Senin, 11 Februari 2013

KEDATANGAN DI TANAH KANGGURU

Kedatangan Di Tanah Kangguru

1. Sambutan Hangat Prof. Ismet Fanany
            Ternyata style Pak Ismet Fanany memang seperti yang diceritakan oleh Bapak Shadiq Passadigu (Bupati Tanah Datar). Orangnya ramah, welcome dan sangat menolong. Sementara itu istrinya, Dr Rebbeca Fannany, orangnya tenang, anggun, mudah senyum dan berbicara seperlunya.
Pak Ismet langsung mengajak kami menuju mobilnya- seperti jeep atau land-cruiser. Inhendri Abbas tampak sangat mengagumi mobil Pak Ismet. Katanya bahwa diperkirakan harga mobilnya, keluaran pabrik mobil Nissan, hampir satu milliard Rupiah. Kami semua bergerak menuju mobil yang punya nomor polisi YBO-508, Victoria- the place tobe. Dari belakang aku lihat Pak Ismet menenteng tas kecil dan juga menghela koper. Pak Ismet terlihat sibuk dengan barang- barang itu, lebih sibuk dari pemilik barang/ bagasi itu sendiri.  Aku tahu kedua bagasi itu milik Desi. Aku segera mendekati Desi.
“Dessi…!!! Jangan biarkan Pak Professor membawa barangmu seperti itu. Pak Ismet itu Professor hebat disini”. Kataku separoh berbisik pada Dessi. Dan Dessi jadi sadar, ia bergegas mencegah Pak Ismet untuk membawa bagasinya.
“Maaf Pak…..tidak usah bawa bawa bagasi saya….biar saya yang membawanya…!!!” Kata Dessi dengan rasa bersalah. Dan ternyata Ibu Rebbecca ikut pula menjinjing bagasi kami.
“Ah itu tidak masalah Dessi. Professor di sini juga bisa menjadi sopir hingga menjadi tukang angkat” Kata Pak Ismet sambil berseloroh dan aku lihat Ibu Rebbeca ikut tersenyum mendengar selorohan Pak Ismet. Kami semua mengikuti langkah Pak Ismet dan Bu Rebbecca yang cukup cepat. Sambil melangkah, mereka bercerita cerita seputar way of life orang Melbourne dan pengalaman hidup mereka..
Akhirnya kami semua sudah duduk dalam mobil yang nyaman itu, dan mobil melaju di atas jalan raya yang lebar dan mulus. Aku tidak tahu dengan nama- nama daerah yang kami lalui maka mataku cukup liar membaca segala sesuatu yang terlintas di depan. Kota Melbourne adalah sebuah kota paling besar di Australia namun terasa sepi mungkin kami punya pembandingnya kota Jakarta. Jalan raya yang kami lalui memang sangat bagus pada hal itu bukan jalan toll- jalan bebas hambatan, namun juga sepi…mobil yang lewat juga jarang.
Kedua sisi sepanjang  jalan sering aku temui diberi pagar dengan tembok tinggi. Buat apa ya…! Aku berfikir dalam hati mengapa musti diberi pagar tinggi dan kemudian aku tahu bahwa itu salah satu usaha pemerintah Australia untuk menyelamatkan hewan Australia seperti kangguru atau koala agar tidak ada yang tersesat ke jalan raya dan ditabrak oleh mobil dengan kecepatan tinggi. Setelah berada lama di Australia, apakah Pak Ismet sudah lupa dengan tanah airnya (?).
“Bapak Ismet….sering datang ke Indonesia ?” Tanyaku pada Pak Ismet untuk memecah kebekuan dan mengajak teman- teman lain untuk mulai mengobrol.
“Sering juga….dalam tahun ini kami datang ke Indonesia sebanyak 3 kali. Saya ke Indonesia untuk urusan seminar, membuat kerja sama pendidikan dengan suatu sekolah atau MoU dengan suatu sekolah atau perguruan tinggi, ya MoU tentang pendidikan dan juga untuk melakukan suatu riset. Hitung- hitung juga untuk bisa pulang kampung”. Kata pak Ismet dengan bersemangat.
Sudah hampir tengah hari dan tentu saatnya untuk waktu makan siang. Maka rencana kami menuju sebuah mall atau restaurant. Sepanjang jalan aku mendengar tape recorder Pak Ismet melantunkan lagu-lagu Minang nostalgia. Jadi Pak Ismet pencinta lagu Minang ya dan bukan mencintai lagu Michael Jackson (?). Aku perhatikan bahwa koleksi kaset lagu Minang Pak Ismet sangat banyak. Buk Rebecca sendiri menyimpannya dalam sebuah box plastic yang cukup besar.
“Mengapa Pak Ismet tidak memutar lagu Australian Country atau lagu- lagu yang popular di dunia dalam bahasa Inggris ?” Tanyaku karena ada rasa ingin tahu.
“Ya untuk menyambut kedatangan bapak dan bu (anda semua) ke sini agar tidak terasa terlalu asing di Australia dan juga untuk mengingatkan saya pada kampung halaman saya. Juga untuk mengobat rasa rindu- homesickness”. Kata Pak Ismet menjelaskan.
“Saya malah kalau lagi berada di Padang, saya suka berkunjung ke toko kaset (toko musik) dan saya paling suka mencari lagu Minang untuk melengkapi koleksi lagu- lagu Minang saya. Lagu yang sedang saya putar ini mungkin sekarang sudah susah untuk dijumpai”. Kata Pak Ismet lagi.

2. Mengenal Australia Lebih Dekat
Pertamakali menginjak kaki di Bandara Sydney dan Melbourne  sudah dapat dirasakan tentang ragam budaya dan gaya hidup negara Australia. Beragam budaya dan gaya hidup Australia mencerminkan tradisi liberal demokratis dan nilai-nilai, kedekatan geografis untuk kawasan Asia-Pasifik dan pengaruh sosial dan budaya dari jutaan migran yang telah menetap di Australia sejak Perang Dunia II.  Ya….benar bahwa Australia adalah produk dari perpaduan unik dari tradisi mapan dan pengaruh baru. Penduduk asli negara itu, Aborigin dan Torres Strait Islander masyarakat, adalah penjaga dari salah satu tradisi tertua di dunia budaya melanjutkan. Mereka telah tinggal di Australia selama selama ribuan tahun dan sisanya orang Australia adalah migran atau keturunan migran yang tiba di Australia dari sekitar 200 negara sejak Inggris mendirikan pemukiman Eropa pertama di Sydney Cove pada tahun 1788.
Pada tahun 1945, penduduk Australia adalah sekitar 7 juta orang dan terutama Anglo-Celtic. Sejak itu, lebih dari 6,5 juta migran, termasuk 675 000 pengungsi, telah menetap di Australia, secara signifikan memperluas profil sosial dan budaya.  Saat ini Australia memiliki penduduk lebih dari 21 juta orang. Lebih dari 43 persen warga Australia lahir di luar negeri baik sendiri atau memiliki satu orangtua yang lahir di luar negeri. Penduduk asli Australia diperkirakan di 483 000, atau 2,3 ​​persen dari total.
Banyak orang yang datang ke Australia sejak tahun 1945 termotivasi oleh komitmen keluarga, atau keinginan untuk lepas dari kemiskinan, perang atau penganiayaan. Gelombang pertama para migran dan pengungsi kebanyakan berasal dari Eropa. gelombang berikutnya datang dari kawasan Asia-Pasifik, Timur Tengah dan Afrika.
            Berarti ini adalah hari pertama kami di Melbourne dan hal pertama yang aku ingin tahu dan tanya langsung adalah tentang  Australia dan Melbourne. Ya…..penduduk Australia dewasa ini ada sekitar 22 juta orang dan penduduk kota Melbourne ada 4 juta orang. Jadi benua Australia adalah ibarat sebuah pulau besar dengan penduduk yang cukup sepi atau sedikit. Seperlima penduduk Australia hanya ada di kota Melbourne.
            “Saya rasa bahwa total penduduk Australia….ya sebanyak penduduk Jabodetabek- atau daerah yang meliputi Jakarta Bogor Depok Tanggerang Bekasi” Timpal Pak Ismet.
            “Dan bahwa 40 % penduduk Australia tidak lahir di Australia. Mereka adalah pendatang/ immigrant dan lahir di negara asal mereka di Eropa dan juga di Asia”. Kata Pak Ismet melanjutkan.
            Dalam mobil itu hanya ibu Rebbeca sendiri yang keturunan kulit putih/ Amerika Serikat. Sementara itu kami semua dan juga suaminya (Pak Ismet) sangat asyik ngobrol dalam Bahasa Indonesia dan malah juga dalam bahasa Minang. Aku piker bahwa Ibu Rebbeca tidak tahu bahasa Minang.  
            “Ibu Rebecca mengerti bahasa Minang dan juga bahasa Indonesia…kemudian mengapa Ibu Rebecca mencintai bahasa Indonesia ?” Aku bertanya dengan rasa penasaran.
“Ya saya sangat mengerti dengan Bahasa Indonesia karena saya dosen Bahasa Indonesia. Saya juga mengerti Bahasa Minang tetapi saya tidak bisa mengucapkan bahasa Minang” Kata Bu Rebecca dalam aksen bahasa Indonesia dengan lidah Amerika. Jadi kedengarannya enak untuk didengar.
“Saya sekarang mengajar bahasa Indonesia di Universitas Deakin di kota ini / Melbourne. Pada mulanya saya tidak suka bahasa Indonesia dan saya juga tidak kenal dengan kota Jakarta. Saya dulu kuliah di Cornel University USA. Saya memperoleh beasiswa dari program departemen pertahanan Amerika Serikat dan ia membuka program Bahasa Asia dan saya direkomendasikan untuk belajar Bahasa Indonesia. Dan di situ saya berjumpa dengan Ismet Fanany”. Kata Rebbeca.
“ Kami sering bertemu dan juga bertukar pendapat hingga timbul rasa simpati dan saling menyukai. Selanjutnya kami berkenalan dan tentu ada proses selanjutnya. Kami memutuskan untuk menikah dan dalam perkawinan kami, saya mempunyai dua orang anak. Satu laki- laki dan satu perempuan”. Kata Rebbeca lagi.
“Anak saya yang besar suka tekhnik dan anak yang kecil suka musik. Ia juga sedang mengambil program Doktor. Jadi mereka punya minat yang berbeda”. Demikian Ibu Rebecca menjelaskan sejarah singkatnya.
“Pendidikan mereka tentu harus melebihi pendidikan orang tua mereka. Anak saya yang besar juga sudah menjadi dosen sekarang”. KataPak Ismet menyela pembicaraan kami. Pak Ismet dan Ibu Rebbecca menikah pada tahun  1979, berarti pernikahan mereka sudah cukup lama juga.
Mobil Pak Ismet tetap melaju dan kemudian kecepatannya berkurang hingga bergerak menuju tempat parkir pada sebuah plaza. Aku melihat pada areal parkir plaza, pada tiap tonggak terdapat nomor. Itu berguna untuk menandai pada nomor berapa mobil anda berlokasi. Sekali lagi bahwa Pak Ismet tahu bahwa kami semuanya pasti sudah merasa sangat kelaparan dan juga merasa sangat mengantuk, karena terbang ke Australia dari Jakarta berarti menyonsong waktu, malam terasa amat singkat hingga kami hampir tidak punya waktu buat tidur, Kami terus terang diserang rasa kantuk yang hebat.
Aku mengiyakan segala perkataan Pak Ismet. Pak Ismet membawa kami ke dalam sebuah outlet masakan oriental, tentu saja masakan kesukaan Pak Ismet dan ibu Rebecca. Plaza yang kami kunjungi terlihat megah. Aku percaya bahwa tentu saja Pak Ismet ingin memberi sebuah kejutan (big surprise) untuk makan siang di sana buat kami. Kami mengikuti lankah pak Ismet kemana saja ia pergi, ya ibarat anak kecil ikut dengan orang tuanya.  
Terus terang bahwa aku juga lapar dan aku memilih makanan yang kira-kira sesuai dengan seleraku. Aku antri di belakang warga kulit putih. Sementara itu aku mengintip jenis menu dari balik kaca lemari saji.
“Wah…aku merasa lapar bangeet. Aku membaca ada masakan yang bermerek Melayu. Itu …itu aku suka, bumbunya harum”.
“Ada Malay food, tapi di belakang piring saji itu ada hidangan lain yaitu steamed pork atau babi rebus pakai bumbu. Astaghfirullah….aku orang Islam, nggak boleh makan babi. Aku mulai merasa was- was dan mecurigai bahwa ada makanan yang tidak halal bercampur baur dengan makanan halal”. Aku mencubit pundak Inhendri Abbas dan selera makanku hilang sama sekali.
“Mau memesan apa Pak Inhendri ?” Aku bertanya Inhendri. Aku rasa Inhendri mencari makanan yang juga halal, namun ia harus menambah kosa-kata bahasa Inggrisnya. Kira- kira Inhendri tahu nggak dengan arti kata pork, ham, beacon, dll yang berarti babi (?).
“Aku suka masakan Melayu” Kata Inhendri Abbbas.
“Tapi anda harus lihat di depannya ada steamed pork ?” Kataku
“Apa itu steamed pork ?” Inhendri bertanya.
Steamed pork berarti babi rebus,…lihat tu….kadang kadang sendok steamed pork juga jatuh ke piring hidangan Melayu” Aku berbisik dan memberi komentar. Inhendri juga kehilangan selera makan dan kami memilih hidangan yang paling berseberangan arah dengan makanan yang haram. Aku memilih sayur- sayuran namun aku tetap tidak berselera untuk menyantap hidangan karena saraf seleraku pada otak sudah terganggu oleh konsep makanan tidak halal.
“Aku memilih nasi dan sayur yang lokasinya terletak jauh dari daging babi. Entah bagaimana aku dan dua teman lagi tidak bisa menghabiskan makanan. Sementara itu Pak Ismet dan Ibu Rebecca tenang- tenang saja, mereka mampu makan dengan lahap meskipun mereka dikelilingi oleh makanan beraroma tidak halal”.     

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture