Sabtu, 31 Oktober 2009

Saatnya Belajar Dengan Cara Yang Menyenangkan

Saatnya Belajar Dengan Cara Yang Menyenangkan
Oleh : Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar
 
Dalam abad ke 21 ini sudah ada ribuan atau puluhan ribu sekolah, di persada ini, mulai dari tingkat rendah sampai ke tingkat yang lebih tinggi, dibangun sebagai tempat untuk untuk mendidik generasi muda agar mereka bisa menjadi bangsa yang bermartabat. Sekolah itu sendiri coraknya ada tiga, yaitu sekolah formal, informal dan non formal. Sementara rumah itu dengan eksistensi ayah dan ibu juga dapat dianggap sebagai sekolah pertama bagi anak dalam memahami kehidupan dan menguasai life skill  (keterampilan hidup). .
Kemudian bagaimana cara pandang anak-anak yang belajar di sekolah tersebut ?, Tentu saja juga bervariasi. Ada anak yang memandang sekolah sebagai tempat penyiksaan, karena mereka dipaksa melakukan latihan demi latihan dengan ancaman dan tekanan dari bapak dan ibu guru di sekolah. Ada yang memandang sekolah sebagai penjara, karena terpenjara dari pagi hingga sore sehingga kehilangan waktu untuk menjelajah di sawah dan dimkebun. Kemudian juga ada yang memandang sekolah sebagai pabrik otak. Karena disana ada unsur input/ masukan, proses dan output atau produk, dan anak anak didik dipandang sebagai benda dan siap untuk dilatih dan dilatih melulu tanpa memahami apa dan bagaimana hakekat belajar itu sendiri. Idealnya semua anak musti memandang sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk transfer ilmu agar berubah menjadi manusia yang lebih beradab. .
Rasa senang dalam belajar adalah masalah suasana hati. Ini diperoleh melalui perlakukan guru dan orang tua melalui dorongan dan motivasi mereka. Sebenarnya yang diperlukan oleh anak-anak dalam belajar adalah rasa percaya diri. Maka tugas orang tua dan guru tentu saja menumbuhkan rasa percaya diri mereka.. Dari pengalaman hidup, kita sering menemukan begitu banyak anak yang ragu-ragu atas apa yang mereka pelajari, sehingga mereka perlu didorong dan diberi semangat lewat kata- kata dan perlakuan.
Agar setiap anak bisa belajar dengan senang dan memperoleh hasil yang optimal, maka orang tua sebagai pengasuh di rumah dan guru dari balik dinding sekolah perlu memperkenakan tentang keterampilan belajar, kemampuan dalam berkomunikasi dan memperoleh lingkungan yang menyenangkan. Ternyata belajar juga memerlukan keterampilan. Agar seorang siswa tidak terjebak dalam kebosanan gaya belajar yang monoton (belajar cuma sekedar mencatat perkataan guru dan menghafal melulu) maka mereka perlu tahu bagaimana cara membaca , cara mencatat, cara mengolah suasana hati yang jitu, cara mengolah lingkungan dan cara berkomunikasi dengan guru dan teman teman selama pembelajaran.
Kemampuan dalam berkomunikasi juga menentukan apakah suasana belajar menyenangkan atau tidak. “Bukankan hidup kita juga ditentukan oleh suasana komunikasi atau seni berbahasa”. Berbahasa ? Tentu saja cara berbahasa itu ada 2 macam yaitu: yang menyenangkan atau cara berbahasa yang mengecewakan. Guru maupun orang tua, walaupun katanya selalu mendorong anak agar jadi pintar dalam belajar namun kadang kala cara berbahasa kurang pas menurut pribadi sang anak. “Aku tidak senang belajar dengan guru itu…. Atau tidak suka dengan suasana di rumah ?”. Tentu saja karena gaya berbahasa yang kasar, cerewet, banyak mengomel, suka membentak, banyak memperolok-olokan sang anak, meremehkan harga diri dan ada belasan cara berbahasa negatif lainnya.
Dua orang yang sedang jatuh cinta bisa hubungan mereka bisa  segera putus gara-gara berbahasa yang tidak simpatik menurut pandangan partnernya. Sebaliknya cinta mereka bisa langgeng karena “cara berbahasa yang menarik” selalu mempertahan cara berbahasa yang sopan, santun dan lembut. Suasana berbahasa yang menyenangkan (bernuansa positif: bahasa yang penuh pujian, dorongan/ motivasi dan penghargaan) dan diikuti oleh lingkungan yang menyenangkan tentulah akan membuat potensi belajar anak akan meningkat.. Suasana lingkungan rumah yang kerap membuat anak tidak nyaman adalah kondisi rumah yang sempit, pengap, sembrawut dan ruangan rumah yang hiruk pikuk oleh suara elektronik (lagu dan tayangan televise) yang cedrung membuat kita sendiri  susah berkomunikasi apalagi berkonsentrasi dalam belajar.
Secara umum mengapa pembelajaran anak kecil lebih sukses dibandingkan pembelajaran yang dilakukan oleh orang dewasa ? Sehingga ada pribahasa yang mengatakan bahwa “Belajar diwaktu kecil ibarat menulis di atas batu (akan selalu berbekas) dan belajar di waktu dewasa ibarat melukis di atas air (apa yang dipelajari akan cepat jadi sirna)”. Penyebabnya adalah selain faktor pertumbuhan otak, masa anak-anak dan remaja disebut sebagai the golden age- masa pertumbuhan otak yang pesat, adalah juga karena anak kecil cenderung melalui instink belajar secara global. Global learning atau belajar secara menyeluruh, ya ibarat bayi atau anak kecil yang meneliti lingkungan lewat mulut, tangan, dan mata untuk mengeksplorasi apa saja apa yang dapat dijangkau.  
Beruntunglah bayi dan anak kecil yang memiliki orang tua yang peduli dalam merangsang mereka dalam global learning- menyediakan sarana bermain dan belajar, kertas untuk dicoret atau untuk digunting, bunyi-bunyian, dan benda-benda lain untuk digengagam dan dilempar. Tanpa diikuti oleh kebiasaan orang tua yang terlalu banyak menolong, mengeritik dan serba banyak melarang. Selanjutnya bahwa untuk membuat suasana belajar bisa menjadi nyaman, sangat dipengaruhi oleh respond dan rangsangan (stimulus) lingkungan serta bagaimana tekhnik belajar/ mencatat dan pengalaman pribadi anak atau kita sendiri.  
Respon dan stimulus lingkungan
Tiap hari anak memperoleh dua macam komentar dari teman, orang tua, dan lingkungan yaitu komentar positif dan komentar negatif. Komentar yang sering terucap berhubungan dengan belajar bisa jadi berupa serangkaian kata-kata pujian atau cacian. “Kamu memang hebat, kamu memang pintar, kamu memang jenius, kamu memang disiplin atau yang negatif: kamu sungguh kurang ajar, kamu betul-betul bodoh, otak mu mungkin sudah penuh dengan pasir, kamu memang idiot, dan ada lagi sejuta kalimat negatif  lain yang sangat ampuh dalam menyayat perasaan sang anak”.
Sangat berbahaya bila sang anak atau sang siswa terlalu banyak memperoleh komentar negatif. Sebab semangatnya bisa jadi melorot. “Percuma saja aku rajin belajar atau rajin bekerja karena toh aku tidak akan pernah dihargai sebagai manusia”. Kalau begitu mengapa kita terbiasa gencar membombardir anak-anak atau orang- orang yang posisinya berada di bawah kekuasan kita dengan stimulus negatif. Mungkin gara-gara merasa sok berkuasa atau sok punya power yang membuat orang merasa mudah melemparkan kritikan dan komentar negatif.
Ada anak yang secara sekilas dipandang sangat beruntung karena tinggal dengan orang tua yang berpenampilan sangat gagah dan fasilitas hidup cukup mewah- punya mobil, disuruh ikut les ini dan les itu. Namun sang anak malah bermimpi bahwa alangkah indahnya kalau bisa pindah rumah. Ada apa gerangan ? ternyata Ia (anak) sering kena ancam atau tidak ada contoh,, “Kamu sudah aku masukan les privat sains dan les privat matematik, kalau masih rendah nilai mu, kau pindah saja sekolah ke kampung”. Itulah karena kebiasaan mengancam dan kritikan negatif, maka kecerdasan anak pada akhirnya akan mandek pada usia sekolah.
Sebaliknya, sekali lagi, beruntunglah anak yang memperoleh rangsangan dan respon positif. Anak anak yang memperoleh kaya rangsangan akan bisa menjadi pelajar yang sukses. Dengan kata lain bahwa lingkungan yang miskin rangsangan dan dan dibombardir dengan respon negatif  berpotensi menciptakan anak menjadi  pelajar yang lamban.
Mengapa guru dan orang tua kok senang dengan misbehave atau salah bersikap ? Jika anak merasa kurang percaya diri, maka bantulah dia. Coba menemukan hal hal positif pada dirinya dan pujilah dia agar rasa percaya dirinya bisa datang.  Komentar-komentar positif dapat membangkitkan percaya diri mereka.  
Orang belajar memang tergantung pada faktor fisik (suasana lingkungan), faktor emosional (suasana hati) dan faktor sosiologi atau lingkungan teman, guru, orang tua dan budaya sekitar. Maka berilah suasana pencerahan pada lingkungan, suasana hati dan suasana sosiologi anak.
Tekhnik menctat dan pengalaman pribadi
Cara belajar dan pengalaman pribadi juga menentuka apakah belajar itu nyaman dan menyenangkan atau tidak. Karakter orang belajar memang sangat bervariasi. Ada yang senang belajar dengan cahaya terang atau agak redup, ada yang belajar dengan berkelompok atau sendiri, ada yang senang belajar pakai musik atau suasana sepi, dan ada yang senang belajar dengan suasana berantakan atau rapi. Maka guru, juga para orang tua, perlu memahami variasi mereka dalam belajar dan jangan pernah terlalu mencampuri variasi belajar mereka - kalau akibatnya membuat anak kurang nyaman dan kurang senang dalam belajar.
Bobbi De Porter dan Hernacki (2002) mengatakan bahwa variasi belajar atau modalitas (cara menyerap informasi) juga bervariasi pada setiap orang. Ada orang atau anak yang mengandalkan kekuatan visual yaitu membaca, karakter orangnya adalah cara berbicara cepat. Ada yang bersifat auditorial atau mendengar, karakter orangnya adalah suka bicara sendiri dan kecepatan berbicara sedang, Kemudian ada orang berkarakter kinestetik atau banyak gerakan. Orangnya susah untuk tenang atau duduk diam dan berbicaranya lambat.
Perlu diingat bahwa dalam belajar, supaya anak juga perlu aktif dalam mencatat. Mencatat dalam belajar bermanfaat untuk meningkatkan daya fakir mereka. Ada dua macam cara mencatat: mencatat dengan membuat peta konsep (menulis poin-poin penting dan membuat hubunganya) dan mencatat tulis susun, atau menulis poin poin penting secara bersusun saja. Kiat tambahan dalam mencatat adalah mencatat untuk mendengar secara aktif, misal dalam seminar, pidato, ceramah.. Usahakan duduk paling depan.
Percaya atau tidak bahwa kita semua adalah penulis. Dorongan untuk menulis itu sama besar dengan dorongan untuk berbicara yaitu untuk mengkomunikasikan fikiran dan pengalaman kita. Selanjutnya milikilah dan perkayalah pengalaman hidup. Milikilah pengalaman pribadi yang banyak dan beragam dengan cara banyak bergaul dan melakukan perjalanan . Sebab orang yang mempunyai koleksi pengalaman pribadi yang banyak akan lebih kreatif dalam belajar dari pada  orang yang kurang pengalamannya.
Selain membiasakan mencatat selama belajar maka anak juga perlu mempunyai minat membaca dan mengetahui cara-cara membaca yang tepat. Perlu untuk diketahui tentang kecepatan membaca. Ada kecepatan membaca yang regular atau kecepatan biasa-biasa saja. Skimming atau membaca dengan melihat cepat, misal membaca buku telepon dan mencari kata dalam kamus. Scanning yaitu membaca sekilas, misalnya membaca headline pada Koran atau melihat daftar.
            Agar kita, anak, siswa dan siapa saja bisa merasakan suasana belajar yang menyenangkan maka musti membiasakan untuk berfikir kreatif. Hidup ini indah atau susah memang ditentukan oleh suasana hati dan fikiran. Berfikir kreatif, bukanlah masalah kerja lebih keras, tetapi berfikir dengan banyak alternatif. Orang yang kreatif senang selalu mencoba, melakukan petualangan dan bermain-main dengan tantangan. Salah satu latihan kreatif adalah bercerita tentang kejadian sehari-hari. “Ibu guru, bapak guru dan ayah-ibu di rumah perlu untuk menyisihkan sedikit waktu agar bisa sharing dan berbagi cerita tentang indah dan mudahnya hidupm ini dengan anak”. Last but not least (akhir kata) bahwa siswa/ anak perlu untuk mengulang materi pelajaran akan meningkatkan daya ingat dan pemahaman, sehingga belajar itu akhirnya memang bias jadi asyik, nyaman dan menyenangkan.

(Catatan :Bobbi De Porter dan Mike Hernacki. 2002. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung : Kaifa)  Marjohan M.Pd, Guru SMA Negeri 3 Batusangkar.

Bila Bersekolah Hanya Untuk Untuk Mencari “Ranking Satu”

Bila Bersekolah Hanya Untuk Untuk Mencari “Ranking Satu”
Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar
            Pendidikan adalah tanggung jawab masyarakat dan pemerintah. Dewasa ini banyak orang tua telah memperlihatkan partisipasi mereka dalam memajukan pendidikan atau Sumber Daya Manusia (SDM) dengan cara mendukung pendidikan anak-anak mereka. Pemerintah juga mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui lembaga pendidikan atau sekolah, mulai dari pendidikan rendah sampai pendidikan tinggi, mendirikan sarana pendidikan, merenovasi sekolah yang kurang layak, melatih guru-guru dan aparat pendidik, menyediakan fasilitas dan beasiswa untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
            Banyak orang tua yang sudah menunjukan kepedulian terhadap kualitas pendidikan. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana yang besar  untuk memilih sekolah yang berkualitas bagi putra dan putri mereka. Sekolah sekolah berlabel seperti “sekolah unggul, sekolah internasional, sekolah akselerasi, sekolah percontohan, sekolah plus, dan label lain” pasti diserbu dan daftar tunggu untuk tahun berikutnya sudah dicarter, terutama bagi mereka yang berduit dan peduli pula pada pendidikan bermutu.
Orang tua yang anak-anaknya cuma belajar di sekolah biasa-biasa juga mendukung kualitas dan keberhasilan akademik anak-anak mereka. Namun mayoritas dukungan orang tua  hanya  baru sebatas sugesti. Kalau mereka berjumpa dengan anak-anak yang masih duduk di bangku SD, SMP  atau SLTA maka secara spontan akan terucap suatu ekspresi: “Dapat juara berapa kamu di sekolah ? Mengapa kamu tidak juara….?”. Bila pas musim ujian datang maka orang tua juga akan menebarkan simpati dan bertanya, “Dapat angka berapa kamu dalam ujian ?”.
            Memang simpati dan empati orang terhadap dukungan semangat dalam mendidik baru sebatas menanyakan apakah ada juara atau menanyakan skor yang diperoleh anak lewat ujian. Ada kalanya orang tua sangat bangga begitu memiliki anak yang yang malas belajar, namun setiap kali ujian selalu memperoleh nilai tinggi, atau tiap kali menerima rapor, sang anak memperoleh ranking satu dalam kelasnya. “Aku punya super bandel, malasnya luar biasa….., tidak pernah belajar, jarang uat PR (Pekerjaan Rumah), tapi kalau setiap semester selalu memperoleh ranking satu dalam rapornya. Kalau ujian nilainya ya selalu 90 atau 100”. Demikian celoteh sang ayah atau sang ibu yang mungkin kerap kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.
            Namun apakah bapak dan ibu, sang orang tua yang memiliki konsep pendidikan berorientasi ranking satu atau nilai tinggi semata, sadar dan tahu bagaimana cara mereka (anak anak didik) memperoleh nilai atau ranking yang bagus? Anak-anak cerdas dan rajin, selalu belajar keras, mempunyai hak untuk memperoleh skor tinggi dalam ujian dan juara satu dalam rapor pada akhir semester. Namun para orang tua perlu berfikir dan mencari tahu “kok anak pemalas, sering membolos, malas membuat tugas sekolah, bisa juara satu ?”. Atau ada sekolah dengan anak didik yang suka keluyuran saat jam pelajaran dan guru-guru dalam mengabdi penuh kelesuan, tiba-tiba tercatat sebagai sekolah hebat, karena skornya melejit  mengalahkan sekolah yang sudah teruji kualitasnya.
            Nilai 100 yang diperoleh anak pemalas pasti diperoleh lewat cara-cara tidak halal, kemungkinan “anak tersebut memang jago dalam mencontek”. Demikian pula tentang sekolah yang kualitasnya lewat kertas bisa disulap lewat rekaya saat ujian dan tipuan-tipuan jitu untuk mencari pamor sekolah yang penuh kepalsuan. Apalagi yang sering terpantau tentang proses penilaian atau proses asessmen yang dilakukan oleh tim penilai hanya berkutat mencatat dan seratus persen mempercaya data yang ada pada selembar kertas di suatu sekolah. Idealnya mereka mengadopsi kinerja penilaian yang sudah valid dan terpecaya.
            Semua orang di dunia tahu bahwa Amerika Serikat, Jepang, Perancis, Jerman dan Cina adalah Negara yang hebat. Namun dalam penempatan ranking negara-negara yang memiliki SDM terbaik, ternyata bukan negara tersebut yang menempati posisi ‘satu, dua, tiga dan empat”. Dalam indicateur du develepoment humain(IDH) atau indikator tingkat SDM negara yang menempati posisi “satu, dua, tiga dan empat, adalah Norwegia , Australia , Kanada dan Swiss”. Penempatan ranking SDM untuk ukuran dunia begitu cermat dan hati-hati (Francisco Vergara dalam Didiot Beatrice (2001). Sementara penempatan ranking yang dilakukan oleh tim penilai untuk sektor pendidikan di negara kita, seringkali membuat kita “tertawa terbahak bahak” dalam arti kadang kala adalah sangat tidak logika, miskin indicator dan tidak reliable.
            Suatu ketika ada orang tua murid bertanya tentang apakah anak penulis juara satu di kelas atau tidak. “Maaf, anak-anak tidak terlalu saya tuntut untuk jadi juara, kalau juara itu diperolehnya lewat mencotek, atau karena factor saya memberi hadiah pada bapak dan ibu guru nya di sekolah. Yang penting dalam belajar, orang tua selalu memompakan motivasi, menyediakan fasilitas dan memberikan model tentang belajar dan anak-anak pun  sudah terbiasa belajar serta merasakan belajar; membaca dan menukis sebagai kebutuhan primer mereka. Apa gunanya anak juara kelas namun tidak betah membaca, mengeluh kalau disuruh belajar… dikhawatirkan bahwa juaranya diperoleh lewat jalan yang tidak benar, atau sang anak menjadi juara karbitan
Sekali lagi tentang fenomena mencari ranking dan nilai dalam ujian. Bahwa memperoleh ranking di sekolah sebagian diperoleh dan dilakukan dengan cara-cara gentlement atau penuh tanggung jawab – karena sang siswa memang cerdas, tekun dan disiplin dalam belajar. Namun sebahagian yang lain memperoleh dan berjuang mencari nilai dengan cara culas- merendahkan harga diri. Karena malas belajar hingga tidak mengerti maka terpaksa mencontek, melihat catatan agar nilai ujian tinggi dan supaya bisa juara satu (agar orang tua merasa bangga karena sang anak juara). Sebab kalau tidak juara maka anak akan kena bentak “percuma saja kamu rajin belajar, ikut les itu dan ini namun tidak juara. Lihat si Didi  santai santai saja tetapi bisa juara”.
Terlihat bahwa proses perekrutan- atau penerimaan- siswa baru pada banyak sekolah di negeri ini, setiap tahun,  betul-betul belum professional. Hanya berdasarkan pada  porto folio yang datanya susah untuk dipercaya- rapor penuh dengan nilai kasihan atau nilai pergaulan, skor dan ranking kelas diperoleh lewat perjuangan penuh contekan. Memang sebagian nilai porto folio- nilai ijazah, nilai rapor, nilai UN (ujian nasional) sebagian bisa merefleksikan potensi anak, namun tidak jarang juga merefleksikan penuh kepalsuan atas penyelenggaran pendidikan di sekolah sekolah sebelumnya.
Pada suatu sekolah SMP yang agak favorite terpantau nilai sains dan nilai mata pelajaran sosial anak didik berkisar antara 80 dan 90 (sangat luar biasa). Namun dalam PBM (proses belajar mengajar) telah ditebar kekecewaan demi kekecewaan. Angka tinggi dalam ijazah belum mencerminkan kebodohan anak “Wah bagaimana cara guru guru kamu saat di SD memberi nilai, kok nilai kamu 80, 90 dan 100, dalam kenyataaan kamu sendiri tidak tahu dua tabah dua sekarang alias bloon”. Gerutu seorang guru penuh rasa kesal.
Inilah fenomena di lapangan bahwa agar nilai siswa bisa tinggi, maka guru melatih siswa untuk menyelesaikan soal soal ujian lewat program bimbel (bimbingan belaja). Kalau perlu di datangkan guru yang dianggap berbobot dari luar. Namun ada pula sekolah atau guru merekayasa tempat duduk siswa selama ujian (karena biaya bimbel amat mahal dan bias mencekik leher orang tua) agar mereka bisa saling bekerjasa sama- melegalkan budaya contekan. Inilah sekarang sebuah patologi edukasi (penyakit dalam dunia pendidikan) yaitu melegalkan pembohomgan, melegalkan rekayasa, menilai tidak professional dan mendidik tidak sepenuh hati. Orang tua dan masyarakat mungkin heran bahwa anak atau sekolah yang proses pendidikannya tidak sempurna- biasa biasa saja, tiba tiba prestasinya melejit tinggi. Sang anak kemudian di sanjung atau kepala sekolahnya dan guru guru disebut sebut sukses (walau dalam kepalsuan) dalam mendidik siswa mereka.
Program dan budaya mengejar ranking satu dan ujian untuk mencari nilai tinggi tidak ada salahnya asal dikelola dengan jujur, professional dan bertanggung jawab. Namun Syofyan Djalil, Menteri Negara BUMN pada Kabinet Indonesia Bersatu periode pertama (www.nuonline. com) kurang sependapat. Ia mengatakan bahwa system ranking menciptakan generasi pintar namun anti atas kritikan. Dikatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih melanggengkan sistem ranking di kelas sehingga para pelajar yang “masuk ranking” tumbuh menjadi manusia yang merasa dirinya pintar, egois dan tidak bisa menerima kritikan.
Di negara kita anak-anak diberi ranking. Akibatnya anak-anak pintar menjadi sangat tidak menarik pribadinya. Akibat sistem ranking ini, para siswa yang juara padahal kemampuannya biasa biasa saja akan merasakan dirinya sebagai “winner” atau jagoan. Anak anak yang sebenarnya pintar tapi karena penilaian tidak reliable- guru kurang fair dalam menilai-  membuat mereka sebagai loser” atau pecundang dan kondisi psikologis ini bisa meruntuhkan rasa percaya diri yang sangat penting tersebut.
Produk sistem pendidikan nasional yang menghasilkan anak-anak pintar namun tidak bisa menerima kritik ini telah dirasakan dampaknya oleh sejumlah lembaga pemerintah dan non pemerintah. Sebagai contoh, Sofyan Djalil menyebutkan sejumlah diplomat senior Departemen Luar Negeri RI tentang  karakter sejumlah diplomat muda yang sekalipun pintar namun “sangat egois” dan “tidak bisa menerima kritikan”. Kekeliruan lain dari sistem pendidikan kita selama ini adalah kurang berkembangnya kreativitas anak didik.
Kini pemerintah, sekolah dengan unsur gurunya, kepala sekolah, komite sekolah dan para alumni, dan juga masyarakat perlu bahu membahu untuk memantapkan kualitas pendidikan dan membina karakter anak anak didik. Adalah patut untuk berfikir dan meninggalkan konsep pendidikan yang terlalu berorientasi kepada berharap nilai dan ranking tinggi, dan tanpa usaha yang professional. Kemudian sangat layak kalau kita membudayakan belajar dengan memberikan penghargaan pada proses pembelajaran yang matang, meningkatkan manajemen dan penilaian, serta menumbuh kembangkan kreativitas dan kesediann menerima kritikan demi kemajuan. Tentu saja bukan asal kritik yang menyedihkan namun kritikan yang santun dan bijaksana.      
(Catatan: Beatrice, Didiot. 2001. L’etat Du Monde: annuaire economique geopolitique mondial. Paris : Editions La Decouverte & Syros .)
 

Marjohan M.Pd, Guru SMAN 3 Batusangkar

Kamis, 29 Oktober 2009

Mendidik dan Membina Karakter Anak Sejak Dini


Mendidik dan Membina Karakter Anak Sejak Dini
Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar


Bagaimana karakter bangsa Indonesia di mata bangsa-bangsa di dunia ? Pasti umumnya mereka mengatakan bahwa bangsa Indonesia ramah-tamah dan suka tolong -menolong, gotong royong. Sekaligus bahwa adalah ciri khasnya. Namun coba baca dan ikuti berita yang ada pada elektronik dan media massa cetak dewasa ini. Ternyata banyak orang kita yang  suka berkelahi, korupsi dan saling memaki. Malah kadang-kadang ada siswa dan mahasiswa yang senang tawuran. Ini menandakan pendidikan dan pembinaan karakter di rumah dan di sekolah, prosesnya, kurang memperoleh perhatian penuh. Sebelum deteriorasi- pemburukan- karakter terjadi, maka guru dan orang tua musti peduli untuk mendidik dan membina karakter anak.
Membina dan mendidik karakter, dalam arti untuk membentuk “positive character” generasi muda bangsa ini. Agar positive character terbentuk, maka anak perlu dilatih melalui pembiasaan “mandiri, sopan santun, kreatif dan tangkas, rajin bekerja, dan punya tanggung jawab”.
Melatih anak mandiri perlu pembiasaan sejak usia dini. Ada anak yang sudah menunjukan tanda-tanda kemandirian saat usia kecil, misalnya mereka menolak untuk disuapi dan ingin makan sendiri. Tanda kemandirian yang lain  adalah seperti mencuci tangan, makan, dan memakai sepatu sendiri, sekali lagi bahwa ini adalah awal untuk mandiri dan itu perlu dipupuk. Namun karena orang tua ingin buru-buru dan ingin serba cepat, maka mereka cendrung mengambil alih aktivitas kemandirian anak tersebut.
Seharusnya, demi pendidikan masa depan anak, maka mereka musti melatih kemandirian. Untuk itu biarkan anak berbuat dan biarkanlah salah sampai batas tertentu. Kontrol yang berlebihan dari orang tua dan sikap yang membesar-besarkan kesalahan akan membuat anak jadi ragu dan malu. “Hei jangan begitu…., sandal terbalik terus….!”, Teriakan-teriakan begini berpotensi mematikan kemandirian mereka.
Bagaimana melatih anak agar tahu tentang sopan santun ? Guna mendorong anak supaya bertingkah laku yang penuh dengan kesopanan, maka  orang tua memberi model- uswathun hasanah terlebih dulu. Misalnya orang tua mulai dengan mengucapkan terima kasih dan mengekspresikan pujian dan berterima kasih pada siapa saja, “Terima kasih atas batuan mu telah memasukan sandal papa ke dalam rumah, ……kamu anak yang bagus….!”. Yang harus diingat dalam melatih anak adalah bahwa jangan berharap anak berusia empat tahun bertinggah seperti anak usia tujuh tahun.
Kreatifas dan ketangkasan anak juga perlu dipupuk- dimotivasi terus. Kreatifitas yang dimiliki seseorang/ anak sebenarnya  berasal dari imajinasi, sebagai kumpulan dari ide-ide mereka. Imajinasi dapat memuat mereka menjadi kreatif. Kreatifitas anak sangat tergantung pada kesempatan yang diberikan lingkungan. Kreatifitas harus dirangsang sedini mungkin- sejak usia kecil- usia dua atau tiga tahun dalam suasana bermain.  Orang tua perlu merangsang kreatifitas mereka lewat proses interaksi dan menyediakan fasilitas bermain. Untuk membuat anak kreatif, pendidik (guru dan orang tua) harus menerima eksistensi anak apa adanya dan tidak cepat memberikan kritik pada tingkah laku dan kebebasan mengungkapkan perasaan.
Membiasakan anak untuk rajin bekerja adalah cara lain untuk mendapatkan anak yang berkarakter positif. Untuk itu orang tua musti membolehkan anak untuk memilih pekerjaan atau tugas rumah yang paling disukainya dan jangan berharap agar ia bekerja sempurna. Agar pekerjaan anak meningkat kualitasnya, maka orang tua perlu memotivasi dan sering memberi penghargaan atas keberhasilan kerja yang mereka lakukan.
Tampaknya anak yang ideal, karena memiliki karakter positif, juga perlu menyukai olah raga. Mereka perlu diajar untuk berolah raga agar otot-otot, paru-paru dan jantungnya kuat. Anak-anak  yang gemar berolah raga, tubuh mereka tampak tegap dan kekar- tidak lemah atau lunglai.
Selanjutnya tentang melatih tanggung jawab pada anak.  Perlu kita ketahui bahwa tanggung jawab tidak terpasang sejak lahir. Ia perlu dilatih setiap hari, dan melibatkan anak-anak dalam kegiatan di rumah. Bentuk pelaksanaanya adalah dengan memberi mereka pekerjaan yang tetap. “menyiram bunga dan menyapu teras adalah tanggung jawab Nadilla, menyapu rumah dan membuang sampah adalah tanggung jawab Fakhrul, memasak nasi, membersihkan dapur dan kamar mandi adalah tugas Kak Hafiza……!”. Demikian cara orang tua menanamkan tanggung jawab melalui pembagian tugas. Barangkali pada mula memperkenalkan pembagian tugas atau tanggung jawab ini, sebagai disiplin kerja, mungkin terlihat sedikit dalam sikap yang agak otoriter  (agak tegas) agar anak bisa menurutinya.
Tiap anak berpotensi terjebak ke dalam karakter negative, maka orang tua pun perlu untuk memahaminya. Beberapa bentuk karakter negative seperti anak suka berbohong , pemalu, anak merasa minder, bersifat agresif, suka membangkang, dan kebiasaan bertengkar. Karakter negative tentu ada pemicunya dan orang tua tentu perlu bersikap bijak dalam menghdapinya..
Mengapa anak suka berbohong ? Penyebabnya adalah karena orang tua yang terlalu gemar memberikan hukuman, membentak anak, sehingga jadi berbohong. Berbohong karena mereka takut diberi hukuman atau sebagai strategi untuk menutupi rasa malu. Adalah sangat bijak bila orang tua lebih gemar memberi pujian- penghargaan- dari pada gemar menghukum dan membentak sang anak- kecuali memberikan hukuman yang lebih menyentuh/ bersifat educatif.
Bagaimana strategi orang tua dalam menghadapi anak yang penakut ? Maka terlebih dahulu orang tua musti memahami penyebab timbulnya rasa takut pada anak. Jangan remehkan perasaan takut anak kecil. Terimalah ungkapan takut anak, tetapi jangan membesar-besarkan ketakutan itu. Menghilangkan rasa takut dengan membujuk dan mendekatkan anak pada objek yang ditakuti perlahan-lahan. Orang tua perlu tahu bahwa rrasa takut dapat hilang berangsur-angsur, bukan dalam sekejap mata.
Dalam hidup ini selalu ada anak yang berani dan anak yang pemalu. Sifat pemalu timbul karena anak yang kurang suka bergaul dengan orang lain, tidak mudah mencari teman, pendiam dan dicap sebagai anak pemalu. Perlu untuk dipahami bahwa anak pemalu biasanya juga bersifat pendiam dan suka memilih-milih teman. Namun bila ia sudah terbiasa dengan teman atau lingkungan sosial tertentu maka karakter malunya akan tanggal/ lepas.
Rasa malu dapat diakibakan oleh kurangnya rasa Pe-de (percaya diri). Percaya diri terganggu karena kebiasaan orang tua yang suka membanding-bandingkan anak, anak kurang bergaul, atau orang tua terlalu melindungi anak sehingga anak jadi kurang mandiri dlam bergaul- mencari teman. Untuk mengatasi sikap malu- maka orang tua jangan menggelari anak-anak sebagai “pemalu” dan biasakan untuk menghargai anak, rangsang anak untuk mengekspresikan perasaan serta pendapatnya di rumah.
Ada anak yang suka minder- atau merasa rendah diri atau inferior complex. Perlu untuk diingat bahwa orang minder sulit untuk maju dan tidak suka untuk berbuat. Rasa minder timbuk setelah memasuki masyarakat.  Minder penyebabnya karena faktor biologis- cacat fisik- dan gangguan psikis. Faktor lain adalah karena kebiasaan orang tua dalam membandingkan anak yang inferior dengan anak yang superior, “lihat kakak mu cerdas, kamu kok blooon, terus”. Kebiasan seperti ini, sekali,  dapat menyebabkan anak menjadi minder. Untuk mengatasinya maka terimalah eksistensi anak apa adanya. Kalau anak belum berhasil, jangan dikritik, tetapi besarkanlah hatinya dan sekali lagi- jangan membandingkan anak.
Cukup banyak anak yang berprilaku agresif. Karakter agresif bisa merugikan eksistensi mereka dalam bergaul, karena banyak orang kurang menyukai karakter agresif. Dalam bahasa Minang anak agresif juga disebut sebagai “anak yang lasak”, atau terkesan suka mengganggu atau usil. Karakter agresif terbentuk pada mulanya karena anak dalam keadaan lelah atau sakit, dan mereka mudah jadi agresif.
Anak yang sedang bersedih atau sedang takut juga mudah agresif. Anak yang tidak punya permainan bisa menjadi bersedih dan selanjutnya menjadi agresif. Sebaiknya orang tua memberikan kesan yang tenang dan tidak emosi terhadap anak yang agresif. Untuk menyalurkan agresif anak, ya dengan melakukan olah raga dan olah otot.
Karakter suka membangkang, ini terbentuk karena orang tua suka bersikap keras dan mendikte. Untuk itu orang tua seharusnya menghadapi anak-anak yang pembangkang dengan tenang dan wajar saja.  Agar anak tidak membangkan maka tidak usah terlampau sering menyuruh anak mengerjakan ini dan itu. Biarkan ia mengenakan dan memakai baju dengan cara sendiri.
Bertengkar kadang kadang atau malah sering mewarnai kehidupan rumah, sekolah dan sosial. Kalau pertengkaran antar anak terjadi di rumah maka orang tua tidak perlu mengusut siapa yang salah atau benar. Lebh baik anjurkan anak supaya berdamai dan alihkan perhatikan mereka.
Bagaimana kalau yang bertengkar bukan anak, tetapi malah adaltah dan ibu itu sendiri ? Bila ada beda pendapat, pertengkaran,  antara ayah dan ibu maka tidak dibenarkan ayah dan ibu untuk menyalahkan pasangan di depan anak anak dan mereka harus menahan emosi. Membesar besarkan kekurangan anak, atau kekurangan seseorang hanya menimbulkan perselisihan belaka.
Pertengkaran juga bias disebabkan dari cara berkomunikasi yang tidak cocok, terlalu suka meledek, suka bercanda yang menyinggung pribadi, tidak menghiraukan pembicaraan orang. Pertengkaran ayah dan ibu di depan anak dapat mengganggu psikoseksuil dan watak anak.  Ibu yang sering menjelek-jelekan ayah didepan anak laki-laki, berpotensi membuat anak laki laki kurang maskulin, dan sukar jatuh cinta dengan lawan jenis.
Some do’s dan some don’t’s untuk orang tua, some do-s, berarti beberapa anjuran, dan some don’t’s, berarti beberapa larangan bagi orang tua terhadap anak dan berpotensi dalam menumbuh-kembangkan karakter positif mereka. Beberapa anjuran terhadap orang tua dalam membina karakter anak adalah seperti melowongkan waktu untuk melakukan traveling, berkomunikasi, menumbuhkan sikap ingin tahu dan meningkatkan aktivitas untuk menumbuhkan potensi kognitif anak. Sementara orang tua disarankan agar tidak terlalu memanjakan anak dan jangan terjebak dengan kebiasaan “asal serba melarang”.
Aktivitas traveling sangat bermanfaat untuk menumbuhkan kecerdasan anak dalam memahami alam dan lingkungan. Seharusnya bila keluarga melakukan kegiatan traveling maka jadikanlah anak bagian dari rencana traveling orang tua. Kalau melakukan traveling maka sediakan kesibukan untuk anak supaya mereka tidak rewel atau bosan; dengan menyediakan  mainan, bacaan, makanan dan minuman.
Komunikasi adalah sarana untuk menyatukan hati atau emosi semua anggota keluarga. Komunikasi harus dipelihara sejak anak-anak masih kecil, sampai mereka remaja dan dewasa. Disamping berkomunikasi, orang tua juga perlu untuk bekerja sama dengan anak. Komunikasi yang baik dimulai dengan menjadi pendengar yang baik. Orang akan terbuka kalau fikiran dan ide-ide mereka diperhatikan.
Agar memiliki anak yang cerdas dan punya karakter positif maka orang tua perlu untuk menumbuhkan sikap ingin tahu. Sikap tidak buru buru dalam mencampuri privacy- hak pribadi anak- adalah salah satu cara untuk menumbuhkan rasa ingin tahu mereka. Dalam menanamkan pengaruh pada anak, orang tua lebih efektif lewat contoh atau model langsung, daripada melalui ceramah, khotbah atau penjelasan secara lisan. Karena penjelasan secara lisan akan mudah dilupakan. Namun pengalaman yang nyata cendrung akan diingat sepanjang hayat.
Bermain juga bisa merangsang rasa ingin tahu anak. Oleh sebab itu tidak ada gunanya memarahi anak kecil yang tengah asyik bermain. Orang tua perlu menyediakan waktu untuk mengamankan benda kesayangan atau benda yang membahayakan dari jangkauan anak. Jika orangtua merangsang sifat ingin tahu anak, kemungkinan besar inteligensinya dan daya cipta mereka akan meningkat.
Rasa ingin tahu anak juga tumbuh melalui pergaulan. Pengalaman bergaul sangat besar pengaruhnya bagi proses perkembangan anak, baik pengalaman pahit maupun pengalaman yang manis, dan kedua-dua bentuk penglaman tersebut sama pentingnya.
Orang tua juga perlu untuk menumbuh kembangkan kognitif, otak, anak. Kecerdasan kognitif bisa memberi dampak pada pembentukan karakter positif  Aktifitas yng lain untuk kognitif seperti menggambar, musik, dan menyediakan buku bacaan.
Sejak usia kecil anak-anak suka coret coretan- namun orang tua yang gemar melarang, berpotensi membunuh kreatifitas anak. Beruntunglah anak yang punya orang tua menyalurkan aktifitas ini. Aktifitas lain yang disenangi anak adalah menggambar. Kegiatan menggambar dapat mebantu anak untuk memahami dunia sekitar mereka.
Musik merupakan konsumsi jiwa. Ia dapat memberikan perasaan tenang, rasa sedih, senang dan gembira. Bagi kehidupan anak dan remaja, tidak ada instrument yang lebih baik daripada musik. Akhirnya, anjuran yang patut untuk dilakukan orang tua pada anak adalah menyediakan buku bacaan untuk anak.
Betapa besarnya peran buku dalam kehidupan anak. Banyaknya seorang anak dibacakan buku atau diberi dongeng dalam usia dini/ atau usia muda sangat menentukan suksesnya kelak mereka di sekolah. Anak yang kurang suka buku karena buku tidak menarik, atau orng ua agak terlambat memperkenalkan buku, atau juga kurang memberi rangsangan untuk membaca pada anak. Bila kemampuan membaca anak sudah bagus, maka selipkanlah buku non fiksi. Buku adalah karcis untuk pergi ke mana-mana dan membaca adalah cara terbaik untuk mengisi jiwa dan otak.
Akhir kata ada dua hal yang perlu untuk ditinggalkan oleh orang tua, yaitu terlalu memanjakan anak dan kegemaran serba melarang. Anak terlalu manja- memenuhi segala keinginan anak dan serba dilindungi- akan sulit untuk melepaskan diri dari orang tua. Ia sudah merasa aman dalam perlindungan orang tua dan takut menghadapi dunia luar. Tidak perlu terlalu memenuhi perhatian anak yang butuh perhatian, cuekan saja. Ini berguna agar ia dapat mandiri dalam hal emosi. Sebab rasa sayang tidak berarti menuruti semua keinginan anak. Berjuta anak di dunia menjadi rusak karena dimanja dan terlalu dilindungi.
Jangan asal melarang, orang tua tidak perlu asal melarang anak. Tetapi tanpa melarang seorang anak mungkin kehilangan arah dan keseimbangan jiwa. Jangan melarang kegiatan yang dibutuhkan anak untuk perkembangan  dan pertumbuhannya. Dalam melarang orang tua tidak perlu mengomel atau memaki yang tidak karuan . Ini dapat membuat anak merasa benci pada orang tua. Maka kini agar bangsa Indonesia dan generasi muda Indonesia tetap memiliki karakter terpunyi maka guru dan orang tua perlu mendidik dan membina karakter mereka secara total,



Rabu, 21 Oktober 2009

Mengoptimalkan Pendidikan Di Rumah

Mengoptimalkan Pendidikan Di Rumah
Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar


Pendidikan adalah kata yang amat sering diperbincangkan orang di seluruh dunia, Itu karena pendidikan sangat menyentuh dan menentukan nasib dan kualitas bangsa itu sendiri. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa pendidikan itu adalah tanggung jawab sekolah. Maka kalau ada kata pendidikan, lantas yang terbayang adalah gedung sekolah- TK, SD, SMP, SMA, MAN, SMK, terus Akademi, Universitas dan perguruan tinggi lainnya. Anak-anak yang pintar di sekolah berasal dari rumah yang orang tuanya sangat peduli dengan pendidikan. Maka pendidikan di rumah dengan orang tua sebagai pendidik dan motivator sangat menentukan kualitas pendidikan bangsa yang besar ini.

Demikianlah, orang tua memegang peran yang sangat penting dalam memajukan bangsa lewat mendidik dan memajukan anak-anak mereka sendiri. Orang tua tidak perlu harus tahu dengan matematik, bahasa asing (Inggris, Arab, Jepang), akuntansi, fisika dan lain-lain, namun mereka mampu menciptakan generasi yang bernas melalui model, motivasi dan semangat yang mereka pompakan pada anak sepanjang waktu. Mereka juga perlu belajar bagaimana menjadi orang tua yang cerdas terhadap anak-anak mereka sendiri. Mereka perlu, terlebih dahulu memahami mengapa dan bagaimana anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Tidak memahami pertumbuhan dan perkembangan anak telah membuat jutaan orang tua di dunia ini menjadi salah didik. Maka agar tidak salah didik, carilah informasi tentang mendidik anak.

Alex Sobur (1986) menulis buku dengan judul “Anak Masa Depan”. Buku itui membahas banyak hal. Orang tua perlu memahami eksistensi anak dalam keluarga, tentang pendidikan moral dan agama anak, mendorong motivasi anak, tentang peran orang tua dan anggota keluarga yang lain dalam mendidik anak.

Eksistensi posisi urutan anak dan pendidikan moral.
Adalah sangat perlu memahami eksistensi perkembangan anak. Karakter anak adakalanya dipengaruhi oleh posisi urutan kelahiran anak. Urutan anak menurut kelahiran adalah seperti, anak sulung, anak bungsu, anak tunggal dan anak urutan yang ke sekian. Setiap urutan anak memperlihatkan karakter yang khas. Anak sulung memperlihatkan sikap ingin menguasai dan mengatur adik. Umumnya orang tua lebih santai terhadap anak yang ke dua atau urutan selanjutnya. Anak bungsu bisa berkembang tanpa banyak mengalami kesulitan, Ia banyak yang menolong. Namun orang tua secara tidak sadar biasanya memperlakukan anak bungsu sebagai anak kecil. Karakter anak bungsu kadangkala ingin menang sendiri dalam perhatian. Anak bungsu cenderung menjadi anak yang paling ambisius.

Barangkali anak tunggal adalah anak yang agak unlucky-kid karena ia tidak mengalami persaingan dengan saudaranya dan sukar untuk berbagi perasaan. Tetapi ia dapat bersaing dengan teman sebayanya. Plusnya buat anak tunggal adalah bahwa ia dianggap mampu belajar mandiri dan punya rasa percaya diri yang lebih besar. Kadang kala anak tunggal diperlakukan sebagai raja kecil, namun lain kali sebagai budak- bekerja sendirian. Anak tunggal penuh perlindungan dan ia pun mudah putus asa, lebih pemalu dan egois.

Orang tua juga punya peran besar dalam pengembangan pendidikan agama dan moral anak. Kuaitas agama anak (seseorang) ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, dan latihannya pada masa kecil dan saat iaremaja. Orang yang tidak pernah mendapat didikan agama pada waktu kecil (sampai remaja) maka ia tidak merasakan pentingnya beragama pada waktu dewasa.

Bagaimana dengan moral anak ? Moral anak perlu dikembangkan sejak usia dini. Eksistensi moral mereka saat masih kecil, misal pada masa prasekolah tergantung pada reward dan punishment. Kualitas reward dan punishment dari orang tua punya peran, perlu untuk dicatat bahwa dalam mengembangkan moral anak agar lebih banyak mengekspos “reward atau pujian”. Namun fenomena dalam mayarakat, ditemukan bahwa banyak orang tua lebih gemar memberi punishment atau hukman saat anak melakukan kesalahan dan kikir memberi pujian saat anak berkarakter terpuji. Adalah sangat tepat bila anak pandai menyapu rumah atau merapikan kamar, maka orang tua seharusnya buru buru memberi pujian “terimakasih , bapak/ ibu senang karena kamu anak yang rajin”, pastilah saat berkata demikian anak merasa sebagai orang yang sangat berarti.

Perkembangan moral anak juga ditentukan oleh kualitas interaksinya dengan sosial, terutama dengan teman-teman sebaya. Lewat interaksi atau pergaulan ia bisa membuat penilaian “mana karakter yang baik dan mana yang buruk”, cara berteman yang baik, cara mencurahkan kasih sayang, sopan santun dan tolong menolong.
Kemudian bagaimana tentang pemahaman anak tentang Tuhan ? Gambaran tentang Tuhan bagi anak sering bercampur dengan beberapa pengalaman. Pengalaman itu punya faedah untuk menanamkan kesan baik dalam fikiran mereka. Sangat penting untuk memperkenalkan dan menerangkan tentang Tuhan pada nya sejak usia kanak-kanak. Selain dari orang tua, anak juga memperoleh informasi tentang Tuhan dari orang-orang sekitar.

Ternyata tanpa kita sadari bahwa anak meniru karakter kita (orang tua mereka). Sejak usia dini, usia 3 – 6 tahun , anak mulai meniru orang tua, yaitu watak dan prilaku kita. Ini terlihat melalui bermain peran. Orang tua yang lembut, mengajarkan tentang Tuhan itu Maha Lembut, dan orang tua yang keras mengajarkan tentang Tuhan itu Maha Keras.Pandangan anak tentang konsep Tuhan dipengaruhi oleh figur ayah, yang meliputi unsur-unsur emosi seperti rasa cinta, kepercayaan, rasa kagum dan ketakutan. Anak yang sedikit atau jarang mendengar Tuhan dibahas dalam rumah maka tentu tidak memiliki konsep tentang Tuhan.
Peran orang tua dan anggota keluarga lain pada anak.

Ibu adalah orang yang utama dan pertama punya peran dalam mengukir kepribadian anak dan bagaimana gambaran mereka kelak. Peran ibu yang besar adalah dalam menanakan rasa cinta pada “sang buah hati”. Ibu perlu memperlihatkan rasa cinta dan tulusnya pada anak. Dalam hidup ini cukup banyak anak-anak yang menjadi rusak emosinya karena tidak merasakan cinta ibu dalam rumah, terutama bagi ibu egois yang sangat mementingkan karir dan jabatan dalam untuk mencari kehormatan yang kadang kala penuh kepalsuan. Bila anak merasa kurang perhatian orang tua, terutama dari sang ibu, maka ia akan menjadi gelisah dan kurang puas. Setelah ibu, maka dituntut peran dan tanggung jawab dari ayah.

Anak selalu butuh kualitas perhatian ayah dan ibu (orang tua) melalui kehangatan hubungan mereka. Hubungan orang tua dan anak yang kaku, penuh permusuhan maka kelak membuat anak suka melawan. Ini penyebab awal dari tipe individu dan anti sosial. Figur Ayah sangat penting dalam pembentukan pribadi anak. Ayah merupakan tokoh identifikasi disamping figur ibu. Pribadi ayah menjadi tolok ukur bagi pembentukan prilaku anak. Bila ayah punya peranan dalam keluargadan masyarakat maka anak akan punya kepribadian yang mantap. Sebaliknya bila ayah kurang berperan dalam keluarga, apalagi tidak aktif dalam masyarakat, serta dalam kehidupan anak, maka anak akan kehilangan pegangan atau figur ayah.

Idealnya ayah harus aktif dan puya agenda atau kegiatan hidup. Tidak pantas ayah menjadi raja kecil yang senang serba mengatur, bengong dan senang menganggur atau kongkow-kongkow, duduk membuang waktu. Sebab anak akan kurang pengalaman bila ayahnya kurang aktif. Apalagi bila anak tumbuh tanpa kehadiran ayah yang aktif dan kreatif disampingnya atau di rumah. Ayah musti melowongkan waktu untuk bermain dan bergaul dengan anak Ayah seharusnya juga menjadi pendidik, tidak hanya mengandalkan pada peran ibu, namun ayah tidak boleh menjadi pendidik yang keras atau otoriter.

Dlam masyarakat yang menganut system keluaga besar, extended family, dimana selain kehadiran kekuarga inti (ayah, ibu dan anak) juga ada kakek dan nenek. Tentu saja kakek dan nenek juga memberi peran dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun Kakek dan nenek harus ingat bahwa yang berkuasa atas anak adalah orang tuanya. Inilah kadang kala penyebab orang tua dan kakek-nenek agak cekcok. Gara-gara berebut lahan dalamm mempengaruhi sang cucu. Apalagi bila kakek-nenek merasa lebih pintar.

Pendidikan dan sekolah anak.
Di akhir masa balita (usia lima tahun) maka anak perlu mengenal lingkungan sekolah. Kalau anak punya kakak yang sudah bersekolah. Maka ia sudah punya bayangan tentang sekolah. Masa awal bersekolah, terutama di SD, merupakan masa penyesuaian diri yang cukup berat. Cukup banyak anak yang mulai mengenal stress pertama dalam hidupnya gara-gara berada di sekolah yang tidak bias memenuhi egosentrisnya sebagai raja kecil. Sehingga sang ibu atau yah terpaksa agak repot menenangkan emosi dan menemani mereka. Tetapi anak yang sudah bersekolah di TK akan tidak begitu canggung masuk sekolah yang baru (SD) karena ia sudah bisa berpisah dengan rumah. Ibu, ayah, dan anggota keluarga yang lain ada baiknya sebelum anak bersekolah, membawa anak main-main ke sekolah.

Kelas I SD merupakan loncatan dari dunia permainan ke dunia yang lebih komplek dan serius. Ia mulai berkenalan dengan tata tertib, disiplin , tugas dan tanggung jawab dan harus bisa untuk bangun pagi dan membuat PR yang teratur.

Sejak dari bangku TK, anak mulai tahu dengan kosakata baru, yaitu “Rapor”. Rapor yaitu catatan presrasi akademi anak secara kognitif, afektif dan psikomotorik (kecerdasan logika, sikap dan keterampilan). Rapor punya eksistensi yang pending dalam mencatat nilai atau perkembangan anak. Tanpa adanya rapor atau penilaian maka tidak akan ada rangsangan untuk mencapai keberhasilan.

Walaupun di sekolah anak memperoleh bimbingan dari guru namun anak lebih banyak belajar dari contoh (model langsung) dari pada petunjuk orang tua atau khotbah-khotbah . Orang tua perlu selalu memompakan semangat dan dorongan dalam belajar. Sekali lagi bahwa lebih pas kalau orang tua juga memberi model. “walaupun sudah tua ayah juga selalu belajar seperti kamu”, kata seorang ayah pada anaknya sambil membaca biografi atau buku tentang filsafat kehidupan.

Dalam membimbing anak agar dapat tumbuh dan berkembang, orangtua perlu punya hubungan dengan guru di sekolah. Kontak akrab dan hangat antara guru dan orang tua sangat besar manfaatnya bagi pertumbuhan, perkembangan dan prestasi anak. Guru dapat mengemukakan keluhan mengenai perkmbangan kemampuan anak. Kunjungan guru ke rumah orang tua juga penting, (dan tentu butuh pengorbanan dari pihakguru). Ini berguna untuk mengetahui latar belakang kehidupan siswa/ anak di rumah. “Lakukanlah komunikasi guru- siswa- orang tua di sekolah secara teratur”.

Membina motivasi dan prestasi belajar anak
Motivasi untuk berprestasi bagi anak perlu dikembangkan. Anak-anak orang yang berhasil dalam akademik dan non kademik adalah anak yang punya motivasi. Motivasi dapat tumbuh dalam suasana yang bebas, merdeka, tanpa ketegangan dan tuntutan yang berlebihan dan anak perlu merasa dihargai dan diterima apa adanya.

Anak perlu punya prestasi. Tingkah laku berprestasi adalah anak cenderung untuk selalu menyelesaikan tugas, dan punya rasa kompetisi terhadap diri. Prestasi yang baik adalah hasil dari belajar yang baik pula. Tetapi sering orang tua baru memberikan perhatian pada pelajaran anak, setelah rapor anak sangat jelek, banyak tinda merah atau angka mati. Orang menyebut dengan istilah rapor yang “kebakaran”. Prestasi buruk tidak berarti anak bodoh, untuk itu orang tua perlu introspeksi diri.

Sikap dan pribadi orang tua dapat mewarnai motivasi dan prestasi anak yang juga terrefleksi dalam kepribadiaannya. Agar orang tua bisa berpengaruh dalam menanamkan motivasi dan prestasi belajar, saratnya tentu musti ada keakraban, kehangatan dan komunikasi antara orang tua dan anak.

Prestasi dan motivasi anak juga ditentukan oleh bakat dan intelligent quotient (IQ) anak. Perlu diketahui bahwa anak berbakat merupakan interaksi – kemampuan di atas rata-rata, kreatif, cemerlang berfikir dan bertanggung jawab. Kemudian tentang IQ, bahwa anak yang ber IQ tinggi ada kalanya egois, namun ada kalanya mandiri, hangat dalam bergaul, imajinasi kreatif dan memiliki rasa humor. Kelemahannya adalah kadang kala malas, tak sabar, sering gelisah dan sering mengganggu.

Selain anak ber IQ tinggi, ada lagi istilah “anak berbakat”. Anak yang berbakat lebih suka bermain dengan anak yang lebih tua usianya, dan adakalanya menjadi pemimpin kelompok. Untuk merangsang potensi anak berbakat maka orang tua perlu menyediakan lingkungan yang kaya imajinasi, dan membiarkan anak untuk menyelidiki lingkungan tanpa banyak diusik.

Mendorong minat belajar anak.
Orang tua perlu menjaga semangat belajar anak agar tidak luntur dan rusak, karena belajar bukanlah proses jangka pendek. Ia perlu dorongan moral dan suasana, membiasakan anak membuat PR dan belajar di rumah.

Orang tua harus tahu bahwa anak perlu membuat jadwal belajar di rumah, tetapi berimbang antara belajar, membantu orang tua, hobi dan bermain. Anak tidak harus belajar terlalu lama sebab akan mengancam semangat belajar, biar belajar 30 menit untuk satu mata pelajaran, yang penting teratur dan sering. Orang tua sedapat mungkin menemani anak SD dalam belajar. Dan jangan membentak bentak anak-anak bila belum mengerti. Sikap kasar tidak akan membantu anak, sebab anak bias jadi gelisah dan takut.

Tentang PR (Pekerjaan Rumah), sebaiknya orang tua ikut melihat pelajaran yang telah diperoleh anak di sekolah dan ajaklah anak untuk belaja dengan teratur di rumah. Bila PR selesai, sebaiknya orang tua perlu untuk menelitinya lagi. Waktu mengerjakan PR anak tidak boleh diganggu oleh waktu bermain dan pergaulan sosial, agar PR tidak jadi masalah- bermainlah saat bermain dan belajar saat belajar. .

Konsentrasi anak,
Akhir kata adalah tentang konsentrasi anak. Untuk bisa berkosentrasi, anak perlu untuk punya motivasi. Hal-hal yang mengganggu konsentrasi anak anak adalah seperti faktor luar dan factor dalam. Rangsangan luar dapat mengganggu kosentrasi anak, demikian pula bila ada konflik dalam rumah tangga. Konflik antar anak-anak; anak- orang tua, dan orang tua-orang tua. Kosentrasi bisa buyar karena perhatian teralih oleh sesuatu yang lebih menarik.

Jangan mengganggu anak yang asyik bermain, asyik dengan hobi, dan sedang asyik membaca. Bila anak sering terganggu kosentrasi, ia mudah kehilangan gairah belajar. Kurangnya gerak badan dapat mempengaruhi konsentrasi. Berikan anak waktu untuk berkosentrasi dalam menyelesaikan pekerjaan.

Mengangkat harga diri bangsa ini kini tidak saja tanggung jawab sekolah, dengan unsure guru, dan lingkungan sekolah tetapi sekarang juga tanggung jawab rumah dengan ayah dan ibu sebagai guru utama anak. Yang sangat diperlukan untuk membuat anak cerdas dan terdidik dari pihak orang tua adalah dari segi atau sentuhan motivasi. Memaksimalkan peran dalam mndidik- menemani dan memfasiltasi anak dalam belajar adalah peran terpenting dari orang tua.

(Catatan: Alex Sobur. 1986. Anak Masa Depan. Bandung: Angkasa).

Sabtu, 17 Oktober 2009

Prinsip Percepatan Pembelajaran Untuk Mengejar Ketertinggalan

Prinsip Percepatan Pembelajaran Untuk Mengejar Ketertinggalan
Oleh : Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Sikap kurang sabar dan suka terburu-buru adalah bahagian dari karakter anak muda secara umum. Termasuk karakter pelajar dan remaja. Di jalan raya prilaku ini terlihat dalam kebiasaan ngebut dan mengambil jalan pintas. Melihat prilaku yang agresif dan suka terburu buru ini mungkin ada orang nyelutuk dan berkata “wah anak muda sekarang, kalau di jalan suka ngebut tetapi kalau belajar suka lambat”.

Pelajar, guru, orang tua dan semua orang sudah tahu bahwa bahwa kualitas pendidikan kita dibandingkan dengan kualitas pendidikan negara maju (Singapura, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Perancis, dan lain-lain) masih jauh tertinggal. Maka agar bangsa ini bisa maju dan tidak tertinggal terus maka sudah saatnya semua warga Indonesia untuk memacu kualitas diri. Salah satu cara yang mungkin untuk diterapkan adalah dengan melakukan program percepatan pembelajaran.

Percepatan pembelajaran adalah terjemahan dari accelerated learning. Dave Meier (2002) menulis buku dengan judul “The Accelerated Learning Handbook”. Ia mengatakan bahwa untuk percepatan pembelajaran maka diperlukan keterlibatan total dalam pembelajaran itu sendiri. Belajar haruslah berpusat pada aktifitas dan bukan pada presentasi atau kehadiran semata.

Percepatan pembelajaran seharusnya tidak hanya konsumsi untuk siswa SMA dengan program akselerasinya. Apalagi kalau program akselerasi tersebut hanya berupa pemaksaan dari orang tua, memenuhi ego orang tua agar merasa bangga mempunyai anak yang dicap jenius dengan cara bergabung dalam program akselerasi. Apalagi program akselerasi atau percepatan untuk mempercerdas anak hanya untuk bidang sains dan matematika, pada hal kelak masa depan mereka yang pas belum tentu berada dalam koridor sains dan matematika, mana tahu pada bidang, olah raga, seni atau bahasa.

Suasana pembelajaran pada banyak sekolah, mulai dari tingkat SD sampai ke tingkat SLTA masih banyak bersifat teacher centered. Walaupun sudah banyak guru yang mengetahui jenis-jenis metode pembelajaran, namun mereka tetap merasa senang dengan metode konvensional atau metode beceramah, mencatatkan, mendiktekan atau metode bank- menyuruh siswa menghafal semua ucapan guru dan mengujinya pada hari berikutnya. Pemandangan umum adalah bahwa siswa selalu berkutat dengan kegiatan mencatat, menghafal dan mengerjakan lusinan latihan sehingga jari pegal-pegal. Sesungguhnya belajar bukanlah sejenis olah raga untuk ditonton, tetapi menuntut peran semua pihak.

Orang awam berpendapat bahwa belajar adalah aktivitas verbal dan kognitif. Namun yang lebih tepat untuk mengatakanya adalah bahwa belajar paling baik dengan melibatkan unsur emosional, seluruh tubuh, seluruh indera dan segenap pribadi. Untuk memantapkan daya serap saat belajar maka suasana belajar perlu bersuasana gembira. Ini bisa menjadi penentu utama dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas belajar.

Kegembiraan dalam belajar bukan berarti menciptakan suasana kelas yang ribut dan hiruk pikuk. Kegembiraan dalam belajar berarti bangkitnya minat belajar anak. Maka guru dan orang tua perlu menjaga rasa dan suasana gembira pada saat anak belajar, karena rasa gembira bisa mempercepat proses pembelajaran. Sebaliknya orang tua dan guru perlu menghindari rasa negatif, kebiasaan marah-marah dan mengomel pada anak, karena rasa negatif dapat memperlambat dan menghentikan pembelajaran itu sendiri. Sekali lagi bahwa guru dan orang tua perlu untuk menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari stress dan menjadikan pembelajaran itu bersifat sosial.

Belajar yang baik adalah belajar dengan kontek atau belajar dengan mengerjakan pekerjaan itu sendiri. Misal, belajar berenang dengan berenang, belajar bernyanyi dengan bernyanyi , bukan dengan menyuguhkan sekeranjang teori melulu, kemudian belajar menjual dengan menjual, belajar bahasa asing dengan menggunakan bahasa. Dengan belajar dalam konteks maka akan diperoleh pengalaman kongkrit. Pengalaman kongkrit atau pengalaman nyata dapat menjadi guru terbaik- karena kita terjun langsung, mendapat umpan balik dan terjun kembali.

Pengalaman tentang cara terbaik, atau tentang pengalaman hidup, dapat diperoleh melalui pengalaman orang-orang sukses- mendatangi orang sukses yang ada di seputar kita- atau membaca biografi orang-orang sukses itu sendiri di perpustakaan atau di internet. Cara belajar yang terbaik bukanlah dengan mendengarkan ceramah atau memandang layar komputer melulu. Namun belajar yang terbaik adalah dengan mengalami dan melakukan pekerjaan itu sendiri.

Cara dan prilaku belajar anak laki dan perempuan juga perlu untuk dipahami. Anak laki-laki belajar dalam cara yang berbeda dengan karakter anak perempuan. Anak laki-laki atau pelajar laki-laki mungkin akan lebih sukses belajar dengan cara bersaing, menggunakan logika dan bersifat dominant-atau menguasai. Sementara itu anak perempuan dan juga pelajar perempuan merasa lebih cocok kalau belajar dengan cara kerja sama, melibatkan perasaan dan prilaku mereka bersifat mengasuh.

Colin Roze dan Malcolm (2003) juga berbicara tentang percepatan pembelajaran. Ia mengatakan dalam bukunya “Accelerated Learning For the 21st Century, Cara Belajar Cepat abad 21” bahwa belajar harus dimulai sedini mungkin dan tidak boleh berhenti sampai tua, atau sampai manusia meninggal dunia. Demi pendidikan maka tidak relevan lagi kalau kita bertanya pada siswa atau pada anak; “Ingin jadi apa kalau kamu besar nanti ?”. Tetapi pertanyaan Yang lebih tepat adalah, “Apa yang dapat kamu kerjakan kalau kamu sudah besar nanti ?”.

Berarti untuk menjadi maju dan untuk mengajak anak menjadi maju, maka tentu musti ada perubahan. Untuk menguasai perubahan maka diperlukan “cara belajar cepat” atau percepatan dalam pembelajaran. Percepatan pembelajaran sangat berguna untuk menyerap dan memahami informasi yang cepat. Percepatan pembelajaran , sekali lagi, tidak mutlak hanya untuk konsumsi sekolah sekolah mewah. Sekolah apa saja bisa menerapkan program percepatan pembelajaran. Percepatan pembelajaran dapat terjadi dengan cara mengubah ruang kelas secara total, gunakan permainan, rancang berbagai aktivitas, masukan suasana emosi, ada unsur musik, ada dekorasi dan proses belajar mengajar (PBM) yang bebas dari tekanan demi tekanan.

Percepatan pembelajaran juga perlu dukungan orang tua di rumah. Pada beberapa sekolah yang memiliki program akselerasi- anak dipacu belajar dan melahap semua mata pelajaran yang ada sekarang dan mata pelajaran untuk kelas yang lebih tinggi. Anak anak yang masuk dalam program akselerasi di sekolah, seharusnya juga memperoleh respond dan dukungan atas program percepatan pembelajaran tersebut. Namun orang tua dan kondisi rumah jarang yang memberi dukungan. Seharusnya orang tua menyediakan kondisi rumah yang kaya stimulasi dan bebas stress agar anak dapat tumbuh mandiri (bukan berarti anak tidak perlu mengenal stress, namun jangan memberi stress sepanjang hari). Dalam menerapkan percepatan pembelajaran, para pendidik- guru dan juga orang tua, dihimbau untuk melibatkan diri, memasukan unsur emosional (suasana yang hangat), keceriaan dan kebahagiaan, dan menggunakan latihan relaksasi.

Guru sebagai pendidik dan orang tua sebagai pengasuh harus memahami bahwa tidak guna terlalu mudah menjadi bad tempered, mudah marah-marah dan mencerca anak saat mendampingi mereka dalam belajar, walau tujuannya untuk membuat anak disiplin, “Hei… nanti ku jewer kuping mu, jangan banyak canda belajar sajalah … !!”. Ya demikianlah, cukup banyak orang tua dan guru terbiasa menggunakan kekuasaanya untuk membentak, memukul, menjewer anak atau anak didik. Pada hal belajar yang diikuti dengan cara-cara kekerasan, cercaan, dan bad mood (suasana hati guru dan orang tua yang jelek) akan membuat belajar itu sendiri menjadi beban dan mendatangkan stress. It is not good, maka cobalah belajar dan menemani anak belajar dengan cara yang baru ; pemberian pujian, hadiah atau reward. Sudah saatnya ada perubahan dalam mendorong anak belajar, sekali lagi, mendampingi anak belajar dengan tepuk tangan dan penghagaan.

Menyelenggarakan program percepatan pembelajaran, apakah untuk konsumsi diri, untuk anak di rumah, atau program akselerasi di sekolah, maka musti tahu dengan prinsip belajar yang menyenangkan. Prinsip-prinsip belajar yang menyenangkan, sekali lagi, adalah; ciptakan suasana rileks dan keceriaan, ada humor, ada unsur musik, ada dekorasi, ada reward atau upah dan menggunakan semua unsur indera yaitu mata, mulut, telinga dan gerakan. Ini memang mirip dengan pembelajaran di taman kanak-kanak (dalam arti mempertahankan suasana keceriaan dan motivasi dari guru). Bukan dengan suasana penuh tekanan, kekerasan, ancaman yang berpotensi membuat anak takut, dan kehilangan minat serta motivasi belajar.

Pertahankanlah prinsip pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan adalah dengan memperhatikan bagaimana anak anak kecil di Taman Kanak-Kanak belajar, bukan berarti kita harus kekanak-kanakan. Mereka adalah pembelajar yang hebat karena mereka mereka menggunakan seluruh unsur tubuh dan semua indera tubuh dalam belajar. Tanpa kita sadari bahwa ternyata anak kecil belajar dengan menggunakan unsur somatic- belajar dengan berbuat/ bergerak, auditory- belajar dengan berbicara dan mendengarkan, visual- belajar dengan mengamati dan melihat, dan intelektual- yaitu belajar dengan memecahkan masalah dan berdasarkan pengalaman.

Percepatan pembelajaran bisa jadi program yang penting untuk memacu ketertinggalan kita. Program ini tidak mutlak dikonsumsi oleh program sekolah dengan program akselerasi, namun bisa diterapkan untuk keperluan pribadi atau percepatan pembelajaran anggota keluarga di rumah. Belajarlah secara total, dengan melibatkan unsur panca indera dan belajarlah dengan kontek. Yang penting untuk diingat adalah bahwa suasana percepatan pembelajaran harus bersikap ceria dan terfokus pada siswa.

Catatan : 1) Colin Roze dan Malcom J. Nicholl. (2003). Accelerated Learning For the 21st Century, Cara Belajar Cepat abad 21. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia. 2). David Meier,(2002). The Accelerated Learning Handbook. Bandung: Kaifa.

Prinsip Percepatan Pembelajaran Untuk Mengejar Ketertinggalan

Prinsip Percepatan Pembelajaran Untuk Mengejar Ketertinggalan
Oleh : Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Sikap kurang sabar dan suka terburu-buru adalah bahagian dari karakter anak muda secara umum. Termasuk karakter pelajar dan remaja. Di jalan raya prilaku ini terlihat dalam kebiasaan ngebut dan mengambil jalan pintas. Melihat prilaku yang agresif dan suka terburu buru ini mungkin ada orang nyelutuk dan berkata “wah anak muda sekarang, kalau di jalan suka ngebut tetapi kalau belajar suka lambat”.
Pelajar, guru, orang tua dan semua orang sudah tahu bahwa bahwa kualitas pendidikan kita dibandingkan dengan kualitas pendidikan negara maju (Singapura, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Perancis, dan lain-lain) masih jauh tertinggal. Maka agar bangsa ini bisa maju dan tidak tertinggal terus maka sudah saatnya semua warga Indonesia untuk memacu kualitas diri. Salah satu cara yang mungkin untuk diterapkan adalah dengan melakukan program percepatan pembelajaran.
Percepatan pembelajaran adalah terjemahan dari accelerated learning. Dave Meier (2002) menulis buku dengan judul “The Accelerated Learning Handbook”. Ia mengatakan bahwa untuk percepatan pembelajaran maka diperlukan keterlibatan total dalam pembelajaran itu sendiri. Belajar haruslah berpusat pada aktifitas dan bukan pada presentasi atau kehadiran semata.
Percepatan pembelajaran seharusnya tidak hanya konsumsi untuk siswa SMA dengan program akselerasinya. Apalagi kalau program akselerasi tersebut hanya berupa pemaksaan dari orang tua, memenuhi ego orang tua agar merasa bangga mempunyai anak yang dicap jenius dengan cara bergabung dalam program akselerasi. Apalagi program akselerasi atau percepatan untuk mempercerdas anak hanya untuk bidang sains dan matematika, pada hal kelak masa depan mereka yang pas belum tentu berada dalam koridor sains dan matematika, mana tahu pada bidang, olah raga, seni atau bahasa.
Suasana pembelajaran pada banyak sekolah, mulai dari tingkat SD sampai ke tingkat SLTA masih banyak bersifat teacher centered. Walaupun sudah banyak guru yang mengetahui jenis-jenis metode pembelajaran, namun mereka tetap merasa senang dengan metode konvensional atau metode beceramah, mencatatkan, mendiktekan atau metode bank- menyuruh siswa menghafal semua ucapan guru dan mengujinya pada hari berikutnya. Pemandangan umum adalah bahwa siswa selalu berkutat dengan kegiatan mencatat, menghafal dan mengerjakan lusinan latihan sehingga jari pegal-pegal. Sesungguhnya belajar bukanlah sejenis olah raga untuk ditonton, tetapi menuntut peran semua pihak.
Orang awam berpendapat bahwa belajar adalah aktivitas verbal dan kognitif. Namun yang lebih tepat untuk mengatakanya adalah bahwa belajar paling baik dengan melibatkan unsur emosional, seluruh tubuh, seluruh indera dan segenap pribadi. Untuk memantapkan daya serap saat belajar maka suasana belajar perlu bersuasana gembira. Ini bisa menjadi penentu utama dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas belajar.
Kegembiraan dalam belajar bukan berarti menciptakan suasana kelas yang ribut dan hiruk pikuk. Kegembiraan dalam belajar berarti bangkitnya minat belajar anak. Maka guru dan orang tua perlu menjaga rasa dan suasana gembira pada saat anak belajar, karena rasa gembira bisa mempercepat proses pembelajaran. Sebaliknya orang tua dan guru perlu menghindari rasa negatif, kebiasaan marah-marah dan mengomel pada anak, karena rasa negatif dapat memperlambat dan menghentikan pembelajaran itu sendiri. Sekali lagi bahwa guru dan orang tua perlu untuk menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari stress dan menjadikan pembelajaran itu bersifat sosial.
Belajar yang baik adalah belajar dengan kontek atau belajar dengan mengerjakan pekerjaan itu sendiri. Misal, belajar berenang dengan berenang, belajar bernyanyi dengan bernyanyi , bukan dengan menyuguhkan sekeranjang teori melulu, kemudian belajar menjual dengan menjual, belajar bahasa asing dengan menggunakan bahasa. Dengan belajar dalam konteks maka akan diperoleh pengalaman kongkrit. Pengalaman kongkrit atau pengalaman nyata dapat menjadi guru terbaik- karena kita terjun langsung, mendapat umpan balik dan terjun kembali.
Pengalaman tentang cara terbaik, atau tentang pengalaman hidup, dapat diperoleh melalui pengalaman orang-orang sukses- mendatangi orang sukses yang ada di seputar kita- atau membaca biografi orang-orang sukses itu sendiri di perpustakaan atau di internet. Cara belajar yang terbaik bukanlah dengan mendengarkan ceramah atau memandang layar komputer melulu. Namun belajar yang terbaik adalah dengan mengalami dan melakukan pekerjaan itu sendiri.
Cara dan prilaku belajar anak laki dan perempuan juga perlu untuk dipahami. Anak laki-laki belajar dalam cara yang berbeda dengan karakter anak perempuan. Anak laki-laki atau pelajar laki-laki mungkin akan lebih sukses belajar dengan cara bersaing, menggunakan logika dan bersifat dominant-atau menguasai. Sementara itu anak perempuan dan juga pelajar perempuan merasa lebih cocok kalau belajar dengan cara kerja sama, melibatkan perasaan dan prilaku mereka bersifat mengasuh.
Colin Roze dan Malcolm (2003) juga berbicara tentang percepatan pembelajaran. Ia mengatakan dalam bukunya “Accelerated Learning For the 21st Century, Cara Belajar Cepat abad 21” bahwa belajar harus dimulai sedini mungkin dan tidak boleh berhenti sampai tua, atau sampai manusia meninggal dunia. Demi pendidikan maka tidak relevan lagi kalau kita bertanya pada siswa atau pada anak; “Ingin jadi apa kalau kamu besar nanti ?”. Tetapi pertanyaan Yang lebih tepat adalah, “Apa yang dapat kamu kerjakan kalau kamu sudah besar nanti ?”.
Berarti untuk menjadi maju dan untuk mengajak anak menjadi maju, maka tentu musti ada perubahan. Untuk menguasai perubahan maka diperlukan “cara belajar cepat” atau percepatan dalam pembelajaran. Percepatan pembelajaran sangat berguna untuk menyerap dan memahami informasi yang cepat. Percepatan pembelajaran , sekali lagi, tidak mutlak hanya untuk konsumsi sekolah sekolah mewah. Sekolah apa saja bisa menerapkan program percepatan pembelajaran. Percepatan pembelajaran dapat terjadi dengan cara mengubah ruang kelas secara total, gunakan permainan, rancang berbagai aktivitas, masukan suasana emosi, ada unsur musik, ada dekorasi dan proses belajar mengajar (PBM) yang bebas dari tekanan demi tekanan.
Percepatan pembelajaran juga perlu dukungan orang tua di rumah. Pada beberapa sekolah yang memiliki program akselerasi- anak dipacu belajar dan melahap semua mata pelajaran yang ada sekarang dan mata pelajaran untuk kelas yang lebih tinggi. Anak anak yang masuk dalam program akselerasi di sekolah, seharusnya juga memperoleh respond dan dukungan atas program percepatan pembelajaran tersebut. Namun orang tua dan kondisi rumah jarang yang memberi dukungan. Seharusnya orang tua menyediakan kondisi rumah yang kaya stimulasi dan bebas stress agar anak dapat tumbuh mandiri (bukan berarti anak tidak perlu mengenal stress, namun jangan memberi stress sepanjang hari). Dalam menerapkan percepatan pembelajaran, para pendidik- guru dan juga orang tua, dihimbau untuk melibatkan diri, memasukan unsur emosional (suasana yang hangat), keceriaan dan kebahagiaan, dan menggunakan latihan relaksasi.
Guru sebagai pendidik dan orang tua sebagai pengasuh harus memahami bahwa tidak guna terlalu mudah menjadi bad tempered, mudah marah-marah dan mencerca anak saat mendampingi mereka dalam belajar, walau tujuannya untuk membuat anak disiplin, “Hei… nanti ku jewer kuping mu, jangan banyak canda belajar sajalah … !!”. Ya demikianlah, cukup banyak orang tua dan guru terbiasa menggunakan kekuasaanya untuk membentak, memukul, menjewer anak atau anak didik. Pada hal belajar yang diikuti dengan cara-cara kekerasan, cercaan, dan bad mood (suasana hati guru dan orang tua yang jelek) akan membuat belajar itu sendiri menjadi beban dan mendatangkan stress. It is not good, maka cobalah belajar dan menemani anak belajar dengan cara yang baru ; pemberian pujian, hadiah atau reward. Sudah saatnya ada perubahan dalam mendorong anak belajar, sekali lagi, mendampingi anak belajar dengan tepuk tangan dan penghagaan.
Menyelenggarakan program percepatan pembelajaran, apakah untuk konsumsi diri, untuk anak di rumah, atau program akselerasi di sekolah, maka musti tahu dengan prinsip belajar yang menyenangkan. Prinsip-prinsip belajar yang menyenangkan, sekali lagi, adalah; ciptakan suasana rileks dan keceriaan, ada humor, ada unsur musik, ada dekorasi, ada reward atau upah dan menggunakan semua unsur indera yaitu mata, mulut, telinga dan gerakan. Ini memang mirip dengan pembelajaran di taman kanak-kanak (dalam arti mempertahankan suasana keceriaan dan motivasi dari guru). Bukan dengan suasana penuh tekanan, kekerasan, ancaman yang berpotensi membuat anak takut, dan kehilangan minat serta motivasi belajar.
Pertahankanlah prinsip pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan adalah dengan memperhatikan bagaimana anak anak kecil di Taman Kanak-Kanak belajar, bukan berarti kita harus kekanak-kanakan. Mereka adalah pembelajar yang hebat karena mereka mereka menggunakan seluruh unsur tubuh dan semua indera tubuh dalam belajar. Tanpa kita sadari bahwa ternyata anak kecil belajar dengan menggunakan unsur somatic- belajar dengan berbuat/ bergerak, auditory- belajar dengan berbicara dan mendengarkan, visual- belajar dengan mengamati dan melihat, dan intelektual- yaitu belajar dengan memecahkan masalah dan berdasarkan pengalaman.
Percepatan pembelajaran bisa jadi program yang penting untuk memacu ketertinggalan kita. Program ini tidak mutlak dikonsumsi oleh program sekolah dengan program akselerasi, namun bisa diterapkan untuk keperluan pribadi atau percepatan pembelajaran anggota keluarga di rumah. Belajarlah secara total, dengan melibatkan unsur panca indera dan belajarlah dengan kontek. Yang penting untuk diingat adalah bahwa suasana percepatan pembelajaran harus bersikap ceria dan terfokus pada siswa.

Catatan : 1) Colin Roze dan Malcom J. Nicholl. (2003). Accelerated Learning For the 21st Century, Cara Belajar Cepat abad 21. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia. 2). David Meier,(2002). The Accelerated Learning Handbook. Bandung: Kaifa.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Mengoptimalkan Potensi Otak Untuk Pendidikan


Mengoptimalkan Potensi Otak Untuk Pendidikan
Oleh. Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Salah satu bagian tubuh yang paling penting dan sangat berharga dan bisa mengubah dunia adalah otak. Yahya Muhaimin (dalam Taufik Pasiak, 2004) mengatakan bahwa kemapuan otak merupakan potensi yang memungkinkan seseorang dalam mengembangkan diri untuk menjadi makhluk menuju eksistensi (wujud) yang sempurna di dunia ini. Dengan memggunakan otak maka seseorang akan mampu menghasilkan tiga macam bentuk fikiran, yaitu rasio-intuitif, emosional, dan fikiran spiritual.

Namun untuk membuat pemilik otak itu sebagai manusia yang berarti/berguna atau sebagai manusia yang kurang berguna bagi manusia lain adalah bagaimana ia memanfaatkan otaknya. Konsep manusia yang berguna menurut agama adalah “khairunnas anfahum linnas”, manusia yang baik adalah manusia yang berguna bagi orang lain. Agar bisa berguna bagi manusia lain, maka seharusnya kita mengoptimalkan penggunaan fungsi otak. Otak yang tidak dirangsang secara optimal tentu tidak akan membuat pemilik otak tersebut menjadi makhluk yang sempurna.

Namun ada kecendrungan sebagian masyarakat dan orang tua yang terlalu menganggungkan kecerdasan otak semata. Banyak orangtua yang tidak henti-hentinya memuji anak kalau kebetulan mempunyai anak yang cerdas, namun emosional dan spiritualnya kurang cerdas- kurang pergaulan dan kurang pula pengamalan agamanya, “wah percuma si Abton itu cerdas, tapi kuper- kurang pergaulan- dan sholat serta puasanya bolong- bolong”. Kita tidak akan menjadi manusia yang beradab kalau hanya menggunakan rasional- kecerdasan otak- dan mengabaikan unsur emosional dan spiritual.

Hampir semua orangtua tahu bahwa anak dengan otak yang terlatih dan terdidik, tanpa mengabaikan kualitas emosional dan spiritual, akan mampu membuat mereka menjadi bahagia, cerdas dan berakhlak. Tentu saja ini diperoleh oleh anak yang memiliki otak yang berkualitas dan pengembangan emosional dan spiritual yang mantap. Untuk mendapatkan generasi yang demikian maka orangtua, sekali lagi, perlu untuk membantu pengoptimalan penggunaan dan pertumbuhan otak anak sejak dini dan sampai remaja seperti memberi mereka makanan yang bergizi, memberi latihan dan pendidikan, memperkaya anak dengan informasi dan memperkaya pengalaman mereka.

Agar anak bisa menjadi cerdas maka orang tua, guru, baby sitter dan para pengasuh anak memiliki peran penting dalam mengembangkan potensi otak mereka. Cara-cara pengembangan potensi otak yang dapat dilakukan adalah melalui pembinaan bahasa anak, memberikan mereka kesempatan untuk memiliki kegiatan dan melibatkan mereka dalam kegiatan sosial. Taufik Pasiak (2004) mengatakan bahwa bahasa, latihan, pendidikan, pergaulan/sosial merupakan sarana untuk mengoptimalkan potensi otak kita.

Bahasa memungkinkan kita dalam merumuskan pengalaman mental. Apa yang kita lihat, dengar dan rasakan , atau apa yang diserap oleh indera, dialami oleh pengalaman hidup akan dapat diekspresikan melalui bahasa. Orang tua yang terbiasa membelenggu perkembangan dan pertumbuhan anak dengan cara banyak melarang untuk berbuat “anak tidak boleh melompat-lompat, tidak boleh memajat, mendorong, berlari, tidak boleh main air, tidak boleh main api, dan perbuatan serba melarang lainnya” berpotensi menciptakan anak menjadi manja dan miskin dengan pengalaman hidup. Sejak kecil otak mereka tidak berkembang secara optimal.

Mengisolasi seseorang untuk berbicara sejak bayi bisa membuat dia mengalami gangguan jiwa. Namun secara tidak sengaja ditemukan bahwa cukup banyak orang tua yang enggan mengajak bayi untuk ngobrol. Apa yang mereka lakukan adalah cuma menggendong tanpa berkata-kata. Kemudian cukup banyak orang tua yang juga egois dan malas untuk mengajak anggota keluarga/ anak-anak untuk bercengkerama. Mereka cuma sibuk dan tenggelam dalam urusan pribadi dan bisnis. Orang tua yang demikian juga berpotensi dalam menghancurkan perkembangan otak anak mereka sendiri.

Orang tua dan guru perlu tahu bahwa anak belajar bahasa lewat bermain. Proses belajar dalam bentuk “learning by doing, learning by playing, dan learning by using game” sangat bermanfaat dalam mengembangkan kecerdasan anak. Selanjutnya bahwa dalam merangsang pertumbuhan dan perkembangan otak, maka anak dan juga pelajar sangat membutuhkan sentuhan kasih sayang dari guru dan orang tua, makanan bergizi, dan lingkungan yang kaya dengan rangsangan (aktifitas yang edukatif).

Lingkungan belajar yang kaya dengan rangsangan atau suasana yang penuh emosional/ kehangatan dan aktifitas yang edukatif adalah kunci bagi perkembangan otak anak. Pelajaran akan mudah diingat jika melibatkan kehangatan emosional. Orang bijak mengatakan bahwa otak dan otot bersandar dekat orang yang banyak gerak (banyak aktifitas) dan pengalaman hidup. Maka betapa pengaruh pengalaman hidup (melalui banyak aktifitas) akan membuat seseorang menjadi lebih cerdas. Dengan kata lain bahwa orang yang miskin dengan pengalaman positif adalah orang yang paling miskin dalam hidupnya.

Kegiatan bersosialisasi juga mampu untuk membuat anak/ seseorang mejadi cerdas. Ada beberapa bentuk kegiatan bersosial seperti melakukan ngobrol, membuat catatan harian, mengikuti organisasi, bermain dan melakukan plesiran atau rekreasi.

Mengobrol dilakukan untuk menguatkan silaturrahmi atau human relation. Menulis catatan harian bermanfaat untuk introspeksi diri. Mengikuti kegiatan organisasi berguna dalam mencari teman, melatih manajerial, dan mengelola konflik. Aktifitas bermain juga berguna untuk membuat dunia ini ceria, maka pilihlah permainan untuk anak yang memiliki dimensi motorik, sensorik, kognitif dan kehangatan emosional. Kemudian, mengikuti kegiatan rekreasi seperti outbond training yaitu kegitan yang memadukan olah raga dan bersantai di alam bebas sangat berguna untuk kesehatan rohani, jasmani dan mempererat hubungan sosial.

Untuk meningkatkan potensi otak agar anak bisa menjadi cerdas, ditentukan pula oleh kapasitas ingatan, jumlah informasi dan kualitas pendidikan anak. Markowitz (2002) dalam bukunya “otak sejuta gigabyte: buku pintar membangun ingatan super” juga membahas tentang proses ingatan, mengelola informasi, dan strategi untuk sukses di sekolah.

Proses berkomunikasi orangtua dan anak di rumah dan proses belajar mengajar (PBM) oleh guru dan murid di sekolah seharusnya bersifat interaktif atau hubungan timbal balik- komunikasi dua arah. Pola pembelajaran yang interaktif adalah juga cara yang tepat untuk meningkatkan system ingatan. Orang tua dan guru seharusnya juga sering berbagi cerita atau kisah nyata, karena kisah nyata juga bisa membantu anak dalam mengelola emosi dan untuk meningkatkan proses ingatan mereka.

Ingatan seseorang memberikan rujukan pada masa lalu dan prediksi untuk masa yang akan datang. Ingatan yang menyentuh emosi, penuh kehangatan atau penuh trauma, umumnya tersimpan untuk waktu yang lama. Semua pengalaman yang dilalui dan dimiliki oleh seseorang akan tersimpan dalam otak dan dengan pengulangan, pengistirahatan serta sentuhan emosi, maka ingatan yang kuat akan terbentuk.

Ingatan anak akan tumbuh karena seringnya pemakaian dan semakin banyaknya anak belajar. Untuk itu anak perlu dikondisikan agar terbiasa belajar dengan teratur dan frekuensi yang tinggi, menjadikan belajar sebagai kebutuhan hidup anak. Ada beberapa strategi untuk mengingat informasi yang penting yaitu seperti menumbuhkan skap ingin tahu, pengamatan yang cermat seperti banyak mengamati, banyak mendengar, dan banyak memikirkan. Maka dengan melakukan cara-cara yang demikian ingatan anak/ kita bisa makin kuat.
Guru dan siswa, demikian pula orang tua dan anak, perlu tahu bahwa pertumbuhan kecerdasan otak akan lebih optimal bila tahu cara mengelolanya. Pengelolaan atau manajemen intelektual yang perlu untuk dilakukan adalah seperti:

1). Jangan suka menunda waktu, lakukan sekarang juga. Seperti ungkapan yang mengatakan bahwa “don’t wait till tomorrow, do what you can do”, jangan tunggu sampai besok, kerjakan apa yang dapat dikerjakan hari ini.
2). Bersikap rileks, hindari stress, dan lakukan cukup istirahat tapi jangan terlalu banyak istirahat atau kurang istirahat.
3). Kita perlu mengembangan keterampilan mengamati atau observational skill.
4). Biasakan melakukan kegiatan menulis dan mencatat.
5). Banyak minum air putih, mengkonsmsi buah segar dan sayur dan melakukan olah raga. Kegiatan ini demi untuk mensuplai oksigen (O2) dan kelancaran sirkulasi darah dalam tubuh.
6). Kita juga harus sering mencari perubahan suasana, seperti pergi ke tempat baru, menambah teman baru, mencari hobi positif yang baru, membaca hal-hal yang baru, dan lain-lain.

Potensi otak juga bisa meningkat melalui cara kita belajar. Kita dan anak harus mengenal cara-cara belajar yang tepat. Beberapa strategi agar sukses dalam belajar adalah sebagai berikut:
1) Belajar secara rileks
2) Cukup tidur
3) Banyak minum air, agar darah dan otak kaya dengan oksigen.
4) Cukup olah raga, agar darah lancer beredar.
5) Menjaga kosentrasi dan meningkatkan pengamatan
6) Belajar dan selang selingi dengan istirahat, ibarat berlari sejauh 15 km tentu musti ada lari, istirahat dan lari. Istirahat diperlukan untuk mengembalikan stamina tubuh.
7) Gunakan catatan dan tempelan-tempelan pada dinding
8) Belajarlah di ruangan yang nyaman dan segar.

Sekali lagi bahwa dalam mengoptimalkan potensi otak demi untuk pendidikan, maka pemilik otak itu harus memperhatikan pertumbuhan dan pengembangan otak mereka. Namun yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan dan perkembangan otak mereka dalah orang tua, guru, pengasuh, masyarakat dan pemerintah. Yang diperlukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan otak mereka adalah, memperkaya pengalaman hidup mereka (anak), memberi pendidikan dan pengalaman hidup, memberi makanan dan minumab yang bergizi, cukup gerak badan dan istirahat. Dan hal lain yang juga penting adalah memberi model dan sentuhan kasih sayang. Kemudian yang perlu dihindari karena bisa membelenggu pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak/ siswa adalah kebiasaan yang asal serba melarang, terlalu suka campur tangan dan serba membatu. Akhirul kalam bahwa untuk mendapatkan generasi yang cerdas dan punya akhlak memang ditentukan oleh sentuhan dan peran orangtua, guru, masyarakat dan pemerintah.

Note: 1) Markowitz, Karen.(2002). Otak Sejuta Gigabyte: Buku Pintar Membangun Ingatan Super. Bandung:Kaifa,2) Pasiak, Taufik. (2004). Membangun Raksasa Tidur, Optimalkan Kemampuan Otak Anda Dengan Metode ALISS. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture