Kamis, 20 Juni 2013

Resensi Melbourne Memang Dahsyat

Catatan Inspiratif Pelajar Melbourne
Australia merupakan salah satu negara yang memikat. Pasalnya benua kecil ini termasuk dalam kategori sepuluh negara terbaik di dunia dalah hal kesejahteraan. Menurut Heritage Foundations, Australia telah memnuhi kreteria yang ditetapkan, yaitu dinilai dari segi ekonomi, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, keamanan, kebebasan individu, dan modal sosial. Mimpi indah ini harus ditanamkan dalam-dalam. Dengan begitu, mimpi akan selalu tersimpan rapi dan termotivasi untuk selalu mengusahakan agar tiap hari semakin dekat dengan mimpi tersebut.
Mimpi kecil itulah yang membawa Marjohan ke negeri kanguru ini. Dengan semangat juangnya yang tanpa kenal putus asa, ia membentuk suatu lintasan yang berujung pada mimpi yang menjadi kenyataan. Prestasi sebagai pendidik terbaik nasional membawanya pada mimpi yang tertancap subur dalam dirinya. Negara cukup respek pada guru yang berprestasi. Telah banyak buktinya, seperti diberikan studi banding ke singapura, malaisia, dan australia.
Marjohan tidak sendirian mendapat hadiah studi banding ke Melbourne. Ia bertiga dengan  yang lain; Desi dan Inhedri. Awalnya, direncanakan sebanyak lima orang yang berangkat. Tetapi dengan alasan tertentu dua orang tidak bisa ikut. Penerbangan dari bandara sukarno-hatta ke sidney membutuhkan waktu selama enam jam. Penukaran uang rupiah ke dolar australia dilaksakan di sidney, karena saat di bandara bung karno-hatta tidak menyediakan dolar australia dengan maksimal. Setelah itu, transit pesawat lagi dari sidney menuju Melbourne.
Sesampainya di Melbourne mereka dikagetkan oleh penerima mereka. Profesor ismet dan istrinya menyambut dengan sangat ramah, bahkan rela mengangkatkan tas-koper milik Desi. Tetapi jawaban profesor hebat itu lebih mengagetkan “adalah biasa sorang profesor di sini menjadi sopit atau tukang angkat-angkat,”. Dalam perjalanan ke penginapan suasana berbeda mulai tampak. Jalanan begitu sepi dan beraspal mulus, padahal bukan jalan tol. Jalan raya juga dipagari tembok yang tinggi, katanya untuk menjaga agar kanguru tidak tertabrak mobil.
Walau dirinya telah tumbuh dewasa, Marjohan mengaku tetap merasa sedikit was-was dengan perjalanannya yang cukup jauh dari keluarga. Tetapi kedewasaannya telah berhasil dikuasai, sehingga tindak-gerak-geriknya tidak terlalu menampakkan bahwa ia baru pertama kali ke australia. Marjohan memilki strategi dalam mengatasi ini; yaitu memasang mata dan telinga. Artinya selalu melihat sekitar, siapa tahu ada petunjuk tujuan. Dan telinga untuk mendengar percakapan atau mendengar jawaban saat bertanya.
Mereka mulai menyusuri kota. Melihat statistik pendidikan juga unik. Jumlah siswa SMP, SMA, dan mahasiswa grafiknya sama. Artinya mereka semua terorgansir dengan baik. Sangat berbeda dengan pendidikan di indonesia. Grafik pendidikan seperti piramida, semakin tinggi pendidikan, semakin sedikit pula pesertanya. Sepuluh perguruan tinggi terbaik merupakan pendidikan negeri. Artinya, mereka semua mendapat bantuan dari negara.
Sistem transportasinya jangan disamakan dengan di negeri seribu pulau ini. Selama di australia, Marjohan belum pernah menemukan jalan yang berlubang, begitu mulus dan lebar.  Di tiap pertigaan atau perempatan bertraffic light memiliki tempat sampah yang tidak kumuh. Kebanyakan yang dipakai adalah mobil. Walau begitu tidak ada yang ugal-ugalan. Karena ada banyak kamera pengintai. Jika over speed, beberapa hari berikutnya pasti datang penagih denda over speed d rumahnya.
Jangan dikira hidup di australia begitu mudah. Karena tidak ada yang gratis di sana. Di apartemen, melihat DVD harus membayar 6 dolar, internet 3 dolar perjam, hanya televisi yang tidak bayar. Marjohan mengaku, selama tinggal di sana, ia belum pernah sekali pun bertemu dengan serangga; lalat, nyamuk, kecoak, atau pun jangkrik. Kehidupan di australiah begitu mapan dan disiplin. Tidak ada jam karet di sana.
Tujuan utama mereka studi banding masalah pendidikan. Di Australia juga diadakan UN (ujuan nasional). Hanya saja tujuannya berbeda. Jika di indonesia dijadikan standar kelulusan, tetapi di australia hanya sebagai alat ukur pemahaman siswa. Sama dengan ujian sekolah biasa. Jika ada nilai yang kecil, ia akan diberikan pelajaran intensif sendiri. Atau bahkan UN dijadikan momentum mencari bidang pelajaran yang sesuai dengan pikirannya. Artinya bisa saja mereka tidak mengulang nilai yang jelek, tetapi menambah kualitas pendidikan yang disukainya.
Buku bertajuk Melbourne memang dahsyat ini menarik disimak. Banyak saran konstruktif yang terkandung di dalamnya. Yang patut dipetik ialah tentang alat transportasi dan metode pendidikannya. Banyak sekali hal yang dapat ditiru dari pelajaran buku ini. Walaupun cara penceritaannya datar-datar saja, ini tidak mengurangi nilai buku. Karena yang ditekankan dalam catatan harian ini adalah mendapatkan inspirasi dari buku ini, bukan fantasinya.
Data Buku
Judul: Melbourne Memang Dahsyat!
Penulis: Marjohan
Penerbit: Diva Press, Jogjakarta
Cetakan: Pertana, Mei 2013
Tebal:  193 halaman
Harga: Rp. 35.000,-
Peresensi: Achmad Marzuki, Pegiat Farabi Institute, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Walisongo Semarang
*Pernah tayang di Eramadina.com
http://eramadina.com/catatan-inspiratif-pelajar-melbourne/

Minggu, 09 Juni 2013

Kisah Dahsyat Guru Berprestasi Selangit


Kisah Inspiratif Guru Berprestasi

E-mail Print PDF
Resensi buku
Judul Buku  : Kisah Dahsyat Guru Berprestasi Selangit
Penulis  : Marjohan, M.Pd.
Penerbit  : Diva Press
Cetakan  : 1-2013
Tebal    : 187 Halaman
Peresensi   : Mutasiudin  
Pengelola Rumah Baca Litera Pusaka.

Bagi setiap guru, mampu familiar di mata siswa merupakan sebuah prestasi tersendiri. Terlebih lagi, apabila seorang guru dapat menarik simpati dan menawan hati siswa, dia pun akan menjadi sosok guru yang kehadirannya selalu dirindukan. Sikap menyenangkan tersebut sangat menguntungkan sebab dengan mudah dapat menyampaikan visi misi dan tujuan pendidikan secara komprehensif. Pengabdian mengajar dengan skill dan kemampuan mengayomi siswa, juga merupakan bagian yang erat dalam proses menjadi guru sejati.
Dialah Marjohan, seorang guru SMAN 3 Batusangkar, Sumatera Barat, yang berdedikasi tinggi dan meraih prestasi sebagai guru terbaik Nasional. Marjohan mengikuti seleksi guru berprestasi dan berdedikasi yang diselenggarakan oleh Mendikbud pada tahun 2012 lalu. Marjohan terpilih sebagai guru terbaik mengungguli semua peserta dari seluruh wilayah Indonesia. Keberhasilan tersebut, merupakan hasil dari perjuangan dan kerja keras, serta pengabdian total untuk membangkitkan, dan memajukan pendidikan di Indonesia.
Buku ini merupakan ceritera dan pengalaman hidup Marjohan dalam menapaki tangga keberhasilan. Kisah Marjohan kecil yang mengalami kehidupan berat, menjadi cambuk pelecut untuk menggerakkan semangatnya dalam mengejar impian. Broken home yang dialami oleh keluarganya di masa kecil, membuat dia menjalani hidup dengan pontang-panting. Gejolak batin dan konfik internal yang dia alami, membawanya pada proses kematangan mental dan membuatnya menjadi tahan banting.
Sikap terbuka dan suka berbagi yang dibiasakan Marjohan, membuatnya mudah bergaul dengan siapa saja. Kemampuannya menguasai Bahasa Inggris, Perancis, dan Arab di waktu mudanya, membuat dia memilih terjun sebagai guide di Dinas Kebudayaan setempat untuk membimbing turis dari manca negara. Dari sini, dia memperkenalkan tradisi dan budaya, serta eksotisme yang ada di Sumatera Barat. Walhasil, dengan keramahan dan sikap hangat pada turis asing, dia memiliki banyak relasi dari Australia, Perancis, dan Jerman, yang semuanya memberi pengalaman tersendiri.
Sejak 23 tahun lalu, Marjohan telah menjalani tugas sebagai guru pengampu mata pelajaran Bahasa Inggris. Pada mulanya, di sekolah di mana dia mengajar, banyak siswa yang antipati terhadap pelajaran ini. Ketekunan dan ketabahan Marjohan mengajarkan Bahasa Inggris, serta dibarengi dengan strategi fun learning, lambat laun para murid di sekolah tersebut mulai mengerti dan antusias belajar Bahasa Inggris. Keunikan Marjohan dalam memahamkan Bahasa Inggris pada siswa, seringkali dia menyindir untuk memancing siswa bercakap dengan Bahasa Inggirs. Kendati demikian, para siswa lebih senang memanggil Marjohan dengan sebutan "Uncle Joe".
Sebagai peraih sertifikat guru terbaik Nasional, Marjohan selalu meningkatkan wawasan keilmuan dengan membaca 100 halaman buku setiap hari. Di antara buku yang paling digemari adalah buku genre biografi. Baginya, membaca buku biografi meninggalkan kesan untuk terus belajar dan berdedikasi bagi kehidupaan, serta mewariskan karya-karya untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Di samping keras membaca buku, Marjohan juga produktif menulis artikel untuk koran. Hasil dokumentasi artikel yang dipublikasi media massa telah mencapai 120 tulisan. Empat karyanya yang berbentuk buku, telah diterbitkan skala Nasional.

Perjuangan dan dedikasi
Usaha keras menjadi guru terbaik, pada mulanya berawal dari semangat mengajar dan menulakan ilmu kepada siswanya. Baginya, mengajar merupakan tugas mulia yang harus dihormati dengan cara mengabdikan diri untuk sepenuhnya bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Niat luhur ini akan menepis segala keinginan buruk dalam menjalani profesi guru. Pengabdian berarti melepaskan semua kepentingan individual dan egoisme untuk mencari keuntungan material, menuju pemanfaatan diri secara utuh demi keberhasilan tujuan pendidikan. Keberhasilan atau kegagalan siswa terletak di tangan guru sebagai pendidik dan pengajar. Guru juga mengemban tanggung jawab mengantar siswa menuju pintu kesuksesan.
Sikap konsisten dan jujur, selalu diterapkan Marjohan selama dia menjadi pengajar. Soal disiplin waktu, baginya merupakan hal yang tidak bisa ditawar. Pendidikan disiplin sering dicontohkannya melalui ketertiban menyusun perangkat pembelajaran dan tidak pernah terlambat mengajar di kelas. Terkait kedisiplinan waktu, Marjohan memegang erat sebuah "filosofi kesuksesan", bahwa orang sukses adalah mereka yang berusaha menggunakan waktu untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu, sedangkan orang yang gagal adalah akibat dari menyia-nyiakan waktu.
Dalam proses pembelajaran di kelas, Marjohan terus berusaha total untuk siswa. Totalitas guru dalam mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada siswa, akan menciptakan suasana belajar mengarah pada kesenangan. Pada dasarnya, setiap siswa ingin diperhatikan secara khusus oleh guru. Dengan bekal keterampilan mengajar selama puluhan tahun, Marjohan dapat memahami karakter siswa yang berbeda-beda dan menampung keunikan mereka masing-masing. Sikap dedikasi seringkali lahir karena guru telah memahami haikat berinteraksi dengan siswa, serta menjadikan siswa sebagai bagian dari kehidupan guru.
Kehadiran buku ini memberi injeksi motivasi bagi semua guru, terutama bagi guru yang kurang berdedikasi, dan yang masih menganggap guru sebagai profesi untuk meraup materi. Penulis manyuguhkan kisah inspiratif yang layak untuk dipelajari guna menebalkan niat dedikatif dalam mengajar. Perjuangan dan dedikasi Marjohan dalam meniti karir sebagai guru berprestasi, patut menjadi teladan para guru sebagai upaya memajukan pendidikan di Indonesia. Guru sebagai titik sentral keberhasilan siswa, hendaknya mampu memberi yang terbaik dari yang dia miliki. Selain itu, spirit untuk tidak berhenti belajar, harus senantiasa dinyalakan dalam jiwa guru sehingga ghirah untuk menjadi yang terbaik selalu berkobar. ***








Inspirasi Sukses Guru Berprestasi


Inspirasi Sukses Guru Berprestasi

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture