Senin, 11 Februari 2013

Mau Kenal Prof. Ismet Fanany dan Rebbeca Fanany ?

Siapa Itu Prof Dr Ismet Fanany

1. Masa Kecil Ismet
            Saat aku kecil, sekolah di SMP Negeri 1 Payakumbuh,  aku  pernah beberapa kali membaca fitur tentang Ismet Fanany, seorang sarjana asal Minang yang menikah dengan orang Amerika. Saat aku kuliah di IKIP Padang aku mengenal bahwa ia juga alumni IKIP Padang. Namun aku tidak tahu kampungnya. Malah aku tidak pernah dengar dimana dia berada, tapi sekali- sekali aku sempat membaca tentang profil  dia pada surat kabar terbitan Sumatera Barat. 
            Aku asli betul betul mengenal dia dan juga istrinya sekarang di Melbourne. Aku beruntung bisa memperoleh kesempatan bisa mengenal dan lebih dekat dengan Prof Dr Ismet Fanany dan istrinya Dr Rebecca Fanany. Selama berada di Melbourne aku tidak sempat bertanya banyak tentang cerita tentang dia waktu kecil. Namun bisa memperoleh informasi tentang sejarah hidup Pak Ismet melalui Pak Jafar (yang sering dipanggil Ije di kampunya- Koto Panjang, Batusangkar). Aku sudah berbincang- bincang dengan Pak Ije tentang Pak Ismet Fanany, Ibu Rebecca dan juga tentang anak-anak mereka.
            Ismet Fanany lahir di desa Koto Panjang- Batusangkar, ayahnya bernaman Muchtar Isya dan ibunya Dasian Rasyid. Ismet menghabiskan masa kecilnya pada sebuah rumah tua. Ia memiliki banyak saudara-semuanya ada 7 orang. Urutannya adalah seperti Prof Dr Mawardi (mantan Rektor UNP), Ismet Fanany, Syafriwal Azzam (seorang apoteker), Damres Ukhar (di Bengkulu), Adduha (Kepala SMPN 2 Sungayang), Rafsel Tashadi (dosen STAIN Batusangkar), Misdar Putra (yang paling kecil dan berwiraswasta).
            Nama anak yang terkecil yaitu “MISDAR” adalah singkatan dari semua nama kakaknya yaitu “Mawardi- Ismet- Syafriwal- Damres- Adduha- Rafsel”. Jadi idu jadinya. Ismet Fanany dan saudara- saudara cukup cerdas, mengapa demikian ?
            Pak Muchtar Isya (orang tua Ismet) adalah seorang guru Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar. Ia punya karakter yang sangat dekat dengan semua anak-anaknya. Ia menjadikan semua anaknya sebagai teman- diajak berbicara dan berdiskusi setiap hari.
            Meskipun mereka tumbuh di desa namun mereka cukup cerdas. Ini ada faktor didikan bapaknya. Mereka membiasakan berkumpul dengan anak setiap hari. Mereka berbicara tentang “What to do, apa saja yang dilakukan”. Melihat kebiasaan positif yang demikian banyak tetangga yang jadi iri dan ingin pula berbuat yang demikian. Kalau sudah berkumpul dua atau tiga orang maka mereka mulai berbagi cerita.
            “Kalau Ismet berasal dari kota besar dan ia cerdas itu wajar, namun kalau ia cerdas dan ia berasal dari desa- belajar di SD dan PGA (Pendidikan Guru Agama)  maka itu perlu dipelajari”.
Ketiga ia kelas 3 PGA ia ikut ujian persamaan SMP dan lulus. Kelas 6 PGA maka ia ikut ujian persamaan SMA dan lulus. Setelah itu ia melanjutkan studi ke IKIP Padang jurusan Bahasa Inggris pada program Diploma-3. Ia kuliah dalam kondisi ekonomi yang sulit. Itu karena ia berasal dari keluarga sederhana. Ibu hanya di rumah, ayah hanya pegawai kecil dengan 7 orang anak. Ibunyamasih buta huruf namun bagus mengelola keuangan rumah tangga.
Saat ia kuliah di IKIP ia cukup aktif di kampus. Namun kondisi keuangannya sangat susah, maka ia pernah ikut mengumpulkan cengkeh di Gunung Padang. Ia pernah tinggal atau menompang tidur di kantor Senat Mahasiswa. Kalau malam tidur di atas mejadengan sehelai tikar. Pergi kuliah hanya dengan sandal jepit.

2. Prestasi Ismet Melejit
Suatu ketika seorang dosennya berkebangsaan Amerika, namanya Mr. Peter, ia ingin tahu tentang Ismet- he wants to know who Ismet is. Karena Ismet memiliki prestasi akademik yang sangat bagus. Ia meminta Ismet datang untuk menemuinya di kantornya- Ismet pun datang hanya dengan memakai sandal jepit. Ia melihat figure Ismet- badan kecil, rambut krusuh (kurang terurus), baju usang dan penuh jahitan.
“Are you Ismet ? “ Tanya Mr Peter seketika. Ia kelihatan sangat kaget melihat penampilan Ismet yang sangat kontra dengan kualitas akademiknya.
“Mengapa kamu memakai sandal jepit ?” Tanya dosen Amerika itu lebih lanjut.
“Ya inilah yang Ismet,…kalau Ismet datang kepada anda memakai sepatu itu namanya bukan Ismet. Kalau yang datang pakai baju bagus dan dasi itu namanya juga bukan Ismet” Pak Jafar menirukan gaya Ismet pada ku (penulis).
Itulah jawab spontan Ismet hingga membuat Mr Peter sangat heran. Mr Peter menjadi penasaran dan ingin tahu bagaimana latar belakang keluarga atau orang tua Ismet. Maka Mr Peter berkunjung ke Kotopanjang  dan mampir ke rumah Ismet itu. Sekatrang rumah tua itu sudah roboh. Mr Peter melihat secara langsung bagaimana kehidupan orang- orang sekitar dan juga kehidupan orang tua Ismet di kampung. Mr Peter terlihat heran, bersimpati namun sangat respect pada Ismet.
Setelah menamatkan program diploma (sarjana muda- karena saat itu jenjang pendidikan tertinggi  di IKIP Padang baru D.3) Ismet memperoleh beasiswa dari Caltex (Perusahaan minyak di Pekan Baru) untuk melanjutkan program strata satu di IKIP Malang. Setelah menyelesaikan program sarjana, ia memperoleh beasiswa lagi untuk program magister ke Cornel University di Amerika Serikat, saat itu tahun 1977. Maka sejak tahun 1977 sampai sekarang ia sudah tidak pulang lagi ke Batusangkar- atau tidak bermungkim lagi di Batusangkar- di Indonesia.
Sambil belajar di sana maka dia juga bekerja sebagai assisten dosen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping menjadi assisten dosen, ia juga menjadi penulis, interpreter (penterjemah)-  menulis tentang budaya, menterjemahkan buku. Hingga ia menghasilkan banyak buku dan novel.
Selama berada di Cornel University ia juga berkenalan dengan Rebecca. Perkenalan mereka berlanjut menjadi hubungan bersimpati- saling tertarik, hingga akhirnya Ismet memutuskan untuk menikah dengan Rebbeca. Itu sempat menjadi polemic dalam keluarga- karena perbedaan latar belakang antara Rebbeca dan Ismet.
Rebbeca adalah  keturunan Jewish (Yahudi) sementara Ismet didik oleh orang tua yang taat dengan agama Islam. Jadi ada perbedaan, tetapi mungkin ada daya tarik yang dimiliki oleh Ismet, hingga Rebbeca bersedia nasuk Islam. Bagi orang tua Rebbeca juga tidak mempersoalkan tentang status agama- karena itu adalah kebebasan memilih seseorang.
Sebelum menikah, Rebbeca pernah datang ke Desa Kotopanjang- Batusangkar. Saat itu orang kampung melihat ada orang asing dengan tubuh tinggi, langsing dan cantik. Sementara Ismet orangnya kecil- sebatas bahu Rebbeca- kulit hitam dan rambut krusuk. Orang orang sekitar berfikir kalau- kalau Rebbeca adalah bossnya Ismet selama di Amerika- Ismet sendiri sebagai pembantu bagi Rebbeca.
Mereka akhirnya menikah, dan setelah menikah mereka datang lagi ke kampung. Menjadi istri Ismet- orang Indonesia, maka ia juga mendalami budaya Indonesia. Bukankah Rebbeca sendiri adalah juga sarjana Bahasa Indonesia, ia juga mempelajari bahasa Minang. Ia mengerti bahasa Minang.
Dan pernah suatu saat kami pergi ke toko sepatu di Jakarta untuk membeli sepatu buat dia. Kakinya gede dan banyak nomor sepatu yang tidak cocok buat ukuran kakinya. Ukuran  sepatu buat Rebbeca mungkin nomor 45.
“Kaki ..kaki gajah….baa pulo kamancari sapatu saroman sapatunya”. Seorang anggota keluarga Ismet berbicara dalam bahasa Minang- kiasan bahanya: kaki besar ibarat kaki gajah…mana ada sepatu yang cocok buat Rebbeca.
“Benar kaki saya besar…susah ya cari sepatu buat saya ?.” Jawan Rebbeca, kami jadi kaget dan malu karena ternyata Rebbeca sangat memahami kiasan dan bahasa Minang sekalipun, dan kita semua menjadi malu pada Rebbeca.
“Apa sih daya tarik Ismet, sehingga Rebbeca mencintainya “
“ I don’t know..namun karena Ismet ini cerdas, tekun, rajin, kommitmen, dan orangnya tidak suka neko-neko (ambil muka atau nepotisme), penampilannya sangat sederhana, kalau ia datang ke sini- untuk pergi ke pasar ia memilih untuk berjalan kaki”. Demikian penjelasan Pak Jafar tentang Ismet kepada ku dan aku juga merespon tentang prilaku sederhana demikian. Bahwa selama di Australia kami sempat jadi malu dan risih gara-gara Pak Ismet ikut-ikutan membawa bawa barang kami, rasanya tidak pantas mengingat beliau sebagai Professor.   
“Ya benar saya ini sebagai professor, sebagai sopir dan juga tukang angkat barang”. Kata Pak Ismet berseloroh pada kami saat itu.
Karir Pak Ismet selanjtnya adalah selalu menulis, pernah menulis buku cerita tentang Pele- si pemain bola. Ia Pernah bekerja di Hawaii, di Singapur, Tasmania dan sekarang di Melbourne. Ia menjadi dosen dan selalu membuka program pengajaran Bahasa Indonesia. Ia memang spesialis pada Asian Foreign Language- ya rumpun Bahasa Melayu. Dia adalah ketua perhimpunan Bahasa Melayu. Di deakin Universityia sebagai Dekan dan istrinya Rebbeca sebagai Ketua Jurusan Bahasa Melayu/ Bahasa Indonesia.
Mereka punya dua anak yaitu Izian Fanany (laki-laki) dan seorang anak perempuan (Luna Fanany). Sekarang mereka berdua telah selesai kuliah pada program Post Graduate dan juga Graduate. Sewaktu kecil kalau pulang ke Kotopanjang, mereka sukabaca buku dan dalam liburan juga selalu baca buku yang tebal- tebal. Karena mereka kutubuku maka terlihat lebih asyik dengan buku dari pada dengan masyarakat di sini/\.     
Anak yang gede tertarik pada tekhnik dan yang perempuan tertarik pada seni. Ia jago main biola dan jugamengoleksi alat musik tradisionil Minang seperti talempong. Sekarang mereka sudah besar- besar dan jarang datang ke Sumatera Barat.
“Berbicara tentang Ismet tidak cukup waktu, dahulu ia juga pernah ikut-ikutan bekerja sebagai pekerja kasar- menggali bandar pada malam hari. Sekali lagi bahwa ia juga pernah memungut cengkeh di Gunung Padang. Dia memang suka work hard dan study smart. Ini adalah motto hidupnya. Dahulu ia membuat summer program dan membawa mahasiswa Australia untuk datang ke Padang dan tinggal dengan penduduk.SEjak ada gangguan keamanan maka ada travel warning maka program ini jadi hilang. Namun program lain juga ada sepergi kerja sama dengan Yogyakarta.

3. Karakter Ismet Fanany
Ismet punya karakter yang suka “keep contact” dengan banyak orang. Dia suka menelusuri orang yang dianggap hilang. Dulu ada warga Kotopanjang yang merantau keMalang dan tidak pulang- pulang. Maka saat studi di sana Ismet menelusuri keberadaannya hingga berjumpa. 
Disamping itu bahwa Ismet juga seorang pembaca yang hebat. Semua pekerjaan yang diamanatkan padanya selesai olehnya. Dia tidak suka menunda waktu dan menunda pekerjaan. Dia / mereka juga tidak punya pembantu dan mereka bisa menyelesaikan pekerjaan.. Lagi pula ia masih sempat olah raga, suka jalan pagi, jarang sakit.
“Ismet tidak pernah terlihat bersedih dan dia selalu terlihat happy. Walaupun badan kecil namun jalannya kencang. Jalan cepat atau melambangkan pikiran yang smart. Hebatnya Ismet sekarang adalah karena izin dari Allah Swt dan juga faktor didikan ayahnya yang sangat komunikatif pada anak. Ayahnya orang yang sangat taat pada agama. Ia sangat selektif dalam memberikan makanan pada anak- yang baik dan halal. Walau ayahnya punya utang demi anak, namun semua utang dilunasinya”.
 Walau ia sudah pukuhan tahun di rantau orang, namun Bahasa Minangnya tidak pernah berubah- malah ia sangat doyan mendengar lagu- lagu Minang. Rebecca sudah beradaptasi dengan baik. Ia pun jago dalam membuat sambal rendang Padang.
“Masih seputar memory tentang orang tuanya Ismet Fanany, bahwa ayahnya adalah orang yang rendah hati. Dan rajin bekerja serta betah berbagi cerita”.
Betul sewaktu aku di Melbourne aku amati bahwa Pak Ismet selalu update dengan perkembangan Indonesia dan Kampungnya sendiri. Ia juga tahu dengan berita Aceng Fikri- Bupati Garut yang menikah siri dengan gadis ABG dan diminta mundur oleh DPRD. Ia juga tahu banyak tentang apa yang terjadi di Sungayang, Koto panjang, Batusangkar, dll. Ismet punya kliping tentang pemerintahan Indonesia- bagaimanajeleknya mental pejabat.
Kalau dia pulang, biasanya Gubernur langsung memanggil dia. Namun sekali ia memberi kritikan orang kurang bisa mengikuti perkembangan fikirannya. Orang menganggap dia anti kampung- pada hal tidak. Ia memberi kritikan dan juga memberi solusi- memberi pencerahan dan bukan untuk memojokan orang kampung dan negeri sendiri. .  
Pak Ismet menjadi maju adalah lewat bidang sastra dan bidang bahasa .  Saat Ismet kecil dan Remaja belum ada televisi. Pertama kali ia belajar Bahasa Inggris ia rajin mendengar radio. Ia punya radio kecil dan setiap sore ia rajin mendengar program BBC (British Broadcating Company) dalam bahasa Inggris. Meskipun ia tidak banyak tahu namun ia mencoba mengambil kesimpulan over all berita BBC tersebut.
Awal belajar Bahasa Inggris, Ismet belajar dengan orang tua Jafar (Ije) karena orang tua IJe adalah seorang guru Bahasa Inggris- berasal dari Koto Panjang dan Lahir di Malaysia. Ia menamatkan studi di Cambridge University England.
Orang tua Pak Jafar (sebagai Guru Ismet) dan orang tua Ismet (Pak Muchtar) semasa hidup suka memberi pengarus lewat berkomunikasi pada anak anak di sini, sehingga Ismet Fanany dan familynya termotivasi untuk berprestasi. Mereka sering berkumpul di sebuah rumah tua, di sana ada yang mengaji, ada yang membaca, ada yang belajar Bahasa Inggris dan ada yang belajar silat. Jadi rumah kami berfungsi sebagai rumah cerdas- untuk tinggal dan juga untuk belajar serta bersosial. Aktif belajar secara mandiri- karena sudah ada yang ditiru (model) dimulai sejak sore- terus maghrib hingga datang waktu tidur.
Saat itu sebagai anak kami dilibatkan dalam belajar, bekerja dan bersosial. Hingga kami semua tumbuh cerdas, santun dan akrab satu sama lain, dan juga tahu dengan tanggung jawab. Orang tua jadi model, meski hidup miskin tetapi tidak pernah bertengkar. Hidup terasa damai sekali. Jadi kami semua work hard dan think smart- bekerja keras- belajar banyak dan berfikir cerdas. 

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture