Jumat, 19 Juni 2015

Pengalaman Tidak Terlupakan: Jangan Lupa Sholat, ya…!!!



Pengalaman Tidak Terlupakan: Jangan Lupa Sholat, ya…!!!

By:
Marjohan Usman
Guru SMAN 3 Batusangkar, West Sumatra Indonesia
phone: 085264340180
 

1. Batal Shopping
            Kami membatalkan rencana untuk pergi ke shopping centre di Swenston Shopping Centre. Hari sudah menunjukan  pukul 16.00 lewat. Kami belum merasa gelisah karena belum melakukan sholat zuhur dan juga sholat ashar.
            Meskipun  teman-teman dalam grup kami ngobrolnya kayak siswa sekolahan, sedikit urakan, membebaskan diri dari formalitas. Namun kami tetapi berhati Makkah- maksudnya kami masih punya hati yang cukup religious.
            Kami mengatakan kepada tour leader agar membatalkan shopping dan baiknya kami kembali saja ke hotel. Tujuan adalah agar kami bisa melakukan sholat- sholat jamak zuhur dan ashar. Meninggalkan sholat adalah dosa besar.
            Tour leader merespon bahwa kalau kami pergi ke hotel berarti kami akan kehilangan moment buat berlibur. kami tidak melihat keindahan suasana di shopping centre swenston dan sekaligus tidak bisa cuci mata.
            “Kalau alasannya hanya untuk sholat, bukankah orang Islam bisa sholat dalam bis dan cukup melakukan tayamum saja”. Kata Rachman.
            “Itu benar, bang Rachman. Namun kami tidak merasa bersih, pakaian kami sudah tidak bersih lagi. Sebab banyak toilet di Australia kurang mendukung kita untuk suci dari hadast atau najis. Malah ada toiletnya tanpa air sehingga kita tak bisa bersuci. Disana tertulis toilet with non water urination. Jadi bagusnya kita kembali saja ke hotel”.
            Sebagai jalan tengah, sekarang ada alternative. Bagi yang ingin ke hotel akan diantar ke hotel dan bagi yang mau ke shopping center juga diantar. Kami memilih untuk pulang ke hotel, dengan catatan bahwa kami akan rendesvouz pukul 18.00 sore di restoran West Lake.
            Kami memutuskan buat kembali ke hotel. Aku sendiri merasa sangat bahagia. Aku bisa mandi pake air hangat, tadi pagi aku malas mandi karena merasa sangat dingin- suhu cukup rendah yaitu 10o C dan juga kurang mood buat mandi. Pokoknya aku jadi males buat mandi.
            “Sore ini aku bisa mandi dengan memutar sedikit kran air panas dan juga memutar kran air dingin, jadinya suhur air bercampur menjadi sejuk. Aku merasa air tidak begitu panas dan juga tidak begitu dingin.
            Selesai mandi aku bisa melakukan sholat- menjamak zuhur dan ashar. Untuk arah sholat- arah kiblat- kemaren aku mematok dimana arah dan dimana tibmur. Ya tentu saja berdasarkan arah jatuh bayangan mata hari. Aku tidak memiliki kompas dan yang tadi adalah cara yang juga praktis.
            Woooww terasa plong, aku sudah sholat dan tidak ada rasa berhutang pada Tuhan rasanya. Temanku Abdul Hajar memanaskan air dan bakal membuat teh hangat untuk dinikmati di sore yang dingin ini.
            Aku masih terbayang dengan suasana di Dandenong High School. Pelayanan sekolah sangat bagus dan Miss Susan Ogdan cukup cerdas. Ia mampu menjawab semua pertanyaan kami dan juga menjelaskan sedetail mungkin. Aku rasa bahwa Miss Ogdan bisa menjadi profil kepala sekolah yang ideal buat banyak sekolah di Indonesia.
“Ia cerdas- punya wawasan, memiliki kemampuan manajemen yang baik. Ia juga memiliki komunikatif yang sangat baik. Ia tidak kaku. Dandannya sederhana namun terlihat anggun”.        
Kami kemudian dibawa jalan-jalan melihat lokasi sekolah dan juga masuk ke ruangan kelas. Kami bisa melihat suasana PBM. Aku menyaksikan PBM pada beberapa kelas. Suasananya beda dengan suasana kelas di negara kita- paling kurang suasana kelas di kampungku, yang mana PBM-nya sebagian berciri konvensional. Saat guru memandu 30 orang siswa yang diminta duduk dengan manis. Mayoritas PBM bercorak berceramah dan siswa mendengar dan mencatat saja.
Sementara pada PBM di sekolah ini, sebagaimana aku lihat, bahwa para siswa dikondisikan sedang melakukan sebuah projek dan semua grup bertanggung jawab untuk kesuksesan proyek ini. Siswa duduk dalam grup dan kemudian team guru turun memberikan instruksi. Siswa dalam grup bekerjasama untuk mencari apa yang diminta guru- apa yang diharapkan oleh instruksi. Guru melangkah buat memonitor dan memberi pelayanan/ bantuan. Pada akhirnya grup siswa memaparkan hasil kerja mereka.Team guru tentu saja betanggung jawab pada semua siswa dalam kelas itu.  
Aku memotret segala sesuatu yang bisa memberi pesan padaku tentang keunggulan DHS (Dandenong High School). Aku khawatir tidak bisa cepat mencatat segala sesuatu buat memory, maka selembar potret bisa memberi seribu makna.
Guru- guru di sekolah DHS juga punya pakaian seragam. Kalau berjalan, jalan mereka cukup besemangat, tidak ada yang berjalan lunglai. Tidak ada guru yang dalam PBM terlalu banyak duduk dan banyak berceramah, tidak ada guru yang berpenampilan lesu. Guru yang bersemangat akan membuat PBM dan siswa juga bersemangat.
Meja guru tidak perlu lebih nyaman dari siswa, khawatir kalau gurunya jadi kebanyakan duduk. Guru- guru kalau berjumpa di luar DHS terlihat individu dan tidak ramah, namun setelah berada dalam kompleks sekolah semuanya berubah ramah dan melayani.   
   


2. Restoran Indonesia
            Aku berfikir bahwa semua orang tua perlu membuat anak untuk berani. Mereka perlu untuk melibatkan anak dalam berbagai aktivitas di rumah dan memberi mereka pengalaman untuk memcobanya sendiri.
            Aku melihat satu keluarga Australia. Orang tua menghela bagasi dan anak mereka yang masih balita atau yang berusia sangat kecil juga ikut menghela bagasi mereka sendiri. Saat orang tua berada di dapur memasak sayur, mereka juga ikut mempersilahkan anak untuk mencoba memasak. Bukan melarang mereka- dengan alasan mengganggu. Ikut memberi anak pengalaman dan ikut melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan bisa membuat mereka cerdas dengan life skill.
            Mana kira-kira yang lebih kaya pengalaman hidup antara mahasiswa Indonesia yang kuliah di Australia dengan mahasiswa yang hidup bersama orang tua dan serba di bantu oleh orang tua. Tentu saja yang kuliah jauh dari orang tua, mereka akan lebih mandiri untuk membantu diri sendiri dan juga mengatasi problem diri sendiri.
            Mahasiswa yang tinggal bareng dengan orang tua, tidak masalah. Yang penting mereka musti punya peran dalam hidup dan mereka punya tanggung jawab dalam membantu diri sendiri terlebih dahulu. Anak- anak dan mahasiswa yang miskin pengalaman dan serba dibantu adalah anak- anak yang memiliki pribadi yang rapuh. Mereka bisa diberi gelar sebagai “Si anak mami”.
Sebelum jam 18.00 sore kami turun semua. Aku turun dari kamar 1012 untuk berjalan di bawah guyuran gerimis menuju restoran di daerah West Lake. Kami cari- cari dimana letak restoran ini. Tentu saja kami harus bertanya pada orang- orang yang lewat, dan tidak ada yang tahu. Kami kemudian bertanya pada salah seorang shopkeeper yang terdekat dan ternyata juga tidak mengenal resto yang kami cari.
            Namun aneh mengapa mereka tidak kenal (?), pada hal mereka sudah menjadi warga daerah ini atau paling kurang sudah lama tinggal di daerah ini. Semuanya hanya bisa bilang “I have no idea- maksudnya aku betul betul tidak tahu”.
            Beda dengan di Jakarta, kalau kita menanyakan sesuatu maka orang orang akan memberi respon. Paling kurang mereka akan memberi deskripsi tentang tempat yang bisa kami tuju. Entahlah mungkin kami belum bertanya pada the right man tentang the right place.
            Akhirnya kami berjumpa dengan resto yang kami cari. Tertulis nama “West Lake Restaurant”. Kami datang lebih cepat dari grup teman yang pergi shopping tadi. Kami menjadi tempat yang meja dan kursinya lebih luas dekat sebuah pojok, kami segera duduk di sana.
            Kami segera disuguhi minuman teh hangat, kami harus bikin tehnya sendiri- sendiri. Sambil menunggu grup teman, kami ngobrol tentang berbagai hal dalam bahasa Jawa, karena mayoritas temanku adalah berasal dari keturunan Jawa yang kebetulan menyebar ke propinsi lain. Aku mengerti dengan apa yang mereka obrolkan tetapi aku tidak bisa ngomong Jawa. Tentu saja orang orang Australia lebih tidak mengerti lagi dengan obrolan mereka.
            Pengunjung restorang yang lain, juga tidak ngobrol dalam bahasa Inggris. Mereka ngobrol dalam bahasa nenek moyang mereka, mungkin bahasa Vietnam, Korea, Japan China, atau bahasa lain. Kami sengaja minum air teh perlahan-lahan hingga teman-teman datang.  
Perut kami terasa keroncongan. Tidak ada yang spesial yang aku temui di restoran ini. Kecuali aku sempat menyapa salah seorang pelayan restoran. Ia adalah mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di sini. Ia sekarang bekerja part time- kerja sampingan untuk mengatasi problem keuangannya.
Malam ini kami makan hidangan yang cukup lezat. Dulu- saat datang ke sini 6 bulan lalu- aku merasa sedikit curiga setiap kali makan daging pada restoran yang bukan milik orang muslim. Aku khawatir kalau termakan daging babi atau minyak babi- itukan haram. Namun karena sekarang kami berangkat dipandu oleh travel biro Reira- mengerti tentang Islam dan makanan halal.
Rachman, pemandu kami juga beragama Islam. Maka kami menyantap semua daging dengan penuh rasa aman. Moga moga semua daging dan semuahidangan yang kami konsumsi memang halal.
Usai makan malam aku sempat bertanya pada salah seorang pelayan perempuan berwajah China, berusia muda dan cantik, tentang apakah semua hiding yang konsumsi halal. ya prosesnya memang halal- katanya. Aku juga bertanya tentang tekhnik menggunakan chopstick. Aku pengen makan sayur atau mie pake chopstick. Wah cukup sulit juga menggunakan chopstick.
No, it is easy, just see and like this….hold up, open…close, open- close on your fingers”.
Pelayan itu memberi aku kursus kilat menggunakan chopstick- gratis. Ope- close- buka jari..tutup jari. Wah sulit dan aku butuh waktu latihan kira kira 20 kali atau 100 kali.
Alhamdulillah, perut kami semua terasa kenyang. Yang kepikir adalah kami pengen balik ke hotel. Kami cuma duduk sebentar, beres- beres dan tour leader mengurur biayanya- semua dibayar oleh negara dan kami ke sini adalah biaya negara.
Kami menuju mobil wisata yang sudah menunggu di luar. Kami semua diantar lagi ke hotel. Aku merasa lega. Aku bisa sholat maghrib dan isya dan juga bisa buat membaca dan menulis. Menulis termasuk agenda rutinku kalau lagi melakukan perjalanan.

3. Membaca Membuat Anak Mengakses Dunia
            Ada banyak koran- koran Australia yang bisa aku ambil dan baca secara gratis. Semua harga koran sudah dibebankan kepada harga sewa kamar. Dengan demikian orang orang di sini jadi suka membaca, sedikit- sedikit mereka membaca. Ada satu topik yang menarik buat aku baca, yaitu tentang berapa jauh kosa kata bisa membuat seseorang bisa berubah.   
            Rick Morton (2013) seorang pendidik Australia mengatakan bahwa anak- anak dari kommunitas Yakanarra, di daerah terpencil Kimberley yang cukup terisolasi dari dunia luarbisa menjadi pengarang dan menguasai dua bahasa yaitu bahasa ibunya dan bahasa Inggris. Di sana dalam kenyataan bahwa ada satu dari lima anak yang bisa menjumpai buku bacaan, yang materi bacaannya pun masih sederhana dalam bahasa Inggris. Ternyata membaca bisa membuat anak-anak bisa mengakses dunia di luar kommunitas mereka. Oleh sebab itu anak-anak perlu diberi banyak buku bacaan sejak dini. Bagi anak yang punya prestasi perlu diberi reward.
            Kemudian Katheryne Shine (2013) juga mengingatkan agar orang tua meluangkan waktu agar bisa banyak bercerita-ngobrol- dengan anak dan juga membacakan cerita buat mereka. Karena anak yang mengenal berbagai bacaan- juga yang orang tuamereka sering mengajak mereka ngobrol- akan membuat mereka lebih cerdas dan berkualitas dalam percakapan. Sebaliknya, anak anak yang berasal dari keluarga yang tidak memperkenalkan buku- literasi- pada anak akan membuat kualitas SDM-nya jauh tertinggal dibanding dengan anak sebaya yang sudah mengenal buku/bacaan.  
            Ukuran keluarga (jumlah orang dalam keluarga) juga juga faktor yang menentukan atas kualitas bahasa (juga SDM) anak. Anak  yang memiliki saudara lebih banyak- tentu akan memperoleh pelayanan berbahasa dari orang tua- akan tertinggal kualitas bahasanya disbanding anak sebayanya. Untuk itu orang tua kita ingatkan agar selalu berbagi cerita anak-anak mereka sesering mungkin. Mungkin saat makan, saat mandi, saat berkumpul bareng keluarga dan juga saat menjelang tidur. Tentu saja anak anak selalu menyenangi suasana berbahasa yang hangat- bukan komunikasi/ bahasa yang penuh jengkel, hardikan dan marah.   
B. Suka Antrian dan Minta Maaf

1. Karakter Positif
            Hari ketiga berada di hotel Rydges, aku sudah merasasepeprti berada di rumah sendiri. Kalau kemaren aku tidak sanggup buat mandi pagi. Aku tak sanggup melawan rasa dingin air kamar mandi- walau ada air panas, namun rasa malas terasa besar.
            Pagi ini aku cukup kuat buat mandi. Aku memutar kran air panas dan juga kran air dingin sekaligus, maka pancaran shower sekaligus menjadi hangat dan jadi enak di kulit. Kini aku bisa mandi dengan lebih leluasa. Badan jadi lebih bersih dan sholat subuhku lebih khusuk.
            Dalam kamar hotel ada beberapa fasilitas yang bisa dinikmati, namun tidak secara bebas. Untuk menggunakannya kita musti buat konfirmasi pada petugas front officer. Ada pesan yang musti kita ketahui bila ingin menginap di hotel- hotel Australia, yaitu sebagai berikut:
            - Kebanyakan hotel mempunyai fasilitas “pay movie” yang tertera di remote control TV. Itu berarti apabila salah pencet tombol, maka tagihan akan langsung dikenakan saat kita membayar. Pay movie adalah film- film tontonan di layar TV yang harus dibayar, diantaranya ada film-film khusus untuk orang dewasa. Untuk menghindari anak agar jangan salah tekan, maka kita harus menghubungi tour leader (ya tentu bagi yang membawa anak- anak) atau receptionist untuk mendapat penjelasan yang lebih terperinci.   
            - Jangan mengeringkan pakaian yang sudah dicuci di atas kap lampu, karena hotel akan mengenakan biaya yang cukup tinggi apabila kap lampu tersebut berbercak atau rusak.
            - Pada saat menyalakan air kran di kamar mandi atau pada saat mandi, mohon diperhatikan agar air tidak keluar dari kamar mandi dan membasahi karpet, karena hotel akan mengenakan biaya yang cukup tinggi apabila hal ini terjadi.
            - Air kran di hotel ada yang boleh dan tidak boleh diminum langsung. Tour leader kita akan memberitahukan informasi dalam hal ini.
            - Barang barang milik hotel seperti handuk, vas bunga, asbak, gelas/ cangkir, map, dll, tidak diperkenankan untuk diambil. Apabila kita ingin memilikinya sebagai souvenir, kita dapat menghubungi tour leader atau hotel reception untuk membelinya.
            - Jangan membuat keributan di lobby, koridor atau kamar hotel.
            - Tempat masak air panas, teh, kopi dan gula adalah fasilitas gratis, tetapi minuman lainnya- air aqua, soft drink, alkohol- dan juga makanan ringan yang ada di kamar akan dikenakan biaya kecuali atau tulisan “with compliment”.
            Manfaat yang aku rasakan tidak menggunakan fasilitas TV di kamar, aku bisa memanfaatkan waktu untuk membaca dan menulis. Aku betul- betul senang dengan pengalaman bisa menelusuri Melbourne ini sebagai pengalaman internasional.  
            Karena suhu disini dingin atau karena gaya berjalan semua orang cepat maka gaya berjalan kami juga cepat. Orang- orang yang tidak aku kenal, apakah mereka warga Australia atau hanya sekedar touris. Mereka pada umumnya terbiasa minta maaf. Kata “I am sorry” amat mudah terlontar dari mulut mereka. Apakah kita menyenggol mereka atau mereka menyenggol kita.
            “Di bandara Melbourne kemaren aku tertinggal oleh grup dan aku bergegas mengejar mereka. Tiba tiba bagasi yang aku seret menyenggol kaki seorang wanita muda. Aku berfikir kalau ia akan marah, sebaliknya ia malah minta maaf “I am sorry
            Masih kemaren juga, saat antri di immigrasi, kami semua antri menunggu panggilan. Aku kemudian keluar dari barisan dan pergi ke belakang. Sebentar kemudian aku datang lagi dan menyelinap pada barisan semula. Salah seorang pria yang merasa telah mengambil posisiku juga minta maaf “Sorry…sorry !!”. orang orang yang sudah level internasional memang lebih suka minta maaf dengan mudah. Kebiasaan suka minta maaf adalah karakter positif dan karakter ini bisa kita adopsi.

2. Rumah- rumah di sepanjang jalan
            DHS adalah singkatan dari Dandenong High School. Kemaren saat bis wisata mengantarkan kami dari hotel Rydges ke DHS. Aku melemparkan pandangan keluar jendela bis. Jalan- jalan yang terbentang dari pusat kota hingga suburb terlihat cukup lebar dan mulus. Asphalt beton sengaja dirancang untuk bisa menampung truk berbadan panjang dengan roda lebih dari 10. Aku juga ingin agar jalan-jalan raya di kampungku- di Sumatra- dibangun seperti jalan raya disini.
            Aku fikir bahwa sebenarnya prilaku warga Australia ada juga suka membuang sampah sembarangan juga ada di Melbourne, namun jumlahnya sedikit. Buktinya adalah di sepanjang lorong jalan dalam kota Melbourne aku juga melihat amat banyak puntung- puntung rokok. Agar puntung rokok tidak jatuh masuk ke dalam saluran drainase maka petugas telah menempatkan  lapisan berupa saringan dibawah reruji besi jalanan. Dengan demikian petugas kebersihan bisa memindahkan puntung rokok kedalam gerobak sampah. Dari banyaknya bertebaran punting rokok dalam kota, dapat diasumsikan bahwa banyak penduduk kota Melbourne yang suka merokok.    
            Namun secara umum bahwa tidak ada warga yang membuang sampah lewat jendela mobil dan aku memang tidak menemukan tebaran sampah di pinggir kiri dan kanan jalan raya. Semua mobil di Australia memiliki jendela yang kacanya tak bisa dilepas. Kemudian dalam semua mobil juga terdapat tong sampah. Penumpang mobil yang habis makan dan minum akan menumpuk sampah ke dalam tong sampah. Namun makan dan minum dalam bis dilarang, kecuali ada izin dari pak sopir.
            Rumah-rumah penduduk disepanjang jalan menuju suburb terlihat seragam dan tersusun rapi. Aku hampir tidak ada menjumpai ana- anak dan remaja yang berkeliaran sebagai anak jalanan. Pemerintah dan jugamungkin warga meletakkan dua buah tong sampah berukuran jumbo, satu buat organik dan yang lain buat sampah anorganik. Tong tong sampah, ditutup sehingga tak bisa diganggu hewan atau diterbangkan oleh angin. Tong sampah memang berjejer di sepanjang gerbang rumah mereka, kemudian akan datang petugas kebersihan untuk mengumpulkannya. Selanjutnya dibawa ke tempat penumpukan sampah akhir.    

3. Sarapan Pagi
Aku membangunkan Abdul Hajar dari tidur-tidur ringannya (take a nap), ia memang mudah tertidur kalau sudah berbaring. Ia segera bangun dan aku mengajaknya untuk segera turun buat sarapan pagi. Aku katakana bahwa kami telah amat terlambat buat sarapan dan semua hidangan utama tentu sudah ludes. Yang tinggal adalah daging- daging yang tidak aku kenal apakah halal atau haram buat dikosumsi. Aku biarkan Abdul Hajar menyusulku, ia akhirnya turun dengan langkah tergopoh-gopoh menuju lift.
Kami kemudian menuju ruangan dengan tulisan “Lucanda, cucina and bar”. Di sana ada plilihan untuk duduk. Aku memilih untuk duduk sendirian disamping sebuah meja kecil, di atasnya ada lampu dengan cahaya remang-remang.
Aku selalu menyadari bahwa ada beberapa hal yang tidak gratis di hotel ini seperti air mineral, WiFi dan penggunaan audio visual- TV- namun ada hal lain yang gratis, seperti surat kabar dan tabloid. Semua surat kabar dan tabloid gratis. Aku cukup bernafsu buat membaca dan aku mengambil koran the Australian, Heralad Sun dan the Age. Dari 3 koran ini berarti aku sudah memperoleh gratisan hampir 6 dollar. Demikianlah pemerintah Australia membuat semua orang bisa membaca, yaitu dengan menyediakan gasilitas  koran yang bisa diambil secara gratis pada beberapa tempat seperti dalam pesawat, di bandara, di hotel dan pada tempat- tempat pelayan publik yang lain. 
Untuk sarapan aku mengambil beberapa roti, karena ini aku baca terbuat dari bahan-bahan yang cukup halal. ternyata stelah memakan dua biji roti saja sudah cukup membuatku manjadi kenyang dan aku menyisakan beberapa roti buat dibawa ke luar. Apalagi menyisakan adalah prilaku mubazir. Prilaku mubazir tidak direstui oleh ajaran Islam. Untuk minuman aku menikmati satu gelas juice dari buahan segar.
















C. Kunjungan Penuh Kesan

1. Good bye Melbourne
            Hari ini adalah hari terakhir kami berada di Melbourne, maksudnya hari ini adalah hari untuk mengatakan good bye Melbourne. Rachman, pemandu kami, sangat sering mengingatkan agar kami memperhatikan keselamatan barang- barang kami, terutama dokumen. Kalau dokumen hilang itu bakal bermasalah di immigrasi. Aku sudah merasakan bahwa kota Melbourne relative sangat aman. Namun nanti kami bakal terbang menuju Sydney. Dibandingkan dengan Melbourne, maka Sydney sedikit kurang aman atas keselamatan bagasi.
Sekarang, Australia resmi dinyatakan telah memasuki musim semi, namun tetap saja udaranya dingin walaupun tidak seekstrim musim dingin. 14-16 derajat celcius[1]. Saat aku menginjakkan kakiku keluar bandara, rasanya seperti masuk lemari es. Diiiiingin sekali! Namun saat kucoba menghirup udaranya dalam-dalam, rasanya segar, lebih segar dibandingkan saat aku pertama kali ke sini. Entah fungsi optimal hidungku yang sudah kembali lagi atau memang udaranya yang bersih. Bandung - atau mungkin Lembang yang sama-sama dingin (bahkan lebih dingin Melbourne saat ini), rasanya tidak sesegar ini.
Kali ini aku bersama rombongan tinggal di hotel yang mega, megah menurutku. Letaknya dalam kota. Pertama aku melepaskan sandal dan menginjakkan kakiku pada lantai tak berkarpet di kamar mandi hotel, aku memekik kecil. Lantainya seperti es! Dinginnya menusuk tulangku. Aku  langsung mencari penghangat ruangan dan menghangatkan diri. Kata orang bahwa kalau kita menggunakan air tanpa memakai pemanas, lama-lama tulang kita akan sakit. Wah, repot juga ya.
Kami juga pergi melewati daerah Dandenong Plaza. Dandenong adalah suburb yang paling dekat dengan Clayton, ya diplesetkan menjadi Klaten. Banyak muslim yang tinggal di Dandenong ini, entah itu orang Turki, orang Timur Tengah, India, Pakistan, Vietnam, bahkan orang Indonesia atau orang Australianya sendiri. Maka tidak aneh jika banyak perempuan berjilbab yang berlalu lalang di daerah ini.
Enam bulan lalu, Pak Dadang membawa kami ke daerah Dandenong. Peraturan lalu lintas di Australia sangat strick. Salah satunya, ya, itu. Dan setiap orang di dalam mobil harus mengenakan seat belt, walau bayi yang baru lahir pun. Aku beruntung pernah dibawa teluk Melbourne untuk melihat penguin. Ada dua jenis pinguin, yang satu adalah King Penguin, yang satu lagi Gentoo Penguin. King Penguin itu terkesan tinggi dan gagah. Dia punya semburat kekuningan di lehernya. Kalau Gentoo Penguin lebih berkulit tebal, pendek dan banyak lemaknya (King juga banyak lemaknya, sih). Gentoo Penguin lebih suka berenang daripada King Penguin, belum nemu alesannya kenapa, hhh.
Sisa hari hanya kami habiskan berbelanja di Queen Victoria Market. Aku benar-benar tidak merasakan waktu di pundakku saat aku berlibur di Melbourne. Semuanya berjalan begitu cepat! Namun, kali ini aku harus benar-benar mengucapkan selamat tinggal untuk Melbourne, entah kapan aku dapat menginjakkan kakiku di tanahnya lagi. Terima kasih, Melbourne, selamat tinggal! Jangan pernah lupakan kami

2. Mengunjungi Box Hill Institute
            Akhirnya tibalah saatnya bagi kami buat berkunjung ke BoxHill Institut. Lembaga ini berlokasi di daerah Box Hill. Mayoritas penduduknya terlihat berwajah Asia- terutama dari China.      Box Hill Institut of Technical and Further Education, lembaga ini mirip dengan BLK (Balai Latihan Kerja) atau BLPT (Balai Latihan Pendidikan Teknik) buat Indonesia. Kalau BLK berguna untuk untuk membekali, mengingkatkan, dan mengembangakan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas, dan kesejahteraan tenaga kerja. Sedangkat BLPT berguna untuk pakan salah satu lembaga diklat milik Pemerintah yang berfungsi sebagai Badan Pendidikan dan Latihan (Diklat) yang khusus mendidik dan melatih siswa- siswi  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Bis kami berhenti di pinggir jalan, di depan komplek gedung BoxHill Institut. Namuan buat sementara kami harus menunggu konfirmasi dari pihak institute. Rachman segera melangkah menuju reseptionis untuk klarifikasi kunjungan kami.
            Lokasi pekarangan insitut tidak bisa dimasuki oleh kendaraan dengan leluasa. Khawatir mobil-mobil yang masuk ke dalam pekarangan BoxHill Institut bakal menghancurkan lantai halamannya, maka pihak institute memasang papan berisi peringatan: Maximum gross vehicle weight not to exceed 13.6 ton beyond this point.
            Khawatir mobil wisata kami bakal merusak pekarangan komplek Box Hill Institut ini, maka kami semua harus turun dan berjalan menuju kampus Box Hill ini. Aku ikut menyusul grup, aku sedikit tertinggal karena keasyikan mengambil foto- foto apalagi kalau ada berlatar belakang nama tempat, nama toko, nama kota dan seterusnya. Ini semua bakal jadi memory setelah sampai di Indonesia.
            Aku melepaskan pandangan ke kiri dan ke kanan. Aku melihat bahwa pada umumnya mahasiwa Box Hill Institut ini adalah laki-laki. Kemudian hal lain bahwa mereka terlihat tidak begitu tertarik dengan teori- maksudnya mereka adalah mahasiswa yang sedang mencari skill/ keterampilan. Penampilan mereka tidak begitu rapi- rambut panjang dan sebagian duduk dalam grup sambil menghisap rokok. Kalau di Indonesia mereka dapat aku sebut sebagai mahasiswa kelas dua. Namun itulah nanti yang bakal aku tanyakan, yaitu tentang strategi belajar mahasiswa yang hidup tanpa cita- cita menjadi mahasiswa atau sarjana yang punya jati diri.     

3. Profil Sukses Jadi Pemandu Wisata
            Kami masih menunggu info dari Mas Rachman. Aku kagum dengan kemampuan guide kami yang terlihat sudah berkualitas internasional. Tadi saat di hotel Rachman sempat membocorin tentang kisah hidupnya padaku. Namun aku sendiri dullu saat masih sebagai mahasiswa IKIp Padang (Sekarang UNP- Universitas Negeri Padang) pernah menjadi pemandu resmi untuk Propinsi Sumatra Barat.
Bekerja menjadi pemandu wisata atau tour guide pastinya bukanlah sebuah cita-cita. Namun tanpa Anda ketahui, ternyata menjadi pemandu wisata itu sangat menyenangkan dan dapat menjadi prospek menjanjikan ke depan.  Selain jalan-jalan, pemandu wisata juga digaji dengan honor yang cukup besar. Bila Anda memiliki hobi jalan-jalan baik dalam maupun luar Negeri, maka tak tertutup kemungkinan bagi Anda menjadi pemandu wisata baik lepas maupun paruh waktu.
Seperti dikutip dari Okezone.com, seorang fungsionaris Himpunan Pemandu Wisata Indonesia (HPI) Sumut Aisyah mengatakan bahwa pemandu wisata bisa mendapatkan penghasilan rata-rata Rp3 Juta per bulan sebagai honor, ditambah bila sewaktu-waktu banyak wisatawan yang berkunjung dan memerlukan pemandu.
Namun untuk menjadi pemandu wisata, Anda harus memiliki kemampuan khusus seperti komunikasi dan penguasaan sejumlah bahasa asing, menguasai segala sisi dari objek wisata, berwawasan luas serta profesional[2]. Selain itu, seorang pemandu wisata juga harus cermat dalam memilih jenis wisata yang akan digelutinya, seperti:
a. Pemimpin Wisata (Tour Leader)
Seperti yang dilansir dari Kompas.com, Tour Leader adalah seorang pemandu wisata yang bertanggung jawab memimpin rombongan turis selama perjalanan (rute perjalanannya), mulai berangkat sampai kembali lagi ke negara asal. Tour Leader dapat merangkap sebagai tour guide. Kalau profesi ini ditekuni dengan serius, setiap bulannya tour leader bisa menghasilkan Rp30-50 Juta per bulan.
b. Pemandu Wisata Alam (Natural Tour Guide)
Pemandu wisata ini akan lebih menantang sebab memimpin sejumlah wisatawan ke objek wisata yang masih bersifat alami seperti gunung, cagar alam, pulau atau lautan yang penuh dengan panorama indah dan asri.
c. Pemandu Wisata Sejarah (Historical Tour Guide)
Banyak wisatawan yang menyukai objek wisata bersejarah. Sehingga untuk berwisata dan menggali nilai sejarahnya diperlukan seorang pemandu wisata yang harus memiliki pengetahuan yang luas seputar seluk beluk sejarah dan geografis objek wisata tersebut. Seperti contoh wisata Candi Borobudur, Prambanan dan wisata gua.
d.Pemandu Wisata Budaya (Cultural Tour Guide)
Sebagai pemandu wisata, Anda disarankan untuk meningkatkan pengetahuan tentang budaya dan tradisi masyarakat yang tinggal di sekitar objek wisata tersebut. Disamping dapat memberi pelayanan yang baik terhadap wisatawan, Anda juga dapat membangkitkan daya tarik wisatawan untuk mengenal budaya masyarakat tersebut lebih luas.
e. Pemandu Wisata Pendidikan (Educational Tour Guide)
Seorang pemandu wisata harus mampu mengarahkan para wisatawan untuk memperkenalkan objek wisata yang mengandung ilmu pengetahuan bagi para pengunjung, misalnya wisata museum gunung merapi, perpustakaan, seni dan sebagainya.
Bidang wisata apapun yang digeluti oleh seorang pemandu wisata, kunci utama yang harus dimiliki adalah sikap profesional, pengetahuan yang luas seputar objek wisata tertentu serta jaminan keamanan dan kenyamanan wisatawan. Bila Anda memberikan pelayanan yang baik bagi wisatawan, pastinya Anda pun akan direkomendasikan untuk memandu wisata lainnya terlepas Anda menekuninya hanya sekedar sebagai profesi lepas atau paruh waktu.
Rachman pada masa kecil tergolong cerdas, ia selalu memperoleh juara di sekolah. Namun saat menginjak bangku SMP dan SMA disiplin belajarnya mulai terganggu. Waktunya lebih banyak dimanfaatkan buat kegiatan luar sekolah. Pada masa remaja keberadaan teman sangat berarti dan eksistensi sekolah agak terabaikan, jadinya kualitas pendidikannya memang merosot.
            Pada saat SD, Rachman sangat ingin untuk menjadi seorang Jenderal dalam bidang militer. Maka ia sangat berambisi buat masuk ke AKABRI. Namun apa yang mau dikata bahwa prestasi akademiknya sangat anjlok- sangat hancur. Impiannya untuk menjadi Jenderal- masuk AKABRI harus kandas di tengah jalan. Saat itu nilai fisika dan matematikanya jauh dibawah standar. Di balik itu Rachman tidak menyesali apa yang telah ia lakukan- semua itu ada hikmahnya- ia merasakan bahwa bahwa ia punya bakat pada bidang verbal dan spatial. Jadinyaia memutuskan untuk menjadi tour leader- berkarir dalam dunia wisata dan bisa menembus dunia internasional.
            Rachman hanya menyelesaikan pendidikan hingga SMK dengan jurusan Parawisata. Tamat SMK ia kemudian bekerja di sebuah hotel dan juga pada industry wisata, yaitu pada tour dan travel. Ranchman ternyata tidak menyelesaikan pendidikannya pada universitas bergengsi seperti UI, UNPAD, UNDIP atau UGM. Ia hanya menyelesaikan pendidikan sarjananya pada UT (Universitas Terbuka).
            Meski hanya tamat UT, namun kualitas pribadinya/ profesionalnya jauh melebihi sebagian tamatan Perguruan Tinggi yang ngetop. Itu menurut penilaianku. Ia menambahkan bahwa kualitas seseorang juga ditentukan oleh keputusan dan cara berfikir seseorang. Ranchman banyak belajar dari alam- dari pengalaman hidup.
            Sekarang ia memiliki keluarga bahagia dengan dua orang putri. Aku rasa bahwa karirnya dalam dunia traveling sangat bagus. Kemampuan profesinya- sekali lagi- dapat dikatakan sudah level master (S.2) dan sudah menjadi tour leader kelas dunia. Soalnya ia sering memandu grup wisata ke luar negeri seperti Australia, Eropa dan beberapa negara lainnya.      

4. Box Hill Institute Lebih dekat 
            Box Hill Institute adalah sebuah lembaga pendidikan menengah dan tinggi yang berlokasi di pinggiran timur Melbourne di Victoria, Australia, dengan kampus tambahan di luar negeri (di luar Australia). Kampus ini memberikan berbagai kursus/ pendidikan- kursus singkat, pendidikan internasional dan pelatihan industri. Pendidikan internasional di Box Hill Institute bukan hanya berbicara tentang ruang kelas dan papan tulis namun pendidikan tentang pengalaman seumur hidup.
Akhirnya kami disambut dalam aula khusus dan setelah itu kami diajak berjalan jalan keliling kampus. Ada 3 pembicara yang memperkenalkan tentang kampus ini yaitu Chris Gaffney, Peter Axton dan Yuan Fang.
Chris Gaffney adalah seorang manajer untuk pusat akses kejuruan dan pendidikan. Ia membahas tentang Pendidikan Terapan - belajar di semua tingkatan membangun kemampuan untuk bekerja dan meningkatkan kehidupan. Pengalaman global - menjadi bagian dari dunia yang terhubung. Pengembangan Tenaga Kerja dan Produktivitas - meningkatkan kinerja bisnis. Belajar inovasi - menambahkan nilai pengalaman belajar. Tantangan yang signifikan dan peluang bagi ekonomi Australia, maka sektor pendidikan memegag peran penting  dan khususnya lembaga kejuruan.
Di negara kita (Indonesia) belum banyak yang memahami pentingnya pendidikan vokasi sebagai sarana mendidik mahasiswa siap pakai yang dibutuhkan industri dan dunia kerja[3]. Contoh nyata program pendidikan yang berkonsep link and match adalah program diploma. Tapi mengapa peminat program yang mendidik alumninya menjadi lulusan siap pakai ini tak sebanyak peminat program sarjana?
Bagi sebagian masyarakat mungkin program diploma masih dipahami sebagai program non gelar. Sedangkan program sarjana dinilai lebih mantap karena ada embel-embel gelar bagi alumninya. Padahal sudah ada program D4 yang setara dengan sarjana di jalur profesional. Cuma masalahnya bila tidak ada embel-embel gelar baik di depan atau di belakang nama, rasanya kok belum menjual ya. Faktor lain adalah minimnya informasi tentang program diploma. Sebagian malah mendefinisikan program diploma sebagai program 3 tahun. Padahal program diploma mencakup diploma 1, diploma 2, diploma 3, hingga diploma 4. Sejatinya program diploma adalah bagian dari pendidikan vokasional, yakni jenis pendidikan yang dirancang untuk mengembangkan keahlian, keterampilan, kemampuan, pemahaman, dan tingkah laku yang diperlukan dalam dunia kerja.
Dalam Undang-Undang Sikdiknas (Sistem Pendidikan Nasional), pendidikan vokasional diperluas menjadi tiga jenis yaitu pendidikan kejuruan, vokasi dan profesional. Ketiganya sama-sama bertujuan menyiapkan peserta didik untuk bekerja pada bidang tertentu. Pendidikan vokasi misalnya, menyiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara program sarjana. Sedang pendidikan profesional menyiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus.
Dalam hal keahlian yang didapat alumninya jelas ada perbedaan mendasar antara pendidikan vokasional dan akademi. Keahlian lulusan pendidikan akademik ada pada penguasaan ilmu pengetahuan secara teori, sedangkan keahlian lulusan pendidikan vokasional pada penguasaan praktek dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Ini sebabnya lulusan pendidikan vokasional lebih mudah diserap pasar, dan seharusnya bisa menjadi solusi dalam menekan angka pengangguran.
Data di beberapa negara menunjukkan pendidikan vokasional sudah menjadi primadona. Sebut saja Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Australia. Dimana peminat masuk PT hanya sekitar 10 hingga 15 persen. Sisanya lebih memilih pendidikan vokasional.
Dikatakan bahwa kontribusi pengembangan keterampilan untuk pertumbuhan ekonomi dan pentingnya memiliki tenaga kerja yang terampil untuk memenuhi kebutuhan industri cukup signifikan. Maka itulah peran pendidikan kejuruan dalam masyarakat dan pembangunan daerah dan dalam memberikan peluang pengembangan bagi individu.
Pusat untuk adult education di Boxhill institu ini tercatat memiliki siswa/ mahasiswa yang usia mereka adalah antara 25-39 tahun dan antara 40-59 tahun (75% adalah perempuan). Malah Saat ini ada 49 peserta didik yang terdaftar di pusat Adult Education yang usia mereka sekitar 90 tahun- luar biasa.
Box Hill Institute terus memperkuat kemitraannya dengan perguruan tinggi yang dipilih- seperti dengan Monash , Deakin , Latrobe dan ACU. Hubungan ini telah menciptakan jalur baru dan kesempatan bagi para mahasiswa belajar atau magang atau menambah keterampilan pada Box Hill Institute. Kemitraan ini menjamin bahwa terlepas dari apa tahap kehidupan peserta didik berada, Box Hill Institute menawarkan kesempatan pendidikan. Kampus ini cukup peduli dengan konsep life-long learning di Australia- Ini berarti bahwa lulusan sekolah dan orang dewasa dari segala usia, terlepas dari keadaan hidup, mampu berpartisipasi dalam belajar sepanjang rentang hidup mereka untuk meningkatkan prospek ekonomi, sosial dan budaya mereka. Juga diketahui bahwa  kelompok usia belajar (demografis utama) adalah usia  15 hingga 24 tahun dengan, selama 5 tahun terakhir, peningkatan dalam kelompok berusia 25-64 tahun.




D. Pagi Yang Dingin
1. Suhu Yang sejuk
            Aku merasa sudah nyaman  dan senang berada di kota Melbourne. Ibarat tinggal dalam kota impianku, apalagi dalam  musim semi dengan langit siang nan biru dan langit malam penuh bintang, sekali sekali meteor berseliweran di luar angkasa. Suhu kota ini sudah bersahabat denganku dan tidurku  terasa juga nyaman sekali. Sepertinya aku menjadi kaget kalau hari ini adalah hari Selasa tanggal 17 September. Dengan demikian ini adalah hari yang terakhir bagi kami berada di kota yang paling indah ini.
            Orang mengatakan bahwa Melbourne adalah kota yang memiliki 4 musim dalam satu hari. Ah pada mulanya aku tidak percaya karena tidak tahu maksudnya. Maksudnya adalah bahwa kadang kadang dalam sekejam suhu terasa hangat- ibarat dalam musim panas, kemudian jadi sejuk ibarat dalam musim semi, wah bila hujan turun dan angin kutub selatan bertiup dingin wah ibarat dalam musim salju.
            Rachman menginstruksikan bahwa kami besok- pagi pagi sekali- jam 4 subuh harus bangun agar bisa sholat subuh dan berkemas- kemas untuk menuju bandar udara sekitar jam 6 pagi. Aku tidak tahu, mengapa aku merasa sedih meninggalkan kota Melbourne, namun juga merasa gembira untuk menuju kota Sydney. Karena Sydney adalah kota impianku sejak masa kecil.
            Enam bulan sebelumnya aku juga telah datang ke kota Sydney, namun hanya sekedar transit dari Melbourne menuju Jakarta. Jadi saat itu aku merasa penasaran bagaimana menginjak kota dan jalan-jalan di daerah ini. Sekarang tentu aku bahagia, karena besok kami bisa tinggal agak lama di kota Sydney dan melakukan beberapa aktivitas.
            Ya malam ini aku juga berkemas- kemas buat mempak semua barang- barang yang sudah bertemaran dalam kamar hotel ke dalam traveling bag dan tas tentenganku. Aku menelusuri kamar mandi, ruang bawah tempat tidur, dalam lemari hingga ke etalase dekan pesawat TV barang barang milikku. Aku memastikan tidak ada yang tercecer dan juga memastikan beratnya tidak lebih dari 20 Kg, sebab kalau lebih bakal mendapat tambahan ongkos yang biayanya lebih mahal dari item/ barang yang aku bawa. Setelah itu baru aku memastikan bahwa barang barang milik Abdul Hajar semua sudah masuk ke dalam tas dan traveling bagnya.
            Aku merasa khawatir kalau koran-koran Australia yang aku pungut dan aku simpan dalam traveling bag bakal terasa berat. Mengapa aku membawa koran Australia ? Yak arena aku guru Bahasa Inggris dan ini bisa menjadi authentic sources (materi autentik) buat pengajaran Bahasa Inggris. Maka aku mensortir koran-koran berdasarkan tingkat kesulitan bahasa Inggrisnya dan berdasarkan menarik atau tidaknya konten koran tersebut.
            Aku kemudian mengajak Abdul Hajar untuk turun ke bawah guna untuk memulangkan sambungan listerik berkaki tiga pipih yang aku pinjam lewat resepsionis. Aku sudah mencari sambungan listrik seperti itu di Batusangkar, Padang dan Jakarta, namun aku belum menjumpainya.
            Tadi siang aku menjumpai alat seperti ini di shopping center Paddys- di sebuah pasar  Melbourne. Ternyata harganya 10 dollar- bandingkan dengan perkiraan harga di Batusangkar mungkin hanya sekitar Rp. 8.000 atau kurang dari satu dollar. Aku segera memulangkan alat tersebut kepada front officer dan aku menerima uangku kembali 20 dollars sebagai uang jaminan. Jadi andaikata hilang maka aku harus membayarnya 20 dollar atau dua kali harga pasar.
            Aku selalu membiasakan diri untuk bangun lebih cepat dan sebagai konsekwensi tidurku juga harus cepat. Kalau di Sumatera aku bangunnya labih dan bisa sholat tahajut- eh bukan bermaksud ria dan butuh pujian, namun demikian warna hidupku. Sholat adalah sarana buat mendekatkan diri pada Sang Pencipta Alam- Allah swt, dan sholat bisa membuat hati merasa tenang.
            Selama berada di kota Melbourne, kami sarapan pagi selalu di dining room hotel Rydges. Sedangkan buat makan siang dan makan malam selalu di luar di berbagai restoran. Seperti di restoran milik immigrant China, Vietnam dan juga restoran Singapura.
Kunjungan ke Australia kali ini terasa indah dan aku bisa menyantap makanan/ hidangan di restoran dengan rasa aman, tanpa takut termakan daging babi. Namun aku menghindari hidangan daging ayam, daging bebek dan juga daging sapi. Meski semua daging ini halal, namun penyemblihannya juga harus halal. kalau penyemblihannya tidak sesuai syariat Islam maka nilai daging ini dalam pandangan Islam bisa jadi haram. Paling kurang penyemblihannya harus membaca bismillah.
Kunjunganku ke Australia 6 bulan lalu terasa sangat menakjubkan. Namun kami saat itu (aku, Inhendri Abbas dan Desi Dahlan) merasa tersiksa setiap kali harus mau makan, karena kurang mengenal mana restoran halal. saat itu kami dipandu buat pergi makan oleh teman yang menikah dengan orang Amerika, tentu mereka tidak begitu peduli dengan kualitas halal atau haramnya sebuah hidangan. Jadinya tiap kali makan maka selera makan kami terasa tak sempurnamalah selera makan hilang sama sekali. Sehingganya kami harus bikin masakan di hotel apartemen hingga merasa nyaman untuk makan.
Aku kangen bertemu dengan restoran Indonesia saat itu dan dalam kunjungan kali ini,  kami juga belum bertemu restoran Indonesia, apalagi restoran Padang. Padahal restoran ada dimana mana di nusantra, mengapa restoran Padang tak begitu pesat di Australia, bisa jadi para karyawannya kurang dalam kualitas Bahasa Inggris. Memang ya bahwa rata ratakaryawan di restoran adalah mahasiswa S.2 yang hanya sebatas kerja sambilan di sini.
Ada perbedaan setting restoran di Indonesia dan Australia. Semua jenis makanan yang dijual di restoran Indonesia dapat kita lihat yang pajangan pada etalase di depan. Sementara semua jenis makan di restoran Australia tersimpan di dapur. Jenis makanan hanya dapat dipesan sesuai jenis hidangan yang tersedia. Di restoran Indonesia kita malah bisa menonton bagaiman proses memasak hidangan, namun tidak demikian dengan restoran di sini. Semua makanan diolah di dapur dan setelah siap saji mungkin juga tersimpan di dapur, kalau ada pesanan baru dibawa ke luar- disajikan buat tamu.         
Ada hal-hal yang bisa kita sarankan kepada pebisnis restoran di Indonesia, terutama pada restoran Padang agar memperhatikan porsi variasi sayurnya. Restoran Padang kerap terlihat kekurangan porsi sayuran. Pada hal ada banyak sayur yang bisa disajikan seperti sayur bawang, lettuce, jamur, bayam, kangkung, salada, dll dalam jumlah banyak. Juga perlu menyajikan irisan buah-buahan segar sebagai hidangan penutup. Dengan demikian restoran Padang sangat memenuhi standar kesehatan untuk masyarakat internasional. Jadi disamping peduli dengan nilai cita rasa juga peduli pada nilai kesehatannya.

2. Bayar 18 Dollar- WiFi Tidak Gratis
            Mas Rachman menelpon kami, meminta agar kami semua berkumpul di lobby hotel. Aku harus turun dari kamar 2012 dan aku memang sudah bersiap- siap berpakaian dan juga membawa turun bagasi. Ya kami sudah melihat Rachman sudah duluan hadir buat menunggu kami dekat front desk. Aku sendiri mendekati front officer buat menyerahkan kunci kamar. Aku merasa lega.
            Ah ternyata aku belum merasa legaaku diminta harus membayar penggunakan WiFi 12 dollar. Ah aku kesal, karena secara resmi aku merasa tidak menggunakan WiFi yang di kampungku WiFi itu memang gratis.
Selama berada di Melbourne aku memang merasa terputus hubungan dengan eman dan terutama dengan keluarga di Indonesia. Tidak ada hubungan lewat SMS dan telepon, paling kurang hubungan lewat Facebook. HP ku memang sengaja aku bikin pada posisi off-roaming agar tak cepat kehabisan pulsa. Aku gembira saat kembali dari kampus Box Hill Institut tablet (phonecell) ku mendeteksi sinyal WiFi di luar hotel Rydges tempat kami menginap. Aku sengaja berlama- lama di luar menikmati WiFi gratisan, soalnya kalau masuk ke hotel tentu akan mencatat pemakaian WiFi-ku, demikian menurut perkiraanku.
Aku merasa riang gembira dengan WiFi gratisan di luar hotel. Apa lagi loadingnya cepat. Beberapa foto, atau lusinan foto yang aku upload segera terkirim. Aku gembira teman dan familiku di Batusangkar bakal mengikuti perkembangan perjalanan kami.
Aku main facebook sepuas-puasnya. Aku membalas semua status teman-teman lewat facebookku dan sekaligus juga mengupload foto foto terus. Bosan di luar, aku masuk menyelinap- menyembunyikan tabletku dari pantauan petugas hotel dan terus ke kamarku di lantai 20. Syukur bahwa sinyal WiFi cukup kuat di kamarku dan aku terus bermain dan aku nggak mau tidur atau beristirahat. Aku merasa rigi bila tidak mengupdate fb lewat WiFi gratisan. Namun pas jam 9 malam, jaringan WiFi terputus. Wah lumayan WiFi gratisan, demikian fikirku lagi.
Ku pikir mungkin aku memanfaatkan WiFi hanya selama 4 jam saja. Namun astaga saat menyerahkan kunci aku harus bayar atau charge 18 dollar. Mesin front desk mendeteksi machine tabletku- aku dalam hati mau protes, namun aku merasa malu. Aku merasa nyesal karena bayar kemahalan yaitu Rp. 200 ribu hanya untuk pemakaian WiFi selama 4 jam. Apalagi aku sendiri merasa tidak memakai WiFi hotel secara resmi.
“Ini kan Australia. Aku baru separo mengerti dengan way of life dan hal-hal detail tentang peraturan di Australia. Haaa aku harus bayar 18 dollar. Memang ada rasa menyesal….kok kemahalan ya. Dari pada bayar semahal itu mendingan aku beli souvenir buat keponakanku di kampung. Dengan 18 dollar aku bisa beli kira kira 8 biji peci bermerek Australia dan bermanfaat buat 8 orang di kampung”.
Pagi ini kami semua hanya akan sarapan melalui snack dalam kotak, waktu di hotel ini memang sudah berakhir. Aku berfikir bahwa bentuk sarapan kotak mungkin juga ada nasi gorengnya atau paling kurang kue-kue gorengan dan ada satu botol air mineral. Wah ternyata tidak.
Isi kotak buat sarapan hanya satu box jajanan buatan Australia, ya ada cereal dari honey oat, minuman juice buah tropical pouch- rasanya terasa baru dan terasa aneh di lidahku, jadi susah buat aku telan. Kemudian juga ada nutty fruit full cream milk dan cookies.   
Bis wisata yang dikemudikan oleh sopir yang bernama Michael telah datang. Ia bersiap-siap membantu kami buat memuat barang- barang. Aku tidak menghabiskan semua sarapan kecuali hanya cereal. Ah…aku ingin tidur dalam bis nanti atau sekedar memejamkan mata. Semalaman tidurku tidak begitu nyenyak. Namun aku tidak mau buang buang waktu, aku sholat sunat dan kemudian membaca serta menyelesaikan naskah novelku.

3. Malu Bertanya Sesat di Jalan
Sekali- sekali aku membuka mata agar aku tidak terlalu rugi untuk menikmati sisa pengalaman yang tinggal. Akhirnya bis berhenti dekat bandara Melbourne buat terbang menuju Sydney lagi. Aku jadi ingat dengan pengalaman kami bertiga, sama sama pendatang baru dan sama- sama tidak tahu dengan Australia. Saat itu kami bertiga (Aku, Desi dan Inhendri) mengembara di benua ini ibarat kecil yang minim pengalaman.
Kami melangkah dalam ruang terminal bandara yang sangat luas. Ya betul kami ibarat anak kecil yang  bereksplorasi dalam labirin. Kami jalan sedikit sesat, bergerak sedikit dan juga tersesat. Solusinya adalah saat tersesat ya rajin- rajin bertanya. Seperti kata pepatah: malu bertanya sesat di jalan. Kalau kami sebaliknya yaitu sesat dulu bertanya kemudian dan kami sangat berani buat bertanya.    
Rachman, tour leader kami selalu proaktif demi kenyamanan dan keselamatan kami. Ia memerintahkan agar kami melepaskan stiker/ label pada bagasi yang bertuliskan “Melbourne”. Soalnya kalau tidak dilepas, kelak setelah sampai di Sydney bagasi kami bisa kembali ke Melbourne, dikira nanti oleh petugas immigrasi bahwa ini bagasi menuju Melbourne.
Kami mengikuti langkah Rachman. Aku melangkah dengan rasa rileks, tidak takut tersesat seperti berpergian semester lalu. Aku kadang-kadang memperhatikan gerak-gerik bule-bule yang juga ikut antrian. Anak anak mereka yang kecil-kecil juga ikut antrian dengan tertib. Mereka juga belajar untuk mampu mengurus diri.
“Pantesan anak-anak bule semuanya pada cerdas-cerdas, kecil-kecil mereka sudah punya pengalaman internasional. Lihat- mereka sudah mengerti dimana harus berdiri, bagaimana melintasi proses immigrasi, bagaimana prilakunya saat melihat anjing pelacak mengendus- endus tas mereka. Penting sekali bagi anak anak memilikim pengalaman positisf seluas mungkin”.




4. Tak Ada Sarapan dalam Pesawat
Sebagaimana kebiasaanku, tidak makan dan tidak minum kalau mau berpergian. Karena aku selalu khawatir kalau tidak bisa menjumpai toilet. Karena pernah dalam hidup aku susah menemui toilet dan merasa tersiksa dalam perut.
            Jadinya tadi pagi aku tidak menghabiskan semua sarapanku, dengan alasan dalam fikiran bahwa kami juga akan memperoleh makanan dalam pesawat. Karena tidak boleh membawa makan dan minum dalam pesawat maka aku hanya meninggalkan saja di bandara. Jadinya bottle air, susu full cream dan kue-kue snack juga aku tinggalkan dengan hati berat.
            Kami terus melangkah menuju boarding proses. Agak lama kami antrian dan memang perut mulai terasa keroncongan dan juga rasa haus. Tidak begitu lama, kami semua sudah berada dalam pesawat Jet-Star. Betul- betul lapar…, aku berharap pramugari segera datang buat mendistribusikan sarapan buat penumpang. Aku sudah tidak sabaran dan telah membuka meja buat memudahkan pramugari meletakan minuman dan makanan.
            Tiba- tiba Ibu Aat yang duduk disebelahku berbicara separoh berbisik. “Pak Marjohan, makanan dan minuman dalam trolley semua musti kita bayar !”. Wah aku jadi lemes mendengarnya.
Penerbangan ini mengapa berbeda. Dalam pesawat Qantas kami memperoleh satu set makanan. Namun pesawat ini tidak, Pesawat Jet-Star mungkin pesawat buat domestik. Jadi manajemennya tentu juga beda dengan pesawat internasional.
Aku jadi malu, pelan- pelan aku lipat kembali meja hiding di depan. Aku mau beli makanan, namun dollarku sudah menipis. Kalau aku beli juga tentu aku segan makan sendirian karena sebagai orang timur tidak etis makan dan minum sendirian dalam grup. Paling  kurang aku musti membeli lebih buat mentraktir Ibu Aat dan juga Mas Nurhadi teman sebangku ku. Jadinya aku tidak beli dan biarlah menahan lapar dan juga haus dalam pesawat ini. Lapaaarrr…dan juga hauuss !!

5. Membuat kesibukan.
            Ternyata penerbangan dengan pesawat Jet-Star adalah buat penerbangan kelas ekonomi. Para penumpang kelas ekonomi tidak memperoleh fasilitas hiburan dan snack- makanan. Penerbangan yang yang seperti aku alami untuk lintas propinsi ditanah air.
            Penerbangan dua jam dari Melbourne ke Sydney tanpa ada fasilitas hiburan juga terasa membosankan. Mau baca- baca juga tidak ada tersedia koran dan majalah. Terpaksa kita sendiri harus kreatif dan beruntung bagi mereka yang punya buku buku sendiri.
Aku melemparkan pandangan ke arah kanan. Sekali- sekali aku dengar suara balita- merengek bosan. Balita tersebut tentulah warga Australia keturunan Asia selatan. Mungkin India atau Pakistan, atau juga mungkin Srilangka atau Bangladesh. Karena 4 bangsa ini wajah mereka mirip dan susah membedakannya.
Standar dan cara hidup mereka terlihat sudah seperti warga Australia secara umum. Agar anak mereka tidak bosan dalam perjalanan yang panjang maka orang tua menyiapkan pernak-pernik kebutuhan anak. Aku lihat ada tablet atau android, snack, cemilan susu kotak, buku bacaan dan crayon buat mewarna.  


[1] http://deliarahma.blogspot.com/
[2] http://www.jawaban.com/index.php/money/detail/id/82/news/131001155725/limit/0/Jadi-Pemandu-Wisata-Itu-Mengasyikkan
[3] http://infopublik.org/read/58610/pendidikan-vokasi-solusi-penekanan-angka-pengangguran.html

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture