Sabtu, 19 Januari 2013

Penghargaan Dari Pemerintah sbg juara


                       Reward Sebagai Guru Inovatif

1. Keberangkatan
Tanggal 16 November 2011 kami berkumpul di Aula Islamic Centre, pukul 13.00 siang peserta sudah datang dari seluruh kecamatan. Aku  sendiri tiba di Aula hampir pukul 14.00. Aku  bergabung dengan peserta studi banding yang lain, setelah ditelpon oleh beberapa orang tua siswa peserta studi banding. Aku  menyusup dalam kerumunan orang tua yang mau melepas keberangkatan anaknya. Dalam aula di gedung Islamic Center telah terpajang pamphlet:
 “Selamat Jalan rombongan Studi Banding Internasional Siswa/Siswi dan guru  berprestasi Tanah Datar ke Malaysia dan Singapura- Penghargaan bagi yang berprestasi”.
Dikatakan bahwa kegiatan studi banding telah menjadi kegiatan rutin sejak tahun 2006. Tanah Datar merupakan satu-satunya kabupaten di Sumatera Barat yang memberikan reward buat warga yang berprestasi, tentu  saja sebagai cara terbaik dalam memotivasi warga. Program tersebut juga sangat bermanfaat untuk menambah wawasan peseta tentang budaya, etos belajar dan etos kerja masyarakat Malaysia dan Singapura yang negara mereka sudah maju tersebut.
Jumlah peserta ada 137orang, yang terdiri atas 107 siswa dan 30 orang guru pembimbing.  Ada dua kloter penerbagangan, peserta nomor 1-95 ditambah dengan nomor 136, dan 137 musti bermalam di Islamic Centre. Mereka akan berangkat menuju BIM (Bandara Internasional Minangkabau) pada pukul 3.00 dini hari. Kemudian kloter kedua adalah nomor 96-135.  Rencana perjalanan adalah pada tanggal 17-22 November. Esok hari kami terbang dari padang menuju Kuala Lmpur dan melakukan city tour, mengunjungi Putra Jaya dan masjid Negara.
Thanks bahwa studi banding ini bisa terlaksana karena dukungan dana APBD (Anggaran Pengeluaran Belanja Daerah) tahun 2011. Kabupaten Tanah Datar  tidak memiliki pabrik dan tambang, maka SDM yang bagus juga merupakan aset berharga yang perlu untuk ditingkatkan. Di Kabupaten Tanah Datar, motto ajaran Islam yang berbunyiMan Jadda wa jadda” yang berarti  siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil diwujudkan oleh pemerintah. Pemerintah memberikan respon dalam bentuk program yaitu reward studi banding internasional ke Malaysia dan Singapura. Tentu saja harapan dari program ini adalah pulang dari Malaysia dan Singapura, maka etos kerja dan etos belajar mereka menjadi lebih baiklagi.
Rombongan yang jumlahnya 137 orang ini bisa memberi citra Tanah Datar, andai kami punya citra yang jelek, maka tentu orang akan berfikir “o…begini ya, karakter orang Batusangkar”. Oleh sebab itu kami perlu selalu menjadi warga yang sopan santun selama berpergian.
Bupati Tanah Datar, Bapak Shodiq Pasadigoe, mengatakan bahwa 60% dari APBD tersedot buat kebutuhan belanja pegawai. Anggaran studi banding juga termasuk ke dalam APBD, dimana setiap peserta diberi dana Rp. 3,7 juta, termasuk uang saku. Ia mengatakan tour ke luar negeri berbeda dengan  tour dalam negeri, misalnya tour ke Jakarta. Tentu saja tour ke Jakarta tanpa pemeriksaan imigrasi, sementara tour ke Singapura dan Malaysia tentu melalui pemeriksaan.
Melalui program studi banding ke luar negeri tentu saja akan ada pembelajaran yang bisa diperoleh. Harapan dari pemerintah “agar guru pembimbing memberi pengalaman buat siswa secara langsung”.
Setelah Bupati meninggalkan aula Islamic Centre, kegiatan masih ada yaitu penyelesaian administrasi. Pembagian (pendistribusian) kokarde, pasport, buku petunjuk dan yang paling penting adalah penyerahan uang saku buat siswa dan guru pembimbing. Kami kemudian pergi ke lantai atas untuk mencari kamar, rupanya hanya ada dua kamar yang luas buat grup pria dan grup wanita. Aku  menuju ruangan 4, kamar besar buat grup pria.
Ternyata bermalam bersama peserta studi banding di Islamic Centre juga asyik. Kami semua shalat di Masjid Nurul Amal yang terletak di samping Islamic Centre. Dinding masjid dicat putih, ruangannya luas dan bersih. Habis shalat kami merebahkan diri dan terasa sangat rileks, anak-anak lain saling berkenalan dan berbagi cerita. Menjelang tidur  aku  duduk di antara siswa peserta. Aku  berbagi cerita tentang cara belajar, tentang motivasi  hidup dan tentang kepribadian.
“Wah kita jam 3.00 dini hari harus bangun dan bertolak menuju Bandara Internasional Minangkabau di Padang, untuk itu  harus tidur”, kataku pada anak-anak. Mereka harus tidur dan ternyata tidur yang mudah adalah dikamar sendiri, dirumah sendiri. Namun aku  melihat bahwa sebagian masih sibuk dengan kebiasaan sendiri, otak atik HP, mendengar MP3, sampai ada membaca komik dan berbagi cerita.
Anak-anak pasti sibuk dengan pikiran mereka. Mereka tentu berfikir tentang bagaimana kegiatan selanjutnya, aku  sendiri juga tidak tidur dengan pulas, telinga dengan jelas mendengar percakapan demi percakapan orang-orang yang berada dalam ruangan tidur besar tersebut. Aku  sengaja  menutup mata agak lama agar bisa memperoleh rasa istirahat yang lebih lama, meskipun tidak tertidur lelap. Paling kurang melalui cara tersebut aku  masih bisa memperoleh tidur atau istirahat yang lebih berkualitas.
Anak-anak peserta studi banding ini tentu saja anak-anak pilihan di sekolah atau di Kecamatan mereka. Mereka amat mudah termotivasi untuk melakukan hal-hal positif, saat aku  berada di dalam aula Islamic Centre kemaren, aku  sibuk menuliskan pengalaman pada buku catatan dan sambil berbagi cerita pada anak-anak yang duduk dekatku  bahwa menuliskan pengalaman adalah cara yang terbak buat menyelesaikan pengalaman”. Lagi pula nanti setelah acara “comparative study” selesai maka kita akan diminta untuk menulis laporan. Tentu saja kita akan dengan mudah dapat menyelesaikan laporan perjalanan.
Mendengar penjelasan ini maka dengan serta merta beberapa siswa pergi ke luar ruangan Islamic Centre untuk mendapatkan (membeli) buku catatan dan pulpen. “Betapa mudah memotivasi anak-anak pilihat buat berhasil dalam hidup mereka, tinggal lagi kualitas pemberian motivasi dan mengarahkan mereka untuk melakukan aktivitas selanjutnya untuk menggenjot SDM (Sumber Daya Manusia) mereka.
Siswa peserta ternyata mampu mengurus diri dalam memanfaatkan waktu. Islamic Centre hanya memiliki dua kamar mandi, namun semua peserta mampu membersihkan diri. Di malamm  itu (dini hari)  aku  turun agak lambat dan ternyata orang-orang sudah siap berpakaian rapi. Mereka bisa mandi meski kamar mandi hanya dua, tidak sebanding dengan jumlah peserta yang lebih dari seratus orang.
Perjalanan menuju Padang pada waktu dini, pukul 3.00 pagi terasa nyaman,  mobil melaju dengan mulus. Tidak ada kendaraan dan transportasi lain yang mengganggu perjalanan kami. Cuaca pagi dini hari juga sejuk membuat semua penumpang ingin untuk menikmati tidur, apalagi mata pun masih mengantuk. Aku  sendiri juga enggan membuka mata, lebih enak untuk memejamkan  mata, tidak merasa rugi untuk melihat pemandangan apalagi pemandangan yang akan dilihat sudah bisa dilalui sepanjang waktu.
Tak lama kemudian, ada kumandang azan subuh, rombongan kami  berhenti pada sebuah masjid di pinggir jalan di Kayu Tanam. Kami shalat subuh, dan rombongan kami segera membuat jamaah masjid menjadi ramai pada pagi subuh itu. Kami selanjutnya menuju Padang Airport- BIM (Bandara Internasional Minangkabau).
Mata kami tidak lagi mengantuk. Hari juga sudah mulai menyingsing, berkas sinar matahari mulai membersit di cakrawala. Memang masih terasa letih rasanya. Aku   menikmati pemandangan menuju BIM kembali.
Kami semua turun,  aku  sendiri membantu menurunkan bagasi para penumpang. Kami selanjutnya harus cek in, direncanakan kami akan terbang menuju Kuala Lumpur dengan pesawat Air Asia pukul 8.30 wib.  Kami duduk-duduk sesaat. Ada yang menggunakan waktu ini untuk mengobrol ringan, juga untuk mengambil foto buat sweet memory nanti. Kami kemudian cek in, pemeriksaan barang-barang.
 “Tentu saja itu sebuah pengalaman yang baru dan menarik bagi anak-anak untuk menjadi warga internasional.
Beberapa anak laki-laki barangkal belum memiliki valuta asing (ringgit Malaysia dan Singapura Dolar), mereka berdiri di depan money changer, “Oh masih pagi, tentu saja belum buka untuk money changer”.  Akhirnya money changer, pukul 7.15 wib sudah open, namun peserta studi banding tampak bengong – mau tukar uang apa-. Apalagi pada billboard tidak ada tertulis mata uang Malaysia.
Aku  mengambil inisiatif dan mulai menukar uang, pada mulanya mau beli 200 ringgit dan harganya lebih dari Rp. 500.000,- “Wah kalau begitu 100 ringgit saja, dan aku harus bayar Rp. 295.000,-. Setelah itu anak-anak juga tertarik mengikutiku , mereka juga menukarkan mata uang Rupiah dengan Ringgit Malaysia atau Dollar Singapura.
Rombongan kami cukup banyak, jadi kami agak lama berada di depan pemeriksaan imigrasi untuk terbang menuju Kuala Lumpur. Hingga akhirnya pihak travel biro menyerahkan tiket dan kartu keberangkatan, kami antri dan menyerahkan kartu ini pada petugas imigrasi, kami masuk  satu per satu dan ada lagi pemeriksaan terakhir.
Tubuh kita harus dilepaskan dari benda-benda logam untuk pemeriksaan metal detector. Ya akhirnya kami berada di ruangan tunggu pesawat.
Di belakangku  duduk ada satu grup warga asing, mereka ngobrol tentang Mentawai. Agaknya Mentawai menjadi tempat favorite bagi warga asing untuk berlibur. Pemerhati wisata perlu berfikir untuk mengembangkan pariwisata Mentawai yang juga memiliki ombak tinggi seperti ombak di Hawaii. Maklum ada ombak dari samudera lepas- Samudera Hindia yang sangat luas
Aku  duduk pada bangku 16 F Pesawat Air Asia, AK 1371 dekat jendela, jadi aku dapat melihat pemandangan di bawah. Tentu saja terbang ke Kuala Lumpur, berarti kami melewati Sumatara Barat menuju timur, jadi aku  bisa melihat Danau Singkarak dari ketinggian, begitu pula dengan Gunung Sago.....atau mungkin juga gunung yang lain.
 “Wah aku tidak kenal gunungnya”.
Matahari berada di sebelah kananku, cahayanya menyusup lewat jendela pesawat.  Aku melihat  tebaran awan ibarat samudera luas di angkasa. Hamparan samudra awan di angkasa tentu memberi kesejukan bagi warga yang berada di bumi. Jauh di atas juga ada awan tipis menghiasi angkasa yang lebih tinggi lagi. Wah penulis ingat dengan pelajaran geografi.
Flight attendant menginformasikan bahwa suhu mendekati kota Kuala Lumpur adalah sekitar  290  C. Pesawat kami terbang melewati daerah Riau dan terus melintasi selat Malaka. Lautan awan tampak agak tipis. Itu berarti cuaca memang agak panas di kawasan tersebut, ketinggian pesawat berpengaruh pada telinga penulis karena saraf-saraf pendengaran penulis sedikit sakit dan begitu pula dengan lobang telinga. Akhirnya pesawat turun, berarti kami akan mendarat di Kuala Lumpur. Menjelang mendarat  penulis sempat melihat lalu lintas kapal di Selat Malaka.


wawancara dengan journalis



13. West Sumatera...I Come
            Selain aku, juga banyak pihak yang  senang atas kemenangan yang baru saja aku raih. Aku ingat bahwa aku harus mengirim pesan singkat (SMS)  bahwa “Alhamdulillah aku  memperoleh nomor satu guru berprestasi tingkat Indonesia” kepada Kepala Sekolah SMAN 3 Batusangkar- Bapak Drs. Rosfairil, MM dan kepada keluarga/ istri di Batusangkar dan pada beberapa orang yang aku  sempat kirimi SMS. Kemudian secara serempak aku  memperoleh puluhan atau ratusan ucapan selamat lewat telepon dan SMS dan lebih lebih lagi lewat FaceBook.
            “Selamat atas prestasi yang Pak Marjohan peroleh sebagai guru berprestasi nomor satu Indonesia...!!!”
            Masih ada hari tersisa 3 hari menurut agenda kegiatan. Pihak Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat mengajurkan agar aku  segera pulang karena akan ada upaca penyambutan buatku  dan juga buat Suyetmi- juara 2 guru berprrestasi Indonesia kategori Guru SMP.
“Kegiatan kecil yang masih tersisa adalah seperti wisata budaya ke Taman Mini, penutupan dan ramah tamah dengan Dirjen Dikmen yaitu Bapak Surya Dharma”.
Malam itu malam penutup dan aku  juga ikut memaksa diri berdansa sesuai dengan kemampuan. Kami semua  berdansa dan bernyanyi, termasuk lagu dari masing- masing daerah. Istimewanya lagi malam itu (Sabtu, 8 September 2012) semua peserta yang meraih nomor satu memperoleh bingkisa sebuah laptop dari perusahaan Intel- komputer Jakarta. Laptop tersebut sangat diidamkan oleh istriku  untuk mengganti laptopnya yang sedang rusak.
Besoknya adalah acara bebas- aku  meluangkan waktu untuk mengunjungi famili dan setelah itu aku  kembali ke Hotel Millenium buat menyelesaikan urusan administrasi, sertifikat dan penyerahan dokumen-dokumen dan termasuk menerima uang hadiah dalam bentuk uang tunai.
“Satu malam yang tersisa aku gunakan buat membalas semua ucapan selamat lewat phonecell dan juga lewat facebook. Aku membalas ucapan selamat hingga larut malam, itupun dalam bentuk ungkapan : terimakasih...thank you, merci beaucoup”.
Senin- 10 September, aku  dijemput dan  aku  memperoleh perlakuan istimewa sejak dari hotel, ke bandara Sukarno Hatta hingga terbang lagi dengan pesawat Garuda. Aku  tahu bahwa bakal ada penyambutan  buatku dengan kalungan bunga di Bandara Internasional Minang Kabau- Padang.
Ternyata benar, aku  disambut seperti sang superstar, alasannya karena aku  memperoleh juara satu guru berprestasi tingkat Indonesia, yang telah mengangkat citra dan nama baik Propinsi Sumatera Barat dan juga Kabupaten Tanah Datar. Dalam sambutan itu  aku  diberi reward yaitu:
“Kesempatan untuk pergi Hajji ke Makkah untuk tahun 2013 atau 2014. Alhamdulillah...wayukurillah, dan juga ada penghargaan atau reward oleh Pemda Kab. Tanah Datar”.
Hari berikutnya aku  kembali berada di sekolah SMAN 3 Batusangkar dan teman-teman guru melaksanakan beberapa kegiatan seperti acara syukuran buat prestasi siswa dan prestasi yang baru saja aku raih. Aku  meluangkan waktu buat wawancara dan liputan berita dengan berbagai wartawan.
“Aku merenung bahwa aku   bisa begini...bukan karena usaha pribadiku, namun itu karena ridho Allah Swt, dukungan dan doa dari teman-teman, famili dan juga semua anak didikku. Moga moga aku memperoleh berkah dan berkahnya bermanfaat bagi orang lain  amiiin ya rabbal  ‘alamin”.

E. Wawancara dengan Jurnalis

            Seleksi guru berprestasi telah dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 3 – 10 September 2012 kemaren. Sumatra Barat mengirim 13 orang dari setiap jenjang pendidikan (guru, kepala sekolah dan pengawas) untuk mewakili propinsi ini dan berkompetisi dengan 33 propinsi lain di tingkat nasional. Marjohan, M.Pd- guru SMA Negeri 3 Batusangkar-  berhasil meraih peringkat Pertama (1) guru berprestasi tingkat nasional, sekaligus menyisihkan guru guru hebat lain yang berasal dari 32 propinsi. Berikut percakapan antara salah satu jurnalis dari suatu media massa  dengan Marjohan M.Pd di rumahnya- Komplek Griya Alam Segar, Bukitgombak, Batusangkar.
    
“ Apa yang membedakan anda dengan guru lainnya ?”
Saat remaja- waktu sekolah di SMA- saya sibuk mencari-cari karir masa depan yang pas buat saya. Saat itu belum lagi zamannya internetan, maka untuk mencari info pekerjaan ya lewat banyak orang- tanya sini- tanya sana. Kadang- kadang guru di sekolah bercerita tentang pengalamannya dan itu adalah info karir bagi saya. Tentang prospek dan bentuk karir lain saya peroleh dari lingkungan. Saat lulus SMA, saya bingung mau kuliah di mana ?. Ya pilihan yang mantap adalah menjadi guru. Maka saya ikut test masuk Perguruan Tinggi- saat itu bernama Sipenmaru (Sistem Penerimaan Siswa Baru). Saya lulus pada jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Padang- sekarang bernama UNP.
Saya mengikuti perkuliahan dengan tekun. Saya paling senang  duduk di depan agar bisa berinteraksi dan mendengar suara dosen lebih jelas. Namun saya tidak suka menjadi mahasiswa pasif- bertipe rumahan atau mahasiswa 4D (duduk, datang, dengar, diam). Saya ikut kegiatan di kampus dan di luar kampus- sebagai remaja mesjid. Malah saya juga ikut mendaftar sebagai guide (pemandu wista) Sumatra Barat, memandu bule-bule keliling Sumatra Barat. Ada manfaatnya buat saya “memperlancar bahasa Inggris dan sekaligus bisa peroleh dollar buat menambah uang jajan. Manfaat lain adalah untuk melatih keberanian dan menumbuhkan karakter mandiri- tidak menjadi mahasiswa yang cengeng- ini berguna buat menghadapi masa depan.
Untuk menambah wawasan tentang profesi sebagai pendidik- paedagogik dan kualitas bahasa Inggris- maka tidak cukup hanya menghafal catatan kuliah, namun saya juga banyak membaca buku referensi dan membaca koran dan majalah berbahasa Inggris. Saya juga mencari kesempatan agar bisa bertukar fikiran dengan dosen-dosen bahasa Inggris warga asing atau langsung berkomunikasi dengan native speaker.
Saya tidak suka menunda-nunda pe-er perkuliahan. Ada tugas ya langsung kerjakan dengan baik- tidak asal-asalan. Saya menjadi mahasiswa yang aktif- saya digelari teman saat itu sebagai “kamus berjalan” karena kosa kata (vocabulary) saya sangat banyak, itu berguna bagi mereka untuk lomba scrabble. Saya bisa wisuda tepat waktu...langsung ikut tes PNS untuk menjadi guru melalui beberapa tahapan. Saya lulus dan saya ditempat menjadi guru di di SMA Negeri 1 Lintau- Kabupaten Tanah Datar, sekarang menjadi guru di SMA Negeri 3 Batusangkar.   
Saya berprinsip bahwa saya harus menjadi guru yang berbeda dari guru lain- guru yang pintarnya berganda- “multiply- inteligence” seperti menurut De Porter. Saya perlu tahu dan menguasai empat kompetensi guru- yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Jadi, saya harus belajar lagi- bukan berarti setelah tamat kuliah harus tutup buku- ya saya perlu meminjam buku dari perpustakaan, dari teman atau beli sendiri buku-buku psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan. Juga buku tentang dunia sekolah, tentang lingkungan dan sosial. Saya banyak membaca buku berbahasa Inggris dan berbahasa indonesia, juga berbahasa Perancis dan Arab.
Saya membaca 100 halaman per hari, saya targetkan membaca buku pagi- siang- sore dan sebelum tidur, masing masing 25 halaman. Tetapi itu  juga bukan target yang kaku. Yang penting saya bisa menamatkan baca satu buku per-minggu. Bukan berarti kutu buku- saya juga bergaul dengan teman teman, masyarakat dan orang tua murid.      

“Bagaimana sistem yang anda pakai dalam mengajar ?”
Wow ada banyak teori dalam mengajar, seperti kontektual, teori direct method, namun saya perlu ingat bahwa dalam mengajar kita harus melaksanakan prinsip “pengajaran terfokus pada siswa, bukan teacher centered juga bukan plesetan dari CBSA- catat buku sampai habis. Yang penting guru itu bukan lagi sebagai sumber ilmu satu satunya namun lebih berperan sebagai motivator, facilitator, counselor buat anak didiknya di sekolah.
Saya tertarik mengajar dengan pendekatan PAKEM (pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenang). Agar pembelajaran itu menyenangan maka guru dan siswa perlu punya jembatan hati. Guru harus membuka diri terlebih dahulu dan perlu memberikan excellent service- pelayanan prima selama mengajar. Agar siswa senang dalam belajar maka guru perlu sering say hello, memuji, minta maaf “very good....very excellent”. Guru perlu hafal nama siswa dan menyebut namanya agar siswa merasa dirinya sangat spesial bagi gurunya. 
InsyaAllah selama menjadi guru- sudah 23 tahun- rasanya saya tidak ada membentak siswa. Buat apa siswa dibentak dan apa gunanya melukai hati mereka. Membentak anak didik bisa membuat hati mereka terluka, jembatan hati antara kita dan mereka bisa ambruk. Sebaik apapun kita mengajar...namun kalau jembatan hati rusak...mereka akan menolak kehadiran kita atau mereka terpaksa mengikuti PBM kita.
Kalau ada siswa yang bandel ? Itu pertanda mereka butuh menjadi nomor satu, butuh touching- sentuhan hati....datang saja pada mereka say hello....sapa nama mereka dan ajukan bantuan “what can I do for you” Biasanya mereka berubah baik...bandel itu cuma sekedar cari perhatian.
  
“Bagaimana motivasi anda dalam mengajar, menulis dan lainnya yang membuat anda bisa menjadi guru teladan. Apakah anda berniat menjadi guru teladan, atau karena kebetulan ?”
            Memilih profesi sebagai guru adalah sangat mulia, karena guru bisa mengubah orang jadi kurang pintar hingga menjadi pintar, dari mkurang berdaya hingga menjadi orang yang berdaya. Sebelum dan sesudah menjadi guru saya membaca banyak biografi para pendidik ulung, termasuk biografi Kihajar Dewantoro, Paul Freire, Mohammad Syafei- pendiri INS Kayu Tanam, juga Dorothy Law.
            Bukankah Kihajar Dewantoro memperkenalkan pada kita tentang prinsip menjadi guru yaitu “Ing madya mangun karso, ing ngarso sung tulodo, tut wuri handayani”, atau konsep pendidikan ala Mohammad, Syafei agar guru bisa membantu anak didik memiliki “Head, heart and hand” maksudnya otaknya cerdas, hatinya beriman dan tangannya terampil. Maka saya termotivasi untuk bisa berperan menjadi sebuah sekerup dalam bangsa ini untuk ikut memajukan dan menjerdasan generasi muda bangsa Indonesia.
            Motivasi dalam menulis......bahwa populasi bangsa Indonesia sangat besar di dunia. Mereka semua butuh bacaan dan mereka adalah para pembaca dan kalau boleh musti ada segelintir orang Indonesia yang sudi jadi penulis- menulis ide-ide untuk mencerahkan hati dan pikiran orang orang kita. Saya sering merasa sedih “mengapa buah pikiran bangsa Indonesia belum begitu dikenal luas di dunia, itu karena kita jarang menulis dan malah malas menulis. Orang luar malah menjadi tahu setelah ada tokoh hebat yang tersembunyi dibalik awan Indonesia diekspos ke luar. Sebetulnya ada hal yang dahsyat kalau kita-kita bersemangat dalam menulis. Maka menulis dalam bahasa-bahasa dunia (bahasa Inggris, Arab, Perancis, dll) agar orang tahu dengan kita dan Indonesia bisa mendidik dunia.
Inilah obsesi saya dalam menulis. Untuk menambah inspirasi menulis, saya butuh energi dan itu bisa saya peroleh melalui membaca biografi penulis hebat dunia, bertukar fikiran dengan teman-teman penulis dan menambah wawasan setiap hari. Menulis butuh latihan dan pembiasaan. Kini saya lebih fokus untuk menulis seputar masalah pendidikan yang meliputi tema tentang motivasi, semangat hidup, kisah sukses dan hal- hal yang menginspirasi.   
Menjadi guru berprestasi nomor satu di Indonesia (dahulu disebut dengan guru teladan) ya...tidak bisa diperoleh dalam sekejap mata namun melalui proses dan jalan yang sangat panjang. Saya pada mulanya tidak bermimpi untuk menjadi seorang Teacher of The Year. Itu terjadi hanya diawali oleh prinsip untuk menjadi guru yang berbeda dan melakukan proses “longlife education- belajar sepanjang masa”.
Bagi guru di Sumatera Barat dan juga di Indonesia yang perlu mereka lakukan adalah pengembangan diri, salah satunya melalui menulis. Saya sendiri melakukan dan membuktikanya. Saya menulis dan menulis, pada mulanya menulis artikel yang banyak dan dipublikasi pada koran-koran daerah (Sumbar dan Sumsel). Kemudian saya tingkatkan- memberanikan diri- untuk menulis naskah buku. Entah bagus-entah tidak...saya tawarkan ke penerbit dan ternyata direspon. Saya tulis lagi buku- buku yang lain. Selain menulis saya juga aktif dalam kemasyarakatan- sebagai nara sumber bagi MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), mengurus mushola/ mesjid dan juga membimbing siswa dalam perlombaan hingga bisa meraih juara tingkat propinsi dan nasional, dokumen mereka menjadi portofolio bagi saya.
Dari kumpul berbagai aktifitas di sekolah, di rumah dan dalam masyarakat, ditambah dengan pengalaman lain- menulis, menjadi pemandu wisata dan kemampuan berbahasa asing yang agak lebih (Perancis dan Inggris)  membuat portofolio saya semakin berarti.
Ada 3 bentuk penilaian dalam seleksi guru berprestasi, mulai dari tingkat Kecamatan hingga tingkat Nasional, yaitu test tertulis (tentang kepribadian, wawasan dan tentang empat kompetensi guru), kemudian presentasi karya tulis ilmiah atau best practice, serta penilaian portofolio. Presentasi karya ilmiah saya dalam bahasa Inggris dan campur bahasa Perancis, kemudian kualitas portofolio yang saya persiapkan cukup memdai. Kekuatan saya saat berkompetisi dengan guru-guru hebat dari propinsi lain adalah dalam hal menulis dan penguasaan bahasa serta wawasan. Namun menjadi guru teladan nasional bukan disebab oleh unsur itu saja, namun juga oleh faktor kebaikan lingkungan, doa dan restu dari famili, teman dan siswa saya, juga berkah dari Allah Swt.
Pada mulanya tidak ada niat untuk menjadi guru teladan, dan menjadi guru teladan juga bukan secara kebetulan. Namun menjadi guru teladan adalah akibat akumulasi dari proses hebat melalui jalan yang sangat panjang.

Sekarang ini banyak yang menuding sistem pendidikan di Indonesia kacau dan gagal. Setiap tahun ganti kebijakan yang tak jelas ujung pangkalnya. RSBI, SBI, sertifikasi, dan kebijakan lainnya tidak berhasil mengubah wajah pendidikan Indonesia dan meningkatkan mutu pendidikan. Bagaimana pandangan anda tentang hal ini- Siapa yang salah? Pemerintah, guru, siswa, orangtua, sistem, atau memang waktu yang masih berjalan?
Saya rasa konsep pendidikan Indonesia sudah benar. Namun fenomena yang terjadi adalah bahwa bangsa kita (baca: orang tua) terlalu menyerahkan urusan mendidik anak pada pemerintah- pada sekolah. Maaf- bahwa banyak orang tua yang berlepas tangan dalam urusan mendidik.
“Mendidik anak itu urusan sekolah dan urusan mesjid”. Itu berarti yang perlu dikembangkan adalah “Program Parenting- yaitu menciptakan program pelatihan bagaimana menjadi orang tua yang benar bagi putra-putri mereka”.
Sekarang banyak orang tua yang belum paham bagaimana menumbuh kembangkan anak. Dalam mendidik mereka cenderung meniru generasi sebelumnya. Kalau mereka dulu sering dibentak, dihardik...maka mereka juga akan membentak dan menghardik dalam mendidik anak. Yang diperlukan oleh generasi muda adalah “reward atau penghargaan” bukan punisment yang berkepanjangan.
Saya menghimbau pada orang tua dan guru agar banyak mengucapkan “Thank you......., very good......dan I am very sorry..!”Pada anak anak dan siswa mereka. Maksudnya mereka musti mampu menjadi model untuk bisa mengucapkan “terima kasih, memuji dan minta maaf- bukan lagi menunggu terima kasih, mencela dan kikir untuk minta maaf”. Ini agar generasi muda kita tidak menjadi bangsa yang kehilangan karakter.
            Setiap tahun ganti kebijakan...”, ohhh tentu perlu, inikan bentuk dari revisi untuk perbaikan suatu program dan para stakeholder yang mengambil kebijakan adalah orang-orang hebat tentu demi kebaikan bangsa yang besar ini.  
            Kebijakan membentuk RSBI, dan SBI itu bagus, karena sekolah sekolah di Indonesia tidak seharusnya lagi berskala lokal dan terfokus pada pemikiran  lokal. Dalam pelaksanaan tentu butuh orang yang bisa berlari dengan cepat- yaitu ikut mendukung program ini. Namun apa yang terjadi bahwa ada sebagian yang suka hanya sekedar mengeritik tanpa memberi way- out. Tentu saja setelah program RSBI dan SBI ini launching (berjalan) tentu saja butuh evaluasi dan revisi bersama sama.
            Kebijakan tentang sertifikasi itu juga bagus yaitu untukm menilai seberapa jauh persiapan dan kompetensi guru- apakah sudah layak sebagai guru profesioinal (?). Kalau sudah layak yang perlu diberi label sertifikasi. Lagi lagi dalam pelaksanaanya perlu dukungan dan bimbingan dari semua pihak, maklum kita kan bangsa yang besar- banyak manusianya dan banyak pula ulah (prilaku) nya.  

Seperti apa sebaiknya guru, siswa, orangtua dan pemerintah agar mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan membentuk manusia berilmu dan berkarakter.
            Oh ya....tentu saja guru dan orang tua sebaiknya menjadi motivator sejati buat membangkit semangat hidup dan semangat belajar anak- anak (juga anak didik) mereka. Bukankah pada sekolah sekolah yang hebat dan berkualitas...itu bisa terbentuk oleh energi motivasi yang hebat, dimana di sana terdapat ungkapan penghargaan dan dorongan. Selanjutnya orang tua dan guru juga harus jadi model (atau uswatul hasanah). Tidak ada gunanya kalau orang tua dan tua hanya pintar menyuruh dan berceramah namun tidak melakukan action yang hebat dalam hidup.
            Kalau bagi pemerintah...tentu saja sebagai penyedia fasilitas (facilitator)- membuat program pelatihan dan pengembangan diri bagi guru, siswa, kepala sekolah dan pengawas sekolah. Namun kalau boleh juga ada program parenting- bagaimana menjadi orang tua yang ideal bagi anak. Negara negara maju punya banyak program parenting, sehingga orang tua dan guru mereka bisa bersinergi dalam mendidik. Kalau bagi kita peran orang tua  terlihat pasif dan guru terlihat merasa lebih tahu dari orang tua.

Banyak juga pihak yang menuding bahwa pendidikan indonesia saat ini hanya mementingkan hasil (nilai), bukan proses, bukan nilai-nilai usaha, kerja keras dan kejujuran untuk mendapatkan nilai itu? Menurut anda ?
            Dalam konsep yang dibikin oleh stake-holder pastilah sangat bagus. Namun dalam pelaksanaannya (dalam menterjemahkan kebijakan) bagi praktisi pendidik di lapangan ya.....memang terlihat mengejar nilai. Maka terjadilah kerjasama bimbel dengan sekolah untuk melatih anak didik dalam memahami konsep lewat sistem cepat (belajar dengan sistem karbitan) dan kemudian memberi latihan.... latihan...mengolah soal soal...membuat passing grade dan meramalkan karir yang cocok bagi mereka. Kadang kadang karir atau jurusan/ Perguruan Tinggi yang direkomendasikan oleh pemilik bimbel terhadap anak didik bertolak belakang dengan keinginan orang tua.
            Bukankah setiap semester genap untuk kelas 12 bagi sekolah sekolah SMA, dan kelas 9 bagi tingkat SMP  berubah menjadi “SMA Negeri bimbel dan SMP Negeri bimbel” dan mata pelajaran yang diajarkan hanya mata pelajaran yang masuk dalam UN. Sebagai konsekuensi anak anak amat menghormati dan menghargai mata pelajaran (dan guru guru) yang di-UN-kan. Memang membina dan mengembangkan mutu pendidikan tidak semudah membalik telapak tangan. Ini butuh kiontribusi semua pihak, jangan hanya sebatas pintar mengeritik tetapi juga ikut memberi problem solving.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture