Senin, 11 Februari 2013

Bertemu Presiden RI


Bertemu Presiden RI

1. Perjalanan Seorang Diri
            Selama hidup ini baru aku berpergian untuk jarak jauh seorang diri. Aku sempat berfikir dan berucap sendirian, “Bagaimana kalau sudah sampai di sana, apa nama transport yang harus aku ambil…..bagaimana kalau aku tersesat….?”
            Meskipun aku tidak muda lagi, namun aku ibarat seorang anak kecil, anak SD yang belajar memberanikan diri untuk berjalan jauh sendirian. Aku punya resep aku tidak salah jalan maka harus selalu pasang mata dan pasang telinga. Pasang mata untuk membaca berbagai tulisan sebagai penanda lokasi dan juga pasang telinga agar informasi penting tidak aku lewatkan.
            Perjalananku dalam di awal Desember ini adalah sebagai kado terindah di akhir tahun buatku. Sebelumnya dalam bulan September tahun 2012 ini aku alhamdulillah dinyatakan sebagai pemenang pemilihan guru berprestasi tingkat nasional oleh dewan juri dan kemenangan itu juga sebuah anugerah dan rahmat terbesar dari Tuhan (Allah Swt). Menang dalam seleksi guru berprestasi tingkat nasional tentu saja sangat didamba oleh jutaan guru di Indonesia dan begitu juga dengan aku sendiri. Temanku mengatakan:
“Akan ada beberapa reward berikutnya yang bakal kita peroleh”.
Beberapa waktu setelah itu aku menerima SMS atau pesan singkat bahwa aku termasuk salah seorang yang beruntung- dicalonkan untuk menerima satyalencana pendidikan- yaitu penghargaan tertinggi dari Presiden R.I. Ternyata bahwa pernyataan itu benar dan aku pun memenuhi semua persyaratan yang diminta oleh panitia pemberian satyalencana.
            “Penganugerahan satyalencana dilakukan di audiotorium Sentul- Bogor di awal bulan Desember 2012 ini”.
Aku harus berpergian dari kota kecil ini (Batusangkar) sendirian. Ini merupakan perjalanan jauh bagiku seorang diri. Namun untuk perjalanan jauh dalam grup aku sudah sering. Sebelumnya aku menikmati perjalanan yang agak jauh mengelilingi 3 propinsi (Sumbar, Sumut dan Riau). Setelah itu aku juga pernah berpergian ke Jakarta dan beberapa kota besar di Sumatera.
            Tahun lalu aku juga berpergian ke Singapur dan Malaysia (negara- negara bagian dalamnya). Kemudian aku juga selama dua minggu menuju Jakarta dan mengelilingi pulau Jawa  dan sempat bermalam di perkampungan Bahasa Inggris- Pare. Namun dalam semua perjalan tersebut dalam bentuk grup dan atau tour leader yang membuat seluruh perjalanan menjadi nyaman.
            Mbak Erna- salah seorang panitia satyalencana- mengirim pesan singkat padaku lagi. Ia juga mengirim surat resmi tentang beberapa dokumen yang harus aku lengkapi lagi. Aku melengkapi dan mengirim dokumen tersebut. Selanjutnya aku menunggu tanggal 25 November sebagai hari guru untuk diundang ke Jakarta. Tanggal 25 November pun dan dan kemudian berlalu namun aku belum menerima undangan.
            “Katanya bahwa aku bakal datang ke Jakarta, namun surat panggilan/undangan buat ke sana belum datang!”. Aku sering agak sedikin complain.
            Suatu hari ada panggilan lewat telepon buatku dari kantor Dinas Pendidikan Propinsi Sumbar di Padang. Ternyata ada panggilan untuk kegiatan bimbingan tekhnis di Jakarta. Aku pergi ke Padang untuk mencari tahu dan menanyakan berbagai persyaratan. Aku sering berfikir:
“Mengapa aku belum juga menerima undangan dari panitia satyalencana ?”
Maka pada saat yang sama aku mengirim SMS pada panitia satya lencana. Ya seketika datanglah balasan bahwa aku harus segera melengkapi persyaratan untuk keberangkatan ke Jakarta.
            “Harap penuhi persyaratan keberangkatan untuk menerima satyalencana dan para calon sebanyak lima orang akan dipandu oleh Pak Singo Sukartono”. Demikian pesan SMS dari Mbak erna.
Kalau begitu aku akan mengikuti dua kegiatan di Jakarta yaitu bimbingan tekhnis dan juga penerimaan anugerah satyalencana. Tentu saja aku lebih memprioritaskan undangan/ panggilan yang  kedua (penyerahan satyalencana) karena lebih punya gengsi ya…bertemu langsung dengan Pak Presiden.

2. Aktifitas Yang Overlap
            Ada dua kegiatan yang overlap- saling berdempet- yang harus aku ikuti yaitu kegiatan HGN (Hari Guru Nasional)- penyerahan satyalencana dan bimbimbingan tekhnis.  Salah seorang dewan panitia pada bimtek juga mengusulkan padaku agar aku mengikuti kegiatan penerimaan satyalencana melalui peringatan hari guru nasional dan usai itu aku boleh bergabung dengan kegiatan yang kedua.
            Aku berkemas untuk menuju lokasi peringatan hari guru nasional yang akan berlangsung di Bogor. Ada 5 orang yang diundang dari kelompok guru berprestasi nasional 2012 yaitu 4 dari pulau Jawa dan 1 dari pulau Sumatra dan aku adalah satu-satunya guru yang akan diberi anugerah satyalencana dari pulau Sumatera. Aku harus pergi ke Jakarta dan Bogor sendirian karena tidak yang lain mendapat undangan. Aku membeli tiket pesawat terbang yang berangkatnya agak siang.
“Kalau aku ambil keberangkatan pesawat jam 8.00 pagi, ya…..pukul berapa aku harus berangkat dari rumah tentu musti sebelum sholat subuh. Wah merepotkan..dan mana ada mobil umum yang berangkat pagi-pagi buta!!”
Setelah sholat subuh aku pamitan dan say good-bye pada istri dan anak-anakku. Mobil executive rental membawaku meluncur menuju bandara BIM (Bandara Internasional Minangkabau) dan setelah hampir 3 jam aku sampai di sana. Lagi- lagi aku harus menunggu untuk check in buat terbang ke Jakarta. Aku musti menunggu kira- kira dua jam buat terbang.
Waiting is boring- menunggu itu membosankan”.
Aku berjalan mondar-mandir untuk mengusir rasa bosan- sekedar menghabiskan waktu. Aku kemudian melihat satu grup guru- guru yang usianya sekitar 40-an dengan pakaian seragam yang nyaris sama. Rupanya mereka adalah  mahasiswa UT (Universitas Terbuka) yang bermaksud untuk juga terbang ke Jakarta untuk mengikuti acara wisuda mereka. Aku bergabung dengan grup mereka agar aku tidak merasa sunyi  dan aku  berbagi cerita dengan mereka. Selanjutnya kami bergerak ke dalam terminal buat check in. Aku ikut bergerak dan antri di belakang para mahasiswa UT tersebut. Aku juga ikut-ikutan antri yang agak panjang dan lama
“Wow buat apa aku harus antri di belakang mereka. Aku pergi sendirian bukan dengan grup mereka”. Aku tertawa sendirian.
Aku menuju counter yang di sebelahnya buat mengurus tiket dan boarding pass. Alhamdulillah bangkuku dekat jendela. Aku selalu merasa senang kalau bisa duduk dekat jendela karena aku bisa melempar pandangan jauh ke bumi. Aku merasa nyaman dengan suasana pesawat siang ini. Aku lebih banyak memejamkan mata buat rileks. Dan setelah terbang hampir dua jam aku mendarat di bandara Jakarta. Aku bersiap- siap untuk pendaratan di bandara Jakarta. Aku mengaktifkan phonecell-ku setelah pesawat betul- betul berhenti dan sinyat phonecell tidak akan berpengaruh pada Sistem navigasi. Ada deringan dari phonecell-ku.
“Bang Jo……aku anjurkan anda berangkat saja dengan taxi ke Bogor”, kata Bopen- adikku- yang menelpon ku dari Medan dan aku mempertimbangkan sarannya. Itu adalah ide yang baik, namun aku memilih untuk bisa naik mobil Damri saja menuju Bogor. Karena mobil ini cukup banyak dan  punya trayek ke berbagai daerah termasuk ke Bogor. Aku bergegas bersama penumpang lain untuk menuju  emperan di seberang terminal bandara. Aku melihat banyak orang menunggu mobil Damri ke berbagai tujuan ke seputar Jabodetabek (Jakarta-Bogor- Depok- Tanggerang- Bekasi). Aku ku memperhatikan dan menunggu mobil Damri buat  jurusan Jakarta- Bogor.
Akhirnya aku melihat mobil yang aku maksud datang, ada dua mobil. Aku bisa menaiki salah satu mobil untuk tujuan Bogor. Hanya ada bangku cadangan pada bagian belakang.
“Tidak apa- apa, biarlah aku duduk di bangku cadangan”. Kataku pada kondektur mobil itu. Aku dibantu oleh kondektur untuk mengangkar koperku ke dalam mobil. Aku akhirnya bisa duduk di sana dengan rasa cukup nyaman.
Perjalanan Jakarta- Bogor terasa agak cukup lama, ada sekitar satu jam. Pada mulanya aku tidak punya teman untuk  berbicara. Pada satu kota kecil ada seorang penumpang yang turun dan aku pindak ke bangkunya.  Aku duduk di sebelah pria agak tua yang berasal dari Palembang. Aku sempat bertukar pikiran dengan pria itu hingga mobil mencapai daerah Bogor.
Setelah agak pegel duduk dalam mobil akhirnya mobil kami memasuki lokasi  terminal di daerah Baranang Siang. Nama daerahnya terasa unik di telingaku ya seperti frase “Berenang Siang”.  Aku bersalaman dengan pria- teman sebangku- yang berasal dari Palembang dan kami saling pamitan. Mataku melotot melihat hotel, aku fikir bahwa itu adalah hotel yang bakal aku tuju. Nama hotel itu adalah  “Hotel Mirah Santika” dan aku tidak memperhatikan alamatnya.
“Yang yang jelas itulah hotel yang bakal aku tuju”. Ucapku sendirian, hotelnya sangat megah dan gampang dijangkau dari Terminal.

3. Salah Alamat
Aku tidak buru- buru untuk menuju hotel karena aku merasa lapar. Aku memutuskan untuk makan siang dulu. Enaknya ya….kalau bisa menyantap nasi sup. Di terminal itu berjejer banyak warung- warung kecil yang bersih dan cukup rapi. Aku berhenti pada sebuah kedai/ warung di lorong pinggiran terminal. Aroma masakan di sana sudah mengusik hidungku dan bikin aku lapar….wooow aku merasa lapar…. Aku memesan sepiring nasi dengan sup hangat yang  cukup lezat untuk mengusir rasa lapar.
Alhamdulillah, aku merasa kenyang. Beberapa butir peluh hasil metabolism dalam tubuhku keluar membasahi punggung dan tengkukku. Aku bangkit untuk menuju hotel yang dimaksud (hotel yang terlihat di pinggir terminal adalah hotel Mirah Santika).
 Aku kemudian menuju hotel itu, tetapi jalan kesa terasa buntu. Aku bertanya pada seseorang untuk bisa memberiku panduan buat menuju hotel yang baru saja aku lihat dari kejauhan. Aku mengikuti petunjuknya- berjalan sambil menyeret koperku dengan langkah yang aku paksakan.
Aku bertanya lagi pada seorang perempuan yang jalan barengan dengan suaminya. Dia meminta ku untuk mengikutinya.  Aku  mengikutinya memasuki sebuah plaza- melintasi tempat parkir di lantai bawah sambil menenteng koper kainku yang cukup gede. Nafasku jadi sesak juga.
“Nah bapak jalan terus pada gang ini kemudian belok kanan”
“Terima kasih banyak atas kebaikan mbak” Kataku pada perempun baik hati itu. Aku mengikuti nasehatnya dan akhirnya aku sampai ke gallery hotel lewat pintu belakang. Di sana ada beberapa petugas hotel.
“Bisa saya bantu …..”
“Terima kasih mas, saya memang sengaja menuju hotel anda” Kataku pada salah seorang receptionist menyambutku dan aku juga berbasa- basi dan juga bertutur bahasa yang sopan. Aku tidak buru- buru untuk menuju resepsionis. Aku berdiri agak sejenak hingga rasa penat hilang. Sopan santun  sangat penting dalam pergaulan dengan orang baru. Sopan santun akan membuat kita bisa merasa nyaman. Setelah hilang rasa penatku maka aku telpon Pak Singo Kuntoro.
“Hallo Pak Singo….saya sudah berada di lobby hotel…”
“Iya…iya..saya akan segera turun….., lho Pak Marjohan di mana ?” Tanya Pak Singo.
“Ini saya duduk di lobby Hotel Mirah Santika” Jawabku. Aku mendengar sahutan Pak singo dari microfon phonecell namun tidak melihat wajah Pak Singo.
“Maaf, hotel tempat anda menginap selama di Bogor adalah di Hotel Mirah Sartika di Jalan Dewi Sartika”. Kata Pak Singo memberikan konfirmasi.
“Jadi saya salah nhotel….Pak Singo ?”
“Iya hotel anda adalah Mirah Sartika…bukan Mirah Santika, namanya beda beda sedikit”. Aku merasa agak malu dan juga risih. Maklum sebagai orang baru pertama kali berkunjung ke kota Bogor. Rupanya aku kurang cermat dalam membaca nama hotel, apalagi alamat hotelnya.
“Wah tidak apa-apa sebab ini akan menjadi pengalaman baik bagiku”. Kataku pada diri sendiri untuk menghibur diri. Aku bangkit dari duduk dan melakukan konfirmasi bahwa aku salah alamat.
“Maaf dik, saya ternyata salah alamat. Hotel yang saya maksud adalah hotel Mirah Sartika bukan Mirah Santika, jadi ternyata berbeda ya….namun saya tidak tahu kalau berbeda. Tadi saya melihat hotel tanpa peduli apakah Sartika atau Santika” Kataku menjelaskan kekeliruanku.
“Wah tidak apa- apa pak, memang hotel Mirah Santika dan Hotel Mirah Sartika itu satu grup manajemen”. Respon resepsionos padaku. Aku meminta reseptionis mencarikan taxi buat buat menuju hotel Mirah Sartika. Dalam bebrapa menit kemudian sebuah taxi- taxi Blue Bird- datang.  Namun sopirnya memberi  keterangan pada ku bahwa ia adalah sopir taxi khusus mengenal Jakarta saja.
“Maaf pak, saya sopir taxi khusus rute Bogor- Jakarta, buka rute dalam kota Bogor”
“Tidak apa-apa mas, saya yakin anda bisa mengantarka saya ke Hotel Mirah Sartika. Ini alamatnya dan insyaallah nanti kita bisa jumpa alamat ini”.
Sopir taxi membawaku melewati jalan depan hotel yang sudah terasa macet, maklum mau di akhir pecan. Orang- orang banyak menuju Bogor. Sopir taxi  mulai  kebingungan untuk mencari alamat. Aku tadi berfikir kalau dia hanya separoh bingung dan kalau aku memang mutlak tidak kenal peta kota Bogor sama sekali.
Mobil melaju dengan susah untuk melewati jebakan kemacetan. Baik aku maupun sopir taxi sama- sama stress karenamobil selalu terjebak dalam kemacetan jalan yang sempit. Baru beberapa meter bergerak ternyata sopir taxi sudah mengeluh karena iabetul- betul tidak mengenal lokasi hotel yang aku maksud. Aku meminta sopir taxi untuk berhenti beberapa kali untuk mencari info tentang lokasi hotel dari penduduk logal.
Sopir taxi melaju lurus…kadang- kadang belok kiri dan kanan sesuai petunjuk yang kami peroleh dari penduduk local tentang alamat Hotel Mirah Sartika yang letaknya di Jalan Dewi Sartika Bogor. Namun jalan Dewi Sartika belum bersua, karena bukan jalan protkol, hanya sebuah jalan biasa. Akhir aku dan juga merasa lelah dan bosan.
“Bapak turun saja di sini dan coba naik ojek”. Pinta sopir taxi padaku dengan wajah stess.
“Jangan begitu mas.., saya tidak kenal daerah Bogor, saya orang baru di sini…saya diundang untuk berjumpa Pak Presiden besok. Kalau saya nanti hilang di Bogor tentu orang-orang di Propinsiku bakal ribut dan bakal mencari taxi mas”. Demikian kataku sedikit bercanda dan sopir taxi melanjutkan perjalanan menuju hotel Mirah Sartika. Dan kami bertanya sekali lagi pada seorang kuli bangunan.
“Permisi…..bapak tahu lokasi Hotel Mirah Sartika..?”
“Ya…tidak jauh dari sini…terus sedikit lagi …kemudian belok kiri…belok kiri lagi…persis di belakang SMP 1 Bogor” Kata kuli bangunan tersebut menjelaskan. Aku merasa sangat gembira dengan keterangannya. Benar bahwa hotel  tersebut ternyata berlokasi di belakang Hotel Salak dekat SMPN 1Bogor.Taxi kami akhirnya berhenti di depan hotel yang kami maksud.
Welcome di Hotel Mirah Sartika. Ternyata tidak jauh namun karena kami tidak tahu medan atau lokasi yang muter- muter. Taxi segera berhenti dan di sana sudah ada temanku yang lain bersama Pak Singo yang juga diundang buat menerima anugerah satyalencana.


4. Hari Guru Nasional
            Keberadaanku selama dua hari di Bogor terasa sangat rileks. Kami tidak punya kegiatan apa- apa hanya sekedar memenuhi undangan dan saling bertemu dengan orang- orang yang juga diundang. Kami menginap di hotel Mirah Sartika dan kami ada berlima orang- berasal dari tempat yang berbeda, yaitu:
1.      Isdarmoko, Kepala SMA berprestasi asal SMAN 1 Bantul D.I Yogyakarta
2.      Aku/ Marjohan, Guru SMA berprestasi, asal SMAN 3 Batusangkar Sumbar
3.       Riadi Nugroho, Pengawas SMK berprestasi, asal Kab. Pati Jateng
4.      Ejon Sujana, Guru SMK berprestasi, asal SMKN 1 Cimahi Jabar
5.      Ahmad Ishom, Kepala SMK berprestasi, asal SMKN 6 Semarang, Jateng
Kegiatan kami selama di Bogor  hanya untuk persiapan upacara HGN (hari guru nasional)  yang bakal dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhiyono (SBY) di Audiotorium Sentul tanggal 4 Desember 2012. Tentu saja kegiatan gladi bersih- persiapan buat upacara- yang mana kami berlima berada dalamnya. Kami merasa sangat rileks.  
Selesai sholat subuh dan juga sarapan pagi, kami berlima pergi jalan-jalan tanpa arah yang jelas dalam kota Bogor. Kami mengambil jalur menuju kompleks istana Presiden Bogor. Kompleks istana tersebut sangat luas. Dalam pekarangannya berkeliaran banyak rusa yang konon  sudah beranak pinak sejak zaman kolonial Belanda- ratusan tahun lalu. Sekali- sekali aku mengarahkan kameraku ke arah latar istana dan juga rusa-rusa yang berkeliaran. Aku sengaja mengambil foto buat memori- kenangan manis bila aku kembali ke kampungku di Batusangkar.
Salah seorang teman mengajak kami untuk mampir ke dalam kompleks istana. Namun tentu saja tidak gampang untuk masuk- aku sendiri jugamerasa tidak siap untuk masuk, karena pakaian kami tidak rapid an juga memakai sandal jepit. Namun aku harus ikut suara terbanyak.
Kami harus mendapatkan izin dari penjaga terlebih dahulu. Teman yang kami tunjuk sebagai ketua dadakan menuju penjaga istana. Ia melakukan pendekatan dan tampaknya cukup berhasil.
“Lho, tiga di antara kami masih memakai sandal hotel dan tentu tidak etis buat masuk komplek istana”. Aku juga merasa sedikit gelisah. Ahmad Ishom sebagai ketua kelompok kami segera datang.
“Oke teman- teman, kita semua  diizinkan untuk mampir namun karena tidak berpenampilan rapi maka  kita hanya diizinkan berada di pinggir pekarangan dan salah seorang petugas penjaga akan memandu  kita”. Demikian penjelasan Ahmad Ishom.
Kami pun melangkah ke dalam kompleks dengan perasaan riang dan setiap orang kemudian mulai mempersiapkan kamera untuk mengambil momen- momen yang menarik. Perjalan dadakan pagi itu  kami lanjutkan menuju pasar tradisionil kota Bogor. Kami naik angkot dan angkot kami menelusuri jalan- jalan sempit kota Bogor. Persis  selama jam sibuk dengan pengguna jalan  yang sangat padat. Angkot kami terasa susah untuk bergerak. Kemudian kami memutuskan untuk turun dan hanya mampir pada sebuah kompleks pertokoan tradisionil. Di sana kami hanya sekedar lihat sana dan lihat sini dan setelah itu kami memutuskan untuk kembali ke hotel.
Siang itu Pak Singo Kuntoro, sang pemandu, sudah membuat agenda kegiatan buat  kami dalam mengikuti kegiatan gladi bersih. Sebelum berangkat menuju sentul aku menyempatkan diri buat sholat zuhur dan aku melakukan sholat jamak dengan ashar- aku tidak bisa memprediksi waktu dan kegiatan waktu sore. Aku yakin nanti tidak akan bisa mencari waktu dan tempat buat sholat ashar dan lagi pula aku juga seorang musaffir selama berada di Bogor dan Jakarta.
Kami sampai di kota Sentul. Aku baru tahu dengan kepanjangan huruf AICC yaitu Audiotorium Internasional Conference Centre. Gedungnya sangat megah dan luas. Lagi- lagi kami mengabadikan pemandangan sekitar audiotorium dengan kamera. Kemudian aku lihat satu persatu peserta pengikut gladi bersih berdatangan ke dalam ruangan. Mereka adalah orang-orang yang terlibat dalam kegiatan seni, tari, lagu dan music. Bagi kami dan peserta penerima penghargaan/ satyalencana hanya dilatih tentang cara berjalan dan cara menuju panggung, juga harus tahu di mana posisi tempat duduk.
“Tidak usah begitu khawatir karena besok kursi- kursi akan diberi nomor dan nama peserta”. Kata Pak Singo. Aku membawa fikiran seperti saat aku berada di kota Batusangkar, sebuah kota kecil.
“Wah..mungkin acara gladi bersih ini hanya untuk dua atau tiga  jam saja”. Fikirku sendirian. Namun setelah aku renungkan bahwa ternyata acaranya  bisa berlangsung sampai malam. Sementara itu aku telah punya janji dengan grupnya Cindy- dan janjiku bakal mungkir dengan mereka- para alumni SMAN 3 Batusangkar yang telah menjadi mahasiswa di kota Bogor. Aku harus membatalkan janji untuk berjumpa dengan alumni.
“Maaf….maaf, Mr Jo tidak punya waktu buat reuni dengan ananda sekalian, karena acara gladi bersih sangat lama”. Aku sangat tahu bahwa tentu saja eks murid-murid sangat kecewa dengan keputusanku. Pada hal kemaren kami sudah buat rendesvous/ janji dan aku sudah menyisihkan dana buat mentraktir 30 orang alumni buat minum-minum pada café yang berdekatan dengan taman. Ya apa yang mau dikata, itu yang terbaik. Dari pada mereka terlanjur datang dan aku tidak bisa menghadiri tentu semua bakal lebih kecewa lagi.
Keesokan harinya kami bangun, sholat subuh dan sarapan pagi lebih cepat. Pak Singo Kuntoro mengantarkan kami dengan mobil yang disediakan panitiamenuju gedung AICC Sentul. Saat itu sekitar jam 6.00 dan terasa masih sangat pagi, ya kami sudah sampai di sana. Kami berlima memakai jas stelan lengkap dengan peci nasional. Peserta atau undangan yang lain memakai seragam Korpri.
Aku lihat bahwa  ruangan auditorium masih dinyakan tertutup dan masih diselidiki untuk mengetahui apakah gedung steril dari ancaman atau belum. Soalnya ruangan bakal dihadiri oleh Presiden dan petinggi negara lainnya.
Para utusan dan undangan PGRI dari seluruh pelosok Indonesia pun berdatangan. Umumnya yang mula-mula dicari oleh mereka yang datang adalah toilet. Aku sendiri dari hotel sudah wanti- wanti dan separoh berpuasa agar aku tidak begitu berurusan dengan toilet. Tidak hanya di sini malah juga sebelumnya bahwakalau aku bepergian untuk jarak tempuh yang jauh, sebelum aku tahu apakah ada tempat isirahat termasuk toilet, maka aku tidak makan dan minum sebelumnya. Setelah aku melihat ada tempat isirahat dan toilet maka aku baru berani untuk menyerbu restoran buat makan dan minum.
Akhirnya kami semua boleh memasuki ruangan audiotorium.memang ada pemeriksaan berlapis dan ketat dari pihak security. Aku juga diperiksa dengan metal detector dan malah juga hape dan kameraku minta diaktifkan untuk memastikan apakah aman atau tidak. Ternyata setelah memasuki ruangan kami harus menunggu sekitar 3 jam lagi untuk bisa sampai pada acara puncak, yaitu jam 10.00 WIB pagi.    
Di depan audiotorium sudah terpajang tulisan- tulisan dan dekorasi yang apik dengan lampu warna warni. Para penghibur dan artis sudah mengambil posisi mereka dengan rapid an anggunnya. Mereka dibalut dalam pakaian seni yang sangat menarik.
Akumelihat sebuah nama-juga meliputi  namaku- dan aku duduk pada deretan paling depan. Aku dan juga teman- teman yang lain memutuskan untuk mengambil foto- foto buat sweet memory  lagi. Kami juga bertukar cerita dan sekaligus  menikmati suguhan kesenian  sambil menunggu kedatangan rombongan Presiden SBY. Suguhan lagu dan tari sangat memikat hati kami. Aku tahu bahwa acara hari  itu disebar-luaskan (live)  oleh beberapa stasiun televise ke seluruh pelosok Indonesia.
Tepat pukul 10.00 Wib, Presiden dan romobongan memasuki ruangan audiotorium lewat pintu belakang. Itu berarti bahwa acara puncak HGN (Hari Guru Nasional) segera dimulai. Aku dan 14 orang penerima satya lencana merasa sebagai orang yang paling berbahagia di dunia karena kami nanti bakal tampil di pentas kehormatan untuk menerima anugerah.
“Aku tahu bahwa wajahku juga sedang dilihat/ ditonton oleh banyak orang, teman-teman dan keluargaku di Sumatra. Makanya sekali-sekali hapeku bergetar pertanda ada yang mengirim SMS, mungkin mereka juga sedang menonton acara HGN dari sana. Dan aku juga menyempatkan membalas SMS mereka dengan bahasa yang lebih sederhana”.
Menerima penghargaan satyalencana adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Master Ceremony mempersilahkan kami semua untuk berdiri dan melangkah menuju panggung. Kami berdiri di atas panggung, semuanya menghadap kepada penonton yang duduk terbentang di hamparan kursi dan bangku di stadium. Presiden didampingi beberapa orang rombongannya  mulai bergerak untuk menyematkan medali yang disebut dengan satyalencana pada kami. Berbagai kamera televisi terfokus ke arah kami semua. Aku juga menoleh ke  arah kanan dan memperhatikan bagaimana Pak Presiden SBY menyematkan satyalencana tersebut pada dada masing- masing penerima satyalencana.
Akhirnya tiba giliranku. Pak SBY bergerak dua langkah mendekatiku dan mengambil satyalencana dari baki kecil dan menyematkan pula ke dada kiriku. Aku menoleh ke wajah Pak Presiden dan kami saling melempar senyum.  Pak Presiden memang sangat gagah dan berwibawa. Tubuhnya lebih tinggi dari tubuhku. Rambutnya dipotong dan disisir rapi.
“Selamat atas prestasi yang telah diberikan buat bangsa, moga moga-moga sukses selalu”, kata Pak SBY sambil menyalamiku.  Ia memberiku semangat patriotik  untuk menjadi guru yang hebat.
“Terimakasih Pak Presiden..!!!” Jawabku secara singkat. Fotografer khusus juga telah menjepret wajah kami. Aku ingin memiliki foto penuh memori ini, kami tidak diizinkan untuk mengambil foto sendiri. Namun kita bisa memilikinya dengan cara mengirim surat khusus (meminta foto)  pada Pak Presiden melalui Kepala Biro Pers Media dan Informasi pada Sekretariat Presiden di Jakarta.
Waktu yang indah itu segera berlalu. Kami kemudian meninggalkan panggung, lepas dari terpaan lampu warna-warni dan juga sorotan belasan kamera televisi. Pak  Presiden SBY tinggal sendirian di atas panggung. Pembawa acara mempersilahkan Pak Presiden  SBY untuk menyampaikan pidato tentang hari guru nasional. Pidato Presiden saat itu sangat memotivasi semua guru Indonesia. Pidatonya mengingatkan bagaimana guru- guru haru menjadi pribadi yang professional dan itu bisa terwijud lewat penguasaan kompetensi keguruan- yaitu kompetensi professional, social, paedagogi dan kepribadian.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture