Rabu, 31 Maret 2010

Jangan Asal Menyekolahkan Anak Ke Boarding School

Jangan Asal Menyekolahkan Anak Ke Boarding School
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

Mempunyai anak adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Anak yang lucu, lincah dan cerdas sering membuat perasaan orang tua terhibur, mereka menjadi tertawa terbahak-bahak karena riang gembira. Kehadiran anak bisa sebagai “qurrata ‘ayunni” atau penyejuk dua mata bagi orang tua. Orang Minang mengatakan bahwa kehadiran anak yang sangat didambakan adalah sebagai “ubek jariah palarai damam” atau obat untuk mengatasi letih dan pencegah demam. Pantaslah keluarga yang belum diberi anak bisa menjadi stress dan pergi berobat kian ke mari agar Rabbul ‘alamin mengabulkan doa mereka dengan kehadiran bayi yang didambakan.

Hampir semua orang mendambakan agar anak mereka bisa menjadi anak yang sholeh cerdas, dan berguna bagi dirinya, bagi keluarga dan bagi orang lain. Untuk mencapai cita-cita tersebut maka orang tua perlu mendidik mereka. Mendidik anak saat masih kecil terasa menyenangkan, mengasyikan dan belum terasa sebagai beban yang berat. Saat masih kecil anak punya karakter lucu dan suka meniru. Maka mendidik lewat pemberian contoh atau pemodelan adalah bentuk pendidikan yang cukup bagus buat mereka.

Kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak sekarang sudah cukup tinggi. Saat anak berusia berusia balita, orang tua menyekolahkan mereka pada PADU (pendidikan anak usia dini) dan TK (taman kanak-kanak). Mereka juga mendukung kemajuan pendidikan mereka di rumah lewat penyediaan fasilitas belajar dan bermain. Saat memasuki usia sekolah maka orang tua mencarikan SD yang berkualitas bagi anak. Sebagian orang tua masih bisa memahami pelajaran anak untuk SD sehingga mereka masih bisa menemani anak dalam belajar di rumah.

Pelajaran anak setelah tamat SD, yaitu di tingkat SLTP, tentu saja lebih berat sehingga banyak orang tua kurang memahami pendidikan mereka. Ditambah lagi bahwa sejak anak-anak berada dalam akhir masa anak-anak atau zaman pra remaja, umumnya mereka terlihat menjadi lebih agresif, lebih nakal, suka membantah dengan argument mereka sendiri sehingga di mata orang tua terkesan bahwa anak mulai nakal. Memang banyak anak-anak menjadi nakal dan karakter mereka seolah-olah susah terbendung, kelak bisa saja mereka menjadi pelaku criminal. Sebelum ini terjadi maka orang tua mencari solusinya, yaitu mencarikan sekolah yang tepat untuk pendidikan mereka guna perubahan karakter dan prilaku mereka.

Menghadapi karakter anak ABG (anak baru gede) memang susah-susah gampang. Dalam usia ini mereka sangat senang melakukan protes dan adu argument dengan siapa saja- dengan teman dan termasuk dengan orang tua sendiri. Ini terjadi akibat perkembang otak dan pola fikir mereka yang sudah terbentuk. Bukankah pada masa remaja dikatakan sebagai masa golden age (masa keemasan ) bagi perkembangan otak. Orang tua yang tidak bisa mengikuti perkembangan anak sendiri dan juga kurang wawasan dalam mendidik pasti akan kesulitan dalam beradaptasi (menyesuaikan diri) dan berakomodasi (mengubah suasana) dengan anak mereka sendiri.

Kadang kala untuk menjaga citra diri, orang tua kerap menggunakan cara mereka sendiri. Mereka minta dihargai anak dengan cara otoriter, cara kekerasan, adu mulut sampai menjaga jarak dan hasilnya memang terbentuk gap of communication (celah komunikasi) sehingga hubungan yang kurang harmonis antara orang tua dan anak segera terbentuk. Untuk mengatisipasi hal ini agar jangan terjadi maka sebagian orang tua buru-buru melirik boarding school (sekolah dengan asrama), alasanya adalah bahwa di sana anak akan memperoleh pembinaan yang intensif dan lebih bagus (?).
Suatu hari seorang ibu ikut merasa cemas atas karakter anak laki-lakinya yang tiba-tiba berobah, suka pulang sekolah terlambat, suka bertengkar dengan adik adiknya, kata katanya mulai sedikit kasar dan kadang kadang suka berbohong . Prilaku suka pulang terlambat terjadi karena sang anak sudah menginjak usia pra-remaja dimana kebutuhan bersosial/ bergaul, kebutuhan bertukar fikiran dengan teman sebaya, semakin meningkat, sementara sang ibu menginginkan karakter baiknya saat masih kanak-kanak. Kemudian prilaku berbohong terjadi ketika sang anak merasa tertuduh dan tentu ia melakukan pembelaan diri atau takut dimarahi. Jalan yang aman adalah berbohong. Sehingga akhirnya sang ibu berkata pada suaminya “Sebaiknya tamat SD kita serahkan saja anak kita ke boarding school supaya akhlaknya baik dan ia bisa menjadi anak yang shaleh, karena di sana banyak kegiatan agama”.

Memasukan anak ke boarding school cukup bagus, tapi tunggu dulu !. Memasukan anak ke sebuah sekolah adalah ibarat membeli barang, perlu ke hati-hatian dan perlu meminjam istilah dari iklan televisi “lakukanlah cek dan ricek atau telitilah sebelum membeli” agar tidak salah beli dan salah pilih yang mengakibatkan timbul sesal di belakang hari. Banyak orang tua yang kurang mngenal karakter dan kemampuan anak mereka sendiri dan banyak pula mereka yang belum mengenal profil sekolah dan boarding school yang bakal dipilih buat anak, sehingga tak jarang setelah anak belajar di sana sang anak malah menjadi stress, tertekan, sehingga kehilangan minat, semangat dan motivasi belajar sehingga memutuskan untuk pindah atau drop out saja.

Sebelum menyerahkan anak ke boarding school lebih bijak kalau orang tua bersama anak melakukan peninjauan ke sana terlebih dahulu, agar tidak terjadi salah pilih dalam pendidikan. Tentu saja ada boarding school yang berkualitas dan boarding school yang perlu memperbaiki manajemen dan pelayanan pendidikanya. Begitu menyerahkan anak ke sekolah dengan sistem boarding school maka secara otomatis itulah rumah pertama dan sekaligus rumah ke dua baginya. Kualitas guru, kualitas pelayanan, karakter teman teman, budaya belajar dan iklim boarding school itu akan menentukan prilaku dan kualitas mereka kita sebagai produknya.

Sebagian siswa yang belajar di boarding school ada yang memang sudah baik karakter dan prilakunya dan berharap untuk memperoleh peningkatan kualitas diri. Namun sebahagian siswa yang lain yang datang ke sana adalah mereka yang tergolong bandel. Sering boarding school seolah-olah menjadi tempat rehabilitas mental anak bandel yang susah diurus oleh orang tua di rumah. Maka berkumpulah di sana berbagai karakter siswa dari berbagai latar belakang orang tua dan budaya. Biasanya siswa yang lemah karakter dan prinsipsip hidupnya akan merasa tertekan atau ikut beradaptasi dengan pola hidup dan karakter teman yang tergolong bandel. Pernah terucap oleh salah seorang orang tua bahwa “Kalau kita mampu mendidik anak di rumah lebih baik maka mengapa harus diserahkan pendidikan mereka ke boarding school ?”.

Alasanya beragumen demikian adalah bahwa sebagian guru yang mengajar di boarding school bekerja belum sepenuh hati atau belum professional. Boarding school sendiri dijadikan sebagai sebagai batu loncatan sebelum memperoleh kerja yang lebih mapan sebagai PNS, karyawan swasta atau BUMN. Begitu lulus dalam test PNS atau test yang lain maka mereka akan mengatakan “good bye boarding school”. Sekali lagi bahwa ada kalanya boarding school dikelola oleh tenaga yang kurang professional. Misalnya dalam menghadapi karakter anak anak remaja yang cenderung agak bandel- suka membangkang, apalagi jumlah siswa di boarding school cukup banyak. Guru atau tenaga pengasuh sebagai penanggung jawab cenderung melakukan “kekerasan ala rimba”, main tempeleng, main lampang, main cambuk, main rendam, main gebuk, padahal yang mereka lampang itu kan bukan anaknya. Orang tua saja melampang anak tentu dengan penuh pertimbangan affectionate (kasih saying). Orang lain yang melampang anak kita kadang kala dengan penuh beringas ala algojo, apalagi bagi mereka yang salah pilih menjadi guru.

Umumnya boarding school ditempati oleh puluhan atau ratusan anak siang malam selama tiga tahun atau enam tahun- untuk tingkatan SLTP dan SLTA. Segala sesuatu di boarding school serba masal bukan ?. Makanan yang dihidangkan di sana secara masal kadangkala kurang memenuhi standar gizi. Bukankah anak butuh makanan empat sehat lima sempurna. Tidur secara masal yang kadang kala jauh dari standar kesehatan dan kebersihan- kadangkala kamar boarding school yang sempit dipadati oleh beberapa orang siswa ibarat sarden dalam kaleng, kadang kala, miskin ventilasi, ruanga penuh nyamuk atau penuh dengan asap obat nyamuk saat tidur.

Agaknya kegiatan pengulangan pelajaran di luar PBM (proses belajar mengajar) tidak berjalan secara ideal. Coba perhatikan bahwa jarang sekali sekolah dengan sistem boarding school yang memperoleh prestasi akademik dan prestasi non akademik. Kemudian coba pula perhatikan betapa siswa di boarding school tidak bisa mengurus diri, pakaian betebaran, buku buku tidak terurus dan PR (pekerjaan rumah) tidak dikerjakan atau dibuat asal asalan, gigi kurang bersih dan kulit adakalanya penuh kudis. Kerja sebahagian siswa sepanjang hari di luar jadwal belajar adalah ngobrol, bertengkar main bridge dan main game yang lain.

Parahnya lagi ada guru Pembina dan penanggung jawab yang kurang mengenal ilmu jiwa remaja; perkembngan jiwa dan social siswa di usia ABG tersebut. Agar siswa bisa belajar, maka guru Pembina membuat sejuta larangan: “dilarang menghidupkan radio, dilarang bergitar, dilarang main catur, dilarang membawa hape, dilarang main volley”. Pokoknya semua aturan kreatifitas anak terbelenggu. Kreatifitas anak terbunuh dan anak menjadi bosan dan mau keluar kampus boarding school untuk mencari hiburan penghilang rasa bosan juga tidak boleh. Maka akhirnya mereka (maaf) memilih untuk melakukan masturbasi yang berlebihan.

Teman penulis mengatakan bahwa ia pernah mengajar di boarding school yang dikelola kurang transparan dan kurang professional. Dimana iklim boarding school penuh ketegangan Pembina paling suka menghardik, dan membentak, kapan perlu menendang untuk menertipkan kenakalan siswa. Suatu hari ia mengunjungi kamar atau ghurfah siswa karena ingin memangil beberapa orang siswa laki laki yang belum juga hadir dalam kelas. Bisa jadi PBM tidak begitu menarik bagi mereka. Nauzubillah, ia terperanjat memasuki kamar siswa (semua siswa laki laki) yang cekikikan sedang membaca buku buku porno yang entah dimana mereka peroleh. Itulah salah satu gambaran boarding school yang para siswa dan guru Pembina tidak memiliki hubungan yang harmonis. Malah keduanya menjaga gap (menjaga jarak) sepanjang hari.

Tulisan ini bukan berarti kontra terhadap boarding school. Malah penulis mengatakan bahwa boarding school yang dikelola dengan penuh profesonal akan mampu melejitkan potensi siswa (otak, spiritual-rohani, keterampilan-jasmani, dan social) agar lebih maksimal. Maka, pertama boarding school musti mempehatikn kualitas pelayanan, cara berbahasa, pelayanan untuk PBM yang professional dan menyenangkan, juga memperhatikan dan memenuhi standar kesehatan siswa. Kemudian juga harus melakukan pengembangan ekstakurikuler anak. Adalah tidak layak memberikan banyak larangan terhadap pengembangan seni dan olah raga mereka. Malah potensi dan bakat mereka harus dioptimalkan. Guru Pembina tidak perlu melampang anak malah yang peru adalah membuat jembatan hati dan memberi bimbingan atas tanggung jawab anak atas diri mereka, seperti mengurus kerapian pakaian, makanan, kesehatan, dan pekerjaa rumah. Ini dapat terwujud tanpa melakukan kekerasan, cukup dengan pengontrolan yang teratur saja.

Sekali lagi bahwa, tidak perlu kekersan ada di boarding school, karena kekerasan akan menciptakan generasi yang juga keras dan tumbuh tanpa karakter atau jahat kelak. Namun yang harus diperhatikan adalah bagaimana standar pelayanan di boarding school terhadap siswa dan orang tua mereka cukup excellent. Bila standar pelayanan dalam pendidikan dan kesehatan di boarding school cukup memuaskan maka mengapa tidak menyerahkan pendidikan anak ke boarding school. Dari pada didik di rumah oleh orang tua yang minim pengalaman mendidik kecuali pemanjaan yang mematikan kreasi dan inovasi anak sepanjang hari- ini akan menciptakan anak menjadi generasi yang salah didik. Bila sekolah dengan boarding school mampu melejitkan potensi siswa dan mampu beraing dengan banyak sekolah lain maka tentu saja boarding school menjadi pilihan terbaik untuk pembinaan mental dan pendidikan anak. Harapan kita adalah agar boarding school bisa menjadikan anak-anak kita sebagai bunga bangsa yang cerdas, sholeh dan santun. Amin.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture