Jumat, 09 Januari 2015

Fikiran Kacau, aku Mudah Tersesat



Fikiran Kacau, aku Mudah Tersesat
Ya Allah kenapa fikiranku terasa sangat kacau, kosentrasiku mudah buyar. Bisa jadi aku masih dilanda oleh krisis identitas diri dalam usia menjelang tua. Krisis identitas diri membuat pola fikiranku juga ibarat remaja- gampang berantakan dan mudah emosional. Aku seolah- olah menjadi orang yang kurang bersyukur.
Dan kalau aku tidak bersyukur maka pasti cobaan dari Tuhan akan aku rasakan, mungkin dalam bentuk cara berfikir yang kacau balau (?). Moga-moga tidak ..ya Allah.” 
            Aku tahu dengan ayat yang berbunyi “la-in syakartum, la-azidannakum, wa-inkafartum inna azabin la-syadid”. Artinya bahwa “kalau engkau bersyukur maka nikmat Allah akan ditambah, namun kalau tidak bersyukur, maka diberi azab”.
            Aku nggak mau mengatakan bahwa diriku nggak bersyukur dengan nikmat Allah. Aku sangat bersyukur pada Allah atas anak-anak yang cakep cakep, istri yang baik hati, rumah mungil yang damai, sanak saudara yang kompak. Dan aku bersyukur memperoleh kesehatan badan dan juga fikiran yang berkualitas dan otak yang selalu senang diajak buat belajar serta kesempatan yang banyak dalam menerima hadiah dan kesempatan buat berpergian ke luar negeri.
            “Ya....insyaallah aku selalu bersyukur pada Allah. Kali ini mungkin kadar syukurku sedikit rendah, perjalananku  menuju ke Tanah Suci aku lakukan mungkin bercampur dengan keinginan duniawi, yaitu keinginan buat berwisata. Entahlah aku juga nggak tahu cara mendeskripsikan hatiku kali ini. Dan memang aku mulai merasakan problem, yaitu saat berada di bandara Jeddah”.
Itu berpangkal karena aku masih dilanda oleh pubertas kedua- ingin selalu menjadi muda dan tidak siap buat menjadi tua. Ini adalah rahasia hatiku yang sudah aku ekspose dan aku rela semua orang tahu, karena mereka bisa mengambil pelajaran dariku”.
            Mengapa aku dan beberapa orang lain termasuk yang harus dipisahkan oleh petugas Bandara King Abdul Aziz di Jeddah ? Apa aku bertampang kriminal, kayaknya tidak. Tampangku sedikit seperti orang oriental atau orang Thailand. Dan aku juga nggak membawa bahan makanan, minuman yang cair dan tidak mungkin aku juga membawa drug. Aku bertanya mengapa aku termasuk orang yang ditahan begitu sampai di immigrasi, dan mereka menjawab:
            Your face is not quite the same with your face in photograph”. Astaghfirullah... itu terjadi karena aku telah memoles  penampilanku menjelang keberangkatanku ke Tanah Suci. Dalam photo pada paspor, wajahku terlihat sudah separoh baya dan pada wajahku- aku terlihat lebih muda sebanyak 10 tahun. Haa... ha...karena rambutku aku hitamkan. Ya jadinya  aku terlihat sangat muda. Aku juga merasa senang dikatakan sangat muda. Namun petugas bandara meragukan wajahku (?)
            Perjalanan panjang dari Jeddah menuju Madinah kemudian kami lalui. Saat itu sudah lepas tengah hari. Diperkirakan perjalanan antar dua kota ini  berjarak 600 km. Dan mobil kami cukup bagus hingga bisa menempuh jalan raya yang lebar, lurus dan bagus. Agaknya kecepatan mobil kami sangat tinggi dan aku nggak merasakan. Aku melantunkan doa-doa dan juga zikir-zikir untuk memuji kebesaran Illahi. Sekali sekali mataku menangkap pemandangan yang berbeda dengan pemandangan di tanah air.
“Di sini serba pasir, tanah tandus dan di kampungku- di Indonesia- geografinya banyak air dan alamnya sangat  hijau”.
            Kami melintasi padang pasir yang tandus.  Aku melihat ada sekumpulan perumahan yang terbuat  dari beton. Suasana lingkungannya juga terlihat  tandus. Mungkin itulah yang namanya perkampungan atau pedesaan di Arab Saudi.
Cahaya lampu listrik memang berlimpah. Yang tidak aku lihat adalah air, sungai atau rumput-rumput yang hijau. Aku melihat bukit dan gunung, namun semuanya bukit dan gunung dari batu cadas yang tandus. Ya aku hanya melihat bukit atau gunung berbentuk tumpukan tanah dan batu raksasa.
Seperti apa ya rasanya hidup sebagai warga pedesaan Arab Saudi ??”.
            Akhirnya kami sampai di kota Madinah setelah larut malam. Kami memperoleh akomodasi- yaitu kamar hotel yang jaraknya dekat dengan komplek Masjid Nabawi, dan kami bisa tertidur buat dua jam dan setelah itu azan subuh pun berkumandang.
Aku melihat bahwa ruangan mesjid Nabawi sangat luas  dengan banyak pintu. Semua pintu terlihat sama. Moga- moga aku tidak akan lupa jalan buat pulang, apalagi hotelku, Hotel Andalus lokasinya persis dekat mesjid Nabawi. Nampak saja jalan menuju mesjid dari kamarku di lantai 4 hotel ini.
            Diam- diam  aku terbangun dan aku pergi sholat tahajud sendirian. Aku nggak perlu membawa dan mengajak teman, mereka terlihat kelelahan. Itu karena mereka rata rata berusia lebih tua dariku. Aku turun hotel dan segera menuju mesjid Nabawi.
Mesjid ini selalu ramai dikunjungi jamaah dari seluruh dunia, baik siang maupun malam. Apalagi banyak jemaah ingin sholat di dekat Raudah, yaitu salah satu tempat dalam mesjid yang dalamnya ada 3 kuburan, termasuk kuburan Baginda Rasulullah. Kalau bisa sholat dan berdoa di sana maka pahalanya lebih  besar dan doa kita akan  lebih diijabah- dikabulkan oleh Allah Swt- iya moga moga demikian, amiiin.
            Aku mengerjakan dan menikmati sholat sunnah demi sholat sunnah sebanyak mungkin. Sholat tahajjud, kemudian sholat lailatul fajri, aku ke luar mesjid buat memperbaharui udhukku dan aku menunaikan sholat tahyatul masjid dan akhirnya sholat subuh. Usai mengerjakan sholat subuh aku berdoa dan berzikir dan kemudian berbincang bincang sedikit dengan jamaah. Misalnya aku ngobrol dengan jamaah yang berasal dari Canada dan juga dari India. Mereka terlihat sangat taat dan khusyuk. Akhirnya aku merasa lapar dan ingin keluar mesjid buat mencari sarapan pagi di hotel Andalus.
Astaga, kok aku jadi nggak tahu jalan menuju hotel. Mungkin karena kami datang malam hari dan setelah hari terang semua gedung terlihat sama. Aku jadi lupa dengan jalan menuju pulang ke hotel”. Aku mencari cari jalan buat menuju ke hotel.
Rasanya aku berjalan sudah cukup jauh, rasanya udah melebihi jarak ke gerbang hotelku. Gerbangnya memang tidak ada. Aku  bertanya pada jamaah berbahasa Melayu. Dia tampaknya cukup tahu dengan lokasi hotel Andalus.
            Aku mendengar dan memperhatikan nasehatnya. Aku berjalan sendiri mengikuti petunjuknya. Namun aku jalannya kok melingjar dan jadi lebih jauh. Aku Tanya pada jamaah lain, ia juga terlihat tahu dan ia memberi aku deskripsi letak hotel, aku yakin tentu juga salah. Aku khawatir nanti aku kecapekan. Sementara uangku tertinggal di hotel dan juga kartu identitasku.
            “Ahhh kedua orang tempat aku bertanya tidak tahu, namun mereka terlihat seperti orang yang tahu. Aku jadi ingat dengat pribahasa: Kalau sesat di jalan, jangan malu bertanya, namun aku bertanya pada orang yang salah dan aku tambah sesat lagi”.
Akhirnya aku kembali menuju mesjid Nabawi, karena jelas terlihat karena kompleknya sangat luas. Aku kembali berudhuk dan sholat sunnah. Setelah itu aku ucapin salam. Kemudian aku melihat beberapa jamaah dengan menggantung konkarde dan talinya berwarna hijau. Warna tali konkarde hijau adalah milik grup kami. Maksudnya mereka adalah rombongan kami dari grup umroh “Armina Jaya tur.
Alhamdulillah aku merasa lega. Aku buru buru  bergabung dan mendekati mereka dan ngucapin salam. Aku malu mengatakan bahwa aku tadi sudah tersesat jalan saat mau pulang dari mesjid. Jadinya aku saat itu terlihat sangat patuh dan berjalan mengikuti mereka. Ternyata untuk mencari lokasi Hotel Andalus sangat mudah, ya caranya adalah hanya dengan mlihat saja sebuah jam di ujung pada halaman Masjid Nabawi kemudian,  lihatlah  ke arah kanan akan terlihat tulidan “Hotel Andalus”. Alhamdulillah aku merasa lega dan gembira.
Sempat Tersesat
            Dasar aku termasuk orang kelewat PD (Percaya Diri), karenanya aku nggak mau terlalu bergantung pergi ke mesjid. Soalnya jarak hotelku ke mesjid cukup dekat, Mesjid Nabawi bisa terlihat dari hotel. Sehingga aku jadi rajin sekali melakukan sholat dhuha dan sholat sunnah lainnya. Disana aku suka minum air zam-zam. Ada dua macam air zam-zam, yaitu yang dingin dan yang tawar. Aku suka meminum kedua- duanya,
            Aku memutuskan sholat pada posisi lebih ke depan. Mesjid Nabawi memiliki pintu yang sangat banyak. Semua pintu-pintunya untuk masuk mesjid terlihat sama. Jadinya saat aku melakukan sholat sunnah, petugas kebersihan lagi bersih-bersih lantai mesjid dan suasana agak sepi. Tikar sholat dibongkar dan aku jadi nggak mengenal lagi arah kiblat. Aku sholat sunnah pada salah satui tikar dengan khusuk. Tiba-tiba salah seorang petugas kebersihan menghampiriku dari belakang. Memegang tubuhku, mohon maaf dan mengobah arah tubuhku (arah sholatku). Katanya bukan begini:
 The direction of kiblat is over here, and not over there,... I am sorry !!!”. Setelah itu ia kembali bekerja. Aku berterima kasih, mematuhinya dan juga merasa malu dalam hati karena aku sholat dengan salah yang arah.
            Kami para jemaah Umroh dari grup Armindo Jaya Tur telah berada di mesjid Nabawi selama satu minggu. Aku bersyukur dan menyadari bahwa aku sudah diberi uang (anggaran) yang banyak buat melakukan ibadah umroh sebanyak mungkin.  Maka aku rajin mengunjungi masjid ini, buat sholat sunnah, berzikir .....ya karena lokasinya dekat dari hotel kami.
            “sekarang aku sudah tahu jalan pergi dan jalan pulang. Aku juga senang berekspolari mengenal lingkungan mesjid. Tempat berwudhuknya sangat bagus berupa gallery yang cukup jauh dan untuk mencapainya kita harus berjalan beberapa meter dan menggunakana escalator buat turun. Ya ..maklum inikan lokasi berwudlu internasional buat digunakan oleh jamaah internasional- yang datang dari berbagai negara di dunia.
            Lain waktu aku sholat di mesjid Nabawi pada posisi yang lebih di depan. Agar sandalku tidak hilang maka aku bungkus sandal dengan plastik dan aku selipkan pada sebuah tonggak dalam mesjid. Habis melakukan sholat aku mencari sandalku, namun aku lupa pada tonggak yang mana aku selipkan sandalku, jadinya aku lupa dengan letak sandal tersebut. Soalnya dalam mesjid yang sangat luas itu terdapat ratusan tonggak besar untuk menopang atap mesjid berukuran raksasa tersebut.
Aku mencari- cari dimana letak sandalku dan ternyata aku betul- betul lupa. Akhirnya aku memutuskan ke luar mesjid tanpa sandal. Aku keluar melalui salah satu pintu dan ternyata aku keluar juga melalui pintu yang arah luarnya juga tidak aku kenal.
            Aku nggak mengenal dimana arah hotelku. Karena aku sudah berada di sisi mesjid yang lain. Jadinya aku harus berjalan mengitari mesji yang ukuran kelilingnya  sangat luas. Mungkin kelilingnya ada lebih dari seribu atau ribu meter. Lantai halaman mesjid terasa agak panas dan aku berhenti pada satu tempat. Ya benar elapak kakiku nggak kuat lagi menginjak lantai yang terasa panas terbakar mata hari.
            Tiba-tiba muncul dua jamaah wanita yang umurnya agak tua. Mereka ternyata juga tersesat arah. Mereka bertanya padaku dimana letak jalan menuju hotelnya. Jamaah tersebut bertanya padaku dalam bahasa yang aku tidak mengerti. Aku duga bahwa mereka mungkin berasal dari Asia Selatan- mungkin  India, Srilangka, Pakistan atau Banglsadesh, karena mereka memiliki kulit hitam manis, alis tebal dan hidung mancung. Yang jelas mereka ngobrol dalam bahasa negara mereka dan aku tidak mengerti.
            Apa yang mereka bawa, mungkin bahan makan buat grup mereka. Entahlah aku juga tidak mau mengetahui nya. Tetapi aku merasa kasihan susah payah menjinjing bagasi mereka. Untuk meringankan beban mereka, aku bantu menjinjing tas mereka. Ya kasihan sekali. Aku merasa geli dalam hati- aku tersenyum dan berkata dalam hati:
 “Orang tersesat juga bertanya pada orang tersesat, ha ha ha...!!!”. Akhirnya mereka berdua aku giring kepada salah seorang petugas kebersihan di halaman mesjid. Aku bertanya dimana letak hotel dan arah menuju hotel tersebut. Akhirnya kedua wanita tersebut juga mengerti dengan keterangan dari petugas kebersihan. Akhirnya kami bertiga segera menuju depan masjid.
“Ha ha ha....aku telah melihat jam besar terpajang pada salah satu pekarangan mesjid persis dekat Hotel Andalus- hotel tempat aku menginap. Kedua wanita itu juga berlalu untuk menemui hotelnya, dan kami akhirnya berpisah,...moga- moga kami tidak tersesat lagi.
            Selama berada di Madinah, kami juga melakukan ziarah ke gunung yang berejarah namanya Gunung Uhud. Gunung Uhud[1] adalah sebuah gunung di utara Madinah dengan ketinggian sekitar 350 meter. Gunung ini adalah lokasi pertempuran kedua antara Muslim dan pasukan Mekah. Pertempuran Uhud terjadi pada tanggal 23 Maret 625 Masehi, antara sejumlah kecil komunitas Muslim dari Madinah, tempat di barat laut Jazirah Arab, dengan kekuatan dari Mekah.
Gunung Uhud terbentuk dari batu granit warna merah memanjang dari tenggara ke barat laut dengan panjang tujuh kilometer dan lebar hampir tiga kilometer. Gunung ini adalah gunung terbesar dan tertinggi di Madinah. Di kaki gunung bagian selatan terdapat pemakaman para syuhada, salah satunya adalah Hamzah bin Abdul-Muththalib paman dan saudara sepersusuan Nabi Muhammad SAW. .
            Setelah satu minggu berada di Madinah, kami melanjtukan perjalanan menuju kota Mekkah. Perjalanan dari Madinah ke Mekkah juga cukup jauh. Pemandangan alam menuju Mekkah tidak jauh bedanya dengan pemandangan dari Jeddah. Ya kami hanya melihat banyak bukit dan gunung tandus serta hamparan padang pasir yang luas.
            Namun ada beda yang aku rasa antara kota Mekkah dan madinah. Kota Makkah terasa lebih panas, namun lantai halaman Masjidil Haram terasa lebih sejuk. Sementara kota Madinah terasa lebih dingin dan lantai halaman mesjid Nabawi terasa lebih panas.
            Hotel tempat kami menginap selama di kota Makkah berlokasi tidak begitu jauh dari Masjidil Haram. Jarak lingkungan masjidil Haram kirakira 400 meter saja. Dan gerbang menuju Masjidil Haram lebih gampang buat kami kenal. Setiap jemaah akan lebih mudah menemui gerbang utama mesjid. Karena cukup dengan melihat ke arah Jam Besar- (Menara Jam Besar) sebagai jam dunia:
“Maka di sanalah gerbang utama Masjidil Haram. Saat ini lagi terjadi pekerjaan besar besaran buat memperluas komplek masjidil haram, jadi lingkungan memang sedang banyak berdebu. Kita harus selalu memakai masker”.
            Aku jadi tahu bahwa ibadah umroh itu dilaksanakan di Kota Makkah- di Masjidil Haram. Umroh[2]  adalah salah satu kegiatan ibadah dalam agama Islam. Hampir mirip dengan ibadah haji, ibadah ini dilaksanakan dengan cara melakukan beberapa ritual ibadah di kota suci Mekkah, khususnya di Masjidil Haram. Umroh berarti melaksanakan tawaf di Ka'bah dan sa'i antara Shofa dan Marwah, setelah memakai ihram yang diambil dari miqat. Sering disebut pula dengan haji kecil.
Alhamdulillah aku Dan selama berada di Masjidil Haram dan Kota Mekkah aku tidak ada mengalami problem salah jalan atau tersesat jalan. Moga moga ibadah umrohku mendapat berkah dan nkeredhaan dari Allah Swt.


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Uhud
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Umrah

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture