Jumat, 09 Januari 2015

Berkabung atas Kepergian Siswaku Buat Selamanya



Berkabung atas Kepergian Siswaku Buat Selamanya
            Seperti yang aku katakana bahwa saat aku masih sebagai guru baru, maka siswaku terasa seperti teman saja. Misalnya aku cukup dekat dengan seorang siswi, namanya  Puspa. Siswi yang satu ini cukup cerdas, meski berdomisili di pedesaan dan seharusnya ia memakai bahasa Minang, namun Puspa dalam keluarga memakai bahasa Indonesia, dan memakai bahasa Minang dengan para tetangga.
            Aku sering berkunjung ke rumah Puspa di Buo dan ngobrol dengan ayah, ibu dan adiknya. Ternyata ayahnya punya bisnis kebun sayur di Panipahan, sebuah kecamatan kecil di Sumatera Timur. Produksi sayurnya diekspor ke Malaysia. Aku rasa bahwa ayahnya memiliki pemikiran yang cukup maju.
            Puspa ingin melanjutkan kuliah setelah tamat SMA N Lintau Buo ke fakultas hukum. Hari itu ayah dan ibunya mengantarkan Puspa buat mendaftar di  Universitas Bung Hatta dan pulang dengan menyewa taxi. Tiba- tiba kami -seluruh siswa dan guru- jadi tersentak kaget karena taxi yang mereka tumpangi terjun ke dalam sungai kecil (Batang Tampo) dekat kaki gunung Sago. Puspa dan ibunya mengalami luka luka serius dan kepalanya mengeluarkan banyak darah. Dalam kondisi kritis keduanya dengan tenang selalu berzikir dan bersitighfar. Akhirnya mereka berdua meninggal dunia karena kehabisan darah dan jasad mereka dikuburkan dalam satu kuburan di Buo.
            Aku merasa sangat terpukul dan sangat berduka atas kematian mereka. Apalagi ayah dan dua orang adik Puspa tentu lebih terpukul dan sangat kehilangani. Selama hari-hari berkabung aku sering berkunjung ke rumah almarhumah Puspa dan ibunya  buat berbagi duka sambil membahas kelebihan-kelebihan Puspa dan juga ibunya. Sebetulnya kami belum ikhlas kalau Puspa dan ibunya meninggal lebih cepat (kata Bapak Syaiful, ayahnya Puspa), namun Allah tentu Maha Tahu atas segala sesuatu.
            Ada lagi siswaku  yang sering mampir ke kosanku namanya Heru Darsono. Ia saat itu kelas 3 jurusan Fisika (kampungnya di Pasir Lawas Sungai Tarab). Ia berwajah cakep dan baik hati. Meski ia adalah siswaku namu ia aku anggap sebagai temanku sendiri. Kalau ia datang ke kosanku maka  aku suka bikin mie goreng buat kami makan bareng. Kadang-kadang aku juga mengajarnya  Bahasa Inggris agar dia bisa lebih cerdas.
            Lambat laun kemudian Heru Darsono terlihat kurang ceria, aku nggak tahu kalau ia sakit. Malah karena kulitnya putih maka aku nggak bisa membedakan kalau ia pucat. Namun matanya terlihat kekurangan darah.
Ia akhirnya tamat dari SMAN 1 Lintau dan sakitnya mungkin bertambah parah. Aku kemudian tidak berjumpa lagi dengan nya untuk waktu yang cukup lama dan aku dapat kabar bahwa ia telah meninggal karena mengalami sakit jantung. Ia menderita gangguan katup jantung yang bocor. Aku selalu merasa sedih dan sangat berduka dengan kematian Heru Darsono- muridku dan sahabatku yan terbaik.  Peristiwa menyedihkan seperti ini membekas pilu di hati. Tidak saja aku, tentu teman-temannya dan apalagi orang tua dan kaum kerabatnya tentu sangat kehilangan. Ya Allah sayangilah Heru Darsono, berilah dia tempat yang damai di sisiMu, amiin. Aku ingin tahu bagaimana dengan jantung bocor itu (?).
Jantung bocor[1] adalah suatu kondisi dimana terdapat lubang pada sekat jantung akibat kelainan struktur jantung. Umumnya, penyakit jantung bocor merupakan penyakit bawaan sejak lahir. Karena itu, banyak penderita jantung bocor merupakan anak-anak. Angka penderita jantung bocor cukup tinggi. Mengapa jantung bocor bisa terjadi? 
Proses terjadinya jantung bocor bisa terjadi sejak masa pembuahan pada wanita yang akan hamil. Proses pembentukan jantung janin terjadi pada masa awal pembuahan (konsepsi). Formasi jantung seharusnya telah sempurna pada akhir masa trimester pertama kehamilan. Namun, tidak demikian halnya pada bayi yang mengalami jantung bocor.
Beberapa gejala jantung bocor bisa dilihat dari kondisi berikut: Mudah lelah, nafas pendek, sering batuk, khususnya di malam hari; dada berdebar kencang, buang air kecil terlalu sering, sering merasa sakit di dada, sesak nafas, mudah pingsan, dan sering pusing. Sedangkan gejala penyakit jantung bocor pada bayi dapat dicurigai apabila bayi tersebut gampang sakit, berat badannya tidak naik-naik, susah minum susu, atau gampang kelelahan. Jadi baiknya kita anjurkan buat ibu hamil  disarankan untuk mengonsumsi makanan yang bergizi tinggi. Sebab buruknya gizi dapat berpengaruh besar terhadap ketidaksempurnaan jantung janin. Hal Itulah yang kemudian menyebabkan jantung bocor terjadi.
            Lain lagi dengan muridku yang bernama Marijan. Ia sudah sakit selama dua minggu dan nggak datang ke sekolah. Barangkali ia sakit biasa-biasa saja. Maka aku dengan dua orang siswa memutuskan buat mengunjungi rumahnya yang berlokasi dekan Pangian. Dan setelah sampai di sana aku jumpai Marijan ya memang sakit, ia nggak mampu berdiri- mengalami kelumpuhan.
            Tentu saja aku nggak tahu apa penyebabnya. Aku menyarankan agar orang tuanya membawa Marijan pergi ke Puskesman. Barangkali ia mengalami sakit karena kurang gizi. Dan setelah dirawat selama beberapa kali akhirnya Marijan sembuh, bisa berjalan dan kembali ke sekolah.  

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture