Jumat, 28 Januari 2011

Saatnya Bintang “INS Kayutanam 1926” Bersinar Terang Lagi



Saatnya Bintang “INS Kayutanam 1926” Bersinar Terang Lagi
Oleh: Marjohan, M.Pd
(Pencinta INS Kayutanam
dan Guru SMAN 3 Batusangkar)

Dalam masa sekolah dahulu, setiap kali melewati jalan raya Padang- Bukittinggi, maka yang selalu penulis ingat di kawasan lembah anai dan Kayutanam adalah dua hal, yaitu air mancur dan nama “INS Kayutanam 1926”. Pada komplek INS tertulis kata “Ruang Pendidik”. Dulu, dalam tahun 1980-an, komplek INS tidak begitu terawat dan tampak seakan-akan telah ditinggalkan oleh pemilik dan stakeholdernya.
Orang-orang awam tentu berfikir “Komplek apakah ini ? Bekas sekolah, gudang logistic atau pabrik peninggalan penjajah ?”. Orang-orang yang punya visi bisnis pasti memasang telinga kalau-kalau komplek tua dengan lahan luas bakal dilelang. Apalagi posisinya amat strategi yaitu di pertengahan jalan utama Padang- Bukittinggi, maka pasti mereka berebutan untuk memenangkan tendernya.
Memang benar bahwa “Ruang Pendidik INS Kayutanam 1926 adalah sebuah pabrik otak (baca sekolah)” yang pernah berjaya dan telah menghasilkan manusia-manusia jempolan di negeri ini. Sebut saja nama nama seperti “AA Navis, dan Muchtar Lubis- sang penyair, Bustanil Arifin, FA Moeloek- sang Menteri, Idraman Akmam- direktur BUMN, Djang Jusi dan Mucntar Apin- tokoh intelektual, dan lain-lain . Mereka adalah segelintir lulusannya yang diasah melalui komplek INS Kayutanam 1926 hingga menjadi permata yang bersinar terang.
Sekarang mereka ada yang sudah jadi almarhum dan juga banyak yang masih hidup. Pasti mantan murid INS Kayutanam 1926 yang masih hidup masih tahu banyak tentang figure ‘Engku Mohammad Syafei”. Mereka tentu masih bisa menjembatani fikiran Engku Syafei dengan generasi muda sekarang- kalau tidak tentuk ide dan filosof hidup Engku Syafei akan terputus. Maka selagi para mantan INS Kayutanam masih hidup, mereka patut menjadi key informan untuk mengumpulkan informasi seputar Engku Syafei hingga tergubah senarai fikiran dari Engku Syafei. Bila tidak “ya…nama Engku Sayafei akan menjadi kenangan indah atau malah dilupakan”.
Memang benar bahwa INS Kayutanam adalah pabrik otak. Dikatakan pabrik karena disana ada siklus belajar dan pembelajaran yang dimulai dari siklus “input-proses dan menghasilkan output-outcome’.
Kalau tidak salah, INS sudah berulang-ulang berganti nama. Pada mulanya bernama “Indonesia Nederlandische School”, kemudian menjadi “Institut Nasional Syafei”, dan sekarang menjadi “Institut Talenta Indonesia 2020”. Tentu ini semua punya dasar visi dan misi.
Perguruan Nasional Ruang Pendidik INS Kayutanam didirikan tahun 1926, oleh Engku Mohammad Syafei, memang bertujuan untuk mendidik siswa agar punya jiwa merdeka, aktif-kreatif, mandiri, beretos kerja tinggi, memiliki dasar berbagai ketrampilan/hard skill. Kalau siswanya lulus, maka mereka harus mampu hidup/mandiri (berjiwa entrepreneur). Mereka tidak mengemis pekerjaan kepada pemerintah- saat itu pada pemerintahan Belanda. Karena Engku Sjafei menyadari bahwa sistem pendidikan yang dirancang oleh Belanda pada saat itu adalah untuk mendidik bangsa Indonesia agar bekerja dengan pemerintah colonial Belanda. Yaitu bermental buruh- berkarakter pembantu- (sekali lagi) yang hanya bisa bekerja jadi pegawai Belanda.
Visi dari Engku syafei ini terrefleksi dari para lulusannya INS 1926 yang memang berjiwa kreatif, beretos tinggi, mandiri dan berjiwa merdeka. Saat menuntut ilmu di INS 1926, diperkirakan bahwa Arbi Samah, Nasrun AS, MUchtar Lubis tidak pernah berfikir menjadi PNS “Pegawai Negeri Sipil” pada saat itu. Namun karena etos belajar yang begitu dahsyad maka kemudian mereka menjadi budayawan hebat. Begitu pula dengan Djang Jusi, Mahyudin Algamar, Surkani, Zaini, Hasnan Habib, sebagai contoh, karena etos belajar yang tinggi, fikiran kreatif serta karakter endeavour (suka kerja keras dan serius) maka mereka menjadi orang terkemuka di negeri ini.
Zaman berubah dan perubahan social-pendidikan dan budaya pun terjadi. INS juga dilanda oleh perubahan. Seharusnya stakeholder INS Kayutanam 1926 selalu mengupdate diri- melakukan evaluasi: koreksi dan revisi. Namun Aditi Husni (Cucu Engku Muhammad Syafei), dalam emailnya pada penulis, menyadari bahwa pemiliki dan pengurus INS Kayutanam 1926 tidak / belum melakukan regenerasi tentang manajemen INS Kayutanam, dan baru sekarang terjadi revitalisasi INS walau agak terlambat. Tapi “better late than never”, biarlah terlambat dari pada tidak pernah sama sekali.
Andaikata INS tidak/ belum bisa berkembang pesat, itu bukan kesalahan Engku Muhammad syafei dan para penggantinya, tetapi itu adalah kesalahan kita. Tetapi tidak perlu untuk meratapi kesalahan. Maka yang tepat adalah “mari berbuat sesuai dengan kemampuan dan potensi diri masing-masing untuk sama-sama melakukan revitalisasi (menghidupkan kembali) pesona INS dan Fikiran Engku Muhammad Syafei ini.
Dalam dunia manajemen ada analisa “SWOT” yaitu “Strength- Weakness- Opportunity- Threatening”. Maka INS Kayutanam 1926 pun memiliki kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan. Kelebihan atau kekuatan INS Kayutanam 1926 adalah bahwa ia “memiliki alumni yang bernas dengan jumlah cukup banyak, berpotensi untuk memajukan melalui kekuatan financial dan akademik yang mereka miliki. Juga ia memiliki areal tanah 18 hektar”. Sehingga akan memberikan opportunity (kesempatan) untuk beraktivitas dan berkreativitas untuk ikut mencerdaskan anak-anak bangsa ini.
Kata Aditi Husni bahwa areal INS seluas itu sangat memungkinkan untuk melakukan berbagai usaha/kegiatan yang produktif. Tentu saja butuh pemikiran dan usaha bersama untuk "MAANGKEK BATANG TARANDAM" ini.
Ancaman dan kelemahan INS selama ini, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dr F.A Moeloek dalam e-mailnya pada penulis adalah menemukan "kepemimpinan" dan "guru-guru"yang sesuai untuk "membangkikkan batang tarandam", untuk perguruan/sekolah tersebut, sesuai dengan filosofinya.
Penulis punya grup pada face-book yang judulnya adalah “Indonesia Cerdas” dengan anggota hamper 2000 orang. Kemudian berganti nama menjadi “Pencinta INS Kayutanam 1926”, sehingga anggota bertanya bertanya “Kenapa grup kita berganti nama ?”. Ya itu karena penulis juga terpanggil untuk ikut mensosialisasikan INS Kayutanam dan Pemikiran Engku Mohammad Syafei.
Ke dua nama di atas memiliki kekuatan nama “Engku Syafei dikenal sebagai tokoh pendidik yang berfikiran modern dalam zaman yang belum modern”. Pastilah beliau orang yang hebat, karena beliau tidak meningggalkan karya tulis sebanyak Buya Hamka (Alm) maka tugas kita para pengagum dan pencinta fikiran beliau untuk menulis dan mensosialisasikan idea tau opininya. Kemudian nama “INS Kayutanam 1926 juga sangat popular karena telah melahirkan lulusan berkualitas ibarat intan atau permata- namun prosesnya terjadi. Lulusan tersebut selalu tumbuh dan menjadi tua, sebagian masih hidup dan sebagian lagi telah berpulang. Karena alumni ini mengikuti proses pendidikan langsung dari Engku Mohammad Syafi, maka- sekali lagi- bahwa mereka layak menjadi sumber untuk mengupas tentang pilsafat hidup dan filsafat pendidikan dari Engku Mohammad Syafei.
INS Kayutanam 1926 masih eksist dan nama Engku Mohammad Syafei masih harum. Namun kedua nama ini perlu selalu diupdate- perlu sosialisasi total. Jaya selalu INS Kayutanam 1926 dan harumlah selalu pemikiran Engku Mohammad Syafei, hingga saatnya dan saatnya bintang “INS Kayutanam 1926” Bersinar Terang Lagi.

Senin, 03 Januari 2011

Catatan dari Oki Muraza

Catatan dari Oki Muraza

Assalamu'alaikum,
Pak Marjohan, baa kaba Pak...
Iko ada berita tentang ilmuwan Indonesia yg ada di luar negeri Pak....kebetulan ada nama murid dari Lintau :)

salam untuk keluarga Pak,

salam,
Oki
==

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/01/03/PDK/mbm.20110103.PDK135512.id.html

Berlian Yang Berserak

DEPRESI malah berbuah dua gelar doktor. Ketika posisinya sebagai direktur riset di Center for Advanced Research of Biomedical Engineering, Toin University, Jepang, dicopot pada 1998, Ken Kawan Soetanto sempat tersuruk dalam depresi.

"Berpikir keras sedikit saja langsung muntah-muntah," kata Ken Soetanto, 59 tahun, dua pekan lalu. Padahal Kenlah yang merintis dan membesarkan lembaga riset itu. Pulang kampung ke Surabaya, kota kelahirannya, membuat Ken hidup kembali. Ketika dia merasa terbuang, warga kota itu justru menyambutnya bak pahlawan.

Dia laris diundang ke pelbagai seminar sebagai sumber inspirasi. Setiap kali dia menjadi pembicara, kursi peserta tak pernah ada yang melompong. Sambutan warga Surabaya itu melecut kembali semangat hidup Ken. "Saya terpacu untuk membuktikan diri," kata Ken. Pada saat memulihkan diri dari depresi itulah, Ken malah kembali memburu gelar doktor.

Dua gelar doktor, yakni doktor farmasi dari Science University of Tokyo pada 2000 dan doktor pendidikan dari Waseda University tiga tahun kemudian, menambah panjang deretan gelar di depan namanya. Padahal sebelumnya Ken sudah menyandang dua gelar doktor dari dua kampus elite di Jepang, yakni doktor aplikasi rekayasa elektronika dari Tokyo Institute of Technology pada 1985 dan doktor ilmu kedokteran dari Tohoku University.

Sempat menjadi pengangguran selama beberapa tahun, Ken diangkat menjadi guru besar di Waseda University pada 2003. Bahkan dia menjadi dekan divisi hubungan internasional di almamaternya itu. Metode pendidikannya, Soetanto Effect, diadopsi oleh kampus-kampus di Jepang.

Semua itu didapat Ken dengan berdarah-darah. Kendati sudah mengantongi dua gelar doktor pada akhir 1980-an, tak berarti karpet merah sudah terbentang di depan mata. Ken sempat ditolak menjadi dosen di Jepang. "Padahal gelar doktor saya dari Tokyo Institute of Technology, MIT (kampus teknik terbaik di dunia)-nya Jepang. Semua itu hanya karena saya orang Asia," ujar Ken. Bukan dosen elektronika atau kedokteran sesuai dengan gelar doktornya yang disodorkan, Ken malah diminta mengajar bahasa Indonesia. Terang saja tawaran itu dia tolak.

Sempat putus asa tak kunjung mendapat kerja di Jepang, Ken mencari kerja ke Amerika Serikat. Selama lima tahun, Ken menjadi profesor di Drexel University dan Thomas Jefferson Medical School. Baru pada 1993, Ken kembali ke Jepang karena mendapat tawaran menjadi dosen di Toin University.

Memegang paspor hijau di tangan memang acap perlu usaha ekstra untuk menembus pekerjaan di perguruan tinggi atau lembaga riset di luar negeri. "Butuh usaha panjang untuk membuktikan bahwa orang Indonesia juga mampu dan pandai," kata Andreas Raharso, Kepala Riset Global Hay Group, perusahaan konsultan manajemen yang berkantor pusat di Philadelphia, Amerika Serikat.

l l l

Dalam peta ilmu pengetahuan dunia, Indonesia barangkali hanya noktah kecil yang tak masuk hitungan. Kampus top di negeri ini, seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, atau Universitas Gadjah Mada, tak satu pun masuk daftar 200 kampus terbaik dunia versi Times Higher Education ataupun pemeringkatan Shanghai Jiao Tong University.

Peringkat kampus terbaik di Indonesia masih kalah dibanding perguruan tinggi negeri jiran seperti Chulalongkorn University, Thailand, atau Malaya University, Malaysia. Apalagi jika disandingkan dengan dua kampus terbaik di Singapura, National University of Singapore dan Nanyang Technological University. Kedua kampus ini selalu berada di peringkat atas perguruan tinggi terbaik di dunia.

Bukan berarti negeri ini benar-benar paria dan begitu miskin bakat hebat seperti Ken Soetanto ataupun Andreas Raharso. Selain yang bekerja di dalam negeri, jumlah ilmuwan Indonesia yang berserak di luar negeri tak sedikit. Saat ini ada sekitar 2.000 ilmuwan asal negeri ini yang bekerja di kampus atau lembaga riset di pelbagai negara. Mereka bagaikan berlian yang berserak. Dari Arab Saudi hingga Rusia. Di Amerika Serikat saja ada 321 ilmuwan dari negeri ini. Sebagian dari mereka yang terhimpun dalam Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional berkumpul di Jakarta selama tiga hari, pertengahan bulan lalu.

Mereka tak bekerja di lembaga riset atau kampus ecek-ecek. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, misalnya, usianya baru 34 tahun ketika diangkat menjadi profesor dan kemudian mengepalai Laboratorium Pengindraan Jarak Jauh di Chiba University, Jepang. Padahal, seperti pengalaman Ken Soetanto, kampus di Negeri Matahari Terbit sangat sulit menerima dosen dari luar negeri. Karyanya berderet, di antaranya sensor circularly polarized synthetic aperture radar. Sensor Tetuko ini mengatasi kelemahan sensor observasi bumi generasi lama, mampu menembus awan, kabut, asap, bahkan kelebatan hutan.

Di bidang fisika ada Andrivo Rusydi, profesor di National University of Singapore; Ihsan Amin, peneliti di TU Dresden, Jerman; Profesor Romulus Godang di University of South Alabama, Amerika; dan Rahmat, fisikawan di University of Mississippi, Amerika. Juga Haryo Sumowidagdo, peneliti muda di Pusat Riset Nuklir Eropa. Sekarang Haryo menjadi anggota tim Compact Muon Solenoid. "Tugas kami mempelajari sifat-sifat partikel elementer hasil tumbukan energi tinggi di Large Hadron Collider," katanya. Dengan mempelajari bagaimana mereka terbentuk dan bereaksi, para ilmuwan dapat mempelajari bagaimana asal mula alam semesta.

Beberapa prestasi ilmuwan Indonesia dalam bidang kedokteran pun lumayan moncer. Taruna Ikrar, peneliti di Sekolah Kedokteran University of California, Irvine, berhasil mematenkan metode pemantauan aktivitas otak. "Saya di sini tak perlu rendah diri dibanding ilmuwan asli AS sekalipun," kata doktor dari Niigata University, Jepang, itu.

Bagi para ilmuwan asal Indonesia, lingkungan kampus ataupun lembaga riset di Amerika Serikat boleh jadi serupa dengan surga. Meski berasal dari Indonesia, Yow Pin Lim, peneliti di Sekolah Kedokteran Brown University kelahiran Cirebon, tak sekali pun pernah merasakan diskriminasi. Proposal penelitiannya mengenai protein inter-alpha inhibitor yang berpotensi menangani sepsis dan kanker sudah hampir tujuh tahun dibiayai lembaga riset kesehatan milik pemerintah Amerika (NIH). Dengan dana itulah Yow Pin Lim mendirikan perusahaan riset medis Pro Thera Biologics. "Kalaupun saya sekarang pulang ke Indonesia, mereka tidak akan menuntut uang itu kembali," ujar Yow.

l l l

Tak semata fulus-paling tidak demikianlah pengakuan mereka-yang membuat jenius Indonesia beterbangan ke negeri orang. "Saya tidak hanya mencari uang," Priyambudi Sulistyanto, Koordinator Program Asian Governance di Flinders University, Australia, menjawab lugas. Pendapatan dosen atau peneliti di luar negeri memang lumayan menggiurkan. Taruna Ikrar mengaku mendapat gaji sekitar US$ 6.000 atau Rp 54 juta per bulan, plus fasilitas perumahan.

Kesempatan untuk riset menjadi salah satu daya tarik. Di Indonesia kesempatan riset ini menjadi persoalan klise di perguruan tinggi. Dana riset yang begitu cekak menjadi halangan yang tak kunjung terselesaikan. Dana riset Institut Teknologi Bandung pada 2009, misalnya, hanya Rp 65,5 miliar. Hanya seujung kuku dibanding anggaran riset Johns Hopkins University pada 2007 yang menembus US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun.

Belum lagi soal beban kewajiban mengajar. "Saya hanya mengajar sekali dalam satu semester," kata Andrea Peresthu, dosen di Departemen Urbanisme TU Delft, Belanda. Dia lebih banyak terlibat dalam penelitian masalah perkotaan di Amerika Latin dan Asia. Serupa dengan di Belanda, menurut Merlyna Lim, profesor di Sekolah Transformasi Sosial Arizona State University, Amerika, semakin produktif penelitian, beban mengajarnya juga semakin sedikit.

"Tapi saya akan tetap mengajar karena saya memang suka mengajar," kata Merlyna. Kebetulan pula, lulusan teknik arsitektur ITB ini dosen favorit mahasiswa di kampusnya. Salah satu mahasiswanya menulis, "Smart as a whip, funny as hell, gorgeous and so helpful."

Sapto Pradityo, Nur Khoiri

Dari Bahrain hingga Swedia

SUHENDRA
BAM, Jerman

JOHNY SETIAWAN
Max-Planck-Institute for Astronomy, Jerman

IHSAN AMIN
TU Dresden, Jerman

HALIM KUSUMAATMAJA
Max Planck Institute of Colloids and Interfaces, Jerman

YANUAR NUGROHO
University of Manchester, Inggris

SARYANI ASMAYAWATI
Cranfield University, Inggris

DESSY IRAWATI
Newcastle University, Inggris

ARIEF GUSNANTO
Leed University, Inggris

JULIANA SUTANTO
ETH Zurich, Swiss

SUHARYO SUMOWIDAGDO
CERN, Swiss

DARWIS KHUDORI
University of Le Havre, Prancis

MUHAMAD REZA
ABB Corporate Research, Swedia

YUDI PAWITAN
Karolinska Institutet, Swedia

GEORGE ANWAR
University of California, Berkeley, AS

TARUNA IKRAR
University of California, Irvine, AS

YOW PIN-LIM
Brown University, AS

MERLYNA LIM
Arizona State University, AS

OKI GUNAWAN
IBM Lab, AS

IWAN JAYA AZIZ
Cornell University, AS

ANAK AGUNG JULIUS
Rensselaer Polytechnic Institute, AS

MUHAMMAD ALI
University of California, Riverside, AS

TAUFIK
California Polytechnic State University, AS

NELSON TANSU
Lehigh University, AS

YANTO CHANDRA
University of Amsterdam, Belanda

ANDREA PERESTHU
TU Delft, Belanda

OKI MURAZA
King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi

YOGI A. ERLANGGA
Al-Faisal University, Arab Saudi

UGI SUHARTO
University College of Bahrain, Bahrain

HENNY SAPTATIA SUJAI
St Petersburg State University, Rusia

MEDY SATRIA
GE Global Research, Bangalore, India

YOHANES EKO RIYANTO
Nanyang Technological University, Singapura

JOHANNES WIDODO
National University of Singapore, Singapura

ANTON SATRIA PRABUWONO
Universiti Kebangsaan Malaysia

IRWANDI JASWIR
International Islamic University, Malaysia

KEN KAWAN SOETANTO
Waseda University, Jepang

KHOIRUL ANWAR
Japan Advanced Institute of Science and Technology, Jepang

VERONICA SUBARTO
Adelaide University, Australia

PRIYAMBUDI SULISTYANTO
Flinders University, Australia

MULYOTO PANGESTU
Monash University, Australia

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture