Senin, 11 Februari 2013

Flying to Australia

-->
IKUT Bimbingan Teknis

1.Berjumpa Teman Lama
Selepas upacara HGN berakhir, Presiden dan rombongan keluar dari audiotorium dan kembali menuju Jakarta dikawal oleh paspamres (Pasukan pengawal presiden). Selurus orang dalam audiotorium juga bergerak untuk keluar, mereka juga bersilaturahmi, berbincang dengan teman- teman yang tinggalnya terpisah jauh. Pak Singo mengajak kami ke sebuah ruangan untuk mengambil cendera mata- yaitu sebuah laptop dengan merek intel core 13. Berarti aku sudah menerima dua cendera mata dalam bentuk laptop, sebulan lalu aku juga menerima cendera mata laptop yang berukuran kecil (notebook).
Cendera mata yang lain dalam bentuk tabungan dari Bank BNI. Bulan lalu aku juga menerima tabungan dari Bank Mandiri saat aku memperoleh  penghargaan sebagai guru berprestasi terbaik tingkat nasional pada Plaza Kementrian Pendidikan di Jakarta.
Kami tidak begitu lama di komplek audiotorium, setelah makan siang, Pak singo membawai kami kembali ke Hotel Mirah Sartika di Bogor. Setelah sampai di hotel, Pak Singo meminta kami untuk menandatangani kwitansi karena kami diberi hadiah Satyalencana uang tunai (Rp. 20 Juta- wah aku sudah lupa jumlahny). Juga Bulan lalu aku juga menerima hadiah sebagai juara 1 guru berprestasi tingkat nasional.
Kami tidak mempunyai kegiatan lagi, kami boleh pulang dan juga masih punya kesempatan untuk tinggal di Hotel Mirah Sartika satu malam lagi.  Namun aku dan Isdarmoko (Kepasa SMA berprestasi tingkat nasional) memutuskan untuk segera meninggalkan kota Bogor untuk menuju Jakarta karena di sana ada kegiatan bimtek buat kami. Bimtek adalah singkatan dari bimbingan teknis. Dalam kegiatan ini kami akan memperoleh pelatihan tentang bagaimana memberikan presentasi dan merancang media presentasi yang ideal. Karena sebagai guru berprestasi kami semua bakal sering diundang dan memberikan presentasi di daerah masing- masing. Tentu diharapkan presentasi kami akan lebih berkualitas. Kami segera pamit dengan teman- teman dari Hotel Mirah Sartika bogor menuju Jakarta. Sebuah taxi pun segera datang untuk membawa kami.   
            Kegiatan bimtek dilaksanakan di Jayakarta Hotel- Jakarta Pusat. Taxi blue bird mengantarkan kami ke sana. Dan berhenti di depan hotel tersebut. Kami segera berada dalam hotel Jayakarta. Isdarmoko mencari tahu di lantai berapa kegiatan bimtek dilaksanakan. Kami akhirnya sampai di posko bimtek dan kami menyerahkan satu berkas dokumen sebagai peserta  dan langsung bergabung dengan kegiatan bimtek. Aku masuk ke kelompok guru berprestasi dan aku tentu saja menjadi peserta yang datangnya terlambat. Saat itu kegiatan berlangsung yang dipandu oleh ibu  Farida. Aku duduk dengan wajah sedikit sungkan dan kebingungan. Ibu Farida menyapaku lewat mikrofonnya.
“Welcome sang juara…..!!!” Seru Ibu Farida dan beberapa teman- teman peserta bimtek juga mengikuti seruan Buk Farida. Mereka menyambutku ibarat seorang pahlawan dan aku juga mengulurkan tangan buat bersalaman. Aku merasa senang dan ikut tersanjung. Ya begitulah perasaan seseorang yang memperoleh juara dalam suatu event.
Wah ternyatakami kembali reuni dengan teman- teman dari 33 Propinsi di Indonesia. Aku melihat semua wajah peserta sangat ceria dan rileks kali ini. Tidak tenggang (stress) ibarat berjumpa di bulan September saat pemilihan guru berprestasi Indonesia.
Sekali lagi aku tahu bahwa tunjuan pemberian bimtek adalah untuk menambah wawasan pada kami- guru berprestasi Indonesia. Kami musti mampu melakukan riset dan juga presentasi yang bermutu.
“Kami diberi akomodasi- satu kamar dengan Isdarmoko dengan demikian dalam kamar 1808 ada dua orang berprestasi terbaik, satu guru berprestasi dan satu lagi kepala berprestasi…ha ha !!!” Moga-moga kami bisa memberikan prestasi bagi bangsa dan juga selalu menjadi orang yang rendah hati. Kegiatan bimbtek tinggal satu atau dua hari lagi.
Pada waktu senggang aku pergi ke luar untuk mencari cendera mata buat teman- teman guru di sekolahku. Kalau beli gantungan kunci, ya…tidak begitu bergengsi. Kalau aku beli kue- kue juga tidak begitu bergengsi. Akhirnya aku putuskan untuk membeli pin Kopri yang terbuat dari logam- dari jauh terlihat seperti emas. Jadi tiap kali pin ini dipakai, mereka akan ingat dengan nama ku….ha haha.
Kegiatan bimtek segera berakhir. Wah aku punya waktu satu atau dua hari di Jakarta…ya lebih baik aku manfaatkan. Kalau aku sudah berada di Padang, pergi ke Jakarta bakal susah lagi. Dengan demikian pada mulanya aku berencana untuk berkunjung ke rumah family di Cileduk- Tanggerang, namuk aku batalkan. Aku ingin berjumpa dengan Latif Pramudiana- teman lamaku saat sama-samamengajar di SMAN 1 Lintau- Tanah Datar, Sumbar. Kami sudah lama tidak bertemu, kami sudah terpisah selama 18 tahun. Latif sekarang mengajar pada SMA Mandiri Balaraja Tanggerang.

2. Ditinggalkan Pesawat
Sebelum berkunjung ke rumah Latif, aku terlebih dahulu memesan tiket pada counter tiket di hotel Jayakarta. Dan aku menunggu tiket sesaat. Kemudian, Latif Pramudiana datang menjemputku. Ia mengendarai mobil warna hitam. Dan ia terlihat sangat gagah dalam mobil yang elegan.. Latif segera melaju.
Malam itu aku nginap di rumah Latif dan juga berkenalan dengan anggota keluarganya. Aku mengagumi gaya parenting Latif pada anaknya. Ia bukan tipe ayah yang otoriter atau laissez faire (masa bodoh), Ia adalah seorang ayah yang sangat care pada anak- anak dan familinya. Ia berbahasa yang sejuk dan santun buat anak dan keluarganya- ia selalu menjaga kualitas komuniakasi, menemani anak dalam belajar dan juga melibatkan mereka dalam mengerjakan aktifitas keluarga- cuci mobil, merapikan rumah dan juga berolah raga.
“Ayo sayang, ikut bantu ayah. Ayo sayang habiskan makan dan minum mu. Ayo sayang jangan lupa sholat isya dan berdoa sebelum tidur”. Demikian seruan dan ajakan Latif buat anak-anaknya. Yang aku tangkap adalah bagaimana ia berbahasa yang menyenangkan buat anaknya. Juga bagaimana posisinya sebagai seorang ayah yang sangat peduli untuk hal-hal kecil buat anaknya.
Aku menyempatkan mencari makanan atau kue-kue khas dari Tanggerang. Sebelumnya aku juga telah membeli 40 keping cedera mata dari logam. Dua macam benda ini adalah buat  teman-temanku di SMAN 3 Batusangkar. Kemudian Latif mengantarkan aku menuju bandara Sukarno-Hatta dan aku sangat mempercayai Latif termasuk masalah ketepatan waktu. Kami harus bisa mencapai bandara sebelum jam 15.00, karena aku sudah harus terbang menuju Padang pada pukul 15.25 Wib.
“Aku sudah melihat komplek bandara Sukarno-Hatta di kejauhan, astaga….mobil tidak bisa bergerak, ada terlalu banyak mobil yang berjalan serba pelan di depan mobil kami”. DEngan rasa penuh stress akhirnya mobil latif bisa parkir sesaat di depan terminal bandara. Namun saat aku cek in waktu sudah menunjukan pukul 15.40. itu berarti aku ditinggalkan oleh pesawat……astaga….astaga”. Aku merasa kesal….tidak kesal pada siapa-siapa dan sangat stress- stress karena siapa?  
Tidak ada gunanya untuk stress gara- gara ditinggal pesawat. Aku juga tidak perlu menyalahkan Latif Pramudiana karena mobilnya bergerak sangat lamban. Lebih baik aku bersikap tenang dan banyak tenang karena dengan cara demikian bisa membuat aku lebih rileks. Aku pergi ke counter check-in dan petugas di sana merekomendasi aku untuk melakukan rescheduling atau daftar ulang. Aku pergi ke counter khusus untuk rescheduling.
“Bapak harus membayar biaya 50 % dari harga tiket”. Kata petugas.
“Tidak apa- apa,…ini dia” Kataku menyerahkan sejumlah uang. Aku setuju dari pada  aku beli tiket baru atau aku undur keberangkatan menuju Padang. Seharusnya aku perlu memperhitungkan waktu setiap kali berada di Jakarta, sebuah kota besar yang sering macetnya. Macetnya susah diprediksi. Moga-moga pengalaman ini ada hikmahnya, misalnya aku bisa lebih kaya dalam hal pengalaman hidup, mengenal problem dan bagaimana mengatasi problem tersebut”.
Aku bisa tersenyum karena memperoleh tiket baru dan aku duduk pada bangku dengan nomor 18 F. itu berarti aku duduk di depan bagian sayap dan dekat jendela. Wah aku bisa melihat pemandangan bumi lagi. Pesawatku terbang malam hari dan aku melihat kelap-kelip cahaya kota Jakarta di luar sana. Aku mengirim SMS pada keluargakubahwa aku terbang malam dan sampai di rumah tentu sudah agak larut malam.

3. Update Status Facebook
            Pesawat yang aku tumpangi mendarat di Bandara BIM Padang. Suasana malam membuat lingkungan agak sepi. Aku menyempatkan diri untuk mengupdate FB, memajang pengalaman pada wall- FB dan juga mengupload foto-foto selama di Sentu Bogor dan Jakarta. Aku juga menyempatkan membaca tulisan lewat home FB. Ada cerita tentang patah hati, kegagalan, persahabatan dan kekecewaan. Aku membaca ada berita sedih. Salah seorang mantan muridku, sebut saja namanya “Badu” telah meninggal dunia gara-gara gangguan ginjal.
            Badu salah seorang siswaku yang ganteng meninggal dalam usia yang cukup muda. Usia itu memang milik Allah Swt namun untuk sehat ditentukan oleh pilihan hidup dan juga gaya hidup kita. Beberapa waktu lalu aku pernah mengomentari gaya hidup sehatnya.
            “Kamu suka minum kopi kental dalam gelas besar dan juga 3 kali dalam sehari ya. Biasanya orang minum kopi hanya sedikit saja dan pada cangkir kecil”. Saat itu ia tetap berkomentar bahwa ia mengimbangi minum kopi kental dengan banyak  minum air putih. Selama aku tahu ia tetap pencandu rokok dan minum kopi kental yang banyak.
“Ia tetap bertahan dengan gaya hidup minum kopi kental dalam jumlah jumbo dan juga menjadi heavy smoker sejak masa remajanya. Gaya hidup yang tidak benar ini membuat ia mengalami komplikasi- ganguan ginjal, gangguan paru-paru dan juga gangguan jantung- dirawat cukup lama….akhirnya koma dan dead….innalillahi wainnailaihi rojiun”.   
Akhirnya semua penumpang pesawat Lion Air menuju ruang bagasi untuk mengambil barang- barang mereka. Aku juga dan memgamati tanda pada koperku. Owww ..itu koperku dan aku segera menyeretnya dari ban-berjalan. Di sepanjang pagar luar aku memperhatikan banyak orang sedang menunggu keluarga mereka, namun aku tidak ada yang menyambut, aku datang sendirian. Wah…itu biasa
Aku berjalan menuju pool taxi yang resmi. Aku tidak mau menaiki taxi yang tidak jelas identitasnya- apalagi untuk menaiki taxi pada malam hari untuk tujuan yang agak jauh. Taxi melaju menuju Batusangkar. Hanya aku berdua dalam taxi. Supaya tidak terasa sepi maka akulah yang memancing banyak pertanyaan dan sang sopir terlihat senang dengan pertanyaan- pertanyaan cerdas dariku. Tidak terasa sudah lebih dari jam. Kami mencapai kota Batusangkar.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture