Senin, 23 Mei 2016

Sweet memory dari Perancis



Sweet memory dari Perancis

Welcome in Batusangkar
            Tidak terasa aku tiba lagi di tanah kelahiranku Padang Ganting- Batusangkar. Aku seharusnya dijemput oleh keluarga ku- ayah, dan uni. Namun dalam kenyataan bahwa aku tidak dijemput- tetapi aku menjemput. Aku menjemput mereka, ya karena aku yang menunggu mereka lebih duluan di bandara Internasional Soekarno- Hatta, Jakarta. Setelah mengurus beberapa hal, keesokan harinya  kami naik pesawat lagi menuju Padang, Sumatera Barat.
            Tentu saja memoriku tentang Perancis dan Paris masih hangat, karena kayaknya baru kemaren aku berada di sana. Aku masih ingat bahwa aku mengalami banyak pengalaman manis dan juga sejumlah keterbatasan hidup.
 “ Ada penglaman menyenangkan dan juga pengalaman susah, ya...banyak susahnya, apalagi aku termasuk warga baru di sana. Aku menemukan beberapa hal cukup kontra dengan  kondisi di kampungku  sendiri- di Batusangkar. Dalam  lingkungan keluarga aku bisa memperoleh banyak kemudahan dan  merasa hidup lebih nyaman. Di Perancis semua suka dan duka musti dihadapi dan diatasi sendiri”
            Kisah nyata ini berjudul “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis”. Tentu saja kisah nyata ini berisi tentang ide-ide dan kisahku dari A sampai Z, dari Padang Ganting, sebuah desa kecil dekat Batusangkar, hingga ke Menara Eiffel di Perancis. Aku juga  akan  memaparkan eksistensi Istano Basa Pagaruyung dan Eiffel itu sendiri.
Eiffel dan Istano Basa Pagaruyung  adalah dua situs sejarah yang sangat terkenal di dunia yang berada di dua negara dan dua budaya yang amat berbeda. Eiffel dibangun oleh  ahli arsitektur beberapa abad silam dan Istano Basa Pagaruyung  dibangun oleh masyarakat melalui sistem adatnya. Dalam  membangun  Rumah  Gadang di nagari Pagaruyung  tidak hanyak sebatas masalah  duit, tetapi juga melibatkan unsur adat, dan ninik mamak (kaum kerabat dalam suku). Mereka melaksanakan  seremoni adat, musyawarah dan selanjutnya juga melibatkan sumbangan kaum kerabat.
            Dari Perancis aku memahami betapa besarnya sumbangan keluarga kerajaan Pagaruyung itu sendiri untuk lokasi pembangunan Istano Basa Pagaruyung itu sendiri. Sehingga akhirnya di sana bisa berdiri sebuah Rumah Gadang atau Istano Basa Pagaruyung yang melambangkan bangunan kebudayaan Minangkabau. Sekali lagi bahwa bangunan ini bisa berdiri berkat kerja sama pemerintah- kaum adat dan masyarakat Minangkabau dari berbagai daerah di negeri ini. Sementara itu Eiffel dibangun hanya atas nama ahli yang bernama Gustave Alexandre Eiffel tahun 1889.
            Aku berasal dari desa kecil dekat Batusangkar, yaitu Desa Padang Gantiang. Di sana aku tumbuh. Kata papa bahwa waktu kecil terlihat lugu dan amat pemalu. Papa dan mama selalu  memotivasiku untuk menjadi gadis yang berani, hingga aku bisa melepaskan  “topeng malu” itu sendiri.
Kalau aku runut kembali tentang perkembangan  pribadiku, dari orang pemalu hingga bisa jadi berani, aku  merasa hal itu sebagai hal yang incredible (suatu hal yang cukup luar biasa). Aku mulai dari zero dan bisa menjadi new hero, paling kurang untuk kaum perempuan atau orang-orang di daerah pinggir di negeriku- Padang Gantiang. Sebenarnya  kisah perjalan hidupku yach ..... biasa- biasa  saja.
            Jujur saja, kalau aku  renungkan  kembali perjalanan ini “until I get master” dalam bidang ilmu pengetahuan dari Universitas Sorbone- sebuah Universitas yang sangat terkemuka di Eropa dan malah juga terkemuka di dunia “Wow...I feel it very amazing”. Aku rasa bahwa perjalan hidupku dari awal hingga sekarang pastilah tidak mudah bagiku untuk mencapainya. Aku melakukan  banyak usaha dan pengorbanan.
 Aku memperoleh banyak dorongan dari keluarga. Setiap kali aku “down”- ya aku bisa ambruk” maka pasokan semangat dan energi motivasi dari mereka sungguh sangat berarti. Aku selalu memperoleh support dari mereka.
Support itu sendiri tidak diperoleh dengan serta merta, pasti  berawal dari kegagalanku dan baru  muncul support mereka. Ada stimulus maka ada pula response.
Master Degree yang aku peroleh di Sorbone Universite sekarang adalah kumpulan dari serangkaian jerih payah yang telah aku lakukan dan aku lewati. Aku sekarang sangat appreciate atas perjalanan hidupku sendiri.

Proses Panjang
            Sebelum mendapatkan degree of master di universitas Eropa ini, aku sebelumnya harus melewati proses pendidikan dari SD, SMP dan SMA di desa kecil di Pinggiran bukit dekat Batusangkar. Kemudian  aku melangkah menuju Universitas Andalas di Padang, terus ke Universitas Udayana, di Denpasar- Bali, dan selanjutnya aku terbang melintasi benua menuju Sorbone di Jantung Eropa.
Dalam tesis studiku  di Sorbone- aku menyatakan bahwa keberhasilan itu aku persembahkan  buat mereka:  kedua orangtua ku yang tercinta, juga keluarga dan kerabatku, serta tidak ketinggalan pula dukungan dari banyak orang dari kampung dan kampusku.
            Aku masih ingat bahwa saat aku baru saja selesai ujian mempertahankan tesis, aku merasa tidak sabaran  untuk  mengirim SMS ke berbagai orang yang  amat berjasa padaku “Hai....terimakasih...atas doa, dukungan kalian,  lewat  pertolonganmu...aku baru saja selesai memperoleh  master , Alhamdulillah”. Appresiasi ini aku lakukan bahwa aku  bisa begini ya karena dukungan dan dorongan dari mereka.
            “Aku bisa begini bukan karena usahaku semata tapi adalah berkata dukungan orangtuaku...sahabatku....familiku....orang orang yang begitu ikhlas pada ku”. Appresiasi ini tak mungkin aku wujudkan dengan uang, namun dengan rasa syukurku yang begitu mendalam  pada Tuhan dan rasa terimakasih yang tulus pada mereka-mereka yang amat aku cinta.
Ya pada hari H tersebut aku sibuk SMS-SMSan hingga larut malam “I finish my study...I finish my study, merci beaucoup pour tout”.
            Seminggu setelah berada lagi di kampungku, ya aku sempatkan untuk  berbagi cerita dan berbagi pengalaman dengan para siswa SMA Negeri 1 Padang Ganting dan SMA Negeri 3 Batusangkar. Aku diberi kesempatan untuk mempresentasikan penglaman belajarku from Batusangkar hingga  Eiffel atau Perancis. Aku tetap bersemangat walau para siswa tengah berpuasa dan tampak sedikit mengantuk, karena aku bersemangat maka semangatku juga menular pada mereka. Aku ingin mereka juga bisa mengikuti jejak studiku dari Batusangkar hingga ke Sorbone.
            Sebenarnya bagi siswa yang belajar di kaki bukit dekat Batusangkar, untuk bisa menembus pendidikan di Universitas favorite di Indonesia- seperti di Universitas Indonesia, ITB, Unpad, UGM...sungguh sungguh amat sulit, apalagi untuk menuju Sorbone. Namun aku mengatakan pada mereka kalau dulu bagiku menuju Sorbone adalah amat mustahil...ya karena saat itu banyak keterbatasan. Maka kini dengan kemudahan berbagai tekhnologi informasi “Internet bisa diakses melalui  phonecell di tangan”. Maka aku yakinkan mereka bahwa hal-hal yang tidak bisa akan bisa menjadi  luar biasa. “Kuncinya adalah ketekunan , motivasi dan percaya diri”. 
            Aku juga berbagi motivasi kepada mereka, “Kalau sekarang infomasi buat sukses sudah cukup banyak, bisa diperoleh secara langsung dari orang orang yang datang sebagai pelaku sukses dari universitas. Juga bisa diperoleh lewat internet dengan akses yang begitu mudah. Nah sekarang mengapa tidak mencoba untuk menuju sukses..mengapa musti takut....mengapa musti ragu”.
            Aku mensupport para  junior tersebut “Ya coba lihat aku sekarang...kok aku bisa..!” Pada hal di zaman aku sekolah SMP dan SMA akses menuju ibukota kabupaten begitu sulit, aku harus menunggu mobil yang bermerek STS yang warnanya merah hampir satu atau dua jam, itupun untuk pergi les Bahasa Inggris yang berlokasi dalam kota kecil, Barusangkar.
“Namun kamu  sekarang  begitu mudah, kamu udah punya transpor sepeda motor..atau paling kurang naik ojek yang siap mengantarkan kamu kapan saja. Seharusnya kamu akan jauh lebih sukses dari saya”.
            Aku sebagai tokoh dalam kisah nyata yang berjudul “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis”. Andai tokohnya  adalah seorang cowok maka itu hal yang biasa. Atau andai aku sebagai tokoh perempuan  yang berasal dari metropolis  bisa sukses dalam pendidikan sampai di Sorbone, maka itu juga hal  biasa. Namun aku adalah tokoh seorang perempuan kampung,  yang berasal dari pinggir bukit dekat kota kecil pula- kota Batusangkar, dan waktu kecil akupun sebagai perempuan kecil yang amat pemalu, namun kemudian melalui serangkaian perjalanan panjang yang penuh perjuang hingga bisa menyelesaikan pendidikan master pada Sorbone, lebih cepat dari target, maka aku sebagai tokoh akan menjadi luar biasa.
            Aku rasa bahwa kisah nyata “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Perancis” ini akan sarat dengan pesan-pesan buat pembacanya. Intinya bahwa pembaca  peduli selalu dengan emansipasi perempuan’
 “Bahwa perempuan harus selalui  bangkit untuk pendidikan. Perempuan desa sekalipun- jangan kehilanghan semangat dan mudah putus asa, jangan terlalu banyak lagi mengkhawatirkan atas keterbatasan  diri sendiri”.
            Dulu orang memang banyak mengkhawatirkan anak perempuan untuk studi ke tempat yang jauh. Orang tua cemas  kalau anak perempuan  mereka tidak mampu hidup...cemas kalau   anak perempuan bakal ditimpa kesusahan dan bencana. Yang ditanamkan pada diri anak perempuan adalah rasa takut dan rasa cemas.
 “Wah mama takut kamu bakal diganggu orang....mama takut kamu bakal kelaparan dan sakit”,  dan akhirnya anak perempuan akan tumbuh jadi kerdil.
 Seharusnya anak perempuan  juga harus “Keep struggle- tetaplah berjuang hidup” sebagaimana halnya semangat anak laki-laki.
 “Mengapa anak laki-laki diizinkan dan diberi kepercayaan untuk belajar ke ibukota propinsi dan malah sampai ke universitas favorite di Pulai Jawa. Kalau begitu  anak- anak perempuan juga perlu memperoleh kesempatan dan hak seperti itu (?)”
            Sebenarnya perjalanan dan perjuanganku juga sarat dengan  keraguan yang datang dari famili dan kedua orang tuaku. Namun aku sudah memilihki pagar- pagar atau rambu-rambu  mengenai  kehidupan. Aku mengerti tentang “some do’s dan some dont’s (beberapa hal yang aku boleh lakukan dan beberapa hal yang musti aku hindari)”.
Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang gadis asal Minangkabau- atau wanita timur. Intinya aku tetap memakai aturan agama dan nilai sopan santun sebagai orang timur.
            “Aku harus berada dalam pagar  tersebut. Kalau aku lompat pagar maka aku khawatir kalau ada buaya- ada  celaan.  Maksudnya kalau di negeri ku hidup itu musti ada tata krama timur, sedangkar di Eropa mereka menganut kebebasan yang sangat bebas dalam bertindak”.
 Usahaku untuk bergerak dari perempuan kecil yang terbatas  dengan wawasan, memiliki rasa percaya diri yang rendah...ya melalui serangkaian usaha. Aku sering jatuh dan bagun. Ketika aku jatuh atau gagal maka aku tidak perlu meratapi kegagalan itu. Aku harus segera bangkit atau bangun. Jatuh  dan bangun dalam perjuang untuk meningkatkan kualitas diri  dengan melalui serangkaian “move on- selalu bergerak dan berusaha”.
Bukan menunggu dan berdiri dengan penuh ragu-ragu, apalagi tanpa percaya diri. “Kalau gagal ya jangan patah hati...ayo coba lagi  dan bangkit lagi !!!”.
            Larangan dan dorongan dari keluarga aku rangkum menjadi resep hidup buatku selama dalam perjalanan hidup di rantau orang. Ternyata sangat dahsyat bagiku dalam menuntun diri sendiri.
Aku menyedari bahwa kemampuan akademikku saat di SMP dan SMA masih sebatas rata-rata. Di SMA dulu aku bukan termasuk siswa yang memperoleh juara umum, aku malah tercatat sebagai siswa yang  cuma rangking empat besar di kelas. Namun kemudian aku sadar dan banting stir, bahwa aku harus hebat dalam bidang akademik namun tidak perlu terlalu kutu buku. Maka  aku juga  aktif dalam organisasi sekolah- juga aktif dalam kegiatan masyarakat di sekitar rumahku.
            Sekali lagi bahwa saat aku di SMA, prestasiku tidak begitu cemerlang, tidak seperti adik dan kakakku. Mereka pernah menjadi student teladan- atau sekarang dikenal dengan istilah “siswa berprestasi” di sekolah. Terus terang saat itu figurku adalah kakakku. Akhirnya melalui figur dari kakak, semangat suksesku bisa update lebih baik.
            Dengan  menyadari segala keterbatasanku- keterbatasan sebagai konsekuensi tinggal di kampung, yang notabenenya miskin dengan informasi dan ilmu pengetahuan, keterbatasanku dalam bidang akademi yang cuma rata-rata (sebagai siswa yang hanya biasa biasa saja). Sebagai anak kampung, aku cuma sibuk dengan eksplorasi namun miskin dengan outlook (pandangan keluar) hingga batu loncatan buat suksesku kurang bagus.
            Walau aku memiliki batu loncatan yang kurang bagus, namun dalam membidik sukses aku menggunakan strategi yang aku sebut sebagai “pandai-pandai dalam melihat peluang”.  Kita pengen ke sana tetapi kita tidak bisa, kita melihat rumput tetangga lebih hijau, dan kita berfikir bagai rumput di daerah mereka bisa hijau. Ya bagaimana aku bisa sukses kayak tetangga dan itu membutuhkan juga banyak peluang. Untuk memperoleh batu loncatan yang bagus ya perlu banyak trik trik yang hebat yang musti juga aku lakukan. 
Sekali lagi, kalau aku runut kebelakang, aku kagum sendirian bahwa ternyata  aku cukup hebat dalam mendisiplinkan waktu buat belajar dan buat melakukan serangkaian aktivitas. Hingga  sekarang aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki  gelar edukasi dari Perancis. Walaupun itu belum apa-apa  dibandingkan dengan  mereka yang sudah memperoleh Doktor dari sana. Namun bagiku sebagai perempuan yang tulen besar di kampung, gelar akademis yang demikian  maknanya sudah amat luar biasa.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture