Jumat, 19 Juni 2015

Melintasi Langit Indonesia: Jangan Menunggu Kesempatan



 Melintasi Langit Indonesia:  Jangan Menunggu Kesempatan
By: Marjohan, SMAN 3 Batusangkar (085264340180)

Proaktif Pada Informasi
            Setelah memperoleh surat tentang kesempatan untuk mengikuti program Benchmarking ke Australia di bulan Juni, dan setelah melengkapi persayaratan seperti memperpanjang passport dan kelengkapan dokumen lainnya, aku harus sabar menunggu. Cukup lama menunggu apalagi sempat melalui musim berpuasa (bulan Ramadhan) yang jatuh pada pertengan bulan Juli hingga awal bulan Agustus. Kemudian tidak terasa nongol bulan September.
            Aku berprinsip bahwa kita jangan terbiasa menunggu kesempatan- apalagi sempat menunggu informasi sampai ada yang memberi tahu. Aku juga yakin bahwa tentu panitia/ penanggung jawab program kunjungan keluar negeri juga punya aktivitas lain, dan tidak mungkin diri kita saja yang bakal diurusnya. Maka menulis pesan singkat (SMS) ke Ibu Aat Rachminawati yang bertugas di kantor SubditPendidik dan Tenaga Kependidikan Menengah di Jakarta. Ibu Aat merespon SMS-ku dan beliau email-ku.
            Sebelum tidur aku menyempatkan diri untuk membaca email. Ya benar aku dapat sebuah forward email dari Bapak Asril Pulungan. Aku membaca ada sebuah request:
            Mohon disampaikan ke dinas pendidikan kabupaten/Kota masing-masing. dan mohon konfirmasinya jika sudah menerima email“.
            Dalam email yang aku terima terdapat informasi tentang hari dan tanggal keberangkatan. Kemudian semua peserta berkumpul di tanggal 13 September di Hotel Kaisar- Jakarta Selatan. Tentu sajakami semua akan memperoleh pembekalan (coaching) dan setelah itu baru menuju bandara untuk terbang ke luar negeri.
            Kunjunganku ke Melbourne dalam bulan Desember lalu bertepatan dengan musim panas. Namun aku tidak merasa panas, temanku malah terlihat kedinginan karena kata pendudukan setempat bahwa mereka baru saja berada di awal musim panas dan musim semi (spring). Musim semi ternyata terasa dingin, ibarat berada di daerah Alahan Panjang- dekat Danau Diatas- Danau Dibawah- di Sumatera Barat. Dingin musim semi masih menyisakan suhu yang begitu dingin. Maka kunjungan sekarang itu berarti musim semi yang bersuhu dingin. Oleh sebab itu kami diberi catatan tentang keperluan yang harus dibawa selama berada di Australia, yaitu sebagai berikut:
1.      Pakaian untuk keperluan di Australia, seperti jas, batik dan pakaian lainnya yang dianggap sopan. Peserta harus membawa pakaian untuk menahan dingin seperti jaket, syal dan paying, karena suhu udara/cuaca selama kita berada di Australia (Melbourne, Sydney) diperkirakan sekitar 15 s.d. 20 derajat celsius, sewaktu – waktu bisa berubah.
2.      Obat-obatan pribadi yang diperlukan dalam bentuk kemasan (jumlah terbatas), seperti obat pusing, obat diare, obat alergi, dan obat maag. Tidak diperkenankan membawa obat tradisional (jamu).
3.      Jika ada, souvenir dari masing-masing daerah yang tidak memberatkan dan berukuran kecil masing-masing peserta 2 buah untuk diberikan kepada sekolah yang dikunjungi.
Untuk informasi tambahan bahwa keberangkatan kami ke Australia direncanakan pada tanggal 14 September dengan rute  dari Jakarta - Melbourne pukul 15.50 WIB  dan  kepulangan. Aku bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini dan berharap agar/ kami memperoleh banyak pengalaman.
            Dalam daftar peserta Benchmarking program aku lihat ada perubahan. Aku tidak melihat nama- nama seperti Herfen Suryati, Euis Andriani dan Andi Robbi. Sebagai gantinya ada nama Slamet Rahajo, Isdarmoko dan Sumarno. Tentu saja aku ingin mengenal figure mereka sebelum jumpa dengan mereka nanti.
a) Guru Berprestasi Dari Sumbawa
Slamet Raharjo guru SMA 1 Sumbawa pernah memperoleh predikat sebagai guru berprestasi tingkat nasional. Pulau Sumatera terletak cukup jauh, sehingga aku kurang kenal dan harus mengenal dengan daerah Sumbawa. Daerah Sumbawa merupakan sebuah daerah yang berada di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kabupaten yang ibukotanya di Sumbawa Besar ini terletak di sebagian besar bagian Pulau Sumbawa.
Ternyata guru guru di Sumbawa cukup kreatif. Sebagai bukti mereka punya 4 temuan Teknologi Tepat Guna (TTG) dan diikut sertakan dalam pameran TTG Tingkat Nasional di Jogja Expo Centre, Jogjakarta. TTG itu meliputi Cerobong Pembakaran Sekam, Pemanasan Tenaga Surya, Kursi Roda Adjustable dan Rangka Gen karya Slamet Raharjo S.Pd. (Guru SMA Negeri 1 Sumbawa Besar). Selain memamerkan karya TTG juga akan memamerkan berbagai produk olahan TTG seperti dodol rumput laut, susu kuda liar, permen susu hingga minyak Sumbawa.

b) Kepala Sekolah berprestasi
Semester lalu aku sempat sama mengikuti acara menerima satyalencana dari Presiden RI- Susilo Bambang Yudoyono- dan di sana aku berjumpa dengan Isdarmoko. Ia terpilih sebagai Kepala SMA Berprestasi Nasional. Untuk sekolahnya ia mengoptimalisasi proses pembelajaran. Sebuah sekolah akan berkualitas kalau memiliki manajemen, guru- guru dan anak didik yang juga berkwalitas.  Sekolahnya Isdarmoko- SMAN I Bantul Yogyakarta- mendapatkan akreditasi A dari badan akreditasi provinsi (BAP) dengan nilai 97,85 dan ini merupakan hasil tertinggi diantara SMA se-DIJ (Daerah Istimewa Jogjakarta). Atas prestasi itulah, SMAN I Bantul mendapatkan standar manajemen mutu international ISO 9001: 2008.

c) PBM Berorientasi Anak Didik
            Sumarno adalah guru berprestasi utusan Sumatra Utara dan sama- sama mengikuti kegiatan seleksi guru berprestasi nasional denganku.  Ia mengatakan bahwa kegiatan  pemilihan guru  berprestasi  mempunyai  banyak seperti dapat  menambah wawasan, karena kegiatan ini mendorong individu  untuk  mengetahui  berbagai  hal untuk  menjadi  sosok  guru  yang  ideal.  Dan juga bisa memperoleh penghargaan.
Penghargaan  ini  akan membuat seorang guru lebih percaya diri, lebih termotivasi untuk selalu berbuat dan memberi yang terbaik, serta muaranya akan menjadi insprirasi bagi peserta didik untuk selalu  berprestasi. Kegiatan seleksi juga bisa memberi spirit untuk maju. Menurutnya bahwa pembelajaran  yang  berkualitas  adalah pembelajaran  yang  berorientasi  kepada peserta didik. Peserta didik sebagai subyek diharapkan  aktivitas  dan  hasil  belajarnya selalu  optimal. 

2) Preparation to Fly
            Rute terbang pesawat yang membawaku ke Australia adalah dari Padang, Jakarta dan terus terbang selama 6 jam ke Sydney. Sementara itu aku berharap-harap kalau pesawat tersebut bisa transit di Denpasar- Bali, soalnya aku ingin melihat keindahan pulau dewata dari langit. Namun perjalanan kali ini keinginanku bakal terkabul. Karenakami terbang dengan pesawat Garuda ke Denpasar dan selanjutnya kami terbang dengan JetAtar Airways menuju Sydney dan Melbourne.
            Hari kamis segera datang, hari dimana aku harus terbang menuju Jakarta- Denpasar- Sydney dan Melbourne. Namun sebagai guru (juga sebagai PNS) aku harus mengantongi surat izin/ surat tugas dari Dinas Pendidikan Kab. Tanah Datar. Kemaren aku sudah berada di sana. aku berharap kalau surat tugas buatku sudah terbit, dan aku bisa menyiapkan hal- hal lainnya.
            “Tidak seperti itu menerbitkan surat tugas buat guru yang mau berkunjung ke luar negeri. Surat yang masuk kamis proses terlebih dahulu- kami melakukan telaah staf- terus surat naik ke biro kepegawaian di Kantor Bupati hingga mendapat persetujuan dari Bupati. Bila sudah turun baru kami bisa menerbitkan surat tugas buat pak Marjohan”. Demikian Pak Erman menjelaskan proses birokrasi sebuah surat di pemerintahan.
Aku minta konfirmasi kapan aku bisa datang ke sana- mungkin hari Senin atau Selasa depan. Yang jelas aku berharap: lebih cepat lebih baik. Bila surat tugas sudah aku kantongi aku baru berani untuk memesan tiket buat terbang ke Jakarta.   
Aku mencari tahu untuk yang terakhir tentang cuaca di Australia untuk bulan September. Iseng- iseng aku menulis status pada Face Book:
“Apa teman teman ada yang tahu, bulan September ini bagaimana cuaca di Melbourne dan Sydney dan apakah saya perlu membawa jaket tebal ?” Beberapa menit setelah itu ada response dari beberapa teman.
Marjohan Usman Sepetember berarti masih musim dingin....berarti cari baju tebal....di bukittinggi harganya jauuuuuh lebih murah dari sydney atau Melbourne”.
Naser Acer Usman Musim,,dingin,,nyo,,lai,,ndak,, sadingin,,di,,sydney,doh,,om,, maret,,gkgkgkgk”.
Indra Wisnu Wardana September sdh habis winter mr joe jd tdk begitu dingin lagi”.
Andeiz Pratama boleh ikut uncle.? Hehehe”.
Afridha Laily Alindra Paspor biru lbh nyaman uncle...bagasi ringan aja dulu..ntar pulang bw oleh2 ya...he..he..”
Hendra Nasrul Apa lagi nyari baju tebalnya di 'pasa lereng' ya Uncle,mungkin jauh lebih hemat n bisa beli banyak..”
Rusdi Muchtar Sedingin2nya winter di kota2 pantai di Australia, tetap aja lebih hangat dibanding di Eropa atau amerika daratan”.
Genta Sakti mainkan aja baju seken jo...di bukittingi paling juga 50 rb...laundry 15 ribu rupiah...kondisi masih bagus sekali...dijamin ..he he”.
Mezla Sandra semangat y uncle... ditunggu foto2 dan oleh2nya...”
Revalin Herdianto d Aussie pakaian dingin bisa murah juga tp beli di toko pakaian bekas sebangsa salvation army atau good sammy. Tapi bagusnya bawa dr sini saja krn gak ada waktu buat shopping. Jaket harga kisaran 10-20 dolar sdh bagus, unc Joe. Jangan lupa siapkan topi kupluk (sebo) dan syal, krn angin kadang2 lebih merepotkan drpd suhu dingin”.
Marjohan Usman Iya.....good info from many best friends.....”
Aku membaca beberapa poin yang tertera dalam surat panduan buat ke luar negeri. Respon dari facebooker sangat signifikan dalam menambah wawasanku. Aku meluncur ke toko pakaian. Aku langsung ingin menyambar baju hangat dari wool dan sekaligus dengan pembukus kepala. Penjual pakaian tidak langsung menerima uangku. Iamalah memberi aku pertimbangan dan pilihan.
“Kalau bapak ambil baju hangat dengan warna merah menyala ini, ya hanya cocok buat dibawa ke gunung dan pantai Melbourne yang dingin. Namun karena Bapak juga ada kunjungan ke kantor dan sekolah, lebih bagus bapak ambil jas yang seperti blazer ini”. Aku sangat setuju dan aku memilih warna dan ukuran yang nyaman buat dipakai. Aku kemudian juga membaca hal- hal yang sangat urgen- keperluan yang dianjurkan untuk dibawa- antara lain sebagai berikut:
a) Obat-obatan yang biasa diminum seperti obat pusing, influenza, diare, obat gosok dll.
b) Obat-obatan yang diminum rutin untuk penyakit yang diderita peserta, misalnya ; obat diabetes dll.
c) Vitamin untuk diminum apabila diperlukan.
d) Sepatu yang bertumit rendah dan nyaman untuk berjalan jauh.
e) To­­pi, payung, Jaket.
f) Sambal bagi yang senang makan pedas.
g) Voltase listrik di Australia adalah 230 / 240 V, Mohon diperhatikan untuk peserta yang membawa video, Hp, dan charger baterai diharapkan harus membawa sambungan berlubang tiga pipih.
h) Handphone GSM satelindo, Telkomsel, Excelcom, pasca bayar/abodemen yang sudah dibuka fasilitas SLI-nya bisa dipergunakan.
Nasehat atau info-info tersebut sangat berguna. Aku tidak mau mengulang cerita semester lalu. Aku juga pergi ke Melbourne dan sempat menginap di tiga tempat yaitu di hotel Ibis Melbourne, di Apartement Punthill Burwood, dan Apartement Punthill Knox City. Namun alat alat elektronik yang aku bawa tidak bisa terhubung dengan charger yang standar untuk Indonesia- charger dengan sambungan dua lobang. Untuk itu kita bisa menyewanya seharga $.3 dari receptionis. Aku berfikir bahwa tidak ada yang gratis di Australia.
“Harga sambungan itu saja di Batusangkar- Sumatera Barat hanya Rp. 10.000 (atau $.1 Aus). Wah untuk menyewa saja sudah kemahalan, berapa dollar musti aku bayar kalau ingin membelinya. Namun karena butuh ya musti aku sewa. Namun sekarang kami sudah tahu apa apa saja yang harus dipersiapkan”.
Beberapa hari ini aku masih menunggu-nunggu surat izin buat kunjungan ke luar negeri dari Bupati Tanah Datar. Kemaren aku sudah pergi ke kantor tata usaha Bupati dan ternyata belum ada kemajuan karena Bupati lagi sakit dan pergi berobat. Tadi siang aku datang lagi dan aku memperoleh informasi bahwa surat izin buatku bakal turun besok. Pokoknya waiting is boring- menunggu itu membosankan. Aku berharap besok ada kemajuan surat izin Bupati buatku. 
















Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture