Selasa, 30 Juni 2015

Berharap Presiden Jokowi Berlari Sekencang Kepala Negara Malaysia dan Singapura

Berharap Presiden Jokowi Berlari Sekencang Kepala Negara Malaysia dan Singapura
OLeh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

            Dalam kehidupan ini sering kita melihat sekelompok kecil orang berbagi cerita- ngobrol- tentang hal yang ada di seputar mereka. Paling sering ngobrol tentang anggota keluarga. Membahas tentang kelebihan dan kekurangan anak- anak mereka, atau mungking membahas tentang keunggulan pasangan hidup: suami atau istri mereka. Jauh di sana juga ada kelompok lain yang mungkin mengupas tentang issue yang berhubungan dengan negara, tentu itu semua dalam bentuk debat kusir. Sebuah perdebatan yang tentu tidak perlu begitu sistematis sehingga tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah.
            Kita ini adalah rakyat dari sebuah negara yang wilayahnya begitu luas dan penduduknya begitu padat, termasuk terpadat ke empat di dunia, setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Dan negara ini, setelah merdeka sekitar 70 tahun, telah dipimpin oleh 7 orang Presiden. Tentu saja figure mereka sangat menarik buat diperbincangkan, sebagaimana kita memperbincangkan orangtua: ayah dan ibu kita.
            Presiden BJ Habibi, sangat membanggakan, karena memiliki latar belakang pendidikan yang sangat bagus di tingkat internasional. Beliau sangat intelektual dan sholeh. Konon kabarnya ia senang berpuasa Senin- Kamis, jago dengan tekhnologi dirgantara, menguasai bahasa Inggris dan Jerman dan terkenal di internasional.
Presiden Megawati juga membanggakan kita. Karena ia membuktikan pada dunia internasional bahwa Perempuan dari negara mayoritas Islam juga bisa menjadi pemimpin negara yang sangat luas.
            Kemudian, Presiden Abdul Rahman Wahid, atau popular dengan panggilan Gus Dur, juga terkenal di dunia. Beliau memiliki wawasan yang luas, intelektual, jago bahasa Inggris dan Bahasa Arab, dan sebagai penulis. Beliau adalah seorang ulama yang moderat dan politikus ulung. Semasa pemerintahan Gus Dur, beliau memberi kemerdekaan berekspresi kepada suku minoritas (Cina) dan agama minoritas Kong Hu Cu. Sehingga suku minoritas dengan senang hati sudah memperlihatkan eksistensi mereka. Setiap tahun baru Imlek, suku bangsa Cina telah bisa mengucapkan Xong Chi Fa Chai. Suku bangsa Cina meski jumlah mereka minoritas namun punya peran signifikan dalam kemajuan ekonomi bangsa.
            Presiden SBY, atau Susilo Bambang Yudhoyono, dan Presiden Suharto sangat membanggakan kita. Mereka berdua sangat gagah dan berbibawa, dunia internasional cukup menganggumi dan mereka mengerti dengan militer dan membuat kestabilan buat bangsa yang luas ini.
            Presiden Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia adalah presiden yang sangat saya kagumi. Agaknya banyak orang di Indonesia punya prinsip yang sama dengan saya. Presiden Sukarno sangat popular, melebihi populernya dari presiden- presiden yang telah saya sebutkan di atas.
            Kepopuleran Presiden Sukarno yang begitu dahsyat adalah karena ia memiliki kualitas SDM yang lebih tinggi. Kualitas kepemimpinan Presiden Sukarno saat itu sama levelnya dengan pemimpin dari negara- negara lain, dan mereka adalah pemimpin level dunia atau level internasional. Presiden Sukarno berteman akrab dengan berbagai kepala negara  seperti: Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir), John Fitzgerald Kennedy (Presiden Amerika Serikat), Fidel Castro dan utusannya Che Guevara (dari Cuba), Nikita Kruschev (Pemimpin Uni Soviet- Sekarang bernama Rusia), dan Josep Broz Tito (dari Yugoslavia). Mereka itu semua merupakan kepala negara bergengsi dari benua Afrika, Eropa, Asia dan Amerika.
            Saya merasa beruntung sempat membaca buku biografi Presiden Sukarno dalam bahasa Inggris yang judulnya “Soekarno as retold to Cindy Adam”. Isi buku tersebut sangat berbekas dalam memori. Di sana dipaparkan tentang bagaimana seluk beluk dan sepak terjang kehidupan Presiden Sukarno dari kecil hingga ia menjadi orang yang berpengaruh di Indonesia dan di internasional. Dalam paragraf berikut akan saya paparkan serba sedikit tentang beliau.
Banyak masyarakat sekarang yang belum mengenal bagaimana proses belajar yang hebat itu. Paling sering mereka hanya terbiasa belajar karena selalu diberi komando dalam belajar oleh orang tua dan guru. Atau mereka pergi ke pusat Bimbel (bimbingan belajar) atau pergi belajar ke rumah guru agar jadi pintar. Di pusat bimbinan belajar atau di rumah guru merekapun hanya sebatas mengolah soal soal ujian matematika, fisika, kimia, biologi, dan bahasa Inggris, pokoknya pelajaran yang menjadi acuan dalam ujian nasional. Namun apakah ini yang dinamakan sebagai proses belajar yang kreatif ?
Belajar sebagaimana yang digambarkan di atas baru hanya sebahagian kecil dari proses belajar, hanya sekedar menguasai konsep, dan belum lagi disebut sebagai belajar yang sejati. Untuk melakukan proses belajar yang hakiki atau belajar yang sejati maka kita bisa mengambil cermin diri dari tokoh sejarah, misal bagaimana Presiden Sukarno (Bung Karno) pada waktu kecil belajar dan melakukan proses kreatifitas yang lain (?).
Membaca adalah kebiasaan positif yang selalu dilakukan Bung Karno sejak kecil. Apa alasan mengapa Bung Karno harus gemar membaca, rajin belajar dan belajar tentang segala sesuatu ?  Didorong oleh ego yang meluap-luap untuk bisa bersaing dengan siswa-siswa bule, maka Bung Karno sangat tekun membaca, dan sangat serius dalam belajar. Ketika belajar di HBS- Hoogere Burger School  Surabaya, dari 300 murid yang ada dan hanya 20 murid saja yang pribumi (satu di antaranya adalah Bung Karno) yang sulit menarik simpati teman-teman sekelas. Mereka memandang rendah kepada anak pribumi sebagai anak kampungan. Namun Bung Karno adalah murid yang hebat sehingga satu atau dua guru menaruh rasa simpati padanya.
Rasa simpati gurunya, membuat Bung Karno bisa memperoleh fasilitas yang  lebih untuk “mengacak-acak atau memanfaatkan” perpustakaan dan membaca segala buku, baik yang ia gemari maupun yang tidak ia sukai. Umumnya buku ditulis dalam bahasa Belanda. Problem berbahasa Belanda menghambat rasa haus ilmunya (membaca buku yang ditulis dalam bahasa Belanda). Entah strategi apa yang ia peroleh secara kebetulan, namun Bung Karno punya jalan pintas (cara cepat) dalam menguasai bahasa Belanda. Bung karno menjadi akrab dengan noni Belanda sebagai kekasihnya. Berkomunikasi langsung dalam bahasa asing (Bahasa Belanda) adalah cara praktis untuk lekas mahir berbahasa Belanda. Mien Hessels, adalah salah satu kekasih Bung Karno yang berkebangsaan Belanda.
Dalam usia 16 tahun, Bung Karno fasih berbahasa dan membaca dalam Bahasa Belanda. Ia sudah membaca karya besar orang-orang besar dunia. Di antaranya dalah Thomas Jefferson dengan bukunya Declaration of Independence. Bung Karno muda, juga mengkaji gagasan-gagasan George Washington, Paul Revere, hingga Abraham Lincoln, mereka adalah tokoh hebat dari Amerika Serikat. Tokoh pemikir bangsa lain adalah seperti Gladstone, Sidney dan Beatrice Webb juga dipelajarinya. Bung Karno juga mempelajari ‘Gerakan Buruh Inggris” dari tokoh-tokoh tadi. Bung Karno juga membaca tentang Tokoh Italia, dan ia sudah bersentuhan dengan karya Mazzini, Cavour, dan Garibaldi. Tidak berhenti di situ, Bung Karno bahkan sudah menelan habis ajaran Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin. Semua tokoh besar tadi, menginspirasi Bung Karno muda untuk menjadi maju dan smart.
Penelusuran atas dokumen barang-barang milik Bung Karno di Istana Negara, yang diinventarisasi oleh aparat Negara yang ditemukan setelah ia digulingkan. Dari ribuan item miliknya, hampir 70 persen adalah buku. Sisanya adalah pakaian, lukisan, mata uang receh, dan pernak-pernik lainnya. Harta Bung Karno yang terbesar memang buku.
Dari biografinya (Sukarno As retold to Cindy Adams) diketahui bahwa betapa dalam setiap pengasingan dirinya, baik dari Jakarta ke Ende, dari Ende ke Bengkulu, maupun dari Bengkulu kembali ke Jakarta, maka bagian terbesar dari barang-barang bawaannya adalah buku. Semua itu, belum termasuk buku-buku yang dirampas dan dimusnahkan penguasa penjajah. Apa muara dari proses belajar sepanjang hidup yang sangat kreatif adalah mengantarkan Bung Karno menjadi Presiden yang pernah memperoleh 26 gelar Doktor Honoris Causa. Jumlah gelar doktor yang ia terima dari seluruh penjuru dunia, 26 gelar doktor HC yang  rinciannya, 19 dari luar negeri, 7 dari dalam negeri. Ia memperoleh gelar doctor HC dari Far Eastern University, Manila: Universias Gadjah Mada,  Yogyakarta: Universitas Berlin: Universitas Budapest: Institut Teknologi Bandung: Universitas Al Azhar, Kairo: IAIN Jakarta: Universitas Muhammadiyah Jakarta: dan universitas dari negaralain seperti Amerika Serikat, Kanada, Jerman Barat, Uni Soviet, Yugoslavia, Cekoslovakia, Turki, Polandia, Brazil, Bulgaria, Rumania, Hongaria, RPA, Bolivia, Kamboja, dan Korea Utara.
Kemudian, bagaimana masa kecil dan proses kreatifitas  Bung Karno yang lain? Agaknya Bung Karno telah memiliki jiwa leadership (kepemimpinan) sejak kecil, karena apa saja yang diperbuat Bung Karno kecil, maka teman-temannya akan mengikuti. Apa saja yang diceritakan Bung Karno kecil, maka teman-teman akan patuh mendengarkannya. Oleh teman-temannya, Bung Karno bahkan dijuluki “jago”. karena gayanya yang begitu “pe de”. Itu pula yang mengakibatkan ia sering berkelahi dengan anak anak Belanda.
Ada satu karakter yang tidak berubah selama enam dasawarsa kehidupannya. Salah satunya adalah karakter pemuja seni. Ekspresinya disalurkan dengan cara mengumpulkan gambar bintang-bintang terkenal. Karena kecerdasan dan keluasan wawasannya sejak kecil maka pada usia 12 tahun, Bung Karno sudah punya gang (pasukan pengikut yang setia). Kalau Bung Karno bermain jangkrik di tengah lapangan yang berdebu, segera teman temanya mengikuti. Kalau Karno diketahui mengumpulkan prangko, mereka juga mengumpulkannya.  Kalau “gang” mereka bermain panjat pohon, maka Bung Karno akan memanjat ke dahan paling tinggi. Itu artinya, ketika jatuh Bung Karno pun jatuh paling keras daripada anak-anak yang lain. Dalam segala hal, Bung Karno selalu menjadi yang pertama mencoba. “Nasib Bung Karno adalah untuk menaklukkan, bukan untuk ditaklukkan”.
Bung karno menganut ideologi ‘berdiri di atas kaki sendiri’. Saat menjadi presiden Bung Karno dengan gagah mengejek Amerika Serikat dan negara kapitalis lainnya: “Go to hell with your aid.” Persetan dengan bantuanmu. Ia mengajak negara-nega-ra sedang berkembang (baru merdeka) bersatu. Pemimpin Besar Revolusi ini juga berhasil mengge-lorakan semangat revolusi bagi bangsanya, serta menjaga keutuhan NKRI. Bung Karno juga memiliki slogan yang kuat yaitu “gantungkan cita-cita setinggi bintang untuk membawa rakyatnya menuju kehidupan sejahtera, adil makmur”.
Bung Karno adalah juga orator Ulung. Gejala berbahasa Bung Karno merupakan fenomena langka yang mengundang kagum banyak orang. Kemahirannya menggunakan bahasa dengan segala macam gayanya berhubungan dengan kepribadiannya dan latihan latihan berpidato yang ia lakukan. Ketika masih belajar Bung Karno sering berlatih berpidato sendirian di depan kaca dan juga berbicara di depan gang nya.  Bung Karno juga gemar menuliskan opini-opininya dalam bentuk artikel. Kumpulan tulisannya dengan judul “Dibawah Bendera Revolusi”, dua jilid. Jilid pertama boleh dikatakan paling menarik dan paling penting karena mewakili diri Soekarno sebagai Soekarno. Tulisanya yang lain dengan judul “Nasionalis-me, Islamisme, dan Marxisme” adalah paling menarik dan mungkin paling penting sebagai titik-tolak dalam upaya memahami Soekarno dalam gelora masa mudanya.
Apa yang dapat kita jadikan I’tibar (pembelajaran) dari uraian di atas (dari kehidupan Bung Karno) dan kita hubungkan dengan cara belajar dan gaya hidupm kita ? Bahwa membaca adalah kebiasaan positif yang perlu selalu dilakukan. Sebagaimana halnya Bung Karno membaca buku-buku berbahasa asing (bahasa Belanda). Untuk membuat bahasa asingnya lancar adalah dengan mempraktekan/menggunakan bahasa tersebut dengan orang yang mahir (pribumi maupun orang asing). Setelah lancar berbahasa asing/ bahasa Belanda, ia tidak cepat merasa puas dan berhenti belajar. Ia malah membaca biografi tokoh tokoh besar di dunia dan juga buku buku berpengaruh di dunia sehingga ia memiliki wawasan dan cara pandang yang luas.
Untuk menjadi sukses maka juga perlu punya prinsip hidup “mandiri atau berdikari (berdiri pada kaki sendiri), jangan terlaku suka untuk mencari bantuan. Kemudian juga penting untuk mengembangkan pergaulan/ teman yang banyak untuk melakukan proses bertukar fikiran. Juga penting untuk melatih jiwa pemimpin- bukan jiwa penurut, pasif atau pendengar abadi.
Selanjutnya bahwa juga penting mengembang kemampuan berbicara/ berpidato lewat latihan sendiri dan berpidato didepan kelompok. Kemampuan berbicara/ berpito perlu didukung oleh kemampun menulis, karena membuat pidatio punya kharismatik an menarik. Ini dapat dikembankan melalui latihan demi lathan. Untuk menjadi maju maka kita perlu pula memiliki keterampilan berganda (menguasai seni, olah raga, dekat dengan Manusia dan dengan Sang pencipta (Allah Azza Wajalla) serta mencari inspirasi dari tokoh hebat. Maka salah satunya gaya belajar Bung Karno juga bisa menjadi inspirasi bagi kita.
            Nah sekarang kita punya Presiden lagi, yaitu Presiden Joko Widodo. Presiden ini terkenal dengan profile merakyatnya, karena suka blusukan dan tidak segan buat loncat-loncat ke dalam got untuk menginvestigasi kerusakan lingkungan. Beliau adalah figure Presiden yang merakyat banget.
            Dalam zaman cyber ini, semua orang bebas berekspresi dan tentu saja musti berekspresi yang sangat bertanggung jawab. Saat saya membuka email Yahoo, terbaca pada situs berita sebuah kritikan pedas Amin Rais yang mengatakan bahwa Presiden Jokowi ibarat burung onta yang suka menunduk-nundukan kepala. Maksudnya bahwa Presiden Jokowi suka mengundur-undur rencana untuk merombak kabinet (reshuffle cabinet). Karena kinerja menteri, sebenarnya juga termasuk kinerja Pak Jokowi, yang di awal masa kepemimpinan ini terkesan kurang berhasil Alasannya karena ia gagal dalam menstabilkan harga Rupiah yang melemah, harga pasar yang anjlok, ekonomi yang kurang bergairah dan angka pengangguran yang tinggi.
            Dulu, Presiden Sukarno punya teman- teman banyak dari pimpinan negara terkemuka di dunia dan mereka saling berbagi, maka Pak Jokowi idealnya juga harus demikian, ia perlu menimba ilmu kepemimpinan.
Bak kata pepatah “Tuntutlah Ilmu ke Negeri Cina”. Tetapi pak Jokowi tidak perlu jauh- jauh dulu ke cina, yang memang pemerintah dan masyarakatnya memiliki karakter yang tangguh, bersungguh-sungguh dalam membidangi sesuatu. Presiden Jokowi cukup belajar memimpin negara kepada Kepala Negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang perkembangan negara mereka sudah jauh- amat pesat- meninggalkan negara Indonesia.
            Negara Singapura adalah sebuah negara yang sangat mungil. Andai negara pulau ini digunting dan dijatuhkan pada geografi Indonesia, hanya hampir seluas Danau Toba di Sumatera Utara, mungkin lebih kecil lagi. Benar, Singapura panjangnya 42 km dan lebanya sekitar 20 km.  
            Negara kecil ini cukup miskin dengan sumber daya alam, tidak punya areal peternakan, tidak ada danau buat kolam ikan atau tambak udang, tidak ada air terjun besar  dan areal perkebunan, sawah dan ladang, namun penduduknya yang sangat padat tidak ada yang mati kelaparan. Malah penduduknya tergolong terkaya di dunia, jauh lebih kaya dari bangsa kita yang mayoritas banyak hidupnya yang sengsara.
            Apa kuncinya ? Pemerintah Singapura menciptakan pulau negara ini menjadi pusat Industri. Manajemen negaranya memakai manajemen negara industri. Maka sekarang berdiri cukup ramai pusat industri, bukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat singapura tetap untuk tujuan memenuhi kebutuhan pasar dunia.
Singapura juga menyulap lembaga pendidikan menjadi dunia industri. Mereka mendirikan sekolah dan Universitas dan mendesai kurikulum untuk tujuan masyarakat internasional dan mendesain dan mempromosikan industri pendidikan buat negara luar. Anak-anak Indonesia yang bisa belajar di Singapura merasa bangga dan terhormat dengan sendirian. Mereka benar-benar pintar merancang image.
            Bayangkan dari kebijakan menciptakan negara berbasis industri- industry oriented- maka bermunculan begitu banyak industri seperti: industri parawisata, industri pendidikan, industri pasar, industri elektronika, industri perdagangan, dll. Dari industri parawisata orang berdatangan hanya sekedar berbelanja di pasar-pasar mereka yang serba sempit.
“Saya pernah makan pada sebuah restoran yang tergolong besar di sana dan ternyata masih tergolong kecil untuk ukuran Indonesia”.
Dari industri pendidikan, maka berlomba-lomba para orang tua untuk menyekolahkan anak mereka untuk bersekolah di sana. Apalagi orang tua yang berduit banyak lebih getol menyekolahkan anak mereka di sana. Promosi Pendidikan adalah kekuatan mereka dalam memajukan industri pendidikan tersebut. Promosi mereka adalah untuk tujuan internasional, sehingga masyarakt internasional yang berduit berdatangan ke sana. Mereka membawa valas (valuta asing) mereka dan menukarkannya dengan valuta Singapura dan dampaknya hasil Dollar Singapura menjadi sangat stabil dan sangat kuat di internasional.
“Salah satu kelemahan manajemen pendidikan kita adalah, lembaga pendidikan kita hanya punya promosi berskala lokal, buat masyarakat lokal, membawa mata uang lokal (Rupiah), sehingga mata uang Rupiah menjadi bertebaran, berserak-serak, akhirnya nilainya rendah”.
Presiden Jokowi, dan kita semua, juga patut belajar dari Kepala Pemerintahan Malaysia. Sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, kondisi negara Malaysia hampir mirip dengan kondisi negara Indonesia saat itu. Dan saat Pimpinan Pemerintahan dibawah kendali Doktor Mahatir Muhammad, maka terjadilah perubahan yang sangat dahsyat.
Kuala lumpur yang sembrawut ibarat kota Jakarta dibenahi. Disamping kota Kuala Lumpur diciptakan sebuah kota satellite yang bernama “Puta Jaya”. Kota ini disulap, semua wilayah didesain dalam bentuk sebuah taman yang maha luas dan di dalamnya berdiri gedung-gedung megah buat pusat pemerintahan. Dan Kuala Lumpur sengaja menjadi Ibu Kota negara dan pusat perekonomian.
Di kota Putra Jaya didirikan juga gedung-gedung yang artistik. Ada gedung yang mnyerupai objek wista di Mesir, Iran, Amerika Serikat, India, dll. Kemudian ini semua dirancang buat industri parawista. Malaysia memang pintang membuat label wistaa, yaitu “Malaysia is truly Asia”. Anda belum betul-betul berkunjung ke benua Asia, kecuali kalau sudah mampir di Putra Jaya Malaysia”.
Wah promosi mereka dahsyat, dibandingkan dengan  promosi parawista di kampung saya yang sangat tertinggal. Suatu ketika saya mendapat telephone dari grup wisata warga Singapura. Mereka ingin melihat Pesta Pacu Jawi namun menerka tidak tahu bagaimana cara pergi ke sana. Mereka menelpon saya karena memoperoleh nomor HP saya melalui blogger saya di internet.
Encik Marjohan…, we are a group of tourist from Singapore and want to see Program Pacu Jawi in your country, could you explain us how we go there..???.Masya Allah kenapa mereka menelpon saya ???”
Dan ternyata informasi parawista di kampung saya memang minus dan kurang update dan informasi dirancang hanya buat konsumsi masyaraksat lokal. Saat itu saya memandu perjalan mereka lewat telepon hampir satu hari hingga akhirnya kami berjumpa dan sayapun juga ikut menikmati attraksi pacu jawi tersebut.
Balik ke judul topik bahwa berharap Pak Jokowi bisa berlari sekencang Kepala Negara Singapura dan Malaysia. Sebetulnya Mahatir Muhammad, yang sudah membuat gebrakaan dahsyat buat Malaysia, adalah seorang ahli ekonomi. Presiden kita juga seorang ekonom atau pengusaha- yaitu kabarnya memiliki usaha meubel di kota Solo.
Bedanya adalah Mahatir Muhammad adalah ahli ekonomi berkelas internasional dan Pak Jokowi masih belum, beliau adalah praktisi ekonom hanya untuk seukuran kota Solo saja baru. Karena figur dan kehangatan pribadi Pak Jokowi belum terasa betul sampai ke Ujung pulau Sumatra, bida jadi nggak begitu terasa keberadaanya di Kalimantan, Sulawesi, dll. Seharusnya figure dan popular pengaruh Pak Jokowi harus terasa ke negara tetangga Australia, Malaysia, Thailand, dan kapan perlu hingga ke Eropa dan Amerika.
Gebrakan yang dilakukan oleh Perdana Menteri Malaysia saat itu, Mahatir Muhammad, untuk memajukan perekonomian dan peradaban Malaysia mirip seperti yang dilakukan noleh negara Singapura yaitu “State industry oriented”. Apa saja bentuk sektor negara berbasis industri: industri parawista, industri perdagangan, industri transportasi, hingga pendidikan juga berbasis industri.
Lagi lagi pengalaman saya saat berkunjung ke sebuah Perguruan Tinggi di Malaysia, di kawasan daerah biasa-biasa saja di kota Nilai, yang namanya “Nilai College”. Pemerintah telah merancang lembaga pendidikan ini buat konsumsi masyarakat internasional. Lagi-lagi Badan Promosi Pendidikan Internasional, yang belum dimiliki oleh mayoritas Perguruan Tinggi di Indoinesia, telah mampu mengundang warga internasional seperti dari negara Timur Tengah, Cina, India, Srilangka, Myanmar, Pakistan, Thailand, Eropa dan juga Indonesia untuk belajar di sana.
Anak anak yang belajar di sana terlihat tidak begitu hebat dan cerdas namun yang jelas mereka semua sudah menjadikan kampus itu menjadi komunitas internasional. Tentu saja akan ada kunjungan orang tua dari siswa dan mahasiswa asing tersebut  untuk melihat anaknya belajar di Malaysia. Kunjungan warga internasional yang begitu signifikan ke negara Malaysia membuat valuta asing berlimpah di negera jiran ini, hingga mata uang Ringgit tetap berkualitas di dunia internasional.
Begitu banyak yang bisa kita petik dari “best practice”, praktek terbaik dalam menjalankan pemerintahan oleh Kepala Negara Malaysia dan Singapura. Kita berharap agar Kepala Negara kita yang sekarang. Pak Joko Widodo, bisa merombak kabinet. Namun yang jelas kita berharap agar Presiden Jokowi bisa berlari sekencang pimpinan pemerintah Singapura dan Malaysia agar negara kita bisa Berjaya seperti mereka. Hingga mata uang Rupiah bisa berdiri dengan gagahnya, industry bermunculan, perekonomian bergairah dan pengangguran menurun.
(Marjohan, M.Pd- Guru SMA 3 Batusangkar- Peraih Predikat I Guru Berprestasi Nasional. Email: marjohanusman@yahoo.com)

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture