Senin, 11 Februari 2013

Pendidikan di Australia

Sistem Pendidikan Di Australia

            Saat kami berkunjung ke Departemen Pendidikan Victoria di kota Melbourne, kami memperoleh pencerahan tentang system pendidikan di negara ini. Ms Helen Meyer- salah seorang nara sumber- mengatakan bahwa informasi tentang pendidikan Australia juga bisa diperoleh pada situs pendidikan (http://www.atdiknas-canberra.org/sekolah-sd-sma/sistem-pendidikan).
Perlu diketahui bahwa menurut UUD Australia, setiap pemerintah negara bagian di Australia bertanggung jawab atas bidang pendidikan pada tingkat sekolah di bagian tersebut. Pemerintah Australia tidak memiliki kekuasaan dalam bidang pendidikan, dan hanya dapat membuat kebijakan dalam bidang tersebut dengan persetujuan dari negara bagian yang bersangkutan. Pendanaan pokok sekolah dilakukan oleh pemerintah negara bagian, namun pemerintah Australia juga memberikan dana tambahan untuk program tertentu.
1). Tahun akademik di Australia dimulai pada akhir bulan Januari dan berakhir pada pertengahan bulan Desember. Tahun akademik dibagi ke dalam empat term dimana setiap term yang lamanya kurang lebih 10 minggu. Pada akhir setiap term, para murid mendapatkan dua minggu liburan, namun pada akhir tahun semua murid mendapatkan liburan selama kurang lebih enam minggu.
2). Di Australia, sekolah dimulai dengan kindergarten (taman kanak-kanak) dan dilanjutkan dari kelas 1 sampai kelas 12. Terdapat tiga tingkat sekolah, yaitu:
a). Primary school (sekolah dasar): taman kanak-kanak sampai kelas 6 atau kelas 7 (tergantung pada negara bagiannya).
b). High school (sekolah menengah pertama): kelas 7 atau 8 sampai kelas 10 (tergantung pada negara bagiannya).
c). Senior high school/senior secondary school/college (sekolah menengah atas): kelas 11 sampai kelas 12.
3). Murid di Australia mulai sekolah pada umur 4,5 tahun sampai 5,5 tahun (kindergarten). Orang tua murid wajib menyekolahkan anaknya sampai dengan usia 15 atau 16 tahun (tergantung pada negara bagiannya). Jika anaknya tidak rajin masuk sekolah, orang tua dikenakan denda/sanksi.
4). Pada tingkat high school, semakin tinggi tingkat sekolah, murid semakin bebas memilih mata pelajaran yang akan diambil. Pada tingkat senior secondary school, murid boleh memilih hampir semua mata pelajaran sesuai dengan keinginannya. Sebagaian besar dari high school dan senior secondary school juga menawarkan mata pelajaran yang bersifat kejuruan, seperti perhotelan, turisme, muatan lokal; teknik kayu, teknik logam (hospitality, tourism, woodworking, metal working).
5). Pada akhir kelas 12, murid sekolah mendapatkan Year 12 certificate. Piagam tersebut disertai transkrip nilai mata pelajaran yang telah diambil dengan nilai yang diraih. Untuk sebagian besar dari mata pelajaran pada tingkat kelas 12, nilai siswa dihitung dari tugas sekolah serta hasil ujian di negara bagian yang dilakukan pada akhir tahun. Nilai tersebut dapat langsung digunakan untuk mendaftar ke universitas, tanpa perlu diuji lagi.
6). Di Australia, terdapat public schools (sekolah-sekolah negeri) dan private schools (sekolah-sekolah swasta). Kurang lebih dua pertiga dari murid bersekolah di sekolah negeri, sedangkan sisanya bersekolah di sekolah swasta. Private schools di Australia dibagi menjadi dua kelompok: yang berafiliasi pada agama (biasanya Katolik atau Protestan, tetapi ada juga sekolah Islam) dan yang tidak berafiliasi kepada agama (independent schools).

1. Sistem Pengelolaan
1). Di semua Negara bagian kecuali Australian Capital Territory (ACT), sekolah dasar dan menegah dikelola oleh departemen pendidikan di masing-masing negara bagian. Di setiap sekolah, termasuk di ACT, terdapat asosiasi Parents and Citizens Association (P&C), yang terdiri atas orang tua dari murid. P&C tersebut dapat memberikan masukan atau rekomendasi kepada pihak sekolah, dan kadang-kadang mengumpulkan dana tambahan untuk sekolah dengan mengadakan acara fundraising atau menjalin hubungan dengan bisnis setempat.
2). ACT memiliki sistem yang berbeda, disebut School Based Management, di mana setiap sekolah bebas dalam hal pengelolaan. Setiap sekolah dikelola oleh School Board yang terdiri atas Kepala Sekolah, beberapa guru, dan beberapa orang tua dari murid. School Board tersebut bertanggung jawab atas segala aspek pengelolaan sekolah, termasuk: proses seleksi kepala sekolah, guru dan staf lain di sekolah, pengelolaan rutin sekolah, alokasi pendanaan yang diberikan oleh pemerintah ACT, pemilihan bahasa asing yang akan diarjakan di sekolah, pelaksanaan program khusus, dan sebagainya.

2. Kurikulum
1). Di semua negara bagian kecuali (ACT) kurikulum ditetapkan oleh departemen pendidikan. Namun, di ACT terdapat sistem managemen sekolah School Based Management di mana pihak sekolah bertanggung jawab atas pembuatan kurikulum dan materi. Dalam sistem tersebut, para guru mengembangkan kurikulum sendiri untuk mata pelajaran masing-masing. Setiap tahun, semua kurikulum diajukan kepada departemen pendidikan untuk proses evaluasi. Jika kurikulum tertentu dianggap tidak memenuhi standar minimal, pihak departemen dapat meminta agar kurikulum direvesi atau bahkan dapat menolak kurikulum tersebut.
2). Di setiap negara bagian kurikulum untuk Year 11 dan Year 12, yaitu tingkat SMA, dibuat oleh badan khusus di bawah departemen pendidikan, yang biasnaya disebut Senior Secondary Board. Selain pengembangan kurikulum, badan tersebut juga bertanggung jawab atas pelaksanaan ujian yang dilakukan pada akhir Year 12 dan pengeluaran Year 12 Certificate.
3). Pemerintah Australia ingin menetapkan kurikulum nasional (national curriculum) dalam berbagai bidang studi, yaitu bahasa Inggris, Sejarah, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan. Dalam hal ini, pemerintah nasional sedang bekerjasama dengan pemerintah negara bagian, sebab perubahan kurikulum hanya dapat dilakukan atas persetujuan negara bagian.

3. Standar Lulusan
1). Pada tingkat SD dan SMP, murid meluluskan setiap year pembelajaran atas rekomendasi dari guru. Rekomendasi guru berdasarkan perkembangan murid selama seluruh tahun, dan tidak berdasarkan ujian. Jarang sekali ada murid yang tidak lulus. Biasanya murid tidak lulus karena umur atau sikap yang dianggap terlalu muda, bukan karena prestasi belajar yang kurang memuaskan. Semua murid mendapatkan rapor pada akhir Term dengan nilai prestasi belajar.
2). Pada tingkat SMA, persyaratan kelulusan ditetapkan oleh Senior Secondary Board masing-masing Negara bagian. Kelulusan berdasarkan beberapa faktor. Pertama, murid harus mengambil mata pelajaran yang cukup pada setiap tahun, biasanya lima mata pelajaran pada Year 12. Mata pelajaran ini sedikit sekali, namun bahannya cukup mendalami. Kedua, ada persyaratan mengenai jenis mata pelajaran yang boleh diambil, misalnya wajib mengambil minimal satu mata pelajaran dari golongan Matematika/Ilmu Pengetahuan dan satu dari golongan Bahasa/Ilmu Sosial. Syarat lainnya adalah harus mendapatkan nilai pass (50 persen keatas) untuk semua mata pelajaran.
3). Di semua negara bagian, kecuali ACT, nilai untuk mata pelajaran tingkat Year 12 berdasarkan dua atau tiga komponen, yaitu: hasil tugas sekolah, nilai ujian akhir tahun yang dilaksanakan oleh Senior Secondary Board, dan kadang-kadang suatu proyek. Nilai dari ujian akhir tahun juga digunakan untuk menjaga standar kenilaian melalui proses moderation. Jika dalam sekolah tertentu nilai berdasarkan hasil tugas sekolah tinggi sedangkan nilai berdasarkan ujian akhir tahun rendah, maka nilai final murid-murid di sekolah tersebut akan dikurangi.
4). Di ACT, tetap dilakukan ujian akhir tahun pada tingkat Year 12. Namun, nilai dari ujian itu hanya dilakukan untuk proses moderation yang tersebut diatas. Nilai final berdasarkan hasil tugas sekolah saja.
5). Senior Secondary Board masing-masing negara bagian mengeluarkan Year 12 Certificate serta transkrip akademik bagi semua murid yang lulus Year 12.

4. Sistem pembiayaan
1). Semua public school bebas biaya sekolah. Namun, para orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah negeri biasanya diminta untuk membayar voluntary payment (pembayaran sukarelawan) yang tidak terlalu besar. Sebagian besar dari pendanaan pada sekolah-sekolah negeri diberikan oleh pemerintah di masing-masing negara bagian.
2). Sekolah-sekolah yang berafiliasi pada agama, khususnya sekolah-sekolah Katolik, cenderung menetapkan biaya sekolah yang rendah. Sebagian besar pendanaan sekolah-sekolah yang berafilisasi pada agama diberikan oleh pemerintah, baik pemerintah negara bagian maupun pemerintah nasional. Independent schools cenderung menetapkan biaya sekolah yang cukup tinggi, hingga pendanaanya dari pemerintah lebih sedikit.

5. Sistem Evaluasi
1). Ujian nasional di Australia, yaitu National Assessment Program: Literacy and Numeracy (NAPLAN), baru dimulai pada tahun 2008. Sebelumnya, ujian kemampuan pada bidang pelajaran utama, seperti membaca, menulis dan menghitung (biasanya disebut Basic Skills Test) dilakukan oleh negara bagian masing-masing. Sebagian besar dari negara bagian masing-masing tersebut mulai melaksanakan semacam Basic Skills Test pada akhir tahun 1980an atau awal 1990an.
2). Terdapat beberapa kelompok yang mengkritisi adanya ujian kemampuan yang semula dilakukan pada tingkat nasional, termasuk sarikat guru, para orang tua, tokoh-tokoh politik dan sebagainya. Namun pada umumnya, masyarakat telah menerima bahwa ujian kemampuan semacam ini diperlukan.
3). Ujian NAPLAN dilakukan setiap bulan Mei dan diikuti semua murid year 3, 5, 7 dan 9 (kelas 3 dan 5 SD, dan kelas 1 dan 3 SMP). Kemampuan murid dalam 4 (empat) bidang diuji, yaitu membaca, menulis, pemakaian bahasa Inggris (ejaan, tata bahasa, tanda baca dan sebagainya), dan menghitung.
4). Hasil ujian NAPLAN dikirimkan kepada sekolah dan orang tua murid. Hasilnya dapat menunjukkan murid mana yang bermasalah dalam bidang-bidang tertentu, agar murid tersebut dapat diberikan bantuan yang lebih dalam pelajarannya. Hasil ujian NAPLAN juga dapat dibandingkan dengan negara bagian dan sekolah. Hal ini dapat menunjukkan sekolah mana yang mempunyai tingkat dibawah standar nasional. Sekolah-sekolah yang di bawah standar nasional akan diberikan dana tambahan agar dapat meningkatkan mutu pengajaran.
5). Selain NAPLAN, departemen pendidikan masing-masing negara bagian menggunakan berbagai cara untuk mengevaluasi sekolah. Pihak sekolah sendiri melakukan self-evaluation setiap tahun dengan melaporkan kepada departemen mengenai bidang-bidang yang kurang memuaskan dan rencana untuk memerperbaiki hal tersebut. Departemen pendidikan juga mengunjungi sekolah-sekolah untuk mengevaluasi situasi.

6. Pengajaran Pendidikan Jasmani
1). Pendidikan jasmani wajib diajarkan pada tingkat SD dan SMP, namun merupakan mata pelajaran pilihan pada tingkat SMA. Mata pelajaran pendidikan jasmani pada tinkgat SMA lebih cenderung ke arah health and nutrition, sports management dan sports psychology.
2). Pada tingkat SD, murid biasnaya melakukan kegiatan olahraga di sekolah beberapa kali seminggu. Ada jenis olahraga yang bersifat individu (seperti berlari dan senam) dan ada juga yang bersifat beregu (seperti main bola dll). Jangka waktu minimal untuk kegiatan olahraga ditetapkan oleh departemen pendidikan masing-masing negara bagian. Murid SD juga belajar dasarnya tentang badan dan kesehatan, termasuk golongan makanan dan diet yang sehat.
3). Pada tingkat SMP, pelajaran jasmani lebih structured. Ada mata pelajaran khusus untuk pendidikan jasmani, Physical Education, yang biasanya diajarkan dua kali seminggu untuk total satu setengah jam. Fokus dari mata pelajaran Physical Education adalah kegiatan olahraga, namun hal kesehatan (termasuk diet, nutrisi, bahayanya narkoba, sex education dan sebagainya) juga diajarkan.
4). Pada saat ini pengajaran pendidikan jasmani sangat penting karena Australia sedang mengalami krisis obesitas. Diperkirakan bahwa kurang lebih setengah dari penduduk Australia, termasuk anak-anak, overweight atau bahkan obese. Hal ini disebabkan gaya hidup, misalnya kebanyakan makanan junk food (makanan yang kurang bergizi, seperti coklat dan chips) dan kekurangan oleh raga (anak-anak cenderung lebih suka main game elektronik daripada main di luar rumah). Oleh karena itu, pihak sekolah dan departemen pendidikan sedang mencari cara baru untuk mengajarkan pendidikan jasmani. Salah satu contoh adalah canteen sekolah. Setiap sekolah memiliki kantin yang menjual makanan ringan dan makanan siang kepada murid. Telah bayak sekolah yang memutuskan agar hanya makanan sehat yang akan dijual, seperti buah, sandwhich, dan jus. Diharapkan bahwa melalui program seperti ini murid-murid akan dibiasakan makan makanan sehat.

7. Bimbingan konseling
1). Pada tingkat sekolah menengah terdapat seorang counselor yang bekerja full-time di setiap sekolah. Pada tingkat SD biasanya tidak ada counselor yang bekerja full-time, namun ada yang berkunjung sekolah sekali seminggu atau dua minggu sekali. Counselor di sekolah harus berkualifikasi (berpendidikan tinggi dalam bidang psikologi atau social work).
2). Murid dapat berbicara langsung dengan counselor mengenai berbagai masalah, baik masalah akademik maupun masalah non-akademik. Untuk masalah akademik, disarankan agar murid berbicara dengan guru dulu, Namun, jika murid bermasalah dengan guru, dapat berbicara dengan counselor. Masalah non-akademik termasuk masalah-masalah pribadi seperti hal-hal kekeluargaan atau masalah bullying. Counselor dapat memberikan nasehat kepada murid, dan jika perlu dapat membahas masalah dengan pihak sekolah atau pihak lain yang bersangkutan. Namun, jika demikian counselor harus selalu menghormati privasi murid dan tidak boleh menyebutkan nama murid tanpa ijin. Jika menurut counselor suatu masalah di luar bidang pengetahuannya, maka counselor dapat menyaran agar murid bertemu dengan seroang lain yang lebih tahu tentang bidang itu.
3). Kadang-kadang pihak sekolah dapat menyarankan kepada orang tua agar anaknya mengikuti program counseling jika dianggap bahwa murid yang bersangkutan mengalami kesulitan dalam pelajarannya atau tidak dapat dikendali sama sekali oleh guru. Para guru wajib melapor kepada pihak sekolah, counselor dan departemen jika mencurigai bahwa seorang anak mengalami kekerasan dalam rumah tangga

Mau Kenal Prof. Ismet Fanany dan Rebbeca Fanany ?

Siapa Itu Prof Dr Ismet Fanany

1. Masa Kecil Ismet
            Saat aku kecil, sekolah di SMP Negeri 1 Payakumbuh,  aku  pernah beberapa kali membaca fitur tentang Ismet Fanany, seorang sarjana asal Minang yang menikah dengan orang Amerika. Saat aku kuliah di IKIP Padang aku mengenal bahwa ia juga alumni IKIP Padang. Namun aku tidak tahu kampungnya. Malah aku tidak pernah dengar dimana dia berada, tapi sekali- sekali aku sempat membaca tentang profil  dia pada surat kabar terbitan Sumatera Barat. 
            Aku asli betul betul mengenal dia dan juga istrinya sekarang di Melbourne. Aku beruntung bisa memperoleh kesempatan bisa mengenal dan lebih dekat dengan Prof Dr Ismet Fanany dan istrinya Dr Rebecca Fanany. Selama berada di Melbourne aku tidak sempat bertanya banyak tentang cerita tentang dia waktu kecil. Namun bisa memperoleh informasi tentang sejarah hidup Pak Ismet melalui Pak Jafar (yang sering dipanggil Ije di kampunya- Koto Panjang, Batusangkar). Aku sudah berbincang- bincang dengan Pak Ije tentang Pak Ismet Fanany, Ibu Rebecca dan juga tentang anak-anak mereka.
            Ismet Fanany lahir di desa Koto Panjang- Batusangkar, ayahnya bernaman Muchtar Isya dan ibunya Dasian Rasyid. Ismet menghabiskan masa kecilnya pada sebuah rumah tua. Ia memiliki banyak saudara-semuanya ada 7 orang. Urutannya adalah seperti Prof Dr Mawardi (mantan Rektor UNP), Ismet Fanany, Syafriwal Azzam (seorang apoteker), Damres Ukhar (di Bengkulu), Adduha (Kepala SMPN 2 Sungayang), Rafsel Tashadi (dosen STAIN Batusangkar), Misdar Putra (yang paling kecil dan berwiraswasta).
            Nama anak yang terkecil yaitu “MISDAR” adalah singkatan dari semua nama kakaknya yaitu “Mawardi- Ismet- Syafriwal- Damres- Adduha- Rafsel”. Jadi idu jadinya. Ismet Fanany dan saudara- saudara cukup cerdas, mengapa demikian ?
            Pak Muchtar Isya (orang tua Ismet) adalah seorang guru Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar. Ia punya karakter yang sangat dekat dengan semua anak-anaknya. Ia menjadikan semua anaknya sebagai teman- diajak berbicara dan berdiskusi setiap hari.
            Meskipun mereka tumbuh di desa namun mereka cukup cerdas. Ini ada faktor didikan bapaknya. Mereka membiasakan berkumpul dengan anak setiap hari. Mereka berbicara tentang “What to do, apa saja yang dilakukan”. Melihat kebiasaan positif yang demikian banyak tetangga yang jadi iri dan ingin pula berbuat yang demikian. Kalau sudah berkumpul dua atau tiga orang maka mereka mulai berbagi cerita.
            “Kalau Ismet berasal dari kota besar dan ia cerdas itu wajar, namun kalau ia cerdas dan ia berasal dari desa- belajar di SD dan PGA (Pendidikan Guru Agama)  maka itu perlu dipelajari”.
Ketiga ia kelas 3 PGA ia ikut ujian persamaan SMP dan lulus. Kelas 6 PGA maka ia ikut ujian persamaan SMA dan lulus. Setelah itu ia melanjutkan studi ke IKIP Padang jurusan Bahasa Inggris pada program Diploma-3. Ia kuliah dalam kondisi ekonomi yang sulit. Itu karena ia berasal dari keluarga sederhana. Ibu hanya di rumah, ayah hanya pegawai kecil dengan 7 orang anak. Ibunyamasih buta huruf namun bagus mengelola keuangan rumah tangga.
Saat ia kuliah di IKIP ia cukup aktif di kampus. Namun kondisi keuangannya sangat susah, maka ia pernah ikut mengumpulkan cengkeh di Gunung Padang. Ia pernah tinggal atau menompang tidur di kantor Senat Mahasiswa. Kalau malam tidur di atas mejadengan sehelai tikar. Pergi kuliah hanya dengan sandal jepit.

2. Prestasi Ismet Melejit
Suatu ketika seorang dosennya berkebangsaan Amerika, namanya Mr. Peter, ia ingin tahu tentang Ismet- he wants to know who Ismet is. Karena Ismet memiliki prestasi akademik yang sangat bagus. Ia meminta Ismet datang untuk menemuinya di kantornya- Ismet pun datang hanya dengan memakai sandal jepit. Ia melihat figure Ismet- badan kecil, rambut krusuh (kurang terurus), baju usang dan penuh jahitan.
“Are you Ismet ? “ Tanya Mr Peter seketika. Ia kelihatan sangat kaget melihat penampilan Ismet yang sangat kontra dengan kualitas akademiknya.
“Mengapa kamu memakai sandal jepit ?” Tanya dosen Amerika itu lebih lanjut.
“Ya inilah yang Ismet,…kalau Ismet datang kepada anda memakai sepatu itu namanya bukan Ismet. Kalau yang datang pakai baju bagus dan dasi itu namanya juga bukan Ismet” Pak Jafar menirukan gaya Ismet pada ku (penulis).
Itulah jawab spontan Ismet hingga membuat Mr Peter sangat heran. Mr Peter menjadi penasaran dan ingin tahu bagaimana latar belakang keluarga atau orang tua Ismet. Maka Mr Peter berkunjung ke Kotopanjang  dan mampir ke rumah Ismet itu. Sekatrang rumah tua itu sudah roboh. Mr Peter melihat secara langsung bagaimana kehidupan orang- orang sekitar dan juga kehidupan orang tua Ismet di kampung. Mr Peter terlihat heran, bersimpati namun sangat respect pada Ismet.
Setelah menamatkan program diploma (sarjana muda- karena saat itu jenjang pendidikan tertinggi  di IKIP Padang baru D.3) Ismet memperoleh beasiswa dari Caltex (Perusahaan minyak di Pekan Baru) untuk melanjutkan program strata satu di IKIP Malang. Setelah menyelesaikan program sarjana, ia memperoleh beasiswa lagi untuk program magister ke Cornel University di Amerika Serikat, saat itu tahun 1977. Maka sejak tahun 1977 sampai sekarang ia sudah tidak pulang lagi ke Batusangkar- atau tidak bermungkim lagi di Batusangkar- di Indonesia.
Sambil belajar di sana maka dia juga bekerja sebagai assisten dosen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping menjadi assisten dosen, ia juga menjadi penulis, interpreter (penterjemah)-  menulis tentang budaya, menterjemahkan buku. Hingga ia menghasilkan banyak buku dan novel.
Selama berada di Cornel University ia juga berkenalan dengan Rebecca. Perkenalan mereka berlanjut menjadi hubungan bersimpati- saling tertarik, hingga akhirnya Ismet memutuskan untuk menikah dengan Rebbeca. Itu sempat menjadi polemic dalam keluarga- karena perbedaan latar belakang antara Rebbeca dan Ismet.
Rebbeca adalah  keturunan Jewish (Yahudi) sementara Ismet didik oleh orang tua yang taat dengan agama Islam. Jadi ada perbedaan, tetapi mungkin ada daya tarik yang dimiliki oleh Ismet, hingga Rebbeca bersedia nasuk Islam. Bagi orang tua Rebbeca juga tidak mempersoalkan tentang status agama- karena itu adalah kebebasan memilih seseorang.
Sebelum menikah, Rebbeca pernah datang ke Desa Kotopanjang- Batusangkar. Saat itu orang kampung melihat ada orang asing dengan tubuh tinggi, langsing dan cantik. Sementara Ismet orangnya kecil- sebatas bahu Rebbeca- kulit hitam dan rambut krusuk. Orang orang sekitar berfikir kalau- kalau Rebbeca adalah bossnya Ismet selama di Amerika- Ismet sendiri sebagai pembantu bagi Rebbeca.
Mereka akhirnya menikah, dan setelah menikah mereka datang lagi ke kampung. Menjadi istri Ismet- orang Indonesia, maka ia juga mendalami budaya Indonesia. Bukankah Rebbeca sendiri adalah juga sarjana Bahasa Indonesia, ia juga mempelajari bahasa Minang. Ia mengerti bahasa Minang.
Dan pernah suatu saat kami pergi ke toko sepatu di Jakarta untuk membeli sepatu buat dia. Kakinya gede dan banyak nomor sepatu yang tidak cocok buat ukuran kakinya. Ukuran  sepatu buat Rebbeca mungkin nomor 45.
“Kaki ..kaki gajah….baa pulo kamancari sapatu saroman sapatunya”. Seorang anggota keluarga Ismet berbicara dalam bahasa Minang- kiasan bahanya: kaki besar ibarat kaki gajah…mana ada sepatu yang cocok buat Rebbeca.
“Benar kaki saya besar…susah ya cari sepatu buat saya ?.” Jawan Rebbeca, kami jadi kaget dan malu karena ternyata Rebbeca sangat memahami kiasan dan bahasa Minang sekalipun, dan kita semua menjadi malu pada Rebbeca.
“Apa sih daya tarik Ismet, sehingga Rebbeca mencintainya “
“ I don’t know..namun karena Ismet ini cerdas, tekun, rajin, kommitmen, dan orangnya tidak suka neko-neko (ambil muka atau nepotisme), penampilannya sangat sederhana, kalau ia datang ke sini- untuk pergi ke pasar ia memilih untuk berjalan kaki”. Demikian penjelasan Pak Jafar tentang Ismet kepada ku dan aku juga merespon tentang prilaku sederhana demikian. Bahwa selama di Australia kami sempat jadi malu dan risih gara-gara Pak Ismet ikut-ikutan membawa bawa barang kami, rasanya tidak pantas mengingat beliau sebagai Professor.   
“Ya benar saya ini sebagai professor, sebagai sopir dan juga tukang angkat barang”. Kata Pak Ismet berseloroh pada kami saat itu.
Karir Pak Ismet selanjtnya adalah selalu menulis, pernah menulis buku cerita tentang Pele- si pemain bola. Ia Pernah bekerja di Hawaii, di Singapur, Tasmania dan sekarang di Melbourne. Ia menjadi dosen dan selalu membuka program pengajaran Bahasa Indonesia. Ia memang spesialis pada Asian Foreign Language- ya rumpun Bahasa Melayu. Dia adalah ketua perhimpunan Bahasa Melayu. Di deakin Universityia sebagai Dekan dan istrinya Rebbeca sebagai Ketua Jurusan Bahasa Melayu/ Bahasa Indonesia.
Mereka punya dua anak yaitu Izian Fanany (laki-laki) dan seorang anak perempuan (Luna Fanany). Sekarang mereka berdua telah selesai kuliah pada program Post Graduate dan juga Graduate. Sewaktu kecil kalau pulang ke Kotopanjang, mereka sukabaca buku dan dalam liburan juga selalu baca buku yang tebal- tebal. Karena mereka kutubuku maka terlihat lebih asyik dengan buku dari pada dengan masyarakat di sini/\.     
Anak yang gede tertarik pada tekhnik dan yang perempuan tertarik pada seni. Ia jago main biola dan jugamengoleksi alat musik tradisionil Minang seperti talempong. Sekarang mereka sudah besar- besar dan jarang datang ke Sumatera Barat.
“Berbicara tentang Ismet tidak cukup waktu, dahulu ia juga pernah ikut-ikutan bekerja sebagai pekerja kasar- menggali bandar pada malam hari. Sekali lagi bahwa ia juga pernah memungut cengkeh di Gunung Padang. Dia memang suka work hard dan study smart. Ini adalah motto hidupnya. Dahulu ia membuat summer program dan membawa mahasiswa Australia untuk datang ke Padang dan tinggal dengan penduduk.SEjak ada gangguan keamanan maka ada travel warning maka program ini jadi hilang. Namun program lain juga ada sepergi kerja sama dengan Yogyakarta.

3. Karakter Ismet Fanany
Ismet punya karakter yang suka “keep contact” dengan banyak orang. Dia suka menelusuri orang yang dianggap hilang. Dulu ada warga Kotopanjang yang merantau keMalang dan tidak pulang- pulang. Maka saat studi di sana Ismet menelusuri keberadaannya hingga berjumpa. 
Disamping itu bahwa Ismet juga seorang pembaca yang hebat. Semua pekerjaan yang diamanatkan padanya selesai olehnya. Dia tidak suka menunda waktu dan menunda pekerjaan. Dia / mereka juga tidak punya pembantu dan mereka bisa menyelesaikan pekerjaan.. Lagi pula ia masih sempat olah raga, suka jalan pagi, jarang sakit.
“Ismet tidak pernah terlihat bersedih dan dia selalu terlihat happy. Walaupun badan kecil namun jalannya kencang. Jalan cepat atau melambangkan pikiran yang smart. Hebatnya Ismet sekarang adalah karena izin dari Allah Swt dan juga faktor didikan ayahnya yang sangat komunikatif pada anak. Ayahnya orang yang sangat taat pada agama. Ia sangat selektif dalam memberikan makanan pada anak- yang baik dan halal. Walau ayahnya punya utang demi anak, namun semua utang dilunasinya”.
 Walau ia sudah pukuhan tahun di rantau orang, namun Bahasa Minangnya tidak pernah berubah- malah ia sangat doyan mendengar lagu- lagu Minang. Rebecca sudah beradaptasi dengan baik. Ia pun jago dalam membuat sambal rendang Padang.
“Masih seputar memory tentang orang tuanya Ismet Fanany, bahwa ayahnya adalah orang yang rendah hati. Dan rajin bekerja serta betah berbagi cerita”.
Betul sewaktu aku di Melbourne aku amati bahwa Pak Ismet selalu update dengan perkembangan Indonesia dan Kampungnya sendiri. Ia juga tahu dengan berita Aceng Fikri- Bupati Garut yang menikah siri dengan gadis ABG dan diminta mundur oleh DPRD. Ia juga tahu banyak tentang apa yang terjadi di Sungayang, Koto panjang, Batusangkar, dll. Ismet punya kliping tentang pemerintahan Indonesia- bagaimanajeleknya mental pejabat.
Kalau dia pulang, biasanya Gubernur langsung memanggil dia. Namun sekali ia memberi kritikan orang kurang bisa mengikuti perkembangan fikirannya. Orang menganggap dia anti kampung- pada hal tidak. Ia memberi kritikan dan juga memberi solusi- memberi pencerahan dan bukan untuk memojokan orang kampung dan negeri sendiri. .  
Pak Ismet menjadi maju adalah lewat bidang sastra dan bidang bahasa .  Saat Ismet kecil dan Remaja belum ada televisi. Pertama kali ia belajar Bahasa Inggris ia rajin mendengar radio. Ia punya radio kecil dan setiap sore ia rajin mendengar program BBC (British Broadcating Company) dalam bahasa Inggris. Meskipun ia tidak banyak tahu namun ia mencoba mengambil kesimpulan over all berita BBC tersebut.
Awal belajar Bahasa Inggris, Ismet belajar dengan orang tua Jafar (Ije) karena orang tua IJe adalah seorang guru Bahasa Inggris- berasal dari Koto Panjang dan Lahir di Malaysia. Ia menamatkan studi di Cambridge University England.
Orang tua Pak Jafar (sebagai Guru Ismet) dan orang tua Ismet (Pak Muchtar) semasa hidup suka memberi pengarus lewat berkomunikasi pada anak anak di sini, sehingga Ismet Fanany dan familynya termotivasi untuk berprestasi. Mereka sering berkumpul di sebuah rumah tua, di sana ada yang mengaji, ada yang membaca, ada yang belajar Bahasa Inggris dan ada yang belajar silat. Jadi rumah kami berfungsi sebagai rumah cerdas- untuk tinggal dan juga untuk belajar serta bersosial. Aktif belajar secara mandiri- karena sudah ada yang ditiru (model) dimulai sejak sore- terus maghrib hingga datang waktu tidur.
Saat itu sebagai anak kami dilibatkan dalam belajar, bekerja dan bersosial. Hingga kami semua tumbuh cerdas, santun dan akrab satu sama lain, dan juga tahu dengan tanggung jawab. Orang tua jadi model, meski hidup miskin tetapi tidak pernah bertengkar. Hidup terasa damai sekali. Jadi kami semua work hard dan think smart- bekerja keras- belajar banyak dan berfikir cerdas. 

Hampir Ketinggalan Pesawat di Melbourne

Pengalaman Terakhir

1. Bagaimana Menggunakan Fasiltas Bandara?
Kami minta bantuan receptionist apartemen Punthill untuk memesan taxi dengan kebarangkan dari hotel jam 06.00 pagi. Pada hal pada jam tersebut kantor receptionist apartement  masih tutup. Buka kantor baru jam 08. 00 pagi.
“No problem” Katanya. Kalau di Indonesia pemesanan taxi per-telefon. Namun di Melbourne sudah serba online. Ia akhirnya memberi kami bukti sudah memesan taxi dan besok pagi persis jam 6.00 taxi sudah datang. Kami kemudian pergi ke kamar apartemen di lantai atas.
Malam itu kami bersiap siap, mem-packing barang barang lagi. Merapikan peralatan dapur dan menyiapkan sedikit makanan buat subuh. Menjelang tidur aku mensetting jam agar terbangun jam 4.00 pagi (dini hari). Agar kami bisa bersiap siap untuk berangkat. Tidak aku saja, Inhedri Abbas- juga memasang setting jam untuk bangun lebih cepat.
Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak. Fikiran separoh bangun dan separoh tidur. Aku khwatir ketiduran dan khawatir tidak mendengar alarm jam buat bangun. Aku tidak tahu apakah dua orang teman ku bisa tidur pulas apa tidak.
Akhirnya aku bangun jam 4.00 pagi  dan segera mandi pakai shower panas. Kemudian sholat subuh- meski aku sendiri tidak tahun pukul berapa subuh masuk untuk kota Melbourne. Kemudian aku dengan teman ku juga bangun- mandi- berpakaian dan sholat.
Cepat saja rasanya waktu merangkak. Sudah lewat jam 5.00 pagi aku dan juga temanku tidak punya selera buat sarapan. Kami memutuskan untuk turun ke lantai dasar untuk menunggu taxi. Kami memeriksa kamar apartemen buat terakhir kali, memeriksa apakah masih ada barang- bsarang kecil kami yang tertinggal- dan yang penting lagi passport, visa dan dompet kami.
Jam 6.00 pagi kurang  lima belas menit. Kami harus keluar. Kunci apartemen kami letakkan di atas meja receptionist. Aku memberi warning buat dua temanku:
“Desi….Inhendri….apakah sudah siap untuk keluar, apakah masih butuh toilet, di luar tidak ada toilet. Kalau kita sudah keluar maka nanti kita tidak bisa masuk lagi ke ruang receptionist”. Setelah memastikan semuanya beres, ya kami menghela bagasi ke luar. Dan siap menunggu kedatangan taxi.
Pagi terasa dingin dan sepi. Jalan raya juga sepi. Beberapa taxi juga lalu lalang, namun belum ada yang mengarah ke depan apartemen punthill. Aku berkata pada teman kalau- kalau  sopir taxi lupa dan tidak tahu dengan nomor HP dan juga alamat kita. Ya kami masih khawatir, namun kemudian sebuah taxi putih masuk menuju kea rah kami.
“Good morning….How are you ?” Sapa sopir taxi berkulit putih.
“Thank you, anda datang sangat tepat waktu dan kami sudah menunggu taxi anda”. Aku membantu sopir memasukan barang- barang ke dalam box belakang taxi dan tak lama setelah itu taxi melaju.
Kami saling bertukar cerita dengan sopir taxi dalam bahasa Inggris. Aku duduk di depan dengan alas an aku sebagai guide dan bahasa Inggrisku sangat bagus disbanding dua temanku yang lain. Sopir tersebut juga dahulunya sebagai immigrant keturunan Eropa- aku lupa nama negaranya, namun bukan England. Setelah beberapa menit kami sampai di Bandar udara Melbourne dan ia mengantarkan kami ke gate bagian transfer menuju Sydney.
“How much we must pay..?”
“79 dollar…” Jawabnya. Oh berarti lebih sedikit dari Rp. 800. Ribu. Kami menyerahkan dollar dan kemudian saling bersalaman dengan akrabnya. Kami mengikuti langkah penumpang lain menuju ruangan counter pelabuhan. Ruangan terminalnya sangat megah. Namun kami merasa bengong kemana mau pergi.
“Beda ya dengan bandara di Padang atau di Jakarta. Di sini tidak terlihat counternya dan juga tidak ada petugas counter” Yang terlihat hanya banyak mesin mungkin itu namanya counter machine. Digunakan untuk memesan tiket dan juga untuk mengabil kertas gulungan buat ditempel pada bagasi.
Kami bertiga juga mencoba untuk menggunakan counter machine. Kami sudah mencoba mengisi formulir lewat layar monitor pada counter machine…wah gagal lagi. Desi melihat sekeliling dan ada seorang muslimah berkulit putih- memakai jilbab.
“Assalamualaikum…..hello….I am new person in Melbourne. I don’t understand how to you use this machine”
“Oke let me help you”. Kata muslimah tersebut. Kami menyerahkan kertas tiket dan ia mengetik lewat layar monitor. Ia punya waktu yang terbatas karena ia harus terbang ke kota lain di Australia. Tetapi okelah untuk selanjutnya kami juga bisa meniru apa yang ia lakukan.
Muslimah di Australia di Australia- wanita berkulit putih yang aku temui di bandara- wahanya terlihat lebih tenang. Cara berbicara dan cara berjalannya terlihat lebih lembut. Kontra dengan penampilan orang lain yang tampil hedon. Barangkali ini hanyalah penilaian aku pribadi- namun temanku Desi dan Inhendri juga melihat fenomena yang sama. Orang Australia sangat beruntung menjadi muslim karena pribadinya tenang dan alam mereka terlihat damai dan juga indah.
“Mister Jo ..aku bisa mengetiknya….ini sudah keluar kertas- kertas. Tetapi buat apa ya “. Tanya Desi. Meskin kami bisa menggunakan counter machine namun masih bengong untuk proses selanjutnya.
Aku melihat kalau- kalau ada petugas bandara. Akhirnya aku melihat seorang pria berkulit putih bertubuh tinggi, gagah dan ramah. Aku tahu bahwa ia bisa membantu kami karena pada kantong baju seragamnya tergantung konkarde.
Good morning.. I am new person in Melbourne, I want to fly to indonrsia but I don’t know how to use counter machine”. Pria itu tersenyum kemudian memandu kami untuk berjalan menemui operator counter yang bisa membantu kami secara manual.
Kami menyerahkan kertas tiket dan menunggu perintah demi perintah dari wanita tersebut. Pelayanannya sangat bagus. Orang canti, rapi, ramah dan cerdas. Kami menerima 3 tiket dan kami menyerahkan bagasi yang besar untuk dibawa ke bagian counter bagasi pesawat. Ia menulis petunjuk selanjutnya- misalnya kemana kami pergi lagi bila sudah beradadi bandara Sydney nanti.  
Thank you for your kindness service….” Kata ku dan kami melangkah menuju gate 13. Kami berjalan dengan langkah agak cepat menuju gate peswat Qantas. Sebetulnya di ruangan itu dilengkapi dengan WiFi, tapi aku tidak begitu memperhatikan. Fikiranku bahwa kami harus bisa terbang dengan pesawat Qantas jam 09.25.

2. Hampir Ditinggal oleh Pesawat di Melbourne
Kami bertiga menunggu pesawat di sebuah gate dan penumpang kulit putih lainnya sudah berdatangan. Aku selalu mengamati nomor peswatku QF 20 lewat monitor. Aku juga ikut mengambil koran koran Australia tanpa harus membayarnya- membayar dengan sukarela. Aku mendengar dengan jelas penunda keberangkatan menuju Sydney. Ada dua kali penundaan mula- mula selama 20 menit, kemudian penundaan selama 45 menit.
Cukup lama juga menunggu penundaan. Untung aku juga bisa menggunakan WiFi buatmengakses FaceBook dan mengupload foto. Aku cukup asyik hingga aku tidak begitu mendengar suara pelayan dari speaker. Yang jelas aku masih melihat ada kode QF 20. Namun tiba tiba kode itu menghilang. Aku panic namun Desi dan Inhendri biasa biasa saja, Mungkin mereka tidak tahu mengapa aku panic:
“Ya aku takut ketinggalan pesawat dan kalau didenda seperti di bandara Sukarno Hatta bisa dikenai registrasi ulang seharga 50 %. Untuk ukuran dollar cukup mahal. Aku segera bertanya pada petugas.
Exuse me…this is my ticket, but I don’t see flight QF 20 on monitor. I must fly to Sydneyand Jakarta”.
Oh…you flight changing……” Aku memberikan tiket dan juga tiket btemanku. Kami memperoleh tiket baru dengan kode QF 22. Dan kami harus pergi ke gate 1 yang lokasi cukup jauh. Aku mengajak Inhendri dan Dessi untuk ke gate. Desi cukup mengerti namun Inhendri tampak agak bengong…, aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak kecuali kami menyambar tangkai bagasinya dan menyeretnya menuju gate 1.
“Pak Inhendri mau tinggal di Melbourne…silahkan…mau terbang ayo ikut kami”. Dia juga bangkit dan kami berlarian menuju gate 1 untuk mendapatkan peswat QF 22. Cukup lelah dan nafas juga terengah dibuatnya. Kami bettanya juga pada beberapa orang untuk menuju gate 1. Akhirnya kami sampai. Dan terlihat semua penumpang sudah masuk hanya tinggal beberapa orang lagi dan termasuk kami bertiga.
“Untung kita lihat tadi monitor…untuk kita segera ke sini…..untung kitamasih belum terlambat…..” Ucapku. Pokoknya banyak  rasa beruntung saat itu. Kami dipersilahkan masuk dan duduk pada bangku yang terpisah karena kami bertiga adalah penumpang titipan dari pesawat QF 20 yang tertunda untuk terbang.   
Andai kita ditinggal pesawat di bandara Australia….
Setelah hampir dua jam peswat mendarat di bandara internasional Sydney. Kami mengikuti petunjuk yang diberikan pelayan di terminar airport Melbourne tadi. Kami terus ke gate kedatangan untuk mengambil bagasi namun kami tidak menemukan bagasi kami. Setelah ditanya ke petugas bahwabagasi kami sudah forward menuju bandara Jakarta lewat Qantas yang sama jadi don’t worry…!
“Ya,,,,ketika kita keluar atau  masuk ke suatu negara  kita harus melewati immigrasi. Saat yang paling malas adalah berhadapan dengan para petugas imigrasi yang terkadang memasang muka "sangar atau wajah serius". 
Waktu menuju ke imigrasi kami bertiga berpencar- pencar, Inhendri aku lihat di kiri dan Desi sudah duluan namun ia terlihat jaleng dengan perempuan yang sudah sering pulang pergi ke Australia. Desi saat itu memakai jilbab warna gelap dan Desi badannya tergolong tinggi untuk ukuran rata- rata orang Indonesia. Dari kejauhan aku lihat dan juga wanita yang bareng dia ditahan petugas. Kok bisa begitu ?
“Ketika bagian saya, saya dapat petugas   yang terlihat agak santai,  pas dia melihat muka asli dan foto saya di passport. Dia  bilang muka saya berbeda jauh, ga mirip lagi dengan paspor....saya pikir dia mungkin  becanda, ehhh  ternyata dia memberi  saya lewat dari imigrasi tapi pasport saya di kasih ke petugas yang  lainnya  untuk  menyakinkan  muka  saya bahwa sama dengan muka saya dalam  photo saya di pasport. Saya berfikir bahwa ini karena saya memakai jilbab hitam dan saya dicurigai sebagai teroris wanita yang mungkin bisa meledakkan pesawat….ya ampun” Kata desi menjelaskan.
“Setelah beberapa saat 1 petugas lainnya agak ragu kembal dan mencurigai saya dan perempuan yang juga bareng saya. Petugas menggelah tas dan bagasi saya, menggeledah pakaian saya dan mengintoregasi saya. Saya juga balik marah pada mereka sehingga saya berkata : what are you doing with me…I am not terrorist ?”. Kata Desi agak emosional.
Wah ada ada saja pengalaman ini. Kami akhirnya sampai ke ruang tunggu untuk naik pesawat Qantas tujuan Jakarta. Kali ini orang orang yang banyak berada dalam terminal itu adalah orang orang Indonesia dan juga beberapa bule yang ingin berlibur ke Indonesia seperti ke Bali, Lombok, pulau Jawa, Sumatera dan sebagainya. Bagiku pikiranku sudah melayang jauh ke Indonesia , namun itulah sweet memoryku dan sweet memiry kami yang terakhir, “Good bye Melbourne…Good bye Sydney…Good bye Australia”.  

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture