Rabu, 31 Maret 2010

Jangan Asal Menyekolahkan Anak Ke Boarding School

Jangan Asal Menyekolahkan Anak Ke Boarding School
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

Mempunyai anak adalah satu hal yang sangat menyenangkan. Anak yang lucu, lincah dan cerdas sering membuat perasaan orang tua terhibur, mereka menjadi tertawa terbahak-bahak karena riang gembira. Kehadiran anak bisa sebagai “qurrata ‘ayunni” atau penyejuk dua mata bagi orang tua. Orang Minang mengatakan bahwa kehadiran anak yang sangat didambakan adalah sebagai “ubek jariah palarai damam” atau obat untuk mengatasi letih dan pencegah demam. Pantaslah keluarga yang belum diberi anak bisa menjadi stress dan pergi berobat kian ke mari agar Rabbul ‘alamin mengabulkan doa mereka dengan kehadiran bayi yang didambakan.

Hampir semua orang mendambakan agar anak mereka bisa menjadi anak yang sholeh cerdas, dan berguna bagi dirinya, bagi keluarga dan bagi orang lain. Untuk mencapai cita-cita tersebut maka orang tua perlu mendidik mereka. Mendidik anak saat masih kecil terasa menyenangkan, mengasyikan dan belum terasa sebagai beban yang berat. Saat masih kecil anak punya karakter lucu dan suka meniru. Maka mendidik lewat pemberian contoh atau pemodelan adalah bentuk pendidikan yang cukup bagus buat mereka.

Kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak sekarang sudah cukup tinggi. Saat anak berusia berusia balita, orang tua menyekolahkan mereka pada PADU (pendidikan anak usia dini) dan TK (taman kanak-kanak). Mereka juga mendukung kemajuan pendidikan mereka di rumah lewat penyediaan fasilitas belajar dan bermain. Saat memasuki usia sekolah maka orang tua mencarikan SD yang berkualitas bagi anak. Sebagian orang tua masih bisa memahami pelajaran anak untuk SD sehingga mereka masih bisa menemani anak dalam belajar di rumah.

Pelajaran anak setelah tamat SD, yaitu di tingkat SLTP, tentu saja lebih berat sehingga banyak orang tua kurang memahami pendidikan mereka. Ditambah lagi bahwa sejak anak-anak berada dalam akhir masa anak-anak atau zaman pra remaja, umumnya mereka terlihat menjadi lebih agresif, lebih nakal, suka membantah dengan argument mereka sendiri sehingga di mata orang tua terkesan bahwa anak mulai nakal. Memang banyak anak-anak menjadi nakal dan karakter mereka seolah-olah susah terbendung, kelak bisa saja mereka menjadi pelaku criminal. Sebelum ini terjadi maka orang tua mencari solusinya, yaitu mencarikan sekolah yang tepat untuk pendidikan mereka guna perubahan karakter dan prilaku mereka.

Menghadapi karakter anak ABG (anak baru gede) memang susah-susah gampang. Dalam usia ini mereka sangat senang melakukan protes dan adu argument dengan siapa saja- dengan teman dan termasuk dengan orang tua sendiri. Ini terjadi akibat perkembang otak dan pola fikir mereka yang sudah terbentuk. Bukankah pada masa remaja dikatakan sebagai masa golden age (masa keemasan ) bagi perkembangan otak. Orang tua yang tidak bisa mengikuti perkembangan anak sendiri dan juga kurang wawasan dalam mendidik pasti akan kesulitan dalam beradaptasi (menyesuaikan diri) dan berakomodasi (mengubah suasana) dengan anak mereka sendiri.

Kadang kala untuk menjaga citra diri, orang tua kerap menggunakan cara mereka sendiri. Mereka minta dihargai anak dengan cara otoriter, cara kekerasan, adu mulut sampai menjaga jarak dan hasilnya memang terbentuk gap of communication (celah komunikasi) sehingga hubungan yang kurang harmonis antara orang tua dan anak segera terbentuk. Untuk mengatisipasi hal ini agar jangan terjadi maka sebagian orang tua buru-buru melirik boarding school (sekolah dengan asrama), alasanya adalah bahwa di sana anak akan memperoleh pembinaan yang intensif dan lebih bagus (?).
Suatu hari seorang ibu ikut merasa cemas atas karakter anak laki-lakinya yang tiba-tiba berobah, suka pulang sekolah terlambat, suka bertengkar dengan adik adiknya, kata katanya mulai sedikit kasar dan kadang kadang suka berbohong . Prilaku suka pulang terlambat terjadi karena sang anak sudah menginjak usia pra-remaja dimana kebutuhan bersosial/ bergaul, kebutuhan bertukar fikiran dengan teman sebaya, semakin meningkat, sementara sang ibu menginginkan karakter baiknya saat masih kanak-kanak. Kemudian prilaku berbohong terjadi ketika sang anak merasa tertuduh dan tentu ia melakukan pembelaan diri atau takut dimarahi. Jalan yang aman adalah berbohong. Sehingga akhirnya sang ibu berkata pada suaminya “Sebaiknya tamat SD kita serahkan saja anak kita ke boarding school supaya akhlaknya baik dan ia bisa menjadi anak yang shaleh, karena di sana banyak kegiatan agama”.

Memasukan anak ke boarding school cukup bagus, tapi tunggu dulu !. Memasukan anak ke sebuah sekolah adalah ibarat membeli barang, perlu ke hati-hatian dan perlu meminjam istilah dari iklan televisi “lakukanlah cek dan ricek atau telitilah sebelum membeli” agar tidak salah beli dan salah pilih yang mengakibatkan timbul sesal di belakang hari. Banyak orang tua yang kurang mngenal karakter dan kemampuan anak mereka sendiri dan banyak pula mereka yang belum mengenal profil sekolah dan boarding school yang bakal dipilih buat anak, sehingga tak jarang setelah anak belajar di sana sang anak malah menjadi stress, tertekan, sehingga kehilangan minat, semangat dan motivasi belajar sehingga memutuskan untuk pindah atau drop out saja.

Sebelum menyerahkan anak ke boarding school lebih bijak kalau orang tua bersama anak melakukan peninjauan ke sana terlebih dahulu, agar tidak terjadi salah pilih dalam pendidikan. Tentu saja ada boarding school yang berkualitas dan boarding school yang perlu memperbaiki manajemen dan pelayanan pendidikanya. Begitu menyerahkan anak ke sekolah dengan sistem boarding school maka secara otomatis itulah rumah pertama dan sekaligus rumah ke dua baginya. Kualitas guru, kualitas pelayanan, karakter teman teman, budaya belajar dan iklim boarding school itu akan menentukan prilaku dan kualitas mereka kita sebagai produknya.

Sebagian siswa yang belajar di boarding school ada yang memang sudah baik karakter dan prilakunya dan berharap untuk memperoleh peningkatan kualitas diri. Namun sebahagian siswa yang lain yang datang ke sana adalah mereka yang tergolong bandel. Sering boarding school seolah-olah menjadi tempat rehabilitas mental anak bandel yang susah diurus oleh orang tua di rumah. Maka berkumpulah di sana berbagai karakter siswa dari berbagai latar belakang orang tua dan budaya. Biasanya siswa yang lemah karakter dan prinsipsip hidupnya akan merasa tertekan atau ikut beradaptasi dengan pola hidup dan karakter teman yang tergolong bandel. Pernah terucap oleh salah seorang orang tua bahwa “Kalau kita mampu mendidik anak di rumah lebih baik maka mengapa harus diserahkan pendidikan mereka ke boarding school ?”.

Alasanya beragumen demikian adalah bahwa sebagian guru yang mengajar di boarding school bekerja belum sepenuh hati atau belum professional. Boarding school sendiri dijadikan sebagai sebagai batu loncatan sebelum memperoleh kerja yang lebih mapan sebagai PNS, karyawan swasta atau BUMN. Begitu lulus dalam test PNS atau test yang lain maka mereka akan mengatakan “good bye boarding school”. Sekali lagi bahwa ada kalanya boarding school dikelola oleh tenaga yang kurang professional. Misalnya dalam menghadapi karakter anak anak remaja yang cenderung agak bandel- suka membangkang, apalagi jumlah siswa di boarding school cukup banyak. Guru atau tenaga pengasuh sebagai penanggung jawab cenderung melakukan “kekerasan ala rimba”, main tempeleng, main lampang, main cambuk, main rendam, main gebuk, padahal yang mereka lampang itu kan bukan anaknya. Orang tua saja melampang anak tentu dengan penuh pertimbangan affectionate (kasih saying). Orang lain yang melampang anak kita kadang kala dengan penuh beringas ala algojo, apalagi bagi mereka yang salah pilih menjadi guru.

Umumnya boarding school ditempati oleh puluhan atau ratusan anak siang malam selama tiga tahun atau enam tahun- untuk tingkatan SLTP dan SLTA. Segala sesuatu di boarding school serba masal bukan ?. Makanan yang dihidangkan di sana secara masal kadangkala kurang memenuhi standar gizi. Bukankah anak butuh makanan empat sehat lima sempurna. Tidur secara masal yang kadang kala jauh dari standar kesehatan dan kebersihan- kadangkala kamar boarding school yang sempit dipadati oleh beberapa orang siswa ibarat sarden dalam kaleng, kadang kala, miskin ventilasi, ruanga penuh nyamuk atau penuh dengan asap obat nyamuk saat tidur.

Agaknya kegiatan pengulangan pelajaran di luar PBM (proses belajar mengajar) tidak berjalan secara ideal. Coba perhatikan bahwa jarang sekali sekolah dengan sistem boarding school yang memperoleh prestasi akademik dan prestasi non akademik. Kemudian coba pula perhatikan betapa siswa di boarding school tidak bisa mengurus diri, pakaian betebaran, buku buku tidak terurus dan PR (pekerjaan rumah) tidak dikerjakan atau dibuat asal asalan, gigi kurang bersih dan kulit adakalanya penuh kudis. Kerja sebahagian siswa sepanjang hari di luar jadwal belajar adalah ngobrol, bertengkar main bridge dan main game yang lain.

Parahnya lagi ada guru Pembina dan penanggung jawab yang kurang mengenal ilmu jiwa remaja; perkembngan jiwa dan social siswa di usia ABG tersebut. Agar siswa bisa belajar, maka guru Pembina membuat sejuta larangan: “dilarang menghidupkan radio, dilarang bergitar, dilarang main catur, dilarang membawa hape, dilarang main volley”. Pokoknya semua aturan kreatifitas anak terbelenggu. Kreatifitas anak terbunuh dan anak menjadi bosan dan mau keluar kampus boarding school untuk mencari hiburan penghilang rasa bosan juga tidak boleh. Maka akhirnya mereka (maaf) memilih untuk melakukan masturbasi yang berlebihan.

Teman penulis mengatakan bahwa ia pernah mengajar di boarding school yang dikelola kurang transparan dan kurang professional. Dimana iklim boarding school penuh ketegangan Pembina paling suka menghardik, dan membentak, kapan perlu menendang untuk menertipkan kenakalan siswa. Suatu hari ia mengunjungi kamar atau ghurfah siswa karena ingin memangil beberapa orang siswa laki laki yang belum juga hadir dalam kelas. Bisa jadi PBM tidak begitu menarik bagi mereka. Nauzubillah, ia terperanjat memasuki kamar siswa (semua siswa laki laki) yang cekikikan sedang membaca buku buku porno yang entah dimana mereka peroleh. Itulah salah satu gambaran boarding school yang para siswa dan guru Pembina tidak memiliki hubungan yang harmonis. Malah keduanya menjaga gap (menjaga jarak) sepanjang hari.

Tulisan ini bukan berarti kontra terhadap boarding school. Malah penulis mengatakan bahwa boarding school yang dikelola dengan penuh profesonal akan mampu melejitkan potensi siswa (otak, spiritual-rohani, keterampilan-jasmani, dan social) agar lebih maksimal. Maka, pertama boarding school musti mempehatikn kualitas pelayanan, cara berbahasa, pelayanan untuk PBM yang professional dan menyenangkan, juga memperhatikan dan memenuhi standar kesehatan siswa. Kemudian juga harus melakukan pengembangan ekstakurikuler anak. Adalah tidak layak memberikan banyak larangan terhadap pengembangan seni dan olah raga mereka. Malah potensi dan bakat mereka harus dioptimalkan. Guru Pembina tidak perlu melampang anak malah yang peru adalah membuat jembatan hati dan memberi bimbingan atas tanggung jawab anak atas diri mereka, seperti mengurus kerapian pakaian, makanan, kesehatan, dan pekerjaa rumah. Ini dapat terwujud tanpa melakukan kekerasan, cukup dengan pengontrolan yang teratur saja.

Sekali lagi bahwa, tidak perlu kekersan ada di boarding school, karena kekerasan akan menciptakan generasi yang juga keras dan tumbuh tanpa karakter atau jahat kelak. Namun yang harus diperhatikan adalah bagaimana standar pelayanan di boarding school terhadap siswa dan orang tua mereka cukup excellent. Bila standar pelayanan dalam pendidikan dan kesehatan di boarding school cukup memuaskan maka mengapa tidak menyerahkan pendidikan anak ke boarding school. Dari pada didik di rumah oleh orang tua yang minim pengalaman mendidik kecuali pemanjaan yang mematikan kreasi dan inovasi anak sepanjang hari- ini akan menciptakan anak menjadi generasi yang salah didik. Bila sekolah dengan boarding school mampu melejitkan potensi siswa dan mampu beraing dengan banyak sekolah lain maka tentu saja boarding school menjadi pilihan terbaik untuk pembinaan mental dan pendidikan anak. Harapan kita adalah agar boarding school bisa menjadikan anak-anak kita sebagai bunga bangsa yang cerdas, sholeh dan santun. Amin.

Senin, 29 Maret 2010

Bravo….!, Padang Panjang dan Uiversitas Andalas Bisa Bebas Dari Rokok Dan Iklan Rokok

Bravo….!, Padang Panjang dan Uiversitas Andalas Bisa Bebas
Dari Rokok Dan Iklan Rokok
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Dahulu sebelum tahun 1980-an jenis dan merek rokok yang diproduksi di negara kita relative masih sedikit dan kemasannya pun sangat sederhana. Itu mungkin karena layak untuk dikonsumsi oleh para petani. Namun dewasa ini jenis dan merek rokok malah makin bertambah jumlahnya. Kemasan atau bungkusnya pun semakin hebat dan semakin eksklusif saja. Mungkin karena sasarannya adalah para penghisap rokok dari golongan orang orang yang lebih berduit, orang-orang gedongan, orang-orang kantoran sampai kepada yang bekerja di tengah pasar/ buruh. Tidak itu saja, lewat iklan yang penuh kepalsuan, dan tipuan para pebisnis rokok juga merayu orang orang muda yang nota benenya adalah pelajar dan mahasiswa.

Kalau ada event yang diselenggarakan oleh kaum muda yang dalam bentuk konser dan olah raga (seperti sepak bola, volley, bulutangkis, dan lain-lain), maka pebisnis rokok pun memberikan sponsor dengan berbagai kemudahan. Mereka juga membagi-bagi rokok gratis untuk para perokok dan anak anak muda lain sebagai calon perokok. Bila event usai maka dipastikan bahwa jumlah perokok bakal meningkat terus.

Itulah permasalahnya, bahwa masyarakat dan juga para guru dan orang tua yang peduli dengan arti kesehatan hampir-hampir putus masa melihat fenomena rokok dan pencandu rokok yang sudah merasuk ke dalam berbagai lini sosial. Mereka berfikir bahwa bagaimana untuk mengatasi kecanduan mereka atas rokok tersebut. Mereka sangat menyadari bahwa merokok memang sangat memberi mudharat (bahaya) bagi kesehatan manusia.

Pada bungkus rokok sendiripun sudah ditulis warning “merokok berbahaya bagi kesehatan, menyebabkan gangguan jantung, kangker, impotensi dan gangguan janin bagi ibu yang sedang hamil”. Namun peringatan tersebut sering dianggap angin lalu saja karena bahasa iklan untuk mengajak merokok malah lebih dahsyat dan mendatangkan rasa percaya diri pagi penghisap rokok itu sendiri, coba simak bahasa ini, “Buktikan kejantanan dan keperkasaanmu dengan rokok ini…, selera metropolitan…selera pria sejati, lebih baik putus pacar dari pada putus rokok…”
Bahaya merokok memang sudah terbukti. Tidak percaya, pergilah ke rumah sakit dan ke klinik kesehatan, maka akan kita temui banyak pasien yang sakit parah akibat rokok. Kemudian tanyakan bahwa apakah rokok memang membawa manfaat (?). Tentu mereka akan berka, “Saya sudah kapok dan sudah bertobat untuk kembali menghisap rokok”. Namun aneh, begitu sembuh dari penyakit maka rokok kembali dicari-cari dan dihisap lagi, “Wah dasar tobat sambal lado !” Dorongan untuk merokok mereka kambuh lagi karena pengaruh dan rayuan lingkungan.

Anjuran dokter agar tidak merokok karena memberikan mudarat, selalu ditolak oleh banyak perokok yang merasa cukup sehat. Fatwa para ulama dari menara gading yang bernama seminar, symposium dan muktamar bahwa merokok itu haram pun juga ditanggapi biasa-biasa saja, malah dijadikan sebagai materi untuk acara perdebatan belaka. Apalagi bahwa banyak pula ulama dan orang orang shaleh yang juga ternyata menjadi perokok berat.

Action sounds louder than talking, yang berarti bahwa tindakan kedengaran lebih nyaring pada kata-kata belaka. Ungkapan ini telah dibuktikan oleh stakeholder di kota Padang Panjang dan Universitas Andalas (UNAND). Kedua unsur ini telah menunjukan dan membuktikan bahwa mereka, kota Padang Panjang sebagai kota yang bebas dari rokok dan iklan rokok. Begitu pula dengan kampus UNAND sebagai universitas atau kampus yang bebas dari asap rokok dan juga dari iklan rokok.
Tidak percaya ? Maka marilah kita lewati kota Padang Panjang, maka kita tidak lagi menjumpai lambaian baliho rokok yang berjejer di sepanjang jalan utama. Atau rayuan iklan rokok yang terpajang di dinding toko, warung sampai ke gardu polisi. Malah yang terpajang di kota ini adalah papan peringatan untuk tidak merokok dan diikuti oleh sangsi yang tegas. “Dilarang keras mengiklankan rokok dan menyiarkan rokok kepada public, dilarang keras merokok di lingkungan perkantoran, tempat ibadah, di seputar tempat anak-anak, di rumah sakit”. Yang melanggar tentu akan langsung diberi sangsi dan bukan sekedar diberi gertak sambal saja.

Bagaima kalau di daerah dan di kota lain. Tentu saja rayuan iklan rokok sudah semakin menjadi-jadi. Kemudian bila kita melewati sekelompok orang di sana, maka selalu saja ada terlihat banyak orang-tua dan muda- berlomba mengepulkan asap rokok. Sementara di kota ini yang terlihat cuma satu dua orang, itupun bagi mereka yang buta dengan larangan tentang bahaya merokok. Sekali lagi, lain dengan kota Padang Panjang yang sudah terbebas dari rokok dan iklan rook. Pengambil kebijakan dalam bidang kebersihan di kota ini juga sangat peduli dengan kebersihan bumi. Bahwa sampah-sampah yang berserakan disepanjang jalan raya disebabkan oleh penumpang mobil yang melemparkan sampar lewat jendela mobil, maka mereka memberi warning “Dilarang membuang sampah dari dalam kendaraan…!”.
Gebrakan gebrakn yang jitu, tidak sebatas kata kata dan retorika belaka, telah membuat kota ini menjadi kota yang bersih, sehat, berbudaya dan beragama. Pemerintah dan masyarakat sangat peduli pada kesehatan, agama dan pendidikan. Pantaslah orang orang se sumatera antusias untuk menitipkan anak anak mereka untuk belajar di kota ini.

Selama hidup, sejak universitas tertua ini pindah kampus ke Bukit Limau Manis di pinggiran kota Padang, baru dalam bulan Februari (2010) ini penulis berkeliling-keliling kampus Unand lebih lama. Memang terasa suasana yang lebih berbeda dari kampus ataupun sekolah sekolah lain. Terutama dari kebiasaan merokok. Kalau di kampus lain, kadang-kala mahasiswa dan dosen seolah olah berlomba kehebatan dalam menghisap rokok. Mahasiswanya sendiri sering terlihat lebih pede (percaya diri) menggenggam kotak rokok dari pada memegang buku yang berkualitas untuk dibaca. Juga sering terlihat bahwa para perokok dimanja dengan menyediakan asbak rokok yang mewah, dan melontar kalimat basa-basi ajakan merokok bagi yang diet rokok. “cobalah sigaret ini…..merokok lah sebagai tanda persahabatan kita”..
Banyak kampus yang cuma sekedar menonjolkan event olah raga dan konser musik dari pada ajang temu ilmiah dan temu sains. Saat itu sponsor dari industry rokok juga sibuk mengibari spanduk iklan rokok mereka. Kadang kala banyak siswa yang belum menjadi perokok namun berubah menjadi perokok berat saat berinteraksi dengan para mahasiswa senior yang telah terbiasa dengan budaya rokok. Alasanya adalah “malu, segan atau tidak pede kalau tidak ikut merokok”.

Suasana ini tidak kita temukan di kampus Unand walau luas lahan-nya ratusan hektar. Di beberapa ruas jalan kampus terpajang peringatan “dilarang merokok di areal kampus Unand”. Larangan ini menjadi komitmen dan langsung dibuktikan dengan tindak-tanduk. Mulai dari rektor, dosen, mahasiswa, pegawai dan terus ke penjaga gudang atau pegawai taman memang tidak boleh merokok. Atau lagi-lagi ingin berhadapan dengan penegak disiplin bagi yang mencoba merokok. Semuanya mematuhi dan mengamalkan dan tidak memperdebatkanya. Ternyata bisa bahwa di mana-mana tidak ada yang merokok. Tidak ada asap rokok mengepul walau dari balik pintu. Dalam mobil kampus menuju halte di pinggir kota juga tidak ada mahasiswa dan warga kampus lain yang dengan arrogan menghisap rokok.

Untuk urusan menjauhkan diri dari rokok dan iklan rokok, maka kampus Unand sangat jempolan. Para stakeholder sangat menyadari bahwa merokok memang punya mudarat (bahaya). Merokok itu sendiri bisa menjadi gerbang bagi mahasiswa yang labil untuk melangkah menjadi pengguna narkoba. Menjauhi kampus dari rokok dan iklan rokok adalah sangat efektif untuk memutuskan rantai jaringan narkoba menuju kampus. Unand memang tempat yang cocok untuk mengirim generasi muda untuk menuntut ilmu agar menjadi sarjana yang sadar dengan makna kebersihan dan kesehatan.
Sekali lagi bahwa kini (di Sumatra Barat) kota Padang Panjang dan Universitas Andalas bisa menjadi tempat yang hebat bagi pendidikan yang berwawasan bebas asap rokok dan iklan rokok. Bravo selalu buat Universitas Andalas dan kota Padang Panjang. Adakah kota lain dan lembaga pendidikan lain yang akan atau telah mengikuti langkahnya ?

Jumat, 26 Maret 2010

Bila Siswa Sekolah Dasar Kecanduan Game on line

Bila Siswa Sekolah Dasar Kecanduan Game on line
OLeh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar


Apa yang terlintas dalam fikiran siswa Sekolah Dasar di zaman dulu bila lonceng pulang segera berdering, misal tahun 197O-an dan 1980-an, tentu saja mereka ingin segera pulang agar bisa menyantap nasi dengan lauk pauk, goreng tempe, goreng terong dan sepotong goreng ayam (seperti dideskripsikan dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia saat itu) kemudian melakukan petualangan, bersepeda-sepeda, main layang-layang, memanjat pohon manggis, membantu orang tua menggembalakan ternak sampai kepada memancing belut dan berburu burung pipit di sawah dengan catapel. Siswa SD yang berorientasi ingin maju mungkin ingin masuk les bahasa Inggris, les mengetik, sampai kepada les elektronika.

Kata sebahagian orang bahwa sikap anak anak sekitar 20 atau 30 tahun silam menghadapi sekolah penuh dengan tanggung jawab. Mereka takut dan malu bila ternyata memperoleh nilai merah dalam rapor, mengikuti ujian dalam keadaan tidak siap dan tidak naik kelas. “Itu kan dulu, dimana motivasi instrinsik- motivasi yang berasal dari dalam diri- sangat tinggi”. Bagaimana kenyataanya dengan anak zaman sekarang ?

Cukup aneh dan bisa membuat kita kaget. Bahwa sebahagian anak anak sekarang ada yang masa bodoh dan kurang peduli dengan urusan sekolah. Mereka kurang peduli dengan PR, kurang peduli apakah guru mau memberi mau ujian atau tidak, apakah mau remedial atau mau tinggal kelas. Yang merasa lebih peduli dan jantungnya bisa copot adalah orang tua mereka sendiri. “sekarang tampaknya yang bersekolah itu adalah orang tua, sementara sang anak cuek cuek saja”, demikian komentar salah seorang orang tua siswa.

Apa yang terlintas dalam fikiran siswa Sekolah Dasar sekarang (dan juga dalam fikiran siswa SMP dan SLTA) bila mendengar bel tanda waktu pulang ?Belum tentu mereka membayangkan untuk buru buru menemui ayah ibu, ingin menyantap hidangan makan siang yang lezat, ingin sholat zuhur, ingin membuat PR, atau ingin untuk segera bertualang hingga main bola sepuas puasnya. Namun yang terlintas dalam fikiran mereka adalah bagaimana agar bisa segera memperoleh tempat duduk didepat komputer pada cafenet atau warung net. Membayangkan betapa asyiknya bisa main game on line.

Ada dua permainan game on line yang popular diantara permainan lain yaitu permainan empire dan poker. “Permainan empire adalah permainan koloniaL, ada yang menjajah dan ada yang terjajah. Pemain sendiri berperan sebagai penjajah yang menyerbu negeri orang dengan menunggang kuda. Permainan ini membuat kita punya strategi dan lebih agresif. Kalau permainan poker adalah semacam permainan berjudi, pakai kartu dan ada taruhannya, walau tidak memakai uang yang sebenarnya. Pemain bisa jadi emosional dan marah marah. Kalau ada orang dalam box internet berkata jorok, marah marah, pasti mereka sedang main game on line yang bernama poker”, kata Muhammad Fachrul Anshar (12 tahun ) menjelaskan. Pemilik cafenet dan warnet yang peduli tentu sangat tepat bila memberi peringatan agar pengguna internet tidak membuka situs porno dan berkata jorok dan kasar.

Permainan game on line memang sangat mengasyikan, ditambah lagi karena pemilik warnet juga memanjakan pengunjung cilik dengan fasilitas box yang sejuk, tempat duduk nyaman dan headphone yang bagus serta harga agak yang miring. Sekarang internet sudah menjadi industry ICT milik rumah tangga, apalagi dengan modal cuma pulsa telpon namun bisa meraup uang jajan siswa sampai mereka tekor atau deficit. Memang dalam pengamatan bahwa banyak siswa SD sampai siswa yang lebih besar menjadi pencandu internet- game on line- lebih betah berada dalam box net selama berjam-jam, menahan lapar, enggan untuk pulang, menahan panggilan orang tua sampai uang jajan dan kalau perlu uang sekolah mereka dihamburkan di sana.

Inilah yang menjadi keluhan banyak orang tua terhadap prilaku anak mereka yang timbul akibat menjamurnya industry internet- ada internet yang diberi izin sampai kepada internet liar. Dahulu orang tua protes dan mengutuk usaha hiburan yang bernama play station. Karena perhatian anak anak banyak terfokus hanya untuk datang ke play station dan enggan untuk belajar di dalam kelas. Sering siswa membolos dan lari ke play station. Sejak saat itu play station liar dan play station pengganggu telah menjadi musuh guru, orang tua dan musuh siswa dalam belajar, karena ia mampu menghancurkan minat dan motivasi belajar mereka.

Tentu saja banyak orang tua berharap agar play station penganggu segera lenyap. Kini play station mungkin sudah agak lenyap atau kurang diminati karena suasananya terlalu hiruk pikuk. Namun timbul lagi gangguan belajar yang lebih dahsyat bagi siswa yang tidak bisa mengontrol diri yaitu game on line. Sekali lagi bahwa game on line bisa membuat pengguna internet – para siswa- tergila gila, terbius hingga lupa diri untuk pulang.

Industry internet yang menjamur di suatu kota/ desa atau nagari mampu menyedot banyak pelajar. Orang tua yang anak mereka masih belajar di SD atau SMP sering cemas. “wah anak ku selalu lambat pulang, aku cemas kalau ia tertabrak motor, atau memperoleh gangguan dari orang yang jahat”. Orang tua yang selalu menunggu dengan harap harap cemas, namun sang anak tenang tenang saja dalam box internet.

Benar bahwa tumbuhnya industry internet yang dikelola oleh bisnis rumah tangga atau bisnis hiburan kecil kecilan telah membuat prilaku baru bagi generasi junior ini. Mereka tidak lagi gagap teknologi, mereka telah mampu mengotak atik key board computer dan kaya dengan pengalaman dalam dunia maya. Namun mereka menjadi lebih agresif, kurang sabaran di rumah. Karena game on line juga mendorong mereka untuk agresif. Mereka juga menjadi kurang gerak dan kurang berkeringat, adakalanya mereka terbiasa senang menahan lapar, menahan kencing (maaf). Kalau ini terbiasa dipastikan mereka akan kronis untuk sakit lambung, sakit usus dan sakit ginjal kelak.

Kalau semua siswa di Indonesia sudah pada kecanduan dengan game on line sampai berjam-jam, kurang gerak dan kurang keringatan, maka diduga bahwa akan tidak ada bangsa Indonesia lagi yang mampu memenangkan kejuaraan olah raga di tingkat Asean, Asia apalagi tingkat dunia. Negara luas tetapi kualitas tenaga manusianya “letoi tidak berdaya”. Juga bila banyak siswa yang cuma jadi kerajingan dengan game tetapi pemalas dalam bergerak dan berkarya, maka kelak bila telah dewasa mereka akan menjadi orang dewasa yang juga pemalas dan jadi beban hidup bagi orang lain “yang cuma cerdas otak, pintar berangan angan tetapi malas dalam melakukan action. Kecanduan game on line pada sebagian siswa membuat mereka punya karakter baru. Yaitu karakter boros, pemalas dan sampa kepada karakter suka mencuri uang teman atau uang orang tua.

Rasanya anak laki-laki penulis yang sekolah di SD sudah menjadi anak yang baik, karena santun, taat, patuh, suka belajar dan suka membantu. Namun akhir akhir ini sering telat sampai berjam-jam pulang ke rumah. Tentu saja ibunya jadi cerewet dan rewel. Kadang- kadang ia juga suka bertengkar dengan adiknya gara gara uang dalam celengannya dicongkel. Atau ibunya separoh menuduh karena dompetnya sering berantakan. Sampai suatu hari ia jadi malu tertangkap tangan menghela uang yang cuma dua ribuan. Tapi itu kan karakter mencuri. “Apakah ayah mengajar mu untuk mencuri uang ?” Bisik penulis padanya agar ia tidak merasa dipermalukan.

Penyebab prilaku mencurinya adalah karena ia merasa uang jajannya tidak cukup karena ternyata setiap hari menjadi pelanggan game on line. Karena uangnya habis di internet ia pun sering pulang jalan kaki sejauh 4 km “Oke, ayah tambah uang jajan kamu dan kamu hanya boleh pergi ke internet hanya untuk satu jam. Sisakan uang untuk ditabung. Bila melanggar aturan kamu dihukum dan mencangkul rumput depan rumah selama satu jam !”. Sangat bijaksana bila orang tua selalu berbahasa santun pada anak dan menjauhkan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Namun bagaimana nasib anak lain yang sama karakternya, namun orang tua mereka suka melakukan KDRT?

Internet dan game on line punya manfaat positif, seperti diungkapkan di atas. Anak jadi cerdas, kaya dengan kosa kata, tangkas, wawasan luas dan tidak gagap teknologi. Namun efek negatif akibat ketidak mampuan mereka dalam mengendalikan diri, maka mereka menjadi “addicted” atau ketagihan, lupa pulang, malas belajar hingga bermasalah dengan orang tua dan guru di sekolah. Solusinya adalah agar ada pengaturan. Sudah saatnya ada penertiban internet liar, walau telah menjadi industry rumah tangga, karena sudah menyangkut kenyamana anak anak secara umum. Guru di sekolah mungkin juga harus menyediakan internet di pustaka tetapi tidak untuk game melulu (namun dalam kenyataan bahwa banyak kodisi SD yang sangat parah- dinding kelas jorok dan bangku reot). Orang tua juga perlu bijaksana dalam memahami dan memberi anak tanggung jawab dan perhatian. Yang lebih penting lagi agar para penguasa public (pemerintah) mulai dari ketua RT, ketua pemuda, kepala Desa, Wali nagari, sampa kepada pemberi izin warnet (legislatiif, eksekutif dan yudikatif) juga perlu mengatur kepemilikan warnet terhadap siswa SD dan SMP yang tidak mungkin mampu mengendalikan diri dan emosi mereka.

Rabu, 17 Maret 2010

Harga Kesehatan Tubuh Sangat Mahal

Harga Kesehatan Tubuh Sangat Mahal
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Saya termasuk orang yang tidak suka melahap semua acara televisi. Bila acara terasa tidak berguna maka televisi cenderung dimatikan. Namun rasa ingin tahu saya tergelitik saat melihat sekilas acara Kick Andy di Metro TV. “Wah acara apa ini , kok pakai kata kick segala, mungkin acara sepak bola atau acara olah raga yang lain ?”.
Kick Andy bukanlah acara olahraga walau di sana ada kata “kick”, namun ia adalah acara olah rasa atau olah emosi. Acara ini menjadi menarik karena memuat atau melibatkan unsur emosional. Berisi informasi, pengalaman, liku-liku kehidupan manusia yang penuh dengan ketegaran dan pencerahan. Jadi acara tersebut terkesan punya nilai pendidikan dan juga nilai hiburan.
Selanjutnya, bahwa saya bukanlah orang yang cengeng yang mudah menangis, meneteskan air mata, dan saya sendiri sudah lama tidak menangis lagi. Namun saat mengikuti alur cerita dalam acara kick andy, tiba-tiba air mata saya meleleh, dan terasa panah di pipi. Emosi saya terasa diaduk aduk oleh plot-plot dialog oleh presenter dan tokoh tokoh hebat yang langsung terlibat dalam acara “Kick Andy Hero” di awal bulan Maret (2010) tersebut.
Penyerahan anugerah pada seorang tokoh, pemuda buntung total, jalanya seperti merangkak, namun sangat kreatif, inspiratif dan inovatif bagi saya dan banyak penonton. Ia adalah pemuda hebat, walau kedua kaki buntung total ternyata mampu menghidupi banyak karyawan dari usaha yang ia rintis. Begitu pula dengan tokoh lain, juga seorang pemuda, namun buta total, jalanya hampir meraba-raba, mampu menciptakan sound track untuk produk ICT (information communicative technology) dengan menggunakan komputer, bagaimana ia melihat dan menciptakan dengan ketajaman syaraf jari dan ketajaman mata hatinya. Kedua tokoh cacat yang sangat hebat tadi pasti telah menjadi motivator dan inspirator yang luar biasa bagi jutaan penonton metro TV yang memiliki kondisi tubuh yang normal. Kita dan mereka harus malu dengan dua kaki dan dua mata yang mereka miliki bila ternyata tidak berdaya dalam hidup ini.
Acara kick Andy berikutnya, masih dalam bulan Maret ini, adalah tentang transplantasi ginjal atau cangkok ginjal. Betapa amat berharganya sekeping ginjal apalagi dua keping ginjal dalam rongga tubuh kita yang berguna dalam menyangga kelangsungan hidup kita, namun banyak orang (kita) kurang menyadari tentang harkat dan harga sekeping ginjal tersebut bagi kehidupan. Sementara itu betapa orang yang menderita gangguan ginjal mendambakan kesehatan ginjal, berharap agar mampu memperoleh tubuh yang segar bugar (fit and fresh) dan ingin merasakan “betapa indahnya dan nikmatnya kalau bisa kencing (maaf) secara normal lagi”.
Betapa gangguan ginjal telah membuat dunia ini terasa dan terlihat tidak indah dan menarik lagi bagi sang penderita gangguan ginjal. Kemudian betapa mulianya jiwa seorang bapak yang amat rela untuk mendonorkan sekeping ginjalnya untuk kelangsungan hidup anak kandungnya dan ia pun ikhlas atas resiko sebagai pendonor ginjal. Atau betapa tulusnya hati seorang kakak yang telah menyerahkan sekeping ginjalnya pada adiknya, walau akhirnya tidak lama bisa bertahan hidup dan ia pun meninggal dunia (setelah bertahan hidup selama lima tahun). “Sedikitpun aku tidak menyesal, telah menyerahkankan ginjal saya pada adik sya walau akhirnya ia pun meninggal, namun ia kan mampu bertahan hidup selama lima tahun dan sekarang ginjal ku pun ikut pergi bersamanya”.
Kini bagaimana halnya dengan saya dan kita semua. Kita sering kali tergila gila mengejar kepuasan dunia dan kepuasan hidup belaka. Kita hanya puas dan bangga dengan karir yang meningkat, mobil mengkilat dan rumah yang begitu megah. Pergi jalan-jalan keluar negeri yang memberikan kebahagian, sekali lagi, kepuasan yang semu. Betapa mulianya tokoh tadi yang begitu ikhlas menyerahkan sekeping organnya (ginjal) pada orang yang sangat mendambakanya demi menyambung kelangsungan hidupnya. Juga betapa kaya dan bahagianya jiwa tokoh buta dan tokoh buntung yang bisa hidup dengan penuh arti, sekaligus telah menjadi motivator dan inspirator bagi jutaan orang dengan tubuh lengkap untuk mempedayakan diri mereka.
Ada pelajaran tersirat dari tayangan televisi tadi, yaitu bagaimana agar kita bisa berbagi dengan sesame, menyayangi dan mencintai organ tubuh kita. Mengajak banyak orang untuk bisa memelihara tubuh dan oragan tubuh mereka, seperti mata, paru-paru, jantung, rambut, ginjal dan kulit. Betapa banyak orang kurang peduli dalam memelihara dan menyayangi mata. Lihatlah bahwa banyak buruh las karbit di bengkel yang bekerja tanpa menggunakan masker mata.
Atas nama gaya hidup moderen, banyak orang yang tergiur oleh tipuan iklan bahwa yang hebat dan moderen itu adalah kalau seseorang selalu mengkonsumsi rokok, minuman bir/ minuman keras, sampai kepada minuman dan makanan yang kaya dengan zat pewarna dan penyedap rasa (sebagaimana dianjurkan iklan oleh belasan stasiun televisi di Indonesia ini). Kurikulum di berbagai sekolah tidak pernah mengajarkan tentang tekhnik merokok yang hebat. Namun konser dan ivent olah raga yang disponsori oleh industry rokok sangat sukses dalam membujuk dan menciptakan ribuan pelajar untuk menjadi pencandu rokok. Coba lihat sekarang bahwa dimana ada keramaian- konser music atau acara olah raga, maga disana spanduk iklan rokok menyambut mereka dengan semarak. .
Percuma saja pada beberapa tempat mangklnya para remaja dibuat semboyan dan ajakan seindah mungkin “jauhi narkoba dan say no to drug”, kalau pintu untuk mengkunsi rokok dibuka lebar-lebar. Karena merokok itu sendiri adalah pintu untuk memasuki dunia narkoba. Omong kosong kalau tiba-tiba saja seorang siswa bisa menjadi pengguna narkoba. Hampir dipastikan bahwa mereka menyentuh benda haram (narkba) ini setelah terlebih dahulu sukses sebagai perok- pelajar pria atau pelajar wanita. Merokok, apalagi mengkonsumsi narkoba, sungguh membahayakan paru-paru, otak, dan jantung.
Media massa- cetak dan elektronik- sangat efektif dalam membius dan mengobah pola fikir bangsa Indonesia. “wah kamu kuno kalau tidak mencoba fast food ini, wah kamu kampungan kalau tidak mengkonsumsi makanan bermerek ini”. Kini bangsa kita telah menjadi bangsa yang paling gemar menonton dan hampir malas untuk berolah raga. Bagi yang memiliki sarana transport- sepeda motor dan mobil- telah menjadi pemalas untuk bergerak dan berjalan kaki. Yang lain mungkin juga kurang tahu bagaimana kiat hidup segar dan bugar- fit and fresh- itu.
Di suatu tempat ada pemuda yang maniak dalam mengkonsumsi minuman berlabel, cuci muka dengan air mineral, dan selanjutnya untuk minuman saat sarapan pagi, makan siang dan makan malam adalah minuman berlabel (mengandung zat pengawet, penyedap dan pewarna) yang dikemas dalam botol atau kaleng. Setelah mengkonsumsinya dalam rentang waktu agak lama maka ia mengalami gangguan empedu dan ginjal. Gaya hidup dan pola makan dan minum yang salah telah mendatangkan resiko bagi kesehatan tubuh dan jiwa mereka. Badan yang sakit telah membuat dunia ini tidak indah lagi untuk di jalani. “Sayangilah tubuh, lakukan pola makan dan hidup yang sehat dan cintailah organ tubuh mu”. Mungkin demikianlah anjuran dan nasehat orang yang sedang dilanda penyakit serta gangguan organ tubuh terhadap orang lain.
Untuk hidup sehat, kita pemeluk Islam sangat tepat bila mengikuti anjuran dan cara hidup Rasullullah SAW. Dalam sejarah nbi diketahui bahwa Nabi selalu tidur lebih awal, tidak menyukai aktifitas begadang. Dan bangun malam untuk beribadah pada Sang Pencipta langit dan bumi- shalat tahajjud dan inipun dilaksanakan untuk mencapai kesucian dan kebersihan jiwa. Rasullulah, para ahabat dan banyak orang sholeh menghindari (mengharamkan) khamar- minuman keras- menjauhi rokok, melaksanakan puasa sunat dan kalau makan maka berhenti sebelum kenyang.
Banyak minum air putih, mengkonsumsi makanan berserat, kaya vitamin dan protein bisa membuat tubuh sehat. Cukup olah raga, cukup istirahat dan cukup tidur adalah anjuran cara hidup sehat dari dunia kesehatan yang selalu up to date. Bila kita telah melaksanakan pola dan cara hidup sehat yang demikian, namun tiba-tiba kita sakit- mengalami gangguan organ, barangkali inilah yang dikatakan sebagai takdir yang harus kita terima dengan sabar dan tawakal. Namun secara umum bahwa pola hidup yang sehat akan mendatangkan berkah kesehatan bagi kita, merasa bugar dan sehat selalu. Kini lakukanlah pola hidup sehat karena harga kesehatan tubuh itu sangat mahal.

Sabtu, 13 Maret 2010

Warga Sekolah Perlu Menghargai Waktu

Warga Sekolah Perlu Menghargai Waktu
Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Apakah ungkapan time is money masih ada di sekolah-sekolah dan apakah warga sekolah masih ada yang memahaminya ?Tentu saja ada. Kalau ada kenapa kok begitu banyak siswa yang keluyuran saat jam belajar. Ibu dan bapak guru melangkah dengan penuh enggan ke dalam kelas ?. Kenapa siswa dan warga sekolah yang lain ( yang menyebut diri sebagai orang moderen dan peduli dengan teknologi, namun membenamkan kepala sampai berjam-jam hingga lupa untuk pulang, beribadah dan lupa dengan tanggung jawab lainnya di rumah, gara-gara kecanduan dengan game online pada internet. Tampaknya anak-anak sekarang tidak takut apalagi sedih bila rapor mereka penuh dengan tinta merah. Namun yang lebih cemas adalah orang tua mereka. Kalau begitu terpantau fenomena bahwa yang sekolah itu bukan lah siswa itu sendiri tapi yang kuat untuk menyuruh mereka bersekolah adalah orang tua mereka. Ya itulah zaman yang tumbuh makin gila.

Memotivasi dan mengajak anak dengan seruan “time is money” dan “assa’ah kas syaif- waktu itu laksana pedang” mungkin terasa sudah sangat klasik bagi mereka. Namun bagi orang yang senantiasa menghayati dan mengaplikasikannya dalam kehidupan akan menjadi sukses. Yang kurang menggubrisnya,tentu akan menjadi the losser- orang yang kalah di dunia ini, karena mereka benar- benar terbunuh oleh waktu.

Orang yang sukses dalam karir dan dalam cita-cita dapat dijumpai dimana-mana. Mengapa mereka bisa sukses ? Jawaban secara klasik adalah karena mereka bersahabat dengan waktu. Implikasi dari ungkapan “time is money” adalah bahwa kita musti membiasakan hidup dengan disiplin tinggi, penuh semangat, suka bekerja keras dan senang melakukan eksplorasi- melakukan penjelajahan. Orang-orang sukses di negara maju seperti di Jerman, Prancis, Singapura, Jepang dan Amerika, atau juga di negara kita sendiri, adalah karena mereka memiliki karakter endeavour atau semangat suka bekerja keras dan menggunakan waktu secara efektif dan effisien.

Menjamurnya produk ICT (information communicative technology) di pasaran seperti cellular phone, TV, note book, LCD, MP3, internet, facsimile, dan lain-lain adalah hasil dari kerja keras para inventor (penemu) dalam bidang ICT ini. Karena produk-produk tersebut diciptakan secara massal dan biaya atau harganya juga reasonable telah membuat masyarakat luas mampu memiliki, mengakses atau mengkonsumsi nya secara massal pula. Cara dan pola mengkonsumsi produk ICT tersebut menentukan gaya hidup mereka, apakah mereka menjadi pengguna teknologi yang passif atau menjadi pengguna teknologi yang cerdas sehingga mampu melejitkan potensi diri mereka.

Kelompok usia remaja remaja (mulai dari siswa SMP, SLTA sampai kepada mahasiswa) tercatat sebagai pemakai produk ICT yang terbanyak di dunia. Coba perhatikan siapa yang banyak lalu lalang di keramaian kota, di mall/ plaza sampai kepada sambil mengotak atik HP atau MP3 dan yang duduk di dalam boxnya warnet atau café net, maka pastilah kelompok usia remaja. Kualitas para remaja yang hidup pasa zaman sekarang akan menentukan kualitas bangsa di masa depan. Namun bagaimana semangat hidup remaja sekarang secara umum, masihkah mereka memiliki endeavour- suka bekerja keras- dan senang menghargai waktu seperti ayah dan kakek mereka ?

Karakter remaja sekarang secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu mereka mereka yang cenderung bergaya hidup endeavour dan bergaya hidup hedonis. Endeavour yaitu, sekali lagi, senang bekerja keras, memanfaatkan waktu secara efektif, effisien, memiliki motivasi dan memiliki semangat hidup yang hebat. Sementara gaya hedonis adalah gemar mencari kesenangan hidup dengan sedikit usaha. Prilaku ini terpantul dari kebiasaan suka kongkow, bermalas-malas, dan tidak mau tahu dengan urusan waktu.

Kemungkinan jumlah kelompok remaja yang berkarakter endeavour tidak sebanyak mereka yang berkarakter hedonis. Bisa jadi jumlah mereka yang bergaya hidup hedonis cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Mereka yang berprilaku hedonis punya semboyan hidup “hidup santai dan masa depan cerah”. Ini terpantau pada kelompok remaja yang gemar kongkow-kongkow, dan hura-hura secara berlebihan di mall, di plaza, di café, di keramaian jalan raya, dan sampai kepada remaja dalam bis kota. Gaya hidup yang begini perlu untuk diobah. Bila tidak bahwa suatu waktu akan muncul ledakan patologi social, dimana sejumlah besar orang remaja tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak berdaya, suka memelas, tidak bersemangat dan miskin dengan motivasi hidup. Akhirnya mereka menjadi beban bagi kehidupan orang- family, teman atau pemerintah.

Dari mulut ke mulut dikatakan bahwa nenek moyang kita adalah orang-orang pekerja keras. Mereka adalah pelaut ulung, pedagang dan pekerja yang rajin. Bila mengalami kesusahan maka mereka segera pergi merantau untuk mencari sumber penghidupan baru. Mereka sangat menghargai waktu. Namun bagaimana eksistensi kita sebagai cucu mereka, apakah kita sama dengan mereka- suka kerja keras, dan mengharai dan bersahabat dengan waktu ?

Prilaku remaja yang menjadi fenomena umum saat ini adalah kita (sebahagian remaja) suka mengeluh, mengeluh kalau diberi tugas rumah dan tugas sekolah. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu hanya untuk urusan hiburan, mendengar dan melahap program hiburan dan musik hampir sepanjang waktu. Kita mengkonsumsi acara televisi hingga berjam-jam. Kita menjadi untuk malas bergerak dan berolah raga, suka menunda pekerjaan, dan juga menjadi maniakdengan permainan digital dan sebagainya. Karakter-karakter ini berpotensi menjadi batu penyandung dalam meraih kesuksesan kita di masa depan, Maka untuk itu kita perlu menendang karakter yang kurang terpuji ini secepatnya.

Menikmati hiburan (entertainment) sangat kita perlukan untuk mengendorkan saraf menenangkan jiwa dan fikiran yang tegan. Secara umum orang mendengarmusik/ lagu, tidur atau menonton film atau sinetron untuk mengendorkan ketegangan jiwa. Orang yang peduli dengan waktu dan kualitas hidup, mereka melakukan hal ini hanya sekedar pelepas lelah saja. Namun banyak yang menjadi maniak: gila hiburan, melahap semua program televisi dari saat bangun tidur hingga malam tiba. Mereka melahap lagu album demi album dan melahap semua kepingan VCD film dari sinetron.
Fenomena miring sebagaimana disebutkan di atas bisa jadi kita lakukan dan juga dilakukan oleh banyak rumah tangga lain. Sementara itu bagaimana dengan fenomena prilaku remaja pada banyak sekolah ? Banyak pelajar atau remaja yang kurang peduli dengan waktu. Ini terlihat dari kebiasaan mereka yang suka begadang, suka hura-hura, suka menunda waktu, suka mejeng di mall/ plaza, dan jalan-jalan tidak karuan atau kecanduan dengan game online hingga menghabiskan iuran sekolah atau uang jajan hingga berjam-jam. Campur tangan dari orang tua dan nasihat dan bimbingan dari guru tetap sangat dibutuhkan untuk memotivasi mereka tentang cara penggunaan waktu yang tepat untuk belajar, istirahat, dan melakukan aktivitas lain di rmah.

Umumnya orang orang sukses di dunia ini seperti pebisnis, pedagang, pemikir dan tokoh tokoh sukses lainnya adalah orang orang yang tidak suka begadang, hura-hura, mejeng di mall/ plaza, dan jalan-jalan tidak karuan hingga kecanduan dengan game online. Mereka adalah orang orang yang suka bersahabat dengan waktu dan memiliki semangat kerja keras yang hebat. Tidak mungkin para remaja yang tercatat sebagai peraih medali emas dalam ajang olimpide sains (kimia, fisika, biologi dan matematika) adalah orang-orang yang gemar hura-hura dan mejeng di mall dan plaza.

Remaja- remaja yang hafal dengan al-Qur’an, jago dalam lomba akademik tentu saja tidak suka kongkow- bermalas malas di kafe, di warung kopi sampai berjam jam atau bersikap suka menunggu-nunggu. Kalau demikian halnya, maka untuk mengejar kesuksesan, setiap orang musti mampu menendang karakter negatif tadi jauh-jauh. Sebagai gantinya mereka musti memiliki karakter menghargai waktu, bersahabat dengan waktu, dan bersikap penuh semangat. Sikap ulet (penuh semangat) tidak akan tumbuh dengan sendirian. Sikap ini perlu pengkondisian, tekad dan komitment, serta dukungan lingkungan.

Sikap dan semangat hidup seseorang ternyata bisa menular pada orang lain ibarat virus. Bila seseorang banyak dikelilingi oleh orang yang pesimis, passif, tak berdaya,suka mengejek dan kurang pandai menghargai orang lain maka dipastikan bahwa pribadi mereka akan jadi hancur lebur.Untuk menumbuh sikap endeavour (semangat kerja keras) dan sikap bersahabat dengan waktu, sangat membutuhkan pemodelan dari orang tua, guru-guru, teman-teman dan tokoh yang dipilih. Adalah suatu hal yang positif bila banyak kaum remaja yang membiasakan diri untuk melakukan brbagai kesibukan- mengerjakan hobi posititif, membantu orang tua, aktif dalam organisasi dan aktif dalam mengerjakan tugas sekolah. Ini adalah langkah awal untuk menjadi orang yang memiliki sikap endeavour.

Strategi untuk menghargai waktu adalah dengan cara, sekali lagi, menjauhi kebiasaan hura-hura, kongkow, menunda pekerjaan, maniak dengan game dan hiburan dan seterusnya musti mempunyai agendakehidupan. Orang sukses mempunyai sejumlah aktifitas harian, dari pagi hingga sore/ malam, kemudian juga [unya sejumlah kegitan mingguan- seperti mendalami agama, olah raga, menguasai bahasa asing lainnya atau menyelesaikan proyek dalam membantu ekonomi orang tua. Saat semangat kerja keras dan menghargai waktu mulai langka di sekolah , maka marilah kita menjadi orang pertama sebagai pionir untuk mengajak teman, keluarga dan orang lain, dengan harapan untuk menngkatkan kualitas diri dan kualitas bangsa ini, dan pesan . .

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture