Jumat, 09 Januari 2015

Rasa Damaiku Sempat Hilang-Ego Sentris



Rasa Damaiku  Sempat Hilang-Ego Sentris
            Egosentris[1]  itu adalah suatu sifat yang menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran atau perbuatan. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kemudian si egosentris ini akan berperilaku yang mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Ego sentries adalah ketidakmauan untuk menaruh perhatian, menggambil bagian dan ikut merasakan kebutuhan serta perasaan dan pandangan orang lain. Kalau begitu bahwa usia ego sentries adalah masa yang dimiliki oleh anak kecil.
            Aku merasa sedang berada kembali  dalam fase “ego sentris”, itu berarti bahwa pertumbuhan jiwaku kembali merosot menjadi kerdil- ya sekerdil seorang anak balita. Jadinya aku  kembali asyik menikmati kegagahan tubuh- ketampanan wajahku. Aku merasa masih muda dan juga merasa cukup cerdas.
“Haa ha.. mengapa aku jadi lebih peduli pada diri sendiri dan menjadi kurang peduli pada keluargaku, pada anak-anakku, pada  orang lain- seperti pada teman-temanku. Mengapa ini terjadi ?? Ahh.. ..entahlah, mungkin aku lagi mengalami transisi- masa peralihan menuju tua- ya sebuah perobahan dalam fase hidupku. Dan aku sangat merasa ketakutan  kehilangan kegagahan dan kejayaan masa mudaku.
            Orang orang yang baru saja kembali dari Tanah Suci, terlihat semakin tenang dan semakin mantap. Aku juga ingin sepertin itu, terlihat tenang dan semakin mantap. Memang aku selalu  menambah frekuensi sholat ku. Aku juga lebih rajin sholat tahajjud dan sholat dhuha.
Namun mengapa hatiku nggak tenang dan masih gelisah ?. Kapan ya hati ini bisa menjadi tenang ?
            Biasanya dahulu bila selesai menunaikan sholat tahajjud, hati dan fikiran bisa jadi tenang. Namun sekarang mengapa aku tidak merasa tenang ? Aku berfikir dan merenung, yang salah mungkin adalah cara aku berfikir dan juga kualitas dari ibadahku. Aku sangat tahu bahwa ketenangan dan kegembiraan tidak ditentuan oleh tempat, prestasi dan harta yang kita miliki. Tetapi lebih ditentukan oleh bagaimana cara kita berfikir ? Jadinya aku tahu dengan teori, wah aku jadi rindu lagi untuk bisa tenang seperti dulu.
            Wah mengapa aku merasa tenang kalau aku berada di luar rumah. Aku senang berbagi cerita dengan anak anak muda yang mengagumi kelebihanku. Aku menceritakan bagaimana membikin sebuah novel atau bagaimana cara menguasai sebuah bahasa asing. Ngobrol seperti ini tidak masalah, tetap positif karena masih bersifat memotivasi- namun aku jjuga harus memberi porsi buat keluarga di rumah.
            “ Haa..ha..aku merasa lebih enjoy bila bisa ngobrol dengan anak anak muda, apalagi bila mereka itu tergolong pinter, punya wajah cakep (berwajah cantik dan ganteng). Mereka bisa menyamai posisiku. Ya inilah fenomena baruku, dimana aku mengalami krisis rasa percaya diri yang hilang- merasa diri masih muda dan masih laku. Kalau semakin banyak anak-anak muda yang cantik dan ganteng mendekat denganku itu sebagai indikator bahwa pribadiku juga masih muda dan masih laku. Bagaimana kalau di rumah ?
            Beberapa bulan belakangan, aku sempat memiliki perut buncit dan tubuh gendut. Aku nggak suka jadi begini dan aku merasa benci. Maka aku kemudian melakukan diet ketat. Bagaimana caranya ?
Caranya mudah saja, aku berusaha untuk malas makan. Apa saja yang aku makan..memoriku memerintahkan pada mulutku nuntuk jadi malas makan. Setelah itu kalau makan selalu serba bersisa. Kalau dahulu tidak- aku nggak suka menyisakan makanan. Itu adalah mubazir dan mubazir itu adalah temannya syaitan.
            Akhirnya dalam waktu tiga bulan berat badanku turun drastik dan tubuhku berkurang beratnya 10 Kg. Setelah itu bentuk tubuhku  terlihat sangat ideal. Jadinya aku semakin suka bergayap- kalau aku  memakai jean atau levis, maka aku aken terlihat lebih gaul, lebih muda dan lebih  modern. Aku sering berteriak:
 Aku sudah bosen tampak jelek dan tampak miskin”. Demikian selorohku pada teman –teman sambil bercanda.
            Namun karena aku nggak begitu dekat dengan istri dan anak tentu saja mereka juga nggak dekat dan cuek pada ku. Mereka malah lebih suka meledekku. Anak- anak sering protes dan salah ngomong padaku:
 Mengapa ayah sekarang terlihat lebih kurus dan lebih tua. Mata ayah juga terlihat merah kayak mata hewan ?”         Dan istriku juga sering protes:
“Mengapa pribadimu sekarang menjadi aneh, lebih sensitif- mudah marah. Kamu juga suka bergaya. Aslinya kamu sudah tua dan sudah banyak uban, lho !!. Sekarang kalau kamu tertawa tampak pipimu yang keriput. Kamu nggak bagus melakukan diet ketat.
            Aku paling nggak suka dikatakan tampak jelek, dan nggak laku lagi. Namun aku membuktikan pada diri sendiri kalau penampilanku masih oke, masih gagah dan masih muda. Ya...buktinya di luar runah, belasan hingga puluhan remaja cakep dan gagah mengagumiku dan mau bersahabat dengaku. Aku sangat marah- aku protes dan aku membenci ke luargaku, mengapa mereka terlihat menghinaku dan dengan senang hati bilang aku jelek.
Mengapu aku dibilang jelek segala, itu sangat melukai hati dan harga diriku.
            Ternyata aku memang merasa masih cakep, yaa..ibarat anak ABG yang masih gaul. Aku juga punya salah, soalnya bila aku pulang ke rumah, yang aku ingat bukan anak-anak ku. Apakah mereka sudah bikin pe-er atau mereka lalai dalam belajar. Namun yang selalu aku ingat adalah bagaimana aku harus membuka internet,  merespon ratusan BBM dan Face book.
“Sekali lagi bahwa yang pertama aku lakukan adalah merespon puluhan atau mungkin ratusan komen teman-teman face- booker  yang juga berusia ABG- pokoknya banyak berusia muda. Haa ha aku sendiri....aku sendiri ternyata juga seorang ABG- Anak Baru Gede  yang seusia dengan ayah mereka. Aku lagi mengalami fenomena pubertas kedua”
            Istriku tentu saja merasa nggak senang dengan cara-caraku yang terlihat mengabaikan anak-anaku namun sangat peduli pada  orang lain. Meskipun orang-orang  tersebut tetap berada dalam dunia maya- atau dunia fata morgana. Namun aku sangat pinter membela diri. Aku balik menyerang celaan istri. Aku memang sejak semula menikah nggak pernah mencubit atau melukai tubuh istri. Karena itu namanya adalah KDRT atau “Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
            Semakin tinggi emosi istriku semakin tinggi pula sakit hatiku. Aku mencari benda benda kecil di seputarku dan aku hantamkan ke almari- hingga kacanya pecah-pecah. Kadang aku banting piring hingga jadi pecah berantakan. Raungan istri membuat suasana panik dan anak anak jadi ketakutan.
Dan aku merasa jadi hero dan nggak mau ditaklukan oleh wanita. Karena aku jago dengan teori bahwa pria yang lemah, dikuasai oleh istri, maka  kelak anak-anak mereka, bisa kehilangan jati diri. Kalau anak laki- laki yang ternyata  kehilangan jati diri  maka (maaf) mereka akan memilih karir yang nggak sesuai dengan kodrat pria. Sementara anak wanita bisa menjadi nggak menghargai pria dan tidak tertarik buat menikah.
“Ya teori ya tinggal teori belaka. Aku memang jago dengan ribuan teori”

Keharmonisan Rumah Tangga Sempat Hilang
            Anak- anakku dimana kamu sekarang ? Mengapa kamu suka menjauhi ayahmu, apa kamu nggak kangen lagi mendengar cerita ayah ?” Ya benar bahwa kedekatanku dengan anak-anak nggak terasa seperti dulu. Mereka nggak terasa sebagai anakku.
Bila aku ajak mereka buat jalan- jalan sore, mungkin untuk mencari semangkok bakso atau sepiring sate, maka mereka selalu menolak. Jadinya ini bentuk buat menunjukan protes atas tolakan anak anak aku tetap keluar dan gantinya aku ajak siapa saja yang sudi menemani aku buat beli bakso dan makan sate. Akhirnya aku juga merasakan kepuasan sebagai orang baik karena sudah mentraktir seseorang yang merasa lapar buat jajan. Namun rasa puas tersebut aku rasa sebagai sebuah “kepuasan bathin yang semu”.
Tentu saja aku merasa puas kalau anak-anak  ku sendiri yang bisa aku ajak jalan bareng, makan bareng dengan aku sebagai ayah mereka. Ya sudah lah kalau mereka menolak. Akhirnya aku jadi betah berada di luar rumah.
Suasana rumah terasa sangat hambar dan aku senang di luar rumah. Aku mengendarai motorku, aku muter- muter...yahh  kadang- kadang juga bengong. Aku cari kesibukan seperti ngobrol dari orang ke orang, hingga aku aku rasa  waktu ini cepat berlalu. Sebaliknya kalau aku berada di rumah:
“Wahhh.... mengapa waktu terasa lambat bergerak. Aku merasa bosan, karena yang aku temui hanyalah istriku yang juga akrab dengan laptop menyelesaikan tugas tugasnya sebagai guru dan aku merasa enggan duduk di sampingnya dan aku merasa risih dekatya”. Aku telah merasakan dia sebagai orang asing. Pada hal saat berpacaran aku selalu merindukan wajahnya, merindukan suara dan canda-tawanya. Malah saat berpacaran aku sering menghayal mencium pipinya lama-lama. Namun sekarang aku merasa malas dan bosan dengannya. Aroma tubuhnya nggak ada lagi dan gaun yang dipakainya sudah nggak menarik lagi.  
            Agaknya dia juga merasa bosan denganku, karena aku dirasakannya sebagai laki-laki frigid, laki- laki yang paling dingin di dunia. Ya sudahlah kami berdua sudah menjadi manusia yang paling dingin di dunia. Pada dahulu aku ditemukannya sebagai pria yang romantis, lucu, humoris dan selalu bercanda sehingga rumah terasa hangat. Namun sekarang aku dirasakannya sebagai pribadi yang dingin, aku hanya hangat dengan orang orang di luar namun kalau di rumah aku berubah menjadi pribadi dengan wajah yang serius.       Anak-anakku juga tumbuh menjadi remaja dan juga sibuk dengan dunia mereka sendiri. Kadang-kadang aku temui anakku yang laki-laki sedang tertawa sendiri:
            Oh tidak dia tertawa karena lagi lagi berdialog (chatting)  dengan temannya di dunia facebook atau kalau ia bosan maka ia akan tenggelam dengan game on-line. Aku rindu mengajaknya buat muter muter dengan sepeda motor dan jawabnya adalah selalu:
 Tidak, tidak saya tidak mau pergi dengan ayah...pergilah ayah sendiri !!”.
            Anak perempuanku juga demikian. Ia tenggelam dengan dunianya sendiri. Dia juga  chatting berjam-jam sepanjang hari hingga matanya menjadi kesulitan buat mellihat dan hingga ia butuh kacamata minus karena ternyata susah melihat buat jarak yang agak jauh (rabun jauh). Aku juga kangen mengajak dia untuk menelusuri jalan-jalan  desa seperti dulu, agar dia bisa melihat hijaunya dedaun, agar matanya sembuh. Jawabnya adalah:
 Tidak, tidak, saya nggak mau pergi dengan ayah, pergilah ayah sendirian”.
            Ah sejak kapan kedua buah hatiku menjauhiku. Bukankah aku begitu lama menunggu anak laki-laki ku buat lahir kedunia. Dahulu kelahirannya sangat kami rindukan. Kami sempat merasa sulit untuk menunggu kelahiran buah hati.
Ada lamanya enam tahun kami menunggu kelahiran anak laki-laki kami. Dan setelah ia terlahir aku rela begadang, menjaga dia bisa tertidur dalam buayan. Bila ia rewel maka aku gendong dan aku dendangkan lagi hingga ia bisa tertidur lagi. Selama ia bayi hingga balita, tidurku amat sedikit dan aku rela mengayunkan ia agar terlelap nyenyak.
            Demikian juga dengan anak perempuan yang menjauhi diri dariku. Pada hal saat kecil atau beberapa bulan sebelumnya kami begitu dekat satu sama lain. Waktu kecil, ia sering aku ajak bermain air di anak sungai dan atau bermain ikan. Atau aku carikan buku dan pewarna untuk mewarnai gambar-gambar hingga ia bisa tertawa dengan riang dan gembira. Bila ia kelaparan maka aku buru-buru menyiapkan susu atau nasi tim buat makannya. Namun mengapa kemudian hatinya jauh dariku.
            Sejak mereka berdua telah mempunyai kamar masing-masing, memang aku sudah jarang mencium mereka hingga aku jadi lupa seperti apa aroma pipi dan kulitnya yang bening. Kata tetangga dan banyak orang bahwa aku beruntung memiliki dua orang anak yang wajahnya cukup  cantik dan tampan. Mereka berdua punya kulit putih dan hidung mancung, juga tinggi tubuh mereka cukup semampai. Teman- teman mereka di sekolah sering bertanya:
“Apa kamu asli  orang Indonesia ? Mengapa kulitmu cerah, bersih dan hidungmu mancung ?” Ya kulit putih dan hidung mancung itu mereka akui sebagai warisan dari ibuku dari Lubuk Alung. Aku selalu jadi bosan kalau pulang cepat ke rumah. Aku lebih betah berada lama-lama di kantor. Apa kerjaku di sana ?
Ya aku hanya sekedar bercanda dengan teman dan murid muridku hingga mereka merasa gembira. Atau kadang- kadang aku asiik membalas status facebook dari teman teman facebook”. Kadang istriku datang dengan wajah sewot dan penuh curiga. Aku mencoba untuk tersenyum di depan orang orang dan tetap bersikap seramah mungkin dan dibalik itu darahku menjadi mendidih karena merasa dimata-matai oleh istri:
“Seolah-olah aku ini adalah seorang penjahat besar atau lagi sedang berselingkuh. Begitu sampai di rumah semuanya aku ledakan dalam bentuk kemarahan besar. Kalau perlu aku ambil kursi plastik dan aku hantamkan ke dinding atau ke rak-rak piring hingga menimbulkan suara gaduh dan pecahnya beberapa gelas dan piring kaca. Itu gunanya agar anakku dan istriku merasa jera buat mengganggu fikiranku. Aku merasa lega namun degup jantungku menjadi semakin kencang dan inilah pemicu gejala hypertensi atau darah tinggiku.
            Namun ternyata mereka tidak jera dan tidak takut dengan kemarahanku. Anak perempuanku pernah marah besar padaku dengan menangis dan berteriak-teriak. Yakhh mau aku apakan. Tidak mungkinlah fisik mereka aku cederai-aku pukul, aku gebuk, dan aku bukan seorang ayah yang berkarakter ganas. Cuma saja saat itu aku hanyalah seorang ayah yang lagi dilanda kehilangan identitas diri, takut menjadi tua dan juga tidak suka diejek sebagai pria tua yang jelek. Memukul anak dan keluarga aku hindari, karena itu namanya adalah kekersan dan nggak bagus. Jadinya dia hanya aku hardik sekeras mungkin dengan bahasa yang sangak kasar yang nggak pernah mereka dengar dan semuanya menangis.
“Dan ha..haaa aku merasa sangat jago. Tetapi apakah aku menang ? Tidak aku menjadi sangat stress dan susah buat berkonsentrasi. Aku jadi sakit hypertensi dan sempat pergi ke UGD (Unit Gawat Darurat) minta bantuan team medis untuk mengatasi problem  ketegangan fikiranku.   


[1] http://renijudhanto.blogspot.com/2010/06/akibat-egosentris.html

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture