Minggu, 21 April 2013

Masa Kecilku di Lintau Batusangkar


Masa Kecil Di LINTAU
 A. Keluargaku          
Nama lengkapku Sefrita Yenti, namun saat aku duduk di bangku SMA, aku memperoleh nama beken “Oshin”. Siapa itu Oshin dan mengapa namaku Oshin ?
            Aku tidak kenal dengan istilah oshin. Aku dipanggil dengan gelar atau panggilan baru “Oshin” oleh guru bahasa Inggrisku- Pak Marjohan saat aku menjadi muridnya di SMAN 1 Lintau. Katanya Oshin itu adalah nama serial film Jepang yang diputar di TVRI saat ia remaja. Film tersebut sangat fenomenal- menceritakan tentang ketabahan dan kesabaran seorang gadis tradisionil Jepang. Aku sendiri memiliki tubuh kecil, perawakan seperti orang Jepang atau orang China, namun karena tokoh film serial yang terkenal adalah Oshin- ya nama panggilanku adalah Oshin.
Terus terang aku menyukai nama panggilan ini hingga menjadi nama bekenku. Kadang- kadang orang sekitar menjadi tidak kenal lagi dengan nama asliku- Sefrita Yenti- dan mereka ikut- ikutan menyapaku dengan kata “Oshin”. Ya aku sendiri suka banget dipanggil Oshin. Aku akan menceritakan sedikit tentang kampungku.
Kampungku di Batusangkar- kota kecilnya adalah Lintau. Di Lintau lokasi rumahku di Dusun Aur Duri- Palak Godang di Nagari Batu Bulek. Tentu tidak bisa dideteksi dalam peta, karena kampungku belum popular.
Teman- temanku yang berada di Osaka- Jepang boleh mampir ke rumahku.Mudah saja untuk pergi ke sana, pertama terbang langsung dari Osaka- Bali dan terus ke Jakarta. Tentu butuh waktu, seterusnya terbang lagi ke BIM (Bandara Internasional Minangkabau). Andai mereka kesulitan karena faktor bahasa maka aku bisa menjemput mereka ke Padang atau malah ke Jakarta.
Dibandingkan dengan Jepang, pemandangan di kampungku juga cantik- di sana ada gunung Sago dengan tiga puncak yaitu Puncak Pato, Puncak Marapalam dan Gunung Ledang. Suhunya cukup sejuk dan penduduk di seputar sana menanam tebu. Mereka punya aktivitas ekonomi secara tradisionil membuat gula tebu dan juga gula aren.
Gula tersebut diproduksi secara manual- batang tebu dikilang atau diperas dengan mesin yang diputar oleh tenaga ternak/ sapi. Di daerah sebelah bawah, penduduk menanam coklat dan juga karet serta tanaman hortikultura lainnya. Hal lain yang membuat daerah Lintau terasa elok adalah karena ia memiliki lembah dan goa atau ngalau (ngalau pangian, ngalau sapan kijang, ngalau air lulus, dll) dan juga ada aliran sungai dengan arus deras. Sebetulnya bisa dikelola untuk kegiatan olah raga arung jeram- persis di Batang Sinamar (Sungai Sinamar).
Dari pusat keramaian desa mulai dari Balai Tangah hingga Balai Jumat terlihat pertumbuhan bangunan milik penduduk- tentu saja tidak begitu pesat. Jalan rayanya lurus dan meluncur dari kaki gunung hingga ke bawah. Pertumbuhan ekonominya biasa- biasa saja, karena penduduknya yang berusia muda banyak yang merantau ke luar: ke Pulau Jawa, ke Propinsi sekitar dan juga ke Pulau Batam. Seolah- olah Lintau hanya tempat menompang lahir dan tumbuh hingga remaja disana, nanti bila tamat SMA- usia 17 atau 18 tahun- mereka pergi meninggalkan daerah ini buat selamanya atau kembali pulang setelah tua.
Orang tuaku bernama Rahmi (ibuku) dan Suwir (ayah). Aku lahir seputar pertengahan tahun 1980-an, proses kelahiranku dibantu oleh Dukun Kampung saja, bukan dibantu oleh tenaga medis seperti perawat dan dokter. Di sanalah (dusun Aur Duri) aku tumbuh hingga aku bersekolah di TK dan SD juga di dusun Aur Duri. Kemudian aku sekolah di SMPN 5 Lintau dan terus ke SMAN 1 Lintau di Balai Tangah.
Aku dengar bahwa waktu kecil, aku termasuk anak yang nakal. Namun aku punya teman akrab sejak masa balita, namanya Dona. Dia sepupuku. Kami pergi sekolah, pergi mengaji dan pergi main selalu bareng- bareng. Kawan perempuan yang sebaya tidak ada, yang banyak hanya teman laki- laki. Akhirnya mereka semua menjadi temanku, oleh karena itu permainanku juga permainan anak laki-laki.
“Aku main petak umpet, berlarian, berkejaran, memajat pohon hingga pergi menjelajah mencari serangga atau berburu burung liar. Begitu bersekolah di SD maka aku memiliki tambahan teman perempuan yang datang dari dusun lain. Semuanya ada 6 orang. Sampai sekarang sudah belasan tahun kami punya gang tetap 6 orang”.
Namun dari 6 orang gang anak perempuan itu sekarang yang belum menikah ya aku sendiri. Teman- temanku yang lain sudah menikah- punya suami dan punya anak- anak yang lucu. Untuk ukuran desa aku sudah terlambat untuk menikah- karena di atas usia 20- an mereka sudah siap untuk menikah. Sementara aku sudah hampir 30 tahun, namun untuk ukuran orang kota aku belum terlambat untuk menikah…dan aku tidak menutup diri untuk menikah.
Untuk kota metropolitan seperti Jakarta, Bandung, mungkin juga Tokyo..orang banyak menikah di atas usia 30-an buat wanita. Pernikahan itu memang misteri dan jodoh itu ditentukan oleh yang di atas (Tuhan). Aku tetap membuka hati dan bersedia menikah dengan siapa, dari mana dan orang mana saja- asal ia baik, bertanggung jawab, sehat dan kami bisa beradaptasi bersama.
“Aku selalu menunggu jodohku yang bisa berbagi dan  membingku agar aku selalu dekat dengan Sang Khalik. Aku tidak ingin sendirian sampai tua. Aku harus lebih dekat dan minta ampun pada Tuhan. Aku punya banyak dosa, apalagi selama di Jepang sholatku banyak tinggal”.

B.Ibuku Pahlawanku
Anak- anak kecil semua punya pahlawan. Pahlawannya ada seperti Batman, Satria Baja Hitam. Dan aku juga punya pahlawan dari kecil hingga sekarang. Pahlawan untuk kehidupanku adalah ibuku.
Ibuku adalah wanita yang hebat. Itu aku tahu sejak ayah dan ibuku bercerai ketika aku duduk di kelas 6 SD, malah saat aku di kelas 4 SD, kami sudah ditinggal pergi oleh ayah- berarti mereka sebelumnya sudah pisah rumah juga namun belum bercerai. Jadi biaya kami makan dan juga uang jajan semua ditanggung oleh ibu. Aku punya adik 3 orang dan dua orang kakakku yang sekolah di MAN Padang Panjang- jadi semua butuh uang yang banyak. Semua berasal dari  ibu.
Dari mana datang uang kami ? Ya aku dan saudaraku yang lain ikut membantu ibu untuk membersihkan kulit manis- casiaverra (cinnamon) yang kita peroleh dari tetangga sebagai upahan. Kami kikis dan bersihkan dari pulang sekolah hingga larut malam bareng dengan ibu. Dari kecil hingga sekarang, aku tidak pernah melihat ibu meneteskan air matanya karena sedih.
“Entah kapan ia meneteskan air mata, aku tidak tahu dan ibu juga tidak pernah mengeluh. Jadi pahlawan dalam kehidupanku adalah ibuku. Dia bukan mama atau ibu yang cengeng. Ia wanita yang hebat dan mandiri- pagi ia pergi ke ladang dan pulang sore, sore hari ia pun membersihkan kulit manis lagi hingga malam dan esok paginya ke ladang lagi….nah begitulah rutinitasnya setiap hari”.
Mengapa ayah dan ibuku bercerai…? Perceraian mereka membuat kami semua bersedih. Saat kecil aku juga ikut ke kantor pengadilan agama di Batusangkar untuk menyaksikan perceraian mereka. Kami berangkat 5 orang: aku, ibu, sepupu dan 2 orang kakakku. Aku tidak tahu banyak saat itu mengapa kakakku menangis dan aku jadi ikut-ikutan sedih dan menangis. Namun bertambah usiaku saat aku duduk di bangku SMP, maka aku jadi tahu tentang perceraian dan makna betapa indahnya punya orang tua yang utuh ada ibu dan ayah- tempat kita bermanja- manja dengan mereka.
“Aku jadi iri melihat orang- orang bisa ngumpul- ngumpul bersama keluarga mereka, apalagi pada hari besar- seperti di bulan puasa dan hari lebaran. Mereka bergembira bersama dan makan bersama. Itu tidak pernah lagi aku temukan dalam keluarga kami. Iitulah yang membuat hatiku dan hati saudara- saudaraku menjadi remuk- hancur”.
Waktu kecil- aku adalah anak yang biasa biasa saja- tidak pemalu dan bukan pula anak pemberani. Aku bisa jadi berani karena saat di SMP aku bergabung dengan kegiatan pramuka. Pramuka itu punya manfaat untuk melatih kita mandiri dan menjadi berani. Kalau kita ada kesulitan maka kita diajar mencari solusi untuk mengatasinya.
Anak- anak sekarang banyak yang ikut les privat dan pergi bimbel (bimbingan belajar). Aku rasa itu juga bagus untuk menambah pemahaman nilai akademis- untuk otak, namun kegiatan pramuka juga patut untuk diapresiasi- diikuti agar menciptakan keberanian dan sifat heroik kita.    
“Anak perlu kegiatan buat otak dan juga buat fisik yang berimbang..ya ikutlah kegiatan pramuka atau outdoor activity lainnya. Agar kita tidak punya generasi seperti karikatur yang aku lihat- kepala besar dan badan kecil. Maksudnya ilmunya luas sedangkan realisasinya terbatas- jadi juga tidak bagus punya generasi seperti itu- cuma jago berteori, dan tidak jago dalam aksi”.
Orang- orang yang hanya rajin untuk menimba ilmu namun badan kecil- karena jarang bergerak- nanti bisa punya banyak penyakit. Agar tidak sakit maka dia harus juga rajin gerak badan- olah raga. Kegiatan olah raga, pramuka dan outdoor activity sangat bagus untuk membuat generasi muda menjadi akrab dengan alam- tahu dengan lingkungan dan peduli dengan manusia.
Sebagai perempuan, sejak kecil aku juga punya cita- cita. Waktu SD…apa ya cita- citaku ? Ya banyak anak SD yang tidak tahu mau jadi bila dewasa kelak. Namun ketika aku di SMP aku pengen menjadi Guide bagi orang- orang asing- rasanya ada kepuasan karir bila kita bisa memberi bantuan buat orang asing. Cita- cita menjadi Guide…ya cita cita yang cukup sederhana. Aku tidak kepikir untuk menjadi arsitektur atau diplomat- makanya pas tamat SMP aku pengen melanjutkan studiku ke SMIP- Sekolah Menengah Industri Pariwisata di Padang.
“Aku pengen menjadi guide, karena traveling itu sangat menyenangkan. Aku bisa melihat dunia luar dan bukan pekerjaan di kantoran yang sangat monoton- dengan lingkungan yang sempit, sementara kalau travelling, kita melihat lingkungan yang luas dan wawasan juga menjadi luas- dan semua itu sangat menyenangkan. Itu disebabkan karena aku suka dengan Bahasa Inggris.”
Aku harus menelan kekecewaan dan mimpiku untuk tidak melanjutkan ke SMIP. Tapi aku tidak begitu kecewa. Alasan ibuku tidak mengizinkan adalah karena aku masih kecil dan biayanya juga mahal- orang tua tidak punya banyak uang. Jadi aku hanya dianjurkan untuk masuk ke SMAN 1 Lintau saja.
Sebetulnya aku tidak ingin masuk SMA, karena setelah tamat sekolah ini aku harus kuliah- sementara kami mengalami problem keuangan dan tidak mungkin bisa pergi kuliah ke Perguruan Tinggi. Bukankah tamat SMA, siswanya dianggap belum punya skill- cuma sekedar menguasai ilmu- ilmu ringan saja.
Aku juga punya kenangan indah tentang sekolah. Aku masih ingat saat di SMP, kenangan dengan almarhum bapak Nasrul- guru matematika. Saat itu bapak itu sudah tua, namun beberapa teman membolos dari kelasnya- aku merasa kasih mengapa kelas matematikanya kurang diminati oleh teman. Aku tidak mau membolos karena aku sangat menghormatinya
Akibatnya aku menjadi suka dengan matematika. Saat duduk di SMA aku juga suka dengan matematika, pelajaran cukup enjoy buatku. Aku masih ingat bagaimana cara menyelesaikan persamaan kuadrat dan pelajaran trigonometri lainnya. Aku juga jadi mengerti dengan persamaan linear dan substitusi eliminasi dari Pak Nasrul. Jadi kalau kita menghormati dan menyukai seorang guru maka kita akan menyukai bidang studinya- bidang studi yang ia ajarkan akan menjadi mudah untuk dipahami. Saat di SMA- pelajaran matematik itu bersambung dan aku bisa mengikutinya/ memahaminya dengan mudah.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture