Senin, 11 Februari 2013

Hampir di Tabrak Mobil

HaMPIR DITABRAK MOBIL

            Sore tadi aku mempelajari suasana apartement punthill di Knox city ini. Kami telah tinggal di sini hampir satu minggu dan sudah merasa seperti rumah  sendiri. Aku dan juga teman-teman sudah bisa tertidur nyenyak dan menikmati kenyamanan apartemen.
            Apartemen ini terdiri atas 4 lantai dan kamar kami ada pada nomor 217. Dalam ruangan apartemen seperti yang pernah aku ceritakan terdapat 2 kamar. Kami berbagi kamar, satu untuk Desi- kamar perempuan- dan satu laki buat kamar laki-laki. Sekali lagi bahwa kami merasa nyaman karena sekarang  bisa punya privacy. Namun kami selalu menjaga sopan santun satu sama lain. Ya kesopanan dalam berbahasa dan juga kesopanan dalam berpakaian. Ini berguna untuk menjaga agar tidak ada fitnah terhadap kami bertiga selama dalam perjalanan dan juga menjaga diri sebagai orang Islam.
            Saat Desi memasak di dapur-  kami kami yang laki- laki berada agak jauh dan melakukan aktifitas lain. Ternyata Desi jago masak dan masakannya lebih lezat dari restaurant Melbourne. Mungkin karena masakannya halal sehingga kami bisa makan dengan rasa aman hingga kenyang. Sementara kalau makan di restoran, hati akan berkata “makanannya halal atau haram ?”. Disamping itu memasak makanan sendiri ternyata juga bisa menghemat keuangan kami- dan strategi bertahan hidup di kota yang mahal.
            “Meskipun di mall atau di restoran tersedia aneka cita rasa makan dunia, seperti di restorant think Asia, namun aku kehilangan selera buat menyantap makanan. Kata Pak Ismet bahwa kita harus menguasai fikiran saat makan agar kita bisa makan di restoran internasional- karena disana juga ada yang halal. dan kata Ibu Rebecca bahwa kalau kita ingin maju maka coba memakan hidangan yang baru dan yang berbeda. Termasuk mengkonsumsi makanan selain makanan Indonesia”.
            Wah aku tidak bisa demikian, bukannya aku tidak bisa menyantap makanan tersebut. Namun sebagai orang Islam yang telah mempelajari dan memahami ajaran Al Quran, makan makan halal adalah sangat harus. Aku tidak percaya diri makan disamping hidangan haram. Apalagi di restoran dalam kota Melbourne bertaburan kue-kue haram yang ada kata-kata “pork, pig, ham, bacon dan itu berarti mengandung babi”.
            Bagaimana seleraku tidak hilang- saat berada di restoran kota Melbourne- begitu melihat satu piring makanan halal bersanding di sebelahnya ada satu porsi steamed pork ata satu porsi bacon. Bacon dan pork sangat diharamkan oleh agama Islam. Kita hidup dengan syariat Islam. Makan di restoran yang aku khawatir tentang kehalalannya, aku cenderung hanya memesan juice atau sebotol coca cola saja.
            “Pak Inhendri …..uncle Joe lebih menyukai masakan yang di rumah, maksudnya yang di apartemen. Meskipun dendeng yang dibawa dari Batusangkar ketika dikunyah terasa keras…sekeras batu, namun terasa lebih enak di lidah dan nyaman di hati”
            “Iya..uncle Joe, karena bahan makanan kita adalah halal dan dendeng yang dibawa dari kampung jadi keras karena kelamaan  dalam kulkas”. Kata Desi. Sore ini kami memasak mie pake telor dan juga goring teri yang kami beli dari knoxcity mall kemaren sore.
            Usai makan malam, aku lebih dulu bangkit dari kursi. Aku mengemas piring- piring dan gelas kotor. Aku mencuci semuanya pada was basin di dapur. Kemudian aku rapikan permukaan tempat memasak dan juga kompor setelah suhunya dingin. Aku bersihkan semua sebagaimana tempat tersebut bersih saat pertama kali kami datang.
            Kebiasaan membantu ikut merapikan dapur tentu saja membuat Desi bisa berbahagia. Di rumahku di Batusangkar aku juga melakukan hal-hal demikian, sekaligus untuk memberi model atau suri teladan buat anak-anak ku bahwa seorang pria/ seorang ayah jugaharus cekatan, bisa memasak dan merapikan dapur. Dia harus bisa mengurus diri dan juga mengurus keluarganya.
            Kami punya rencana untuk pindah apartemen besok. Lokasinya dekat ke universitas Deakin dan agar kami gampang pergi ke kampus. Kami harus punya persediaan, apalagi di apartemen baru nanti kami tidak tahu kalau- kalau ada mini market atau mall tempat untuk membeli kebutuhan harian.
            Kami bertiga segera turun menuju ground floor. Rencananya kami ingin membeli beras harus- beras Thailand, aku berharap agar beras Solok dari Sumatera Barat juga bisa dijual di Australia, aku rasa beras ini lebih gurih dari beras Thailand.
            Apartement kami persis berlokasi di persimpangan jalan- avenue atau jalan lebar. Jalan raya makin malam makin terasa agak ramai. Aku menyeberang pada garis penyeberangan saat mobil-mobil berhenti. Kami memilih suasana aman untuk menyeberang walau lampu merah masih menyala bagi kami- para penyeberang. Kami menyeberang sambil berlarian melintasi empat ruas jalan.
            “Ayo..rari Desi….lari Pak Inhendri…..!!!” Seruku.
            “Teeeet…….teeeeeeet”. Kami tidak melihat bahwa ada dua mobil berlari kenjang dan berhenti mendadak disamping kami. Klaksonnya memecah suasana malam.
            “Astahgfirullah…jangan jangan kita tertabrak dan mati di negeri orang….”Kataku merasa cemas. Kami akhirnya mencapai pinggir jalan dengan detak jantung yang kencang. Kami berusaha untuk menenangkan diri dan belajar dari kesalahan.
            “Bukan itu masalahnya….kita yang tidak mempelajari tata cara menyeberang melintasi jalan luas di Melbourne ini. Kita harus tahu cara menyeberang yang baik”. Kata Inhendri Abbas.
            Ya…kami melangkah terus dengan nafas terengah-engah dan sangat takut melintasi trotoar menuju mall knoxcity. Kami tidak bisa membayangkan kalau kami bertiga tertabrak dan andai sopir mobil sedang mabuk. Tentu kami akan menjadi berita di media massa di kampung kami.
            Kami terus memacu langkah mendekati gerbang masuk mall. Di jalan dekat gerbang pada jalan terlihat garis batas dengan cat merah dan tertulis ‘’no smoking beyond this point’ atau dilarang merokok dalam wilayah garis ini.
“Dan wowww..ternyata sudah jam 9.00 malam- masih terlihat senja di musim panas- namun mall sudah tutup. Pintu mall tidak bisa dibuka lagi, berarti tidak terima pengunjung.”
Kami putar haluan menuju pulang. Saat berjalan di trotoar aku melihat mobil- mobil publik menyalakan lampu tanda tidak menerima penumpang lagi dan aku membaca tulisan pada dindingnya “no in service”, maksudnya bahwa bobil tidak melayani trayek lagi, sopir juga butuh istirahat maka ia harus pulang ke rumah.
Kami sampai lagi di perempatan dan bersiap-siap untuk menyeberang namun kami kurang percaya diri untuk menyeberang. Khawatir kalau kami kena serempetan klakson mobil lagi. Untuk jalur kecil kami merasa aman dalam menyeberang. Sekarang kami bertiga sudah berdiri pada tonggak rambu-rambu traffic light. Kami harus mematuhi peraturan lalu lintas sebanyak 100 %. Kami menunggu lampu hijau buat menyeberang.
Mobil- mobil melaju cepat bila lampu hijau menyala buat mereka. Ya ibarat perlombaan mobil saja, start dan langsung ngebut. Wah lampu hijau buat kita kok tidak muncul- muncul. Kami melihat ada petunjuk cara menyeberang pada tiang traffic light. Ada gambar gambar orang dengan cat merah dan cat biru, kemudian diikuti dengan pesan/ peringatan:
Walk in care- berjalan dengan hati hati, bila lampu merah menyala jangan menyeberang. Bila lampu hijau menyala maka cross with care. Bila lampu merah berkedip- kedip maka menyeberang berakhir, jangan menyeberang lagi !”     
“Ya coba sekali lagi, lampu hijau mengapa belum menyala. Mobil mobil sudah berkali berkali berhenti dan berangkat”
“Astaga….ini ada tombol request-nya untuk menyeberang..!”. Kami pun memencel tombol tersebut dan tidak beberapa lama setelah itu memang menyala lampu hijau. Kami sekarang menyeberang dengan rasa aman dan percaya diri.
Sampai di seberang kami terus menuju apartement. Kami semua terlihat begitu ceria- ceria seperti anak anak Sekolah Dasar yang menang dalam ujian. Kami terkekeh- kekeh hingga di gerbang apartement.
“Wah sebuah pengalaman yang sangat manis dari Australia”.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture