Rabu, 06 Juli 2011

Tuhan.....,Berilah Aku Kedamaian Fikiran

Tuhan.....,Berilah Aku Kedamaian Fikiran

Oleh: Marjohan Usman

http://penulisbatusangkar.blogspot.com

            Kedamaian fikiran sangat berharga dalam hidup ini. Kondisi fikiran yang begini mampu membuat aku bisa tersenyum meski aku tinggal dalam gubuk sederhana. Aku bisa tetap bahagia walau sedang mengendarai sepeda motor rinsek. Hilangnya kedamaian fikiran bisa menjadi musibah bagiku, termasuk bagi beberapa orang temanku. Beberapa orang temanku tidak mengenal dirinya lagi dan malah ada yang telah hilang ditelan bumi.

            Suatu hari di akhir usia anak-anak, aku memperoleh teman baru. Aku berfikir bahwa ia pasti seorang anak yang beruntung, karena ia tinggal dengan bibinya seorang wanita kaya, punya rumah bagus. Semua kaum kerabatnya terkenal sebagai orang-orang yang punya pengaruh dan punya ekonomi sangat mapan. Saat itu ia pindah sekolah dari sebuah SMP di Propinsi Riau. Papanya seorang kontraktor dan mama tidak bekerja, kecuali mengurus rumah saja. Mamanya sangat menyayanginya dengan sepenuh hati dan malah terkesan over protektif- terlalu banyak melindungi dan banyak melarang “kamu tak boleh melakukan yang itu…dan juga tidak boleh pergi ke sana”.

            Temanku yang bernama Hendra ini banyak berada dalam rumah. Itu karena pola asuhan mamanya yang banyak nerasa taku atas keselamatan anaknya- “takut anak cedera, taklut anak terjatuh, takut anak berkelahi dengan teman dan takut anak tertabrak mobil”. Ya siapa yang merasa takut, tapi ini terlalu berlebihan. Akhirnya Hendra menjadi anak yang penurut, kurang banyak teman- kurang mampu bersosial, dan juga menjadi anak yang pemalu.

            Suatu hari mamanya terjatuh saat menyapu lantai, dilarikan ke rumah sakit dan meningga dunia. Mamanya meninggal karena gangguan jantung. Untuk selanjutnya pengasuhan Hendra berpindah ke bibinya, seorang janda separoh baya dengan enam orang anak. Bibinya berwatak keras dan terkesan kurang ramah. Tersenyum adalah sesuatu hal yang sangat mahal darinya. Temanku Hendra seharusnya  memiliki kemampuan beradaptasi dari pola asuh ibu yang overprotektif dan penuh kasih sayang kepada bibi yang tegas, keras dan suka aktivitas. Ia member  tanggung jawab pada Hendra dan Hendra mematuhi semua aturan dan larangan yang berlaku di rumanya “Tidak boleh menghidupkan TV, tidak boleh mendengar lagu terlalu berisik, tidak boleh menerima teman karena rumah pasti akan sembrawut, tidak boleh berkelahi dengan anak tetangga” dan akhirnya Hendra memilih tinggal dalam kamar sepanjang hari sebagai alternatif aman.

            Aku termasuk remaja kecil yang dibolehkan berkunjung ke rumah Hendra- karena menurut bibinya aku memiliki karakter yang baik, dan bibinya senang dengan ku. Aku memanggil Hendra dan mengajaknya bercanda… namun aku melihat bahwa Hendra sangat penggugup di rumahnya sendiri. Namun ia senang bermain ke rumahku, walau kondisi bangunannya amat sederhana. Di rumahku Hendra bisa tertawa terbahak-bahak dan bisa bercanda sepuas-puasnya. Namun bila balik ke rumahnya, ia harus memasang karakter serius kembali. Ada lagi karakter aneh pada Hendra yang kulihat bahwa ia suka tarik diri dari keramaian orang. Bila familinya datang walau dengan mobil sedan mewah, maka ia buru-buru lari ke rumahku yang hanya terbuat dari papan yang agak reot. Aku pernah bertanya “Kok kamu lari ke sini, enaklah punya family kaya dan punya bobil bagus”. Ia menjawab bahwa ia tidak memperoleh tempat dalam hati famili-familinya, ia hanya merasa sebagai orang kelas dua bersama mereka. 

            Karena tuntutan studi, aku akhirnya berpisah dengan sahabatku. Pernah setelah satu atau dua tahun aku tidak berjumpa lagi, saat aku menjumpainya ia sudah menjadi semakin mudah gugup dan sangat kaku. Mukanya penuh jerawat, karena ia tidak peduli lagi dalam merawat mukanya. Aneh….bahwa kalau berjalan ia suka menunduk- melihat ibu jari kaki saja. Akupun mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengannya. Ia terlihat menjadi antisocial dan tidak peduli untuk berkomunikasi. Akupun tidak punya waktu untuk mendekat sekedar untuk mengatakan hello. Namun setelah bertahun tahun tidak berjumpa, aku datang menemui bibinya. Bibinya mengatakan bahwa ia telah mengalami gangguan mental- skizoprenia/ pribadi yang terbelah. Ia suka jalan sendirian, marah-marah dan suka mengumpulkan puntung-puntung rokok untuk dihisap.

            Kedamaian fikiran juga sirna dari temanku yang bernama “Zamri Amros”. Ia saat itu belajar di sebuah SLTA dan tinggal dalam kamar kost yang sangat sederhana. Aku sering mengajaknya ke rumah atau mengantarkan nasi dengan sepotong goreng telur. Sarapan yang demikian adalah sesuatu yang mahal buatnya. Aku memahami posisi ekonomi orangtuanya sebagai petani kecil- petani miskin yang tinggal di kaki bukit kapur yang tidak subur. Ia jarang pulang kampung karena bakal tidak ada yang diharapkan (uang, harta dan makanan) dari kampung.

            Pulang kampung bukan lah yang membahagiakan bagi Zamri. Di sana ia malah menderita dan sedih yang mendalam melihat kondisi ekonomi dan kesehatan semua anggota keluarganya. Ia tidak pernah memperoleh motivasi dan inspirasi untuk sukses dari mama dan papanya. Sebaliknya, ia malah banyak memperoleh keluhan dan ratapan dari mereka. Ia merasakan hidup ini sempit dan suram. Akibatnya perilakunya tidak ceria dan ia malah penuh  dengan kecemasan- cemas kalau berbuat salah dan cemas kalau dimarahi orang.

            Tamat SLTA, ia malah bengong “mau pergi kemana ?” Ia tidak punya keberanian karena ia memandang diri sangat rendah. Ia tidak berani untuk m,elangkah, karena ia tidak pernah diajar untuk berani. Ia akhirnya pulang kampung dan ia menjadi tumpuan harapan semua orang. Ia sendiri tak mampu memenuhi harapan banyak family. Aku mendengar sahabatku mengalami sakit berat gara-gara fikirannya. Badannya kurus dan ia akhirnya hilang ditelan bumi ini…untung aku masih menyimpan fotonya, saat berkunjung ke kampungku. Hidup ini sangat ganas bila fikiran kita tidak damai.

            Andi adalah teman masa kecilku yang amat aku kagumi. Karena ia pintar dan mudah bergaul dan jago dalam balapan. Aku punya banyak memori bersamanya- kami pernah lomba balapan sepeda, pergi berburu burung di sawah dan mencari buah buahan ke kebun tetangga. Itulah bahwa banyak orang tua diseputar rumahku yang hanya pintar berharap namun miskin dalam berempati. Andi sendiri di rumahnya tidak memperoleh banyak bimbingan dalam belajar. Orang tua hanya berfikir dan berprinsip bahwa mengajar anak untuk jadi pintar adalah tanggung jawab guru di sekolah. Urusan pendidikan Andi diserahkan bulat-bulat pada gurunya di sekolah.

            Tentu saja prestasi akademiknya tidak begitu menggembirakan. Namun orangtuanya mampu untuk mengirim Andi ke sekolah dan universitas swasta yang bergengsi dan biayanya mahal. Pendidikan Andi dari SD hingga perguruan tinggi semuanya swasta dan orangtuanya telah mengeluarkan banyak uang dari koceknya buat Andi, kadang mengeluh dan menyesal “Uang banyak habis tapi kamu tetap bodoh dalam belajar”. 

            Tamat Perguruan Tinggi, ia diharapkan harus bekerja, tidak boleh menganggur karena telah menghabiskan banyak uang. Pergi ke kota Jakarta adalah solusinya. Andi pun jadi immigrant di negara sendiri- ternyata susah mencari kerja di kota dengan jutaan manusia yang stress. Yang mudah hanya menjadi sopir taxi. Itupun ia memperoleh cibiran dikampung, “Apa gunanya kuliah mahal-mahal kalau hanya menjadi sopir taxi…!!”. Andi pasti kalut dan kedamaian fikiran adalah hal yang sangat mahal. Hari itu aku ikut berkumpul di rumahnya menunggu mayatnya, ia korban kekerasan dari penumpang taxi yang tidak dikenalnya. Orangtuanya amat terpukul dengan kepergian Andi, anak laki-laki yang gagah, lembut, namun hilang ditelan keberingasan kota Jakarta.

            Sahabatku yang lain yang telah kehilangan kedamaian dalam fikirannya adalah Gope. Secara sekilas aku fikir bahwa ia anak yang beruntung. Ia punya ayah dan ibu dengan ekonomi dan kondisi social yang begitu sehat. Ia malah juga punya hobbi main sepak bola dan ia sendiri ikut masuk klub bola. Aku kemudian berpisah cukup lama karena aku harus melanjutkan studi. Ia sedikit lebih tua dari aku dan seharusnya ia juga harus meninggalkan rumah untuk pergi studi.

            Setelah tiga tahun aku pulang kampung dan berjumpa dengannya, namun ia menjadi pemuda yang banyak minder (rendah diri) dan suka mengurung diri. Ia tidak tertarik berinteraksi dengan tetangga dan juga dengan familinya sendiri. Aku fikir bahwa penyebabnya menjadi kehilangan ketenangan dalam berfikir adalah dari lingkungan rumah sendiri- namun orang suka menyalahkan tetangga. Menurutku penyebabnya adalah factor orang tuanya dan sibling (saudara kandungnya).

            Aku lihat ayahnya tidak berinteraksi dengannya. Mereka terbisaa berjalan sendiri-sendiri, tidak ada acara kebersamaan. Yang ada malah kebisaaan mengecam dan menyalahkan anak bertubi-tubi. Ibunya juga demikian, kurang banyak peduli dengan perkembangan emosi anak- kecuali ia memperhatikan minum dan makan saja. Dalam bidan akademik ia gagal tiap semester dan tentu saja ia tidak memperoleh penghargaan dalam hidup, aku fikir betapa dahsyatnya arti sebuah pujian dan perhatian. Sejak itu ia sering mengkonsumsi pil penenang untuk mengendorkan ketegangan sarafnya. Kekacauan jiwa susah untuk sembuh total setelah usia dewasa. Maka aku ingin semua orang sejak anak-anak memperoleh pujian, perhatian, kebersamaan, dan pengalaman- pengalaman sukses dalam hidup mereka.  

            Bulan lalu aku pulang ke desaku, aku sudah lama tidak kesana, namun begitu sampai di sana aku menemukan ada kuburan baru. Kuburan temanku…ada apa ? Temanku, Young, akhir-akhir kematiannya sangat menderita dengan fikirannya. Ia tidak bergairah dengan hidupnya. Ia juga tidak berbahagia dengan orang tuanya, terutama ayahnya yang sangat pemarah. Dahulu, kalau Young ada kesalahan maka ayahnya suka naik pitam dan memukul kepala dan telinga anaknya. Akibatnya di rumah Young tidak banyak mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Ia merasa orang asing di rumahnya sendiri, mungkin inilah yang dapat dikatakan sebagai peristiwa KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang berkepanjangan yang bisa membuat trauma dan depresi bagi teman ku, yang bernama Young.

            Aku sendiri kadang-kadang juga mengalami problem dengan fikiran sendiri- hingga kedamaian  dalam fikiranku jadi hilang. Namun yang aku rasa sebagai penyebabnya adalah karena masa kecilku yang juga kurang bahagia. Ayahku hampir tidak melowongkan waktu untuk melakukan kebersamaan dengan ku, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan karirnya sendiri. Ibuku juga tidak pernah mengatakan “I love you” pada ku, tidak tahu cara memujiku. Yang ia bisa Cuma banyak marah, mrmerintah dan serba mengatur. Disamping itu aku juga tumbuh sebagai anak yang punya sejuta keinginan dan aku tak mungkin mencapai keinginan tersebut maka aku menangis dalam mimpiku. Namun masih beruntung karena masih ada family, bila datang, yang memberi aku sekeping senyum dan sekeping cinta. Aku bisa bahagia karena masih menjadi remaja/ anak yang punya arti hidup. Aku dan teman-temanku pasti takut kehilangan rasa damai dalam fikiran ini. Aku berdoa kepada Tuhan pemilik kedamaian ini, agar memberi aku dan teman-temanku rasa damai dalam fikiran kami.  

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture