Piala Oscarano. Dia tersenyum ramah dan mempersilakan masuk.
“ Silakan duduk !” ujar Oscar.
“ Makasih !”
“ Tunggu bentar ya, chel-aku suruh Mbok Ijah bikinin minum dulu.”
“ Nggak usah repot-repot, Car !”
“ Nggak repotin kok, Chel.”
Karena pertama kalinya berkunjung ke rumah Oscar, mataku memperhatikan foto-foto yang terpajang di dinding. Ada banyak foto keluarga. Sepertinya, Oscar anak tunggal. Aku berpendapat demikian karena di foto keluarga hanya ada Oscar dan kedua orangtuanya. Oh, papanya seorang arsitek dan mamanya seorang dokter.
Dari sekian banyak foto, aku sangat tertarik dengan foto-dua orang anak yang kira-kira berusia sama dengan Dio-adekku. Ada bunga sakura sebagai latar foto. aku dapat menebak salah seorang dari dua anak itu adalah Oscar-kecil-saat duduk di bangku TK. Dan, seorangnya lagi-bukan wajah yang asing bagiku. Rasanya, aku mengenali wajah itu…..
“ Kamu suka foto itu ya, Chel ?” suara Oscar mengagetkan-ku. Oscar memberikan segelas jus jeruk padaku.
“ Makasih !”
“ Itu aku dan Nara !”
Uups……
Jus jerus yang kusedot menyembur ke wajah Oscar.
“ Sorry Car, sorry…. Aku nggak sengaja!”
Aku mengambil sapu tangan dari tasku, menyodorkan pada Oscar.
“ Wajah kamu lucu juga kalau lagi bingung, Chel !” ucap Oscar becanda-sembari mengelap wajahnya.
Aku nggak nyangka ini sebelumnya-Oscar bisa bercanda. Aku jadi ingat kejadian tempoe doeloe….
Ketika Sahabatku Anita ngirimin puisi cinta untuk Oscar, cowok berkulit putih itu hanya tersenyum tipis. Sampai saat ini, cinta Anita belum juga kebalas, masih bertepuk sebelah tangan.
“ Itu foto aku dan Nara ketika dulu masih tinggal di Jepang.”
Aku heran……
“ Dulu, bokap aku sama bokapnya Nara satu perusahaan. Tapi, pas kami lulus sekolah-setingkat SD, bokap kami berdua dipindah-tugaskan ke Jakarta,” cerita Oscar.
“ Satu bulan yang lalu, rumah warna biru di depan sana adalah rumah Nara. Sekarang, Keluarga Aleno sudah pindah rumah.”
Aku terenyah mendengar penjelasan Oscar. Jangan-jangan benar lagi, Nara sudah pindah ke komplek perumahan yang sama denganku.
“ Kenapa Chel, kok diam ?”
“ Eh, anu…pantesan ya Nara walaupun malas masuk kelas nilainya selalu bagus, secara otaknya jepang punya !”
“ Siapa bilang Nara malas belajar ? Memang, dia moody banget. Kalau kata hatinya bilang malas ya dia bakal milih buat cabut dan mengungkapkan perasaannya lewat musik.
Aku masih diam. Entah kenapa cerita tentang Nara sangat menarik bagiku.
“ Dia sering belajar bareng denganku. Setiap kali dia cabut, maka malamnya Nara ke rumahku-mempelajari materi yang tertinggal.”
“ Apa semenjak pindah rumah Nara masih sering ke sini ?” tanyaku ingin tahu lebih banyak tentang Nara.
“ Masih. Kadang bareng kakaknya.”
“ Nara punya kakak ?”
Oscar mengangguk. “ Nara hanya punya stu orang kakak laki-laki-satu tahun lebih tua darinya. Kakaknya baru berada di Indonesia dua bulan yang lalu. Sebelumnya, dia harus tetap berada di Jepang karena harus mengalami pengobatan.”
“ Pengobatan ? emangnya kakaknya Nara sakit apa?”
Oscar diam-ada jeda sesaat.
“ Eh, kok kita jadi ngelantur kemana-mana ya?”
Oscar mengalihkan pembnicaraan, “ Kita mulai belajarnya sekarang aja yuk !”
Tapi, ini demi kebaikanku juga. Minggu depan aku harus remedial. Minimal, aku harus dapatin nilai 70 agar dinyatakan “ TUNTAS” hopefully !
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas
Jarum jam menunjukkan pukul duabelas
Empat jam sudah aku belajar matematika dengan Oscar.
“ Do’ain aku yach bias berhasil dapt nilai bagus, minimal pas KKM dech !” ucapku ketika diantar oleh Oscar menuju pintu depan-jalan keluar dari rumah Oscar.
“ Sure !” seru Oscar yang mengantarkan-ku sampai aku mobil.
“ Bye…!” pamitku.
“ Be carefully !”
Aku tersenyum. Hari ini ada sebuah pembelajaran berharga yang aku pelajari. Kita tidak bisa memberi seseorang nilai sebelum benar-benar mengenalnya. Oscar yang selama ini-aku anggap cowok jenius yang super serius-di kepalanya hanya ada matematika-nyatanya tidak. Dia dapat mengimbangiku ketika aku bercerita tentang Harry Potter. Dia tahu film apa yang lagi in di kalangan para remaja. Dia ternyata punya tim sepakbola faforit. Really, I don’k know it before…
Sau lagi, hari ini pandangan-ku tentang Nara sedikit berubah. Selama ini, aku berpikir nilai-nilai bagus yang diperolehnya hanya sebuah kebetulan atau otaknya emang udah kinclong. Tapi, ternyata Nara belajar bersama Oscar untuk meraih nilai tersebut. Aku belajar satu hal dari seorang Nara yang super cuek dan urakan ‘ otak kinclong tanpa belajar=bohong’.
Kuteringat hati yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri
Kuatkan lah hati cinta…..
Lagu “ Sebelum Cahaya-Letto” terdengar dari hp-ku. Ini berarti ada sebuah panggilan. Bergegas tangan kiriku meraih tas yang ada di kursi sebelah, meraba isinya mencari hp-ku plus handsfree-nya.
Di lcd tetera “ Vigo calling…..”
Aku bimbang sebaiknya diangkat atau nggak ?
( menurut kamu gimana ? )
Jempolku kuletakkan di atas tombol bersimbol telpon warna merah-tombol untuk nge-reject panggilan.
Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engaku kepada
angin yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu cinta….
Hp-ku masih terus berdering. Sepertinya, aku tidak salah pasang nada dering-Sebelum Cahaya. Aku butuh sebuah petunjuk red or green ?
Kekuatan hati yang berpegang janji
Genggamlah tanganku cinta
Kutak akan pergi meninggalkanmu sendiri
Temani hatimu cinta….
Akhirnya green-lah yang kupilih….
“ Chel, please jangan matiin hp-nya, aku mohon dengar aku….sebentar saja !” terdengar suara Vigo di seberang sana.
Aku diam.
“ Chel, aku tahu kamu pasti bingung denganku, bingung pada semua ini. Maafkan aku, maafkan aku pagi itu tidak melanjutkan ucapanku-kenapa aku nggak memberi kamu mawar merah atau mawar putih ?”
Aku menekan tombol merah di hp-ku, melempar hp tersebut ke kursi sebelah. Aku malas mendengar cerita itu lagi. Sudah dua kali (walaupun satunya hanya dalam mimpi) Vigo ingin menjelaskan hal tersebut. Tapi, tiba-tiba saja Nara selalu muncul.
Kuteringat hati yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri
Kuatkan lah hati cinta…..
Aku mengambil hp-ku di kursi sebelah,
Tombol reject ditekan…
Panggilan terputus.
Hp berdering, tekan tombol reject, panggilan terputus, hp berdering lagi, tekan tombol reject, panggilan terputus, hp berdering lagi, tekan tombol reject lagi, panggilan terputus lagi dan lagi, demikian hingga lebih 20x.
Sejak engkau mendua
Entah apa yang kurasa
Memandang perih
Menyimpan luka
Sampai pada saat ini
Aku memulihkan rasa di hatiku
Baru aku bisa, bisa bicara……
Ada SMS !
Chel, please angkt telp aq, skali ini aja ! ada yg hrs aq jlsjkn…
Sender : Vigo
12:51:17 p.m
Penjelasan ? Aku nggak butuh lagi ! perasaan penasaranku sudah hilang…..

Hilang semua janji
Semua mimpi-mimpi indahku
Hancur hati ini melihat semua ini
Lenyap telah lenyap kebahagian di hati
Kuhanya bisa menangisi semua ini
Hancur hati ini melihat kau telah pergi
Langit menjadi kelam berkelabu
Menyelimuti hatiku
Mengubah seluruh hidupku
Mengapa semua jadi begini
Perpisahan yang terjadi di antara kita berdua
Hilang semua janji
Semua mimpi-mimpi indah
Kuakan menanti sebuah keajaiban
Yang membuat kita bisa bersama kembali
( Hilang-Ost. Cinderela )
Miracle ! sebuah keajaiban yang bisa merubah mawar kuning menjadi mawar merah atau mawar putih. Harapanku hilang……..menanti sebuah keajaiban untuk bersama lagi ? Harapanku bodoh banget yach ? ‘jadian’ juga nggak pernah ! harapanku hilang…….hilaaaaaaaaaaaaang…….
Hilang semua janji
Semua mimpi-mimpi indahku
Hancur hati ini melihat semua ini
Lenyap telah lenyap kebahagian di hati……
Aaaaaaaaaah !
Di tengah derasnya hujan, aku menyerempet sebuah motor.
“ Nara…..”
Aku menabrak Nara. Benarkah dia Nara? Nara ?!! dia memang Nara ! Nara penuh darah! Tuhan, aku mohon semoga Nara baik-baik saja, aku mohon Tuhan…..
*******
8
“ Chel, Nara gimana ?”
Suara Oscar membuat aku bangkit dari keadaan duduk.
“ Ini semua salah aku Car, coba aku konsentrasi nyetirnya, mungkin Nara……”
“ Nggak Chel, kamu jangan menyalahkan diri sendiri ! sekarang yang terbaik adalah berdo’a. Aku sudah telpon kakaknya Nara, hanya dia yang berada di Jakarta, mama dan papa Oscar lagi di Tokyo-konsultasi dengan dokter tentang kesehatan kakaknya Nara. Seharusnya kakaknya Nara hari ini menyusul ke Jepang tapi dia membatalkan semuanya ketika tadi aku kasih kabar tentang Nara.”
“ Berarti hari ini….seharusnya Nara berangkat ke Jepang !”
Oscar mengangguk.
*******

20 menit kemudian………
“ Dok, gimana keadaan Nara ? Nara baik-baik saja kan Dok ?.....” tanyaku bertubi-tubi ketika dr.Aldo, dokter yang menangani Nara menampakkan rupanya.
“ Nara sudah berhasil melewati masa kritisnya.”
¼ jam
½ jam
1 jam
2 jam
Aku duduk di samping ranjang dimana Nara terbaring. Aku berharap perlahan jemarinya akan bergerak, dia akan membuka matanya, dan menjadi Nara yang dulu. Di saat seperti ini, aku justru rindu pada sosok Nara yang urakan, super cuek, dan penggemar permen karet sejati.
2 ¼ jam
2 ½ jam
3 jam
Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi di dunia nyata. Hingga, aku merasakan ada tangan yang membelai rambutku. Perlahan, aku membuka mata. Nara tersenyum padaku.
“ Nara, Aaaah !” spontan aku berteriak-memeluk Nara yang masih terbaring, “Gue senang banget akhirnya lo membuka mata !”
“ Aaaaaah !”
Ooh, ada yang berteriak kaget-teriakan itu berasal dari ruangan ini-dari kursi di pojok kiri ruangan.
O-M-G……!
Sosok pemilik suara itu tersenyum padaku. Aku baru sadar ada orang lain selain aku dan Nara di ruangan ini. Dia, dia…..dia Vigo !
*******
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Vigo dan Nara adalah saudara kandung! Perasaanku benar-benar kacau-dua bersaudara yang selama ini membuat hatiku menjadi plin-plan!
Bodohnya aku kenapa baru tahu sekarang? Padahal, setiap aku melihat mata Nara-aku melihat Vigo di dalamnya. Sebaliknya, setiap aku beradu pandang dengan Vigo, aku teringat Nara ! Beberapa peristiwa juga seharusnya bisa memberi tahuku secara tersirat. Ada sebuah misteri yang harus aku pecahkan !
*******
9
Seminggu setelah kecelakaan itu……
Aku benci ini semua ! Aku benciiiiiiiiiiiiiiiii ! Aku benci mereka-Vigo dan Nara-dua bersaudara yang menghantui hatiku. Mereka membuat aku jadi plin-plan !
Aku harap apa yang akan kuisi di lembaran ujian remedial matematika bab trigonometri TIDAK ikut PLIN-PLAN ! harus…..! semoga…..!
Pak Bayu memberikan lembaran soal paaku. Ada 5 pertanyaan-dan……aku sedikit lega ! Model soal yang diberikan Pak Bayu mirip dengan soal yang telah kupelajari bersama Oscar. Wah, aku happy…..( baru kali ini aku happy ngerjain soal-soal yang banyak rumusnya-he3^_^)
Satu jam kemudian……( Waktu emang berjalan cepat )
“ Bagus Chelsa ! nilai sempurna !” ucap Pak Bayu yang langsung mengoreksi hasil pekerjaanku.
“ Hhuuaaaa! “ teriakkan bahagiaku menyita perhatian beberapa siswa yang melintas di depan kantor majelis guru.
“ Selamat ya, Chelsa !”
*******
“ Berhasil ! berhasil ! hore !”
Hahaha……nyanyian khas Dora ketika berhasil dalam suatu hal di setiap episode kartun anak tersebut mewarnai hatiku. Sedikit aku lupa problema-aku, Nara, dan Vigo.
Siang itu, setelah aku mentraktir Dhea, Mia, dan Anita di kantin sekolah dalam rangka merayakan nilai sempurna remedial matematika-ku ( Walaupun nilai yang akan diolah standar KKM, aku tetap happy buaaaaaaaanget ! banget ! )
Aku beniat untuk segera pulang ke rumah-aku janji pada Dio untuk mengantarnya les sempoa.
Ooh……
Di lapangan parkir sekolah, aku melihat mobil Vigo di sebelah mobilku. Vigo tidak sendiri, dia bersama Nara, memar-memar di wajahnya sudah mulai pulih setelah seminggu-paska kecelakaan.
“ Chel !” sapa Vigo.
Nara diam.
“ Kita berdua mau pamit !” ucap Vigo.
“ Pamit ?” tanyaku.
Nara masih diam.
“ Kita mau berangkat ke Jepang.”
“ Jepang ?”tanyaku lagi tanpa kata tanya.
Nara masih diam. Kali ini, Vigo ikut diam.
Keduanya menunduk…….mengangguk….
“ Berapa lama ?” akhirnya itu yang ke luar dari mulutku.
“ Nggak pasti ! “ Nara akhirnya bersuara,” Gue harap secepatnya !”
{ Aku harap juga secepatnya-jangan lama-lama karena benciku untuk kalian berdua=BENar CInta }
“ Kami harap bisa melihat kamu besok pagi di bandara ! pesawat pertama jurusan Tokyo !” ucap Vigo.

*******
10
Hari pertama setelah Vigo dan Nara ‘terbang’ ke Negeri Sakura…….

From : 3vo_vigo_@hotmail.com
To : chelsa_cute@yahoo.com
Subject : my heart will say…..

Dearest Chelsa ……..
Banyak hal yang ingin aq ungkapkan pd-mu ketika di bandara kemarin. Aq merasa telah melewatkan banyak waktu dimana aq harus menjelaskan semuanya.Penyesalan……itu yg aq rasakan. Aq takut waktu yg kutunggu utk kembali melihat wajah qm….tidak akan pernah ada….
Aku menderita penyakit kanker hati ! baru saja aku mem-browser info tentang kanker hati-usiaku…..aq tak punya banyak waktu. Aq jg tdk butuh lebih banyak waktu, tapi bagaimana aq menggunakan lebih banyak dari waktu yg kupunya. Aq harus menjelaskan semua…..
Chel, maafkan aku pernah ada di antara Qm dan Nara. Maafkan aq pernah ada dlm hari2-mu dan kemudian aq pergi meninggalkan luka, maafkan aq Chel…… maafkan juga hatiku ini yang ingin merebut cinta qm dr adk kndgku sendiri, Nara…..dia adalah saudara terbaik yang pernah kumiliki. Chel, dr kcil meskipn dia lebih muda dr-ku, Nara selalu menjd plindung. Kalo pyakit-ku lg kumat, aq lemah skali, bkn spt Vigo yang qm knal, Vigo yg kuat……tdk….aq tdk pantas mendptkn julukan itu.
Chel, ketahui-lah Nara teramat mencintaimu. Walau dia tdk pernah mlhtkn bukti cintanya-suatu saat qm akan mengetahuinya.
Nara memang cuek tapi tdk cuek untuk qm Chel, utk cintanya. Di bandara kmrn dia pasang tampang seolah tdk sedih brpisah dgn-mu, jauh di lubuk hatinya ada perasaan sdih luar biasa, hatinya tiada ingin brpisah dgn-mu. Dia tw banyak hal ttg qm…..sejak Nara pr1 X mlht qm dia sudah mnjd secret admirer setia. Chel, aq bahagia pernah mengenal qm…..! tapi, aq tdk akan membiarkn Nara slalu mengalah utk-ku. Sudah trlalu banyak dia berkorban utk-ku. Di sisa usiaku kuingin mlhtnya menggapai cintanya-Chelsa-qm lah cinta dalam hati Nara dan hatiku-biarkn cintaku tetap ada di dlm hatiku. Dan, sampai nanti aq menutup mata, u always stay in my heart…..love u….!
Sungguh, aku tidak pernah menduga semuanya akan menjadi rumit. Tidak pernah terlintas di pikiranku bahwa Vigo dan Nara adalah saudara kandung.
Vigo……..
Selama ini dia terlihat bersemangat dalam menjalani hidup, dia bisa memaknai hidupnya walau sebenarnya dia menderita penyakit kanker hati. Hatinya memang sakit secara ‘jasmani’, tapi ‘rohani’nya tetap sehat. sebelum pergi bahkan dia berkata kepadaku, “Kamu nggak usah sedih dengan penyakitku ini. Aku saja tidak sedih. Aku masih beruntung kok. Kamu tahu nggak Chel ? banyak orang yang hatinya sehat secara ‘jasmani’ tapi ‘rohani’ sakit. Aku jauh lebih beruntung-kan !” katanya. Vigo, kamu mengajarkan-ku satu hal tentang rasa terima kasih, rasa terima kasih pada setiap nikmat-Nya. Aku juga berharap bisa bertemu kamu lagi ! Aku yakin kamu kuat…...!

*******
11
Semua yang telah terjadi belakangan ini membuat aku merubah pandangan-ku tentang CINTA. Cinta oh cinta….. doeloe, aku menganggap cinta itu 11-12 dengan rumus-rumus matematika ! butuh logika untuk memahaminya. Tapi, hari ini pendapatku mengenai cinta berubah 99,9%. Sometime, cinta tak mengenal logika, cinta tidak beraturan tapi butuh aturan !
Now, bagiku cinta iu irregular ! Jika dalam Tata Bahasa Inggris ada dua jenis kata kerja yaitu regular verb ( kata kerja beraturan ) dan irregular verb ( kata kerja tidak beraturan ), maka aku menyebut cintaku-irregular love !
Nara-Theevo Nara Aleno…….
Aku kira-aku punya banyak cerita tentang sosok super cuek itu. Sampai saat kemarin di bandara, dia masih meninggalkan kesan cuek dan tidak peduli. Bahkan, untuk mengatakan,”Sampai jumpa ! pun-dia enggan. Walaupun Vigo mengatakan dibalik kesan cuek Nara ada rasa peduli yang sangat di lubuk hatinya, tapi aku tetap sedih.
Sudah-lah….semua telah terjadi. Vigo telah pergi, Nara juga pergi, Kak Simon apalagi sudah lama pergi. Cintaku, cinta-ku…. Aaaaaaaaaaah ! Aku butuh teman berbagi cerita ! Aku sedih skaleeeeeeee ! Don’t be sad Chelsa-sebuah suara terdengar di telinga kanan-ku. Yes, don’t be sad ! Don’t be sad ! Don’t be sad ! tell what do you feel-the good solution make you feel better !
Telpon Anita, Mia, dan Dhea, ah…..!-the good solution ! sekalian ngajakin mereka nginap di sini-di rumahku.

Phonebook_Anita-puitis_calling……..
Tersambung.
“ Duh, niat hati ingin mendengar curahan hati sahabat, tapi apa boleh dikata, gue harus jaga rumah, Chel. Bonyok lagi nggak di rumah. Kasihan……kasihan Dolly-adekku sendiri di malam yang sunyi dan kelam tanpa cahaya bintang-bintang….” Argument Anita.

Phonebook_Dhe-@_calling..........
Tersambung.
“ Apa Chel ?”
“ Nginap di rumah gue !”
“ Apa kartu kuning ?”
“ Lo lagi ngapain siy Dhe, kok nggak connect gitu ?”
“ Eh, anu Chel, eh….GOAL !” teriakkan Anita hampir membuat gendang telingaku pecah-untung hanya hampir !
“…………”
“ Dhe, halo Dhea !” Duh, Dhea….pasti hp-nya sudah nggak berada di tangannya lagi-terlempar ketika berteriak “GOAL !” Entah sudah berapa kali Dhea gonta-ganti hp gara-gara terjatuh saat berteriak “GOAL !”. Dhea, kalau lagi nonton bola bisa melupakan hiruk-pikuk dunia nyata.
Tut….tut…tut…..Terputus.

Phonebook_Mhi!-yhA_calling……..
Tersambung.
“ Halo, Mia imut di sini ! Ada apa Chel?” gaya Mia menerima telpon.
“ bla-bla-bla-etc.”
Mia juga nggak bisa nginap di rumahku malam ini. Mau tahu alasannya apa ? Katanya siy,”Sorry Chel, kucing gue si Pretty lagi beranak. So, aku harus jadi babysitter anak-anaknya Pretty-kucingku.” Hahaha…….

Tawaku hanya sesaat. Benar-benar hanya sesaat ! Aku butuh teman curhat ! But, sama siapa?
Haaha….Diary? kenapa aku bisa melupakan buku yang selalu setia menampung ceritaku. Aku sudah menulis diary dari kelas 4 SD. Sejauh ini, aku punya tiga diary-diary kelas 4-6 SD yang isinya cinta monyet, cinmon-cinmonku tempoe doeloe…..hehehe^_^ yang kedua warna soft blue- kisah cinta di SMP-aku masih ingat hampir setiap halaman menceritakan Kak Simon. Dua diary itu sudah aku ‘museum’ kan di laci kenangan-laci khusus menyimpan barang-barang zaman SD dan SMP ^_^)
Dan, yang ketiga-diary warna pink-kisah dari awal masuk SMA hingga sekarang…..

Halaman 1 :
Welcome to Chelsa’s Diary
( khusus Cerita SMA )

Halaman 2 :
Yeah……^_^ akhirnya aku mengenakan seragam putih-abu2 !......

Halaman dua-halaman yang menceritakan betapa bahagianya aku menjadi siswi SMA. Aku tidak membaca halaman ini hingga titik terakhir. Aku lanjut membaca halaman berikutnya ……
Pra-MOS
Really, MOS SMA berlipat-lipat lebih parah dari MOS SMP doeloe…. Kami ( junior ) dibagi menjadi 10 regu. Masing-masing regu terdiri atas 15 orang. Aku sendiri di regu mawar yang junior ceweknya hanya 7 orang. Otomatis, beberapa orang senior cewek senang skaleee TePe-TePe di regu mawar. Hhiiii, nggak banget kan ?!! padahal, aku berharap kalau senior-senior cowok yang keren-keren itu bakal sering masuk membimbing regu mawar ^_^).

MOS hari 1
Gila……..! aku harus pergi sekolah dengan tas plastik hitam yang talinya terbuat dari tali rafia warna merah. Sinting…….! Aku harus pakai topi yang terbuat dari batok kelapa dengan ‘hiasan’ gantungan jengkol di sebelah kiri dan petai di sebelah kanan. Crazy…..! aku harus pakai kaos kaki yang kiri-kanan berbeda (kiri warna hitam-kanan warna putih). Ichigai…..! aku ganti nama selama MOS-namaku yang cantik “ Chelsa” disamarkan menjadi “ Teh Celup” ! Lengkap deh penderitaan para junioe. Kalo yang datang ke sekolahnya diantar/bawa’ kendaraan pribadi/naik taksi/naik ojek/naik angkot/bla-bla-bla-and so on…… harus berhenti 1 km dari lokasi sekolah. Mau yang datang dari arah utara, barat, timur, ataupun selatan, jangan coba-coba main ‘kucing-kucingan’ deh dengan para senior ! Setiap arah ada senior yang jadi ‘satpam’ bahkan mengiring kami ( junior ) sampai pintu gerbang sekolah. Satu kali pelanggaran-pilih mau makan petai atau jengkol mentah ?!!
MOS hari 2
Aku terlambat ! gawat !!! kalo yang terlambatnya rame seperti kemarin nggak masalah. Tapi, hari ini yang terlambat hanya dua orang, aku dan Si Permen Karet ( nama samaran MOS ). Hukumannya nyebelin banget! Di hadapan semua peserta MOS, kami-aku (Teh Celup ) dan Nara ( Permen Karet ) diperintahkan untuk berdiri di tengah lapangan. Trus, oleh senior cowok yang paling sangar-Nara disuruh bilang, “ Teh Celup, Permen Karet cinta mati sama Teh Celup !” semenjak peristiwa itu, muncul gelar “ Kisah cinta Permen Karet dan Teh Celup “ untuk kami berdua. Sebel !

MOS hari 3
Diary, kamu tahukan-my first decision in Pelita Bangsa ?
Kak Simon ! tadi aku melihatnya ( hari 1 dan 2 MOS, Kak Simon nggak nongol-nongol-kabarnya siy dia baru pulang dari Tokyo untuk mengikuti lomba fotografi ). Kak Simon emang hobby banget dengan hal potret-memotret.

Diary membuatku terlarut ke masa lalu. Memoriku ber-flashback ria…..
Kak Simon is my first love. Aku sangat mengenalnya, mulai dari hobby hingga nomor sepatunya. Siapa teman dekatnya, dimana tinggalnya, hingga yang paling gokil aku tahu nama anjing peliharaannya. Pertama kali aku melihat Kak Simon ketika MOS SMP-dia seksi dokumentasi dalam acara MOS SMP. Sudah dua tahun-semenjak dia lulus SMP aku titak pernah melihatnya lagi. Walaupun sebenarnya jarak SMPku dulu dan SMA Pelita Bangsa hanya 5 km.
Demi satu sekolah lagi dengannya, aku belajar ‘mati-matian’. Padahal, aku nggak tahu dia menganggap aku ini ada atau tidak ? Kak Simon, apa kabar ?
Kabar yang terakhir kudengar, Kak Simon berada di Jepang. Jepang adalah pilihan yang tepat untuk menyalurkan hobby potret-memotret dan bakat menggambarnya. Lihat saja, komik-komik yang beredar dan digemari anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa, hampir seluruhnya adalah komik Jepang. Dan yang kutahu, Kak Simon adalah penggemar tokoh kartun ‘Naruto’. Aku pernah memberinya jam tangan bergambar Naruto melalui perantara sahabatnya yang kebetulan satu tempat les Bahasa Inggris denganku, tapi Kak Simon tidak mengetahui identitasku, aku sengaja menyembunyikannya. Cinta……. bisa membuat pikiranku jadi nggak beraturan! Seharusnya aku makan malah senyum-senyum sendiri, saatnya aku tidur aku dibuat tertawa membayangkan wajah pujaan hati. Ah, seharusnya biarkanlah cinta itu dengan ketida-teraturannya, hidup harus berjalan sebagaimana mestinya.
Bayangkan, aku menjadi secret admirer selama empat tahun untuk seorang Fabriano Simon ( kamu pernah mengalami hal yang sama denganku atau kamu sekarang sedang mengalaminya? ). Wajahnya, mmm…eh gimana yach? Secara dia blasteran Jepang, Prancis, Padang, dan Betawi…..kulitnya putih, matanya sipit, hidung mancung, rambut hitam, postur tubuh tinggi, top ten di Pelita Bangsa^_^)
Kak Simon, aku jadi kangen banget sama dia. Niatku semula untuk curhat akhirnya berganti menjadi mengenang masa lalu. Dalam diary SMA-ku yang ½ jadi ( karena aku baru kelas XI semester 1 ) cerita Kak Simon tidak banyak. Setelah aku cek dan ricek, nama yang paling sering muncul adalah…..” Nara”! jangan-jangan………. Aku juga suka…..ah tidak ! buru-buru aku mengalihkan pikiran.
Jepang………Wait a moment !
Kak Simon, Vigo, dan Nara ada di Negeri Sakura. Oh………, aku pengen deh lulus SMA-kuliah di Jepang, hopefully !

*******
12
Schedule satu minggu sampai lulus SMA:
Senin :
- Pulang sekolah langsung les MaFiKim.
- Sebelum tidur, hafalin kosa-kata Bahasa Jepang.
Selasa :
- Pukul 4 sore belajar matematika bareng Oscar.
- Ngafalin kosa-kata Bahasa Jepang lagi.
Rabu :
- Les mapel yang di-UAN-kan
Kamis :
- Les Bahasa Inggris
Jum’at :
- Belajar MaFiKimBio
Sabtu :
- Refresing
Minggu :
- Free Schedule

Note : Schedule harus dipatui !
Motivasi : - Agar lulus UAN
- Mau ke Jepang kan?^_^)
Selama hidupku-hingga 16 tahun usiaku, baru kali ini aku mempunyai schedule mingguan (selain jadwal mata pelajaran). Benar, mimpi dan obsebsi telah merubah diriku. Semula, aku paling tidak suka dengan aturan, tapi karena irregular love-ku yang benar-benar seperti segita sebarang-aku membuat aturan sendiri untuk hari-hariku. You believe me? Selama satu setengah tahun, aku mematuhi schedule tersebut. Ditambah aturan :
- No boy,
- No chatting,
- No hura-hura, titik.

Hingga………..balik halaman berikutnya !
*******
13

Hari kelululasan yang telah lama kutunggu…..come true !
“ Chel….Chelsa!” Oscar memanggil namaku. Dengan senyuman, dia mengejar langkahku.
“ Minta tanda-tangannya donk !” ucapnya memberikan spidol warna biru padaku.
“ Dimana ?”
“ Di sini !” Oscar menunjuk lengannya. “Nara pesan sama aku untuk minta tanda tangan kamu di bajunya dia.”
“ Jadi ini bajunya Nara?” tanyaku melirik logo nama yang tertera di baju yang dikenakan Oscar. Benar saja nama yang tertera “ Theevo Nara Aleno” bukan “Piala Oscarano”.
Oscar mengangguk. “ Nara memintaku untuk mengenakkan baju seragam miliknya di hari kelulusan” ucap Oscar.
“ Car, kamu jadi ambil beasiswa study ke London itu?” tanyaku mengalihkan tema pembicaraan. Sudah satu setengah tahun aku tidak menulis nama “Nara” di diary-ku. Bahkan, aku telah lupa niatku yang semula rajin belajar karena ingin kuliah di Jepang dan bertemu dengan Kak Simon, Nara, ataupun Vigo. Apa kabar mereka? Ah, entahlah, kuharap kabar yang akan kudengar-Vigo sembuh dari sakitnya, hopefully.
Oscar mengangguk. “ Kamu sendiri gimana Chel? Beasiswa ke Jepang itu kamu terima”
“Tidak!”
Really, aku tidak pernah menduga akan mendapatkan kesempatan kuliah di Jepang melalui beasiswa prestasi. Semula, target utamaku hanya lulus UAN. After that, mungkin aku akan melanjutkan study di Universitas Swasta yang tentu bakal mengorek kantong ortu-ku. Aku jadi ingat, kata-kata guru agama-ku ketika ‘detik-detik’ menjelang UAN, “ Siapa yang bersungguh-sungguh-maka dia akan mendapat!”
“ Tidak? “Ucap Oscar dengan penekanan tanda tanya.
Aku mengangguk.
“Tapi, kamu sangat menginginkan beasiswa itu kan, Chel?”
“Ada kalanya pikiran kita bisa berubah!”
“Seperti kamu yang berubah 100% dari segala resolusi dan impian?”
“Aku hanya lari 50%, Car!” ralatku.
“Maksud kamu, Chel?”
“Aku akan tetap ke Jepang.”
“Study kamu, Chel?”
“Masih ada tahun depan kan, Car?”
*******
Bandara Soekarno-Hatta
Mama, Papa, Dio, Dhea, Mia, dan Anita mengantarku ke bandara. Perpisahan yang mengharukan, “ I will miss you all !” .
Setelah ini, aku akn menemukan kehidupan ‘baru’. Kehidupan dimana tidak banyak orang mengenalku. Tidak sebanyak di kota kelahiranku-Jakarta. Sepertinya, dunia seluas daun talas tidak akan berlaku lagi. Mungkin, hanya Vigo dan Nara yang kukenal. Tapi, aku juga tidak memberi tahu mereka bahwa aku akan melanjutkan study ke Jepang.
Aku sudah membayangkan sakura-sakura indah di Jepang. Tapi, lebih dari itu aku telah membayangkan akan bertemu Kak Simon. Semoga saja, karena jujur aku sendiri tidak tahu alamat Kak Simon di Jepang, aku harap dia juga berada di Kota Tokyo. Dengan demikian, kemungkinan bertemu akan semakin besar, kuharap teori dunia seluas daun talas terjadi pada diriku, hehehe……^_^ only a majas!
I have a dreem…………….and the dream……………
Mimpi……………………
Obsebsi……………..
Come true !
Jika aku hanya bermimpi, aku tidak ingin bagun dari mimpi indahku. Aku mencubit pipi-ku. Really….. aku tidak bermimpi ! it’s real !
*******
14
Indahnya bunga sakura di sana
Takkan seindah kisah cintaku

Apa benar lirik lagu itu pantas untuk kisah cintaku? Apa benar itu kenyataan cintaku? O, cintaku yang irreguler-tidak beraturan-seperti lingkaran tanpa titik pusat (emangnya ada ya?)
Sakura-sakura yang indah, I like spring season!
Aku tetap ceria setelah perjalanan panjang dari Bandara Soekarno-Hatta. Banyak sekali orang-orang bermata sipit membawa papan nama orang yang sedang ditunggu. Aku mencari orang dari apartemen yang menjemputku. Papa sudah mengurus tempat tinggalku selama di Tokyo. Maklumlah, aku baru pertama kali tinggal terpisah dari keluarga.
In the Apartemen
Memang di saat lelah tidur adalah obat paling mujarab memulihkan tenaga. Tapi, tidak bagiku untuk saat ini. It is not good timing for it. By the way, aku punya target hari ini. Aku harus berubah dari Chelsa yang tidak peduli melihat di kolom keterangan rapor ada kata “REMEDIAL”, hari ini akan menyusun target di Negeri Sakura.
Aku tahu dunia ini pada kenyataannya tidak seluas daun talas-bak ibarat pepatah. Tapi, siapa yang dapat menduga bahwa hari ini atau mungkin satu jam ke depan atau malah sedetik lagi ada yang mengetuk pintu dan di depannya berdiri orang yang sedang aku pikirkan.
Jangan tanya padaku sebuah nama yang sedang aku pikirkan! Tapi, tanyalah tiga nama di masa laluku-aku akan sebutkan. Kamu ingin menebak nama itu? Gunakan indera keenammu? Kamu percaya akan adanya indera keenam yang bisa melihat masa depan?
Guru Biologiku pernah bilang yang disebut indera keenam itu bukan sebuah indera yang dapat melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi, ketika kamu berada di ruang yang tiada cahaya, kamu akan tetap dapat berjalan dengan feel di rumahmu untuk mencari dimana lilin atau korek api berada.
Apakah aku bisa mencari dengan feel di mana Vigo, Nara, dan Kak Simon berada?
Seandainya aku mau, aku bisa tanya Oscar dimana alamat Vigo dan Nara. But, aku nggak siap bertatap muka dengan mereka. Apalagi jika aku harus melihat Vigo di rawat di rumah sakit. Aku harus menerima kenyataan bahwa Vigo dan Nara adalah saudara kandung. Tiba-tiba, aku berpikir untuk pergi jauh dari kehidupan mereka. Tapinya lagi, mereka mampu memotivasi aku-seorang siswi yang mendapat senyum memble di kertas ujian berhasil lulus UAN. Bahkan, aku rela menunda waktu untuk kuliah tahun ini. Bilang aku bodoh, bilang aku bego, tapi itulah aku, it really me! Chelsa.
Lagi-lagi aku harus bilang “Tapi”; Tapi, aku ingin bertemu mereka lagi. Tapi, aku tidak tahu siapa yang kumau. Tapi, aku juga sangat berharap bertemu my first love “Kak Simon”.
Bilang aku plin-plan. Bilang aku nggak punya pendirian. Tapi, inilah yang aku rasa. Inilah sebuah rasa hati anak manusia. Aku merasa sendiri. Aku kesepian dalam cinta. Tunggu! Aku teringat sebuah buku pemberian Nara yang ia titipkan pada Oscar. Kenapa aku bisa lupa untuk membacanya? Padahal semenjak Oscar memberikannya di bandara, aku sudah setengah mati karena penasaran.
Aku melirik buku yang kuletakkan di atas karpet-membiarkannya begitu saja. Ternyata sebuah novel. Sejak kapan Nara suka baca novel?
But, nggak penting! Yang penting sekarang aku penasaran. Penasaran ingin tahu cerita novel ini. Penasaran kenapa Nara memberikan novel ini padaku. Padahal, Nara tahu dan mengerti, aku bukan penggemar novel.

Asrama, Oh No !
“ Oh no, ini hanya mimpi buruk !” teriak Cinta tak percaya. Ia mencubit pipinya, menepuk-nepuk kedua tangannya saling bergantian kiri dan kanan. Dia meyakinkan dirinya sendiri kalau apa yang didengarnya hanyalah sebuah ilussi.
Di hadapannya berdiri wanita setengah tua, Nyonya Hatmoko, janda kaya pemilik banyak hotel Almarhum Hatmoko. “ Kamu tidak mimpi Cinta !” tegas wanita yang meskipun usianya telah melibihi setengah abad namun tetap berkarir.
“ Oma, Cinta nggak mau masuk asrama!” rengeknya manja, Cinta nggak mau harus tinggal seperti di penjara. Dunia ini masih luas oma, Cinta masih perlu melihat banyak hal.”
Nyonya Hatmoko mendekati cucunya yang tinggal semata wayang tersebut. Sebenarnya dulu, Nyonya Hatmoko mempunyai tiga orang cucu yaitu kakak dan adiknya Cinta. Namun, sebuah kecelakaan pesawat tujuh tahun lalu itu telah merengut nyawa kedua cucunya itu. Tidak hanya itu, kedua orang tua Cinta, Arman Dewantara dan Tiara Hatmoko meninggal dalam insiden tersebut.
“ Cinta, oma tidak melarang kamu untuk melihat dunia yang luas ini. Tapi, oma khawatir_”
“ Khawatir apa oma ?” timpal Cinta,” apa oma takut kalau Cinta juga akan tewas dalam kecelakaan pesawat ?”
Nyonya Hatmoko terdiam sejenak. Memorinya kembali pada peristiwa tragis tersebut. “ Cinta, oma memang takut kehilangan kamu. Tapi, oma punya alasan sendiri kenapa kamu harus masuk asrama.”
“ Oma, Cinta sudah punya jadwal travelling dalam sebulan ini. Besok rencananya Cinta akan melihat bunga sakura bersemi di Jepang, sabtu depan Cinta sudah pesan tiket pesawat jurusan Itali. Setelah tiga hari di Itali, Cinta akan lanjut ke Paris melihat Effel plus shoping. Hari rabu_”
“ Itulah alasan utama oma, Cinta !” Nyonya Hatmoko memotong cerita Cinta tentang rencana travellingnya bulan ini. Sejak orang tua dan kedua saudaranya meninggal dalam kecelakaan pesawat, Mutiara Cinta Dewantara menghabiskan setiap waktunya untuk pergi ke mana yang dia suka dengan selalu menggunakan pesawat, berharap dia juga akan menyusul keluarga yang sangat dicintainya.
“ Apa oma takut uang oma akan habis karena Cinta selalu mondar-mandir luar negeri?”
“ Bukan masalah uang Cinta.”
“ Lantas ?”
“ Oma tidak suka kamu terus bertanya, karena apa pun yang terjadi oma akan tetap memasukkan kamu ke Disciplin School. Besok pagi, Mang Jamal akan mengantar kamu.” Tegas Nyonya Hatmoko,” Tak perlu berusaha untuk kabur seperti tahun lalu saat oma akan memasukkan kamu ke Disciplin School dan kamu harus tinggal di asrama sekolah tersebut !”
“ Siapa yang menjamain Cinta tidak akan kabur ?” ancam Cinta.” Lihat saja nanti Cinta akan pergi meninggalkan rumah ini !”
Nyonya Hatmoko tersenyum [ Cinta… Cinta… mau kabur kok bilang-bilang ] “ Kamu bisa lihat ke bawah !” ucap Nyonya Hatmoko,” Oma sudah belajar dari pengalaman.”
Oh My God ! help me ! ucap Cinta dalam hatinya. Rumah mewah Nyonya Hatmoko sudah di kepung banyak pengawal.” Oma keterlaluan !” ujar Cinta.
“ Terserah….!” Ucap Nyonya Hatmoko sedikit mengangkat bahu,” Berkemas-kemaslah Cinta !” Nyonya Hatmoko meninggalkan cinta di kamar seorang diri.
Namun, berada seorang diri di kamar saat ini adalah yang terbaik pikir Cinta.” Aku harus melakukan sesuatu ! harus !” Cinta berpikir sambil mondar-mandir siapa yang bisa membantunya mengatasi penjaga-penjaga sialan itu?
Tiba-tiba, diingatannya muncul sebuah nama, “ Mayo ! ya Mayo ! dia punya banyak ide gila !” ujar Cinta sedikit lebih tenang.
Cinta memencet dua belas angka di ponselnya. Dari ganggang ponsel pink tersebut terdengar suara, “ Apa?!! Nolongin lo kabur lagi ?”
“ Lo nggak mau nolongin gue ?” Cinta balik tanya.
“ Bukannya gitu Cin ! Tapi, lo udah kabur berapa kali dari ‘istana’ nenek lo itu ?”
“ Ah, itu nggak penting! yang penting nanti malam lo atasi penjaga-penjaga di rumah oma gue !” Cinta memutuskan telepon. Padahal, mayo belum memberi kepastian akan menolongnya atau tidak. Cinta bosan menjawab pertanyaan Mayo yang sepertinya tidak suka dia kabur dari rumah. Tapi, Cinta yakin meskipun demikian, Mayo akan menolongnya.

Berkat Kopi-Susu
Mayo memarkirkan motor bebeknya setengah kilometer dari rumah Cinta. Selanjutnya, pemuda berkulit putih itu berjalan dan baru berhenti di balik sebuah pohon depan rumah Cinta. Dia mengawasi para penjaga rumah mewah itu.” Penjaganya banyak buanget. Nyonya Hatmoko pasti sudah mengira cucunya yang badung itu akan kabur,” gumam Mayo,” Cinta…, Cinta…, kapan siy lo mau tobat ?”
Mayo tidak mau berlama-lama memikirkan ulah Cinta. Segera dia membuka ransel hitamnya. Dikeluarkannya dua botol kopi-susu yang telah disiapkan dari rumah. “Sepertinya kopi-susu ini tidak cukup untuk penjaga sebanyak itu. Jumlah mereka sepertinya lebih dari dua puluh orang. Tapi, bukan Mayo namanya kalau tidak siap sedia !” ucapnya membanggakan diri sendiri.
Mayo kembali memasukkan tangannya ke dalam ransel. Benda apalagi yang akan dikeluarkan? Ooh….rupanya ransel Mayo cukup ‘ajaib’, dia mengeluarkan sebuah kotak yang sering di pakai para pedangang di terminal. Di dalamnya sudah terisi gelas-gelas plastik dan kue coklat kering. Pemudah 16 tahun itu mendekati pagar rumah Nyonya Hatmoko.
Mayo memberi senyuman. “ Permisi pak! Malam-malam begini kalau bergadang asyiknya ditemani kopi-susu, masih hangat loh pak !”
Para pengawal itu saling bertatap mat. Saling ‘bertelepati’ menyelidik apakah pemuda penjual kopi-susu itu punya niat buruk. “Wajah kamu tidak seperti sering terkena panas matahari.” Ucap salah seorang penjaga sembari memain-mainkan tongkat kecil di tangannya.
“ Itu karena saya hanya jualan di malam hari pak.” Jawab Mayo asal,” Siang harinya saya berkerja sebagai OB di sebuah kantor. Jadi, tidak terkena panas matahari pak.”
“ Hmm…” sungut penjaga tersebut. Dia memandang ke penjaga lainnya.” Sepertinya, dia tidak punya niat jahat,” bisiknya.
“ Aku ngiler niy sama kopi-susu itu. Gimana kalau kita beli saja !” usul penjaga yang dari tadi sibuk melipat-lipat koran di tangannya.
“ Berapa harga kopi-susu itu?” tanya kepala penjaga rumah keluarga Hatmoko.
“ Cuma seribu rupiah satu gelas pak !”
“ Kalau begitu, kami pesan dua puluh lima gelas !”
“ Baik pak !” jawab Mayo senang. Dibagi-baginya kopi-susu yang hanya dua botol @ 600 mililiter menjadi dua puluh lima gelas.
“ Ada kuenya juga toh?” tanya kepala penjaga itu lagi.
“ Oh ya, kue ini bonus untuk yang membeli kopi-susu. Karena bapak-bapak semua sudah memborong kopi-susu saya, maka semua kue coklat ini saya bonuskan untuk bapak-bapak semua.”
Kepala penjaga rumah keluarga Hatmoko itu mengangguk-angguk [ sudah murah, pakai bonus segala lagi ! ]. Mayo membagikan kopi-susu tersebut kepada para pengawal rumah Nyonya Hatmoko.” Silakan mencicipi kue coklat juga ya pak !”
“ Mmm…kopi-susu buatanmu enak juga anak muda ! “ ujar salah seorang penjaga, ”beda dari yang lain.”
Mayo tersenyum penuh arti [ emank bener kopi-susu itu beda dari yang paling beda, he..he…he…].
Sementara itu, kamar pewaris tunggal keluarga Hatmoko, Mutiara Cinta Dewantara memperhatikan apa yang dilakukan Mayo di halaman depan. “ Nggak salah gue milih Mayo untuk nolong gue kabur dari rumah ini,” gumam Cinta,” Oma sebenarnya Cinta tidak ingin meninggalkan oma. Cinta sayang sama oma. Tapi, Cinta juga nggak mau tinggal di asrama, apalagi asrama Disciplin School.”
Tak lama para penjaga rumah keluarga Hatmoko tertidur pulas. “ Kopi-susu itu memang beda dari yang lain. Kopi-susu itu punya ramuan khusus ala Mayo! Selamat tidur sampai matahari esok sudah tinggi atau sampai Nyonya Hatmoko berteriak karena kehilangan cucu semata wayangnya !”
Cinta menyadari Mayo telah berhasil mengelabuhi para penjaga. Dia melihat situasi di luar kamarnya. Mencari-cari dimana Nyonya Hatmoko berada. Mudah bagi Cinta untuk mengetahui dimana neneknya pada pukul sepuluh malam begini.
“ Ternyata oma masih selalu melihat album foto keluarga sebelum terlelap dalam tidur.” Ucap Cinta sebari duduk di tepi ranjang Nyonya Hatmoko. Cinta membuka album bersampul biru tersebut. Baru saja pada lembaran pertama, matanya sudah berkaca-kaca. Dia menyadari air matanya akan segera jatuh.” Papa, Mama, Kak Ello, Jessica…! Cinta rindu semuanya.” Cinta tidak sanggup membuka halaman selanjutnya karena itu hanya akan membuatnya memutar kembali memori lama bersama keluarga yang dicintainya.
“ Oma, Cinta pergi dulu !”
Nyonya Hatmoko masih terlelap dalam tidurnya. Dengan mudah, Cinta dapat keluar dari rumah. Dia tidak perlu susah payah keluar lewat jendela. Seluruh pembantu di rumah itu sudah dia beri hadiah coklat yang bisa membuat mereka terlelap sampai pagi.
Di halaman depan, mayo telah kembali dengan membawa motor bebek yang tadi di parkir setengah kilometer dari rumah Nyonya Hatmoko. Tanpa berbicara apa pun, Cinta duduk diboncengan belakang. Mayo segera tancap gas menjauh dari rumah itu.
“ lo memang pintar Yo !” ucap Cinta, “kali ini gue mengakui kehebatan lo.”
“ Tapi, kenapa lo kabur lagi ?” tanya Mayo,” lo ingat kan setahun lalu, gue harus jadi banci karena nolong lo kabur.”
“ Ha…ha…ha…” cinta tertawa mengingat peristiwa itu.”
“ Eh, ketawa lagi !” goda Mayo,” Akhirnya lo pulang lagi kan !”
“ Ya, habis oma pakai bilang sakit keras segala ! kali ini gue nggak bakal percaya lagi. Apa pun berita tentang oma, itu pasti buat ngelabuin gue aja biar mau pulang.”
“ Kalau seandainya oma lo benar kenapa-napa gimana?” ujar Mayo.
“ Eh, lo kok pakai motor bebek siy?” Cinta mengalihkan pembicaraan,” Nggak kerenkan kabur pakai motor bebek !”
“ Yeh…yang pentingkan ide gue keren !”
“ Nggak keren-keren amat kok, standar kelas menengah lah !”
“ Hhuu…tapi kalau orangnya kelas tinggikan?”
“ Dasar, narsis lo belum hilang-hilang juga !” ledek Cinta.
“ Mayo Saputra”

Black Dukc
“ Cin, kita mau kemana niy ?” tanya Mayo setelah berada cukup jauh dari rumah keluarga Hatmoko.
“ Jepang.” Jawab Cinta santai.
“ What ?!!”
“ Gitu aja kok kaget ?”
“ Mutiara Cinta Dewantara, mana mungkin kita ke Jepang pakai motor bebek begini?”
“ Mayo Saputra, siapa juga lagian yang bilang kalau kita ke Jepang pakai motor bebek.” Ujar Cinta.
“ Terus, pakai apaan donk?”
“ Ya ampun, pakai pesawat dodol !”
“ Emanknya ada ya pesawat Indonesia mereknya dodol? Setahu gue_”
“ Hy, lo ko jadi oon lagi siy? Padahal tadi gue udah muji lo pintar.”
“ Abis lo becanda mulu siy !” timpal Mayo,” Mau ke Jepang, paspor lo bawa’ nggak?”
“ Ah, gue lupa !” teriak Cinta.
“ Udah gue duga !” ucap Mayo spontan.
“ Kalau gitu kita ke Bali aja !” ujar Cinta,” kan nggak perlu pakai paspor.”
“ Uang lo bawa’ nggak?” tanya Mayo lagi.
“ Ah, dompet gue ketinggalan juga !” teriak Cinta lebih kencang .
“ Berisik tahu Cin.” Ucap Mayo,” Gue udah tau. Dasar lo nya aja tulalit !”
“ Kok lo bisa nebak kalau gue nggak bawa’ duit dan paspor?” tanya Cinta heran. Setahunya, selama ini feeling Mayo jarang yang betul, apalagi untuk punya indera keenam, boro-boro deh !
“ Jelas aja gue tau ! lo aja kabur nggak bawa’ tas.” Ujar Mayo.
“ Ya ampun, gue kok bisa lupa bawa’ tas siy?” ujar Cinta,” sekarang gimana donk?”
“ Auuu…” ucap Mayo sok cuek. “Sekarang perut gue lapar ! kita isi dulu seka;I gus bensin motor gue !”
“ lo kan tau duit gue ketinggalan !” timpal Cinta
“ Ya mau nggak mau pakai uang gue.” Ucap Mayo,” habis lo kabur nggak bermodal siy !”
Cinta nyengir. Tapi, jauh di lubuk hatinya dia berterima kasih pada Mayo, sahabatnya dari Taman Kanak-Kanak yang selalu membantunya.
Keesokkan paginya….
Rumah keluarga Hatmoko
“ Apa ?!! Cinta tidak ada di kamarnya?” Nyonya Hatmoko kaget mendengar laporan kepala pembantu rumah tangga yang baru terbangun dari tidur lelap akibat coklat pemberian Cinta.” Bagaimana mungkin Cinta bisa kabur ? Saya sudah memasang penjaga sebanyak dua puluh lima orang !”
“ Maaf Nyonya, sampai sekarang semua penjaga masih tidur,” jelas kepala pembantu rumah tangga keluarga Hatmoko.
“ Apa masih tidur ?!!” Bangunkan mereka dan perintahkan agar segera pasang berita di seluruh surat kabar !” perintah Nyonya Hatmoko emosi.
“ Ba…baik Nyonya.”
Sementara itu, di taman kota…..
Mentari pagi menembakkan cahaya di mata Cinta yang tadi masih tertutup. Dia mengeliatkan tubuhnya. Rupanya semalaman dia tidur di kursi panjang taman kota. Cinta melihat sekitar, mencoba mencari di mana Mayo berada. Tapi, percuma hanya ada jaket Mayo yang semalam diselimutinya pada Cinta [Mayo, makasih] batin Cinta ketika menyadari jaket Mayo ada padanya. Cinta terus melirik ke kiri, kanan, belakang, depan, lagi-lagi percuma yang terlihat hanya motor bebek Mayo yang diparkir di bawah lindungan sebuah pohon besar.” Dimana Mayo ?”
“ Duaar…..!”
“ Ah….!” Sontak Cinta kaget,” Mayo !”
“ Niy baca !” Mayo menylurkan sebuah koran.
“ Sejak kapan lo suka baca koran ?” tanya Cinta sembari tangannya menerima koran dari tangan Mayo, “ Perasaan lo sama sekali nggak suka baca apa pun. Ya, kecuali Doraemon.”
“ Perhatian niy ye…!” goda Mayo
Cinta pasang wajah bete. Dia melemparkan koran pagi tersebut kembali ke tangan Mayo. Matanya yang bening memberi tatapan kesal.
“ Eh sorry deh ! marah ya ?” Mayo kembali menggoda Cinta.
Kali ini Cinta merebut koran dari tangan Mayo, berniat ingin merobeknya.
“ Eh, stop ! jangan dirobek !” perintah Mayo.” Di dalamnya ada berita penting tentang oma lo.”
“ Kenapa sama oma gue?”
“ Oma lo ngancam kalau lo nggak pulang sampai jam dua belas siang beliau bakal bunuh diri.”
“ What?!! Bunuh diri?!! Masa bodoh,” ujar Cinta ,“ Gue tahu itu Cuma akal-akalan oma doank.”
“ Tapi, kalau itu benar gimana Cin?”
“ Ah, tenang aja nggak bakal jadi kenyataan kok ancaman oma,” ucap Cinta,” By the way lo nggak skul hari niy Yo?”
“ Gue bolos habis gue kan harus nem_” ucapan Mayo terhenti.
“ Kenapa Yo, lo pusing? Kalau pusing jangan megangin perut donk, orang pusing itu_” nasehat Cinta terputus
“ Ha….!”
“ Lo bener-benar sakit perut Yo ?” tanya Cinta.
Mayo tak berkata apa pun. Dia duduk disamping Cinta sembari terus memegang perutnya. Ekspresi wjah Cinta berubah, gadis 16 tahun itu mulai khawatir terhadap sahabat kecilnya itu. “ lo nggak kenapa-napa kan Yo ?”
“ Perut gue bener-bener sakit Cin.”
“ lo punya penyakit maag?” tanya Cinta.
Mayo menggeleng. “ Tadi pas bangun gue langsung cari makanan, yang ada Cuma rujak, karena lapar gue sampai makan tiga porsi,” cerita Mayo.
“ lo gila ya? Pagi-pagi buta gini makan rujak.” Omel Cinta,” lagian tukang rujak mana pula yang jual rujak jam segini?”
“ Ha…!” Mayo tiada kuasa lagi menahan sakit perut.
“ Mana kunci motor lo ?”
“ Buat apaan ?” tanya Mayo dengan terus menahan rasa sakit.
“ Ya buat nganterin lo ke rumah sakit lah. Mana cepetan bawa’ sini tuh kunci !”
Mayo pun menyerahkan kunci motoe bebek hitamnya yang dijuluki oleh teman-teman sekolahnya black duck, keren bukan ?
“ Cepetan naik !” perintah Cinta ketika menghentikan balck duck di hadapan Mayo. Mayo menurut karena rasa sakit diperutnya membuatnya tak berdaya menghadapi celotehan Cinta.

Pulanglah Cinta !
“ Hhuu…akhirnya perut gue udah mulai nyaman lagi.” Mayo menepuk-nepuk perutnya.
“ Kelihatannya lemak-lemak di perut lo perlu pembakaran biar jadi energi. Tapi, bukan dengan rujak di pagi hari,” komentar Cinta,” Tapi, dengan rajin olahraga. Jogging kek, swimming kek, atau_”
“ Atau kakek-kakek kek ! enak aja lo,” Mayo tak setuju,” perut gue nggak buncit tahu !”
“ Tadi aja pas sakit nggak bisa coment apa-apa,” sindir Cinta,” Sekaran bawelnya_”
“ bawelnya apaan?” Mayo pura-pura penasaran menunggu jawaban Cinta. Padahal dia sudah menduga apa kata selanjutnya yang akan terlontar dari Cinta, gadis keturunan Belanda dan Jepang. Komplit deh akulturasi dari penjajah. Pantesan dia selalu menjajah gue, pikir Mayo, [ Tapi, wajah lo unik juga Cin!] . Meskipun masih keturunan Belanda dan Jepang, Cinta sama sekali nggak ngerti bahasa kedua negara tersebut.[Oh ya gue lupa Cinta juga keturunan Minang, Manado, dan Jawa. Busyet…bayangin sendiri deh wajahnya, tapi cantik siy.] Mayo senyum-senyum sendiri.
“ He…lo kenapa ?”
“ Ah….”
“ Tuh kan nggak connect !” tuduh Cinta.
“ Eh, sorry blaster !”
“ Blaster ?” tanya Cinta heran.
“Ups ! Mayo keceplosan dibuat oleh terawangan pikirannya.” Maksud gue motif baju orang itu. Eh, Cinta_”
“ Kenapa ?”
“ Itu kan oma lo !” Mayo menunjuk seorang wanita setengah tua berjalan dengan seorang dokter. Bagi Cinta, wajah dokter itu tidak asing lagi. Dengan mudahnya Cinta dapat mengenali Dokter Arnold, dokter pribadi keluarga Hatmoko.
“ Ah, gawat ! Mayo, kita ngumpet dimana niy ?” tanya Cinta khawatir kalau saja omanya dapat melihat dirinya.
“ Tenang saja. lo berdo’a aja agar oma lo di simpang empat rumah sakit itu belok kiri atau kanan. Jangan sampai lurus !” nasehat Mayo.
Cinta dan Mayo berharap Nyonya Hatmoko tidak akan menuju jalan yang lurus.
“ Gue lebih berharap oma belok kanan, karena itu artinya oma akan menuju pintu keluar rumah sakit,” harap Cinta.
“ I hope so,” ujar Mayo sembari matanya tertuju pada Nyonya Hatmoko dan Dokter Arnold yang berhenti di tengah-tengah simpang tersebut.
“ 1, 2, 3….” Hitung Mayo dan Cinta serentak,” 3, 2, 1….”Hhu, syukurlah oma belok kanan.
“ Tuh kan apa kata gue. Ide Mayo Saputra memang paling hebat.” Lagi-lagi Moyo membanggakan diri.
“ Tapi, Dokter Arnold ke sini ! kita mau lari kemana ? kalau kita balik arah di sana kan kamar mayat ! “ sahut Cinta panik.
“ Tenang lo ikutin gaya gue !” Mayo membalikkan badannya menghadap ke dinding. “ Dokter Arnold kan jarang ketemu lo. Paling juga dia nggak bakal ngenalin lo dari belakang.”
“ Lo yakin ?” tanya Cinta yang masih panik.
“ Dari depan aja Dokter Arnold juga nggak bakal kenal ama gue.”
“ Ya jelas aja dia nggak bakal ngenalin lo. Lo ama Dokter Arnold kan emang nggak saling kenal sebelumnya.” Celoteh Cinta,” lo masih sempat aja bercanda yang nggak penting dalam situasi gawat darurat_”
“ Udah. Stop ! lo ikutin aja saran gue !” perintah Mayo,” Balik kanan grak !”
Kali ini Cinta menurut. Tak ada pilihan lain. Biarpun Mayo cowok berkulit putih sering ngelantur tapi idenya selalu ada-ada saja di saat-saat gentir.
Langkah kaki Dokter Arnold terasa makin dekat di telinga Cinta dan Mayo. Dokter muda itu pun merasakan keanehan, dia melirikkan matanya yang biru ke samping kiri. Sepasang remaja yang gelisah di tangkap oleh penglihatannya. Dokter Arnold menghadapkan tubuhnya ke kiri. Dia tatap kedua sosok remaja itu dengan teliti. Kemudian, dia tersenyum tipis, kepalanya dia geleng-gelengkan.
“ Cinta, lagi ngapain ?” sapanya
“Sontak Cinta kaget luar biasa. Mayo spontan menggarut-garut kepalanya yang tak gatal. Mayo melirik ke arah Cinta dengan senyuman kaku karena idenya 100 % gagal total.
“ Eh, Dokter Mayo !” Sapa Cinta gugup. “Cinta pulang dulu ya…”
“ Tunggu Cinta !” pinta Dokter Arnold, ” Saya mau bicara sebentar.” Cinta menghentikan langkahnya. Begitu juga Mayo yang hanya bisa memasang tampang polos.
“ Tadi oma kamu ke sini.”
“ Ah, yang benar Dok ? “ tanya Cinta pura-pura tidak tahu. Mudah-mudahan oma nggak cerita sama Dokter Arnold kalau aku kabur dari rumah, batin Cinta.
Nyonya Hatmoko memang sangat percaya pada Dokter Arnold. Tak jarang Nyonya Hatmoko menceritakan masalah pribadinya.
“ Cinta pulanglah !” pinta Dokter Arnold,” pulanglah untuk omamu Cinta !”
Dugaan Cinta betul, Dokter Arnold telah mengetahui semuanya.” Nggak ! Dokter kan tahu kalau Cinta nggak mau tinggal di asrama. Oma tidak sayang sama Cinta sampai-sampai_”
“ Cinta, oma kamu sangat menyayangimu.” Timpal Dokter Arnold,” kadang apa yang kita pikir, jauh dari fakta yang ada.”
“ Tapi, oma nggak punya alasan yang logis kenapa Cinta harus tinggal di asrama.”
“ Alasannya karena beliau sangat menyayangimu Cinta.”
“ Sayang ?!!”
“ Iya, beliau ingin kamu terbiasa hidup tanpanya.”
“ Maksud Dokter ?”
“ Oma kamu mengidap penyakit kanker otak stadium akhir.” Jelas Dokter Arnold, ”Nyonya Hatmoko sengaja merahasiakan ini darimu agar kamu tidak sedih karena harus kehilangan satu orang lagi yang kamu cintai dalam hidupmu.”
“ Oma…” mata Cinta mulai basah. Perlahan air matanya menetes.
“ Pulanglah Cinta….pulanglah !” Dokter Arnold menepuk-nepuk bahu Cinta simbolis agar Cinta tabah. Kemudian, Dokter Arnold berlalu pergi. Tinggallah Cinta yang ditemani Mayo di sampingnya.
Mayo jadi slah tingkah. Semenjak kedua orang tua dan dua saudaranya meninggal dalam kecelakaan pesawat, Mayo tiada pernah melihat gadis cantik itu menangis. Air matanya seolah seolah telah habis saat harus kehilangan empat orang yang dicintainya dalam sedetik saja.
“ Cinta….duh…eh,” Mayo tak tahu harus bicara apa untuk menenangkan Cinta. “ Ahh…” tangisan Cinta semakin menjadi. Dia memukul-mukul dada Mayo. Kali ini Mayo tak membalas. Ditatapnya Cinta dengan rasa iba plus cinta. Cinta menangis dipelukkannya.

Go Back Home !
Black duck yang dikemudikan Mayo berhenti teoat di gerbang rumah keluarga Hatmoko. Cinta yang duduk diboncengan belakang masih terisak tangis. Matanya yang sipit semakin sipit karena sepanjang jalan dari rumah sakit dia tetap menangis.
“ udah nyampe Cin,” Mayo membuka pembicaraan karena sepanjang jalan tiada satu kata pun yang terucap dari mulut sepasang ABG itu. Cinta menangis, sementara Mayo jadi jiper nggak tahu harus ngapain buat bikin Cinta nggak sedih lagi.
Cinta turun dari black duck alias motor bebek berwarna hitam. Dia masih diam dengan tatapan kosong berdiri di samping kanan stang kemudi. Bahkan untuk membuka helm di kepalanya saja memberikan kesan butuh pertolongan. Entahlah, pikiran Cinta nggak berada dimana tempatnya berdiri. Mayo tanpa berkata apapun membantu Cinta membuka helm berwarna hitam itu.
Wajah Cinta mulai berekspresi. Matanya yang semula kosong ada wajah Mayo. Tangisannya kini sudah diwarnai sedikit senyum tipis.” Makasih Mayo !” ucapnya perlahan.
Mayo tersenyum. “ Selamat malam !” Mayo menghidupkan kembali mesin motor bebeknya.
“ Selamat malam !” balas Cinta dengan suara agak serak.
Mayo melajukan black duck. “ Gue kenapa siy ? kok jadi aneh gini ? tumben-tumbenan gue jadi salting di hadapan Cinta,” batin Mayo. “ Ah, bodoh deh gue kenapa ! tapi, Cinta lucu juga.” Sepanjang jalan pikiran Mayo terus pada Cinta. Sampai-sampai dia hambir nabrak nenek-nenek. Udah gitu masih belum kapok ngelamunnya, numbruk gerobak tukan bakso, terpaksa deh dia harus ganti rugi. Cinta emang butuh pengorbanan!
***
“ Oma maafin Cinta !” ucap Cinta memeluk Nyonya Hatmoko,” Cinta janji ini terakhir kalinya Cinta kabur dari rumah !”
Nyonya Hatmoko menitikkan air mata, batinnya berkata andaikan dia punya cukup banyak waktu untuk menemani Cinta.
“ Oma juga janji tidak akan berniat untuk memasukkan Cinta ke asrama lagi. Cinta boleh tetap Home Schooling,” ucap Nyonya Hatmoko.
“ Kalau Cinta sekolah di sekolah umum gimana Oma ?”
“ Tentu Oma akan bahagia. Karena di sekolah umum, Cinta akan punya banyak teman,” jawab Nyonya Hatmoko mengusap rambut cucu satu-satunya itu.
Cinta tersenyum. “ Oma !” Tuhan….beri Oma waktu yang lebih lama.
“ Sekarang mandi gi !” perintah Nyonya Hatmoko mencubit hidung Cinta. Oma, walau sudah divonis mengidap kanker otak stadium akhir, namun tetap memperlihatkan betapa kuatnya beliau, batin Cinta, Oma bertahanlah….
Cinta pun menurut. Dia menaiki anak tangga seolah dia belum mengetahui penyakit Nyonya Hatmoko, Oma yang sangat dicintainya.
Pikiran Cinta kembali kemana raganya berada ketika ponselnya berdering. Ternyata sebuah SMS dari Mayo.
[ Cinta, lg NgAps ? ]
Mayo, juga baru satu jam yang lalu berpisah….
[ G’ lg Ngap2in ! ]
Kembali ponsel Cinta berdering…
[ gmn Qm jd msuk asrama ? ]
Segera Cinta mengetik SMS balasan…
[Mmm…@da d…SuRpris3 ! ]


Happy Surprise And Bad Surprise !
Mayo berusaha agar matanya tetap terbuka memperhatikan pelajaran fisika yang paling bikin dia booring luar biasa.
{ kapan sich neh jam jalan ? kok di situ-situ mulu } batin Mayo { masih satu jam pelajaran lagi. Hhuu, rasanya satu detik aja lama banget ! }
Mayo kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ternyata handphone yang telah dipasangi headset, paling juga dengerin MP3. emank Mayo punya banyak ide aneh, biar nggak ketahuan Pak Bahlan dia meletakkan buku besar di atas mejanya dalam posisi ditegakkan. Setelah itu, Mayo terbang bersama mimpi dalam tidurnya.
Sampai-sampai dia tidak terbangun oleh hiruk pikuk kelas XI.IA.5 yang kedatangan murid baru. { cantik ! } batin siswa kelas itu yang sudah tidak sabar ingin berkenalan.
“ Hai semua ! Nama saya Cinta. Semoga kita bisa menjadi teman !”
“ Lebih dari teman pun aku bersedia !” ujar Radit.
“ Hhuuu....!” semua murid di kelas itu bagaikan paduan suara menyoraki Radit.
“ Sudah ! Semua tenang !” ujar Pak Bahlan. “ Cinta kamu duduk di sebelah Radit yach !”
Mau tak mau Cinta menurut karena tidak ada lagi bangku kosong di kelas itu. Radit memberi senyuman. Cinta membalas ramah. Namun, mereka harus menunggu hingga pelajaran usai agar dapat berbagi cerita.
Tampaknya siang itu, tak seorang siswa pun yang fokus pada pelajaran Pak Bahlan. Ada yang coret-coret buku menyalurkan bakat seni yang bukan pada jam pelajaran seni. Ada juga yang curi-curi kesempatan ber-SMS ria, mengkhayal ketemu pangeran impian, baca novel yang dilapisi buku fisika di luarnya agar tidak diketahui Pak Bahlan. Dan, yang paling parahnya Mayo. Udah taukan, sampai jam pelajaran fisika usai tetap aja masih molor.
Bel tanda istirahat siang berbunyi. Murid kelas XI.IA.5 SMA Jaya Bangsa berhamburan keluar kelas seperti pasukan yang siap bertempur saja. kecuali Radit, Cinta, dan Mayo masih berada di kelas.
“ Jadi, selama ini lo ikut program Home Schooling ?” tanya Radit setelah cukup banyak bertukar cerita dengan Cinta.
Cinta mengangguk. “ Dari SD kelas 2 gue udah ikut program Home Schooling, tepatnya semenjak_” Cinta menghentikan ceritanya. Dia tak mau mengingat lagi kecelakaan tragis itu.
“ Semenjak apa ?” tanya Radit penasaran.
“ Ah, nggak !” jawab Cinta singkat kemudian mengalihkan pembicaraan,” Loh, itu siapa ? Dia siswa paling rajin ya udah jam break masih baca buku ?”
“ Paling rajin apaan ?!!” jawab Radit sambil tertawa kecil. “ Dia lagi tidur bukan baca buku.”
“ Oh…” komentar Cinta singkat.
“ Kok Cuma oh..?” tanya Radit.
“ Terus ?” Cinta balik tanya.
“ Eh, tapi emank nggak penting juga sich, yang jelas dia itu sohib gue, meski pun kerjanya molor di kelas tapi hatinya baik kok!”
“ Promosi niy ceritanya ?”
“ Nggak lagi. Ngapain juga ge promosiin dia, lebih baik promosiin diri gue sendiri !” ujar Radit.
Cinta tak memberi komentar.
“ Eh, kita ke kantin yuk !” ajak Radit memecahkan keheningan sesaat. “ Energi gue udah terkuras karena ngelihatin rumus-rumus yang banyak !”
“ Boleh !” jawab Cinta menyetujui.
Tinggal lah Mayo seorang diri di kelas. Dia belum bangun-bangun juga. Wajar saja dia mengantuk luar biasa. Semalaman cowok penggemar bola itu bergadang mendukung tim favoritnya. Ditambah lagi dia nggak bisa tidur memikirkan kata-kata Cinta tentang surprise itu.
Akhirnya, Mayo bangun juga dari tidurnya. Dia mengeliatkan tubuh melirik ke ke kiri, kanan, depan, dan belakang. “ Anak-anak pada kemana ?” Kemudian Mayo melirik jam dinding yang tergantung di atas papan tulis. “ Pantesan aja anak-anak udah nggak di kelas, udah break time siy !” ucap Mayo, “Mampus deh gue jam istirahat tinggal sepuluh menit lagi ! perut gue kan butuh makan siang !”
Mayo segera menuju kantin….
“ Baksonya satu, sama jus jeruknya satu GPL ya Buk !”
“ GPL bumbu apaan tu Den Mayo ?” tanya Buk Saroh penjaga kantin sekolah polos.
“ Ya ampun….. Buk Saroh, GPL itu nggak pakai lama !”
“ Den Mayo ini bilang nggak pakai lama saja kok repot toh ! pake ngirit segala ngomongnya. Banyak ngomong nggak ada pajaknya kok Den Mayo !”
“ Aduh, Buk Saroh malah ngomentarin panjang lebar! Buruan bakso sama jus jeruknya !” ujar Mayo.
“ Sabar toh Den Mayo !” ucap Buk Saroh dengan logatnya yang khas.
“ Saya di meja nomor 7 ya Buk Saroh !”
“ Fine, Den Mayo !” ucap Buk Sarok sok English-English-an tapi tidak tahu cara membacanya. Sehingga tetap dibaca dengan alfabet Indonesia,” Wait for a moment !”
Mayo geleng-geleng kepala ingin tertawa. “ udah buruan bikinin bakso dan jus jeruknya !”
Mayo menuju meja nomor 7. Betapa kagetnya dia ketika melihat Cinta di salah satu bangku meja nomor 7. di sebelah Cinta ada Radit, Sobat karib Mayo dalam urusan sepak bola.
“ Cinta !” sapa Mayo heran,” lo kok bisa pakai seragam SMA Jaya Bangsa. Apa lo sekolah di sini ?”
Cinta tersenyum. “ It’s my surprise to you !”
“ Ha….gue senang banget lo sekolah di sini. Jadi, kita bisa lebih sering ketemu !” ujar Mayo sembari duduk di sebelah Cinta.
“ What ?!!” tanya Cinta yang tak percaya Mayo bicara seperti itu.
“ Eh….!!! Maksud gue eh…gue senang, eh…”
“ Kebanyakan eh lo Yo !” timpal Radit yang dari tadi heran kenapa Cinta dan Mayo sudah saling kenal ?
“ Kalian berdua udah saling kenal ?” tanya Radit untuk mengobati penasarannya.
Mayo dan Cinta saling berhadapan.
“ Ha…ha…! “ mereka kompak tertawa dan kemudian tersenyum. “ Kita udah kenal dari TK. Hhuu, dulu Cinta niy cengeng banget!”
“ Apaan siy Yo ! dulu Mayo itu pernah ngompol di celana, Dit !” balas Cinta.
“ Eh, dulu lo pernah lari-lari sampai manjat genteng sekolah karena takut disuntik !” ledek Mayo tak mau kalah.
“ Dulu lo juga pernah lari-lari sampai manjat pohon karena dikejar anjing. Eh, abis itu nggak tahu cara turunnya, ha…ha…” balas Cinta juga tak mau kalah.
Radit semakin bingung bin heran.” Cin, tadi kok lo nggak ngenalin Mayo yang lagi tidur di kelas ?”
“ Ha ! jadi yang tadi tidur di kelas itu Mayo ! Wajahnya tertutup buku siy !” ujar Cinta, “ Dasar penyakit tidurnya nggak hilang-hilang juga !”
Mayo ingin berkomentar melakukan konferensi pembantahan tapi ponsel Cinta berdering.
“ Halo !” sapa Cinta ramah kepada si penelpon.
“ Apa Dok ?”
{ Pasti Dokter Arnold } batin Mayo {ada apa yach ? }
Cinta menutup telpon. Wajahnya berubah sedih. Mayo dan Radit heran dan serentak bertanya, “Ada apa Cinta ?”
Selamat Jalan Oma!
Cinta berlari-lari di lorong rumah sakit. Tak peduli sudah berapa orang yang ditabraknya. Mayo dan Radit mengikuti dari belakang.
“ Dokter, bagaimana keadaan Oma ? Oma baik-baik aja kan Dok ? Oma nggak bakal kenapa-napa kan ?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Cinta.
Dokter Arnold dapat memahami apa yang dirasakan Cinta. Sudah lama dia mengenal remaja di hadapannya. Dia tahu Cinta anak yang tegar di balik semua sikapnya semenjak ditinggal orang-orang yang dia cintai.
“ Cinta, sebuah pepatah bijak mengatakan kita tidak butuh lebih banyak waktu, tapi kita butuh menggunakan lebih banyak dari waktu yang kita punya !”
“ Maksud Dokter apa ?”
“ Tenang Cinta ! Mungkin kamu hanya punya sedikit waktu untuk bersama Oma. Tapi, kamu bisa memanfaatkan dari sedikit waktumu itu. Masuk lah Cinta ! Oma ada di dalam. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Bertawakal lah Cinta !’ Dokter Arnold menepuk bahu Cinta simbolis memberingan semangat agar tabah. Mayo dan Radit tak dapat berbuat banyak. Dalam hati mereka berdoa agar Nyonya Hatmoko diberi kesembuhan.
“ Oma…., bangun Oma ! temani Cinta hidup di dunia in. Cinta nggak mau sendiri. Oma, maafkan Cinta karena selama ini Cinta telah menghabiskan banyak waktu untuk melihat sakura bersemi, kegermelapan Paris, mengamati kincir angin yang berputar seperti roda kehidupan di Belanda. Cinta terlalu berusaha membuang sisa usia sia-sia dengan terus naik pesawat, berharap akan menyusul Mama, Papa, Kak Ello, Jessica….., Cinta rindu…” ungkapan penyesalan Cinta ketika melihat Omanya yang selama ini berusaha terlihat sehat terbaring tak berdaya.
Seolah mendengar ucapan cucunya, Nyonya Hatmoko menggerakkan jemarinya.
“ Oma….” Seru Cinta yang menyadari Nyonya Hatmoko perlahan membuka mata.
“ Oma maafin Cinta !” ucap Cinta menangis sembari menggenggam jemari Nyonya Hatmoko.
Nyonya Hatmoko tersenyum. “ Cinta, Oma sayang kamu, sangat sayang. Tapi, Oma tak punya banyak waktu_”
“ Oma, jangan bilang begitu ! Hidup, mati, semuanya di tangan Tuhan. Jangan tinggalkan Cinta sendiri Oma !”
Nyonya Hatmoko seperti mersakan Sakharatul Maut akan segera menjemputnya. “ Cinta, Oma bahagia karena kamu sudah memahami makna kehidupa. Cinta, kamu tidak pernah sendiri. Tuhan selalu ada di dekatmu, Malaikat-malaikat-Nya akan melindungi Cinta, ada banyak orang yang mencintaimu Cinta !”
“ Oma, jangan tinggalkan Cinta, Cinta mohon Oma ! Tuhan, Cinta mohon jangan ambil nyawa Oma sekarang….”
“ AshaduAllah Illahailaulo waashaduanna Muhammadan Rasullullah_” ucapan terakhir Nyonya Hatmoko sebelum Malaikat Israil mencabut nyawanya.
“ Oma……!”
***
Di pemakaman Nyonya Hatmoko….
Hingga para peziarah telah pergi, Cinta masih terus menangis. { Aku sendirian, aku sebatang kara } batin Cinta { aku nggak punya siapa-siapa lagi }
“ Cinta, relakan kepergian Oma !” Mayo berusaha menghibur Cinta, “ Agar beliau bisa tenang di alam barunya !”
Cinta masih terus menangis tak mau beranjak dari pemakaman.
“ Gue ingin mati Yo, gue ingin mati !”
“ Please Cinta, jangan bicara tentang kematian lagi ! “ ucap Mayo, “ Kita memang pasti akan mati, tapi kita tak dapat mempercepat atau memperlambat kematian itu.
“ Benar Cinta !” tambah Radit, “ Lo nggak sendiri, ada banyak Cinta di sekeliling lo Cin, Ada banyak Cinta untuk Cinta !”
“ Selamat jalan Oma !” ucap Cinta terbata-bata, “ Sampai jumpa lagi Oma !”
Pewaris Tunggal
“ Cinta, Omamu telah mewariskan seluruh harta keluarga Hatmoko untukmu.” Jelas pengacara Keluarga Hatmoko, “ 33 hotel mulai dari Aceh hingga Papua, tujuh buah rumah, semua villa, kendaraan­­…”
“ Cukup Om !” Perintah Cinta. “Cinta akan mengurus semua itu di saat Cinta benar-benar sudah siap. Cinta tak mau dewasa sebelum waktunya, lagian Cinta juga masih di bawah 17 tahun.”
“ Om tahu !Dan, Almarhumah Nyonya Hatmoko memikirkan itu semua, kamu hanya perlu mengontrol laporan dari setiap hotel.”
“ Baiklah Om ! Oma memang mengerti Cinta !” kenang Cinta.
Bagus Satea, SH tersenyum. “ Cinta, Om tahu ini tidak mudah untukmu. Tapi, Om yakin kamu gadis yang kuat !”
“ Om, Cinta janji Om nggak akan pernah menyesal mengatakan itu !” ujar Cinta.
“ Om, tahu itu !” ujar Pengacara Bagus yang telah lama mengenal Cinta, bahkan dari Cinta masih bayi merah.” Kalau begitu, Om kembali ke kantor lagi !’
“ Terima kasih ya Om !” Cinta mengantar Pengacara Bagus sampai ke pintu depan. Mobil pengacara terkenal itu pun melaju. Tak lama, posisi parkir mobil marci Pengacara Bagus digantikan black duck milik milik Mayo.
“ Hy…jalan-jalan yuk !” ajak Mayo. Cinta menggeleng. Sebulan semenjak kepergian Omanya, Cinta banyak menghabiskan waktu di rumah melihat kenangan foto keluarga.
“ Kalo nggak mau ikut, gue bakal kebut-kebutan lagi !” ancam Mayo. Ancaman itu sebenarnya tidak serius. Mayo hanya ingin Cinta kembali menikmati hari-hari dalam hidupnya dengan keceriaan.
“ Jangan !”
Mayo senang melihat wjah Cinta yang mulai berekspresi lagi.
“ Ayo naik !” Bujuk Mayo, “ gue mau ngelihatin sesuatu !”
“ emanknya ada apa ?”
“ Makanya ayo naik !” bujuk Mayo lagi, “Lo nggak rindu dibonceng pakai black duck ?”
Cinta pun menurut. Ini pertama kalinya dia naik black duck sepeninggalan Nyonya Hatmoko.
“ Gitu donk !” ujar Mayo bahagia.
Sepanjang perjalanan Cinta menyadari betapa dia beruntung dari anak-anak yang juga tak punya orang tua lagi dan harus bekerja mencari recehan untuk makan. Sementara dirinya, diwarisi bergelimang harta.
“ Mayo, makasih yach !” ucap Cinta.
“ Makasih buat apa ?” tanya Mayo heran, “ kan kejutannya belum gue lihatin.”
“ Makasih karena lo udah ngajak gue ngelewatin jalan ini. Gue jadi tahu, kalo gue seharusnya bersyukur sama keadaan gue.”
Mayo bahagia mendengar ucapan Cinta. Sekarang, Cinta sudah punya cinta lagi, seorang Cinta belajar memaknai arti Cinta.
“ Eh, masih ada satu kejutan lagi loh !” ujar Mayo,” I hope you will_”
Ucapan Mayo terhenti karena ponsel Cinta berdering.
“ Halo Dit !” sapa Cinta.
{ Hhhu, ngapain Radit nelpon Cinta ? ganggu rencana gue aja ! } batin Mayo { Emanknya sohib gue yang playboy itu nggak punya jadwal nge-date ? }
“ Oh, Mayo….”
{ ngapain nama gue disebut-sebut ? } kata Mayo dalam hati { Ha, Cinta bilang ke Radit kalo gue Cuma teman biasa ?!! Patah hati deh gue…! }
“ Da…!” ucap Cinta menutup telpon.
Mayo udah nggak srek lagi buat kasih kejutan ke Cinta. Dia sudah patah hati duluan! Tapi, dia nggak rela dan berjanji nggak bakal ngebiarin Radit menjadikan Cinta korban ke-playboy-an cintanya.
“ Yo, tadi kejutannya apa ?”
“ Kayaknya lain kali aja deh Cin, coz black duck gue lagi bermasalah !” alasan Mayo, “ Harus dibawa ke bengkel neh ! nggak apa kan Cin ?”
“ Nggak apa-apa kok !” ucap Cinta,” Sekali lagi makasih Yo, lo udah buka mata hati gue kalo gue bukan orang paling malang di dunia.”
Di satu sisi, Mayo bahagia melihat Cinta punya semangat menjalani hari-hari lagi. Di lain sisi, dia kesal pada Radit. Meskipun Radit Sobat karibnya, namun untuk urusan cinta mereka sama sekali nggak kompak. Mayo susah untuk bilang cinta. Sementara Radit mudah sekali untuk bilang Cinta. Hari senin dia bilang cinta sama A, hari selasa bialng cinta sama B, hari rabu bilang rindu sama C. Hari kamis terpesona pada D. hari jum’at bilang nggak bisa tidur karena mikirin E. padahal hari sabtunya dia kencan dengan F. minggu tepe-tepe di lapangan basket cari gebetan baru, imisial gebetannya nggak bisa disebutin sayu persatu bisa penuh satu halaman kertas deh ! hebatnya dia bisa pasang tampang sok polos dan pemuda baik-baik. Cinta aja hampir masuk perangkapnya !

Janji Dua Sohib !
Setelah mengantar Cinta kembali ke rumah, Mayo melajukan black duck menuju arah rumah Radit. Sepuluh kilometer ke arah timur dari rumah Cinta, Mayo merem black duck. Mayo tak perlu lagi mengetuk pintu rumah bernomor 13 tersebut. Orang yang dicarinya tengah asyik bermain basket di halaman depan. Cowok tinggi putih bermata elang itu menghentikan permainannya. Melihat ke arah Mayo. Dia tersenyum seolah semua akan baik-baik saja.
“ Wah, kebetulan lo ke sini Yo. Main basket bareng yo’,bro !” ajak Radit sembari melempar bola basket ke arah Mayo.
Mayo menangkap bola dadakan tersebut. Dengan pasti dia melangkahkan kakinya mendekati Radit. Tanpa melihat ring, Mayo melempar bola, sedangkan matnya terus menatap lekat Radit.
“ Mayo, lo hebat ! tanpa ngelihat ring bolanya tepat sasaran !” Puji Radit yang masih belum menyadari kemarahan dimata Mayo.
“ Gue nggak suka lo dekat-dekat dengan Cinta !” ujar Mayo tanpa basa-basi.
“ Ha…ha…ha…!” Radit tertawa kemudian berucap, “ Lo kenapa Yo ?”
“ Gue nggak kenapa-napa ! Tapi gue bakal kenapa-napa kalo nggak jauhin Cinta !”
“ Maksud lo ?” tanya Radit heran, “emanknya Cinta itu siapa lo ? dia aja bilang Cuma temanan sama lo !”
“ Oleh karena itu gue nggak suka lo nyakitin teman gue, “ timpal Mayo, “ Gue udah lama kenal lo Dit. Gue tau bagaimana lo ! lo nggak pernah serius dengan cewek !”
“ Kalo kali ini gue bilang gue serius mencintai Cinta, apa gue nggak berhak menggapai Cinta gue,” ucap Radit, “ Gue bukan seorang pecundang cinta seperti lo Mayo. Gue tahu sebenarnya lo naksir Cinta tapi lo nggak tahu cara mencintai !”
Mayo terdiam. Dalam relung hatinya dia mengakui mencintai Cinta. Tapi, dia terlalu takut untuk ucapkan Cinta.
“ Kenapa lo Cuma diam, ah ?” ujar Radit. “ Lo takut bersaing sama gue ?!!”
“ Radit, lo pegang janji gue ! gue nggak pernah takut sama lo. Meski lo sahabat gue, kalo lo menantang gue, gue terima tantangan lo !”
“ Tantangan ?!! gue nggak bakal nantang lo Mayo. Bagaimana pun lo sahabat gue. Tapi, kalo Cinta mencintai gue, lo harus bisa terima itu friend !” ucap Radit kembali melempar bola ke arah Mayo yang berdiri hanya berjarak setengah meter darinya. Mayo menangkap bola itu pertanda dia setuju.
“ Oke ! tapi, awas kalo lo sampai menyakiti Cinta !” ancam Mayo.
Dua sahabat kecil yang sama-sama memiliki mata elang itu bertatapan penuh amarah.
Mayo tak ingin berlama-lama berada dalam keadaan seperti ini. Segera dia nyalakan mesin black duck melaju sekencang mungkin. Sementara itu Radit melanjutkan permainan baske. Namun permainan terhenti saat ponselnya berdering.
“ Ya Joen ! kenapa ?” sapa Radit mengangkat telpon tanpa ucapan Halo, karena yang menelpon adalah Joe, alias Jono. Dipanggil Joen karena nggak suka dipanggil Jono yang katanya dia siy sama sekali nggak keren. Joen itu ‘maneger’ Radit yang ngurusin jadwal nge-date.
“ Gue cuma mau ngingetin kalo hari ini pukul empat sore lo punya janji mau ke mall bareng Novia. Dan malamnya, ada janji dinner sama Devi.”
“ Ah, lo batalin semua janji Joen !” perintah Radit, “ apa pun janji gue minggu ini batalin semua !”
“ Kok dibatalin ?” tanya Joe heran, “ Lo udah tobat nggak jadi playboy lagi ?”
“ He, bukan Radit kalo tobat nggak jadi playboy lagi !” ujar Radit membanggakan diri, “ Radit pasti akan mendapatkan cewek yang jadi gebetannya !”
“ Terus kenapa dibatalin ?”
“ Gue lagi pedekate sama Cinta.”
“ Cinta yang mana ?”
“ Mutiara Cinta Dewantara.”
“ Ah, Mutiara Cinta Dewantara ?!! Dia kan pewaris tunggal Keluarga Hatmoko yang punya hotel dimana-mana.”
“ Betul. Kalo gue bisa dapetin dia, berarti gue bisa mengambil alih harta keluarganya. Gue kira, kalo gue minta mobil keluaran terbaru nggak bakal ngaruh.”
“ Ah, terserah lo deh Dit ! Tapi, gue meski siap-siap neh dikejar-kejar sama para cewek lo.”
“ Asyik kan dikejar-kejar cewek !” ujar Radit ingin tertawa, “ udah kayak selebritis hollywood aja lo Joen !”
“ Asyik apanya ?!! mereka bukan ngefans sama gue. Tapi, bakal nguber-nguber gue dan nanyain keberadaan lo !”
“ Bilang aja gue lagi terkena penyakit menular !” perintah Radit.
“ Ntar kalo beneran mampus lo !”
“ Ah, udah dulu Joen. Gue lagi main basket !” Ucap Radit menutup telpon, “ Da Jone eh Joen…!”
“ Hhuu, udah berapa kali gue bilang, panggil gue Joen !”
“ Ha….ha…ha…..!”



Watashi no Kokoro ni Anata ga imasu !
“ Teng….teng….teng…..!”
“ Hore…..!!!” Siswa SMA Jaya Bangsa berhamburan keluar kelas. Begitu juga dengan kelas XI.IA.5. Hanya Mayo yang tak bergairah untu menyerbu kantin, bukan lagi diet tapi nafsu makannya memang lagi hilang.
Diliriknya Radit yang mendekati meja Cinta { Hhuu, pasti ngajakin Cinta ke kantin } Pikir Mayo { Cinta, please sadar donk dalam hati gue itu ada lo ! }
“ Watashi no kokoro ni anata ga imasu!”
“ Apaan Yo yang lo omongin ?” tanya Cinta heran. Ooh, rupanya tanpa sengaja Mayo berteriak sebuah kalimat dalam Bahasa Jepang yang dalam Bahasa Indonesia artinya “ Dalam hatiku ada kamu !”
{ Ha, Cinta nanya gue ngomong apaan lagi ! Cinta, lo tahu nggak susah payah gue ngapalin neh kalimat kemarin malam Cuma demi lo ! Sampai-sampai Mbak Reva bosan ngajarin gue } batin Mayo { Sekarang lo malah nggak ngerti ! }
“ Ah, kita ke kantin sekarang aja yuk Cin !” ajak Radit sebelum Mayo keburu menjawab pertanyaan Cinta.
“ Mayo, ikut ke kantin yuk !” ajak Cinta.
“ Gue nggak lapar !” tolak Mayo. “Nggak asyik jadi tukang pukul nyamuk !”
“ Maksud lo apa Yo ?” tanya Cinta tak mengerti. “ Di kantin bebas nyamuk kok !”
“ Cin, kita ke kantin sekarang aja yuk !” ajak Radit. “ Ntar Buk Nila keburu masuk lagi.
“ Yuk !”
Tinggallah Mayo sendiri hingga para siswa berlari-lari masuk kelas lagi. Maklum, it’s time to chemestry lesson ! Mayo doubel kesal saat ini. Kesal pertama karena ngelihat Cinta sama Radit makin dekat aja. Kesal kedua, ya karena pelajaran kimia. Sebenarnya Mayo anak yang pintar. Tapi, kalo udah siang hari dia bakal malas banget buat pelajaran yang memerlukan konsentrasi tinggi.
Satu jam….dua jam….akhirnya tiga jam pelajaran berakhir juga.
Mayo segera menghampiri Cinta yang sedang membereskan buku-buku pelajaran.
“ Hai Cin…!” sapa Mayo tak seperti biasa.
Cinta menatap lekat ke arah Mayo yang sudah lam dikenalnya. Mayo terasah aneh. “Hai juga Yo ! tumben lo nyapa gue kayak gini?”
“ Emanknya kenapa ?”
“ Aneh aja lo jauh lebih lembut !”
Mayo tersenyum tipis. “ Itu karena_”
“ Karena apa ?”
“ Watashi no kokoroni anata ga imasu !”
Cinta mengerutkan keningnya. Dia bingung tak mengerti. Dari kapan Mayo belajar Bahasa Jepang ? Bahasa Inggris yang diwajibkan kurikulum aja dia ogah-ogahan.
“ Artinya apa Yo ?” tanya Cinta penasaran.
“ Artinya_”
“ Apa ?”
“ Mmm…eh, artinya gue_”
“ Cin, kita pulang sekarang yuk !” Ajak Radit yang tiba-tiba muncul.
“ Udah kelar rapatnya Dit ?”
“ Udah !” jawab Radit yang selama pelajaran kimia tidak mengikuti PBM karena harus mengikuti rapat OSIS.” Kita jadi ke toko buku kan ?”
Cinta mengangguk. “ Yo, lo ikut nggak? Kita mau ke toko buku, siapa tahu aja ada komik Doraemon versi terbaru !”
“ Nggak ah ! gue lagi nggak doyan baca komik Doraemon !”
“ Kenapa ? bukannya lo suka banget sama kantong ajaibnya Doraemon yang bisa ngabulin permintaan lo !”
“ Tapi, sekarang kantong ajaib nggak bisa ngabulin permintaan gue !” ujar Mayo.
Radit tidak memperdulikan ucapan Mayo. Dia juga nggak peduli Cinta mau jawab apa tuh pertanyaan Mayo. Segera ditariknya tangan Cinta. “ Kita berangkat sekarang aja yuk, Cin !”
Cinta menurut tapi pandangannya masih tertuju pada Mayo yang masih berada di kelas. Padahal, biasanya Mayo paling duluan ninggalin kelas di jam sekolah usai.

Kamu Ketahuan !
“ Makasih yach Dit udah nemenin gue ke toko buku !” ucap Cinta.
“ Seharusnya gue lagi Cin yang bilang makasih sama lo karena udah mau gue temenin !”
“ Lo bisa aja Dit !”
“ Ntar malam gue jemput jam tujuh yach !” ucap Radit. “ Gue mau nunjukkin sesuatu untuk lo Cin.”
Cinta mengangguk.
“ Gue pulang dulu yach !” pamit Radit.
“ Hati-hati yach !”
“ Sip ! bye….!”
“ Bye….!”
Cinta masuk rumah dengan wajah happy banget. Mbok Onah, kepala pembantu rumah tangga bahagia sekali melihat Cinta tersenyum lagi.
“ Ci ile…! Non Cinta lagi seneng niy kelihatannya !”
“ Mbok Nah tahu aja !”
“ Ya tahu donk Non, wajah Non Cinta berseri-seri !” goda Mbok Onah yang sudah 25 tahun bekerja di rumah Keluarga Hatmoko. “ Oh ya Non, tadi ada orang nelpon nanyain Non Cinta !”
“ Siapa Mbok ?”
“ Katanya siy namanya, namanya…eh, namanya Joen. Ya joen !
“ Joen ?!!
“ Eh, Non kayaknya itu telpon dari dia. Tadi dia bilang mau telpon lagi !” ujar Mbok Onah ketika mendengar deringan telpon.
“ Biar Cinta aja yang angkat telponnya, Mbok !”
“ Halo !”
“ Apa benar gue bicara dengan Mutiara Cinta Dewantara ?” terdengar suara dari ganggang telpon.
“ Benar, gue Cinta !”
“ Cinta, gue Joen !”
“ Joen ?!!” tanya Cinta. “ Gue nggak kenal nama itu.
“ Lo emank nggak kenal sama gue, tapi gue kenal lo ! Gue anak dari seseorang yang pernah dibantu oleh Almarhum bokap lo Pak Armand Dewantara,” jelas Joen. “ Gue mau memberi tahu lo suatu hal. Kalo lo bersedia sebuah rahasia akan gue ungkap. Gue sekarang ada di depan ruamh lo !”
Cinta mengintip lewat tirai jendela. Ternyata benar, di luar berdiri seorang berkulit putih bertubuh gendut.
Cinta pun mengikuti perintah Joen. Dia penasaran rahasia apa yang akan diungkapkan Joen.
“ Perkenalkan nama asli gue Jono. Tapi, gue nggak suka dipanggil Jono. Panggil gue Joen !” Joen alias Jono menjulurkan tangannya.
“ Cinta.” Menyambut uluran tangan Joen. { Hhuu, syukur….! Kukira orang yang akan kuhadapi menyeramkan } batin Cinta {ternyata tidak}
“ Gue ini maneger Radit !”
“ Manager Radit ?!!” Cinta bingung. Setahunya, selain sekolah, basket, dan sepak bola Radit nggak punya kesibukan lain sampai harus pakai manager segala.
Pertanyaan Cinta terjawab saat Joen alias Jono menceritakan semua hal tentang Radit.




Romantisme Yang Kacau !
Kejutan yang diciptakan Radit untuk Cinta memang bisa membuat hati cewek jadi keplak-keplek. Tapi, tidak untuk saat ini. Andaikan tadi sore, Joen tidak cerita semua hal tentang Radit, mungkin Cinta akan merasa menajdi cewek paling beruntung di dunia.
Bayangkan saja, 100 lilin dengan 100 warna. Kata Radit pada Cinta “ Gue sengaja menyalakan sendiri 100 lilin ini simbol cinta berabad-abad !” Padahal yang nyalain Mang Ujang, tukang kebun di rumahnya.
Di tambah lagi dengan 1000 angsa dari kertas warna-warni. Mengakunya siy dibuat seorang diri sebagai lambang cinta sejati. Hhhuu, padahal gimana cara bikinnya aja dia nggak tahu.
“ Lo bilang 100 lilin dengan 100 warna lambang cinta berabad-abad. Tapi, menurut gue lilin-lilin itu lambang cinta lo buat 100 cewek yang lo gebet,” Cinta mematahkan penjelasan Radit, “ Dan, lo bilang 1000 angsa lambang cinta sejati? Gue tau Radit, di kamus lo nggak ada yang namanya cinta sejati !”
“ Cinta, kenapa lo bicara seperti itu ? Gue mempersiapkan ini semua buat lo, dari ketinggian gedung ini gue berharap bisa menggapai bintang bersama lo Cinta ! dan melihat indahnya danau di sana, Cinta !” Radit menunjuk danau yang terlihat indah dari gedug sejangkal bintang. Berada di atas gedung ini bagaikan bintang berada sejengkal di atas kepala. “ Cinta, ini semua gue setting khusus buat lo Cinta !”
“ Kalo nama gue bukan Cinta, gue nggak bakal sudi dipanggil Cinta oleh lo !” timpal Cinta, “ Bintang-bintang di sini nggak bakal bisa lo jangkau. Keindahan danau itu luluh oleh semua kebohongan lo Radit !”
“ Apa maksud lo, Cin ?” tanya Radit sok polos.
“ Joen. Lo kenal nama itu bukan ? Joen udah cerita semuanya.”
“ Brengsek tu Si Joen !” celoteh Radit.
“ Bukan Joen yang brengsek. Tapi elo !”
“ Cin, tapi sekarang cinta gue han_”
“ Stop ! “ Cinta pergi menuruni anak tangga menuju danau.
Radit menyusul. “ Cin, lo denger dulu_”
Di tepi danau, Radit berhasil mendahului Cinta,” Cin, sekarang cinta gue hanya untuk­….”
“ Gue nggak mau denger kebohongan cinta lo lagi, Dit !” ujar Cinta. “ Lebih baik lo bialng cinta sama ikan-ikan di danau ini !”
Cinta mendorong Radit ke danau. “Good bye Playboy !”
“ Hhuu, sial !” celoteh Radit.



Good Bye Playboy and Welcome the True Love !

“ Selamat pagi !’ sapa Buk Wiwid guru kesenian.
“ Pagi Buk !” sapa siswa XI.IA.5 bersemangat. Maklum, baru jam pelajaran pertama.
“ Sekarang buka buku paket kesenian bab IV !” perintah Buk Wiwid,” Minggu depan kalian harus membawa buku gambar A4, busur, jangkar, penggaris, pensil 2B, dan pensil HB.”
“ Baik Buk !’ jawab para siswa serentak kayak paduan suara . padahal sekarang pelajaran seni rupa buakn sendratastik.
“ Cinta !’ tegur Buk Wiwid yang melihat Cinta dari tadi melamun.
“ Tolong ulangi apa yang Ibuk perintahkan agar dapat dibawa minggu depan!”
“ Eh, Mayo !”
Semua siswa kembali serentak tertawa lagi-lagi seperti paduan suara mendengar jawaban Cinta yang nggak nyambung 99,9 %.
“ Cinta, kamu ngelamun ya ?” tanya Buk Wiwid sambil geleng-geleng kepala.
“ Cinta, nggak ngelamun kok Buk !” ucap Radit yang secara tiba-tiba angkat bicara. “Tadi, saya melihat Cinta memperhatikan buku pelajaran kok, Buk !’
Cinta mengarahkan pandangannya pada Radit. “ Eh, playboy jangan ikut campur deh lo! Mendingan lo ikutan ajang coverboy letoi gi ! “ ucap Cinta kesal.
“ Cinta !” ujar Buk Wiwid, ‘ urusan pribadi jangan diikutsertakan saat jampelajaran ! sekarang kamu kembali fokus pada pelajaran yang Ibuk berikan !”
“ Baik Buk !” jawab Cinta menundukkan wajahnya yang cantik. { Mayo mana siy ? Kok, dia nggak sekolah ? apa dia kenapa-napa yach? Hi…kok gue jadi mikiri Mayo siy ? kalo dia ada bawaannya berantem mulu. Tapi, kalo dia nggak ada malah ngangenin ! } batin Cinta { Sebel deh gue sama Radit ! ikut campur mulu, sok jadi pahlawan kesiangan. By the way, kok gue nggak sedih waktu tahu dia playboy, apa jangan-jangan dia hanya cinta sesaat gue ? }
Mayo datang ketika jam pelajaran kesenian sudah habis. Dia menuju tempat duduknya tanpa menyapa Cinta seperti hari-hari biasanya. Cinta melirik ke arah Mayo yang tak seperti biasanya. Cinta berjalan mendekati bangku Mayo. Cinta tersenyum, Mayo mengangkat kepalanya melihat sosok yang berdiri di dekat mejanya.
“ Kenapa datang telat, Yo ?” tanya Cinta mengawali percakapan.
“ Bukun urusan lo !” jawab Mayo ketus.
Cinta kaget mendengar jawaban Mayo yang berintonasi dengan suara keras. Semua mata di kelas itu melirik. Cinta jadi malu, dia berlari meninggalkan kelas. Mayo jadi salah tingkah.
Merasa bersalah Mayo mengejar Cinta. Mata Radit tiada sedikit pun meninggalkan adegan tersebut. { Mayo, Cinta, maafin gue udah merusah hubungan kalian berdua } batin Radit { Gue janji nggak bakal ada lagi dalam cerita cinta kalian berdua ! }
“Cinta…..!” teriak Mayo mengejar Cinta, “ Tunggu !”
Cinta terus berlari. Namun, akhirnya di lorong sekolah Mayo berhasil mendahuluinya.
“ Cin, maafin gue….gue nggak ada maksud buat bikin lo sakit hati, “ jelas Mayo, “ Gue telat…”
Cinta masih diam menunggu lanjutan kalimat Mayo. “ GUE TELAT KARENA SEMALAM MIKIRIN LO CINTA !!! “ teriak Mayo.
“ Gue tau kemarin malam Radit udah bikin romantis surprise buat lo, Cin !” lanjut Mayo,” Gue cemburu !”
“ Lo cemburu ?” tanya Cinta, “ Kenapa?”
“ KARENA GUE CINTA LO CINTA !” kembali Mayo berteriak. Para siswa dan siswi SMA Jaya Bangsa yang sedang istirahat pertama bersorak melihat aksi Mayo.
Cinta melirik sekitarnya. Pipinya memerah. Cinta malu. Di antara tawa para siswa terselip senyuman Radit, “ Mayo, gue kalah. Lo lah pemenangnya karena lo emank pantas mendapatkan cinta dari Seorang Cinta!”
“ Cinta, lo memang pantas untuk dicintai. Meskipun terlalu banyak cinta di hati gue, gue akan belajar untuk hanya mencintai dia yang gue sayangi bukan sekedar permainan cinta.” Radit menjadi sosok yang bijak kali ini. Entahlah, mungkin Cinta telah merubah pandangannya terhadap cinta atau dia harus mengalah demi orang yang dia cintai atau mungkin dia telah menemukan cinta yang lain.
Mata Mayo dan Cinta menatap lekat Radit. Sepertinya, Radit memahami kebingungan di wajah Mayo dan Cinta. “ Lo berdua mungkin heran seorang playboy cinta seperti gue bisa bicara mengenai true love !” ujar Radit berlalu pergi, “ Tapi, yakinlah, Cinta, you never alone !”
Mayo dan Cinta menatap kepergian Radit. Mayo senang sahabatnya yang playboy itu sudah mulai menghargai cinta. Sesungguhnya, cinta sejati hanya untuk-Nya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Curahan Hati Cinta
“ Mama, Papa, Kak Ello, Jessica, Oma, Opa, dulu Cinta merasa selalu sendiri.” Cerita cinta di pemakaman Keluarga Hatmoko. Tapi, kini Cinta sadar, cinta itu ada di mana-mana !
Mayo yang berada di samping Cinta melihat mata Cinta yang telah meneteskan air mata.
“ Cinta janji ini terakhir kalinya Cinta menangis karena merasa tiada punya Cinta !” ucap Cinta,” Tuhan, terima kasih telah membuka mataku untuk melihat betap Engkau mencintaiku. Terima kasih Ya Allah….”
“ Cin, semua keluarga lo pasti tenang di alam sana melihat lo menjadi Cinta yang kuat, cinta yang tegar, dan nggak cengeng,” ujar Mayo, “ Benarkan Opa, Oma, Om, Tante, Ksk Ello, Dek Jessica ? Mayo Janji akan menjaga Cinta !”
Cinta tersenyum. “Mama, Papa, Kak Ello, Jessica, Oma, Opa, sekarang Cinta punya banyak saudara. Cinta bikin panti asuhan, harta warisan itu terlalu banyak untuk Cinta. Cinta ingin berbagi bersama mereka yang kehilangan cinta orang tua tapi tidak pernah merasa kekurangan cinta. Cinta banyak belajar dari mereka !”
“ Cin, kita pulang yuk !” ajak Mayo.
Cinta mengangguk. Sudah hampir dua jam mereka berada di pemakaman Keluarga Hatmoko.
“ Mama, Papa, Kak Ello, Jessica, Oma, Opa, Cinta pulang dulu yach !’
“ Papa dan Mama mertua…calon menantu pulang dulu yach !” Mayo melirik Cinta.
“ Apaan siy ?’ ujar Cinta Malu.
“ Maksudnya Mayo pulang dulu !”
Cinta menatap Mayo lekat-lekat. Mayo menaydari itu dan memberikan tatapan setajam mata elang. Kemudian, bibirnya tersenyum berujar, “ Cin, lo nggak keberatan kan gue jaga sampai gue menutup mata?” Tangannya diletakkan di bahu Cinta.
Cinta tersenyum sembari mengangguk.
“ Sekarang lo yakin kan Cin, kalo cinta never alone ?”
“ Ya, gue yakin itu. Cinta, never alone bila kita belajar untuk mencintai tanpa menunggu untuk dicintai.’’
The End

Sebuah mobil pikc up berhenti di halaman apartemen-tepat ketika aku meneteskan air mata untuk novel pemberian Nara.
Apakah dia calon penghuni flat di bawah flatku. Sepertinya begitu. Seorang pemuda yang…ak…aku kenal dia. Oh My God. Bahkan dari ketinggian yang orang-orang di halaman bahwa hanya seperti Barbie dan Ken, aku mengenalnya. Aku tahu, aku kenal dia.
Sosok itu baru saja aku pikirkan. Kamu percaya The Power of First Love? Believe it? Dia Kak Simon. Dia kah yang akan tinggal di flat lantai tiga. Benarkah?
Kuharap benar. Kuharap juga tidak. Ah, aku bagai terjangkit virus ling-lung stadium 4. Jangan sampai virus yang menyebabkan penderitanya menjadi plin-plan ini semakin menyebar di sel-sel otakku, merasup melalui pori-pori, hingga membuat wajahku tampak bodoh.
Bilang aku ini bodoh. Bilang aku inin tolol. Bilang aku ini stupid. Bilang aku ini heta. Harus dalam bahasa apalagi aku sebutkan padamu? Tapi, aku bahagia melihatnya. Pertanda pertama; Cinta, Never Alone!
15
“Benar, Fabriano Simon adalah calon penghuni flat yang dulu didiami pamannya.” ucap Hitori-San Satpam apartemen datar ketika aku bertanya tentang calon penghuni flat 309.
Tolong sadarkan aku. Tolong katakan padaku,”Kamu hanya mimpi, Chelsa! Tolong bangunkan aku, please!
Fabriano Simon? My first love akan tinggal satu apartemen denganku? Flatnya di bawah flatku?
*******
Aku penasaran! Penasaran! Amat sangat kuadrat! Aku harus mencek dan ricek penghuni baru flat di bawah flatku. Berani. Aku harus berani. Dengan semangat cinta pertama aku mengetuk pintu flat 309; tuk-tuk-tuk.
Langkah kaki berjalan mendekat. Semakin dekat ke arah pintu. Tangan itu seperti akan memutar kunci pintu. Bersembunyi. Aku menyembunyikan diri di balik bunga besar. Tak salah pengelolah apartemen meletakkan bunga sebesar ini di sini.
Wajah empunya flat celingak-celinguk. Bingung.
Sekarang aku benar-benar yakin dia Kak Simon.
Pintu kembali ditutup. Klik.
Aku keluar dari persembunyian. Memandang pintu flat. Oh, my first love…..
Klik. Pintu kembali dibuka. Keluar wajah yang sama.
Gawat. Lari………
*******

Bruuuk!
Kepalaku nyut-nyutan. Siapa gerangan yang aku tabrak eh ralat; bisa jadi dia yang menabrakku. Aku melirik.
Dia balas melirik. Aku ragu harus bicara dalam bahasa apa. Aku tidak fasih untuk marah-marah dalam Bahasa Jepang. Paling lancar juga baru bilang; “Hajimimasite watashi no namae wa Chelsa desu. Doozo yorosiku!”
Nggak nyambung kan. Nggak mungkin banget kan aku bilang,”Senang berkenalan dengan kamu!” sementara perkenalan dalam kondisi tabrakan.
“I’m Sorry!” ujarnya. Dia berbiacara English. Jangan-jangan dia bukan orang Jepang asli.
Aku senyum [ kebiasaanku ketika tabrakan dengan cowok keren. Masih ingat peristiwa tabrakanku dengan Vigo? ]
“Watashi wa Mayo desu. Indonesia jin desu.”ucapnya lagi,”Anata wa dare desu ka”
Aku bengong bukan karena tidak mengerti apa yang diucapkannya. Kalau hanya kalimat perkenalan aku sudah hafal luar kepala eh ralat; dalam kepala.
Kamu tahu aku kenapa?
Namanya itu…..namanya;MAYO. Mayo. Mayo-nama pemuda dalam novel yang baru kubaca. Bilang ini hanya kebetulan.
“Hallo!”
“Eh, aku Chelsa.”
“Kamu orang Indonesia?”
Aku mengangguk.
“Oh, senangnya bertemu saudara setanah air di Negeri Sakura. Aku penghuni flat 410.”
“Kita tetangga donk?”
“Benarkah?”
“Aku tinggal di flat 409”
“Wow!”
*******
Di flat, aku segera melihat kembali novel yang baru kubaca. Di lembaran kedua yang semula kuabaikan tertera;
[ A half real story about my love ]
Flik. Halaman 3;
Aku seorang yang memiliki cinta yang pernah membuktikan pada Cinta bahwa cinta itu tidak akan pernah jauh dari pecinta. Tapi, aku pernah kehilangan Cinta yang benar-benar kucintai. Demi rasa cinta, aku akan merubah setengah dari cerita cinta ini.
Salam cinta untuk para pecinta
penulis-cinta@yahoo.com
Penulis Cinta? apakah ini nama pengarang novel ini? Pasti bukan nama asli-nama samaran. Apa maksud dari; [ A half real story about my love ]
Aku……..
Aku heran pada diriku sendiri.
Aku……..
Aku merasa sangat bla-bla. Aku tidak tahu.
Mengaitkan nama Mayo yang tanpa sengaja bertabrakan denganku dengan Mayo dalam kisah Cinta, Never Alone. Bukan diriku yang sebelumnya-menghubungkan kisah cinta dalam sebuah novel dengan kehidupan nyata walaupun semuanya penuh sandiwara.
Aku ingin tahu lebih banyak tentang penulis novel ini. Yups, aku harus bertemu Nara. Mengapa?
Karena dia yang membuat aku mengenal kisah ini. Karena novel ini hadiah darinya.
16
“Tumben nelpon Chel?” terdengar olehku suara Oscar dari London. Mungkin sebentar lagi dengan kejeniusannya dia akan menjadi ilmuan hebat Tanah Air yang mengecap pendidikan luar negeri. Semoga dia tidak lupa pada nasib bangsanya, bangsa dimana dia dilahirkan, hopefully,” Can I help you?”
“Minta nomor Jepang-nya Nara donk, Car!” ucapku.
“Tu kan akhirnya kamu butuh juga! Udah nggak yakin lagi dengan teori dunia seluas daun talas?”
“Punya nggak?”tanyaku.
“Punya donk!”jawab Oscar mantap.
“Ya udah buruan donk, calon profesor!”
“Profesor? Hahaha……..mudah-mudahan. Doa kan saja semoga itu nyata.”
“Sure! So?”
“What?”
“Nomor Hp-nya Nara?!!”calon profesor kok pentium satu.
“Sorry, aku lagi pentium satu niy, Chel!”kok tahu?
*******

Nomor Hp Nara telah kusimpan di phonebook. Tinggal tekan tobol “Panggil” dalam hitungan detik (jika dia siap siaga 24 jam dengan Hp-nya) aku akan mendengarkan suaranya.
Nara. Calling….. Cancel.
Ah, nggak jadi nelpon deh! SMS aja!
Nara, gw lg di Jpng. Batal.
Nara, apa kbr?. Batal.
Nara, lg ngaps?. Batal.
Nara, bs ktmuan g’? gw lg di Jpng*Chelsa* send. Message sent.
Setengah menit. Belum ada balsan SMS.
Setengah jam. Nihil.
Setengah hari. [0]
Bosan. Bosan. Aku bosan menunggu!
Tengah malam;
Sortel. Lhat k bwah!
Sender : Nara
12:02:22 a.m

Secepat mungkin aku mengikuti petunjuk SMS. Mataku menangkap sosok yang sangat kukenal berdiri di halaman depan apartemen. Dia menyadari sedang diperhatikan seseorang. Dan, seseorang itu adalah aku. Sekali ini, biarlah kukatakan Nara itu gila. Tokyo dimusim dingin, ramalan cuaca memprediksi malam ini salju akan turun. Untung saja, ramalan itu meleset. Di atas kehebatan tekhnologi, masih ada kehebatan Yang Maha Kuasa. Salju tidak turun, tapi hujan turun deras sekali, mungkin bukan hanya air yang turun dari langit tapi juga diselingi es.
Segera aku menelpon Nara. Tersambung.
“Nara lo dah gila ya, tengah malam, hujan-hujanan…”kalimatku belum sampai.
“Please, ikut aku ke rumah sakit sekarang! Penting.”ucap Nara sendu.
Telepon kututup. 5 menit bergantian pakaian. 2 menit tiba di lantai dasar. 1 menit aku sudah beradu pandang dengan Nara.
Nara memang lagi gila. Sedingin ini dia hanya mengenakan kaos dan jacket yang tidak terlalu tebal. Ichigai.
Tanpa ucapan basa-basi selain say-hallo standar “Hai…!” kujawab “Hai juga!” mobil pun meluncur. Nara nyetir ngebut skalee.
Mobil berhenti di parkiran rumah sakit. Nara menggenggam tangan kananku. Dia berjalan cepat. Seperti sedang panik, ada apa ini?
Langkah kaki kami berhenti di samping kiri sosok yang sedang terbaring. Matanya tertutup. Wajah itu pernah ada di hatiku, mewarnai hatiku dengan rasa kasmaran, membuat khayalanku di siang dan malam hanya penuh wajahnya. Dia Vigo.
Perlahan air bening membasahi pipiku. Aku yakin sebentar lagi tetesan itu semakin banyak. Tanpa sengaja, tetesan itu jatuh di telapak tangan kanan Vigo. Dan tanpa kuduga, keajaiban itu datang. Jemarinya bergerak. Matanya terbuka-mengedip perlahan. Bibirnya tersenyum padaku. Sebelum sempat aku berucap sepatah kata pun dia mendahuluiku,”I love you so much…. Yesterday, today, and tomorrow. Good bye”
“Vigo………..”
Aku tak dapat berkata apa pun kecuali berteriak menyebut nama “Vigo”. Nara juga sama. Nara memang tak meneteskan air mata. Tapi, aku tahu dadanya sesak menahan agar air kesedihan itu tidak menetes.
Aku merasakan jantung itu tidak berdetak lagi. Bye-bye….I will miss you!
*******






17
From : chelsa_cute@yahoo.com
To : penulis-cinta@yahoo.com
Subject : Chatting yuk!

Penulis Cinta…
Aku Chelsa-baru saja berusia 17 tahun. Aku tidak tahu berapa usia kamu. Tapi, aku tertarik dengan kisah yang kamu tulis. Kamu suka chatting? Bisa online sekarang?

Satu jam aku menunggu…..
From : penulis-cinta@yahoo.com
To : chelsa_cute@yahoo.com
Subject : I agree…

Hy, gadis yang baru saja merayakan sweet 17.
Aku sedang online. My idea “penulis-cinta”. Aku menunggumu di dunia maya.

>>chelsa : aq penasaran dgn novel qm!
>>penulis-cinta : ini pujian atau pernyataan?
>>chelsa : both of!
>>penulis-cinta : thankyu.
>>chelsa : apa mksd dr kisah ini ½ nyata?
>>penulis-cinta : qm nanti jg akan tw!
>>chelsa : jgn berbelit-belit!
>>penulis-cinta : hahaha….
>>chelsa : nggak ada yang perlu ditertawakan.
>>penulis-cinta : maaf.
>>chelsa : siapa qm sebenarnya?
>>penulis-cinta : manusia biasa.
>>chelsa : dimana qm tinggal?
>>penulis-cinta : di bumi
>>chelsa : klw itu jg aq tw….!
>>penulis-cinta : aq jg tw siapa qm?
>>chelsa : hebat donk! Qm punya indera ke-6.
>>penulis-cinta : punya
>>chelsa : apa?
>>penulis-cinta : cinta. bye….
Dasar penulis sombong…
Aku kan mau curhat. Bukan curhat sepertinya bukan itu yang sebenarnya aku inginkan. Aku penasaran. Jika hanya curhat masih ada diary. Dari zaman SMP, diary adalah tempat curhat paling asyik. Ya, aku penasaran. Penasaran akan cerita yang sesungguhnya akan cerita setengah nyata itu. Penasaran akan tokoh dalam cerita tersebut. Dan, penasaran akan penulis dibalik cerita.
Kuteringat hati yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri
Kuatkan lah hati cinta…
Lagu Sebelum Cahaya-Letto sebagai nada dering favoritku terdengar membuyarkan pikiranku tentang penulis dan cerita cinta misterius itu.
Nara calling….. itulah yang tertera di lcd Hp-ku. Kebetulan dan suatu keajaiban. Kebetulan karena aku ingin menanyakannya pada Nara. Keajaiban karena semenjak Vigo meninggal Nara pergi ke Hiroshima. Mungkin begitulah caranya dia melarikan diri dari rasa kehilangan dan kesedihan akan masa kecilnya yang indah di Kota Tokyo dengan kakak satu-satunya itu. Dia memili Hiroshima karena dia tidak punya kenangan di sana. Sementara aku? Aku tidak bisa lari dari rasa sedih dengan cara yang sama dengan Nara. Aku menghabiskan hari dengan membaca novel-novel cinta yang meyakinkan aku bahwa hidup selalu penuh dengan cinta. Dan, sepertinya aku telah terindikasi dengan kisah novel pemberian Nara. Semua yang serba kebetulan, membuatku ingin tahu semuanya, melebihi rasa ingin tahu pembaca pada umumnya. Tertawakanlah aku…. Aku rasa diriku memang telah terlampau klise. Ya, sungguh terlalu!
“Halo!”sapaku.
“Halo Chel, punya waktu sore ini?”
“Ah?!!”
18
Wajah yang berada di hadapanku sudah satu bulan ini hilang dari Tokyo. Mungkin, menghilang untuk kembali. Kini, wajah itu tiada duka lagi. Bahkan dia seperti tiada pernah merasakan duka sebelumnya. Dia juga tiada mau mengungkit duka itu kembali.
“Chel, gimana novelnya bagus nggak?” tanyanya. Aku tidak menduga itu pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Nara.
“Misterius!” jawabku.
“Why?” Nara yang dulu telah kembali. Nara seperti yang kukenal ketika SMA dulu. Nara yang suka bercanda. Nara yang usil. Nara yang sangat jarang serius. Nara yang identik dengan permen karet. Tapi, jujur aku suka Nara yang seperti itu.
“Katanya cerita itu setengah nyata. Apa maksudnya coba? Sok misterius. Terus, gue chatting ama pengarangnya. Dia apalagi sok cool.”
“Hahaha….”
“Nara. Gue serius!”
“Ups! Nona Chelsa serius?!!”
“Ini akibat novel-novel cinta yang lo kasih. Gue nggak tahu, gue ini sekarang jadi orang yang terlalu klise atau nggak? Yang jelas kemarin gue ketemu ama cowok yang namanya sama dengan pengarang novel Cinta, Never Alone!”
“Apa sekarang lo percaya kalau cinta itu selalu ada?” Tanya Mayo yang sebenarnya bukan komentar yang tepat atas ceritaku.
“Maybe…”
“Kok Maybe siy baby?”
“Karena cerita itu setengah nyata.”
“Apa Lo percaya kalau gue sayang lo bukan setengah nyata?” ini komentar yang paling nggak nyambung lagi.
“Chel, gue serius sayang banget ama lo,”Nara menggenggam tanganku,”Gue sayang lo. Dari pertama gue lihat lo, sekarang, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dan selamanya. I love you so much!”
“Kita ke makam Vigo yuk!” aku lebih nggak nyambung lagi.
Nara paham. Dia mengangguk.

*******
Inilah pertama kalinya semenjak kematian Vigo, aku berani melihat makamnya dari dekat dan menaburkan kembang di atasnya. Inilah pertama kalinya, aku memberanikan diri membaca namanya tertera pada batu nisan. Inilah saatnya aku menjadi kuat.
“Go, kamu lagi ngapain di sana?” ucapku seolah Vigo bisa menjawab pertanyaanku.
“Vigo pasti telah tenang dengan hidup barunya melihat gadisnya bersemangat kembali,”Nara-adik kandung Vigo menjawab pertanyaanku.
Aku meneteskan air mata.
“Kalau gadisnya menangis pasti Vigo juga sedih,”ujar Nara.
Aku tambah tersedu.
“Nara boleh pinjam bahunya nggak?”
Nara menepuk-nepuk bahunya. Mengangguk. Menarik kepalaku menuju bahunya. Aku berjanji ini tangis kesedihanku yang terakhir untuk Vigo. Semoga Vigo bahagia dengan hidupnya yang baru. Hidup yang tidak fana. Suatu saat nanti aku, Nara, dan semua orang juga akan ke sana.
*******
“Nara…”
“Ya!”
“Gue mau Tanya.”
“Tanya apa?”
Sekarang aku dan Nara sedang di mobil menuju perjalanan ke flatku dari makam Vigo.
“Tentang novel itu.”
“Cinta, Never Alone?”
“Yups!”
“Apa yang ingin lo ketahui?”
“Cerita yang sesungguhnya dan pengarangnya.”
“Aku tahu!” seru Nara.
“Benarkah?”
Nara mengangguk.
“Nama asli Pengarang Cinta itu Mayo.”
“Apa?!! Mayo?”
“Kenapa?”
“Mayokan tokoh utama pria dalam kisah itu?”
“Ya!”
“Berarti ini adalah kisah pengarang itu sendiri?”
“Ya!”
“By the way, kenapa lo bisa tahu?”
“Dia teman gue ketika TK dulu. Cinta juga teman TK gue.”
“Berarti Cinta ito nyata?”
“Ya!”
“Apakah sekarang mereka masih bersama?”
“Tidak.”
“Kenapa?!!”
“ Karena…. Chel, gue sayang lo. Gue serius!”
“…..” Nara kembali mengarakan pembicaraan ke perasaannya.
“Chel….”
“Ya!”
“Gue serius!”
“Kenapa mereka tidak bersama lagi?” aku alihkan pembicaraan ke topik awal.
“Chel, kali ini tolong jawab pertanyaan gue. Mungkin gue nggak pernah serius selama ini. Tapi, kali ini gue serius sayang banget sama lo Chel.”
“Gue….”
Nara menatapku tajam.
“Gue juga sayang lo!” aku tidak bisa membohongi perasaanku. Walaupun selama ini kami selalu bertengkar, sebenarnya aku juga punya rasa cinta untuknya.
“Yeah… Benaran Chel? Gue sayang banget sama lo. I love you baby.”Nara mencium tanganku, menatapku, dan…..
“Bruuuuuk!”
“Nara……… Awas! Ah…….!”
*******
19
From : chelsa_cute@yahoo.com
To : penulis-cinta@yahoo.com
Subject : Aq kehilangan cinta

Penulis Cinta yang misterius….
Aku menulis e-mail ini ketika aku masih di rumah sakit, bertetesan air mata. Aku bukan mau pamer kesedihanku padamu. Tapi, aku tidak tahu lagi harus bercerita pada siapa. Kamu dan novelmu meyakinkan aku kalau cinta itu selalu ada bila kita belajar untuk mencintai.
Penulis Cinta yang misterius….
Aku menulis ini ketika aku menumpahkan air mata untuk dua cinta yang kucintai. Air mata cinta pertamaku baru terobati. Di saat aku berhasil memberikan cintaku untuk orang yang mencintaiku, di saat itu pula dia pergi meninggalkanku.
Penulis Cinta yang misterius….
Aku menulis ini saat aku berpikir untuk mengakhiri hidupku untuk menyusul kedua cintaku. Tapi, aku membatalkannya. Cancel. Hanya orang bodoh yang membunuh dirinya demi cinta yang fana. Penulis Cinta, semoga novel selanjutnya, tidak membohongi para pembaca cinta walaupun hanya ½.
Penulis Cinta, kadang aku berpikir lebih baik aku hidup di dunia maya.

Inilah curahan hatiku yang paling bodoh. Teriaki kalau aku ini begok. Menjeritlah sobat!
Aku benar-benar tidak tahu kepada siapa aku harus bercerita. Baru saja aku berhasil mengobati kehilangan Vigo, kini Nara juga pergi. Pergi, pergi untuk selamanya…
Aku jarang mempercayai seseorang yang baruku kukenal sebagai teman curhat. Ralat, aku tidak mengenal Penulis Cinta.
Aku tak peduli Penulis Cinta akan menertawakanku. Tapi, respon yang kilat akan e-mailku dari Penulis Cinta.

From : penulis-cinta@yahoo.com
To : chelsa_cute@yahoo.com
Subject : Aq menunggumu…

Chelsa, aku menunggumu di dunia maya… kamu masih ingat id-ku saat chattingkan?
Aku menunggumu… aku menunggumu…..
Sampai kamu hadir di dunia maya.

20
Kamu tahu bagaimana kecelakaan itu terjadi?
Nara terlalu senang saat aku menerima cintanya sehingga dia tidak fokus mengemudikan mobil. Nara melewati jalur yang seharusnya dia ambil. Sehingga, mobil kami menabrak sebuah truk yang datang dari arah berlawanan. Dan, kecelakaan itu pun terjadi.
Lalu, bagaimana kondisi Nara setelah kecelakaan itu?
Sadis. Nara meninggal di tempat kejadian. Aku tidak sanggup lagi menjelaskannya. Aku, aku galau!
Apa yang terjadi dengan diriku sendiri?
Aku jauh lebih baik dari Nara. Tuhan menyelamatkanku dari kecelakaan itu. Aku hanya pingsan dan saat bangun mendapati luka-luka karena pecahan kaca mobil. Tapi, aku luka ini akan segerah sembuh dalam waktu tidak lebih dari satu bulan. Sementara, luka karena kehilangan cinta?
Setelah kecelakaan itu, aku baru sadar dari ‘koma’ selama 25 jam. Saat itu, Nara telah dimakamkan. Aku sendiri belum kuat untuk melihat makamnya yang terletak tepat di sebalah kiri makam Vigo. Setelah mendengar berita aku mengalami kecelakaan, Mama dan Papa secepat mungkin menuju Tokyo.
*******
>>chelsa : { }
>>penulis-cinta : kenapa hanya { }
>>chelsa : itu lambang hatiku yang kosong.
>>penulis-cinta : apa qm merasa sendirian di dunia yang dipadati banyak umat?
>>chelsa : aq tidak merasa sendiri. Tapi, aq kesepian di tengah keramaian. Aq merasa cinta itu jauh dariku.
>>penulis-cinta : aq ada di dekatmu. Tunggu aq hadir dalam hidupmu.
>>chelsa : maybe only in my dream it can real.
>>Penulis-cinta : Oh ya?
>>chelsa : yach!
>>penulis-cinta : Qm percaya imposible is nothing?
>> chelsa : percaya tapi tidak untuk kali ini.
>>penulis-cinta : berarti qm tdk percaya 100%?
>>chelsa : maybe.
>>penulis-cinta : aq hadir dalam hidupmu dengan caraku sendiri.
seperti biasa, setelah membuat aku penasaran dengan kalimatnya penulis cinta memutuskan hubungan.
*******



Sakit di tubuhku karena kecelakaan itu telah sembuh. Tak butuh waktu yang panjang untuk memulihkan luka-luka kecil di tubuhku. Tapi, luka di hatiku? Nara kini tiada. Aku harus bisa menerima kenyataan itu. Aku harus belajar membuka hatiku lagi seperti aku membuka hatiku untuk Nara setelah Vigo pergi. Jauh. Pergi. Meneninggalkanku di sini. Sendiri. Sendiri? Tidak. Dunia ini terlalu ramai bila aku berkata aku sendiri di dalamnya.
Tapi, aku tidak terlalu salah bila aku mengatakan,”Aku sendirian di Tokyo. Aku sendirian di Jepang!” karena aku memang sendiri. Sendiri. Keluargaku di Indonesia. Hhuu, aku jadi kangen Indonesia. Tiba-tiba, tersirat dalam pikiranku untuk pulang saja ke Indonesia. Untuk apa aku bertahan di Tokyo. Toh, aku bukan mahasiswa hebat yang harus menuntaskan study di Negeri Sakura. Kamu masih ingat aku yang tempo dulu? Maksudku, si Cewek Badung yang selalu tidak tuntas belajar matematika, si Cewek Badung yang pernah di hokum membersihkan toilet karena cabut dari kelas?
Itu aku. Aku Chelsa.
Indonesia… aku kembali! *******
”Aku ini hidup di tengah kepungan cinta
Kepungan cinta yang tiada punya aturan
Cinta itu datang padaku dengan aneh
Dan, caranya pergi lebih aneh lagi
Aneh itu bagian dari cinta…”
Bilang aku ini aneh! Sekarang, aku sedang berdiri di dalam lift apartement sambil membaca halaman belakang novel “Cinta, Never Alone!”
Aku berhenti karena…
“Tapi, Cinta bukan suatu keanehan”
Seorang pemuda menyambung puisi yang sedang kubaca. Pertama, aku menduga dia asal sambung yang penting matching tapi ternyata yang diucapkannya tepat dengan apa yang tertulis di buku yang sedang kupegang. Hari gini ada cowok tipe dia yang hobby berpuisi ria?
Aku bengong!
“Permisi! Chelsa kan?” dia menyapaku.
“Ah!”
“Kita pernah kenalankan?
Aku masih bengong. Oh iya… aku ingat sekarang! Aku tidak lupa karena namanya sama dengan tokoh utama cowok dalam novel ini. Apa orang yang namanya sama punya kontak pikiran? Tidak mungkin! Setahuku belum ada ahli yang mengemukakan teori itu. Apakah kamu mau mencoba sebagai pencetus teori itu? Kalau punya bukti, why not?
Sudah, lupakan teori itu untuk sementara. Kita kembali fokus kepadaku yang sedang berada di dalam lift. Sekarang pintu lift terbuka. Aku dan dia keluar.
“Oh iya… aku ingat sekarang, kamu Mayo kan?”
“Baguslah kalau kamu masih mengingat namaku?”
“Bagaimana aku bisa lupa? Nama kamu sama dengan tokoh utama cowok dalam cerita ini?”
“Benarkah?”
Aku mengangguk.
“Cinta, Never Alone apabila kita mau belajar untuk mencintai tanpa menunggu untuk dicintai,”ucap Mayo dengan lancer. O_M_G, aku semakin berpikir ini ajaib.
Ada sebuah deringan ponsel. Ponselku kah itu? Bukan, itu berasal dari kantong celana Mayo.
“Halo!” sapanya.
Entah apa yang dibicarakan orang di seberang sana?
“Penulis-Cinta tidak akan melanjutkan kisah itu?” ujarnya pelan dan mencoba menyembunyikannya dariku.
What? Penulis-Cinta?
Walaupun dia bersuara dengan volume yang kecil tapi aku yakin 99,99% + 0,01% aku tidak salah dengar.
“Tidak, berapa pun bayarannya saya tidak akan melanjutkan kisah itu!” ujarnya lagi.
Klik. Telpon ditutup.
Mayo melirik ke arahku. Sekarang, sepertinya aku mengerti siapa sesungguhnya identitas di balik Penulis-Cinta. Dia, dia orang yang sedang berdiri di hadapanku.
Dia risih dengan tatapanku.
“Okey… okey… !” ujarnya mengangkat tangan seperti orang yang sedang menghadapi polisi.
Aku terus menatap penuh Tanya.
“Kamu Penulis-Cinta?” tanyaku.
Dia mengangguk.
“Kamu yang selama ini selalu chatting denganku?”
Dia mengangguk.
“Banyak hal yang ingin aku tahu!”
“Lebih baik kita membicarakannya sambil minum teh. Aku dengar teh di café depan sangat nikmat!” ajaknya.
Aku mengangguk.
*******
21
“Sebenarnya kisah itu memang setengah nyata. Cinta itu benar-benar ada. Dia cintaku ketika SMA dulu. Tapi, saat kelas 3 SMA… saat dia belajar mengendarai black duck dia tertabrak sebuah truck dari arah berlawanan,”cerita Mayo dengan mata berkaca-kaca,”Aku memang bodoh! Bodoh sekali! Kenapa aku mengijinkan Cinta untuk mengendarai bluck duck di jalan yang cukup ramai padahal dia baru bisa…”
Aku tekun mendengar cerita Mayo.
“Tapi, sudahlah…! Kejadiannya sudah satu tahun yang lalu. Memang terlalu singkat untuk menghapus cinta, tapi aku tidak akan pernah mencari penghapus untuk menghapus rasa ini di hatiku. Aku akan menyimpannya di dalam hatiku. Selamanya… “
Aku salut dia begitu tabah. Aku juga harus bisa tabah kehilangan Vigo dan Mayo.
“Kamu tahu Chelsa, mengapa aku merubah kisah novel “Cinta, Never Alone!”
Aku menggeleng.
“Karena aku percaya aku akan bertemu dengan cintaku yang masih hidup. Dan, hari ini aku menemuinya.”
“Maksud kamu?”
“Kamu tidak ingat pernah mengenal orang bernama Mayo sebelumnya, Chel?”
Aku mencoba mengingat. “Tidak,”ujarku.
“Kalau Yoyo?”
“Yoyo?!! Hahaha…” aku tidak bisa menahan tawa mengingat Yoyo-temanku saat di TK.”Yoyo yang fanatic dengan Doraemon?”
Mayo mengangguk.
“Hahaha… Mayo kamu tahu. Dulu, saking sukanya dengan Doraemon, Yoyo terjun dari batang rambutan memakai baling-baling bambu di kepalanya. Setelah itu…”
“Dia tidak bisa kemana-mana selama seminggu karena kakinya sakit,”sambung Mayo.
Aku bengong lagi. “Kok, kamu bisa tahu?”
“Karena akulah Yoyo itu!”
“Ah!”
*******
Pertemuanku dengan Mayo alias Yoyo telah membuatku kembali bernostalgia ke masa kanak-kanak. Dan, membuatku semakin tegas meyebut kisah cintaku Irregular Love.
Batusangkar, TK…
Masa di Taman Kanak-Kanak yang lucu dan ceria. Kota Budaya Batusangkar sebagai saksi masa TK-ku yang indah. Ketika TK, aku merasa aku ini sudah besar ( anak kecil selalu punya obsebsi untuk menjadi orang dewasa ). Oleh sebab itu, aku tidak mau dijemput ke sekolah oleh Pak Udin-Supir keluargaku, aku selalu pulang bersama sahabatku Mayo. Namun, tetap diiringi Pak Udin dari belakang ( rumahku dan Mayo bersebelahan dan jaraknya ke sekolah sekita 1 kilometer ). Sebenarnya, kami hanya berjalan sampai gerbang sekolah dan ujung-ujungnya naik juga ke mobil. Banyak kelucuan yang kami kerjakan saat masih 5 tahun. Aku hanya punya satu sahabat dekat ketika TK yaitu Mayo. Dan, Mayo juga hanya punya satu orang sahabat dekat ketika itu yaitu aku.
Saat lulus TK keluargaku pindah ke Jakarta. Dan, berarti aku harus berpisah dengan teman seperjuanganku dalam berbuat keusilan usia kanak-kanak. Aku sedih, Yoyo alias Mayo juga sedih.
5 tahun kemudian…
Keluargaku berlibur ke Batusangkar dan mengunjungi tetangga-tetanggaku yang dulu. Dan, saat aku mengetuk pintu rumah Mayo, wajah yang membukakan pintu untukku tidak kukenal. Orang itu bilang mereka telah menempati rumah itu selama 4 tahun. Saat kutanya tentang keberadaan Mayo dan kelurganya mereka bilang tidak mengetahuinya. Aku sedih… kehilangan sahabat terbaikku tanpa jejak.
Jakarta, DETIK INI… 2 tahun setelah pertemuan dengan Mayo di dalam lift…
“Indonesia aku kembali…!”
Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali melanjutkan studyku di Tanah Air. Aku memilih jurusan Psikologi. Sebelum aku belajar untuk memahami orang lain, aku akan belajar memahami diriku sendiri.
Perbincangan saat minum teh dengan Mayo adalah perbincangan terakhirku. Aku tidak memberi tahu dia bahwa aku kembali ke Jakarta. Aku mengganti nomor Hp-ku, alamat e-mail-ku, aku menghilang tanpa jejak. Aku ingin mulai hidup yang baru.

Satu tahun kemudian…
Sambil kuliah aku membuka sebuah butik. Aku sungguh-sungguh menjalani ini semua. Aku tidak mau mengecewakan Papa dan Mama. Di lain sisi, aku juga harus memberi contoh yang baik pada adikku satu-satunya. Banyak argument untuk perubahanku.
Modal butik ini berasal dari Papa. Aku mengelolanya bersama Dhea. Kamu masih ingatkan Dhea, temanku yang tomboy ketika SMA dulu. Sekarang dia sudah berubah. Tidak adalah lagi image tomboy dalam dirinya. Dhea yang tomboy kini menjadi fashionable. Semuanya bisa berubah seiring waktu.
Sore ini aku menjaga butik sendiri. Dhea yang kuliah di bidang desain sedang ada kuliah tambahan. Sementara, Mas Owi eh Mbak Owi ( jangan panggil mas nanti dia marah ) lagi sibuk manicure, pedicure, and dengkure sore di salon langganannya. Setiap akhir minggu si banci itu selalu menyempatkan diri pergi ke salon langganannya.
Butik tidak begitu ramai hari ini. Tadi hanya ada beberapa pembeli yang melihat-lihat koleksi model pakaian terbaru. Dari 10 orang yang datang dengan berbagai incaran model pakaian terbaru, ada 6 orang yang pulang dengan membawa kantong belanjaan berlabel “Irregular Style”. Lumayan!
Untuk menghilangkan rasa bosan, aku mendengar lagu-lagu lama. Kembali ini mengingatkanku pada Nara dan Vigo. Di rak kaset aku menemukan OST. Doraemon… aku jadi ingat Mayo.
Flik. Ada yang membuka pintu butik.
Flik. Ada yang membuka pintu hatiku.
Siapakah yang masuk?
Kamu tahu siapa?
Bila tidak, aku akan memberi tahumu. Tunggu, aku atur napas dulu!
Mayo! You know, Mayo!
“Chelsa!”
“Mayo, maaf waktu itu.. aku… aku…”
“Lupakan saja!”ujar Mayo.
Jedah yang panjang terjadi…
“Aku sayang kamu!” ucapnya memecahkan keheningan.
Aku kaget… spontan, aku lari ke luar dari butik, meninggalkan Mayo.
“Chel, tunggu!” teriak Mayo.
Aku tidak peduli. Aku lari lebih kencang lagi. Aku tidak mau Mayo bernasib seperti Vigo dan Nara. Mayo mengikutiku…
Aku lari lebih kencang lagi…
“Bruukkk!”
Bunyi itu menghentikan langkahku. Aku membalikkan tubuh. Aku tidak kuat berdiri lagi melihat apa yang terjadi.

Mayo telah pergi… pergi… Aku… sepi… Sepi…
Inilah cerita cintaku. Aku menagis tiga kali di tanah merah. Seperti biasa, aku tidak kuat melihat pemakaman Mayo dari jarak dekat. Butuh waktu bagiku untuk menguatkan diri dan hatiku seperti ketika Vigo… kemudian Nara… mereka… mereka pergi untuk selamanya.
Dari pemakaman Mayo, aku singgah sebentar di tokoh buku. Aku membeli buku-buku penyegar rohani. Perjalanan dari tokoh buku menuju rumah mengalami sebuah problema, mobilku mogok.
Tolong Bantu aku, aku butuh penjelasan. Mengapa setiap cowok yang mencintaiku harus meninggal dunia? Apa aku ini pembawa sial? Aku tidak pernah percaya pada pikiranku itu. Dalam lubuk hatiku, aku percaya tidak ada anak yang dilahirkan sebagai pembawa sial. Di setiap kesulitan pasti ada banyak penyelesaian. Dan, penyelesaian yang terbaik mengatasi mobilku yang mogok adalah menelpon bengkel. mungkin, mobilku akan menginap di bengkel selama satu atau dua hari.
Aku menatap langit yang biru. Pikiranku menerawang jauh. Benarkah kisah ini adalah true irregular? Perlahan kuperiksa isi tas kecilku yang berwarna hitam. Warna duka. Aku memeriksa isinya, yang kucari ternyata ada di dalam. Sebuah notebook berwarna pink dan pena tinta ungu. Notebookku ini pemberian Tante Veti-adik bungsu Mama saat aku masuk SMP. Kata Tante Veti, buku ini diberikannya padaku agar aku bisa mengabadikan setiap kali aku jatuh cinta. Aku melaksanakannya. Setiap kisah cinta, aku tulis di notebook pink ini.
Minggu pertama sekolah…
Senin…
Oh My God, kakak itu keren sekali. So cool, so sweat, so I falling in love. Aku harus menyelidikinya!
Selasa…
Wah, ternyata namanya Kak Simon. Besok aku mau TePe-TePe ah…
Rabu…
Aksi TePe-TePe dimulai… aku yang masih kelas 7, main di taman kelas 9. pasang senyum termanis, tapi Kak Simon malah cuek bebek. Aku jadi ingat Donal Bebek, sebel deh sama Kak Simon. Dia tidak melirik…
Kamis…
Cihuuuuiiiii, tadi makan di kantin aku satu meja dengan Kak Simon. Tapi, sebeeeeeeeel, habisnya aku jadi obat nyamuk siy. Dia makan bakso bareng ceweknya. Aku sebeeeeeeel, aku cemburuuuuuuuu, dan efeknya aku menelan bakso bulat tanpa mengunyah terlebih dahulu. Dan, airrrrrrrrr!

Jum’at…
Aku bosan ngincer Kak Simon yang cuek kayak bebek. Lebih baik aku baca komik Donal Bebek.
Aku sedikit terhibur dengan membaca catatan lamaku ini. Tapi, aku kembali merasa sedih mengingat Kak Simon pergi untuk selamanya sebelum sempat ceritakan isi hatinya padaku. Andai aku mengetahui apa yang selama ini tersimpan jauh di palung hatinya…
Aku menulis sebuah catatan dengan pena tinta ungu di tanganku…
Cinta itu misteri yang membuat kita menjadi ambisius untuk mendapatkannya,
Cinta itu misteri yang membuat kita menjadi optimis bisa menggapainya,
Cinta itu misteri yang membuat kita menjadi pesimis tak dapat memilikinya,
Cinta itu misteri yang membuat kita menjadi histeris akan kejutannya,
Cinta itu misteri yang membuat kita menangis karena kehilangannya,
Cinta itu misteri yang membuat kiat menjadi egois karena ingin memenangkannya,
Cinta itu misteri hingga kita berhasil mengupasnya,
Cinta itu misteri hingga kita tak bisa menulis dengan kata apa lagi…
Aku memutuskan untuk naik Trans Jakarta. Aku butuh banyak penyegaran. Mungkin dengan bertemu banyak wajah-wajah baru di Trans Jakarta aku menjadi lebih baik. Aku harus bangun dari kesedihan. O_M_G bangunkan aku, please! Mataku sedang menangkap wajah seseorang yang tidak asing lagi bagiku. Wajah itu…
Wajah itu Mayo. Eh, mirip Mayo.
Bus berhenti. Orang yang wajahnya mirip dengan Mayo itu turun. Aku ikut turun. Tapi, aku kehilangan jejak. Besok aku akan kembali lagi ke sini.
Esok harinya…
Aku berharap akan berjumpa dengan orang itu lagi di sini, hopefully!
Benar. Dia berdiri di tempat yang sama. Aku tidak mungkin mimpi yang sama untuk yang kedua kalinya. Aku mengucek mataku. Aku tidak mimpi. Dia turun, aku mengikutinya. Langkahku kupercepat. Dia sepertinya sadar diikuti seseorang. Dia membalikkan tubuh, sekarang wajahnya jelas sekali bagiku. Mirip sekali dengan Mayo. Aku pingsan…
*******
RUMAH SAKIT
“Hy…!” seseorang menyapaku. Suaranya mirip sekali dengan Mayo.
Pandanganku masih kabur… aku fokuskan pandanganku. Sepertinya, aku salah lihat. Mirip sekali wajah yang ada di hadapanku dengan Mayo. Mayo hidup kembali.
“Mayo!”ujarku.
“Maaf, namaku Agan,”dia mengulurkan tangan.
Aku menjabatnya dengan wajah yang masih bingung. ”Chelsa,”ujarku,”Kamu bukan Mayo?”
Dia menggeleng. “Bukan, aku Agan. Maaf dari tadi kamu selalu memanggilku dengan nama Mayo. Mayo itu siapa?”
“Kamu mirip sekali dengan dia. Mirip sekali!” ujarku.”Aku punya fotonya.”
“Boleh aku lihat?”
Aku mengangguk. “Bisa tolong ambilkan tasku?”
Aku menunjukkan foto Mayo pada Agan. Dia cukup terkejut.
“Dia telah tiada, meninggalkan dunia yang fana ini, dia telah kembali kepada Sang Pencipta…”ceritaku.
“Maafkan aku…” ujar Agan.
Aku tersenyum. “nggak masalah,”ucapku,”Forget it!”
6 BULAN KEMUDIAN
Aku semakin dekat dengan Agan. Mungkin kemiripannya dengan Mayo dapat menghibur hatiku. Dia kuliah di Fakultas Ekonomi semester 6. orangnya baik, jago main basket, dan bersahabat dengan setiap orang. Dia juga mulai akrab dengan adikku Dio yang sekarang telah duduk di SD kelas 3.
Tik… Tik…
Wah, gerimis niy padahal Agan mau ke sini. Dia mau mengantarku ke pemakaman Mayo. Hari ini tepat 6 bulan Mayo meninggal dunia. Walaupun ada Agan yang menggantikan Mayo dan wajahnya mirip sekali dengan Mayo, entah mengapa aku sering salah memanggil Agan dengan panggilan Mayo. Untunglah, Agan bisa memakluminya.
Agan sudah telat setengah jam, mungkin karena gerimis dan jalan masih becek karena sebelumnya hujan turun sangat lebit. Jalanan pasti licin. Aku cemas, Agan biasanya naik motor. Mudah-mudahan kekhawatiranku tidak terjadi.
35 menit…
40 menit…
50 menit…
55 menit… ponselku berdering…
Di lcd tertera [Agan. Calling…]
“Halo!” sapaku bersemangat.
“Halo, Chelsa!” terdengar suara dari seberang sana bukan suara Agan tapi seorang wanita kira-kira seumuran Mama.
“Chelsa, ini tante…” ternyata mamanya Agan.
“Tante…”
“Chel, Agan Chel…”suara mama Agan diiringi tangis. Ada apa ini? Aku mulai cemas.
“Agan kecelakaan mo…motor… dan… dan… pergi meninggalkan… ki… kita… Chel!”
“Aah……….!”
Aku pingsan.
RUMAH SAKIT
Pandanganku masih kabur…
Aku melihat Dhea tersenyum padaku. Perlahan telingaku menangkap suaranya,”Chel, syukurlah lo udah sadar. Lo siy lari-lari, akhirnya dehidrasikan!”
Aku tidak mengalami dehidrasi. Tapi, aku shock melihat sebuah bus menabrak… menabrak Mayo dan mendengar berita Agan kecelakaan motor. Apa aku ini pembawa sial?
Aku menagis…
Dhea panik melihatku.
Aku ini mahasiswi psikologi seharusnya bisa mengendalikan emosi namun kali ini aku galau. Galau.
“Chel, lo kenapa?” Tanya Dhea.
“Mayo, Dhe. Mayo…” ujarku sambil terisak,”Agan…!”
“Iya, Mayo kenapa? Terus siapa Agan?”
Aku terus menagis tak mengiyakan suara Dhea. Hiks.. hiks….
“Chel, syukurlah kamu sudah sadar!” ada sebuah suara dan suara itu.
Tangisanku berhenti. Mataku yang basah kulirikan ke sumber suara. Arwah Mayo datang padaku membawa sebuah kantong warna merah. Eh, itu Mayo atau Agan?
“ Maafin aku… maafin aku…!”ujarku. Mayo atau Agan semakin dekat.
Sekarang dia duduk di samping kananku. Aku memegang tangannya. Bisa. Berarti dia masih hidup. Mayo atau Agan masih hidup?
“Kamu siapa?”tanyaku.
“Chel, ini aku, aku Mayo!”
“Mayo, ini benaran kamu?”tanyaku.
“Iya. Koma selama 6 bulan, apakah telah membuat kamu melupakan aku?
“6 bulan?” aku tidak percaya. Rasanya aku hanya pingsan tak lebih dari satu jam.
“Iya…” ujar Mayo.
“Yo, aku pingsan bukan karena dehidrasi tapi karena melihat kamu ditabrak sebuah bus dan…,”jelasku dengan suara yang parau.
“Bus itu tidak menabarakku. Tapi, seorang pengendara sepeda motor. Saat itu, aku tepat berada di dekat kejadian. Aku menolong pengendara sepeda motor itu sehingga aku berada di tengah kerumunan orang banyak,”cerita Mayo.
“Jadi?”
“Yach… ini aku!”
Aku tersenyum bahagia…
Ada yang Aneh. Agan benar-benar terasa nyata. Namun, dia hanya hadir dalam tidur panjangku.
*******
22
Dear diary….
Diaryku chayank… aku baru sadar dari tidur panjangku. Aku koma selama 6 bulan. Selama 6 bulan itulah, aku merasa hidup dengan kisah yang lain. Semuanya benar-benar nyata. Semua kisahku itu tidak beraturan, I called it “IRREGULAR LOVE” namun itu semua ada yang mengaturnya. Manusia punya jalan hidup sendiri semenjak dia lahir dari rahim Sang Bunda.
Diaryku chayank… aku sekarang mengerti; cinta itu ada dalam sadar dan tak sadarku, dalam nyata dan mimpiku. Aku tidak mau seperti tokoh Cinta dalam “Cinta, Never Alone!” yang selalu menganggap cinta itu tiada bersahabat dengannya. Dan, dia terlambat menyadarinya. Walaupun, tiada waktu terlambut untuk segala hal yang baik. Cinta ada di dekat kita. Semenjak kita terlahir ke dunia, ada Ibu, Mama, Bunda atau Mami yang memberikan kasih sayang dan cinta sepanjang masa yang tiada kata “Putus”. Ibu selalu melindungi, menjaga, menyangi, I love U, Mom! Cinta itu ada di dekat kita, ada Ayah, Papa, Papi, atau apa saja panggilan untuk beliau yang mencari nafkah siang dan malam agar anaknya bisa sekolah. Bila masa kecil Sang Ayah penuh dengan keterbatasan, beliau tak ingin anaknya merasakan hal yang sama. Sang Ayah rela anaknya makan hanya dengan nasi saja asalkan anaknya bisa makan dengan lauk. Bahkan, beliau rela tak makan demi buah hatinya.Aku melihat ini dalam tidur panjangku dan ini ada di sekitar kita.
Diaryku chayank… segala problema yang kuhadapi selama ini adalah suatu pembelajaran bagiku. Perlahan, aku mengalami perubahan. Tak apa, orang bijak bilang; perubahan itu adalah sebuah proses pembelajaran sejati. Bila tiada waktu untuk berubah berarti tidak ada waktu untuk sebuah pembelajaran sejati.
Diaryku chayank… kuakhiri ceritaku.
Thank you so much, I say you good bye!

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture