Senin, 29 Maret 2010

Bravo….!, Padang Panjang dan Uiversitas Andalas Bisa Bebas Dari Rokok Dan Iklan Rokok

Bravo….!, Padang Panjang dan Uiversitas Andalas Bisa Bebas
Dari Rokok Dan Iklan Rokok
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Dahulu sebelum tahun 1980-an jenis dan merek rokok yang diproduksi di negara kita relative masih sedikit dan kemasannya pun sangat sederhana. Itu mungkin karena layak untuk dikonsumsi oleh para petani. Namun dewasa ini jenis dan merek rokok malah makin bertambah jumlahnya. Kemasan atau bungkusnya pun semakin hebat dan semakin eksklusif saja. Mungkin karena sasarannya adalah para penghisap rokok dari golongan orang orang yang lebih berduit, orang-orang gedongan, orang-orang kantoran sampai kepada yang bekerja di tengah pasar/ buruh. Tidak itu saja, lewat iklan yang penuh kepalsuan, dan tipuan para pebisnis rokok juga merayu orang orang muda yang nota benenya adalah pelajar dan mahasiswa.

Kalau ada event yang diselenggarakan oleh kaum muda yang dalam bentuk konser dan olah raga (seperti sepak bola, volley, bulutangkis, dan lain-lain), maka pebisnis rokok pun memberikan sponsor dengan berbagai kemudahan. Mereka juga membagi-bagi rokok gratis untuk para perokok dan anak anak muda lain sebagai calon perokok. Bila event usai maka dipastikan bahwa jumlah perokok bakal meningkat terus.

Itulah permasalahnya, bahwa masyarakat dan juga para guru dan orang tua yang peduli dengan arti kesehatan hampir-hampir putus masa melihat fenomena rokok dan pencandu rokok yang sudah merasuk ke dalam berbagai lini sosial. Mereka berfikir bahwa bagaimana untuk mengatasi kecanduan mereka atas rokok tersebut. Mereka sangat menyadari bahwa merokok memang sangat memberi mudharat (bahaya) bagi kesehatan manusia.

Pada bungkus rokok sendiripun sudah ditulis warning “merokok berbahaya bagi kesehatan, menyebabkan gangguan jantung, kangker, impotensi dan gangguan janin bagi ibu yang sedang hamil”. Namun peringatan tersebut sering dianggap angin lalu saja karena bahasa iklan untuk mengajak merokok malah lebih dahsyat dan mendatangkan rasa percaya diri pagi penghisap rokok itu sendiri, coba simak bahasa ini, “Buktikan kejantanan dan keperkasaanmu dengan rokok ini…, selera metropolitan…selera pria sejati, lebih baik putus pacar dari pada putus rokok…”
Bahaya merokok memang sudah terbukti. Tidak percaya, pergilah ke rumah sakit dan ke klinik kesehatan, maka akan kita temui banyak pasien yang sakit parah akibat rokok. Kemudian tanyakan bahwa apakah rokok memang membawa manfaat (?). Tentu mereka akan berka, “Saya sudah kapok dan sudah bertobat untuk kembali menghisap rokok”. Namun aneh, begitu sembuh dari penyakit maka rokok kembali dicari-cari dan dihisap lagi, “Wah dasar tobat sambal lado !” Dorongan untuk merokok mereka kambuh lagi karena pengaruh dan rayuan lingkungan.

Anjuran dokter agar tidak merokok karena memberikan mudarat, selalu ditolak oleh banyak perokok yang merasa cukup sehat. Fatwa para ulama dari menara gading yang bernama seminar, symposium dan muktamar bahwa merokok itu haram pun juga ditanggapi biasa-biasa saja, malah dijadikan sebagai materi untuk acara perdebatan belaka. Apalagi bahwa banyak pula ulama dan orang orang shaleh yang juga ternyata menjadi perokok berat.

Action sounds louder than talking, yang berarti bahwa tindakan kedengaran lebih nyaring pada kata-kata belaka. Ungkapan ini telah dibuktikan oleh stakeholder di kota Padang Panjang dan Universitas Andalas (UNAND). Kedua unsur ini telah menunjukan dan membuktikan bahwa mereka, kota Padang Panjang sebagai kota yang bebas dari rokok dan iklan rokok. Begitu pula dengan kampus UNAND sebagai universitas atau kampus yang bebas dari asap rokok dan juga dari iklan rokok.
Tidak percaya ? Maka marilah kita lewati kota Padang Panjang, maka kita tidak lagi menjumpai lambaian baliho rokok yang berjejer di sepanjang jalan utama. Atau rayuan iklan rokok yang terpajang di dinding toko, warung sampai ke gardu polisi. Malah yang terpajang di kota ini adalah papan peringatan untuk tidak merokok dan diikuti oleh sangsi yang tegas. “Dilarang keras mengiklankan rokok dan menyiarkan rokok kepada public, dilarang keras merokok di lingkungan perkantoran, tempat ibadah, di seputar tempat anak-anak, di rumah sakit”. Yang melanggar tentu akan langsung diberi sangsi dan bukan sekedar diberi gertak sambal saja.

Bagaima kalau di daerah dan di kota lain. Tentu saja rayuan iklan rokok sudah semakin menjadi-jadi. Kemudian bila kita melewati sekelompok orang di sana, maka selalu saja ada terlihat banyak orang-tua dan muda- berlomba mengepulkan asap rokok. Sementara di kota ini yang terlihat cuma satu dua orang, itupun bagi mereka yang buta dengan larangan tentang bahaya merokok. Sekali lagi, lain dengan kota Padang Panjang yang sudah terbebas dari rokok dan iklan rook. Pengambil kebijakan dalam bidang kebersihan di kota ini juga sangat peduli dengan kebersihan bumi. Bahwa sampah-sampah yang berserakan disepanjang jalan raya disebabkan oleh penumpang mobil yang melemparkan sampar lewat jendela mobil, maka mereka memberi warning “Dilarang membuang sampah dari dalam kendaraan…!”.
Gebrakan gebrakn yang jitu, tidak sebatas kata kata dan retorika belaka, telah membuat kota ini menjadi kota yang bersih, sehat, berbudaya dan beragama. Pemerintah dan masyarakat sangat peduli pada kesehatan, agama dan pendidikan. Pantaslah orang orang se sumatera antusias untuk menitipkan anak anak mereka untuk belajar di kota ini.

Selama hidup, sejak universitas tertua ini pindah kampus ke Bukit Limau Manis di pinggiran kota Padang, baru dalam bulan Februari (2010) ini penulis berkeliling-keliling kampus Unand lebih lama. Memang terasa suasana yang lebih berbeda dari kampus ataupun sekolah sekolah lain. Terutama dari kebiasaan merokok. Kalau di kampus lain, kadang-kala mahasiswa dan dosen seolah olah berlomba kehebatan dalam menghisap rokok. Mahasiswanya sendiri sering terlihat lebih pede (percaya diri) menggenggam kotak rokok dari pada memegang buku yang berkualitas untuk dibaca. Juga sering terlihat bahwa para perokok dimanja dengan menyediakan asbak rokok yang mewah, dan melontar kalimat basa-basi ajakan merokok bagi yang diet rokok. “cobalah sigaret ini…..merokok lah sebagai tanda persahabatan kita”..
Banyak kampus yang cuma sekedar menonjolkan event olah raga dan konser musik dari pada ajang temu ilmiah dan temu sains. Saat itu sponsor dari industry rokok juga sibuk mengibari spanduk iklan rokok mereka. Kadang kala banyak siswa yang belum menjadi perokok namun berubah menjadi perokok berat saat berinteraksi dengan para mahasiswa senior yang telah terbiasa dengan budaya rokok. Alasanya adalah “malu, segan atau tidak pede kalau tidak ikut merokok”.

Suasana ini tidak kita temukan di kampus Unand walau luas lahan-nya ratusan hektar. Di beberapa ruas jalan kampus terpajang peringatan “dilarang merokok di areal kampus Unand”. Larangan ini menjadi komitmen dan langsung dibuktikan dengan tindak-tanduk. Mulai dari rektor, dosen, mahasiswa, pegawai dan terus ke penjaga gudang atau pegawai taman memang tidak boleh merokok. Atau lagi-lagi ingin berhadapan dengan penegak disiplin bagi yang mencoba merokok. Semuanya mematuhi dan mengamalkan dan tidak memperdebatkanya. Ternyata bisa bahwa di mana-mana tidak ada yang merokok. Tidak ada asap rokok mengepul walau dari balik pintu. Dalam mobil kampus menuju halte di pinggir kota juga tidak ada mahasiswa dan warga kampus lain yang dengan arrogan menghisap rokok.

Untuk urusan menjauhkan diri dari rokok dan iklan rokok, maka kampus Unand sangat jempolan. Para stakeholder sangat menyadari bahwa merokok memang punya mudarat (bahaya). Merokok itu sendiri bisa menjadi gerbang bagi mahasiswa yang labil untuk melangkah menjadi pengguna narkoba. Menjauhi kampus dari rokok dan iklan rokok adalah sangat efektif untuk memutuskan rantai jaringan narkoba menuju kampus. Unand memang tempat yang cocok untuk mengirim generasi muda untuk menuntut ilmu agar menjadi sarjana yang sadar dengan makna kebersihan dan kesehatan.
Sekali lagi bahwa kini (di Sumatra Barat) kota Padang Panjang dan Universitas Andalas bisa menjadi tempat yang hebat bagi pendidikan yang berwawasan bebas asap rokok dan iklan rokok. Bravo selalu buat Universitas Andalas dan kota Padang Panjang. Adakah kota lain dan lembaga pendidikan lain yang akan atau telah mengikuti langkahnya ?

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture