Jumat, 19 Juni 2015

Orang Indonesia Juara Nyanyi di Australia



Orang Indonesia Juara Nyanyi di Australia
By:
Marjohan Usman
Guru SMAN 3 Batusangkar, West Sumatra Indonesia
phone: 085264340180


1. Konjen, Tempat  Yang Nyaman
            Hari terakhir di Australia kami habiskan di kantor Konsulate Jenderal RI di Sydney. Alamatnya adalah di 236 Maroubra Rd, Maroubra NSW 2035, Australia.  Selesai mengikuti kegiatan ramah tamah dengan Pak Nicolas dan juga Pak Akbar Makarti, kami semua menyebar ke sekeliling gedung. Aku merasa senang dan nyaman, seperti di rumah sendiri. Orang orang banyak yang datang dan pergi ke gedung ini.  
            Konsulate Jenderal memang sangat diperlukan. Seorang konsul atau konsul jenderal[1] adalah pemimpin sebuah konsulat  wakil resmi sebuah negara bertindak untuk membantu dan melindungi warga negaranya serta menfasilitasi hubungan perdagangan dan persahabatan (hal ini yang membedakan tugas antara seorang konsul dengan duta besar yang mewakili sebuah negara) yang ditugaskan di luar wilayah metropolitan atau ibu kota sebuah negara di luar negeri dan berkewajiban menjaga kepentingan negara serta rakyatnya yang berada di negara luar negeri tersebut. Kantor tempat konsul bertugas disebut konsulat atau konsulat jenderal, dan umumnya berada di bawah pimpinan sebuah kedutaan besar, yang biasanya terletak di ibu kota negara.
            Aku sempat berbincang- bincang dengan warga Indonesia yang telah lama tinggal di sini. Aku lupa dengan namanya. Ia mengatakan bahwa saat merasa sendiri di perantauan, kangen rumah sudah tentu melanda. Ingat teman-teman di tanah air, rindu keluarga di rumah, kangen masakan ibu dan segudang perasaan lainnya campur aduk di benak pelajar Indonesia di Australia. Untuk mengatasi perasaan ‘homesick’ itu ada banyak cara yang bisa dilakukan. Agar semakin bersemangat menimba ilmu di Negeri Kanguru siswa dapat bergabung dengan kelompok-kelompok kemahasiswaan maupun komunitas Indonesia di Australia. Biasanya kelompok-kelompok ini banyak di jumpai di Universitas atau kampus yang memiliki banyak pelajar dari Indonesia yang menuntut ilmu di beberapa kampus di Australia barat seperti Curtin University, Edith Cowan University, TAFE maupun Murdoch.
Salah satu contohnya adalah Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia-Western Australia[2]. Perhimpunan ini menyatukan ratusan pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di negara bagian Australia paling barat. Mereka memiliki beragam aktifitas seperti Lomba Pidato Bahasa Indonesia, acara olah raga dan kesenian, ramah-tamah dengan penduduk Australia lewat pesta BBQ dan beragam kegiatan lainnya. Apabila Anda adalah pelajar Indonesia di Australia dan ingin bergabung, bisa mengisi formulir berikut ; http://ppia-wa.org/wp-login.php?action=register Dengan bergabung dalam perhimpunan ini, pelajar bisa bergabung, bertukar pikiran, berkegiatan, mempererat persaudaraan, membangun jaringan/networking, dan tentunya dapat bertemu sesama orang Indonesia dan merasa seperti di rumah sendiri.
Selain itu, Konsulat Jenderal Indonesia (seperti di Sydney, Perth dan tempat lain) siap membantu mengakomodir kepentingan warga Indonesia di Australia untuk tinggal secara nyaman. Berbagai informasi mengenai komunitas ini dapat dengan mudah di temui di Konjen RI yang terletak di Pusat Kota. Dengan bergabung bersama komunitas/perhimpunan tersebut dapat menjaga diri dari kegiatan-kegiatan negative yang mungkin dapat mempengaruhi tujuan utama kita untuk belajar di Australia demi masa depan. Komunitas-komunitas tersebut juga sangat welcome untuk menyambut anggota baru dan senang berbagi berbagai informasi penting tentang pengalaman mereka selama belajar, bekerja maupun tinggal di kota-kota Australia.
Di konjen Sydney ini ada cukup berita, apalagi tentang kemajuan bangsa kita di benua Australia ini. Aku merasa surprised saat mengetahui bahwa ternyata saat ada kegiatan pemilihan “Bintang Australia Idol- yang dalam programnya disebut Australia’s Got Talent atau AGT”, ternyata pemenangnya adalah orang kita yang bernama Julius Firdaus. Aku ingin menceritakan tentang pria ini buat teman- teman di Indonesia.

2. Julius Firdaus- Juaranya Australia Idol
            Julius Firdaus adalah asal Indonesia yang memperoleh juara sebagai Australia Idol, yang dalam nama kejuaraannya adalah “Australia’s Got Talent (AGT)”[3]. Media-media Australia menjulukinya gelar “a man with angelic voice’. Di satu sisi sebagai orang Indonesia kita merasa bangga, namun di sisi lain kita menyadari ironi betapa minimnya orang kita yang berpengaruh baik dalam segi entertainment maupun politik disbanding orang-orang background Asia lainnya di Australia. 
            Julius menjadi pioneer dan contoh bahwa orang Indonesia juga bisa turut berintegrasi dengan kultur mainstream entertainment di Australia. Julius datang ke Sydney kira- kira 3-4 tahun yang lalu. Ia adalah pelajar musik pada Australia International Conservatorium of Music di Rozelle.
            Ia datang ke Sydney karena mendapat beasiswa untuk classical singing di bidang opera. Lumayan terhormat karena dari semua murid conservatorium, ia satu satunya yang dapat beasiswa penuh dan satu satunya orang donesia. Kebanyakan pelajarnya datang dari Iran, Irak, Amerika, Perancis, Spanyol, dll. Ia pertama kali menemukan talenta dalam menyanyi saat iamasih kecil. Karena pada kenyataanya ia mendapat scholarship juga sejak dini. Sepertinya memang sudah jalan baginya, waktu kecil ia sudah ikut banyak kompetisi.
            Dalam keluarganya sendiri tak ada yang berdarah musik. Oleh karena itu dulu orang tuanya/ papanya sempat menentang hobbynya. Karena papanya punya bisnis besar, sukses dan papanya ingin agar ia menjadi penerusnya.
            Sebelum mengikuti kegiatan Australia Idol, ia memiliki kegiatan rutinitas sehari-hari. Kebetulan pas tahun kedua ia bikin program dan ia diminta jadi director acara tersebut. Sejak saat itu teman-temannya, rata-rata orang bule, berkata bahwa mereka ingin bekerjasama dan ingin belajar bersama. Maka ia mulai menjadi pengajar musik. Dan saat ia bertemu dengan komunitas Korea, mereka mengajak Julius buat membuka sekolah bareng di Ashfield dan Julius menjadi kepala pengajar hingga sekarang.
            Julius kemudian juga diangkat menjadi pengajar di conservatorium tempat ia belajar. Jadi ia sebagai pelajar dan sekaligus juga menjadi pengajar- semacam assisten professor. Memang hidup ini tidak ada yang terjadi secara instant (secara tiba-tiba. Semua harus dijalani dengan telaten.
            Pengalaman saat mengikuti AGT (atau Australia Idol) tentu saja pada mulanya ia sempat nervous. Apalagi iatahu bahasa Inggrisnya masih ajep-ajep. Namanya saja mengikuti acara Australia’s Got Talent, jadi ia harus tampil selayaknya orang Australia, bukan Indonesia. Jadi perjuanganya tiap saat harus berbicara bahasa Inggris. Sebagai orang Indonesia sebelum mengucapkan sesuatu harus mikir dulu, bahasa Indonesianya apa dan terus diterjemahkan ke bahasa Inggris.
            Bayangkan di dalam gedung ada 2000- 3000 orang dan 4 juri. Semuanya orang besar, salah satunya Geri Halliwell[4]…yang merupakan idolnya Julius sejak ia berumur 14 tahun. Mengetahui bahwa ia bakal nyanyi di depan mereka lalu akan dikomentari tentu membuanya nervous. Julius sangat bersyukur karena acara Australia idol itu hanya dibuka buat citizen Australia dan permanent resident, sementara ia belum- tapi sedang mengurus menjadi permanent resident. Namun ia bisa mengikuti acara tersebut.   
            Julius sering disebut sebagai penyanyi seriosa. Ia tahun bahwa kalau di Indonesia jaman dulu seriosa dimulai pas pada jaman pak Pranajaya[5]- merupakan seorang penyanyi tenor dalam musik seriosa Indonesia. Ia sering disebut sebagai "Bapak Seriosa Indonesia"-  dan banyak penyanyi era 1940- 1950. Sebenarnya seriosa itu diambil dari kata opera namanya seria. Jaman dulu ada istilah operetta, opera buffa dan opera seria.
            Berkat prestasi pada AGT Julius mendapat tawaran kontrak banyak label musik. Ada yang menawarkan untuk pindah ke London dan Amerika Serikat. Tentu saja tidak bisa diambil karena ia sebagai murid beasiswa sudah tanda tangan kontrak sampai selesai. Maka fokusnya untuk sementara hanya belajar dulu. Yang jelas ia tidak mau menjadi orang yang sebagai penonton saja, ia selalu ingin mengambil peran dalam hidup ini.
            Julius punya pesan bagi anak anak Indonesia agar bisa menjadi Go Internasional maka perlu mengubah cara berfikir. Memang itu semua soal mindset, musti dibentuk dari dalam. Kalau di Australia terlihat orang sini melihat apa yang kita bisa….bukan apa yang kamu punya. Sementara itu di Indonesia, sering lihatnya dari apa yang kita punya…bukan apa yang kita bisa. Yah kalau kitamau ingin jadi orang yang lebih internasional, maka jadilah orang yang kepribadian dan etos kerjanya internasional juga.  


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Konsul
[2] http://www.educationone-indo.com/perkumpulan-mahasiswa-dan-komunitas-indonesia-di-perth-australia/
[3] Oz-Indo, Monthly Indonesian Magazine. Po Box 682. Rosebery -New South Wales
[4] http://www.gerihalliwell.com/
[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Pranajaya

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture