Selasa, 03 Januari 2012

Istana Maimun di Medan semraut......


Jalan-Jalan Tiga Propinsi:
Batusangkar, Danau Toba, Medan dan Pekan Baru
(Istana Maimun di Medan semraut......)

Oleh: Marjohan, M.Pd (Guru SMAN 3 Batusangkar)

Wah  akhirnya  perjalanan  tour  atau  studi  tour kami  selama  seminggu  ke Medan Propinsi Riau  berakhir.  Aku  harus  merecall  semua  memoriku. Pasti  rencana  studi  tour ini  juga sudah  direncanakan  oleh  setiap  guru dan diberitahu  kepada  anggota  keluarga masing- masing.  Aku  juga  memberitahu  pada  istri  dan  kedua  anakku.
Tour  kami  dimulai  tanggal  25 Desember 2011 dan kami berkumpul di kampus SMAN 3 Batusangkar. Sopir kami adalah  Pak  Tom  dan  co-driver adalah Pak Datuk dari Simpurut  akan  mengendarai  mobil Pemda  dengan  merek “Tuah Sepakat”  sampai tanggal 31 Desember 2011. Pas sekali dengan  hari perrnikahan Sense Ayu  dengan soulmatenya Om Ridwan di kampungnya Padang Panjang.
Akhirnya   mobil  kami  melaju  menuju  Sungai Ttarab, Salimpaung, belok kiri menuju  jalan  ke-Bukittinggi. Belum  lama  berjalan  kami   sudah rebutan untuk memperoleh  snack yang dibawa oleh para guru. Abi Marta  memperkenalkan  lapek durian masakan  Buk Sumri Marta. Buk Retno  membawa duku manis. Miss Dini  membawa kue, Buk Yani, Buk  Dona, Miss  Messy  juga  membawa  snack  yang lain. Begitu  pula dengan Bu  Arifna  dan Bu  Dona menunggu dengan karupaknya dari kampungnya di Biaro Bukitinggi. Bayinya dititip pada nenek  sang bayi.
Guru  laki- laki  boleh  tidak  membawa  tentangan  dan  tidak bawa apa apa....eh kami  hanya jadi   juru  makan. Iya ini kan atas nama persahabatan. Belum  jauh  melaju, mr Ay   sudah mempersiapkan tempat duduk dan tempat istirahat yang enak di bangku belakang.
Kelak tempat  itu bakal  jadi  rebutan  antara  Pak Osrimal, Pak Editi, Abi Marta,  Pak Yal, Pak  Datuk, Pak  Datuk Stokar  dan Pak kepala Sekolah- Rosfairil.
Masuk  nagari Baso  hujan  lebat  turun dan pemandangan jadi kelabu. Sementara itu sebagian guru  masih aktif  makan  dan  minum  dan  akhirnya  mereka juga butuh toilet untuk pembuangan. Kami  berhenti di Mesjid Raya  Muara Manggung,  Lubuk  Sikapiang untuk kebutuhan tolilet dan sholat. Lepas batas Lubuk Sikaping hari  sudah di  rembang sore. Melewati  taman di kota panti, kami  melihat pohon dengan akar nafas.
Kami  berada dalam mobil  cukup lama hingga mobil kami berhenti di rumah makan “Duta Selera”  di depan kantor  Dinas Bina Marga- Kota Nopan. Kami selalu butuh toilet, sholat jamak magrib dan isya dan juga dinner. Ada temaqn yang membawa nasi dan aku dinner  bareng dengan  Pak Rosfairil, juga ada Mr. Ay serta Pak Adriyon/ ketua komite. 
Jam 2.30 dini hari kami berhenti lagi di resto di kota Sipirok- Restoran Minang Maimbau, ini memang kedai nasi Islam. Tentu saja  Pak sopir perlu melepas ngantuk dan lelah dengan segelas kopi. Lagi lagi kami melaju. Kami sholat subuh di kota kecil Porsea, mesjid  kecil,  karena  susah  cari mesjid buat sholat subuh dan kami sholat subuh sudah lewat pukul 6.00 pagi. Porsea adalah pusat Kristen yang besar di Tanah Batak.
 Jalan  yang   kami  lewati  cukup  jelek, jalan propinsi banyak lobangnya. Aku baru melihat keindahan  alam di kota ini ,  ya ibarat di Sumbar  atau Tanah Datar saja. Bedanya di sana ada  budaya gereja dan nama mobil serta kota juga beda. Kami kemudian  melewati kota kecil “Lumban Julu” sebuah  kota pertanian. Lagi-lagi   jalan  rayanya  kurang terawat berlobang- lobang. Kok bisa begini ya, pada hal Sumatera Utara itu kaya dengan industry pertanian sawit dan karet. Nanun jalan raya saja kurang terurus.
Akhirnya kami berhenti  di  SPBU (pom bensin) di kota Prapat, di pinggir Danau Toba. Kami  memasuki  gerbang Danau Toba dan kami dihentikan oleh petugas untuk retribusi. Kalau boleh di sana ada aba- aba atau papan pengumuman. Kami kemudian  menuju pelabuhan Tigaraja karena kami sudah booking di sana untuk menyeberang ke pulau Samosir.  Suasana bisnis seputar pinggir danau terlihat.
Kami mencari areal parkir dan kami di sini makan pagi di kota kecil Tiga Raja. Daerahnya  kurang bersih...pada hal seharusnya daerah  ini  dijadikan  sebagai  daerah “tourist destination” dengan kyualitas kebersihan yang berstandar  internasional- namun ya ampun....sampah dan kualitas  jalan yang jelek.
 Pulau Samosir adalah pulau kecil yang  berbukit- bukit  dalam Danau Toba. Makan pagi....”ya ampun selera kami jadi hilang, suasana dikelilingi oleh makanan yang tidak halal”. Untung kami bawa goreng ayam, goreng kacang...dan kami  coba  mencari  restoran halal, namun tetap kurang   yakin kehalalannya.  
Habis  makan pagi, Mr Ay kasih tahu bahwa “orang motor boat” sudah  datang dan kami harus  menurunkan bagasi dari mobil. Aku  berfikir  kalau ada ferry yang bisa membawa  mobil  ke pulau  ternyata  mobil  kami  diparkir...dan kami menyeberang pakai kapal motor dengan merek caterina.  Kami membawa  tas/ bagasi dan mengambil foto foto di dermaga  dan masuk boat, aku juga  naik ke boat lantai dua.  Aku  melihat nakhoda stir kapal. Terasa Danau Toba begitu mempesona  dan memang luas.  Kami keliling Pulau Samosir  dengan  kapal motor  carolina milik dari carolina  cottage. Boat kami kemudian berlayar membawa kami ke desa Simanindo...kami juga belajar tari tor tor.
 Kami terus   ke hotel ... , aku  ngomong- ngommong dengan  bule dari Sweden. Nama mereka Eva dan ullamo.  Aku jadi asyik ngobrol dan Pak Datuk Edimaizul juga agak lama di kamar mandi sehingga  aku tidak sempat sholat zuhur, kecuali mandi dan ganti baju..kami mengunjung desa di pulau Samosir aku lupa namanya. Kami melihat souvenir
Disuguhi keterangan tentang  budaya Batak, wah  aku dikelilingi anak-anak  mungkin karena aku pencinta  anak anak. Inang-inang penjual souvenir merayuku dan  aku beli t- shirt  4 helai buat dibawa pulang.
“Aku  hampir  tak  bisa menghindari  rayuan  penjual souvenir”
Kami terus berlayar  ke desa Tomok...aku  tidak  turun  dari  kapal motor Carolina dan aku memutuskan untuk merlakukan sholat- jamak zuhur dengan sholat ashar di atas kapal dan nakhoda yang beragama nasrani tersebut mempersilahkan dan ia turun ke bawah. Kalau  turun aku  pasti  shopping lagi dan I have  no money. Aku lama menunggu, nakhoda pasti juga sudah bosan menunggu.
“Lama  juga  menunggu teman yang pergi shopping   dan  matahari terbenam. di ufuk barat. Nakhoda  sudah separoh kesal.... Come back ke  lekjon cottage di desa Tuk Tuk “
Hari ke dua, kami berada dalam pulau Samosir. Semalaman aku  tidur cepat, teman-teman yang lain main bilyar dan yang perempuan berkumpul sesama mereka. Aku bangun  jam  2 dini hari (tengah  malam)  buat sholat  isya dan kemudian aku  tidur lagi. Wah bangun di waktu  subuh aku merasa bugar- terus sholat dan menulis  pengalaman melalui note pada phonecel-ku.
 Aku  tak  bisa  menikmati  makanan. Walau  kami hanya  makan sayur, ikan , ayam namun  kami  terbayang  ada  babi  guling di atas piring kami pada  hari-hari  sebelumnya. Ya kalau  boleh  makanan halal juga menggunakan piring halal. Kemudian  daging ayam walau halal, namun kalau penyembelihannya tidak benar juga bisa jadi tidak halal.
“Makan pagi  kami  sudah dihidangankan oleh  mom  Mulyanis ya....ludes semua”. Aku melepaskan pandangan ke danau Toba dan aku  jadi   tahu bahwa ada  boat sebagai motor  ojek air. Kapal muara  yang  lewat  pake  klakson untuk  cari  penompang.  Aku berdialog dengan  dengan seorang  wisatawan berwajah India, namanya  “Kunal”.  Temannya from  USA  tidak suka dengan cuaca  di sana yang dingin dan berawan , mmaklum lagi musim dingin di USA. Itulah alasan mereka  memutuskan berlibur di  Danau Toba yang tropis ini. Aku sempat bertukar account facebook dan accountnya “Kunal Ramu Murti”.
Aku melihat wisman barat 2 pasang berkemas “say goodbye”. Pak  Editi memajang kopernya...dan  nakhoda  kapal motor  meniupkan  klakson...no kami punya kapal muara  yang  ditunggu. Akhirnya  kami juga “say good bye juga pada 2 teman asal Sweden , Eva dan Ullamo.  Mereka berdua  keluar to give warm goodbye...”.
Teman teman bercanda. “Mr joe pacarmu nenek-nenek say good bye”.
“Iya no probleme...aku cari pacar bule, cari satu dapat dua”. Semua jadi tertawa. “Ya penting bule ya....nenek-nenek no probleme”. Sambungku lagi.
Kami semua on board. Kami take foto. Dari kejauhan teman swediaku yang sudah berusia nenek-nenek masih setia melambaikan tangannya dan tidak terasa kami berlabuh lagi di pelabuha tiga raja. Kami melanjutkan perjalanan. Jam 10 pagi kami tiba lagi di Prapat, aku lihat banyak restoran milik orang Minang sepanjang jalan di daerah non muslim itu. Aku juga melihat kramba ikan milik nelayan dan banyak gereja  yang  bertengger di kaki bukit. Ya Pemandangannya  mirip di Danau Maninjau.
Semboyan lingkungan Danau Toba adalah “Toba go green”. Dan bukit sekitar Danau Toba memang jadi green. Keberaan banyak danau di Pulau Sumatera ya berkah Allah bagi Pulau Sumatra. Kami beruntung selama berlayar di danau Toba kemaren cuaca begitu  cerah. Setelah ke luar Danau Toba hujan turun cukup lerbat.
“Jalan kami menanjak entah kemana. Aku tidak tahu karena ini kali pertama aku melalui daerah ini. Di pinggir kami jurang cukup dalam”.
Kami berada di Kabupaten Simalungun. Pohon kayu terlihat sudah besar besar. Tak lama kemudian kami tiba di sektor  Aek Nauli dengan  lingkungan alam yang begitu hijau.
Terasa enak laju mobil kami  melewati jalan berhutan dengan pohon- pohon yang  tinggi. Sayang di jalan raya di kota ini  tidak banyak rambu-rambu lalu lintas  dan  tulisan buat pengguna jalan di sepanjang jalan raya.
Kami sdh jauh dari danau. Aku tak punya snack untuk dikudap dalam  perjalanan. But oke..tapi untung tadi pagi aku sempat makan apple untuk  kesehatan pencernaan. O... ya aku jadi ingat bahwa  listrik di  Pulau Ssamosir berasal dari PLTA Sigura-Gura...yang kabelnya lewat dasar danau Toba.
Aku lihat di kota kecil  TigaBbalata di Simmalungun  suasananya  mirip di Sumbar saja. Aku lihat ada moto: i shame if am late- moto pada gerbang sekolah. Wah pemandangannya  boring dalam hutan sawit melulu. Aku juga melihat pekerja sibuk menyemprot  rumput dengan  round up di seputar pohon sawit dan juga menumpukan pelepah  sawit untuk disingkirkan.
Akhirnya kami keluar dari wilayah Danau Toba.  Kami berada di Pematang Siantar. Ya jarang tampak mesjid, dan banyak gereja dan kuburan keluarga khas hkbp- huriah kriten batak protestan.  Lucun ya di  jalan Sisingamangaraja Siantar  ada perempatan jalan yang tanpa traffic light.
Lepas  dari daerah  Pematang Siantar aku  melihat laang  jagung yang luas dan lahan ubi buat tepung gaplek, juga lahan karet. Semua dikelola oleh perusahaan. Kebun karet begitu luas dari pinggir kota Siantar terus  ke daerah Tebing Tinggu. Lepas dari daerah Tebingtinggi juga terbentang kebun karet yg luas.
O...disana  juga ada rel kereta api di Tebingtinggi. Kota Tebing Tinggi cukup besar. Aku tahu bahwa karet diolah pada babrik latek di Tebing Tinggi.
Kami kemudian  berhenti di rumah makan dalam  kota Tebing Tinggi. Di sini aku merasakan  makan siang enak yang pertama dalam  tour kami. Aku tidak ikut makan di rumah makan. Meskipun  rumah makan  milik orang Pariaman, namun aku makan siang dalam mobil bareng  dengan Abi Marta dan guru guru wanita. Wah ternyata untuk  sampai ke kota Medan kami butuh waktu satu  dan  setengah  jam  lagi.
Kami berada kemudian di kota kecil Sungai Rampah, suasana muslim makin terasa, banyak mesjid sepanjang jalan. Kebun sawit juga luas. Kami sampai di daerah Sungai Si Jenggi – yaitu di daerah Perbaungan dimana terasa suasana Melayunya. Jalan kereta api sepanjang jalan raya Perbaungan.  Kotanya  cukup besar. Ketika melintasi daerah ini hujan begitu lebat.
Di kota Perbaungan terdapat daerah sawah yang cukup luas. Setelah itu kami pun berada di Lubuk Pakam- wilayah Deli Serdang. Kemudian  terus Tanjung Morawa. Al last kami semua tiba di kota Medan. Medan sebagai kota besar punya banyak  beca ojek.
Jadi dari Danau Toba ke Medan, kami membutuhkan waktu selama  5 jam perjalanan.
Kami cek in di hotel Garuda Citra. Aku  sekamar dengan Osrimal di kamar nomor 102 . Sebelah kamar ada room buat meeting, namun tidak bising.  Habis magrib Abi Marta mengajak  ke Medan Plaza, kami naik beca dayung sewanya RP.  15 ribu untuk berdua. Aku melihat lihat pakaian, dan terakhir aku membeli dua buku belajar bahasaa  Inggris lewat cerita lucu dan humor. Harganya ringan dan buku ini bermanfaat buat anakku dan murid muridku. Pulang ke hotel dan aku kemudia bayar beli pulsa dan ongkos beca pada Marta.
Perut jadi keroncongan dan kami keluar lagi buat beli bandrek. Aku baru tahu kalau bandrek itu minuman susu  pakai jahe dan bagus untuk menghangatkan tubuh.  Kami kembali ke hotel, ngumpul ngumpul di kamar Marta. Ada yang  datang, Buk Arifna membawa goreng ikan. Mr Ay dan dan pak Hendun menjemput magic com dari mobil and  we have a dinner.

Wah tidak terasa sudah hari ke tiga kami berada dalam grande voyage ini, yaitu tanggal 28 Desember 2011. Jadi daerah   yang  aku  lalui  dari  Sumatera Barat ke Medan cukup banyak yaitu  “Penyabungan- Kabupaten  Mandailing Nnatal  (Muara Sipongi,  Kota Nopan), Padang  Sidempuan  (Tapanuli Selatan), Tarutung  (Tapanuli Utara), Balige (Toba- Samosir), dan kami berhenti   di Porsea  untuk   sholat subuh walau sudah pukul 6.00 pagi....”ha..ha...sulit kami mencari mesjid”. Terus ke Lumban Luju, Parapat  dan terus ke pantai ... (Ya bermalam di Pulau Samosir). Parapat belok kanan di Aek Naoli- Pematang Siantar - Kab Simalungun, Tebing  Tinggi- Lubuk Pakam- Kab Deli  Serdang.  Kotamadya Medan  juga besar...kita juga bisa menuju ke utara ke kota kecil “Labuhan Deli”  dan Belawan.
Kami disediakan sarapan oleh hotel. Aku segera bergabung sarapan dan ngobrol bareng dengan Pak Datuk- bus  konduktor. Aku menyukai nasi goreng, makan buah melon papaya dan juga morning tea. Pagi ini kami jalan-jalan  ke Istana Maimun.. Cukup jalan kaki.
Usai  melihat-lihat di Istana Maimoon, aku jumpa dengan Wibowo Saptari, seorang volunteer Kangguru Radio English yang  pernah datang  ke acara kangguru di Batusangkar.
Kami kemudian ke pusat pasar...kami menyebar..dan aku pergi lagi dengan Abi Marta berkeliling...ya cari minuman dan makanan. Aku letih dan aku  istirahat dekat mobill sampai datang teman teman.
Pak Rosfairil datang bawa goreng pisang buat sopir. Aku selunjuran di emperan toko di sebelah mobil di pusat belanja kota Medan. Kami belum sholat... Ya kami cari mesjid. “Oh ada mesjid di atas pertokoan namanya “Mesjid Istiqomah” dan kami sholat jamak taqdim zuhur dan ashar- maklum kamikan masih musyafir.
Habis sholat aku bincang bincang dengan penjual parfum dan aku beli dua botol parfum. Satu botol 10.000 IDR, kalau 2 botol  ya 16.000 IDR. Selanjutnya kami menuju bus dan siap menuju Pekan Baru. Mobil ke luar kota Medan untuk menuju Tanjung Morawa lewat jalan toll....ya  sudah seperti jalan toll di Malaysia saja . Ternyata dalam  peta tanda jalan  putih....jalan toll dan juga jalur baru.
Di jalan toll Tanjung Morawa...belok kiri itu ke Tebing Tinggi.. Kota Tanjung Morawa sedang  berbenah , ekonominya menggeliat. Jalan raya di sini  beda dengan  jalur barat yg aku lalui sejak dari Pasaman ke Toba- banyak jalan berlobang.
“Lubuk pakam....ya”
Kami berhenti  di Pasar Bengkel untuk shopping bika ambone dan snack dan numpang sholat ashar.  Kami melaju lagi hingga perbatasan dengan  Deliserdang  ya turun lagi ke selatan....Kab Serdang Bedagai...juga luas dengan kotanya bernama Sungai Rampah.
Kami memasuki kota Tebing Tinggi menjelang waktu  maghrib. Arus lalu lintas tetap ramai. Tebing tinggi berada di Kab. Binjai,di sana  kebun sawit cukup luas, oh  yaaa  juga ada kebun rambutan dan kebun karet yg luas.  Juga ada kebun pisang dan coklat milik penduduk. Kami melewati kabupaten Batu Bara...ada Kecamatan Indrapura.
Larut magrib kami lewat di pasar Asahan/ kota Kisaran, sebuah  kota pertanian. Kota ini juga dilalui jalan kereta api. Wah sudah gelap tidak ada pemandangan yang  bisa dinikmati kecuali...silhoute kebun sawit. Kami melintasi Sungai Asahan ya cukup luas.
Mobil kami berhenti lagi dan kami sholat di Mesjid Al-Hilal di kota kecil Simpang Kawat. Lokasinya di  bengkolan dengan kalu lintas yang cukup ramai. Go on lagi dan setelah beberapa menit kami berhenti di rumah makan Gunung Sari Dua, Simpang Kawat.
Aku makan malam, aku pilih gulai ikan karena ini lebih sehat untuk dikosumsi dibandingkan daging. Aku bergabung dengan Pak Hendra Zuher dan Pak Editi. Total harga nya hampir 70.000 IDR  untuk bertiga.
“Then I am talking  with Mr Ai, saat  mobil melewati kecamatan Pulau  Raja. Lagu dangdut Bang Thoib menghiasi telinga kami”.
Dimana kita sekarang .....oh di  Aek loba. Terlihat kebun  sawiiiit.
Jam 12.00  malam kami berada di daerah  Kabupaten Rantau- Prapat. Terasa kemajuan kota ini  dari lampu jalan yang lebih terang benderang. Jalan  raya lebih anggun. Kotanya  besar ada  orang jual makanan sampai malam  sehingga aku jadi enggan untuk  tidur. Aku merasa rugi kalau  tidak melihat  kehidupan  kota ini di malam hari.
Aku tidak lagi melihat kebun sawit luas yang  bisa menjemukan mata. Sekarang pemandangan  berganti dengan pohon semacam cemara, mungkin bisa untuk industri kertas. Kami berada di kota Aek Nabara dan kotanya besar juga. Disini kami butuh toilet dan kami berhenti di  SPBU Aek Nabara yang sangat, bersih dan  rapi seperti standard Singapura dan Malaysia.
Ternyata tanaman sawit juga mendominasi wilayah ini. O.... ternyata wilayah ini masih masuk Sumatera Utara. Cukup  maju mungin pengaruh kemajuan Propinsi Riau. Kami berada di kota Pinang saat lewat tengah malam.

            Ooo sudah hari yang keempat kami pada tanggal  29 Desember 2011 ini. “Ah sudah pukul 1.00  dinihari. Ini berarti hari baru dan aku menulis untuk hari baru ini. Iya jam 2.00  dini hari kami masuk kota Dumai.  Aku tidak memperhatikan  nama- nama dan suasana negeri yang dilalui. Mataku  betul- betul mengantuk.
Mr Ay  sendiri yang membuat inisitif untuk menyusun bagasi pada bangku belakang agar ia bisa duduk dan tidur dengan nyaman, ternyata juga  rebutan dengan guru guru lain- seperti  Pak Yal, Pak  Editi, Pak Henzu,  malah juga dengan Pak kepsek (Pak Rosfairil). Sehingga bila butuh  istirahat Mr  Ay selalu  waspada agar bangku nya tidak ditempati (dikudeta) oleh yang lain.
Ini adalah kali kedua kami tidur dalam bis dalam rute perjalanan yang panjang. Pertama dari  Lubuk  Sikaping menuju Danau  Toba. Dan  yang sekarang dari  Medan menuju Pakan baru. Memang kurang nyaman tidur dalam mobil. Dan tiba tiba mobilku melintas lobang dan kami semua terlambung dari bangku....aku tak tahu kalau  ada wanita yang sedang hamil....ya semoga tidak ada yang keguguran.
Aku bicara tentang tidur dan istirahat yang susah selama perjalanan malam. Aku harus malu dengan Pak Tom (sang sopir)  yang tidak pernah mengeluh sebagai sang sopir. Mr Ay mengakui pak Tom  yang usianya 61 tahun adalah sopir yang hebat.
Kami berhenti lagi di mushola “Al  Amin”, desa Balai Makam, jalan  raya Duri-Dumai, 5 km dari Kulim. aku jadi mengerti dengan daerah Kulim yang dulu pernah dibaca-baca oleh bibiku. Mushola ini kekurangan air buat wudlu hanya mengandalkan air tangki dan susah untuk urusan kakus. Aku pada mulanya separoh hati untuk ikut sholat ...ya kalau-kalau ada alternatif buat sholat di tempat lain. Tampaknya ini daerah baru. Mushola ini dibangun oleh proyek wakaf perkebunan seluas 14 hektar, juga untuk pondok pesantren.
“Kalau pesantren pengelolaannya total oleh masyarakat, jadi tidak ribet seperti mendirikan SMA atau SMK”.
Buk Mulyanis memutuskan untuk cari mobil lain menuju Pakanbaru, sebagaimana kita ada rencana untuk mengunjungan ke sebuah  sekolah di Duri. Buk mulyanis tidak bisa lagi berkonsentrasi karena Rindang anaknya yang kuliah di jurusan kesehatan Universitas Riau  baru saja diopname di rumah sakit karena kena DBD (deman berdarah).
Kami berhenti di Duri, karena Buk Mulyanis harys mencari mobil- travel- menuju Pakan Baru.  Kami berhenti di rumah keluarga Pak Rosfairil. Kami bisa rileks-  minum teh dan coffe,  kemudian juga bisa mandi karena badan terasa sangat kotor dan juga untuk menukar pakaian.
Aku sempat merasa kehilangan kopor karena Pak Datuk Erdi Maizul yang peralatan mandinya aku simpan dalam koperku. Ternyata aku kurang mengenal koper sendiri. Mandi ah...., aku  pinjam  kamar  kakak Pak Rosfairil untuk ganti pakaian. Wah seger aku bisa gosok gigi dan mandi. Semua keringat dan kotoran tubuh jadi minggat.
Teman- teman guru  membantu tuan  rumah buat masak...ada isyarat bahwa kami akan sarapan pagi di sini. Mr Ai menemani Buk Mulyanis menuju rumah sakit tempat anaknya Rindang diopname. Mungkin ia dapat penyakit dbd- demam berdarah. Kita beuntung punya teman, Mr Ay, orangnya  quick response dan quiick action- cepat response nya dan cepat tindakannya.
Ternyata setiap orang harus bersiap siap dengan pakaian rapi, pakai dasi, karena kami akan mengunjungi sebuah sekolah di kota Duri ini., jaraknya kira kkira 10 menit saja.
Kami memakai seragam  sekolah dan sedang menuju sekolah yang kami maksud. Bus sekarang  kekurangan 2 penumpang, yaitu  buk Yyani dan Mr Ay.  Pembangunan kota Duri sangat pesat. Sekarang  mereka berbenah. Aku perkirakan dalam   waktu  singkat daerah  ini sudah  sebagus daerah Malaysia.
Daerah  ini pernah aku lewati sebulan lalu saat pulang dari Singapura dan Malaysia melalui Malaka dan Dumai, tentu melewati Kandis dan Duri terus ke Pekanbaru.  Kami mengunjungi SMA  Islam  Terpadu  Mutiara  YLPI (yayasan lembaga pendidikan Islam) Duri. Aku terasa berasa di lokasi Nilai College University, jauh dari kota dan lingkungannya hijau dan bersih. Kami disambut dalam aula atau meeting roomnya yang cukup bersih.
Tuan rumah bernuansa Islam, berakhlak islam, cerdas dan tawadhu (rendah hati). Ada satu yang terlihat bahwa guru SMA Mutiara memakai konkarde selama bertugas. SMAN 3 Batusangkar  juga bisa mengadopsinya. Situs  SMAN 3 Batusangkar  harus juga punya situs.
“Ternyata kota Duri masuk ke Kabupaten Bengkalis.  Referensi pendidikan kita adalah pulau Jawa utk level Indonesia”.
Karena berlokasi lingkunan dari Chevron- perusahaan  minyak- ada bantuan  Chevron, namun sekolah ini juga punya bisnis sapi untuk kebutuhan Bengkalis. Kunjungan antar sekolah dan saling silaturrahmi bermanfaat buat menambah wawasan dan pengetahuan. Untuk itu setiap orang harus bersilaturrahmi yang positif.
“Barangsiapa yang ingin banyak rizki dan panjang umurnya maka lakukanlah silaturahmi”.
Aku bisa bertemu dengan Ppak Sardinal yang bekerja sebagai tenaga ahli di Chevron Duri ini. Ia menelponku dan kami berfoto sebagai bukti pernah  jumpa. Namun temanku Ben Syaiful bertugas di Chevron  Minas, ya tidak bisa jumpa.  Aku juga bertukar fikiran dengan guru bhs  Inggris di sekolah ini, kami berbagi kontak number. Aku kelamaan ngobrol dan aku ditelpon  karena teman teman sudah dalam mobil siap menuju Pakanbaru.
Kami meninggalkan Kab. Bengkalis. Daerahnya rawa rawa. Sepajang jalan  terbentang pipa minyak bertekanan tinggi. Tentu saja orang dilarang untuk mendirikan bangunan di sana. Kebun kelapa sawit juga terbentang luas.  Agaknya aku melihat adanya gerakan kristenisasi di daerah Kandis, sepanjang perkebunan sawit, aku melihat banyak berdiri gereja. Di sela sela wilayah tampak pengagasnya Partai Damai Sejahtera. Kandis masuk kabupaten Bengkalis ya.
Target Ppartai Damai Sjahtera adalah membangun gereja sebanyak mungkin. Meski jamaatnya sepi. Wah ini tantangan bagi orang Melayu Rau di daerah Kandis untuk menjaga keislaman anak anak melayu.
Sejak dari Sumatra bagian timur juga Riau  buminya penuh dengan tanaman sawit. Kalau dahulu Sumatra bernama Pulau Andalas, apa sekarang bisa berrnama Pulau Sawit ? Kami berhenti buat sholat zuhur dan jamak untuk  sholat ashar di mesjid Nurul  Islam, Kelurahan Telaga Sam sam, kecamatan Kandis. Air sumurnya agak keputihan pengaruh tanah liat.
Tadi kami berhenti di rumah makan di Minas buat makan siang, habis itu terus dan kami memasuki kota Rumbai.. Juga daerah perkebunan. Guru guru kantuknya udah hilang dan perutnya kenyang, maka saling ngobrol tentang hal hal ringan. Kami melewati Sungai Siak. Cukup luas. Dalam musim hujan sedikitt meluap. Kami masuk kota Pekanbaru dan kami akan meenginap di Hotel Nilam Sari, milik  SMKN  3 Pekanbaru, lokasinya  di jalan Sutomo.
Sebelum pergi ke hotel kami melihat  anak Bu Yani, aku lupa  nama  rumah sakitnya. Namun kami tak boleh semuanya melihat, naik lift, ke lantai atas, kecuali hanya bertiga- Pak Rosfairil, Pak Adrion ( komite)  dan  Pak Datuk Erdi Mmaizul. Namun setelah mereka di atas. Buk Yani dan Rindang turun....mau pindah rumah sakit ke Awal Bros.
Sore ini...kami jala ke mall SKA. Shopping lagi.  Kami  jalan- jalan ke mall SKA. Aku memang tidak ada niat buat membeli jadi tidak tertarik buat menyentuh nya. Ketika masuk ke toko kacamata Pak Datuk Periksa mata gratis, kemudian melihat dan menawar berbagai kacamata tanpa membeli dan aku merasa ashamed dan duluan ke luar ruangan. Dan aku cari makanan.
Aku memisahkan diri, karena dua teman masih ingin pergi shopping. Aku makan sate dan beli air bottle.  Aku sholat di mesjid Nnamira, mesjidnya bagus dan bersih sudah sesuai dengan standard bersihnya mesjid di Singapura. Aku berjemaah  sholat  isya dan habis sholat isya aku  sholat jamak magrib dan isya. Saat berakhir sholat aku lihat Mr Ai juga sholat dn akhirnya aku temani Mr ai ke mall SKA buat beli sandal bagus.
30 Desember 2011 . Bangun dan  sholat subuh. Aku keluar, teman teman yang lain ada yang tidur. Aku jalan jalan berkeliling sambil menandai  jalan  agar aku  tidak salah  jalan dan sesat. Oh ada yang jual makanan  jauh di pojok jalan perumahan. Aku beli ketoprak, nama makanan- ada lontongnya, tahu goreng setengah mateng, ada toge, kuah kacang pake cabe rawit dan  gula aren. Harganya  cuma . 8.000 IDR. Pedagangnya dulu pernah kena PHK dari kerjanya  di ekspedisi perdagangan  pelayaran Jakarta. Ia dapat pesangon, trauma hidup di  Jakarta  ya  hijrah ke Pakan baru. Ia membeli tempat kecil dan ia membuka warung.
“Hidup musti  tabah dan  ceria selalu . Ya ada datang  pelanggan dan ia bisa menyambung hidup. Aku dapat pelajaran darinya bahwa hidup harus berjuang, tidak memelas kasih berlebihan.
Setelah kenyang ya aku kembali ke hotel, berkemas karena hari ini adalah hari terakhir. Kami semua off menuju Batusangkar lagi. Jam  9.00  pagi kami semua cek out dari Hotel Nilam Sari- hotel murah namun cukup nyaman.
Wah ternyata kami tidak  langsung pulang, mobil  diparkir di kawasan pelabuhan Sungai Siak Pakan Baru. Teman teman pergi shopping ke pertokoaan wisata. Aku juga masuk toko untuk lihat lihat dan aku tidak tertarik dan aku pergi ke luar untuk menyelesaikan ketikan ku tentang pengalaman tour ini.
Oh ternyata pelabuhan yang di Pakan Baru khusus untuk barang antar pulau di Indonesia.  Aku  makan  snack ringan di bawah pohon dekat pintu gerbang pelabuhan. Tampak gedung dan lokasi pelabuhan yang tidak begitu terawat dengan baik. Ini fenomena negeriku selalu mudah semraut.
Agak jauh dalam  kapal  aku dengar suara bising, suara last danb  suara palu, mungkin ada perbaikan pada kapal. Di sana sini besi besi bertumpukan.  Aku bergabung dengan Pak Rosfairil dan Pak ketua komite (adrion). Rencananya kami mau sholat Jumat, tetapi belum waktunya sehingga kami mampir makan siang dulu.
“Alhamdulillah  makan siang yang enak”.
Tentu saja setelah ini kami harus sholat jumat.  Ya mesjidnya lagi direnovasi dan kami  ikut jumatan  yang  khusuk. Beberapa saat kemudian semua anggota kami  berkumpul dalam mobil akhirnya “au revoir et a bientot” Pekanbaru.
Keluar dari Ppanam, berarti goodbye Pakan Baru dan kami memasuki Kabupaten Kampar. Daerah  ini kaya dengan  laang nenas. Sehingga juga ada industry kerupuk nenas. Ada sugai lebar dan namanya Sungai Danau Bingkuang.
Naluri  penduduk untuk berbisnis kuliner cukup bagus. Ada bisnis lepat bugis, lepat pulut hitam, lepat pulut putih, roti jala, kue talam   yang mereka kemas datam bungkusan yang bagus untuk dibawa sebagai buah tangan menuju Sumatera Barat.
“Namun istriku kurang suka dengan beras rendang yang aku beli di Kampar, alasannya beras rendang yang dibuat di Payakumbuh jauh lebih enak”
Kami berada di kawasan  kota  Bangkinang  saat ashar. Suasana kota Bangkinang seperti berada di daerah Kabupaten 50 Kota. Oh  aku  melihat  ada mesjid sangat megah dan luas dalam kota ini.  Bangkinang adalah ibu kota Kabupaten Kampar.  Kami sholat ashar di masjid Attaqwa di Salo- Bangkinang. Masjid ini miliki infantri tni. Cuaca panas begitu menyengat dan setiap orang ingin mencari keteduhan.
Dimana ada  keramaian disana ada aktivitas dagang, termasuk dekat masjid  Attaqwa ini. Namun bagaimana dengan sampah ? Yang membuangnya banyak dan yang mengumpulkannya tak ada. Aku menyimpan sampah permen ke dalam tasku dulu. Anak-anak ku tidak boleh buang sampah seenaknya. Mereka tidak boleh meniru orang kebanyakan yang cuma pintar buang sampah.
Mereka itu adalah “dirty maker” atau tukang buat sesuatu jadi kotor.
Daerah  Rantau  Berangin  mulai  terasa  suasana daerah yang berbukit dan di sini juga mengalir Sungai Rantau Berangin  atau  mungkin  namanya  Sungai  Koto  Panjang yang di sana ada waduk gede.  
Sebelum ada waduk koto panjang di sini ada perkampungan, atas nama pembangunan negara, Rezim  Orde Baru membuat waduk buat  PLTA  Koto Panjang, warga yang tidak sudi hijrah ya tenggelam dalam genangan waduk ini. Kini listrik Propinsi Riau berasal dari PLTA Koto Panjang yang berlokasi di Kabupaten Kampar ini.
Pasti Pak  Tom,  sopir kami merasa capek, maka mobil berhenti di rumah makan Kelok Indah. . Aku juga turun dan melihat ikan lele jumbo dalam  kolam  kecil persis di depan  resto ini. Terlihat bagiku bahwa naluri bisnis kuliner nasi orang  Minang/ Padang memang hebat di dunia.
 “Rugi ya bila ada pemuda Padang yang jadi pengangguran.....buat saja rumah makan. Sarjana orang Padang yang mengganggur harus malu dong ...sama pemilik rumah makan”
Wah.... the last big  party...semua anggota rombongan masuk rumah makan pake goreng  ayam  lado  mudo, jengkol  batokok. Beda  dengan  makan di Pulau Samosir...dimana hampir semuanya  tidak berselera, khawatir dengan makanan yang tidak halal. Di rumah makan Kelok Indah , di perbatasan  Sumbar-Riau,  semua  makanan jadi  ludes. Wah masih belum maghrib..... maka kami melanjutkan perjalahan go home.
Saat  rembang  sore kami  melewati  daerah Pangkalan  Koto Baru. Rona matahari bakal lenyap habis magrib.  Daerah  Pangkalan  merupakan  daerah  indah  pertama  setelah ke luar dari Propinsi Riau.  Hamparan  sawah nan  hijau menyejukan mata. Kami berhenti di pom bensin Pangkalan dan sekaligus melakukan sholat magrib.  Gelap gulita melewati jalan Pangkalan  padahal aku  ingin  melihat pemandangan dan Kelok  Sembilan dengan jembatan menakjubkan.
Kami  melewati jembatan kelok sambilan, amazing ...dua jembatan toll begitu tinggi.
Setelah itu kami melewati lubuk bangku dan harau. Payakumbuh  menyusul. Wah kami rasa dalam mimpi saja. Aku segera menjepit kulitku.....outch sakit. Ternyata aku tidak menghayal dan bukan mimpi namun ini adalah sebuah unforgetable experience. Welcome back in Batusangkar. Kota sejuk dan berbudaya yang telah menyatu dengan  kalbuku. 

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture