Sabtu, 19 Januari 2013

Penghargaan Dari Pemerintah sbg juara


                       Reward Sebagai Guru Inovatif

1. Keberangkatan
Tanggal 16 November 2011 kami berkumpul di Aula Islamic Centre, pukul 13.00 siang peserta sudah datang dari seluruh kecamatan. Aku  sendiri tiba di Aula hampir pukul 14.00. Aku  bergabung dengan peserta studi banding yang lain, setelah ditelpon oleh beberapa orang tua siswa peserta studi banding. Aku  menyusup dalam kerumunan orang tua yang mau melepas keberangkatan anaknya. Dalam aula di gedung Islamic Center telah terpajang pamphlet:
 “Selamat Jalan rombongan Studi Banding Internasional Siswa/Siswi dan guru  berprestasi Tanah Datar ke Malaysia dan Singapura- Penghargaan bagi yang berprestasi”.
Dikatakan bahwa kegiatan studi banding telah menjadi kegiatan rutin sejak tahun 2006. Tanah Datar merupakan satu-satunya kabupaten di Sumatera Barat yang memberikan reward buat warga yang berprestasi, tentu  saja sebagai cara terbaik dalam memotivasi warga. Program tersebut juga sangat bermanfaat untuk menambah wawasan peseta tentang budaya, etos belajar dan etos kerja masyarakat Malaysia dan Singapura yang negara mereka sudah maju tersebut.
Jumlah peserta ada 137orang, yang terdiri atas 107 siswa dan 30 orang guru pembimbing.  Ada dua kloter penerbagangan, peserta nomor 1-95 ditambah dengan nomor 136, dan 137 musti bermalam di Islamic Centre. Mereka akan berangkat menuju BIM (Bandara Internasional Minangkabau) pada pukul 3.00 dini hari. Kemudian kloter kedua adalah nomor 96-135.  Rencana perjalanan adalah pada tanggal 17-22 November. Esok hari kami terbang dari padang menuju Kuala Lmpur dan melakukan city tour, mengunjungi Putra Jaya dan masjid Negara.
Thanks bahwa studi banding ini bisa terlaksana karena dukungan dana APBD (Anggaran Pengeluaran Belanja Daerah) tahun 2011. Kabupaten Tanah Datar  tidak memiliki pabrik dan tambang, maka SDM yang bagus juga merupakan aset berharga yang perlu untuk ditingkatkan. Di Kabupaten Tanah Datar, motto ajaran Islam yang berbunyiMan Jadda wa jadda” yang berarti  siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil diwujudkan oleh pemerintah. Pemerintah memberikan respon dalam bentuk program yaitu reward studi banding internasional ke Malaysia dan Singapura. Tentu saja harapan dari program ini adalah pulang dari Malaysia dan Singapura, maka etos kerja dan etos belajar mereka menjadi lebih baiklagi.
Rombongan yang jumlahnya 137 orang ini bisa memberi citra Tanah Datar, andai kami punya citra yang jelek, maka tentu orang akan berfikir “o…begini ya, karakter orang Batusangkar”. Oleh sebab itu kami perlu selalu menjadi warga yang sopan santun selama berpergian.
Bupati Tanah Datar, Bapak Shodiq Pasadigoe, mengatakan bahwa 60% dari APBD tersedot buat kebutuhan belanja pegawai. Anggaran studi banding juga termasuk ke dalam APBD, dimana setiap peserta diberi dana Rp. 3,7 juta, termasuk uang saku. Ia mengatakan tour ke luar negeri berbeda dengan  tour dalam negeri, misalnya tour ke Jakarta. Tentu saja tour ke Jakarta tanpa pemeriksaan imigrasi, sementara tour ke Singapura dan Malaysia tentu melalui pemeriksaan.
Melalui program studi banding ke luar negeri tentu saja akan ada pembelajaran yang bisa diperoleh. Harapan dari pemerintah “agar guru pembimbing memberi pengalaman buat siswa secara langsung”.
Setelah Bupati meninggalkan aula Islamic Centre, kegiatan masih ada yaitu penyelesaian administrasi. Pembagian (pendistribusian) kokarde, pasport, buku petunjuk dan yang paling penting adalah penyerahan uang saku buat siswa dan guru pembimbing. Kami kemudian pergi ke lantai atas untuk mencari kamar, rupanya hanya ada dua kamar yang luas buat grup pria dan grup wanita. Aku  menuju ruangan 4, kamar besar buat grup pria.
Ternyata bermalam bersama peserta studi banding di Islamic Centre juga asyik. Kami semua shalat di Masjid Nurul Amal yang terletak di samping Islamic Centre. Dinding masjid dicat putih, ruangannya luas dan bersih. Habis shalat kami merebahkan diri dan terasa sangat rileks, anak-anak lain saling berkenalan dan berbagi cerita. Menjelang tidur  aku  duduk di antara siswa peserta. Aku  berbagi cerita tentang cara belajar, tentang motivasi  hidup dan tentang kepribadian.
“Wah kita jam 3.00 dini hari harus bangun dan bertolak menuju Bandara Internasional Minangkabau di Padang, untuk itu  harus tidur”, kataku pada anak-anak. Mereka harus tidur dan ternyata tidur yang mudah adalah dikamar sendiri, dirumah sendiri. Namun aku  melihat bahwa sebagian masih sibuk dengan kebiasaan sendiri, otak atik HP, mendengar MP3, sampai ada membaca komik dan berbagi cerita.
Anak-anak pasti sibuk dengan pikiran mereka. Mereka tentu berfikir tentang bagaimana kegiatan selanjutnya, aku  sendiri juga tidak tidur dengan pulas, telinga dengan jelas mendengar percakapan demi percakapan orang-orang yang berada dalam ruangan tidur besar tersebut. Aku  sengaja  menutup mata agak lama agar bisa memperoleh rasa istirahat yang lebih lama, meskipun tidak tertidur lelap. Paling kurang melalui cara tersebut aku  masih bisa memperoleh tidur atau istirahat yang lebih berkualitas.
Anak-anak peserta studi banding ini tentu saja anak-anak pilihan di sekolah atau di Kecamatan mereka. Mereka amat mudah termotivasi untuk melakukan hal-hal positif, saat aku  berada di dalam aula Islamic Centre kemaren, aku  sibuk menuliskan pengalaman pada buku catatan dan sambil berbagi cerita pada anak-anak yang duduk dekatku  bahwa menuliskan pengalaman adalah cara yang terbak buat menyelesaikan pengalaman”. Lagi pula nanti setelah acara “comparative study” selesai maka kita akan diminta untuk menulis laporan. Tentu saja kita akan dengan mudah dapat menyelesaikan laporan perjalanan.
Mendengar penjelasan ini maka dengan serta merta beberapa siswa pergi ke luar ruangan Islamic Centre untuk mendapatkan (membeli) buku catatan dan pulpen. “Betapa mudah memotivasi anak-anak pilihat buat berhasil dalam hidup mereka, tinggal lagi kualitas pemberian motivasi dan mengarahkan mereka untuk melakukan aktivitas selanjutnya untuk menggenjot SDM (Sumber Daya Manusia) mereka.
Siswa peserta ternyata mampu mengurus diri dalam memanfaatkan waktu. Islamic Centre hanya memiliki dua kamar mandi, namun semua peserta mampu membersihkan diri. Di malamm  itu (dini hari)  aku  turun agak lambat dan ternyata orang-orang sudah siap berpakaian rapi. Mereka bisa mandi meski kamar mandi hanya dua, tidak sebanding dengan jumlah peserta yang lebih dari seratus orang.
Perjalanan menuju Padang pada waktu dini, pukul 3.00 pagi terasa nyaman,  mobil melaju dengan mulus. Tidak ada kendaraan dan transportasi lain yang mengganggu perjalanan kami. Cuaca pagi dini hari juga sejuk membuat semua penumpang ingin untuk menikmati tidur, apalagi mata pun masih mengantuk. Aku  sendiri juga enggan membuka mata, lebih enak untuk memejamkan  mata, tidak merasa rugi untuk melihat pemandangan apalagi pemandangan yang akan dilihat sudah bisa dilalui sepanjang waktu.
Tak lama kemudian, ada kumandang azan subuh, rombongan kami  berhenti pada sebuah masjid di pinggir jalan di Kayu Tanam. Kami shalat subuh, dan rombongan kami segera membuat jamaah masjid menjadi ramai pada pagi subuh itu. Kami selanjutnya menuju Padang Airport- BIM (Bandara Internasional Minangkabau).
Mata kami tidak lagi mengantuk. Hari juga sudah mulai menyingsing, berkas sinar matahari mulai membersit di cakrawala. Memang masih terasa letih rasanya. Aku   menikmati pemandangan menuju BIM kembali.
Kami semua turun,  aku  sendiri membantu menurunkan bagasi para penumpang. Kami selanjutnya harus cek in, direncanakan kami akan terbang menuju Kuala Lumpur dengan pesawat Air Asia pukul 8.30 wib.  Kami duduk-duduk sesaat. Ada yang menggunakan waktu ini untuk mengobrol ringan, juga untuk mengambil foto buat sweet memory nanti. Kami kemudian cek in, pemeriksaan barang-barang.
 “Tentu saja itu sebuah pengalaman yang baru dan menarik bagi anak-anak untuk menjadi warga internasional.
Beberapa anak laki-laki barangkal belum memiliki valuta asing (ringgit Malaysia dan Singapura Dolar), mereka berdiri di depan money changer, “Oh masih pagi, tentu saja belum buka untuk money changer”.  Akhirnya money changer, pukul 7.15 wib sudah open, namun peserta studi banding tampak bengong – mau tukar uang apa-. Apalagi pada billboard tidak ada tertulis mata uang Malaysia.
Aku  mengambil inisiatif dan mulai menukar uang, pada mulanya mau beli 200 ringgit dan harganya lebih dari Rp. 500.000,- “Wah kalau begitu 100 ringgit saja, dan aku harus bayar Rp. 295.000,-. Setelah itu anak-anak juga tertarik mengikutiku , mereka juga menukarkan mata uang Rupiah dengan Ringgit Malaysia atau Dollar Singapura.
Rombongan kami cukup banyak, jadi kami agak lama berada di depan pemeriksaan imigrasi untuk terbang menuju Kuala Lumpur. Hingga akhirnya pihak travel biro menyerahkan tiket dan kartu keberangkatan, kami antri dan menyerahkan kartu ini pada petugas imigrasi, kami masuk  satu per satu dan ada lagi pemeriksaan terakhir.
Tubuh kita harus dilepaskan dari benda-benda logam untuk pemeriksaan metal detector. Ya akhirnya kami berada di ruangan tunggu pesawat.
Di belakangku  duduk ada satu grup warga asing, mereka ngobrol tentang Mentawai. Agaknya Mentawai menjadi tempat favorite bagi warga asing untuk berlibur. Pemerhati wisata perlu berfikir untuk mengembangkan pariwisata Mentawai yang juga memiliki ombak tinggi seperti ombak di Hawaii. Maklum ada ombak dari samudera lepas- Samudera Hindia yang sangat luas
Aku  duduk pada bangku 16 F Pesawat Air Asia, AK 1371 dekat jendela, jadi aku dapat melihat pemandangan di bawah. Tentu saja terbang ke Kuala Lumpur, berarti kami melewati Sumatara Barat menuju timur, jadi aku  bisa melihat Danau Singkarak dari ketinggian, begitu pula dengan Gunung Sago.....atau mungkin juga gunung yang lain.
 “Wah aku tidak kenal gunungnya”.
Matahari berada di sebelah kananku, cahayanya menyusup lewat jendela pesawat.  Aku melihat  tebaran awan ibarat samudera luas di angkasa. Hamparan samudra awan di angkasa tentu memberi kesejukan bagi warga yang berada di bumi. Jauh di atas juga ada awan tipis menghiasi angkasa yang lebih tinggi lagi. Wah penulis ingat dengan pelajaran geografi.
Flight attendant menginformasikan bahwa suhu mendekati kota Kuala Lumpur adalah sekitar  290  C. Pesawat kami terbang melewati daerah Riau dan terus melintasi selat Malaka. Lautan awan tampak agak tipis. Itu berarti cuaca memang agak panas di kawasan tersebut, ketinggian pesawat berpengaruh pada telinga penulis karena saraf-saraf pendengaran penulis sedikit sakit dan begitu pula dengan lobang telinga. Akhirnya pesawat turun, berarti kami akan mendarat di Kuala Lumpur. Menjelang mendarat  penulis sempat melihat lalu lintas kapal di Selat Malaka.


Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture