Rabu, 24 Februari 2016

Meledakan Pertumbuhan Kecerdasan Anak

Meledakan Pertumbuhan Kecerdasan Anak

            Tumbuh-kembang seorang anak sebetulnya dapat dilihat dari berbagai sisi, yaitu sisi kognitif (perkembang otak), psikomotorik (keterampilan atau gerak) dan afektif. Seorang anak itu sendiri juga bisa dilihat dari unsur biologis, psikologis, spiritual, dan sosial. Seorang anak berada dalam masa keemasan atau “golden age” yang pertumbuhannya begitu dasak dalam bentuk ledakan yang hebat.
Ide ini mungkin sulit untuk dipahami. Namun mari kita telusuri kembali pada awal-awal masa pertumbuhannya. Di awal masa kelahirannya, seorang bayi terlahir dengan berat 3 kg. kemudian pertumbuhan berat badannya berturut turut adalah 65 %, 60%, 50%, 40 % dan terus mencapai angka 10 %, 5% hingga mencapai angka pertumbuhan yang stabil setelah proses pertumbuhan dalam ledakan besar itu berakhir.
Tentu saja pertumbuhan biologis (tubuh) anak dalam ledakan yang hebat terjadi bagi anak yang mengkonsumsi asupakan gisi secara normal dan sempurna. Hingga pertumbuhan anak berakhir setelah terjadi osifikasi atau pengerasan tulang di akhir masa remaja mereka.

Penambahan berat badan bayi dengan asupan gizi yang sempurna terjadi setiap minggu dan bisa diukur setiap bulan. Penambahan dari tumbuhnya ukuran tubuh, dalam bentuk ledakan terus terjadi selama masa anak-anak dan berakhir dalam masa remaja. Yang mana hitungan pertumbuhannya terlihat setiap tahun.
Otak adalah organ yang betanggung jawab untuk membuat seorang bayi atau anak menjadi cerdas. Ledakan kecerdasan juga terjadi dalam usia anak-anak. Dimana ditandai dengan pertumbuhan lingkaran kepala dalam ukuran millimeter setiap minggu dalam tahun pertama dan kedua dari kehidupannya. Setelah pertumbuhan otak sempurnamaka selanjutnya yang terlihat adalah pertumbuhan kecerdasan anak.
Dalam buku David Hull (1985) dalam buku “The Macmillan Guide to Child Care” menggambarkan tentang ledakan pertumbuhan kecerdasan anak dari segi personal dan sosial, keterampilan berbahasa, gerak halus dan gerak kasar. Ledakan kecerdasan terjadi dalam masa 2 tahun (masa bayi), dimana ledakan terhebat adalah dalam tahun pertama. Ledakan-ledakan kecerdasan mencapai perkembangan dasar hingga mereka berusia 5 tahun.
Perkembangan personal dan sosialnya dari mampu tersenyum karena digoda hingga mampu memakai baju sendirian dalam waktu singkat. Pertumbuhan kemampuan bahasa dimulai dari seonggok bayi merah, yang hanya mampu menangis, kemudian mampuan melambaikan tangan hingga mampu ngobrol dalam kalimat yang sempurna dalam waktu 4 tahun. Sedangkan kemampuan motoriknya, dimulai dari mampu memegang tangan, menjangkau permainan hingga mampu melukis kepala manusia pada usia 4 tahun.
Betapa ledakan kecerdasan terjadi dimana- mana dan juga bagi anak-anak kita. Ledakan kecerdasan yang dahsyat dalam masa 4 atau 5 tahun pertama kehidupan mereka merupakan bentuk kecerdasan dasar- basic intelligent- dimana selanjutnya kecerdasan mereka siap buat dikembangkan. Mereka sudah memiliki kecerdasan dasar yang hebat yang siap buat untuk diledakan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang maksimal. Namun bagaimana respon lingkungannya, termasuk guru dan orang tuanya ?
Orang tua yang peduli dengan pertumbuhan dan perkembangan anak akan memperdalam tentang ilmu parenting mereka. Anak- anak bisa maju terutama karena memperoleh pengasuhan dari orang tua yang berkualitas. Pada umumnya bangsa-bangsa yang memilki SDM yang bagus adalah karena mampu mengoptimalkan ledakan kecerdasan anak-anak mereka. Kita agaknyaperlu belajar dari rahasia manajemen mendidik anak atau parenting management  mereka.
Di dunia ini sangat banyak negara-negara yang memiliki orang tua yang hebat dalam mendidik anak dan juga ada orang tua yang hebat dalam mendidik anak di negara kita. Ya anak-anak bisa  menjadi maju, sekali lagi, adalah  karena orang tua mereka sangat memahami konsep parenting- yaitu peran orang tua yang bertanggung jawab dalam mendidik dan membesarkan mereka (anak-anak).
Mari kita pahami bagaimana parenting mereka. Misalnya, kita pilih saja parenting dari4 negara maju saja. Yaitu negara yang  yang terkenal  hebat  dalam mendidik anak. Negara tersebut adalah  Perancis, Cina, Amerika dan Jepang. Orang tua di negara-negara tersebut adalah orang tua yang ideal dan kita patut belajar dari bentuk parenting mereka.
1).Orang Tua Perancis
Penulis merasa beruntung bisa berkenalan dengan tiga orang Perancis, Louis Deharveng, Anne Bedos dan Francoisse Brouquisse. Mereka telah menjadi teman penulis sejak tahun 1993 sampai sekarang (2012). Mereka sering mengunjungi (berlibur) ke tempat penulis secara teratur di Batusangkar. Tentu saja penulis punya kesempatan untuk saling bertukar fikiran dengan mereka. Itu membuat penulis mengenal negara Perancis dan budaya negara mereka lebih mendalam. Penulis jadi tahu mengapa Perancis menjadi salah satu negara terhebat di Eropa dan juga di dunia. Itu semua karena masyarakat Perancis dibesarkan dan didik oleh orang tua yang sasngat hebat dalam mendidik keluarga mereka.
Apakah orang Perancis bersikap lebih baik ? Penulis pernah berbincang-bincang dengan orang Perancis. Penulis dan juga tetangga berkesimpulan bahwa ‘Orang Perancis bersikap lebih baik”. Teman-teman penulis orang Perancis tersebut bukan orang timur namun mereka berbicara sangat sopan dan juga makan dan minum tanpa mubazir. Cara mereka makan sangat sesuai dengan ajaran Islam, makan tanpa menyisakan makanan.
Salah seorang famili keluarga kami menikah dengan wanita Perancis dimana penulis bisa mengamati bagaimana mereka mendidik dan membesarkan anak mereka. Penulis melihat bahwa keluarga Prancis  tidak repot/ bising pada waktu makan kita. Mereka tampak seperti  sedang berlibur- ya terlihat rileks saja. Anak balita mereka bisa duduk tenang di kursi, menunggu makanan. Tidak ada jeritan atau juga tidak merengek. Penulis juga mencari karakter keluarga Perancis dan benar bahwa itu adalah karakter rata-rata.
Penulis sering melihat anak kecil yang mudah marah  pada waktu makan dan anak-anak Perancis jarang bersikap demikian.  Bila anak mereka rewel maka orang tua mereka tidak bersikap angresif dalam menenangkan anak mereka, kecuali mereka selalu bersikap tenang atau rileks saja. Pelajaran dari keluarga Perancis, bahwa  orang tua Perancis  memperkenalkan pelajaran cara “bersopan santun” dalam hidup kepada anak-anak  mereka sebagai berikut:
a) Anak-anak harus mengatakan halo, selamat tinggal, terima kasih dan minta pamit. Ungkapan ini membantu mereka dalam bergaul dan sekaligus membuat pribadi mereka disenangi.
b) Ketika anak-anak menunjukan karakter nakal, maka orang tua memberi mereka   peringatan dengan cara "Membelalakan mata"- sebagai isyarat teguran, tanpa harus mengomel atau membentak.
c) Orang tua Perancis  mengingatkan pada anak bahwa “siapa yang bos/ pimpinan”.  Orang tua Prancis mengatakan, "Ini saya yang memutuskan", maksudnya agar anak    mampu bertanggungjawab dan mengambil keputusan.
d) Jangan takut untuk mengatakan "tidak." Dan anak-anak harus belajar bagaimana    mengatasi frustrasi.
Mengapa  anak-anak Prancis tidak terbiasa melempar makanan? Dan mengapa orang tua mereka tidak suka berteriak atau menghardik ? itu sudah menjadi karakter positif mereka. Orang tua Prancis juga  tidak sempurna, namun mereka memiliki kebiasaan  yang bagus dan benar-benar mereka laksanakan. Mereka  bersemangat kalau berbicara dengan anak-anak, tidak asal-asalan dalam menjawab pertanyaan anak. Mereka mengajak anak melakukan eksplorasi- memperkenalkan alam pada anak- mengajak mereka ke luar rumah dan juga  membacakan banyak buku- untuk memperkenalkan bacaan pada anak. Mereka juga membawa  anak untuk belajar tenis, kursus melukisan dan ke museum ilmu pengetahuan interaktif.
Orang tua Perancis selalu melibatkan diri dalam keluarga. Mereka menganggap bahwa orang tua yang baik perlu menyediakan waktu buat anak. "Bagi saya, malam hari adalah waktu buat bersama keluarga/ anak. Orang tua Perancis sering memberi anak stimulus (rangsangan untuk berbuat positif) dan selalu ingin anak mereka menerapkan disiplin.
Bagaimana mereka mendidik anak ? Ya tentu saja melalui disiplin. Namun kata disiplin tidak berhubungan dengan hukuman- sebagai pengertian yang sempit. Kalau ada kesalahan langsung membentak anak- bukan demikian. Orang tua Perancis tidak buru-buru  menjemput anak yang menangis namun mendorong mereka untuk menenangkan diri sendiri.  Ketika anak-anak mencoba untuk mengganggu pembicaraan, ibu berkata, "Tunggu  sebentar ya sayang, ibu tengah berbicara..!!" Kata sang ibu dengan sopan dan sangat tegas pada anak.
Ibu atau ayah Perancis juga mengajar anak-anak mereka bagaimana : belajar bermain sendiri. "Yang paling penting adalah bahwa ia belajar untuk menjadi bahagia dengan dirinya sendiri, "Orang tua Perancis mempercayakan anak-anak untuk cukup banyak kebebasan dan otonomi/ kemandirian.  Menyediakan makanan buat diri sendiri, menyediakan pakaian buat diri sendiri- jadi dari usia kecil tidak diajar bermanja atau serba dibantu. Ya bagaimana kelak anak bisa sukses dalam hidup kalau mereka sepanjang hidup terbiasa banyak dibantu.
2).Orang Tua Cina
Dimana-mana di dunia orang Cina terkenal sebagai orang yang berhasil. Dapat dikatakan bahwa majunya negara Singapura adalah juga karena pengaruh orang-orang keturunan Cina. Ekonomi Indonesia juga dipengaruhi oleh sebagian orang-orang keturunan Cina. Dari media masa kita dapat ketahui bahwa orang-orang Canada dan Amerika Serikat keturunan Cina juga termasuk orang-orang yang berpengaruh di sana.
 Kita bertanya-tanya bagaimana orang tua Cina dalam  membesarkan anak-anak mereka hingga  sukses. Kita bertanya-tanya   apa yang dilakukan orang tua hingga menghasilkan anak yang jago dalam  matematika, musik, ICT dan perlombaan sains. Amy Chua (2011) seorang penulis tentang parenting mengungkapkan beberapa hal yang tidak pernah diizinkan oleh orang tua Cina pada anak-anak mereka:
a) Menginap atau bermalam di rumah seseorang.
b) Hura-hura atau buang-buang waktu.
c) Mengeluh.
d) Menonton TV atau bermain game computer
e) Memperoleh skor nilai yang rendah.
f) Tidak menjadi siswa/ mahasiswa yang terjelek.
Ibu-ibu di negara Cina mengatakan bahwa mereka percaya anak-anak mereka bisa menjadi siswa "yang terbaik", bahwa "prestasi akademik mencerminkan orang tua yang sukses," dan bahwa jika anak-anak tidak berprestasi di sekolah berarti ada "masalah" dan itu berarti orang tua sang anak  "tidak melakukan pekerjaan mendidik dengan baik’.
Orang tua Cina menuntut nilai sempurna karena mereka percaya bahwa anak mereka bisa mendapatkannya. Jika anak mereka tidak mendapatkan maka ibu Cina menganggap itu karena si anak tidak bekerja/ belajar cukup keras. Maka solusi atas kondisi tersebut “anak perlu dikritik atau dipermalukan”. Bukan hanya sekedar mempermalukan anak namun orang tua berlepas tangan dalam hal mendidik.
Orang tua Cina percaya bahwa anak-anak mereka berutang kepada mereka semuanya karena mereka telah berkorban dan berbuat banyak bagi anak-anak mereka. Dan memang benar bahwa ibu Cina  menyediakan waktu yang sangat melelahkan agar anak bisa mengikuti les privat, pelatihan, menginterogasi dan memata-matai anak-anak mereka. Maka pemahamannya adalah bahwa anak-anak Cina harus menghabiskan hidup mereka dan mentaati mereka dan membuat mereka bangga.
Orang tua Cina percaya bahwa mereka tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka dan karena itu  mereka mengesampingkan semua keinginan anak-anak yang belum logika. Itu sebabnya putri Cina belum dapat memiliki pacar saat di bangku SMA  dan mengapa anak-anak Cina tidak bisa pergi hura-hura.
3). Orang Tua Amerika
Suatu hari penulis berkenalan dengan Dr. Jerry Drawhorn. Dari Jerry penulis mengetahui beberapa kebiasaan dan budaya orang amerika. Sebagai seorang arkeolog ia pernah berbicara tentang kecerdasan. Ada banyak orang Amerika yang begitu pintar dan kepintaran mereka adalah sebagai kontribusi dari orang tua mereka. Penulis kemudian mencari tahu bahwa dari beberapa kelompok etnik yang ada di Amerika maka etnik Yahudi termasuk unggul dalam mendidik keluarga mereka.
Etnik Yahudi Amerika telah lama dikagumi oleh banyak orang di Amerika karena kemampuan mereka dalam menghasilkan anak-anak yang berkembang secara akademis. Mereka punya budaya “guilty” atau merasa bersalah kalau tidak berhasil dalam hidup dan ini punya dampak dalam menciptakan keberhasilan mereka.
Rasa bersalah (guilty) adalah bentuk emosi yang memberi rasa rumit dalam fikiran. Orang tua Yahudi merasa bersalah kalau keluarga mereka gagal atau kurang berhasil dalam berbuat. Gambarannya bisadalam bentuk ungkapan:
I am ashamed if I am not success, my parent will be embarrassed if I am fail, our people will be forgotten if we have very poor score, etc
Rasa bersalah ini merupakan dorongan yang kuat dalam melindungi dan juga dalam menyempurnakan mutu kehidupan diri dan kehidupan keluarga. Agar hasil kegiatan mereka bisa sempurna maka mereka tidak mau berbuat asal-asalan, mereka berbuat lebih profesional. Rasa bersalah telah mendorong semua orang Yahudi untuk berbuat secara serius dalam berbagai bidang kehidupan sehingga mereka menjadi bangsa yang berkualitas.
Orang tua Yahudi juga menularkan rasa bersalah pada anak mereka, sehingga dalam belajar bila mereka tidak memperoleh hasil yang belum maksimal maka akan timbul rasa guilty atau rasa bersalah. Selanjutnya rasa bersalah menjadi pendorong untuk berbuat lebih berkualitas. Jadi bagaimana anak-anak Yahudi memperoleh skor akademik yang tinggi dan juga untuk mendapatkan perhatian dari perguruan tinggi terbaik? Tentu saja adanya dorongan yang kuat dari dalam hati, bila tidak bisa maka mereka akan mengalami rasa bersalah (guilty) yang mendalam.
4) Orang Tua Jepang
Bagaima dengan kualitas karakter anak-anak  di Jepang ? Kualitas mereka terbentuk dari kualitas parenting para orang tua dan juga dukungan media masa sehingga terbentuklah masyarakat yang punya disiplin, empati dan pendidikan yang pro pada karakter.
a) Menumbuhkan disiplin keluarga.
Tentu saja setiap pemuda dan pemudi Jepang yang ingin menikah maka mereka terlebih dahulu mengikuti kursus parenting, atau juga belajar secara otodidak tentang menjadi orang tua yang baik (parenting). Jadinya setelah menikah dan punya anak maka mereka tidak kebingungan dalam menanamkan konsep. Disiplin adalah konsep utama yang selalu ditanamkan oleh orang tua untuk keluarga mereka.
Karena memahami konsep parenting, maka ibu di Jepang bersikap lembut namun juga tegas. Sejak lahir, anak-anak selalu bersama ibunya. Mereka tidak pernah luput dari pengawasan sang ibu. Ibu-ibu di Jepang disiplin sekali terhadap anak-anaknya dan kedisiplinan ini diajarkan sejak dini. Anak-anak tidak selamanya bersikap manis, kadang-kadang bersikap agak nakal dan menjadi hilang kontrol.
Jika sang anak tidak mematuhi- bersikapmenganggu ketertipan umum, maka mereka akan memukul kepala si anak. Hukuman ini lazim buat orang Jepang, dan memukul kepala tentu saja tidak lazim bagi kita dan juga tidak harus kita tiru (mungkin diganti dengan bentuk mencubit atau memukul selain kepala untuk tujuan mendidik.
Namun di tempat umum, ibu-ibu Jepang pantang untuk memarahi atau bersikap kasar terhadap anak, karenaanak perlu dipelihara harga dirinya. Mereka dihukum ketika sudah di rumah. Oleh sebab itu, anak-anak Jepang jarang yang bersikap seenaknya karena jika mereka melanggar aturan maka mereka tahu apa konsekwensinya. Namun kadang ada juga ibu-ibu yang memukul kepada si anak di tempat umum jika sang anak bersikap kelewatan atau berbahaya.
b) Berempati bisa berarti memahami perasaan orang lain.
Orang tua Jepang umumnya sudah punya wawasan yang baik, yang mereka peroleh lewat pendidikan atau lewat otodidak, hingga mereka bisa menjadi model bagi anak. Orang tua yang berkarakter baik akan cenderung melahirkan anak yang juga baik. Umumnya orang Jepang dan juga orang di negara maju cenderung  mendahulukan orang lain sebelum diri sendiri. Misal kalau lagi menyetir maka cenderung memperlihatkan kesabaran dan tidak mau menjadi raja jalanan.
Ketertiban dan sopan santun anak sangat diperhatikan di Jepang bila anak tidak tertib  maka mereka memperoleh hukuman. Di tempat umum, anak-anak jangan sampai mengganggu kenyamanan orang lain. Misalkan di restoran, tidak ada anak-anak yang hilir mudik, berjalan kesana kemari. Semua anak duduk di bangkunya masing-masing. Bayi selalu digendong atau dipangku oleh ibunya. Jika sang bayi rewel, sang ibu akan berdiri dan menggendongnya.
Di rumah sakit, klinik, mall, dan tempat umum lainnya, tidak ada anak-anak yang berjalan mundar mandir, lari kesana kemari, berbicara keras-keras. Misalkan di klinik atau rumah sakit, berbahaya jika anak kita berjalan-jalan atau bahkan berlari-lari. Di kereta, anak-anak harus duduk dengan tertib dan tidak berisik. Banyak penumpang yang ingin tidur dan beristirahat, jadi pikirkan kenyamanan mereka juga.

Pengalaman-pengalaman parenting dari orang tua di negara maju tadi perlu kita adopsi untuk menemani ledakan kecerdasan anak sejak dari masa bayi hingga mereka remaja dan dewasa. Ada beberapa catatan yang harus kita kuasai antara lain:  memperkenalkan pelajaran cara “bersopan santun” dalam hidup kepada anak-anak,mengajarimereka bertegur sapa,mengucapkan terima kasih, menghindari banyak mengomel pada anak, apa lagi sampai menghardik-hardik. Berkomunikasi dengan anakdengan penuh semangat. Juga mengajarkan pada anak untuk bisa menghargai waktu, tidak hura- hura,lupa diri karena asyik dengan permainan. 

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture