Senin, 11 Februari 2013

Di Jantung Kota Melbourne

Di Jantung kota Melbourne

1. Pergi Jalan- Jalan
            Seperti biasa bahwa Pak Ismet dan Ibu Rebecca memenuhi rendezvous dengan kami tepat waktu. Jam 8.00 pagi mobil land cruiser Pak Ismet datang lagi. Kami sudah tahu bahwa mereka sangat disiplin waktu. Kami merasa malu kalau mereka yang datang duluan maka kami harus turun ke bawah duluan- lebih awal.
Wah kami merasa berat hati karena hampir tiap hari menyusahkan mereka berdua- mengantarkan kami kesana kemari. Namun mereka juga memandang kami sebagai tamu mereka- utusan dari pemerintah Tanah Datar. Mereka sudah membuat MoU dengan pemerintah Kabupaten Tanah Datar.
“Moga-moga mereka berdua selalu berkenan dengan keberadaan kami dan juga bermanfaat bagi kami serta pengembangan motivasi berprestasi guru guru di daerah kami. Paling kurang mereka bisa menjadi guru berprestasi seperti kami berdua”.
Hari ini kami diajak buat sight-seeing ke dalam kota Melbourne. Pak Ismet juga menawarkan kami buat berkunjung ke Australian Zoo. Kalau bisa pergi ke sana juga bagus, namun harga tiket masuk 26 AusD  per orang atau kurang dari Rp. 300 ribu. Wah cukup mahal
Bagaimana kalau pergi ke laut ? Pergi ke pantai di awal musim panas atau di akhir musim dingin tentu cuaca- air dan angin- masih terasa amat dingin. Apalagi angin yang bertiup dari selatan adalah angin kutub selatan.
“Kami sangat bernafsu untuk berfoto-foto dan buat berfoto makan event terbaik adalah pergi ke jantung kota Melbourne. Kalau boleh kami betul-betul bisa singkah di rumah pahlawan sejarah- James Cook- penemu benua Australia. Agar kita bisa berfoto-foto sepuas hati. Kita bisa melihat bagaimana mentalitas orang modern dalam menghargai sejarah /pahlawan mereka. Juga  rumah- rumah. Ya bagaimana orang Australia membangun gedung dengan teratur. Tiap rumah ad ataman, pagar dan juga ada ruang buat orang lain”.
“Bila kita melihat daerah pemukiman yang teratur maka kita akan melihat bahwa tentu orang di sana juga memiliki pola pemikiran yang juga teratur”. Demikian kata Pak Ismet sebagai pengantar perjalanan kami.
Sepanjang jalan dari kawasan pedesaan (suburb) hingga menuju pusat kota Melbourne kami memang betul-betul menyaksikan semua rumah/ pemukiman penduduk yang tertata dengan rapi. Bentuk bangunan dan arahnya sama-sama tertata dengan baik dan punya jarak ke pinggir jalan. Aku melihat bahwa setiap rumah memiliki taman dan ditumbuhi oleh bungan dan tanaman yang rimbun. Kadang-kadang kami juga melihat bidang-bidang tanah yang kosong. Bidang kosong itu dinamai dengan zoning. Di sana memang dilarang membangun rumah, pertokoan, perkebunan apalagi apartemen.
Meskipun geografi Australia itu luas namun tidak ada orang yang membuang sampah dengan semau gue atau menjatuhkan sampah lewat jendela mobil. Membuang sampah adalah menyusahkan orang. Maka sejak dalam keluarga hingga ke sekolah, maka pesan membuang sampah pada tempatnya sudah menjadi karakter mereka.
Sekali-sekali aku juga melihat bagaimana orang Australia melakukan usaha sampingan dan mereka memajang papan merek. Dan aku melihat ada perbedaannya. Kalau di kampungku mungkin ada iklan seperti “terima jasa potong rumput atau terima jasa cuci motor”. Namun kalau di Australia selain menawarkan jasa pelayanan, juga menyebutkan besaran harganya. Misalnya “sedia jasa perbaikan atap dengan biaya 165 AusD hal- hal kecil masuk ke dalam fikiranku.
Prof Ismet Fanany sambil mengemudi mobil ngobrol tentang banyak hal dari A sampai Z tentang Australia. Meskipun ia sudah puluhan tahun tidak pulang kampung- di Desa Koto Panjang dekat Batusangkar Sumatera Barat- namun ia tetap mengupdate perkembangan kampungnya. Malah ia lebih tahu banya daripada kami yang sudah lama menetap di Batusangkar.
Obrolan sepanjang jalan itu merupakan kuliah atau ceramah panjang yang sangat berkualitas bagiku. Apalagi gratis dari seorang Professor. Obrolannya sangat signifikan dalam memperkaya wawasanku. Maka aku selalu mendengar obrolannya dengan Rebbeca, Inhendri Abbas, Dessi dan sekali- sekali juga denganku. Aku mencatat poin-poin penting lewat phonecell. Aku merasa rugi kalau tidak mendengar dan mencatatnya dengan seksama.
“Inikan kuliah gratis dan sangat bermanfaat”.
“Mendidik untuk mengembangkan fikiran, terlalu banyak teori, namun miskin aplikasi…miskin action akan memberi dampak dalam menciptakan yang sekedar kaya teori namun tak tahu untuk berinovasi. Bangsa Indonesia bukan kekurangan ilmu dan juga bukan kekurangan dana. Dana malah bisa berlebih, istano Pagaruyung yang terbakar petir bisa dibangun lebih megah dalam waktu yang singkat- namun yang kurang itu adalah komitmen dan aplikasinya (spesifik action)”.
Kalau berfikir bahwa bangsa kita tidak bisa seperti Australia atau negara lain. Daerah Sleman di Yogyakarta, sebagai contoh, berhasil menjadi daerah yang bersih, karena mereka mampu menghasilkan suatu solusi atas masalah sampah dan melaksanakan/ menerapkan solusinya, mereka melakukan komitmen. Jadi bukan hanya sekedar rapat, cari solusi dan melupakan komitmen atau hasil keputusan tersebut.
Kita masih perlu mendidik bangsa kita sendiri, mengapa ? Karena orang kita masih banyak yang belum peduli untuk keperluan umum. Ya belum peduli untuk keperluan umum. Ya belum peduli buat kepentingan umum. Mereka berfikir bagaimana bisa memperoleh untung buat diri, buat kelompok dan buat keluarga. Ini namanya untuk kepentingan nepotisme.   
Orang kita banyak yang belum bisa mencerdaskan diri, apalagi untuk mencerdaskan orang lain. Semangat self- learning perlu untuk mereka miliki. Tambahan bahwa dikatakan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang suka bergotong royong, ini bisa kita benarkan. Namun semangat gotong royong belum banyak yang timbul dari dalam diri. Mereka ikut bergotong royong hanya karena diajak dank arena ada rasa segan. Malah ada orang yang ikut kegiatan gotong royong hanya sekedar ambil muka.
“Atau dapat dikatakan bahwa semangat gotong royong kita adalah gotong royong yang diinstruksikan. Seharusnya kita memiliki rasa/ semangat gotong royong yang kreatif yang tumbuh dari dalam diri sendiri. Kita akan merasa senang apabila ada grup pemuda yang puny aide-ide kreatif, kemudian mereka bisa menggerakan teman- teman  dan masyarakat ”. Demikian kata Pak Ismet Fanany.  
Di sela-sela ngobrol, Prof Ismet Fanany juga berharap agar kami bertiga bisa membuat seminar dan workshop bila telah berada di Sumatra. Seminar dan workshop tersebut mungkin berjudul “seminar dan workshop pendidikan karakter tingkat SMA- SMK dan MA”. Aktivitas itu diharapkan bisa untuk memberi pencerahan dan perubahan di masa depan, yaitu bagaimana menciptakan warga sekolah yang peduli dengan karakter hidup bersih, kreatif dan rasa toleran antar sesama. Untuk mendukung pelaksanaan workshop dan seminar tersebut maka Pak Ismet danIbu Rebecca bersedia untuk diundang dari Melbourne ke Batusangkar.
Akhirnya mobil kami melaju dan berbelok menuju pelataran parkir pada lantai bawah mall plaza Melbourne yang aku kira memang berada di pusat kota Melbourne. Kami turun dan mengikuti langkah pak Ismet untuk menelusuri pinggir sungai Yara. Sungai ini membelah mengalir dan membelah kota Melbourne.
Aku baru tahu bahwa mengapa orang-orang Australia senang berjemur…, ya untuk mengimbangi suhu dingin dalam musim panas- tiupan angin kutup selatan sangat dingin dan berjemur bisa membuat tubuh jadi hangat.
Sekali- sekali aku melihat sebuah kapal kecil berlayar dalam sungai. Kapal tersebut bekerja untuk memungut sampah sampah, yang jumlahnya tidak banyak, hanyut di permukaan sungai. Aku berpikir bahwa sungai- sungai di Indonesia juga perlu memiliki kapal atau perahu untuk pengumpul sampah,dengan demikian aku bermimpi bisa melihat sungai dalam kota Padang, di Jakarta dan kota lain akan selalu bersih.
“Bila semua sungai yang mengalir dalam kota jadi bersih maka kita bisa membikin kegiatan wisata sungai, jadi devisa mengalir terus”.
Benar bahwa seperti yang dikatakan Prof Ismet Fanany bahwa di tengah kota Melbourne, yang mengalir dalamnya sungai Yara, masih berdiri dengan megah stasiun kereta api kuno. Jadi mereka tidak pernah meruntuhkan gedung- gedung tua/ gedung bersejarah, namun selalu melestarikannya dan juga memugarnya.
Di belakang stasiun tua tersebut telah berdiri banyak gedung gedung tinggi dan mewah. Gedung- gedung tersebut berguna sebagai pusat bisnis/ perdagangan, perkantoran dan termasuk deretan apartemen berharga mahal- hingga jutaan dollar Australia.
Kami menelusuri jalan seputar sungai Yara. Di sana aku melihat beberapa pengamen, ada pengamen perempuan muda yang cantik sedang memainkan biola. Di bahagian lain adalah pengamen keturuhan china yang sedang memainkan melodi china, juga pengamen seorang pastor atau pendeta berkulit putih dimana di tangannya ada kertas dengan tulisan Jesus is King. Bagi pejalan yang bersimpati bisa memasukan dollar sebagai donasi ke dalam kaleng atau kotak kecil di depannya.
Pada beberapa tonggak pagar jembatan terdapat speaker yang memancarkan bunyi instrument dengan nada lembut. Wah melodinya bikin kita betah duduk berlama- lama di pinggir sungai. Burung- burung camar juga betah bermain di pinggir sungai, mereka tidak takut kalau diusik ya di sana tak satu orang pun yang suka mengganggu burung. Burung- burungnya amat jinak.
Aku rasa burung-burung disana memang jinak dan bersahabat. Saat kami berada dalam restoran beberapa burung pipit terbang menyelinap ke dalam restoran dan hingga ke atas meja buat mematuk sisa makanan. Mereka pun terbang di sela- sela kepala manusia. Mereka tidak takut diganggu dan mereka merasakan bahwa manusia di sana sangat bersahabat dan mencintai lingkungan.

2. Kembali Ke Apartemen
Selepas tengah hari, aku merasa letih dan aku lihat temanku juga merasa letih. Aku juga tidak bisa mengambil foto lewat kamera atau phonecell-ku karena baterai keduanya sudah drop. Aku sempat menonaktifkannya dan kembali mengaktifkan baterai phonecell dan kamera untuk mengambil foto-foto terindah menjelang berpisah dengan jantung kota Melbourne. Kami menuju tempat pelataran parkir dan tentu saja harus menyusuri jalan semula. Kami harus kembali ke apartemen. Wow aku merasa gembira karena aku bisa beristirahat dan juga tidur siang.
“Wah aku harus sholat zuhur menjelang tidur siang. Aku memeriksa arah sholat menggunakan kompas kecil yang aku temukan dalam ranselku. Astaga bearti aku kemaren sholat menghadap tenggara ya. Maka aku membetulkan arah sholat ke barat lau atau arah menuju Saudi Arabia dimana terdapat Ka’bah- arah sholat kaum muslimin sedunia.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture