Translate

Rabu, 13 Agustus 2008

School Healing-

Menyembuhkan Problema Sekolah

Ditulis oleh : MARJOHAN M.Pd

Guru SMA Negeri 3 Batusangkar, Kab. Tanah Datar, SUMBAR

Kata Pengantar

Buku kecil ini adalah kompilasi artikel penulis yang pernah terbit pada media massa, koran- koran di Sumatra Barat (Haluan, Singgalang dan Mingguan Canang) dan situs pendidikan di internet, yang banyak berbicara tentang kehidupan siswa, guru dan dunia pendidikan. Kompilasi tulisan tersebut dikumpulkan menjadi sebuah buku dan diberi judul “School Healing, Menyembuhkan Problema Sekolah”, Opini seputar kehidupan guru dan murid”, berisi 40 judul artikel tentang opini, celotehan, dan ungkapan- ungkapan yang mungkin terucap oleh guru, siswa, orang tua siswa and stakeholder dalam kehidupan akademis di sekolah.

Buku kecil ini sebaiknya dibaca oleh para guru, orangtua, pelajar, mahasiswa dan siapa saja yang tertarik untuk memahami dunia pendidikan. Tentu saja dalam penulisan buku ini terdapat kesalahan di sana-sini dan penulis dengan senang hati menerima masukan serta kritik yang membangun. Penulis menunggu saran dan masukan itu semua pada marjohanusman@yahoo.com atau marjohanusman@gmail.com. Kompilasi artikel ini juga dapat diakses pada http://penulisbatusangkar.blogspot.com/. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan dari berbagai pihak.

Batusangkar, !7 Agustus 2008

Marjohan M.Pd

Daftar Isi

1.Guru Perlu Kreatif untuk Meredakan Kebosanan. 1

2.Menciptakan Pendidikan Yang Efektif 6

3.Tinggalkanlah Metode Konvensional 9

4. Kemerosotan Daya Tarik Sekolah 13

5. Masih Adakah Siswa Yang Mengidolakan Pahlawan 18

6. Tidak ada Istilah Terlambat Untuk Maju 23

7. SDM Diperbindangkan dan Guru Tinggalkan Tugas 27

8. Daya Serap Murid dan Mental Guru 30

9. Menagih Kepedulian Orangtua Dalam Mendidik Anak 35

10. Pendidikan Yang Belum Mendidik 40

11. Sinetron Mencabut Akar Budaya 45

12. Bila Gagal Tak Perlu Frustasi 50

13. Gaya Hidup Mahasiswa 53

14. Guru Perlu Memiliki Kecerdasan Berganda 55

15. Menumbuhkan Budaya Menghargai Siswa 60

16. Siswa Bingung Memilih Figur antara Selebriti dan Tokoh Intelektual 64

17. Peran Strategis Orang Tua Untuk Mencegah Pengangguran Sejak Dini 69

18. Budaya Membaca dan Menulis Masih Minim Di Sekolah 74

19. Obrolan Buat Mahasiswa 78

20. Fenomena Sebahagian Anak Muda 80

21. Melacak Pergaulan Siswa Yang Di Luar Batas 82

22. Siswa Perlu Tahu Rahasia Keberhasilan 10 Jutawan 86

23. Suatu Gejala Negatif, Guru Menomorduakan Sekolah 89

24. Pola Pendidikan Di Rumah Miskin Dengan Sentuhan Spiritual 94

25. Sebentar Lagi Ujian Nasional, Jangan Lupa Mencontek 98

26 .Hidup Damai Di Tempat Kos 102

27.Karakter Guru Berpengaruh Terhadap Masa Depan Siswa 104

28.Merokok Sudah Jadi Gaya Hidup di Sekolah 108

29. Tuntutlah Ilmu Di Universitas Kehidupan 112

30. Bagaimana Kalau Tidak Lulus Di Perguruan Tinggi 117

31. Ekstra Kurikuler Berorientasi Pada Dunia Kerja 121

32. Memuluskan Komunikasi Atas Bawah Di Sekolah 126

33. Sekolah Unggul Perlu Membudayakan Gemar Membaca 131

34. Menumbuhkan Budaya Gemar Belajar Dan Hidup Mandiri 136

35. Pornografi Masuk ke Sekolah Lewat HP dan Internet 141

36. Kemandirian dalam Belajar Perlu Ditingkatkan 145

37. Kesehatan Jiwa Syarat Bagi Guru Untuk Mengajar 150

38. Makin Berkurang Kesempatan Murid Untuk Menuang Gagasannya 152

39. Memilih Sekolah Perlu Kearifan 157

40. Basmilah sampah secara total 161

Daftar Pustaka 167

1. Guru Perlu Kreatif untuk Meredakan Kebosanan

Cukup banyak guru-guru mengatakan merasa capek atau lesu apabila harus segera masuk kelas untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam pengontrolan absensi, hampir setiap hari ada surat-surat guru yang datang mengabarkan halangan mereka untuk tidak datang ke sekolah.

Pada umumnya alasan serius atau alasan berpura-pura guru dalam suratnya sehingga berhalangan untuk tidak hadir di sekolah karena sakit. Sering alasan lain adalah untuk memohon izin karena ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Kalau kita fikirkan siapakah orang di dunia yang luput dari urusan keluarga. Tetapi rasanya tidak logis kalau seorang guru sempat dalam satu bulan membuat alasan sepele dan berhalangan untuk mengajar sebanyak sekian kali. Dan alasan sepele ini cukup banyak dilakukan oleh guru-guru.

Dapat dikatakan, buat sementara, bahwa keabsenan guru-guru dari sekolah alasan, berpura-pura dalam alasan, karena rasa tersandung oleh bosan selama proses belajar mengajar. Kemalasan guru-guru yang lain sering terekspresi dalam bentuk kelesuan setiap kali harus menaikkan kewajiban dalam PBM. Meskipun bel tanda masuk telah berbunyi beberapa menit yang lalu namun masih banyak guru-guru yang ingin menyelesaikan gosip-gosip ringan sesama guru. Malah ada sebagian guru ada yang sengaja hilir-mudik atau berpura kasak-kusuk dalam mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Sampai akhirnya selalu terlambat tiba di kelas dan kemudian sengaja pula agak cepat untuk meninggalkan kelas.

Kebosanan dalam PBM disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari guru dan faktor yang berasal dari murid.

Pengabaian kedua faktor ini akan menyebabkan masalah dalam PBM tidak teratasi. Untuk memuluskan PBM maka kedua faktor ini harus dipahami dan diatasi.

Rata-rata guru merasa enggan untuk memasuki kelas-kelas dengan siswa mempunyai daya serap rendah atau bodoh. Gairah mengajar guru untuk mengajar kerap kali terpancing karena di dalam kelas ada beberapa orang siswa yang cukup pintar.

Namun sejak keberadaan kelas unggul di setiap sekolah maka siswa-siswa yang memiliki daya serap tinggi terkonsentrasi ke dalam satu kelas saja. Maka gairah guru untuk melaksanakan PBM hanya lebih tertuju untuk kelas unggul.

Sedangkan untuk kelas-kelas non unggul yang jumlahnya cukup banyak dengan kemampuan siswa rendah terpaksa dimasuki oleh guru dengan rasa lesu dan letih. Tentu tidak semua guru yang menunjukkan gejala yang demikian.

Pada umumnya penyebab melempemnya daya serap siswa di sekolah adalah karena mereka tidak terbiasa dengan budaya membaca sehingga mereka lambat dalam menganalisa.

Kebiasaan dalam belajar cuma menghafal melulu. Dapat diamati bahwa siswa yang telah terbiasa dalam budaya membaca tidak mengalami kesulitan dalam PBM.

Tidak banyak siswa yang terbiasa dengan budaya membaca sehingga akibatnya adalah tidak banyak pula siswa yang memiliki daya serap tinggi. Daya serap yang tinggi selain disebabkan oleh faktor IQ juga ditentukan oleh pelaksanaan agenda kehidupan atau pemanfaatan waktu. Seringkali orang tua yang ikut campur dalam masalah waktu anak dan gemar “mencikaraui” anak akan menjadikan anaknya sebagai siswa yang memiliki daya serap tinggi di sekolah.

Faktor yang datang dari guru cukup bervariasi. Dulu menjadi guru memang serba dihormati dan tentu saja menyenangkan. Tetapi belakangan ini, bahkan terlalu banyak korban perasaan apalagi semenjak remaja banyak mengalami emosi moral.

Karena terus terang saja, siswa-siswanya terdiri dari anak-anak yang kebanyakan tidak diwarisi nilai agama yang mantap oleh orang tua. Ada juga siswa yang merupakan anak-anak pejabat yang kaya-kaya dan anak orang berada sedangkan guru-gurunya miskin.

Faktor yang menyebabkan guru merasa bosan dalam PBM mungkin karena kelelahan. Barangkali ia memiliki jumlah jam yang terlalu banyak.

Walau pada sekolah pengabdiannya hanya mengajar beberapa jam saja, tetapi karena tuntutan hidup ia menjadi guru sukarela pula pada suatu atau dua sekolah lain. Atau bisa jadi karena kelelahan fisik setelah menjadi guru selama puluhan tahun. Sering kita lihat para guru-guru tua yang belum sudi untuk pensiun merasa segan untuk melakukan PBM.

Secara mayoritas guru kelihatan kurang termotivasi untuk meningkatkan kualitas dirinya. Mereka tidak banyak membaca, walaupun sebatas membaca koran dan majalah, sehingga jadilah ilmu pengetahuan mereka sempit dan dangkal. Kebanyakan guru-guru sehabis mengajar ya habis begitu saja. Begitulah kegiatan rutin mereka hari demi hari sampai akhirnya rasa bosan menyelinap ke dalam fikiran.

Ada guru yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup luas dan cukup hangat dalam bergaul bersama siswa. Namun juga sering mengeluh bosan untuk melakukan PBM sehingga mengajar secara serampangan dengan metode kuno sepanjang hari. Guru yang seperti ini sebaiknya harus segera melakukan introspeksi diri dan kemudian memutuskan apakah karir sebagai guru cocok baginya atau tidak. Tetapi pada umumnya mereka tetap bertahan mengajar dalam kebosanan karena tidak mampu mencari pekerjaan jenis lain yang cocok bagi diri, maklum banyak orang terserang sindrom pegawai negeri dengan alasan jaminan untuk hari tua.

Setiap guru banyak terdengar keluhan guru-guru. Ada yang mengeluhkan badan kurang enak karena sakit kepala, sakit gigi, perut terasa kembung atau badan terasa pegal-pegal dimana ini semua adalah kompensasi dari bentuk rasa bosan. Mereka bosan untuk menunaikan tanggung jawab. Dan penyebab lain dari rasa bosan ini adalah karena umumnya guru-guru kurang kreatif sehingga mereka jarang yang menjadi guru profesional.

Memang secara umum guru-guru terlihat kurang kreatif dan sebagian kecil tentu ada yang kreatif. Rata-rata guru menerapkan peranan tradisional dalam mengajar. Mereka masih berfilsafat bahwa guru masih sebagai sumber ilmu dan dalam penguasaan ilmu siswa harus menyalin catatan guru dan menghafalkannya tanpa melupakan titik dan komanya sekalipun. Penanganan masalah yang ditemui selama PBM pun juga secara tradisional. Kalau murid bersalah musti diberi nasehat dan kebanyakan sistem pemberian nasehat dalam bentuk komunikasi satu arah, dimana yang sering terlihat ketika guru bertutur kata adalah siswa menekur atau tidak boleh menjawab. Tetapi sekarang entah guru-guru banyak yang tidak bertuah dalam bertutur kata karena kesempitan ilmu dan wawasannya atau karena penghargaan murid semakin berkurang karena kurang diwarisi nilai agama oleh orang tua maka sekarang seakan melebar jurang dalam komunikasi.

Kreativitas guru pun terlihat lemah dalam PBM. Presentasi pengajaran sudah terlihat semakin basi karena menggunakan metode itu ke itu juga. Gema hasil mengikuti penataran, apakah dalam bentuk MGMP, sekali sekali dalam bentuk aplikasi. Kecuali yang terlihat adalah setelah guru mengikuti MGMP guru cuma semakin tertib dalam menulis satuan pelajaran tetapi belum bentuk aplikasi.

Diantara guru-guru yang belum lagi mampu memperlihatkan kreativitas, kita juga melihat guru-guru yang kreatif. Meski mengajar banyak, namun karena kreatif mereka tetap tampak ceria dan segar dalam mengajar.

Kreatifitas seseorang, juga guru, sangat ditentukan oleh keleluasaan dan kedalaman pengetahuan dan wawasan. Oleh sebab itu menjadi guru ideal haruslah selalu membiasakan untuk membelajarkan diri. Adalah sangat tepat bila seorang guru selain memahami bidang studinya juga mendalami pengetahuan umum lainnya sebagai khazanah dirinya. Guru yang luas wawasan dan ilmu pengetahuannya akan tidak pernah kehabisan bahan dalam proses belajar mengajar. Kalau sekarang ada ungkapan yang mengatakan bahwa mengajar itu adalah seni, maka mustahillah guru yang kering akan ilmu dan sempit wawasan dapat mengaplikasikannya sebagi seni.

Mengikuti program penyegaran dalam bentuk kegiatan penataran, musyawarah kerja, dan program peningkatan kualitas lain sungguh tepat. Sayang selama ini terlihat kegiatan-kegiatan penyegaran yang ada belum dikemas secara profesional. Dengan arti kata selama mengikuti program penyegaran, guru-guru hanya terlihat secara pasif dan paling kurang bertindak sebagai pendengar abadi. Itulah dampaknya setiap kali seorang guru selesai mengikuti MGMP dan penataran lain, misalnya, seolah-olah tidak membawa perubahan dalam proses belajar mengajar. Terasa seakan-akan apa yang diperoleh selama mengikuti penataran-penataran digambarkan dengan ungkapan “masuk telinga kiri keluar telinga kanan saja.”

Melatih diri untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dalam bentuk berpidato atau berceramah untuk masyarakat dan menyempatkan diri untuk menulis artikel-artikel adalah bentuk lain dari pengembangan kreativitas guru.

Mendalami psikologi remaja sehingga guru dapat memahami meningkatkan kreativitas guru dalam bertindak. Rata-rata guru yang kreatif adalah guru yang kaya akan ide-ide dan menerapkan bentuk nyata. Dalam realita tampak bahwa kreativitas dapat mengatasi rasa bosan.

2. Menciptakan Pendidikan Yang Efektif

Kata efektif adalah sebuah kata yang mudah untuk diucapkan namun butuh usaha maksimum dan kontinyu untuk memperolehnya. Kata ini dapat bergabung dengan kata pendidikan menjadi “pendidikan yang efektif” dan selanjutnya kita dapat bertanya sudah efektifkah pendidikan kita atau hanya sekedar asal-asalan saja?

Dari tiga bentuk pendidikan yaitu pendidikan formal, informal dan non formal, maka pendidikan formal paling banyak disorot mulai dari mutu sampai dengan keefektifannya. Pendidikan formal yang mencakupi kurikulum, sarana, dan prasarananya dan lingkungan masyarakat yang ikut mempengaruhinya.

Apakah suatu pendidikan yang diselenggarakan sejak dari bangku SD sampai perguruan tinggi atau paling kurang sampai untuk tingkat SLTA sudah efektif atau belum. Keefektifan sebuah sekolah sangat dipengaruhi oleh latar belakang rumah tangga tempat asal anak-anak didik dan keadaan masyarakat sekeliling sekolah. Rumah tangga dan masyarakat yang memiliki SDM yang sangat memadai dan kondisi keuangan yang cukup mapan akan membantu terselenggaranya suatu sekolah yang efektif.

Sekolah yang efektif tentu akan menjadi sekolah idola dan akan diserbu oleh banyak calon anak didik setiap awal tahun pelajaran dimulai. Anak yang efektif sangat ditentukan oleh faktor rumah dan faktor sekolah yaitu rumah yang efektif dan sekolah yang efektif pula.

Kualitas seorang anak didik sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh budaya dan suasana belajar di rumah dan di sekolah. Beberapa faktor pendukung kualitas anak di rumah adalah seperti tingkat sosial ekonomi dan Sumber Daya Manusia (SDM) orang tua serta pengaruh teman bermain dan hiburan. Sedangkan faktor pendukung di lingkungan sekolah adalah seperti tingkat SDM dan kehangatan pribadi guru, fasilitas penunjang, sarana belajar dan pengaruh budaya dan iklim belajar di sekolah itu sendiri.

Lebih dari separoh waktu kehidupan anak dihabiskan di rumah. Famili dan orang tua mempunyai peranan sangat besar dalam menentukan pribadi anak. Kualitas mereka sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan (SDM) orang tua dalam mendidik dan menumbuhkembangkan konsep belajar dalam keluarga. Kemampuan ekonomi orang tua punya peran dalam menyediakan fasilitas belajar. Ada anak dengan tingkat pendidikan orang tua rendah, biasa berhasil dalam belajar karena orang tua cukup tebal isi kantongnya untuk membiayai saran belajar. Ada lagi sebagian anak yang berasal dari keluarga dengan ekonomi kurang mampu, tetapi juga berhasil dalam belajar, karena orang tuanya sendiri kaya dengan wawasan SDM. Yang sangat beruntung adalah anak yang memiliki orang tua dengan SDM tinggi, kantong tebal dan teman-teman bermain memberikan pengaruh positif dalam belajar.

Pendidikan yang efektif tentu akan didukung oleh komponen-komponen yang juga efektif. Mereka adalah seperti sekolah efektif, kepala sekolah efektif, guru efektif dan murid yang efektif.

Sekolah yang efektif tentu mempunyai standar indikator seperti yang digambarkan oleh Sergio Vanio. Ia mengatakan bahwa kalau sekolah efektif murid-muridnya dinilai setiap tahun oleh pihak yang independen maka skor penilaiannya selalu meningkat. Murid-murid di sekolah itu sangat antusias dalam belajar dan ini tercermin dalam peningkatan prosentase kehadirannya. Guru sangat konsekwen dalam memberikan pekerjaan rumah (PR) dan menilai PR itu dengan konsisten. Sekolah memiliki program dan jadwal ekstrakurikuler di sekolah itu terdapat partisipasi orang tua dan masyarakat untuk peduli terhadap perkembangan dan kemajuan sekolah tersebut.

Sekolah efektif sangat menghargai waktu dan akan memanfaatkannya ibarat memanfaatkan uang. Tentu saja sebagian besar waktu itu digunakan untuk belajar. Guru-guru di sekolah yang efektif mampu melaksanakan proses belajar mengajar yang bebas dari gangguan dan memberikan pekerjaan rumah dengan cara bertanggung jawab. Sekolah ini mulai dan mengakhiri kegiatan belajar betul-betul tepat waktu. Sementara itu dalam sekolah yang tidak efektif, guru-guru cenderung tidak mendukung pemahaman tujuan sekolah.

Sekolah yang efektif tentu berada di belakang pimpinan kepala sekolah yang efektif pula. Seorang kepala sekolah akan menentukan jatuh atau bangunnya kualitas suatu sekolah. Kepala sekolah asal-asalan cenderung untuk menghancurkan budaya dan iklim belajar sekolah. Sedangkan kepala sekolah yang efektif selalu komit dengan misi dan visi yang mengangkat dan melestarikan kualitas sekolahnya.

Salfen Hasri (2004;20) mendeskripsikan tentang kepala sekolah yang efektif, yang antara lain sebagai berikut: punya visi dan merealisasikannya bersama guru dan staf. Ia mempunyai harapan yang tinggi pada prestasi, selalu mengamati kualitas guru dan kualitas anak didik serta mendorong pemanfaatan waktu. Disamping itu seorang kepala sekolah yang efektif selalu memonitor prestasi individu guru, staff, siswa dan sekolah.

Kepala sekolah yang efektif sangat sadar bahwa keberadaan siswa adalah titik pokok dalam dunia pendidikan (di sekolah), maka ia sangat memonitor perkembangan siswa yang tercermin dalam peningkatan kualitas nilai tes yang bersih dari rekayasa dan manipulasi data. Ia melowongkan waktu (punya jadwal) untuk mengamati guru dalam kelas dan senantiasa berdialog tentang problem dan perbaikan pengajaran/kelas.

Kepala sekolah menjadi efektif karena ia mampu menjadi pemimpin yang efektif. Me Clure (dalam Salfen Hasri, 2004) mengatakan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mampu dalam berbagi tugas bersama siapa yang memiliki kompetensi untuk pekerjaan khusus.

Seorang pemimpin yang efektif harus mampu untuk melaksanakan “problem solving” dan “decision making”, memiliki bakat memimpin serta mampu untuk bersosial yaitu untuk bekerja sama. Namun dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah sedikit sekali yang menghabiskan waktu untuk urusan kurikulum dan pengajaran.

3. Tinggalkanlah Metode Konvensional

Ramai sekali media massa menulis masalah Sumber Daya Manusia. Begitu pula para pakar telah sama setuju bahwa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia amat diperlukan pendidikan. Dengan arti kata dunia pendidikan memegang peranan yang betul-betul pen­ting. Martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas bangsa itu sendiri. Kualitas suatu bangsa diukur dengan sumber daya manusianya.

Kita sadari bahwa pendidikan, sungguh penting untuk kemaju­an bangsa. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencapai bangsa yang berkualitas adalah dengan melaksanakan wajib belajar. Untuk mencapai hal ini Presiden Soeharto telah menca­nangkan wajib belajar enam tahun tepat pada hari Hardiknas tanggal 2 Mei 1984. Kemudian untuk percepatan mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, maka sepuluh tahun kemudian, Mei 1994. Presiden mencanangkan lagi wajib be­lajar sembilan tahun. Untuk mensukseskan wajib belajar sembilan tahun itu sangat dituntut tenaga pendidik yang betul-betul ahli dalam bidang­nya (profesional) agar dapat mengelola pendidikan di la­pangan secara baik.

Mengingat betapa pentingnya sektor pendidikan dalam pelak­sanaan pembangunan nasional jangka panjang tahap dua, khusus pembangunan sumber daya manusia, kita tidak dapat menu­tup mata dan telinga terhadap sektor pendidikan kita yang mutunya masih tertinggal itu. Dan orang-orang arif dalam dunia pendidikan di negara ini cukup respon atas berbagai masalah pendidikan. Mereka merekayasa dan melaksanakan berbagai usaha peningkatan dan penyegaran.

Berbagai usaha untuk me­ningkatkan kualitas pendidikan telah sama-sama kita rasakan dan kita lihat. Begitu pula banyak pembaharuan demi pe­ningkatan mutu yang sudah dilakukan. Mengganti kuri­kulum yang diikuti oleh peru­bahan struktur buku-buku pela­jaran yang membanjir di pasaran. Membentuk proyek pe­ningkatan kwalitas guru-guru yang dilaksanakan dalam bentuk penataran, seminar-seminar dan latihan kerja. Begitu juga penye­diaan sarana dan prasarana bidang pendidikan.

Betapa usaha ini diterapkan melalui pengorbanan moril dan materil. Memberikan keri­nganan bagi guru-guru, misalnya dengan mengurangi jumlah jam mengajar di sekolah, agar dapat mengikuti penataran apakah dalam bentuk sanggar-sanggar atau bentuk MGMB dan MGBS. Namun usaha-usaha ini belum lagi menampakkan harapan dan pencapaian target. Kita dapat mengetahuinya lewat hasil Eb­tanas yang tetap rendah tiap tahun. Dan kita langsung mem­perhatikan betapa bertambahnya jumlah murid yang mengalami malas. Dari membaca media massa atau langsung melihat fakta yang menunjukkan adanya keruwetan dalam sekolah dan meningkatnya angka kenakalan pelajar.

Barangkali apa yang menye­babkan lambatnya peningkatan kualitas pendidikan ini? Li­hatlah proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru kepada murid barn sampai pada taraf memberi bekal penge­tahuan dan keterampilan sebatas sekedar tahu saja. Belum sampai kepada meletakan nilai-nilai wawasan sosial dan kemanu­siaan, serta penguasaan bekal hidup yang praktis. Dalam sis­tem pengajaran kita lihat hu­bungan guru dan murid ibarat hubungan cerek dan cangkir. Yang satu cuma sebatas mem­beri dan yang lain sekedar menerima saja.

Atau mungkin karena sistem pendidikan yang diterapkan oleh guru kepada murid bersifat mengulang-ulang dan tidak ada, atau kurang, kreasi dalam mengembangkan pelajaran dan seni mengajarnya. Sama-sama kita perhatikan bahwa masih ada guru-guru yang mana kalau mengajar menggunakan buku dan catatan yang sama sepan­jang tahun. Ada pula guru karena kurang menguasai bahan kemudian mengambil strategi mudah, yaitu meringkas isi buku untuk dicatatkan melulu. Atau menghafalkan buku catatan agar besok dapat disajikan ke ha­dapan murid di dalam kelas. Murid sendiri dapat mengatakan bahwa guru yang demikian ilmunya cuma tua satu malam dari murid. Dan inilah kenya­taan yang membuat integrasi guru-murid tetap berjalan macet. Guru sibuk berbicara di depan kelas sedangkan murid asyik melucu atau ngobrol di bela­kang.

Tampak taraf pengajaran kita untuk menyerap ilmu masih sekedar menyodorkan tugas­-tugas hafalan untuk diuji. Sis­tem komunikasi dalam kelas cenderung satu arah dan murid lebih dominan bersikap yes-man kepada guru. Mengkeritik guru atau beradu argumen seolah dipandang tabu. Mungkin selalu dibelenggu ketakutan karena berdampak pada ancam­an pada nilai rapor. Demikianlah ungkap salah seorang murid dalam suatu dialog ri­ngan. Belajar dengan cara meng­hafal sungguh mematikan krea­tif berfikir dan menunjukkan bahwa guru-guru masih mene­rapkan pengajaran sistem kuno.

Ciri-ciri sistem pengajaran kuno atau konvensional sangat terlihat jelas dalam interaksi guru-murid di sekolah. Dianta­ranya adalah pendekatan yang masih bersifat otoriter, yaitu bersifat menguasai. Guru meng­anggap bahwa dirinyalah paling benar. Yang mengharuskan seti­ap murid menerima apa yang dikatakan. Pernah kejadian pada sebuah sekolah. Seorang murid kritis tergolong pintar mencoba memberi usul atau kritik kons­truktif kepada seorang guru bidang studi. Membuat, guru menjadi merah muka dan bukti merasa gembira. Guru itu tampak kesal dan pada akhir semester dia telah menodai rapor murid dengan angka mati. Dia melakukan ini entah karena rasa dendam karena merasa kelin­tasan akibat ilmunya minus atau semata-mata memperturutkan egois.

Berbicara mengenai metoda pendekatan dalam pendidikan, ada tiga bentuk metode pende­katan yaitu konvensional, prog­resif dan metode liberal. Seko­lah-sekolah kita amat mengenal metode konvensional karena metode itu melekat terus. Sikap otoriter terlihat jelas dalam metode ini.

Beginilah suasana kelas atau sekolah dengan metode kon­vensional. Kelas dengan jumlah murid yang masih ramai, dan tampak lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Seolah-olah ruang kelaslah yang menjadi wilayah belajar murid, meskipun teori diatas kertas sungguh bagus. Dalam proses belajar mengajar siswa tampak bersikap pasif. Mereka hanya menerima ilmu saja dan dalam memahami pelajaran cenderung untuk selalu menghafal buku catatan. Interaksi guru-murid lebih diwarnai oleh rasa takut, ini menandakan fikiran masih terbelenggu. Dalam penguasaan bidang ilmu seolah-olah guru serba tahu secara mutlak. Ce­ramah merupakan metode yang lazim diterapkan. Murid-murid kurang terlibat secara aktif dan inilah penyebab suasana kelas dan suasana belajar menjadi serba membosankan. Hampir setiap hari banyak murid yang memboloskan diri. Maka tentu tidak berlaku kalimat yang berbunyi “kelasku adalah istanaku” tetapi yang terjadi ha­nyalah “kelasku terasa bagaikan penjara”.

Untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas adalah lewat sumber daya ma­nusia yang berkualitas pula. Maksudnya untuk memperoleh murid yang berkualitas tentu dibutuhkan pula guru yang, berkualitas. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar peran guru tidak hanya sekedar membantu proses pembelajaran atau sebagai seorang pengambil keputusan instruksional. Tetapi lebih dari itu yaitu guru harus dapat berperan sebagai konselor, motivator dan fasilitator agar proses pembelajaran anak didik tidak asal-asalan saja.

Untuk mendapatkan pendi­dikan yang berkualitas agaknya sederhana saja rumusnya, yakni guru jangan mengajar asal-­asalan. Sangat mustahil kalau guru-guru yang demikian dapat bertindak atas nama pening­katan kualitas, berfungsi sebagai konselor, motivator dan fasi­litator bagi murid-murid. Mustahil pula seorang guru akan ikut berpartisipasi sem­purna dalam pendidikan kalau ia sendiri belum menampakkan, kualitas diri. Untuk itu kita mengharapkan agar guru-guru bersikap tulus dalam mening­katkan kualitas pendidikan dan diri sendiri. Andai kata mereka mengikuti penataran atau sang­gar, misalnya, janganlah hanya sekedar mengharapkan sertifikat untuk kredit poin, mengha­rapkan sejumlah kecil maten dan begitu pula jangan hanya bersikap pasif atau sekedar hura-hura. Agar dapat mema­inkan peranan dengan baik dalam dunia pendidikan maka guru harus senantiasa membe­lajarkan diri, otodidaktif, dan agaknya tidak ada alasan lagi bagi guru untuk selalu ber­lindung di balik alasan untuk tidak belajar. Sediakanlah wak­tu setiap hari untuk menyentuh buku-buku yang bermanfaat dan dapat menambah wawasan ber­fikir dengan harapan kita semua dapat menjadi gum yang ber­kualitas agar kita dapat men­didik murid-murid menjadi sumberdaya manusia yang ber­kualitas.

4. Kemerosotan Daya Tarik Sekolah

Sampai sekarang, agaknya pendidikan masih dianggap sebagai investasi nasional. Investasi terhadap manusia dengan kata lain dapat dikatakan dengan istilah “investasi dalam kemampuan manusia” atau dalam istilah yang lebih umum adalah “sumber daya manusia”.

Suatu negeri tetap miskin karena investasi dalam kemampuan manusianya juga kecil. Untuk mengentaskan keadaan ini sangat diperlukan peningkatan dan pengembangan potensial dan tepatnya adalah peningkatan keterampilan dan pengetahuan dari segenap warganya.

Keadaan dan eksistensi negara ini pada masa datang sangat ditentukan oleh investasi sumber daya manusia sekarang ini dapat kita sorot ke dalam dunia pendidikan.

Ada kecenderungan pemerosotan daya tarik sekolah dalam kalangan pelajar. Semoga saja pandangan ini tidak terlalu mengada-ada. Banyak fakta-fakta umum yang dapat menyokong pendapat ini seperti makin banyaknya anak-anak sekolah yang berkeliaran dimana-mana pada jam belajar efektif, pelaksanaan disiplin yang macet, rendahnya perhatian masyarakat untuk menyerbu fasilitas pendidikan dibandingkan dengan fasilitas hiburan dan masih senangnya hampir sebagian besar orang yang bersikap bermalas-malasan.

Kemerosotan daya tarik sekolah penyebabnya dapat ditinjau dari beberapa segi, seperti dari segi sekolah, rumah, masyarakat dan lain-lain. Walau bagaimana setiap segi ini saling mempengaruhi dan memberikan dampak negatif.

Meskipun telah banyak orang membahas tentang berbagai kritikan termasuk kritikan tentang metode mengajar namun belum tampak reaksi positif secara menyeluruh. Sampai saat sekarang metode mengajar lama masih cukup banyak digandrungi oleh guru-guru meskipun mereka telah puluhan kali mengikuti penataran-penataran dan hampir tiap saat disuguhi teori-teori.

Bagaimana keadaan metode mengajar gaya lama? Yaitu metode yang membuat murid cenderung menghafal teks demi teks catatan yang diberikan oleh guru, apakah mereka memahami atau tidak. Pelaksanaan metode lama ini telah berlangsung cukup lama. Mengajar dengan metode yang demikian cenderung bersifat dogmatik dan otoriter. Cara dari metode ini sedikit mendorong murid untuk bertanya dan bersikap kritis atau tertarik dalam belajar mandiri di luar sekolah. Inilah penyebabnya kenapa sekarang murid-murid, malah juga sampai kepada mahasiswa cenderung membisu dan suka sebagai penonton dalam dinamika kehidupan. Dan ini pulalah penyebabnya kenapa banyak generasi muda suka kebingungan dalam mengisi hari-hari kosong mereka.

Suasana mengajar pada berbagai tingkat sekolah, dari tingkat SD sampai SLTA dan barangkali juga di tingkat perguruan tinggi dengan gaya “konsep bank” atau gaya hubungan “cerek dan cangkir”. Gaya mengajar ini cenderung untuk melemahkan kebebasan berpikir dan menumbuhkan sikap mencari serta berpengalaman, yang diperlukan dalam perkembangan.

Suasana belajar murid cenderung menunggu perintah dari guru. Buku-buku pegangan baru dibaca kalau ada perintah. Karena sering guru lupa memberi aba-aba untuk membaca, maka rata-rata buku pegangan masih utuh. Malahan buku yang sengaja dipersiapkan oleh pemerintah cenderung untuk menumpuk-numpuk di pustaka atau di rumah karena budaya malas membaca. Dalam menguasai pelajaran, caya yang cukup jitu dipakai adalah lewat cara menghafal. Dan ini tampak cukup merata untuk berbagai tingkat sekolah, sehingga suasana belajar yang demikian hanya membuat murid untuk mencapai target lulus saja dan memperoleh ijazah, bukan untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang harus dibuktikan. Melihat gejala semakin kurang berkualitasnya lulusan sekarang, sehingga ada orang yang suka berkelakar mengatakan bahwa “ijazah itu hanya laku sampai di gerbang sekolah saja” dengan arti kata belum dapat diandalkan dalam kehidupan.

Situasi sekolah sekarang yang cukup mengecewakan telah membuat para lulusan tidak atau kurang berkualitas. Situasi sekolah yang mengecewakan ini adalah akibat, sekali lagi, bertahannya gaya mengajar metode lama. Proses belajar mengajar yang bersifat “text book” dan malah akibat murid belajar dengan sedikit buku atau tanpa buku pegangan sama sekali. Buktikanlah dalam kehidupan setiap hari kita melihat cukup banyak pelajar pergi sekolah melenggang saja atau Cuma membawa sehelai catatan “gado-gado” dan melipatnya ke dalam kantong. Kemudian guru dan murid cenderung bermalas-malas, mungkin akibat pemahaman kurikulum atau kurikulum itu sendiri cukup kabur dan guru kurang terlatih untuk menstimulasi aktivitas murid. Kenapa sekarang jarang guru yang bersikap profesional ideal? Ini bisa jadi disebabkan karena mereka miskin dengan ilmu, wawasan dan pengetahuan, sehingga ada saja murid yang berani mengatakan bahwa sebagian kecil guru ilmunya cuma “tua semalam” dari murid-murid.

Beberapa kritikan terhadap pendidikan yang menyebabkan semakin merosotnya daya tarik sekolah adalah sebagai berikut: Pengajaran yang serba bersifat Text-Book dan teori tanpa praktek. Populasi kelas yang cukup atau terlalu ramai dengan pengajaran cenderung melupakan program pengayaan atau perbaikan, kalaupun ada itu cuma agak berbau omong kosong saja. Murid-murid terlihat miskin dengan berbagai aktivitas pendidikan. Kurangnya penyediaan kebutuhan dan kapasitas untuk remaja. Proses belajar mengajar terlalu banyak didominasi oleh berbagai ujian, ada kalanya guru mengadakan ujian palsu karena kehabisan teknik mengajar. Dan tidak ada kegiatan ekstra kurikuler yang bermanfaat dan dapat memperkaya wawasan siswa untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan nyata kelak.

Kemerosotan daya tarik sekolah dapat pula disebabkan oleh gaya belajar murid-murid itu sendiri. Memang kita akui bawa gaya belajar ini dibentuk oleh faktor sekolah, rumah dan faktor sosial.

Gaya murid, dan bisa jadi juga mahasiswa, dalam menguasai pengetahuan adalah dengan cara melengkapi catatannya persis seperti kata-kata guru dan dalam ujian mereka berusaha keras untuk mencurahkan, mengungkapkannya lagi, dari hafalan. Ini merupakan penghalang serius dalam mengembangkan kreativitas berpikir. Disini tampak bahwa murid lebih tergantung pada ingatan atau hafalan dari pada memahami masalah dan mengembangkan alasan (logika) serta kekuatan analisa untuk menyelesaikan masalah dalam hidup.

Sudah menjadi pemandangan umum bagi kita untuk setiap musim ujian. Murid biasanya menyediakan beberapa hari saja dalam seminggu sebelum ujian untuk bekerja dan belajar intensif. Dalam menyerap ilmu mereka sering tergantung pada catatan dari pada buku-buku pegangan. Dan selanjutnya mereka tergantung pada hafalan daripada pemahaman.

Untuk mencapai kematangan pribadi murid, agaknya sangat diperlukan campur tangan atau bimbingan guru, terutama orang tua, untuk mengelola dan memanfaatkan waktu. Apa yang sering kita lihat dalam melewati hari-hati yang panjang sebelum ujian tiba, tentu tidak untuk semua murid, adalah mereka cenderung untuk membuang waktu tanpa tujuan. Sehingga kalau ada murid atau mahasiswa kita yang beruntung untuk belajar di negara Barat, dan negara maju lain, akan tercengang melihat sungguh serius dan rajin para pelajar di sana.

Agaknya kemerosotan daya tarik sekolah cukup menentukan kualitas sumber daya manusia, atau lulusan suatu sekolah. Kita lihat bahwa lulusan SLTA tentu saja tidak semuanya yang terus ke universitas rata-rata kurang stabil secara emosi, kurang terbimbing secara intelektual dan lemah dalam pemanfaatan waktu. Sehingga membuat sebagian besar mahasiswa banyak buang-buang waktu dan sedikit yang punya kesempatan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Mereka tidak tahu kemana akan pergi dan tidak tahu apa yang akan dilakukan. Kalau begitu kita tidak perlu heran kalau banyak yang mengaku telah sarjana tetapi belum bisa membuktikan diri dalam kehidupan karena bisa jadi akibat “ijazah mereka hanya laku sampai ke gerbang kampus” saja.

Kemerosotan daya tarik sekolah dan untuk menambahkan ilmu untuk tingkat SLTA sudah mulai terasa ketika murid duduk di bangku kelas tiga. Rata-rata murid kelas tiga banyak belajar acuh tidak acuh dan sering belajar serampangan saja. Kemalasan yang mereka derita ini bisa jadi akibat bahwa umumnya mereka terganggu oleh anggapan masa depan yang kabur, tetapi suka masa bodoh, dan banyaknya pengangguran terdidik di seputar mereka. Kecuali kalau mereka suka menganalisa bahwa pengangguran terdidik yang menganggur itu adalah akibat kualitas diri masih rendah, selain suratan dari Ilahi, karena ilmu mereka baru hanya sebatas “text-book thinking” semata. Pendidikan memang penting bagi seseorang karena ia memberinya kesempatan untuk meningkatkan “income” dan tingkat kehidupan seperti fasilitas kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Untuk pendidikan lewat penguasaan pengetahuan dan skill dapat membuat kemungkinan peningkatan “output”. Untuk itu penting bagi seseorang untuk memiliki kebutuhan akan pendidikan dan sekolah. Kehilangan daya tarik terhadap sekolah dan pendidikan, selain disebabkan oleh berbagai faktor yang telah kita sebutkan di atas, juga disebabkan faktor orang tua. Murid-murid dengan perilaku negatif banyak datang dari keluarga dengan orang tua yang sibuk dan tidak mampu memberi perhatian. Dan kalau pun orang tua tidak sibuk, tetapi akibat mereka kelewatan dalam memberi perhatian dan pemanjaan, tanpa membantu anak dalam belajar dan mengelola waktu, telah membuat anak-anak mereka berkualitas jelek.

Kenapa daya tarik sekolah merosot bisa terjadi? Terhadap pertanyaan ini dapat kita dengar jutaan alasan dan keluhan. Dari sudut pandang murid, mereka punya alasan untuk mengeluh karena kondisi hidup dan sekolah yang tak memadai. Alasan atau keluhan ini adalah seperti: jarangnya mereka memiliki buku, fasilitas pustaka dan labor yang terbatas, tempat tinggal yang tidak memadai dan akibat sedikitnya kontak dengan guru dan guru bimbingan dan konseling. Keluhan dari segi guru adalah seperti: guru yang kurang terlatih, gaji yang kurang memadai sehingga banyak guru yang demam berhutang pada koperasi atau bank, kelas yang ramai, kurikulum yang belum layak, keadaan kelas yang dua shift, buku teks yang tidak menarik dan media mengajar yang sering tidak ada di dalam proses belajar mengajar.

Kini mengingat dan melihat tantangan hidup yang makin nyata agaknya kita mesti lebih serius dalam memperhatikan investasi manusia dalam arti peningkatan sumber daya manusia. Untuk itu sangat diperlukannya pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas ditentukan oleh guru yang cakap dan mahir. Sekolah tetap membutuhkan guru yang luas ilmunya, dapat beradaptasi, kompeten dan berbakti pada tugas. Di samping itu juga perlu sokongan orang tua. Malah tentu yang omong kosong bila sekolah berkualitas dan orang tua, dan juga masyarakat yang berkualitas menghasilkan murid serta mahasiswa yang berkualitas pula.

5. Masih Adakah Siswa Yang Mengidolakan Pahlawan

SUDAH milyaran rupiah dana yang dihamburkan agar penataran dan pelatihan untuk memantapkan rasa kebangsaan dapat terwujud. Disamping itu media massa, lewat media cetak dan media elektronik, juga diserutkan agar segenap generasi muda dapat memahami arti semangat perjuangan 45.

Semangat perjuangan 45 adalah semangat yang tidak mengenal istilah pantang mundur demi meraih kemerdekaan. Malah nyawa, harta dan keluarga adalah taruhannya. Bagaimanakah semangat generasi kita seputar tahun 2.000 ini? Tanpa mengadakan penelitian yang akan membuang-buang waktu dan dana kita dapat mengatakan bahwa rata-rata generasi muda sekarang banyak yang tidak memiliki semangat perjuangan.

Andaikata kita pajangkan sederet nama mulai dari nama artis sinetron, olahragawan sampai kepada nama tokoh pahlawan yang telah berjasa banyak bagi bangsa ini. Maka artis dan olahragawan kerapkali sebagai tokoh Idola mereka yang utama dan para pahlawan sering sekedar idola pelengkap saja. Sebetulnya tidak salah kalau generasi muda termasuk anak didik kita menjadikan para artis dan olahragawan sebagai idola mereka, tidak mengapa bila tokoh-tokoh idola mereka baik luar-dalam. Maksudnya penampilan luarnya sama baik dengan karakter mereka yang sesungguhnya. Sekarang yang kita pertanyakan adalah apakah masih ada kontak batin antara anak didik kita dengan para pahlawan bangsa kita ini?

Cukup kagum juga kita, dari membaca koran dan majalah, bahwa di luar negeri, seperti Amerika, masih ada generasi muda mereka, yang mempunyai kontak batin dengan pahlawan yang telah terpisah selama puluhan generasi atau ratusan tahun. Mereka masih kenal baik sehingga dalam pembicaraan harian, mereka pun mengutip kalimat yang pernah diungkapkan oleh pahlawan bangsa mereka. Penyebaran buku-buku biografi adalah salah satu faktor pembentuk tetap adanya hubungan batin antara mereka dengan para pahlawan.

Bagaimana kontak batin antara anak didik kita dengan para pahlawan bangsa? Rata-rata, kecuali sebagian kecil, Cuma sebatas mengenal nama mereka saja. Oh, kalau Sisingamaraja itu berasal dari tanah Batak, Imam Bonjol dari daerah Minang dan Pangeran Diponegoro berasal dari daerah anu …! Atau anak didik kita Cuma dapat mengenal tahun-tahun saja. Bahwa Sukarno, Presiden RI pertama dan tokoh Proklamator, lahir tahun sekian dan Kihajar Dewantara mendirikan sekolah itu tahun sekian. Dan bisa jadi generasi muda sekarang hanya mengenal pahlawan hanya sebatas nama, karena nama-nama jalan juga mengabaikan nama-nama para pahlawan. Oh, itu jalan Pattimura dan ini jalan Rang Kayo Rasuna Said dan yang lain adalah jalan R.A Kartini, Jalan Teuku Umar, Jalan Haji Agus Salim, Jalan Sukarno-Hatta atau jalan Prof. Dr Hamka, dan lain-lain. Tetapi mereka kemungkinan tidak pernah tahu bahwa Rang Kayo Rasuna Said itu adalah pejuang wanita dari ranah Minang yang merupakan wanita pertama yang masuk ke dalam bui karena perjuangan bangsa. Atau mereka kurang mengetahui bagaimana Muhammad Hatta, Haji Agus Salim dan Hamka bergelut dengan buku-buku untuk menuntut ilmu demi perjuangan kemerdekaan bangsa. Atau bagaimana Sukarno berlatih berpidato di kegelapan malam semasa kecil dan Raden Ajeng Kartini beserta adik-adiknya berjuang menentang adat yang kolot demi membebaskan kaum wanita dari belenggu kebodohan untuk memperoleh emansipasi dan harga diri.

Pokoknya cukup sederhana pengetahuan anak didik kita tentang para pahlawan yakni sebatas nama, tahun-tahun kejadian dan daerah asal mereka. Mereka memperoleh itu lewat hafalan dan kemudian secara pelan-pelan melupakan apa yang dihafal sebelum sempat dijiwai sampai pada akhirnya para pahlawan itu terlupakan dan terputus dalam kontak batin. Kalau begitu siapakah yang bertanggung jawab atas masalah ini? Tentu saja kita semua, para guru-guru, akibat metode proses belajar mengajar yang salah kaprah.

Sebetulnya selain lewat proses belajar mengajar di sekolah anak didik masih dapat mengenal para pahlawan lewat media masa seperti televisi, majalah dan koran-koran. Tetapi acara-acara kepahlawanan sering kalah menarik dibandingkan dengan acara hiburan dan film-film. Sehingga anak-anak didik kita di rumah memperhatikannya tidak dengan sepenuhnya hati dan malah meninggalkan acara tersebut. Begitu pula kerapkali anak didik lebih tertarik dengan membaca gosip para bintang film dan mengabaikan biografi para pahlawan kalau ada. Walau tidak semua anak didik yang berbuat begitu.

Agaknya anak didik kita cukup peka juga. Mereka dapat mengatakan bahwa pelajaran yang bertanggung jawab untuk memperkenalkan pahlawan kepada mereka adalah seperti pelajaran PSPB, Sejarah, Agama, KWN, Tata Negara dan Bahasa Indonesia. Dan tentu pada umumnya seluruh guru-guru juga bertanggung jawab untuk memperkenalkan para pahlawan kepada anak didik sebagai generasi muda.

Suatu hari ketika ditanya, kepada murid tentang metode proses belajar mengajar yang baik dalam rangka mempelajari dan mengenal tokoh-tokoh pahlawan lewat mata pelajaran yang kita sebutkan di atas. Maka murid mengatakan bahwa metode yang terbaik adalah guru mencatatkan ringkasan pelajaran dan kemudian menerangkan pelajaran atau sebaliknya guru menerangkan pelajaran kemudian baru mencatatkan keringkasan yang telah dibuat guru.

Karena anak didik telah terlatih menjadi “beo” atau menerima saja apa yang telah disuguhkan guru lewat cara menghafal ibarat sapi agama Hindu” di India yang mengunyah-ngunyah kertas yang berisi tulisan dan kemudian dikeluarkan lewat kotoran tanpa singgah di kepala, telah menyukai metode ini. Pada hal metode ini adalah metode yang salah kaprah karena dapat mematikan kreatifitas berfikir anak didik. Sedangkan orang-orang dari negara maju telah lama meninggalkan metode proses belajar mengajar seperti ini. Namun kita dalam saat-saat menjelang tahun 2000 ini masih ada yang terpaku pada metode ini.

Cukup banyak ragam metode salah kaprah ini. Ada guru yang bercerita mengelantur kesana kemari tentang tokoh-tokoh pahlawan di dalam negeri dan di luar negeri, tanpa jelas salah benarnya, kemudian pada akhir pelajaran mencatatkan keringkasan yang telah dibuat oleh bapak atau ibu guru. Ada lagi guru yang setiap kali masuk kelas selalu menyuruh murid-murid untuk meringkaskan isi halaman dari sebuah buku dan dia sendiri duduk dengan enaknya di depan kelas sampai kuap-kuap atau untuk menghilangkan rasa kantuk karena bosan dalam mengajar sengaja pergi ke ruangan majelis guru untuk mengobrol atau bergosip mulai dari masalah umum sampai kepada masalah rumah tangga. Begitu pula bagi guru yang tidak menguasai pelajaran sama sekali amat sudi untuk mendiktekan seluruh isi buku pada hal tidakkah baik kalau murid disuruh saja membeli buku atau memfoto kopi saja. Tetapi ada kalanya guru melarang siswa untuk membeli buku dan kalaupun punya buku tetap harus mencatat sebab akan diambil nilai kerajinan atau catatan bakal diperiksa. Dan masih ada seribu satu metode yang mirip dengan metode yang salah kaprah begini.

Memperkenalkan para tokoh pahlawan lewat proses belajar mengajar adalah sangat ampuh untuk menangkal agar anak didik tidak tercabut dari akar budaya dalam arti mereka tidak melupakan pahlawan bangsa. Tetapi pelaksanaan proses belajar mengajar tidaklah sesederhana metode yang di atas tadi. Idealnya setiap guru, terutama guru, KWN, Agama, Sejarah dan Bahasa Indonesia dari sekolah dasar dan bagi pelajaran yang terkait di tingkat SLTP dan SLTA harus menguasai topik-topik pelajaran yang bukan sekedar hafalan belaka untuk mengajar murid menjadi beo. Malah sangat ideal lagi kalau guru-guru, lebih tepat lagi guru-guru mata pelajaran Sejarah KWN, , juga membaca buku-buku biografi tanpa terlebih dahulu berlindung dibalik alasan. Kita sering mendengar, tidak hanya guru wanita tetapi juga guru yang senantiasa mengungkapkan tidak punya waktu untuk membaca guna untuk menambah ilmu.

“Wah saya tidak punya waktu karena sibuk dengan kerja di rumah, sibuk karena anak mengganggu, tak sempat karena rumah jauh, tak sempat membaca karena saya mempunyai jam mengajar sangat banyak, dan lain-lain”. Sering alasan-alasan kuno ini kita dengar dari rekan guru-guru yang mana mereka senantiasa mengungkapkan kesibukan mereka di luar kegiatan mengajar seolah-olah mereka lebih sibuk daripada menteri atau negarawan lain. Pada hal Menristek, B.J. Habibie yang memiliki segudang jabatan dan pekerjaan atau KH Zainuddin MZ, ulama sejuta umat.

Mereka juga mempunyai rumah tangga dan anak-anak, disamping tanggung jawab terhadap pekerjaan yang banyak tetapi tetap mempunyai waktu untuk belajar atau menambah ilmu. Bagi sebagian rekan guru-guru yang selalu berlindung dibalik alasan “sibuk” ternyata untuk nongkrong di warung kopi atau untuk bergosip tanpa mereka sadari mereka telah menghabiskan waktu selama berjam-jam terbuang percuma.

Pengenalan tokoh-tokoh pahlawan kepada anak didik lewat proses belajar mengajar merupakan sarana yang tepat karena disana anak didik terkondisi dengan bersyarat dengan imbalan nilai sebagai titik awal. Maka tentu ada usaha-usaha lain yang positif agar anak didik lebih mengenal para pahlawan. Misalnya memberikan tugas untuk membuat sinopsis dari biografi-biografi pahlawan. Begitu pula menugaskan murid untuk membuat resensi dari sebuah buku yang mengandung biografi seorang pahlawan. Agar anak didik tidak asal tulis atau mungkin memalsukan karya tulis orang lain. Maka ada baiknya guru mengujikan atau menyuruh murid untuk mempresentasikan di depan kawan-kawannya sambil melatih keberanian mereka untuk tampil di depan umum.

Melowongkan waktu bagi guru dan murid untuk dapat membaca setiap buku biografi sangat besar manfaatnya. Selain untuk menambah wawasan juga sebagai sarana untuk “cermin diri” untuk memacu prestasi dan untuk mencari idola sebagai jati diri kita dalam rangka mengembangkan kwalitas diri. Semoga.

6. Tidak ada Istilah Terlambat Untuk Maju

Semua orang tentu sudah tahu bahwa masing-masing pribadi kita itu adalah unik. Kita menjadi unik kerena later belakang dan pen­galaman hidup yang kita lalui juga berbeda. Salah satu sifat kita yang unik adalah tentang bakat.

Memang setiap orang memiliki bakat yang berbeda dan bakat-­bakat yang ada pada did kita itu masih terpendam. Bakat yang ter­pendam ini kalau dapat kita gali akan membuat kita sendiri ter­heran-heran. Lebih-lebih setelah melihat kemampuan yang ter­simpan dalam diri kita itu.

Setiap orang bisa memperkembangkan bakat-bakat dan kecakapan- kecakapan sendiri asal ia ada mempunyai cukup has­rat untuk melakukannya. Ada seorang pelajar wanita, dulu ketika masih menjadi pelajar SD dan SMP hampir selalu diabaikan oleh teman-teman. Itu semua karena pribadi wanita itu dingin dan tidak menarik. Namun setelah berada di bangku SMU, lebih-lebih setelah duduk pada bangku kelas dua dam kelas tiga, ia tampak begitu dinamis dan menjadi kesenangan teman-teman. Malah setelah lulus SMU dan beberapa bulan kemudian ado kabar tentang dirinya bahwa us lulus dalam selek­si untuk memperoleh beasiswa untuk studi tentang ilmu mekanika di salah satu negara Eropa. Seorang familinya mengatakan bahwa ia dapat meraih kemajuan pada hari-hari akhir remajanya adalah karena ia mampu berfikir untuk mengembangkan bakat­-bakat yang tersimpan dalam diri setiap orang dapat mengem­bangkan bakat-bakat dan kecakapan yang terpendam asal ia mau. Banyak lagi orang-orang lain yang pada masa kecil dan masa remajanya biasa-biasa saja dan malah kurang diacuhkan oleh teman-temen dapat berhasil dalam perjalanan hidup berikutnya setelah bertekad untuk mengem­bangkan bakat-bakat yang terpen­dam. Ini pun akan dapat anda dan kita semua, alami asal kita mau berlatih dan berusaha sekeras­-kerasnya. Kita harus mau terus bertekun tanpa merasa bosan-bosan. Ada orang, sebagai contoh pada mulanya kurang memiliki rasa percaya diri karena tidak men­guasai cara berkomunikasi. Pada hal melihat dari latar belakang orang tua dan familinya menunjuk­kan bahwa ia bukanlah orang yang bertipe pendiam dan kaku. Maka ia melakukan praktek-praktek melatih diri dengan caranya sen­diri, akan tetapi tentu ia memer­lukan ketabahan den keberanian dan sampai pada akhirnya kekakuan-kekakuannya itu men­cair ibarat es diterpa panas mata­hari. Mereka yang kelak menjadi orang-orang yang pandai berbica­ra, mula-mula juga bersifat malu-malu dan merasa khawatir setelah mati.

Kebanyakan bakal ada yang membutuhkan pengekspresian lewat bahasa seperti bakat ber­pidato, menyanyi, bakat menjadi psikolog dan sebagainya. Tetapi kekakuan dalam berbahasa selalu sebagai kendala utama, kecuali setelah melatih diri. Bagi yang gering dilanda kegugupan dan mengekspresikan bahasa lisan mungkin baik sekali kalau setengah menit sebelum memulai berbicara untuk menarik notes dalam-dalam beberapa kali saja. Dengan demikian memasukkan banyak zat asam ke dalam badan kita dan ini akan menambah rasa percaya kepada diri sendiri dan menambah keberanian.

Dale Carnegie dalam bukunya “Cara mencapai sukses dalam memperluas pergaulan dan pandai bicara” mengatakan bahwa yang tidak boleh dilakukan adalah jangan memperlihatkan kegelisahan seperti dengan membuka dan menutup kancing baju. Atau jangan pula memperlihatkan kegelisahan dengan memutar-mutar tangan. Jika perlu kita jelmakan kegelisahan kita dengan meletakkan tangan kita di belakang badan. Dengan cara begini terserah kita lagi.. Apakah kita menggerak-gerakan jari yang jelas tidak ada orang yang melihat dan tahu bahwa kita lagi. merasa gelisah.

Bagi orang yang ingin berpidato, dalam rangka mengembangkan bakat terpendam yang diperlukan bukanlah keberanian moril akan tetapi adalah kecakapan untuk menguasai syarat-syarat. Dengan berlatih terus menerus kita bisa menguasai syaraf dan diri sendiri. Dalam hal ini adalah kita harus membiasakan diri dengan cara mencobanya berulang-ulang kali. Dan kita harus tetap tekun dan jan­gan berhenti-henti atau seperti is­tilah umum hangat-hangat tahi ayam.

Salah satu kapuasan orang yang memiliki bakat memimpin adalah untuk mempengaruhi dan menguasai kawan-kawan. Tentu saja ini dalam arti positif. Maka bagi remaja yang berbakat dalam tentu dapat latih diri. Salah satu usaha adalah dengan mencoba untuk menjumpai lebih banyak orang yang mau belajar bersama dengan kita. Dan kemudian dengan suka rela kita coba untuk menjadi pemimpin. Sarana lain untuk melatih diri dalam hal kepemimpinan adalah dengan cara berlatih di depan kawan-kawan, di depan anak-anak dan di depan keluarga sendiri.

Comas dan ketakutan dapat mengganggu perkembangan bakat ini timbul akibat kebodohan dan keragu-raguan kita. Tetapi cemas disebabkan oleh kurang percaya diri kepada diri sendiri. Kecemasan dan ketakutan selalu timbul jika seseorang tidak tahu apa yang sesungguhnya harus dilakukan. Adapun jika kita senantiasa melakukan beberapa latihan maka, Insya Alah, kecemasan akan lenyap. Tentu saja kita jangan , terlatih sekali saja akan tetapi kalau perlu kita berlatih sampai sepuluh atau dua puluh kali.

Dalam usaha awal kita untuk mengembangkan bakat memang kita merasakan kesulitan. Sebab seperti dikatakan oleh orang bijak bahwa setiap permulaan itu susah dan setiap akhir itu adalah mudah. Bagi seorang calon guru yang sering berlatih berbicara atau seorang calon penulis yang ber­latih menulis tetapi sering dilanda kehabisan bahan. Maka salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan membuat kisah yang menarik asal kita tidak terlalu banyak berbicara tentang diri sendiri.

Ada orang yang apabila ber­cakap-cakap tentang pekerjaan hanya berbicara tentang soal-soal yang mengasyikkan dirinya sendiri belaka. Sebaliknya tidak, begitu. Kita mesti juga membicarakan yang menyinggung hal-hal yang menyenangkan bagi teman-teman dan orang lain. Untuk itu marilah kita berbacara dengan kawan-kawan dan kita bahas masalah kecil itu dari berbagai segi.

Orang membangun rumah den­gan membuat rencana lebih dahulu. Tetapi ada orang yang ingin untuk mengembangkan, bakat-bakat yang terpendam, seperti bakat untuk berpidato tanpa rencana. Perkembangan bakat adalah laksana perjalanan panjang yang mempunyai tujuan. Karena itu jalan ini harus kita rintis. Sebab siapa yang akan berangkat tanpa tujuan tentu akan tarsesat.

Seorang orator pemula atau penulis muda tentu ia perlu menyediakan catatan-catatan singkat. Sedangkan anak kecil yang berlatih berjalan, saja juga perlu memegang meja atau kursi untuk mengembangkan keinginan berjalannya.

Kita rasa dalam menggali bakat-.bakat terpendam ini tidak ada istilah terlambat. Maka sangatlah bijaksana kalau setiap orang senantiasa suka untuk mengembangkan bakat dan menggali bakat yang terpendam demi kemajuan diri terutama, dan dami kemajuan bangsa secara umum.

7. SDM Diperbindangkan dan Guru Tinggalkan Tugas

DALAM menyongsong era pembangunan jangka panjang tahap kedua ini orang, khususnya bangsa Indonesia, sangat sadar akan peranan dan keberadaan sumber daya manusia. Media masa ramai memberitakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia. Berbagai lembaga pendidikan dan non pendidikan sibuk mengadakan acara pelatihan, ceramah, seminar dan acara lain dengan satu tema yaitu meningkatkan kwalitas sumber daya manusia.

Tetapi saat orang ramai membicarakan tentang sumber daya manusia, masih banyak kita menemui guru-guru yang rela untuk meninggalkan tugas mengajar tanpa merasakan adanya beban mental sedikit pun. Guru-guru yang berbuat seperti ini persentasenya di sebuah sekolah memang tidak seberapa. Tetapi apabila dikumpulkan jumlah oknumnya dari sekolah rendah sampai sekolah tinggi dan dari sekolah yang berdomisili di desa sampai di kota, tentu akan memperlihatkan suatu angka yang dapat menggoncang wibawa dunia pendidikan ini.

Untuk memperoleh jawaban yang tepat atas perilaku oknum guru yang begini, agak sulit tetapi dari gejala luar yang mereka perlihatkan dapat diperoleh sejumlah kesimpulan atau alasan. Alasan yang membuat masih ada guru yang meninggalkan tugas adalah seperti: tidak menguasai materi pelajaran; tidak memahami perkembangan jiwa pelajar, masalah pribadi dan masalah interen sekolah.

Ada usaha positif yang telah ditempuh oleh kalangan pendidik untuk meningkatkan penguasaan materi pelajaran. Usaha positif tersebut adalah mengadakan penyegaran kepada guru-guru untuk aktif dalam MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) dan penataran-penataran pada tingkat regional rendah sampai regional tinggi.

Kita sadari bahwa MGMP dan penataran-penataran hanyalah bersifat sebagai perangsang bagi guru untuk memacu kualitas diri. Namun yang sering dijumpai adalah sebagian peserta hanya bersikap hura-hura dan malah hanya bersikap hura-hura dan malah hanya sekedar mengejar sertifikat untuk bahan kenaikan pangkat. Guru yang sering juga dikatakan sebagai katalisator, pendorong untuk mempercepat perkembangan, bila tidak membelajarkan diri (autodidak) tentu akan tetapi ilmunya lebih tua satu malam dari murid akan klengpengkong dalam mengajar dan menguasai ruangan kelas.

Menguasai pelajaran saja tetapi sempit wawasan dan tidak memahami perkembangan jiwa pelajar akan membuat penyajian terasa kering. Guru yang masih tetap mahal senyum pada jam-jam pelajaran terakhir akan menimbulkan kontra yang makin melebar antara guru dan siswa. Perlu untuk diketahui bahwa sedikit saja kita tertutup dan merenggangkan diri tentu anak-anak didik tak ada tempat bergantung. Mereka melarikan jiwa dan guru mereka tidak kerasan, kemudian meninggalkan tugas mengajar dengan membuat alasan yang dibuat-buat.

Ada pamer. Lelucon, guru-guru atas kebosanan menghadapi kelas. Mereka membagi waktu yang satu jam atas empat bagian. Pas lonceng masuk berbunyi guru mondar-mandir seperempat jam; kemudian masuk dan mengambil absen selama seperempat jam’ dilanjutkan guru marah-marah selama seperempat jam. Tinggal waktu lagi seperempat jam dan digunakan untuk mencatat buku sampai penuh, sebagai kepanjangan dari istilah CBSA.

Masalah pribadi sering menyebabkan guru meninggalkan tugas dengan enteng. Selain masalah berat yang dapat diterima adalah masalah ringan yang sengaja diberat-beratkan. Penyakit-penyakit ringan seperti masuk angin, flu dan batuk ringan sering sebagai penyebab guru terpaksa meninggalkan tugas mengajar. Padahal tepat pada tanggal-tanggal baru mengambil gaji walau mereka sedang lumpuh kakinya sempat datang ke sekolah untuk menandatangani amprah gajinya.

Namun bila ada guru yang meninggalkan tugas mengajar karena masalah interen sekolah, tentu ini dapat ditinjau toleransinya. Yang bisa berkaitan dengan hal ini adalah seperti: Kepala sekolah yang perhatian dan kasihnya tidak merata pada setiap guru. Malah dalam sistem kenaikan pangkat sekarang, angka kredit jabatan, posisi kepala sekolah bisa berubah dari posisi manusia kepada posisi Malaikat. Guru yang bisa mengamin dapat diberi SK dan diusulkan kenaikan pangkat. Guru yang mempunyai paham lain dapat disiksa dengan memencilkan, dimana pada akhirnya timbullah keonaran dalam tubuh sekolah. Persaingan guru sama guru membuat guru yang tersingkir, tidak kerasan berada di sekolah. Orang atau guru bila tidak mencintai lagi instansi sekolah tentu pengabdiannya pada dunia pendidikan semakin melemah. Sebaliknya bila guru mencintai sekolah dan sudi menjadikan sekolah sebagai rumah kedua tentu dia akan betah berada di sekolah untuk merawat dunia pendidikan.

Memang saat sumber daya manusia diperbincangkan pada tingkat nasional, tidak tepat lagi bila masih ada guru yang sengaja meninggalkan tugas mengajar. Malah yang lebih tepat dilakukan oleh guru untuk ikut menyukseskan program peningkatan sumber daya manusia dalam rangka menyongsong era pembangunan jangka panjang tahap kedua adalah menguasai skil-skil. Bagi seorang guru ada tiga bentuk skill yang harus dikuasai yaitu, keterampilan (skill) implementasi, yakni menguasai materi pelajaran. Kemudian menguasai keterampilan komunikasi, untuk syarat ini guru mesti mempunyai wawasan. Dan, terakhir, menguasai keterampilan humanrelasi.

Tentang sumber daya manusia, walau sekarang baru ramai didengungkan namun leluhur pendidikan bangsa Indonesia telah dahulu menyerukan agar guru mengamalkan “ing madya mangun karso, ing ngarso sung tulodo, tut wury handayani”. Dan begitu pula, berabad abad sebelumnya, Islam telah menyerukan “Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat” Semuanya itu mengingatkan kita.

8. Daya Serap Murid dan Mental Guru

Imajinasi tentang guru tempo dulu yang kita dengan dari generasi tua adalah rapi, tenang, cerdas dan berwibawa. Sehingga sosok guru bagi muridnya adalah sebagai panutan dan dikenang sepanjang masa. Guru yang ideal terlukis dalam kalimat yang diekspresikan oleh Almarhum Kihajar Dewantara, “Ingmadya Mangunkaso, ing ngarso sung tulodo dan tut wuri handayani”. Masih adakah sosok guru yang begini sampai sekarang?

Tentu saja sosok guru yang ideal masih ada sampai sekarang. Namun guru-guru yang pengabdiannya meluntur juga banyak. Tidak perlu kita melihat terlalu jauh. Lihat sajalah keadaan guru-guru yang ada di seputar kita. Atau mungkin kita sendiri termasuk guru yang mengabaikan tanggung jawab? Untuk itu ada baiknya sekali-sekali kita melakukan introspeksi diri.

Telah banyak orang mengupas tentang penyakit yang ada pada profesi guru. Tulisan-tulisan itu tentu lebih banyak menyorot masalah sikap dan mental guru. Padahal guru sebenarnya telah mengetahui konsep-konsep nilai dan mental yang baik tetapi kenapa kemudian bisa merosot? Dengan kata lain kita katakan bahwa umumnya guru-guru tahu apa yang dilakukan dan bagaimana cara melakukan tetapi mereka tidak berbuat.

Gambaran guru sekarang, walau tidak semuanya, banyak bersikap santai, suka pamer, masa bodoh dan pergi mengajar asal membayar hutang saja dengan arti kata pengabdian rendah. Lihatlah, misalnya ada guru wanita yang datang ke sekolah ibarat seorang artis sinetron dengan asesori ibarat toko perhiasan berjalan. Guru pria cukup banyak yang datang ke sekolah dengan melenggang kangkung dengan sebatang rokok terselip di bibir.

Agaknya penataran-penataran, apakah dalam bentuk MGMP, sanggar-sanggar pendidikan, berskala kecil sampai kepada skala besar, adalah mubazir dan membuang-buang dana negara saja. Tidak jarang terlihat begitu guru yang bersangkutan pulang dari penataran kembali mengajar ala Tarzan saja dan malah tanpa menyampaikan apa-apa saja misi penataran yang telah dibawanya.

Sanggar-sanggar belajar seperti MGMP, sebagai misalnya, tepatnya hanyalah ajang membuat satuan pelajaran saja. Dengan cara menyalin satuan pelajaran dari teman-teman dari sekolah lain atau dari guru inti. Itu pun lebih didominasi oleh aktivitas berbagai aib tentang sekolah dan pribadi orang lain dan bukan untuk membahas masalah yang ditemui di sekolah masing-masing. Paling kurang motivasi guru untuk mengikuti sanggar dan penataran adalah untuk memperoleh sertifikat untuk modal naik pangkat, mengharapkan uang transpor dari proyek penataran dan sarana untuk rekreasi walau sekali-kali diselingi oleh ketidakhadiran secara sengaja atau tidak disengaja. Sebetulnya segala bentuk penataran tetap efektif untuk meningkatkan kualitas guru-guru peserta. Andaikata guru-guru peserta adalah guru-guru yang mempunyai daya serap yang rendah terhadap ilmu pengetahuan, maka penataran ini mungkin cocok untuk saran remedial bagi mereka.

Adalah fakta dapat kita jumpai bahwa cukup banyak guru tidak suka membaca. Mereka biasanya dengan senang hati mengungkapkan alasan-alasan mengapa mereka tidak suka membaca. Dan untuk seterusnya kita dapat mempertanyakan bagaimana kualitas mereka dulu semasa masih berstatus mahasiswa hingga menjadi sarjana karbitan.

Cukup banyak kita melihat mahasiswa perguruan tinggi yang menuntut ilmu sekedar mode saja. Menuntut ilmu sekedar asal-alasan. Melangkah dengan gerak lesu dan mulus. Pergi kuliah Cuma melenggang atau paling-paling membawa buku tulis tipis saja. Jarang mahasiswa yang sudi menamatkan membaca buku mata kuliah, apalagi membaca buku-buku umum untuk memperluaskan wawasan. Kalau kemudian mereka dapat menjadi sarjana, itu pun bermodalkan ilmu dan pengetahuan dari catatan dan fotokopi-fotokopi lembaran buku yang disuruh dosen semata. Dan kalau ada yang menulis skripsi itu juga ditulis asal-asalan dan rekayasa. Andaikata penguji skripsi meminta agar calon sarjana memperlihatkan buku-buku referensi tentu mereka akan betul-betul kewalahan dan akan terbuka kedok kekurangorisinilan skripsi mereka. Pendek kata rata-rata mahasiswa malas membaca. Dan kalau mereka menjadi sarjana, bagi calon guru, kalau mereka tidak diangkat sebagai pegawai, terpaksa susah mengubah nasib. Itu disebabkan karena minimnya wawasan dan keberanian mental. Mereka serba canggung untuk banyak berbuat.

Kalau kita amati bahwa kurang terkuasainya materi pelajaran oleh para guru, itu disebabkan oleh berkembang cepatnya materi pelajaran. Perkembangan ini, apakah dalam bentuk konsep pendidikan, metode pengajaran maupun penyempurnaan kurikulum. Tetapi ini tidaklah begitu masalah kalau seorang guru tetap menyenangi membaca dalam usaha untuk meningkatkan kualitas diri.

Melihat metode pengajaran yang ada betapa mutu pendidikan ini tetap rendah. Ini semua akibat dari metode kuno yang tetap diterapkan oleh guru-guru karena metode ini terasa enteng, dan tidak menyita waktu yang banyak. Kita mengenal bahwa media pengajaran, misalnya, merupakan sarana yang ampuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Tetapi marilah kita hitung berapa orang betul guru yang masuk kelas secara lengkap dengan satuan pelajaran dan media. Nyatalah bagi kita bahwa metode mengajar guru-guru secara umum adalah berceramah dan ceramah melulu sampai pada akhirnya murid-murid menjadi pasif bagaikan beo berkepala manusia. Tetapi herannya kenapa ini kurang mendapat perhatian dari segala pihak? Malah sekarang apa pula kecenderungan guru-guru meninggalkan praktek labor IPA sejak peningkatan NEM digemakan di sekolah-sekolah. Sebab NEM adalah ukuran kualitas suatu sekolah, maka kerja guru dan murid dalam proses belajar mengajar lebih terfokus untuk membahas soal-soal yang akan di-EBTANAS-kan (?).

Cukup banyak, kita kira, guru yang asal membayar hutang saja dalam menunaikan tugas mengajar. Guru-guru yang begini cenderung tidak terikat pada target kualitas pengajaran yang dicapainya. Apakah saran yang cocok kita sampaikan kepada guru-guru yang senantiasa mengirim catatan saja ke sekolah dan ia sendiri membuat alasan yang cukup banyak? Atau guru yang setiap kali menyajikan pelajaran dengan cara mendiktekan pelajaran kepada siswa sampai habis target waktu. Lumayan jugalah kiranya metode berceramah, walau metode ini cukup berbahaya untuk mematikan kreativitas dan berekspresi murid.

Kebanyakan guru cenderung mengabaikan misi nasional pendidikan. Dimana mendidik anak berarti mempersiapkan generasi penerus bangsa. Adapun tekad pendidikan sekarang adalah berusaha untuk membentuk SDM yang berkualitas. Maka adalah secara tidak langsung. Dan itu karena pribadi guru yang santai dan masa bodoh atas kualitas diri sendiri dan kualitas anak didik mereka. Guru-guru sekarang, walau sebagian saja, lebih teperdaya oleh materi dan bentuk-bentuk hiburan dan kemewahan. Inipun sering terungkap dalam percakapan sesama guru dan terhadap anak didik. Pada akhirnya guru tidak mewarisi kekayaan intelektual pada mereka tetapi hanya mewarisi nilai materialistis, sehingga kelak segala sesuatu itu diukur berdasarkan materi dan uang.

Modal guru untuk masuk kelas, kalau boleh janganlah sebatas penguasaan bidang studi saja. Tetapi sangat layak guru kalau menguasai ilmu-ilmu lain untuk memudahkan menghadapi anak-anak didik, terutama bagi guru-guru yang mengajar di tingkat SLTP dan SLTA dimana anak didik berada pada masa topan dan badai, masa pubertas, yang tidak cukup ampuh menghadapi mereka dengan satu modal penguasaan bidang studi semata. Sekarang jelaslah akibat minimnya penguasaan ilmu guru, terutama ilmu psikologi dan ilmu pendidik, sehingga guru cenderung merasa tidak begitu penting mengenal individu murid sebagai bagian dari proses pengajaran.

Terakhir adalah sikap mental guru yang membuat daya serap murid rendah adalah sikap guru yang tak pernah merasa bersalah atas kemalasan dan keterlambatannya dalam mengajar. Cukup banyak guru secara sengaja atau tidak sengaja menunda kehadiran mereka di sekolah. Terlambat tiba di kelas dan cepat pula mengakhiri pelajaran sebelum waktunya tiba. Gejala sikap mental yang begini adalah akibat hidup tanpa membudayakan hidup berdisiplin.

Pada hakikatnya citra guru ideal itu tetap ada sampai sekarang. Cuma sekarang harapan kita adalah bagaimana kalau guru-guru seperti demikian dapat bertambah secara kualitas dan kuantitas. Kalau boleh kita sendiri juga harus mencerminkan guru ideal seperti yang dilukiskan oleh Almarhum Kihajar Dewantara agar dapat digugu dan ditiru.

Sikap kita untuk menjadi guru ideal adalah dengan cara bersikap sederhana, rapi, berwibawa, mengabdi kepada tugas dan mencintai dunia pendidikan serta selalu menambah ilmu pengetahuan agar luas dalam wawasan. Kita telah melihat bawa daya serap murid yang rendah, selain disebabkan oleh faktor lain, juga merupakan efek dari bentuk mental guru yang kurang benar. Dan sikap ini tentu saja dapat diatasi asal mau mengubahnya. Memang sudah sewajarnya untuk kembali mengangkat citra pendidikan dan citra guru kita harus kembali membenahi diri. Apalagi keberadaan kita sebagai guru semakin berarti dalam membangun bangsa ini.

9. Menagih Kepedulian Orangtua Dalam Mendidik Anak

Siapa yang lebih bertanggung jawab atas pendidikan anak, gurukah atau orang tua? Jawabannya tentu saja tergantung pada titik pandang setiap orang yang mencoba untuk menjawabnya.

Pada umumnya tanggung jawab mendidik anak diawali oleh kepedulian dan rasa tanggung jawab orang tua.

Perhatikanlah bagaimana sibuknya sepasang orang tua yang baru punya bayi dan anak Balita dalam mencukupi kebutuhan dan mendidik buah hatinya.

Mereka tampak begitu gembira dan menuturkan kepada siapa saja yang mau mendengar tentang perkembangan dan kemajuan yang telah diraih buah hatinya itu.

Begitu anak dikirim ke Taman Kanak-kanak untuk belajar bersosial maka sebagian orang tua cenderung menyerahkan urusan mendidik anak pada sang guru. Namun sebagian masih tetap memantau, mendorong dan mengikuti perkembangan mereka sampai pendidikan Sekolah Dasar selesai.

Dalam pengalaman ditemukan bahwa banyak orang tua yang jarang mengayomi anak belajar seperti saat mereka masih kanak-kanak, begitu mereka duduk di bangku SMP dan tingkat SMA.

Sering kita dengan keluhan orang tua tentang prestasi anak mereka anjlok yang setelah berada di SMP. Atau mereka kaget dengan watak anak yang dulu begitu terpuji tetapi jadi memusingkan saat duduk di bangku SLTA.

Kalau ini terjadi tentu ada pihak tertentu yang dapat untuk disalahkan. Setiap murid atau anak didik memiliki tiga aspek kehidupan, yaitu kognitif (otak), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan).

Ada kecenderungan masyarakat untuk melemparkan kesalahan pada guru “gagal dalam mengajar” bila prestasi kognitif dan psikomotorik anak di sekolah dinilai rendah, dan melemparkan kesalahan kepada orang tua atau lingkungan bila menjumpai anak tidak punya sikap dan akhlak yang baik.

Pada umumnya, bila anak mulai memasuki jenjang pendidikan formal maka orang tua menyerahkan urusan pendidikan anak kepada guru-guru di sekolah. Kepedulian nyata orang tua yang sering tampak adalah dalam bentuk pemenuhan kebutuhan anak yaitu dalam bentuk sandang, pangan dan papan.

Selanjutnya mereka menghabiskan waktu untuk mencari nafkah dan untuk menekuni hobi dan hampir tidak punya waktu untuk menemani dan mengikuti perkembangan anak dalam belajar.

Banyak orang tua yang memiliki waktu lowong namun jarang yang memanfaatkannya untuk mendidik anak.

Penyebabnya adalah mereka sendiri tidak memiliki konsep bagaimana cara mendidik keluarga. Konsep mendidik anak bagi keluarga awam adalah menyerahkan anak ke mesjid dan ke sekolah, kemudian menghujani mereka dengan nasehat-nasehat, anjuran dan perintah atau kemudian memarahi anak kalau melanggar. Sebuah konsep pendidikan yang terlihat terlalu sederhana bukan? Dan ternyata hasilnya juga mengecewakan.

Dari pengalaman bahwa umumnya hampir setiap anak (terutama remaja) tidak terlalu memerlukan nasehat, apalagi nasehat yang diberikan secara bertubi-tubi dan nada mendikte.

Anak akan mencap orang tua yang begini sebagai orang tua yang sangat cerewet. Sebenarnya yang diperlukan anak dari orang tua adalah contoh teladan (contoh langsung) serta penyediaan sarana belajar dan kasih sayang.

Sedangkan memberikan nasehat apalagi nasehat dengan nada yang penuh emosi akan membuat anak menutup pintu hatinya dan bahkan juga menjauhi orang tuanya.

Demikian pula di sekolah, anak didik cenderung untuk membuat jarak dengan guru-guru yang pemarah.

Selama anak berada dalam usia belajar di sekolah formal, masyarakat (orang tua) cenderung menempatkan beban pendidikan ke atas pundak guru.

Di sekolah, anak diperkenalkan dengan sejuta aturan, mulai dari bagaimana hidup yang disiplin sampai kepada bagaimana mencapai keberhasilan hidup kelak. Di sekolah anak diajar untuk mengembangkan potensi diri, diajarkan sejumlah konsep dasar tentang kehidupan dan dibekali dengan tugas rumah (PR) sebelum pulang.

Namun di rumah, kecuali bagi segelintir keluarga, anak dibiarkan hidup tanpa aturan, tidak diajar mandiri, terlalu didikte, dan terlalu banyak dibantu sehingga konsep belajar di sekolah akan menjadi kontradiksi dengan konsep belajar di rumah dengan porsi belajar yang terlalu sedikit dibandingkan dengan porsi hiburan dan bersantai. Kita tahu bahwa kualitas pendidikan anak didik di sekolah yang pada umumnya cenderung turun atau selalu jalan di tempat. Walau banyak sekolah yang mengklaim bahwa telah terjadi peningkatan kualitas anak didik di sekolahnya. Secara umum itu hanyalah sebatas angka-angka hasil rekayasa dan manipulasi data.

Untuk fakta yang jelas, silahkan terjun ke lapangan untuk mengobservasi kualitas murid-murid pada setiap sekolah. Maka mayoritas terlihat murid yang minat belajarnya begitu rendah dalam suasana belajar penampilan mereka terlihat lesu dan santai ibarat orang kurang darah.

Melihat kondisi anak didik yang lesu karena fikiran mereka kurang terkondisi sejak dari rumah maka ini akan membuat guru kehilangan strategi dalam memotivasi mereka. Umumnya metode yang disodorkan guru agar anak didik bergiat adalah dengan cara marah-marah dan menakut-nakuti atas ketidakacuhan mereka selama belajar maka hasilnya adalah nihil.

Sebenarnya bila anak telah memasuki jenjang pendidikan formal, mulai dari tingkat SD sampai ke tingkat SLTA, maka tanggung jawab mendidik menjadi tanggung jawab bersama antar guru dan orang tua.

Keberadaan orang tua dan guru dalam urusan mendidik adalah ibarat dua sisi mata uang. Hasil pendidikan tidak akan pernah sempurna kalau diserahkan saja kepada guru atau kepada orang tua yang notabenenya bukan sebagai pendidik.

Selama ini terlihat kecenderungan bahwa sekolah sendirianlah yang memikul beban pendidikan. Sejumlah pelatihan, penataran, seminar, lokakarya dan program penyegaran lain telah diberikan pada guru-guru dengan harapan agar pendidikan lebih berkualitas. Selama mengikuti kegiatan ini, guru memperoleh pembekalan tentang bagaimana pendidikan dan pengajaran yang ideal.

Dengan harapan agar pasca pelatihan mereka akan mampu membuat berbagai terobosan dan inovasi baru. Namun dalam kenyataan hasilnya tetap belum menggembirakan, malah cenderung tampak bahwa pasca pelatihan guru selalu menerapkan teknik dan metode mengajar seperti semula.

Kini terlihat bahwa untuk mendongkrak mutu pendidikan bangsa, sekolah bergerak sendirian tanpa melibatkan orang tua secara tegas dan memberikan isyarat tentang apa dan bagaimana seharusnya orang tua terhadap anak di rumah. Padahal untuk ini pemerintah telah menghabiskan dana jutaan dolar dan guru menghabiskan waktu serta tenaga untuk mengikuti berbagai pelatihan dan penataran hanya demi perubahan kecil saja dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Sekarang kita patut beranya bahwa adakah ahli pendidikan yang memikirkan untuk memberikan pelatihan terhadap orang tua murid seperti memberi pelatihan kepada guru-guru atau adakah pihak sekolah secara kontinyu melowongkan waktu untuk berbagi pengalaman hati ke hati secara rileks tentang pendidikan dalam bentuk komunikasi dua arah dan tanpa menggurui orang tua?

Kepedulian orang tua dalam mendidik anak yang belajar di Sekolah Dasar apalagi pada tingkat SMP dan SLTA, seperti kepedulian mereka mendidik anak saat masih di Taman Kanak-kanak, mencukupi kebutuhan makanan, hiburan, mengembangkan sosial dan emosional, sampai dengan penyediaan sarana hiburan dan pendidikan adalah mutlak diperlukan. Dalam kenyataannya kepedulian orang tua nyaris berkurang. Pada hal saat anak menginjak remaja dan mengalami krisis jati diri mereka sangat memerlukan orang tua sebagai teman pendamping untuk berbagi pengalaman dan kegelisahan.

Memang tidak mudah untuk mengikuti perkembangan dan pendidikan anak sampai tingkat remaja. Namun kalau orang tua selalu mau belajar dan menjadikan belajar sebagai kebutuhan dalam hidup maka tidak akan ada hal-hal yang terlalu sulit untuk diatasi. Dalam zaman informasi ini yang mana pengetahuan serba mudah untuk diperoleh, maka setiap orang akan dapat mencari solusi dari buku, bacaan lain, dan dari internet serta paling kurang dari teman dalam bentuk saling berbagi pengalaman.

Kita perlu mengritik orang tua yang terlalu menomorsatukan karir dan pekerjaan tetapi sangat mengabaikan pendidikan anak sendiri. Dalam hidup ini cukup banyak kita temui orang-orang yang mantap dalam pekerjaan dan sangat trampil dalam mendidik dan membina orang lain tetapi gagal dalam membina anak-anak sendiri, apalagi kalau sampai drop-out dari sekolah. Kita pantas mengacungkan jempol kepada sang ayah dan ibu walau hanya pendidikan formal biasa-biasa saja tetapi punya wawasan dan konsep dalam mendidik keluarga, telah mampu berpartisipasi dalam menyukseskan pendidikan anak-anak di sekolah.

Dalam mendidik keluarga dan ikut menyukseskan pendidikan anak di sekolah, setiap orang tua perlu mengorbankan waktu, tenaga dan uangnya. Meluangkan waktu untuk membuat kebersamaan dengan anak adalah sangat penting. Adalah sangat tidak berguna meluangkan waktu sampai berjam-jam tetapi kebersamaan dengan anak penuh dengan pengalaman kemarahan dan beda pendapat. Anak memerlukan kebersamaan yang menyenangkan dan bermutu dan teratur tiap hari. Untuk itu setiap orang tua perlu untuk menata waktu dan keluarga kembali sebelum hal-hal yang tak diingini terjadi. Semoga menjadi renungan bagi setiap orang tua.

10. Pendidikan Yang Belum Mendidik

Apa gunanya belajar begitu lama dan begitu tinggi, menghabiskan waktu belasan tahun, malah sampai dua puluh atau dua puluh lima tahun, kalau pada akhirnya menjadi sarjana pengangguran atau intelektual pengangguran. Dikatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mendidik generasi bangsa ini menjadi orang yang bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, namun dalam realita pendidikan kita hanya mampu melahirkan generasi yang senang meramaikan mall, plaza dan tempat rekreasi. Barangkali itu semua terjadi karena kita , pemerintah, masyarakat, orangtua dan guru, telah salah dalam mendidik. Kalau begitu kita semua harus bertanggung jawab atas fenomena ini.

Generasi senior seperti orangtua, mamak, dan kakak yang sukses perlu tahu bahwa mereka harus membekali generasi muda, anak- anak , suatu kekuatan untuk menghadapi dan menjalani kehidupan ini. Mereka tidak perlu untuk melakukan studi banding jauh- jauh, cukup belajar dari makhluk yang hidup di seputar mereka.

Induk ayam., secara instink tahu sekali bahwa ia perlu mengajar anak- anaknya agar bisa memiliki kekuatan untuk menghadapi hidup. Ia memberi model (pelajaran dan contoh langsung) bagaimana agar mereka bisa memiliki cakar dan paruh yang kuat untuk mengais rezeki yang tersembunyi. Kucing liar (bukan kucing rumahan yang hidup manja) secara instink juga mengajar anak- anaknya lewat latihan dalam bentuk pemodelan- melonpat dan menerkam- agar anak anaknya bisa menjadi cerdas untuk melompat, menerkam dan mencakar rezki dan meghadapi problema hidup dengan tangguhnya.

Lantas bagaimana eksistensi orangtua dalam mendidik dan mewarisi kehidupan yang layak bagi anak ? Terus terang bahwa tidak banyak orangtua yang tahu teori tentang mendidik. namun mereka mewarisinya dalam bentuk pemberian model, latihan dan kesempatan dalam berbuat.

Orang tua, dalam generasi masa lalu, mempunyai banyak anak, karena program Keluarga Berencana belum mereka kenal. Saat itu alam dan lingkungan masih aman, ramah dan jauh dari berbagai jenis polusi. Mereka membiarkan anak lepas di alam bebas, mengeksplorasi alam. Bila sudah agak besar,dalam tradisi orang Minang masa lalu, maka anak laki- laki memilih tidur di surau. Disana mereka berbagi ilmu tentang life skill – kecakapan hidup- bersilat, berpidato dan mengolah lahan. Bila saatnya tiba, maka ayah dan / atau paman (mamak) memberi model dan peran dalam kehidupan- seperti mengurus kebutuhan kaum kerabat.. dan demikian juga anag gadis memperoleh peran sesuai dengan posisinya di rumah.

Ibu dan ayah karena punya banyak anak musti membanting tulang sebagai wujud tanggung jawab. Ibu pun kekurangan waktu dalam mengurus anak secara detail. Anak saat itu jauh dari karakter over protective (watak terlalu melindungi), karakter orang tua yang serba melarang dan karakter serba membantu.

Pada masa itu setiap anak dari kecil sudah mengenal hidup susah, mereka serba mencoba pengalaman hidup- diterpa oleh hujan dan panasnya kehidupan. Bila masa akhil balikh berakhir, memasuki awal usia dewasa. Mereka merasa malu untuk menjadi “anak mama”. Atau anak yang selalu berada di bawah ketek orang tua. Bagi mereka merantau adalah menjadi solusi dan alternative terbaik. Merantau untuk mencari hidup dan ilmu. Adalah fenomena pada saat itu, orang Minang dikenal sebagai perantau yang ulung. Mencari pengalaman hidup, belajar untuk hidup susah. Almarhum Buya Hamka memberikan perumpamaan ibarat memakan tebu, memulai dari ujung yang hambar dan kelak berakhir di ujung dengan kehidupan yang manis. Ujung yang manis sebagai hasil pengalaman hidup yang hambar dan pahit membuat orang Minang pada masa itu dikenal sebagai pedagang yang ulet dan tangguh di negeri orang.

Tetapi bagaimana keadaan generasi belakangan, generasi dimana setiap orang tua sudah agak tinggi tingkat pendidikannya, paling kurang tamat SLTA dan sudah paham manfaat memiliki dua atau tiga anak- keluarga yang kecil. Anak- anak yang tumbuh dalam keluarga kecil pertumbuhan biologinya lebih bagus, bisa memiliki asupan gizi yang lebih baik. Namun bagaimana dengan asupan pengalaman hidup mereka ?

Orang tua zaman sekarang, sebahagian, cendrung bersifat over protective , suka mencampuri kehidupan anak sampai terlalu detail, serba melarang dan banyak memanjakan anak dengan hal yang bersifat banyak hiburan dan serba membantu mereka. Orang tua zaman sekarang hanya lebih mencikaraui pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak , namun cendrung tidak tidak tahu atau kurang peduli terhadap perkembangan dan pendidikan pada aspek lain- kecakapan hidup, spiritual, emosional , sikap positive dan kecakapan lain nya.

Sekarang bila anak mampu bernyanyi sebagai artis organ tunggal, menyanyikan lagu syahdu dan romantis, maka ia akan dikagumi dan diberi sanjungan setinggi mungkin. Bila anak jagoan dalam matematika, maka orangtua hampir tidak sabar untuk memberi tahu pada setiap orang tentang kelebihan dan keunggulan anak. Namun bila anak tidak pandai membaca Alfatihah, lalai dalam menunaikan Shalat lima waktu adakalanya sebahagian orang tua tampak tidak peduli dan malah memaafkan.

Orang tua sadar betul bahwa mereka perlu mempersiapkan anak agar kelak bisa hidup sukses. Agar anak sukses di sekolah maka mereka punya resep yaitu “bebaskan mereka untuk melakukan tugas rumah”. Kerja anak Cuma belajar dan belajar- apalagi ia dibebani dengan segudang PR dari sekolah. Keperluan makan dan pakaian semua diurus oleh orang tua. Namun akhirnya anak menjadi gagap dalam menyapu, mencuci, memasak dan malah bersosial. Mereka diharapkan hanya bisa jadi juara kelas

Dalam kenyataan orang tua yang terlalu banyak berharap agar anak jadi pintar dan sempurna yaitu dengan cara serba membantu, serba memanjakan, serba mengatur dan serba melarang. Metode atau cara ini malah membuat anak jadi miskin dengan life skill – kecakapan hidup. Mereka tidak tahu bagaimana cara membersihkan rumah, dan bagaimana memasak rendang Padang. Ini salah satu potret dari pendidikan yang salah dalam mendidik.

Pendidikan yang bukan atau yang belum mendidik adalah fenomena yang juga terjadi dalam dunia pendidikan (baca: di sekolah). Sekali lagi, buat apa anak- anak belajar dari SD, SMP, SLTA dan terus ke Perguruan Tinggi dan tamat kalau hanya bisa menjadi pengangguran. Apakah ini sebagai hasil dari bentuk dan gaya pendidikan yang mereka lalui selama ini.

Hanya pendidikan pra sekolahlah – taman kanak kanak- yang berkesan bagi anak dan menyenangkan dalam hidup mereka. Pendidikan mulai dari SD sampai ke tingkat SLTA harus mereka lalui dengan berbagai macam bentuk benturan demi benturan dalam kehidupan mereka. Mereka harus tahu bagaimana persaingan sehat dan juga sering terjadi persaingan tak sehat. Bagaimana bereaksi ketika dipermalukan oleh teman. Dan anak mulai mengenal stress oleh beban tugas sekolah yang begitu padat. Jari- jari kecil mereka harus banyak menulis agar SKL (standar kelulusan) bisa tercapai agar nama sekolah tidak tercemar. Mereka harus dikarantina di sekolah dan menjadi lupa bagaimana indahnya bermain lumpur dan berenang di kolam yang masih menyimpan segarnya aroma alam.

Walau semua guru sudah tahu bagaimana melaksanakan proses belajar mengajar yang dituntut oleh kurikulum, maka tetap saja pembelajaran yang tradisional atau konvensional itu menarik dan sangat praktis - teacher centered, metode mencatat, metode berceramah, metode menghafal dan murid yang harus membeo atau membungkam. Agar nama guru bagus atau nama sekolah harum , Maka siswa harus bisa mengejar skor yang tinggi. Kunci nya adalah pembelajaran berfokus pada hasil- proses tidak perlu dihiraukan – anak atau siswa harus kaya dengan bentuk dan model test. Anak perlu digiring ke dalam suasana kelas yang membosankan- mereka harus rela berkorban untuk tidak membantu orangtua di sawah, mengawasi air kolam, atau memasak bersama nenek atau etek mereka di rumah, karena tuntutan sekolah lebih penting dari pada membantu orang tua dan melaksanakan tugas- tugas tadi. Namun kalau anak tidak punya kecakapan hidup, apakah itu karena kesalahan orang tua atau karena sekolah memonopoli waktu anak untuk berbakti (?).

Sejak ada kebijakan agar anak harus mampu menyelesaikan SKL atau bisa mencapai target skor kelulusan, maka semua sekolah berlomba membuat program bagaimana anak bisa gol, lulus seratus persen. Kasihan bila ada ada siswa yang gagal, nama baik sekolah bisa ambruk. Untuk menjaga citra baik sekolah, guru, mungkin juga kepala sekolah, komite dan kalau perlu juga orang tua harus memberi resep- bagaimana trik- trik mencontek dan melakukan rekayasa yang jitu. Pada akhirnya sekolah dengan skor tinggi sebagai hasil dari murid berbudaya mencontek diberi penghargaan dan kalau perlu diberitakan di media massa, sementara sekolah yang menjunjung tinggi nilai kejujuran namun harus memiliki skor agak rendah, memperoleh cibiran secara missal dan dicap sebagai sekolah yang telah gagal (?).

Dibalik fenomena pendidikan yang belum mendidik ini, ada usaha segelintir orang yang berusaha untuk memajukan kualitas pendidikan. Mereka berfikir bahwa sangat diperlukan sekolah punya program akselerasi dan program perintisan lain. Namun ujung- ujungnya hanya masih memajukan pendidikan dalam segi kognitif. Untuk itu dikemas paket akselerasi yang apik dan lagi- lagi anak harus disandera agar mampu membahas soal- demi soal ujian standar nasional agar kelak bisa lulus di UMPTN dan kuliah di perguruan tinggi bergengsi.

Namun dalam kenyataan tidak semua anak yang tertarik pada kegiatan kognitif dan tidak semuanya bermimpi untuk studi di pulau Jawa . Sebagai akibat terpaksa ikut kegiatan akselerasi, mereka belajar asal asalan karena dipaksa oleh kolaborasi orang tua dan sekolah. Meminjam istilah pendidikan quantum teaching, sebahagian dari mereka mungkin hanya tertarik dengan kegiatan otot, kegiatan seni, kegiatan interpersoanal atau intrapersonal dan mungkin kelak disana karir mereka. Tetapi mengapa mereka dipaksa mengikuti pelajaran akselersai pada bidang kognitif yang penuh rumus dan bahasa yang kering, dan angka- angka. Program ini tidak salah namun tempatnya belum tepat menurut istilah- the right man in the right place.

Kalau pada banyak sekolah dibentuk English club, maka adalah juga tepat untuk membentuk club- club mata pelajaran- mathematics club, history club, geografpy club. Kemudian juga club berdasarkan hobi, dan minat seperti photography club, atau menghidupkan aktivitas yang berbasis life skill- berkebun, beternak, bertani. Bukankah pekerjaan seperti sudah dipandang sebelah mata oleh generasi muda. Padahal profesi pada bidang ini sangat mulia, menghidupi jutaan orang di dunia dan jauh dari dosa korupsi, kolusi dan nepotisme. Opini ini hanya mengajak setiap orang untuk melakukan kontemplasi tentang pendidikan yang belum punya nilai mendidik, yang telah melahirkan banyak generasi yang cemas menghadapi hidup.

11. Sinetron Mencabut Akar Budaya

Adalah merupakan fenomena sepanjang masa bahwa pengaruh budaya luar selalu menyusup ke dalam tradisi kita lewat mode atau gaya hidup. Dulu, beberapa belas tahun atau dua dekade yang lalu, gaya hidup berkacamata hitam, memakai anting- anting besar, berambut kribo dan bercelana Spanyol adalah pilihan anak muda. Kemudian datang mode breakdance, rambut punk-rock, bertato, beranting sebelah telinga, membuat grafitty- coretan- coretan. Dan sekarang mode tidak hanya menjadi konsumsi anak muda pareman, tetapi juga dikonsumsi secara habis- habisan oleh sebahagian siswa SLTP dan SLTA dan malah juga sebahagian mahasiswa yang nota-benenya sebagai calon intelektual, mengadopsi gaya hidup yang aneh sebagai kebutuhan primer mereka. Fenomena yang diuraikan diatas tentu ada penyebab dan pemicunya. .

Setiap orang sudah tahu bahwa apa itu “media massa” dan kita tidak perlu lagi mencari defenisinya. Setiap orang sudah tahu bagaimana bentuk media massa itu, yaitu media cetak dan media elektronik. Media massa audio visual atau televisi sangat ampuh dalam menyedot perhatian puluhan ribu malah jutaan penonton. Media massa cetak, seperti beberapa jenis tabloid, koran dan majalah, juga mampu menyedot banyak perhatian pembaca.

Kedua jenis media massa diatas mampu memberikan dampak positif dan negative pada masyarakat. Terutama televisi dengan layar kacanya mempunyai manfaat dalam menghibur dalam mendidik masyarakat. Namun porsi menghiburnya kelewat banyak dibandingkan porsi mendidik dan memberikan informasi pada orang banyak. Unsur hiburan televisi telah menciptakan banyak masyarakat (baca: generasi muda dan anak didik) berprilaku serba aneh dan asing dari gaya hidup masyarakat sekitarnya.

Televisi telah lama menjadi kebutuhan primer masyarakat, seperti kebutuhan terhadap makan, minum atau sandang, pangan dan papan. Apalagi sejak menjamurnya stasiun televisi swasta yang menawarkan iklan dan menyuguhkan hiburan yang membius para pemirsa sampai malas bekerja dan belajar, maka banyak masyarakat memilih untuk membeli televisi dengan ukuran layar lebih jumbo, memajangnya ditengah rumah dan menyulap ruang tamu menjadi theater bagi keluarga.

Dahulu, sebelum televisi masih sebagai “makhluk yang langka”, banyak anak- anak yang begitu dekat dengan sang nenek, ingin tidur bersama sambil menikmati bedtime story (cerita menjelang tidur) atau kisah hidup sang nenek sewaktu muda. Namun itu kini tinggal kenangan, malah banyak anak- anak memilih untuk lebih akrab dengan kotak elektronik yang bernama televisi itu. Kemudian istilah atau kosa- kata bedtime story akan segera menghilang dari kamus dan pengalaman hidup mereka.

Adalah menjadi suatu fenomena sosial bahwa sekarang sebahagian anak-anak memang lebih akrab dengan pesawat televisi dari pada anggota keluarga dan famili yang lain. Mereka tampak begitu senang dan ikhlas menghabiskan waktu berjam-jam demi menikmati tayangan hiburan televisi yang muncul sambung bersambung sepanjang waktu. Malah mereka sudi untuk berteriak, marah- marah sambil mengungkapkan kata- kata emosional bila merasa terusik oleh siapa saja.

Begitu pula dengan anak didik di sekolah, mereka lebih dekat dan mengenal lebih banyak nama- nama stasiun televisi dengan program tayangannya, nama presenter yang kerap tampil di layar kaca, dibandingkan dengan mengenal nama dan pribadi guru- guru mereka. Mereka lebih suka kalau duduk bersama dengan teman sebaya untuk membahas acara- acara televisi, bintang iklan, tokoh- tokoh artis sinetron daripada membahas mata pelajaran dan “pe er demi pe er” yang baru saja ditugaskan oleh bapak dan ibu guru. Malah sering karena kelewat rajin mengikuti program sinetron, membuat mereka lalai dalam mengerjakan pekerjaan rumah tadi.

Orang tua jarang tahu atau mungkin tidak mau tahu kalau televisi itu punya segudang mudharat atau kerugian. Hampir banyak rumah yang membiarkan televisi on air atau menyala di tengah keluarga selama berjam-jam, malah ada yang menyala sampai 24 jam. Bagi keluarga yang punya rumah besar tentu tidak begitu masalah. Sebab tentu mereka masih punya kamar atau ruangan untuk menyepi agar anggota keluarga mereka yang rajin bisa belajar berfikir di bahagian kamar lainnya. Tetapi mayoritas bangsa Indonesia tidak kaya, mereka mempunyai rumah berukuran kecil, atau satu rumah dihuni oleh satu sampai tiga keluarga atau lebih, malah banyak keluarga yang hidup menumpang. Apa lagi bagi mereka yang hidup di daerah perkotaan, satu rumah kecil untuk menampung beberapa orang, mereka tidur ibarat ikan dalam kaleng sarden. Fungsi rumah pasti tidak ada kecuali hanya sebagai tempat tidur pada malam hari dan keluyuran pada siang hari. Dan bayangkan bila disana juga menyala siaran televisi yang non stop pasti tidak ada disana terdengar kata- kata untuk memotivasi anak untuk belajar.

Banyak guru-guru dan stakeholder sekolah juga tidak menyadari seberapa betul manfaatnya televisi itu sehingga televisi itu harus hadir dalam kantor majlis guru dan menyala dari pagi sampai sekolah usai. Pada mulanya televisi hadir di sana adalah dengan alasan agar guru tidak ketinggalan informasi. Namun karena bagusnya kemasan tayangan iklan dan sinetron yang datang silih berganti telah membuat guru terbius dan enggan untuk menunaikan tugasnya sebagai guru dalam kelas dan membiarkan siswa kucar- kacir.

Memang benar bahwa iklan dan sinetron adalah materi utama pada semua stasiun televisi yang ada di Indonesia ini. Manfaat utama dari program sinetron yang ditayangkan tiap saat dengan judul yang silih berganti terhadap masyarakat luas (juga jutaan anak didik) adalah sebatas untuk menghibur sja. Namun hakekatnya bisa membuat masyarakat, apalagi anak didik menjadi salah didik.

Pada umumnya tema berbagai sinetron yang ditayangkan oleh berbagai stasiun televisi swasta di Indonesia adalah tentang “cinta” yang diberi bumbu dengan unsur kemewahan, kekayaan kekerasan dan kemanjaan atau kecengengan. Sering karakter tokoh dalam sinetron- sinetron tersebut kurang berimbang dan tidak logika dengan porsi yang juga kurang berimbang.

Penokohan untuk dunia pendidikan ,misalnya, maka penulis naskah sinetron sering membuat citra bahwa figur atau tokoh siswa yang pintar itu adalah sosok seorang pelajar memakai kaca mata minus, kuper (kurang pergaulan), pribadinya terlalu baik namun mudah untuk diinjak- injak oleh pribadi teman lain. Sementara itu peran tokoh guru yang dicitrakan oleh penulis naskah sinetron adalah figur guru yang miskin, kampungan atau guru yang super killer. Tema cerita tentang hal ini dikemas seapik mungkin dan ditayangkan kepada publik, yang mana penontonnya adalah ratusan ribu bahkan jutaan anak anak sekolah se Indonesia. Namun apa tujuannya untuk mengemas cerita seperti ini, apakah untuk mengangkat citra pendidikan atau malah untuk menghempaskanya (?).

Sekarang , sebagaimana yang telah disebutkan tadi, bahwa banyak anak didik yang lebih mengenal figur presenter dan tokoh- tokoh sinetron pujaan mereka pada layar kaca dari pada mengenal figur guru – guru mereka di sekolah. Apalagi bila bapak dan ibuk guru mereka di sekolah tidak pula memoles diri dengan SDM yang tinggi dan penampilan yang anggun atau gagah. Maka semakin larilah siswa untuk menjadikan mereka sebagai panutan, model atau sebagai “uswatul hasanah (contoh teladan yang baik)”. Seolah- olah figur bagi bapak dan ibu guru yang demikian bisa berpuas diri dengan dengan dendang lagu “hymne guru- pahlawan tanpa tanda jasa” yang dihadiahkan siswa setiap Senin pagi saat upacara penaikan bendera.

Bahwa dalam hidupnya anak didik itu memperoleh pendidikan langsung dari guru di sekolah dan dari tokoh sinetron dan presenter pada layar kaca televisi mereka di rumah. Anak didik akan membandingkan dua jenis figur dengan kultur yang saling mempengaruhi mereka. Yaitu guru-guru yang senantiasa berusaha membuat dan mengajak mereka agar bisa menjadi insan yang memiliki kognitif, afektif dan psikomotorik (keterampilan) yang mantap. Atau agar mereka bisa memiliki keterampilan yang berganda dengan memantapkan intelligent quotient, emotional quotient dan spiritual quotient mereka, dengan tarikan tokoh sinetron dan presenter yang penampilan mereka yang tidak lagi membumi dan sudah jauh dari akar budaya bangsa ini- tubuh cantik dibalut pakaian super ketat dan super mini, rambut dicat cukup norak, penampilan dibuat- buat- dan menjanjikan seribu kemewahan, kekayaan, kecengengan dengan pesan-pesan yang menghalalkan hal-hal yang selama ini taboo- berciuman dimuka publik, hamil sebelum nikah, dan lain- lain adalah suatu hal yang wajar dan lumrah.

Figur guru dan figur artis sinetron (dan juga figur presenter) selalu berusaha berlomba dalam mempengaruhi pribadi anak didik kita. Karena figur artis dan presenter dibawakan oleh orang- orang yang sangat cerdas dan lincah namun gaya hidup mereka sudah serba tiruan dari gaya hidup dunia lain (baca: dunia barat) maka jadilah mereka sebagai tokoh yang dikagumi oleh jutaan pelajar se Indonesia dan sekaligus terpelantinglah figur guru sebagai panutan yang selalu serba bersahaja, dengan SDM dan penampilan yang juga pas- pasan pula dari fikiran anak didik mereka Maka terpaksalah mereka mendidik generasi muda yang bermentalkan (sebagian) cengeng, manja, sok elit, dan tiap malam sebelum tidur bermimpi untuk hidup mewah. Barangkali itulah penyebabnya kalau pesan- pesan pendidikan yang disampaikan oleh guru guru tidak sampai pada tujuannya. Guru asyik berceloteh di depan kelas sampai kering kerongkongan namun anak didik mereka masih bermimpi bersama tokoh tokoh artis sinetron yang selalu mereka dambakan sepanjang hari pada layar kaca di rumah mereka.

Adalah amat tepat kalau kini para orang tua harus mencurigai bahwa bila anak- anak yang didik dan tumbuh di depan mata kita menjadi generasi yang tampil serba aneh adalah gara gara tayangan iklan dan sinetron pada layar televisi yang dipajang dan dihidupkan sepanjang waktu di rumah. Sinetron dicurigai sebagai pemicu anak didik menjadi tercabut dari akar budaya ABS- SBK (Adat Bersandi sarak- Sarak bersandi Kitabullah). Wallahualam bissawab. .

12. Bila Gagal Tak Perlu Frustasi

Haruskah remaja tamatan SLTA frustrasi bila gagal untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri?. Sudah menjadi pemandangan umum setiap tahun bagi kita untuk menang­gapi eksistensi ini. Putera-puteri kita lepas dari SLTA berbondong-bondong pergi mengundi nasib untuk memperebutkan kursi-kursi di perguruan tinggi negeri. Kemu­dian bila hasil ujian diumumkan, maka sampailah mereka kedalam musim hujan tangis bagi putri manis dan keadaan duka bagi putera-puteranya. Sedangkan yang dapat bergembira paling cuma sekian belas persen. Dan sekian puluh persen lagi sungguh merupakan ledakan angka kesedihan. Tetapi perlukah mereka harus bersedih? Dan haruskah menganggur untuk selanjutnya? Tentu kita tidak perlu menganggur, sebab kitapun bisa mencari kesuksesan. Tidak selalu sukses dan keberuntungan itu dicapai lewat bangku universitas.

Untuk mencapai sukses itu tentu dengan jalan berwira­swasta. “Berwiraswasta?”. Ah sebuah kata yang memuaskan, dan memang banyak anak rema­ja yang sudah bosan dan jenuh mendengar perkataan ini. Pasti mereka beralasan bahwa tidak mungkin berwiraswasta kalau hanya dengan modal dengkul saja.

“Banyak cerita-cerita yang menguraikan perjalanan keber­hasilan hidup seseorang hingga menjadi jutawan dan pengusaha, yang memulai karir hanya dengan modal dengkul. Mereka mulai dari nol besar dan membuka lapangan kerja pada umumnya.

Abraham Lincoln dulu tidak pernah masuk Universitas tetapi dunia mengenalnya sebagai presiden Amerika pejuang persa­maan hak-hak azasi manusia. Levi Strauss adalah termasuk orang yang gagai dalam sekolah tetapi ia dapat mengembangkan pola pikirannya hingga banyak orang memakai celana Levi’s yang, populer itu. Thomas Alva Edison tidak pernah belajar di sekolah lanjutan tetapi ia berhasil dengan bola listrik yang tetap dipakai orang diwaktu malam. Sigmund Freud adalah orang yang gagal memasuki fakultas Psikologi, tetapi ia tidak berputus asa. Dia belajar sendiri dengan membaca banyak dan berkarya. Sekarang kita mengenal namanya sebagai orang yang pa­ling ahli dalam bidang Psikologi dan terkenal dengan analisa-analisanya. Masih banyak lagi contoh-contoh orang yang sukses termasuk orang-orang yang berada dalam propinsi, kota atau lingkungan kita sendiri.

Kita sering mendengar komen­tar remaja tentang orang-orang yang berhasil “Ah mereka sudah ditakdirkan jadi begitu”. Sebenar­nya kesuksesan itu bukanlah takdir dan bukan pula nasib yang datang saja dari langit tanpa harus berusaha selangkah demi selangkah. Lantas apakah kunci sukses mereka? Mereka tidak memandang lembaga pendidik sebagai forum pencetak tokoh-tokoh masyarakat serta tokoh il­mu pengetahuan secara mutlak. Dan mereka tidak harus maha­siswa. Mereka tidak menganggap bahwa kalau sudah mahasiswa pasti punya masa depan yang cerah. Yang perlu bagi mereka adalah terus berusaha dan terus terjun ke kancah kehidupan. Mereka tekun menggeluti suatu bidang yang bisa dikerjakan ditengah masyarakat yang hiruk pikuk dengan sejuta macam pekerjaan.

Orang-orang macam begini memandang kemuka dan melihat suatu kesempatan yang terben­tang luas. Mereka mulai belajar dan kehidupan tanpa mengenal lelah dan menyerah tanpa mem­buat teori yang bertele-tele, tetapi memikirkan analisa yang lang­sung dan tetap. Punya daya prakarsa dan vitalitas kerja yang tinggi. Mereka mempergunakan otak dan memperhitungkan gerak tangan dan kaki. Orang-orang macam inilah yang selalu men­capai sukses dalam masyarakat jadi buah semata-mata karena takdir atau nasib mujur. Mereka­lah yang turut menentukan keberhasilan itu.

Banyak orang yang berpandangan keliru, mereka menganggap bahwa seandainya seseorang bisa tamat pada perguruan tinggi tertentu maka akan mudah untuk memperoleh jabatan dan pekerjaan yang basah. Semua itu banyak tidak benarnya. Image yang demikian sama dengan Im­age yang dimiliki oleh orang-orang di kampung kita. Mereka mau saja menjual sawah dan ladang serta harta benda milik mereka asalkan anak bisa masuk universitas dan yang penting adalah menjadi mahasiswa. Bagi mereka gambaran seorang mahasiswa adalah orang yang terhormat, orang pandai dan calon penguasa negeri. Tak perduli walau mencangkul sawah tetangga yang penting anak bisa jadi mahasiswa, sungguh perlu dikasihi.

Banyak pelajar yang gagal masuk perguruan tinggi lantas frustasi sehingga memandang ke depan dengan rasa pesimis. Padahal sebetulnya ini tidak perlu terjadi. Alangkah baik bila remaja yang gagal itu melihat alam sekeliling dengan seksama sam­bil mempelajari orang-orang yang sukses di sekitar mereka. In­sya Allah mereka akan segera tahu bahwa anggapan masa depan itu suram adalah ang­gapan keliru.

13. Gaya Hidup Mahasiswa

Tampak secara global kehidupan mahasiswa tidak jauh berbeda dengan kehidupan anak sekolah menengah atas. Pergi kuliah, kemudian mencatat apa saja yang keluar dari mulut dosen lengkap dengan titik komanya. Kegiatan yang paling digemari bila kuliah usai duduk berkelompok kelom­pok, bukan mendiskusikan tentang masalah perkuliahan tetapi hanya cenderung bersifat kelakar, ledek meledek. Ada yang mendengar tentu ada yang jadi tukang cerita. Macam-macam ceritanya, persis seperti yang terkandung dalam syair lagu “panggung sandiwara”.

Kegiatan mereka yang paling umum di tempat kost adalah ber­main domino sambil tertawa ter­bahak bahak, tidur sambil mendengar kaset atau ngumpul-ngumpul untuk berbagi gosip ten­tang acara televisi, tentang kasus pejabat yang korupsi sampai kepada gosip bagaimana menak­lukkan hati pacar. Sedangkan kaum wanita ngumpul-ngumpul membicarakan tentang mode, ten­tang apa isi kamar kost kawan yang sombong sampai kepada masalah nasib.

Kemudian bila diadakan ten­tamen, musim ujian, pada saat itu barulah mereka kasak kusuk. Melengkapi catatan, membuat jimat ala anak SMA sampai men­cari sopir pada waktu ujian ber­langsung. Soal ujian pada beberapa jurusan terasa agak san­tai. Apabila dalam ujian untuk mata kuliah umum suasananya terasa lebih acuh karena hubungan antar mahasiswa begitu pula hubungan mahasiswa dengan dosen bersifat siapa lu siapa gua saja. Memang telah ada perguruan tinggi swasta sengaja memasang monitor untuk meningkatkan mutu akademik yang lebih objektif tetapi itu hanya segelintir saja dari populasi per­guruan tinggi yang ada.

Dari sekian banyak mahasiswa yang santai atau ada juga mahasiswa yang serius dalam men­ghadapi kuliah. Mereka tekun menghadapi buku catatan, banyak mengurung diri dari pergaulan. Dalam menghadapi tentamen, mereka sengaja menahan kantuk pada malam hari untuk dapat men­ghafal semua isi catatan. Memang belajar dengan care menghafal telah membuat mereka sukses dan mampu. membuat mereka memperoleh, indeks prestasi tiga koma sampai indeks prestasi empat. Tetapi apakah mereka dapat dikatakan sebagai mahasis­wa yang, intelektual?

Dapat kita katakan bahwa belajar dengan cara menghafal tidak ubahnya ibarat merekam bagi sebuah kaset kosong dan ahli pendidikan mengatakan bahwa belajar dengan cara demikian dapat mematikan kreatifitas otak untuk berfikir. Memang banyak mahasiswa berindeks prestasi bagus cuma karena menghafal kemudian punya peluang untuk menjadi staf akademik perguruan tinggi, misalnya. Maka mereka rata-rata tampil sebagai obyek yang membosankan, demikianlah pengakuan beberapa orang mahasiswa.

Adalah seorang mahasiswa mempunyai prestasi belajar diatas rata-rata, dia selalu mengungkap­kan rasa pesimis yang berkepan­jangan. Dia mengeluh hendak jadi apa dan kerja dimana kelak bila telah lepas dari perguruan tinggi. “Lho kamu kuliah di Universitas dituntut untuk menjadi intelektual, keluhan seperti itu cuma panas keluar dari mulut pemuda awam. Sekarang bangunlah dan in­trospeksi dirimu tentang bagaimana wawasan berfikir dan pola pergaulanmu?”

Bukan kebetulan apabila ada mahasiswa begitu lepas dari perguruan tinggi langsung aktif dalam suatu bidang pekerjaan. Kesuksesan begini tentu telah mereka rintis jauh hari sebelum­nya. Karena kesibukan ganda, sebagai mahasiswa dan merintis mencari lapangan kerja, rata-rata dalam bidang akademik prestasi mereka sedang-sedang saja, tetapi dalam mempraktekkan kerja tidak perlu lagi kasak kusuk.

Ada beberapa orang mahasiswa, dulu sering meninggalkan tempat kost selama berminggu minggu sampai berbulan bulan. Nongol di kampus apabila ada jadwal kuliah setelah itu ia cabut lagi. Memang kuliah sesuai dengan jadwal yang direncanakan. Walau mereka wisuda dengan indeks prestasi sedang tetapi wawasan berfikir luas. Kini mereka sukses dalam mengelola usaha agrobisnis, men­gelola ekspor bahan pangan dalam wilayah SIJORI, Singapura-Johor-­Riau dan mengelola usaha-usaha bisnis lainnya. Sedangkan kawan-kawannya yang dulu santai, goyang goyang kaki, kini setelah wisuda sibuk mengepit ijazah dari kantor ke kantor. Dan selalu saja kalimat “tidak ada lowongan kerja” membuatnya terduduk lesu.

14. Guru Perlu Memiliki Kecerdasan Berganda

Kepedulian orang terhadap pendidikan dewasa ini sudah meningkat. Sekarang kita dapat menemui ratusan artikel yang berbicara tentang peningkatan kualitas pendidikan melalui surat kabar, majalah, seminar dan lewat cyber atau internet. Salah satu judul atau topik yang sering diangkat orang dalam berbagai seminar dan talkshow adalah bagaimana melejitkan potensi diri dan menumbuh-kembangkan pendidikan yang berimbang antara “imtaq dan iptek”- iman dan taqwa- dan ilmu pengetahuan dan teknologi- atau topik tentang mengembangkan kepintaran berganda antara IQ, EQ dan SQ.

Konsep- konsep untuk mengembangkan kepintaran berganda- mutiplied intelligent- ini kemudian dibawa ke dalam dunia pendidikan (ke sekolah) dan ke dalam rumah tangga. Namun konsep dan teori tentang kecerdasan berganda corongnya lebih banyak mengarah kepada dunia anak- anak dan para siswa di sekolah. Untuk mereka sengaja dirancang berbagai program, pelatihan atau training disertai dengan segudang resep bagaimana agar mereka bisa memiliki kepintaran berganda- menjadi generasi muda yang memiliki multiplied intelligent dengan harapan kelak bisa hidup indah, mudah dan jauh dari gelisah.

Menerapkan dan mengarahkan corong konsep pendidikan kepintaran berganda kepada anak didik di sekolah dapat dianggap sebagai langkah yang tepat. Namun kebijakan ini tidak berimbang kalau guru- guru nya sendiri belum memiliki kepintaran berganda. Bagaimana guru bisa menerapkan perannya yang cukup banyak seperti sebagai educator, motivator, counselor, dan lain- lain- kalau mereka tidak memiliki kepintaran berganda.

Bagaimana realita tentang kualitas guru- guru dan konsep kepintaran berganda mereka pada banyak sekolah ? apakah mereka sudah memiliki kepintarasn berganda atau malah mereka hanya memiliki kemampuan pas- pasan saja sebagai seorang guru (?).

Pada banyak sekolah, umumnya guru- guru hanya memiliki kepintaran tunggal, yaitu hanya sekedar menguasai mata pelajaran mereka saja. Guru yang begini adalah realita kebanyakan guru- guru. Siswa memandang guru yang demikian sebagai guru yang biasa- biasa saja. Motivasi yang mereka berikan kepada siswa terasa juga biasa- biasa saja. Namun bila ada guru yang memiliki beberapa kepintaran- selain menguasai bidang studinya, juga cakap dalam hal lain, seperti pintar berpidato, pandai komputer dan internet, hangat pribadinya, dan lain- lain, maka guru yang demikian pasti memiliki tempat spesial dalam hati anak didik mereka.

Guru dengan kepintaran berganda seperti yang disebutkan tadi agaknya dapat diberi label sebagai guru yang profesional atau guru yang berkualitas. Mereka adalah guru yang memiliki karakter- cerdas kognitifnya, cerdas affektifnya dan cerdas psikomotoriknya. Guru yang begini tentu sangat menyenangkan, namun populasi mereka tentu saja tidak banyak. Namun setiap guru- kalau ada motivasi, keinginan dan usaha maka tentu saja mereka bisa-musti menjadi guru- guru yang spesial bagi anak didiknya. .

Sebahagian guru, seperti halnya kaum remaja, juga ada yang terjebak kedalam budaya instant- budaya yang menginginkan hasil bisa diperoleh serba cepat- bearaktifitas sedikit tetapi ingin memperoleh hasil yang cepat dan untungnya besar. Budaya instant tentu harus dijauhi, dan begitu juga dengan budaya lain seperti budaya floating thinking- fikiran suka mengambang-, budaya senang melakukan rekayasa, budaya demam lomba penampilan, budaya demam mengambil barang kredit, budaya demam bergosip, budaya ABS- asal bapak senang, budaya otoriter dan suka membentak- bentak sampai kepada budaya hedonisme – kesukaaan untuk mencari kesenangan melulu. Poin- poin ini agaknya lebih bersifat refleksi terhadap fenomena dalam dunia pendidikan kita.

Mengapa refleksi di atas bisa menjadi fenomena dikalangan sebahagian kaum pendidik (?). Barangkali fenomena ini terjadi akibat sikap mental, atau sikap sejak awal.

Dahulu menjadi guru begitu mudah dan gampang. Kalau kuota guru masih kurang maka kuota ini bisa disisip dan bisa dipesan lewat memo orang- orang yang berkuasa di atas.maka terjaringlah guru- guru yang sebagian bukan the right man on the right place. Pada akhirnya bermunculanlah guru- guru seperti fenomena yang disebutkan di atas- yaitu guru guru yang kurang kritis dan berbudaya floating thingking, miskin kreatifitas, berbudaya instant, dan lain- lain.

Respon generasi muda juga menentukan eksistensi dan kualitas guru. Tetap saja pada banyak sekolah siswa tergolong pintar pada mulanya segan untuk memilih karir guru sebagai cita- cita mereka. Kalau ada itu pun hanya bagi segelintir siswa saja. Itu pun diakibatkan oleh faktor‘X”, seperti karena alasan ekonomi orangtua,atau agar tidak perlu susah payah mencari kerja.

Umumnya siswa yang tergolong pintar dengan tingkat ekonomi orangtua yang lebih mapan memilih universitas non kependidikan yang berada di pulau Jawa. Pilihan mereka untuk kategori karir guru jatuh pada pilihan yang ke sekian. Maka akibatnya kualitas guru- guru secara umum cendrung biasa- biasa saja. Adalah suatu hikmah sejak lapangan kerja menjadi makin sulit dan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi idaman bagi sebagian mahasiswa di universitas, karena PNS sudah memberi iming- iming hidup enak, ada uang lauk- pauk dan uang tujada (tunjangan daerah) maka mereka yang belajar di Universitas non kependidikan memutar haluan untuk menyerbu program akta kependidikan agar nanti bisa melamar menjadi guru. Tentu saja hal ini menjadi hak pribadi setiap warga negara.

Kini guru guru musti punya paradigma, bagaimana menjadi guru bermartabat dan profesional. Paradigma ini bisa dicapai kalau mereka mengembangkan diri. Mereka, misalnya, harus berpikir untuk memiliki kecerdasan berganda, karena kecerdasan berganda juga patut untuk dimiliki oleh guru- guru.

Adalah pilihan yang tidak bijak bila hanya anak didik saja yang diminta dan diusahakan untuk mengembangkan diri untuk memiliki kepintaran berganda. Sementara guru- gurunya dibiarkan saja memiliki kepintaran tunggal atau tidak pintar sama sekali sebagai seorang guru.

Bobi De Porter (2002), dengan bukunya Quantum Teaching, telah memberi kaum pendidik inspirasi tentang bagaimana untuk memiliki kepintaran berganda itu. Ia mengatakan bahwa orang (atau guru) yang memiliki kepintaran berganda harus menguasai atau memiliki bidang: seni, language, interpersonal, music, natural, body, intrapersonal dan logis.

Untuk mengimplementasikan konsep kepintaran berganda tersebut bagi diri sendiri maka setiap guru perlu untuk memiliki sense of art- rasa seni, mengembangkan kemampuan berbahasa lisan dan tulisan. Mereka perlu untuk melibatkan diri dalam pergaulan , memiliki teman yang luas, mengikuti organisasi, dan melakukan koresponden.

Pengembangan kepintaran berganda lain nya adalah untuk bidang natural. Mereka harus memahami prinsip “go back to the nature” memiliki rasa peduli pada alam dan lingkungan. Mereka perlu untuk melakukan rekreasi dan merasakan betapa alam ciptaan Tuhan itu begitu indah dan menyegarkan. Kemudian setiap guru perlu untuk memiliki badan yang bugar, mereka perlu berolahraga untuk mengeluarkan keringat agar jantung dan paru- paru selalu sehat. Untuk melengkapi konsep kepintaran berganda untuk poin interpersonal yang lain, maka mereka perlu melakukan kontemplasi- merenungan tentang kelebihan dan kekurangan diri, dan mengembangkan sikap- sikap positif. Kemudian mereka juga perlu mengembamgkan kemampuan berlogika.

Mengimplementasikan konsep kepintaran berganda – mutliplied intelligent- sungguh sangat bermanfaat bagi pengembangan diri dan untuk itu konsep ini harus dilaksanakan sekarang juga, tak perlu ditunggu- tunggu sampai datang hari esok. Sehubungan dengan konsep pengembangan kepintaran berganda, Agus Nggermanto (2003) juga memberikan sedikip resep. Ia mengatakan bahwa untuk memiliki kepintaran berganda maka setiap orang (guru) perlu untuk mengimplementasikan konsep multi intelegensi. Ini mencakup tiga unsur yaitu intelligent quotient, emotional quotient dan spiritual quotient, atau kecerdasan otak, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual.

Kecerdasan otak mencakup unsur logis (matematika) dan linguistik (verbal atau bahasa). Kecerdasan emosional mencakup unsur interpersonal dan intrapersonal. Sedangkan kecerdasan spiritual adalah bagaimana menghayati dan mengabdi kan diri - beribadah- kepada Khalik (Sang pencipta alam) ini.

Setelah memahami konsep kepintaran berganda, maka mereka juga perlu untuk mengembangkan karakter karakter positif- seperti karakter senang berfikir positif. Tokoh pendidikan Indonesia , Ki Hajar Dewantoro, sudah mewarisi kita konsep untuk memiliki kepintaran berganda, resepnya cukup sederhada yaitu: ing madya mangun karso, ing ngarso sung tulodo, tutwuri handayani. Kalau sekarang banyak ajakan datang agar guru perlu mengubah diri untuk menjadi guru yang bermartabat dan guru profesional, maka salah satu wujud untuk menjadi guru yang demikian adalah melalui konsep pengembangan diri menjadi kaum pendidik dengan kepintaran berganda.

5. Menumbuhkan Budaya Menghargai Siswa

Menghargai dan menyayangi adalah dua ekspressi emosi yang selalu patut ditujukan oleh orang tua kepada anak dan oleh guru kepada siswanya selalu. Dua ungkapan ekspressi emosi ini amat tulus diberikan oleh orang tua yang punya bayi dan balita. Perasaan sayang dan dihargai yang diterima oleh anak membuat mereka selalu bersemangat untuk melaksanakan aktivitas yang tidak henti- hentinya dalam menjalani proses pertumbuhan mereka. Masa bayi dan balita yang merupakan masa emas, karena pada masa ini syaraf- syaraf berkembang pesat, dan pada saat yang sama orangtua memberikan pelayanan unggul dalam mendidik mereka, yaitu mendidik dan membesarkan yang penuh dengan senyum, kehangatan, sentuhan dan kata- kata positif.

Mendidik anak dengan pelayanan prima masih diterima oleh anak mereka berada di bangku taman kanak-kanak dan berlanjut sampai kelas satu atau kelas dua SD. Pada saat ini orang tua di rumah masih memperlihatkan pribadi yang hangat pada anak di rumah. Di sekolah , di TK dan di SD (kelas satu dan kelas) dua guru- guru pun masih mendidik anak dengan penuh senyum, penuh sabar dan ramah tamah .

Mendidik dengan pelayanan ramah tamah- menghargai dan menyayangi- dari guru kepada siswa memberikan yang menakjubkan. Inilah alasanya kalau dalam usia ini mampu merekam pembelajaran dengan hasil yang bagus. Namun apabila ada yang beralasan bahwa dalam usia ini, daya tangkap anak ibarat menulis di atas batu, tetapi didik oleh orangtua dan guru yang penuh dengan suasana menekan, mengancam dan mengintimidasi maka pasti akan membuat anak menjadi manusia yang senang membisu dan memiliki jiwa paranoid.

Adalah proses biologi yang alami bila anak terus mengalami pertumbuhan terus, sampai akhirnya mereka memasuki usia pasca masa balita dan terus sampai masa pra remaja. Seiring dengan perubahan tubuh atau perubahan biologis mereka, maka karakter mereka juga berubah. Bila pada masa bayi dan balita, mereka masih memperlihatkan sikap manis dan lucu. Namun dalam masa setelah itu, mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih agresif, impulsif- kurang bisa menguasai diri, senang berteriak dan bergerak agresif dalam rangka merespon pertumbuhan jantung, paru-paru, otot dan organ yang lain sering membuat mereka menjadi kontra dengan standar kebijakan guru dan orang tua.

Untuk mencegah gerak mereka yang agresif dan suara mereka mereka yang keras, maka orang tua dan guru melakukan respon yang berbeda- beda. Sebagian orangtua berusaha untuk memahami pertumbuhan dan perkembangan anak dan sebahagian lain malah bersikap dengan sangat otoriter- menghardik, mencela dan memberikan hukuman, dimana pda akhirnya akan melajirkan generasi muda yang senang membisu, pasih dan pemalu.

Di saat anak mengalami pertumbahan dan perkembangan yang pesat ini, walau mereka sendiri mengalami perubahan pola prilaku yang aneh- aneh di mata guru dan orangtua yang belum memahami bagaimana pertumbuhan dan perkembangan anak, mereka mererspon dengan pola kekerasan atau bergaya otoriter maka pastilah akan melahirkan nak- anak dengan perasaan tertindas.

Cukup bervariasi pola mengajar guru- dan juga orangtua- terhadap anak didik sejak masa anak- anak di SD sampai kepada masa remaja di tingkat SMP dan SLTA. Ada guru yang mengajar dengan cara memaksa, serba melarang, serba membantu, mendikte dan tentu ada juga orang tua dan guru yang mendidik anak penuh dengan menghargai, penuh kasih sayang, memberikan simpati dan rasa emphaty mereka. Tentu saja banyak orang tua dan guru akan berkata bahwa berteori tentu lebih mudah dari pada mempraktekannya. To say is easy but to do is difficult. Namun pernyataan ini sedikit bisa disangkal.

Andaikata orangtua dan guru mau selalu belajar dan bisa memahami karakteristik anak sesuai dengan tingkat atau masa pertumbuhannya, maka mereka (kita) tentu akan mengerti mengapa anak pada usia 6 sampai 10 tahun, sebagai contoh, senang berbicara dan berkata dengan gaya menghardik- hardik. Mengapa dalam dalam usia ini mereka bersikap sangat kinestik (lasak)- banyak bergerak dan bersikap tidak tenang. Memahami karakter pertumbuhan mereka akan bisa meredam gejolak emosi guru dan orang tua dalam mendidik.

Mengajar dengan gaya otoriter (menggunakan kekuasaan), atau gaya pseudo demokrasi (demokrasi semu) bagi guru: marah- marah, mencela, mencerca, mengkeritik, akan membuat siswa menutup pintu hati dan pintu fikiran mereka. Anak didik akan kehilangan motivasi, minat dan gairah untuk berintegrasi dengan guru dan orang tua mereka. Mereka berharap agar pembelajaran dan saat- saat yang membosankan agar segera berakhir.

Guru- guru tertentu bisa jadi memiliki cara yang jitu untuk meredam keagresifan sikap mobile atau sikap anak didik. Cara yang mereka terapkan bukan lewat pemaksaan, menekan, atau marah- marah, namun dengan cara memberikan perlakuan khusus: keakraban. Mereka mengerti bahwa anak anak menjadi nakal karena mereka menderita Skin hunger- atau kulit yang lapar terhadap sentuhan. Maka sentuhan tangan guru pada pundak mereka, diikuti senyum dan kata- kata simpati memiliki kekuatan yang besar untuk mengatasi prilaku nakal mereka.

Pembelajaran bagi anak di rumah dan di sekolah, bukan berarti mereka harus mengejar kecerdasan kognitif (kecerdasan otak) semata. Namun juga untuk memacu kecerdasan psikomotorik (keterampilan) dan affektif (sikap). Maka orang tua yang sudah terlanjur untuk membebaskan anak dari pekerjaan rumah- mereka tidak usah memasak, menyapu dan mengurus rumah asal selalu belajar dan belajar agar bisa juara di sekolah- malah akan membuat anak menjadi tidak terampil dan kehilangan tanggung jawab terhadap keluarga dan terhadap dirinya. Untuk itu orangtua perlu mengajar anak untuk rajin belajar namun juga rajin membantu keluarga.

Agar anak memiliki nilai psikomotorik dan affektif dalam hidup maka, sekali lagi, orang tua perlu untuk melibatkan mereka dalam setiap aktivitas kehidupan di rumah. Karena adalah tidak tepat untuk mengkondisikan mereka hanya untuk belajar dan belajar melulu, tanpa pernah memberi mereka tanggung jawab dan mewarisi keterampilan kerja di rumah. Andaikata sang ayah mengelola usaha pertanian, peternakan atau perdagangan, maka idealnya anak perlu dilibatkan dalam mengelola usaha keluarga ini.

Sudah menjadi fenomena pada beberapa keluarga menerapkan konsep “salah didik” dengan cara tidak melibatkan ikut mengurus rumah tangga. Cukup banyak sekarang anak laki- laki dan anak perempuan yang tidak bisa mengurus diri sendiri, tidak tahu cara mencuci, menyapu, memasak apalagi untuk memasak rendang padang. Inilah salah satu kesalahan orang tua yang mana atas nama agar anak bisa sukses di sekolah maka mereka dimanja- tidak diberi pekerjaan mengurus rumah. Tugasnya Cuma belajar dan belajar melulu dan dalam kenyataan malah pketerampilan dan sikap anak menjadi buntu atau lumpuh untuk memiliki keterampilan sosial.

Begitu pula kalau di sekolah, belajar dengan gaya menghafal tanpa mengimplementasikan gaya belajar inquiri (menemui) atau belajar dengan cara berbuat atau learning by doing cendrung membuat siswa miskin dengan nilai keterampilan dan sikap. Untuk mewarisi mereka dengan nilai keterampilan dan sikap yang sesuai dengan norma sosial dan norma agama (dan juga sesuai dengan norma orang timur) maka tentu tidak cukup hanya dengan memberi mereka catatan dan hafalan teori tanpa melibatkan mereka dan memberi mereka model (langsung dari orang tua dan guru).

Pembelajaran BAM (budaya alam minangkabau), agama, bahasa dan budi pekerti yang mana kalau hanya syarat dengan teori tanpa melibatkan mereka dalam aktivitas langsung dengan kehidupan adat, mengggunakan bahasa dan implementasi agama maka nilai yang mereka oeroleh selalu cendrung bersifat kognitif. Metoda pembelajaran yang demikian tidak pernah tepat sasaran yaitu untuk memantapkan nilai keterampilan dan sikap.

Dapat disimpulkan bahwa mengajar anak atau siswa dengan cara menumbuhkan budaya menghargai, memahami pertumbuhan diri anak dan mendidik mereka dengan cara memberikan pelayana prima: senyum, ramah tamah dan penuh keakraban, akan memberikan dampak positif dalam mendidik. Perlu juga diperhatikan bahwa adalah perlu untuk melibatkan anak dalam setiap aktivitas di rumah dan aktivitas dalam pembelajaran di sekolah agar mereka tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga cerdas untuk keterampilan dan sikap sosial. Akhir kata bahwa adalah perlu orang tua dan guru menjadi model bagi anak sebelum mereka terlanjur mencari model ke luar yang penampilan dan budaya mereka cendrung serba aneh.

16. Siswa Bingung Memilih Figur antara Selebriti dan Tokoh Intelektual

Adalah jumlah populasi generasi muda menempati posisi yang sangat mayoritas dalam piramida demografi kependudukan di Indonesia. Mereka adalah anak- anak muda, remaja dan pelajar yang sangat sibuk menumbuh kembangkan potensi diri. Setiap saat selalu mencoba dan mencoba untuk mencari identifikasi diri, mereka selalu merenung dan berfikir untuk menemui figur yang sangat pas untuk diadopsi dan ditiru dalam rangka membentuk karakter diri sendiri.

Generasi muda yang jumlahnya jutaan jiwa itu dapat kita umpamakan sebagai koloni serangga yang beterbangan di malam hari mengejar sinar yang dipancarkan oleh figur- figur orang orang besar dan orang orang ternama di Indonesia (malah bisa jadi juga orang terkenal di level dunia). Figur atau tokoh yang memancarkan sinar popularitas yang kuat pastilah mampu menarik banyak anak- anak muda untuk menjadikan mereka sebagai idola atau sebagai panutan (model) bagi hidup.

Dalam satu generasi yang lalu sampai kepada dua puluh tahun yang silam, yaitu tahun 1970-an dan 1980-an, agaknya cahaya tokoh intelektual, juga tokoh agama, masih memiliki sinar yang terang untuk menyinari generasi muda di Indonesia. Begitu juga bagi generasi pada zaman sebelumnya. Sebut saja generasi di tahun 1940-an sampai tahun 1960-an, saat anak- anak muda dan para pelajar Minangkabau masih tidur di surau, mereka sebelum tidur selalu bermimpi ingin menjadi orang hebat- menjadi tokoh intelektual- seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Tan Malaka, Buya Hamka, Haji Agus salim, dan lain- lain. Di saat senggang mereka bercengkrama dan berdialog sampai separoh bertengkar mempertahankan reputasi figur idola mereka kalau di rendahkan oleh lawan bicara. Tentu saja mereka juga rajin untuk mengumpulkan kliping tulisan yang mempublikasikan figur tersebut dari majalah dan koran- koran, atau mereka mencari buku biografi tentang orang ternama lain untuk perbendaharaan wawasan mereka lewat meminjam, dari pustaka atau membelinya di toko buku. .

Rata- rata generasi muda (baca: anak sekolah) pada masa itu yang menjadikan tokoh intelektual sebagai panutan mampu membuat mereka tumbuh menjadi manusia yang berkualitas. Tidak saja kualitas untuk kognitif, tetapi juga kualitas untuk sikap, prilaku, akhlak sampai kepada kualitas kecakapan hidup lainnya. Walau istilah quantum quotient- kepintaran berganda, belum dikenal saat itu namun dalam kenyataan mereka telah memiliki pribadi dengan kecerdasan berganda secara tak langsung. Maka tidak heran kalau rata- rata remaja- sebagai calon intelektuak saat itu- mampu tumbuh menjadi orang yang sukses dan terpandang dalam masyarskat. Bukti itu masih terlihat bagi mereka yang berkarir pada tahun 1970 an dan 1980 an.

Dapat dikatakan bahwa figur tokoh intelektual dan juga tokoh agama yang ada di Indonesia pada saat itu betul- betul memiliki kekuatan dan mampu memberikan model atau panutan bagi generasi muda pada masa itu. Suara, tulisan dan kehadiran mereka selalu ditunggu tunggu setiap saat. Dan adalah juga menjadi tradisi bagi tokoh intelektual pada masa itu untuk banyak meleburkan diri dengan anak- anak muda. Mereka turun ke bawah, ke surau, ke langgar dan ke sekolah untuk menemui generasi muda atau orang- orang yang mengidolakan mereka. Mereka tidak sibuk meleburkan diri dengan proyek yang ujung- ujungnya untuk menebalkan dompet. Karena pada masa itu yang bernama proyek demi proyek memang juga jarang.

Tokoh- tokoh intelektual ukuran lokal pun juga mempunyai arti bagi anak- anak muda pada masa itu. Mereka juga mempunyai andil atau peran lewat model atau figur yang mereka miliki untuk menggerakkan semangat, dan motivasi mereka untuk maju dan berkembang. Kultur yang tinggi dan karakter yang baik pada diri mereka mampu menular kepada generasi muda pada masa itu. Sehingga saat itu mungkin istilah tawuran masal dan istilah kenakalan remaja belum terdengar segenjar sekarang.

Pada masa itu tokoh intelektual masih punya agenda rutin untuk melakukan turba atau turun ke bawah. Sebutlah Buya Hamka, sebagai contoh, sebelum meninggalnya di tahun 1980, dalam tahun- tahun sebelumnya selalu punya agenda untuk turun dan berbagi fikiran dan pengalaman (berdakwah), tanpa protokoler seperti intelektual sekarang, kepada masyarakat yang berada di lapis bawah yang sudah menunggu di mesjid di daerah tingkat dua. Tokoh agama dan tokoh intelektual dirasakan sebagai milik masyarakat, bukan sebagai miliki kampus, milik perkumpulan atau kaum elit.

Adalah fenomena pada saat itu bahwa tokoh intelektual membuka pintu rumahnya lebar- lebar untuk banyak orang, tanpa pandang bulu dan pilih kasih. Mereka berbicara hati ke hati secara langsung dan bukan dari jauh lewat seminar atau workshop. Karena pada masa itu kegiatan seminar dan workshop belum segencar sekarang. Sekarang hanya kalangan tertentu saja yang bisa berbagi pengalaman dengan tokoh intelektual, dan tempatnya pun harus di lokasi seminar yang ujung- ujungnya hanya untuk orang yang berduit dan orang yang mengharapkan selembar sertifikat untuk sertifikasi atau keperluan naik pangkat.

Awal tahun 1980-an adalah era televisi mulai merangkak dan hadir ke tengah masyarakat Indonesia. Televisi pada mulanya punya visi dan misi suci yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dan juga sebagai corong komunikasi dari pemerintah untuk rakyat. Lambat laut peranan televisi- si kotak ajaib, tadi memberikan fungsi dan peranan ganda. Yaitu sebagai media pendidikan dan hiburan. Bila porsi fungsi ini masih berimbang- fifty- fifty antara hiburan dan pendidikan- maka tentu ini tidak lah menjadi masalah. Yakni selagi masih berada dalam koridor kebudayaan Indonesia. Namun entah mengapa, entah siapa yang memulai (tentu saja orang yang mempunysi duit dan mengusai dunia komunikasi) maka porsi televisi sebagai hiburan sudah semakin menciut. Malah sekarang di tahun 2000 an ini, dapat dikatakan bahwa fungsi televisi adalah banyak sebagai benda penghibur untuk anggota masyarakat.

Kalau dahulu televisi dipandang sebagai benda lux atau kebutuhan mewah, maka sekarang ia telah menjadi kebutuhan primer, seperti hal-nya kebutuhan terhadap sandang, pangan dan papan. Dan sering ditemui rumah- rumah kumuh atau gubuk yang agak reot tetapi pemiliknya mampu mempunyai televisi berwarna- walau itu adalah pemberian kaum kerabat mereka. Karena kini televisi telah berubah fungsi menjadi teman untuk memecah kesepian dan sebagai babby sitter untuk menemani anak selama berjam- jam walau dengan seribu satu dampak yang ia berikan.

Sekarang para pebisnis tahu betul bahwa untuk bisa berdagang dan meraup laba sebanyak mungkin dari lapisan masyarakat maka televisi bisa menjadi media massa yang andal. Maka dalam masa satu atau dua dekade saja, belasan stasiun televisi pun bisa bermunculan di bumi Indonesia. Kehadiran televisi sekarang bukan punya niat untuk mendidik tetapi banyak punyas niat untuk menghibur (sambil menyuguhkan budaya baru sebagai pilihan).

Kehadiran televisi dalam keluarga, tidak memupuk budaya belajar, malah menyuburkan budaya menonton. Anak anak muda menjadi lebih suka menonton dari pada membaca. Selama ini pribadi tokoh intelektual hanya bisa ditemui lewat kebiasaan membaca. Budaya menonton membuat mereka tidak bisa kenal dan malah makin jauh dari figur intelektual, karena mereka sendiri membenci hobi membaca.

Agar program komersial dan hiburan televisi makin laku dan makin mampu bersaing sesama mereka- stasiun televisi- dan mampu merebut hati remaja dan generasi muda (yang tidak suka atau separoh suka membaca) maka pemilik stasiun televisi yang jumlahnya belasan menghadirkan sosok figur yang ramah tamah, cantik, menarik dan penampilan nyentrik. Mereka ini belakangan akrab disebut atau disapa sebagai kaum selebriti. Mereka terdiri dari bintang film, bintang sinetron , artis, penyanyi, presenter atau bintang iklan, atau mungkin ada dari grup lain dengan istilah lain pula.

Para selebriti, kehadiran mereka sungguh sangat mempesona dan kelincahan mereka dalam menjual pribadi yang dipoles oleh hal- hal yang bersifat imitasi- tiruan dan penuh kepalsuan- mampu membuat mereka menjadi kaya dalam sekejam mata. Sehingga ini menjadi inspirasi bagi penonton televisi. Pada mulanya pribadi atau pesona selebriti ini hanya memberi inspirasi kepada kaum remaja yang memang sedang deman mencari figur atau identifikasi diri. Lambat laun pesona penampilan selebriti ini merebak kesemua lapisan masyarskat.

Pada mulanya hanya kaum remaja sajalah yang tampil dan berperilaku mirip artis atau selebriti yang mereka tonton di laya kaca, cara berpakaian, cara ber make-up, cara berbicara, cara bersopan santun. Namun sekarang pria dan wanita setengah baya pun banyak yang tampil lebih glamour dari pada selebriti itu sendiri- memakai rambut berwarna, celana ketat, lensa kontak, muka dipermak, atau bagi pria memakai celana model melorot, merek pakaian musti trendy dan sampai mereka melangkah menjauhi mode dari kebudayaan sendiri.

Kalau kita melangkah ke lingkungan universitas- mulai dari universitas berkualitas rendah sampai berkualitas tinggi. Pasti disana akan ditemui banyak mahasiswa- sebagai intelektual muda yang seharusnya penampilan mereka seperti tokoh intelektual senior mereka, atau paling kurang mereka mengambil penampilam dan mode panutan dari dosen- dosen dan guru besar (profesor) sebagai panutan dalam bertindak- melakukan aksi, berbicara dan berfikir. Namun kenyataannya adalah mereka malah tampil ibarat selebriti dari kampus yang suka mejeng dengan pakaian model mutakhir yang dipopulerkan oleh selebriti pujaan mereka, menyandang tas yang isinya malah MP3, recharger mobile phone, kue bermerek luar negeri dan sebagai pelengkap musti ada buku catatan tipis sebagai bukti berstatus mahasiswa. Fungsi kampus bisa berobah sebagai tempat pamer dan lomba penampilan dan sedikit sekali, bagi sebagian mahasiswa sebagai calon intelektual, sebagai unjuk presrasi.

Maka inilah fenomena yang kini terjadi, saat pesona selebriti mengalahkan popularitas dan pengaruh tokoh inteletual, telah mengakibatkan generasi muda tumbuh menjadi generasi kebingungan, generasi yang tercabut dari akar budayanya. Fenomena kebingungan generasi muda ini bisa diatasi apabila tokoh intelektual mempopulerkan lagi reputasi mereka. Kini mereka- para tokoihn intelektual dan juga tokoh agama) harus turun dari menara gading intektual mereka yang sakral, membuka pintu rumah seluas- luasnya dan turun mobil untuk menemui dan menemani generai muda untuk berbasgi dan basgi mereka yang sibuk dalam mencari identitas diri, agar mereka kelak mampu untuk menapak hari depan mereka.

17. Peran Strategis Orang Tua Untuk Mencegah Pengangguran Sejak Dini

Kata lain dari “pengangguran” adalah tunakarya. Tetapi kata pengangguran lebih lazim diucapkan oleh banyak orang. Terutama dikalangan orang- orang yang sedang mencari kerja atau merasa telah gagal dalam mencari kerja. Sementara itu pada zaman nenek moyang kita, kata pengangguran belum begitu lazim atau tidak dikenal sama sekali, karena pada masa itu semua orang punya pekerjaan. Pekerjaan yang populer saat itu adalah seperti bertani, nelayan, beternak, bertukang , berdagang atau sebagai buruh. Pekerjaan diwariskan dari orang tua turun temurun. Tidak seperti sekarang, pekerjaan dicari, dilamar, dan kemudian diterima atau ditolak.

Pada masa itu, dalam suasana masyaraskat tradisionil,seperti yang telah diungkapkan- generasi tua peduli terhadap kelangsungan kerja generasi muda. Seorang ayah akan melatih anak laki- laki yang sudah besar untuk mengikuti dan menekuni profesi sang ayah. Dan kelak bila sudah dewasa ia boleh bekerja berdikari- berdiri di atas kaki sendiri. Itu berarti bahwa aktivitas on job training – atau magang- sudah berjalan dan malah telah mengangkar dan membudaya dalam keluarga. Begitu juga dengan kaum wanita, ibu- ibu juga melatih dan mempersiapkan masa depan anak wanita dengan memperi peran- peran sosial sebagai kaum wanita, calon ibu dan calon istri. Kegiatan menjahit, merenda, memasak, merawat adik- adik dan merawat rumah adalah bentuk kegiatan yang umum. Ini berarti nilai- nilai keterampilan dan sikap bertanggung jawab diajarkan dan diwariskan turun temurun. Orang sekarang memberi istilah bahwa telah terjadi pewarisan nilai psikomotorik dan afektif dari orang tua ke anak..

Sejak dulu sampai sekarang nilai otak (nilai kecerdasan otak) sangat dijunjung tinggi. Banyak orang tua berlomba untuk mendorong anak- anak mereka untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Tentu saja ini adalah terobosan positive dalam mendidik keluarga. Sebelumnya orang berlomba dalam hal kekayaan berdasarkan berapa jumlah emas, jumlah rumah, jumlah sawah sampai kepada berapa jumlah kerbau yang mereka miliki. Namun setelah kepedulian terhadap pendidikan menjadi suatu fenomena maka masyarakat akan merasa bangga bila dalam keluarga banyak anak- anak yang menjadi sarjana.

Agar anak bisa menjadi sarjana maka setiap harus sekolah setinggi mungkin- akademi atau univeritas. Bila nilai (indeks prestasi) juga tinggi maka lowongan kerja tentu sudah menunggu. Oleh karena itu masyarakat memandang sekolah yang tinggi sebagai investasi untuk mengangkat martabat dan nama baik keluarga. Kemudian terbentuklah beberapa bentuk karakter masyarakat dalam mempersiapkan kualitas keluarga atau kualitas anak.

Ada orangtua yang mendukung agar anak bergiat dan rajin dalam belajar, namun mereka juga harus menyisihkan waktu untuk mengurus kebersihan dan kerapian rumah. Dan juga cukup banyak orangtua yang mendorong anak- anak mereka untuk rajin belajar dan membebaskan mereka untuk merawat rumah (?). Maka ini merupakan sebuah sikap naif orang tua dalam mendidik dan menumbuhkan sikap dan nilai anak dalam memiliki rasa tanggung jawab. Fenomena seperti ini amat banyak terjadi dalam masyarakat.

Agar anak menjadi pintar di sekolah maka orang tua yang rendah wawasan ilmu mendidiknya hanya akan menyuruh anak untuk belajar (menghafal dan menghafal pelajaran) semata- mata. Orang tua kemudian kurang melibatkan anak dalam kegiatan membantu orang tua. Konsep seperti ini tampak memanjakan atau konsep salah didik sejak anak kecil sampai remaja. Kebutuhan diri anak pun, seperti makan, minum dan kerapian berpakaian , serba dibantu atau dilayani oleh orang tua itu sendiri. Prilaku mendidik keluarga seperti ini terjadi pada berbagai lapisan ekonomi dalam masyarakat. Termasuk keluarga petani, sebagai contoh.

Ada keluarga petani atau keluarga pedagang, asal anak bisa jadi juara di kelas (di sekolah) maka mereka tidak ikut serta untuk turun kesawah membawa cangkul, atau turun ke gudang untuk merapikan barang- barang, karena itu bukalah pekerjaan seorang anak sekolah. Kerja anak sekolah hanya cukup memegang pulpen saja untuk menulis. Ungkapan- ungkapan seperrti ini ternyata sudah menjadi fenomena dalam banyak keluarga. Ungkapan seperti ini sangat berkesan dalam memori anak. Sehingga anak- anak yang berdomisili di daerah agraris cukup banyak yang menjadi gengsi atau inferior complex (minder atau rendah diri) untuk melakukan pekerjaan yang mereka anggap sebagai kerja kasar seperti yang dilakukan oleh kakek, paman. Ayah, tetangga dan paman mereka. Maka inilah awal nya mengapa nilai life skill (kecakapan hidup) tercabut dari lingkungan keluarga atau budaya anak.

Banyak orang dari dahulu sampai sekarang bahwa sekolah adalah pabrik untuk membuat orang bisa jadi cerdas dan kemudian pintar mencari kerja. Mereka memandang kerja sebagai petani, buruh, tukang, dan lain- kain, bukanlah sduatu pekerjaan. Kalau tamat sekolah bisa bekerja di kantor atau di perusahaan maka itu baru dianggap mempunyai pekerjaan.

Pada mulanya banyak orang lebih menyukai bekerja di sektor swasta dan BUMN dengan gaji besar dari pada menjadi PNS yang gajinya pas-pasan. Namun setelah pintu kerja di sektor swasta dan BUMN menjadi lebih sempit maka orang lari menyerbu pintu jadi PNS, karena disana ada jaminab hidup di hari tua. Sekarang pintu kerja PNS pula lagi yang menjadi sempit. Ini tentu saja membuat banyak sarjana menjadi bingung dan putus asa dan mereka jatuh jadi pengangguran.

Kini pengangguran sudah menjadi suatu fenomena yang meresahkan pemerintah, masyarakat dan orang tua. Karena anak- anak yang tumbuh menjadi remaja dan dewasa, setelah tamat dari sekolah yang paling tertinggi hanya pintar menjadi pengangguran. Dan ini adalah menjadi citra buruk bagi dunia pendidikan. Lembaga ini telah dimaki- maki karena hanya pintar menciptakan orang menjadi buruh, jadi PNS dan sekarang menjadi pengangguran tingkat tinggi.

Setelah itu banyak orang berteori. Ada yang berpendapat bahwa penyebab timbulnya pengangguran adalah karena perguruan tinggi tidak membekali mahasiswa dengan muatan atau mata pelajaran wiraswasta. Kalau pun ada mata pelajaran wiraswasta maka tentu ia hanya bersifat atau memperkaya teori (sebagai kognitif saja). Pada hal berwiraswasta bukan masalah teori atau kognitif semata, melainkan ia hanya bersifat nilai sikap (afektif), tanggung jawab dan nilai keterampilan (Psikomorik) yang harus sudah tumbuh dalam budaya keluarga sejak anak berusia kecil. Namun dalam kenyataan sikap berwiraswasta sudah dibonsai dan dibabat habis oleh karakter orangtua yang hanya mendorong anak untuk belajar dan menghafal. Nasmun jarang atau tidak mendukung anak untuk berparisipasi dalam mengurus rumah dan membantu pekerjaan orang tua.

Penduduk Indonesia keturunan Tionghoa agaknya tidak pernah mengajarkan anak – anak mereka bermimpi untuk menjadi PNS. Mereka pun tidak bermimpi untuk menjadi oetani, karena mereka tidak punya tanah ulayat- tanah warisan nenek moyang turun temurun. Mereka pun punya anak dan mereka sadar bahwa anak mereka kelak harus hidup, makan, berketurunan dan juga menjadi orang. Mereka juga berfikir bagaimana agar anak- anak mereka juga bisa exist dalam hidup. Untuk itu jalan satu- satunya adalah mewarisi mereka sikap berwiraswasta dan suka bekerja keras. Menjadi pedagang adalah salah satu profesi yang mereka warisi buat anak- anak.

Maka sejak kecil, sebagai contoh, anak- anak diberi meja kecil yang di atasnya tersusun deretan botol permen dan kue yang harus dijual. Pada mulanya bukan untuk menjari untung tetapi untuk menamkan pada anak bagaimana indahnya punya ilmu berdagang atau berwiraswasta. Sebaliknya hal yang kontra terjadi pada orang Indonesia yang mengaku sebagai penduduk pribumi, yang dikarunia oleh Tuhan dengan harta pusaka dan tanah ulayat- ada yang luas namun tidak terurus. Namun yang ditanamkan pada jiwa anak- anak adalah sikap untuk jangan menyinsing lengan baju- tidak usah memegang cangkul atau menginjak lumpur. Fenomena ini seolah- olah membisikan pada telinga bathin anak bahwa kerja itu adalah kerja hina. Kerja yang mulia adalah bejerja di pabrik, di gedung, di kantor,jadi PNS, jadi tentara atau polisi agar bisa memakai pakasian gagar dan jadi pembela keluarga (Pada hal yang aslinya jabatan ini adalah untuk membela bangsa dan negara). Maka dari kecil kerja anak cukup belajar dan belajar dan cari nilai yang tinggi di sekolah, mungkin ini awal mengapa orang bersekolah hanya ingin mengejar selembar ijasah, bisa jadi prilaku ini ditumbuhkan dalam keluarga. Namun aneh kalau kemudian sekolah dituding sebagai penyebab. Tetapi sekolah dan banyak orang tidak perlu mencari pembelaan karena lebih baik saling mensewasakan diri.

Kini kita tahu bahwa menanam budaya yang salah itu sudah terjadi dan terbentuk sejak dulu, sejak anak- anak kecil , yang sudah melahirkan jutaan orang yang bermimpi menjadi PNS atau sekarang melahirkan pengangguran. Sekali lagi bahwa tidak perlu saling menyalahkan dan saling menuding. Yang lebih penting kini adalah bagaimana setiap orang bisa mewarisi dan mengajarkan semangat atau etos suka bekerja keras dan belajar sungguh sungguh, menjadi cerdas, bukan mengajar mereka untuk mengejar selembar ijazah lewat cara mencontek dan menipu diri. Juga penting untuk mewarisi anak mental untuk bisa hidup untuk suka bekerja sungguh- sungguh dan belajar mandiri, membuang jauh- jauh sikap senang bersantai dan suka terlalu memanjakan diri. Alam Indonesia ini begitu subuh dan begitu luas, sayang kualitas nya belum memadai dan kalau ada yang punya SDM, populasinya juga menumpuk di suatu tempat. Bukan kah SDM terlalu menumpuk di pulau Jawa, di kota besar atau lari ke tempat lain.

Tanggung jawab kita, orangtua, adalah untuk tidak lagi menyingkirkan anak anak agar tidak beraktivitas di rumah, melibatkan diri dalam pekerjaan membantu orang tua, namun mewarisi mereka semangat kerja sungguh- sungguh dan belajar mandiri. Namun kita, orangtua sendiri juga harus menjadi model bagi mereka terlebih dahulu. Tidak lagi zaman bagi orang kita hanya sebagai penyuruh dan sebagai pengatur tanpa memberi model bagi keluarga.

Kini adalah sangat bijaksana- sekali lagi- kalau orang tua sudi melibatkan anak anak dengan pekerjaan rumah, mengajarkan anak bagaimana hidup terjadwal atau berdisiplin (menghargai waktu) dalam bekerja dan belajar. Tentu adalah perlu untuk menyediakan anak dengan sarana hiburan, namun tidak memanjakan mereka dengan hiburan melulu sepanjang hari. Hiburan yang berlebihan akan membentukkarakter yang santai , dan tentu sangat bijaksana bila orang tua dengan sarana belajar, kalau perlu setiap rumah mempunyai perpustakaan keluarga untuk membudayakan gemar belajar. Juga sangat tepat bila orangtua membekali generasi muda kepintaran berganda (pintar berbahasa, berhitung, bergaul, beribadah, menguasai suasana hati, dan lain-lain), kemudian juga mewarisi mereka semangat bekerja dan belajar bersungguh- sungguh, wawasan dan pergaulan yang luas. Inilah salah satu strategi yang tepat diambil oleh orangtua untuk mengatasi pengangguran anak- anak mereka bila mereka dewasa.

18. Budaya Membaca dan Menulis Masih Minim Di Sekolah

Semua bahasa di dunia mempunyai empat aspek yaitu membaca, menyimak, berbicara dan menulis. Kemudian berdasarkan ekspresi, bahasa dapat diklasifikasikan kedalam dua bentuk yaitu bahasa lisan (oral) dan bahasa tulisan. Orang yang suka ngobrol dapat dikatakan sebagai orang yang berbudaya lisan dan yang senang menulis dan membaca maka merek dapat dikataan sebagai orang yang senang dengan budaya tulisan.

Budaya lisan adalah budaya orang kebanyakan dan ini adalah budaya berbahasa orang grassroot level- orang awam atau orang kebanyakan. Budaya ini kerap terjadi di warung kopi, di mall, sampai kepada ekspresi berbahasa yang dilakuan oleh kaum pria dan wanita yang asyik berbagi gossip.

Budaya lisan sangat bagus untuk selalu dikembangan dan dipertahankan, apalagi kalau mempunyai manfaat untuk saling berbagi. Namun budaya tulisan – membaca dan menulis- tentu lebih tinggi kualitasnya. Untuk bangsa Indonesia- dan mungkin juga di mana mana di belahan bumi ini - budaya tulisan hanya dilakukan oleh kalangan tertentu, yaitu oleh orang- orang yang terdidik dengan baik (atau kalangan intelektual). Mereka tidak terbiasa dan tidak tertarik melakukan ngobrol ngalor ngidul-ngobrol dengan topik mengambang melulu. Pastilah orang yang memilih budaya tulisan ini akan memiliki pola berfikir yang lebih kritis dan analitis - critical thinking and analytical thinking. Sementara orang yang terjebak ke dalam budaya lisan cenderung memiliki pola berfikir mengambang- atau global thinking- dan ini tentu bukan generalisasi untuk semua orang.

Bila seseorang ingin maju maka sangat tepat bila ia mengadopsi budaya tulisan- membaca dan menulis- sebagai kebiasaan dan kebutuhannya. Kebiasaan ini- seperti disebutan di atas- akan menjadikan seseorang bersifat analitis dan kritis dalam berfikir. Orang di negara- negara maju seperti di Singapura, Jepang, Australia, Eropa dan Amerika tentu saja mereka semua terbiasa hidup dengan budaya tulisan. Membaca dan menulis sudah menjadi konsumsi hidup mereka sehari- hari. Maka adalah juga ideal bila seseorang ingin maju maka mereka harus membiasakan diri untuk banyak membaca dan menulis,dan kemudian melakukan otodidak- belajar secara mandiri- serpanjang waktu.

Soekarno, Moh Hatta, Bj Habiebie, Gus Dur, dan lain- lain tentu saja mereka menjadi orang besar bukan secara kebetulan tetapi adalah karena mereka mengadopsi budaya tulisan melalui otodidak, belajar secara mandiri, dan belajar di lembaga pendidikan formal yang berbudaya atau berkualitas tinggi. Sementara Pramudya Anantatur, Buya Hamka, Haji Agus Salim,dan lain-lain, tidak pernah menempuh pendidian formal tinggi, namun lewat budaya tulisan secara otodidak telah tumbuh menjadi ilmuwan, budayan dan tokoh intelektual yang sangat berukalitas. Dapat dipastikan bahwa tentu saja mereka pada masa kecil tidak pernah bermimpi dan bercita- cita untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) seperti cita- cita sebahagian sarjana sekarang.

Dunia pendidikan, mulai dari SD sampai kepada Perguruan Tinggi pasti merupakan tempat yang tepat untuk membentuk setiap orang menjadi manusia yang terdidik. Agar menjadi lebih berkualitas maka mengadopsi budaya tulisan- banyak membaca dan banyak menulis. Lebih lanjut orang akan setuju untuk mengatakan bahwa dunia pendidikan dapat diidentikan sebagai pabrik otak. Di sini akan terdapat unsur- unsur seperti input, proses dan output. Proses dalam pabrik pendidikan ini berlangsung begitu lama. Pemerintah dalam hal ini meluncurkan program ”wajar”- wajib belajar- sembilan tahun. Yaitu proses pendidikan di tingkat SD dan SLTP.

Adalah merupakan suatu fenomena bahwa banyak masyarakat (orang tua) secara swadana dan swadaya menganjurkan dan mengirim anak- anak mereka ke Perguruan Tinggi. Maka proses pendidikan dalam pabrik otak bisa berlangsung selama 18 tahun. Banyak yang percaya bahwa kalau seseorang bisa sekolah lebih tinggi hingga tamat dari Universitas atau Akademi maka kehidupan mereka akan menjadi lebih baik Sertifikat atau ijazah yang diperoleh lewat Perguruan Tinggi bisa menjadi tiket mencari kerja. Menjadi karyawan di perusahaan besar, BUMN, dan menjadi PNS adalah mimpi sebahagian dari mereka saat masih kuliah dan setelah tamat dari Perguruan Tinggi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa karater anak didik sampai kepada karater mahasiswa di Perguruan Tinggi, mereka masih terperangkap ke dalam budaya lisan dan budaya tulisan terasa sebagai beban. Anak didik dan mahasiswa yang cendrung terperangkap dengan budaya lisan- dimana sepanjang hari aktivitas mereka hanya mengobrol, bercanda dan berdebat kusir- cendrung menjadi orang dengan fikiran dangkal dan mengambang (floating thinking), sementara mereka yang membiasakan diri dengan budaya tulisan tentu akan lahir menjadi manusia dengan pola berfikir kritis dan analitis.

Sebahagian kaum pendidik, yaitu guru- guru yang mengajar mulai dari Tk , SD, SMP, SLTA dan malah juga ada Dosen , sebahagian ada yang terjebak dan hanyut dalam budaya lisan. Budaya lisan- ngobrol dan berceloteh- terasa mudah dan budaya tulisan- membaca dan menulis- terasa melelahkan dan membosankan. Kalaupun ada kegiatan membaca dan menulis itu hanya sebatas melakukan tugas rutinitas yang dangkal sebagai seorang pendidik. Namun apabila mereka melakukan budaya tulis secara refleksi (renungan) dan menganalisa maka tentu mereka patut diberi dua acungan jempol.

Bila seluruh kaum pendidik bisa menyenangi kebiasaan membaca dan menulis maka tentu perpustakaan dan toko buku menjadi tempat yang amat menyenangkan dan mereka tentu akan pergi menuju tempat mendidik (sekolah) dengan tas yang penuh berisi buku buku, dan jurnal pendidikan. Tidak seperti fenomena yang terlihat sekarang dimana sebahagian guru datang keseolah membawa tas kecil seperti tas pergi ke pesta yang isinya cuma, sisir, lipstik dan dan cermin dan guru pria juga datang dengan gaya santai tersendiri pula.

Absennya budaya membaca dan menulis di kalangan kaum pendidik telah membuat mereka demam dengan budaya rekayasa, dan budaya yang hanya gemar mengejar manfaat sesaat. Sejak kebijaan serifikasi diluncurkan oleh pemerintah dengan tujuan untuk memotivasi peningkatan kualitas pendidikan. Namun kaum pendidik termotivasi hanya untuk mengejar selembar tiket yang bernama ijazah dari perguruan tinggi. Usaha yang mereka lakukan, tentu saja bagi semua orang, adalah dengan cara ”mencontek atau mencari joki” agar bisa lulus ujian semester dan kemudian menyusun strategi baru untuk membeli atau memesan proppsal, makalah, skripsi atau tesis setelah itu.

Sejak kebijakan sertifikasi diluncurkan maka terlihat respon guru- guru (kaum pendidik) cukup meningkat. Misal bila seminar digelar maka mereka datang dengan spontan , membayar, namun setelah itu ada yang senang hanya sekedar titip absen kemudian pergi atau hadir demi mengharap selembar sertifikat seminar. Ini adalah salah satu dampak buruk dari belum hadirnya budaya tulisan (membaca dan menulis) dalam dunia pendidikan.

Budaya membaca dan menulis juga belum menjadi bahagian gaya hidup mahasiswa, apalagi bagi mahasiswa yang kuliah pada universitas pinggiran. Kualitas pendidikan mereka susah untuk diandalkan dalam kompetisi pada bursa tenaga kerja. Fenomena jauhnya budaya membaca dan menulis dari gaya hidup mahasiswa teridentifikasi dari gaya hidup dan prilaku mereka. Pergi kuliah dengan tubuh dibungkus penuh assesori, tangan Cuma lebih senang menggenggam ponsel dari membawa bacaan yang berkualitas. Kemudian duduk atau jalan- jalan di depan kampus dengan karakter ”ala anak SLTA” berdialog dengan ekspressi bahasa cengeng dan kemanja-manjaan. Jauh dari kesan gaya mahasiswa yang intelektual dengan gaya bahasa atau bicara penuh analitis dan kritis.

Pastilah kini pemerintah, ahli pendidik dan para stakeholder menjadi lelah memikirkan karater kaum pendidik dan anak didik yang belum terbiasa dengan budaya tulisan- gemar membaca dan menulis. Fenomena inilah sebagai penyebab mutu bangsa yang besar ini susah untuk berkompentisi. Karena warganya belum terbiasa membaca dan menulis akibatnya mereka cuma memiliki pola fikiran yang kurang kritis dan analitis. Mengatasi fenomena ini lebih tepat dengan menghidupan kembali gerakan gemar membaca dan gemar menulis dari level pendidikan yang lebih rendah (Tk dan SD) sampai keperguruan tinggi yang langsung diimplementasikan dalam ehidupan dan bukan cuma hanya lewat seminar dan simposium yan hanya dihadiri oleh kalangan tertentu yang cendrung untuk mengkonsumsi buat memperkaya wawasan sendiri.

19. Obrolan Buat Mahasiswa

Banyak pria dan wanita mampu menyelesaikan pendidikan universitas dan memperoleh pekerjaan yang layak tetapi belum mampu mendapatkan teman hidup. Secara bergurau orang banyak bertanya kenapa mereka harus begitu dan mereka pun akan mengemukakan alasan masing-masing. Bisa jadi alasan mereka mencapai jumlah sebanyak seribu satu. Ada yang mengatakan ingin untuk memperdalam studi atau memantapkan karir dulu. Soal teman hidup itu gampang sebab bisa diatur kemudian.

Masih ada alasan lain. Bagi orang yang sibuk dapat mengatakan or­ganisasi sebagai alas an. Yang lain mungkin karena pertimbangan ekonomis atau moral. “Kawin wah dengan apa orang akan dihidupi. Apakah mau kalau makan rumput? Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut seorang wanita, misalnya teman sebangku dalam bis, bisa jadi berbunyi “Saya sendiri sudah siap untuk menikah tetapi mungkin jodoh belum ketemu”.

Lamaran dari seorang jejaka yang punya pendidikan tinggi dan pekerjaan tetap kepada seorang gadis manis berjalan lebih mudah dan lancar. Terutama bagi orang tuanya. Pinangan atau lamaran tampak lebih menentramkan hati dan keputusan yang dibuat ber­sama famili berjalan lebih mudah apabila dibandingkan dengan lamaran yang diajukan oleh jejaka yang keadaannya biasa-biasa saja apalagi bagi yang belum punya pekerjaan. Orang memberi mereka dengan istilah hari depannya masih dalam tanda tanya. Disamping faktor ekonomi, faktor psikologi dan sosiologi juga ikut menentukan seorang dalem men­dapatkan jodoh. Pembicaraan ten­tang teman hidup merupakan bagian dari dialog mahasiswa di kampus. “Hei cepat cari pen­damping hidupmu selagi kamu masih kuliah disini, nanti kalau sudah tamat tentu sulit lagi men­dapatkannya. Entah kalau kamu berminat untuk ikut kontak jodoh”.

Kalau kita bertanya, “Kamu ini kapan lagi tanggal mainnya atau, kapan kamu layangkan undangan buat saya?”. Rata-rata orang men­jawabnya dengan bergurau pula dan paling kurang dengan senyum kecut. Itupun kalau perasaan lagi kurang sreg. “Wah, sulit bagi saya untuk menjawabnya, pacar saja belum punya. Barangkali dia belum menemukan calon pendamping hidup karena persyaratan terlalu banyak. Rata-rata mahasiswa banyak juga yang begitu.

Tidak aneh untuk didengar bila ada seorang pemuda yang punya pendidikan tinggi, pekerjaan lumayan dan penampilannya gagah pula. Tetapi sulit baginya untuk mendapatkan jodoh yang tepat. Begitulah kenyataan dalam hidup ini. Pintar otaknya tetapi belum tentu pintar pergaulannya. Mahasiswa yang pekerjaannya.

Belajar melulu dan pergaulan diabaikan, memang menciptakan dirinya sangat mahir dalam menyelesaikan problema ilmiah, tetapi dalam menyelesaikan problema romantisnya, musti minta tolong dulu sama teman. Sebab kalau tidak tentu keringat dinginnya keluar duluan dan kon­sep kalimat dalam kepala lenyap diterbangkan angin. Baginya lebih mudah menemui dosen killer dari pada menemui si dia, orang-orang yang begini banyak sekali.

Untuk mendapatkan teman hidup yang cocok sebaiknya harus kita kenal lebih dulu. Jangan serahkan saja sama mat comblang atau lihat-lihat jauh saja. Untuk dapat men­genalnya kita harus mempunyai atau membina hubungan yang akrab terlebih dahulu. Tidak perlu mengungkapkan kemesraan dulu, cukup biasa-biasa saja.

Tidak sedikit pemuda yang menyerahkan soal cinta pada orang lain termasuk kepada orang tua sendiri. Bagaimana kita akan dapat mengenal calon jodoh den­gan baik kalau perjumpaan kita dengannya cuma dua atau tiga kali saja. Jatuh cinta lewat pandangan pertama hangat-mengasyikkan. Para penyair telah mengambilnya sebagai teman lagu sepanjang masa. Tetapi bagi kita pertimban­gan yang matang tetap harus dijadikan sebagai prioritas utama. Pernah terjadi pandangan pertama seorang pria pada seorang wanita tertarik hanya karena dia lincah, cantik dan pintar langsung dipinang dan menikah. Tetapi perkawinan mereka terpaksa bubar beberapa bulan setelah itu. Kisah perkawinan tentu tidak harus sesingkat dan berakhirnya semudah itu, bukan?

20. Fenomena Sebahagian Anak Muda

Banyak orang-orang ber­bahagia karena telah sukses. Suk­ses gara-gara telah menguasai medan mereka masing-masing. Apakah sukses mereka itu karena gara-gara tentu saja tidak.

Rata-rata orang yang berkecim­pung dalam bidang ekonomi, suk­ses setelah melalui perjuangan dan perjalanan hidup yang panjang. Mereka telah jungkir balik dalam bidang ilmu dan telah ter­jungkir dan terbalik dalam bidang pengalaman. Begitu pula bagi mereka yang telah meraih sukses di bidang lain, seperti bidang kesehatan, olahraga, pendidikan, jurnalis, hukum dan seterusnya.

Pada umumnya orang hanya pandai berdecak kagum kepada hasil kesuksesan kesuksesan saja. Dan malontarkan sejumlah kata-kata pujian, sanjungan atau kekaguman. “Wah dia sungguh hebat. Andaikata dia itu saya... Wah betapa senangnya”. Tetapi orang lupa bertanya bagaimana pengorbanan awalnya, bagaimana seseorang itu memulai usahanya untuk merebut sukses.

Banyak bintang-bintang film tenar, politikus besar, sarjana terkemuka lainnya menuturkan bahwa kesuksesan mereka peroleh setelah melalui sekian jum­lah penderitaan. Ada yang memulainya sebagai pembantu rumah tangga, ada sebagai kuli kasar. Pokoknya sesuai dengan profesi masing-masing.

Kesuksesan yang diperoleh itu ada karena warisan. Seorang pen­gusaha kaya tentu akan mendidik dan melatih keturunannya, kemudian melimpahkan kesuk­sesan itu. Kesuksesan seperti ini daya tahannya kurang kuat diban­dingkan dengan kesuksesan yang dimulai oleh seseorang dari nol besar. Atau kesuksesan seseorang yang diperoleh dari pengalaman hidupnya.

Untuk sukses seseorang musti memiliki disiplin hidup yang tinggi. Banyak orang yang meramaikan kata “sukses”. Mari sukseskan… atau hidup sukses adalah.... Pada hal kesuksesan ini diperoleh dari “disiplin”.

Sekarang kita heran, mengapa orang yang hidupnya telah nampak berkecukupan (sukses), punya banyak rumah bagus, istri cantik dan kenalan luas. Tetapi masih berkeluh kesah. Ia masih mengatakan kurang sukses dalam jiwa. Kira-kira apalagi yang harus ia kuasai agar dapat sukses jiwanya (baca : bahagia). Oh barangkali ia perlu menguasai fikiran.

Banyak orang yang lari dari kenyataan hidup dan mengak­hirinya dengan meneguk racun. Ada pula orang yang tega memuluskan hubungan hidup yang ada ini. Malah ada yang melarikan diri ke dalam kehidupan khayal, tertawa sendiri atau menangis sendiri. Orang awam menamainya “gila” dan orang ahli memberinya istilah “scizoprenic”. Yang begini biasanya punya cita-cita menjadi orang gede, tapi berusaha malas mengkhayal ken­ceng. Akhirnya, ya gila dong.

21. Melacak Pergaulan Siswa Yang Di Luar Batas

DULU Kasus kehamilan dan pelanggaran seksual yang dilakukan oleh pemuda dan pemudi merupakan aib bagi orang tua dan kaum famili, sehingga yang bersangkutan diberi sangsi berat sampai diusir dari kampung. Sekarang kasus ini bila dilakukan oleh pelajar lebih banyak dikarenakan kepada nama sekolah. Ini tentu saja pukulan kepada wibawa sekolah sebagai Lembaga Pendidikan. Sebuah sekolah dianggap telah gagal atau disiplinnya kurang, bila kedapatan pelajar-pelajarnya melakukan kasus aib ini. Tak begitu dipersoalkan meskipun pelanggaran seksual itu sendiri terjadi di rumah atau tempat lain akibat kegagalan orang tua dalam mendidik anak. Pokoknya, paran sekolah, sering dituding.

Bagi sekolah, langkah yang tepat untuk membersihkan nama baiknya adalah dengan cara memecat pelajar yang berkasus atau dengan cara memindahkan pelajar tersebut, apabila ia telah hamil atau melakukan abortus Sekarang rata-rata tiap sekolah telah mendapat jatah nama buruk. Tidak pandang bulu apakah itu sekolah negeri atau swasta, bahkan merupakan pukulan yang lebih berat lagi bagi sekolah agama. Kasus kehamilan dan pelanggaran seksual tidak hanya terjadi di sekolah kota, tetapi juga di sekolah-sekolah desa. Dan umumnya, dilakukan oleh pelajar tingkat SLTA.

Rata-rata siswa SLTA yang berusia 16-20 tahun menurut teori Rumke sedang berada dalam masa genital. Dalam usia ini mereka penuh dengan dorongan emosional don dorongan libido, nafsu seksual. Dalam masa ini terjadi labilitas kejiwaan, yang bila tidak dikendalikan akan dapat mengarah kepada hal-hal negative. Apabila seorang pelajar tidak dapat mengendalikan diri misalnya, akan dapat men­dorongnya untuk melakukan pergaulan bebas. Melakukan pelanggaran seksual terhadap teman wanitanya sendiri.

Tentu saja kasus-kasus yang terjadi di sekolah dilakukan oleh sepasang pelajar putera dan puteri. Tetapi resiko tertinggi dan berat ditanggung oleh pelajar puteri, karena akibat pelanggaran seksual itu sangat membeka pada perutnya yang membuncit serta robeknya selaput virgin. ­Sedangkan bagi pelajar putera, kadang-kadang dapat bersikap lempar batu sembunyi tangan. Menghindarkan dari tanggung jawab.

Memperhatikan perilaku kehidupan remaja, menunjuk­kan bahwa pengaruh orang tua­ dan stimulasi positifnya masih terlalu rendah. Amat sedikit orang tua dan anak melakukan acara ngumpul-ngumpul untuk melakukan dialog dari hati ke hati. Paling banyak cuma mengadakan ngumpul-ngumpul untuk menonton film serial di Televisi. Kebanyakan pengaruh buruk pada remaja justru. datang dari luar, yaitu melalui media massa cetak, audio visual, dan melalui pergaulan.

Pada umumnya kegemaran remaja, pelajar, adalah membaca, menonton, mendengar musik, berkumpul dan ngobrol-ngobrol disamping melakukan aktivitas produktif yang lain. Pada umumnya orang tua tidak tahu apa yang mereka baca dan apa yang mereka tonton. Hal ini mungkin karena kesibukan, karena kurang peduli atau juga karena orang tua merasa enggan mencampuri urusan anak muda. Mungkin juga karena orang tua tidak mengenal tentang perkembangan jiwa remaja. Mungkin pada suatu hari datang teman mengatakan bahwa ada Info bagus, sebagai isyarat telah ada peluang bagi mereka untuk menikmati bacaan atau film porno. Maka mereka pun membaca buku porno itu atau menonton film biru secara diam-diam ditem­pat teman atau ditempat lain.

Bacaan dan tontonan yang bersifat porno dapat men­datangkan kenikmatan dan merangsang keinginan sek­sual. Kemudian mereka akan berusaha mencari peluang untuk melampiaskannya secara sendiri atau berkelompok. Mungkin secara suka sama suka atau lewat perkosaan. Memang pengaruh per­gaulan yang negatif sangat cepat meluas. Rata-rata orang tua tidak mengetahui istilah yang khas dalam pergaulan antara remaja istilah populer di kalangan mereka untuk mengartikan film biru adalah film 26, barangkali karena huruf B mewakili angka 2 dan huruf F mewakili angka 6.

Walau orang tua telah mem­batasi pergaulan mereka dan melarang terhadap hal-hal yang bersitaf negatif, namun adanya kesempatan-kesem­patan lain, bagi mereka tak mungkin semuanya terbendung. Tentu ada juga peluang bagi mereka untuk berkumpul-kumpul dan mengadakan tukar menukar informasi, ngobrol mangenai benda benda porno.

Media massa yang dianggap sangat mengganggu kes­tablian jiwa remaja adalah bentuk audio visual yang mana secara diam-diam telah merayapi kehidupan mereka.

Dewasa ini orang, sudah banyak memiliki video kaset tujuan utamanya adalah untuk sarana hiburan anggota keluarga. Tetapi kemudian dibisniskan menjadi tujuan komersial dengan menyulap rumah mereka menjadi bios­kop mini dan memungut uang tontonan dari kaset-kaset blue film. Rata-rata peminatnya adalah anak-anak pelajar, bukan saja dari tingkat SLTA tetapi juga pelajar tingkat SLTP setelah mengalami wet dream. Pelajar-pelajar di kota dan di desa banyak yang telah men­getahui lokasi-lokasi rahasia dari bioskop, mini ini. Sungguh bagi pemilik video cabul sekeping uang lebih berharga dari segalanya. Mereka tega meracuni fikiran dan jiwa generasi muda melemahkan semangat pelajar untuk belajar dan bekerja.

Film-film dan bacaan porno sangat cepat merangsang penontonnya, begitu pula bagi pelajar. la cepat sekali meningkatkan ambisi seksual, dorongan seksual membuat mereka ingin melakukan iseng-iseng, mungkin terhadap pacar atau terhadap wanita lain. Ada majalah dan buku porno ter­bitan dalam dan luar negeri yang telah beredar secara diam-diam di kalangan mereka.

Secara naluriah, remaja laki-laki bersifat agresif dan remaja wanita bersifat pasif. Remaja pria sangat tertarik kepada info-info yang bersifat seksual. Sedangkan remaja wanita ter­tarik kepada hal-hal yang ber­sifat romantis.

Banyak anak-anak remaja yang tidak atau kurang punya latar belakang pendidikan agama, orang tua pun tak memberi perhatian yang cukup. Mereka itu dapat saja memperkenalkan bacaan dan majalah porno kepada teman wanita, lawan jenis mereka. Dan kemudian mencari tempat-tempat yang sepi. Setelah terangsang mereka melakukan hubungan seksual yang mana agama menyebut­nya sebagai perbuatan zinah.

Rata-rata pelajar yang berkasus hubungan seksual ini secara suka sama suka. Per­buatan itu sebagian dilakukan di rumah atau di tempat tersem­bunyi dan sebagian lagi di tem­pat rekreasi yang suasananya lengang.

Umumnya kasus pelanggaran seksual dan kehamilan pelajar ini disebabkan oleh kurangnya pengawasan orang tua. Minusnya didikan agama, broken home (orang tua yang sibuk dan suka bertengkar) dan akibat komunikasi yang sangat jelek, di rumah. Berpacaran secara sembunyi-sembunyi dan pergaulan yang sangat bebas dapat menjerumuskan pelajar putera dan puteri kepada perbuatan zina dan kehamilan. Dimana untuk seterusnya akibat perbuatan mereka itu pada gilirannya akan mencemari nama baik sekolahnya.

22. Siswa Perlu Tahu Rahasia Keberhasilan 10 Jutawan

Kaum kaya selalu mempesona kebanyakan orang. Kita sering mendengar, mungkin secara kebetulan, anak-anak muda mem­bicarakan tentang gagahnya mobil BMW itu. Saya dahulu secara tidak sengaja pernah menguping pem­bicaraan siswa-siswa sekolah lan­jutan tentang kekayaan seseorang yang mungkin adalah tetangga mereka sendiri. Pembicaraan mereka itu kemudian berubah menjadi debat hangat. Memang kita akui bahwa debat di kalangan remaja adalah berupa debat kusir saja. Mereka berdebat tanpa kon­sep yang jelas, tetapi Walaupun bagaimana debat seperti itu, amat bagus untuk menumbuhkan sikap kritis.

Charles Albert Poissant mengatakan dalam, bukunya “How to Think Like a Millioner” (Rahasia Keberhasilan 10 Jutawan) mengatakan bahwa sukses tidaklah terjadi karena nasib baik semata, tetapi karena penerapan prinsip yang sangat khas. Dalam meneropong keberhasilan kita tidak perlu pergi jauh-jauh sebab tentu ada banyak orang-orang yang sanggup meraih kesuksesan di seputar kita. Kita dapat bercer­min diri untuk kita teladani dalam rangka meraih kesuksesan pula. Bervariasi bentuk kesuksesan itu, mungkin dalam bentuk pendidikan, dalam bidang ekonomi, dalam bidang pertanian atau dalam bidang wiraswasta dan sebagainya.

Saya pernah berdialog dengan seorang berusia setengah baya yang berhasil mengembangkan usaha rice milling di daerah pertanian dimana sawah-sawah subur terbentang luas. Ada pula seorang pria lain yang mampu menyorot potensi yang dimiliki oleh daerah yang kaya air. Make ia kemudian mengembangkan usaha perikanan dan setelah itu menam­bah usaha restoran, dan membuka toko toserba untuk kebutuhan masyarakat sekitarnya sebagai usaha sampingan.

Setiap orang akan sukses dalam bisnis asalkan tahu bagaimana membuat perhitungan. Ada sebuah rumah makan, tidak perlu saya sebutkan nama rumah makan dan lokasinya, memiliki gedung berarsitektur Eropa dan dinding luar bercat putih sehingga memberikan kesan mewah. Saya rasa memang mewah, sebab perlengkapan interiornya terlihat luks dan dulu saya lihat banyak orang setiap sore menikmati berbagai hidangan yang disajikan di sana. Tetapi kini dan mungkin sudah tiga tahun, tempat itu sudah sepi dari pengunjung. Tidak ada lagi alunan musik lembut, kedengaran, sedangkan warna dinding luar sudah berlumut dan memudar. Kita rasa kesalahan yang membuat rumah makan ini tutup total karena pemilik modal mengabaikan faktor lokasi. Sejak lokasi rumah makan itu kembali menjadi lokasi terminal dokar, pengunjung menjadi enggan untuk menikmati hidangan makan dan minuman di sana. Urine yang dipancarkan kuda telah mengusir orang-orang untuk datang kesana dan sekaligus mematikan usaha rumah makan dan. cateringnya.

Kita dan setiap orang tentu saja dapat belajar bagaimana untuk sukses dari buku-buku yang telah ditulis oleh ratusan orang malah telah ditulis oleh ribuan orang dibumi ini namun belajar langsung dari pengalaman orang yang kita jumpai tidak kalah pentingnya meski orang itu secara akademik tampak biasa-biasa saja. Ibarat main piano, kita tentu dapat belajar piano sendiri, tetapi ini akan makan waktu yang banyak, sedangkan belajar, pada seorang guru akan mempercepat proses belajar kita. Bukan saya hendak mengatakan untuk anti membaca, tetapi saya ingin agar kita dapat belajar meraih sukses lewat membaca dan lewat berdialog langsung dengan orang­-orang yang terpandang telah suk­ses.

Ada sebuah artikel, sayang saya lupa dimana ia diterbitkan, sangat menarik sekali. Ada beberapa kalimatnya yang masih saya ingat, mengatakan bahwa adakalanya orang-orang yang ketika' belajar sekolah dasar memperoleh rangk­ing satu tetapi setelah dewasa cuma mampu membeli sepeda. Ada pula orang ketika masih belajar di bangku sekolah dasar hanya memperoleh ranking biasa­-biasa saja, malah terpandang sedikit bandel, tetapi setelah dewasa ia mampu membeli mobil cadilac luks. Meski ilustrasi tadi cuma dalam bidang ekonomi semata, tetapi itu ada benarnya. Disini kita simak bahwa kebanyakan orang-orang yang sukses itu pada kecil mereka rata-­rata, biasa saja. Di sekolah bisa berandal, namun suatu saat mampu mengambil keputusan untuk kehidupan dari buku-buku atau contoh dari seseorang.

Orang-orang sukses banyak yang menulis buku catatan pribadi dan meninggalkan semacam warisan spiritual. Kita sendiri dapat mengikuti sejarah, hidup mereka mulai dari nol sampai mencapai kesuksesan pada buku-buku biografi mereka.

Kira-kira apa penyebab orang gagal dalam hidup ini? Setiap orang mungkin dapat menjawab dengan sangat sederhana. Dan semua jawaban itu betul malah kita dapat menyimpulkan bahwa tidak adanya pengalaman memang menghambat banyak orang untuk maju atau sukses.

Kegagalan yang mendahului ketenaran dan kekayaan seseorang, yang mana dua hal ini adalah wujud dari sukses, biasanya terjadi dengan tidak dis­adari dan cepat dilupakan. Demikian juga pekerjaan awal yang memeras tenaga dan otak selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu kita, mendapat kesan keliru bahwa orang menjadi kaya raya secara tiba-tiba. Saya pribadi, dulu sering berpendapat demikian. Setiap kali saya melihat seorang artis terkenal tampil di TV maka saya berdecak “wah sungguh beruntung dia”, tetapi saya saat itu tidak pernah mengingat awal-awal dari keberhasilannya, sukar atau mudah?

23. Suatu Gejala Negatif, Guru Menomorduakan Sekolah

Dalam berbagai iklan, pada umumnya suatu lembaga atau perusahaan selalu menawarkan bahwa produknya adalah nomor satu. Kita belum pernah mendengar ada perusahaan mengatakan bahwa produknya adalah produk kualitas nomor dua di dunia. Yang sering terdengar adalah misalnya. inilah baterai nomor satu atau inilah kecap nomor satu. Tetapi bagaimana keberadaan suatu sekolah dimata guru-guru? Dalam percakapan sehari-hari sangat sedikit guru-guru yang membahas tentang masalah. proses belajar me­ngajar. Kendala yang ditemui dan jalan keluarnya. Bagaimana keberadaan input, proses dan output pendidikan suatu sekolah sampai kepada masalah pendidikan lain secara global dan antisipasi yang perlu diterapkan pada masa datang tentang. Tema yang banyak men­jadi percakapan guru-guru adalah tentang masalah keluarga, teman, mode pakaian dan perlengkapan rumah tangga, hobi serta. gossip-gossip sampai kepada masalah dunia yang dibahas secara debat kusir. Sebenarnya mem­bahas tentang tema-tema masalah ini tidak salah namun kita berharap agar masalah yang berhubungan dengan profesional janganlah terabaikan.

Diakui bahwa guru merupakan ujung tombak pelaksana pendidikan sekolah. Maju mundurnya kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas guru. Untuk memperoleh murid dengan sumber daya manusia yang tinggi maka dibutuhkan guru yang memiliki sumber daya manusia yang tinggi pula. Maka akhir-akhir ini sumber daya manusia atau kualitas sekolah dan pendidikan tetap menjadi sorotan karena dinilai cukup rendah.

Untuk peningkatan mutu tersebut maka pemerintah dan pihak-pihak yang merasa ikut bertanggung jawab, telah melakukan berbagai usaha. Diantaranya adalah dengan memberikan tunjangan fungsional. Mengadakan program dip­loma pendidikan, menyelenggarakan bermacam-macam bentuk penataran. Dan malah menetapkan kenaikan pangkat bagi jabatan guru dengan angka kredit poin.

Cukup banyak masalah yang menghambat peningkatan kualitas guru. Masalah yang cukup disoroti sebagai penghambat dan penghalang kualitas guru adalah seperti penghasilan guru yang dinilai kurang memadai. Karena tuntutan hidup dan keluarga, sementara itu kesejahteraan hidup masih kurang, membuat mereka ikut mencari objek atau bisnis di luar dan malah sampai ke dalam sekolah.

Tetapi adalah juga guru-guru yang ikut latah menggunakan alasan-alasan atas sebagai kambing hitam sehingga mereka tak merasa terpanggil untuk meningkatkan kualitas diri dan kualitas pendidikan Apalagi mengingat bahwa ada juga guru yang berasal dari keluarga yang berada dan karena jumlah guru di sekolahnya cukup memadai atau sedikit berlimpah sehingga bisa memiliki waktu yang cukup banyak untuk meningkatkan kualitas diri dan kualitas pendidikan. Sebagai kontra bahwa ada juga guru. Tentu jumlahnya tidak seberapa yang hidup agak susah sehingga mereka mempunyai obyek tetapi tetap melowongkan waktu untuk memantapkan kualitas diri. Namun yang memprihatinkan kita adalah cukup banyak guru-guru yang menomorduakan mengajar atau sekolah. Dan sebaliknya mereka menomorsatukan urusan keluarga, bisnis. hobi dan kepentingan pribadi lainnya.

Agaknya usaha pemerintah dan orang-orang yang merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pendidikan akan tetap sia-sia saja kalau ­pihak guru tetap menomorduakan pendidikan (atau sekolah) dan meno­morsatukan kepentingan dan keun­tungan pribadi. Kita lihat amat banyak guru yang telah mengikuti program-program peningkatan. mutu yang telah diselenggarakan pemerintah. Banyak guru-guru yang telah mengikuti berbagai pena­taran. MGMP dan lain-lain namun tidak ada atau sedikit sekali misi dan perobahan positif yang terlihat. Ba­rangkali ini akibat mereka mengikuti program ini hanya sedikit uang saku atau sertifikat sebagai modal naik pangkat saja. Disamping itu, barangkali, penyelenggaraan penataran juga tidak merancang acara secara matang kecuali bersifat indoktrinasi atau berceramah melalui sementara guru peserta serba pasif. Program kuliah penyetaraan dan program diploma lain telah diikuti pula secara iseng-iseng. Terlihat pula proses belajar program ini agak acak-acakan dengan sistem penilaian yang diobral. Peserta bodoh, malas atau rajin toh akan. memperoleh nilai hampir sama. Malah sering selama ujian perjokian dilegalisir atau pengawas berpura-pura tidak tahu. Kemudian dalam sistem kenaikan pangkat bagi jabatan guru dengan angka kredit point, SK-SK yang dikeluarkan oleh pihak sekolah dan pihak lain sering bersifat rekayasa atau aspal (asli tetapi palsu). Misalnya ada guru yang memiliki bundel kenaikan pangkat yang sarat berisi SK-SK pembina OSIS, kemasyarakatan dan unsur-unsur pe­ngembangan profesi lain tetapi itu hanya sebatas surat keputusan saja dan nihil dalam pelaksanaan. Penyebabnya adalah karena budaya suka mengemis dan menipu diri telah merembes ke­dalam sanubari.

Bukan itu saja, dalam urusan proses belajar mengajar, cukup banyak guru-guru yang bersikap menomordua­kannya. Mentang pada mulanya ketika baru saja diangkat sebagai guru, sebagai pegawai negeri, dan masih lajang maka Sekolah masih tetap nomor satu. Tetapi kemudian setelah berkeluarga dan seterusnya maka secara pelan-pelan sekolah menempati posisi nomor dua, atau menomorduakan sekolah. Untuk selanjutnya setelah mengajar selama sekian tahun sikap idealis sebagai seorang guru mulai memudar. Sehingga yang sering terlihat adalah cukup banyak guru pergi ke sekolah menunaikan tugas mengajar hanya sebagai pembayar hutang. saja. Siap-siapan yang terlihat selanjutnya adalah karena tantangan dari siswa juga banyak yakni sikap acuh tak acuh.

Dalam melaksanakan proses belajar mengajar ini sebagian guru cenderung untuk mengejar target kurikulum saja. Siswa malah dipaksakan dan disiapkan berbagai catatan-catatan pelajaran untuk dihafal. Karena menomorduakan sekolah maka ini sekolah tak lagi menarik. Apa yang terlihat adalah guru-guru menjadi malas dan segan dan untuk mengunjungi sekolah. Padahal sekolah adalah merupakan rumah kedua bagi seorang guru dan kasarnya adalah bahwa sekolah merupakan periuk nasi atau tempat mencari makan, tetapi guru-guru cenderung mengabaikan selanjutnya patut pula kita catat bahwa kalau, seorang guru merasa enggan berada di sekolah, bagaimana pula ia dapat melakukan interaksi yang baik kepada anak didik untuk memberikan motivasi, bimbingan dan berbagai rasa dengan mereka, maka inipun juga merupakan awal ambruknya kualitas pendidikan, meski tidak begitu disadari.

Menomorsatukan atau mengutamakan kepentingan pribadi sering menjadi sikap dan isi pembicaraan guru-guru setiap hari. Pelaksanaan disiplin demi peningkatan mutu sering berbenturan dengan sikap-sikap guru yang begini.

Contoh lumrah, adalah dengan meng­amati tingkat pengabdian guru terhadap profesi. Sering dari sekian guru-guru yang mengirim surat-surat berhalangan untuk hadir, sebagian adalah karena alasan kecil dan alasan yang dibuat-buat. Selagi manusia ini hidup tentu ada saja masalah yang menimpa, besar atau kecil. Tetapi ironisnya adalah ada oknum guru yang membuat alasan untuk tidak mengajar tahu-tahu untuk hal lain demi kepentingan pribadi maka pusing-pusing sedikit dapat diabaikan.

Ada oknum guru karena atas nama aktivis masyarakat sering sengaja dengan senang hati untuk meninggalkan tugas utama di sekolah mengabdi kepada masyarakat adalah juga tepat tetapi yang diharapkan adalah kita musti arif untuk menempatkan diri berdasarkan waktu tanpa mencari-cari alasan untuk menomorduakan sekolah.

Guru tentu punya tuntunan hidup dan keinginan untuk meningkatkan taraf sosial. Percakapan-percakapan tentang glamornya hidup membuat mereka ­seolah-olah ikut berlomba memacu dunia. Kemudian karena alasan pribadi untuk memenuhi tuntutan hidup mereka, karena pendapatan kurang memadai, ikut terlibat dalam urusan “perkreditan” lewat bank atau Koperasi Pegawai Negeri.

Memantau dari pembicaraan dari rata-rata guru yang melakukan peminjaman dan atau kredit adalah karena alasan untuk modal membangun rumah, biaya pendidikan, untuk membantu famili atau keluarga, modal usaha dan untuk keperluan membeli alat elektronik. Kredit KPN tentu jumlahnya terbatas tetapi kredit yang dilakukan lewat bank, karena peminjaman cukup tinggi dibandingkan dengan kemampuan keuangan cukup membuat guru linglung dan kehilangan gairah untuk datang ke sekolah.

Sering terlihat guru-guru yang mem­peroleh gaji yang minus atau kecil akibat terjerat kredit mengabaikan tugas dan tanggung jawab. Gairah untuk datang ke sekolah menjadi berkurang. Keinginan untuk meningkatkan mutu pendidikan tentu juga berkurang dan bahkan ada yang tidak memikirkan sama sekali. Yang mereka pikirkan tentu adalah bagaimana mereka dapat menyelesaikan pembayaran kredit secepatnya atau menghitung-hitung bulan kapan kredit mereka akan ber­akhir. Yang jelas tampak bagi kita bahwa pengambilan kredit yang diluar kemampuan keuangan dapat memberi pengaruh terhadap penurunan etos kerja sehingga membuat sekolah adalah nomor dua.

Kini sudah saatnya, untuk kembali memacu kualitas pendidikan, kita meningkatkan kualitas diri dan meninggalkan budaya menomorduakan sekolah. Atau, dengan kata lain budaya yang lebih mementingkan diri dan kebiasaan menuntut hak tetapi melupakan kewaji­ban. Agaknya hidup ini memang penuh dengan tantangan dan tuntutan kebutuhan lain. Melakukan usaha sam­pingan lain untuk mengikatkan kese­jahteraan adalah sangat tepat asal tidak mengabaikan kepentingan sekolah.

Untuk meningkatkan kualitas diri memang butuh keseriusan dan kesediaan untuk melowongkan waktu. Usaha-usaha ini dapat mengantarkan peningkatan SDM di sekolah. Sebab sangat benar bahwa guru dan perangkat sekolah dengan SDM tinggi akan mampu membentuk sekolah yang memiliki SDM yang tinggi pula.

Selain usaha lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam rangka mengembalikan budaya meno­morsatukan sekolah, maka kondisi dan bangunan fisik sekolah juga perlu ditata. Disamping itu faktor-faktor luar yang dapat membuat melemahnya semangat guru-guru untuk berbakti dan mengabdi sangat dibutuhkan supervisi oleh pihak atasan dan teman-teman sekolah. Akhirnya bila berbagai hal telah dibenahi maka tentu kita harapkan agar kata-kata “sekolahku adalah surgaku” bukanlah sekedar kata-kata penghias bibir belaka. Maka kini sudah saatnya bagi kita untuk memusnahkan budaya yang selalu menomorduakan sekolah.

24. Pola Pendidikan Di Rumah Miskin Dengan Sentuhan Spiritual

Walau agama Islam lahir di Timur Tengah lebih dari 15 abad yang lalu namun pemeluk terbesar agama ini adalah di Indonesia. Tentu saja kita (pemeluk Islam di Indonesia) merasa bangga dengan status negara sebagai mayoritas pemeluk Islam terbesar di dunia. Namun kita perlu berfikir- melakukan refleksi- tentang apakah sebagai pemeluk Islam terbesar di dunia, jumlah yang besar hanya dari segi kuantitas namun untuk kualitas cendrung amat rendah, karena pemeluknya masih jauh dari pemahaman dan pengamalan spiritual dan cenderung mengadopsi nilai hedonisme (paham mencari kesenangan hidup) semata mata.

Jauhnya kita- sebagai pemeluk Islam- dari pengamalan agama yang berkualitas adalah gara-gara pola pendidikan di rumah yang miskin dari sentuhan spiritual. Diduga ada banyak faktor sebagai penyebabnya, beberapa di antara nya adalah akibat kehadiran televisi di rumah yang amat sarat dengan nuansa sekuler, kepedulian orang tua yang berlebihan terhadap fasilitas hiburan daripada pendidikan. Karena kualitas pengajaran agama di rumah hanya sebatas pandai membaca abjad Arab atau alif- ba- ta saja dan akibat dari pemodelan- panutan atau suriteladan- orang tua yang lemah dalam mengimplementasi kan ajaran agama.

Televisi memberikan dampak negatif dalam mengikis nilai spiritual. Kehadiran tabung elektronik ini di tengah keluarga bangsa Indonesia dimulai sekitar tahun 1980-an. Saat itu televisi mungkin masih dianggap sebagai kebutuhan lux atau kebutuhan sekunder. Karena saat itu hanya keluarga yang tergolong mampu yang bisa memiliki pesawat televisi. Kemudian sekitar tahun 1990 pesawat televisi secara besar- besaran hadir di tengah masyarakat. Maka benda ini tidak lagi dianggap sebagai barang mewah, namun sudah dianggap sebagai kebutuhan primer, karena kadang kala penduduk dengan rumah gubuk juga mampu menghadirkan pesawat televisi dengan layar jumbo di tengah keluarga mereka.

Pada mulanya program televisi dirancang oleh orang yang berduit- pemilik stasiun televisi adalah untuk memberi masyarakat Indonesia program pendidikan dan program hiburan yang masih ramah lingkungan. Serasi dengan warna dan corak adat kita sebagai bangsa timur- memperhatikan nilai agama dan nilai adat istiadat. Pada masa itu orangtua masih bisa bersyukur atas kehadiran televisi yang belum begitu mencemaskan terhadap perkembangan anak. Dampak televisi pada waktu itu hanya baru sebatas membuat anak- anak kecanduan duduk berjam-jam di depan pesawat televisi dan mengabaikan pelajaran.

Namun sejak pengelola media masa – media cetak dan media elektronik- sudah kehilangan misi suci untuk mendidik bangsa ini dan atas nama globalisasi mereka merasa enteng untuk menghadirkan program hiburan yang kurang berkualitas ditinjau dari segi agama dan sebagai bangsa timur. Maka itulah awal bangkitnya krisis demi krisis dan melangkah masuk ke tengah keluarga bangsa Indonesia.

Karakter sebahagian orang kita yang punya kebiasaan menonton televisi selama berjam- jam membuat sesuatu yang mereka tonton membekas dalam diri mereka. Karena sesuatu yang dilihat atau ditonton berulang-ulang bisa mempengaruhi prilaku seseorang. Sementara itu kita tahu bahwa materi utama dari program televisi adalah iklan dan rentetan hiburan demi hiburan. Iklan yang ditayangkan tujuannya adalah untuk mengajak dan menjanjikan gaya hidup yang konsumerisme, gaya hidup serba mewah dan serba megah. Program- program yang ditayangkan televisi lambat laun akan mampu untuk mencuci otak jutaan penonton yang umumnya adalah anak- anak muda.

Hiburan yang dikemas dengan menghadirkan figur selebriti- artis dan presenter- yang sengaja dipoles dengan gaya sekuler, jauh dari nilai agama, ini terpantul dari gaya mereka dalam berpakaian, bertindak dan bertutur, telah mengajak jutaan penonton yang berusia muda agar bersikap dengan cara yang sama. Di saat program televisi tidak lagi sebagai sahabat bagi keluarga, namun hanya sebagai pembawa mudharat atau bencana atas pelunturan nilai budaya itu sendiri. Maka cara yang tepat bagi orang tua adalah agar memilih atau mengatur jam tayangan program televisi sesuai dengan pola pendidikan dan pola pengasuhan anak di rumah. Atau mungkin mereka tidak perlu membeli pesawat televisi sama sekali.

Fenomena yang terlihat sekarang adalah bahwa rumah tangga terlihat lebih kaya dengan sarana hiburan namun miskin dengan sarana pendidikan. Orang tua lebih peduli untuk menghadirkan sarana hiburan buat keluarga dengan kemampuan dan ukuran kantong mereka dari pada menghadirkan sarana pendidikan . Adalah cukup mudah bagi kita untuk menemui sarana hiburan seperti VCD player, paly station, tape recorder sampai kepada menghadirkan sarana hiburan yang berharga sangat mahal. Tentu saja tidak ada salahnya bila orang tua menyediakan sarana hiburan seperti ini, namun adalah kurang bijaksana apabila mereka kurang peduli untuk melengkapi sarana belajar keluarga.

Inilah kenyataan bahwa lebih mudah bagi kita untuk menjumpai kepingan VCD dangdut atau film kartun- karena umumnya orang kita masih demam gemar menonton- dari pada menemui buku , majalah dan koran yang berkualitas pada tiap keluarga. Pada hal salah satu fungsi bacaan adalah untuk mendidik anggota keluarga. Tetapi kalau bangsa kita belum terbiasa membaca maka bagaimana mereka bisa menjadi orang yang kritis dalam berfikir. Kita tahu bahwa salah satu manfaat dari kebiasaan membaca adalah untuk membentuk seseorang menjadi orang yang kritis dan analitis dalam berfikir.

Kita tahu bahwa banyak rumah tangga yang belum memiliki perpustakaan mini sebagai sarana belajar keluarga. Yang baru ada yaitu kepedulian orang tua untuk menyediakan bioskop sebagai sarana hiburan keluarga. Maka kalau kualitas bangsa ini lemah dalam bidang pendidikan (membaca), tentu inilah salah satu sebagai penyebab ya- kita miskin dengan kualitas pendidikan. Untuk itu kini adalah tepat kalau orang tua juga peduli untuk menghadirkan perpustakaan mini sebagai sarana belajar keluarga. Dan juga sangat tepat bagi keluarga untuk menanamkan kebiasaan dan kegemaran membaca- bagi anggota keluarga sejak dini bagi anak anak mereka.

Untuk menjadi warga yang berkualitas maka setiap anggota masyarakat harus gemar membaca. Ajakan atau perintah untuk membaca akan kurang berarti kalau hanya sekedar memerintah atau menyuruh saja. Menyediakan sarana belajar dan memberi mereka model langsung adalah sangat efektif. Karena Pemberian model jauh lebih efektif dari pada memberi mereka khotbah sebanysk seribu kali. Maka sebelum anak menyukai membaca tentu orang tua harus membiasakan diri untuk membaca terlebih dahulu.

Pendidikan agama bagi keluarga, dalam bentuk khutbah dan ceramah dari orang tua untuk membentuk anak akhlak anak, cendrung kurang bermanfaat, karena khutbah dan ceramah akan dirasakan sebagai hal yang serba membosankan. Yang lebih berkesan dalam mendidik agama atau spiritual anak adalah melalui pemberian model langsung dari orang tua, dan kemudian melibatkan anak secara langsung dengan kegiatan beragama bersama orang tua dan anggota keluarga yang lain. Orang tua perlu menetapkan prilaku yang standard untuk bertindak bagi anggota keluarga, misalnya tata cara berpakaian, cara berkata, bergaul dengan tetangga, dan lain- lain, yang sesuai dengan ajaran agama dan harus dicontohkan atau dimodelkan oleh terlebih dahulu oleh orangtua. sangat tidak bijak, misalnya, bila seorang ayah hanya pandai menyuruh anak untuk rajin shalat serta itu ia jarang dalam membaca kitab suci, sementara dia sendiri bolong- bolong dalam beribadah dan tidak pernah terlihat oleh anak menyentuh kitab suci untuk dibaca. Atau ibu yang hanya pandai menyuruh anak gadisnya berpakaian muslim sementara dia sendiri berpakaian you can see, celana hawaii dan pakaian ketat serta rambut diberi cat dengan penampilan mirip dengan selebriti atau presenter televisi.

Kita akui bahwa pemahaman umat Islam di Indonesia terhadap kitab suci Al Quran hanya sebatas pandai membaca alphabet “alif-ba- ta” saja, tanpa pernah mengerti apa yang dibaca. Membaca al-Quran seperti ini dianggap belum sampai ke dalam hati sanubari, tetapi baru sebatas kerongkongan saja. Idealnya untuk peningkatan pemahaman al Quran adalah dengan menggunakan metode translation (menterjemah) untuk pembelajaran ,di TPA dan TPSA. Tentu saja ini perlu kajian dan manajemen khusus, serta memberi mereka gaji yang berkualitas dengan gaji yang juga tinggi.

Atau juga tepat apabila kalau pembelajaran al Quran di TPA dan TPSA menggunakan pendekatan khusus, yaitu kursus bahaa Arab setelah santri anak didik tuntas dalam membaca Al Quran. Tentu saja kelak jumlah pemeluk Islam yang menguasai bahasa Al Quran atau bahasa Arab jumlahnya melebihi dari orang yang mengerti bahasa Inggris dan pada hakekatnya kelak umat islam di Indonesia tidak lagi seperti buih di pinggir pantai, jumlahnya banyak tetapi mudah hancur ditiup oleh badai kehidupan.

25. Sebentar Lagi Ujian Nasional, Jangan Lupa Mencontek

Judul di atas bukan mengajak siswa dan stakeholder pendidikan melakukan hal yang demikian, karena bertentangan dengan etika pendidikan. Namun berharap agar bersikap kontra terhadap judul di atas.

Ujian nasional sudah menjadi fenomena dalam pembicaraan orang tua, guru, anak didik dan para ahli pendidikan sampai kepada pihak pemerintah di level nasional. Bila semester ke dua datang (bulan Januari sampai Juni) maka setiap sekolah khususnya SMA dan para pendidik di sekolah tersebut mulai serius dan berkosentrasi untuk menyusun dan melaksanakan program pembelajaran “sukses menyonsong UN” dalam bentuk pemberian pelajaran tambahan agar semua anak didik kelak bisa lulus ujian nasional (UN) dengan sukses. Nilai UN adalah indikator untuk menentukan kelulusan anak didik dan bagi sekoloah nilai UN menjadi tolak ukur dalam menentukan kualitas atau peringkat sekolah di suatu kota atau dalam provinsi itu sendiri. .

Orang tua dan guru di sekolah tentu juga perlu untuk merespon kedatangan ujian nasional. Tentu saja ada beberapa macam bentuk respon orang tua terhadap kedatangan ujian nasional ini. Yaitu ada orang tua yang peduli dan dan orang tua yang kurang peduli sama sekali.

Orang tua yang peduli atas UN tentu akan ikut mencikaraui atau melakukan campur tangan terhadap cara dan gaya belajar anak- anak mereka. Orang tua yang begini akan ikut mengorbankan waktu dan keuangan buat anak agar bisa sukses dalam menempuh UN kelak. Orang tua yang merasa peduli ini ikut menemani anak dalam belajar dan sampai mencari tahu tentang perkembangan prestasi belajar anak mereka di sekolah.

Secara finansial bahwa orang tua yang peduli terhadap UN ikut menyediakan dana bagi anak- anak mereka agar bisa ikut kegiatan bimbel (bimbingan belajar) di sekolah atau di luar sekolah, serta juga melengkapi sarana belajar mereka. Tentu saja orang tua yang peduli dengan UN adalah orang tua yang terdidik atau mereka yang punya wawasan tentang mendidik.

Sebenarnya tidak ada orang tua yang tidak peduli kepada Ujian Nasional anak anak mereka. Namun karena kurang wawasan dalam mendidik atau rendahnya SDM (sumber daya manusia) ini membuat mereka terlihat kurang peduli atas eksistensi UN bagi anak anak mereka.

Setiap sekolah juga memiliki gaya dalam merespon kedatangan UN bagi anak didik. Biasa sekolah melakukan bimbingan UN berdasarkan kebijakan dan keputusan dari pihak atasan. Misalnya melaksanakan kegiatan belajar ekstra setelah jadwal belajar normal. Belajar ekstra untuk menghadapi UN hanya diberikan untuk mata pelajaran yang tercakup dalam UN. Tahun lalu ada 3 mata pelajaran UN- bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan matematik dan tahun ini jumlahnya menjadi lipat dua, untuk program IPA seperti fisika, biologi, kimia, matematik, bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Sementara itu angka standar kelulusan juga lebih meningkat dan cara belajar siswa apakah meningkat atau jalan di tempat.

Mata pelajaran UN menjadi mata pelajaran favorite dan tentu guru bidang studi tersebut juga mendapat perhatian yang lebih dari guru- guru dan bidang studi UN. Tentu saja ada guru yang tersinggung bila ada anak didik yang menanak tirikan mata pelajaran. Kalau ada maka itulah efek keberadaan UN di dunia pendidikan.

Mata pelajaran UN juga telah dilirik sebagai lahan bisnis lewat kegiatan bimbel (bimbingan belajar). Bimbel yang dikemas secara apik ternyata bisa dijual mahal,missal lewat super camp bimbingan belajar yang harganya bisa jutaan rupiah. Kegiatan ini bisa menyerap sarjana sesuai dengan bidang studi UN, sekaligus untuk menghindari pengangguran tingkat tinggi. Tentu saja kegiatan UN yang berorientasi komersil hanya bisa dijangkau oleh anak didik yang berduit, sementara mereka yang finansialnya pas- pasan mungkin harus gigit jari. Ini juga dampak pembelajaran UN yang kurang pihak kepada orang yang mampu.

Kegiatan belajar tambahan tentu juga memberikan efek positif bagi anak didik yang memiliki motivasi belajar tinggi. Mereka yang lemah motivasinya atau cendrung menyukai belajar di rumah akan merasakan bahwa belajar tambahan menyambut UN di sekolah sore ibarat belajar di camp konsentrasi.

Sekolah berlabel unggul seperti SMA plus, SMA Unggul , SMA akselarasi, dll, tentu saja merancang belajar tambahan agar sukses di UN dengan melibatkan orang tua, komite sekolah, tokoh masyarakat dan alumni untuk mendukung dan memberikan motivasi bagi anak didik supaya bisa lulus UN dengan skor tinggi sebagai harga mati bagi mereka. UN memperoleh respon positive bagi sekolah berlabel unggul. Namun respon bervariasi atas pelaksanaan UN datang dari sekolah SMA dan SMP yang taraf kualitasnya agak rendah atau biasa- bias saja.

Standar skor kelulusan UN selalu meningkat tiap tahun. Anak didik merespon dengan penuh kegelisahan. Bila mereka tidak tidak mampu memperoleh skor minimal untuk standar lulus UN berarti mereka gagal dalam UN dan berarti tidak bisa lulus dari SMA secara normal. Alternative lain mereka bisa mengambil ujian paket C. namun lulus lewat paket C bisa jadi terasa sebagai aib dan memalukan . lulus dengan paket C berarti lulus setaraf dengan orang orang belajar asal asalan dan pernah drop out pada tahun- tahun sebelumnya.atau ijazah (sertifikat) paket C bisa jadi dipandang sebagai ijazah dengan kualitas kelas dua.

Agar anak didik bisa lulus secara normal maka orang tua dan guru- guru , juga para stakeholder pendidikan di sekolah tertentu melakukan rembug rahasia dan keluarlah ungkapan ungkapan penuh prihatin atau pesimis ; “ wah kasihan kita pada anak- anak “ atau ada bisikan “kamu harus pandai pandai ya dan UN”. Pengalaman yang terlihat adalah ada pihak pendidik dan orang tua (berkolaborasi) agar anak didik harus saling mencontek dan saling tolong menolong dalam UN. Adalah suatu fenomena dalam dunia pendidikan bahwa ada beberapa sekolah yang melegalitas kasus contek

Rekayasa untuk meluluskan atau membantu anak didik dalam UN bisa dalam bentuk merapatkan bangku peserta ujian. Mengatur tempat duduk selang seling antara siswa lemah dan siswa yang pintar. Menginstruksikan kepada anak didik agar saling bekerjasama dan tidak kikir selama ujian atau harus pintar- pintar untuk menyebarkan kunci ujian. Malah ada pihak guru atau pihak sekolah yang membocorkan soal ujian , merlonggarkan pengawasan selama ujian, merekayasa kertas lembaran anak didik itu sendiri.cara- cara haram atau illegal ini dilakukan adalah agar anak- anak didik mereka bisa lulus dengan angka tinggi dan sekaligus sekolah yang bersangkutan (SMP, SMA atau MAN) bisa mempertahankan angka palsu sebagai angka prestasi sekolah.

Selama musim UN makin mendekat, maka bagaimana harapan sekolah (guru dan orang tua) apakah ingin anak didik lulus UN dengan penuh tanggung jawab atau lulus UN lewat budaya rekayasa dan mencontek. Ke dua bentuk budaya belajar ini menentukan kualitas bangsa di masa datang. Anak didik akan tumbuh menjadi calon pemimpin bangsa apakah mereka tumbuh lewat nilai kejujuran dan kerja keras atau tumbuh menjadi pemimpin lewat budaya rekayasa dan gemar mencontek. Di pundak mereka nanti nasib bangsa ini berada. .

26. Hidup Damai Di Tempat Kos

Tidak semua orang tua mampu untuk menyediakan satu kamar untuk setiap anak. Tentu saja ini semua karena keterbatasan dana. Rata-rata orang tua hanya menyediakan satu kamar saja untuk ditempati oleh beberapa orang anak.

Hidup sekamar dengan adik atau dengan kakak tidak menjadi soal. Sebab bila ada problem kita bisa langsung mengadakan rembug, atau campur tangan orang tua dapat meredakan ketegangan kita bila telah memuncak. Tetapi kita tidak mungkin hidup begitu terus. Suatu saat kita musti angkat kaki, meninggalkan rumah, mungkin karena hendak menyambung studi atau karena kita telah mendapat kerja.

Mencari tempat kos merupakan tujuan pertama. Meski ada famili menawari kita untuk tinggal disana, tetapi rata-rata tinggal di luar, ditempat kos, jauh lebih enak dan aman. Sedangkan tinggal bersama famili ada resikonya, paling kurang kita musti bisa berbasa-basi.

Tidak ada problem bagi orang yang punya banyak duit, sebab ia bisa mengontrak kamar sendiri dan hidup dengan tenang, tanpa ada campur tangan orang lain. Sedangkan bila kita patungan untuk mengontrak kamar resikonya bisa fifty-fifty, sesuai dengan jumlah anggota 2, 3 atau 4 orang.

Rata-rata kamar, tempat kos, yang dicari mempunyai syarat. Harus ada air dan ada listrik. Biasanya syarat ini sudah oke untuk kebanyakan pria (cowok). Tapi bagi kaum cewek syaratnya agak lebih seperti ada air, ada listrik, ada ruang tamu dan ada dapur. Tempat kos yang dekat dengan kampus atau dengan kantor bagi yang bekerja lebih diminati oleh pekerja dan mahasiswa. Apalagi bila tidak ada campur tangan orang punya rumah.

Hidup damai di tempat kos akan dapat kita peroleh bila kita punya teman yang berwatak sama. Problema akan terasa bila warganya memiliki watak yang berbeda. Kamar kos dengan warga 2 atau 4 orang akan lebih oke, bila dibandingkan dengan kamar yang warganya 3 orang, sebab salah seorang tentu akan terasing.

Sudah lumrah bagi orang-orang yang tinggal di kamar kos hidup nomaden, hidup berpindah. Biasanya seorang mahasiswa atau pegawai muda akan segera meninggalkan tempat kosnya ke tempat lain bila keadaannya jorok, bising, sempit, jauh lokasinya, sewa mahal dan tidak ada ketenangan di sana.

Di lokasi dekat dengan kampus atau kantor lebih diminati orang. Oleh sebab itu banyak orang berlomba untuk mendirikan rumah, yang kamar-kamarnya untuk disewakan. Agar lebih menarik, pemiliknya sengaja menata agar tampak seindah mungkin dan melengkapinya dengan berbagai fasilitas. Sehingga orang yang tinggal disana akan merasa segan untuk pindah ke tempat lain.

Problema untuk tinggal sekamar tetap ada, sebab lebih banyak perbedaan antara dua individu dari pada persamaanya. Secara emosi ada juga perbedaan, seperti pemalu, penangis, pemarah, pencemburu dan pendendam. Dalam segi ekonomi, ada orang yang royal, suka foya-foya, hemat sampai kepada kikir. Menurut watak ada orang yang bersih, jorok, pendiam, tukang ngobrol, suka begadang dan suka musik keras. Malah bagi yang tampak alim akan terganggu oleh teman yang suka pacaran, nonton dan membaca yang berbau agak porno, apalagi porno tulen.

Bila kita bisa mendapati teman-teman dengan watak yang sama pada sebuah kamar kos tentu kita bersyukur. Tetapi bila tidak tentu ada baiknya pada awal-awal waktu kita tetapkan sesuatu, misalnya tentang keuangan, makanan, nonton, menghidupkan musik keras sampai kepada cara menerima tamu. Begitu pula tentang menjaga kebersihan, keindahan dan ketenangan kamar kos. Dan masing-masing pribadi tentu harus mematuhi peraturan yang telah ditetapkan itu. Tentu semua itu untuk mendapatkan hidup damai di tempat kos.

27. Karakter Guru Berpengaruh Terhadap Masa Depan Siswa

Kehadiran orangtua – ayah dan ibu- sangat besar artinya bagi anak. Melalui kehadiran dan interaksi dengan orangtua anak dapat mengenal indahnya dunia dan memahami suka- duka kehidupan ini. Melalui orangtua maka anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan bahasanya. Untuk selanjutnya melalui orangtua pula seorang anak dapat mengenal sosial atau mengenal orang lain.

Seiring dengan bertambahnya usia anak dan makin luasnya eksplorasi mereka, akhirnya (dalam usia kanak- kanak) setiap anak mengenal dunia sekolah dan sekaligus menjadsi anggota atau kelompok sosial di sekolah. Di sini mereka mengenal sosok figur atau orang lain yang bisa mereka kagumi, takuti, segani yang mereka panggil sebagai guru yang punya peran sebagai orang tua mereka di sekolah.

Saat anak belum mengenal dunia sekolah, maka egosentris adalah ciri khas adalah karakter mereka. Apa saja yang ada di seputar jangkauan indera mereka diklaim sebagai miliknya atau dalam konsep kekuasaanya. Namun saat mereka sudah bersentuhan dengan dunia sekolah- seperti taman kanak- kanak- maka karaktere egosentris secara perlahan berkurang dan menghilang. Mereka akhirnya memahami dan mengenal realita sosial, harus bisa menerima posisi kalah atau menang, bertentangan atau berdamai.

Guru lah orang tua bagi anak di sekolah, setelah keberadaan orang tua yang di rumah, yang sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan kepribadian anak. Sangat beruntung bahwa semua guru taman kanak- kanak mendapat respon yang simpatik dari anak- anak akibat positif dari karakter atau prilaku guru yang ramah tamah dan sangat simpatik atau bersahabat. Karakter yang mereka miliki telah mampu untuk merebut hati anak makhluk- makhluk kecil itu- (anak didik mereka). Sehingga di rumah mereka selalu memuji dan menyanjung kelebihan ibu guru mereka.

Memasuki usia Sekolah Dasar mereka harus berhadapan dengan berbagai macam karakter manusia- guru guru , teman dan senior senior mereka- yang lebih bervariasi. Ada yang baik, lembut, penyayang dan yang lebih menyeramkan adalah kalau ada karakter yang galak dan pemarah. Maka tidak heran kalau anak- anak kecil itu mengawali hidup mereka di Sekolah Dasar dengan penuh kecemasan dan ketegangan. Dan mereka masih beruntung bila guru-guru di SD (Sekolah Dasar) kelas satu masih memperlihatkan karakter yang simpatik dan ramah tamah menyerupai karakter guru- guru mereka saat masih di Taman Kanak- Kanak. Namun mimpi buruk akan terjadi bagi anak- anak kecil tersebut apabila mereka harus belajar dan berintegrasi dengan guru- guru kelas satu atau kelas dua SD yang kurang bisa bersimpati dan berempati dan juga kurang ramah di mata anak didik. Maka di sini mulai terjadi kejutan mental yang pertama bagi mereka dalam bentuk ekspressi; menangis, menarik diri, ketakutan dan sampai mengalami ngompol dalam kelas.

Bila kasus ini terjadi pada suatu kelas atau suatu SD , maka adalah sangat ideal bila bapak dan ibu guru segera mengintrospeksi diri agar mereka tidak tampil menakutkan di mata manusia berusial kecil tersebut.

Beruntung bahwa Tuhan menganugerahi manusia kemampuan untuk beradaptasi (menyesuaikan diri) dan berakomodasi (mengubah lingkungan) dengan social dan lingkungan fisik. Maka dengan kekuatan dan kemampuan untuk beradaptasi dan berakomodasi anak didik mampu untuk bertahan hidup dan berintegrasi dalam kehidupan sosial di sekolah.

Guru adalah manusia biasa dan sebagai manusia biasa dalam melaksanakan peran sebagai pendidik dan sebagai pemimpin bagi anak didikdalam pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar) mereka memiliki gaya tersendiri. Secara umum ada tiga tipe kategori dari gaya mereka yaitu; gaya demokrasi, gaya otoriter, gaya laizzes faire dan gaya pseudo demokrasi.

Keberadaan guru dengan gaya atau karakter otoriter- memperlihatkan kekuasaan mutlak atas anak didik- selama pelaksanaan PBM dapat mendatangkan mimpi buruk bagi setiap anak didik. Senyum manis dan kata- kata yang lembut merupakan barang yang langka yang diperoleh dari guru berkarakter otoriter. Guru killer adalah istilah lain yang diberikan oleh anak didik untuk guru berkarakter otoriter tersebut.

Sekali lagi bahwa belajar dengan guru yang berkarakter otoriter adalah suatu mimpi buruk bagi anak didik. Suasana kelas tentu saja akan menjadi tenang dan teratur. Gerak laju jarum jam dinding terasa begitu lambat dan lama. Atmosfir ruangan kelas menjadi lebih kaku dan menegangkan dan menakutkan. Guru berkarakter killer atau berkarakter otoriter akan berpotensi untuk melahirkan anak didik yang suka membisu dan penakut. Adalah suatu keputusan yang bijaksana bagi pribadi yang memiliki karakter otoriter untuk tidak menjadi pendidik dimanapun berada, apalagi mengajar untuk Sekolah Dasar, karena keberadaan mereka cendrung merugikan dan merusak pertumbuhan jiwa anak didik.

Pseudo demokrasi adalah berarti “demokrasi yang palsu”. Karakter guru dengan pseudo demokrasi agaknya juga tidak memperoleh simpati di mata anak didik. Soalnya guru dengan karakter begini cendrung memonopoli kekuasaan. Keputusan yang ia buat disosialisasikan kepada anak didik namun keputusan akhir tetap menjadi monopoli mutlaknya.

Guru dengan karakter laissez faire- masa bodoh- cendrung menurunkan kualitas budaya sekolah. Suasana kelas akan menjadi amburadul, apalagi bila populasi kelas cukup besar. Peranan guru yang berkarakter lassez faire bisa agak bagus apa bila ia mengelola kelas yang berpopulasi kecil. Agaknya guru dengan karakter demikian perlu bersikap lebih tegas dan punya prinsip atas nilai kebenaran. Menambah kualitas ilmu dan wawasan dan kemudian bersikap lebih tegas akan mampu mengatasi problema karakter laizzes faire.

Guru yang berkarakter demokrasi adalah guru yang memiliki hati nurani yang tajam. Guru dengan karakter beginilah yang mampu menghadirkan hatinya dalam emosi anak didik selama pembelajaran. Guru berkarakter demokrasi dan memiliki wawasan yang tinggi tentu akan mampu memenangkan hati anak didik atau memoltivasi mereka dalam pembelajaran. Guru yang mampu menghadirkan hatinya pada hati anak didik disebut sebagai guru yabg baik dan mereka akan dikenang oleh anak didik sepanjang hayatnya. Yang lebih banyak dikenang adalah guru yang baik.

Setiap anak didik telah banyak mengenal banyak guru dalam hidupnya, ada guru yang pintar dan ada guru yang baik. Sekali lagi bahwa guru yang berkesan bagi mereka adalah guru yang menghadirkan hati atau emosinya saat melaksanakan PBM. Guru yang cerdas atau pintar namun memiliki pribadi yang kaku, mungkin juga kasar, kurang bisa bersimpati, pasti tidak banyak memberi pengaruh kepada anak didik.

Guru yang mampu memberi pengaruh untuk masa depan anak didik lewat kata- kata atau bahasanya adalah guru yang memiliki pribadi yang hangat dan juga cerdas. Untuk itu adalah sangat ideal bila setiap guru mampu meningkatkan kualitas pribadinya menjadi guru yang cerdas, yaitu cerdas intelektual, cerdas emosi dan juga cerdas spiritualnya. Maka guru- guru yang beginilah yang patut diberi hadiah dengan lagu “guru pahlawan tanpa tanda jasa”.

Kata kata yang diucapkan oleh guru kepada siswa atau anak didik dalam pergaulan mereka di sekolah sangat menentukan masa depan mereka. Kata kata yang diucapkan oleh guru pada anak didik ibarat panah yang lepas dari busur. Kata yang keluar dari mulut guru akan menancap pada hati anak didik. Bila kata- kata tadi melukai hati mereka, maka goresannya akan membekas sampai tua. Sering kata kata yang tidak simpatik dari seorang guru telah menghancurkan semangat hidup mereka. Sebaliknya kata kata yang mampu memberi dorongan semangat juga sangat berarti dalam menumbuh dan mengembangkan semangat hidup- semangat belajar dan bekerja mereka. Maka untuk itu guru perlu menjalin hubungan dengan anak didik lewat kata- kata yang berkualitas.

28.Merokok Sudah Jadi Gaya Hidup di Sekolah

Ada beberapa undang- undang atau peraturan yang tidak tertulis di sekolah, sudah disepakati dan diketahui oleh orangtua, anak didik, pendidik (guru) dan masyarakat. Peraturan- peraturan tersebut kalau dirunut dari skala larangan paling berat sampai kepada larangan ringan adalah seperti: tidak boleh melakukan pergaulan bebas, narkoba, minuman keras (miras), berjudi, pornografi, pornoaksi, merokok, memakai perhiasan berlebihan, berambut panjang, memakai seragam sekolah yang tidak pantas, sampai kepada mencontek selama ujian. Dan larangan ringan terbaru adalah tidak boleh membawa hand phone ke sekolah karena bisa mengganggu PBM- proses belajar mengajar.

Mengkonsumsi rokok adalah dilarang di sekolah. Ini sudah diketahui oleh semua anak didik, guru dan orangtua siswa. Namun fenomena di negara kita dan juga fenomena di lingkungan sekolah bahwa hukum atau peraturan hanya untuk dipatuhi oleh kalangan bawah, kalau di sekolah adalah untuk anak didik. Seperti larangan merokok, ini hanya berlaku dan harus dipatuhi oleh anak didik. Kalau mereka ketahuan melanggar –merokok dalam lingkungan sekolah malah juga untuk luar sekolah- maka berarti mereka membuat kasus pelanggaran peraturan sekolah. Kasus pelanggaran tatatertib sekolah harus diproes mulai dari tingkat wali kelas, guru BK (Bimbingan Konseling), pihak Kepala Sekolah. Dan kalau tidak bisa dibina maka mereka dibinasakan- disuruh pindah sekolah atau dipulangkan ke orangtua.

Pelaksanaan larangan merokok tentu saja bervariasi wujudnya pada banyak sekolah. Ada sekolah yang melaksanakan dengan serius dan penuh tanggung jawab dan ada pula yang menerapkannya penuh pura-pura dan sekedar basa- basi. Sekolah yang sangat peduli dengan kualitas pendidikan, umumnya tidak mengenal basa basi dalam menegakan disiplin dan wibawa sekolah. Namun bagi sekolah yang susah payah untuk meraih prestasimis maka disiplin atau peraturan sekolah bisa ditawar- juga bisa sekedar basa-basi.

Sekolah yang siswanya, apa lagi kalau guru gurunya, gemar merokok dapat dipantau dan dijumpai di mana- mana. Seringkali sarana tempat merokok mereka adalah di kantin atau di warung seputar sekolah milik masyarakat lokal. Beberapa anak didik sengaja membolos beberapa menit atau mencari alasan untuk keluar kelas dan menyelinap ke dalam warung dekat sekolah agar bisa mengepulkan asap rokok untuk memperoleh decak kagum dari teman- teman yang juga merintis diri untuk jadi perokok. Sebagian yang lain sengaja memilih tempat yang agak jauh dari sekolah agar bisa merokok seperti yang dianjurkan oleh puluhan sampai ratusan iklan rokok yang dikemas sangat menarik dan diiringi rayuan seperti : merokok untuk mewujudkan selera pria sejati.

Ada kritikan yang patut kita lontarkan kepada pemilik warung yang melegalkan rokok untuk siswa di seputar sekolah. Silahkan mencari rezki lewat berdagang dengan menyediakan kebutuhan makan minum warga sekolah, tetapi jangan mencari untung lewat bisnis rokok karena merokok adalah illegal untuk anak didik dan warga sekolah.

Tentu saja semua anak didik sudah tahu bahwa mereka tidak boleh merokok. Tetapi sebahagian mereka menjadi bingung memahami nasehat yang berbunyi seperti ”merokok dapat merusak kesehatan”. Namun model atau suri teladan mereka di rumah (orang tua) dan di sekolah (guru- guru) melanggar nasehat ini. Dan akhirnya sebahagian mereka yang lagi dilanda kebingungan untuk mencoba merokok atau tidak perlu merokok- merintis jalan untuk menjai perokok sejati.

Larangan merokok tampaknya hanya ditujukan untuk anak didik, bagaimana untuk guru- guru ? larangan merokok tidak berlaku untuk guru guru perokok. Barangkali karena peraturan dan larangan dirancang oleh guru dan harus dipatuhi oleh anak didik. Sementara guru- guru sendiri seolah olah memiliki hak kebal hukum. Pantaslah banyak guru yang semau gue merkok di lingkungan sekolah.

Guru perokok yang masih bersembunyi saat merokok masih bisa dianggap sebagai guru perokok yang memiliki sopan santun. Namun bagaimana dengan guru yang memperlihatkan kekuasaannya , dengan rasa enteng minta tolong belikan rokok pada anak didik dan merokok di depan keramaian murid seenaknya. Dan ada guru yang dengan arrogannya merokok di dalam kelas saat melaksanakan PBM- Proses Belajar Mengajar. Bagi guru yang begini maka berlakulah pribahasa yang berbunyi : guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kalau guru menjai suri teladan yang jelek maka tentu kelak anak didik mereka menjadi lebih jelek lagi. Kalau guru adalah perokok yang hebat dalam kelas maka jangan salahkan kalau kelak ada anak didik yang menjadi pemakai narkoba dan peminum miras- minuman keras.

Melihat fenomena di atas maka dewasa ini setiap anak didik perlu untk memiliki daya tahan yang lebih hebat untuk tidak merokok. Karena ajakan untuk merokok- memasukan asap rokok kretek atau zat- zat beracun ke dalam paru- paru datang dari berbagai pihak. Saat mereka tahu dengan bahaya merokok, namun di rumah mata mereka menatap orang yang mereka hargai- bapak, kakak, paman, kakek dan tetangga- menghisap rokok dengan ekspresi kenikmatan yang penuh engan kepalsuan. Di sekolah mereka juga terganggu oleh gaya guru yang dengan enteng menghisap rokok.

Siswa yang tidak pernah merokok pun akhirnya memperoleh pressure atau tekanan dari teman sebaya yang sudah menjadi perokok junior. Mereka yang tidak merokok akan diberi ejekan- hukuman psikologis- sebagai orang yang tidak jantan. ”hanya orang perempuanlah yang tidak merokok, atau dia tidak merokok karena pingin naik haji- alias ia orang yang amat kikir”. Tekanan dalam bentuk ejkan sangat mujarab utuk membuat anak didik (teman sebaya) segera mencoba merokok sampai akhirnya juga jadi pencandu rokok.

Andaikata ada yang tidak percaya dengan judul tulisan ini, maka marilah kita kunjungi sekolah- sekolah SLTA – SMA, SMK dan Madrasah- di beberapa daerah pada saat sekolah usai. Kita akan melihat siswa-siswa bubar, melangkah menuju rumah, maka pasti terlihat beberapa siswa mulai memegang bungkus rokok. Mereka saling bercanda dan melempar ejekan pada yang tidak merokok atau meledek teman yang merek rokoknya kurang gaul.

Memang merokok kelihatan sudah menjadi gaya hidup bagi sebahagian guru dan sebahagian anak didik. Fenomena para perokok adalah bila mereka saling berjumpa maka mereka saling meminta atau menawarkan korek api. Atau sebelum mereka memulai percakapan mereka saling menyodorkan bungkus rokok kretek sebagai tanda persahabatan yang tulus. Ini adalah bukti bahwa merokok bagian dari gaya hidup. Sambil mengepulkan asap nikotin dari bibir yang hitam maka barulah meluncur kalimat- kalimat pergaulan mereka.

Sepuluh atau dua puluh tahun yang silam jumlah produksi rokok tentu saja tidak sebanyak yang sekarang. Namun kini produksi rokok sudah amat mengkhawatirkan dari sudut jumlah rokok dan jumlah merek rokok itu sendiri. Rokok rokok- pemilik industri rokok- tersebut saling berlomba untuk menarik dan mengajak semua orang agar segera mejadi perokok sejati. Iklan rokok dengan bahasa yang indah- membujuk dan mengajak semua orang untuk jadi perokok- terpajang didepan mata dimana- mana; di gardu polisi lalulintas, pada jalan raya utama, di tempat keramaian anak anak muda. Malah industri rokok tidak segan- segan bersedia menjai sponsor atau donator dari berbagai kegiatan sekolah selagi spandu nama rokok mereka tidak lupa untuk dipajang.

Masih adakah orang yang peduli sekarang untuk menasehati anak didik dan guru- guru untuk tidak merokok. Terus terang bahwa merokok sebagai gaya hidup tidak memberikan manfaat apa- apa, kecuali hanya memberi mudharat dalam meracuni paru- paru anak anak muda. Memilih merokok sebagai gaya hidup sangat merugikan diri karena mendatangkan penyakit. Menjadi penghisap rokok hanya memberikan keuntungan bagi pemilik pabrik rokok yang punya niat tidak baik yaitu untuk meraup laba dan ikhlas membuat pencandu rokok untuk segera sakit atau pelan- pelan bergerak menuju kematian. Bukankah sudah cukup banyak jumlah orang yang meninggal karena mengalami sakit paru- paru gara- gara mejadi pencandu rokok yang hebat dalam hidupnya. Maka kini fikirkanlah untuk menjadikan merokok sebagai gaya hidup di sekolah.

29. Tuntutlah Ilmu Di Universitas Kehidupan

Semua orang setuju bahwa ilmu adalah kekuatan. Agama Islam juga mengakui dan menganjurkan kepada kita (pemeluknya) untuk selalu mencari ilmu. Ada beberapa ajakan seperti ; Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, dan UNESCO – salah satu badan PBB- juga merespon dengan semboyan “life long education” atau pendidikan seumur hidup.

Kita tidak tahu bahwa apakah semboyan yang mengajak anak- anak atau generasi muda untuk mencari ilmu sebanyak mungkin dalam hayat ini, masih berkumandang di rumah- rumah dari bibir orang tua pada anaknya atau sudah tidak ada lagi. Namun dari ungkapan lama dalam memberi motivasi tentu kita masih ingat dengan ungkapan yang berbunyi; ”gantungkanlah cita-cita mu setinggi langit” . Dari ungkapan di atas dapat kita simpulkan bahwa setiap orang perlu mempunyai cita- cita yang tinggi dan juga perlu untuk mencari ilmu dan pengalaman.

Orang tua merupakan guru pertama yang dikenal anak. Sebagai guru pertama bagi anak, maka mereka (ayah dan ibu) mengajar dan menumbuh- kembangkan pribadi anak mulai dari belajar berbicara (berbahasa), belajar bejalan, belajar makan, belajar bersosial sampai kepada belajar bermoral atau bersopan- santun. Cita- cita yang diperkenalkan orangtua pada mereka, saat masih kecil sungguh sangat mulia, yaitu seperti: ”bila anakku besar kelak moga- moga bisa menjadi orang yang brguna bagi nusa, bangsa dan agama”.

Saat anak melangkah memasuki dunia pendidikan, mulai dari bangku TK, SD, SMP, SLTA dan malah sampai ke Perguruan Tinggi, cita- cita yang terlalu umum tadi berubah menjadi cita-cita yang lebih spesifik. Begitu ditanya tentang cita- cita anak, maka ia (mereka) dituntun agar memilih menjadi dokter, insinyur, guru, hakim, polisi, tentara, dan lain- lain. Cita cita tentang profesi ini bisa disederhanakan menjadi ”bila besar kelak aku ingin menjadi PNS, pegawai BUMN atau pegawai swasta”. Secara tidak langsung guru- guru sudah menanamkan cita- cita dalam jiwa anak agar bila dewasa mereka bisa menjadi PNS atau pegawai kantoran, dan ini pulalah yang bernama cita- cita. Sementara itu menjadi pedagang, penulis, ulama, tokoh masyarakat bukan dipandang sebagai cita- cita. Lebih lanjut menjadi petani, nelayan dan buruh (oleh orang tua atau lingkungan) diperkenalkan sebagai pekerjaan atau cita- cita rendah dan cita- cita kurang mulia..

Kolaborasi guru dan orang tua sangat diperlukan agar bisa memotivasi anak untuk belajar keras sejak dari SD sampai ke tingkat SLTA dan Perguruan Tinggi. Segala teori dan artikel tentang pendidikan dibaca dan diterapkan dan fasilits belajar untuk anak dilengkapi.

Pendidikan setiap anak sejak dari tingkat SD sampai tamat Perguruan Tinggi bisa menghabiskan rentang waktu 17 atau 18 tahun. Anak- anak yakin bahwa begitu tamat dari Perguruan Tinggi, memperoleh gelar sarjana, maka kerja, seperti menjadi PNS, pegawai BUMN dan swasta atau kantor, akan mudah diperoleh. Posisi PNS dan kantoran adalah posisi yang diperkenalkan oleh orang tua atau lingkungan sebagai posisi yang kerjanya sangat mudah, karena duduk atau goyang kaki gaji tetap keluar.

Fenomena dalam beberapa tahun silam bila seseorang tamat Perguruan Tinggi, apalagi bila IP (Indeks Prestasi) juga tinggi, bisa menjanjikan bahwa PNS dan kerja kantoran mampu menampung semua lulusan Perguruan Tinggi. Malah untuk PNS masih menerima jatah sisipan apalagi jatah PNS pesanan melalui memo agar keponakan, adik atau anak seorang pejabat bisa jadi PNS walau kualitasnya sangat mengecewakan. Maka jadi gemuklah populasi PNS dan susah payah pula negara untuk mencari anggaran guna menggajinya mereka walau job descriptionnya serba tidak jelas. Namun dalam sistem manajemen pemerintahan yang lebih ramping- seperti sekarang- maka menjadi PNS walau gajinya masih standar atau kadang kala masih dibawah standar, kebanyakan sarjana lulusan Perguruan Tinggi, termasuk Universitas favorit, masih bermimpi untuk bisa jadi PNS.

Begitu lulus dari Perguruan Tinggi, banyak sarjana potensial yang hanya mampu membuat surat lamaran atau menunggu lowongan agar bisa mengikuti test penerimaan PNS. Bila gagal mereka rela untuk menjadi pengangguran intelektual. Adalah fenomena bahwa datang bertubi- tubi serangan dan kecaman kepada dunia pendidikan- kurikulum yang miskin dengan link and match, dan kebijakan pemerintah. Yang paling parah adalah hujatan kepada lembaga Perguruan Tinggi yang hanya mampu menghasilkan sarjana PNS oriented. Padahal semangat untuk menjadi PNS dalam wujud cita-cita menjdi dokter, hakim, guru, dan lain- lain adalah gara- gara suksesnya kolaborasi antara orang tua dan guru dalam membangun image PNS, mulai dari guru TK, SD, SMP sampai kepada guru SLTA dan dosen.

Saudara- saudara kita yang gagal atau drop out dari sekolah ketika di SD, SMP, atau SLTA mungkin tidak mengenal untuk menjadi PNS seperti impian sarjana lulusan Universitas (perguruan tinggi) se Indonesia. Mereka yang drop- out tentu disebabkan oleh seribu satu hal, seperti kesulitan ekonomi orang tua, kehilangan motivasi belajar, buruknya budaya belajar di rumah atau di sekolah, dan sampai kepada gara- gara broken home. Mereka yang drop out saat di SLTA atau pada sekolah sebelumnya, tentu mereka tidak mungkin bisa studi di Perguruan Tinggi dan juga tidak mengenal apa itu universitas dan siapa itu dosen atau mata kuliahnya.

Namun saudara kita yang drop out atau putus sekolahi, sebahagian mereka mampu mengumpulkan energi hidup dan membentuk motivasi untuk kehidupan. Motivasi yang datang dari dalam diri sendiri atau yang datang dari orang yang punya pengalaman sukses, mereka itulah yang menjadi sumber inspirasi atau dosen bagi mereka yang belajar dalam universitas kehidupan ini.

Bertukar atau berbagi pengalaman hidup dengan kakak, paman, famili, tetangga dan pengalaman orang lain secara langsung bisa lebih baik dari teori yang diberikan oleh profesor atau doktor di universitas yang nyata. Meskipun mereka tidak belajar atau kuliah dengan dosen atau professor di unversitas yang terakreditasi baik, tetapi berbagi pengalaman dengan orang sukses adalah juga berarti terlibat langsung dalam perkuliahan ala Socrates dalam zaman Yunani kuno dengan dosen di universitas kehidupan.

Menuntut ilmu di universitas kehidupan, telah membuat orang bisa memiliki tekad hidup yang kuat. Mereka jadi berani untuk pergi merantau, berani untuk mencoba dan berani untuk menanggung resiko. Adalah bentuk pekerjaan lulusan dari niversitas kehidupan seperti menjadi petani, beternak, bertukang, dan membuka usaha konveksi telah mampu menghidupi ribuan atau bahkan jutaan orang se Indonsia. Kemudian ada orang yang hanya belajar secara alami- atau diistilahkan dengan belajar di Universitas kehidupan- mampu menjadi orang yang sukses lewat membuka toko, restaurant, usaha konveksi, catering. Dan ini adalah bentuk dari profesi yang lahir dari ide- ide kreatif. Profesi ini tidak mungkin ada (atau apakah ada) dalam daftar cita- cita siswa SLTA saat mengisi formulir SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) ?

Berbagai perguruan tinggi (universitas) sekarang seolah- olah hanya mampu melahirkan sarjana yang kaya dengan teori namun bingung dalam menatap masa depan. Sementara orang yang lulus dari universitas kehidupan telah melahirkan orang- orang yang berjiwa kuat. Kalau begitu salahkah menuntut ilmu di univeritas yang nyata ?

Menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi adalah keputusan yang sangat baik dan lebih baik lagi kalau menuntut ilmu di perguruan tinggi favorite dan menata cita- cita atau rencana kehidupan yang lebih nyata. Ibarat cita- cita saudara kita yag sukses dari pengalaman hidup (universitas kehidupan) mereka sukses bukan lewat PNS, BUMN, pegawai swasta atau kerja kantoran.

Adalah sangat penting bagi setiap siswa sejak dari SLTA untuk melakukan eksplorasi atau memperluas jelajah mental melalui pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain. Sebagai siswa atau mahasiswa mereka tidak harus lagi membuang-buang waktu setelah menekuni teori tentang kehidupan, rumus dan tugas setiap mata pelajaran. Juga penting kalau mereka mengembangkan diri dan mencoba seribu satu macam kegiatan yang berhubungan dengan kecakapan hidup. Maka sekarang tidak perlu lagi merasa gengsi untuk terjun ke sawah, ke ladang, ke kolam ikan, ke padang rumput untuk belajar tentang life skill. Atau menjalankan traktor, memasak di restauran dan harus merasa malu kalau hanya pandai memanjakan kulit dan membiarkan orang tua melepuh badanya terbakar matahari. Sikap manja dan cengeng sungguh tidak bermanfaat.

Bila guru- guru dan dosen hanya memberi teori di sekolah dan universitas maka cobalah sempurnakan melalui pengalaman hidup, bertukar fikiran dengan oang- orang sukses dari universitas kehidupan. Mereka adalah seperti pemilik rumah makan, pengumpul komoditas ekspor, pengusaha rice milling, kyai atau ulama bear dan- lain lain. Kemudian renungankan mengapa dan bagaimana mereka bisa jadi sukses.

30. Bagaimana Kalau Tidak Lulus Di Perguruan Tinggi

Bagaimana lagi kalau tidak lulus di perguruan tinggi? Per­tanyaan begitu banyak kita dengar dimana dan dari siapa saja. Ada yang menjawabnya dengan serius dan ada pula menanggapi dengan bergurau. Remaja umumnya gemar ber­gurau dan ada yang menjawab “wah saya kawin saja dengan orang kaya”. Banyak lagi jawaban lucu yang membuat kita terpingkal untuk mendengarnya.

Secara berseloroh kita pun dapat membuat kelompok-kelompok kemungkinan yang akan dilakukan oleh para lulusan SLTA, yakni kuliah di perguruan tinggi, mencari pekerjaan dan kalau tidak, segera berumah tangga. Ini banyak terjadi apalagi bagi sekolah-sekolah SLTA yang berdomisili di daerah. Jangan tamat sekolah saja malah tiga hari menjelang ujian akhir sudah banyak yang tarik diri dari status pelajar secara terpaksa atau sukarela. Terpaksa karena telah meng­alami “dulu bajak dari pada kerbau”.

Tetapi bagi yang masih suka berfikir, tunggu dulu. Sebab persoalan perkawinan sekarang tidak semudah pada zaman Siti Nurbaya lagi. Dari sudut ekonomi saja bahwa sekarang kalau mendirikan rumah tangga saja musti memiliki tiang ekonomi yang agak kokoh. Kaum remaja sekarang sedikit salah kaprah, mereka beranggapan bahwa cintalah diatas segalanya. Pada hal kalau perut sedang lapar, kalimat “I love you” tidak akan pernah membuat perut kenyang.

Lagi pula remaja sekarang dalam soal cinta tidak bersifat logika, tetapi semua banyak bersifat emosional dan ber­andai-andai. Tetapi setelah biduk rumah tangga didayung maka empat atau lima bulan sudah oleng. Pokoknya Ulah ingin mendirikan rumah tangga maka, terutama pihak pria, mesti lebih matang dari wanita. Ya matang dalam soal ekonomi, sosial, jiwa, emosional, agama dan sosial biologis tentu sudah lebih duluan matangnya.

Sekarang kita musti berfikir lebih realistis. Apalagi persaing­an hidup sekarang amat ketat. Siapa yang bodoh dan malas tentu akan menjadi penonton dan tertinggal jauh. Kita lihat jumlah manusia sekarang sema­kin ramai dan jumlah luas permukaan bumi tetap saja. Sehingga sekarang orang, saling berebut. Hubungan darah tidak lagi terasa, mamak sendiri bisa menjadi musuh kemena­kan, anak bisa makin durhaka dan melupakan orang tua. Po­koknya sekarang sifat sosial dilupakan pelan-pelan dan di­gantikan oleh sifat individu yang egois. Untuk dapat ber­tahan hidup setiap orang tentu mesti memiliki kekuatan. Dan sekarang terlihat bahwa uanglah yang dianggap orang lebih kuat.

Pokoknya dengan uang orang bisa mendapatkan apa saja. Cinta pun bisa dibeli dengan uang. Tetapi bagi kita nilai uang janganlah sebagai tujuan agar kita tidak khilaf dalam hidup. Pegangan hidup kita tentu tetap agama.

Kalau tidak berhasil melanjutkan studi di perguruan tinggi banyak pemuda melirik usaha kerja. Dalam bekerja mereka ada yang menjual jasa otak dan menjual jasa otot. Terasa oleh kita bahwa nilai jasa otak jauh lebih tinggi, dari jasa otot.

Ingin tahu bagaimana nilai jasa otot? Pergilah ke terminal atau ke pelabuhan. Kasihan kita bukan. Dan kerja seperti ini juga bagus, tetapi yang berkem­bang cuma otot saja sedang otak cenderung statis. Kalau kita tidak ingin bekerja dengan menjual tenaga maka kita harus me­ngembangkan pikiran.

Banyak juga remaja yang tidak berhasil duduk di perguruan tinggi melirik jalur pendidikan lain. Sekarang yang lagi trendi adalah ikut kursus bahasa Inggeris atau kursus komputer. Dan tentu masih banyak bentuk-bentuk kursus lain yang bermanfaat. Sayang remaja banyak yang tidak me­ngetahui jenis kursus yang cocok bagi dirinya. Misalnya ada seorang remaja pria ia terbiasa hidup urakan dan ia memilih kursus komputer. Ter­nyata setelah di coba satu atau dua bulan kursus ini terasa membosankan. Penyebabnya adalah karena ia tidak terbiasa untuk melatih otak. Maka se­telah ikut kursus komputer ia merasakan otaknya tumpul. Maka kita sarankan agar setiap remaja atau yang ingin meng­ikuti kursus sebaiknya disaran­kan agar setiap remaja atau yang ingin mengikuti kursus sebaiknya disesuaikan dengan kondisi pribadi.

Kalau kita memiliki otak sedikit tumpul tetapi badan dan pangkal lengan terasa besar maka cocoknya kita ambil saja kursus montir atau keterampilan kayu. Kalau kita berbakat dalam hal verbal atau berkata-kata mungkin cocok kita ambil kursus bahasa atau pelayanan jasa yang berhubungan dengan orang banyak. Tetapi sebetul­nya untuk kursus bukan hanya terbatas pada komputer dan bahasa Inggeris saja seperti yang latah dibaca oleh orang-orang muda sekarang. Kursus lain-lain yang lebih menjanji­kan prospek bagus cukup ba­nyak karena memang dibutuh­kan oleh konsumen. Ia adalah seperti kursus menjahit, ber­tukang, memasak, elektronika, bengkel dan kursus keterampil­an lainnya.

Tidak terhitung banyaknya lulusan SLTA yang meninggal­kan kampung halaman. Mereka banyak melirik kota-kota di pulau Jawa, Medan, Palembang dan lain-lain. Malah Batam juga termasuk daerah yang mereka lirik. Mereka banyak yang ikut famili, ikut teman dan dibawa oleh orang-orang lain. Ini bagus, tetapi kita musti tetap menjaga pribadi kita. Janganlah demi mendapatkan sesuap nasi untuk pagi dan petang kita korbankan akidah kita, dimana halal dan haram sama saja. Kalau akan luntur kiranya pribadi kita tentu mendingan kita tetap tinggal di kampung dan berwiraswasta disana.

Walaupun penduduk Indo­nesia sudah hampir 200 juta jiwa. Namun buminya masih luas. Toh kalau kita berada di kota memang terasa sempit dan susah. Di kota memang serba mahal dan serba dibeli. Air minum dan masuk toilet saja kita membayar, jangan-jangan sebentar lagi bernafas juga kita membayar. Kalau kita berada di daerah semuanya terasa masih lapang. Apalagi, alam kita sangat subuh. Air berlimpah dan buminya hijau sebagai pertanda kesuburan.

Untuk itu bila kita tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, maka me­ngapa kita harus frustrasi dan menganggur? Banyak hal-hal positif dapat kita lakukan pekerjaan lama sampai se­karang masih ada yang bertahan dan tidaklah tercela dan hina kalau kita juga melakukannya. Pekerjaan itu adalah seperti membuka usaha bertani, ber­kebun, perikanan, peternakan, pertukangan dan lain-lain se­bagainya. Tentu dalam melaku­kan usaha ini kita mesti me­ningkatkan tekhnik dan mena­jemen, atau pengelolaannya. Malah kita lihat banyak orang-orang sekeliling yang berhasil dalam mengolah pekerjaan da­sar ini. Cobalah lihat di daerah-daerah ada orang yang berhasil dalam usaha membuka peng­gilingan padi, membuka kios, bengkel dan membuat usaha makanan ringan untuk dipasar­kan di kota.

Usaha-usaha yang semula kita anggap remeh tetapi kenapa ada orang yang berhasil dalam usaha itu? Lihatlah ada orang yang sukses dalam usaha ternak ayam, usaha penggemukan sapi dan malah juga menyerap te­naga sarjana sementara yang mempunyai usaha sendiri sekolah dasar pun tidak tamat Tetapi ia berhasil karena belajar dari alam. Tetapi kenapa kita tidak meniru langkah-langkah me­reka?

Orang-orang kita kalau ingin membuka usaha selalu mencari alasan yang “tidak bisa”. Sering modal sebagai alasan dan akhir­nya mereka tetap asyik menghayal di sudut kamar dan pergi ke kedai untuk menghempaskan batu domino dan membeli secangkir kopi. Pada hal ini pada dasarnya adalah mem­buang-buang waktu.

Pada mulanya orang banyak enggan untuk bekerja sendiri. Secara psikologis ini memang ada benarnya. Orang cenderung merasa suntuk dan lesu kalau tidak ada teman. Maka untuk ini ada pula baiknya bagi kita untuk mencari teman. Kita carilah teman, tetapi yang dicari adalah teman yang tetap punya semangat hidup. Kita tidak berguna kalau terlalu sering bergaul dengan orang pemalas dan merasa pesimis melulu. Semangat itu ibarat virus karena ia bisa menular. Kita musti selalu waspada agar jangan virus malas teman yang pemalas menjangkiti kita. Kalau kita ingin sukses dalam hidup silahkan bergaul dengan orang yang bersemangat agar virus optimis mereka juga menulari kita.

Jadi sekarang jelaslah bagi kita, bahwa kalau kita tidak berhasil untuk studi di per­guruan tinggi kita tak perlu bersedih hati. Masih banyak hal-hal positif yang dapat kita lakukan. Kita dapat mengikuti kursus, menambah keterampilan, meluaskan wawasan sam­bil menunggu kesempatan tahun depan.

31. Ekstra Kurikuler Berorientasi Pada Dunia Kerja

Agaknya angka pengangguran setiap tahun bukan semakin berkurang tetapi malah sebaliknya, semakin meningkat dan bertambah parah. Mengapa sampai tinggi tingkat pengangguran untuk negeri seperti Indo­nesia yang begitu hijau dan subur? Sementara itu untuk negara maju profesi seperti tukang cat, bertani, beter­nak, berkebun dan lain-lain adalah profesi yang cukup banyak dilakukan oleh generasi muda. Sementara itu di negara kita profesi ini dianggap­ “begitu rendah” sehingga mereka cenderung mengabaikannya dan tidak ­merasa malu untuk menganggur, untuk sebagian orang atau pergi merantau tanpa arah dan tujuan yang jelas.

Jiwa menganggur bisa jadi timbul dari etos kerja yang sangat tipis. Hidup tanpa etos kerja barangkali telah dita­namkan oleh lingkungan. Lingkungan rumah, lingkungan sosial dan lingkungan sekolah yang kurang memperhatikan gambaran dunia kerja.

Begitu kuat pengaruh kata-kata yang, dilontarkan oleh orang tua dan famili di rumah terhadap generasi muda. “Oh itu pekerjaan kasar; tidak cocok untuk anak sekolah’ “Kemudahan apa yang terjadi adalah mereka bangkit dengan watak suka gengsi-gengsian dalam menyentuh pekerjaan. Otak yang tidak menyokong, wawasan vans sempit dan mental yang lemah telah ikut mensuburkan mereka ke dalam angka pengangguran. Tampak, jelas bahwa pengangguran dapat juga disebabkan oleh faktor lingkungan rumah dan ketidaksiapan orang tua untuk memperkenalkan serta mewarisi generasi muda terhadap pekerjaan.

Lingkungan sosial tak sedikit mempengaruhi mental menganggur. Kawan-kawan yang terlalu dibuai oleh hiburan yang berlimpah dan iklan-iklan yang banyak menyerukan untuk pemanjaan kulit telah mempengaruhi jiwa generasi muda dan kemudian membiusnya. Semangat adalah ibarat virus karena bisa menulari kita, maka sangat arif kalau kita senantiasa kalau tidak bisa mengatasinya untuk menghindari orang-orang yang suka mematahkan semangat kerja.

Sebagian lain dari melempemnya etos kerja bisa jadi karena pengaruh sekolah. Walau sekolah telah dibagi atas sekolah umum dan sekolah kejuruan, tetapi agaknya sekolah-sekolah itu lebih memperhatikan pembinaan aspek cognitif atau intelektual dan cenderung mengabaikan aspek psikomotorik clan faktor efektif.

Sekolah kejuruan saja, misalnya yang telah melatih dan mengasuh siswa-siswa dalam aspek cognitif dalam psikomotorik atau keterampilan masih banyak melahirkan lulusan yang “demam mengang­gur”. Penyebabnya adalah pada faktor efektif atau mentalitas kerja. Apalagi kalau kita tinjau pula keberadaan sekolah lanjutan untuk yang diper­siapkan untuk ke perguruan tinggi. Tetapi faktor finansial atau kantong orang tua yang tipis dan kualitas otak sangat sederhana telah menciptakan para lulusannya menjadi korban pe­ngangguran. Melihat kenyataan ini tentu sangat menarik kalau kita soroti keberadaan sekolah menuntut program pendidikan yang ada.

Tentang kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Sampai sekarang kegiatan ekstrakurikuler pada banyak sekolah, terlihat hanya bersifat main-main saja dan belum dirancang secara khusus untuk menghadapi tantangan masa depan. Kegiatan ekstrakurikuler yang umum diikuti oleh banyak siswa sekarang adalah seperti kegiatan olah raga, pramuka, pencinta alam dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan itupun cende­rung bersifat angin-anginan. Kemudian bentuk kegiatan ekstrakurikuler lain yang juga banyak diikuti oleh siswa-siswa adalah dalam bentuk kursus bahasa Inggeris dan kursus komputer. Kemudian bagaimana hasilnya? Karena kebanyakan kita, dan juga anak-anak didik memiliki semangat belajar rendah dan tidak disiplin membuat mereka serius suka putus ditengah jalan. Serine terlihat peserta kursus-kursus seperti “ekor tikus” makin ke ujung makin habis.

Secara formal kegiatan ekstrak kuri­kuler di sekolah dapat dituangkan lewat program kegiatan OSIS. Bentuk prog­ram yang dapat diterapkan oleh OSIS terlihat ada dalam bentuk delapan seksi. Seksi-seksinya adalah seperti: Ketaq­waan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan pendahuluan bela negara. Kepribadian dan budi pekerti luhur organisasi politik dan kepemimpinan. Keterampilan dan kewiraswastaan, persepsi dan kreasi seni dan seksi kesegaran jasmani dan daya kreasi.

Untuk kelancaran pelaksanaan ke­giatan OSIS ini tiap tahun, maka setiap sekolah menandakan rapat OSIS untuk memilih seksi pelaksana dari unsur siswa dan seksi pembimbing dari unsur guru. Tetapi bagaimana dalam realita­nya? Pelaksanaan kegiatan OSIS, ke­cuali sebagian saja, ternyata sering bersifat “omong kosong” dan selalu bersifat teori di atas kertas meski SK­-SK atas nama pembina OSIS itu sendiri dapat dimanfaatkan oleh guru-guru sebagai modal untuk pangkat. Maka jadilah mutu ekstrakurikuler OSIS; kebanyakan; tidak pernah bergenjot naik.

Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa sekolah-sekolah untuk tingkat SLTA, secara umum, telah diklasifikasikan ke dalam sekolah umum (SMU) dan sekolah kejuruan. Namun bukan berarti bahwa SMU yang diper­siapkan untuk pendidikan ke perguruan tinggi dan jumlah SMU juga mayoritas membuat para lulusannya dapat me­langkah lulus. Faktor intelektual dart keuangan Yang macet sering menyan­dung para lulusan SMU untuk melangkah ke perguruan tinggi. Kemudian bagaimana kesudahannya?

Memang faktor intelektual dan ke­uangan yang tinggi menguntungkan tetap menjadikan studi di perguruan tinggi sebagai impian panjang bagi sebagian lulusan. Kemudian karena orang tua dan lingkungan tidak mewarisi semangat untuk hidup berwiraswasta membuat mereka kebingungan. Sifat gengsi-gensian dalam mencari dan melakukan kerja membuat mereka se­makin terpuruk ke dalam bentuk pengangguran. Begitu pula sekolah-sekolah yang mereka tempuh, paling kurang lewat kegiatan ekstrakurikuler, tidak pernah memperkenalkan jenis-jenis pekerjaan dan keterampilan yang ber­manfaat bagi mereka untuk menuju dunia kerja yang nyata.

Cukup banyak orang yang menyadari bahwa sekolah sebenarnya bukanlah satu-satunya tempat persiapan profesional (atau kerja). Untuk beberapa hal misalnya kemahiran membaca not balok, menjadi pelari cepat, melukis dan membuat boneka, bagi seseorang bisa mempersiapkan dirinya di tempat lain. Itu pun kalau mereka cukup bakat. Sedangkan yang perlu disiapkan di sekolah. Mungkin, bagai­mana cara menumbuhkan apresiasi dan memotiviasi siswa, generasi muda, untuk mencari kerja.

Yang kerap kali terjadi di dunia sekolah bukanlah demikian. Pengajaran seni/keterampilan, misalnya, pada prakteknya hanya berupa pengajaran istilah-istilah saja. Pengajaran olahraga belum begitu mendarah daging, karena cukup banyak siswa yang tidak mela­kukan olah raga secara rutin di rumah. Pengajaran fisika yang pelajaran ekstra lain belum mampu menggugah sikap bertanya siswa tentang alam. Karena dalam memberikan ulangan yang penting adalah bagaimana penguasaan “hafalan” rumus-rumus.

Sebenarnya kegiatan ekstrakurikuler yang sering dilaksanakan di sekolah cukup bermanfaat. Tetapi manfaatnya belum dirasakan oleh banyak siswa. Kita ambil program belajar tambahan sebagai contoh. Prog­ram hanya cocok untuk siswa yang memiliki kapasitas intelektual yang mantap dan motivasi yang tinggi. Sementara anak didik lain yang tidak mempunyai minat karena tidak akan melanjutkan studi misalnya, akan mera­sa terpaksa dalam mengikuti program ini. Barangkali bagi mereka ada pula bentuk program ekstrakurikuler yang cocok dan mereka minati yang perlu dipikirkan.

Untuk meningkatkan kwalitas pen­didikan sangat baik kalau kita juga melakukan cermin diri. Tidak perlu kita mengunjungi negara maju lain. Untuk bercermin diri terhadap pendidikan di negara maju dapat dilakukan lewat berbagai media massa. Ambillah pen­didikan di Inggris sebagai contoh.

Di Inggris, seorang remaja di kampung mengikuti pelajaran di sekolah (karena jalan belajar lebih lama) akan mengambil les pelajaran tertentu pada malam hari pada berbagai kursus. Bisa jadi itu mereka lakukan sekedar memperkaya hobi saja dan untuk mencari teman. Tetapi yang penting adalah mereka perlu mengenal jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler yang mana bisa mem­perkaya pengalaman. Agar kelak bila dewasa setelah lulus sekolah mereka tidak canggung dan tidak mengenal konsep menganggur.

Mengikuti ekstrakurikuler yang tepat dan hidup dengan cara menghargai waktu akan memberikan dampak posi­tif. Anak didik atau remaja dan akan dapat memiliki watak lebih dewasa dan lebih percaya kepada diri sendiri. Sehingga bila mereka berbicara akan teratur sekali, cara berfikir cemerlang dan mudah diikuti.

Sikap kebanyakan siswa dan juga kita sendiri, karena memiliki waktu yang banyak tetapi kekurangan aktivitas cenderung suka “kongkow” seenaknya. meskipun pada hari atau jam kerja. Jauh berbeda dengan sikap hidup orang di negara maju. Misalnya orang disana tidak bisa bertandang seenaknya ke rumah orang lain. Pada umumnya anak didik belajar dengan serius. Kemudian pulang ke rumah dan istirahat sebentar dan sibuk lagi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah.

Kebalikannya. siswa-siswa di seko­lah kita malah cenderung pasif. Mereka mengeluh kalau diberi pekerjaan rumah apalagi kalau agak banyak nampaknya karena sikap hidup yang santai dan suka bermain-main sepanjang waktu. Mereka memang sebagian lebih tertarik untuk menikmati hiburan yang jumlah berlimpah dan hura-hura.

Kita melihat pembengkakan angka pengangguran termasuk melihat kesa­lahan disana sini maka kita patut berfikir lebih keras. Khusus terhadap angka pengangguran agaknya pihak sekolah clan pihak-pihak yang merasa berkompeten seharusnya juga ikut prihatin memikirkan dan mencarikan suatu jalan keluar. Kini yang perlu kita pikirkan adalah bahwa sangat tepat memberikan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang berorientasi kepada dunia kerja.

32. Memuluskan Komunikasi Atas Bawah Di Sekolah

Tak sedikit mass media menyuarakan tentang jeleknya mutu pendidikan pada masa-masa yang telah lalu. Penurunan mutu pendidikan ini sebagian tersandung karena buruknya komunikasi atas bawah. Yaitu komunikasi antara murid dan guru dan komunikasi antara guru-guru dengan pihak atasan.

Ada beberapa isyarat di sekolah yang menunjukkan bahwa komunikasi lagi tersandung. Apakah di dinding WC dan bagian dinding sekolah lain banyak coret-coretan, waktu bukan karena aksi vandalisme, tetapi sebagai sarana pelampiasan rasa tidak puas.

Suatu ketika kita melihat coretan yang ditulis siswa yang lagi memprotes kepala sekolah atau salah seorang guru bidang studi yang kurang bersahabat dengannya. Parahnya lagi kala siswa itu memiliki karakter mental yang labil dan tidak mampu mengekspresikan dalam bahasa lisan secara jantan, memilih cara sembunyi-sembunyi untuk menuliskan kata-kata jorok sebagai ungkapan rasa protes.

Tingginya tingkat absensi guru-guru adalah isyarat jeleknya komunikasi antara guru dengan pihak atasan. Begitu pula terhadap siswa-siswa. Walaupun dari rumah terlihat menuju sekolah, tetapi kemudian menyimpang entah kemana, juga merupakan dari jeleknya komunikasi antara guru dan murid di kelas.

Komunikasi yang ideal adalah komunikasi yang dua arah, atau two ways communication. Tetapi yang lazim terlihat dan teraplikasikan adalah komunikasi satu arah dan datanya selalu di atas.

Di kelas, dalam proses belajar mengajar, lebih ditekankan sistem belajar “student-centered” dan “communicative approach”. Pelaksana penekanan kedua sistem ini amat menyokong teraplikasinya komunikasi sistem dua arah, dari guru ke murid dan dari murid ke guru. Tetapi sayang penekanan kedua sistem ini belum memasyarakat di sekolah-sekolah. Yang masih sering teraplikasikan adalah sistem “teacher-centered’ dan “non communicative approach”.

Suasana umum yang terlihat pada hampir banyak sekolah adalah aktivitas belajar mengajar yang berfokus kepada guru. Dimana guru lebih kerap memilih metoda berceramah di depan murid-murid yang terpaksa tenang. Kalaupun ada guru yang memilih metoda belajar mengajar dan menyajikan pelajaran dengan menggunakan media-media sederhana di papan tulis, karena baru saja selesai melakukan penataran pendidikan. Tetapi kerap kali cara mengajar yang begini hanya bertahan untuk sesaat saja dan setelah itu kembali menggunakan metoda mengajar asal jadi saja.

Komunikasi satu arah, dari guru ke murid, kerap kali membuat murid serba pasif. Apa saja yang diperbuat dan diperintahkan oleh guru adalah mutlak dan harus diterima oleh murid. Sebetulnya ada juga murid yang ingin berpartisipasi aktif dalam berkomunikasi. Tetapi ia khawatir kalau guru salah paham. Pada akhirnya adalah berdampak pada gertakan pengurangan nilai rapor.

Kadang kalau guru ada yang aneh. Kalau dalam kegiatan belajar mengajarnya tidak ada murid yang mampu bertanya atau menjawab, maka ia akan marah. Tetapi kalau ada murid yang bertanya atau mengungkapkan protes, sebagai tanda bahwa murid itu juga kritis, maka guru tertentu akan marah. Barangkali dimatanya adalah bahwa murid yang baik adalah murid yang tidak banyak cerita dan kalau diminta musti menurut.

Komunikasi satu arah dalam kelas menunjukkan bahwa hak murid untuk berbicara masih terbelenggu. Memang cukup banyak murid yang suka bicara balik belakang sebagai isyarat bahwa komunikasi dari arus bawah, dari murid ke guru, masih macet. Ada seorang murid tercatat sebagai penerima beasiswa, misalnya, tetapi setelah belajar dua atau tiga bulan beasiswa itu belum juga cair. Rasa takut membuat ia tetap tersandung dalam mewujudkan komunikasi dari arah bawah. Khawatir akan berantakan atau jawaban yang mengecewakan dari guru tetap menyebabkan rasa takut dan khawatir yang dirasakan oleh murid.

Guru, meskipun di dalam kelas dapat berceloteh tetapi dalam berkomunikasi dengan pihak atasan juga sering tersandung. Akibatnya banyak mereka suka bicara belakangan dan melakukan perbuatan apa yang dia suka meski merugikan murid sebagai ungkapan protes atas ketidakpuasan.

Seringkali seorang guru banyak mempunyai ide-ide dan unek-unek lain yang ingin disampaikan kepada pihak atasan. Tetapi begitu rapat telah berlangsung ia tak mampu lagi mengutarakan segala ide dan unek-unek dalam kepala tak mampu meluncur keluar. Rasa percaya diri kurang, tidak terlatih untuk berbicara dalam forum dan beban psikologis lain selalu menjadi batu penyandung dalam berkomunikasi. Sehingga tetap saja komunikasi dua arah gagal untuk terwujud. Ditambah lagi dengan sikap pihak atasan yang selalu suka menjaga jarak, barang kali ingin menjaga harga diri atau wibawa mungkin.

Banyak hal-hal yang tetap menyebabkan kita gagal dalam menyalurkan ekspresi dalam komunikasi dua arah. Penyebab utama adalah karena kita tidak terlatih sejak kecil dalam keluarga. Ini semua bisa jadi akibat kesibukan orang tua dalam mencari nafkah dan tidak tahu cara untuk melowongkan waktu untuk mendidik kita sebagai generasi penerus mereka. Atau kalaupun ada waktu mereka tidak memiliki ilmu cara mengembangkan pribadi kita untuk berkomunikasi. Ini disebabkan rendahnya pendidikan rata-rata orang tua kita.

Umumnya kita dapat mengungkapkan pikiran dalam bentuk komunikasi dua arah adalah dalam suasana informal diluar kegiatan proses belajar mengajar bagi guru dan murid. Dalam suasana santai, pada waktu senggang, bagi komunikasi guru dengan pihak atasannya. Tapi sayang sering diluar kegiatan belajar mengajar, begitu proses belajar mengajar usai, guru walau tidak semua buru-buru meninggalkan ruangan kelas dan tidak menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan murid walau hanya sepatah-dua patah kata. Begitu pula bagi pihak atasan sekolah, walau tidak semuanya, pada waktu senggang mengurung diri di ruangannya. Atau kalau punya waktu untuk berkumpul dengan rekan-rekan guru lebih sering bersikap sebagai mandor yang akan mengawasi para pekerja. Dalam arti kata berpenampilan angker dan mahal senyum, datang cuma mencek “kenapa anda mengajar begini dan kenapa tidak begitu”. Atau datang cuma untuk memberikan anjuran demi anjuran seperti : tingkatkanlah disiplin, cobalah anda tingkatkan NEM bidang studi anda, buatlah satuan pelajaran dan lain-lain. Itu Cuma kalimat yang disampaikan dalam komunikasi satu arah, dari atas ke bawah, yang isinya Cuma seputar “anjuran dan larangan semata”. Setelah itu ia kembali menyelinap kedalam ruangan kantornya sebagai menara gadingnya.

Ada anggapan bahwa untuk tetap berwibawa maka seorang guru harus menjaga jarak terhadap murid dan seorang atasan membuat jarak sosial terhadap guru-guru. Menjaga jarak dalam makna yang sempit dan makna kata “berwibawa” yang lebih picik telah mewarnai bentuk interaksi dan komunikasi kita.

Malah ada orang yang beranggapan bahwa ia telah beranggapan bahwa ia telah mengaplikasikan prinsip penampilan berwibawa dengan cara berbusana rapi, mahal senyum dan dengan gerak dan cara berbicara yang dibuat-buat. Namun dampaknya orang malah merasa risih apabila berdampingan dengan orang seperti itu. Namun bila telah saling berpisah terasa adanya kelapangan dan kebebasan. Ibarat seorang anak yang berdampingan seorang ayah yang otoriter atau diktator yang menganggap pribadinya sebagai ayah yang berwibawa. Dimana anak merasa bebas kalau tanpa ada ayah disampingnya.

Kewibawaan bukan ditentukan oleh ukuran fisik guru atau seorang. Bersikap dan berbicara yang dibuat-buat tidak akan mendatangkan arti wibawa yang sesungguhnya. Wibawa lebih ditentukan oleh isi kepala, isi data dan sikap seseorang. Tidak salah kalau kita membuka diri kepada murid dan sekali-kali bercanda dengan mereka. Tetapi bila kita terlalu suka bercanda bebas dan berlebihan tentu tidak ada lagi batas-batas dan akan membuat wibawa hancur. Begitu pula bila kita mengabaikan cara berpakaian dan cara berbicara, tentu wibawa bisa lebur.

Sekarang tampaknya usaha pemerintah dan kita semua dalam meningkatkan sumber daya manusia di sekolah terlihat semakin serius. Kalau tidak buat apa gunanya diadakan sekolah unggul atau kelas unggul segala.

Namun usaha-usaha kita dalam peningkatan mutu tentu tidak tercapai secara sempurna kalau komunikasi tidak pernah dimuluskan. Dan yang kita maksudkan adalah memuluskan komunikasi dua arah.

Kebiasaan mengkritik atau berbicara balik belakang menandai adanya komunikasi internal, komunikasi dua arah yang tersumbat. Ini tentu saja karena komunikasi terlalu bersifat searah, alias hanya dari pihak atasan kepada guru-guru dan dari guru-guru kepada murid-murid.

Jika komunikasi internal tak segera dibenahi dan kepentingan kedua pihak tidak dipertemukan maka konflik demi konflik akan merusak hasil-hasil usaha yang telah kita lakukan. Maka salah satu usaha yang dapat kita melakukan untuk memuluskan komunikasi atas bawah di sekolah adalah dengan cara membudayakan komunikasi intensif.

Forum informal, mengadakan dialog-dialog ringan pada saat guru dengan murid, adalah cara efektif untuk membudayakan komunikasi intensif. Forum informal itu penting untuk menangkap aspirasi dari arus bawah. Tidak semua hal bisa terungkap dan digali lewat komunikasi formal.

33. Sekolah Unggul Perlu Membudayakan Gemar Membaca

Akhir-akhir ini ada ide un­tuk menyelenggarakan, sekolah unggul. Tentu ini amal mem­banggakan kita semua, sebab selama ini seolah-olah orang kita, cuma tenggelam dalam kri­tik-mengkritik saja. Halaman surat kabar clan media lain banyak menceritakan tentang kualitas dunia pendidikan yang rendah. Kemudian pemikir pen­didikan mengadakan usaha tam­bal sulam dan sedikit perubah­an-perubahan dimana pada akhirnya tetap menunjukkan kualitas yang tidak beranjak.

Kata orang tua-tua, karena mudahnya untuk bersekolah sekarang membuat orang ada yang memandang enteng saja dunia pendidikan. Tingkat ke­benaran pernyataan ini tentu tergantung kepada persepsi kita masing-masing. Yang jelas dalam pandangan kita tetap ada murid yang semangat belajar tinggi tetapi banyak pula mere­ka yang memandang sekolah ini sebagai main-main saja. Agak­nya setiap kita pernah mendengar guyon-guyon lucu yang mereka katakan: Sekolah itu pergaulan, SPP sumbangan dan buku rapor undangan.

Sebelum istilah sekolah unggul muncul dalam surat kabar, dulu telah ada pula istilah seko­lah plus. Untuk SMA bernama SMA PLUS. Bisa jadi bahwa sekolah plus itu lah yang dike­nal dengan istilah sekolah ung­gul clan ini telah berdiri di Indo­nesia. Dimana sebagai contoh dan patokan pula bagi daerah-daerah lain yang berminat mengikutinya.

Arti “Plus” atau “unggul” adalah menunjukkan jaminan mutu. Sebab kita mengharapkan sekolah-sekolah unggul dapat mengeluarkan lulusan yang ber­mutu. Ada dua sekolah yang menyelenggarakan sekolah unggul di Indonesia, yaitu SMA Taruna Nusantara Magelang dan SMA Soposurung. Tentu akan dan telah bermunculan pula ditempat-tempat lain.

SMA Taruna Nusantara, yang didirikan tahun 1990 di Ma­gelang, merupakan SMA Plus (unggul) swasta murni yang ber­diri alas kerja sama 'MABES ABRI dan perguruan Taman Siswa. SMA Soposurung, di Sumatera Utara, dimulai tahun 1991, menggunakan model ker­ja sama pemerintah dan swasta. Pemerintah menyediakan SMA Negeri 3 Soposurung, sementara yayasan Soposurung mem­bangun asrama; menyediakan bea siswa clan membiayai pen­didikan ekstrakurikuler.

Keunggulan SMA-SMA di­atas, nilainya, ada pada asrama yang tidak hanya sebagai tempat menginap. Asrama untuk seko­lah ini dilengkapi dengan fasili­tas penunjang clan bimbingan bagi siswa di luar jam pelajar­an. Artinya pendidikan yang diberikan boleh dikatakan terin­tegrasi antara pendidikan di kelas dan pendidikan mental disiplin asrama.

Belajar dan tinggal di sekolah unggul semua serba diatur. Saat baru bangun tidur, pukul lima pagi, siswa-siswa langsung di­giring untuk senam pagi. Lalu ada bimbingan rohani sebelum makan pagi dan berangkat seko­lah. Seusai sekolah ada berbagai kegiatan dari olah raga, berdiskusi sampai pada cera­mah ilmiah. Demikian kata salah seorang siswa SMA Ta­runa Nusantara asal Sumatera Barat.

Tahun lalu beberapa provinsi juga akan membuka beberapa sekolah unggul, SMA Plus, yang semuanya mengacu pada model SMA Taruna Magelang atau SMA Soposurung Suma­tera Utara. Begitu pula halnya dengan provinsi ini, Sumatera Barat, di mata jajaran Depdik­bud telah menyelenggarakan rapat-rapat kerja tentang penyelenggaraan sekolah unggul.

Agaknya menarik juga meng­ikuti tulisan Naswardi dalam pojok komentar yang berbunyi “Padang perlu sekolah unggul” (Singgalang, 31 Januari 1995). Dalam tulisan itu dinyatakan tentang misi sekolah unggul yakni meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber­ daya manusia Indonesia sebagai subyek dan wahana untuk men­capai tujuan pembangunan na­sional.

Menurutnya bahwa sekolah unggul tidak semudah yang dibayangkan dan harus memili­ki tingkat fleksibilitas yang tinggi. Faktor yang menentukan dalam penyelenggaraan sekolah unggul adalah penerapan dan pengembangan kurikulum, dan proses belajar mengajar yang dapat memacu dan mewadahi integrasi antara pengembangan logika, kreatif dan estetika. Dis­amping pembenahan proses pengadaan, pengangkatan, pen­empatan dan pembinaan tenaga pendidik.

Kemudian, kepala sekolah menduduki peran yang amat penting dalam pengembangan dan mengelola seluruh sumber­ daya yang dapat mendukung keunggulan sistem sebuah sekolah unggul. Ia mempunyai kemam­puan manejerial yang tinggi dan pengalaman sebagai kepala sekolah minimal tiga tahun.

Guru yang selalu berhadapan dengan murid di sekolah me­nempati peranan kunci dalam mengelola kegiatan proses bela­jar mengajar. Pada jenjang Sekolah Dasar sebagai sekolah unggul yang dirintis akan menggunakan pendekatan sis­tem guru kelas. Sedangkan pada tingkat SMP dan SMA menggu­nakan sistem guru mata pelaja­ran. Keunggulan guru tidak ha­nya ditakar dari kemampuan in­telektualnya melainkan juga ke­unggulan aspek moral, keiman­an, ketaqwaan, disiplin, bertanggung jawab, keluasan wa­wasan kependidikannya dalam mengelola kegiatan proses bela­jar mengajar.

Rasanya untuk menyelengga­rakan sebuah sekolah unggul betul-betul memerlukan rencana dan persiapan yang matang dan komplit. Dan semua ini amat didukung oleh penyediaan dana yang besar. Sedangkan dalam meningkatkan kualitas dan kwantitas dunia pendidikan kita dana inilah yang selalu menjadi kendala. Bayangkan saja untuk anggaran pendidikan yang dise­diakan negara kita cuma sekian persen saja, belum apa-apa dengan jumlah anggaran militer dan sebagainya. Konon kabar­nya persentase anggaran pendi­dikan di negara kita terendah untuk tingkat negara ASEAN. Namun untuk kelancaran seko­lah-sekolah unggul, yang tadi disebutkan, tergantung banyak kepada sokongan swasta. Mengingat begitu banyaknya jumlah sekolah di negeri ini, tentu cuma segelintir saja jumlah keberadaan sekolah unggul ini. Kecuali nanti apabila kondisi negara kita amat mapan secara (pengadaan) materil dan spiritual. Bagaimana dengan ke­beradaan sekolah-sekolah lain, padahal memperoleh pendidi­kan yang berkualitas adalah ter­masuk hak mereka dan kita se­mua. Kalau begitu menyeleng­garakan sekolah unggul adalah juga sebuah hak yang harus dipikirkan dan diperhitungkan.

Untuk menjadi unggul (pin­tar) faktor tempat tidaklah selalu menentukan. Seseorang yang berada di pedalaman Irian Jaya dapat saja menjadi orang yang unggul atau berpikiran mo­deren kalau ia sanggup me­ngembangkan potensial diri dan otak adalah potensial utama kita. Begitu pula halnya dengan sekolah-sekolah, tetaplah disana ada tenaga potensial yang dapat dikembangkan. Selama ini ada sebuah potensial sekolah yang belum dimanfaatkan secara penuh yaitu “pustaka”.

Untuk menyelenggarakan se­kolah unggul tentu (kita) perlu membudayakan gemar mem­baca. Sebab tanpa gemar mem­baca sekolah unggul yang di­harapkan tentu cuma selalu be­rada dalam mimpi.

Menyelenggarakan sekolah unggul ala SMA Taruna Ma­gelang bagi sekolah-sekolah di daerah tentulah di luar kemam­puan karena biayanya amat ma­hal. Tetapi menyelenggarakan sekolah unggul dalam arti kata peningkatan mutu ini memerlu­kan kemauan kita dalam mem­belajarkan diri agar wawasan pendidikan dan intelektual kita meningkat.

Untuk ini usaha kita amat berhubungan dengan buku dari perpustakaan. Untuk itu ke­beradaan perpustakaan sekolah, sekali lagi, perlu dikembangkan agar budaya gemar membaca dapat terwujud.

Kalau kita perhatikan kegia­tan siswa di luar jam pelajaran di sekolah cuma hura-hura me­lulu dalam arti kata tidak sebe­rapa siswa yang melatih minat dengan keberadaan pustaka, ka­laupun ada pustaka di kebanya­kan sekolah cuma minim fasilitas dan terkunci melulu. Ini me­nunjukkan kondisi minat baca yang rendah. Padahal syarat untuk maju musti gemar mem­baca.

Kondisi minat baca yang ren­dah pada tingkat SD dan seko­lah menengah membawa penga­ruh pada tingkat selanjutnya. Tingkat dasar harus menjadi perhatian utama. Karena se­makin baik peranan di tingkat dasar ini akan semakin baik pula untuk tingkat selanjutnya. Kalau kita amati kebiasaan membaca yang rendah pada waktu sekolah dasar menyebab­kan kebiasaan membaca pada tingkat SLTP dan SLTA rendah pula. Pada akhirnya pada ting­kat perguruan tinggi demikian pula dimana mahasiswanya ba­nyak yang kasak kusuk dan ti­dak percaya diri. Menghadapi masa tentamen (ujian) dengan sistem sopir atau mengandalkan jimat ala anak SMA. Kelak dalam menyelesaikan skripsi dan tesis ban yak yang kelaba­kan terpaksa comot sana comot sini.

Minat baca yang rendah tentu saja dapat ditingkatkan. Dalam upaya ini penyediaan sarana amat penting di kalangan ge­nerasi muda. Membenahi pusta­ka dengan menyingkirkan tem­patkan buku-buku teks yang ti­dak terpakai dan menempatinya dengan bahan bacaan yang me­narik dan merangsang intelektu­al siswa amat bermanfaat. Su­dah sepatutnya pihak sekolah, dan jajaran pendidikan, untuk memikirkan melowongan waktu yang agak panjang agar siswa punya kesempatan untuk meni­kmati keberadaan pustaka. Ke­mudian memperkenalkan buku-buku yang bermanfaat kepada anak didik agar mereka dapat mengenal.

Sebab seperti kata-kata ro­mantis “tak kenal maka tak cin­ta”. Andai kata siswa-siswa (generasi muda) telah mengenal indahnya buku tentu kelak bu­daya membaca akan dapat ter­wujud. Kalau membaca telah membudaya tentu harga buku tidaklah menjadi persoalan bagi mereka, sebab bukankah untuk membeli sarana hiburan yang jauh lebih mahal mampu orang ­tua mereka memenuhinya.

Terakhir, kalau mereka telah membudayakan kebiasaan membaca tentu mereka nanti dapat menjadi siswa-siswa yang unggul yang selanjutnya akan menentukan keunggulan sekolah.

34. Menumbuhkan Budaya Gemar Belajar Dan Hidup Mandiri

“Alam takambang jadi guru” adalah sebuah falsafah hidup orang Minangkabau dan judul buku Almarhum A.A Navis sampai saat ini tetap tidak lapuk karena hujan dan lekang karena panas. Filsafat ini tetap bisa jadi pijakan hidup kita sebagai orang tua dalam kehidupan dalam masyarakat. Sekaligus filsafat ini mengajak kita untuk peka dan bercermin atas peristiwa-peristiwa yang ada di seputar hidup kita.

Sudah menjadi kecendrungan dari keluarga sekarang sekarang untuk memiliki jumlah anak yang lebih kecil daripada keluarga yang lebih senior usianya.Kita perlu untuk berterima kasih atas program KB yang sudah lama diluncurkan oleh pemerintah. Kalau begitu apakah anak-anak dari keluarga kecil hidup lebih beruntung dibandingkan dengan anak-anak dahulu dari keluarga besar (?). Dari segi pertumbuhan biologi bisa dijawab “ya” karena keluarga kecil bisa menyediakan kebutuhan bahan sandang dan pangan yang lebih baik. Tetapi dari segi pertumbuhan mental, emosional dan sosial ,pada sebagian keluarga kecil sekarang, perlu telaah lebih lanjut.

Dari pengalaman kita dapat melihat bahwa cukup banyak generasi muda sekarang yang hidup tanpa orientasi yang jelas, merasa masa depan mereka tidak pasti dan menjadi mudah frustasi. Kita juga dapat menemui banyak pemuda dan pemudi sekarang hidup kurang beruntung dibandingkan dengan orangtua mereka. Padahal tingkat pendidikan mereka rata-rata cenderung lebih tinggi. Tetapi mengapa mereka tampak tidak berdaya, cendrung santai, menganggur karena terbatasnya lowongan kerja yang sudah menjadi alasan klasik.

Kecendrungan kelurga dulu dengan anak banyak membuat mereka harus banting tulang untuk menghidupi dan mencukupi kebutuhan anggota keluarga yang jumlahnya lebih besar. Malah sebagai implikasi, kadang-kadang, anak-anak pun wajib bekerja untuk meringankan beban keluarga. Keluarga senior dengan jumlah anak yang agak banyak hampir-hampir tidak punya waktu untuk “mencikaraui”, ikut campur dalam urusan pribadi anak-anak mereka.

Kecendrungan anak-anak dari keluarga besar adalah mereka mengalami dan memiliki pertumbuhan sosial dan emosional yang lebih baik daripada sebagian anak-anak keluarga kecil. Mereka sejak usia dini sudah dilepas oleh ayah-ibu yang juga sibuk untuk mencari nafkah untuk ikut mengembara, melakukan eksplorasi atau penjelajahan, bersama kakak dan teman-teman mereka.

Sejak usia dini mereka sudah memiliki segudang pengalaman hidup lewat peristiwa demi peristiwa sosial. Suka duka pengalaman sosial dari dunia bermain yang mereka alami . Mereka telah belajar untuk mengenal langsung tentang peran hidup untuk beradaptasi, berakomodasi, menerima dan mengalah dan kadang-kadang harus berkompetisi.

Keluarga Junior dengan jumlah anak yang hanya rata-rata 2 orang sebagian cendrung bersifat terlalu posesif sehingga punya kesan banyak “serbanya” yaitu serba melarang, serba melarang, serba membantu anak dan lain-lain. Sehingga terkesan menjadi serba memanjakan anak dan serba membelenggu kebebasan untuk berkresi , berekspressi dan melakukan kreatifitas. Sikap possesif keluarga junior ini agaknya didorong oleh rasa khawatir yang berlebihan. Khawatir atau takut anak terjatuh dan cedera. Sehingga semua gerak-gerik anak selalu diawasi dan dicemasi. Hal ini membuat anak menjadi serba ditolong dan serba dilindungi. Akibatnya anak kurang aktif dan kreatif dan kurang melaksanakan ekplorasi dalam dunianya ini berarti anak akan miskin dengan pengalaman hidup.

Anak yang kekurangan pengalaman hidup karena telalu banyak dilindungi , ibarat telapak kaki yang terlalu banyak dilindungi oleh sepatu menjadi amat tipis dan susah melangkah diatas kerikil-kerikil. Hidup di dunia memang penuh dengan benturan-benturan kecil sampai dengan benturan-benturan besar sebagai kerikil kehidupan. Disini tidak ada kecendrungan kita untuk mengatakan bahwa keluarga senior atau keluarga dengan banyak anak jauh lebih baik. Namun disini tersirat sebuah penekanan bahwa orang tua dati keluarga kecil, sebagai keluarga berencana, perlu untuk menjadi arif dan lebih matang dalam mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Mereka perlu untuk selalu menimba ilmu dari buku dan pengalaman hidup, malah kalau perlu menimba pengalaman hidup, mendidik anak, dari keluarga senior tadi.

David J.Scwart (dalam bukunya The magic of thinking big; 1996) mengatakan bahwa lingkungan dan orang-orang di sekeliling kita adalah ibarat laboratorium kemanusiaan . Kita adalah sebagai ahli untuk labor tadi. Kita dapat mengamati dan menganalisa mengapa seseorang bisa punya banyak teman atau sedikit teman, berhasil atau gagal atau biasa-biasa saja. Kita pun kemudian dapat memilih tiga orang yang berhasil dan tiga orang yang gagal dan kemudian menganalisa dan membandingkan kenapa mereka bisa demikian. Hasil pengamatan dan penelitian tadi bisa menjadi pengalaman berharga bagi kita.

Sebagai orangtua, kita perlu bersikap arif dan bijaksana dalam mendidik dan memebesarkan anak. Kita harus punya konsep tentang bagaimana menjadi orangtua yang ideal bagi mereka termasuk dalam hal megurus dan mengarahkan pendidikan mereka.

Bagaimana orang tua menyikapi anak yang lulus dan mencari sekolah untuk pendidikan selanjutnya. Sebagai contoh, cukup banyak anak-anak lulusan dari SLTA yang tidak tahu hendak kemana pergi setelah itu. Kemana atau apa yang akan dilakukan setelah lulus dari SMA merupakan salah satu titik penting dalam kehidupan seseorang. Pada saat itulah tahap awal kedewasaan seseorang dimulai. Keputusan tentang langkah apa yang akan diambil memeberikan pengaruh besar terhadap kehidupan selanjutnya.

Penting untuk diingat bahwa setiap anak perlu memiliki suatu cita-cita atau tujuan spesifik yang menjadi arah dari apa yang ingin untuk dicapaianya. Namun dalam kenyataan adalah cukup banyak anak-anak ,lulusan SMA, yang kebingungan karena tidak punya cita-cita dan berfikir “harus mengapa setelah ini”.

Kebingungan bersumber dari kurangnya pengenalan minat dan kemampuan diri. Tentu saja ini akibat dari miskin atau kurangnya pengetahuan dan wawasan , kurangnya persiapan intelektual dan kurang mengenal pribadi sendiri. Kekurangan-kekurangan ini ,seperti yang telah dijelaskan, disebabkan oleh minimnya pengalaman ekplorasi dan jati diri. Penyebab lain adalah karena tidak terbiasa dengan budaya belajar dan hidup yang mandiri.

Tidak punya cita-cita dalam hidup dan kurang mengenal potensi diri adalah efek negatif dari kurang ekplorasi dan kurang punya jati diri. Untuk mengantisipasi yang demikian maka orangtua dan anak perlu untuk mengembankan dunia jelajahnya atau ekplorasi sejak dini. Setiap anak seharusnya punya banyak pengalaman, sesuai dengan konsep kepintaran berganda,punya pengalaman berteman dan berkomunikasi dengan banyak orang, banyak mengenal tempat lain, mengenal seni dan olah raga, memahami dan mengamalkan agama, berpengalaman dalam menguasai emosi sendiri dan lain-lain.

Anak-anak yang rajin diajak oleh orangtua ke berbagai tempat profesi seperti bank, universitas, pabrik, bandar udara, pusat pelatihan komputer dan lain-lain akan memiliki segudang cita-cita dibandingkan dengan anak anak yang banyak mengurung diri di seputar rumah saja.

Untuk membebaskan anak dari kebingungan dan tanpa cita-cita dalam hidup maka orangtua bertanggungjawab untuk menanamkam ,dan sekaligus memberi contoh tentang, budaya gemar belajar dan hidup mandiri sedini mungkin. Orangtua perlu untuk menyisihkan sedikit dana dan melowongkan waktu untuk keperluan belajar anak di rumah dan memberi contoh langsung tentang betapa pentingnya memebaca, belajar yang banyak dan pintar dalam membagi waktu dan pintar berkomunikasi dengan banyak orang. Selain itu orangtua perlu mendukung anak untuk mengembangkan hobi dan bersikap kreatif dalam hidup. Orangtua perlu memberi anak kebebasan untuk mencoba dan mengurangi sikap yang terlalu possesif dan over-protektif (terlalu melindungi) yang tercermin dalam sikap yang banyak serba membantu dan serba melarang anak. Di waktu lowong anak (dan orang tua) perlu untuk rekreasi yang lebih bersifat edukatif.

Anak-anak dengan pribadi yang berimbang antara intelektual, emosional dan spiritual serta kreatif dan mandiri adalah anak yang sangat kita harapkan. Untuk mewujudkan ini maka kita perlu untuk menanamkan budaya gemar belajar dan hidup mandiri dalam rumah tangga sejak dini.

35. Pornografi Masuk ke Sekolah Lewat HP dan Internet

Kosakata “pornografi” bukanlah kosakata baru. Semua orang sudah mengetahuinya. Anak- anak pra-remaja dan remaja pun sudah mengerti dengan maksud kata pornografi itu. sekarang kosa kata pornografi sudah melebar dan kita juga mendengar kosa kata “pornoaksi”.

Sampai detik ini orang tua di rumah dan guru di sekolah tetap menganggap tabu dengan perkataan dan perbuatan porno. Mereka tetap melarang keberadaan unsur- unsur pornografi dan pornoaksi mendekati anak- anak dan pelajar. Orangtua akan merasa tercoreng mukanya kalau salah satu anggota keluarga terlibat dalam budaya atau dampak pornoaksi, seperti ada anak gadis nya yang menerima tamu laki- laki sambil memakai rok mini pada malam minggu. Atau anak laki- laki nya jalan berpegang tangan dengan gadis lain, dan sampai kepada pelanggaran norma yang lebih berat lainnya.

Dalam pendidikan di rumah tangga, orangtua selalu menekankan pemberian pesan moral dan hukuman pada anggota keluarga agar tidak melakukan unsur- unsur porno- pornoaksi dan pornografi, seperti membuka aurat, menyimpan benda- benda porno- buku porno, majalah porno, vcd porno, dan lain- lain. Rasa ingin tahu, ajakan teman dan pengaruh budaya luarlah yang membuat benda- benda porno menyusup masuk ke dalam rumah secara sembunyi- sembunyi. Benda- benda tersebut adalah seperti majalah, kaset dan dokumen porno yang disimpan serta dirahasiakan oleh anak- anak remaja.

Sangat disayangkan apabila ada orangtua dan orang dewasa dari pihak keluarga yang pura- pura tidak peduli untuk mencegah hadirnya benda- benda porno dalam rumah. Atas nama demokrasi dan keindahan seni kemudian sudi untuk menyimpan dan memamerkan benda- benda porno dalam keluarga.

Sekolah sejak dari dulu tetap commit untuk mengharamkan benda- benda dan unsur- unsur porno hadir dalam lingkungan sekolah. Dahulu, sebelum teknologi dan informasi tidak begitu berkembang, guru-guru sudah melakukan tindakan anti atau kontra terhadap benda- benda dan unsur- unsur pornografi. Secara berkala mereka melakukan razia anti pornografi. Kejahatan siswa dalam hal pornografi pada mulanya adalah seperti menyimpan stensilan- atau tulisan cerita cabul yang diketik dan diperbanyak pada kertas stensil, komik dan novel porno sampai kepada foto- foto porno yang mereka peroleh lewat pedagang koran asongan di terminal bus atau lewat teman dan juga kaset video BF.

Selain itu, siswa remaja yang karena ingin tahu, menyimpan produk pornografi dan alat- alat kontrasepsi KB (Keluarga Berencana) seperti kondom, spiral, dan lain- lain, apabila tertangkap tangan oleh guru- guru menyimpannya tentu akan diproses karena melanggar hukum sekolah. Proses hukumnya bisa melibatkan orangtua dan kalau perlu pihak sekolah memindahkan atau memulangkan siswa yang bersangkutan ke orangtuanya.

Kemudian apalagi ? Begitu kemajuan teknologi informasi semakin pesat maka bentuk atau eksistensi unsur-unsur porno menjadi semakin apik pula dan makin sulit dilacak. Film porno, foto porno, kaset video porno memang jarang lagi dikantongi remaja secara ilegal, karena produk ini sudah kadaluarsa. Maka sekarang produk kepingn vcd porno, dengan kulit berlabel film kartun agar bisa mengelabui pihak yang mencurigai, pada halnya isinya berisi adegan terlarang, secara terang- terangan mudah beredar dan dijual lewat pedagang kaki lima dan siswa yang dilanda gejolak birahi mudah mencarinya.

Hal lain, yang berhubungan dengan pornografi adalah bahwa sekarang orang tua perlu untuk melakukan cek dan ricek kalau ingin menitipkan anak pada sekolah yang berasrama, kecuali kalau kondisi kehidupan anak- anak di asrama cukup kondusif seperti tinggal di rumah sendiri. Dari pengalaman diketahui bahwa kehidupan siswa yang kurang diawasi dan miskin aktivitas di asrama, maka penghuninya sering dilanda oleh gejolak dorongan libido. Pengalaman seksual yang kurang sehat mudah diperoleh oleh anak- anak yang tinggal di sana.

Siswa yang tinggal di asrama yang kurang terkontrol, dalam usia pubertas yang diiringi oleh dorongan libido yang tinggi, namun mereka kurang terlibat dalam aktivitas olah raga, seni dan kesibukan positif lain, maka siswa penghuni asrama mencari penyaluran libido secara intens. Maka kalau kondisi rumah lebih baik dan orang tua bisa mengembangkan potensial anak, maka mengapa harus mengirim anak ke sekolah dengan asrama yang tidak terjamin kualitas pendidikannya.

Sekarang semua orang tahu bahwa teknologi telekomunikasi semakin canggih, maka produk yang bernama hand-phone menjadi benda yang paling digemari oleh remaja. Kini banyak anak- anak atau remaja yang pintar merayu dan bermohon pada orangtua agar mereka dibelikan hand-phone. Pada mulanya hand-phone dirancang dengan fungsi untuk berkomunikasi. Namun kolaborasi ahli bisnis dan ahli teknologi menciptakan produk hand-phone menjadi semakin menarik, dilengkapi dengan aksesoris; camera, lagu, game, dan fiture yang lain. Maka kemudian fungsi memiliki hand-phone berubah, tidak lagi sebagai sarana berkomunikasi, namun berubah menjadi sarana untuk membentuk life style atau gaya hidup.

Sekarang hand-phone yang pas menurut selera siswa adalah kalau ada kamera, lagu, game dan aksesoris lain. Hand-phone yang seperti ini sangat layak dibawa dan dipamerkan di sekolah, namun kalau desain hand-phone terlalu sederhana maka mereka jadi malu dan ingin untuk menyimpannya dalam tong sampah.

Diam-diam guru di sekolah melihat gerak gerik dan prilaku yang mencurigakan atas prilaku siswa yang memiliki hand-phone berkamera ini. Mereka melakukan razia maka ditemukan sederetan film-film porno dan gambar porno yang mereka saling kirim lewat blue-tooth atau inframerah. Maka guru-guru dengan hati nuraninya sebagai pendidik menjadi amat sedih dan terluka. Ternyata orangtua bisa dikibuli oleh anak mereka sendiri. Segudang janji yang diikrarkan anak sebelum dibelikan hand-phone tidak terbukti.

Berbarengan dengan datangnya teknologi hand-phone maka datang pula teknologi internet. Sarana internet dirasakan amat penting untuk mengakses informasi dan sarana untuk berkomunikasi.

Perpustakaan merupakan tempat untuk mencari ilmu pengetahuan dan informasi. Tetapi sarana internet terasa jauh lebih menarik dari pada perpustakaan. Dan sekarang fenomena yang terjadi adalah kehadiran internet telah membuat perpustakaan menjadi sepi dan hanya layak sebagai gudang untuk menyimpan buku- buku. Akibatnya kini banyak perpustakaan yang menjadi sepi oleh pengunjung dan buku- bukunya sendiri mulai menguning dan dipenuhi debu.

Mengapa remaja pergi ke internet? Banyak remaja atau pelajar menjawab bahwa mereka pergi ke internet atau ke warnet (warung internet) untuk mencri ilmu dan informasi. Jawaban mereka 100 % sangat benar, namun kenapa warnet sengaja dirancang dengan bilik- bilik kecil dengan dinding agak tinggi, dari balik dinding bilik kecil tadi terdengar suara penuh curiga dan mata waspada.

Maka begitu mereka selesai mengakses internet lewat mesin yahoo, google dan mesin lain maka akan tersisa kosa kata mesum bahwa remaja- mulai yang bau kencur sampai kepada remaja usia hampir dewasa- baru saja mengkonsumsi gambar, film dan artikel jorok atau porno.

Dahulu ketika zamannya bioskop lagi menjamur, maka unsur- unsur seks lah yang membuat bioskop tersebut jadi ramai oleh pengunjung. Dan sekarang hal itu juga terjadi pada internet. Karena ada unsur- unsur seks, maka internet juga menjadi makin laku.

Namun sekarang bagamana lagi ? Di rumah dan di sekolah, orang tua dan guru pasti mengharamkan unsur- unur seks atau pornografi menyentuh siswa. Namun di luar rumah dan luar sekolah, yaitu di warnet- wanet unsur- unsur seks dan pornografi begitu mudah diakses dan di download. Kini siapa yang patut mengawasi anak- anak dan remaja tidak ketagihan oleh unsur- unsur pornografi bila mereka berada di luar rumah dan sekolah ?.

Bila kejahatan seksual meningkat di tengah masyarakat, maka dapat diprediksi bahwa keberadaan warnet ikut berpartisipasi untuk menyuburkan budaya pornoaksi dan pornografi. Rangsangan- rangsangan pornografi lewat internet telah berpotensi untuk meningkatkan gelora libido mereka yang tidak terkontrol, pada akhirnya bermuara pada kejahatan seksual; incest, kehamilan di luar nikah, pengguguran kandungan, pelecehan seksual dan lain- lain. Orang tua dan guru tentu selalu menyerukan dan berpesan agar anak- anak mereka selalu ingat dengan ungkapan; say no to situs porno. Namun untuk pengawasan yang lebih kompeten di luar rumah dan sekolah tentu adalah tanggung jawab pemerintah dan pengelola internet itu sendiri.

36. Kemandirian dalam Belajar Perlu Ditingkatkan

Kita tidak perlu merasa kaget apabila mendengar pengakuan seorang mahasiswa yang baru saja kuliah pada sebuah perguruan tinggi negeri atau swasta tetapi masih merasa ragu-ragu untuk menuntut ilmu. Cukup banyak contoh-contoh seperti itu di seputar kita. Agak memprihatinkan, remaja-remaja sekarang kurang menenggang perasaan atau kesulitan orangtua. Mereka lebih memperhatikan kebutuhan dan kesenangan diri. Ada seorang mahasiswa baru, sebagai contoh, menuntut ilmu pada jurusan teknik di sebuah perguruan tinggi swasta. Walaupun orangtuanya telah mengeluarkan dana hampir 5 juta rupiah sejak dari mengikuti kegiatan bimbingan belajar sampai dengan membayar SPP semester pertama tetapi ia belum bisa merasakan kesulitan orangtua. Tentu saja ketampanan wajahnya tidak dapat menutupi keletihan fisik dan jiwa orangtua dalam memikirkannya.

Kemandirian dalam belajar agaknya belum dimiliki oleh banyak pelajar. Ada guru yang mengatakan bahwa pelajaran sekarang banyak yang bersifat seperti ‘paku’, ia baru bergerak kalau dipukul dengan martil. Pelajar sekarang, walau tidak semuanya, banyak bersifat serba pasif. Dalam membaca buku-buku pelajaran saja misalnya, kalau tidak disuruh atau diperintahkan oleh guru maka buku-buku tersebut akan tetap tidak tersentuh dan akan selalu utuh karena tidak dibaca.

Aktivitas guru-guru pada waktu senggang mereka, yang mana lebih gemar mengambil topik-topik ringan dan mengambang dalam berdialog sementara tugas-tugas murid banyak yang tidak diperiksa dan persiapan mengajar serba belum beres adalah gambaran ketidakmandirian kalangan pendidik dalam menjalankan profesi mereka. Tidak hanya guru-guru tetapi malah pegawai-pegawai lainnya, barangkali juga menunjukkan adanya gejala ketidakmandirian dalam belajar. Prilaku mereka seperti suka berpikir mengambang, melakukan debat kusir dan berkelakar hampir sepanjang waktu, mereka baru melakukan tugas dengan baik kalu masih dikontrol oleh pihak atasan saban waktu adalah ciri-ciri dari ketidakmandirian dalam belajar meski secara biologis mereka sudah sangat dewasa.

Cukup banyak penulis lain Cuma membahas kegagalan pendidikan atau membahas dan tema tentang ketidakmandirian siswa dalam belajar, lebih mempersalahkan faktor sekolah. Mereka lupa untuk membahas secara rinci tentang faktor lingkungan rumah.

Lingkungan rumah cukup dominan untuk menentukan atas kemandirian dalam belajar. Faktor tingkat pendidikan orang tua yang cukup rendah dan sikap suka menyerahkan urusan pendidikan anak kepada sekolah semata adalah faktor penyebab di samping faktor lain. Kealpaan orang tua untuk mengajar anak dalam memanfaatkan waktu telah meyebabkan anak terbiasa berkeliaran, hidup tidak teratur sejak bangun tidur sampai kembali memejamkan mata pada malam berikutnya.

Pelajar-pelajar yang gemar berkeliaran pada jam belajar, meski mereka bersekolah pada kelas atau sekolah favorit, dan hanya untuk pergi mengobrol dengan teman-teman adalah produk lingkungan rumah, atau orang tua yang tidak acuh atas masalah pendidikan sementara itu mereka mengabaikan pelajaran dan keberadaan buku-buku yang ada dalam tas mereka atau pada perpusatan. Gambaran sekolah sekarang tidak lagi mewarnai sebagai tempat arena untuk menuntut ilmu, dimana para pelajar asyik menekuni aneka buku ilmu pengetahuan, tetapi citra atau gambaran sekolah sekarang adalah sekedar huru-hara, atau pergi ke sekolah hanya sebagai suatu mode saja.

Dari tiga aspek yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif yang harus dikembangkan terhadap pelajar melalui PBM dan kegiatan ekstra kurikuler terlihat kurang berimbang. Dalam kegiatan ekstra kurikuler saja, kegiatan pengembangan afektif atau pembinaan sikap cukup kurang karena wadah-wadah penyaluran tidak ada. Dan wajar saja kalau sikap pelajar sekarang cenderung makin lama makin beringas, karena di rumah mereka tidak diwarisi dengan sikap dan nilai-nilai moral dan agama yang mantap kecuali hanya segelintir keluarga saja yang memperhatikannya. Dan sekolah lebih memperhatikan pengembangan aspek kognitif dan psikomotorik yaitu berupa pemberian ilmu pengetahuan dan pelaksanaan latihan keterampilan dan olahraga.

Kerap kali siswa yang telah belajar di tingkat SLTA sekalipun dalam mengambil azas manfaat masih bersikap sebagai anak kecil. Mereka sering bertanya kepada bapak dan ibu guru ketika PBM sedang berlangsung, tentang pelajaran yang ditulis pada papan tulis apakah untuk disalin di buku atau tidak. Padahal kalau terasa ada manfaatnya mereka harus menyalinnya. Begitu pula dalam mengomentari keberadaan buku-buku pelajaran mereka yang jarang mereka sentuh. Mereka menjawab bahwa kalau guru tidak menyuruh untuk mengerjakan tugas-tugas rumah atau untuk membacanya ya buat apa dibaca. Kalau begitu terlihat kecenderungan bahwa konsep mereka belajar yaitu baru berbuat kalau baru disuruh. Jadi kalau mereka tidak disuruh maka tentu agak terhentilah proses peningkatan pengembangan pribadi mereka.

Cara belajar yang belum menunjukkan kemandirian dari kebanyakan para pelajar akan berlanjut terus. Andai kata mereka melanjutkan studi ke perguruan tinggi, mereka sering memilih jurusan yang salah dan kemudian memendam rasa sesal. Sering mereka mengambil jurusan hanya sekedar mode saja. Padahal sudah nyata sikap belajar mereka sangat santai maka mereka tetap memilih jurusan yang mana bagi pribadinya akan menemui banyak kesulitan dalam penyelesaian. Atau mereka memilih jurusan pada perguruan tinggi karena pengaruh atau setengah paksaan dari berbagai pihak. Efeknya adalah bertambah membengkak angka ‘drop out’ mahasiswa di perguruan tinggi. Meskipun disana ada dosen sebagai ‘penasehat akademis’ tetapi seringkali belum melakukan peranan sebagaimana idealnya.

Dan andai kata mereka yang tidak memiliki kemandirian dalam belajar, tidak beruntung untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi, tentu akan terjun ke tengah masyarakat untuk menambah angka pengangguran yang telah bengkak juga. Untuk kesudahannya adalah mereka sering menjadi parasit dalam sosial. Pergi merantau untuk pengalaman hidup dan mengadu untung, akan tidak berani dan kalau tetap tinggal di kampung akan tetap bersandar, atau malah juga mengganggu pihak sosial lainnya. Kemudian apabila mereka berumah tangga, tentu juga akan mengganggu pihak wanita, paling kurang keberadaannya adalah sebagai beban bagi mertua. Kecuali kalau mereka telah berani untuk mengambil keputusan dan melakukan perobahan sikap hidup secara total.

Untuk zaman sekarang sudah mulai cukup banyak pria yang bertekuk lutut kepada kaum wanita. Penyebabnya adalah sekarang banyak wanita yang sukses dalam menuntut ilmu dan memperoleh pekerjaan yang mapan sebagai tempat untuk mengembangkan kepribadian mereka. Dan cukup banyak pria yang tidak mandiri menikah dengan wanita mandiri dimana pada akhirnya keberadaan mereka adalah bukan sebagai pemimpin bagi wanita tetapi adalah sebagai pembawa bencana.

Ketidakmandirian pelajar, guru-guru dan siapa saja dalam proses pematangan diri adalah merupakan batu penyandung untuk mencapai kemantapan sumber daya manusia. Akan percuma kata-kata SDM tetap diserukan oleh pemerintah lewat berbagai media massa kalau setiap individu, warga negara tidak melakukan usaha kemandirian dalam belajar untuk menambah ilmu dan keterampilan-keterampilan lain.

Ketidakmandirian belajar seorang mahasiswa adalah warisan dari cara belajar ketika masih berada di tingkat SLTA. Begitu pula, ketidakmandirian siswa-siswa di tingkat SLTA adalah produk dari cara belajar ketika masih belajar di tingkat sekolah-sekolah yang lebih rendah dan seterusnya. Agaknya sampai saat sekarang memang masih banyak kritik tentang proses belajar mengajar di sekolah yang lebih cenderung bersifat ‘instruction’ atau mengajar daripada bersifat ‘education’ atau mendidik. Penyebabnya adalah bisa jadi karena guru hanya menguasai ilmu sebatas bidang studi semata dan tidak pula begitu mendalam. Disamping itu pengabdian guru belum sepenuhnya bersifat ideal sebagai guru. Ada kalanya pengabdian guru bersifat pamrih atau berdasarkan nilai ekonomis dimana mereka baru sudi untuk berbuat kalau ada imbalannya.

Untuk masa-masa sekarang agaknya kemandirian dalam belajar perlu untuk ditingkatkan. Ada banyak pihak perlu untuk melakukan introspeksi diri dan langsung bertindak. Bukan hanya melakukan introspeksi dan kemudian berteori. Sebab teori tanpa tindakan atau aplikasi tentu akan tetap sia-sia hasilnya.

Taman Kanak-kanak sekarang, sebagian kecil telah ada mendorong usaha anak didiknya untuk melakukan kemandirian dalam belajar. Dulu Taman Kanak-kanak lebih terfokus untuk tempat belajar, menyanyi, menari dan kemudian dilupakan. Sekarang TK telah memiliki kurikulum yang lebih dewasa dan tidak lagi hanya sebagai teori. Kita merasa salut melihat telah ada sekolah yang mewajibkan anak-anak didiknya untuk berlangganan majalah dan memesankan kepada orang tua di rumah untuk ikut serta membimbing anak. Usaha-usaha positif dan lebih serius sungguh kita harapkan terhadap tingkatan sekolah-sekolah yang lebih tinggi. Disamping menyediakan fasilitas belajar bagi anak-anak kita juga menginginkan orang tua ikut mengontrol pemanfaatan waktu yang baik. Kemandirian dalam belajar agaknya perlu ditingkatkan untuk menyongsong masa depan.

37. Kesehatan Jiwa Syarat Bagi Guru Untuk Mengajar

Kondisi fikiran menentukan kondisi jiwa. Sebetulnya pekerjaan otak, fikiran adalah juga kerja jiwa. Pekerjaan jiwa seperti menyayan­gi, mencintai, membenci dilakukan oleh fikiran dengan mengaktifkan suasana hati atau perasaan. Maka untuk mendapatkan kesehatan jiwa. Mustafa Fahmi dalam bukunya “Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat”, terjemahan Zakiah Daradjat mengatakan bahwa kita harus dapat menyesuaikan diri kepada lingkungan. Dan lingkun­gan itu adalah seperti lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan manusia sendiri.

Disamping itu kita juga harus dapat mengendalikan diri yang patut dan yang tidak patut. Maka dalam hal ini kita perlu belajar untuk mencari ilmu pengetahuan. Memperoleh pengetahuan dapat dilakukan melalui bacaan yang dewasa ini mudah diperoleh dimana saja. Namun sekarang banyak orang tidak memanfaatkan kesempatan balk untuk memperoleh den menguasai ilmu paling kurang untuk keperluan diri terlebih dahulu.

Dalam hidup ini kita memiliki banyak kebutuhan, begitu pula dengan kebutuhan yang bersifat psikis yang kerap disebut dengan kebutuhan pribadi. Jiwa kita akan sehat kalau kebutuhan pribadi yang kita sebut juga dengan kebutuhan Psikososial dapat kita penuhi. Kebutuhan pribadi yang terpenting adalah seperti rasa kasih sayang, rasa sukses, kebebasan dan kebutuhan akan pengalaman dan kebutuhan akan rasa kekeluargaan.

Kita dapat menemukan banyak anak-anak yang lincah dan ceria. Kasih sayang yang mereka terima dari orang tua dan anggota keluarga membuat suasana jiwa mereka menjadi riang gembira. Jauh berbeda dengan anak-anak yang tinggal di panti-panti asuhan dan anak-anak dari keluarga berantakan. Mereka sering hidup gelisah, banyak bersedih dengan tetapan mata kosong. Sebetulnya yang mereka harapkan supaya hidup gembira adalah kasih sayang.

Untuk mendapatkan generasi­-generasi yang sehat jiwanya maka kebutuhan-kebutuhan ini seharus­nya sudah dibiasakan sejak usia bayi. Begitu pula terhadap anak­-anak didik di sekolah, ibu dan bapak guru harus mengenal kebutuhan-kebutuhan ini dan kemudian memberikannya kepada anak-anak didik. Setelah itu kita harus ingat bahwa kebutuhan-kebutuhan psikososial ini akan bertambah dengan meningkatnya usia individu.

Satu hal yang perlu kita ketahui bahwa jika suasana lingkungan dan sosial tidak memungkinkan terpenuhinya kebutuhan tersebut, maka seseorang akan berusaha mencari jalan sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Mungkin saja jalan yang tidak wajar, dengan demikian terganggulah proses penyesuaian diri. Kita sering melihat banyak pemuda ngebut di jalanan. Ini bisa jadi karena mereka ingin dianggap hebat, barangkali di rumah kurang memperoleh kasih karena orang tua sibuk dengan diri sendiri.

Dalam penyesuaian diri, bila seseorang bersikap lincah maka ia akan memperoleh kemudahan dalam bergaul. Seseorang dalam penyesuaian diri ada yang tetap mempertahankan kepribadiannya. Dan orang yang beginilah orang yang memiliki kepribadian yang utuh. Sebaliknya ada pula orang melepaskan kepribadian. Tentu saja ini kurang baik dan malah dapat mendatangkan kegelisahan jiwa. Orang yang tidak dapat mempertahankan kepribadiannya dia akan sulit atau akan memperoleh masalah apabila ia pulang kampung, kalau ia seorang perantau, sebab tingkah lakunya, tentu tampak berbeda dari keadaan semula. Ini sering dalam art konteks negatif.

Untuk itu kita harus bersikap wajar-wajar saja. Sebab tidak diragukan lagi bahwa orang yang wajar dalam kehidupannya, maka dalam masyarakat ia tampak lebih tenang dan kurang dihadapkan kepada persoalan sosial. Ini biasanya dapat dirasakan oleh pembimbing sosial, pemuka agama dan profesi yang berkaitan dengan sosial lainnya. Sebab tingkat pengenalan mereka ter­hadap lingkungan menyebabkan mereka lebih mengerti. Di sini tidak kita ragukan lagi bahwa orang yang wajar-wajar saja dalam kehidupan akan memperoleh ketenangan dan kesehatan jiwa. Untuk itu, sehatkan dulu jiwamu, kawan. Percayalah, kau dalam gelisah.

Kalau begitu ketenangan dan kesehatan jiwa bukan kita peroleh dari kejeniusan, karena ia tidak menjamin dalam kehidupan jiwa dan kehidupan sosial. Dan bagi guru di sekolah kesehatan jiwa adalaha syarat mutlak untuk bisa mengajar secara lebih mantap Okay !

38. Makin Berkurang Kesempatan Murid Untuk Menuang Gagasannya

Apakah kira-kira yang dapat kita harapkan dari perubahan-perubahan sistem pendidikan ini? Kurikulum tiap sebentar diganti. Semboyan-semboyan seperti peningkatan SDM, pembentukan sekolah unggul, mari tingkatkan gemar membaca, dan lain-lain terus menerus didengungkan lewat semua media massa. Tentu ini semua merupakan upaya untuk memperbaiki nasib bangsa ini juga. Namun sekarang ada yang kurang tersentuh, yaitu bagaimana usaha kita agar dapat meningkatkan kemampuan murid dalam mengekspresikan gagasannya lewat lisan dan tulisan. Seolah-olah sekarang terjadi proses pembisuan terhadap murid-murid.

Dapat kita amati mulai dari pendidikan rendah sampai ke jenjang pendidikan tinggi tentang hal berkomunikasi. Kesempatan murid untuk menuangkan gagasan, baik secara lisan maupun tertulis, dalam aktivitas belajar di sekolah semakin berkurang. Kegiatan belajar di sekolah tampak begitu monoton dan membosankan. Secara umum yang sering terlihat adalah murid datang ke sekolah mendengar guru, menulis dan pulang. Saat ini semakin jarang guru-guru yang memberikan tugas membaca dan menceritakan kembali. Begitu pula untuk bidang studi tertentu, jarang sekali guru memberikan tugas mengarang kepada murid-muridnya. Padahal tugas menceritakan kembali isi bacaan dan mengarang amat penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Terutama pada tahun-tahun awal masa sekolah.

Meskipun kita telah berada amat dekat kepada ambang tahun 2000, namun karakter interaksi guru dengan murid lebih dominan bersifat “one way communication” daripada “two ways communication”. Cobalah hitung berapa kali betul guru memberi kesempatan pada murid untuk bertanya. Malah kalau ada murid yang tergolong vokal dalam berargumen maka ada guru mengisyaratkan agar anak tersebut lebih baik menjahit mulut. Malah anak atau murid yang agak kritis dianggap sebagai murid yang suka usil dan membuat keributan dalam belajar. Kalau dahulu atau sebelum tahun 1994, kita mengenal ada istilah “proses belajar”.

Istilah proses pembelajaran mengandung makna yang sungguh positif. Guru harus memperlihatkan peranannya sebagai fasilitator, motivator, dan konselor. Namun ini semuanya adalah sebatas kata-kata manis dan kenyataannya adalah kebalikan dari fakta. Sampai sekarang kita patut merasa risau tentang terbatasnya peluang bagi murid di sekolah untuk bertanya dan mengemukakan pendapat.

Dari bahan-bahan bacaan dan dari orang tua, kita dapat membaca dan mendengar bahwa pada zaman dahulu kegiatan membaca yang menceritakan kembali isi bacaan sangat diutamakan. Pada semua pelajaran, guru selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang isi bacaan kepada muridnya. Sedangkan guru sekarang, walau tidak semua, banyak yang gemar mencatatkan ringkasan buku untuk dihafal murid. Kalau begitu guru zaman dahulu banyak yang gemar membaca dan ingin mengembangkan intelektual murid. Dan guru sekarang senang mencatat dan mencatat serta menggunakan satu jenis buku selama bertahun-tahun dan akibat dari cara belajar mencatat melulu dan menghafal saja maka seolah-olah guru sekarang telah menciptakan murid menjadi manusia “beo” yang mana pintarnya cuma berbicara dari apa yang diingat tetapi tidak tau bagaimana mengaplikasikan.

Sekilas kita perhatikan bahwa orang kita masih memiliki budaya suka mengambil muka atau pribadi yang butuh selalu diawasi. Misalnya bagi pengendara sepeda motor, ia hanya sudi memakai helm kalau ada polisi yang mengawasi. Tampaknya dia lebih merasa kasihan pada sisiran rambut daripada keselamatan nyawanya. Begitu pula budaya melanda guru-guru.

Rata-rata guru menulis Buku Satuan Pelajaran hanyalah sekedar pamer saja kepada kepala sekolah bahwa ia pun melaksanakan tugas-tugasnya. Sering kali guru-guru yang memiliki buku Satuan Pelajaran yang menarik, barangkali karena disalin dari orang lain, tapi caranya mengajar tidak becus. Tidak sedikit guru-guru yang telah mengikuti berbagai seminar, penataran, apakah dalam bentuk sanggar-sanggar tetapi toh kembali cara mengajarnya “asal jadi saja” atau “asal hutang terbayar”. Barangkali guru-guru begini mati-matian mengikuti penataran-penataran ini hanyalah agar dapat memperoleh piagam agar dapat dipergunakan untuk kenaikan pangkat dan bukan untuk menambah wawasan serta meningkatkan cara pelayanan dalam proses belajar mengajar. Kalau begitu, banyak guru-guru yang berniat kurang benar.

Meninjau dari makin berkurangnya kesempatan murid untuk menuangkan gagasannya di sekolah, agaknya karena faktor pribadi guru (?).

Keinginan untuk memberikan peluang kepada murid untuk bertanya dan mengemukakan pendapat di kelas terpulang pada pribadi setiap guru. Dorongan ekonomi atau jiwa materialis telah mempengaruhi semangat guru dalam mengejar nilai materi. Segala sesuatu diukur dengan uang. Sehingga sekarang terlihat bahwa guru terlalu enggan untuk berbuat banyak dan menghabiskan waktu karena murid kecuali kalau diimbangi oleh nilai materi.

Keadaan semacam ini membuat guru enggan memberikan tugas-tugas mengarang, mengupas isi satu buku dan juga memberikan ulangan yang bersifat essay.

Menilai tugas mengarang tentunya tidak bisa hanya mengukur panjang-pendeknya tulisan tetapi harus membaca isi dan melihat sistematiknya. Ini sulit dilakukan bila guru tidak punya cukup waktu lagi untuk mengoreksi pekerjaan murid di luar jam mengajar. Lebih-lebih bagi guru yang suka memperhitungkan jerih payah dengan materi daripada menghitung jerih payah atau kebaikan berdasarkan nilai agama. Mungkinkah nilai rohani guru-guru turut meluntur? Ini patut kita pertanyakan.

Semua orang sudah tau bahwa persaingan hidup pada masa depan lebih sulit dan lebih ketat. Murid yang intelektualnya selalu terpenjara dan murid yang berwatak “beo” tentu bakal tersingkir, maka gejala makin berkurangnya kesempatan bagi murid untuk menuangkan gagasannya patut kita antisipasi secepatnya. Untuk itu kesempatan bagi murid untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya semestinya melekat dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelas. Tanpa ada kesempatan bagi murid untuk bertanya atau mengemukakan pendapat, kelas tentu akan menjadi serba monoton, tidak menarik dan kurang bergairah. Kalau selama ini guru merasa lesu dalam mengajar dan murid tidak kerasan di kelas adalah karena suasana yang serba membosankan. Salah satu penyebab adalah dari pihak guru, yakni karena rasa egoisme atau kelewatan dalam menghitung jerih payah dan kurang menambah wawasan diri.

Kita mengakui bahwa guru tidak cukup berani untuk memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk bertanya. Di tingkat SMU, misalnya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa bisa memojokkan guru atau mempermalukan guru di depan kelas, meskipun sebagian murid tidak bermaksud demikian. Ini terjadi karena kurang tau strategi saja, padahal ini tidak perlu terjadi bila guru membuat persiapan mengajar yang memadai. Guru sebetulnya tidak perlu merasa malu bila tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan muridnya.

Guru harus selalu jujur. Bila tidak bisa menjawab pertanyaan murid, sebaiknya katakan terus terang tidak tahu, dan menjanjikan akan menjawabnya pada kesempatan berikutnya. Murid akan tahu bahwa ternyata guru itu adalah manusia biasa yang memiliki kemampuan terbatas. Bila tidak jujur, apalagi bila guru bersikap sok atau angkuh, maka anak atau murid justru tidak akan menghormati gurunya lagi. “Wah, itu saja Pak Guru atau Buk Guru ini tidak bisa menjawabnya”, bisa jadi murid menyeletuk demikian dalam hatinya atau terang-terangan.

Kemajuan yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat tidak lagi menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber ilmu, seperti anggapan orang pada masa lalu bagi murid-muridnya. Guru bukanlah orang yang tahu segala-galanya. Ia bahkan secara jujur harus mengakui bila informasi yang dimilikinya tertinggal dibandingkan informasi yang diperoleh oleh murid-muridnya.

Di kota-kota besar atau kota metropolitan, adakalanya murid memiliki internet di rumahnya. Atau bisa jadi bagi anak yang bersekolah di daerah namun pada saat libur mengunjungi famili yang mungkin saja tergolong orang berada di kota besar, dan memiliki internet dan ikut pula menikmati internet. Sedangkan bagi guru, jangankan memiliki internet, menyentuhnya saja belum pernah. Karena itu bila tidak bisa menjawab secara persis pertanyaan murid, lebih baik guru menyatakan secara jujur “tidak tahu”.

Patut selalu kita ingat bahwa guru-guru tidak layak buta informasi sama sekali.

Maka agaknya setiap guru perlu untuk menjadi guru yang ideal, yaitu guru yang selalu menambah wawasan, bersikap bersahabat agar dapat digugu dan ditiru. Dalam menjalankan profesi, guru musti berbuat ikhlas dan menjauhi sikap egoisme yaitu sikap terlalu mementingkan diri dan terlalu menghitung jerih payah berdasarkan nilai materi. Maka apa yang kita harapkan dalam mengaktifkan proses kegiatan pembelajaran adalah selalu berusaha memberikan kesempatan kepada murid untuk mengungkapkan dan menuangkan gagasan mereka. Bila hal ini dapat diterapkan maka apa yang kita khawatirkan atas makin berkurangnya kesempatan murid menuangkan gagasan dapat kita atasi.

39. Memilih Sekolah Perlu Kearifan

Sudah menjadi pendapat umum bahwa sekolah yang berlokasi di kota kualitasnya lebih bagus dari pada sekolah yang berlokasi di desa. Sehingga fenomena yang terlihat setiap awal tahun pelajaran adalah adanya mobilisasi remaja/pelajar ke kota untuk mencari sekolah yang mereka idamkan. Mereka yang me­miliki nilai ijazah tinggi dari sekolah sebelumnya, tentu saja boleh merasa bangga dan berharap agar mimpi untuk belajar di sekolah yang bermutu itu bukan di desa. Mencari sekolah berkualitas merupakan faktor yang mendorong untuk ikut melakukan urbanisasi. Masalah juga ada siswa yang memiliki nilai rendah ikut-ikutan melakukan urbanisasi pendidikan.

Berbicara tentang sebuah sekolah, kualitasnya tentu saja ditentukan oleh berbagai aktor seperti kondisi input dan proses yang ada dalam suatu sekolah dan faktor lingkungan, kualitas guru serta sarana pendukung untuk memperoleh output atau lulusan yang berkualitas. Setiap anak didik tentu punya hak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dengan harapan agar memiliki ilmu, keterampilan, wawasan dan pergaulan yang lebih luas.

Setiap anak didik perlu untuk cerdas dalam memilih sekolah. Disamping itu orang tua perlu untuk memberi pertimbangan yang masuk akal. Orang tua harus selalu bersikap arif terhadap anaknya. Dalam kenyataan banyak ditemui orang tua dan yang kurang arif (tidak punya pengalaman) dalam memilih sekolah. Tiap awal tahun ajaran mereka ikut meramaikan arus mobilisasi untuk mencari sekolah di perkotaan. Atau bagi mereka yang berdomisili di perkotaan untuk mencari sekolah yang jauh dari rumah dengan kata lain jauh dari orang tua, sehingga mereka harus men­cari tempat kos atau rumah kontrakan. Untuk selanjut­nya tinggal bersama teman-teman dan lingkungan yang belum tentu berkualitas baik. Padahal sebetulnya mereka bisa belajar di sekolah yang terdekat agar bisa tetap berada di bawah penga­wasan dan kasih sayang or­ang tua. Kita tahu bahwa anak-anak usia SD sampai SMA seharusnya masih be­rada dalam pengawasan or­ang tua dengan suasana rumah yang harmonis penuh dengan berbagai kegiatan agar dapat tumbuh cerdas dan sehat secara intelektual, emosional dan spiritual. Dari pengalaman dapat dijumpai banyak anak-anak yang ketika masih kecil, di SD dan SMP, tergolong dalam kategori pintar dan berbudi pekerti terpuji tetapi setelah berpisah dari orang tua, karena sekolah jauh, kurang bisa mengontrol diri dan memilih pergaulan yang te­pat. Sehingga mereka telah membuat orang tua menjadi resah, karena jangankan memperoleh nilai akademis baik malah memperoleh kualitas dan reputasi yang jelek.

Kadang-kadang orang tua latah dengan kata “demok­rasi” dan kata “pendidikan” tanpa memahami apa dan bagaimana hakekat kedua kata tersebut. Ada penga­laman yang terjadi pada seorang orang tua dan anak laki-lakinya yang baru saja tamat SD, tergolong cerdas termasuk dalam berkomuni­kasi. Dalam usia yang tergolong relatif masih kecil tapi atas nama mencari pendidikan berkualitas di kota yang jarak rumah dengan sekolah itu cukup memakan waktu. Tentu saja orang tua tidak bisa memantau perkembangan anak secara berkala tiap hari atau tiap minggu. Pada mulanya hanya bisa memantau anak sekali dua minggu, menjadi sekali sebulan dan terus molor dan akhirnya sekali enam bulan. Tapi catatan yang diberikan pihak sekolah berbeda dengan catatan anak yang banyak membela diri. Pihak sekolah menyodorkan fakta data bah­wa anak sudah menjadi or­ang pemalas dan tidak disip­lin. Kalau begitu idealnya sejak awal orang tua ini harus punya pendapat dan pandangan yang mantap tentang hakekat mendidik dan membesarkan anak dan dunia yang luas agar tidak menyesal di belakang hari.

Banyak orang tua berfikir dan bertanya tentang kapan sebaiknya sorang anak bo­leh bersekolah jauh dari orang tua (?). Jawabannya sangat relatif sesuai dengan perspektif masing-masing.

Keberhasilan pendidikan seorang anak tidak ditentu­kan oleh jauh atau dekatnya lokasi sebuah sekolah. Bila kualitas sekolah dekat rumah lumayan bagus buat apa harus mencari sekolah yang jauh (?).

Sangat wajar orang tua, untuk memahami sekolah untuk anaknya dan meng­hindari sekolah dengan bu­daya belajar jelek, suasana belajar santai, guru-guru tidak disiplin dan anak didik dengan kontrol diri dan moti­vasi belajar rendah. Bila suasana belajar di sekolah terdekat seperti demikian maka sangat patut orang tua mencarikan sekolah dan pemondokan anak yang cu­kup terjamin baik. Namun orang tua perlu tahu bahwa apakah anak sudah cukup matang untuk mandiri dan berpisah dari orang tua?

Suasana pemondokan di luar sekolah dan dalam komplek sekolah bagi sekolah khusus ikut menentukan bagaimana output anak di kemudian hari. Sebelum me­lepas anak untuk hidup man­diri di pemondokan, baiknya orang tua melakukan “Cek dan Ricek” atau melakukan observasi langsung ke tem­patnya. Jangan minta pen­dapat orang agar bebas dari kesan pembohongan. Se­kolah dengan pemondokan yang didampingi oleh tenaga pembina yang bebas dari sikap otoriter tapi disiplin adalah sungguh sangat bagus. Pemondokan tanpa ada tenaga pengontrol atau pembina, maka disana akan mun­cul bibit penyimpangan dalam usia dini seperti pencurian kecil-kecilan, penyemaian hukum rimba dimana yang berkuasa adalah anak yang berotot kekar, dan tak terkecuali juga terjadi akti­fitas seksual iseng-iseng dengan kawan sejenis atau beda jenis kelamin (?), karena usia remaja adalah usia sek­sual sekunder dengan ciri-ciri dorongan libido yang cukup tinggi, perlu penyaluran posi­tif seperti olahraga, seni dan lain-lain. Kisah-kisah demi­kian dapat diperoleh lang­sung dari anak-anak muda yang pernah tinggal di asrama atau pemondokan dengan kontrol yang rapuh.

Sekolah dengan pemondokan yang terjamin kualitasnya, dalam komplek sekolah atau di rumah-rumah penduduk seputar sekolah, yakni dengan hadirnya orang dewasa pengganti figur orang tua sendiri yang hangat pribadinya dan tahu dengan disiplin adalah harapan orang tua untuk menempatkan anaknya untuk menuntut ilmu. Tetapi pemondokan atau asrama sekolah yang dikelola asal-asalan saja maka disana akan terjadi pelabuhan berbagai watak­ yang hasilnya adalah cenderung jelek. Anak dari keluarga baik-baik tetapi lemah kontrol diri setelah bergabung dengan anak-anak yang berwatak amburadul akan memperlihatkan karakter kompensasi untuk dapat diterima menjadi anggota genk dengan membuat tato, tindik te­linga, rambut funk-rock, ce­lana metal dan segudang aksesoris lain yang menghiasi tubuh mereka. Sementara itu tanggung jawab untuk belajar dikesampingkan.

Kalau kualitas pribadi anak akan cenderung jelek gara-gara sekolah jauh dari rumah lebih baik orang tua membuat alternatif terakhir yaitu daripada sekolah jauh dari rumah, tinggal di pe­mondokan atau rumah kos yang kualitasnya centang prenang, lebih baik sekolah dekat orang tua sebagai pe­ngontrolnya. Tidak ada salahnya bersekolah di pe­desaan karena keberhasilan seorang tidak ditentukan oleh faktor desa atau kota tapi ditentukan oleh priba­dinya sendiri.

Apa yang musti dilakukan oleh orang tua agar bisa memiliki anak yang berkua­litas adalah dengan mena­namkan budaya belajar man­diri, belajar secara otodidak dan mengembangkan anak agar memiliki kecerdasan berganda. Agus Nggermanto (dalam buku Quantum Quotient, cara melejitkan IQ, EQ dan SQ:2003) menja­barkan kecerdasan berganda seperti : cerdas matematika, cerdas berbahasa, cerdas intrapersonal dan interper­sonal, cerdas dengan seni dan gerak dan cerdas dengan spiritual. Untuk mele­jitkan kecerdasan berganda adalah dengan mengkondisikan otak, buku-buku, psi­komotorik, rasa cinta atau emosi positif, spiritual dalam bentuk mengamalkan ajaran agama dan bersikap selalu aktif dan kreatif.

Beberapa usaha untuk mencapai hal-hal diatas ada­lah seperti menggalakan ke­biasaan membaca dan dis­kusi keluarga agar anak men­jadi mantap dalam melakukan komunikasi. Usaha lain ada­lah membiasakan anak untuk melakukan penjelajahan da­lam rangka menambah wa­wasan anak, melakukan rek­reasi edukasional seperti per­gi ke toko buku, tempat ber­main anak, pabrik, tempat-tempat profesi lain agar anak memiliki segudang cita-cita dan tak kalah pentingnya adalah menyediakan sarana dan prasaran serta memberi contoh langsung pada keluarga.

40. Basmilah sampah secara total

Di mana - mana sekarang banyak orang membicarakan tentang lingkungan hidup. Topik lingkungan hidup dijadikan bahan pembicaraan dalam berbagai seminar,simposium, dan diskusi di berbagai tempat mulai dari level sederhana sampai ke ruangan konvensi berharga mahal. Namun setelah itu hasilnya hanya cukup sebagai agenda dan bahan berita pada media cetak dan media elektronik yang bertajuk lingkungan hidup. Lingkungan hidup yang dibicarakan itu eksistensinya tak akan lebih baik kalau tidak diikuti oleh aksi perbaikan lingkungan di lapangan.

Dalam membahas masalah lingkungan hidup tidak salah kalau kita juga meminjam ungkapan internasional yang berbunyi sebagai berikut ”think globally and act locally”. Ungkapan ini berarti bahwa berfikirlah secara luas dan bertindaklah secara lokal. Pengaplikasian ungkapan ini bahwa secara global kita tahu bahwa kondisi lingkungan hidup dunia saat ini juga menjadi pembicaraan orang - orang yang duduk di tingkat antar negara. Sekarang masalah global yang dirasakan adalah seperti pemanasan bumi, masalah kekurangan pangan, kemiskinan, dan berbagai multi krisis lainnya.

”Act locally” atau bertindaklah secara lokal. Saat ini bila kita berpergian di pulau Sumatra ini dan khususnya di Sumatera Barat, mari kita lemparkan pandangan ke depan dan ke alam sekitar. Bila kita arif maka kita akan melihat bahwa alam atau lingkungan hidup tidak lagi seharmonis lingkungan hidup di masa silam atau beberapa puluh tahun yang lalu. Dulu dalam foto dan dari pengalaman masa kecil, bila kita berpergian ke luar kota maka kita masih bisa melihat dan menemui banyak pohon-pohon raksasa yang berdaun rindang, air sungai mengalir dengan warna bening, kicauan burung, langit yang biru dan udara dengan aroma alam yang bebas dari asap kendaraan. Tapi sekarang hal- hal seperti ini sudah menjadi sesuatu yang mahal dan langka untuk ditemui.

Kita bersyukur bahwa pemerintah dan sebagian masyarakat sudah mengelola dan mengatasi kehancuran alam dan mencegah terjadinya ”illegal logging”. Kita masih punya harapan untuk bisa bermimpi untuk memiliki lingkungan hidup dengan alam yang indah pada masa mendatang.

Mengembalikan kualitas alam seperti kualitas alam (lingkungan hidup) seperti pada beberapa puluh tahun yang silam, alam yang hijau dan bersih terhampar ibarat permadani atau ibarat susunan permata zamrud seperti yang didendangkan oleh lagu-lagu lama. Ini tidak mungkin diperoleh secara ”top down” atau menunggu perintah dari atas turun ke bawah semata untuk kembali menata alam ini. Mengembalikan alam yang lestari dan harmoni adalah sangat tepat lewat prosedur ”bottom up”, yaitu kebijakan yang tumbuh dari masyarakat atau dari ”grass root level”. Kebijakan bersifat ”top down” tidak akan bertahan lama kalau orang orang di tingkat ”grass root level” atau rakyat biasa bersikap masa bodoh.

Dalam kenyataan kita temui bahwa banyak orang yang berada di tingkat ”grass root level”, dan orang itu bisa jadi adalah juga kita sendiri, cendrung bersifat masa bodoh atas masalah kebersihan lingkungan hidup. Bila tidak percaya dan untuk membuktikan pernyataan ini, cobalah berdiri di tempat di mana banyak kendaraan lewat dan kita dapat melihat bahwa akan ada tangan imut-imut sampai ke tangan yang dibaluti emas dan intan berlian dengan senang hati melemparkan secuil sampah bungkus makan instant untuk mengotori jalan raya yang asri.

Kebiasaan melemparkan sampah nampaknya sudah menjadi budaya bangsa kita. Atau kalau tidak sudi dengan pernyataan ini, maka kita bisa membuat pernyataan bahwa membuang sampah adalah bagian dari gaya hidup kita sendiri. Kepedulian kita atas topik sampah baru sebatas kepedulian akan masalah kebersihan di lingkungan rumah semata-mata. Memang banyak orang dan kita sendiri yang sudah peduli untuk membersihkan dan merapikan rumah dua kali sehari dan merapikan lingkungan rumah sekali dalam seminggu. Namun sampahnya bagaimana ?

Banyak orang yang suka punya kebiasaan buruk mereka membuat dan menjaga lingkungan rumah sendiri menjadi bersih namun bersikap masa bodoh terhadap kebersihan lingkungan orang. Secara masa bodoh mereka menumpuk sampahnya ke lahan orang lain. Dan bila ada papan peringatan dengan tulisan ”dilarang membuang sampah di sini” maka mereka dengan senang hati menumpuk sampah ke tempat yang dimana mereka suka tanpa memikirkan efek selanjutnya terhadap alam dan terhadap orang lain.

Kebiasaan membuang sampah sembarangan, seperti pernyataan di atas tadi, bahwa membuang sampah sembarangan sudah menjadi bagian dari gaya hidup orang desa dan orang kota. Untuk kondisi rumah tangga di desa, masalah membuang sampah dan penumpukan sampah tidak begitu masalah karena di sana mungkin masih ada lahan untuk menguburkan sampah. Namun untuk kebersihan lingkungan hidup seperti di tempat keramaian dan di sepanjang jalan. Sampah seolah-olah sudah menjadi dekorasi sepanjang pinggir jalan raya mengalahkan indahnya dekorasi alam dengan tanaman dan tumbuhan bunga yang warna warni.

Bagaimana dengan lingkungan perkotaan ? Adalah sesuatu yang memalukan untuk dideskripsikan. Kita akan sulit membedakan antara mana pasar dan mana kandang kerbau (maaf) kita sering susah payah kalau berjalan untuk mencari tempat yang akan kita injak. Karena lumpur bercampur kompos, sampah yang membusuk, sudah menjadi aspal di areal pasar. Begitu pula dengan para penghuni wilayah perkotaan, mereka itu, sekali lagi, adalah bisa jadi kita semua sebagai orang-orang yang sudah menjadikan membuang sampah sebagai gaya hidup. Di sana cukup banyak orang yang yang sudi mengotori dan mencemari lingkungan hidup perkotaan. Tidak percaya ? Coba lihat air yang mengalir dalam got dan sungai (di dalam kota), betapa kualitas airnya sudah memberi isyarat bahwa tidak ada lagi kehidupan biota air di dalamnya. Kemudian bagaimana dengan kualitas udara dan pohon-pohonan ?

Kebiasan membuang sampah yang sudah menjadi budaya jelek atau bahagian dari hidup kita, agaknya sulit untuk dikikis habis kalau ajakan untuk mengobah kebiasaan ini hanya ”bersifat ajakan atau cuma sekedar semboyan”. Himbauan, semboyan dan peringatan yang hanya tertulis pada sekeping papan. Seribu kali seminar dan diskusi untuk mengatasi masalah sampah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup akan tidak berarti apa-apa tanpa ada aksi dan contoh atau model dari figur- figur bagi generasi yang lebih muda.

Untuk bisa berubah ke arah yang baik atau ke arah yang kurang baik, maka model atau ”suri teladan” punya peran yang cukup penting. Kalau sekarang kita lihat gaya hidup dan prilaku anak-anak muda sekarang cenderung berubah dan tampak aneh dimata famili dan orangtua. Itu semua karena mereka terinspirasi dan mengikuti model yang mereka lihat- mungkin dalam media elektronik atau cetak dan bisa jadi figur yang mereka pungut langsung di jalanan raya sebagai panutan hidup. Syukur bila bila figur atau model yang mereka pungut tersebut bermental, berakhlak, berpribadi dan berwawasan baik.

Adalah contoh atau model untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup membiasakan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan berasal dari pribadi orangtua, kakak, guru, pejabat pemerintah dan lain-lain. Pendek kata figur-figur yang demikian itu adalah kita semua.

Sering pelajaran yang diperoleh di sekolah kenyataannya berbeda dari fakta yang diperlihatkan oleh para figur model lewat prilaku dan gaya hidup mereka. Di sekolah kita diajarkan agar kita ”tidak boleh merokok dan harus hidup disiplin”. Tapi dalam kenyatan orang yang menjadi panutan hidup ini model bagi kehidupan kita melanggar aturan ini. Di sekolah ibu guru dan bapak guru mengajarkan agar kita harus membuang sampah pada tempatnya. Begitu pula dari buku bacaan yang kita baca di rumah agar kita mesti menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Namun fakta, ayah, ibu dan paman kita melempar sampah ke tengah jalan atau ke dalam got seenaknya.

Alangkah bingungnya anak anak yang dididik dan diajar agar bisa mencintai kebersihan dan menjaga lingkungan hidup ini. Namun dalam realita, mereka melihat bahwa begitu banyak orang dewasa, guru, orangtua dan tetangga mereka dan apalagi orang orang yang mereka anggap terdidik tidak berbuat seperti yang mereka baca dan mereka pelajari. Akhirnya mereka juga berbuat seperti hal demikian. Akhirnya adalah lazim bila lingkungan ini menjadi kotor dan tidak rapi karena tangan orang-orang mulai dari usia muda sampai berusia tua, dari orang biasa sampai orang yang menganggap dirinya terdidik dan elit dan dari orang orang desa sampai kepada orang orang kota. Melihat kebersihan di daerah daerah lain di Indonesia dan juga negara tetangga, mereka bisa menjadi negara yang bersih dan asri, ini karena di sana sudah ada sistem dan sistem kebersihan itu sudah berjalan.

Ada beberapa kebijakan yang dapat dilakukan untuk membuat alam atau bumi ini menjadi lestari, bersih dan harmoni. Kebijakan itu bisa bersifat ”top down” dan ”bottom up”. Kota Padang, Padang Panjang, Payakumbuh, Bukittinggi dan sekarang kota Batusangkar juga berbenah diri dan berbagai kota di Sumatera Barat, begitu juga dengan berbagai kota dan kabupaten lain di Indonesia, bergerak menuju kota dan daerah bersih adalah melalui kebijakan ”top down”- pemerintah bersama pemuka masyarakat telah mengumandangkan terompet ”jaga kebersihan dan jangan membuang sampah sembarangan”. Seruan ini kemudian diikuti dengan melakukan aksi melibatkan berbagai unsur dan lapisan masyarakat dan mendorong bagaimana agar sistem kebersihan ini bisa berjalan.

Namun bila diamati secara seksama bahwa sistem kebersihan bisa terganggu oleh sikap dan kebiasaan orang orang- mereka bisa jadi anak sekolah, pejalan kaki, pegawai, buruh, pedagang dan lain-lain- melempar puntung rokok, kulit permen, bungkus makanan dan beraneka macam pembukus terbuat dari plastik, sampah atau material lainnya berjatuhan mengotori bumi. Dan orang lain merasa tidak peduli atas keberdaaan alam yang bersih berubah menjadi ”amburadul” ini. Jalan raya telah menjadi ”tong sampah yang terpanjang dan terbesar di dunia” karena pengguna jalan raya dan pemilik kendaraan bermotor tidak punya perasaan sensitif dan tega untuk mencemari kebersihan ini. Coba lihat sekarang bila anda berpergian. Arahkanlah pandangan dan kita akan menjumpai ribuan sampai jutaan keping sampah bertebaran mengganti indahnya tanaman bunga. Namun apakah masih ada perasaan risih mereka (dan kita) melihat kenyataan ini.

Bila perasaan sensitif sudah hilang atas masalah kebersihan. Maka adalah tugas kita, sebagai figur model, untuk kembali mengembalikan perasaan ”sense of sensitive” dan kita patut mengajak dan memberi contoh masyarakat ”groot grass level” dan juga masyarakat yang berpendidikan tinggi tapi berhati kurang sensitif untuk memiliki rasa peduli kepada lingkungan. Pada mulanya usaha untuk mengembalikan rasa peduli ini bisa bersifat”bottom up”. Dengan meminjam istilah ungkapan seorang Kyai Indonesia, yakni ”memulai usaha pelestarian lingkungan hidup” dan menjaga kebersihan dan ”tidak membuang sampah sembarangan” dari diri sendiri dan sekarang ini juga. Ini dimulai dari rumah tangga, sekolah, pemerintah dengan kantornya, pemilik usaha ekonomi dengan toko-tokonya dan para pemilik kendaraan dan pengguna jalan raya agar memahami bagaimana pentingnya makna kebersihan dan kebersihan alam itu sendiri.

Merenungkan kembali, seperti yang kita nyatakan di atas tadi, bahwa sungai yang dulu berair bening sekarang berubah menjadi sungai dengan tumpukan sampah. Pinggir jalan raya dan taman-taman yang dulu hijau oleh tumbuhan serta rerumputan dan sekarang kotor dan semraut oleh tebaran sampah botol minuman sampai sampah bungkus makanan. Itu semua disebabkan oleh perbuatan orang orang yang datang kesana dan para pengguna jalan. Dimana yang bertebaran itu bersumber dari sampah yang mereka bawa dari rumah atau sampah yang sumbernya dan dari toko-toko untuk kemudian mereka lemparkan ke bumi seenaknya. Maka figur yang amat bertanggung jawab atas penggotoran bumi ini adalah para pemilik toko, pemilik warung, pengguna jalan raya, pengusaha transportasi, orang tua dan guru dan orang-orang yang merasa dirinya sebagai orang terdidik.

Untuk mencegah agar setiap orang tidak membuang sampah seenaknya maka sangat diperlukan seribu sampai sejuta lagi spanduk yang bertuliskan ”jangan buang sampah” agar di pasang dan diukir di berbagai tempat mulai dari rumah, sekolah, kampus, pasar, persimpangan jalan, rumah ibadah, di desa dan di kota sampai ke tempat keramaian dan diikuti oleh perbuatan atau prilaku. Para figur harus melakukan agar bisa menjadi model bagi anak-anak dan generasi yang sedang sibuk menjadi figur atau model dalam usia indentifikasi diri mereka. Kemudian diperlukan pula agar kita menyediakan seribu sampai sejuta tong sampah. Namun jangan biarkan tong sampah itu tergeletak penuh dengan tumpukan sampah untuk jangka waktu lama apalagi bila menumpuk sampai sampai bertahun-tahun tindakan ”top down” amat dibutuhkan. Mimpi kita bisa terwujud untuk menjadikan daerah ini, negara ini agar bebas dari sampah lewat gerakan ”perang melawan sampah secara totalitas” sekarang ini juga dan mulai dari diri sendiri, sekolah sendiri, rumah sendiri, lingkungan sendiri.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Carnegie, Dale.(1994). Kunci Sukses Meraih Kewibawaan dan Kekuasaan. Jakarta: Delapratas.

Carnegie, Dale.(1978) Tuan Ingin Banyak Kawan.Jakarta: PN Balai Pustaka

Cassa, Herbert N.(1986) Bagaimana Seharusnya Jadi Pemimpin. Bandung: PT Alma’arif.

Fleet, James K Van.(1990) 25 Langkah Untuk Memiliki Pengaruh. Jakarta: Mitra Utama

Foster, Timothy RV.(1993) 101 Cara Menumbuhkan Gagasan Besar. Jakarta: Pustaka Tangga.

Hasri, Salfen. (2004). Sekolah Efektif dan Guru Efektif. Makassar: Yayasan Pendidikan Makassar.

Hill, Napoleon.(1994).Menjadi Kaya dengan Kedamaian Fikiran. Jakarta: Binarupa Aksara .

Mortell, Art.(1994) Berani Menghadapi Kegagalan. Jakarta: Mutiara Utama.

Nggermanto, Agus. (2003). Quantum Quotien (Kecerdasan Kuantum): Cara Melejitkan IQ, EQ dan SQ secara harmonis. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia.

Peale, Norman V.(1982) Bila Anda Berfikir Bisa. Jakarta: Gunung Jati.

Possant, Charles Albert.(1993).Rahasia Keberhasilan 10 Jutawan Terkemuka Dunia. Jakarta: Pustaka Tangga.

Reilly, William J.(1990) Mencapai Cita-Cita. Jakarta,:Mitra Utama.

Schwartz, DJ.(1997) Berfikir dan Berjiwa Besar. Jakarta: Gunung Jati.

Shadily, Hasan.(1983) Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta, PT Bina Aksara .

Siregar, Evendi M.(1989) Bagaimana Menjadi Pemimpin yang BErhasil. Jakarta: Yayasan Mari Belajar.

Biografi

Marjohan, M.Pd, adalah Guru SMA Negeri 3 Batusangkar, Program Pelayanan Keunggulan Kabupaten Tanah Datar dan penulis freelance pada pada koran Singgalang, Haluan dan Mingguan Canang, E-newsletter (Situs Departemen Pendidikan Sumatra Barat). Pernah menulis pada journal speleologie (Toulouse- Perancis). Menikah dengan Emi Surya dan Memiliki dua orang anak, Muhammad Fachrul Anshar , dan Nadhilla Azzahra, (marjohanusman@yahoo.com).

: Marjohan, M.Pd

Hp. 085263537981

e-mail : marjohanusman@yahoo.com

marjohanusman@gmail.com

http://penulisbatusangkar.blogspot.com/

(Guru SMA Negeri 3 Pelayanan Keunggulan Batusangkar)


Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture

Jangan lewatkan Blog's MARJOHAN ini

Loading...