Sabtu, 21 Mei 2016

Bagaimana strategi pengembangan diri menjadi guru ideal ?



Bagaimana strategi pengembangan diri menjadi guru ideal ?
Guru ideal yang diinginkan oleh siswa adalah guru yang bisa menjalin hubungan baik dengan muridnya. Guru yang bisa menjalin hubungan baik dengan muridnya akan mengerti bagaimana menghadapi murid-muridnya. Guru tersebut mengetahui metode apa yang tepat untuk mengajar muridnya. Berbagai metode pengajaran telah dijelaskan oleh para ahli dan guru tinggal mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi murid.
Dalam melaksanakan tugas ini guru disamping menguasai materi yang akan diajarkan, dituntut pula memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar, juga dituntut untuk selalu mencari gagasan-gagasan baru (inovasi), dengan tujuan penyempurnaan kegiatan belajar mengajar, yang akan menentukan keberhasilan pendidikan.
Sesuatu yang sangat didambakan insan pendidikan khususnya guru adalah menjadi guru ideal dan inovatif yang imbasnya yang positif bagi peserta didik. Berikut langkah-langkah menjadi guru yang ideal dan inovatif (sebagaimana ditulis oleh Mohammad Rusdi dalam bloggernya, http://ibnurus.blogspot.co.id ) :


1. Menguasai materi pelajaran secara mendalam.
Seorang guru dituntut memiliki kemampuan menguasai pelajaran yang diampu secara mendalam. Hal ini bertujuan untuk “Membangun kepercayaan diri seorang guru. Agar siswa mendapatkan ilmu sesuai tujuan lembaga dan individu. Dan agar siswa memiliki daya kompetitif yang tinggi”.
2. Komunikatif.
Unsur komunikasi sangat penting dilakukan guru sebagai bentuk pendekatan psikologis kepada peserta didik. Aspek acceptability menjadikan kelancaran kegiatan belajar mengajar di kelas, sehingga mendorong terciptanya suasana yang nyaman dan kondusif dalam proses pembelajaran.
3. Wawasan luas.
Dalam mensikapi perkembangan dewasa ini yang serba cepat dan pesat, guru sudah semestinya selalu mengikuti informasi yang mendunia dan up to date. Sehinga hal yang disampaikan menjadi menarik dan penasaran serta tidak membosankan. Dengan demikian guru dapat memberikan jawaban yang memuaskan baik hubungannya dengan akademis maupun non akademis.
4. Dialogis.
Guru dapat mengembangkan interaksi 3 berbagai arah dalam proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan dewasa ini, pembelajaran berpusat pada anak (student Centered) bukan lagi berpusat pada guru (teacher Centered). Dengan demikian mampu melatih anak menjadi kritis, analitis, responsif dan progresif.
5. Menggabungkan teori dan praktik.
Kemampuan ini diperlukan guru untuk lebih mengkongkritkan materi dari yang semula bersifat verbal. Anak menjadi terlatih menerapkan ilmu yang sedang dipelajarinya. Di samping itu juga siswa dapat mengembangkan materi di luar pembelajaran (penelitian) dan ebih melekatkan pemahaman materi secara mendalam.
6. Bertahap.
Guru mampu menyampaikan materi secara hirarki dari yang mudah ke sulit dan dari yang sederhana ke yang kompleks. Guru perlu menyampaikan materi secara kronologis dan unity (terpadu), tidak meloncat-loncat dan terpencar-pencar.
7. Berbagai variasi pendekatan.
Guru perlu menggunakan berbagai variasi pendekatan. Hal ini berperan penting untuk menciptakan suasana belajar yang menarik , sehingga tidak membosankan. Di sisi lain dengan pendekatan yang berbeda-beda dapat memberikan tantangan baru bagi siswa. Di samping itu dapat memompa motivasi siswa dan mengembangkan inisiasi yang lebih baik.

8. Tidak memalingkan Materi Pelajaran.
Satu hal yang perlu diingat bahwa guru tidak memalingkan materi pelajaran. Pembelajaran dilakukan fokus pada materi ajar yang sedang di bahas. penjelasan-penjelasan yang disampaikan mengalir kepada tujuan pembelajaran. (Tidak melebar ke mana-mana). Jika keluar dari materi, harus yang berkaitan dengan hal yang sedang dibahas. Guru tidak perlu menceritakan pengalaman pribadinya yang tidak ada kaitannya dengan materi.
9. Tidak terlalu menekan dan memaksa
Dalam dunia pendidikan dewasa ini, guru hendaknya menyelami kondisi siswa secara psikologis untuk memberikan kegiatan sesuai dengan kompetensinya agar enjoyable (nyaman). Idealisme guru harus ditunjang dengan kearifan, kebijaksanaan, dan kecerdasan dalam membangkitkan semangat belajar anak. Guru tidak sekedar memaksa siswa didik untuk mengerjakan tugas yang sedemikian sulit, mengikuti semua apa yang diarahkan. Guru perlu memberikan gambaran apa yang diberikan kepada siswa. Siswa diminta merenungkan, tidak ditekan harus begini, harus begitu dan sebagainya. Guru harus mampu mengatur ritme untuk mempertahankan energi dan stamina.
10. Santai tapi Serius
Sekedar pengalaman di lapangan, banyak kita jumpai guru yang dalam proses pembelajaran bersikap santai. Sebaliknya banyak pula guru yang justru bersikap serius selama 90 menit dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru perlu memberikan humor dan joke yang mendidik dan menggugah semangat, memberikan motivasi dan inspirasi. Mengajar dengan santai, di sela-sela penyampaian materi yang intensif menyelipkan humor segar agar tidak terkuras energinya.
Sekali lagi dikatakan bahwa menjadi guru yang ideal dan inovatif adalah sebuah tuntutan yang tak bisa dielakan. Masa depan bangsa ini ditentukan oleh kader-kader muda bangsa, sedangkan penanggung jawab utama masa depan mereka berada di pundak guru. Sebab guru yang langsung berinteraksi dengan peserta didik dalam membentuk kepriadian, memberikan pemahaman, mengembangkan imajinasi dan cita-cita, membangkitkan semangat dan menggerakan kekuatan mereka.
Dari sosok seorang gurulah, para siswa membayangkan masa depannya, mencanangkan sebuah impian hidupnya, dan melihat jauh ke angkasa, terbang setinggi langit laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Agaknya strategi atau langkah- langkah menjadi guru yang ideal bisa disederhanakan  yaitu seperti:
1. Menguasai materi pelajaran secara mendalam.
Menguasai materi pelajaran adalah syarat utama menjadi guru ideal. Seorang guru harus mengajar materi sesuai dengan keahliannya. Guru yang ideal adalah guru yang mengajar materi pelajaran yang menjadi bidang, bakat, dan spesialisasinya. Bila guru tidak memiliki bidang sesuai keahliannya maka murid bisa menjadi korban. Saat ini tantangan dunia global semakin dinamis, kompetitif dan akseleratif menuntut guru menyesuaikan diri dengan pembaharuan-pembaharuan yang ada, meningkatkan pendalaman materi dan mampu membuat teori-teori baru yang progresif.
2. Mempunyai wawasan luas.
Seorang guru harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang terjadi di belahan dunia, sehingga cakrawala pemikirannya menjadi luas, mendunia dan up to date. Selalu ada hal baru yang disampaikan seorang guru akan menjadi salah satu daya tarik murid yang bisa menggugah semangatnya mengikuti pelajaran. Para siswa juga akan merekam penjelasan gurunya dengan baik. Namun pemikiran guru yang luas sebaiknya memiliki hubungan dengan materi yang diajarkan.
3. Komunikatif.
Seorang guru penting berkomunikasi dengan anak didiknya, seperti menyapa mereka dan menanyakan bagaimana kondisinya. Guru yang suka menyapa dan memperhatikan kondisi muridnya lebih diterima anak didiknya. Ketika guru bertanya kepada anak didiknya, mereka merasa diperhatikan sehingga guru dianggap bagian darinya. Komunikasi guru tersebut sangat penting sebagai pendekatan psikologis kepada anak didiknya. Aspek penerimaan seorang guru menjadi faktor penting bagi kelancaran kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.
4. Dialogis
Tugas seorang guru tidak hanya mengajar, tapi juga menggali potensi terbesar anak didiknya. Tugas ini sulit terlaksana kalau dalam mengajar seorang guru hanya mengandalkan metode ceramah, sekedar memberikan materi an sich, tanpa ada ruang dialog. Metode dialog interaktif melibatkan dua atau tiga arah, misalnya murid bertanya, guru menanggapi, lalu ditanggapi lagi oleh siswa lain. Dalam metode dialog interaktif guru tidak boleh merasa paling benar, pintar, dan paling tahu segala masalah.
5. Menggabungkan teori dan praktik
Bila dalam pembelajaran anak didik hanya dijejali dengan teori tanpa ada praktik, maka mereka akan mudah jenuh. Praktik sangat diperlukan sebagai media menurunkan, mengendapkan, dan melekatkan pemahaman materi pada otak anak didik. Praktik bisa berupa turun langsung ke lapangan atau ke laboratorium. Dengan praktik, ilmu dapat berkembang dengan pesat dan anak didik terlatih untuk menerapkan ilmu yang dipelajari. Praktik menjadi suatu keharusan pada semua materi, khususnya materi yang membutuhkan aplikasi sehari-hari.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture