Rabu, 09 September 2009

Bila Media Televisi Kurang Memiliki Nilai Pendidikan


Bila Media Televisi Kurang Memiliki Nilai Pendidikan
Oleh. Marjohan M.Pd
SMAN 3 Batusangkar

Dalam mata pelajaran civic (kewarganegaraan) dikatakan bahwa ada empat kekuaasaan dalam bernegara yaitu kekuaasaan legislatif (membuat undang-undang), eksekutif (melaksanakan undang-undang), yudikatif (menegakan undang-undang) dan kekuasaan atau kekuatan media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Setelah tahun 2000, yaitu pasca krisis moneter, industri media massa tampak begitu subur. Sehingga sekarang ada puluhan judul media cetak (surat kabar, tabloid, dan surat kabar) dan media elektronik (televisi dan radio) berskala lokal (propinsi) dan skala nasional. .
Media massa mempunyai kekuatan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Para pahlawan seperti Muhammad Hatta, Haji Agus Salim, Buya Hamka (dan lain-lain) mampu membentuk opini masyarakat melalui media cetak bahwa mereka adalah bangsa Indonesia dan harus merebut kemerdekaan. Bung Karno dan Bung Tomo melalui media elektronik (radio) telah mengobarkan gelora emosi rakyat untuk mengusir penjajah.
Selanjutnya bagaimana pula kekuatan pengaruh dari media televisi dalam mendidik dan membina mental/ akhlak generasi muda dan generasi tua di tanah air ini ? Manfaat televisi dalam membangun mental bangsa bias dilihat dari bentuk atau jenis mata acara yang mereka miliki. Mata acara televisi seperti warta berita, dengan nama lain seperti Buletin Siang, Seputar Indonesia, News Flash, Metro Siang, Liputan Pagi, dan lain-lain, bisa memperkaya informasi masyarakat. Mata Acara dalam bentuk laporan, pengajian dan bincang-bincang juga memperkaya kognitif dan affektif atau mental pemirsanya.
Lebih lanjut bahwa sekarang telah ada belasan televisi swasta di negara tercinta ini dan apa saja kontribusi mereka dalam pembangunan mental pemirsanya ? Pada umumnya konten (isi) mata acara televisi swasta adalah dalam bentuk hiburan dan iklan. Pagi-pagi buta, sebelum ayam berkokok, sudah ada yang menyuguhi masyarakat film-film dan hiburan. Pada hal secara logika pemirsa belum butuh dihibur karena masih fit and fresh (segar dan bugar). Ini terjadi karena misi televisi swasta adalah bukan untuk mendidik masyarakat tetapi untuk mnghibur dengan missi infotaiment (informasi dan entertainment).
Hiburan yang diberikan adalah serangkaian film dan film dari pagi sampai larut malam. Kalau dihitung ada 10 atau 11 film yang disuguhkan. Maka kalau ada masyarakat yang kerajingan nonton film, pastilah mereka akan menghabisan waktu belasan jam di depan layar televisi setiap hari dan akan kehilangan saat-saat produktif dalam mengembangkan diri mereka. Sementara itu bentuk informasi yang disuguhkan pada masyarakat adalah dalam bentuk kupasan laporan kriminal dan gunjingan (gossip atau dalam istilah agama adalah ghibah ) seputar kehidupan selebriti- artis, atlit, konglomerat dan public figure yang lain. Apa gunanya ? Ya mungkin agar penonton menjadi tukang gossip atau sekedar memperoleh info murahan sebagai pembunuh waktu.
Selanjutnya tentang konten film yang cendrung mengekspose kekayaan, kemewahan dan kekerasan. Pemirsa disuguhi adengan actor sinetron yang kerjanya naik mobil- turun mobil mewah, menghardik dan memaki orang tua ata anak. Kalau ada film tentang sekolah maka siswa yang dianggap pintar adalah siswa yang berkacamata tebal dan lugu, kalau guru- ya guru yang killer atau guru miskin yang pergi sekolah mendayung sepeda. Ini adalah bentuk pelecehan terselubung terhadap dunia pendidikn.
Para presenter televisi pada umumnya cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Mereka adalah orang-orang cerdas yang telah lulus dalam serangkaian seleksi yang ketat. Namun mengapa penampilan mereka tidak lagi membumi dan alami. Rambut yang hitam musti dipoles warna warni dan pakaian yang sopan musti disulap menjadi pakaian yang mempertontonkan aurat dan disuguhi kepada pemirsa yang terdiri dari masyarakat awam, intelektual, pendidik, tokoh spiritual dan kaum ulama, mungkin sambil berujar “lihatlah auratku !”. Atau ada misi khusus untuk mengajak dan memotivasi pemirsa bahwa “beginilah menjadi orang hebat dan orang moderen itu”. Tidak heran bahwa ternyata mereka , presenter, selebriti dan public figure yang satu aliran, telah menginspirasi pemirsa mereka. Remaja dan rakyat awam, untuk mengikuti life style mereka- cara berpakaian, cara berbicara, cara berjalan dan cara berprilaku yang lain. Maka secara perlahan, sadar atau tidak sadar, maka tercabutlah mereka dari gaya hidup asli mereka – budaya sendiri.
Sekarang terasa dan terlihat bahwa program media elektronik (terutama TV swasta) tidak lagi memberi pencerahan dan pendidikan pada pemirsa mereka. Mata acara yang mereka tayangkan terlihat bisa memicu emosi pemirsanya. Masih ingat kisah kisruhnya rumahtangga Manohara dengan Sultan dari salah satu Kerajaan di negara bagian di Malaysia ? Pasti Romeo dan Juliet abat ke 21 ini pada awalnya pernah memiliki kisah cinta sehingga mereka bisa jumpa dan duduk di mahligai perkawinan. Namun ketika terjadi prahara cinta, maka TV swasta yang memiliki mata acara bergossip atau “bergunjing atau berghibah” mengupas dan mengemas mata acara gossip ini menjadi konsumsi emosi pemirsa. Namun kupasan gossip perceraian Manora versus Pangeran Kelantan cuma disorot secara tajam dari sisi Manohara semata dan tidak satu pun ada sorotan berimbang dari sisi Raja, alias TV swasta tidak netral. Tayangan gossip atas nama membela Manohara sebagai orang Indonesia dan rasa nasionalis maka yang timbul pada pemirsa adalah rasa nasionalis yang kebablasan- emosi yang meledak ledak.
Apakah pengusaha industri media elektronik tidak tahu bahwa bangsa kita juga pernah dan masih menyadur budaya dan kesenian bangsa lain. Agaknya banyak orang Indonesia yang pernah mendengar dan menikmati lagu-lagu popular yang irmanya disadur dari irama Mandarin, Amerika Latin atau dari yel-yel (lagu) Piala Dunia (Coup de Le Monde) yang berbunyi “go-go-go, alle-alle-alle”, juga irama lagu “guantanamera” serta lagu la bamba yang lain hingga menjadi popular dan menghidupkan industri hiburan di negeri ini. Hadad Alwi sendiri sebagai musisi Islam juga menyadur irama lagu “follow me- follow me” menjadi nasyid yang digandrungi oleh tua dan muda.
Saat kepemimpinan Abdurrahman Wahid, sebagai Presiden , maka etnis Cina memperoleh kebebasan dalam mengekspresikan diri dan budaya mereka. Selanjutnya sejak itu sampai saat sekarang arak-arakan Barongsai menjadi kesenian yang cukup popular di kota-kota besar. Kemudian tarian Ramayana, yang aslinya berasal dari India, telah menjadi seni budaya di Pulau Jawa. Namun mengapa negara Cina dan India tidak protes dan mencak-mencak di media massa sampai di dunia cyber.
Namun tiba-tiba ada oknum personel (bukan atas nama pemerintah) dari Malaysia mengadopsi kesenian kita “Tari Pendet”, lagu “rasa sayange” dan lain-lain. Adopsi budaya ini lagi-lagi dikupas dan diberi bumbu emosinal yang membangkitkan amarah dan gelora kebencian dalam tayangan mata acara “televisi- televisi swasta tertentu”. Katanya demi menumbuhkan rasa nasionalis yang cenderung tenggelam. Maka betul-betul bergejolaklah amarah dan kebencian pemuda “ganyang Malaysia…..!!!”. Keberadaan situs gratisan di cyber, lewat blogger, multiply, wordpress, Face Book, juga disalah gunakan dengan membuat situs carut marut antara anak-anak Malaysia dan anak-anak Indonesia. Bermuncullan situs-situs liar “Malingsia, Indoesial, dan lain-lain”, walau mereka sama sama satu rumpun melaya dan mungkin se-agama- Islam yang dalam sholat mengucapkan “innnas sholati wanushuji wamahyaya wamahmati lillahirabbil ‘alamin- sesungguhnya sholatku, perbuatanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah”. Apakah ini yang dinamakan dengan rasa nasionalis- rasa nasionalis untuk anak-anak Indonesia dan anak-anak dari Indonesia ? Apakah seperti ini rasa nasionalis yang diinginkan oleh industri media elektronik, terutama TV swasta, di negeri ini ?
Agaknya untuk menumbuhkan rasa nasionalis- dalam bentuk dorongan positif- para generasi muda, maka pihak televisi bisa berbuat banyak. Misalnya dengan menyediakan kuota mata acara khusus dan menayang lagu-lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan lagu lagu nasional lain, seperti “Rayuan Pulau Kelapa, Bandung Lautan Api, Jembatan Merah, Dari Sabang Sampai Merauke, dan lain-lain. Namun dalam kenyataanya mereka (para pengusaha industri media elektronik) kikir dalam mempromosikan lagu-lagu nasional, dan lagu kebangsaan. Kenyataan lagu-lagu cinta yang cengeng dan bermesraan yang selalu mengumandang dalam rumah-rumah bangsa Indonesia. Sehingga balita-balita lugu banyak yang lebih hafal lagu-lagu cinta yang patut dikonsumsi orang remaja/.dewasa.
Dalam sebuah berita koran Singgalang (Agustus, 2009) mengatakan berdasarkan survey wartawannya bahwa cukup banyak orang dewasa di kota Padang yang tidak kenal lagi dengan bait dan lirik lagu “Indonesia Raya”. Ini adalah akibat dampak dari lagu-lagu kebangsaan dan lagu nasional sudah jarang diputar dan dikumandangkan di pesawat radio dan televisi.
Lantas, apakah konten dan semua mata acara televisi itu jelek ? Terus terang mata acara televisi juga banyak yang bagus. Film-film religi mendapat respon positif di masyarakat yang luas. Mata acara kuiz, jelajah alam dan bincang-bincang cukup bagus untuk menambah wawasan pemirsa mereka. Namun sayang bahwa banyak masyarakat kita yang tidak tahu dengan aturan menonton dan menghidupkan televise, sampai- sampai telah mencederai pendidikan anak-anak mereka sendiri- hingga jadi malas belajar dan beribadah, gara-gara tayangan televise jauh lebih menarik dan menggiurkan.
Zaman sudah semakin aneh dan banyak orang menjadi entertainment oriented. Membayangkan dan menganggap bahwa kita akan bahagia kalau diberi sarana hiburan. “Mak kalau aku ada reski, mak akan aku belikan televise 24 inchi…!”. Memang aneh mengapa orang tua yang sudah beranjak uzur tidak dimotivasi untuk banyak beribadah untuk mempersiapkan diri menuju Khalik- Sang Pencipta.
Memang inilah fenomena yang terjadi sekarang, mulai dari usia anak-anak sampa ke usia sangat tua, banyak famili kita yang betul-betul gemar menonton. Isi mata acara yang disuguhkan oleh TV- iklan dan hiburan yang berpotensi mendorong pemirsa dari seluruh lapisan umur untuk pro dengan gaya hidup mewah, hedonisme (ingin hidup serba senang) dan gaya hidup konsumerisme untuk dilahap habis-habisan sehingga memang telah mengubah gaya hidup mereka.
Sekarang bagi kita yang sadar akan eksistensi televise- plus dan minusnya dan bagi mereka yang belum siap untuk beradaptasi dengan gaya hidup yang ditawarkan televisi yang banyak unsur komersilnya untuk berfikir bila hendak membeli televise dan berfikir bila hendak menghidupkannya. Penulis sendiri dan beberapa orang teman merasakan pengaruh negative televise dalam mendidik anak dan memutuskan untuk bersikap “say no to television”. Namun untuk kebutuhan informasi dan pendidikan maka penulis menyediakan media cetak (majalah dan surat kabar). Kebutuhan jelajah anak dikembangkan lewat dunia buku dan beberapa educational game pada laptop. Mendidik anak tanpa kehadiran televise telah membuat anak- anak bebas dari hardikan dan celaan gara-gara kerajingan nonton televise dan malas belajar dan bekerja.
(Marjohan M.Pd, Guru SMA Negeri 3 Batusangkar)

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture