Senin, 11 Februari 2013

Sydney- Melbourne


Sydney- Melbourne

1. Sebuah Pengalaman Transit
            Kami masih berada dalam gate 2 di bandara domestic Sydney. Aku merasa senang menuliskan pengalaman pribadi dan kemudian aku juga membaca- baca koran lokal. Sementara itu Desi dan juga Inhendri Abbas melihat lihat foto lewat hape mereka. Penumpang yang bakalan terbang satu pesawat denganku untuk menuju Melbourne sudah mulai berdatangan ke gate 2. Sambil menunggu penerbang berikutnya aku cari info tentang Sydney. Dalam hati aku berfikir:
“Seperti apa tinggal di Australia khususnya Sydney? Hmm seperti apa yah? Yang jelas kehidupan di Sydney ada yang sama dan ada yang beda dengan negara lain”. Beberapa hal tentang kehidupan di Sydney (http://achmad.glclearningcenter.com) yaitu bahwa:
1). Sydney adalah kota busniss dan turis, sehingga banyak festival atau acara disana. Bagi orang- orang yang suka dengan festival, tentu saja Sydney adalah tempatnya.
2). Sebagai kota turis, banyak tempat yang bisa dikunjungi. Sebernarnya tempatnya biasa-biasa saja, cuman di make-up dengan baik kemudian didukung dengan marketing yang gencar sehingga jadi object tujuan turis.
3). Orang Sydney ramah & baik. asal kita berani ngomong aja, mereka mau membantu orang asing.
4). Australia menggunakan Sistem 2 mingguan (fortnightly) untuk aktivitasnya,  misal bayar sewa setiap 2 minggu, gajian juga dibayar setiap 2 minggu.
            “Alhamdulillah suhu udara di Sydney masih seperti suhu di Indonesia. Sebelumnya aku sempat merasakhawatir kalau suhu di sini lebih dingin, karena aku tidak membawa jaket. Desi juga sudah mencari tahu lewat internet bahwa suhu di sini cukup hangat, maklum sudah di permulaan musim panas”.
            Aku melepaskan pandangan ke sekeliling. Dari kejauhan aku memperhatikan keluarga muda Australia dengan dua anak mereka yang masih kecil. Orang tua muda tersebut cukup sabar mengasuh anak- anak mereka yang agressif- pegang ini dan pegang itu. Aku melihat ibu muda Australia tidak pernah membentak anaknya yang mungkin terlihat sedikit usil. Ia tetap bersikap manis, jadi ia tidak mengatakan “jangan….jangan…jangan” atau seribu kata- kata omelan dan larangan.
            Di depanku duduk sepasang suami istri yang usianya sudah tua- kakek nenek. Penampilan mereka tetap modist- memakai celana jean dan sepatu olah raga ala remaja. Mereka selalu berkomunikasi, saling berpegangan jari dan terlihat sangat akrab.
            Kami duduk sudah agak lama di gate 2, namun belum terlihat isyarat/ tanda- tanda keberangkatan. Pada hal aku merasa sudah agak lama menunggu untuk terbang. Aku memutuskan untuk melihat layar monitor di luar gate 2.
            “Kita harus pindah, karena QF 423 tujuan Melbourne pindah ke gate 4. Kita pindah ke sana segera”. Untuk memastikannya aku kembali bertanya pada customer service.
            “Oh..betul….betul, untung aku lihat keluar (lihat monitor) kalau tidak sering melihat kita bisa kehilangan pesawat. Meskipun bahasa Inggrisku bagus namun aku kalau tidak konsentrasi juga kesulitan untuk mendengar pengumuman dari suara flight attendant yang ngomongnya kelewatan cepat. Beda dengan bahasa Inggris yang dibacakan dibandara Padang atau Jakarta, sangat jelas dan bahasanya dieja- eja ”. Wah betul ..kalau kita malu bertanya, bisa jadi sesat di terminal internasional.
            Pramugari peswat Qantas domestic juga terlihat berusia tua- sama halnya dengan pramugari pesawat Qantas internasional rute Jakarta- Sydney. Meskipun mereka terlihat tua namun mereka tetap berpenampilan sangat rapi, cerdas dan cantik.
            Pesawat kami meluncur meninggalkan landasan pacu bandara Sydney, kemudian terbang tinggi ke angkasa. Dari ketinggian aku lihat bahwa ternyata bandara Sydney berada di pinggir pantai. Setelah peswat terbang lebih tinggi aku melihat landscape daratan  kota Sydney. Tidak begitu padat, jalan rayanya juga terlihat sepi oleh transportasi public.
            Bule- bule dalam pesawat domestic terlihat saling kenal satu sama lain dan tidak terlibat begitu individualis layaknya dalam pesawat internasional. Mereka ternyata berprilaku seperti penumpang pesawat domestic kita- saling ngobrol, makan-makan, mendengar music dan juga membaca. Terlihat kaum wanitanya lebih suka membaca dan yang pria lebih suka main game
            Lagi- lagi aku melihat sepasang kakek-nenek yang terlihat begitu mesra. Mereka saling mengenggam jari dan ngobrol dari hati ke hati. Aku tidak tahu kalau- kalau ada kakek-nenek di kampung kita yang juga terlihat romantik. Ternyata cinta perlu dirawat hingga tua- sampai menjadi kakek- nenek.
            Setelah terbang hampir 2 jam, akhirnya pesawat mulai terbang lebih rendah. Awak peswat mengumumkan bahwa kami telah berada dalam wilayah kota Melbourne. Aku melihat pemandangan kota Melbourne, di bawah terlihat banyak bangunan namun juga tidak begitu tinggi. Kota Melbourne menyisakan banyak  tanah kosong yang ditumbuhi pohon- pohon yang tidak begitu lebat.



2. Melbourne, Here We Come..!!!
            Akhirnya pesawat Qantas domestik berhenti dan kami akhirnya harus ke luar pesawat dan Melbourne adalah destinasi akhirku di Australia. Kami pergi ke kounter untuk pengambilan bagasi. Aku membayangkan suasana penyambutan seperti di Cengkareng atau di BIM dengan penyambut yang berjubel di luar. Inhendri sudah mengontak Prof. Ismet Fanany. Melbourne here we come- Melbourne ini kami datang. Ya Melbourne adalah kota destinasi kami. 
            Kami segera keluar terminal di daerah zone 4. Aku tidak mengenal siapa yang bakal menyambut kami atau Prof. Ismet itu seperti siapa ya (?). Selama hidup aku belum pernah jumpa dengan Prof Ismet. Kami belum melihat ada tanda- tanda kedatangan Prof. Ismet. Dalam hati aku berfikir…kalau ternyata Pak Ismet berhalangan atau sakit…siapa yang bakal menunggu kami atau kami mau kemana. Fikiran ini tentu tidak aku ungkapkan pada dua temanku.
            “Hey…kami sudah menunggu sejak tadi, kenapa tidak melihat kami….?” Tanya Prof. Ismet agak heran. Aku merasa bersalah dengan statemennya dan aku tidak ingin dianggap orang yang sombong atau tidak tahu etika pergaulan.
            “Maaf Pak, kami membayangkan suasana penyambutannya seperti di Indonesia, dimana penyambut menunggu di luar. Itu makanya kami ke luar untuk lihat sana dan lihat sini. Ternyata suasana terminal Indonesia jauh berbeda dengan terminal bandara di Australia”. Demikian aku membela ketidak tahuan kami dengan kehadiran Prof Ismet dan istrinya Dr Rebecca. Prof akhirnya memahaminya, ia kemudian menyebut nama kami dan mencocokannya dengan wajah kami.
“Thanks Pak Ismet. mArjohan memang nama saya, yang cantik ini Desi dan yang berwibawa adalah Inhendri Abbas”. Kata ku lagi memberikan konfirmasi pada Pak Ismet dan Dr. Rebbeca.  

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture