Rabu, 15 Desember 2010

Aktifkan Motivasi Dari Dalam Diri

Aktifkan Motivasi Dari Dalam Diri
Oleh: Marjohan,M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Kata motivasi sudah menjadi kosa kata umum dan sangat sering dilontarkan dalam berkomunikasi. Bukankah orangtua, guru, pemuka masyarakat, pemimpin dan seorang boss sering menyerukan kata motivasi kepada sang anak, murid, anggota masyarakat, karyawan dan para anak buahnya. Dalam kenyataan ada orang yang mudah termotivasi sehingga bisa jadi berhasil, sebaliknya juga ada yang masa bodoh dengan kata motivasi tersebut, akibatnya hidupnya melempen terus.

Untuk membuat seseorang menjadi maju, dan tidak tertinggal terus oleh orang-orang lain maka ia perlu memotivasi diri. Judul tulisan ini adalah “aktifkan motivasi dari dalam diri”. Bahwa sekarang tidak tepat kalau seseorang selalu berharap dukungan (motivasi) dari orang lain. Namun juga sangat rugi bila ia tidak peduli dengan motivasi atau cuma sekedar memotivasi diri. Bila seseorang ingin meraih sukses dalam hidup maka yang harus ia miliki adalah “total motivasi”. Ya, betul bahwa ia perlu memiliki motivasi- memotivasi diri secara total. Sekali lagi ia perlu memiliki motivasi total karena motivasi total merupakan awal dari segala-galanya.

Sekali-sekali kita perlu merenung dan berfikir tentang mengapa seseorang bisa menjadi tokoh sukses. Tentu saja ini terbentuk setelah ia melakukan proses panjang yang dibumbui (diperkuat) dengan memotivasi diri secara total, bukan motivasi yang setengah- setengah. Juga bukan asal-asalan dalam memotivasi diri, tetapi memotivasi diri sampai pada tahap yang menggebu-gebu. Memotivasi yang menggebu-gebu dapat dicontohkan dalam kegiatan sehari-hari seperti cara berjalan atau cara berbicara. Maka cara bersikap orang sukses (yang memiliki motivasi) memang bersikap penuh semangat- ia berbicara dengan semangat dan berjalan dengan penuh semangat.
Orang sukses telah membuktikan bahwa segala sesuatu memang berawal dari motivasi. Para pelajar yang memperoleh medali emas dalam ajang IJSO (International Junior Scientific Olimpide), sebagai contoh, pasti memiliki motivasi yang hebat, motivasi yang menggebu-gebu atau motivasi yang bergelora. Tanpa motivasi yang sehebat demikian tidak mungkin bisa membuat mereka bersinar terang.

Ternyata memotivasi diri tidak semudah membalik telapak tangan atau semudah mengucapkan kata “motivasi” itu sendiri. Dalam hidup ini kita temui cukup banyak orang yang mengalami kesulitan untuk memotivasi dirinya. Mereka malah lebih mudah dimotivasi orang lain dan tidak tahu cara memotivasi diri, apalagi bagi orang yang kurang memiliki pengalaman sukses. Mereka sendiri malah tergantung pada pasokan motivasi dari lingkungan. Sedangkan dalam kenyataan bahwa tidak semua orang dalam lingkungan yang peduli dalam memotivasi mereka. Yang banyak malah orang yang mematahkan semangat atau motivasi. “Wah percuma saja belajar tidak akan juara, si anu tidak begitu rajin belajar namun bisa juara”.

Terlalu tergantungan kepada lingkungan (orang lain) untuk memotivasi diri kita akan mendatangkan hasil yang sangat minim- ini adalah tidak baik. Sebab bila tidak ada orang yang memberi kita motivasi maka tentu kita bersikap stagnan- tidak berdaya. Apalagi kalau orang yang kita jumpai terbiasa mematikan karakter/ mematikan semangat. Bukankah kadang-kadang ada orang yang suka bekata iseng terhadap orang yang rajin belajar di sekolah atau di kampus (karena menggebu motivasi belajarnya) maka yang lemah motivasi bakal jadi ngiler dan berkata sirik “kerja lu membaca terus melebihi gaya professor tapi kurang kenal dengan pergaulan ...lupa dengan masa muda...ah itu kuno, bisa ketinggalan jaman ..!”. Mendengar komentar demotivasi demikian (mematahkan motivasi) akan bisa membuat kita (orang yang rajin) menjadi malas membaca, belajar dan bekerja. Idealnya orang yang berkarakter demikian tidak perlu digubris atau lebih baik ditinggalkan saja.

Orang yang lemah semangat dapat dikatakan sebagai orang yang lemah motivasi, orang yang lemah semangat banyak tedapat dalam masyarakat, dan malah juga bisa terdapat di kalangan kita sendiri. Bila lemah semangat atau lemah motivasi terjadi sekali-sekali maka itu cukup wajar. Namun kalau “lemah semangat atau lemah motivasi” sering terjadi dalam hidup maka ini sebagai pertanda buruk- berdampak buruk terhadap kemajuan diri di masa depan.

Peran motivasi cukup signifikan di dunia, bukankah motivasi telah mewarnai sejarah dunia ini. Gara-gara motivasi sejarah umat manusia telah diisi dengan prestasi yang sangat mengagumkan dalam berbagai bidang kehidupan. Mulai dari penampilan yang mengagumkan dalam dunia olahraga (seperti yang dilakukan oleh Zidan, Rudi Hartono, Kasparov, dll) sampai kepada keberanian dalam mempertaruhkan hidup mati untuk memperjuangkan keyakinan/ hak azazi tertentu (seperti yang di lakukan oleh Au Sang Suci dari Myanmar, Galileo Galilei yang yakin bahwa bumi ini bulat). Dari bidang yang ringan seperti makanan dan pakaian (penemuan celana jean oleh Levi strauss) sampai pada bidang yang berat seperti ilmu pengetahuan (penemuan pesawat terbang oleh Zeppelin).

Motivasilah yang bertanggung jawab dalam membuat mereka jadi sukses atau gagal dalam hidup ini. Tomas Alfa Edison menemui lampu listrik melalui serangkai kegagalan dengan langkah pantang mundur. Buya Hamka sukses menulis tafsir Al-Azhar dengan buku melebihi 30 jilid karena ketabahan dan semangat yang hebat. Seseorang akan sukses jika ia mempunyai motivasi yang besar untuk meraihnya. Sebaliknya, jika tidak memiliki motivasi, maka kegagalanlah yang akan diterimanya.

Satria Hadi (2008) mengatakan bahwa setiap orang perlu memotivasi dirinya. Seorang manusia akan menjadi berharga karena ia mempunyai nilai atau karena tingginya bobot motivasinya (bobot semangatnya) dan bukan dari banyak hartanya. Agama Islam sendiri juga mendorong kita agar bersemangat dan selalu berubah “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”- (Qur’an surat 13:11).

Motivasi memang berpengaruh dalam perubahan peradaban manusia. Sekaligus motivasi yang lemah dituding sebagai penyebab lemahnya pribadi se4seorang dan rendahnya kualitas suatu bangsa. Para pelajar yang enggan belajar di sekolah, para mahasiswa yang kerjanya kongkow di kafe dan pemuda yang menganggur sepanjang waktu, itu semua karena mereka memelihara motivasi yang lemah.

Mengapa manusia dapat bergerak menuju peradaban yang semakin maju ? Itu adalah karena pengaruh motivasi. Ya memang bahwa motivasi merupakan faktor terpenting yang membuat manusia menjadi lebih sempurna. Namun dibalik itu bahwa apa yang menyebabkan motivasi seseorang bisa rendah atau tinggi, dan lemah atau kuat. Tentu saja itu semua dipengaruhi oleh kondisi otak sebagai pemberi energinya.

Lantas apa hubungan antara otak manusia dengan motivasi ? Motivasi itu sendiri sebenarnya muncul dari otak dan motivasi merupakan salah satu kerja otak. Motivasi bisa naik atau turun sesuai dengan perintah otak kita. Ketika motivasi meningkat maka dorongan untuk bertingkah laku tertentu juga meningkat. Setiap orang pasti memiliki motivasi namun kadarnya bisa jadi berbeda- beda. Karena pengalaman hidup seseorang juga berbeda maka stimulus atau rangsangan dari otak juga berbeda.

Seseorang akan berusaha dan termotivasi untuk melakukan suatu aktivitas, tergantung kepada kebutuhannya. Kalau kebutuhannya itu begitu besar dan perlu segera untuk dipenuhi maka motivasinya juga besar. Namun dalam hidup ada dua tipe atau karakter orang yaitu orang yang bertipe santai: tidak menyukai pekerjaan, tidak menyukai tanggung jawab dan harus dipaksa agar berprestasi/ bertanggung jawab. Sebaliknya ada orang yang berkarakter rajin: menyukai pekerjaan, kreatif, suka berusaha/ bertanggung jawab dan dapat bekerja tanpa dipaksa.

Motivasi juga dikatakan sebagai sarana untuk menuju sukses. Maka syarat untuk sukses itu sendiri ada tiga yaitu bahwa kita perlu memiliki “ semangat, visi (atau tujuan kegiatan) dan dikuti dengan aksi (atau kegiatan itu sendiri). Kalau begitu tentu saja titik awal untuk sukses adalah dengan memotivasi diri sendiri. Para tokoh bisa sukses dalam usaha mereka karena mereka mempunyai motivasi dan semangat kerja yang besar dalam hidup. Maka agar kita juga bisa sukses seperti tokoh, kita pun harus memiliki motivasi dan bersikap “selalu bersemangat“ dalam hidup ini. Pekerjaan yang kita emban musti kita nikmati- yaitu sesuatu yang perlu kita nikmati- makanya ada orang yang mengatakan istilah kepuasan kerja. Mereka tidak menganggap bekerja sebagai beban yang perlu untuk dihindari.

Agar menjadi orang yang suka memotivasi diri maka setelah memiliki semangat yang menggebu, kita juga perlu memiliki sikap yang tekun dalam bekerja. Orang yang mampu memotivasi diri sendiri tentu akan mampu dalam menyemangati dirinya. Sumber energinya berasal dari dirinya sendiri. Malah dikatakan bahwa ketika sumber energinya habis, ia akan mengisinya kembali tanpa harus menunggu pasokan semangat dari orang lain.

Karakter lain dari orang yang suka memotivasi diri sendiri adalah juga tidak tergantung pada motivasi dari orang lain, selalu berinisiatif dan kreatif, produkltif dalam bekerja, optimis terhadap masa depan dan meraih tujuan lebih cepat. Semangat orang yang demikian (sekali lagi) tentu lebih menggebu-gebu daripada orang yang dimotivasi oleh orang lain, sehingga wajar jika ia lebih cepat dalam mencapai tujuannya. Dalam arena lomba lari saja, orang yang lebih bersemangat dalam berlari akan lebih cepat mencapai garis finish daripada orang yang berlari dengan lesu.

Juga perlu kita ketahui tentang apa faktor penghambat dalam peningkatan atau pengembangan motivasi diri. Sebenarnya ada beberapa faktor penghambat motivasi diri yaitu merasa diri tidak penting, perasaan tidak punya masa depan, opini negative tentang diri dan kurangnya kepercayaan diri. Faktor ini bisa tumbuh subur kalau hidup ini dipenuhi oleh orang-orang yang hanya pandai melemparkan opini negative dari pada memberikan opini positif, “wah kamu rajin amat dan dunia ini kan tidak akan selesai oleh kita sendirian”. Dalam hidup ini juga banyak orang yang hanya bisa mencela dan menjelek-jelekan dan melemahkan semangat seseorang. Orang yang kurang percaya diri juga telah memadamkan motivasi dirinya lebih awal. Yaitu berfikir negative terlebih dahulu- mematikan semangat/ motivasi sendiri.

Memotivasi diri sendiri tentu memerlukan usaha, dan perlu diingat bahwa menghayal dan melamun tidak banyak faedahnya dalam menumbuhkan motivasi kita. Sebab dengan melamun kita tidak mungkin dapat membayangkan masa depan dengan jelas. Yang lebih tepat kita lakukan adalah membuat visi atau visualisasi, karena visualisasi mampu membangkitkan motivasi. Dengan visualisasi kita dapat membayangkan masa depan dengan jelas dan detail, dan untuk meraihnya kita memerlukan perincian dalam bentuk visi atau langkah strategis.

Faktor lain yang mendukung kita dalam mengembangkan motivasi diri adalah suasana nyaman dan move (gerakan). Adalah fitrah bahwa kita akan bersemangat melakukan sesuatu kegiatan kalau kita menyukainya. Kita juga akan termotivasi mengerjakan sesuatu bila kita merasa nyaman dan senang melakukannya. Para manajer di berbagai perusahaan terekemuka berusaha membuat karyawannya menyenangi pekerjaan yang mereka lakukan. Untuk itu berbagai upaya yang mereka lakukan agar karyawan bisa merasa nyaman melakukan pekerjaan.Selanjutnya bahwa semangat kerja dan motivasi diri bisa bertambah justru setelah kita mulai bekerja. Bukan sebelum mulai bekerja. Adakalanya sebahagian orang merasa malas sebelum memulai pekerjaan, namun setelah beberapa saat muncul semangat kerja.

Ada beberapa hal lain yang dapat kita lakukan untuk menambah motivasi kerja yaitu: membaca buku-buku tentang motivasi, menempelkan kata-kata penggugah semangat ditempat yang mudah kita lihat, dan membaca kisah-kisah orang sukses- atau juga bisa membaca kisah-kisah para nabi. Kita juga perlu memiliki sikap positif untuk menggenjot motivasi, maka untuk hal ini kita perlu membiasakan berfikir positif “saya adalah orang yang bersemangat”, dan membiasakan berbahasa positif.

Bila kita tampil di depan umum, maka sebelum berbicara, kita perlu memasukan pikiran positif pada diri kita. Kita perlu berfikir bahwa kita memiliki banyak kelebihan. Bahasa merupakan gambaran dari fikiran kita. Jika pikiran kita negative, maka cara berbahasa kita juga akan negative. Sebailiknya jika pikiran kita positif maka cara berbahasa kita jugsa positif.

Agar kita berhasil beraktivitas dengan motivasi yang tinggi maka kita perlu membuat dead line- target selesainya suatu aktivitas. Kita sendiri tidak perlu bersikap perfek atas hasil dari aktivitas kita. Karena kalau kita terlalu perfek maka hasil yang kita lakukan akan membuat kita kecewa selalu. Apalagi kalau kita punya kebiasaan memikirkan kekurangan diri. Untuk itu tidak perlu kita terlalu sering memikirkan kekurangan diri, sebaliknya kita perlu melihat kelebihan diri kita. Gunanya agar kita bisa merasa beruntung. Kalau kita cuma melihat kekurangan diri tentu kita merasa sebagai orang yang selalu sial.

Meningkatkan motivasi dari dalam diri dan juga semangat kerja sangat dipengaruhi oleh suasana hati atau emosional. Maka untuk menambah motivasi dari segi emosi, kita juga perlu melakukan curhat (curah pendapat- berbagi cerita) dengan orang terdekat: kita perlu ikut membantu orang lain, banyak tersenyum- agar hati terasa bahagia dan menjadi rileks “tersenyumlah kepada siapa saja yang kita jumpai”.

Kemudian kita juga perlu untuk melakukan silaturahmi kepada orang yang mampu memotivasi kita- mungkin kunjungan kita hanya sekedar ngobrol atau minta masukan. Kita juga perlu meningkatkan penampilan tubuh kita. Namun juga ada hal-hal kecil yang perlu kita hindari yaitu seperti kebiasaan suka tidur karena banyak tidur akan membuat badan terlihat letih. Juga menghindari menonton televisi yang terlalu lama. Karena menonton TV terlalu lama adalah pola hidup santai.

Tidak tergantung pada motivasi dari orang lain dan keputusan untuk selalu memotivasi diri adalah sebuah keputusan yang tepat. Memiliki motivasi dari arah dalam diri berarti memiliki semangat hidup yang menggebu-gebu. Untuk mendapatkan motivasi yang hebat maka kita perlu menerapkan langkah-langkah berikut, seperti: memiliki pengalaman sukses, melakukan banyak kegiatan agar kaya dengan berbagai prngalaman, memiliki karakter seperti menyukai pekerjaan, kreatif, suka berusaha/ bertanggung jawab, memiliki semangat, visi (atau tujuan kegiatan) dan dikuti dengan aksi (atau kegiatan itu sendiri). Kemudian selalu berinisiatif dan kreatif, senang membaca buku-buku tentang motivasi, menempelkan kata-kata penggugah semangat ditempat yang mudah kita lihat, memiliki sikap positif dan membiasakan berfikir positif dan membiasakan berbahasa positif. Kemudian yang perlu dihindari adalah seperti: tidak perlu bersikap perfek atau serba sempurna, melakukan silaturahmi kepada orang yang mampu memotivasi kita, mengurangi kebiasaan suka tidur karena banyak tidur akan membuat badan terlihat letih. Juga menghindari menonton televisi yang terlalu lama. Karena menonton TV terlalu lama adalah pola hidup santai.

Note: Satria Hadi Lubis (2008) Total Motivation. Yogyakarta: Pro-You

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture