Senin, 22 April 2013

Mengakhiri Kerja di Jepang


Mengakhiri Kontrak
            Begitulah saat terakhir di Jepang – yaitu mengakhiri kontrakku dengan perusahaan. Malam terakhir yang penuh sendu adalah malam perpisahan bagiku (grupku) dengan pihak perusahaan dan teman- teman di sana. Pagi berikutnya kami juga melakukan perpisahan dengan kepala perusahaan (boss), namanya “Nokio”. Kami merayakan perpisahan cukup gembira tetapi campur rasa haru biru dalam hati. Usai perpisahan, kami segera menuju kamar (kamar kami berlokasi dalam komplek perusahaan itu).
            Aku harus mengakhiri segala sesuatu yang berhubungan dengan dokumen- aku menutup rekening tabunganku pada bank disana. Aku juga pergi ke kantor Pos buat menutup pembukuan, karena aku juga menabung di kantor Pos.
            Aku balik ke tempat pemondokan dengan langkah separoh bersemangat dan separoh bersedih karena harus berpisah dengan banyak teman dan negara yang rapi itu. Dibalik sedih, aku juga harus bergembira karena membayangkan negaraku- kampungku/ tanah airku- dimana berkumpul orang- orang yang sangat mencintaiku. Aku masuk kamar buat beres- beres yang terakhir- aku merasa bermimpi saat menyeret travelling bag ke luar kamar. Rasanya kemaren aku tiba dan membawa banyak barang untuk aku susun dalam kamar itu dan tiba lagi masanya untuk harus keluar.
            Sebelum keluar aku menulis catatan kecil buat 3 orang temanku yang akan segera aku tinggalkan. Waktu itu aku nggak sempat membersihkan kamar, karena sudah keburu- buru. Aku kekurangan waktu untuk mengurus itu dan ini, dan tubuhku terasa agak lemah soalnya 2 minggu sebelumnya aku sempat masuk rumah sakit. Aku tanya apa penyebabnya.
            “Sakitmu karena pengaruh stress- meski stress ringan- namun mempengaruhi selera makanmu dan kamu jadi malas makan, akibatnya daya tahan tubuh mu lemah. Kamu perlu rileks dan tersenyum banyak dalam hidup”. Demikian penjelasan dan nasehat dokter di rumah sakit padaku. Aku merasakan bahwa sakitku terjadi pada usus dan lambung. Aku memang susah makan kalau fikiran lagi sedang kacau. Aku dan dokter tentu saja ngomong dalam bahasa Jepang.
            Selama disana bahasa Jepangku menjadi sangat baik- maklum frekuensi memakai bahasa Jepang sangat tinggi. Maklum bahasa pengantar kami adalah bahasa Jepang, namun aku tetap saja  membawa kamus kemana- mana. Saat ngobrol dengan dokter aku juga melihat kamus saat aku tidak mengerti dengan beberapa kata dalam bahasa Jepang. Kalau aku masih kesulitan dalam memahami percakapan maka dokter akan berbicara denganku dengan bahasa Jepang yang sangat sederhana.
“Orang Jepang berbicara dalam bahasa yang sederhana kepada orang yang baru belajar Bahasa Jepang- orang asing. Ia menyampaikan dengan bahasa verbal ditambah dengan bahasa tubuh/ bahasa isyarat. Andaikata kita tidak mengerti dengan satu kosakata, bisa jadi ia membuat defenisi atau penjelasan kata tersebut.
Aku akhirnya mau melangkah menjauhi negara Jepang. Aku naik bus dari asrama menuju ke kota Osaka. Sepanjang jalan aku lebih banyak menatap pemandangan terakhir bagi mataku. Akhirnya bus memasuki kota Osaka dan bus bergerak menuju ke sebuah hotel- untuk penginapan kami sebelum menuju bandara internasional Osaka. Saat itu pukul jam 17.00 sore, cuaca terasa sejuk dan angin sepoi- sepoi bertiup. Tak lama kemudian senja dan malam pun tiba. Kami perlu beristirahat. Kami disuguhi makan malam dan mencicipi hidangan perpisahan bersama. Kuresapi bagaimana citra masakan Jepang saat itu.
“Aku sedih…sedih berpisah dengan teman- teman yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Hubunganku dengan kawan-kawan di perusahaan dan juga dengan pimpinan perusahaan terasa begitu akrab, sehingga saat berpisah ya terasa berat dalam hati.Aku merasa bersalah karena tidak bisa menemui beberapa teman untuk salam perpisahan yang terakhir. Aku juga tidak sempat berjumpa dengan Sacho (pemimpin perusahaan)- ia kurang sehat karena baru saja keluar dari rumah sakit”.
Namun Kacho ikut dalam mobil rombongan kami menuju Osaka. Ia adalah sebagai penanggung jawab grup kami sebagai karyawannya. Aku juga tidak bisa banyak berbicara karena kondisinya terlihat kurang fit and fresh (segar dan bugar). Untuk mengatasi rasa bersalah karena tidak bisa jumpa langsung dengan teman- teman maka aku hanya bisa menelpon dengan mereka- say good bye/ sayonara.
“Maafkan aku teman- teman…selama menjadi senior kalian tentu aku punya banyak kesalahan….maafkan aku ya…..maafkan aku ya..!!” Seru aku pada mereka lewat handphone. Aku yakin bahwa masih ada ilmu yang aku peroleh dari Sacho yang belum aku transfer pada mereka. Bukan aku sok menggurui…namun Sacho memberi amanah padaku untuk berbagi ilmu dan pengalaman - membantu teman teman yang pengalaman kerjanya masih kurang.
“Aku kepingin ketemu lagi dengan mereka lebih lama dan minta maaf bila aku bersalah. Sebelum aku pulang- naik bus ke Osaka- aku benar benar ingin sekali lagi bisa minta maaf, kemudian baru aku bisa bilang sayonara….!!!”.
Wah ternyata aku tidak bisa tidur nyenyak di hotel Osaka malam itu. Aku memaksa diri untuk bisa tertidur, aku mengosongkan fikiran agar segera terlelap. Akhirnya pagi pun tiba dan setelah sarapan, kami segera berkemas- kemas untuk menuju bandara Osaka. Aku melepaskan pandangan ke luar jendela bus. Pohon pohon seolah –olah melambai dan tersenyum semua  kepadaku. Aku menangis- merasa terharu biru. Aku biarkan airmata meleh di pipi dan mengikis make-up yang menempel pada pipiku.
“Aku sedih….sedih berpisah dengan Jepang…dengan orang-orang baik yang telah bersahabat denganku selama 3 tahun”.
Dalam kesedihan itu banyak memori yang terlintas dalam fikiran, termasuk percakapan aku dengan Kanako. Kanako itu adalah orang Jepang yang sangat baik dan ia pernah bilang bahwa kalau kelak aku menikah dengan pria pilihanku  maka ia bakal datang untuk menghadiri pernikahanku.
“Namun siapa pria pilihanku- ya soulmate ku….tapi itu janjinya padaku…pada persahabatan kami, persahabatan lintas bangsa”. Ini benar- benar janji dan ia konfirmasi ulang bahwa kalau aku menikah maka ia akan datang ke Indonesia. Kanako sendiri juga masih lajang…namun ia bukan kekasihku…dia adalah teman baik ku”.
Aku sekarang sudah berada kembali di Padang- di Batusangkar- di Lintau. Lantas ada yang bertanya tentang kapan aku balik lagi ke Jepang. Nah itulah yang aku susah untuk menjawabnya karena biaya transport dan biaya hidup di Jepang itu mahal sekali. Kecuali kalau orang yang menjaminku untuk pergi ke Jepang lagi. Untuk ukuran orang Jepang, rata- rata mereka menghabiskan Rp 1.000.000 per hari. Jadi rata- rata biaya hidup mereka per-bulan adalah Rp. 30 juta rupiah.  
Propinsi Kakagawa…pulau Sikoku selalu terbayang dalam ingatan. Aku naik pesawat Garuda Indonesia Airway dari  Bandara Osaka menuju Indonesia. Rute terbangnya adalah Osaka- Bali, dari Bali ke Jakarta. Karena rute pesawat Jepang adalah Osaka-Bali, maka orang Jepang menganggap Bali itu adalah Indonesia. Mereka hanya lebih mengenal pulau Bali daripada bagian Indonesia yang lain.
Di Jakarta aku menginap satu malam dan paginya baru aku terbang menuju Padang. Waktu aku check-in di bandara Osaka aku tidak mau melihat orang orang Jepang yang mengantarku…ya sedih rasanya berpisah dengan mereka. Siap bersalaman  paling terakhir aku jadi sedih lagi. Ya mereka sudah aku anggap sebagai pamanku atau orang tuaku. Mereka sangat baik, selalu  memperhatikan kesehatan kami dan kondisi kami selama tiga tahun.
Pendek kata saat kita jauh dari orang tua maka figure orang tua angkat sangat kita damba. Maka orang- orang Jepang yang posisinya sebagai atasan kami di perusahaan juga berfungsi sebagai orang tua kami. Mereka terasa sebagai orang tua…bukan sebagai boss- karena boss konotasinya adalah pemimpin yang agak formal dan mudah marah.
“Bekerja di Jepang..jauh dari kampung/ dari orang tua, maka susah dan senang kita tanggung sendiri”.       
Aku membiarkan petugas pesawat/ petugas bandara mengurus traveling bag dan aku kemudian bergabung dengan rombongan orang- orang yang hendak terbang menuju Bali. Namun saat aku melintasi metal detector tiba- tiba alat detector berbunyi sebagai tanda ada logam dalam tas taganku. Oh ternyata ada kotak/ kaleng foam facial (untuk cuci wajah) terbuat dari logam  dan aku mengeluarkannya agar aku bisa masukan ke traveling bag di lantai bawah (karena belum dikemas menuju pesawat) dan aku jumpa lagi dengan atasanku orang Jepang- mereka masih di sana, mereka akan berangkat pulang kalau pesawat kami sudah terbang (ternyata facial foamku harus ditinggal di bandara Osaka karena traveling bagku sudah dibawa ke dalam kabin bagasi pesawat).
Kami semua menuju lambung pesawat, dimulai dari rombongan penumpang kelas eksekutif, rombongan wanita dan anak- anak dan rombongan kelas ekonomi. Aku duduk diantara penumpang lain. Pelan- pelan pesawat bergerak hingga terbang tinggi ke angkasa. Aku yakin orang- orang Jepang yang melepas kami terbang tengah melambaikan tangan dari bumi meski kami tidak melihat lambaian mereka.
Sayonara…….sayonaraa…..!!!!!” Aku tidak merasa sedih kalau ada orang lain diajak untuk bertukar cerita dan rasa sedih muncul kalau aku sibuk dengan fikiran sendiri.
“Sedih tanpa sebab….sedih oleh berpisah…sedih oleh angan- angan wah ini normal dan semua orang juga mengalami hal yang sama sebagai mana aku alami. Apalagi aku ingat saat bersalaman aku tidak bisa ngomong- lidahku terasa kelu. Aku disuruh ngomong, baru saja satu atau dua patah kata, namun aku tak bisa melanjutkan kalimatku…..!!!”.
Saat perayaan perpisahan kecil- kecilan (farewell party), terdiri atas 7 orang, ada aku dan beberapa teman dari perusahaan dimana aku bekerja. Saat itu aku pingin ngomong tentang masalah kaisa- kaisa maksudnya perusahaan. Namun saat itu ada teman dari grup/ perusahaan lain maka tentu saja aku tak mungkin ngomong tentang privacy- problem kami di perusahaan setempat- kurang enak mengekspos problem sendiri dekat orang lain..  
Aku melihat ke luar jendela langit biru terlihat indah dan sekali sekali aku bisa melihat laut di bawah dan pemandangannya begitu syahdu hingga aku berfikir: kapan ya aku bisa pergi ke Jepang lagi ? Kalau sebagai tenaga kerja ya tidak bisa lagi karena pemerintah Jepang hanya memberlakukan satu kali saja, kemudian merekrut dan melatih tenaga baru. Mungkin ada misi tersembunyi yaitu agar banyak tenaga kerja Indonesia yang mengerti dan bisa berbahasa Jepang dan menyukai budaya Jepang.
Positifnya adalah para alumni tenaga kerja yang pulang dari Jepang. Setelah pulang kampung  mereka menjadi orang yang punya percaya diri, punya motivasi bekerja yang tinggi karena sudah terlatih hidup punya target dan disiplin selama tiga tahun di Jepang. Mereka juga punya uang- menjadi pahlawan devisa bagi negara. Kelak mereka bisa bikin usaha sendiri- tak perlu berfikir untuk menjadi PNS atau karyawan kantoran lagi. Mereka bisa bikin usaha ternak, berkebun, usaha restoran, membuka ruko/ usaha bisnis dari uang yang mereka tabungkan selama di Jepang.
Aku berusaha untuk bergembira selama dalam pesawat. Tiba- tiba aku menonton tentang kisah hidup tentang orang Indonesia- penuh duka. Ha….ha…sedih jadinya aku menangis lagi. Perempuan sepertinya  gampang menangis…ya menangis karena terharu saja. Aku jadinya tidak banyak ngomong dengan penumpang di kiri dan di kananku. Sekali- sekali  wajah teman- teman dan orang Jepang terlintas dalam ruang mataku. Itulah yang terjadi selama penerbanganku dari Osaka menuju Bali saat itu.

C. Mana Yang Besar Pulau Bali Dengan Indonesia ?
Pesawat yang terbang dari Osaka- Bali berukuran jumbo (jumbo jet). Rata- rata penumpangnya berwajah Jepang- ya mereka adalah orang Jepang yang ingin menikmati hangatnya suhu tropis di pulau Bali. Makanya rata- rata orang Jepang lebih mengenal Bali. Mereka tidak kenal dengan Jakarta, apalagi Sumatra Barat atau objek wisata seperti Danau Singkarak, Danau Maninjau, Batusangkar dengan Istano Pagaruyungnya atau Danau Toba dengan pulau Samosir.
“Mana besar pulau Bali dengan Indonesia ?“ Itu pernah ditanyakan oleh salah seorang temanku orang Jepang. Rata- rata orang awam Jepang kurang kenal dengan Indonesia. Mereka hanya  tahu bahwa Bali itu di Indonesia dan Indonesia itu dimana ? Ya di pulau Bali. Kalau begitu Indonesia itu cukup kecil ya..?” Demikian wawasan orang Jepang tentang Indonesia.
Aku kaget- saat pesawat mendarat di bandara Denpasar-  aku menjumpai suasana lingkungan amat jorok- sampah berserakan persis  ditempat droping zone penumpang pesawat sebelum dibawa oleh mobil ke terminal. Kesan kontra yang aku peroleh dengan membandingkan antara kebersihan bandara Osaka dan bandara Bali. Di Osaka mataku tidak melihat sekeping sampahpun. Selama 3 tahun aku tidak melihat sampah.
“Di bandara Bali mulai terlihat tidak keteraturan. Sementara itu Bali sudah merupakan Bandara super-internasional untuk ukuran Indonesia, maka bagaimana kira- kira kondisi bandara- bandara lain di negeri ini. Aku merindukan keteraturan dan kebersihan pada negeri ini. Bukan aku benci pada Bali atau pada bangsa sendiri, namun aku pengen orang- orang kita peduli pada kebersihan- buang dan basmilah sampah itu dengan sungguh- sungguh !!”.
“Jarak terbang Osaka dan Bali adalah 8 jam. Aku terbang jam 11.00 pagi dan sampai jam 07.00 malam. Penerbangan yang lama itu cukup membosankan. Untuk mengatasi kebosanan ya kita bisa nonton atau tidur- namun aku tidak suka tidur. Atau kita bisa baca- baca buku atau majalah, atau lagi mendengar musik dan diselingi dengan menikmati menu yang disajikan oleh pramugari. Ya itulah akvitas kita dalam pesawat”.
Dari bandara Ngurah Rai aku transit menuju Jakarta, ya masih dengan pesawat Garuda Indonesia Airways. Pesawatku dari Jepang hingga ke Padang tetap Garuda. Aku terbang jam 007.00 malam dan sampai jam 08.00 atau jam jam 09.00 malam Waktu Indonesia Barat. Wah aku harus menyesuaikan jam/ waktu Jepang dengan Waktu Indonesia Barat lagi.
Di Jakarta aku ditunggu oleh ayahku dan temanku ikut dengan rombonganku. Hari itu kami nginap di tempat ayah. Aku sudah 5 tahun tidak berjumpa dengan ayahku. Karena ayah dan ibuku sudah berpisah/ bercerai sejak aku duduk di kelas 6 SD. Jadi aku putuskan bahwa sebelum pulang ke Padang aku harus berjumpa dengan ayah kandungku. Saat itu ayahku  dapat sakit yaitu stroke- akibat hipertensi. Ayah tinggal di Jakarta bersama sepupunya- yaitu bibiku sendiri. Waktu ayah menjemputku, aku lihat kondisi ayah dengan tangan lemah sebelah dan susah payah dalam melangkah..
“Tangan kanannya kena stroke dan aku amat sedih menyaksikan fisik ayah yang sakit itu. Ayahku asli orang Lintau- Batusangkar, namun setelah bercerai dari ibu ia jualan di Jakarta. Ia sempat punya istri setelah bercerai dari ibu kandungku. Namun sekarang ayah sudah jadi duda dan hidup menompang pada bibiku”.
“Ayah berpisah dari ibu kandung bukan gara gara ayah tidak punya uang. Ibuku bukan tipe perempuan materialis. Mereka berpisah mungkin jodohnya sudah berakhir dan aku tidak tahu penyebab persisnya. Setelah bercerai ayahku kawin lagi. Namun ibuku tidak kawin lagi, ia wanita yang hebat dan bekerja keras untuk menghidupi kami (anak- anaknya) dengan semangat juang yang hebat”.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Padang, aku sempat makan bareng dengan keluarga dan ayahku dengan hidangan gulai jengkol. Ya terasa enak, apalagi aku sudah lama tidak makan jengkol- di Jepang tidak ada jengkol. Cabenya terasa agak pedas namun terasa sangat enak. Aku ingin membawa ayah ke kampung, aku ingin ayah dan ibu berkumpul dan aku ingin membahagiakan mereka di hari tuanya. Namun apa mau dikata, ayah sudah bercerai dari ibu dan ia tidak mau”.
“Aku ingin membalas budi baik kedua orang tuaku, moga moga mereka bisa berkumpul bareng dan aku sudi untuk merawat dan membahagiakan mereka berdua. Ya keinginan ini masih menjadi ilusi”.
Aku terbang ke Padang. Aku sudah ditunggu oleh ibu dan keponakankku di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang. Aku dan ibu sama- sama kangen apalagi kami  sudah 3 tahun tidak berjumpa. Juga ibu tahu bahwa wilayahku di Jepang selamat dari hantaman tsunami saat menerjang daerah Ibaraki. Beberapa menit kemudian kami telah berada dalam kendaraan, kami segera menuju Lintau- Batusangkar. Kami ngobrol tentang apa saja dari bandara hingga sampai ke rumah. Malah setelah  sampai di rumah kami masih ngobrol hingga larut malam.
“Aku menjadi kurang tidur. Sementara itu saat berada di Jepang aku juga kurang tidur. Jadi karena kurang tidur aku merasa letih dan amat mengantuk. Malam itu jam 02.00 malam- dini hari, aku belum bisa tidur, family- family masih bergembira dengan kedatanganku- kami bernyanyi lewat karaoke. Aku menyanyikan lagu Jepang: Ai Tai (ingin bertemu), Sayonara (sampai jumpa lagi), dan beberapa lagu Jepang yang lain- aku lupa judul lagunya”.
Aku merasa senang banget bisa tiba di Lintau- batusangkar lagi. Aku bahagia banget…tapi aku jadi termenung karena merasa berbeda. Karena teman- teman seusiaku di Lintau semuanya sudah pada menikah. Yang paling bahagia dengan kedatanganku adalah ibu. Ya persis sampai di rumah, kami ditungu dan disuguhi makan malam yang enak, yang sudah lama tidak aku rasakan selama di rantau orang.
“Aku disuguhi hidangan daging dan juga ada jengkol. Namun aku memilih jengkol karena selama 3 tahun di negeri sakura aku tidak pernah mencicipi jengkol. Saaat makan malam fikiranku tentang Jepang terlintas lagi- Ai Shiteru Japan…..!!!!

D. Indonesia Terlihat dari Osaka
            Saat aku berada di Osaka/ Jepang aku sering meneropng bagaimana bentuk tanah airku- Indonesia. Mungkin inilah yang dinamakan dengan renungan atau refleksi diri. Ya Indonesia dan Jepang itu memang sangat jauh berbeda. Dari pengalaman hidup selama tinggal di sana, aku (kita) bisa menemukan beberapa  perbedaan orang orang kita  dengan orang Jepang. Maaf….!!! Aku tidak mengatakan tentang pribadi atau karakter orang Indonesia secara umum, tetapi beberapa gelintir saja dari orang kita. Perbedaan tersebut antara lain:
1). Bila berada dalam kendaraan umum: Orang Jepang terbiasa membaca buku atau tidur,
sementara orang kita terbiasa dengan ngobrol, ngegosip, ketawa-ketiwi cekikikan, ngelamun, grasak grusuk, dan tidur.
2). Bila menikmati  jajan atau makan di kendaraan umum, maka: Orang Jepang terbiasa
menyimpan sampah atau sisa makanan ke dalam saku celana atau dimasukkan ke dalam tas, kemudian baru dibuang setelah nemui  tong sampah. Sementara itu orang kita dengan wajah tanpa dosa, sampah sisa makanan dibuang  dengan rasa enteng (begitu saja)  di kolong bangku/dilempar ke luar jendela.
3). Ketika belajar di kelas: di ruang kelas Jepang yang kosong adalah bangku kuliah paling
belakang. Sementara di kelas kita, yang kosong adalah bangku kuliah paling depan.
4). Bila dosen memberikan kuliah: maka semua mahasiswa Jepang tenang (suasana sunyi
senyap) mendengarkan dengan serius. Sementara mahasiswa di kampung kita
kebiasaanya tengok ke kiri, ada yang ngobrol. Dan tengok ke kanan, ada yg baca komik.
Tengok ke belakang, pada tidur. Cuman barisan depan saja yang  agak serius mendengar,
itu pun karena duduk persis  di depan hidung dosen.
5). Kalau diberi tugas oleh dosen: mahasiswa Jepang- hari itu juga membuat tugas. Siang/malam
akan langsung menyerbu perpustakaan atau browsing internet buat mecari data. Sementara sebahagian mahasiswa kita berprinsip bahwa kalau masih ada hari esok, ngapain dikerjain hari ini!
6). Bila terlambat masuk kelas: maka mahasiswa/ siswa Jepang akan memohon maaf sambil
membungkukkan badan 90 derajat, dan menunjukkan ekspresi malu serta menyesal-
berjanji tidak akan mengulangi lagi. Sementara sebahagian mahasiswa/ siswa kita akan
menyelonong saja masuk, mungkin tanpa permisi ke dosen sama sekali.
7). Bila lagi berkendaraan di jalan raya: maka di Jepang mobil sangat jarang terlihat- kecuali di
kota besar. Padahal negara Jepang adalah negara produsen mobil terbesar di dunia, mobilnya ada dimana saja di dunia. Kalau di negeri kita, jalan raya sering  macet, sampai- sampai kita susah untuk menyeberang. Malah ada pengendara motor yang jalannya ugal-ugalan.
8). Ketika berjalan dipagi hari: Orang Jepang terbiasa berjalan dengan langkah cepat, karena
khawatir telat ke kantor/sekolah. Sementarakalau kita terbiasa berjalan santai saja, karena  atasan/ boss atau dosen  juga ada yang datangnya telat.  
9). Ketika membuang sampah: orang Jepang terbiasa membuang sampah sesuai jenisnya-
sampah organik dibuang di tempat sampah khusus organik, sampah anorganik dibuang di
tempat sampah anorganik. Kalau bagi kita, mau sampah organic, anorganik, sampah
basah, semuanya tumplek jadi 1 dalam kantong plastik.
10). Bila pergi berangkat kerja: maka orang Jepang terbiasa berangkat naik kereta/bus kota.
Mobil hanya dipakai saat acara keluarga atau yang bersifat mendesak aja. Sebaliknya sebagian orang kita merasa gengsi kalau naik angkot- transportasi publik.  
11). Ketika ada acara rendesvouz (janjian untuk ketemu): maka orang Jepang semuanya datang
tepat pada jam yg disepakati. Sementara sebahagian orang kita salah satu pihak biasanya ada kelamaan menunggu.  
12). Selama jam kantor/ jam kerja: maka di Jepang jalan raya terlihat sepi, sementara bagi kita-
ada saja oknum pakai seragam yang keluyuran di mall-mall
            Pengalaman di atas juga aku lihat dengan mata- kepala sendiri, namun untuk lebih rinci bisa kita baca pada blog: Padamara- bukan sekedar info tapi juga bermanfaat[1].
            Anak SD di Jepang, kalau pergi sekolah ya dibiasakan  dengan jalan kaki meskipun itu dalam musim dingin. Mereka pergi ke sekolah berjalan kaki dalam semua musim (summer, fall, spring dan winter). Anak SMPnya baru pergi ke sekolah memakai sepeda.
            Anak- anak Jepang selalu memperhatikan perkiraan cuaca. Jadi kalau diperkirakan hujan bakal turun di sore hari maka mereka sudah menyediakan payung atau jas hujan. Dengan demikian siswanya membaya payung atau rain coat ke sekolah.
            “Aku nyatakan sekali lagi bahwa anak sekolah SMP di Jepang pergi sekolah dengan sepeda bukan dengan sepeda motor matic. Sementara sepeda motor matik banyak dipakai oleh bibi- bibi yang sudah berusia 60 tahun, bukan kendaraan buat anak muda. Anak muda suka memakai sepeda motor gede seperti Harley Davidson atau yang pake mobil”.
            Saat aku di Jepang aku sangat kangen dengan Indonesia, terutama kangen dengan masakannya. Kalau aku lihat tentang waktu- kondisi cuaca ya lebih enak di Indonesia. Apalagi untuk beribadah- waktu untuk sholat lebih mudah dikenal karena musim kita tunggal yaitu  summer atau musim panas sepanjang tahun. Paling-paling kita membedakan hanya hujan atau kering saja.
            Di Jepang untuk beribadah terasa nyaman juga. Apalagi negaranya tidak berisik dan manusianya sangat toleran- menghargai eksistensi orang lain. Jadi di Jepang tidak banyak yang mengusik. Di Indonesia banyak mesjid nah itulah yang membuat aku rindu bila setiap waktu subuh datang. Aku rindu sholat subuh ke mesjid kalau di Jepang- sedihnya…bahwa jarak mesjid dari asramaku ya jauh sekali. Kita maklum karena Jepang bukan negara muslim, namun mereka menghormati orang muslim dan semua agama.
            “Aku hanya sholat saja di rumah atau di tempat kerja. Selama musim dingin ya…matahari cepat tenggelam- waktu sholat cepat masuk. Maka aku sering melakukan sholat jamak zuhur- ashar dan magrib isya kalau lagi berpergian antara rumah dan tempat kerja”.
            Orang Jepang dulunya beragama Shinto, namun sekarang banyak yang menjadi free-thinker atau tidak memikirkan agama, namun ada juga yang memeluk agama lain dan juga agama Islam. Di daerah Kobe aku lihat ada mesjid, aku melihat mesjid yang jamaahnya banyak berwajah India, Pakistan,Bangladesh dan juga ada berwajah Jepang.
            Orang Jepang juga suka dengan Indonesia- dengan alam dan budaya Indonesia. Namun untuk makanan orang Jepang menghindari sebagian masakan Indonesia yang banyak menggunakan santan dan minyak. Hidangan kita suka pake santan dan minyak. Katanya bahwa minyak-makan bisa mengundang kecoa dan banyak mengkonsumsi minyak maka usia bisa menjadi lebih pendek.
            Hal yang bagus dari Indonesia saat aku di Jepang. Adalah tentang pemandangan alamnya. Indonesia sangat bagus, apa saja yang ditanam bisa tumbuh. Di Jepang aku lihat dengan 4 musim dan dalam satu musim terlihat tanamannya juga bisa berbeda. Jadi mereka menemukan kesulitan, sementara bagi kita di Indonesia dengan tanah nyang subur- tanaman apa saja yang ditanam bisa tumbuh. Namun ini membuat kita lalai, mungkin karena kita dimanja oleh alam. Di Jepang satu lahan kecil tanah…ya mereka garap dengan intensif…menggunakan pupuk organic- pakai pupuk kandang.
            Satu lagi aku harus juga bisa menyenter kelebih bangasa kita- teman teman kita para generasi muda. Aku membaca artikel yang ditulis oleh Radon Dhelika[2]  yaitu tentang: kelebihan generasi muda Indonesia dari Jepang. Tentu saja ini cuma datanya subjektif namun berguna untuk menambah ide- ide dan juga buat menambah percaya diri bangsa kita. Kita bisa menyimpulkan bahwa generasi muda Indonesia punya beberapa keunggulan dibandingkan generasi muda Jepang. Apa saja?...ya sebagai berikut:
1). Bahasa Inggris
Untuk yang satu ini, tanpa data pun bisa terbukti bahwa anak-anak muda Indonesia lebih bagus bahasa Inggrisnya dibandingkan anak-anak muda Jepang. Kalaupun ingin dibuktikan, mungkin bisa dengan sampling sederhana. Coba pilih secara acak 10 anak muda Indonesia di bilangan Senayan dan 10 anak muda Jepang di daerah Shibuya. Terus ajak ngobrol dengan bahasa Inggris. Perbedaannya akan jelas.
2). Sifat petualang, berani mencoba hal baru
Karakter ini yang mungkin sedikit banyak menjelaskan mengapa orang Jepang bahasa Inggrisnya agak kurang. Walaupun mereka belajar banyak, tapi enggan untuk mempraktekkannya. Fakta lainnya, jumlah mahasiswa Jepang di luar negeri  cenderung menurun. Anak muda Jepang sekarang semakin tidak berani mengambil tantangan- resiko. Sementara misalnya para alumni ITB, UI dan sebagainya sekarang semakin banyak yang mencoba peluang kerja di luar negeri, terutama Singapore. Belum lagi kalau bicara jumlah mahasiswa Indonesia yang ingin lanjut studi ke luar negeri.
3). Jiwa entrepreneurship (jiwa wirausaha) 
Memang benar bahwa banyak  perusahaan Jepang adalah UKM, namun  rasa-rasanya itu adalah kontribusi para generasi terdahulu Jepang. Seperti kalau kita melihat daftar perusahaan-perusahaan multinasional asal Jepang, memang ada sangat banyak, tapi tidak ada yang berdiri setelah tahun 1946. Sedangkan raksasa-raksasa baru seperti Google, Facebook, yang banyak membentuk ekonomi sekarang adalah generasi 1990-an. Apa artinya? Generasi muda Jepang sekarang tidak sekuat generasi orang tuanya dalam hal wirausaha. Alhamdulillah mahasiswa Indonesia  melulu berorientasi mencari pekerjaan setelah lulus.
4). Semangat berkontribusi
Seorang mahasiswa Indonesia di universitas di Jepang, pernah berkisah tentang sensei-nya yang meminta semua mahasiswa menuliskan cita-cita masing-masing saat usia 25. Sang sensei dibuat tersentak dengan uraian singkat bahwa ia “ingin berkontribusi bagi bangsa”, sesuatu yang menurutnya sudah sangat langka di generasi muda Jepang sekarang. 
Tiba-tiba saja kita teringat dengan program Indonesia Mengajar. Barangkali kalau diceritakan akan membuat sang sensei lebih terbelalak tak percaya. Memang tampaknya orang Indonesia cukup menonjol dalam hal ini. Walaupun tak sedikit yang pesimistis dan apatis, tapi sepanjang yang kita temui, masih lebih banyak anak-anak muda Indonesia yang bergerak dan terus bergerak untuk bangsa. Ingin berkontribusi, walaupun kecil- ya sebatas yang bisa dilakukan.


[1] http://padamaraa.blogspot.com/2012/08/12-perbedaan-orang-indonesia-dengan.html
[2] http://audasi.tumblr.com/post/8163122108/4-kelebihan-generasi-muda-indonesia-dari-jepang

Minggu, 21 April 2013

Masa Kecilku di Lintau Batusangkar


Masa Kecil Di LINTAU
 A. Keluargaku          
Nama lengkapku Sefrita Yenti, namun saat aku duduk di bangku SMA, aku memperoleh nama beken “Oshin”. Siapa itu Oshin dan mengapa namaku Oshin ?
            Aku tidak kenal dengan istilah oshin. Aku dipanggil dengan gelar atau panggilan baru “Oshin” oleh guru bahasa Inggrisku- Pak Marjohan saat aku menjadi muridnya di SMAN 1 Lintau. Katanya Oshin itu adalah nama serial film Jepang yang diputar di TVRI saat ia remaja. Film tersebut sangat fenomenal- menceritakan tentang ketabahan dan kesabaran seorang gadis tradisionil Jepang. Aku sendiri memiliki tubuh kecil, perawakan seperti orang Jepang atau orang China, namun karena tokoh film serial yang terkenal adalah Oshin- ya nama panggilanku adalah Oshin.
Terus terang aku menyukai nama panggilan ini hingga menjadi nama bekenku. Kadang- kadang orang sekitar menjadi tidak kenal lagi dengan nama asliku- Sefrita Yenti- dan mereka ikut- ikutan menyapaku dengan kata “Oshin”. Ya aku sendiri suka banget dipanggil Oshin. Aku akan menceritakan sedikit tentang kampungku.
Kampungku di Batusangkar- kota kecilnya adalah Lintau. Di Lintau lokasi rumahku di Dusun Aur Duri- Palak Godang di Nagari Batu Bulek. Tentu tidak bisa dideteksi dalam peta, karena kampungku belum popular.
Teman- temanku yang berada di Osaka- Jepang boleh mampir ke rumahku.Mudah saja untuk pergi ke sana, pertama terbang langsung dari Osaka- Bali dan terus ke Jakarta. Tentu butuh waktu, seterusnya terbang lagi ke BIM (Bandara Internasional Minangkabau). Andai mereka kesulitan karena faktor bahasa maka aku bisa menjemput mereka ke Padang atau malah ke Jakarta.
Dibandingkan dengan Jepang, pemandangan di kampungku juga cantik- di sana ada gunung Sago dengan tiga puncak yaitu Puncak Pato, Puncak Marapalam dan Gunung Ledang. Suhunya cukup sejuk dan penduduk di seputar sana menanam tebu. Mereka punya aktivitas ekonomi secara tradisionil membuat gula tebu dan juga gula aren.
Gula tersebut diproduksi secara manual- batang tebu dikilang atau diperas dengan mesin yang diputar oleh tenaga ternak/ sapi. Di daerah sebelah bawah, penduduk menanam coklat dan juga karet serta tanaman hortikultura lainnya. Hal lain yang membuat daerah Lintau terasa elok adalah karena ia memiliki lembah dan goa atau ngalau (ngalau pangian, ngalau sapan kijang, ngalau air lulus, dll) dan juga ada aliran sungai dengan arus deras. Sebetulnya bisa dikelola untuk kegiatan olah raga arung jeram- persis di Batang Sinamar (Sungai Sinamar).
Dari pusat keramaian desa mulai dari Balai Tangah hingga Balai Jumat terlihat pertumbuhan bangunan milik penduduk- tentu saja tidak begitu pesat. Jalan rayanya lurus dan meluncur dari kaki gunung hingga ke bawah. Pertumbuhan ekonominya biasa- biasa saja, karena penduduknya yang berusia muda banyak yang merantau ke luar: ke Pulau Jawa, ke Propinsi sekitar dan juga ke Pulau Batam. Seolah- olah Lintau hanya tempat menompang lahir dan tumbuh hingga remaja disana, nanti bila tamat SMA- usia 17 atau 18 tahun- mereka pergi meninggalkan daerah ini buat selamanya atau kembali pulang setelah tua.
Orang tuaku bernama Rahmi (ibuku) dan Suwir (ayah). Aku lahir seputar pertengahan tahun 1980-an, proses kelahiranku dibantu oleh Dukun Kampung saja, bukan dibantu oleh tenaga medis seperti perawat dan dokter. Di sanalah (dusun Aur Duri) aku tumbuh hingga aku bersekolah di TK dan SD juga di dusun Aur Duri. Kemudian aku sekolah di SMPN 5 Lintau dan terus ke SMAN 1 Lintau di Balai Tangah.
Aku dengar bahwa waktu kecil, aku termasuk anak yang nakal. Namun aku punya teman akrab sejak masa balita, namanya Dona. Dia sepupuku. Kami pergi sekolah, pergi mengaji dan pergi main selalu bareng- bareng. Kawan perempuan yang sebaya tidak ada, yang banyak hanya teman laki- laki. Akhirnya mereka semua menjadi temanku, oleh karena itu permainanku juga permainan anak laki-laki.
“Aku main petak umpet, berlarian, berkejaran, memajat pohon hingga pergi menjelajah mencari serangga atau berburu burung liar. Begitu bersekolah di SD maka aku memiliki tambahan teman perempuan yang datang dari dusun lain. Semuanya ada 6 orang. Sampai sekarang sudah belasan tahun kami punya gang tetap 6 orang”.
Namun dari 6 orang gang anak perempuan itu sekarang yang belum menikah ya aku sendiri. Teman- temanku yang lain sudah menikah- punya suami dan punya anak- anak yang lucu. Untuk ukuran desa aku sudah terlambat untuk menikah- karena di atas usia 20- an mereka sudah siap untuk menikah. Sementara aku sudah hampir 30 tahun, namun untuk ukuran orang kota aku belum terlambat untuk menikah…dan aku tidak menutup diri untuk menikah.
Untuk kota metropolitan seperti Jakarta, Bandung, mungkin juga Tokyo..orang banyak menikah di atas usia 30-an buat wanita. Pernikahan itu memang misteri dan jodoh itu ditentukan oleh yang di atas (Tuhan). Aku tetap membuka hati dan bersedia menikah dengan siapa, dari mana dan orang mana saja- asal ia baik, bertanggung jawab, sehat dan kami bisa beradaptasi bersama.
“Aku selalu menunggu jodohku yang bisa berbagi dan  membingku agar aku selalu dekat dengan Sang Khalik. Aku tidak ingin sendirian sampai tua. Aku harus lebih dekat dan minta ampun pada Tuhan. Aku punya banyak dosa, apalagi selama di Jepang sholatku banyak tinggal”.

B.Ibuku Pahlawanku
Anak- anak kecil semua punya pahlawan. Pahlawannya ada seperti Batman, Satria Baja Hitam. Dan aku juga punya pahlawan dari kecil hingga sekarang. Pahlawan untuk kehidupanku adalah ibuku.
Ibuku adalah wanita yang hebat. Itu aku tahu sejak ayah dan ibuku bercerai ketika aku duduk di kelas 6 SD, malah saat aku di kelas 4 SD, kami sudah ditinggal pergi oleh ayah- berarti mereka sebelumnya sudah pisah rumah juga namun belum bercerai. Jadi biaya kami makan dan juga uang jajan semua ditanggung oleh ibu. Aku punya adik 3 orang dan dua orang kakakku yang sekolah di MAN Padang Panjang- jadi semua butuh uang yang banyak. Semua berasal dari  ibu.
Dari mana datang uang kami ? Ya aku dan saudaraku yang lain ikut membantu ibu untuk membersihkan kulit manis- casiaverra (cinnamon) yang kita peroleh dari tetangga sebagai upahan. Kami kikis dan bersihkan dari pulang sekolah hingga larut malam bareng dengan ibu. Dari kecil hingga sekarang, aku tidak pernah melihat ibu meneteskan air matanya karena sedih.
“Entah kapan ia meneteskan air mata, aku tidak tahu dan ibu juga tidak pernah mengeluh. Jadi pahlawan dalam kehidupanku adalah ibuku. Dia bukan mama atau ibu yang cengeng. Ia wanita yang hebat dan mandiri- pagi ia pergi ke ladang dan pulang sore, sore hari ia pun membersihkan kulit manis lagi hingga malam dan esok paginya ke ladang lagi….nah begitulah rutinitasnya setiap hari”.
Mengapa ayah dan ibuku bercerai…? Perceraian mereka membuat kami semua bersedih. Saat kecil aku juga ikut ke kantor pengadilan agama di Batusangkar untuk menyaksikan perceraian mereka. Kami berangkat 5 orang: aku, ibu, sepupu dan 2 orang kakakku. Aku tidak tahu banyak saat itu mengapa kakakku menangis dan aku jadi ikut-ikutan sedih dan menangis. Namun bertambah usiaku saat aku duduk di bangku SMP, maka aku jadi tahu tentang perceraian dan makna betapa indahnya punya orang tua yang utuh ada ibu dan ayah- tempat kita bermanja- manja dengan mereka.
“Aku jadi iri melihat orang- orang bisa ngumpul- ngumpul bersama keluarga mereka, apalagi pada hari besar- seperti di bulan puasa dan hari lebaran. Mereka bergembira bersama dan makan bersama. Itu tidak pernah lagi aku temukan dalam keluarga kami. Iitulah yang membuat hatiku dan hati saudara- saudaraku menjadi remuk- hancur”.
Waktu kecil- aku adalah anak yang biasa biasa saja- tidak pemalu dan bukan pula anak pemberani. Aku bisa jadi berani karena saat di SMP aku bergabung dengan kegiatan pramuka. Pramuka itu punya manfaat untuk melatih kita mandiri dan menjadi berani. Kalau kita ada kesulitan maka kita diajar mencari solusi untuk mengatasinya.
Anak- anak sekarang banyak yang ikut les privat dan pergi bimbel (bimbingan belajar). Aku rasa itu juga bagus untuk menambah pemahaman nilai akademis- untuk otak, namun kegiatan pramuka juga patut untuk diapresiasi- diikuti agar menciptakan keberanian dan sifat heroik kita.    
“Anak perlu kegiatan buat otak dan juga buat fisik yang berimbang..ya ikutlah kegiatan pramuka atau outdoor activity lainnya. Agar kita tidak punya generasi seperti karikatur yang aku lihat- kepala besar dan badan kecil. Maksudnya ilmunya luas sedangkan realisasinya terbatas- jadi juga tidak bagus punya generasi seperti itu- cuma jago berteori, dan tidak jago dalam aksi”.
Orang- orang yang hanya rajin untuk menimba ilmu namun badan kecil- karena jarang bergerak- nanti bisa punya banyak penyakit. Agar tidak sakit maka dia harus juga rajin gerak badan- olah raga. Kegiatan olah raga, pramuka dan outdoor activity sangat bagus untuk membuat generasi muda menjadi akrab dengan alam- tahu dengan lingkungan dan peduli dengan manusia.
Sebagai perempuan, sejak kecil aku juga punya cita- cita. Waktu SD…apa ya cita- citaku ? Ya banyak anak SD yang tidak tahu mau jadi bila dewasa kelak. Namun ketika aku di SMP aku pengen menjadi Guide bagi orang- orang asing- rasanya ada kepuasan karir bila kita bisa memberi bantuan buat orang asing. Cita- cita menjadi Guide…ya cita cita yang cukup sederhana. Aku tidak kepikir untuk menjadi arsitektur atau diplomat- makanya pas tamat SMP aku pengen melanjutkan studiku ke SMIP- Sekolah Menengah Industri Pariwisata di Padang.
“Aku pengen menjadi guide, karena traveling itu sangat menyenangkan. Aku bisa melihat dunia luar dan bukan pekerjaan di kantoran yang sangat monoton- dengan lingkungan yang sempit, sementara kalau travelling, kita melihat lingkungan yang luas dan wawasan juga menjadi luas- dan semua itu sangat menyenangkan. Itu disebabkan karena aku suka dengan Bahasa Inggris.”
Aku harus menelan kekecewaan dan mimpiku untuk tidak melanjutkan ke SMIP. Tapi aku tidak begitu kecewa. Alasan ibuku tidak mengizinkan adalah karena aku masih kecil dan biayanya juga mahal- orang tua tidak punya banyak uang. Jadi aku hanya dianjurkan untuk masuk ke SMAN 1 Lintau saja.
Sebetulnya aku tidak ingin masuk SMA, karena setelah tamat sekolah ini aku harus kuliah- sementara kami mengalami problem keuangan dan tidak mungkin bisa pergi kuliah ke Perguruan Tinggi. Bukankah tamat SMA, siswanya dianggap belum punya skill- cuma sekedar menguasai ilmu- ilmu ringan saja.
Aku juga punya kenangan indah tentang sekolah. Aku masih ingat saat di SMP, kenangan dengan almarhum bapak Nasrul- guru matematika. Saat itu bapak itu sudah tua, namun beberapa teman membolos dari kelasnya- aku merasa kasih mengapa kelas matematikanya kurang diminati oleh teman. Aku tidak mau membolos karena aku sangat menghormatinya
Akibatnya aku menjadi suka dengan matematika. Saat duduk di SMA aku juga suka dengan matematika, pelajaran cukup enjoy buatku. Aku masih ingat bagaimana cara menyelesaikan persamaan kuadrat dan pelajaran trigonometri lainnya. Aku juga jadi mengerti dengan persamaan linear dan substitusi eliminasi dari Pak Nasrul. Jadi kalau kita menghormati dan menyukai seorang guru maka kita akan menyukai bidang studinya- bidang studi yang ia ajarkan akan menjadi mudah untuk dipahami. Saat di SMA- pelajaran matematik itu bersambung dan aku bisa mengikutinya/ memahaminya dengan mudah.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture