Senin, 11 Februari 2013

Memahami Harga di Australia

Memahami Harga di Australia

Kami sudah berada di Australia  selama beberapa hari. Biasanya kami pergi shopping selalu diantar oleh Pak Ismet. Karena apartemen kami juga berdekatan dengan mall maka sudah saatnya pergi shopping kecil- kecilan di sana. Agar tidak tekor (kehabisan jatah uang) tentu saja kami harus bisa memahami tentang harga- harga di benua kecil ini. Aku juga mencari tahu tentang “seperti apa biaya hidup di Australia ?”

Berbelanja di Australia,  wah pasti mahal,  biaya hidup disana berapa yah? Pertanyaan begini   adalah sangat sering ditanyakan orang ketika mau pergi ke Australia. Maka beginilah info yang bisa kita peroleh (http://achmad.glclearningcenter.com):  
1). Kalau kita berada di Australia sebaiknya mulai berpikir sebagai orang  Australia, buang jauh- jauh nilai  kurs ketika berbelanja,  jangan samakan harga di Indonesia dengan Australia,  jelas berbeda.
2). Tentang harga barang mahal dan  murah adalah relative, ya  tergantung pada hal- hal yang dibandingkan. Nah kalau kita sudah di Australia  yang kita bandingkan tentu  adalah harga- harga yang ada di sini (Australia) pula. Mindset (cara berfikir)  ini berguna untuk mempercepat adaptasi kita di Australia. Kalau semuanya kita konversi ke nilai  rupiah, wah jadi pusing sendiri kita, kerjaan kita tentu bakal mengeluh terus.
3). Biaya  sekali makan di Australia (Melbourne dan Sydney)  adalah sekitar 7-9 $ AUD. ini adalah harga standar. Kalau ada yang  lebih dari itu ya termasuk mahal.
Jam menunjukan pukul 13.00 siang, perut kami sudah terasa keroncongan dan sudah saatnya pula buat makan siang. Pak Ismet mengerti dengan apa yang kami rasakan. Maka diajak untuk pergi ke restaurant Malaysia. Terus terang kami merasa segan kalau selalu ditraktir oleh Pak Ismet. Maka ya…harus balance, kami juga harus mentraktirnya.
Aku memilih makanan yang kira-kira sesuai dengan seleraku dan juga halal. Aku memilih makanan seperti bakso dan desi juga. Kami kemudian diberi hidangan bakso yang porsi tiga kali atau 4 kali sebanyak porsi bakso di Indonesia.
“Wow…apa tidak boleh kami pesan separoh porsi saja ?” Tanya Desi.
“Ohhh…tidak ada istilah porsi separo di sini…” Jawab Pak Ismet. Okelah kalau begitu. Kami harus menghabiskan semua porsi baksa hingga merasa sangat kenyang dan apalagi harganya cukup mahal yaitu sekitar Rp.300 ribu atau 30 Aus $. Kita akan merasa mubazir kalau menyisakan makanan.
Usai makan siang, ketua kami- Inhendri Abbas- berdiri dan pergi ke meja kasier buat membayarnya. Ia membaya semua makanan dengan bayaran total sekitar 80 Aus $ atau hampir Rp. 900 ribu. Kami perlu melakukan penghematan dan untung kami juga memasak danm bisa makan hemat- makan pagi dan makan malam- di apartemen sendiri.
Sore ini kami sudah berada di Punthill apartemen kembali. Hari terlihat masih terang. Kendaraan masih lalu lalang padahal jam sudah menunjukan pukul 8.00 sore atau pukul 8.00 malam. Aku tidak tahu apakah ini waktu sholat ashar, magrib atau isya. Aku mmematok bahwa sebentar lagi masuk waktu maghrib dan meskipun tidak ada mesjid, namun demikianlah perhitungan kami terhadap waktu.
Malas berada di apartemen, lebih baik pergi ke luar untuk melihat-lihat, cuci mata dan juga buat menambah pengalaman. Ya kami memutuskan pergi ke luar. Kami jalan kaki menuju mall “Knoxcity”, di sana dijual berbagai item termasuk kebutuhan harian seperti buah-buahan, dlauk pauk dan rempah. Di Melbourne tidak ada warung maka berbagai barang hanya dijual di mall.
Di luar terasa dingin. Angin kutub selatan bertiup kuat, dinginnya menyusup ke dalam tulang kami. Sebelum berangkat aku menghabiskan buah-buahan/ appel karena ini sangat penting untuk menjaga kesehatan pencernaan. Sebab problem pada pencernaan bisa membuat kita demam.
Aku kasihan melihat Inhendri Abbas, tidak punya baju tebal dan ia  terpaksa memakai sehelai baju tipis  dan ia membawa pakaian yang terbatas. Ia pun memacu langkah kami  sambil melipat tangannya ke tubuh.
Habis subuh kami bertiga sudah berada di seputar dapur apartement, ada yang bersih-bersih piring, memanaskan makanan dan merapikan meja buat sarapan. Pendek kata pagi- pagi sekali untuk ukuran orang Australia kami sudah sarapan. Kemudian kami memutuskan buat berbelanja kebutuhan makan, kami sudah kehabihan minyak makan dan sayur, juga buah-buahan. Kami harus pergi ke mall knoxcity. Mall itu letaknya hanya berseberangan jalan dengan apartement kami (apartemen punthill).
Kami selalu bersikap cermat tiap kali berbelanja. Kami harus mengenal harga- mengkonversi nilai dollar ke dalam rupiah, ini berguna untuk menghitung target keuangan kami. Kalau kami tekor atau uang habis….ya bagaimana lagi ? Sementara itu kami masih harus membayar sewa apartemen yang cukup mahal dan juga buat beli tiket untuk kembali ke Sumatra, juga buat beli cendera mata buat teman dan keluarga.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture