Minggu, 22 Februari 2009

MEMBUDAYAKAN APPLAUSE dan MENCEGAH KEKERASAN DALAM MENDIDIK

MEMBUDAYAKAN APPLAUSE dan MENCEGAH KEKERASAN DALAM MENDIDIK

Oleh: Marjohan M.Pd

(Guru SMAN 3 Batusangkar)



Punishment dan reward- pemberian hukuman dan ganjaran- dalam ilmu paedagogi dipandang sebagai bagian dari proses pendidikan. Pemberian hukuman bertujuan untuk memberiikan efek jera dan mencegah berlanjutnya prilaku negatif dan ganjaran berguna untuk penguatan atas prilaku positif. Punishment dan reward juga dikenal dalam ajaran agama.

Dalam Islam diajarkan tentang tentang adanya sorga dan neraka. Siapa saja yang melakukan amal buruk (negative) atau mengingkari ajaran Allah Swt adalah dosa (diberi punishment), dan siapa saja yang melakukan amal baik (positif) dan mematuhi perintah serta meninggalkan larangan Nya, maka akan diberi pahala atau reward. Hamba Allah yang memiliki banyak dosa akan dilemparkan kelak kedalam Jahanam (neraka) sebagai punishment, dan yang melakukan banyak kebajikan, memiliki banyak pahala maka bagi mereka adalah Sorga (reward) sebagai tempat yang layak, amiiin. Namun Allah Swt memiliki ampunan yang besar bagi mereka yang bertobat, meninggalkan kebisaaan negative atau dosa.

Dalam pendidikan terhadap anak di rumah, orangtua juga memberiikan punishment dan reward pada prilaku anak. Bentuk dari reward adalah seperti menghargai, memuji, mencium, bertepuk tangan dan sampai pada memberii hadiah. Sementara bentuk dari punishment adalah seperti tidak acuh, membentak, menhardik, mencaci, sampai pada memukul atau hukuman fisik yang lain.

Reward- dalam bentuk pujian dan penghargaan - lebih dominan diberikan pada anak sejak usia dini sampai mereka masuk Sekolah Dasar. Pujian demi pujian atas aktivitas dan pengalaman hidup yang dilakukan anak telah mendorong mereka untuk tumbuh dan berkembang. Apalagi dalam rentangan usia ini- usia balita- dengan proses pertumbuhan otak yang cepat yang juga disebut dengan masa emas (golden period) maka pemberian reward/ dalam bentuk pujian dan penghargaan akan membantu anak untuk tumbuh dan berkembang secara sempurna.

Dalam usia ini hampir semua orang tua mengekspresikan tutur bahasa yang lembut sambil menyirami anak dengan perhatian, penghargaan dan pujian , “ayo anak manis, jangan suka ganggu mama, kalau sedang kerja. Kalau kamu bisa jalan, nanti mama kasih kue enak”. Atau sang ayah juga bertutur lembut dan ramah, “Eko, kalau kamu bisa pasang sepatu, nanti papa bawa ke kebun binatang…!”. Pemberian reward lebih dominan daripada pemberian punishment bukan ?. Malah anak yang tiba-tiba memukul wajah sang ayah, karena akalnya yang masih kecil, bisa jadi memperoleh maaf segera dari sang ayah.

Pemberian pujian dan penghargaan (reward) cedrung berkurang saat usia anak beranjak semakin besar. Malah orangtua dalam masyarakat root grass level (masyarakat lapisan bawah yang jumlahnya sangat banyak ) juga jarang membiasakan mengatakan kata-kata “maaf dan terimakasih” sebagai model dalam pendidikan akhlak di rumah, akibatnya anak-anak juga tidak terbiasa dan mampu untuk mengucapkan ke dua kata tersebut dalam konteks yang tepat dalam pergaulan mereka. Pada akhirnya anak anak tumbuh menjadi generasi yang kikir untuk menuturkan kata-kata “I am sorry dan Thank you very much” dalam bahasa mereka.

Seperti yang telah dikatakan bahwa pemberian ungkapan penghargaan pada anak sangat umum sejak usia dini sampai mereka menginjak usia Sekolah Dasar. Namun begitu saat anak mulai memasuki usia bersosialisasi di SD, SMP dan SLTA, maka pemberian kata-kata penghargaan (oh itu bagus, terimakasih, kamu memang hebat, dan lain-lain) langsung dari mulut orangtua secara tulus makin lama makin jarang mereka peroleh. Kalau anak melakukan suatu tindakan yang terpuji/ positif, itu dipandang sebagai suatu hal yang wajar dan tidak perlu lagi diberi pujian segala. Ada orang awam yang berkata bahwa anak-anak yang sudah besar tidak perlu pujian lagi karena mereka bisa menjadi besar kepala- demam pujian (prize oriented) kelak. Tetapi bila sang anak melakukan kesalahan maka mereka secara spontan- buru buru- memperoleh kutukan, cacian, sampai kepada corporal punishment (hukuman fisik) seperti - menjewer, memukul, menampar, membenturkan kepala dan sampai kepada bentuk yang lain, nauzubillah minzalik .

Praktek pemberian reward yang kurang saat anak melakukan tindakan positif dan gampangnya memberiikan punishment bila anak melakukan tindakan negatif terasa seolah-olah sebagai fenomena sosial, terutama bagi kalangan masyarakat berpendidikan rendah dan mereka yang tinggal dalam rumah yang sangat padat. “wah kau dasar anak goblok…, senyum mu kok seperti nyengirnya kuda…!” ungkapan- ungkapan tadi sangat umum didengar ditengah masyarakat.

Pembiasaan tidak banyak memberiikan pujian, penghargaan dan minta maaf dalam pendidikan keluarga dari generasi tua, telah ditiru (menjadi model) oleh generasi berikutnya. Pada akhirnya pembiasaan yang negatif ini seolah-olah telah menjadi fenomena demoralisasi karena tidak mampu mengungkapkan maaf dan terimakasih dalam konteks yang tepat. Sekarang cukup banyak terdengar keluhan di kalangan pendidikan yang mengatakan bahwa anak-anak sekarang sebagian cendrung berkarakter beringas, kurang sopan santun , kurang pandai bertegur sapa dengan orang tua dan guru kalau berpapasan di jalan. Pada-hal orang dari dunia Barat sudah terlanjur beranggapan positif bahwa kita adalah sebagai bangsa yang ramah, karena gampang senyum, walau dalam kenyataan bahwa kita adalah orang yang sulit dalam mengungkapkan “maaf kan saya atau terima kasih banyak”. Ketika anak tumbuh menjadi lebih besar, di rumah kurang memperoleh pujian, perhatian,, dan reward yang cukup dari proses pendidikan, dan di saat itu mereka membutuhkan hal hal ini untuk menghangatkan emosi mereka, maka muncullah kompensasi prilaku yang aneh-aneh seperti bertingkah agresif untuk mencari perhatian, haus pujian, suka mengganggu/ mengusik anggota keluarga, teman sebaya dan orang lain.

Guru-guru yang mengajar mulai dari bangku SD, SMP, sampai SLTA, dan malah juga para dosen di Perguruan Tinggi adalah juga orangtua bagi anak-anak mereka di rumah. Sebagian dari mereka mungkin juga terkondisi melalui pendidikan sosial sebelumnya untuk tidak royal dalam memberii perhatian, penghargaan atau reward terhadap anak-anak didik mereka- tentu tidak semuanya yang begitu. Namun cukup banyak ditemui guru yang berprilaku keras, sampai memperlihatkan wajah bengis (atas nama mempertahankan suatu disiplin) pada anak kecil-kecil yang usianya masih berkisar 7 – 13 tahun. “Wah kau dasar bloon, mukamu dasar muka tembok, apa matamu buta…”, dan masih ada lusinan koleksi kata-kata emosional lainnya yang sering terucap dari mulut guru saat mereka lagi dalam keadaan bad mood di lingkungan sekolah atau saat PBM di kelas. Namun guru-guru yang selalu mampu mengontrol emosi, dan memberi maaf – mungkin adanya kesadaran- karena digaji Negara (juga oleh tunjangan sertifikasi) dan telah komit memilih profesi guru untuk banyak memberii maaf atas prilaku anak didik, maka sebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa sangat tepat buat mereka.

Prilaku siswa di sekolah adalah prilaku bawaan dari rumah dimana mereka dibesarkan dalam lingkungan yang jarang memberiikan pujian dan perhatian, kecuali punishment/ cacian, cemooh dan ancaman telah tumbuh menjadi anak didik yang agressif, sulit berkosentrasi, haus perhatian, dan suka menganggu ketenangan teman. Dalam pandangan ilmu paedagogi lama bahwa anak didik yang demikian (melakukan kegaduhan/gangguan) perlu untuk diberi punishment- walau prilaku mereka terpola akibat dari kelebihan mis-punishment (mal-praktek punishment) di rumah, maka guru-guru di sekolah juga cendrung memberiikan punishment untuk memberiikan efek penjeraan seperti; mengharik, mencaci, menjewer, push-up, meloncat sambil jongkok, berdiri kaki itik/ sebelah kaki di depan kelas (agar supaya anak jadi jera atau supaya kelak tumbuh menjadi bangsa pemalu/ mental budak ?) menampar, menendang, dan sampai memberikan hukuman fisik yang lain.

Pemberian punishment pada anak didik tampak makin intense/meningkat saat mereka berada pada usia pra-pubertas/puber awal sampai pada pubertas pertengahan, yaitu saat mereka duduk di kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar sampai di penghujung kelas 12 di SMP. Ini adalah periode dimana anak memperlihatkan prilaku sangat agresif,yaitu banyak gerak dan banyak berteriak-teriak. Untuk meredam agressif mereka maka lagi-lagi sebagian guru-guru memilih cara-cara kasar dalam bertutur sampai pada melakukan kekerasan atau hukuman fisik.

Kemajuan teknologi dan informasi, juga memaksa kemajuan dalam pelayanan pendidikan. Pendidikan yang diharapkan oleh public adalah pendidikan yang kaya dengan sentuhan kemanusiaan. Maka gencarlah harapan untuk member anak dengan pendidikan bernuansa sentuhan emosi, sentuhan kalbu, sentuhan humanistic yang tulus. Anak perlu didik dan dilindungi dan mereka harus diberi perlindungan hukum- alhamdullillah. Tuntutan untuk mewujudkan hal yang demikian tentu juga mengharapkan agar orang tua di rumah dan guru di sekolah mengubah sikap dan kepribadian untuk melaksanakan pelayanan mendidik mereka- melalui pelatihan, pembiasaan dan iktikad baik- agar mampu bersikap lembut, ramah, simpatik dan empatik , dan selalu menjadi model yang selalu sabar dan santun dalam mendidik anak.

Adalah merupakan seruan yang positif agar orangtua dan guru mampu memberikan pendidikan dengan sentuhan kemanusiann- sentuhan kasih sayang yang tulus. Untuk perbaikan moral dan karakter anak, oleh sebab itu diharapkan agar tugas pendidikan yang paling utama musti ada pada orangtua. Namun guru juga perlu melakukan peubahan total dalam gaya mendidik. Mendidik dengan cara kekerasan dan penuh menekan atas nama mendisiplinkan anak adalah gaya mendidik guru-guru yang bergaya otoriter. Pendidik dengan model persuasive, mengayomi, dan pemodelan positif pasti selalu ada dan dapat dipelajari serta diadopsi.

Kebisaaan yang dilakukan oleh instruktur pada pelatihan sosial bagi orang-orang dewasa dan remaja dan sampai kepada guru-guru TK, guru-guru pada PAUD (pendidikan anak usia dini), sampai kepada kebisaaan memberikan applause ( tepuk tangan) oleh presenter atau guru yang berpribadi hangat atas tindakan positif seorang aktor/ murid dalam suatu kegiatan patut untuk diteladani. Sekolah harus tahu (dan harus mengadopsi) bahwa kini banyak perusahaan meningkatkan pelayanan dengan menonjolkan unsur -unsur simpatik seperti semboyan mereka ; melayani dengan penuh ramah tamah, melayani anda dengan tegur sapa dan senyum. Anak-anak sekarang banyak yang merasakan bahwa sekolah atas nama mengejar kualitas dan disiplin penuh dengan tekanann ibarat penjara modern, dan mereka bertutur “wah bête belajar di sana”. Namun sekolah sekolah walau gedungnya sederhana tapi memberi pelayanan prima- tenaga pendidik mengajar dengan mengutamakan pemberian pujian, penghargaan, dan ungkapan maaf yang tinggi bisa menjadi tempat favorite dan sangat menyenangkan bagi anak-anak didik. Mendidik anak oleh guru dan orangtua dengan membudayakan applause dan mencegah untuk melakukan kekerasan fisik dan psikis adalah sangat tepat dan urgent (mendesak) untuk diterapkan demi memperoleh generasi yang rajin, cerdas, sholeh dan santun dalam hidup, amin.

Sabtu, 07 Februari 2009

Faktor-Faktor Penyebab “Karakter Ingin Jalan Pintas”
di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa

Oleh: Marjohan M.Pd
(Guru SMAN 3 Batusangkar)

Generasi muda sekarang sangat akrab dengan computer dan laptop. Karena kedua produk ini dilengkapi dengan fitur (feature) pendidikan dan hiburan seperti game dan lagu. Apalagi sejak produk ini telah menjadi mata pelajaran- dengan nama TIK (Teknologi Informasi Komunikasi)- pada jenjang pendidikan SMP dan SLTA. Ada satu kata atau frase yang sudah dikenal baik oleh pengguna computer yaitu “short cut” atau jalan pintas. Lewat short cut pengguna computer bisa langsung masuk ke dalam file, folder atau program yang ingin dioperasikan pada komputer.

Sebahagian pelajar dan mahasiswa sekarang cenderung suka belajar dan bekerja dengan cara ngebut atau dengan menggunakan berbagai muslihat atau tipuan (mungkin dengan mencontek atau memakai jasa orang lain untuk memuluskan tujuan) adalah dapat dipandang sebagai karakter jalan pintas. Atau dapat juga dikatakan sebagai budaya instant (sekarang ditanam besok dapat dipanen,nonsense bukan ?). karakter jalan pintas- belajar/ bekerja santai namun masa depan cerah- jarang sekali membuat mereka sukses. Fenomena umum adalah bahwa manusia yang berkarakter jalan pintas, rata- rata berakhir dengan masa depan yang suram. Namun bagaimana karakter jalan pintas telah tumbuh subuh pada pribadi sebahagian pelajar dan mahasiswa ? Tentu karakter ini terbentuk secara perlahan-lahan dalam proses kehidupan sosial mereka sejak dari masa anak-anak sampai ke masa remaja/ dewasa.

Karakter anak-anak zaman sekarang tidak jauh berbeda dengan karakter anak-anak zaman dahulu. Ketika lahir mereka sama-sama pandai menangis dan sama- sama melalui proses pertumbuhan dan perkembangan. Namun mereka menjadi berbeda satu sama lain dalam hal karakter karena genotype atau karakter turunan dari orangtua dan ditambah dengan faktor stimulus (rangsangan) dan pengalaman hidup yang dialami. Faktor yang terakhir yaitu stimulus dan pengalaman hidup sangat menentukan pembentukan karakter “ingin jalan pintas/ budaya instan”.

Dari usia dini sampai usia 5- 8 tahun, semua anak di dunia masih bersifat patuh dan berkarakter sebagai anak manis- anak yang baik dan pasif. Rentangan usia ini adalah masa-masa pembentukan karakter. Mereka memang menerima input-input untuk pembentuk karakter atau prilaku- apakah kelak berkarakter smart atau ingin jalan pintas. Namun menjelang usia akil balig (remaja)- di akhir tingkat SD dan di awal tingkat SMP, kecendrungan pola karakter mereka terlihat lebih jelas- karakter ingin jalan pintas atau suka bekerja/belajar keras. Pada ambang masa remaja ini mereka memperlihatkan fenomena senang memberontak- memperlihatkan opini sendiri dan ingin mencari jati diri. Karakter suka memberontak ini makin menajam ketika mereka dalam masa remaja. Sebahagian orang tua/ orang dewasa yang kurang memahami perkembangan jiwa anak sering kesulitan untuk beradaptasi dengan mereka. Masa ini dinamakan sebagai masa panca roba. Masa panca roba pada hakekatnya merupakan tahap akhir sebelum anak memaski usia dewasa. Kalau dalam masa remaja mereka terlihat suka jalan pintas maka dalam usia dewasa dini karakter jalan pintas bisa terlihat lebih jelas atau factor sugesti dan saran dari luar mengikis karakter ingin jalan pintas.

Karakter jalan pintas terbentuk tanpa disadari dalam proses hidup. Ada sejumlah faktor penyebab terbentuknya karakter ingin jalann pintas- ciri-ciri oknumnya seperti pemalas, motivasi belajar rendah, dan bergaya hidup ingin senang terus. Ini merupakan kontribusi negatif dari faktor ekstrinsik.

Setiap orang sejak usia dini dalam pertumbuhan dan perkembangannya mendapat stimulus atau pengaruh dari tiga jenis lingkungan. Sarwono (2007) dalam artikelnya “:faktor-faktor yang menyebabkan anak malas belajar” (http://sarlito.hyperphp.com) mengatakan bahwa jenis lingkungan yang mempengaruhi anak rajin atau malas adalah seperti lingkungan mikro, lingkungan meso dan exo.

Manusia atau orang-orang yang berada dalam lingkunan mikro seorang anak adalah orang- orang yang berada dalam keluarga mereka seperti kakek-nenek, ayah-ibu, bibi-paman. Kemudian juga bisa sekolah yaitu guru-guru mereka, juga suster atau babysitter di tempat penitipan anak, pembantu rumah tangga dan tetangga dekat atau orang-orang seputar rumah. Lingkungan mikro yang lain adalah kondisi atau kualitas rumah mereka, tempat bermain mereka dan orang-orang lain yang dekat dengan anak dan dijumpai nya tiap hari.

Saat anak berusia lebih kecil , orang-orang yang ada dalam lingkungan keluarga/ di rumah mempunyai peran penting dalam membentuk karakter mereka dari stimulus dan pengaruh yang diberikan, apakah anak menjadi orang rajin, sabar, dan tekun. Ayah dan ibu yang cerdas tentu dapat membantu anak untuk tumbuh dan berkembang dengan menyediakan sarana pendidikan dan permainan berkualitas dan sekaligus memberi anak model untuk tumbuh menjadi manusia yang ulet.

Kalau anak kehilangan peran ayah dan ibu- mungkin karena kesibukan karir atau karena factor nasib, maka peran mendidik/ mengasuh anak bisa saja digantikan oleh nenek, bibi, paman, atau pembantu rumah tangga. Maka orang-orang tadilah sebagai penentu pembentukan karakter anak. Akan sangat beruntung kalau peran pengganti sebagai pengasuh anak memiliki kualitas dalam mengasuh anak.

Lingkungan ekstrinsik berikutnya adalah lingkungan meso yaitu bentuk hubungan orangtua-guru, orangtua-teman, pergaulan antar teman, guru-teman, dan lain-lain. Bentuk dan kualitas hubungan mereka sangat mempengarungi prilaku seorang anak (pelajar). Mereka akan menyerap prilaku dan nilai dari apa yang mereka amati. Teman-teman yang berkarakter baik namun suka meremehkan guru, sebagai contoh, dapat memberi inspirasi bagi temannya untuk berperilaku yang sama. Atau figur seorang guru yang memiliki kharisma di mata anak didik, namun ia perokok berat atau senang mengunjungi night club juga bisa memberi inspirasi bagi anak didik dalam berperilaku. Ketika usia anak beranjak remaja, maka pengaruh orang tua bisa jadi hilang atau berkurang. Apalagi kalau orangtua kurang mencikaraui (mengurus) soal pendidikan anak. Maka peran pengganti dalam mempengaruhi anak bisa jadi datang dari guru, orangtua teman, famili, atau orang yang sering dijumpai oleh anak.

Dalam zaman sekarang dengan bentuk keluarga inti- karena faktor migrasi dan tinggal jauh dari kaum kerabat/ kampung halaman- maka ikatan emosi remaja/ anak dengan kerabat , bisa jadi juga dengan orangtua sendiri, tidak begitu dekat. Sehingga apa yang dirasakan oleh sebahagian orangtua bahwa anak mereka tidak lagi mendengarkan perkataan (opini) dan nasehat mereka. Anak makin sering membantah, menolak opini dan larangan mereka. Karena anak telah memiliki kriteria opini sendiri dan tidak mudah menerima orang lain, maka dalam usia ini terkesan bahwa anak suka melawan orangtua. Apalagi semenjak mereka melihat banyak contoh yang kontra dari hal yang dilihat di dalam rumah dengan apa yang dikatakan oleh orangtua sendiri.

Suatu hari seorang ibu berkata “nak rajin-rajinlah belajar agar kelak bisa berhasil dalam hidup”, tetapi dalam kenyataan anak melihat tetangganya sendiri yang begitu rajin belajar (tetapi kuper atau kurang pergaulan) begitu tamat dari perguruan tinggi dengan IPK (indeks prestasi kumulatif) cum laude telah menjadi pengganggur. Contoh lain, orangtua melarang anak usia 15 tahun agar tidak menyetir mobil, namun anak berargumen (membantah) bahwa anak tetangga (atau temannya di sekolah) diizinkan menyetir mobil sejak dari bangku sekolah dasar. Jika anak disuruh sholat, maka anak akan protes karena papanya juga tidak sholat.

Di luar lingkungan mikro dan meso ada lagi lingkungan exo. Lingkungan exo adalah lingkungan yang tidak langsung menyentuh pribadi pelajar/ mahasiswa, akan tetapi masih besar pengaruhnya pada pembemtukan karakter mereka, seperti keluarga besar, polisi, dokter, presenter, bintang sinetron/ selebriti, tokoh politik, dan lain-lain. Intensitas interaksi tidak langsung (lewat menonton atau membaca) juga menentukan bentuk karakter pelajar/ mahasiswa. Cukup banyak pelajar dan mahasiswa sekarang yang belum terkondisi dengan budaya tulisan- budaya membaca dalam keluarga. Yang umum terlihat adalah banyak yang terkondisi dengan budaya menonton televisi dan budaya lisan- budaya ngobrol sampai debat kusir- berdebat tanpa analisa yang dalam atau berdebat dengan emosi dan kepala panas.

Cukup banyak remaja dan mahasiswa yang terkondisi dengan dua kebisaaan/ budaya ini- menonton dan budaya ngobrol. Ini tumbuh subur karena banyak rumah yang memiliki televisi dan sarana hiburan lain, namun tidak tahu kapan harus menonton dan memperoleh hiburan. Sementara itu cukup banyak orangtua yang belum memiliki konsep atau pola mendidik bagi keluarga. Konsep mereka begitu praktis, bahwa mereka terpaksa menghidupkan televisi atau sarana hiburan agar anak-anak tidak keluyuran ke rumah tetangga. Kalau perlu televisi dan VCD player hidup 24 jam.

Figur-figur yang kerap muncul dalam layar televisi seperti presenter, public figure, dan bintang sinetron, begitu figur yang ada dalam film pada DVD juga mempengaruhi karakter pelajar/ remaja/ mahasiswa sebagai penontonnya. Setelah menonton figur- figur tadi mereka memperoleh inspirasi untuk meniru perilaku dan gaya hidup yang sama- cara berbicara, cara berpakaian dan sampai kepada assesori yang dipakai oleh figure tontonan mereka tadi. Figur dalam lingkungan exo cukup banyak mewarnai prilaku remaja (pelajar dan mahasiswa) sekarang seperti memakai anting pada sebelah telinga, bertato, mencat rambut dengan warna norak, memakai celana model melorot dan menyembulkan celana dalam , gaya hidup mengamburkan uang lewat pemakaian HP yang kurang efektif, berpenampilan norak/ keren dengan rokok terselip dibibir, dan lain-lain.

Prinsip dan konsep mendidik praktis seperti ini sering membunuh karakter anak untuk ikut berpartisipasi dalam belajar dan bekerja- merapikan rumah. Pada akhirnya anak memetik kegagalan dalam bidang akademik di sekolah dan akhirnya timbul pro dan kontra antara sekolah dan rumah. Kata guru “anak bodoh karena orangtua kurang peduli dalam mendidik anak”, dan kata orangtua, “anak gagal karena guru kurang berkualitas dalam mengajar”.

Harus diakui bahwa menjadi orangtua dan pendidik (guru) di zaman sekarang memang sulit. Karena banyak orangtua dan guru yang belum pernah mengalami situasi seperti sekarang pada masa kecilnya. Guru dan orangtua dulu, waktu kecil, cuma cenderung meniru saja cara- cara mendidik dan berperilaku orangtua dan senior mereka. Kemudian, memang sulit mengubah pola berfikir seseorang dari pola berfikir tradisionil sesuai dengan tuntutan zaman sekarang. Namun bagaimana pun berat dan sulitnya mendidik dan mengajar anak, orang tua dan guru perlu melakukan revolusi dalam mengajar dan mendidik anak- memiliki wawasan dan memahami fenomena sosial zaman sekarang, karena kalau tidak maka mereka akan menjerumuskan generasi muda dalam kesulitan yang lebih besar karena mis-communication antara mereka.

Mengantisipasi/ mencegah agar anak (pelajar/mahasiswa/remaja) tidak terjebak dan ketularan dengan karakter “ingin hidup enak lewat jalan pintas” yang hanyak banyak dalam bentuk iming-iming dalam mimpi. Karakter ingin hidup dengan jalan pintas/ budaya instan sering terekspresi lewat moto dan gaya hidup mereka: hidup santai masa sepan cerah. Maka orangtua dan guru perlu memaksimalkan peran mereka dalam mendidik (terutama bagi orangtua) dalam membentuk karakter anak menjadi orang yang rajin dan ulet dalam belajar dan bekerja, tidak perlu membebaskan anak untuk tidak terlibat membantu orangtua bekerja di rumah- sebab cendrung mematikan potensi anak dalam memiliki life skill/ kecakapan hidup. Orangtua tua perlu memberi dan menjadi model (uswatul hasanah- suri teladan), berperilaku terlebih dahulu agar anak bisa menjadi orang yang rajin dan ulet dan menyediakan/ memperkaya wawasan anak serta memilihkan tempat pendidikan dan bermain yang berkualitas bagi mereka.

Marjohan M.Pd, guru SMAN 3 Batusangkar

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture