Selasa, 07 Januari 2014

Senja di Melbourne



Senja di Melbourne

1. Hotel Rydges
Bis kami berhenti di depan Hotel Rydges. Kami semua turun dan mengambil barang dari lorry dan membua semua barang ke dalam ruang tunggu hotel. Aku mencari tahu segala sesuatu tentang Hotel Megah ini.  Aku membuat perbandingan tentang hotel di sini dan di tanah air. Tentu saja menurut pendapatku.
Hotel –hotel yang pernah aku tempati di Sumatra dan di Jakarta cukup ramai pengunjungi. Hampir tiap detik taxi datang untuk mengantarkan para tetamu. Ini karena penduduk Indonesia sangat banyak. Namun tidak demikian di hotel- hotel Australia, terasa agak sepi juga.
            Sebelumnya aku pernah tinggal di hotel Ibis dan hotel apartemen dan sekarang aku menginap di Rydges Hotel. Hotel ini terletak 22 km dari pusat kota Melbourne. Semua kamarnya dilengkapi dengan air conditioner dan heater. Penggunaan lampu juga cukup hemat, lampu ruangan pada gang akan menyala sesuai sensor dari gelombang tubuh kita.  
            Padabeberapa Hotel di Padang terasa memberi pemanjaan pada tamunya. Dalam kamar hotel kita bisa menikmati beberapa fasilitas seperti WiFi, sandal, televisi, air mineral dan persedian the, kopi, gula dan crème. Semua tersedia dan gratis buat dikonsumsi. Bagi WiFi yang punyapassword kita bisa minta password pada petugas atau front officer.
            Namun tidak demikian dengan hotel yang aku tempati- dan agaknya semua hotel di sini. Hotel Rydges ini memberiku charge $ 12 untuk penggunaan internet, itu untuk penggunaan 24 jam dan itu setara dengan Rp. 120 ribu. Wah kemahalan kalau dikonversi ke mata uang kita- itu bisa untuk biaya internet selama satu bulan. Penggunaan audio visual dan TV musti ada konfirmasi ke pada petugas hotel. Barang kali karena beberapa hiburan di negara ini ada yang layak atau tidak layak buat dikonsumsi secara aman- mungkin ada program film buat orang dewasa. Untuk menjadi warga internasional yang baik, aku berfikir bahwa kita harus bisa beradaptasi dengan way of life orang-orang negara modern.
            Rahman, pemandu kami, segera menemui front desk officer. Kemudian mendatangi untuk membagi bagi kunci dan beberapa pengarahan. Aku memperoleh kunci dan teman satu kamarku adalah Isdarmoko, seorang Kepala Sekolah berprestasi dari Sleman Jogjakarta. Tahun lalu ia juga teman ku saat menerima anugerah dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Guru Nasional di Bogor.Namun Abdul Hajar, peserta dari Makasar, mengusulkan agar kami satu kamar, yak arena kami sudah satu kamar sejak dari Jakarta.
            Ya betul bahwa kami jadi tahu bahwa kami harus membayar untuk pemanfaatan WiFi. Namun aku menunda penggunaan WiFi karena aku merasa kemahalan, sebagai ganti aku memanfaatkan waktu buat menuliskan semua pengalaman pribadi. Di Hotel ini kalau kami minum air mineral maka harus bayar $.3 atau Rp. 30 ribu. Ada yang merasa berat maka mereka boleh merebus air minum dengan tea-boiler yang tersedia pada setiap kamar. Jadinya kami bisa membuat minuman the atau kopi buat menghangatkan perut.      

2. Shark-Fin Inn
            Jam 06.00 sore Rahman menelpon lewat intercome agar kami semua bisa turun ke lantai dasar. Rahman mengajak kami semua buat makan malam di Shark-Fin Inn. Sebuah restoran dan juga penginapan milik orang Asia, aku dengar restoran tersebut milik orang China. Kemudian kami dihidangkan minuman teh ala China dan hidangan lainnya. Masakan China memiliki banyak sajian sayur- tumis sayur- seperti tumis jamur, lettuce, lobak, daun bawang. Yang aku perhatikan adalah tata cara pelayanan hidangan China.   
            Begitu kami duduk melingkari meja, pelayan segera datang menyuguhkan hidangan yang belum disaji- kami diberi satu teko air panas, cangkir, dan teh-malah tidak ada gula. Menjelang tiba hidangan berikutnya, kami semua menyiapkan minuman teh sendiri- sendiri. Dan meminumnya pelan- pelan, karena bibir harushati hati agar tidak kebakar air panas.
            Kemudian dengan gerak yang cekatan, pelayan menyajikan hidangan pembuka yaitu sup jagung. Ya suka atau tidak suka kami harusmenikmatinya. Setelah itu tiba hidangan utama, yaitu nasi dan lauk-pauk- seperti daging bebek, daging ikan, dan tumis sayur. Aku separoh ragu memakan daging bebek- karena penyemblihannya apakah secaraIslam. Maka aku hanya makan ikan saja. Lagi- lagi pelayan datang untuk mengambil piring- piring yang sudah kosong.
            Tawa dan canda kami tidak seheboh saat lapar. Tidak terasahampir semuanya ludes, kecuali daging bebek masih bersisa. Sebetulnya kami tidak mau menyisakan makanan. Pelayan memperhatikan meja kami dan setelah itu kami diberi hidangan penutup yaitu satu piring besar yang berisi irisan jeruk manis- namanya sunripe orange..
            Pada beberapa restoran lain, sebagai hidangan penutup kami diberi irisan buah kiwi, irisan sunripe orange dan juga irisan melon. Aku mengambil porsi sedikit lebih banyak, karena aku khawatir kalau kekurangan vitamin selama di Australia.
            Sajian makanan di restoran China di Australa berbeda dengan restoran Padang- dimana semua semua hidangan disajikan dalam satu termen saja dan mejanya lebih luas. Restoran Australia juga menuntut agar pengunjung berhemat dengan air- di toilet terpajang tulisan untuk penggunaan air yang efisien. Kita jadi tahu bagaimana pemerintah dan penduduk Australia dalam melestarikan air.

3. Menelusuri Kota Melbourne
            Usai makan malam kami tidak langsung pulang ke hotel. Kami memutuskan buat jalan jalan di pusat kota Melbourne di malam hari ini. Lokasinya persis di seputar daerah China town. Lampion- lampion besar bergantungan di sepanjang jalan-lorong kampung Cina. Aku berjalan dan mataku jadi liar untuk melihat pernak pernik yang menggoda mata. Semua adalah pengalaman baru.
            Diriku hampir tenggelam dalam lalu lintas banyak manusia. Pasangan muda-mudi lebih mendominasi pemandangan.namun aku tidak tahu apakah mereka semua pasangan yang lagi jatuh cinta. Kalau mereka adik-kakak/ bersaudara maka tidak mungkin mereka berjalan sambil berpegangan mesra.
            Wah ini kan pengalaman langka, bermalam di kota Melbourne juga langka, apa lagi bila sudah balik ke Indonesia. Tentu bakal jadi sweet memory. Kami menyempatkan diri berfoto-foto bareng. Aku, Nurhadi dan Sumarno- sebagai 3 guru yang yang terpilih terbaik se Indonesia berfoto bareng. Kami berjalan terus…terus di keramaian jalan kota Melbourne. Aku tidak tahu apa nama jalannya dan juga tidak tahu kemana arahnya. Yang jelas sayup-sayup kami mendengar alunan musik pengamen.
            Pengamennya berwajah oriental dan alunan melodinya aku sangat kenal. Rasanya itu lagu tanah air kita. Kalau tidak salah itu lagu keroncong. Ia sangat pintar memainkan lagu lewat gesekan biolanya. Aku fikir bahwa orang Cina itu hanya tahu dengan melodi dan tidak tahu darimana asal lagu itu dan apa judul lagunya. Aku coba mengekspresikan lagu tersebut dan kami sengaja berhenti dekat pengamen itu.
            One…two….three start!!!!. Ku lihat ibu pertiwi….sedang berduka hati…..air matanya berlinang …..” Setelah itu aku, Nurhadi dan Sumarno tertawa riang gembira ke arah pengamen itu.
            Excuse me, what is the song tittle ?” Tanyaku dan pengamen itu menggeleng.
            Where does the song come from?”
            I don’t know….may be from Taiwan”. Kata pengamen itu.
            That’s not true. The song comes from my coutry, Indonesia” Kami menjelaskan dengan bangga dan rasa patriotik kami bangkit.
            How do you learn it ?”
“Just by instinct”.
Kami juga berfoto bareng dengan pengamen itu. Kami kemudian menjatuhkan coin dan berlalu. Dari kejauhan terlihat wajah pengamen itu dengan ekspresi penasaran dan mungkin ia senang kami ganggu lebih banyak lagi. Wah biarlah, biarlah ia berekspressi buat orang banyak.

3. Pengemis Berwajah Ganteng
            Kami merasa pegal karena banyak berjalan. Tidak ada bangku buat duduk, maka kami hanya berhenti di sebuah persimpangan. Hanya beberapa meter saja, di belakang kami ada seorang pengemis- seorang pemuda dengan wajah ganteng. Di depannya ada secarik kertas dan mengekspresikan siapa dia: Tolong..saya seorang pemuda, tidak punya rumah. Ke dua orang tuaku sudah bercerai dan pergi dan tidak pernah mengurusku lagi. Ia terus merokok sambil mengantuk, aku khawatir kalau ia tertidur dan rokoknya terjatuh tentu bisa membakar selimut dan kain woll-nya. Pada akhirnya akan membakar tubuhnya. Moga moga ia tidak demikian.
            “Pengemisnya kok ganteng ya” Celetukku agak berbisik pada teman-teman. Pengemis itu usianya mungkin sekitar 24 tahun. Aku perhatikan hampir tidak ada warga yang lalu lalang memperlihatkan wajah simpatik. Di sana mungkin hidup dalam bentuk- siapa lu, siapa gue. Maksudnya sangat individual.
            Beberapa saat setelah itu aku sempat bertanya lewat Facebook pada teman- pak Dadang- apakah memang demikian nasib gelandangan di Melbourne. Aku memperoleh jawaban bahwa gelandangan adalah urusan pemerintah, biasanya kalau ketahuan maka petugas akan membawa mereka ke panti sosial.  
            Aku tidak punya coin dollar Australia. Kalau jatuhkan satu lembar rupiah Indonesia juga tidak ada artinya bagi pengemis tersebut. Akhirnya aku kembali melemparkan pandangan ke arah lain. Gerak jalan orang orang malam begitu cepat. Muda mudi yang berjalan mesra tetap mendominasi pemandanganku. Ada yang bergandengan dan yang berangkulan cukup erat.
            Aku fikir bahwa kemesraan mereka melebihi kemesraan di depan publik di negaraku- paling kurang untuk kota Padang, Bukitinggi, Batusangkar, untuk Sumatera Barat. Anak anak muda di kota Padang belum berani berjalan semesra anak-anak muda di Melbourne ini. Kemesraan di kota ini merefleksikan juga adanya gaya hidup free-sex.

4. Sepasang remaja bertengkar
            Aku jadi kaget malam ini. Tiba-tiba sepasang remaja yang jalannya beda dari yang lain- memperlihatkan ekspresi ngambek, tiba tiba jadi berantem. Mereka hanya berbicara beberapa kata dalam bahasa yang aku tidak mengerti. Gadis cantik itu jadih sedih dan marah, ia berlari dan cowoknya mengejar dari belakang. Ia ingin menyambar lengan gadis itu untuk mencegah aga tidak berlari dan bersikap seperti demikian.
            Aku fikir bahwa tingkat emosional anak anak muda banyak yang tidak stabil. Untuk meredakan emosi sebagian mencoba lewat merokok. Namun pada banyak tempat merokok di larang. Di hotel. Di restoran dan dalam gedung merokok amat di larang. Sebagai solusi banyak orang sengaja merokok dalam kota.  Mereka berdiri dan berhenti dan sengaja buat merokok. Puntung rokok segera bertebaran di mana- mana dalam kota.       

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture