Sabtu, 28 Desember 2013

Menjadi Maju Tanpa Meninggalkan Budaya Bangsa



 Menjadi Maju Tanpa Meninggalkan Budaya Bangsa
            Meskipun bangsa Jepang sudah maju dan modern, mereka tidak perlu menjadi bangsa yang individualis. Aku merasakan orang Jepang masih berkarakter suka menolong. Saat aku punya masalah dan aku mengungkapkan masalah tersebut pada teman, mereka mau mendengar dan memberi solusi. Hal ini akan berbeda dengan karakter orang Barat yang tidak suka mendengar keluhan kita, dengan alasan bahwa mereka juga punya banyak masalah. Memang aku akui, bahwa orang maju- Orang Barat dan juga orang Jepang- mereka tidak terbiasa untuk berkeluh kesah. Orang yang banyak keluh kesah menggambarkan fikiran yang cenderung menjadi kerdil.
Itulah kenyataan yang aku lihat/ aku rasakan tentang beda orang Jepang dengan orang Barat[1]. Namun berikut ini beberapa perbedaan dan persamaan orang Barat dan orang Jepang. Dalam pergaulan kita rasakan bahwa orang Barat suka berterus terang dalam menyampaikan pendapat, orang Jepang dengan ekpresi yang pelan dan hati- hati. Di Restoran, Orang Barat berbincang-bincang dengan suara pelan, orang Timur berbincang-bincang dengan keras, namun orang Jepang juga dengan suara pelan.
Boss orang Barat menganggap dirinya sederajat dengan bawahannya, boss orang Timur menganggap dirinya superior. Orang Barat dan juga orang Jepang biasanya tepat waktu. Orang Barat dan orang Jepang dulu menggunakan menggunakan mobil, dan sekarang menghargai sepeda (karena takut pemanasan global). Orang timur: dulu menggunakan sepeda, sekarang suka menggunakan mobil (karena kemajuan jaman). Orang Barat dan orang Jepang suka menyelesaikan masalah, bukan menghindari masalah. Saat berwisata, orang Barat biasanya hanya melakukan sightseeing, orang Timur biasanya banyak melakukan foto-foto. Orang Barat cenderung individualis, orang Timur dan juga orang Jepang suka bersama-sama, prilaku ini terlihat dalam kegiatan tour mereka.
1) Orang Jepang tidak Pelit
            Rata-rata orang mengatakan bangsa Jepang itu pelit. Termasuk anggapan aku sendiri waktu dulu. Aku yakini sekerang berdasar pengalaman hidup disana bahwa mereka tidak pelit, namun mereka tidak suka asal memberi. Kalau memberi sesuatu musti ada alasannya- untuk apa uang itu diberi.
Di Jepang, untuk apa uang diberikan  haruslah jelas, tidak peduli suami isteri atau di dalam keluarga sekali pun. Pinjam uang berarti harus dikembalikan. Ini adalah prinsip dan budaya di Jepang. Jadi seorang kakak meminjam satu juta yen dari adiknya, harus mengembalikan satu juta yen, kalau perlu ditambah bunga pinjaman. Tidak ada romantisme di dalam keluarga, apalagi  kalau sudah menyangkut uang.
Itu sebabnya mungkin Jepang bisa berkembang maju di bidang ekonomi, karena sejak dari lingkungan keluarga saja sudah ada penggarisan yang jelas bahwa uang tak bisa digantikan kata “kasihan” sehingga uang pinjaman memungkinkan tidak kembali. Ini adalah segi  positif dari bidang ekonomi dan ini juga membuat orang Jepang tidak suka menjadi “tangan di bawah, orang yang suka meminta- minta, butuh belas kasihan”. Dalam pergaulan, teman yang minjam uang, uangnya harus dikembalikan. Namanya saja pinjam, jadi harus dikembalikan. Kebiasaan ini sulit buat kita terapkan, apalagi kalau sudah menyangkut keluarga.
“Ah kamu sama adik sendiri kok pelit banget, kita satu keluarga berhitung amat sih”. Begini komentar anggota keluarga lain kalau mereka tahu ada pinjam meminjam antara adik- kakak di dalam keluarga.
Ketegasan soal uang ini membentuk pengusaha Jepang tidak bisa menerima perlakuan korupsi. Satu yen yang mereka dapat dari keringat mereka, "Kok enak saja minta uang dengan cara korupsi? Kan mereka sudah digaji," begitulah keluh mereka.
2) Orang Jepang Ramah dan Baik.
Orang Jepang adalah orang timur juga dan orang timur terkenal dengan keramahannya. Keramahan orang Jepang aku rasakan saat terbang bersama pesawat Malaysia Airline dari Kuala Lumpur menuju Osaka. Teman sebangkuku adalah seorang pria Jepang, kami ngomong  dan aku merasakan bahwa ia sangat ramah. Temanku yang lain dari Indonesia juga merasakan bahwa bangsa Jepang adalah bangsa yang ramah.
 Ini adalah pengalaman seorang teman. Sebut saja teman tersebut bernama Emi Surya, Nadilla dan Fachrul. Saat dia sampai di Osaka, mereka tidak mencatat map tempat hostelnya. Kebetulan bertemu dengan orang Jepang yang tinggal di Osaka dan baru pulang dari dinas. Dia membantu  mereka  mencari tempatnya, bener bener membantu hingga bertemu alamat yang mau dituju. Padahal dia bawa koper juga. Awalnya Emi Surya berfikir kalau- kalau mereka  mungkin searah, tapi lama kelamaan Emi Surya berfikir bahwa orang Jepang itu sangat tulus. Orang Jepang itu bertanya tentang nama  hostelnya, terus dia mengeluarkan ePad-nya dan  searching di Internet. Ternyata ternyata mereka salah jalan, dan dia memberi tahu jalannya, dan juga diantar sampai ke pintu hostel. Baik banget….!!.
Di perjalanan Emi Surya ke tempat penginapan menggunakan bis. Pada saat itu Emi Surya membawa koper yang dia letakkan di tengah jalan (tempat orang berdiri). Emi Surya duduk di bangku yang sebelahnya masih kosong, tapi tidak mungkin kopernya ditaroh, sempit banget. Dan banyak orang Jepang yang tereganggu sama kopernya, lagi jam pulang kantor sepertinya. Tapi, tidak ada yang memintanya  untuk geser atau apapun itu. Orang Jepang sangat baik, tidak mau mengusik orang lain.
Perjalanan pulang grupku dari liburan ke asrama, ada  banyak anak- anak dan remaja pengendara sepeda yang kami halangi jalannya, jadi mereka perlu membunyikan klakson sepedanya. Ya, cukup klakson sepeda yang enak didengar tanpa ada mulut yang berbicara. Beberapa teman dan aaya punya pemikiran yang sama.
“Wah kalau di kampung kita, orang yang terhalang jalannya akan membunyikan klaksonnya dan juga pakai mulut, mungkin mengomel pada kita. Tutur kata mereka- kalau lagi sedang ngobrol- menurutku sangat ramah, seakan-akan mereka menghormati lawan bicaranya. Ditambah dengan gaya salam yang membungkuk”.
Tentu saja bahasa dan karakter yang sopan santun karena system pendidikan di sekolah juga faktor di rumah.             Orang tua memberi model untuk berbahasa sopan pada anak-anak, sopan santun amat penting dalam pergaulan sosial.

C. Hormat dengan Membungkukkan Badan
Kalau kita perhatikan orang Jepang punya kebiasaan yang unik, yaitu membungkukan badan hampir di setiap saat, seperti ketika bertemu kerabat, berkenalan, meminta maaf, mengatakan permisi bahkan ketika mengangkat telpon mereka akan mengangguk sedikit. Kita semua sudah tahu- paling kurang lewat menonton di TV bahwa hormat dengan membungkukan badan sudah menjadi tradisi- budaya mereka[2].
Kebiasaan ini adalah sebuah keharusan bagi orang Jepang dan telah diajarkan semenjak kecil. Membungkuk ala Jepang atau yang disebut Ojigi ini ternyata bukanlah sekedar membungkuk saja, melainkan ada aturan tertentu sesuai maksud dan tujuan serta kepada siapa bungkukan itu ditujukan.
1). Mengangguk Pelan, 5 derajat.
Anggukan ini biasanya dilakukan jika bertemu dengan teman, keluarga dekat atau tetangga. Bagi mereka yang memiliki strata yang lebih tinggi, anggukan ini biasanya digunakan untuk membalas anggukan/ bungkukan yang lebih dalam dengan maksud untuk menunjukan bahwa strata sosialnya lebih tinggi.
2) Membungkuk Salam (Eshaku),15 derajat
Ini merupakan cara formal dalam membungkuk. Fungsinya untuk menyampaikan salam kepada teman atau rekan kerja yang kita ketahui tapi tidak terlalu dekat.
3) Membungkuk Hormat (Keirei),30 derajat.
Ini merupakan cara membungkuk yag sangat formal. Biasanya disampaikan untuk menunjukan rasa hormat kepada atasan, orang yang lebih tua atau yang jabatannya lebih tinggi.
4) Membungkuk Hormat Tertinggi (Sai-Keirei ),45 derajat
Ini merupakan cara membungkuk yang bermakna bahwa si pembungkuk merasa sangat menyesal dan bersalah sehingga ia memohon untuk diberikan maaf. Cara ini juga bisa digunakan untuk memberikan penghormatan kepada orang yang memiliki jabatan atau status sosial yang sangat tinggi,seperti kepada Kaisar Jepang.
5) Membungkuk Berlutut.
Ini merupakan cara membungkuk terakhir yang memiliki arti yang paling dalam. Biasanya dilakukan sebagai permintaan maaf karena telah melakukan kesalahan yang sagat fatal( seperti membunuh). Juga dilakukan sebagai penghormatan kepada raja pada jaman dahulu.


[1] http://henrygunawan.wordpress.com/2009/07/10/perbedaan-orang-barat-dan-timur/
[2] http://jejepangann.blogspot.com/2013/02/ojigi-budaya-membungkuk-orang-jepang.html

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture