Senin, 11 Februari 2013

Hampir Ketinggalan Pesawat di Melbourne

Pengalaman Terakhir

1. Bagaimana Menggunakan Fasiltas Bandara?
Kami minta bantuan receptionist apartemen Punthill untuk memesan taxi dengan kebarangkan dari hotel jam 06.00 pagi. Pada hal pada jam tersebut kantor receptionist apartement  masih tutup. Buka kantor baru jam 08. 00 pagi.
“No problem” Katanya. Kalau di Indonesia pemesanan taxi per-telefon. Namun di Melbourne sudah serba online. Ia akhirnya memberi kami bukti sudah memesan taxi dan besok pagi persis jam 6.00 taxi sudah datang. Kami kemudian pergi ke kamar apartemen di lantai atas.
Malam itu kami bersiap siap, mem-packing barang barang lagi. Merapikan peralatan dapur dan menyiapkan sedikit makanan buat subuh. Menjelang tidur aku mensetting jam agar terbangun jam 4.00 pagi (dini hari). Agar kami bisa bersiap siap untuk berangkat. Tidak aku saja, Inhedri Abbas- juga memasang setting jam untuk bangun lebih cepat.
Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak. Fikiran separoh bangun dan separoh tidur. Aku khwatir ketiduran dan khawatir tidak mendengar alarm jam buat bangun. Aku tidak tahu apakah dua orang teman ku bisa tidur pulas apa tidak.
Akhirnya aku bangun jam 4.00 pagi  dan segera mandi pakai shower panas. Kemudian sholat subuh- meski aku sendiri tidak tahun pukul berapa subuh masuk untuk kota Melbourne. Kemudian aku dengan teman ku juga bangun- mandi- berpakaian dan sholat.
Cepat saja rasanya waktu merangkak. Sudah lewat jam 5.00 pagi aku dan juga temanku tidak punya selera buat sarapan. Kami memutuskan untuk turun ke lantai dasar untuk menunggu taxi. Kami memeriksa kamar apartemen buat terakhir kali, memeriksa apakah masih ada barang- bsarang kecil kami yang tertinggal- dan yang penting lagi passport, visa dan dompet kami.
Jam 6.00 pagi kurang  lima belas menit. Kami harus keluar. Kunci apartemen kami letakkan di atas meja receptionist. Aku memberi warning buat dua temanku:
“Desi….Inhendri….apakah sudah siap untuk keluar, apakah masih butuh toilet, di luar tidak ada toilet. Kalau kita sudah keluar maka nanti kita tidak bisa masuk lagi ke ruang receptionist”. Setelah memastikan semuanya beres, ya kami menghela bagasi ke luar. Dan siap menunggu kedatangan taxi.
Pagi terasa dingin dan sepi. Jalan raya juga sepi. Beberapa taxi juga lalu lalang, namun belum ada yang mengarah ke depan apartemen punthill. Aku berkata pada teman kalau- kalau  sopir taxi lupa dan tidak tahu dengan nomor HP dan juga alamat kita. Ya kami masih khawatir, namun kemudian sebuah taxi putih masuk menuju kea rah kami.
“Good morning….How are you ?” Sapa sopir taxi berkulit putih.
“Thank you, anda datang sangat tepat waktu dan kami sudah menunggu taxi anda”. Aku membantu sopir memasukan barang- barang ke dalam box belakang taxi dan tak lama setelah itu taxi melaju.
Kami saling bertukar cerita dengan sopir taxi dalam bahasa Inggris. Aku duduk di depan dengan alas an aku sebagai guide dan bahasa Inggrisku sangat bagus disbanding dua temanku yang lain. Sopir tersebut juga dahulunya sebagai immigrant keturunan Eropa- aku lupa nama negaranya, namun bukan England. Setelah beberapa menit kami sampai di Bandar udara Melbourne dan ia mengantarkan kami ke gate bagian transfer menuju Sydney.
“How much we must pay..?”
“79 dollar…” Jawabnya. Oh berarti lebih sedikit dari Rp. 800. Ribu. Kami menyerahkan dollar dan kemudian saling bersalaman dengan akrabnya. Kami mengikuti langkah penumpang lain menuju ruangan counter pelabuhan. Ruangan terminalnya sangat megah. Namun kami merasa bengong kemana mau pergi.
“Beda ya dengan bandara di Padang atau di Jakarta. Di sini tidak terlihat counternya dan juga tidak ada petugas counter” Yang terlihat hanya banyak mesin mungkin itu namanya counter machine. Digunakan untuk memesan tiket dan juga untuk mengabil kertas gulungan buat ditempel pada bagasi.
Kami bertiga juga mencoba untuk menggunakan counter machine. Kami sudah mencoba mengisi formulir lewat layar monitor pada counter machine…wah gagal lagi. Desi melihat sekeliling dan ada seorang muslimah berkulit putih- memakai jilbab.
“Assalamualaikum…..hello….I am new person in Melbourne. I don’t understand how to you use this machine”
“Oke let me help you”. Kata muslimah tersebut. Kami menyerahkan kertas tiket dan ia mengetik lewat layar monitor. Ia punya waktu yang terbatas karena ia harus terbang ke kota lain di Australia. Tetapi okelah untuk selanjutnya kami juga bisa meniru apa yang ia lakukan.
Muslimah di Australia di Australia- wanita berkulit putih yang aku temui di bandara- wahanya terlihat lebih tenang. Cara berbicara dan cara berjalannya terlihat lebih lembut. Kontra dengan penampilan orang lain yang tampil hedon. Barangkali ini hanyalah penilaian aku pribadi- namun temanku Desi dan Inhendri juga melihat fenomena yang sama. Orang Australia sangat beruntung menjadi muslim karena pribadinya tenang dan alam mereka terlihat damai dan juga indah.
“Mister Jo ..aku bisa mengetiknya….ini sudah keluar kertas- kertas. Tetapi buat apa ya “. Tanya Desi. Meskin kami bisa menggunakan counter machine namun masih bengong untuk proses selanjutnya.
Aku melihat kalau- kalau ada petugas bandara. Akhirnya aku melihat seorang pria berkulit putih bertubuh tinggi, gagah dan ramah. Aku tahu bahwa ia bisa membantu kami karena pada kantong baju seragamnya tergantung konkarde.
Good morning.. I am new person in Melbourne, I want to fly to indonrsia but I don’t know how to use counter machine”. Pria itu tersenyum kemudian memandu kami untuk berjalan menemui operator counter yang bisa membantu kami secara manual.
Kami menyerahkan kertas tiket dan menunggu perintah demi perintah dari wanita tersebut. Pelayanannya sangat bagus. Orang canti, rapi, ramah dan cerdas. Kami menerima 3 tiket dan kami menyerahkan bagasi yang besar untuk dibawa ke bagian counter bagasi pesawat. Ia menulis petunjuk selanjutnya- misalnya kemana kami pergi lagi bila sudah beradadi bandara Sydney nanti.  
Thank you for your kindness service….” Kata ku dan kami melangkah menuju gate 13. Kami berjalan dengan langkah agak cepat menuju gate peswat Qantas. Sebetulnya di ruangan itu dilengkapi dengan WiFi, tapi aku tidak begitu memperhatikan. Fikiranku bahwa kami harus bisa terbang dengan pesawat Qantas jam 09.25.

2. Hampir Ditinggal oleh Pesawat di Melbourne
Kami bertiga menunggu pesawat di sebuah gate dan penumpang kulit putih lainnya sudah berdatangan. Aku selalu mengamati nomor peswatku QF 20 lewat monitor. Aku juga ikut mengambil koran koran Australia tanpa harus membayarnya- membayar dengan sukarela. Aku mendengar dengan jelas penunda keberangkatan menuju Sydney. Ada dua kali penundaan mula- mula selama 20 menit, kemudian penundaan selama 45 menit.
Cukup lama juga menunggu penundaan. Untung aku juga bisa menggunakan WiFi buatmengakses FaceBook dan mengupload foto. Aku cukup asyik hingga aku tidak begitu mendengar suara pelayan dari speaker. Yang jelas aku masih melihat ada kode QF 20. Namun tiba tiba kode itu menghilang. Aku panic namun Desi dan Inhendri biasa biasa saja, Mungkin mereka tidak tahu mengapa aku panic:
“Ya aku takut ketinggalan pesawat dan kalau didenda seperti di bandara Sukarno Hatta bisa dikenai registrasi ulang seharga 50 %. Untuk ukuran dollar cukup mahal. Aku segera bertanya pada petugas.
Exuse me…this is my ticket, but I don’t see flight QF 20 on monitor. I must fly to Sydneyand Jakarta”.
Oh…you flight changing……” Aku memberikan tiket dan juga tiket btemanku. Kami memperoleh tiket baru dengan kode QF 22. Dan kami harus pergi ke gate 1 yang lokasi cukup jauh. Aku mengajak Inhendri dan Dessi untuk ke gate. Desi cukup mengerti namun Inhendri tampak agak bengong…, aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak kecuali kami menyambar tangkai bagasinya dan menyeretnya menuju gate 1.
“Pak Inhendri mau tinggal di Melbourne…silahkan…mau terbang ayo ikut kami”. Dia juga bangkit dan kami berlarian menuju gate 1 untuk mendapatkan peswat QF 22. Cukup lelah dan nafas juga terengah dibuatnya. Kami bettanya juga pada beberapa orang untuk menuju gate 1. Akhirnya kami sampai. Dan terlihat semua penumpang sudah masuk hanya tinggal beberapa orang lagi dan termasuk kami bertiga.
“Untung kita lihat tadi monitor…untuk kita segera ke sini…..untung kitamasih belum terlambat…..” Ucapku. Pokoknya banyak  rasa beruntung saat itu. Kami dipersilahkan masuk dan duduk pada bangku yang terpisah karena kami bertiga adalah penumpang titipan dari pesawat QF 20 yang tertunda untuk terbang.   
Andai kita ditinggal pesawat di bandara Australia….
Setelah hampir dua jam peswat mendarat di bandara internasional Sydney. Kami mengikuti petunjuk yang diberikan pelayan di terminar airport Melbourne tadi. Kami terus ke gate kedatangan untuk mengambil bagasi namun kami tidak menemukan bagasi kami. Setelah ditanya ke petugas bahwabagasi kami sudah forward menuju bandara Jakarta lewat Qantas yang sama jadi don’t worry…!
“Ya,,,,ketika kita keluar atau  masuk ke suatu negara  kita harus melewati immigrasi. Saat yang paling malas adalah berhadapan dengan para petugas imigrasi yang terkadang memasang muka "sangar atau wajah serius". 
Waktu menuju ke imigrasi kami bertiga berpencar- pencar, Inhendri aku lihat di kiri dan Desi sudah duluan namun ia terlihat jaleng dengan perempuan yang sudah sering pulang pergi ke Australia. Desi saat itu memakai jilbab warna gelap dan Desi badannya tergolong tinggi untuk ukuran rata- rata orang Indonesia. Dari kejauhan aku lihat dan juga wanita yang bareng dia ditahan petugas. Kok bisa begitu ?
“Ketika bagian saya, saya dapat petugas   yang terlihat agak santai,  pas dia melihat muka asli dan foto saya di passport. Dia  bilang muka saya berbeda jauh, ga mirip lagi dengan paspor....saya pikir dia mungkin  becanda, ehhh  ternyata dia memberi  saya lewat dari imigrasi tapi pasport saya di kasih ke petugas yang  lainnya  untuk  menyakinkan  muka  saya bahwa sama dengan muka saya dalam  photo saya di pasport. Saya berfikir bahwa ini karena saya memakai jilbab hitam dan saya dicurigai sebagai teroris wanita yang mungkin bisa meledakkan pesawat….ya ampun” Kata desi menjelaskan.
“Setelah beberapa saat 1 petugas lainnya agak ragu kembal dan mencurigai saya dan perempuan yang juga bareng saya. Petugas menggelah tas dan bagasi saya, menggeledah pakaian saya dan mengintoregasi saya. Saya juga balik marah pada mereka sehingga saya berkata : what are you doing with me…I am not terrorist ?”. Kata Desi agak emosional.
Wah ada ada saja pengalaman ini. Kami akhirnya sampai ke ruang tunggu untuk naik pesawat Qantas tujuan Jakarta. Kali ini orang orang yang banyak berada dalam terminal itu adalah orang orang Indonesia dan juga beberapa bule yang ingin berlibur ke Indonesia seperti ke Bali, Lombok, pulau Jawa, Sumatera dan sebagainya. Bagiku pikiranku sudah melayang jauh ke Indonesia , namun itulah sweet memoryku dan sweet memiry kami yang terakhir, “Good bye Melbourne…Good bye Sydney…Good bye Australia”.  

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture