Senin, 08 Juli 2013

Mari Ciptakan Jembatan Ampera Yang Bebas Dari Kriminal



Mampir Ke Palembang

1. Study- Tour
            Siapa saja yang ingin berpergian ke luar negeri tentu harus menyiapkan dokumen seperti visa dan passport. Demikian juga halnya dengan aku. Aku menerima surat pemberitahuan untuk mengikuti program benchmarking ke negara kangguru ini. Ada dua lembar formulir yang disisipkan dalam amplop yang harus aku isi, yaitu formulir permohonan passport baru dan formulir perpanjangan passport.
            “Aku sudah punya passport dan masih berlaku untuk 3 tahun lagi, apa musti mengurus passport baru  atau perpanjangan passport lagi ?”. Aku bertanya pada istri atau juga pada beberapa teman, namun jawaban mereka tidak begitu memuaskan.
            Aku menelpon ibu Aat Rachminawati untuk memperoleh penjelasan tentang itu, ia bekerja di Dirjen pPendidikan Menengah. Aku tanya tentang apa beda passport biru dengan passport hijau ? Lebih baik bertanya daripada pura-pura sudah tahu. Katanya bahwa passport biru adalah passport dinas dan keberangkatan dibiayai negara, sementara passport hijau adalah passport umum dan biaya tanggung sendiri. O…begitu jadi aku harus juga ngurus passport biru.
            Sambil menunggu kelanjutan perkembangan dokumen aku mengikuti kegiatan harian di sekolah, meski dalam suasana libur. Aku mampir ke sekolah paling kurang untuk mengupdate informasi lewat layanan WiFi sekolah.
            Bulan Juni merupakan bulan terakhir untuk tahun akademik. Biasanya untuk menyambut kedatangan tahun akademik baru semua sekolah dan juga sekolah kami melaksanakan kegiatan lokakarya. Guru guru SMAN 3 Batusangkar- sekolahku- melakukan lokakarya separoh waktu di sekolah dan sisanya di luar sekolah.
            Ada 4 lokasi yang diusulkan untuk lokasi lokakarya yaitu di Bukittinggi, Medan, Pekan Baru atau Palembang. Keinginan teman teman sangat beragam menurut logika dan alasan masing- masing. Aku dalam hati lebih tertarik untuk memilih kota Palembang, karena pada tahun- tahun sebelumnya kami pernah berada di tiga kota sebelumnya.
            Untuk mengambil keputusan maka dilakukanlah voting. Maka mayoritas memilih lokasi lokakarya di Palembang. Akhirnya semua guru setuju dan amat senang untuk melakukan lokakarya dan sekaligus study banding, juga rekreasi di kota Palembang. Kami malah mengusulkan agar keluarga (istri/suami dan anak) bisa ikut.
            Semua setuju. Arjus Putra- sebagai ketua lokakarya- menjadi lebih sibuk mengurus rencana perjalanan dan juga akomodasi selama di Palembang. Kebetulan 4 minggu lalu aku berada di Palembang untuk tujuan memberi seminar- menjadi nara sumber- seminar guru menulis di IAIN Raden Fatah Palembang.
            Saat itu ketua acara seminar adalah Rini Wahyu Asih, maka aku juga menelpon tentang akomodasi. Namun akhirnya teman Arjus Putra bisa membantu segala sesuatu dengan baik. Kami diberitahu tentang dimana hotel kami dan sekolah mana yang bakal dikunjungi.    

2. Bertolak ke Palembang
            Kami sepakat untuk berangkat ke Palembang hari Sabtu, namun Emi Surya (istriku) batal untuk ikut karena ia harus mengikuti pelatihan manajemen laboratorium. Jadi hanya Fachru dan Nadhilla (ke dua anakku) yang ikut. Aku menyuruh mereka untuk menyiapkan pakaian dan kebutuhan lain- seperti sampo, sabun, buku cerita dan game buat mereka.
Yang aku tidak lupa adalah aku harus menyiapkan obat anti mabuk, makanan dan minuman ringan buat antisipasi selama perjalanan. Aku juga membeli 2 kg apple buat bertiga selama 5 hari.  Aku merasa bahwa mengkonsumsi buah seperti apple, jeruk dan buat yang kaya serat serta vitamin sangat bagus untuk menjaga kesegaran dan kesehatan pencernaan kita.
Perjalanan kali ini merupakan perjalanan terjauh dan terlama buat anak-anakku dan mereka hampir tidak sabar menunggu datangnya hari Sabtu. Tidak sabar tentu saja merupakan cirri khas anak-anak dan juga para remaja.
Akhirnya hari keberangkatan pun datang. Hari Sabtu jam 01.30 siang, semua peserta lokakarya dan juga keluarga telah berkumpul di depan gedung Indo Jolito(rumah dinas Bupati Tanah Datar). Saat itu mobil belum bisa berangkat kecuali kalau 2 orang yang kami tunggu sudah datang. Mereka adalah Muscandra dan Dian Hastuti. Keduanya adalah teman kami yang paginya harus ikut acara wisuda sebagai sarjana baru pada STIE Batusangkar.  
Setelah anggota rombongan lengkap akhirnya mobil kami berangkat menuju Palembang. Dari Batusangkar mobil mengambil arah ke Setangkai- Lintau, dan terus meluncur ke Sijunjung dan Dharmasraya. Suasana mobil cukup nyaman dengan AC dan bangku yang cukup luas. Namun kadang- kadang timbul juga rasa bosan, apalagi untuk menempuh jarak sekitar 700 km atau selama 18 jam. Sehingga anakkusering bertanya:
 “Apakah Palembang sudah dekat……berapa jam lagi mibilnya sampai ?”
Itulah enaknya kalau mobil bisa kami request untuk berhenti. Ada beberapa kali mobil berhenti. Setiap kali berhenti anak- anak bisa memulihkan mood (suasana hati) mereka dengan menikmati jajan- minuman dan makanan ringan. Kami juga berhenti pada tempat lain untuk melakukan sholat. Aku mengajak anak- anak untuk sholat, melakukan jamak dan qashar, karena ini biasa dilaksanakan oleh para musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan jauh.
Menjamak sholat berarti…… Meng-qashor sholat berarti……. Dengan cara demikian anak- anak juga memperoleh pengalaman langsung dalam menunaikan agama dalam hidup mereka.
Itulah harapan orang tua, yakni bagaimana anak juga memahami bahwa sholat itu sangat penting. Sholat sebagai media bagi kita untuk mendekatkan hati dan diri pada Allah SWT, Sang Pencipta jagad raya ini.        
Aku perhatikan bahwa tidak ada seorang penumpang pun yang bisa tertidur lelap dalam mobil- kecuali beberapa orang anak kecil. Untuk membuat anak-anak bisa betah, aku melihat mereka cukup pintar, mereka membawa makanan, minuman, game/ sarana hiburan dan bacaan. Benda- benda tersebut mampu mengusir kebosanan mereka.
Demikian pula dengan anakku, Fachrul sibuk bercanda dengan temannya anak Arjus Putra, sementara Nadhilla sibuk membaca atau menonton atau dengar musik lewat androitnya yang telah dibawa sejak dari rumah. Sekali- sekali ia ngobrol dengan Pak Alfian Jamrah. Anakku merasa kagum bisa ngobrol dengannya sehingga ia sempat bertanya:
“Ayah…, mengapa Pak Alfian luas wawasannya ?” Tanya Nadhilla dengan lugu- ya pertanyaan seorang anak SD.
“ Tentu…karena Pak Alfian adalah seorang mahasiswa program Doktor, sebelumnya sebagai Kepala Dinas Pariwisata, seorang penulis untuk koran-koran Sumatera Barat dan juga seorang pembaca”. Kataku menimpali. Suaraku sampai terdengar oleh Alfian Jamrah sehingga ia merasa geli mendengar percakapan kami.
Setelah menempuh jarak Batusangkar- Palembang selama 18 jam, akhirnya mobil kami berhenti di depan sebuah resto. Semua penumpang turun mencari makanan untuk mengisi perut yang sudah kelaparan. Beberapa saat kemudian Harpen Namaidi- adikku- menelpon ke hapeku. Aku segera merespon bahwa kira- kira 2 jam lagi kami sudah berada dalam kota Palembang dan kami semua menginap di Budi Hotel, yang lokasinya persis dalam kota metro Palembang.     

3. Kecopetan Hape di Palembang
            Tidak lama berselang setelah kami cek-in hi Hotel Budi, hapeku bordering. Rupanyan Harpen Namaidi dan Fitria (istrinya) mau datang segera ke hotel. Mereka telah berjanji buat mengajak kami buat ke resto- makan siang yang enak. Aku tahu resto atau rumah makan tersebut milik orang Padang. Kita akui bahwa naluri bisnis kuliner orang Padang terkenal sangat bagus.
            Usai makan siang di resto, Harpen membawa kami ke Kenten Laut buat berjumpa dengan Suwirman- kakak kami yang paling tua yang bertugas sebagai guru SMK di Metro Palembang ini. Pertjumpaan tersebut sangat berguna untuk mengakrapkan anak- anakku dengan paman mereka. Orang tua perlu mengajarkan pada anak bahwa silaturahmi perlu untuk dipelihara.
            Kami tidak bisa berlama- lama di Kenten Laut dan aku minta Harpen mengantarkan aku sekitar jam 04.00 sore ke pinggir jembatan Ampera karena rombongan kami bakal rekreasi di sana, jadi di sanalah rendezvousnya (tempat janjiannya). Harpen segera mengantarkan aku ke sana dan sebelum turun ia menitip pesan agar aku berhati hati karena kawasan seputar Jembatan Ampera rawan dengan copet atau pencurian.
            “Waspada dengan dompet, uang, hape, kartu kredit dan peralatan elektronik. Hindari memakai perhiasan di sana”. Demikian nasehat Harpen padaku. Aku mendengar nasehat tersebut sebagai sesuatu hal yang wajar saja dari seorang adik ke kakaknya.
            Nadhilla ikut denganku dan Fachrul ikut lagi dengan Pak De nya (harpen) untuk mengitari kota. Aku bergabung dengan grup/ rombongan kami yang sudah duluan melangkah ke pinggir jembatan Ampera. Dari kejauhan terlihat jembatan Ampera menjulang dengan anggunnya. Aku ingin agar pinggir jembatan Ampera bisa menjadi tempat turis yang menarik ibarat pinggir sungai di mana patung Merlion bertengger di negara Singapura.
            Aku juga melangkah melalui sebuah gang sempit dan ramai. Aku menjadi sadar saat ada tangan asing menyeret sisi celanaku. Ya ampun hapeku raib……!!! Aku segera menoleh kebelakang dengan secepat kilat dan aku jumpai Hendra Zuher (temanku) tengah memegang lengan seorang pemuda bertubuh ceking dan rambut dicat coklat. Kami segera memegang tangannya lebih kuat dan mengintoregasinya.
            “Kamu pencopet…, telah menyambar hapeku. Mohon serahkan…..???” Pintaku memaksa. Orang- orang datang berkerumun menyaksikan. Ada yang bersimpati padaku dan mereka juga memaksa pemuda pencopet itu untuk menyerahkan hapeku. Hape itu diperkirakan telah dioper ke temannya yang sempat melarikan diri.
            Pemuda pencopet itu bersumpah- sumpah bahwa ia bukan pencopet. Dia mengatakan bahwa ia adalah orang baik-baik, iahanya tukang ojek, kemudian pernyataannya berubah bahwa ia tukang parkir. Beberapa saat kemudia ada yang datang membelannya yang penampilannya serupa. Mereka juga meminta kami untuk membebaskan temannya, karena temannya bukan pencopet….temannya orang baik- baik… hanya sebagai tukang parkir.
Mood kami dan juga suasanahati teman- temanku yang lain juga jadi tidak enak. Karena pinggir Jembatan Ampera yang cantik itu adalah sarang pencopet. Dan aku berfikir bahwa aku bukan orang sana, kampungku jauh di Batusangkar. Aku khwatir kalau sesuatu yang lebih buruk terjadi maka kami semua bubar dari wilayah itu. Wilayah dimana aku jumpai banyak pemuda berwajah sangar.
Jembatan Ampera yang megah terlihat tidak megah lagi. Pantesan tidak banyak wisatawan manca negara yang berkunjung ke kawasn tersebut karena terdeteksi sebagai wilayah yang tidak aman. Temanku mengatakan bahwa daerah tersebut menjadi daerah empat besar di Indonesia sebagai daerah tidak aman.
“Aku tidak sedih kehilangan hape. Yang aku sedihkan bahwa aku kehilangan banyak dokumen dalamnya- ada catatan, ada nomor telepon penting, foto dan rekaman film yang bersejarah menurutku. Ambilah hape itu namun mohon kembalikan kartu simnya”. Demikian aku sempat bermohon pada sang pencopet. Namun sang pencopet membersihkan diri sebagai orang baik- baik.
Meskipun hapeku hilang di Palembang namun aku tetap mencintai kota Palembang, aku tetap mencintai Jembatan Ampera. Palembang adalah kotaku di negaraku tercinta. JembatanAmpera adalan Icon buat bangsaku. Namun aku bermohon kepada stakeholder dan masyarakat Palembang untuk membuat kota Palembang menjadi daerah yang palling aman di dunia, paling kurang daerah yang paling aman di Pulau Sumatra agar wisatawan mancanegara kangen buat bertandang ke sana.        
Menciptakan Jembatan Ampera bebas dari kriminal…….
 

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture