Minggu, 23 Agustus 2015

Menunggu Cita-cita Jatuh Dari Langit



Menunggu Cita-cita Jatuh Dari Langit
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

            Saat kita masih kecil  sekolah di TK dan SD, ibu guru, bapak guru dan orang tua kita rajin memotivasi kita agar kita memiliki cita-cita- kelak di masa depan bisa menjadi orang sukses. Mereka berdoa dan berharap “moga-moga kamu kelak bisa menjadi orang yang berguna bagi bangsa negara dan agama. Untuk itu gantungkanlah cinta-cintamu setinggi bintang di langit.
            Ya…jadinya sejak itu kita menggantung cita-cita setinggi bintang di langit dan belajar sekuat tenaga. Cita-cita anak-anak TK dan SD memang sangat tinggi, mereka ingin menjadi Presiden, menjadi Menteri dan menjadi Jenderal. Bertambah usia maka cita-cita mereka sedikit menjadi lebih realis, kemudian mereka ingin menjadi dokter, polisi, pilot, tentara, perawat, dan pramugari. Cita-cita mereka sesuai dengan profesi yang sering mereka jumpai, cara berpakaian orang dengan profesi yang telah kita sebutkan di atas membuat mereka kagum dan ingin pula berkarir seperti mereka.
            Kebanyakan anak-anak (siswa SD hingga siswa SLTA) berfikir bahwa untuk menggapai sebuah cita-cita tidak begitu ribet. Cukup belajar sekuat mungkin. Bila mereka bisa juara kelas apalagi juara umum maka kelak karir yang hebat bakal berada digenggam. Saat mereka duduk di bangku SMA, maka kalau mereka ujian dan mampu memperoleh skor mata pelajaran yang masuk ke dalam Ujian Nasional, maka mereka bakal mampu kuliah di Perguruan Tinggi favorite. Dan kalau sudah kuliah di sana (menjadi sarjana)  maka karir yang basah dengan gaji yang gede bakal mengucur ke dalam kantong mereka.
            Dalam zaman merekrut PNS, Pegawai BUMN dan pegawai swasta yang begitu agak longgar- hanya berdasarkan skor memang mereka termasuk orang-orang yang beruntung. Namun peraturan sudah jauh berubah. Untuk PNS, misalnya, pemerintah sangat membatasi penerimaannya. Karena selama ini jumlah PNS yang berlimpah dan tak terkendalikan telah ikut memberatkan anggaran negara untuk menggaji mereka. Dan gara-gara rektuitmen PNS dilakukan secara asal-asalan maka cukup banyak yang direkrut para PNS yang kurang rajin, yang kinerjanya kurang bagus dan kurang mampu memajukan negara.
            Dulu nilai yang tinggi seolah-olah berguna buat menjangkau bintang-bintang yang tinggi, atau cita-cita yang bertebaran di langit. Begitu juara umum maka kelak seseorang bisa meraih karir sebagai dokter, perawat, pramugari, dll. Sekarang tidak lagi, malah dikatakan nilai yang tinggi berguna hanya buat syarat kelulusan dari Perguruan Tinggi, sementara untuk karir lebih didukung oleh keterampilan berwirausaha, leadership dan kemampuan berkomunikasi.
            Sebetulnya juga ada karir yang cukup menantang yang tidak mutlak ditentukan oleh nilai atau skor yang tinggi, tapi dipengaruhi oleh multi talenta seseorang. Untuk hal ini kita bisa bercermin pada biografi public figure, sebut saja seperti Mutiara Djokosoetono , Najwa Shibab, dan Oki Setiana Dewi.
Bagi warga Jakarta dan siapa saja yang mengunjungi Jakarta sudah pasti mengenal Taksi Blue Bird, ya sebuah armada taksi yang banyak bersileweran di kota Jakarta, dan sudah merupakan salah jenis kendaraan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat di ibukota Jakarta. Pendiri Taksi Blue Bird adalah seorang perempuan pejuang dari Malang bernama Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono. Ia berasal dari keluarga berada, namun pada usia 5 tahun keluarganya bangkrut. Kehidupan berubah drastis. Dari seorang gadis cilik yang dikelilingi fasilitas hidup naik kemudian menjadi miskin. ia kemudian meniti bangku sekolah dalam kesederhanaan luar biasa.
Jadi penderitaan dan hidup susah bisa memicu seseorang dalam memperkuat motivasi berprestasinya. Kesederhaan hidup Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono telah menjadi motivasi hidupnya. Kesederhanaan hidup Bu Djoko semasa kecil, seperti makanan yang tak pernah cukup, pakaian seadanya, tak pernah ada uang jajan.
Menginjak remaja ketegaran semakin terasah. Ia bertekad memperkaya diri dengan ilmu dan kepintaran atau skill. Ia banyak membaca kisah-kisah inspiratif yang diperoleh dengan meminjam. Jadi tidak ada orang yang ingin sukses menjauhi kebiasaan membaca. Membaca malah bisa memperkaya wawasan berfikir seseorang.
Ia menyelesaikan pendidikan HBS, kemudian lulus Sekolah Guru Belanda atau Europese Kweekschool. Dengan tekad yang kuat ia meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke Jakarta. Dan berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan menumpang di rumah pamannya di Menteng. Kemudian jalan hidup membawa berkenalan dengan Djokosoetono, dosen yang mengajarnya, yang juga pendiri serta Guberbur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Laki-laki itulah yang menikahinya selagi Bu Djoko masih kuliah.
Mereka dikaruniai 3 anak, bekerja sebagai dosen di FHUI dan PTIK. Untuk menambah penghasilan keluarga, Bu Djoko berjualan batik door to door. Tak ada gengsi, tak ada malu, tak ada rasa takut direndahkan oleh sesama isteri. Karakter tidak gengsi-gengsian penting untuk meraih sukses. Namun penjualan batik yang sempat sukses kemudian menurun. Hingga Bu Djoko beralih kemudian berusaha telur di depan rumahnya.
Realita berjualan telur menjadi pilihan bisnis yang brilian masa itu. Saat itu telur belum sepopuler sekarang. Kemudian suaminya sakit-sakitan dan suaminya meninggal. Tak berapa lama setelah kepergian suaminya. PTIK dan PTHM memberi kabar yang cukup menghibur keluarga. Ia mendapatkan dua buah mobil bekas, sedan Opel dan Mercedes. Disinilah embrio lahirnya Taksi Blue Bird.  
Pada suatu malam, Bu Djoko mulai merancang gagasan bagi operasional taksi yang dimulai dengan dua buah sedan pemberian yang dimiliki. Bu Djoko menyusun konsep untuk menjalankan usaha taksinya. Ia memikirkan mobil, cara mengelola dan juga memikirkan pengemudi. Pengemudi itu akan dididik dengan baik, dibina, dirangkul untuk sama-sama berkembang. Inilah fase yang penting dalam sejarah kelahiran Blue Bird.
Usaha taksi terebut menggunakan penentuan tarif sistem meter yang kala itu belum ada di Jakarta. Untuk order taksi, ia menggunakan nomor telefon rumahnya. Karena Chandra ditugaskan menerima telepon dari pelanggan maka orang-orang menamakan taksi itu sebagai Taksi Chandra. Taksi Chandra yang hanya dua sedan itu kemudian melesat popular di lingkungan Menteng karena pelayanan yang luar biasa. Order muncul tanpa henti. Dari hasil keuntungan saat itu, BU Djoko bisa membeli mobil lagi.
Permintaan akan Taksi Chandra terus mengalir. Beberapa mobil yang telah dimiliki dirasa kurang mencukupi. Titik layanan kian melebar, tak hanya di daerah Menteng, tebet, Kabayoran Baru dan wilayah-wilayah di Jakarta Pusat, tapi juga sampai ke Jakarta Timur, Barat dan Utara. Dalam kesederhanaan Bu Djoko memimpin perjalanan besar membawa Blue Bird siap mengarungi zaman. Dia menanamkan kepada awak angkutan bagaimana menumbuhkan sense of belonging yang tinggi terhadap Blue Bird dengan menjadi "serdadu-serdadu" tangguh dan penuh pengorbanan.
Oki Setiana Dewi, sosok publik figur satu ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, wanita muslimah yang cantik ini mulai dikenal ketika ia sukses membintangi film yang berjudul "Ketika Cinta Bertasbih”. Aktif sebagai seorang penulis, pembicara di berbagai pertemuan serta juga sebagai uztadzah,
Oki sendiri menyelesaikan SMA nya juga di SMAN 1 Depok. Ketika SMA, Oki selalu langganan menjadi juara kelas. Ia juga sering mewakili sekolahnya dalam berbagai perlombaan akademis dan non akademis. Oki termasuk siswa yang pintar hingga bisa diterima di Universitas Indonesia. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya pada tahun 2012.
Usai meraih gelar sarjana, Oki menjadi santriwati program Tahfidzul Qur’an di Rumah Qur’an yang terletak di Depok. Lalu, ia mempelajari bahasa arab di Universitas Umm Al Qura di Makkah pada tahun 2012.
Kisah Oki ketika memutuskan memakai jilbab adalah ketika sang bunda terserang sakit yang kata dokter sudah sulit disembuhkan. Mendengar itu Oki jadi sangat sedih. Ia pun lalu memutuskan untuk berjilbab agar bisa lebih dekat dengan Allah dan bisa lebi khusyuk mendoakan kedua orang tuanya terutama bundanya. Sejak saat itulah Oki memakai jilbab.
Selain menjadi artis, ia juga aktif sebagai penulis dengan beberapa judul bukunya yaitu Melukis Pelangi :Catatan Hati Oki Setiana Dewi, Sejuta Pelangi : Pernik Cinta Oki Setiana Dewi, Cahaya Di Atas cahaya Perjalanan Spiritual Oki Setiana Dewi, Hijab I'm In Love, Dekapan Kematian, Ketika Guru SD Sakit. Dalam bukunya yang berjudul Hijab I’m In Love, merupakan karyanya yang paling berbeda karena ia juga mengeluarkan album perdananya dengan judul yang sama.Dalam album Hijab Im in Love (2013) ini dinyanyikan bersama adiknya bernama Shindy.
Oki juga sering mengisi seminar kemuslimahan dan kepemudaan. Oki juga meluangkan waktunya mengajar ngaji di TPA untuk anak-anak dan ibu-ibu. Oki menggalakkan kegiatan DMKM yaitu Dari Masjid ke Masjid dan juga program “Yuk Mengaji, Al Qur’an di Hati” dimana pelaksanaannya juga menyentuh lingkungan Lapas Wanita Tangerang. Kecerdasan dan prestasi Oki juga diakui ketika dirinya ditunjuk sebagai duta untuk Anak-anak Rumah Autis (2012) dan duta Internet Sehat dan Aman oleh kementrian Komunikasi dan Informatika 2010. Oki Setiana Dewi menikah dengan Ory Vitrio yang seorang pengusaha pengusaha restoran.
Kita telah membaca kisah sukses Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono dan Oki Setiana Dewi secara sekilas, kemudian bagaimana dengan kisah sukses Najwa Shihab ? Najwa Shihab nama wanita satu ini dikenal masyarakat sebagai presenter atau pembawa acara di Mata Najwa yang disiarkan di Stasiun televisi Metro TV. Dia merupakan putri kedua dari seorang Tokoh bernama Prof. Dr. Quraish Shihab yang merupakan seorang cendekiawan muslim Indonesia. Berarti Najwa didik dengan banyak ilmu pengetahuan dan banyak pengalaman.
Mengenai pendidikan, Ketika di Sekolah Menengah Atas (SMA), Najwa Shihab terpilih sebagai siswa yang berangkat ke Amerika selama satu tahun dalam program bernama AFS yang dikelola oleh Yayasan Bina Antarbudaya, karenamemiliki wawasan yang luas dan didukung dengan kemampuan berbahasa Inggris. Najwa Shihab kuliah di Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan Ilmu Hukum dan menjadi alumni pada tahun 2000. Kendati lulus sebagai Sarjana Hukum, Najwa Shihab lebih memilih terjun di dunia jurnalistik ketimbang seorang pengacara.
Tidakah mengehrankan, ia kemudian bergabung dengan Metro TV salah satu Stasiun Televisi Indonesia untuk mengasah kemampuannya dibidang jurnalistik. Dia dianugrahi penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dalam hal laporan-laporanya ketika menjadi repoter bencana Tsunami di Aceh dimaa ia merupakan reporter pertama yang berhasil melaporkan kondisi setelah tsunami menerjang Aceh, dari laporan atau liputannya, dinilai memberi andil yang sangat berarti dalam hal berkembangnya kepedulian dan juga rasa empati masyarakat luas terhadap tragedi tsunami tersebut yang banyak memakan korban jiwa.
Terlihat bahwa cita-cita seseorang tidak jatuh dengan mudah dari langit. Cita-cita setinggi bintang di langit adalah kata-kata yang diucapkan buat anak-anak kecil sebatas ilusi. Kisah hidup ringkas 3 publik figure di atas memberi tahu pada kita bahwa cita-cita buat sukses harus dipersiapkan, bukan semudah membalik telapak tangan dan, juara kelas saja juga tidak menjamin buat sukses.
Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono mengingatkan kita betapa pentingnya seseorang bisa membaca peluang- seperti memimpikan bisnis dalam sektor transportasi taxi yang didukung dengan semangat dan kegigihan tekad. Pintar saja secara akademik, sebagaimana yang dimiliki Oki, juga belum menjamin buat sukses. Ia mengasah potensi diri untuk memilki keterampilan berganda, bisa sebagai pembicara dan penulis. Tentu saja sejak kecil dan remaja ia juga rajin berlatih berpidato, ikut berorganisasi dan berlatih dalam menulis dan jurnalistik, kemudia ia juga mendalami ilmu Al-Quran dan ilmu jiwa, hingga ia menjadi seorang public figure nasional.
Begitu juga dengan Najwa Shihab, bahwa ia juga memilki kepintaran berganda, kemampuan berbahasa Inggris dan keberanian. Andai ia seorang perempuan yang pasif dan pemalu maka tentu ia sulit untuk move-on. Jadinya bahwaaktif berorganisasi, banyak membaca untuk memperluas wawasan serta kemampuan dalam menulis- jurnalistik- telah memuluskan karir Najwa Shihab itu sendiri.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture