Senin, 23 Mei 2016

Aku Menggunakan Pola Fikir Gabungan

Aku  Menggunakan Pola Fikir Gabungan
Bagaimana ya pola fikirku setelah pulang dari Perancis ? Aku kenal ada seorang teman yang sempat mengikuti program YES (Youth Exchange Student) di Amerika Serikat selama satu tahun. Sebelum pergi ke sana dia dikenal baik, karena suka serba mengikut pada pola fikiran orang tua. Namun begitu pulang dari Amerika serikat, ayahnya telah menganggap dia sebagai anak yang suka kontra dan keras kepala. Itu gara-gara ia suka memiliki pola fikiran yang kritis- dan mengungkapkan perasaan dan fikiran secara serta merta. Kalau tidak suka ya, ia bilang tidak suka, dengan resiko bahwa orang tua merasa ditentang.
Namun bagiku, aku akan menggunakan cara berfikir yang combine (gabungan) pola fikir asliku dan pola fikir Eropa. Aku berfikir bahwa pasti budaya kita itu bagus dari pada budaya fikir barat. Tetapi begitu aku pergi ke Eropa aku lihat budaya fikir mereka dengan semangat struggle (berjuang) juga sangat  bagus untuk disadur.
Aku pingin orang tua juga mempersiapkan anak anak untuk struggle dan bersikap terbuka pada anak-anak. Bila ada masalah keluarga maka ada baiknya untuk dibicarakan dengan melibatkan anak-anak.
Budaya Minang yang aku lihat ya bersifat “tarik ulur”. Seorang anak dilepas...mereka dilepas, bila ternyata ada kesalahan ya ditarik lagi. Budaya tarik ulur begini tidak ada di sana. Kalau salah ya salah kamu, kalau untung ya manfaatnya bagi kamu. “Kalau saya salah ya ini hidup saya, yang lain mengapa harus repot repot mengurusku”.
Aku masih ingat tentang bagaimana perlakuan orang tua Perancis pada anak-anak mereka. Pasti orang tua memahami tentang perkembangan dan prilaku anaknya dan mereka berusaha untuk mengembangkan anak anaknya buat menghadapi masa depan, jadi kesannya bahwa orang tua Perancis sangat bertanggung jawab buat masa depan anak.
Anak anak disuruh agar memiliki hobbi, namun jangan larut hanya dengan hobbi semata, karena itu itu tidak hanya untuk satu sisi, anak musti mampu hidup dalam banyak sisi. Sebagai target di Indonesia, bahwa setiap anak harus menguasai IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi), namun juga harus mantap IMTAQnya (Iman dan Taqwanya). Hidup itu ada sisi A, B, C nya. Jadi anak jangan hanya menguasai sisi A saja, tetapi juga bagus dalam menguasai sisi B dan C nya.
Aku merasa bahwa meskipun aku sudah menjadi decision maker (pengambil keputusan), namun aku masih memerlukan peran mama dan papaku. Bila aku tidak tahu satu hal maka aku akan melemparkan permasalahanku pada papa dan mamaku. Bagiku papa adalah ibarat  kamus berjalan, walau ia miskin dalam referensi pengetahuan, namun ia mampu memberi solusi berdasarkan pengalaman hidup yang ia miliki. Sementara mama berperan sebagai pemberi pertimbangan bagiku. Jadi begitu selesai pendidikan di Eropa bukan berarti aku sudah mandiri dalam menggunakan pemikiran, ternyata aku masih butuh pemikiran orang di sekitarku- sekali lagi mama dan papaku.
Ada yang bertanya bahwa apakah orang tua yang di Perancis semuanya memperoleh pendidikan Pascasarjana dan Doktoral. Aku  lihat  tidak semuanya, namun mereka semuanya cukup well educated. Mereka menjadi well educated karena sistem pendidikan mereka yang berkualitas. Umumnya tidak ada anak anak SD, SMP dan SMA yang berkeliaran saat jam belajar. Saat mengajar guru dan stakedholder sekolah bekerja dengan profesional dalam mendidik.
Kalau kedapatan ada anak yang berkeliaran pada saat jam belajar, maka orang tuanya dipanggil dan didenda oleh pemerintah. Umumnya sekolah di Perancis dari SD sampai SMA adalah gratis. Jadi orang tua sangat diminta untuk turut peduli dalam mendidik anak mereka, tolonglah ikut mengantarkan anak kesekolah dan genjotlah disiplin dan motivasi belajar mereka.
Televisi perancis juga tidak begitu banyak mempengaruhi karakter konsumtif anak anak sekolah. Iklan televisi sering menggoda anak anak untuk menjadi konsumtif, apalagi kalau materi iklan khusus untuk konsumsi mereka seperti iklan parfum, kosmetik, makanan. Aku perhatikan bahwa iklan di TV Perancis tidak begitu dominan. Dalam satu jam, tayangan televisinya cuma selama 15 atau 20 menit. Beda dengan TV di negara kita, yang mana tayangan iklan lebih panjang dari acara pokoknya. Iklan nyang panjang terkesan tidak banyak mendidik, tapi malah membuat masyarakat menjadi konsumerisme.
Kualitas pendidikan juga ditentukan oleh kualitas para guru. Guru-guru di TK, SD, SMP dan SMA semuanya menerapkan model pembelajaran fun learning. Fun learning juga dikenal dengan istilah PAKEM yaitu- pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan. Aku melihat selama musim dingin pembelajaran memang banyak berada dalam ruangan, namun dalam musim semi, para guru membawa anak anak untuk belajar ke luar kelas, malah sampai ke luar sekolah, mereka belajar di alam.
Dalam musim semi tersebut, aku pernah menemui guru TK menggiring murid mereka berjalan di taman, di jalan dan terus naik metro. Anak anak berjalan berbaris berpasangan, mengikuti alur alur. Guru guru amat terbuka pada siswa dan siswa lebih berani untuk berbicara dengan guru guru mereka. Namun kalau di negara kita, terlihat bahwa sebahagian siswa mendewakan guru dan menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh guru “semuanya betul”. Seolah olah guru adalah sumber ilmu dan sumber kebenaran secara mutlak.
Di Perancis saat mereka entre le metro (saat masuk metro) aku dengar pembicaraan guru dan murid sangat terbuka. Anak- anak bilang pada gurunya “Ibuk kenapa ini harus begini....ibuk kenapa harus begitu...?”
Anak anak sangat antusias bertanya pada guru mereka. Dan guru mereka menjawab, namun ada yang protes kenapa begitu mon pere dis moi nes pas comme ca (ayah ku bilang tidak begitu). Anak anak sangat berani dalam berbicara dan termasuk dalam memprotes, aku lihat bahwa sosok guru bukan sebagai sosok yang menakutkan bagi siswa siswi mereka. Guru guru look nice semua terhadap anak anaknya.
Di saat anak anak sibuk berbicara dan ruangan terkesan bruyant (ribut) gurunya terllihat senyum saja. Tidak menghardik hardik untuk mendiamkan anak anak didik mereka. Mereka mengatakan bahwa suasana ribut itu menandakan adanya  suasana yang kreatif. Guru Tk tersebut berkata padaku “Pardone si mes enfantes sont bruyantes”- maaf ya kalau anak-anakku semua berisik.
Sekali lagi bahwa aku lihat banyak guru guru di sana suka ngajak anak anak ke lapangan. Mereka semua adalah guru guru yang bersikap terbuka- membuka diri terhadap anak didik mereka. Berdebat dengan guru adalah hal yang biasa, dan kalau guru tidak tahu maka dengan enteng guru akan berkata “Je pas atau aku tidak tahu”. Kemudian hubungan guru dan orang tua adalah berbentuk partner. Apakah guru ataupun orang tua tidak satupun yang bersifat dominan. Itulah kira-kira isi kisah nyata ini yang berjudul “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis”.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture