Senin, 08 Juli 2013



Back To Australia
A. Sebuah Kesempatan

1. Sepucuk Surat
            Dalam anganku ada keinginan untuk bisa menginjakan kaki  ke benua Eropa. Sejak zaman dulu hingga sekarang benua Eropa merupakan daerah yang sangat fenomena. Banyak kisah inspirasi dari tokoh dunia berasal dari daerah ini. Aku juga bisa menyatakan bahwa benua Eropa merupakan ibu dari 4 benua lainnya. Juga banyak bahasa dari bangsa- bangsa di Eropa- seperti bahasa Inggris, bahasa Portugis, bahasa Spanyol dan bahasa Perancis- dipakai oleh banyak orang di seluruh dunia. Itulah alasanku mengapa aku sangat mendambakan untuk bisa berkunjung ke benua ini.  
            Tiba-tiba Rani, salah seorang staf TU SMAN 3 Batusangkar- menyodorkan sepucuk surat yang baru diantarkan oleh petugas Pos. Ada tulisan “amat segera” tertera pada amplop surat. Rasa ingin tahuku hampir tidak bisa dibendung. Apa kabar baik yang bakal segera datang ?
            “Mungkin ada kabar untuk kunjungan ke Jepang, Korea atau salah satu negara di Eropa. Wah aku pengen bisa terbang ke Eropa, mungkin ke Findlandia yang terkenal dengan kualitas pendidikannya, atau ke Spanyol, atau mungkin ke Perancis agar aku bisa menaklukan puncak menara Eiffel (?). Ya aku pengen bisa ke Perancis aku bisa menggunakan bahasa negara ini- bahasa yang sudah aku pelajari sejak 15 tahun yang lalu. Sekalian aku bisa singgah di Notre Dame atau museum Tusseau”.
            Namun setelah amplop aku buka aku jumpai bahwa ternyata aku dapat undangan buat “benchmarking program ke Australia”. Aku tidak kecewa, meskipun aku sudah terbang ke sana 4 bulan lalu, namun aku juga belum puas karena benua kecil ini juga indah dan negaranya sangat bermutu di dunia. Dalam surat aku lihat ada 10 orang peserta program ini yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, mereka adalah seperti:
1.      Abdul Hajar (Makasar)
2.      Herfen Suryanti (Bontang)
3.      Euis Andriani (Sukabumi)
4.      Marjohan (batusangkar)
5.      Nurhadi (jayapura)
6.      Andi Robbi (Deli Serdang)
7.      Alfi Rokhana (Salatiga)
8.      H. Imron (Pasuruan)
9.      Suryanto (Temanggung)
10.  Nikmah Nurbaiti (Purworejo)
Benchmarking program berarti kegiatan belajar pada orang atau lembaga lain- kita akan mencari kelebihan dan kekurangannya, selanjutnya kita akan menyadur keunggulan/ kelebihan dari program yang mereka laksanakan. Lebih lanjut aku cari defenisi tentang benchmarking.
“Benchmarking adalah suatu aktivitas suatu organisasi (misal: sekolah)mengadakan evalusi diri secara kontinyu dengan membandingkan dirinya dengan organisasi (sekolah) yang kualitasnya dianggap lebih baik sehingga kelebihan yang ditemukan dapat diadopsi atau diaplikasikan untuk meningkatkan kualitas diri[1]”.
 Sebelum berjumpa dengan teman- teman peserta benchmarking program, aku juga mencari tahu atas profil mereka. Tiga dari peserta bukan dari PNS, karena tidak tertera NIP-nya (Nomor Induk Pegawai), dengan demikian aku tahu bahwa non PNS juga bisa meraih prestasi dalam bidang pendidikan dan karya mereka diberi reward oleh pemerintah.

2. Belajar dari Profil Teman
a) Cyber Classroom
            Aku menemui profil Nikmah Nurbaiti dalam buku Penjaga Mutu Sekolah (2012). Ia punya prestasi dalam memberdayakan melalui partisipasi dan potensi. Ia terlahir dari keluarga guru, mengakrapi dunia pendidikan sejak kecil. Kini ia menjadi kepala SMAN 5 Purworejo dan melakukan banyak pengembangan di sekolahnya.
Sebelum menjadi kepala sekolah, ia adalah seorang guru Bahasa Inggris. Ia pernah mewakili Indonesia ke Konferensi Guru Sedunia di Findlandia dan menjadi wakil Indonesia untuk cyber classroom. Saat itu ia ke Findlandia sendirian pada hal ke Jakarta saja sendiri belum pernah.
Ia terpilih ke ajang dunia bermula dari aktivitas Nikmah di berbagai forum di Purworejo. Ia dikenal lancar dan bagus saat mengutarakan pendapat dalam bahasa Inggris. Ia pernah mengikuti Konferensi Bahasa Inggris Nasional di Bogor tahun 2002, juga mendapat tugas ke Australia pada tahun yang sama, namun batal menimbang ia masih punya bayi yang sayang untuk ditinggalkan. Namun pada lain waktu ia punya kesempatan untuk terbang ke Findlandia.
Ada serangkaian tes yang ia lalui sebelum pergi ke Findlandia yaitu tes wawancara menggunakan bahasa Inggris. Dalam wawancara yang dibahas seputar penggunaan dan manfaat internet. Selain itu, bila nanti terpilih ia harus membuat suatu proyek.
Ia menjadi cemas atau entah socked atau surprised pergi ke Findlandia sendirian. Bila tidak bersedia berangkat ya akan digantikan oleh finalis lain. Ia berfikir bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali maka ia pun dengan percaya diri berangkat ke Tampere, Findlandia.
Konferensi di Findlandia dihadiri 55 guru dari sekitar 17-18 negara Asia- Eropa, seperti Jepang, Swedia, Findlandia, Jerman, Belanda, Singapura dan lain-lain. Hasilnya adalah pembentukan cyber classroom (CC), yaitu wadah bagi siswa Asia- Eropa untuk bertukar segala sesuatu melalui internet. Dari hasil konferensi tersebut Nikmah dan kawan-kawan membentuk kelompok dan merancang suatu proyek, dengan ketentuan setiap kelompok terdiri dari campuran antar negara Asia dan Eropa. Ia satu kelompok dengan Ulla Dahlstorm, wakil dari Swedia dan mereka membuat proyek.
Pada proyek tersebut ia dan rekannya bertukar informasi kebudayaan, tata kehidupan, agama, dan lain- lain. Prpyek mereka dalam bentuk situs cyber classroom. Dalam situs itu ia bercerita tentang beberapa elemen penting seperti everyday life, berisi cerita siswa kedua negara- termasuk dalamnya tentang teenager life.
Kita ada melihat perbedaan cara hidup seperti kebiasaan ke night club, makanan dan sekolah. Ada juga tentang pendidikan, olahraga, dan pelajaran favorit. Juga ada pertukaran cerita rakyat, tempat wisata dan cerita tentang agama. Inti dari cyber classroom adalah pertukaran pelajar via internet yang menekankan pada bidang seni, budaya, pendidikan dan tata kehidupan sehari-hari dengan bahasa pengantar bahasa Inggris.
Nikmah juga mengajak para guru untuk bisa mengajak guru bahasa Inggris bisa mengembangkan “dialog imajiner”, sebab selama ini murid kalau diminta berkomunikasi dengan bahasa Inggris sulit apa yang akan dibicarakan. Maka murid perlu diberi rangsangan kondisi yang diciptakan dengan sengaja untuk membuat anak didik dalam suatu situasi lain yang dibayangkan (imajiner).
Misalnya model belajar “role play- atau bermain peran. Tentu saja di sini  ada siswa yang dijadikan model sebagai siswa teladan, penyanyi dangdut, presiden Amerika Serikat dan lain-lain, sementara berperan menjadi wartawan. Murid yang berperan sebagai wartawan mengajukan pertanyaan kepada tokoh imajiner tersebut. Dengan cara demikian maka pelajaran speaking bahasa Inggris dapat berlangsung dengan lancar selama dua jam dalam situasi yang mereka ciptakan sendiri.
Contoh lain percakapan imajiner adalah berdasarkan karya sastra seperti bermain drama. Ada siswa yang berperan sebagai Cinderella, pangeran, ibu tiri, maupun saudara tiri Cinderella. Maka percakapannya akan berkisar seputar kehidupan Cinderella dan kisah Cinderella. Denga metode seperti ini maka kreativitas dan inovasi murid akan berkembang.


b) Suasana Belajar Yang Kontekstual
            Aku juga memperoleh pengalaman saat membaca profil Abdul Hajar (2012) dalam buku “Menebar Ispirasi Melalui Prestasi: Pengalaman Terbaik Guru SMA dan SMK Berprestasi Nasional”. Ia dikenal sebagai guru yang kreatif. Sikapnya ramah dan akrab dengan para siswa. Supaya para siswa lebih mudah memahami materi yang akan diberikan, sebelum memulai pembelajaran, maka kita harus mengajak siswa untuk membahas mengenai hal-hal yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Abdul Hajar mengatakan bahwa gambaran yang kita berikan haruslah kontektual. Artinya harus sesuai dengan kondisi dan keadaan yang terjadi di sekitar siswa. Jika pra-pembelajaran sudah dirasa menarik maka tentu siswa akan tertarik untuk mengetahui lebih dalam.  
            Ia berprinsip dalam hidup untuk “berusaha dahulu berprestasi kemudian”. Kemampuan untuk mandiri dan beradaptasi mutlak untuk dimiliki oleh orang modern. Ia sangat bersyukur memiliki karakter bisa mandiri dan kuat di lingkungan yang baru, demikian pula kemampuan beradaptasi dengan teman yang ada di lapangan.
            Sebagai seorang guru maka ia harus kreatif dalam menyampaikan materi. Ketika memberikan materi mengenai suksesi dalam pelajaran Biologi, ia meletakkan beberapa akuarium di kelas dan mengisinya dengan berbagai macam makhluk air. Akuarium kemudian diberi aerator sebagai penyuplai udara, dan dibiarkan tanpa diberi makanan, juga tanpa dibersihkan. Semua makhluk hidup dalamnya dibiarkan hidup apa adanya. Lalu ia menjelaskan kepada para siswa bahwa secara alami, makhluk- makhluk hidup dalam akuarium itu akan berusaha berjuang mempertahankan hidup dalam ekosistem barunya.    Para siswa bisa melihatnya, sehingga mereka bisa melihat proses kehidupan yang terjadi dalam akuarium, seperti persaingan mencari makanan, menguasai wilayah dan yang lainnya.    

c) Memacu Diri Untuk Berprestasi
            Orang yang ketiga yang aku temui profilnya adalah Herfen Suryati juga dalam buku “Menebar Ispirasi Melalui Prestasi: Pengalaman Terbaik Guru SMA dan SMK Berprestasi Nasional”. Ia sangat tekun dalam belajar dan terbiasa berdisiplin.
            Dalam menjalankan profesinya sebagai guru, Herfen selalu memacu dirinya untuk berbuat lebih baik dengan memegang filosofi bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin. Ia mengatakan bahwa seharusnya kita harus bisa berbuat lebih baik lagi di masa yang akan datang.
            Herfen mengabdikan seluruh potensi dirinya sebagai pengajar. Pada tahun 2009 ia mendapat penghargaan the best innovative teacher dalam event regional innovative teacher competition tingkat Asia Pasifik di Kuala Lumpur, Malaysia. Untuk memudahkan proses pembelajaran ia juga aktif menciptakan multi media pembelajaran.
            Ia mengatakan bahwa guru perlu selalu memanfaatkan tekhnologi TIK (Teknologi Informasi Komputer). Dalam pembelajarannya ia  selalu mencoba menciptakan media, termasuk  multimedia interaktif sebagai media pembelajaran. Ia juga menggunakan jaringan internet sebagai salah satu satana pembelajaran.    

d) Memajukan Pendidikan Anak- Anak Papua
            Profil menarik tentang Nurhadi (2012) diperoleh dari majalah “PTK Dikmen- Media Informasi  dan Komunikasi Pendidikan Menengah”. Mengikuti perlombaan menurut Nurhadi adalah sangat penting karena sangat berguna untuk mengukur kemampuan diri. Pelaksanaan perlombaan juga senada dengan firman Allah SWT di dalam Al-Quran: fastabiq al-khoirat yang artinya bersainglah dalam hal kebaikan. Tentu saja berlomba atau berkompetisi bukan untuk kemasyuran atau kebanggaan diri,namun lebih mengarah kepada upaya saling mengasah, saling memberi, dan saling memotivasi demi pemerataan kualitas.
            Perjalan karir Nurhadi sebagai guru dimulai di daerah khusus (daerah terpencil), tepatnya di perbatasan Indonesia- Papua Nugini, yaitu di SLTP Negeri Web. Perjalanan ke tempat tugas tidaklah mudah, untuk menuju daerah tersebut kita harus menyewa mobil kecil double garden untuk menempuh perjalanan berlumpur dari kota Jayapura ke desa Senggi sejauh 180 km. perjalanan ditempuh selama 8-9 jam dengan kondisi jalan rusak, berlumpur, longsor sepanjang hutan hujan tropis Papua.
            Setelah bermalam di SMPN Senggi, kita musti berjalan kaki menelusuri jalan setapak, melintasi hutan, gunung, sungai atau lembah menuju desa Web selama 2 hari. Rombongan harus bermalam di tepi Sungai Web, atau jika perjalanan kaki lebih cepat bisa sampai di kampung Yabanda. Perjalanan dilanjutkan pagi hari menuju kampung Yuruf dan tiba di SMPN Web sudah menjelang magrib pada hari ke dua.
            Sebagaimana kiprah guru lain ketika membuka sekolah baru di daerah terpencil, pada awalnya tentu dilalui dengan mencari dan menjemput calon siswa. Nurhadi juga demikian, ia mengunjungi keluarga- keluarga yang tersebar di kampung- kampung tua di wilayah Kecamatan Web radius jarak antara sekolah dengan kampung- kampung itu sekitar 15 km.
            Tahun pertama merupakan tahun ujian yang amat berat. Sebab hampir semua orang tua seperti tidak memiliki harapan masa depan yang cerah bagi anak- anak mereka. Hidup mereka hanya bersifat rutinitas seperti membuka lading, menanm ubi, pisang atau sayuran di kebun untuk kebutuhan sehari-hari.
            Lama usia sekolah bagi anak perempuan rata-rata hingga kelas IV SD (tentu saja usia mereka lebih tua dari usia anak SD rata-rata di metropolitan Indonesia), setelah itu dikawinkan dengan pria pilihan orang tuanya. Sedangkan anak laki-laki pada umumnya tamat SD kemudian kawin. Hanya anak-anak yang punya semangatlah yang tetap melanjutkan sekolah hingga ke SLTP dan SLTA di Sentani Jayapura.
            Nurhadi pernah menjumpai orang tua atau masyarakat yang menolak keras anaknya dibawa ke sekolah. Mereka berkata dengan nada keras bahwa pemerintah selama ini tidak mempedulikan mereka. Nurhadi memahami kalau mereka pesimis karena ia melihat langsung keadaan mereka yang sangat terbelakang dan kehidupan yang jauh dari kata layak.
            Nurhadi memberikan respon pada mereka: “Bahwa kondisi orang-orang tua saat ini memang sangat sulit. Tetapi kami adalah wakil pemerintah yang diutus untuk menolong masyarakat di kampung ini. Jika anak-anak diizinkan sekolah maka dalam 10 hingga 20 tahun ke depan mereka akan merubah kampung terisolir ini menjadi maju. Ada yang menjadi kepala distrik, mantri untuk melayani kesehatan, dan guru pendidikan”. Ada orangtua yang memahaminya dan mengizinkan anaknya dibawa ke sekolah.
            Tahun 2001 Nurhadi dimutasikan ke SLTP Negeri 6 Jayapura. Di sekolah ini permasalahan beda lagi- lagi, banyak siswa yang punya motivasi belajar rendah. Ada siswa yang melompat dari jendelahingga guru menangis karena merasa tidak dihormati. Terkadang ada kotoran manusia di dalam kelas. Guru guru merasa sudah maksimal dalam membina meskipun pada umumnya menggunakan metoda/ pendekatan punishment (hukuman).
            Namun Nurhadi mempunyai pendekatan lain. Ia mendekati siswa melalui olahraga favoritnya yaitu sepak bola dan mereka latihan sepak bola setiap Sabtu sore. Melalui cara tersebut iamengajak mereka berdiskusi dan berbicara dari hati ke hati tentang untung ruginya jika tidak serius dalam belajar dan mengikuti pembelajaran. Pentingnya menghormati orang yang  lebih tua, dan menjaga kebersihan dan keindahan sekolah demi kenyamanan belajar. Berkat usaha yang dikemas dengan olahraga favorit sepak bola tersebut, para siswa perlahan menjadi berubah baik.       
            Belum banya yang ia perbuat di sana, ia kemudian dimutasikan lagi ke SMU Negeri 5 Jayapura. Yaitu ke sebuah sekolah khusus didirikan untuk putera-puteri yang berbakat. Walikota mendirikan sekolah khusus tersebut untuk memproteksi anak-anak Papua berbakat agar mampu berprestasi secara nasional dan internasional. Harapannya agar 80 % anak Papua dapat diterima di perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun di luar negeri.
Tenaga guru yang dipilih dari berbagai sekolah tersebut memiliki semangat dan kebersamaan  yang kuat untuk kemajuan SMUN 5 Jayapura. Mereka menyumbangkan apa yang menjadi kelebihannya masing- masing. Misalnya dalam bidang olahraga, debat Bahasa Inggris, olimpiade sains, matematika, karya ilmiah remaja, cerdas cermat dan sebagainya. Semua menyayangi anak-anak Papua seperti terhadap anak sendiri yang harus diberdayakan.


[1] Amat Jaedun (2011). Benchmarking Standard Mutu Pendidikan- Makalah Seminar Nasional. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture