Minggu, 15 November 2009

Mengukur Peringkat Pendidikan Berdasarkan Skor UN Sudah Kadaluwarsa

Mengukur Peringkat Pendidikan Berdasarkan Skor UN Sudah Kadaluwarsa
Oleh. Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar
            Saat kakek -  nenek kita, yang berusia 60 atau 70 tahun (di tahun 2009), masih berusia muda, kemungkinan mereka tidak mengenal istilah  “pengangguran”. Demikian juga dengan generasi yang lahir sebelum mereka. Saat itu orang cuma lazim belajar di SR (Sekolah Rakyat) atau Sekolah Dasar, sekedar bisa berhitung, membaca dan menulis.
Tamat dari SR, tidak banyak yang melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP, karena faktor sekolah yang amat jarang dan jarak yang jauh dari rumah.Mereka tidak patah semangat dan mereka berintegrasi dengan alam sebagai sekolah mereka. yang gurunya mungkin orang tua (ayah dan ibu), kakek, nenek, paman, bibi, tetangga atau kenalan yang memotivasi mereka untuk belajar tentang arti kehidupan. Mereka terlibat langsung dalam bertani, berternak, pergi jadi nelayan, berdagang, jadi montir, sampai kepada menjadi buruh kecil, atau ikut merantau untuk jadi pedagang. Sehingga tersebutlah saat itu bahwa orang Minang sangat piawai dalam berdagang.
Saat itu memang tidak ada orang yang menganggur, mengenal istilah kata-kata “jobless, unemployment, job seeker dan job creator”. Karena saat itu lapangan pekerjaan banyak  dalam bentuk pekerjaan non formal. Tidak memerlukan ijazah atau surat lamaran yang rumit. Saat itu yang ada cuma orang yang pemalas, namun mereka bisa dibina dan dimotivasi untuk berpartisipasi- beraktifitas- dalam pekerjaan informal: bertani, beternak, bertukang, montir atau berwirasusaha kecil kecilan.
Zaman selalu berganti dan kemajuan selalu bertambah. Variasi ilmu pengetahuan dan pendidikan juga bertambah. Maka dibutuhkan banyak sekolah. Di sana-sini  dibangun sekolah. Orang makin ramai memerlukan pendidikan formal, dari SD, SLTP dan SLTA. Orang tua juga makin peduli dengan pendidikan. Mereka berlomba memotivasi anak agar berhasil. Namun sebahagian ada yang salah sikap dan mengekspresikan harapanya, “Nak, fokuskan saja  fikiranmu  pada pelajaran, jangan fikirkan yang lain, kami tidak perlu dibantu asal kamu rajin belajar”. Demikianlah banyak orang tua yang sekedar peduli dengan kata “pendidikan” namun tidak memahami hakekatnya, karena telah membebaskan anak untuk tidak terlibat dalam beraktifitas di rumah. Ini adalah bentuk pemanjaan yang tdak mendidik. Dimana pada akhirnya lahirlah anak-anak yang manja yang cuma sekedar tahu pergi ke sekolah, tetapi tidak tahu cara membantu diri apalagi untuk membantu orang tua serta membantu lain.
Saat pendidikan mayoritas orang hanya sekedar tamat SLTA (SPG, SMEA, STM, dan lain-lain), yang saat itu mereka anggap sebagai pendidikan tertinggi. Merekapun cuma lulus dengan nilai “sekedar lepas makan” saja, memiliki kompetensi atau kecakapan hidup yang rendah maka mereka terdaftar sebagai perintis kelompok pengangguran. Mula-mula mereka disebut sebagai pengangguran PTT (Pengangguran Tingkat Tinggi). Mereka adalah para pemuda yang malas untuk menyinsingkan lengan baju dan lebih suka suka kongkow-kongkow, luntang lantung, dan duduk-duduk sepanjang hari dengan bibir dihiasi kepulan asap rokok.
Lagi zaman terus bergulir. Animo dan kesadaran masyarakat untuk belajar setinggi mungkin semakin meningkat. Mereka melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, negeri maupun swasta. Orang tua tetap merespon aspirasi anak-anak nya dengan kerja keras. Kapan perlu mereka harus menjual harta, emas perak, yang melingkar di leher sang bunda, atau menjual sawah dan ladang asal anak bisa kuliah di universitas.
Tiap semester perguruan tinggi meluluskan ribuan atau puluhan ribu  sarjana baru di negeri ini. Sebagian bisa memperoleh pekerja karena beruntung dalam taruhan (test) pada perusahaan swasta, BUMN dan CPNS. Yang tidak beruntung dalam mencari kerja kantoran ya terpaksa menjadi sarjana yang kebingungan. Mereka kemudian ikhlas untuk diberi gelar “pengangguran intelektual”.
Pengangguran intelektual menggantikan istilah “pengangguran tingkat tinggi”.  Pengangguran intelektual adalah gelar yang menyedihkan yang disandang oleh sarjana yang baru tamat dari Perguruan Tinggi dan berstatus sebagai “job seeker”(pencaker- pencari kerja), bukan sebagai “job maker atau job maker”- pencipta atau pembuat lapangan kerja.
Istilah “pengangguran intelektual” sangat menyesatkan. Apakah mungkin seorang intelektual kok bisa menjadi penganguran ? Jangan-jangan yang menganggur itu adalah para sarjana yang justru intelektualnya rendah, dan bahkan tidak memiliki intelektual sama sekali. ‘Memang Pak sekarang banyak sarjana yang lulus dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) di atas 3.00 dan malah ada yang memperoleh predikat cumlaude”. Ini menunjukan bahwa banyak sarjana yang cuma cerdas di atas kertas, cerdas otaknya, namun menjadi penganggur gara-gara mereka tidak memiliki kreatifitas, kemampuan untuk berinovasi dan juga tidak memiliki jaringan komunikasi dalam sebuah komunitas yang sesuai dengan bidang keahlian yang dipelajari di perguruan tinggi, yang pada akhirnya memperoleh cuma selembar kertas yang bernama “ijazah”.  
Mengapa pengangguran intelektual bisa terjadi ? Penyebabnya tentu saja banyak. Salah satu penyebabnya  adalah karena pendidikan yang kita terapkan pada sang anak belum menyentuh atau salah sasaran. Karena seorang siswa didik oleh orang tua dan guru,  maka pengangguran intelektual disebabkan oleh faktor salah pendidikan (mal edukasi)  yang salah sasaran di rumah dan di sekolah.
Mal-edukasi di rumah
Secara instink bahwa semua anak yang berbadan sehat sejak dilahirkan sampai berusia balita (berusia lima tahun) terlihat lincah dan lucu. Namun semakin meningkat usia mereka, semakin besar pula perbedaan kualitas mereka. Orang tua yang kurang merangsang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan anak akan menciptakan anak-anak yang pasif- anak yang pemalas.
Ada beberapa karakter orang tua yang berpotensi yang menghambat kecerdasan anak, yaitu seperti orang tua yang tidak peduli dalam  menyediakan fasilitas beraktifitas anak- belajar dan bermain. Alasanya bisa jadi mereka tidak punya uang untuk membeli fasilitas pendidikan. Mereka berfikir bahwa tidak ada gunanya karena dapat membuat rumah sembrawut- alhasil buang buang duit saja. Tetapi patut diingat bahwa fasilitas berkreatifitas tidak harus berharga mahal- bisa jadi majalah loakan, komik dan buku cerita loakan. Kemudian orang tua bisa menyediakan cangkul kecil, sapu kecil, bangku kecil dan pisau tumpul agar anak tidak bengong sepanjang hari di rumah.
Juga banyak orang tua yang tidak merespon ayat pertama Al-Quran (96:16) yang berbunyi :ikraq bismirabbilazi khalaq- Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”. Seharunya orang tua merespon ayat ini dengan menyediakan sarana belajar dan perpustakaan bagi anak/ anggota keluarga agar terbisaa membaca dan belajar. Namun dalam kenyataan orang tua lebih peduli untuk memelihara keramik dan cendra mata (souvenir) dari berbagai propinsi atau dari negara lain. Sampai-sampai harus menyediakan lemari khusus, dipajang di ruang tamu agar memperoleh persepsi “wah inilah gambaran dari keluarga maju dan modern itu”. Atau orang tua sangat peduli untuk sarana hiburan. Begitu peduli untuk membuat home theatre di rumah: , ada TV set besar, VCD player, sound system, LCD yang diputar siang malam sehingga rumah jadi hingar bingar, susah untuk mendengar lawan bicara apalagi untuk berkosentrasi bagi anak-anak dalam belajar dan bekarya. Pada akhirnya orang tua berhasil menciptakan anak yang bermimpi menjadi artis sinetron , presenter, selebriti dan paling kurang menjadi pengamen dalam bis kota.
Hilangnya budaya yang melibatkan anak ikut bekerja dalam merapikan rumah- meringankan  beban pekerjaan orang tua-  juga berpotensi menciptakan anak yang kelak menjadi sarjana yang kebengongan. Fenomena bahwa orang tua dengan keluarga kecil, keluarga berencana, telah membuat anak cenderung tidak punya lahan pekerjaan di rumah gara-gara tidak dilibatkan dalam beraktifitas. Semua pekerjaan dari A sampai Z telah diborong oleh sang ibu dan ayah, “Wah kasihan mereka kan masih kecil-kecil”. Rasa kasihan yang memanjakan membuat anak memiliki pribadi yang lemah. Coba lihat sekarang, apakah masih banyak anak yang bisa untuk memasak, mencuci, menyapu, mencangkul, memasukan air ke dalam irigasi, menghalau itik pulang ke kandang, membuka dan menutup warung, sampai bagi anak petani untuk masuk ke dalam sawah atau bagi anak nelayan- ikut berlayar di lautan, agar kelak mereka bisa menjaga laut dan ikan-ikan tidak dicuri oleh bangsa lain.
Pengangguran intelektual juga karena akibat anak miskin dengan pemodelan dari orang tua. Suatu hari seorang bapak menolak untuk memilik pembantu rumah tangga, karena berpotensi menciptakan anak-anak yang pemalas di rumah.saya keberatan untuk punya pembantu walaupun kita sibuk bekerja di luar rumah. Lebih baik semua pekerjaan rumah diberesin oleh ayah, ibu dan melibatkan semua anggota keluarga  untuk memasak, mencuci, merapikan pekarangan, mengurus usaha sampingan keluarga dan lain-lain. Lebih baik  anak ikut terlibat dan juga melihat orang tua mereka juga beraktifitas. Anak-anak yang terbiasa melihat orang tua mereka santai, ogah ogahan, karena semua pekerjaan rumah telah diborong oleh pembantu,  cenderung memiliki jiwa yang pemalas dan kurang semangat juangnya”.
Mal-edukasi dari Sekolah
Faktor dari sekolah bisa jadi akibat dari gaya PBM (Proses Belajar Mengajar) yang terjadi sejak dari bangku SD, SMP dan SLTA belum tepat sasaran. Sekarang dengan kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) seharusnya membuka ruang dan kebebasan untuk terciptanya kreatifitas, membutuhkan kemampuan memecahkan persoalan hidup dan mengatasi masalah dengan cerdas. Namun sekolah sekolah sekarang menyelenggarakan PBM lebih berorientasi kepada UN (Ujian Nasional) agar bisa menjaga nama baik sekolah dengan skor UN yang tinggi. Maka kerja guru dan siswa hanya mempreteli Standar Kompetensi Kelulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) yang sifatnya sentralis.
Terlihat kebijakan pendidikan sekarang seperti yang diamanatkan oleh pemerintah adalah untuk membuat siswa sekadar terampil menjawab soal pilihan ganda. Ini dilakukan sebagai usaha meraih mutu pendidikan tinggi bagi pendidikan, berubah menjadi obsesi kompulsif akan standar. Maka guru sekarang mengajar hanya sekadar membuat siswa bisa lulus UN. Bagi mahasiswa, belajar atau kuliah hanya sekedar mencari IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang tinggi, walau diperoleh lewat cara-cara kurang halal, seperti mencontek. Jika selama menjadi siswa dan mahasiswa, seseorang tidak pernah mengalami apa artinya menjadi kreatif, mengalami pengalaman hidup, mempunyai motivasi dan minat belajar yang tinggi maka jangan pernah berharap bahwa kita bisa melihat para pemuda (sarjana) memiliki semangat berusaha dan kemandirian dalam hidup- berwirausaha.
Bapak rektor, Bapak dekan dan para dosen cobalah turun  ke lapangan, dan temuilah apa saja aktivitas para mahasiswa di tempat kost mereka “ sungguh tidak kreatif”. Sebahagian mereka cuma tidur, bergitar, main domino, main HP, main game, begadang malam dan tidur siang sampai kepada yang gemar menonton clip porno. Nanti bila mereka menjadi sarjana pengangguran, itu  gara-gara  IPK tinggi yang diperoleh sekedar menghafal atau lewat contekan dan skripsi  yang kadang kala lulus lewat transaksi,  maka yang dapat getah adalah Perguruan Tinggi yang bersangkutan sebagai pabrik pencetak “intelektual pengangguran”.
Sekali lagi bahwa kebijakan UN yang berlaku sejak dari tingkat SD sampai SLTA dewasa ini, hanya menyiapkan siswa yang hanya mampu menjawab soal- soal ujian perlu untuk ditinjau ulang. Bukankah sangat tepat kalau para siswa belajar dengan learning by doing, learning by exploring, learning by experimenting dan beberapa metode dan strategi belajar yang member  pencerahan. 
Agaknya mengukur tingkat kualitas  pendidikan antar Propinsi, Kabupaten dan antar  sekolah melalui skor UN sudah sangat kadaluarsa. Sebab belajar hanya demi skor UN cendrung bersifat instant, “sekarang skor tinggi bulan depan belum tentu menjadi siswa yang cerdas lagi”. Mengapa tidak mengukur tingkat mutu pendidikan di negeri yang tercinta ini berdasarkan konsumsi bacaan siswa persekolah atau per Kabupaten, begitu juga dengan prestasi sekolah/ siswa yang   berskala besar, misal “Propinsi X,  atau kabuten Y, memiliki kualitas pendidikan peringkat satu karena rata rata siswa mengkonsumsi buku sastra 25 judul persemster dan guru yang menulis di media masa 20 judul per tahun”.
Juga, karena sekarang kita sudah berada dalam zaman ICT (Information Communication Technology) dimana mengakses dan belajar lewat internet sudah menjadi kebutuhan maka seharusnya ada usaha assessor yang kreatif untuk mengukur / mengklasifikasikan peringkat kualitas pendidikan berdasarkan penciptaan blogger atau webblog, misal “Sekolah A memperoleh peringkat terbaik di Indonesia karena siswa dan guru memiliki 40 Blogger yang berkualitas, Sekolah B terbaik di Propinsi karena sangat produktif menciptakan alat elektronik per tahun”. Apakah kini skor UN yang sering penuh dilemma masih menjadi acuan untuk mengukur kualitas pendidikan kita ? Wallahu alam bissawab.
 (Marjohan M.Pd, Guru SMAN 3 Batusangkar)

Rabu, 11 November 2009

Apakah Memang Penting Mata Pelajaran Matematika dan Sains itu ?


Apakah Memang Penting Mata Pelajaran Matematika dan Sains itu ?

Oleh. Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangar
Kita bersyukur bahwa banyak orang tua siswa sekarang sangat peduli terhadap pendidikan dan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) anak-anak mereka . Sejak anak kecil hingga berusia remaja, mereka ikut mencikarui- melakukan -interferensi positif- terhadap pendidikan anak. Toko-toko buku sekarang sudah menjadi tempat yang sangat popular untuk dikunjungi demi kepentingan ilmu pengetahuan. Pengunjung yang posisinya sebagai orang tua paling senang mengunjungi bagian pojok buku psikologi, menemukan buku tentang cara mendidik anak dan sampai kepada pojok buku filsafat , nuansa buku agama atau buku pendidikan popular lainnya.
Di rumah banyak orang tua yang juga sudah mendorong pertumbuhan dan perkembangan SDM anak. Mereka mengantarkan anak untuk pendidikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan TK. Pada pendidikan dini ini, anak mulai mengenal adaptasi dengan sosial, serta berlatih untuk menguasai gerak halus dan gerak kasar. Suasana belajar pada pendidikan dini tersebut betul-betul menyenangkan, atau diistilahkan bahwa suasana belajar sudah bernuansa PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) atau PAIKEM (Pembelajaran Aktif, inovatif, Kreatif Efektif dan Menyenangkan).
Guru-guru untuk pendidikan usia dini tersebut selalu memberikan pelayanan prima atau excellent service terhadap manusia-manusia kecil ini. Sebagai responnya, maka manusia kecil (anak didik) tadi menyambut pelayanan prima sang guru dengan suka cita, riang gembira dan penuh rasa cinta. Sekaligus mereka menjadikan ibu guru pada PAUD atau TK sebagai guru idola mereka.
Namun waktu selalu bergulir dan anak didik kecil mungil tadi melangkah masuk ke pendidikan SD. Sebahagian anak didik akan beradaptasi dengan mudah di sekolah yang baru (SD) mana kala berjumpa dan belajar dengan guru kelas yang juga melayani anak dengan prima, yaitu guru-guru yang senang mengekspresikan kata-kata yang penuh dengan muatan emosi “anak-anak ku sekalian, anak anak yang pintar, anak-anak ku tersayang” Guru-guru kelas pada SD pun menjadi “guru idola”.
Namun anak didik bakal kaget, stress dan mengalami nightmare (mimpi buruk) manakala belajar dengan guru-guru yang kikir dengan ekspresi yang hangat, kecuali kalimat penuh mengancam “bila tidak membuat tugas dihukum berdiri kaki itik di depan kelas, ketauan mencotek maka kertasnya ujian di robek….”. Guru-guru yang kurang bisa beradaptasi dengan paedagogi dan perkembang jiwa anak sangat tepat untuk segera mengundurkan diri sebagai pendidik.
Pada mulanya fokus pengajaran pada bangku Sekolah Dasar adalah supaya anak menguasai “tiga R”, yaitu keterampilan reading, writing dan arithmetic (keterampilan membaca, menulis dan berhitung). Keterampilan menulis terasa menyenangkan manakala guru kelas ikut memegang jari-jari halus siswa menulis di atas kertas. Demikian pula dengan pelajaran membaca. Anak merasa mulutnya bisa berubah menurut vokal “a, i, u, e dan o”, dan mengekspresikan ungkapan yang lucu-lucu yang diikuti dengan bentuk alfabetnya.
Pelajaran matematika di kelas satu Sekolah Dasar, sangat berkesan bila dihubungkan dengan pengalaman atau unsur-unsur emosional dan yang berhubungan dengan kebutuhan anak. Orang-orang yang berusia 40-an sekarang ini, kemungkinan masih ingat dengan pelajaran berhitung saat mereka di SD dulu. “Satu manggis ditambah tiga manggis menjadi empat manggis”.Ekspresi ini mungkin masih membekas, namun bagaimana dengan suasana belajar matematika anak sekarang ?
Gara-gara peringkat mutu matematika dan sains siswa Indonesia menempati posisi yang sangat rendah di negara-negara Asean, apa lagi untuk tingkat dunia, maka kurikulumnya pun digenjot dan ditambal sulam. Guru-guru matematika dan sains sejak dari SD sampai ke bangku SLTA diharapkan untuk proaktif.
Ada wujud kepedulian sekolah dan guru-guru untuk meningkatkan kualitas matematika dan sains anak. Guru guru dan tokoh pendidik yang lain berpacu untuk merancang- menyusun buku matematika dan sains, mulai untuk tingkat SD, SMP dan tingkat SMA. Sebagian buku ada yang diuji cobakan di sekolah-sekolah super sebelum dicetak dan sisebar luaskan untuk menjadi konsumsi siswa-siswa di berbagai sekolah di Indonesia yang kualitas otak mereka amat jauh berbeda dengan kualitas otak siswa di sekolah yang bermutu. Kualitas orang tua orang siswa pun juga berbeda dengan sekolah kebanyakan.
Mata pelajaran sains dan matematika cenderung menjadi mata pelajaran yang kurang bersahabat dengan anak didik. Sementara itu guru- guru wajib menyajikan nya sesuai dengan tuntutan kurikulum. Karena rancangan materi buku matematika terlalu sulit maka lambat laun anak anak memandang mata pelajaran ini sebagai monster yang menakutkan dan membosankan. Anak-anak selalu susah payah untuk memahaminya, apalagi guru guru cenderung tegang dalam memperkenalkan mata pelajaran ini. Ya karena di rumah orang tua mereka sendiri juga jarang kedengaran berhitung, maka anak miskin dengan logika dan sang guru sering menjadi naik pitam, “wah soal berhitung demikian mudah juga kamu tidak tahu, dasar blo-on”.
Ada seorang staff pendidik memiliki anak yang belajar di kelas 3 SD, berkata bahwa tiap hari ia menemani anaknya belajar, sudah membudayakan belajar mandiri di rumah, membuat PR dan membaca. Namun hampir setiap hari anaknya rewel dan merengek gara-gara kurang mengerti dengan PR matematika.”Ya ampun pelajaran matematika untuk konsumsi murid kelas 3 SD dirancang tidak begitu menarik- tingkat bahasa cukup tinggi bagi imajinasi anak, kita saja yang sudah lulus S.1 dan S.2 masih harus kosentrasi untuk memahaminya, apalagi murid kelas 3 SD yang masih hijau dan belum cukup pengalaman untuk memahami spasial dan logika, kemudian diberi tugas yang melebihi kekuatan jari-jari kecil mereka”, dan itulah fakta serta kenyataannya. Bila anak terpaksa belajar- belajar dalam kondisi tertekan (stress), tentu akan mendatangkan rasa bosan dan dipaksa, maka terjadilah pembunuhan karakter mereka dalam belajar.
Namun buku buku matematika dan sains tersebut kan sudah disahkan oleh BSNP- Badan Standar Nasional Pendidikan. “Nah itulah masalahnya, pengesahan buku-buku oleh BSNP mungkin berdasarkan verifikasi dari atas nya- top down, dilihat dari kacamata siswa cerdas dan sekolah unggulan melulu. Buku-buku tersebut dianggap layak dan bermutu untuk sekolah berkualitas dan anak anak cerdas yang cuma berdomisili di pulau Jawa dan kota-kota besar. Sementara itu coba lihat, banyak buku-buku yang walau sudah disahkan oleh BSNP tetap tidak teresentuh dan menumpuk di perpustakaan. Seharusnya BSNP juga rajin-rajin untuk mencek buku yang telah mereka rekomendasikan itu sampai kelampangan di berbagai pelosok negeri. Kemudian juga perlu merekomendasi tingkat kesulitan buku berdasarkan verifikasi bottom-up, dari arus bawah- berdasarkan sekolah sekolah kebanyakan tersebar di persada ini”.
Ada orang tua bertanya tentang seberapa jauh pentingnya mata pelajaran matematika dan sains tersebut. “Matematika dan sains itu sangat penting, syarat untuk lulus UN, kalau anak cerdas untuk bidang studi ini, ia bisa kuliah di Pulau Jawa, Universitas bergengsi, anak bisa jadi dokter, jadi insinyur. Bila anak masuk jurusan IPA, peluang untuk kuliah lebih bagus dari jurusan IPS dan Bahasa”. Berarti secara tidak langsung jurusan IPA lebih hebat dari dua jurusan lain, maka siswa yang masuk jurusan IPA akan merasa superior dan yang masuk jurusan Bahasa dan IPS menjadi inferior atau rendah diri.
Menyadari begitu sulit dan pentingnya mata pelajaran matematika dan sains, maka solusinya adalah para siswa mulai dari SD, SMP dan SLTA direkomendasikan untuk mengikuti belajar siang, atau belajar tambahan di les-les privat. Malah pebisnis franchise pendidikan merespon dengan riang gembira, segera membuka kelas-kelas bimbingan belajar dan meraup laba sampai ratusan juta rupiah atas derita kesulitan belajar anak. Namun tentu saja bisa dijangkau oleh siswa yang orang tuanya berduit, sementara bagi siswa miskin harus gigit jari atau cari bimbingan belajar yang murah meriah.
Kini banyak sekolah menyadari atas problem belajar anak untuk mata pelajaran matematika dan sains, yang nota benenya adalah juga mata pelajaran yang diujikan dalam UN (Ujian Nasional). Maka usai PBM yang normal, maka kembali siswa disekap- atau direkomendasikan untuk sekolah tambahan. Apakah proses PBM belajar tambahan untuk mata pelajaran yang dipandang sangat primadona ini effisien dan efektif ? Yang jelas siswa terlihak lesu, bosan, merasa terpaksa, sehingga mengikuti PBM hanya secara main-main saja. Akibat PBM nya sendiri tidak menarik, suasana hati untuk belajar juga tidak pas “Sang guru saja juga merasa terpaksa untuk mengajar sore”. Maka jadilah guru yang merasa bosan mengajar siswa yang juga merasa bosan. Anak didik merasa tersekap lagi sepanjang hari di sekolah, akibatnya badan dan jiwa menjadi letih. Setelah pulang sekolah tentu juga tidak bisa mengulang pelajaran, apalagi untuk berbakti pada orang tua dan untuk masyarakat sekitar.
Kalau sekarang banyak siswa kurang bisa bertegur sapa dengan orang tua atau guru dengan santun, ya itu gara-gara mereka tidak punya waktu bersosial, karena disekap oleh PBM- belajar tambahan, “Anak sekarang sombong-sombong tidak ramah dan tidak bisa menyapa orang tua !” .Kalau pemuda kita juga tidak jago lagi dalam olah raga, malas turun kesawah atau tidak kenal dengan laut (bagi anak nelayan, sehingga ikan ikan kita pun dicuri oleh negara lain) adalah juga gara-gara anak tidak punya waktu untuk ke laut atau ke pedalaman, juga karena disekap terlalu lama disekolah atas nama meningkatkan PBM yang sebenanrnya tidak begitu signufikan dampaknya. Kemudian kalau siswa menjadi acuh tidak acuh dengan kehidupan sosial di seputar rumah dan miskin dengan life skill serta sirnanya karakter ramah tamah adalah juga karena gara-gara anak dipaksa lagi oleh mata pelajaran matematika dan sains untuk sekolah tambahan, termasuk bagi mereka yang tidak berminat dengan mata pelajaran tersebut.
Fenomena dalam kehidupan di sekolah, terutama untuk tingkat SMA dan MA, bahwa mayoritas siswa dan orang tua mengidolakan mata pelajaran sains termasuk matematika.”Masuklah ke jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) atau sains niscaya masa depan mu cerah !”. Demikian sugesti secara implisit dan eksplisit di sekolah dan di rumah. Tanpa analisa yang mendalam berdasarkan bakat dan minat maka anak didik setuju saja. Maka diserbu dan diidolakanlah “jurusan IPA tersebut”. Guru-gurunya pun keciprat beruntung, karena dihormati melebihi guru bidang studi lain, sementara jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), apalagi jurusan Bahasa dan mungkin juga guru gurunya , dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai jurusan kelas dua. Dalam pemilihan jurusan di SMA, bila anak ternyata masuk ke IPS dan Bahasa akan dipandang kurang cerdas. Orang tua yang IPA maniak akan marah-marah, “Kok kamu masuk jurusan IPS, bodoh kamu, percuma saja kamu ikut les dulu dan buang-buang uang saja”. Malah ada anak yang rela tinggal kelas asal tahun berikutnya bisa masuk jurusan IPA, apakah jurusan IPA itu adalah segala-galanya ?
Kini banyak anak-anak cerdas belajar pada jurusan IPA. Tetapi tunggu dulu, apakah mereka betul-betul cerdas ? Belum tentu, mereka kan cuma sekedar terlatih menjawab soal-soal Ujian Nasional (UN), dan soal ujian SNMPTN (Sistem Nasional Masuk Perguruan Tinggi), namun begitu dibawa ke laboratorium mereka tidak mengerti dengan cara praktikum, di rumah kalau listrik mati karena korslet, mereka bingung untuk membuatnya nyala. Malah mereka pun sudah menjadi orang yang anti kritik karena merasa sudah jagoan di kelas. Inilah akibat PBM Cuma sekedar memburu skor out-put dan memasung proses pembelajaran dan proses bersosial anak di rumah (akibat banyak ditahan disekolah).
Ada orang mengatakan bahwa pintarnya anak Indonesia cuma sebatas menjawab soal-soal UN semata, tapi tidak pintar memegang tangkai cangkul buat membersikan halaman rumah, tidak tahu cara membantu diri sendiri, keluarga apa lagi buat membantu orang lain- gara gara hanya berorientasi belajar tanpa diimbangi dengan rasa peduli pada sosial. Sekali lagi, pintarnya anak Indonesia hanya sekedar mencari selembar ijazah dan habis itu bengong dan nongkrong dalam tangga pengangguran.
Apakah memang penting mata pelajaran matematika dan sains itu ? Mata pelajaran ini memang sangat penting, namun gara-gara mengidolakan mata pelajaran ini, dan anak didik terlalu disekap berlama-lama di sekolah sehingga kesempatan mereka untuk mengembangkan diri di sore hari jadi hilang. Terus terang siswa sekarang perlu kehidupan seperti siswa generasi dulu, punya waktu untuk main voli, membuat acara ulang tahun, pergi mengaji, ikut kegiatan keluarga dalam rangka memahami adat istiadat, tahu cara mengelola usaha bisnis keluarga, tahu cara menggoreng telur dadar dan punya waktu untuk beramah tamah dengan tetangga. Bila mata pelajaran matematik dan sains terasa sangat membosankan, maka PBM dengan sistem PAKEM atau PAIKEM sangat perlu untuk dimiliki oleh guru bidang studi tersebut- tentu orang tua (terutama untuk tingkat SD karena pelajaran ini belum begitu sulit) juga perlu menjadi guru sains dan matematika di rumah. Mengajar bidang studi ini dengan memberi PR segudang sangat percuma, karena siswa pasti saling mencontek dan saling menyalin tugas teman, tanpa mengerti kecuali sekedar menyenangkan hati sang guru untuk menganggap mereka sebagai siswa yang rajin.
Akhir kata bahwa Pokok permasalahan anak didik dalam belajar sains dan matematika di sekolah adalah karena mereka memiliki minat belajar dan motivasi belajar yang cukup rendah. Maka kurang tepat solusinya dengan memaksa mereka belajar tambahan setiap hari sampai sang surya tenggelam lagi di ufuk barat dan mereka pulang ke rumah dengan penuh lesu dan bosan, serta miskin dengan life skill dan kurang peka dengan kehidupan social. Belajar tambahan begitu lama setiap hari mungkin bisa menyebabkan mereka kehilangan masa-masa indah untuk mempelajari keterampilan hidup dan keterampilan sosial yang mungkin juga jauh lebih penting untuk dimiliki dari pada sekedar belajar tidak sepenuh hati di sekolah sore/ sekolah tambahan. Mana tahu andaikata hidup mereka susah dan nilai akademis belum bisa memberi janji untuk pekerjaan yang mereka mimpikan maka life skill mungkin bisa sebagai alternative dalam hidup, dengan membuka restoran, bengkel, bisnis out door activity, dan lain-lain, tentu saja selagi dalam keridhaan Sang Khalik.


Minggu, 08 November 2009

Selasa, 03 November 2009

Pentingnya Berjiwa Besar Bagi Guru


Pentingnya Berjiwa Besar Bagi Guru
Oleh: Marjohan M.Pd

Guru SMA Negeri 3 Batusangkar
 

Profesi guru dapat dikatakan sebagai profesi pelayanan di bidang jasa, sama halnya dengan orang yang bekerja di bidang kesehatan, atau di bidang jasa lainnya. Orang orang yang bekerja dalam bidang jasa bekerja sesuai dengan moto yang dianut oleh instansi mereka, sebagai contoh “Kami melayani anda dengan senyum, kami melayani anda dengan sepenuh hati, Kepuasan pelanggan adalah komitmen kami, dan lain-lain”. Namu sebagian guru ada yang  telah melupakan motto mereka-tut wuri hadayani, sebagai konsekwensinya mereka cenderung mengajar sesuka hati, atau sesuai dengan kata hati saja. Barangkali karena mereka cuma banyak berhubungan dengan manusia kecil- anak didik, yang mungkin tak perlu pelayanan.
Orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan mungkin juga berfikir demikian pula. “Wah kan cuma melayani orang sakit, pasien yang baik, tentu pasien yang patuh dan tidak banyak ngomong dan mematuhi suruhan dan larangan rumah sakit”. Namun entah mengapa  secara pelan-pelan pasien menyerbu rumah sakit di Melaka, di Negara jiran. Apa alasannya “kami puas dengan pelayanan yang mereka berikan”.
Baru-baru ini ada teman baru pulang dari mengikuti program magang guru di Australia (Program magang guru MIPA-guru SBI- Propinsi Sumatra Barat) mengatakan bahwa kualitas otak guru-guru kita tidak kalah dari kualitas guru-guru di Austraia. Keunggulan atau kelebihan guru di sana adalah pelayannan mereka pada anak didik, atau prefesionalitas dalam pelayanan selama pembelajaran. .
Bila anak didik bertanya pada guru dalam suatu kelas, “Miss Nancy, I don’t understand about this subject”. Maka guru dengan serta merta segera bangkit, tersenyum dan buru buru mendatangi bangku siswa sambil berucap “ What Can I do for you”, kalau siswa mampu menyelesaikan sebuah problem, langsung member appresiasi “Oh great, how could you do that”, dan kalau siswa salah/ belum benar dalam mengerjakan soal, masih berucap hal-hal positif “ That’s oke, I am sure you can do it”.
Hal yang kontra, tanpa merendahkan kualitas guru kita sendiri, kalau ada seorang siswa yang bertanya dalam PMB maka dengan bergaya seorang Boss siswa akan dipanggi ke depan/ ke meja guru  “Yang tidak mengerti mari maju ke depan”. Atau komentar lain, “Ini saja kamu tidak mengerti”. Kemudian kalau siswa melakukan kesalahan dalam menjawab soal maka kita/ guru akan berkomentar, “Wah kalau begini cara kamu  lebih baik kamu turun kelas atau ikut les privat saja !”. Alhasil banyak siswa cenderung memilih bungkem dari pada di marahi atau ditertawakan guru.
Apakah ekspresi di atas terlalu mengada-ada atau tidak, namun fenomena tersebut dapat kita jumpai dengan mudah pada berbagai sekolah. Kalau begitu kenyataannya apa yang kurang bagi kita sebagai guru ? Tentu saja kita kurang berjiwa besar, kurang menyadari bahwa kita digaji atau dibayar oleh negara untuk mendidik, apalagi bagi guru yang sudah menerima imbalan sertifikasi maka sudah sewajarnya kita menunjukan pelayanan prima- excellent service- dalam PBM, dan segera menjadi guru yang memiliki jiwa besar dan berfikir positif.
Berjiwa besar dan berfikiran positif ? David J Schwartz (1996) menulis buku dengan judul “The Magic of thinking big”, yaitu tentang berfikir dan berjiwa besar. Idenya sangat bagus kita adopsi, sebagai guru, agar kita bisa meningkatakan pengabdian dan pelayanan pada anak didik. s
Kata “berfikir positif” sering diikuti oleh kata ‘berjiwa besar”. Dalam hidup banyak orang yang berbicara tentang kata atau frase tersebut. Ini menandakan kesadaran untuk menjadi manusia yang baik sudah menjadi dambaan.  Orang yang memiliki pikiran positif dan sekaligus berjiwa besar sangat dihargai dan dianggap memiliki derajat yang tinggi. Menjadi orang yang berfikiran positif dan berjiwa besar dapat digapai dengan ilmu dan mengamalkan agama,
Dalam Al-Quran (58:11) dijelaskan bahwa Allah Swt meninggikan derajat orang yang beriman, yaitu orang yang diberi ilmu. Sekali lagi, bahwa untuk menjadi orang yang berfikiran positif, sangat membutuhakan ilmu pengetahuan, pembiasaan, atau latihan dan kesabaran. Berfikir positif sangat bermanfaat bagi guru sebagai pendidik. Salah satu manfaat yang kita rasakan adalah menjadi guru yang berhasil dalam mendidik.
Keberhasilan dalam hidup, apakah sebagai pebisnis, sebagai guru, wiraswasta, dan lain-lain, tidak bergantung pada besarnya otak yang kita miliki atau kecerdasan kita saat kuliah dulu, tetapi ditentukan oleh cara berfikir positif- berarti kemampuan affektif. Maka berarti bersekolah sudah tidak tepat lagi kalau hanya untuk mencerdaskan otak, namun membiarkan sikap atau kepribadian menjadi kerdil.
Harus diakui bahwa kita dan semua guru adalah produk dari cara berfikir orang di lingkungan kita- cara mereka merespon dan memberi kita stimulus sejak kecil. Coba ingat dan perhatikan cara berfikir orang tua kita, paman kita, tetangga, atau kenalan kita atau kita sendiri: “kalau badan saya cukup sehat cuma kantong saja yang sakit. Tetangga saya kerjanya cuma goyang-goyang kaki, tiba tiba kok jadi kaya mendadak…,kepala sekolah saya kerjanya mengurus proyek melulu….., Saya ingin maju tapi tidak punya waktu…!” Demikian beberapa komentar, yang terwujud dari cara berbicara dan cara berfikir kita dalam percakapan pribadi. Ini pertanda bahwa kebanyakan cara berfikir kita bisa jadi juga kerdil.
Anak-anak kita dan siswa-siswi kita menjadi orang baik atau menjadi orang buruk juga ditentukan dari cara berfikir kita. “Menurut ku, kamu adalah anak yang baik. Kamu disenangi karena sungguh jujur atau saya tidak sudi lagi menajak kamu belajar di sini, …susah saya lagi untuk percaya padamu”. Kata kata yang kita ucapkan segera kita lupakan namun selalu tertancap dalam sanubari anak, adik dan kenalan kita dan sekaligus akan mempengaruhi pribadi mereka.
Eksistensi (keberadaan) diri kita memang ditentukan dari cara kita berfikir. Apakah fikiran kita menetukan diri kita sebagai guru yang berharga atau tidak. Kalau fikiran kita mengungkapkan diri kita adalah guru yang berharga maka mari kita wujudkan ke dalam penampilan , cara berpakaian, cara berjalan, cara tersenyum dan cara berbicara, Maka kemudian beritahu orang tentang apa yang bisa kita perbuat. “Apa yang bisa saya kerjakan buat anda ?” dan kita tidak akan berucap lagi “Maaf saya tidak sanggup”. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan kalau kita sungguh-sungguh ingin menjadi guru berhati lapang (berfikiran positif) tanpa pernah membiarkan jiwa tumbuh kerdil,yaitu:  menjaga kualitas human relation, mempelajari tentang bagaimana menjadi guru berhati lapang atau berjiwa besar.
Never let personality grow small
Never let personality grow small atau jangan biarkan jiwa tumbuh kerdil. Ada hal-hal yang perlu kita hindari karena berpotensi membuat jiwa tumbuh kerdil seperti kebisaaan suka berdalih, memompakan pikiran negatif pada banyak orang, anti kerja keras dan malas. Hal-hal sepele ini bisa bercokol pada diri kita dan kadang kala kita pelihara sepanjang waktu.
Tidak bagus jadi pendidik yang gemar berdalih atau mencari-cari alasan. Namun kenyataannya kita gemar melontarkan ekspresi berdalih. Ketika kita diberi amant untuk tampil kita berdalih, “Wah pak, janganlah dulu, saya belum siap…., wah pekerjaan itu terlalu mudah buat saya, atau apakah Bapak tega melihat saya berlumuran Lumpur…!
Selanjutnya cegahlah pertumbuhan jiwa yang kerdil dengan memilki karakter suka belajar/ bekerja keras dan tekun dalam kehidupan  ini. Untuk menjadi sukses, misal menjadi guru inti, menjadi kepala sekolah, menjadi wydiaswara, menjadi penulis sukses- atau sukses pada bidang lain, maka diperlukan ketekunan dan kerja keras. Ki Hajar Dewantoro, telah member model buat kita. Ia  sangat tekun dan suka kerja keras sehingga motonya “ing madya mangun karso, ing ngarso sing tulodo, tut wuri handayani’ dikenang sepajang zaman. Sayang banyak guru kurang paham dengan moto ini lagi.
Human relation
Cara kita berfikir, apakah cendrung berfikir negatif atau malah berfikiran positif, terlihat dalam human relation- hubungan kita dengan manusia lain seperti dengan teman, tetangga, family. Agar guru tidak terjebak dalam gaya berfikir kerdil maka tidak pantas kalau setiap kali berjumpa dengan seseorang, kita terjebak cuma berbicara tentang kesehatan kita sendiri. “saya kurang sehat kemaren tidak bisa mengajar , sudah tiga bulan diserang asam urat… sudah pergi ke puskesmas”. Kemungkinan percakapan tentang kesehatan sendiri akan membuat orang lain bosan, sebab dapat membuat kita menjadi rewel dan terkesan  egosentris.
Masih seputar human relation bahwa kualitas diri kita ada pengaruhnya dari hubungan kita dengan orang lain. Kalau teman kita (walau sebagai guru) rata-rata misalnya pencandu “penyabung ayam atau suka taruhan atas pertandingan sepak bola” pasti kita juga dinilai sebagai guru dengan pribadi negatif- guru yang gemar berjudi. Memang orang dinilai berdasarkan siapa teman-teman  mereka. The bird with the same colour fly together- burung yang sama bulunya terbang bersama.
Hubungan seseorang menentukan keberhasilan mereka. Guru bergantung pada keberadaan siswa, Penjual bergantung pada pembeli, pedagang bergantung pada pembelinya, dan lain-lain. Profesi yang berhubungan dengan pelayanan lebih baik berfokus pada pemberian layanan yang prima- excellent service. Bila ini dilakukan maka pamor (nama baik), termasuk uang, akan datang dengan sendirinya.
Sebagai guru maka sangat bermanfaat bila kita memiliki hati yang hangat. Bagaimana suasanya bila seseorang yang berhati hangat datang menghampiri kita dan mengatakan “hallo”, “assalamualaikum” atau ungkapan greeting lainnya dengan mudah. Ini berarti bahwa ia sedang mengembangkan dan meningkatkan kualitas persahabatan dengan kita. Cara lain yang bisa menghangatkan persahabatan adalah dengan memberi perlakuan VIP (very important person) atau orang kelas satu pada orang lain, termasuk pada anak didik sehingga ini membuat mereka akan menyenangi bidang studi yang kita ajarkan.
Namun jika anak didik melakukan kesalahan, mengapa kita musti dengan enteng- menggunakan kekuasaan, membentak dan marah-marah pada mereka “Kamu keterlaluan pada saya…. tidak bisa menghormati saya sebagai guru”. Bukankah lebih santun kalau guru member nasehat  dengan empat mata. Sebaliknya bila mereka memperlihatkan kerja keras dan hasil belajar yang bagus maka jangan lupa untuk memuji pekerjaan nya. Dalam berkomunikasi guru harus menghindari sikap sarkasme (sikap kasar), sikap sinis dan sikap merendahkan orang lain.
Fikiran positif berasal dari kualitas fikiran
Otak adalah pabrik fikiran yang sibuk menghasilkan produk fikiran setiap waktu. lingkungan dan orang-orang sekeliling kita adalah ibarat laboratorium humaniora bagi diri kita. Kita sendiri adalah ahlinya untuk mengamati labor tadi. Kita dapat mengamati mengapa ada orang yang bisa punya banyak teman atau punya sedikit teman. Mengapa ada orang bisa berhasil atau gagal, atau biasa-biasa saja.  Maka pilihlah dua orang yang berhasil dan dua orang yang gagal, cobalah mengobservasi dan menganalisanya. Maka akan kita temui dua contoh orang yang berfikiran postif dan berfikiran negatif. Mengembangkan pribadi yang pro berfikir positif tentu perlu strategi. Untuk itu ada strategi yang perlu kita lakukan dan hal-hal yang perlu kita hindari.
Ada guru yang memandang profesi guru rendah, “Wah apalah artinya kami cuma guru SD…!” Seharusnya sekalipun kita guru TK, SD, SMP atau SLTA harus tetap memandang diri dan profesi sebagai hal yang berharga- maka kita adalah manusia penting. Jika kita berbicara dengan orang lain, kita rasakan bahwa itu adalah percakapan dua orang penting. Guru yang berpribadi minder mungkin berkata “wah aku adalah orang yang tidak berhasil”. Seharusnya kita harus merasa diri kita penting dan begitu pula semua orang. “Renungkanlah bahwa anda, pasangan hidup anda, teman anda, siswa anda ingin pula dianggap penting. Semua orang mengidamkan prestise, ingin dihormati dan diakui”.
Guru yang merasa dirinya tidak penting berarti sedang menuju kehidupan yang biasa-biasa saja, “Wah buat aku arus belajar keras, bidang studi yang aku ajar bukan bidang studi untuk UN (ujian nasinal). Sehausnya kita menanamkan dalam fikiran bahwa kita dan bidang studi/ profesi kita adalah juga penting.
Hal lain  yang perlu kita hindari, kalau di sekolah ada guru yang santai mencemooh guru-guru yang smart dan bersemangat, Seolah olah berkesimpulan bahwa tidak ada gunanya untuk jadi guru yang tekun dan rajin, “Wah sok rajin, dunia ini tidak akan selesai oleh usaha kita sendiri”. Maka abaikan saja komentar guru atau teman yang berfikiran negatif tersebut.
Menjadi guru berhati lapang- berjiwa besar tidak boleh memonopoli percakapan. Namun coba pula menjadi pendengar, dan dapatkan teman untuk banyak belajar. Menjadi guru yang berhasil berarti harus tidak memiliki kebisaaan “suka menunda waktu, banyak nonton TV dan kebisaaan bergossip”. Namun rencanakan kerja tiap hari- pada malam harinya. Biasakan suka memberi appresiasi pada orang-termasuk pada anak didik,dan  memberi komentar serta respon positif. Hindari memperlakukan manusia (anak didik)  sebagai mesin, untuk diperintah dan diotak-atik. Sangat tepat memperlakuka anak didik sebagai manusia- yang juga perlu dihormati, dibantu dann dipuji secara pribadi.
Tindakan lain untuk menjadi guru yang berjiwa besar.
Bagaimana tindakan lain yang perlu kita terapkan untuk menjadi guru yang dianggap bisa berjiwa besar ? Setiap guru harus menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Tidak seorang pun yang memerintahkan kita untuk mengembangkan kualitas pribadi. Apakah kita mau berkembang atau tidak, tertinggal atau bergerak maju. Ini ditentukan oleh ketekunan pribadi kita dan membutuhkan waktu, kerja keras dan pengorbanan yang seius. Guru perlu menajamkan fikiran dengan membaca majalah professional pada bidang studi yang kita geluti, dan membaca buku lain seperti buku filsafat, komunikasi, agama, pedagogi  untuk meningkatkan kualitas profesi dan pribadi kita sendiri.
Untuk itu mari kita putuskanlah untuk membeli satu buku yang mendorong semangat tiap bulan dan berlangganan majalah dan jurnal untuk menajamkan gagasan. Nanti akan kita rasakan betapa indahnya menjadi guru yang berjiwa besar. Semoga.

Catatan: David J Schwartz. (1996). Berfikir dan Berjiwa Besar (The Magic of Thinking Big). TErjemah, Fx Budiyanto. Jakarta: Binarupa Aksara
Marjohan M.Pd, Guru SMAN 3 Batusangkar.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture