Sabtu, 28 Desember 2013

RETURN TO JAPAN

RETURN TO JAPAN
A. Kesempatan Terbang Ke Jepang Lagi
            Seperti judul bab IV ini, Return to Japan- yang berarti kesempatan bagiku untuk terbang ke Jepang Lagi. Kesempatan ini datang secara tiba- tiba dan kesempatan memang datang satu kali dan harus kita ambil- jangan disia-siakan.  
            Aku pulang dari Jepang- setelah berada di sana selama 3 tahun- pada bulan November 2012. Aku tidak pernah membayangkan kalau- kalau aku bisa balik lagi ke sana, dengan alasan bahwa programku sudah habis dan biaya pesawat serta biaya hidup sangat mahal. Namun aku memperoleh kesempatan untuk balik lagi buat beberapa minggu saja dalam bulan Februari 2013.
            Aku bukan kangen balik ke Jepang- seolah-olah Jepang adalah tanah airku. Negara yang lebih aku cintai tentu saja Indonesia. Aku ke sana ingin karena ada kesempatan- aku senang ke sana karena terus terang negaranya bersih, tertib dan aman. Segala sesuatu terlihat teratur.
            Aku memperoleh undangan dari Oonishinorio San, pemilik perusahaan tempat aku bekerja sebelumnya. Dia mau datang ke Indonesia untuk suatu urusan. Jadi aku datang menyusul dan berencana aku balik ke Indonesia bareng dengan rombongannya. Singkat cerita saat aku tiba di sana aku diajak untuk jalan- jalan di seputar daerah- tidak jauh dari Osaka- propinsinya Fukuyama.
            “Kami pergi ke pantai, menyaksikan dolphin, kami juga pergi ke kebun binatang-menyaksikan panda”.
            Osaka sendiri adalah kota terbesar kedua di Jepang, dan merupakan terbesar diantara Kansai Trio yaitu Osaka, Kobe dan Kyoto. Sejak jaman dahulu Osaka sudah terkenal sebagai kota perdagangan dan transit. Sebagian orang memandang  Osaka adalah kota yang membosankan, karena kalau sebagai kota wisata, reputasi Osaka masih kalah jauh dibandingkan Tokyo. Kota Osaka memang tidak memiliki banyak atraksi tetapi jika kita  merencanakan berkunjung ke daerah Kansai maka mau tidak mau kita harus lewat Osaka. Untuk itu tidak ada salahnya kita menyediakan beberapa hari untuk menjelajah kota ini. Osaka juga mempunyai moto yaitu kuidaore yang artinya kurang lebih “makanlah sampai puas”.

B. Prosedur Ke Luar Negeri
            Tiba-tiba Oonishinorio San  meneleponku  dari Jepang. Ia mengundangku untuk bisa berkunjung ke sana. sebagai Ia menjamin untuk akomodasiku  disana. “Horeeee…..tentu aku merasa sangat bahagia”.  Aku harus mengurus prosedur keberangkatan ke luar neger- aku mengurus visa kunjungan ke Jepang.
Terus terang aku belum pernah pergi ke Medan- jadi aku tidak tahu daerah Medan sama sekali. Sebelumnya yang mengurus perjalanan kami ke Jepang diatur oleh pihak pemerintah Kab. Tanah Datar. Aku memberanikan diri untuk berangkat ke Medan. Untung aku punya paman di sana. Maka aku harus berkunjung ke rumah paman terlebih dahulu. Aku berjumpa paman dan bibi di Medan, namun  aku memutuskan untuk tinggal di penginapan (hotel).
Aku tidak bisa tidur dengan nyaman hotel dengan pencahayaan agak remang- reman, aku punya kebiasaan phobi kegelapaan- ingat dengan cerita kanak- kanak- cerita tentang hantu atau makhluk yang seram- seram. “Wah aku sudah dewasa…..hantu itu tidak ada….kuntilanak itu hanya dongeng anak-anak” Aku harus mengalahkan ketakukan ala anak- anak. Maka sekarang aku  berpesan pada semua orangtua  bahwa anak- anak tidak boleh disuguhi cerita seram- seram yang berlebihan karena dalam memori  jangka panjangnya bisa tertanam ketakutan tanpa alasan.
            Aku meninggalkan hotel lebih awal di pagi hari. Aku berjalan menuju Wisma BII di jalan Diponegoro  untuk mengurus visa. Aku berjalan kaki sekitar 8 km dari Istana Maimun. Untuk wilayah Pulau Sumatera Attase Budaya Jepang ada di Medan- di sana juga ada perpustakaan yang bisa kita gunakan untuk mencari literature tentang Jepang.     
            “Konsulate Jepang ada di Wisma BII lantai 5. Aku diberitahu tentang persyaratan pengurusan visa: tiket pulang pergi, pas foto dengan latar belakang putih, fotocopy buku tabungan, jaminan dari orang Jepang, tabungan, kartu keluarga, dan rencana perjalanan. Kemudian aku juga harus mengisi formulir. Biaya pengurus visa Rp. 325 ribu. Juga ada wawancara dengan orang Jepang dengan bahasa Jepang, yaitu tentang: apa tujuannya, alasan dan berapa lama tinggal di Jepang.
Saat itu  aku menunggu visa keluar selama 3 hari. Sambil menunggu visa aku bisa jalan- jalan seperti ke dalam Istana Maimun, pergi sholat ke Mesjid Raya Medan. Juga aku pergi untuk membaca literature tentang negeri sakura di perpustakaan  Konsulate Jepang”.
            Selesai pengurusan visa, aku kembali mengambil barang- barang ke penginapan dan menuju Bandara Polonia Medan, untuk bisa terbang ke BIM Padang. Aku harus segera pulang ke rumah- aku tidak punyabanyak waktu dan aku harus berkemas- kemas untuk menuju Jepang.
            Aku hanya punya satu hari saja di Lintau dan balik lagi ke Padang. Aku terbang dari BIM Padang terus ke Kuala Lumpur dan Osaka. Kali ini aku juga terbang dari Kuala Lumpur ke Osaka dengan Malaysia Airline. Terbang kali aku pergi sendirian- jadi aku harus lebih berani.

C. Terbang Sendirian
            “Terbang sendirian, berarti aku sudah berani dan sudah dewasa. Namun ada sedikit problem, dari Padang aku membeli tiket  pesawat  Air Asia. Aku baru tahu kalau di Kuala Lumpur ada 2 Bandara:  KL (Kuala Lumpur) dan LCC. Sebenarnya aku harus pergi ke LCC bukan ke KL. Akibatnya aku repot menuju bandara transit. Untung  aku dibantu oleh seorang warga Australia untuk menenteng koperku yang berat- mungkin ia  kasihan melihatku  bertubuh mungil dengan  bagasi yang banyak. Ia adalah pelancong Australia yang sama terbang denganku dari Padang menuju Kuala Lumpur dan kami duduk bersebelahan”. 
            Kami mendarat di Kuala Lumpur setelah terbang selama satu jam.  Aku berencana untuk transit- karena aku beli tiket Air Asia di Padang dengan rute Padang- Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur Osaka. Terus terang aku tidak mengerti dengan bahasa Inggris. Aku jadi gelisah karena pesawat yang bakalan aku ambil untuk transit ke Osaka sudah terbang. Aku mohon bule Australia mengatakan ke pada petugas  bandara bahwa aku ketinggalan pesawat. Namun aku memang  harus mengurus tiket baru lagi. Aku rugi- kehilangan satu tiket pesawar Air Asia rute Malaysia- Jepang, sekitar Rp. 3 juta dan aku ambil tiket baru dengan pesawat Malaysia Airlines.
            “Idealnya aku di Padang ngurus tiket ke biro penerbangan namun aku beli tiket secara pribadi.Tiket yang baru lebih mahal ya harganya sekitar Rp. 6 juta atau 1.804 Ringgit. Usai ngurus tiket aku merasa capek dan lapar namun aku sulit untuk melahap makanan- mungkin gara- gara stress lagi.Untung aku bawa duit ¥. 100.000. Rencana aku bawa sejumlah uang demikian  buat beli oleh- oleh bila pulang ke Indonesia, karena biaya tiket sudah ada porsinya”.
            Aku punya pengalaman jelek namun tentu juga ada  indahnya- yaitu adanya toleransi atau kebersamaan bersama warga lintas bangsa- dengan orang Australia. Aku tidak mengerti bahasa Inggris, namun untung aku punya buku electronic- frase Bahasa Inggris dan Jepang: percakapan dalam perjalanan.
            Sayang kini  aku lupa dengan nama pria Australia yang baik itu.  Saat itu aku harus menjadi  wanita yang tetap kuat dan semangat. Oh ya aku masih ingat bahwa  aku dan bule itu juga  satu taxi saat mau pindah  bandara- waaah ….. aku kehabisan dollar namun masih punya mata uang Jepang.  Maka aku  memberanikan diri untuk meminjam  duit dia sampai aku pergi ke money changer- aku turun taxi pergi dan langsung ke money changer dan aku bayar utangku pada bule itu.
“Mengapa aku musti memakai dollar…mengapa tidak memakai mata uang Rupiah, aku bangga lho punya mata uang negara sendiri. Itulah aku berharap usaha pemerintah dalam kebijakan denumerasi- pengurangan tiga nol mata Rupiah bisa bikin Rupiah menjadi mata uang yang laku di Internasional- aku iri dengan ¥ (Yendaka), satu Yendaka (¥) masih punya nilai di pasaran internasional. Sementara Rp 500 juga hampir tak punya nilai lagi. Anak anak saja tak mau menerima uang Rp.500 sebagai oleh-oleh, ia tahu nilainya amat kecil”.
Pernah suatu ketika temanku orang Jepang bilang, “kalian kan punya mata uang sendiri, kenapa harus membayar dengan dollar ? Seharusnya juga  bisa bayar dengan uang sendiri.”
 Aku tidak mengerti tentang moneter dan aku tentu tidak bisa menjawab.Sebagai bangsa Indonesia aku jadi sedih dan malu. Di Malaysia, saat aku beli tiket, ia tidak mau terima dollar- ia hanya menerima Ringgit- ia lebih mencintai mata uangnya sendiri.Apakah sikapku salah, aku bukan pura-pura malu.
“Satu lagi adalah aku bermimpi atau punya keinginan untuk melihat Indonesia yang bersih. Kadang aku berfikir- andai aku sebagai penanggung jawab kebersihan di negeriku, biarlah aku terjun langsung untuk memungut sampah dari bumi Indonesia yang tercinta. Andai aku punya lahan di sebuah kota- aku akan menggunakan lahan tersebut untuk menampung sampah dan aku ingin mengolah sampah dengan dibantu warga lokal seperti negara maju (Jepang) mendaur ulang sampah tersebut. Kalau sampah bersih maka tata ruang kota akan tampak semakin berseri”.
Namun mimpi yang sedang aku wujudkan sekarang adalah bahwa kami sedang mendirikan lembaga bahasa Mandarin dan Jepang di Lampung. Kami  ingin mengelolanya dengan memadukan system pengelolaan kebersihan lingkungan, dimana anak- anak/ para remaja yang  belajar bahasa asing   juga harus belajar tentang budaya bersih. Jadi kita hidup jangan sembrono saja.
            Aku seharusnya sudah terbang ke Jepang jam 03.00 sore, namun karena ada problem maka harus menunggu terbang jam 12.00  malam. Akhirnya aku bisajuga  terbang malam itu dan di sebelahku duduk orang Jepang asal Kobe. Aku merasa senang karena  kami bisa ngobrol dalam bahasa Jepang. Aku juga menceritakan pengalaman indahku yang terjadi hari itu. Nama orang Jepang itu Yosida San. Sangat mudah bagiku untuk mengingat nama orang Jepang daripada nama orang Australia- mungkin Bahasa Jepang sudah menjadi bahasa keduaku.
            Percaya diriku menggunakan bahasa Jepang dengan orang asli Jepang tumbuh lagi. Aku menceritakan padanya bahwa aku sebelumnya pernah di Jepang dan bekerja di perusahaan pertanian. Teman warga Jepang itu (Yosida San)  juga mengatakan bahwa ia pergi ke Malaysia untuk berlibur- menghindari musim dingin yang sangat ektsrim di Jepang. Dia mengatakan tidak terlalu suka dengan musim dingin.
            Yosida belum pernah ke Indonesia- namun aku  juga sempat menceritakan tentang budaya dan iklim di Indonesia. Aku menganjurkan agar lain waktu ia juga berlibur ke Indonesia. Apalagi jarak Indonesia dan Malaysia hanya 45 menit saja.
            Aku pengen tahu tentang beberapa profesi yang banyak digeluti oleh orang Jepang. Yosida itu kayaknya seorang guru atau mungkin seorang petugas konseling. Yang aku tangkap dari percakapan kami bahwa ia juga tahu dengan psikologi. Yosida punya anak dan juga istri yang menetap di kota Kobe. Terbang kali ini aku bisa tidur pulas dalam pesawat dan itu akibat kelelahan pada siang sebelumnya.
            Aku akhirnya sampai di  bandara Osaka- saat itu sudah pagi. Aku beradaptasi dengan cuaca Jepang yang dinginnya sangat menusuk. Waktu itu aku sedikit kurang sehat- aku mungkin masuk angin. Suaraku agak serak dan malah cenderung hilang.
Betul bahwa aku kayak bermimpi lagi karena bisa tiba lagi di bandara Osaka. Aku tidak ada berfikir untuk terbang ke sana buat kedua kalinya. Ternyata aku bisa terbang dalam kesempatan lain dan melalui cara yang lain.
            Kedatangan aku pertama kali ke Jepang pada bulan November- di musim gugur dan kedatangan yang ke dua ini dalam bulan Februari- musim dingin. Aku melihat ada perbedaannya. Dalam musim gugur udara sudah terasa dingin namun banyak angin, dan kedatanganku dalam musim dingin udara  terasa dingin yang ekstrim. Salju pada turun dan suhu sampai minus dibawah titik nol. “Bapak Yosida mengatakan padaku bahwa kedatanganku ke Osaka pada musim dingin  yang paling dingin”.

D. Kedatangan penuh Kejutan- Surprised Arrival.
Aku turun pesawat dan aku dijemput oleh Oonishinorio San di Bandara Osaka. Bersama bus Oonishinorio San  juga ada teman- teman satu perusahaan dan mereka tidak tahu kalau aku datang lagi. Jadi mereka surprised dan merasa nggak percaya kalau yang datang itu aku. Apalagi  Oonishinorio San  juga tidak bilang pada mereka tentang kedatanganku.
Memang bahwa kedatanganku  ke Jepang tanpa memberi tahu teman-teman ….ya untuk kejutan. Suasana bandara dan kota Osaka  di musim dingin tetap ramai, yang membedakan hanya suasana pakaian saja. Saat aku datang bertepatan dengan musim libur- aku melihat yang banyak yang berkunjung di Osaka adalah orang- orang China, aku tahu dari bahasa mereka dan juga wajah mereka.
Sekedar bagi- bagi rahasia saja tentang bagaimana beda wajah orang China dan Jepang (?). Orang Jepang cenderung memiliki struktur wajah oval bermata besar dan hidung yang lebih jelas. Wanita Jepang sering memakai make-up tebal memberikan kesan warna kulit putih pucat.  Sementara orang China cenderung memiliki wajah bulat daripada orang Korea dan Jepang. China adalah negara dengan multi-etnis besar, tidak seperti Korea dan Jepang (yang punya etnis lebih  homogen) sehingga lebih sulit untuk membedakan atau mengeneralisasi.
Saat datang di musim dingin, kegiatan orang di perusahaan pertanian tetap berjalan- aktivitas tetap berjalan. Kalau mereka beraktivitas di luar maka mereka harus memakai baju berlapis- lapis. Bisa 4 lapis atau 5 lapis, tidak cukup hanya dengan satu helai baju tebal saja. Kedatangan kali kedua aku masih menginap di daerah Onohara- propinsi Kagawa-Ke, Kecamatan Kawaninggishi. Jaraknya 3 jam naik mobil dari Osaka.
Kota Osaka adalah kota pantai- terlihat banyak pemandangan laut. Sementara daerah tempat  kami menginap di daerah dataran tinggi dan daerah pertanian. Disana kita melihat perbukitan, pergunungan dan kebuh sayur yang luas dan modern. Daerah desa sama bersihnya dengan daerah perkotaan- jadi manajemen tata ruang sudah tersebar dari kota hingga ke desa.
Begitu berjumpa dengan teman lama di asrama, spontan saja kami berbincang- bincang tentang pengalaman masa lalu. Aku juga bertanya tentang suka dukanya sejak aku tinggalkan. Beberapa senior datang padaku dan mereka melaporkan tentang masalah yang mereka hadapi. Namun aku katakan pada mereka bahwa aku datang bukan sebagai karyawan lagi, tetapi datang kali ini sebagai turis Indonesia yang berkunjung ke Jepang. Namun mereka tampak tidak percaya- mereka menduga kalau aku memperoleh perpanjangan kerja disana lagi. Dan mereka membutuhkan aku sebagai kakak senior buat curhat. Tampaknya mereka selalu butuh teman curhat di saat suka dan duka.
Akhirnya  teman- temanku jadi  kaget semuan. Malah saat kunjungan singkat terebut aku sempat diminta untuk mewawancarai karyawan. Dia asli orang Jepang yang ingin memperpanjang masa kontraknya. Meskipun aku orang Indonesia dan berpendidikan rendah- hanya SMA saja- namun mereka menghargaiku. Dimata atasan perusahaan bahwa mungkin aku memiliki kualitas.  Mereka tidak melihat ijazahku tetapi melihat pengalaman lapanganku.
Aku saat mewawancarai dia, bahasa Jepangku agak terbata- bata tidak sebagus bahasa Jepang asli Orang Jepang. Namun ingat dengan perkataan guruku di Batusangkar bahwa di mata orang Jepang asli…bahasa Jepangku yang patah-patah enak untuk didengar. Ya ibarat kita mendengar orang asing menggunakan bahasa Indonesia. Pantas saat aku ngomong Jepang mereka mendengarku  dengan tenang.
Ada yang mengatakan bahwa meskipun aku hanya tamatan SMA- sebagai pendidikan formal- namun wawasanku sama dengan tamatan Universitas, malah seolah-olah aku adalah tamatan pascasarjana. Alasannya aku bisa mengambil keputusan- juga lancar berkomunikasi menurut ukuran  warga non-Jepang. Katamereka bahwa aku  punya wawasan dan punya percaya diri- ya mungkin itu berkat pengalaman dan tuntutan hiduplah yang membuat aku lebih  dewasa- Alhamdulillah….!!!
Terus terang bahwa sebenarnya aku juga banyak belajar dari Sacho- pemilik perusahaan pertanian- Jepang. Dia idolaku dan aku tahu bahwa dia  juga tidak kuliah (tidak tamat universitas). Ia juga tamat SMA namun ia memiliki semangat sukses yang tinggi. Dia berprinsip bahwa dia  tidak mau kalah dan selalu ingin menjadi nomor satu dalam menyelesaikan pekerjaan yang berkualitas. Walaupun Sacho sudah berusia separo baya  dan kadang- kadang terlihat lelah namun ia tidak mau mengatakan “Aku tidak bisa….!!!”  Ia secara tidak langsung punya motto: the nature is the teacher atau alam takambang jadi guru.
Aku masih ingat saat ia menjemputku ke bandara dan aku duduk di depan bersebelahan dengan Sacho. Kami sempat bercerita sepanjang jalan tentang berbagai hal. Aku juga menceritakan bahwa aku sedang menulis buku. Ya buku yang sedang and abaca ini. Yaitu   tentang kisah hidup dan perjalananku selama di Jepang. Ia bertanya tentang apa judul buku dan gambar apa di depannya (?). Judulnya mungkin tentang True Story- menimba motivasi di negeri Jepang.  
 Aku merasakan beda kedatanganku  ke Jepang kali ini. Saat datang pertama kali aku butuh energi  yang besar untuk beradaptasi. Saat itu  aku juga mengalami cultural shock (kejutan budaya)  tentang Jepang. Kedatanganku yang ke-dua, aku merasakan sudah  penuh kemudahan- aku tidak mengalami kekagetan budaya….aku datang karena diundang, mungkin aku orang VIP (Very important person…ha..ha), dan juga kedatanganku penuh surprised.
“Kedatangan ya petama aku banyak merasakan khawatir…kedatangan yang kedua aku merasa enjoy”
Yang membuat aku khawatir saat datang pertama adalah tentang makanannya. Sebagai orang muslim tentu kami berpantangan untuk makan babi. Babi itu haram, sementara dimana- mana di Jepang aku temui betaburan makanan mengandung babi. Namun untuk datang yang ke dua aku sudah tahu banyak cara  mengatasi permasalahan hidup/ makanan. Bedanya hanya aku kaget dengan beda cuaca yang sangat kontra antara Indonesia dan Jepang. Sekarang kalau aku pergi ke restaurant aku perlu membaca dan mengenal kanji untuk nama babi: sosis, ham dan pig.
Rata rata kalau kita makan mie di Jepang, diperkirakan ada unsur babi- paling kurang mengandung minyak babi. Tetapi kalau Sacho yang mengajak kami makan, maka ia  akan mengatakan tentang “some do’s dan some don’t’s” - yang boleh dan yang tidak boleh- tentang makan bagi orang Islam. Satu lagi kedatanganku kedua ke Jepang, bahasa Jepangku sudah semakin bagus.
E. Kehangatan Persahabatan
            Kualitas persahabatan sangat penting- apalagi saat kita berada jauh di rantau orang. Sahabat  bisa menjadi obat bagi kesehatan jiwa kita. Aku merasakan hal yang demikian. Saat kita lagi dilanda galau, saat kita diterpa rasa duka maka kehangatan pergaulan sangat berarti. Dimana kita bisa mengadukan keluh- kesah perasaan pada teman, maka ini bisa menjadi sitawa sidingin- pelipur lara bagi kita.
            Aku merasa surprised bisa datang ke Jepang lagi dan aku sengaja tidak memberitahu kedatanganku pada teman-teman dan mantan atasanku yang aku anggap sebegai teman di Kagawa- Oonishinorio San yang mengundangku- juga demikian. Dia juga tidak menginformasikan kedatanganku pada teman lain. Kami khawatir kalau kosentrasi kerja mereka terganggu  oleh kedatanganku. Junior- juniorku yang berada di asrama juga tidak tahu kalau- kalau aku datang. Mereka tahu bahwa aku di Jepang saat aku mampir ke asrama mereka. Mereka marah semuanya:
            “Kenapa kak Sefrita (Kak Oshin) sudah 2 minggu berada Di Jepang tak bilang- bilang, Kak Oshin sudah sombong sekarang. Kenapa Kak Oshin bisa ke sini lagi ?” Gerundel mereka ramai- ramai. 
            “Aku datang ke sini karena diundang oleh perusahaan jadi aku nggak bisa keluar atau berkunjung seenak dewe. Aku tidak bisa keluyuran untuk datang ke sini semau gue saja. Kalau aku ke luar aku harus minta izin pada Oonishinorio San - karena aku selama di Jepang berada pada tanggung jawab dia. Aku tidak punyaKTP- kecuali hanya passport. Kalau kemana-mana  dan terjadi accident maka tentu tanggung jawab beliau”. Aku menjelaskan agak detail.
            Kunjungan ke Jepang yang ke dua kali sangat mengesankan bagi persahabatan kami. Begitu sampai di Jepang aku diajak makan bersama oleh perusahaan, aku berjumpa teman dan aku sengaja  membawakan  oleh- oleh buat mereka. Oleh-oleh yang aku bawa bisa membuat mereka jadi kangen pada tanah air. Aku bawakan mereka “randang talua (rendang telur), kerupuk ikan dari Lampung, kerupuk pisang khas Lampung, pisang coklat, kerupuk sanjay, batiah” dan juga aku bawakan mereka baju kaus dengan merek Jepang yang aku pesan khusus buat mereka sejak dari Batusangkar.
            Oleh- oleh tersebut aku persiapkan buat orang Indonesia dan juga orang Jepang. Oleh- oleh penganan yang aku bawa membuat orang Indonesia dan juga orang Jepang teringat dengan Indonesia- Batusangkar, Padang dan Bukittinggi. Jadi mereka makan dengan feeling atau emosi mereka.  
            Bagi orang Jepang sendiri, mereka menyukai karupuak balado (keripik balado). Meskipun rasanya pedas- membuat mata berair,  tetapi mereka berusaha untuk menikmatinya. Apalagi di Jepang tidak ada singkong- jadi mereka sangat menyukai keripik singkong balado- “Enaaak…..!!!” kata mereka.
            “Mengapa ya aku diundang oleh Sacho..dan mengapa aku seolah- olah menjadi penting di matanya ?” Ya mungkin Sacho punya kesan positif dengan kinerjaku. Karena dulu sebelum pergi kelapangan- dalam meeting- aku aktif berbagi ide dalam membuat rencana kerja sebelum terjun ke lapangan. Jadi aku sering bertukar pikiran dengan beliau.
            Aku dulu mengurus bidang pembibitan- aku harus tahu dengan kadar tanah dan kadar suhunya. Aku rasanya sangat bersahabat dengan tanaman- maka saat beraktivitas aku rasanya bercerita- cerita dengan tanaman tersebut, sehingga aku jadi tahu banyak tentang pembibitan. Itu yang membuat  aku bisa menjelaskan proses pembibitan dan penanaman yang baik pada teman- teman dan juga pada Sacho.
            Dulu saat ada kunjungan dari luar, aku pernah diminta oleh Sacho untuk jadi Host (tuan rumah) untuk menjelaskan  segala sesuatu tentang pertanian: proses pembibitan, penanaman dan panen. Ada yang mengatakan bahwa aku juga punya bakat sebagai leadership buat para junior di perusahaan. Jadi alhamdulillah  Sacho berkesan dengan kemampuanku.
            “Bakatku apakah sebagai leader atau konsultan buat para junior tidak pernah aku ketahui. Mungkin bakat ini muncul mengalir bersama waktu. Jadi saat aku mengajar atau menjelaskan prosedur pertanian pada junior aku jelaskan dengan tenang- tanpa pernah emosional. Kalau kita berkata dengan nada tinggi atau marah, tentu orang yang mendengar bakal jadi mendongkol dan merasa kurang enak. Karakter junior bermacam- macam, ada yang butuh ditegur/ dimarahi, ada yang butuh diberi warning agar bekerja, ada yang butuh kelembutan baru berbuat/ bekerja".
            Bakat leadership kita juga bisa muncul dan berkembang melalui aktivitas yang kita lakukan. Aku sendiri dulu aktif dalam kegiatan pramuka, karena pramuka membuat kita mandiri, percaya diri dan berani serta beranggung jawab. Tamat SMA  jiwa leadershipku menjadi tumbuh. Paling kurang  buat diri sendiri dan juga buat memimpin adik- adik. Apalagi aku sadari aku tidak punya ayah, kami berasal dari keluarga broken home, ya aku harus menjadi leader.
            Tamat SMA aku tentu harus punya fikiran, punya  visi untuk mengangkat harga diri. Aku tidak mungkin bisa kuliah- karena tidak punya cukup uang. Solusinya aku harus berfikir untuk mencari kerja. Ya itulah melalui perjuangan dan usaha hingga aku sampai di Jepang. Leadershipku juga aku salurkan buat membimbing para junior dalam bekerja di perusahaan.
            Kehangatan orang Jepang  aku rasakan  sama saja dengan orang  kita. Kalau kita smart maka mereka (Jepang)  juga ada yang smart dan kalau kita loyo maka mereka juga ada yang loyo. Pekerja asal Indonesia juga bekerja dengan semangat tinggi. Semangat atau tidak tentu saja tergantung suasana hati atau motivasi.

F. Plus Minus Orang Jepang dan Orang Kita
            Teman- temanku di kampung (Batusangkar)  sering bertanya: Apa sih beda orang Jepang dan orang Indonesia (?). Namun aku cenderung mengatakan beda orang Jepang dengan orang kita atau pribadi kita sendiri tentu saja. Misal dari segi parenting- atau bagaimana menjadi orang tua yang ideal, bedanya cukup banyak.
“Apa beda parenting gaya orang  Jepang dan parenting gaya orang kita di negeri kita ? Jawabannya- banyak bedanya”. Kalau ada sekumpulan anak Jepang dan sekumpulan anak anak kita yang jelas  akan terlihat perrbedaan mereka. Beda yang terlihat tentu dari sisi yang negatifnya dan tujuannya buat instropeksi bagi kita. Anak-anak di Jepang, misalnya, mereka sangat  well behaved- perangainya baik, sedang anak- anak kita banyak yang berperilaku ala negara dunia ketiga. Misal anak kita suka mencoret- coret, merusak fasilitas umum atau tawuran. Ngomong- ngomong mengapa hal ini bisa terjadi? Penyebabnya adalah:
1) Parenting orang kita bersifat permisif dan kurang disiplin.
Permisif  maksudnya semuanya diperbolehkan, banyak pemakluman. Sering orang tua berpendapat, toh masih anak-anak jadi maklum saja. Anak-anak punya kecenderungan untuk mencoba melawan batas. Sebetulnya melarang anak bukan menekan kreatifitas. Kreatifitas harus terus didukung, tetapi juga harus pada tempatnya. Misal, anak suka bermain bola. Tentu saja mereka harus bermain bola di lapangan bola. Bukan di sembarang tempat dalam ruangan sehingga kaca- kaca bisa pecah.
2) Anak diasuh pembantu (sebagian orang).
Pembantu tentu saja tidak punya kekuasaan dan kemampuan untuk melarang dan mendidik. Dan banyak orang tua yang merasa punya duit yang terlalu menyerahkan anaknya kepada pembantu karena tidak ingin repot, tidak ingin diganggu waktunya sehingga anak kurang mendapat perhatian dan pengawasan.
3) Kurangnya empati dan budaya egosentris.
Sebahagian kita selalu memikirkan diri sendiri terlebih dahulu, baru orang lain. Kita tidak peduli jika kelakuan sang anak mengganggu hak orang lain.
4). Miskin dengan pesan Karakter Positif
Kita lupa untuk melatih dan membudayakan disiplin dan mudah lagi melanggar disiplin. Belajar untuk bergantian dan bersabar terhadap mainan saja sulit dilakukan. Akibatnya anak- anak kita terbiasa main rebut. Kata-kata “tolong, terima kasih dan maaf”  pun jarang terucap dari mulut orang tua sendiri.
5) Pengaruh buruk media TV yang banyak menyiarkan kekerasan dan berita-berita
     negatif.
Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka dengar dan lihat di televisi. TV kita menganut filsafat “bad news is good news, jadi berita/ programnya banyak yang buruk”. Jika anak- anak terus menerus terpapar berita kekerasan maka lambat laun mereka merasa bahwa kekerasan adalah hal yang lumrah dan biasa bagi mereka.

Menjadi Maju Tanpa Meninggalkan Budaya Bangsa



 Menjadi Maju Tanpa Meninggalkan Budaya Bangsa
            Meskipun bangsa Jepang sudah maju dan modern, mereka tidak perlu menjadi bangsa yang individualis. Aku merasakan orang Jepang masih berkarakter suka menolong. Saat aku punya masalah dan aku mengungkapkan masalah tersebut pada teman, mereka mau mendengar dan memberi solusi. Hal ini akan berbeda dengan karakter orang Barat yang tidak suka mendengar keluhan kita, dengan alasan bahwa mereka juga punya banyak masalah. Memang aku akui, bahwa orang maju- Orang Barat dan juga orang Jepang- mereka tidak terbiasa untuk berkeluh kesah. Orang yang banyak keluh kesah menggambarkan fikiran yang cenderung menjadi kerdil.
Itulah kenyataan yang aku lihat/ aku rasakan tentang beda orang Jepang dengan orang Barat[1]. Namun berikut ini beberapa perbedaan dan persamaan orang Barat dan orang Jepang. Dalam pergaulan kita rasakan bahwa orang Barat suka berterus terang dalam menyampaikan pendapat, orang Jepang dengan ekpresi yang pelan dan hati- hati. Di Restoran, Orang Barat berbincang-bincang dengan suara pelan, orang Timur berbincang-bincang dengan keras, namun orang Jepang juga dengan suara pelan.
Boss orang Barat menganggap dirinya sederajat dengan bawahannya, boss orang Timur menganggap dirinya superior. Orang Barat dan juga orang Jepang biasanya tepat waktu. Orang Barat dan orang Jepang dulu menggunakan menggunakan mobil, dan sekarang menghargai sepeda (karena takut pemanasan global). Orang timur: dulu menggunakan sepeda, sekarang suka menggunakan mobil (karena kemajuan jaman). Orang Barat dan orang Jepang suka menyelesaikan masalah, bukan menghindari masalah. Saat berwisata, orang Barat biasanya hanya melakukan sightseeing, orang Timur biasanya banyak melakukan foto-foto. Orang Barat cenderung individualis, orang Timur dan juga orang Jepang suka bersama-sama, prilaku ini terlihat dalam kegiatan tour mereka.
1) Orang Jepang tidak Pelit
            Rata-rata orang mengatakan bangsa Jepang itu pelit. Termasuk anggapan aku sendiri waktu dulu. Aku yakini sekerang berdasar pengalaman hidup disana bahwa mereka tidak pelit, namun mereka tidak suka asal memberi. Kalau memberi sesuatu musti ada alasannya- untuk apa uang itu diberi.
Di Jepang, untuk apa uang diberikan  haruslah jelas, tidak peduli suami isteri atau di dalam keluarga sekali pun. Pinjam uang berarti harus dikembalikan. Ini adalah prinsip dan budaya di Jepang. Jadi seorang kakak meminjam satu juta yen dari adiknya, harus mengembalikan satu juta yen, kalau perlu ditambah bunga pinjaman. Tidak ada romantisme di dalam keluarga, apalagi  kalau sudah menyangkut uang.
Itu sebabnya mungkin Jepang bisa berkembang maju di bidang ekonomi, karena sejak dari lingkungan keluarga saja sudah ada penggarisan yang jelas bahwa uang tak bisa digantikan kata “kasihan” sehingga uang pinjaman memungkinkan tidak kembali. Ini adalah segi  positif dari bidang ekonomi dan ini juga membuat orang Jepang tidak suka menjadi “tangan di bawah, orang yang suka meminta- minta, butuh belas kasihan”. Dalam pergaulan, teman yang minjam uang, uangnya harus dikembalikan. Namanya saja pinjam, jadi harus dikembalikan. Kebiasaan ini sulit buat kita terapkan, apalagi kalau sudah menyangkut keluarga.
“Ah kamu sama adik sendiri kok pelit banget, kita satu keluarga berhitung amat sih”. Begini komentar anggota keluarga lain kalau mereka tahu ada pinjam meminjam antara adik- kakak di dalam keluarga.
Ketegasan soal uang ini membentuk pengusaha Jepang tidak bisa menerima perlakuan korupsi. Satu yen yang mereka dapat dari keringat mereka, "Kok enak saja minta uang dengan cara korupsi? Kan mereka sudah digaji," begitulah keluh mereka.
2) Orang Jepang Ramah dan Baik.
Orang Jepang adalah orang timur juga dan orang timur terkenal dengan keramahannya. Keramahan orang Jepang aku rasakan saat terbang bersama pesawat Malaysia Airline dari Kuala Lumpur menuju Osaka. Teman sebangkuku adalah seorang pria Jepang, kami ngomong  dan aku merasakan bahwa ia sangat ramah. Temanku yang lain dari Indonesia juga merasakan bahwa bangsa Jepang adalah bangsa yang ramah.
 Ini adalah pengalaman seorang teman. Sebut saja teman tersebut bernama Emi Surya, Nadilla dan Fachrul. Saat dia sampai di Osaka, mereka tidak mencatat map tempat hostelnya. Kebetulan bertemu dengan orang Jepang yang tinggal di Osaka dan baru pulang dari dinas. Dia membantu  mereka  mencari tempatnya, bener bener membantu hingga bertemu alamat yang mau dituju. Padahal dia bawa koper juga. Awalnya Emi Surya berfikir kalau- kalau mereka  mungkin searah, tapi lama kelamaan Emi Surya berfikir bahwa orang Jepang itu sangat tulus. Orang Jepang itu bertanya tentang nama  hostelnya, terus dia mengeluarkan ePad-nya dan  searching di Internet. Ternyata ternyata mereka salah jalan, dan dia memberi tahu jalannya, dan juga diantar sampai ke pintu hostel. Baik banget….!!.
Di perjalanan Emi Surya ke tempat penginapan menggunakan bis. Pada saat itu Emi Surya membawa koper yang dia letakkan di tengah jalan (tempat orang berdiri). Emi Surya duduk di bangku yang sebelahnya masih kosong, tapi tidak mungkin kopernya ditaroh, sempit banget. Dan banyak orang Jepang yang tereganggu sama kopernya, lagi jam pulang kantor sepertinya. Tapi, tidak ada yang memintanya  untuk geser atau apapun itu. Orang Jepang sangat baik, tidak mau mengusik orang lain.
Perjalanan pulang grupku dari liburan ke asrama, ada  banyak anak- anak dan remaja pengendara sepeda yang kami halangi jalannya, jadi mereka perlu membunyikan klakson sepedanya. Ya, cukup klakson sepeda yang enak didengar tanpa ada mulut yang berbicara. Beberapa teman dan aaya punya pemikiran yang sama.
“Wah kalau di kampung kita, orang yang terhalang jalannya akan membunyikan klaksonnya dan juga pakai mulut, mungkin mengomel pada kita. Tutur kata mereka- kalau lagi sedang ngobrol- menurutku sangat ramah, seakan-akan mereka menghormati lawan bicaranya. Ditambah dengan gaya salam yang membungkuk”.
Tentu saja bahasa dan karakter yang sopan santun karena system pendidikan di sekolah juga faktor di rumah.             Orang tua memberi model untuk berbahasa sopan pada anak-anak, sopan santun amat penting dalam pergaulan sosial.

C. Hormat dengan Membungkukkan Badan
Kalau kita perhatikan orang Jepang punya kebiasaan yang unik, yaitu membungkukan badan hampir di setiap saat, seperti ketika bertemu kerabat, berkenalan, meminta maaf, mengatakan permisi bahkan ketika mengangkat telpon mereka akan mengangguk sedikit. Kita semua sudah tahu- paling kurang lewat menonton di TV bahwa hormat dengan membungkukan badan sudah menjadi tradisi- budaya mereka[2].
Kebiasaan ini adalah sebuah keharusan bagi orang Jepang dan telah diajarkan semenjak kecil. Membungkuk ala Jepang atau yang disebut Ojigi ini ternyata bukanlah sekedar membungkuk saja, melainkan ada aturan tertentu sesuai maksud dan tujuan serta kepada siapa bungkukan itu ditujukan.
1). Mengangguk Pelan, 5 derajat.
Anggukan ini biasanya dilakukan jika bertemu dengan teman, keluarga dekat atau tetangga. Bagi mereka yang memiliki strata yang lebih tinggi, anggukan ini biasanya digunakan untuk membalas anggukan/ bungkukan yang lebih dalam dengan maksud untuk menunjukan bahwa strata sosialnya lebih tinggi.
2) Membungkuk Salam (Eshaku),15 derajat
Ini merupakan cara formal dalam membungkuk. Fungsinya untuk menyampaikan salam kepada teman atau rekan kerja yang kita ketahui tapi tidak terlalu dekat.
3) Membungkuk Hormat (Keirei),30 derajat.
Ini merupakan cara membungkuk yag sangat formal. Biasanya disampaikan untuk menunjukan rasa hormat kepada atasan, orang yang lebih tua atau yang jabatannya lebih tinggi.
4) Membungkuk Hormat Tertinggi (Sai-Keirei ),45 derajat
Ini merupakan cara membungkuk yang bermakna bahwa si pembungkuk merasa sangat menyesal dan bersalah sehingga ia memohon untuk diberikan maaf. Cara ini juga bisa digunakan untuk memberikan penghormatan kepada orang yang memiliki jabatan atau status sosial yang sangat tinggi,seperti kepada Kaisar Jepang.
5) Membungkuk Berlutut.
Ini merupakan cara membungkuk terakhir yang memiliki arti yang paling dalam. Biasanya dilakukan sebagai permintaan maaf karena telah melakukan kesalahan yang sagat fatal( seperti membunuh). Juga dilakukan sebagai penghormatan kepada raja pada jaman dahulu.


[1] http://henrygunawan.wordpress.com/2009/07/10/perbedaan-orang-barat-dan-timur/
[2] http://jejepangann.blogspot.com/2013/02/ojigi-budaya-membungkuk-orang-jepang.html

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture