Sabtu, 30 Januari 2016

Alvin Salendra

 Alvin Salendra, Mahasiswa dari Pontianak berkunjung ke SMAN 3 Batusangkar dan mejeng di jalan raya dekat SMAN 2 Batusangkar

Alvin berjumpa dengan Marjohan Usman

Selasa, 12 Januari 2016

Mencegah Drop-Out Sedini Mungkin



Mencegah Drop-Out Sedini Mungkin

            Semua orang tua sangat  memahami tentang betapa pentingnya manfaat pendidikan bagi anak. Mereka semua selalu mendukung kelangsungan pendidikan dan malah mencarikan sekolah terbaik buat anak-anak mereka. Sekaligus ini juga bentuk respon yang kuat atas kebijakan pemerintah dalam menuntaskan wajib belajar 9 tahun. Kemudian malah secara spontan mereka melanjutkan wajib belajar secara spontan buat anak hingga kelas 12 (di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas).
Fenomena sosial bahwa cukup banyak orang tua yang juga menginginkan putra-putri mereka untuk memperoleh pendidikan tinggi. Hingga sekarang di berbagai kota telah bermunculan cukup banyak perguruan tinggi, dan ini memberi sinyal bahwa orang tua sangat peduli untuk memberi anak-anak mereka pendidikan yang lebih tinggi.
            Harapan mereka pada anak adalah agar mereka bisa menyelesaikan pendidikan mereka dari SD, SLTA terus hingga SLTA dan Perguruan tinggi. Namun dalam pelaksanaannya tidak mudah- tidak seperti membalik telapak tangan- karena ada harapan yang  tidak terpenuhi. Kita dapat menjumpai fenomena bahwa banyak pendidikan anak-anak mereka yang tercecer di tengah jalan. Maksudnya mereka putus sekolah atau drop out dalam menjalani pendidikan ini.
            Angka putus cukup banyak terjadi di tengah- tengah kehidupan kita. Bila kita bandingkan tentang fenomena putus sekolah di negara kita dengan di negara- negara  maju, maka kita menjadi malu karena memikirkan eksistensi pendidikan dan kegagalan akademik negara kita. Menurut Ketua Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan- Kerlip (http://rumahkerlip.blogspot.co.id/), tentang angka drop out- menyebutkan bahwa jumlah anak terlantar tersebar di 34 provinsi mencapai 4,1 Juta jiwa (Kemensos RI, 2014) dan menurut Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal - PAUDNI, tahun 2014 tercatat bahwa ada 7,39 juta anak putus sekolah.
Bruce Stronach (1995) menulis tentang sosial, budaya dan pendidikan di Jepang. Drop out juga terjadi di negara maju, seperti di negara Jepang- namun angkanya sangat kecil, kalau angka drop out kita sangat besar. Kementerian Pendidikan Budaya Olahraga Sains dan Teknologi Jepang mengumumkan hasil surveinya- Maret 2014 (http://www.tribunnews.com/internasional/2014) tentang angka drop-out pendidikan masyarakatnya. Bahwa sekitar 60.000 siswa yang menempuh pendidikan di sekolah kejuruan dan Perguruan tinggi (universitas) di Jepang mengundurkan diri di tengah jalan alias drop out (DO). Jumlah tersebut tersebut terjadi karena faktor pencarian kerja paruh waktu atau kerja non permanen yang dilakukan oleh siswa dan mahasiswa. Dorongan mencari kerja ini karena kehidupan di Jepang memang  sangat mahal, membutuhkan biaya untuk hidup yang besar.
Persentase 60 ribu dari total penduduk Jepang 127 juta adalah sekitar 0,0005 % (5 per sepuluh ribu) pertahun. Sebaliknya kalau di negara kita, seperti yang telah disebutkan di atas, ada  7,39 juta anak yang drop out dari sekolah pertahun. Persentasenya untuk ukuran penduduk kita 260 juta adalah 0,029 % (29 perseribu) pertahun. Angka 60 ribu dibandingkan dengan angka 7,39 juta tentu jauh sangat kecil, yaitu 1:125.
Angka drop out di Jepang juga ada penyebabnya. Sebuah survei yang dilakukan oleh Japan Institute for Labour Policy and Training, terhadap 2.000 responden yang berusia 20-an yang berdomisili di Tokyo pada tahun 2011 memperlihatkan hasil bahwa separuh (50 persen) dari yang berhenti sekolah/kuliah (drop out) tersebut karena desakan hidup yaitu memiliki pekerjaan tidak tetap dan 14 persen di antaranya tidak bekerja.
Sementara itu penyebab utama putus sekolah di Indonesia adalah faktor kemiskinan. Kondisi ekonomi negara kita dibandingkan negara maju masih belum beruntung. Jumlah anak miskin mencapai 44,4 juta anak atau  lebih dari 50% dari seluruh populasi anak (UNICEF, 2012). Separuh dari 83 juta anak Indonesia tidak memiliki akta kelahiran yang seharusnya menjadi hak mereka. Jumlah anak yang kekurangan gizi pada tahun 2014 meningkat dari 15% menjadi 17%. Mereka berasal dari daerah kantong-kantong kemiskinan, terpencil, terluar dan tertinggal.
Selain faktor kemiskinan, faktor pendidikan orang tua yang rendah dan minimnya ilmu parenting orang tua juga pemicu terjadinya putus sekolah bagi anak- anak Indonesia. Malah karena kegagalan mendidik orang tua- fail parenting- maka jumlah anak berhadapan dengan hukum/berstatus tahanan atau narapidana jugasignifikan banyak yaitu 5.730 orang. BNN menyebutkan bahwa 22% pengguna narkoba di Indonesia adalah pelajar dan mahasiswa.
Terkait dengan fenomena drop-out, ada 2 bentuk respon sekolah yaitu ada sekolah yang sungkan untuk mengungkapkan jumlah drop out, takut akan mengganggu proses perekrutan murid di sana, tetapi ada pula sekolah yang secara terbuka mengungkapkan jumlah murid yang drop out dari sekolahnya. Namun kalau di negeri kita pihak sekolah atau Dinas Pendidikan seolah-olah membiarkan saja anak-anak yang drop-out. Semua berpulang kepada keputusan orang tua mereka.
Kalau digambarkan perbandingan grafik demografi antara Jepang dan Indonesia, maka akan terlihat gambar yang sangat mencolok. Yaitu kalau di Jepang saat memasuki pendidikan Sekolah Dasar tercatat jumlah muridnya sebanya 100 %. Kemudian saat masuk SMP dan tamat SMP populasinya tetap sebanyak saat berada di SD. Kemudian ke pendidikan SLTA dan tamat dari SLTA juga tetap 100 %. Kemudian masuk ke Perguruan tinggi dan tamat dari Perguruan tinggi populasi mahasiswa tetap 100 % atau karena ada yang tercecer di jalan karena drp-out dalam angka yang kecil maka tamatan Perguruan tinggi tetap mendekati angka 100 %. Dengan demikian grafik demografi pendidikan Jepang dari SD hingga Perguruan tinggi menyerupai sebuah limas yang hampir sempurna.
Cukup kontra dengan gambar grafik pendidikan di tanah air kita. Saat masuk SD ada populasi siswa sebanyak 100 %, saat tamat SD bisa jadi menjadi 90 %, karena ada sekitar 7 juta anak yang drop out. Kemudian terus ke SMP dan saat tamat ada lagi yang tercecer dan tingga menjadi 80 %. Selanjutnya melanjutkan ke SLTA dan saat tamat tercecer lagi dan tinggal 65 %. Kemudian yang melanjutkan ke Perguruan tinggi juga berkurang, mungkin hanya 40 % dan nanti saat wisuda dari Perguruan tinggi hanya 35 %, karena juga ada yang tercecer di jalan. Dengan demikian gambaran grafik demografi pendidikan kita hampir menyerupai sebuah Piramida. Dengan demikian kira perlu merasa bersimpati atas fenomena pendidikan dan harus bisa menemukan penyebab dan solusinya.   
Penyebab tercecernya pendidikan anak-anak kita, sehingga mengalami drop-out, adalah faktor kemiskinan. Secara umum orang hanya melihat gara-gara kemiskinan harta. Pendapatan yang sangat rendah sehingga tidak punya dana buat menggenjot mutu pendidikan anak. Dibalik itu bahwa beberapa bentuk kemiskinan yang memberi dampak pada anak-anak untuk melarikan diri dari sekolah atau drop-out. Yaitu kemiskinan pada SDM orang tua, SDM guru di sekolah dan faktor media atau sarana buat mendorong anak untuk termotivasi dalam bergairah untuk belajar.
Saat lahir semua anak memiliki tingkat kepintaran yang sama, yaitu menangis dan mengeluarkan bunyi yang belum punya makna. Namun setelah 5 tahun, 10 tahun atau berusia remaja terlihat perbedaan kepintaran pada unsur verbal, numerical dan sosial, dll. Semua perubahan yang menunjukan kualitas diri sangat ditentukan oleh peran sentuhan, rangsangan, pengarahan dan didikan dari orang tua. Seperti kata sebuah ungkapan “the man behind the gun”. Kualitas penggunaan sebuah senjata ditentukan oleh siapa orang yang memegangnya. Apakah mau bertujuan baik atau bertujuan kurang baik (?).
Seorang yang terlahir dari keluarga yang tidak mengenal konsep parenting, bagaimana menjadi orang tua yang ideal, dan orang tua yang tidak memahami bagaimana mengelola rumah tangga dan mengadopsi gaya memimpin keluarga bersifat laizes faire (serba membiarkan) maka mereka akan menumbuhkan anak ibarat bunga liar yang tumbuh di luar taman. Yaitu seorang anak yang berpotensi yang terkesan salah urus dan salah asuh.
Bila kita sempat tinggal dengan saudara-saudara kita yang mengadopsi pola keluarga di kelas, maka terlihat manajemen keluarga tanpa job-description yang jelas. Rumah mereka dari pagi hingga datang lagi malam bising dengan hingar binger suara televisi. Anak- anak tidak mengenal disiplin waktu, sehingga cukup banyak yang bisa tertidur hingga larut malam. Makanya banyak anak anak Indonesia yang kurang tidur hingga pergi sekolah dengan mata mengantuk.
Cukup banyak kritikan yang bisa dilontarkan pada orang tua. Mulai dari gaya berbahasa orang tua yang satu arah- hanya sebatas menyuruh, memerintah dan memarahi, hingga kepada orang tua yang tidak tahu cara melatih anak untuk tahu memiliki tanggung jawab dimana semua pekerjaan dimonopoli oleh orang tua. Anak anak yang miskin dengan pengalaman hidup akan tumbuh menjadi orang yang juga kurang kualitas.
Guru di sekolah merupakan orang tua kedua bagi anak. Dimana mereka punya tanggung jawab dalam “teaching and educating”, yaitu mendidik dan mengajar atau menumbuhkan kognitif dan karakter positif. Namun dalam realita adalah banyak guru yang bersifat sebagai “guru kurikulum”.
Ngainun Naim (2009) mengatakan bahwa guru kurikulum adalah mereka hanya sekedar pintar memindahkan isi buku ke dalam otak anak. Mereka tepat disebut sebagai “academic worker”. Yang dibutuhkan anak adalah guru yang inspiratif, guru yang berbagi waktu untuk memberi pencerahan. Maka sang guru paling kurang harus betul-betul menguasai dan mengaplikasikan kompetensi guru seperti “kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesioinal”.
Guru yang memiliki dan mengaplikasikan empat kompetensi perlu untuk selalu belajar dalam kehidupan. Belajar tentu butuh membaca, namun inilah fenomena bahwa banyak guru  yang tidak belajar lagi dalam kehidupannya. Mereka hanya sekedar mengulang ulang menyentuh buku-buku teks untuk ditampilkan buat siswa pada hari berikutnya. Saat siswa kehilangan gairah belajar, lemah minat dan motivasi belajar maka mereka kurang bisa memberi respon yang dibutuhkan anak- malah cukup banyak membuat jarak atau menjadikan konflik. Maka tumbuhlah problem demi problem dalam pengajaran.   
Agar angka drop-out bisa berkurang, dan bila perlu bisa mencapai titik nol, dengar arti kata menciptakkan “zero drop out” maka perlu dicari solusi. Pencegahan sejak dini lebih bagus sebelum drop-out terjadi. Penyebab utamanya adalah dari rumah. Pengalaman penulis yang beberapa tetangga yang anak-anaknya mengalami drop-out pada usia dini.
Anak-anak ini memang berasal dari keluarga yang miskin. Tidak hanya miskin secara finansial, namun juga terbelakang dari segi budaya. Tidak ada materi bacaan di rumah, tidak ada fasilitas pendidikan dan tidak ada konsep mendidik.
Sangat diperlukan campur tangan pemerintah untuk menyelenggarakan program atau kursus parenting bagi pasangan yang ingin melaksanakan pernikahan. Agar kelak mereka bisa membina rumah tangga tanpa meraba- raba. Lebih lanjut pemerintah perlu memberikan kursus-kursus parenting untuk berbagai lapisan masyarakat agar bisa terbentuk keluarga yang punya kualitas dalam mendidik keluarga mereka.
Bagi keluarga perlu untuk memiliki perpustakaan keluarga dan mengajak anggota keluarga mereka untuk peduli dengan membaca untuk menambah wawasan. Bagi keluarga yang telah mempunyai anak maka perlu segera untuk memperkenalkan disiplin waktu kepada mereka. Anggota keluarga perlu memiliki jadwal kegiatan di rumah, mulai dari bangun hingga pergi tidur lagi. Kemudia anak-anak perlu untuk diberi tanggung jawab, ini berguna untuk melatih mereka menjadi warga yang tahu dengan tanggung jawab. 
Juga keluarga yang sukses dalam membangun semangat belajar anak- dan menghindari drop out- adalah yang peduli selalu memotivasi anak untuk belajar. Mereka membangun komunikasi yang dua arah dengan gaya memimpin orang tua yang demokrasi. Ada suasana kebersamaan dan rumah bebas dari suasana bising. Ada selalu budaya belajar, beraktivitas dan penghargaan atas partisipasi buat setiap anggota keluarga.
Sekolah yang efektif juga berkontribusi untuk mendukung semangat belajar anak. Sekolah dan guru memberi pelayanan prima, tidak hanya sebatas mengejar target kurikulum, namun juga mengoptimalkan proses kegiatan belajar anak untuk menumbuhkah kognitif, psikomotorik dan afektif mereka. Sekolah efektif tentu saja merupakan sekolah yang menarik sehingga mampu mengundang partisipasi siswa buat belajar dan mengoptimalkan potensi mereka. Dengan demikian melalui peran rumah dan sekolah akan mampu mengurangi drop out anak. 

Pentingnya Memiliki Jiwa Wirausaha, Teknokrat dan Leadership Dalam Hidup



Pentingnya Memiliki Jiwa Wirausaha, Teknokrat dan Leadership Dalam Hidup

            Salah satu ciri-ciri organisasi dalam masyarakat modern adalah memiliki visi dan misi. Visi adalah tujuan organisasi secara umum dan misi adalah langkah- langkah untuk mencapai tujuan. Sebagian besar organisasi atau lembaga telah memajang visi dan misi kegiatannya  pada billboard agar bisa dikenal oleh  masyarakat luas.
            Orang-orang tertentu  sebenarnya juga memilki visi dan misi dalam hidup mereka. Kita sendiri tentu juga punya visi dan misi dalam hidup ini. Saat kita kecil orang tua kita sering berujar agar kita bila dewasa bisa menjadi orang yang baik. Mereka mendidik dan merawat kita agar kita bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarga, bangsa dan agama. Ya itulah misi di awal kehidupan kita.
Kemudian saat duduk di Sekolah Dasar kita mempunyai visi hidup kita menjadi istilah “cita-cita” yang ukurannya adalah setinggi langit. Saat itu ada teman yang mau jadi pilot, dokter, duta besar, jadi gubernur hingga jadi presiden dan lain-lain. Tetapi semakin beranjak dewasa rasanya kita butuh kerja keras untuk mencapai itu semua. Cita- cita yang kita sebutkan untuk menggapainya tidak segampang yang kita pikirkan sewaktu kecil. Mungkin ada beberapa orang yang bisa mewujudkan apa yang telah mereka cita-citakan.
Kita tumbuh terus dan kita harus membuat cita-cita yang lebih realistik. Maka cita-cita kita selanjutnya adalah ingin menjadi polisi, tentara, guru, perawat, pramugari, pegawai bank dan lain-lain. Pokoknya cita-cita yang lebih realistis dan bisa dijangkau. Benar bahwa kemudian banyak yang bisa untuk menjangkaunya. Terutama bagi yang karirnya  sebagai PNS melalui pekerjaan guru, dosen, perawat, insinyur, dan lain-lain.
Namun sekarang  pemerintah tidak lagi merekrut PNS secara besar- besaran seperti dahulu. Maka kita- terutama para sarjana-  diharapkan untuk mencari karir atau menciptakan karir agar bisa  menyerap tenaga kerja. Pada berbagai perguruan tinggi para mahasiswa dimotivasi agar bisa memiliki jiwa  leadership dan entrepreneurship”.
Berbagai perguruan tinggi menggelar pelatihan dan kegiatan lain untuk mendidik mereka untuk memilki jiwa wirausaha, kepemimpinan  dan kemandirian. Mahasiswa yang hanya sekedar aktif untuk mengejar nilai yang tinggi tidak akan banyak berhasil dalam mencari karir yang mereka harapkan.
Beberapa tahun sebelumnya nilai dan IPK (indeks prestasi akademik) yang tinggi adalah sebagai pertanda nasib baik bakal  berpihak padanya. Bila seorang mahasiswa memperoleh IPK tinggi maka setelah wisuda sebuah pekerjaan telah siap menunggunya. Tapi itu tidak berlaku lagi. Nilai atau IPK hanya salah satu syarat buat bisa lulus atau syarat buat bisa mendaftar, selanjutnya bahwa factor  wawasan, kemampuan berkomunikasi, kualitas pribadi lebih menentukan. Sekarang mereka lebih diharapkan agar memiliki kemampuan entrepreneurship dan leadership.
1) Enterpreneur
Dari Wikipedia bahasa Indonesia kita bisa tahu tentang istilah enterpreneur atau wirausawan. Wirausahawan  adalah orang yang melakukan aktivitas wirausaha yang dicirikan dengan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun manajemen operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.
            Seorang wirausahawan akan mempunyai kesempatan untuk mewujudkan cita-cita dan menciptakan perubahan. Ia juga punya kesempatan dalam mencapai potensinya secara  penuh dan menuai keuntungan yang mengesankan. Tentu saja ia memberikan kontribusi kepada masyarakat dan mendapatkan pengakuan untuk usahanya.
Bila seseorang ingin menjadi seorang wirausawan, maka ia tentu saja perlu memiliki sikap positif untuk berwirausaha. Sikap-sikap yang umum ditemui pada pribadi para usahawan, yaitu punya rasa tanggung jawab atas risiko atas usahanya. Tentu saja  wirausahawan tidak mengambil risiko secara liar melainkan memperhitungkan terlebih dahulu risiko yang akan diambil. Oleh karena itu mereka punya keyakinan akan kemampuan mereka untuk berhasil dan keinginan untuk segera berhasil. Mereka punya energi yang tinggi, jadinya mereka bersikap energik.  Ya tentu saja mereka lebih energik daripada rata-rata orang kebanyakan.
Seorang wirausahawan memiliki orientasi terhadap masa depan. Agar orientasinya bagus maka mereka perlu memiliki wawasan yang kaya. Sebagaimana tokoh sukses berbuat, diharapkan para usahawan banyak bercermin padawirausawan sukseslainnya, perlu membaca biografi mereka sebanyak mungkin, dan kemudian merancang impian mereka ke depan. Juga wirausahawan perlu memiliki keahlian dalam pengorganisasian. Jadinya  wirausahawan adalah juga organizer.
Mereka memiliki sejumlah orang yang ikut beraktivitas bersama mereka. Dengan demikian mereka perlu tahu bagaimana menempatkan prinsip  the right man on the right place , orang yang tepat di tempat yang tepat. Para wirausawan juga perlu memiliki pengetahuan bagaimana secara efektif menciptakan sinergi antara orang dan pekerjaan, sehingga memungkinkan bagi mereka untuk mewujudkan visi mereka menjadi kenyataan.
Seseorang perlu menggali diri apakah dia seorang wirausahawan atau tidak. Juga seorang wirausawan, kemampuan dan bakatnya tidak jatuh dari langit, namun bisa dilatih lewat belajar. Kunci untuk mengidentifikasi jiwa pengusaha adalah dengan cara melihat karakter seseorang, khususnya pada hal-hal yang menjadi kebiasaan yang alami dan dilakukan dengan baik. Wirausahawan memiliki enam tema karakter utama yang membentuk akronim “FACETS”, yaitu: F (Focus) untuk fokus, A (Advantage) untuk keuntungan, C (Creativity) untuk kreativitas, E (Ego) untuk ego, T (Team) untuk tim, dan  S (Social) untuk sosial. Selanjutnya bahwa ada empat kategori menjadi wirausahawan yaitu penemu, innovator, marketer dan oportunis. Penjelasannya sebagai berikut:
a). Penemu, mendefinisikan konsep, unik, baru, penemuan atau metodologi.
b). Inovator, menerapkan sebuah teknologi baru atau metodologi untuk memecahkan masalah baru.
c) Marketer, mengidentifikasi kebutuhan di pasar dan memenuhinya dengan produk baru atau produk substitusi yang lebih efisien.
d). Oportunis, pada dasarnya sebuah broker, pialang, yang menyesuaikan antara kebutuhan dengan jasa diberikan dan komisi.
2) Leadership
Di saat fenomena pengangguran makin merebak dan juga tidak ketinggalan dengan adanya pengangguran intelektual, yaitu tamatan Perguruan Tinggi yang tidak berdaya karena tidak kunjung memperoleh pekerjaan, maka sejak dini, minimal pada jenjang Perguruan , juga diperkenalkan perlunya semangat leadership bagi mahasiswa.
Bagi orang tua, suatu hari anak-anak yang mereka cintai akan menjalani kehidupannya sendiri. Tentu saja akan ada tantangan dalam hidup ini, maka dibutuhkan jiwa leadership (pemimpin) untuk menghadapi tantangan jaman yang tiap hari semakin berat. Orang tua yang selama ini membantu mereka, mau tidak mau harus merelakan anak menjadi mandiri.
Oleh karena itu, pembentukan karakter yang baik harus ditanamkan sejak dini- utamanya bagaimana anak bisa mandiri.  Orang tua biasanya menginginkan punya anak yang mandiri dan punya jiwa kepemimpinan demi masa depan sang buah hati. Namun, untuk mencapai ini tentu saja tidak mudah. Oleh karena itu sangat penting untuk bisa mengenalkan kebiasaan yang bisa membantu menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak.
Proses pembentukan jiwa pemimpin harus dilakukan pada semua aspek kehidupan anak. Selain guru di sekolah, orang tua juga dituntut aktif menjaga agar proses ini berjalan maksimal. Alangkah merepotkan jika pondasi kuat yang susah payah dibangun di sekolah, kemudian hilang ketika si anak menginjak rumah. Misalnya kebiasaan bersikap positif dan proaktif. Untuk sikap positif, di sekolah anak didik untuk bersikap bersih, di rumah orang tua tidak begitu merespon. Di sekolah anak dilatih buat rajin membaca sementara di rumah malah anak disuguhi banyak tontonan yang tidak terkendali.
Untuk sikap proaktif berarti sang anak tidak boleh sekadar menerima perintah dari sekeliling “jangan mau asal diperintah”. Anak harus juga mempunyai niat kuat utuk mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab.
Anak juga harus dibiasakan membuat prioritas kegiatan. Pada usia sekolah, ada banyak sekali kegiatan menyenangkan yang bisa dikerjakan selain belajar. Prioritas diperlukan agar semua tugas dikerjakan secara maksimal dan selesai pada waktunya. Setelah itu, anak bisa mengerjakan pekerjaan lain sesuka hatinya.
Berikutnya, berikan kesempatan kepada anak untuk memikirkan solusi terbaik untuk semua pihak. Lakukan negosiasi, diskusi dan musyawarah terbuka. Penting bagi para orang tua untuk mendengarkan pendapat anak dan mempertimbangkan sudut pandang mereka. Proses ini juga akan membentuk pemahaman yang baik tentang pentingnya kebebasan berbicara. Hasilnya, anak akan menjadi pribadi yang terbuka dan mampu mengemukakan pendapatnya secara cerdas.
Selanjutnya adalah megajarkan anak untuk lebih banyak mendengar. Contohnya, biasakan untuk membiarkan anak bereksplorasi dengan caranya sendiri dahulu. Koreksi yang tergesa-gesa akan menimbulkan rasa enggan dalam diri anak. Sebaliknya, waktu yang tepat akan menumbuhkan toleransi yang besar dan pemahaman bahwa mereka dimengerti. 
Benar bahwa jiwa pemimpin juga bisa tumbuh berkembang jika anak berada di lingkungan yang positif. Perlu juga diketahui bahwa semua orang mempunyai peran penting masing-masing dalam kehidupan. Anak harus belajar bekerjasama dengan banyak orang untuk bekalnya bersosialisasi.
Proses ini akan mudah diadaptasi anak jika orang tua memperkenal bentuk tanggung jawab, prilaku positif dan proaktif sejak usia dini. Namun, jika baru mengenalnya di usia remaja, tantangannya tentu berbeda. Anak kecil mudah menyerap hal-hal baru karena belum banyak pengalaman hidup yang mempengaruhi cara berpikir dan berprilaku. Mereka masih mudah diarahkan oleh orang-orang yang mereka patuhi.
Mhd. Teguh (2001) menulis prinsip latihan kepemimpinan yang perlu buat diketahui oleh para mahasiswa. Beberapa hal lain yang juga perlu untuk ditanamkan dalam rangka membentuk jiwa leadership adalah sebagai berikut:
a)  Hindari kebiasaan mengkritik dan mengomel
Mengkritik orang lain (termasuk mengkritik anak dan siswa yang berlebihan)  tidak saja mengganggu harga diri seseorang, tetapi membuat orang tidak menyukai kita. Pilihlah cara untuk menyampaikan kritik secara positif dan hindari kritik yang dapat menyinggung perasaan seseorang.
b) Berikan penghargaan yang jujur dan tulus
Sekecil apapun kontribusi seseorang terhadap keberhasilan kita selayaknya mendapatkan perhatian dan penghargaan. Perlihatkan bahwa kita bersungguh-sungguh menghargai usaha mereka. Usaha mereka memberi kontribusi pada keberhasilan kita sama seperti kita juga berkontribusi pada keberhasilan mereka.
c) Bangunlah kemauan untuk berhasil dalam diri orang lain
Dalam kehidupan personal maupun professional, kita sering berada dalam situasi menjual ide kepada orang lain. Ingatlah bahwa seseorang termotivasi untuk melakukan sesuatu karena ada hubungannya dengan kepentingan mereka, bukan kepentingan kita. Bila kita jelaskan bahwa ide kita dapat membuat mereka berhasil, kita akan terkejut melihat betapa banyak kerjasama dapat kita bangun dalam organisasi kita.
d) Beri perhatian yang sungguh kepada orang lain
Sebesar apapun aset finansial ataupun fisik dalam suatu perusahaan, maka  orang-orang yang bekerja di dalamnyalah yang membuatnya berhasil. Mengenal orang-orang yang ada dalam organisasi kita sama pentingnya dengan mengenal aspek teknis pekerjaan kita, Kuncinya adalah dengan memberikan perhatian yang sungguh. Jangan berpura-pura dengan mencoba mengenal orang lain demi keuntungan kita sendiri. Mengenal orang lain seharusnya selalu menjadi proses yang saling menguntungkan.
e) Senyum
Sebuah senyuman yang kita berikan dengan tulus akan sangat berdampak positif bagi kita dan orang lain. Bahkan senyuman adalah ibadah, yang dapat menularkan aura positif kepada orang lain. Selalu murah senyum, karena hubungan baik selalu dapat diciptakan dengan hal yang simpel, seperti perilaku ramah dan senyum yang bersahabat.
3) Tekhnokrat
Tekhnokrat atau berjiwa tekhnik- berjiwa suka bekerja- tentu bisa terlaksana bagi orang yang kreatif. Kuliah atau bekerja dalam bidang tekhnik adalah pilihan akademik atau karir banyak para remaja. Utamanya bagi yang sedang sekolah di sekolah unggulan. Namun sebagian dari mereka hanya berkutat pada bidang kognitif, sehingga berpotensi melupakan unsur psikomotorik atau skill. Pada hal berkerja pada bidang tekhnik sangat membutuhkan mereka yang berjiwa kreatif. Maka dari sejak dini pembiasaan kreatif perlu untuk ditumbuhkan. Beberapa hal yang bisa menumbuhkan jiwa kreatif yaitu:
a) Bersikap rileks atau santai berguna  dalam menumbuhkan jiwa kreatif. Foto- foto para penemu semuanya memperlihatkan sikap yang rileks. Dalam kondisi yang rileks pikiran seseorang  akan jauh dari tekanan yang mungkin datang dari lingkungan nrumah dan sekolah. Seseorang yang banyak tertekan  akan mempersempit daya kreatifitasnya.
b) Milikilah hobi dan nikmati hobi tersebut, seperti berolah raga dan music. Dengan demikian ide-ide  segar akan mengalir kedalam fikiran seseorang.
c) Memberi tanggung jawab atau tugas-tugas kecil dan beri mereka waktu untuk menyelesaikannya. Ini berguna buat melatih mereka untuk bertanggung jawab.
d) Berilah tenggat waktu, dalam memberikan si anak tugas kecil berilah tenggat waktu untuk penyelesaian tugas yang anda berikan kepada si anak untuk membiasakan anak berusaha menyelesaikan semua tugas yang diberikan tepat pada waktunya, hal ini akan memancing dan memaksa si anak mengeluarkan kemampuannya.
e) Membantu pengembangan imajinasi anak. Imanjinasi adalah dunia yang umumnya identik dengan anak sehingga sesuatu yang mustahil atau tidak mungkin menjadi mungkin bagi anak usia dini. Dengan berimajinasi, anak selalu mencari cara untuk menemukan jawaban dari masalah yang dihadapinya.  Jadi upaya yang harus dilakukan oleh seorang pendidik dan orang adalah untuk selalu memahami, membimbing, dan mendukung imajinasi peserta didik serta mengajak mereka untuk belajar, membaca buku ilmu pengetahuan, melakukan penjelajahan, hingga mengunjungi museum, perpustakaan, dan objek wisata.
f) Menumbuhkan rasa ingin tahu, antusias yang tinggi selalu ada pada anak usia dini dengan benda-benda yang ada disekitarnya atau makhluk baru yang pertama kali dilihatnya. Anak-anak pasti akan memerhatikan, mengamati bagamana dan apa yang terjadi, melihatnya secara detail. Ajaklah anak mendekati sebuah traktor atau pesawat maka ia akan memperhatikannya sangat detail. Rasa ingin tahu yang tinggi seperti itu sering kali membuat anak tidak peduli dengan lingkungannya apakah akan membuatnya kotor, basah, panas, maupun merasa sakit. Hal seperti itu jelas bahwa keingingan anak usia dini dalam mengeksplorasi alam dan lingkungannya sangatlah kuat, dan sangatlah kuat keinginannya untuk mengetahui sesuatu, hal ini berarti betapa kuat semangatnya untuk belajar.
Rasa ingin tahu adalah sifat dasar kreatif, yang mendorong anak untuk menciptakan karya atau ide baru, diawali dengan sikap rasa ingin tahunya terhadap sesuatu, setelah sesuatu itu dieksplorasi secara mendalam barulah mereka menciptakan karya yang baru dan berbeda berdasarkan pengayaannya terhadap apa yang dihadapinya. Maka sekarang di saat kesempatan untuk meraih kerja butuh kompetisi dan persiapan mental anak. Maka selain mereka memantapkan kemampuan kognitif atau akademik, juga perlu bagi setiap anak untuk mengasah jiwa leadership, enterpreneur dan kreatifitasnya. Juga tidak lupa bagi mereka untuk selalu memantapkan ilmu agama mereka agar selalu menjadi manusia yang bertaqwa pada Allah Swt.

Lima Kekuatan Yang Perlu Dimiliki Mahasiswa



Lima Kekuatan Yang Perlu Dimiliki Mahasiswa

            Sekarang kuliah  sudah menjadi kebutuhan banyak orang. Mereka pergi kuliah  ke pulau Jawa, universitas yang berlokasi di ibu kota Propinsi sampai kepada tempat kuliah di kota-kota kecil melalui universitas, sekolah tinggi, politeknik atau akademi. Sukses kuliah itu ada di mana-mana dan cara untuk memperoleh kualitas  kulitas tentu saja tergantung pada pribadi kita.
 Namun karakter  yang banyak terlihat adalah “kuliah orang kuliah kita- atau kuliah secara ikut-ikutan”. Sebahagian dari mereka  pergi kuliah hanya sekedar  datang, duduk, dengar  dan diam saja di dalam kelas. Sementara itu  di tempat kost kerja mereka hanya makan, minum, menghafal, menghayal, hura-hura, main game, sampai begadang tidak karuan.  Padahal sang dosen di kampus mungkin pernah berkata:
“Anda sebagai seorang  mahasiswa telah menjadi kaum intelektual dan berfungsi sebagai “agent of change” atau agen perubahan social”.
Tapi kalau  demikian gaya belajar dan gaya hidup  mereka apakah  pantas disebut sebagai agent of change ? O tentu saja belum pantas.
Namun tentang prilaku mahasiswa dalam belajar atau kuliah juga bermacam-macam. Tentu saja ada yang rajin kuliah. Semua waktu mereka curahkan untuk kegiatan akademik. Namun ada juga  yang hanya sebatas kutu-buku hingga tidak punya kesempatan untuk bergaul. Mereka yang malas bergaul pada akhirnya akan memiliki karakter yang kaku , dingin, serta kurang peka terhadap orang lain. Kelak walau mereka bisa meraih prestasi tinggi dalam pekerjaan namun  mereka akan menjadi orang yang kaku.
            Sebagaimana yang telah kita nyatakan bahwa gaya belajar siswa dan mahasiswa sangat bervariasi. Misal, ada yang bergaya study oriented atau academic oriented. Masa muda mereka dihabiskan hanya untuk berkutat dengan diktat dan buku-buku pelajaran, tujuannya agar bisa memperoleh nilai sempurna pada setiap mata pelajaran. Ada pula yang hanya senang berorganisasi, namun masa bodoh dengan urusan belajar. Ya ujung-ujungnya jadi gagal dalam bidang akademik.
            Selanjutnya  ada  yang telah berkarakter produktif. Yaitu bagi mereka yang telah memiliki agenda hidup- punya banyak aktifitas, mulai dari membaca buku, kuliah/ bersekolah, berolahraga, beribadah sampai merencanakan agenda-agenda hidup lainnya. Namun juga ada yang bengong saja sehingga tidak tahu apa yang mau dikerjakan. Mereka hanya pandai  menghabiskan waktu dalam box warnet-  di depan komputer untuk bermain game atau kecanduan nonton TV selama ber jam-jam. 
            Memang terasa bahwa saat kita tidak punya aktivitas maka akan sulit bagi kita untuk memulai sebuah aktivitas yang bermanfaat, misalnya mengerjakan tugas sekolah, mencuci pakaian, atau membantu orang tua. Ada gejala penyakit yang sering melanda remaja (pelajar dan mahasiswa), yaitu banyak tidur, boros (buang buang uang terhadap hal  yang tidak perlu),  menganggap sepele terhadap tugas- tugas sekolah, kecanduan talk mania (gila ngobrol pake HP), gila main game,  dan senang hura-hura.  Namun kita harus berhati-hati, bahwa kebiasaan ini kalau selalu kita biasakan maka akan berubah menjadi karakter kita.
            Gejala yang kita jelaskan tadi bisa menjadi indikasi bahwa seseorang sedang mengalami demotivasi (merosotnya motivasi seseorang). Dan sebetulnya ada beberapa tips untuk mengcounter (mencegah) gejala-gejala demotivasi tersebut:
a). Segera melakukan silaturahmi kepada sahabat dan orang orang yang memiliki
      inspirasai dan motivasi hidup.
b)  Kemudian, bacalah buku-buku untuk penambah semangat hidup atau motivasi.
c) Kalau ingin sukses, maka cobalah membuat agenda hidup- target kegiatan harian,
     mingguan dan bulanan.
d) Juga perlu melakukan hijrah (andai lingkungan menjadi penyebab kemalasan kita),
     karena  lingkungan teman yang santai akan juga membuat kita santai.
Untuk itu  kita perlu mencari teman yang smart dalam hidupnya. Kalau demikian, kita perlu mencari komunitas di mana berkumpulnya orang-orang yang punya semangat hidup, produktif dan suka berbagi pengalaman.
            Sebenarnya hidup ini juga dipengaruhi oleh hukum sebab akibat. Hukum sebab akibat tidak hanya ada dalam pelajaran sains, tetapi juga ada dalam pribahasa: siapa yang menanam dia yang akan menuai (memetik). Cepat atau lambat maka  setiap kebaikan yang kita lakukan akan membuahkan hasil.
Kejelekan yang sering kita kerjakan juga akan kembali pada kita. Oleh sebab itu kita perlu  banyak-banyak menanam kebaikan. Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya. Ya seperti pepatah dalam bahasa Arab yang berbunyi : man jadda wa jadda- barang siapa yang bersungguh-sunggu akan berhasil.
Dan semua kebiasaan atau karakter yang kita miliki, penyebabnya adalah kita sendiri. Siklus pembentukan karakter tersebut adalah sebagai berikut: Bermula dari pola berfikir, pikiran akan jadi perkataan, perkataan jadi perbuatan, perbuatan jadi kebiasaan, kebiasaan akan menjadi karakter, dan karakter menjadi budaya”.
Tentang kebarhasilan, bahwa kadang-kadang keberhasilan seseorang sangat ditentukan oleh faktor kesempatan. Sebagaimana kita ketahui bahwa  itu kadang kala hanya datang sekali saja. Jadi kalau ada datang kesempatan, maka kita harus memanfaatkannya. Contohnya, ada orang yang sangat jenius, namun mendapatkan nasib yang tidak terlalu bagus. Salah satu faktor penyebabnya adalah tidak punya antusias dan usaha yang besar untuk mengambil kesempatan yang datang. Untuk itu kita harus mencari kesempatan dan peluang. Kita sendiri juga harus rajin mencari informasi.
            Sekali lagi bahwa di negara kita banyak orang yang cerdas dan memiliki nilai akademik, namun mengapa menjadi pengangguran ?  Penyebabnya adalah akbat gaya belayar yang hanya study oriented- pintarnya hanya belajar melulu. Idealnya mereka harus cerdas dalam belajar dan juga cerdas dalam kehidupan. Total learning bisa menjadi solusi bagi kita.
Total learning dapat  kita lakukan  dengan mengembangkan potensi atau kekuatan yang ada pada diri kita. Sebenarnya tulisan ini terinspirasi oleh training yang diberikan oleh buku Setia Furqon (2010) yang berjudul “Jangan kuliah kalau gak sukses”.
Ia sendiri adalah seorang penulis dan motivator berusia muda. Ia mengatakan bahwa untuk sukses dalam belajar, maka kita memerlukan  lima fondasi dasar sebagai kekuatan kita,  yaitu : kekuatan spiritual, kekuatan emosional, kekuatan finansial, kekuatan intelektual dan kekuatan aksi. Istilah  lima kekuatan tersebut dalam bahasa Inggris adalah  spiritual power, emotional power, financial power, intellectual power dan actional power”.
            1) Spiritual power
Ini berarti kekuatan spiritual. Bahwa kesuksesan sejati adalah saat kita merasa dekat dengan sumber kesuksesan itu sendiri, yaitu Allah- Sang Khalik. Untuk itu ada beberapa kiat yang dapat kita lakukan agar hidayah/ petunjuk bisa datang. Bahwa hidayah (petunjuk hidup) itu sendiri  harus dijemput, bukan ditunggu. Kemudian kita harus mencari lingkungan yang kondusif, karena sangat sulit bagi kita untuk keluar dari lingkaran kemalasan jika lingkungan itu sendiri mendorong kita untuk jadi pemalas. Untuk mengatasinya, maka  kita bisa hijrah atau pindah kost ke tempat yang mendukung. Kalau sulit untuk pindah kost, maka kita bisa melakukan hijrah melalui perobahan sikap dan fikiran. 
            Untuk memperoleh hidayah,  kita bisa menemukan guru-guru dalam kehidupan. Guru tersebut adalah orang-orang yang akan  memberi  kita inspirasi agar bisa  bangkit setelah kita terjatuh. Sang inspirator kita tidak harus jago dalam ngomong, orang tersebut  bisa jadi sedikit bicara, namun karya dan prilakunya membuat kita termotivasi.
            2) Emotional power
Kekuatan ini (kekuatan emosi) juga dapat kita sebut dengan istilah  kecerdasan emosional (EQ). Kecerdasan ini juga sebagai penentu kesuksesan seseorang. Di dunia ini ada banyak orang-orang cerdas atau jenius dengan IQ di atas rata-rata namun pekerjaanya selalu pada level bawah. Itu terjadi karena kepribadiannya yang kurang disukai atau sulit bersosialisasi. Kecerdasan emosional bisa berkembang, karena ia merupakan akumulasi dari karakter individu, dan dukungan dari faktor lingkungan. Sikap atau karakter sangat penting  dalam membentuk kecerdasan emosi seseorang. Apakah ia berkarakter ramah, gigih dan ulet- adalah contoh dari bentuk emosional power. 
            Karakter adalah ibarat sebuah perjalanan yang panjang. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa karakter adalah akumulasi dari bentuk fikiran, ide yang kita ekspresikan lewat ucapan dan tindakan, kemudian dipoles dengan suasana emosi. Orang lainlah yang  akan melihat kualitas emosional  kita tadi- apakah disana ada unsur “ jujur, peduli, ikhlas, disiplin, dan berani”, atau malah yang terlihat banyak unsure “suka berkhianat, angkuh, boros, cepat bosan dan malas”.
            Emosi itu sendiri dapat dilatih. Beberapa cara untuk melatihnya adalah seperti : tersenyum dengan tulus, bila berjumpa teman ya jabat tangannya dengan penuh antusias. Kalau ngobrol mari kita biasakan untuk mendengar orang terlebih dahulu. Kita perlu ingat bahwa tidak bijak untuk membuat orang tersinggung. Kalau kita sedang ngobrol maka kita usahakan untuk  menatap mata lawan bicara sebagai tanda bahwa kita sedang serius dan ia juga akan  merasa dihargai. Kita juga harus ingat dan tahu dengan nama lawan bicara kita.
            3) Financial power
Financial power  berarti kekuatan dalam hal keuangan. Bahwa kita harus memiliki kekuatan keuangan agar bisa sukses dalam studi. Namun  banyak orang  menganggap bahwa uang bukanlah hal yang  utama- mereka takut dikatakan sebagai orang yang matre (mata duitan).  Paling kurang ada dua karakter orang berdasarkan pendekatan ekonomi atau keauangan. Ada  orang bermental miskin dan orang bermental kaya.
Karakter orang bermental miskin adalah mereka yang menginginkan hasil sesuatu yang serba instan, lebih banyak membeli barang yang konsumtif, tidak mau berubah, dan senang mengandalkan bantuan orang lain. Mereka juga  berkarakter  suka  menerima,dan kalau belajar hanya untuk mengejar nilai yang bagus. Sementara itu orang yang bermental kaya adalah mereka yang karakter terbiasa menyukai  proses. Dalam shopping ya lebih suka membeli barang yang produktif. Selanjutnya ia (mereka) bersifat kreatif, mandiri, senang memberi, dan dalam belajar/ kuliah bertujuan  untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
            4) Intelectual Power
Kemudian lain yang harus kita miliki adalah “intelektual power”. Bahwa otak kita sedikit banyak juga harus memahami tentang keberadaan otak. Otak kita  membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar ia  bisa beroperasi secara optimal. Maka kita perlu untuk bisa memperoleh tidur yang nyenyak, karena  sangat berguna untuk kesehatan otak. Salah satu fungsi otak adalah membantu kita dalam memahami apa yang kita amati dan yang kita tiru.
5) Actional Power
Ini berarti kekuatan bertindak. Seorang pemuda (siswa atau mahasiswa) yang menjadi atlit sepak bola menghabiskan puluhan jam untuk membaca buku sepak bola, tentu saja susah baginya untuk menjadi sepak bola yang sejati. Kecuali kalau ia memang sangat rajin dalam latihan menendang bola. Karena praktek menendang bola lebih berarti dari pada hanya membaca buku teori tentang bermain sepak bola.
Dikatakan bahwa orang Jepang menjadi cerdas karena punya kebiasaan mengamati, meniru dan memodifikasi. Bangsa Jepang bukanlah bangsa yang menemukan  kendaraan roda dua dan roda empat. Namun mereka adalah bangsa yang  gigih dalam meniru-melakukan action power- dan memodifikasi penemuan bangsa lain. Budaya senang meniru dan senang memodifikasi tersebut  telah membuat Jepang sebagai negara produsen mobil terbesar di dunia. Negara Jepang pada mulanya mengamati dan  meniru serta  memodifikasi mobil Ford buatan Amerika dan mobil buatan negara lainnya. Jepang  memodifikasinya  hingga bisa menjadi mobil yang cantik, seksi dan hemat bahan bakar.
            Jadi dapat dikatakan bahwa sekarang kita perlu menjadi cerdas, cerdas dalam belajar dan juga cerdas dalam hidup.  Untuk  bisa cerdas atau  berhasil dalam  hidup ini maka kita memiliki dan memperdayakan lima kekuatan yaitu action power, financial power, spiritual power, intellectual power, dan emotional power. Dengan demikian pelajar dan mahasiswa yang bakal sukses itu adalah mereka yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosi, kecerdasan dalam bersikap/ aksi dan memiliki dukungan keuangan- biar pas-pasan namun bisa menunjang studi.

Marjohan, UNP

Marjohan, UNP

Emi Surya Joe

Emi Surya Joe

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Sylvia Charisma Rostika (Rostian Kasmiati)

Islamic mysticism - Selections from Encyclopaedia Britannica

Marjohan Usman

Marjohan Usman
a day before graduation day

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980

Marjohan, SMPN 1 Payakumbuh 1980
Ada kesalahan di dalam gadget ini

ular luncur 2

ular luncur 2

ular luncur

ular luncur

Label

Blogger Dashboard

The Daily Panorama Picture